Anda di halaman 1dari 6

PSIKODRAMA

A. Pengertian Menurut Bennet (Romlah 2001:99), Psikodrama merupakan bagian dari permainan peranan (role playing). Bennet membagi permainan peranan menjadi dua macam yaitu sosiodrama dan psikodrama. Sosiodrama adalah permainan peranan yang ditujukan untuk memecahkan masalah sosial yang timbul dalam hubungan antar manusia. Psikodrama merupakan dramatisasi dari persoalan-persoalan yang berkaitan dengan gangguan serius dalam kesehatan mental para partisipan, sehingga tujuannya ialah perombakan dalam struktur kepribadian seseorang. Psikodrama bersifat kegiatan terapi dan ditangani oleh seorang ahli psikoterapi (WS. Winkel, :571). Psikodrama biasanya dipentaskan secara spontan tanpa skenario yang telah ditetapkan.(KBS World, 2009) For many people, the term psychodrama is threatening for various reasons. The psycho- for some people carries a negative association with mental illness, or a deep exploration of emotional depths. The suffix, -drama also implies a more emotionally intense process. Settings that are wary of intensity thus are turned off by this term. Yet schools, businesses, and other settings can make use of the methods when theyre called action methods, experiential techniques, role playing, behavioral simulations, or some similar mixture of words. This is by no means deceitful, because these approaches need not be deeply emotionally evocative. (Adam Blatner, 2005) Psikodrama pada awalnya diperkenalkan dan dikembangkan oleh Jacob L. Moreno, seorang psikiater dari Rumania. Kata psikodrama sering digunakan sebagai istilah umum ketika berbicara tentang tindakan berbagai metode yang dikembangkan J.L. Moreno. Menurut J.L Moreno, Psikodrama adalah sebuah bentuk pengembangan manusia dengan eksplorasi, melalui tindakan dramatis, masalah, isu, keprihatinan, mimpi dan cita-cita tertinggi orang, kelompok, sistem dan organisasi. Hal ini kebanyakan digunakan sebagai metode kerja kelompok, di mana setiap orang dalam kelompok dapat menjadi agen penyembuhan (terapeutic agent) untuk satu sama lain dalam kelompok. Psikodrama ini merupakan salah satu cara yang bisa digunakan sebagai media pengembangan manusia (human development). Dengan berakting dalam sebuah drama diharapkan hal ini akan dapat menyadarkan seseorang (insight) dan juga menggali (to explore) permasalahan yang sedang dihadapinya. Berbagai isu (issue) atau masalah dan kemungkinan pemecahannya dimainkan terasa lebih baik daripada sekedar berbicara. Psikodrama menawarkan kesempatan untuk melatih dengan aman peranan baru, melihat diri sendiri dari sisi luar, menumbuhkan insight dan perubahan. Ada seorang pemimpin (director), sebuah action area dan para anggota kelompok. Directormendukung kelompok untuk menggali (explore) solusi baru dari

masalah masalah terdahulu, anggota kelompok berpartisipasi dalam drama sebagai orang lain yang berarti dan saling berbagi cara mereka bagaimana berhubungan secara pribadi dan bisa belajar dari masalah yang diajukan pada akhir sesi. Psychodrama employs guided dramatic action to examine problems or issues raised by an individual. Using experiential methods, sociometry, role theory, and group dynamics, Psychodrama facilitates insight, personal growth, and integration on cognitive, affective, and behavioural levels. It clarifies issues, increases physical and emotional well being, enhances learning and develops new skills. (J.L. Moreno) Psikodrama merupakan upaya untuk menciptakan restrukturisasi internal disfungsional pola pikir dengan orang lain, dan menantang para peserta untuk menemukan jawaban baru untuk beberapa situasi dan menjadi lebih spontan dan mandiri. (dari Wikipedia,2009) Meskipun penerapan utama psikodrama secara tradisional sebagai bentuk psikoterapi kelompok, dan sering didapati bahwa psikodrama didefinisikan sebagai sebuah metode psikoterapi kelompok, hal ini merugikan kepada banyak kegunaan lain atau fungsi-fungsi dari metode. Psikodrama secara lebih akurat didefinisikan sebagai sebuah metode komunikasi di mana komunikator mengekspresikan dirinya/dia/mereka sendiri dalam tindakan. Metode yang psikodramatis merupakan sumber penting dari permainan peran (role playing) banyak digunakan dalam bisnis dan industri. Psikodrama menawarkan pendekatan yang sangat kuat untuk mengajar dan belajar, serta hubungan timbal-balik pelatihan keterampilan. Teknik tindakan psikodrama juga menawarkan cara untuk menemukan dan mengkomunikasikan informasi tentang kegiatan dan situasi di mana komunikator telah terlibat. (dari Wikipedia, 2009) Departemen Pendidikan Nasional dalam Strategi Pembelajaran dan Pemilihannya(2008), Mendefinisikan Psikodrama sebagai metode pembelajaran dengan bermain peran yang bertitik tolak dari permasalahan-permasalahan psikologis. Psikodrama digolongkan ke dalam metode simulasi dan merupakan metode pembelajaran yang dapat digunakan untuk mengimplemetasi strategi pembelajaran. B. Tujuan Tujuan dari psikodrama ini adalah membantu seorang pasien atau sekelompok pasien untuk mengatasi masalah masalah pribadi dengan cara menggunakan permainan peran, drama, atau terapi tindakan. Lewat cara cara itu pasien di bantu untuk mengungkapkan perasaan tentang konflik, kemarahan, agresi, perasaan bersalah dan kesedihan (Semiun, 2006:562). Psikodrama merupakan permainan peranan yang dimaksudkan agar individu yang bersangkutan dapat memperoleh pengertian lebih baik tentang dirinya, dapat menemukan konsep pada dirinya, menyatakan kebutuhannya-kebutuhannya, dan menyatakan reaksinya terhadap tekanan-tekanan terhadap dirinya (Corey dalam Romlah, 2001:107).

Jacob Moreno berpendapat bahwa dalam teknik dramatik, manusia dapat berusaha menciptakan atau menciptakan kembali suasana fisik dan emosional yang dikehendaki dan yang harus dipahami adalah bahwa keaktifan dalam psikodrama tidak dimonopoli oleh konselor atau terapis tetapi juga anak. Sementara menurut Betary Maharani, Ada dua manfaat penting dalam psikodrama. Pertama manfaat kartasis atau melepaskan emosi. Manfaat kedua adalah bisa melihat sesuatu dari sudut pandang orang lain. Dengan mendramatisasikan konflik-konflik batinnya, pasien dapat merasa sedikit lega dan dapat mengembangkan pemahaman (insight) baru yang memberinya kesanggupan untuk mengubah perannya dalam kehidupan yang nyata. C. Prosedur Pelaksanaan Langkah-langkah pelaksanaan psikodrama: 1. Tahap persiapan (The warm-up). Tahap persiapan dilakukan untuk memotivasi anggota kelompok agar mereka siap berpartisipasi secara aktif dalam permainan, menentukan tujuan permainan, menciptakan perasaan aman dan saling percaya pada kelompok. 2. Tahap pelaksanaan (The action). Tahap pelaksanaan tediri dari kegiatan dimana pemain utama dan pemain pembantu memperagakan permainannya. Dengan bantuan pemimpin kelompok dan anggota kelompok lain pemeran utama memperagakan masalahnya. 3. Tahap diskusi atau tahap berbagi pendapat dan perasaan (The sharing). Dalam tahap diskusi atau tahap bertukar pendapat dan kesan, para anggota kelompok diminta untuk memberikan tanggpan dan sumbangan pikiran terhadap permainan yang dilakukan oleh pemeran utama. Tahap diskusi ini penting karena merupakan rangkaian proses perubahan perilaku pemeran utama kearah keseimbangan pribadi. Komponen utama/dasar (operational component of) psikodrama: 1. Panggung permainan (stage): Merupakan ruang kehidupan psikologis dan fisik bagi subjek atau pasien. 2. Pemimpin psikodrama (Director): Yaitu Psychodramatist terlatih yang membimbing peserta melalui setiap fase dari sesi. 3. Pemegang peran utama(protagonist): Anggota yang dipilih untuk mewakili tema dalam kelompok drama. 4. Peran pembantu (Auxilary egos): Anggota kelompok yang diasumsikan mempunyai peran penting lain dalam drama. 5. Pendengar (Audience): Anggota kelompok yang menyaksikan drama dan mewakili dunia pada umumnya. Dalam psikodrama, peserta mengeksporasi konflik yang terjadi di dalam diri (internal conflic) dimunculkan keluar melalui tindakan dengan mengeluarkan emosinya (acting) dan interaksi antarpribadi dengan pemain lainnya di atas panggung (stage). Sebuah psikodrama diberikan sesi

(biasanya 90 menit sampai 2 jam) dengan fokus utama pada satu peserta (peserta yang mempunyai masalah), yang dikenal sebagai protagonis (protagonist). Sedangkan pemain lainnya bertugas membantu protagonis (Auxilary Egos). Protagonis menguji hubungannya dengan berinteraksi dengan para pemain lain dan pemimpin (Director). Layaknya sebuah drama yang dipentaskan, psikodrama ini selain membutuhkan pemain juga membutuhkan suasana yang mendukung. Ada banyak teknik yang bisa digunakan misalnya saja dengan doubling (psikodrama), pembalikan peran (bertukar peran dengan pemain lain), cermin, solilokui, dan diterapkan sosiometri. Seperti yang dikembangkan dan dipraktekan oleh Moreno, psikodrama menggunakan tempat yang menyerupai panggung. Hal ini bertujuan supaya pasien memainkan peran di alam khayal, dengan demikian dia merasa bebas mengungkapkan sikap-sikap yang terpendam dan motivasi-motivasi yang kuat. Ketika peran dimainkan, implikasi-implikasi realistis dari tingkah lakunya yang dramatis menjadi jelas, ketrampilan Terapis dalam mengenal dan menafsirkan dinamika yang di ungkapkan memudahkan proses terapi. Menurut Yustinus (2006:563) Ada 3 tahap yang penting dalam psikodrama, yaitu: 1. Tahap pelaksanaan. Dimana subyek memerankan khayalan-khayalannya. 2. Tahap penggantian. Dimana orang-orang yang sebenarnya menggantikan orang-orang yang di khayalkan subyek. 3. Tahap penjernihan. Dimana diadakan penngalihan dari kontak dengan individu-individu pengganti, kontak dengan individu-individu dimana subyek memiliki kesempatan menyesuaikan diri dengan mereka dalam kehidupan yang nyata. Selanjutnya Whittaker (dalam Yustinus, 2006:563) mengungkapkan 4 teknik yang bisa digunakan dalam psikodrama yaitu: 1. Presentasi diri, Klien mempresentasikan dirinya sendiri atau seorang figur yang penting dalam kehidupannya. 2. Memimpin percakapannya sendiri. Klien melangkah keluar dari drama dan berbicara pada dirinya sendiri dan kepada kelompok 3. Teknik ganda (Doubling). Seorang ego penolong (Auxilary Egos) berperan bersama dengan pasien dan melakukan segala sesuatu yang dilakukan pasien pada waktu yang sama. 4. Teknik cermin. Seorang ego penolong (Auxilary Egos) berperan sejelas mungkin menggantikan klien. Dari para penonton, klien memperhatikan bagaimana dia melihat dirinya sendiri sebagaimana orang-orang lain melihatnya. Pemimpin (Director) berfungsi baik sebagai produser maupun sebagai terapis. Sebagai produser, dia mengatur dan memilih adegan adegan dan juga memimpin tindakan (perbuatan) psikodramatis. Adegan-adegan dipilh berdasarkan situasi-situasi yang mengandung muatan emosional bagi pasien atau berdasarkan situasi-situasi dimana pasien bertingkah laku tidak tepat atau tidak efektif dalam situasi-situasi itu.

Sebagai terapi, Pemimpin memberikan dukungan atau klarifikasi pada aktor dan kadang kadang memberikan penafsiran (seiring dengan bantuan para anggota kelompok lain) tentang adegan permainan itu. D. Komentar Psikodrama ini merupakan salah satu metode bimbingan dan konseling kelompok yang sangat bermanfaat bagi konseli/klien/peserta didik. Walaupun Psikodrama ini pada awalnya digunakan untuk penyembuhan (psikoterapi), akan tetapi ada teknik-teknik dari psikodrama yang dapat diaplikasikan ke dalam metode bimbingan dan konseling maupun metode pembelajaran. Psikorama dapat digunakan oleh konselor untuk membantu memecahkan masalah-masalah klien yang bersifat psikologis. Metode psikodrama ini memang sangat membantu untuk pemecahan masalah karena klien secara spontan dapat menggali sendiri masalahnya (mengeksporasi potensipotensi yang ada dalam dirinya), meluapkan emosi yang terpendam serta mendapatkan pemecahan masalah yang berasal dari konselor dan anggota kelompok lainnya. Akan tetapi psikodrama ini akan sulit dilakukan pada klien yang kepercayaan dirinya sangat lemah(under estimate), pendiam, tidak suka banyak bercerita, tertutup dan pemalu untuk mengungkapkan dirinya sendiri di depan banyak orang. Sementara bagi klien yang suka bercerita dan terbuka mudah saja dalam melakukan kegiatan psikodrama ini. Selain itu, anggota kelompok lain juga mampu menghayati peran atau menempatkan diri dalam posisi yang diperankan. Sehingga drama dapat berlangsung sesuai dengan yang diharapkan. Anggota kelompok dapat saling memberikan masukan dan pendapatnya pada akhir sesi dalam sudut pandang yang berbeda dengan sudut pandang tokoh utama. Pada psikodrama ini hanya satu klien saja yang difokuskan. Sehingga anggota kelompok lain yang mempunyai masalah lain tidak bisa dilibatkan dalam drama yang sama. Melainkan, perlu melaukan kegiatan psikodrama lagi. E. Saran dari beberapa masyarakat Kegiatan psikodrama membutuhkan keterampilan konselor dalam membawakan psikodrama agar berjalan dengan baik, terutama untuk mengatur jalannya psikodrama agar tidak terlalu lama, fokus pada permasalahan dan tidak membosankan. Kegiatan psikodrama ini juga memerlukan tempat yang luas dan cukup hening, agar tidak terganggu oleh keramaian yang dapat merusak suasana psikodrama atau justru mengganggu kegiatan lain seperti kegiatan pembelajaran di sekolah. Psikodrama juga membutuhkan keterlibatan dari anggota kelompok untuk bermain peran dengan baik. REFERENSI: . 2008. Strategi Pembelajaran dan Pemilihannya. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional.

Fribasari, Wahidah. 2006. Skripsi: Evektivitas Layanan Bimbingan Kelompok dalam Bidang Bimbingan Sosial untuk Meningkatkan Hubungan Interpersonal Remaja di Panti Asuhan Kumuda Putra Putri Magelang Tahun 2005. Semarang: Universitas Negeri Semarang. Romlah, Tatiek. 2001. Teori dan Praktek Bimbingan Kelompok. Malang: Universitas Negeri Malang. Yustinus, Semiun Drs. 2006. Kesehatan Mental 3. Yogyakarta: Kanisius Sumber Internet : Adam Bletner, M.D. FAQ (Frequently Asked Questions) About Psychodrama. 23 Januari 2005. http://www.blatner.com/