Anda di halaman 1dari 13

LAPORAN PRAKTIKUM NUTRISI TERNAK UNGGAS DAN NON RUMINANSIA Penyusunan Ransum dan Pemberian Pakan Pada Broiler

Fase Finisher

Disusun oleh : Kelompok 9 Robby Trio Ananda Gilang Dayinta P Nadia Ainu Nisa M Busaeri R Hilda Maulida Nela Ratna N 200110090042 200110090071 200110090158 200110090181 200110090184 200110097005

LABORATORIUM NUTRISI TERNAK UNGGAS DAN NON RUMINANSIA FAKULTAS PETERNAKAN UNIVERSITAS PADJADJARAN SUMEDANG 2012

I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Broiler adalah ayam-ayam muda jantan atau betina yang umumnya bisa dipanen pada umur sekitar 5-6 minggu dengan berat badan sekitar 1,3 sampai 2 kg untuk tujuan sebagai penghasil daging. Periode pemeliharaan broiler yang umum di Indonesia terdiri dari dua fase yaitu fase starter dan fase finisher. Fase starter dipelihara pada umur 1 hari sampai dengan 3 atau 4 minggu, sedangkan fase finisher dipelihara dari umur 4 atau 5 minggu sampai dipasarkan. Periode starter memerlukan protein ransum lebih tinggi dibandingkan periode finisher, karena pada periode starter terjadi pertumbuhan yang sangat cepat dibandingkan dengan periode finisher.

1.2 Maksud dan Tujuan 1) Mengetahui syarat-syarat dalam menyusun ransum unggas 2) Dapat menyusun ransum unggas yang benar sesuai dengan kebutuhan

1.3 Waktu dan Tempat Waktu Tempat : April 2012 : Laboratorium Nutrisi Ternak Unggas dan Non Ruminansia Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran

II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Ransum Ransum merupakan kumpulan bahan pakan yang layak dimakan oleh ternak ayam dan telah disususn menurut aturan tertentu.Aturan ini meliputi nilai kebutuhan gizi bagi ayam dan nilai kandungan gizi yang terkandung dalam bahan pakan. Ayam broiler membutuhkan energi yang tinggi.Untuk mendapatkan energi yang tinggi itu tidak cukup hanya dari bahan makanan sumber pertanian saja, tapi harus dibantu dengan minyak agar keseimbangan gizi dari ransum yang terbentuk itu dapat terjamin. Banyak penelitian yang membuktikan pemakaian minyak dalam ransum broiler membawa manfaat baik dan ekonomis. Penggunaan minyak dalam ransum mengakibatkan pakan tidak tahan disimpan lama. Apabila diperhatikan ada tiga bentuk ransum yaitu tepung, pellet, dan butiran pecah.

2.2 Macam-Macam Bentuk Pakan Unggas Ada beberapa bentuk pakan ungags diantaranya sebagai berikut : 1. Bentuk mash Bentuk ini merupakan bentuk ransum yang umum dilihat.Bahan yang dipilih menjadi ransum digiling halus kemudian dicampur menjadi satu. Ransum yang mengandung segala unsur gizi yang dibutuhkan oleh ayam,

termasuk vitamin dan mineral tambahan, antibiotika pencegah penyakit dan obat pencegah coccidiosis. 2. Bentuk pellet Bentuk ini merupakan perkembangan dari bentuk tepung komplit. Ransum berbentuk pellet ini juga dari ransum bentuk tepung. Kemudian diproses kembali dengan prinsip pemberian uap dengan panas tertentu lalu ransum yang menjadi lunak dicetak membentuk butiran.

3. Bentuk crumble Asal mulanya juga sama yaitu dari bentuk tepung komplit kemudian diubah menjadi butiran pecah. Bentuk ini banyak digunakan untuk ayam broiler dan untuk semua umur.

2.3 Penyusunan Ransum Ayam Broiler Pada prinsipnya, penyusunan ransum adalah menyamakan kandungan nutrisi bahan pakan terpilih dengan kebutuhan ayam pedaging itu. Karena prinsipnya hanya menyamakan atau membuat seimbang maka beberapa metode penyusinan dapat di lakukan, metode itu antara lain: a. Metode coba-coba Metode ini biasa dilakukan di tahun 1970-an ketika sektor peternakan belum maju benar. Metode ini pada prinsipnya menyamakan satu hingga dua kandungan nutrisi utama (protein dan energi metabolis) dengan bahan

makanan yang dipilih sendiri. Penyesuaian itu dilakukan secara berulangulang sehingga kandungan nutrisi bahan pakan itu sama atau mendekati kebutuhan ayam. Cara ini hanya melibatkan operasional matematis dasar seperti kali, tambah, dan kurang saja. Oleh karena itu, cara ini dapat dilakukan oleh semua orang. Metode ini sekarang ini sering kali merepotkan bila kita menggunakan lebih dari tiga nutrisi. Namun demikian, proses perhitungannya dapat diprogram melalui komputer. Bila menghitung dengan tangan, lima hingga enam unsur masih bisa. Misalnya protein, energi metabolisme, metionin, triptofan, dan kalsium. Memang semakin banyak unsur nutrisi yang dilibatkan akan semakin panjang perhitungannya. Satu unsur sudah seimbang, unsur lain timpang dan begitu seterusnya. Untuk mempermudah dan mempercepat pemakaian metode ini ada baiknya jika mengetahui hal-hal sebagai berikut : Bahan-bahan makanan unggas Pengetahuan tentang bahan makanan unggas akan sangat membantu penyusunan ransum. Hal ini karena bahan makanan yang akan diikutsertakan ditentukan sendiri. selain itu, pengetahuan tersebut juga menentukan lama atau tidaknya perhitungan yang dilakukan. Pengetahuan tentang produksi ayam broiler Hal ini penting untuk mengetahui karakteristik unsur nutrisi yang sebaiknya diikutsertakan, selain protein dan energi. Untuk pertumbuhan yang cepat itu dipilih juga metionin dan triftopan untuk diikutsertakan dalam kalkulasi.

Pengetahuan tentang nutrisi unggas Pengetahuan tentang nutrisi unggas, misalnya tentang serat kasar, akan membatasi beberapa bahan pakan hijauan untuk ayam. Lalu pemakaian biji-bijian serta olahannya yang mencapai 90% dari total formula menyebabkan defisiensi asam amino tertentu.

b.

Metode persamaan simulasi Metode ini sebenarnya sudah tua dan di negara barat sudah lama dikenal. Di Indonesia, metode ini masih belum terkenal kalau digunakan untuk menyusun ransum. Metode ini sebenarnya merupakan bagian dari konsep matematika yang telah tua.Konsep ini seperti konsep tiga persamaan dengan tiga bilangan anu yang diajarkan saat di sekolah menengah atas dahulu.Jadi disini ada sejumlah persamaan dengan sejumlah konstanta di mana persamaan itu terdiri dari kandungan nutrisi bahan pakan dan proporsi bahan pakan yang hendak dicari.Sedangkan konstanta itu adalah kebutuhan nutrisi ayam broiler yang bersangkutan. Bila menggunakan 6 unsur bahan pakan maka harus diikut sertakan 6 unsur nutrisi yang merupakan kebutuhan ayam itu. Yang paling penting pada metode ini adalah kita harus paham benar mengenai ilmu nutrisi unggas dan ilmu pakan unggas. Bila tidak maka hasilnya akan aneh, misalkan dapat negatif dan ini jelas tidak mungkin atau ada satu bahan yang digunakan berlebihan. Kelemahan metode ini cukup serius, itulah sebabnya metode ini jarang digunakan akibat tidak semua orang menguasai kedua ilmu itu. Sekalipun menghitungnya dengan computer, bila memasukan input ke dalamnya tidak benar maka hasilnya tentu aneh-aneh.

Meskipun demikian metode ini mempunyai kelebihan juga, sekali menghitungnya hasilnya langsung diperoleh (terlepas dari aneh atau tidaknya hasil itu). Dengan metode coba-coba hasilnya dapat berubah atau berlimit maka dengan ini hasilnya pasti atau tepat. c. Metode matriks Sebenarnya metode ini mempunyai prinsip yang sama dengan metode persamaan simulasi diatas dan konsep dasarnya juga sama dengan metode coba-coba. Hanya pengolahanny saja dengan menggunakan konsep-konsep matriks. Matriks banyak digunakan untuk memecahkan masalah dengan menggunakan variabel atau sesuatu yang banyak sekali. Menyusun ransum sebenarnya menggunakan banyak bahan pakan, minimal 6 7 jenis, wajar bila matriks ini dapat digunakan untuk menyusun ransum. Matriks untuk menyusun ransum ini bukan baru, tetapi sudah dikenal lama di negara barat tetapi tidak dikenal di negara Indonesia .kesulitannya sama dengan butir b di atas, bila sudah lebih dari tiga bahan pakan maka menghitungnya secara manual sulit. Bayangkan bila hasus menggunakan 8 bahan pakan. Itulah sebabnya metode persamaan simulasi, hingga tahun 1980-an tidak dikenal di Indonesia. d. Metode dengan biaya termurah atau metode program matematika Metode ini sebenarnya cukup tua dan telah digunakan untuk memperoleh formula pakan sejak perang dunia II lalu.Di Indonesia sendiri baru popular setelah Komputer pribadi menjamur.memang seperti dua metode sebeluim ini, metode ini sulit sekali dihitung secara manual bila bahan pakan yang

digunakan sudah lebih dari tiga. Oleh karena itu dapat diduga bahwa metode ini mempunyai konsep dasar yang sama dengan metode sebelum ini, hanya dalam metode ini tidak dijumpai hasil yang negatif. Kebutuhan nutrsi yang semula hasrus sama, kini dibuat menjadi sama, lebih besar, atau lebih kecil sehingga lebih realistis lagi. Serat kasar misalnya, dipasang lebih kecil dari 4%. Lagi pula, banyaknya bahan pakan yang diikutertakan tidak semuanya ikut serta dalam formula. Dalam metode ini hanya bahan makanan yang dapat memenuhi kebutuhan atau sesuai dengan batasan yang dibuat saja yang dapat memenuhi persyaratan sebagai formula ransum. Metode ini juga memilih bahan pakan dengan dasar harga tertimbang, bahan makanan yang murah berdasarkan prinsip nutrisiekonomi itulah yang dipilih dalam formula. Kesulitan perhitungan secara teknis sudah diatasi dengn menggunakan komputer.Sudah tentu ada kelebihan dan kekurangannya.Metode ini menjadio tidak realistis dengan kenyataan bila pemasukan unsure nutrisi kebutuhan ayam itu dan pemasangan kandungan nutrisi bahan makanan yang bersangkutan salah. Orang yang tidak mau susah akan memakai program ini. Bahkan menjadi buruk akibatnya untuk mereka yang memakai paket secara mentah-mentah tanpa menelaah paket program itu.Sebagai penuntun ringkas diberikan beberapa pedoman, lihat dahulu asal bahan pakan yang ada itu.Bila ada di dalam paket tertentu tidak realistis dengan kondisi wilayah anda. Bagus bila bahan makanan ditentukan sendiri dan begitu pula kandungan nutrisinya

III ALAT BAHAN & PROSEDUR KERJA 3.1 Alat 1. Timbangan Digital skala 100 g 2. Timbangan skala 10 kg 3. Tempat pakan 4. Tempat minum 5. Kandang ayam dengan ukuran 60x50 cm

3.2 Bahan 1. Top mix 2. Lysine 3. Metionin 4. CaCO3 5. Tepung tulang 6. Dedak 7. Jagung 8. Minyak kelapa 9. Tepung ikan 10. Bungkil kedelai 11. 5 ekor ayam broiler 12. Sekam padi 13. Koran

3.3 Prosedur Kerja 1. Bahan penyusun ransum ditimbang sesuai dengan banyaknya bahan yang akan digunakan 2. Campur jagung dan minyak kelapa sampai rata 3. Bahan pakan di campur mulai dari bahan pakan dengan jumlah yang paling sedikit digunakan lalu ke bahan pakan yang paling banyak digunakan 4. Campur bahan pakan sampai rata 5. Timbang ransum sebanyak 750kg untuk kebutuhan pakan selama 1 minggu 6. Ransum yang sudah di timbang diberikan kepada ayam selama 1 minggu 7. Setelah 1 minggu timbang sisa ransum dan siapkan ransum untuk minggu ke-2 8. Ransum yang telah ditimbang diberikan kepada ayam selama 1 minggu 9. Timbang sisa ransum dan bobot badan ayam

IV PEMBAHASAN

Ransum merupakan hal terpenting dalam pemeliharaan ayam. Ransum untuk ayam harus sesuai dengan tujuan dari pemeliharaan agar tidak terjadi kelebihan kandungan zat makanan dari ransum tersebut sehingga menimbulkan kerugian pada perusahaan. Ransum yang digunakan untuk pakan ayam broiler biasanya berkualitas baik agar ayam dapat dipanen dalam jangka waktu yang relatif singkat. Untuk mendapatkan ransum yang berkualitas baik tersebut, diperlukan perhitungan dan analisa dari setiap bahan pakan yang akan digunakan dari mulai harga sampai zat yang terkandung di dalamnya. Setelah itu barulah dilakukan penyusunan. Untuk ayam broiler pada umur 0 2 minggu ransum yang digunakan biasanya mengandung protein 23% dan energi metabolis 3200 Kkal/kg, kandungan SK 7%, lemak 8%, Ca 1%, dan phosphor yang tersedia sekitar 0,45%. Sedangkan untuk umur 2 4 minggu mengandung protein 20 % dan energi metabolis 3000 Kkal/kg. Ransum yang dihabiskan oleh ayam broiler dari mulai menetas sampai umur 4 mingguan sekitar 2,5 kg/ekor serta berat badan yang dicapai sekitar 1,2 1,3 kg/ekor. Ransum yang diberikan harus mempunyai konversi yang rendah (diusahakan dibawah 2) karena hal tersebut menunjukan kuantitas ransum yang diberikan pada ayam untuk meningkatkan berat badan sampai berat tertentu. Semakin rendah angka konversi ransum maka akan semakin baik.

Satu lagi yang harus diperhatikan dalam penyusunan ransum adalah diusahakan agar bentuk ransum disesuaikan dengan umur ayam. Biasanya ayam muda diberikan ransum yang berbentuk masih bertahap sampai dewasa diberikan dalam bentuk pellet. DOC diberikan ransum yang berbentuk masih karena ransum ini sifat fisiknya cenderung lembut sehingga mudah dikonsumsi dan dicerna oleh DOC. Sedangkan ayam dewasa diberikan ransum dalam bentuk pellet karena mengandung tepung komplit yang nutrisinya dibutuhkan oleh ayam dewasa. Penyusunan ransum berdasarkan umur ayam ini penting karena setiap periode pemeliharaan ayam membutuhkan nutrisi yang berbeda-beda dan harus tepat dalam pemberiannya. Pada saat prosedur kerja, hal pertama yang dilakukan adalah menimbang ransum sesuai dengan banyaknya bahan yang akan digunakan. Penimbangan harus sesuai karena ransum berkaitan dengan nutrisi ternak. Jika penimbangan tidak tepat maka berimbas terhadap nutrisi ransum yang kurang baik. Hal ini dapat mengakibatkan lambatnya pertumbuhan ternak bahkan dapat menyebabkan kematian ternak. Kemudian jagung dan minyak kelapa dicampur hingga rata. Jagung pada pembuatan ransum ini adalah sebagai sumber energi bagi ternak, sedangkan minyak kelapa berfungsi untuk menjaga keseimbangan gizi ransum yang terbentuk serta membawa manfaat baik dan ekonomis. Lalu setelah itu bahan pakan dicampur dari jumlah yang paling sedikit ke yang paling banyak. Hal ini dilakukan untuk memudahkan pengadukan dan pencampuran bahan. Selain itu juga bahan pakan yang dicampurkan hasilnya lebih homogeny dibandingkan jika dicampurkan langsung dalam jumlah yang banyak.

V KESIMPULAN Syarat-syarat dalam menyusun ransum unggas itu ada beberapa cara, yaitu dengan menggunakan Metode coba-coba, Metode persamaan simulasi, Metode matriks, dan Metode dengan biaya termurah atau metode program matematika. Ransum yang benar sesuai dengan kebutuhan adalah ransum untuk ayam broiler pada umur 0 2 minggu yang mengandung protein 23% dan energi metabolis 3200 Kkal/kg, kandungan SK 7%, lemak 8%, Ca 1%, dan phosphor yang tersedia sekitar 0,45%, dan ransum untuk ayam broiler pada umur 2 4 minggu mengandung protein 20 % dan energi metabolis 3000 Kkal/kg.