Anda di halaman 1dari 39

Laporan Praktikum Biologi Laut

Kelompok IV

Galang Sila Persada Betta Ady Gunawan Anita Rachman S. Maulida Nur Selia Fathana Yan Kartika Sari Denisa Intan D. Aditya Moersid Maspenti Danny Andrianto Maya Isma Widiyanti

B1J008115 B1J009023 B1J009027 B1J009029 B1J009041 B1J009066 B1J009075 B1J009108 B1J009118 B1J009135 B1J009136

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN FAKULTAS BIOLOGI PURWOKERTO 2012

I. DESKRIPSI LOKASI Karimunjawa adalah kepulauan di Laut Jawa yang termasuk dalam Kabupaten Jepara, Jawa Tengah. Dengan luas daratan 1.500 hektare dan perairan 110.000 hektare, Letak geografis taman tersebut berada pada posisi 5o 4000-5o 58 50 LS dan 110o 05 00 110o3100 BT atau berjarak kurang lebih 45 mil laut dari kota Jepara.Taman Nasional Krimunjawa terdiri dari 27 pulau. Dari keseluruhan pulau-pulau tersebut terdapat hanya 22 pulau yang dihuni, mengingat fungsi taman tersebut sebagai Taman Nasional yang dibagi menjadi 4 zona, diantaranya yaitu Zona Rimba sebagai tempat pengambilan sampel yang akan digunakan sebagai data. Zona Rimba memiliki luas 7.801 Ha.Zona ini digunakan untuk kegiatan penelitian, pendidikan dan ilmu pengetahuan.Fungsi zona ini adalah untuk melindungi habitat karang, burung elang laut, dara laut, penyu sisik, penyu hijau dan sawo kecik. Zona ini meliputi Pulau Karang Besar, Pulau Karang Kecil, Pulau Cemara, Pulau Bengkoang serta sebagian Pulau Karimunjawa dan Pulau Kemujan. Pengambilan sampel tepatnya dilakukan di Pulau Cemara Besar. Pulau Cemara besar mempunyai luas sekitar 3,5 hektar. Pulau ini dimiliki oleh Sekolah Usaha Perikanan Menengah (SUPM) Tegal. Pulau ini tidak terdapat penduduk yang

menempatinya. Kondisi pantai berpasir putih dan daratan dipenuhi dengan pohon cemara serta keadaannya masih alami.Pantai di belakang pulau sangat berbahaya karena banyak terdapat ikan pari, disini diharapkan pengunjung mengunakan alas kaki untuk menuju pulau. Saat air laut sedang surut, akan muncul hamparan pasir putih panjang dan luas yang menjorok dari pulau ke laut, hamparan pasir menjorok inilah yang menjadi daya tarik terbesar pulau ini.Pulau ini tidak memiliki dermaga kayu untuk berlabuh, sehingga kapal harus menambatkan tali ke batu karang atau bersandar ke pasir.Pulau ini mempunyai daerah rataanpasir yang cukup luas sehingga kerap dijadikan sebagailokasi penelitian. (Dian, 2005) Karimunjawa ditetapkan oleh pemerintah Jepara sebagai Taman Nasional dan merupakan salah satu dari 9 Taman Laut Nasional di Indonesia sejak tanggal 15 Maret 2001, Karimunjawa ditetapkan oleh pemerintah Jepara sebagai Taman Nasional., Karimunjawa terdiri atas 27 pulau. Lima pulau dihuni oleh penduduk, sementara sisanya adalah pulau-pulau perawan tak berpenghuni nan jelita. Terdapat 5 jenis ekosistem di kepulauan ini; terumbu karang, rumput laut, hutan bakau, hutan pantai, dan hutan hujan tropis dataran rendah dengan keanekaragaman

hayati yang sangat tinggi.Karimunjawa kini dikembangkan menjadi pesona wisata Taman Laut yang mulai banyak digemari wisatawan lokal maupun mancanegara. Karimunjawa adalah rumah bagi terumbu karang, hutan bakau, hutan pantai, serta hampir 400 spesies fauna laut, di antaranya 242 jenis ikan hias. Beberapa fauna langka yang berhabitat disini adalah elang laut dada putih, penyu sisik, dan penyu hijau. Tumbuhan yang menjadi ciri khas Taman Nasional Karimunjawa yaitu dewadaru (Crystocalyx macrophyla) yang terdapat pada hutan hujan dataran rendah. Ombak di Karimunjawa tergolong rendah dan jinak, dibatasi oleh pantai yang kebanyakan adalah pantai pasir putih halus.

II. PENDAHULUAN

A. Plankton Menurut Rambe (1985), istilah plankton berasal dari kata-kata Yunani yang berarti mengembara. Plankton meliputi semua fauna dan flora laut yang demikian halus dan lemah untuk berbuat sesuatu kecuali hanyut atau melayang kemana-mana terbawa arus. Flora dikenal sebagai fitoplankton, sedangkan fauna sebagai zooplankton dan kedua-duanya penting sebagai sumber makanan ikan atau hewan-hewan lain di laut. Plankton adalah jasad-jasad renik yang hidup melayang-layang dalam air, tidak bergerak atau bergerak sedikit dan pergerakannya dipengaruhi oleh arus air (Sachlan, 1982). Plankton dibedakan menjadi dua menurut jenisnya, yaitu fitoplankton dan zooplankton. Selain itu, berdasarkan sejarah hidupnya dibagi menjadi dua kelompok yaitu holoplankton dan meroplankton. Holoplankton adalah plankton yang selama hidupnya sebagai plankton, sedangkan meroplankton sebagian masa hidupnya sebagai plankton, namun setelah dewasa bukan sebagai plankton lagi (Welch, 1952). Meroplankton terdiri dari telur-telur, larva atau juvenil macam-macam avertebrata maupun vertebrata (Sachlan, 1982). Plankton merupakan biota di laut yang teramat beranekaragam dan terpadat dilaut, menyusul kemudian bentos. Banyak biota laut yang dalam daur hidupnya menempuh lebih dari satu cara hidup. Pada saat mereka menjadi larva atau juwana (juvenil), mereka hidup sebagai plankton dan kemudian menjadi nekton atau bentos pada saat dewasa. Nekton adalah biota yang berenang-renang yang hanya terdiri dari hewan. Sedangkan bentos adalah biota yang hidup di atas atau didalam dasar laut baik itu tumbuh-tumbuhan maupun hewan (Ramimohtarto, 2001).

B. Lamun Lamun adalah tumbuhan tingkat tinggi (Angiospermae) yang telah beradaptasi untuk dapat hidup terbenam di air laut. Secara struktural lamun memiliki batang yang terbenam didalam tanah, disebut rhizom atau rimpang. Rimpang dan akar lamun terbenam di dalam substrat yang membuat tumbuhan lamun dapat berdiri cukup kuat menghadapi ombak dan arus. Lamun memiliki dua bentuk pembungaan, yakni monoecious (dimana bunga jantan dan betina berada pada satu individu) dan dioecious (dimana jantan dan betina berada pada individu yang berbeda). Peyerbukan terjadi melalui media air (penyerbukan hydrophyllous) (Endrawati, 2011).

Padang lamun adalah ekosistem perairan dangkal yang didominasi oleh lamun. Ekosistem ini memiliki banyak ragam biota yang hidup berasosiasi dengan lamun. Menurut Hendra (2011) lamun memiliki peran penting yang ditinjau dari beberapa aspek, diantaranya yaitu:

Keanekaragaman hayati: padang lamun memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi karena padang lamun merupakan habitat penting untuk berbagai jenis hewan laut seperti ikan, moluska, krustacea, ekinodermata, penyu, dugong dan lain-lain. Di perairan Indonesia diperkirakan terdapat 13 jenis lamun.

Kualitas air: lamun dapat membantu mempertahankan kualitas air. Perlindungan: lamun dapat mengurangi dampak gelombang pada pantai sehingga dapat membantu menstabilkan garis pantai.

Ekonomi: padang lamun menyediakan berbagai sumberdaya yang dapat digunakan untuk menyokong kehidupan masyarakat, seperti untuk makanan, perikanan, bahan baku obat, dan pariwisata. Seperti ekosistem terumbu karang dan mangrove, padang lamun juga mengalami

degradasi lingkungan dan presentasi tutupannya juga terus munurun. Ada beberapa faktor yang menyebabkan terjadinya tekanan terhadap padang lamun (Irham, 2009):

Perubahan fisik dasar laut, seperti erosi, sedimentasi, dan pelumpuran yang mengurangi wilayah dan kepadatan tutupan padang lamun.

Kekeruhan yang mempengaruhi kapasitas fotosintesis dan pertumbuhan lamun. Metode penangkapan ikan yang tidak ramah lingkungan, seperti trawl. Penangkapan ikan berlebih yang dapat menurunkan tingkat keragaman hayati di ekosistem padang lamun.

C. Terumbu Karang Ekosistem terumbu karang merupakan salah satu penyusun ekologi laut tropis, keberadaanya di lautan memiliki arti yang sangat penting karena ekosistem terumbu karang merupakan salah satu sumber produktivitas primer di lautan yang memiliki peran penting bagi kelangsungan hidup ikan.Ekosistem terumbu karang terdiri atas terumbu karang yang merupakanstruktur dasar di laut berupa deposit kalsium karbonat yang dihasilkan oleh hewan karang. Karang merupakan hewan yang tidak memiliki tulang belakang, yangtermasuk ke dalam

filum Coelenterata (hewan berrongga) atau Cnidaria , Ordo Scleractinia dan Sub kelas Octocorallia (kelas Anthozoa) maupun kelas Hydrozoa (Nugraha, 2010). Menurut Nybakken (1992) dalam Dewi (2006), hewan karang memiliki dua jenis macam pertumbuhan yaitu karanghermatipik dan karang ahermatipik. Karang hermatipik bersimbiosis denganzooxanthella dan dapat menghasilkan terumbu.Sedangkan karang ahermatipiktidak bersimbiosis dengan zooxanthella dan tidak menghasilkan terumbu.Keberadaan karang ahermatipik tersebar di seluruh dunia, sedangkan karanghermatipik hanya tersebar di daerah tropik.Zooxanthella yangterdapat pada karang berperan dalam hal kegiatatan fotosintesis yangmenghasilkan oksigen bagi kepentingan metabolisme organisme karang itu sendiridan bagi organisme yang berada di sekitar ekosistem terumbu karang, sehinggaekosistem terumbu karang merupakan salah satu ekosistem yang memiliki produktivitas yang sangat tinggi di perairan. Berdasarkan proses terbentuknya (geomorfologi) Nybakken (1992) dalam Dewi (2006) mengelompokkan terumbu karang dalam 3 tipe.Karang tepi (fringing reefs) adalah tipe yang paling umum dijumpai,merupakan terumbu yang tumbuh mengelilingi pulau, jarak dari pantaibervariasi dari 3-300 m.terumbu karang ini etrdapat pada kedalaman tidak lebih dari 40m. Karang penghalang (barier reefs), adalah terumbu yang terletak sejajar pantaipulau utama namun dipisahkan oleh laut.Lebar laut pemisah tersebut dapatmencapai enam kilometer dan kedalamannya 40m -70m.Karang cincin (atoll) adalah terumbu karang yang melingkar atau ovalmengelilingi goba.Pada terumbu tersebut terdapat satu atau dua pulau kecil.Karang cincin terbentuk dari tenggelamnya pulau vulkanik yang dikelilingi olehkarang tepi.Selain itu dikenal pula Patch reefs, terumbu yang berbentuk lingkaran, tidakterlalu besar yang muncul di goba atau di belakang karang penghalang. Komunitas karang dapat juga dibedakan atas letak karang tersebut padaterumbu karang.Forereef, yaitu karang yang terletak berhadapan langsungdengan laut lepas.Reef flat yaitu rataan terumbu yang relatif dangkal danpada saat tertentu dapat terpapar sinar matahari.Back reef yaitu komunitasterumbu di belakang reef flat dicirikan dengan keadaan air yang relatif tenang.Walaupun mampu membentuk terumbu yang keras seperti batu, tapi hewankarang memiliki batasan faktor fisik yang relatif sempit.Faktor fisik tersebutadalah cahaya, suhu, salinitas, dan sedimentasi.Karena hewan karang bersimbiosis dengan alga zooxanthellae, maka cahayamenjadi salah satu faktor pembatas bagi kehidupan karang.Oleh sebab ituhewan karang hanya dapat hidup pada kedalaman kurang dari 30 m (Dewi, 2006).

Suhu optimum untuk pertumbuhan hewan karang adalah berkisar 25-29OC sedangkan suhu minimal 20OC dan suhu maksimum 36OC. Kisaran suhuyang relatif sempit ini (stenotermal), menyebabkan penyebaran karang hanyapada daerah tropik.Salinitas yang sesuai dengan pertumbuhan hewan karang adalah sekitar 30-36 ppt.Sedimentasi merupakan salah satu pembatas pertumbuhan karang. Daerahyang memiliki sedimentasi yang tinggi akan sulit untuk menjadi tempat yangbaik bagi pertumbuhan karang. Tingginya sedimentasi

menyebabkanpenetrasi cahaya di air laut akan berkurang dan hewan karang (polip) akanbekerja keras untuk membersihkan partikel yang menutupi tubuhnya.Faktor fisik lain yang turut mempengaruhi penyebaran terumbu karang adalahgelombang, arus dan tingginya kisaran antara pasang dan surut. Gelombangdan arus erat kaitannya dengan penempelan planula serta morfologi karang.Perbedaan pasang dengan surut, mempengaruhi lamanya karang terpaparsinar matahari saat laut surut (Dewi, 2006).

D. Ikan Karang Kesan pertama yang diperoleh oleh seorang penyelam di perairan terumbu karang ialah terpesona dengan hewan-hewan laut yang beragam dan paling menarik dengan gerakannya yang lincah. Patut dicatat bahwa bukan hanya jenis ikan-ikan karang tersebut yang beragam, tetapi tingkah laku dan interaksi di antara ikan-ikan karang tersebut juga sangat bermacam-macam, sehingga menarik untuk diamati. Ikan karang merupakan organisme yang jumlah biomassanya terbesar dan juga merupakan organisme yang mencolok dapat ditemui di dalam ekosistem terumbu karang. Kondisi fisik terumbu karang yang kompleks memberikan andil bagi keragaman dan produktivitas biologinya. Banyak celah dan lubang di terumbu karang yang memberikan tempat tinggal, perlindungan tempat mencari makan dan berkembang biak bagi ikan dan hewan invertebrata yang ada disekitarnya. Kecendrungan dari ikan-ikan karang adalah mereka tidak berpindah-pindah dan selalu berada pada daerah tertentu dan sangat terlokasi walaupun masih banyak (TERANGI, 2004). Salah satu kekuatan utama Karimunjawa adalah terumbu karang. Lebih dari 69 marga karang keras dan tak kurang dari 353 spesies ikan karang hidup di perairan laut tropisnya yang jernih. Karakteristik ikan karang di Karimunjawa cukup unik. Keanekaragaman ikan karang yang ditemukan di Karimunjawa merupakan kondisi peralihan antara jenis-jenis ikan karang yang sering ditemukan di perairan Kepulauan Seribu dan Kepulauan Bali. Terumbu karang

merupakan suatu ekosistem unik perairan

tropis dengan tingkat produktifitas dan

keanekaragaman biota yang sangat tinggi. Peranan biofisik ekosistem terumbu karang sangat beragam, diantaranya sebagai tempat tinggal, tempat berlindung, tempat mencari makan dan berkembang biak bagi beragam biota laut, disamping berperan sebagai penahan gelombang dan ombak serta sebagai penghasil sumberdaya hayati yang bernilai ekonomis tinggi. Ikan karang adalah salah satunya (Suharti, 1996).

III.

MATERI DAN METODE

A. Materi a. Plankton Alat yang digunakan dalam pengambilan plankton adalah planktonnet dan botol sampel. Bahan yang digunakan adalah formalin 40%. b. Lamun Alat yang digunkan dalam pengamatan komunitas lamun adalah snorkel set, line transek, plot kuadrat plastic sampel, dan alat tulis. Bahan yang digunakan adalah species lamun yang ada di Karimun Jawa. c. Terumbu Karang Alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah: pelampung perahu depth sounder line transect lux meter -salt refraktometer dan flowmeter -SCUBA (Self-Contained Underwater BreathingApparatus) - alat tulis - kamera dalam air - fin

GPS(Global Positioning System)

Bahan yang digunakan adalah seluruh spesies terumbu karang yang terdapat di Karimun Jawa d. Ikan Karang Alat dan bahan yang digunakan dalam praktikum ikan karang adalah masker, snorkel, fin, meteran, papan tulis, kamera dan buku identifikasi.

B. Metode

a. Plankton Jaring planktonnet ditarik dengan perahu selama perjalanan dari pulau tengah ke dermaga pulau karimun. Lalu hasil dari saringan dimasukkan kedalam botol sampel dan diberi formalin 4 % sebagai pengawet. b. Lamun

Metode pengamatan serta pengambilam sampel lamun yaitu: 1. Tarik tali raffia sepanjang 12 meter tegak lurus dari garis pantai. 2. Jenis lamun diamati dengan metodesampling acak sistematik sedangkan pengambilan sampelnya dilakukan dengan menggunakan teknik garis transek. 3. Dua plot kuadrat berukuran 50 x 50 cm diletakan secara sejajar dengan posisi tali raffia berada diantara plot kuadrat. 4. Amati dan hitung jenis serta individu lamun yang ada dalam plot kuadrat. 5. Dari setiap jenis yang ditemukan, diambil satu individu untuk diidentifikasi. 6. Dari hasil yang didapat, dilakukan analisas data untuk menghitung kerapatan setiap jenis lamun dengan rumus: Kerapatan = Keterangan PK = Plot Kuadrat Pantai PK I PK II

PK III

PK IV

PK V

PK VI

c. Terumbu Karang Metode pengambilan sampel dilakukan dengan caraline transek dengan cara yaitu: 1. Transek dipasang sepanjang 10 m. Garis transek dipasang berdasarkan kontur kedalaman dan sejajar garis pantai tanpa memperhatikan jarak dari garis pantai. 2. Pengambilan data dengan cara mengukur panjang koloni organisme karang (lifeform) tepat di bawah garis transek. Pengukuran kategori lifeformdiawali dari titik nol (titik awal transek yang harus dimulai dari suatu lifeform).

Persentase karang hidup dihitung dengan rumus: Panjang koloni karang hidup x 100% Panjang transek Dengan ketentuan sebagai berikut : 1. Tutupan karang hidup <25% dinyatakan buruk 2. Tutupan karang hidup 24%-50% dinyatakan sedang 3. Tutupan karang hidup 50%-75% dinyatakan baik 4. Tutupan karang hidup > 75% dinyatakan baik sekali Pengukuran data faktor lingkungan a. Salinitas (ppt): Air sampel diambil disetiap lokasi transek pada permukaan dan kedalaman transek, diambil satu tetes untuk diukur dengan alat refraktometer. b. Penetrasi cahaya (m): Penetrasi cahaya dapat menggunakan keeping Secchi.Keeping Secchi

ditenggelamkan sampai pada kedalaman keeping Secchi tidak terlihat, maka kedalaman tersebut adalah nilai penetrasi cahaya. c. Suhu (0C) Pengukuran suhu air laut dilakukan setiap lokasi transek pada kedalaman transek menggunakan thermometer. d. Arus (m/detik) Pengukuran arus dilakukan disetiap lokasi transek menggunakan bola duga.Kincir yang terhubung dengan bola duga ditempatkan pada kedalaman air dan dibiarkan selama satu menit.Setelah tepat satu menit, jarak antara bola duga pertama dan terakhir dihitung. Pendataan Hasil Para praktikan menggunakan snorkel, masker dan fin untuk mendata jenis terumbu karang dari permukaan perairan dan melihat cara kerja pengambilan data mencatat hasil menggunakan alat tulis bawah air. dengan

d. Ikan Karang

Metode pengambilan sampel yang digunakan dalam praktikum ikan karang adalah dengan metode Strip Transect Count (STC) dengan tahapan-tahapan sebagai berikut : 1. Tentukan titik-titik sampling secara acak. Jarak antar titik sampling ditentukan menggunakan jumlah kayuhan renang berdasarkan digit terakhr dari table nor acak. 2. Tentukan lokasi pemasangan transek garis. Transek garis sepanjang 50 m di bentangkan, lalu selama 5 menit lokasi transek dibiarkan agar ikan-ikan terbiasa dengan kondisi baru. 3. Pengamat berenang di area selebar 5 meter sebelah kanan dan kiri transek. Pengamatan dilakukan dengan menghitung setiap spesies dari family yang umum ditemui disepanjang transek. Untuk menghindari perhitungan ganda, ikan yang menyebrangi garis dihitung dari tempat asalnya.

IV.

HASIL DAN PEMBAHASAN A. Hasil

a. Plankton
No Species Jumlah individu 1 Cosmarium cucurbitum 1 Gambar

b. Lamun B. Hasil : Plot Kuadrat I II III IV V VI Jumlah Tegakan 49 57 69 55 325 230 Kerapatan 49/0,25 = 196 57/0,25 = 228 69/0,25 = 276 55/0,25 = 220 325/0,25 = 1300 230/0,25 = 920

Luas plot kuadrat = 50 x 50 cm = 2500 cm2 = 0,25 m2

c. Terumbu Karang 1. Acropora Branching (ACB) Persentase tutupan=Panjang total seluruh kategori terumbu karang hidup x 100% Panjang total transek = 3,5x 100 % 10 = 35 % 2. AcroporaTabulate (ACT) Persentase tutupan=Panjang total seluruh kategori terumbu karang hidup x 100% Panjang total transek = 0,4 x 100 % 10 =4% 3. Coral Massive (CM) Persentase tutupan=Panjang total seluruh kategori terumbu karang hidup x 100% Panjang total transek = 0,7x 100 % 10 =7% 4. Coral Foliose (CF) Persentase tutupan=Panjang total seluruh kategori terumbu karang hidup x 100% Panjang total transek = 1,5x 100 % 10 = 15 % 5. AcroporaCoral Submassive (ACS) Persentase tutupan=Panjang total seluruh kategori terumbu karang hidup x 100% Panjang total transek = 0,4x 100 % 10 =4%

6. Coral Submassive (CS) Persentase tutupan=Panjang total seluruh kategori terumbu karang hidup x 100% Panjang total transek = 0,3x 100 % 10 =3%

Total persentase tutupan terumbu karang= 35+4+7+15+4+3= 68 % Gambar bentuk tutupan karang

d. Ikan Karang

B. Pembahasan a. Plankton Phytoplankton dan zooplankton hanya menempati lapisan air laut yang mendapat cahaya matahari dimana sampai ke dalaman 100-200 m. Phytoplankton sampai kedalaman 100 m sedangkan zooplankton berada lebih dalam lagi sampai 200 m, dan sewaktu-waktu bermigrasi vertikal untuk mencari makanan berupa fitoplankton (Brotowijoyo, 1996). Nontji (1987), mengemukakan bahwa plankton, baik fitoplankton maupun zooplankton mempunyai peranan penting dalam ekosistem laut karena plankton menjadi bahan makanan bagi berbagai jenis hewan laut lainnya. Selain itu hamper semua hewan laut memulai kehidupannya sebagai plankton terutama pada tahap masih berupa larva. Praktikum kali ini di kepulauan karimun jawa didapatkan satu jenis plankton yaitu Cosmarium cucurbitum, hanya ditemukan satu jenis ini mungkin disebabkan karena kesalahan dalam mengambil sampel dimana planktonnet tidak benar-benar masuk ke badan air sehingga organism plankton yang tersaring sedikit. Klasifikasinya adalah Domain : Eukaryota

Kingdom : Protista Division Class Order Family Genus Species : Charophyta : Zygnemophyceae : Desmidiales : Desmidiaceae : Cosmarium : Cosmarium cucurbitum

Zooplankton merupakan salah satu jenis plankton, kelompok ini terdiri dari jenis-jenis hewan yang sangat beragam termasuk protozoa, coelenterate, moluska, annelida dan crustacean. Dari beberapa organisme tersebut ada yang bersifat sebagai plankton dalam seluruh hidupnya contohnya cepopoda, namun ada juga banyak hewan yang bersifat sebagai plankton hanya untuk sebagian hidupnya, contohnya crustacean (Hutabarat dan Evans, 1986). Plankton di laut distribusinya sangat tidak merata, kadang-kadang kosentrasi phytoplankton berbeda tempatnya dengan kosentrasi zooplankton. Penyebaran ini dapat diramalkan melalui suatu formula yang didasarkan atas faktor-faktor pembatas yaitu temperatur, cahaya, pH, oksigen terlarut dan konsentrasi phospat. Semua factor ini utamanya sangat

berpengaruh pada proses penguapan dan fotosintesis (Odum, 1993). Zooplankton merupakan plankton hewani yang berukuran sangat kecil dan tersuspensi dalam air (Ludwig, 1999). Sebagian besar zooplankton memiliki panjang tubuh sekitar 0,5 hingga 1 mm, hanya sebagian kecil yang memiliki ukuran lebih kecil dari 0,1 mm atau yang lebih besar dari 3 mm (Goldman and Horne, 1983). Hampir semua zooplankton memiliki kemampuan bergerak walaupun lemah, apakah itu dengan pergerakan tubuhnya atau dengan menggunakan cilia, flagela, atau appendages khusus (Davis, 1955). Zooplankton adalah organisme heterotrofik, yaitu organisme yang tidak dapat mensintesa bahan organik yang dibutuhkannya, dan dalam ekosistem perairan berperan sebagai konsumer tingkat pertama yang langsung memakan fitoplankton (Sinaga, 1987). Menurut Sachlan (1982) zooplankton adalah konsumer primer yang mempunyai rangka-rangka atau dinding kapur (CaCO3), kitin silikat, spongiae yang sukar hancur atau larut sepanjang masa. Fitoplankton sebagai produser primer di perairan, keberadaannya sangat penting bagi kehidupan seluruh organisme akuatik dalam perairan, baik di perairan tawar, payau, maupun di laut. Fitoplankton tidak ada, tidak mungkin ada kehidupan hewan di permukaan sampai ke dasar perairan. Fitoplankton memiliki kemampuan dalam melakukan fotosintesis (Sachlan, 1982). Zooplankton terdiri atas berbagai hewan air, yang mewakili berbagai phylum dan classis dari dunia hewan (Purnamawati, 2002). Menurut Davis (1955) jenis-jenis zooplankton digolongkan ke dalam phylum Protozoa, Porifera, Coelenterata, Ctenophora, Platyhelminthes, Nemertea, Nemathelminthes, Rotifera, Bryozoa, Brachiopoda, Phoronidea, Chaetognatha, Annelida, Arthtropoda, Mollusca, Echinodermata, dan Chordata. Lebih lanjut dikatakan oleh Sachlan (1982) bahwa dari sekian banyak kelompok zooplankton, zooplankton yang penting di air tawar terdiri dari 3 kelompok yaitu Protozoa, Rotatoria, dan Crustacea dari subclass Entomostraca (Cladocera, Ostracoda, dan Copepoda). Phyotplankton merupakan plankton yang amat banyak ditemukan diperairan, tetapi karena ukurannya mikroskopis maka sukar untuk mengetahui kehadirannya. Konsentrasinya bisa mencapai ribuan hingga jutaan sel perliter air laut. Sedangkan zooplankton terdiri dari banyak jenis hewan dan ukurannya lebih besar dari phytoplankton. Hampir semua hewan laut memulai kehidupannya sebagai plankton terutama pada masih berupa telur dan larva. Pada dasarnya di perairan sekitar muara sungai atau lepas pantai keberadaan fitoplankton sangat subur karena adanya upwelling (pengadukan) secara kontinu antara unsur-unsur hara dari daratan yang

terbawa arus sungai dan unsur-unsur hara dari laut (Nontji, 1993). Kelimpahan fitoplankton di suatu perairan dipengaruhi oleh beberapa parameter lingkungan dan karakteristik fisiologisnya. Komposisi dan kelimpahan fitoplankton akan berubah pada berbagai tingkatan sebagai respons terhadap perubahan-perubahan kondisi lingkungan baik fisik, kimia, maupun biologi. Faktor penunjang pertumbuhan fitoplankton sangat kompleks dan saling berinteraksi antara faktor fisika-kimia perairan seperti intensitas cahaya, oksigen terlarut, stratifikasi suhu, dan ketersediaan unsur hara nitrogen dan fosfor, sedangkan aspek biologi adalah adanya aktivitas pemangsaan oleh hewan, mortalitas alami, dan dekomposisi (Goldman dan Horne, 1983). Kehidupan organisme perairan selain ditentukan oleh tersedianya bahan organik, juga dipengaruhi oleh kondisi fisik kimia suatu perairan. Perubahan sedikit saja pada sifat fisik kimia air dapat memusnahkan atau mengembangkan zooplankton. Faktor fisika yang mempengaruhi kehidupan organisme perairan antara lain suhu, kedalaman, penetrasi cahaya, dan TSS, sedang faktor kimianya yaitu pH, oksigen terlarut (DO), karbondioksida bebas, BOD, DMA, serta nitrat (Sachlan, 1982). Suhu air merupakan salah satu faktor penting bagi zooplankton karena suhu mempunyai pengaruh universal dan sering menjadi faktor pembatas dalam pertumbuhan dan distribusi organisme akuatik (Odum, 1971). Secara tidak langsung suhu berpengaruh pada zooplankton karena suhu mempengaruhi berat jenis dan viskositas air. Hal ini berpengaruh terhadap daya melayang zooplankton. Selain itu, suhu air dapat mempengaruhi migrasi, laju metabolisme, dan kebutuhan oksigen terlarut suatu organisme air (Supriharjono, 1978). Kisaran suhu yang masih mendukung kehidupan organisme perairan adalah 20oC-30oC (Welch, 1952). Teknik Sampling Plankton Metode sampling Plankton terbagi menjadi dua yaitu metode Kualitatif, yaitu dimaksudkan untuk mengetahui jenisjenis plankton. Sedangkan metode Kuantitatif, yaitu untuk mengetahui kelimpahan plankton yang berkaitan dengan distribusi waktu dan tempat. (Omori dan Ikeda,1992). Metoda pengambilan sampling terbagi menjadi dua yaitu Pengambilan Sampling secara Horizontal ini dimaksudkan untuk mengetahui sebaran plankton horizontal. Plankton net pada suatu titik di laut, ditarik kapal menuju ke titik lain.Jumlah air tersaring diperoleh dari angka pada flowmeter atau dengan mengalikan jarak diantara dua titik tersebut dengan diameter plankton net.

Flowmeter untuk peningkatan ketelitian. Sampling secara Vertikal yaitu dengan meletakkan plankton net sampai ke dasar perairan, kemudian menariknya keatas. Kedalaman perairan sama dengan panjang tali yang terendam dalam air sebelum digunakan untuk menarik plankton net ke atas. Volume air tersaring adalah kedalaman air dikalikan dengan diameter mulut plankton net. (Omori dan Ikeda,1992) Jenis Peralatan Sampling Plankton: Peralatan yang dapat digunakan dalam kegiatan sampling plankton adalah:

1. Sampling menggunakan tabung/botol air (Water bottle) (Omori dan Ikeda, 1992). Sampling dilakukan dengan mengambil air laut pada kedalaman tertentu, menggunakan botol 100 ml. Sampling pada perairan di wilayah pantai dimana kelimpahan plankton tinggi. Sampling untuk plankton berukuran kecil ( fito atau nannoplankton ). Sampling mendapatkan air sampel 1 50 liter. 2. Sampling menggunakan Van Dorn/ Nansen Bottle Sampler (Omori dan Ikeda,1992). b. Lamun Jenis lamun yang ditemukan dalam transek hanya 4 jenis, diantaranya yaitu: Cymodocea rotundata, Halodule uninervis, Halophila ovalis dan Cymodocea serrulata. Hasil analisis data dengan menghitung kerapatan tegakan lamn pada setiap plot kuadrat menunjukan, daerah pantai yang lebih jauh dari tepi memiliki kerapatan lamun yang tinggi dibandingkan plot kuadrat yang diletakan dekat tepi pantai (plot kuadrat I dan II). Terlihat dalam hasil analisis data, kerapatan pada plot kuadrat V dan VI lebih tinggi dari plot kuadrat I dan II yang berada lebih dekat dengan pantai. hal ini dikarenakan lamun akan tumbuh lebih subur pada daerah yang selalu tergenang air. Lamun yang ditemukan saat praktikum merupakan tunas lamun karena panjang lamun tidak lebih dari 20 cm. Klasifikasi dari Cymodocea rotundata, Halodule uninervis, halophila ovalis dan Cymodocea serrulata dalam Herbarium Bandungense (2012), yaitu: 1. Divisi Kelas Bangsa Suku Marga Jenis :Magnoliophyta :Liliopsida : Potamogetonales :Cymadoceaceae :Cymodocea :Cymodocea rotundata Gambar Cymodocea rotundata

2. Divisi Kelas Bangsa Suku Marga Jenis 3. Divisi Kelas Bangsa Suku Marga Jenis 4. Divisi Kelas Bangsa Suku Marga Jenis

:Magnoliophyta :Liliopsida : Potamogetonales :Cymadoceaceae :Halodule :Halodule uninervis : Magnoliophyta : Liliopsida : Hydrocharitales : Hydrocharitaceae : Halophila : Halophila ovalis : Magnoliophyta : Liliopsida : Potamogetonales : Cymodoceaceae : Cymodocea : Cymodocea serrulata Gambar Cymodocea serrulata Gambar Halophila ovalis Gambar Halodule uninervis

Secara morfologi, Halophila ovalis memiliki akar rimpang yang berbuku-buku, daunnya tersusun berpasangan dengan tangkai daun yang kecil, bentuk daunnya bulat memanjang atau elips atau bulat telur. Habitat dari H.ovalis sedikit berpengaruh terhadap bentuk dari daunnya. H.ovalis akan berdaun kecil apabila tumbuh pada substrat yang keras, lumpur, dan pasir disepanjang batas pasang surut. H. ovalis akan berdaun lebar bila tumbuh pada substrat yang selalu tergenang. H.ovalis memiliki toleransi yang tinggi pada suhu tinggi sehingga jenis ini mampu tumbuh melimpah pada daerah tropis dan subtropis. H,ovalis hidup berasosiasi dengan Enhalus acoroides, Cymodocea rotundata dan Cymodocea serrulata (Endrawati, 2011). Cymodocea rotundata memliki rimpang yang liat berwarna coklat muda dan putih di bagian tunasnya. Rimpangnya berbuku-buku dengan panjang 11-35,9 mm. daru setiap buku akan muncul akar sekitar 1-3 buah. C.rotundata memiliki daun yang berbentuk seperti pita, tepi daunnya rata dengan ujung daun tumpul, panjang daunnya sekitar 77,2-180,3 mm dan lebar sekitar 3,7-4,95 mm. bunga dan buah dari C.rotundata dijumpai pada bulan Maret, April, Juni,

Juli dan November. Perbedaan antara C rotundata dengan C. serrulata adalah pada permukaan dan ujung daunnya (Endrawati, 2011). Halodule uninervis adalah lamun sublittoral ditemukan dari pertengahan pasang surut hingga kedalaman 20 m. Umumnya pada kedalaman antara 0-3 m di laguna sublittoral dan di dekat terumbu karang. H. uninervis dapat tumbuh di berbagai habitat yang berbeda.. Lamun ini dapat membentuk padang rumput padat bercampur dengan spesies lamun lain (Carruthers et al. (2007) dalam Hendra, 2011). H. uninervis termasuk dalam famili Potamogetonaceae. Ciri khas dari famili ini yaitu memiliki bentuk daun Parvozosterids, dengan daun memanjang dan sempit. Ciri khas H. uninervis adalah ujung daunnya yang berbentuk trisula dengan satu vena sentral yang membujur dengan ukuran lebar daun 1-1,7mm. Umur daun H. uninervis 55 hari dengan produksi tegakan sebanyak 38 tegakan/tahun (Hendra, 2011) Ekosistem padang lamun berfungsi sebagai penyuplai energi, baik pada zona bentik maupun pelagis. Detritus daun lamun yang tua didekomposisi oleh sekumpulan jasad bentik (seperti teripang, kerang, kepiting, dan bakteri), sehingga dihasilkan bahan organik, baik yang tersuspensi maupun yang terlarut dalam bentuk nutrien. Nutrien tersebut tidak hanya bermanfaat bagi tumbuhan lamun, tetapi juga bermanfaat untuk pertumbuhan fitoplankton dan selanjutnya zooplankton, dan juvenil ikan/udang. Banyak jenis biota laut lainnya hidup berasosiasi dengan lamun, seperti teripang, bintang laut, bulu babi, kerang, udang, dan kepiting. Duyung (Dugong dugong) adalah mamalia laut yang hidupnya amat bergantung pada makanannya berupa lamun. Penyu hijau (Chelonia mydas) juga dikenal sebagai pemakan lamun yang penting. Karena itu, rusak atau hilangnya habitat padang lamun akan menimbulkan dampak lingkungan yang luas. Karena fungsi lamun tak banyak dipahami, banyak padang lamun yang rusak oleh berbagai aktivitas manusia. Luas total padang lamun di Indonesia semula diperkirakan 30.000 kilometer persegi, tetapi diperkirakan kini telah menyusut 30-40 persen (Irham, 2009).

c. Terumbu Karang Terumbu karang merupakan ekosistem yang khas terdapat di daerah tropis. Ekosistem ini mempunyai produktivitas yang tinggi. Komponen biota terpenting di suatu terumbu karang adalah hewan karang batu (stony coral), hewan yang tergolong ordo Scleractinia yang kerangkanya terbuat dari bahan kapur. Ekosistem terumbu karang ditandai dengan perairan yang selalu hangat dan jernih, produktif dan kaya CaCO3 (kapur). Terumbu karang juga merupakan

tempat hidup bagi berbagai biota laut tropis Iainnya sehingga terumbu karang memiliki keanekaragaman jenis biota sangat tinggi dan sangat produktif, keanekaragaman biota di terumbu karang dengan bentuk dan warna yang beranekaragam pula menjadikan terumbu karang merupakan panorama di dasar laut yang sangat indah (Suharsono, 1996). Hasil penelitian Gee (1999) menunjukkanbahwa hewan karang dewasa melepaskan telur dan sperma atau zigot (fertilizedoffspring) ke dalam air lalu berkembang menjadi juvenil dan selanjutnya akanmenempati tempat baru dan membentuk koloni (Pangoanan, 2005). Kategori life form yang diukur pada pengamatan Line Intercept Transect (English et.al., 1994). Kategori Life form dan Kode Hard Coral a. Acropora - Branching - Encrusting - Submassive - Digitate - Tabulate b. Non-Acropora - Branching - Encrusting - Foliose - Massive - Submassive - Mushroom - Millepora - Heliopora Dead Coral Dead Coral With Alga Other Fauna: - Soft Coral - Sponge (SC) (SP) (CB) (CE) (CF) (CM) (CS) (CMR) (CME) (CHL) (DC) (DCA) (ACB) (ACE) (ACS) (ACD) (ACT)

- Zoanthids - Other Algae: - Alga Asemblage - Coralline Alga - Halimeda - Macroalgae - Turf Algae Abiotic: - Sand - Rubble - Silt - Water - Rock

(ZO) (OT)

(AA (CA) (HA) (MA) (TA)

(S) (R ) (SI) (WA) (RCK) Terumbu karang (coral reef ) sebagai ekosistem dasar laut dengan penghuni utama

karang batu mempunyai arsitektur yang mengagumkan dan dibentuk oleh ribuan hewan kecil yang disebut polip. Dalam bentuk sederhananya, karang terdiri dari satu polip saja yang mempunyai bentuk tubuh seperti tabung dengan mulut yang terletak di bagian atas dan dikelilingi oleh tentakel. Namun pada kebanyakan spesies, satu individu polip karang akan berkembang menjadi banyak individu yang disebut koloni (Sorokin, 1993). Berdasarkan kepada kemampuan memproduksi kapur maka karang dibedakan menjadi dua kelompok yaitu karang hermatipik dan karang ahermatipik. Karang hermatifik adalah karang yang dapat membentuk bangunan karang yang dikenal menghasilkan terumbu dan penyebarannya hanya ditemukan didaerah tropis. Karang ahermatipik tidak menghasilkan terumbu dan ini merupakan kelompok yang tersebar luas diseluruh dunia. Perbedaan utama karang Hermatipik dan karang ahermatipik adalah adanya simbiosis mutualisme antara karang hermatipik dengan zooxanthellae, yaitu sejenis algae unisular (Dinoflagellata unisular), seperti Gymnodinium microadriatum, yang terdapat di jaringan-jaringan polip binatang karang dan melaksanakan fotosistesis. Menurut bentuk dan letaknya, Sukarno (1993;23) membedakan terumbu karang menjadi tiga tipe, yaitu:

1.

Terumbu karang tepi (fringing reef) Terumbu ini tumbuh ke atas dan ke arah laut. Pertumbuhan terbaik biasanya terdapat di

bagian yang cukup arus, sedangkan diantara pantai dan tepi luar terumbu, jenis ini cenderung mempunyai pertumbuhan yang kurang baik, bahkan banyak yang mati karena sering mengalami kekeringan dan banyak endapan yang datang dari darat. Terumbu ini berbatasan dengan dataran pulau besar atau umumnya terdapat pada pulau-pulau kecil. Perkembangannya bisa mencapai kedalaman 40 meter dengan pertumbuhan ke atas dan ke arah luar menuju laut lepas. Dalam proses perkembangannya, terumbu ini berbentuk melingkar yang ditandai dengan adanya bentukan ban atau bagian endapan karang mati yang mengelilingi pulau. Pada pantai yang curam, pertumbuhan terumbu jelas mengarah secara vertikal. 2. Terumbu karang penghalang (barrier reef) Tipe ini terletak di berbagai jarak Terumbu ini dipisahkan dari daratan oleh goba (lagoon). Terumbu karang ini terletak pada jarak yang relatif jauh dari pulau, sekitar 0.52 km ke arah laut lepas dengan dibatasi oleh perairan berkedalaman hingga 75 meter. Terkadang membentuk lagoon (kolom air) atau celah perairan yang lebarnya mencapai puluhan kilometer. Umumnya karang penghalang tumbuh di sekitar pulau sangat besar atau benua dan membentuk gugusan pulau karang yang terputus-putus. Terumbu karang penghalang berakar pada kedalaman yang melebihi kedalaman maksimum dimana karang batu pembentuk terumbu dapat hidup. Umumnya terumbu tipe ini memanjang menyusuri pantai dan biasanya berputar seakan-akan merupakan penghalang bagi pendatang yang datang dari luar. 3. Terumbu Karang Cincin (Atoll) Umumnya berada di laut lepas, berbentuk cincin yang mengelilingi sebuah goba di tengahnya. Terumbu karang yang berbentuk cincin yang mengelilingi batas dari pulau-pulau vulkanik yang tenggelam sehingga tidak terdapat perbatasan dengan daratan. Menurut Darwin, terumbu karang cincin merupakan proses lanjutan dari terumbu karang penghalang, dengan kedalaman rata-rata 45 meter. Seperti halnya pada terumbu karang penghalang, atoll juga bertumpu pada dasar laut yang dalamnya di luar batas kedalaman karang batu penyusun terumbu karang dapat hidup. Menurut Ongkosongo (1988), terdapat enam bentuk pertumbuhan karang batu yaitu (1) Tipe bercabang (branching), (2) tipe padat (massive), (3)tipe kerak (encrusting), tipe meja (tabulate), (5) tipe daun (foliose), dan (6) tipe jamur (mushroom). Sesuai dengan fungsinya

dalam bangunan karang (hermatypik-ahermatypik) dan, kepemilikannya atas alga simbion (symbiotic-asymbiotic), kerang dapat dibagi lagi dalam kelompok berikut (Sorokin, 1993): 1. Hermatype-symbiont. Kelompok ini meliputi sebagian besar karang scleractinia pembangun terumbu. 2. Hermatype-asymbiont. Karang-karang yang tumbuh lambat ini dapat membangun skeleton kapur massif tanpa pertolongan zooxanthellae, dimana mereka dapat hidup pada lingkungan gelap, dalam gua, terowongan, dan bagian yang dalam dari kontinental solpe. Diantara mereka adalah slceractinia asymbiotic Tubastrea dan Dendrophyllia, dan hydrocoral Stylaster rosacea. 3. Ahermatype-symbionts. Diantara Scleractinian ada yang termasuk dalam kelompok fungiid kecil ini, seperti Heteropsammia dan Diaseris, dan juga karang Leptoseris (family Agaricidae), yang ada sebagai polyp tunggal atau sebagai koloni kecil, dan karenanya tidak dapat dimasukkan dalam pembangun terumbu. Kelompok ini juga hampir seluruhnya merupakan octocoral-alcyonaceans dangorgonacean yang memiliki alga simbion tetapi tidak membangun koloni kapur massif. 4. Ahermatypes-asymbionts. Untuk kelompok ini ada diantara beberapa spesies scleractinia dari genera Dendrophylla dan Tubastrea yang memiliki polyp kecil. Termasuk juga hexacoral dari ordo Antipatharia dan Corallimorpharia, dan asymbiotic octocoral. Sebagian besar karang pembangun terumbu (hermatypic) adalah bersimbiosis. Oleh karena itu pada literature istilah hermatypic diterima sebagi sinonim dari symbiotic. Kadang-kadang tidak tepat benar, karena ada satu kelompok symbiotic tetapi merupakan karang ahermatypic. Akan tetapi sudah lazim menggunakan istilah-istilah ini sebagai sinonimnya. Berdasarkan persentase penutupan karang, ekosistem terumbu karang digolongkan menjadi 4 (empat ) kondisi yaitu : 1. Sangat Baik (Exellent), penutupan karang hidup sebanyak 75% -100% 2. Baik (good), penutupan karang hidup sebanyak 50% -57% 3. Sedang (Fair), penutupan karang hidup sebanyak 25% -50% 4. Miskin (poor), penutupan karang hidup sebanyak 0% -25% Hasil penelitian Suharsono (1995) dalam Tomascik (1997a) pada 325 stasiun yang tersebar diseluruh Indonesia diperoleh bahwa hanya 7 % terumbu karang Indonesia dalam kondisi sangat

baik (exellent). Sebanyak 22% dalam kondisi baik, 28% dalam kondisi sedang dan 43 % dalam kodisi miskin. Pulau Cemara Besar terletak di sebelah utara Pulau Cemara Kecil arah barat laut Pulau Karimunjawa. Pulau ini tidak berpenduduk. Sesuai dengan namanya, vegetasi pantai didominasi oleh pohon cemara. Pulau ini juga mempunyai pantai pasir putih. Panjang rataan terumbu berkisar antara 700 meter di sebelah timur laut. Di beberapa lokasi dijumpai gosong (reef rampart) yang pada waktu air surut, karang muncul ke permukaan. Lereng terumbu bagian atas urnurnnya landai dengan panjang antara 500-700 meter. Karang batu tumbuh berupa bongkahanbongkahan kecil ke arah terumbu bagian bawah (reefslope).Sudut kemiringan mulai bertambah, antara 30-45" dan karang mulai banyak dijumpai. Pada beberapa lokasi umumnya karang memiliki bentuk pertumbuhan bercabang terutama dari jenis Acropora spp. juga dijumpai bentuk pertumbuhan inenjari (digitate), seperti meja (tabulate), mengerak (encrusting) dan "submassive". Karang dari jenis : Porites lutea, Porites cylindrica dan yang bentuk pertumbuhan seperti lembaran daun Vbliose) yaitu Montipora foliosa, Montipora monasteriata terlihat lebih dominan. Karang jamur (mushroom) dari marga Fungia sp. juga banyak dijumpai. Karang dengan bentuk' pertumbuhan bercabang dan berbentuk meja mendominasi area di sebelah utara, yang perairannya terlihat sangat jernih. Hasil pengamatan dengan metode RRI diperoleh rerata persentase tutupan karang hidup adalah 35,70 % (Manuputty, 2008). Pulau Cemara Kecil berada di sebelah selatan Pulau Cemara Besar. Pantai umurnnya memiliki hamparan pasir putih dengan pohon cemara tumbuh di sekitamya. Rataan terumbu bagian atas (reef top) umurnnya landai, pertumbuhan karangnya bercabang (branching) dari jenis Acropora jlorida dan Acropora sp., tampak mendominasi perairan sampai ke arah lereng terumbu (reef slope). Kemiringan lereng terumbu 30 - 50' Di sini pertumbuhan karang inulai bervariasi, dari pertumbuhan "massive" yaitu Porites lutea, Goniastrea retiformis dan Lobophyllia sp. dan dijurnpai pada kedalaman 3 - 4 meter. Karang dengan pertumbuhan "submassive" antara lain Montipora sp. mempunyai koloni yang besar. Juga ditemukan pertumbuhan anakan karang jenis Fungia sp. Pada bongkahan karang mati ditumbuhi oleh karang lunak dari jenis Sinularia sp. Pada kedalaman di bawah 5 meter pertumbuhan karang mulai jarang, merupakan kelompokan kecil-kecil (patches). Rerata persentase tutupan karang hidup ialah 40,66 % (Manuputty, 2008).

Pulau Menjangan Besar terletak di sebelah Selatan Pulau Kaimunjawa. Sama halnya dengan Pulau Menjangan Kecil, pulau ini mempunyai rataan terumbu yang luas. Rataan terummbu landai, pertumbuhan karang didominasi oleh jenis Acropova spp. Ke arah lereng terumbu pertumbuhan karang mulai belvariasi yaitu Leptovia phyrigia, Pachyseris speciosa, dan Montipora digitata, namun masih didominasi oleh Acropora spp. Karang tumbuh sampai kedalaman 6 meter, kearah lebih dalam dasar perairan terdiri dari pasir. Rata-rata tutupan karang hidup sebesar 48,32%. Pulau Menjangan Kecil terletak di sebelah barat Pulau Menjangan Besar. Pulau ini mempunyai rataan terurnbu yang has. Hampir di setiap lokasi didominasi oleh karang batu dari jenis Acvopova spp. Rataan terurnbu didominasi oleh pertumbuhan karang bercabang yaitu Acvopova spp., diselingi dengan pertumbuhan karang seperti daun mliose) dari jellis Montipora foliosa. Ke arah lereng terumbu juga masih didominasi oleh karang batu dari jenis Acvopora spp. Juga Lobophyllia sp, Diploastrea heliopora dan Favites abdita. Di lokasi ini perairan relatif jemih, pertumbuhan karang batu terlihat rapat, dengan koloni yang cukup besar. Secara umum, dari hasil pengamatan diperoleh tutupan rata-rata karang hidup sebesar 60% dengan kondisi seperti ini tutupan karang tersebut dikategorikan baik (tutupan karang hidup 5175 %) (Manuputty, 2008).. Komponen abiotik meliputi unsur dan senyawa baik organik maupun anorganik dan parameter lingkungan berupa temperatur, oksigen, nutrien dan faktor fisik lain yang membatasi kondisi kehidupan. Komponen-komponen tersebut saling mempengaruhi satu sama lain. Keterkaitan antar komponen-komponen tersebut sangat erat sehingga perubahan salah satu komponen tersebut dapat berakibat pada berubahnya kondisi ekosistem. Keseimbangan ekosistem akan selalu terjaga bila komponen-komponen tersebut tetap berada pada kondisi stabil dan dinamis. Indikator kesetabilan itu dapat dilihat berdasarkan besarnya keanekaragaman hayati (biodiversity) yang merupakan unsur biotik dalam suatu ekosistem (Sunarto, 2006). Keanekaragaman, penyebaran dan pertumbuhan karang tergantung pada kondisi lingkungannya. Kondisi ini pada kenyataannya tidak selalu tetap, akan tetapi seringkali berubah karena adanya gangguan, baik yang berasal dari alam atau aktivitas manusia. Gangguan dapat berupa faktor fisik-kimia dan biologis. Faktor fisik-kimia yang diketahui dapat mempengaruhi kehidupan dan atau laju pertumbuhan karang, antara lain adalah cahaya matahari, suhu air, salinitas dan sedimen. Sedangkan faktor biologis, biasanya berupa predator atau pemangsanya. Gelombang mempunyai pengaruh terhadap bentuk karang itu sendiri. Pada karang yang terdapat

di daerah yang terlindung gelombang memiliki bentuk percabangan yang ramping dan memanjang. Sedangkan yang terletak di daerah yang terkena gelombang secara langsung memiliki bentuk percabangan yang pendek dan kuat. Selain gelombang faktor-faktor lainnya adalah cahaya, sedimen dan sub areal exposure.

Gambar Kategori Bentuk Tutupan Pertumbuhan Karang di Pulau Karimunjawa

d. Ikan Karang Terumbu karang merupakan suatu ekosistem unik perairan tropis dengan tingkat produktifitas dan keanekaragaman biota yang sangat tinggi. Peranan biofisik ekosistem terumbu karang sangat beragam, diantaranya sebagai tempat tinggal, tempat berlindung, tempat mencari makan dan berkembang biak bagi beragam biota laut, disamping berperan sebagai penahan gelombang dan ombak serta sebagai penghasil sumberdaya hayati yang bernilai ekonomis tinggi. Ikan karang adalah salah satunya (Goblue, 2009). Secara umum, ikan karang akan menyesuaikan pada lingkungannya. Setiap spesies memperlihatkan preferensi atau kecocokan habitat yang tepat yang diatur oleh kombinasi faktor ketersediaan makanan , tempat berlindung dan variasi parameter fisik. Sejumlah besar spesies ditemukan pada terumbu karang adalah refleksi langsung dari besarnya kesempatan yang diberikan habitat. Suharti (1996) menambahkan bahwa terumbu karang merupakan system yang sangat kompleks, terdiri dari bayak microhabitat. Secara umum, ikan karang benar-benar telah menyatu dengan lingkungannya dan merupakan penghuni terumbu karang yang paling menonjol. Salah satu sumber pakan bagi ikan yang banyak dijumpai di terumbu karang adalah

lender yang dihasilkan oleh karang yang sebenarnya digunakan karang untuk menangkap mangsanya. Lendir tersebut dikeluarkan oleh beberapa jenis ikan karang yang tidak memiliki tentakel atau tentakelnya telah tereduksi. Lender ini merupakan sumber pakan penting bagi jenis ikan tertentu dan hewan karang lainnya (Barnes, 1980). Selain itu, keberadaan karang merupakan pakan dari beberapa jenis ikan pemakan karang famili Chaetodontidae, Apogonidae, Balistidae, Labridae, dan sekelompok kecil Scaridae. Beberpa ikan dari family Chaetodontidae, Labridae dan Scaridae secara langsung memakan jaringan lendir (mucus) yang diproduksi oleh karang serta bersimbiosis dengannya. Sedangkan kelompok Acanthurids dan kebanyakan spesies dari Labridae launnya memakan alga yang tumbuh dari batuan keras berkapur (Calcareous). Pemakan karang sangat bergantung pada jaringan hidup karang sebagai pakannya dan hal ini hanya terdapan pada struktur karang yang masih hidup. Keberadaan karang hidup yang memberikan perlindungan terhadap invertebrata dan organism bentik lainnya yang juga merupakan pakan begi beberapa jenis ikan karang (Marsaoli, 1998). Menurut Nybakken (1992), keragaman karang dapat mempengaruhi distribusi dan kelimpahan ikan-ikan karang. Organism penghuni terumbu karang tersebut memliliki kesamaan, baik dalam keanekaragaman maupun densitasnya. Keberadaan ikan karang pada ekosistem terumbu karang memegang peranan penting dalam mengendalikan pertumbuhan perkembangan karang. Jenis ikan ini bersimbiosa dengan karang sehingga pada setiap daerah terumbu karang kehadiran ikan pemakan terumbu karang dijadikan sebagai indikator kondisi karang. Karang berfungsi sebagai ruang habitat maupun tempan perlindungan dari predator. Densitas ikan karang dibatasi oleh ketersediaan ruang hidup yang cocok, terutama jika ruang digunakan sebagai pertahanan diri atau tempat aktivitas mutualisme. Keberadaan ruang biasanya berkaitan dengan individu ikan yang bersifat territorial, dimana densitas yang tinggi dan diversitas dari ikan-ikan ini dipengaruhi oleh terumbu karang. Fluktuasi dalam karang salah satunya disebabkan kerena berkurangnya ruang di karang. Menurut Jones (1991), pentingnya ruang bagi ikan karang adalah karena: 1. Ikan karang yang bersift territorial sangat terbatas pada ruang untuk mengembangkan populasinya, sehingga perubahan ruang cenderung menurunkan jumlah populasi 2. Perbedaan kelas umur cenderung menggunakan tipe ruang yang berbeda 3. Kompetisi ruang dapat terjadi jika terdapat banyak ruang yang kualitasnya bervariasi Keberadaan lubang atau celah merupakah tempat perlindungan (shelter) ikan karang,

terutama selama adanya serangan badai atau serangan predator. Terdapat korelasi positif antara jumlah tempat perlindungan dengan jumlah ikan karang. Peningkatan jumlah tempat perlindungan mengakbatkan peningkatan kelimpahan ikan yang secara spesifik menjadikan karang sebagai tempat persembunyian (Jones, 1991) Beberapa jenis ikan karang dari satu transek antara lain adalah : 1. Sersan Scissortail Sersan Scissortail atau damselfish Striptailed (Abudefduf sexfasciatus, keluarga Pomacentridae ) adalah damselfish besar. memperoleh namanya dari ekor bergaris hitam dan samping, yang mengingatkan pada lambang militer Sersan, menjadi serupa dengan yang dari Sersan Mayor damselfish. Tumbuh dengan panjang sekitar 16 cm (6 in). Scissortail sersan adalah ikan terumbu karang, hidup di dawrah tropis dengan kedalaman hingga 15 m (50 kaki), hidup berkelompok. Mereka ditemukan di terumbu di Indo - Pasifik daerah. Pakan berupa larva dari invertebrata, zooplankton, ikan kecil, krustasea dan berbagai jenis ganggang. Mereka dimangsa oleh beberapa anggota Labridae dan Serranidae keluarga. Mereka bertelur di patch pada substrat keras dan menjaga mereka hingga menetas.

Kingdom Phylum Class Order Family Genus Species:

: Animalia : Chordata : Actinopterygii : Perciformes : Pomacentridae : Abudefduf A. sexfasciatus

2. Neoglyphidodon nigroris Neoglyphidodon nigroris, gadis Behn nama umum adalah sebuah Chromis dari IndoBarat Pasifik . Hal ini terkadang membuat jalan ke dalam perdagangan akuarium. Tumbuh menjadi ukuran 13cm panjangnya.

Kingdom Phylum Class Order Family Genus Species

: Animalia : Chordata : Actinopterygii : Perciformes : Pomacentridae : Neoglyphidodon : Neoglyphidodon nigroris

3. Amboinensis pomacentrus Amboinensis pomacentrus adalah damselfish dari Barat Pasifik . Hal ini terkadang membuat jalan ke dalam perdagangan akuarium. Tumbuh menjadi ukuran 9cm panjang. Spesies ini telah terbukti memiliki penglihatan warna menggunakan eksperimen perilaku yang kontrol untuk kecerahan, tampaknya menjadi contoh pertama yang diketahui diskriminasi warna pada ikan karang Kingdom Phylum Class Order Family Genus : Animalia : Chordata : Actinopterygii : Perciformes : Pomacentridae : Pomacentrus

Species

: Pomacentrus amboinensis (Bleeker, 1868)

4.

Neoglyphidodon melas

Neoglyphidodon melas adalah damselfish dari Indo-Barat Pasifik . Hal ini terkadang membuat jalan ke dalam perdagangan akuarium. Tumbuh menjadi ukuran 18cm panjangnya. Kingdom: Animalia Phylum: Chordata Class: Actinopterygii Order: Perciformes Family: Pomacentridae Genus: Neoglyphidodon Species: Neoglyphidodon melas (Cuvier, 1830)

ikan karang dibedakan berdasarkan habitat dari masing-masing kelompok (apakah itu di pasir, karang, di bawah karang, lamun, batu, permukaan dan dasar), dan cara hidup mereka (apakah soliter, berpasangan, bergerombol). Yang penting pula ialah periode aktif mencari makan dari ikan-ikan tersebut. Apabila kita mengetahuinya, maka kita akan mudah menentukan waktu yang tepat untuk pengamatan, dimana ikan-ikan itu sedang keluar dari persembunyian untuk mencari makan (Kuiter, 1992).

A. Pengelompokan Ikan Karang Berdasarkan Periode Aktif Mencari Makan: 1. Ikan Nokturnal (aktif ketika malam hari), contohnya pada ikan-ikan dari Suku Holocentridae (Swanggi ), Suku Apogoni nade (Beseng), Suku Hamulidae. Priacanthidae (Bigeyes), Muraenidae (Eels), Seranidae (Jewfish) dan beberapa dari suku dari Mullidae (goatfishes) dan lain-lain. 2. Ikan Diurnal (aktif ketika siang hari), contohnya pada ikan-ikan dari Suku Labraidae (wrasses), Chaetodontidae (Butterflyfishes) Pomacentridae (Damsel fishes), Scaridae

(Parrotfishes), Acanthuridae (Surgeonfishes), Bleniidae (Blennies), Balistidae (triggerfishes), Pomaccanthidae (Angelfishes), Monacanthidae, Ostracionthidae (Boxfishes), Etraodontidae, Canthi gasteridae dan beberapa dari Mullidae (goatfishes) 3. Ikan Crepuscular (aktif diantara) contohnya pada ikan-ikan dari suku Sphyraenidae (Baracudas), Serranidae (groupers), Carangidae (Jacks), Scorpaenidae (Lionfishes),

Synodontidae (Lizardfishes), Carcharhinidae, lamnidae, Spyrnidae (Sharks) dan beberapa dari Muraenidae (Eels). B. Pengelompokan Ikan Karang Berdasarkan Peranannya: 1. Ikan Target Ikan yang merupakan target untuk penangkapan atau lebih di kenal juga dengan ikan ekonomis penting atau ikan kosumsi seperti; Seranidae, Lutjanidae, Kyphosidae, Lethrinidae, Acanthuridae, Mulidae, Siganidae Labridae (Chelinus, Haemulidae. 2. Ikan Indikator Sebagai ikan penentu untuk terumbu karang karena ikan ini erat hubunganya dengan kesuburan terumbu karang yaitu ikan dari Famili Chaetodontidae (kepe-kepe). 3. Ikan lain (mayor family) Ikan ini umumnya dalam jumlah banyak dan banyak dijadikan ikan hias air laut (Pomacentridae, Caesionidae, Scaridae, Pomacanthidae Labridae, Apogonidae dll.) (Lieske, 1997). Himigymnus, choerodon) dan

KESIMPULAN

1. Plankton yang ditemukan termasuk dalam species Cosmarium cucurbitum. 2. Jenis lamun yang ditemukan dalam plot kuadrat yaitu Cymodocea rotundata, Halodule uninervis, Halophila ovalis dan Cymodocea serrulata dengan kerapatan tinggi pada daerah yang menjauh dari pantai karena selalu tergenang air sehingga pertumbuhan lamun subur. 3. Terdapat enam bentuk pertumbuhan karang batu yaitu (1) Tipe bercabang (branching), (2) tipe padat (massive), (3)tipe kerak (encrusting), tipe meja (tabulate), (5) tipe daun (foliose), dan (6) tipe jamur (mushroom). 4. Faktor-faktor yang mempengaruhi bentuk pertumbuhan dan atau laju pertumbuhan karang, antara lain adalah cahaya matahari, suhu air, salinitas, sedimen, predator atau pemangsanya, Gelombang, dan sub areal exposure. 5. Dengan metode RRI diperoleh rerata persentase tutupan karang hidup Pulau Cemara Besar adalah 35,70 % , Pulau Cemara kecil 40,66 %, Pulau Menjangan Besar 48,32%, Pulau Menjangan Kecil 51-75%. 6. Ikan karang merupakan ikan yang hidup disekitar karang maupun bersimbiosis dengan karang dan sebagian besar hidup bergantung pada karang. jumlah biomassanya terbesar, beberapa memiliki warna yang mencolok dapat ditemui di ekosistem terumbu karang. 7. Ikan karang dibedakan berdasarkan habitat dari masing-masing kelompok (di pasir, karang, di bawah karang, lamun, batu, permukaan dan dasar), dan cara hidup mereka (apakah soliter, berpasangan, bergerombol), jenis makanan, dan periode aktif mencari makan dari ikan-ikan tersebut. 8. Ikan karang yang berhasil diidentifikasi antara lain: Sersan Scissortail, Neoglyphidodon nigroris, Amboinensis pomacentrus, dan Neoglyphidodon melas.

SARAN 1. Sebaiknya dalam pengambilan sampel plankton kapal yang berjalan jangan cepat-cepat karena dapat berakibat sedikitnya sampel dan kehilangan plankton net. 2. Sebaiknya saat melakukan pengamatan ikan karang, setiap kelompok minimal membawa kamera anti air, sehingga data yang diperoleh lebih menunjang pembahasan bukan sekedar ingatan.

3. Untuk praktikum selanjutnya diharapkan berhati-hati dan selalu waspada saat praktikum lapangan karena bahaya saat kita praktikum tidak bisa diduga kedatangannya. Praktikum lapangan di Karimunjawa memerlukan keahlian khusus saat snorkeling maupun diving sangat diharapkan praktikan dapat menguasainya agar data dan sampel praktikum dapat praktikan dapatkan sehingga mendapatkan hasil yang maksimal. KENDALA Kendala yang dialami saat praktikum adalah ombak terlalu besar sehingga praktikan sedikit mengalami kesulitan dalam pengamatan biota apa saja yang terdapat pada transek yang sudah dipasang. Praktikan belum berpengalaman melakukan praktikum langsung di badan air sehingga sedikit kesulitan dalam pengamatan sampel lamun. Saat melakukan pengamatan terumbu karang banyak kendala yang dihadapi praktikan yaitu jarak pandang untuk melihat kedalam laut terganggu karena kekeruhan air laut pada saat itu, arus gelombang yang agak besar menjelang siang hari membuat kendala dalam praktikum ini,dan terakhir adalah faktor gangguan yang disebabkan serangan ubur-ubur yang menyerang praktikan saat praktikum berlangsung, dengan menyerang secara tidak langsung maupun secara langsung tanpa disadari praktikan karena bentuknya yang transparan.

DAFTAR REFERENSI

Badrudin, S.R.Suharti, Yahmantoro dan I. Suprihanto., 2003. Indeks keanekaragaman hayati ikan kepekepe (Chaetodontidae) di perairan Wakatobi, Sulawesi Tenggara. Jur. Pen. Perik. Indonesia. 9(7): 67-73. Brotowijoyo, 1995. Pengantar Ilmu Perairan dan Budidaya Air. Liberty, Yogyakarta. Davis, C. C. 1955. The Marine and Fresh Water Plankton. Michigan State University Press, USA. Dewi, S. C. 2006. Analisis Ekonomi Manfaat Ekosistem Terumbu Karang Di Pulau Ternate Provinsi Maluku Utara.Tesis.Sekolah Pasca Sarjana Institut Pertanian Bogor. Bogor. Dian, A. 2005.Identifikasi Sand Dollar dan Karakteristik Habitatnya di Pulau Cemara Besar, Kepulauan Karimun Jawa Jepara.Ilmu Kelautan. Universitas Diponegoro. Semarang. Endrawati H. 2011. Biologi Laut (Botani): Klasifikasi dan Ciri Lamun. UNDIP. Semarang. English, S., Wilkinson, C., Baker,V,. 1994. Survey Manual For Tropical Marine Resources. ASEAN Australia Marine Science Project Living Coastal Resources. Australia. Goblue. 2009. Mengenal Komunitas Ikan Karang. URL: http://www.goblue.or.id/mengenalkomunitas-ikan-karang-1 . Diakses tanggal 27 Mei 2009. Goldman, C. R. and A. J. Horne. 1983. Limnology. Mc Graw-Hill International Book Company, New York. Hendra. 2011. Pertumbuhan dan Produksi Biomassa Daun Lamun Halophila ovalis, Syringodium isoetifolium dan Halodule uninervis pada Ekosistem Padang Lamun di Perairan Pulau Barrang Lompo. Skripsi UNHAS. Herbarium Bandungense. 2012. Klasifikasi Tumbuhan. www.bi.itb.ac.id/herbarium. Diakses pada tanggal 27 Mei 2012 pukul 22.00. Hutabarat dan Evans, 1986. Pengantar Oceanografi. Universitas Indonesia, Jakarta. Irham W. 2009. Keterkaitan Antara Terumbu Karang dan Lamun dengan Sumberdaya Ikan Dingkis (Siganus canaliculatus) di Perairan Pulau Abang Kota Batam. IPB. Bogor. Kuiter, R. H. 1992 . Tropical reef-fishes of the Western Pasicific-Indonesia anadjacent Water. P.T. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta. Lieske E. R. Myers 1997 Reef Fishes of the World, C.V Java book Jakarta 14240.

Manuputty, A.E.W. 2008. Profil Terumbu Karang dengan Teknik "Rapid Reef Resource Inventory" Di pulau-pulau Karimunjawa, Jawa Tengah . Pusat Penelitian Oseanografi LIP1. Oseanologi dan Limnologi dilndonesia (2008) 34: 25-46 ISSN 0125-9830 Marsaoli, Muhajir K. 1998. Hubungan Persentase Penutupan Karang Hidup dengan Densitas Beberapa Jenis Karang di Perairan Kepualuan Karimunjawa, Jepara. Program Studi Ilmu Perairan Program Pasca Sarjana, Institut Pertanian Bogor Nugroho, A. H. , Ade A. M. , Gede S. J W. , Danu A. 2010. Kondisi Ekosistem terumbu Karang Di Perairan Pulau Pari Kepulauan Seribu.Departemen Ilmu dan Teknologi Kelautan fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan.Institut Pertanian Bogor. Nontji, 1987. Laut Nusantara. Djambatan, Jakarta. Nybakken, J. W. 1992. Biologi Laut :Suatu Pendekatan Ekologi [ Terjemahan M.Eidman, Kansoebiono, D.G Bengen , M. Hutomo dan Sulistiyono]. PT. Gramedia. Jakarta. Odum, E. P. 1971. Fundamental of Ecology 3rd Edition. W. B. Saunder, Philadelphia. Omori, M., Ikeda, T. 1992. Methods In Marine Zooplankton Ecology. Krieger Publishing Company: Malabar, USA. Ongkosongo, O. S. R. 1988. Terumbu Karang di Indonesia: Sumbedaya, Permasalahan dan Pengelolaannya. LON-LIPI. Jakarta. Paonganan, Y. 2005. Analisis Tutupan Karang Pada Tiga Pulau Di Sekitar Teluk Jakarta. Jakarta. Rambe, 1985. Rahasia Lautan. Widjaya, Jakarta. Ramimohtarto, 2001. Biologi Laut. Djambatan, Jakarta. Sachlan, N. 1982. Planktonologi. Fakultas Peternakan dan Perikanan Universitas Diponegoro, Semarang. Sorokin, I. 1993. Coral Reef Ecology. Springer-Verlag. Berln Heidelberg. Suharsono, 1996. Jenis-Jenis Karang Yang Umum di Jumpai di Indonesia. P3O-LIPI, Jakarta, 116 hlm. Suharti, S.R. 1996. Keanekaragaman Jenis dan Kelimpahan Pomecentridae di Terumbu Karang Perairan Selat Sunda. Oceanologi dan Limnologi di Indonesia Sukarno, R. 1993. Mengenal Ekosistem Terumbu Karang dalam Materi Kursus Pelatihan Metodologi Penelitian Penentuan Kondisi Terumbu Karang. P3O-LIPI. Jakarta. Supriharjono. 1978. Kondisi Kualitas Air di Saluran-Saluran Daerah Persawahan, Persawahan-

Pemukiman, dan Pemukiman, Delta Upang Sumatra Selatan. Pasca Sarjana IPB, Bogor. Susetiono, P. Swasti, Supono dan Dharmawan, I.W.E. 2010. Penyusunan Panduan Evaluasi Efektivitas Pengelolaan untuk Kawasan Konservasi Laut di Indonesia. CRITC COREMAP II - LIPI. Jakarta. viii + 92 pp. Tomascik,T., A.J. Mah., A. Nontji, dan M.K. Moosa., 1997. The Ecology of the Indonesian Seas. Part One. The Ecology of Indonesia Series Vol.VII Welch, P. S. 1952. Limnology. Mc Graw-Hill Book Company, New York.