Anda di halaman 1dari 7

Colletotrichum gloeosporioides, C. capsici, C. acutatum, and C.

coccodes
Symptoms
Semua tahapan pertumbuhan tanaman mungkin akan terpengaruh, termasuk tahapan pasca panen. Gejala-gejala terjadi terutama pada pematangan buah di mana sering terjadi buah menyentuh tanah atau tanaman pokoknya. Buah masak ada yang kecil, depresi melingkar cekung hingga 30 mm. Pusat luka menjadi coklat dan jaringan di bawahnya lebih ringan berwarna, dihiasi dengan banyak tubuh buah berwarna gelap dari jamur yang membentuk cincin konsentris. Daerah berwarna kehitaman pada permukaan di bagian tengah dari lpuat luka terdiri dari massa besar spora jamur. Buah-buahan berwarna hijau juga mungkin terinfeksi tetapi gejalagejala yang diperkirakan tidak akan muncul sampai buah dalam kondisi matang pada waktu panen. Infeksi seperti ini disebut dalam istilah 'laten'. Buah muda terinfeksi oleh Acutatum c. dapat memiliki gejala seperti yang terlihat. Daun dan batang gejala muncul kecil, tidak teratur, berbentuk bintik-bintik abu-abu-coklat dengan tepi berwarna coklat tua. Di antara virus colletotrichum spp. yang mempengaruhi merica, virus c. gloeosporioides memiliki infeksi penyakit terluas di antara tanaman inang solanaceous dan berbagai bio tipe telah dilaporkan pada inang Acutatum c. telah menyebabkan buah dan kerusakan daun tanaman lada di daerah tropis dan termasuk laporan mengenai virus coccodes c. adalah spesies paling agresif dan lebih sering ditemukan di daerah beriklim sedang. Secara umum, gejala-gejala penyakit yang disebabkan oleh berbagai spesies Colletotrichum adalah sama dan tindakan analisis mikroskopis diperlukan untuk mengidentifikasi spesies

Kondisi Perkembangan Penyakit

Virus patogen ini timbulnya dari semenjak pembibitan dan bertahan pada inang lainnya seperti tanaman Solanaceous lainnya (tomat, kentang, terong), mentimun dan tanaman lainnya yang telah banyak dibudidayakan dan gulma. Patogen ini juga tahan hidup di dalam puing tanaman dan gulma. Di dalam beberapa kasus (misalnya virus Coccodes c) berkembang dalam struktur jamur yang kuat atau Sclerotia. Patogen akan bertambah jumlahnya jika dilakukan penanaman terus menerus untuk tanaman lada, tomat atau kentang. Bentuk siklus sekunder penyakit antraknos selama musim pertumbuhan penyakit, muncul dari spora yang dihasilkan pada buah atau daun tanaman yang sakit. Guyuran air 'splash' atau ''wind-driven rain' manjadi faktor pendorong penyebaran spora jamur atau mikrosklerotia pada partikel tanah. Luka pada buah tidak berpengaruh apa-apa tapi kadar kebasahan mejadi pemicu berkembanganya spora dan menjadi sumber infeksi. Suhu optimum untuk terjadinya infeksi buah adalah pada 20 - 24 C dengan kondisi kelembaban permukaan buah yang cukup, meskipun infeksi juga dapat terjadi dari 10 - 30 C. Namun, semakin lama periode kelembaban permukaan buah, maka makin besar keparahan penyakit antraknosa. Buah yang berada pada atau dekat dengan permukaan tanah adalah yang paling mungkin terkena infeksi melalui kontak tanah akibat guyuran hujan atau secara langsung. Bentuk irigasi 'Overhead'

akan mendukung terjadinya pengembangan antraknos karena kelembaban relatif meningkat dan peningkatan di saat terjadinya periode pengembunan (Dew Season).

Pengendalian
Pilih bibit dari buah yang bebas dari penyakit antraknosa atau tindakan pengobatan benih dengan fungisida. Perlakuan dengan air hangat diperlukan untuk menghancurkan jamur benih. Rendam biji pada suhu 52 C selama 30 menit. Selanjutnya, masukkan bibit - bibit itu (dalam kondisi hangat) ke dalam air dingin, keringkan di atas kertas dan tabutkan dengan debu 'thiram'. Bibit- bibit yang baru dipanen dapat lebih tahan pada perlakuan panas daripada bibit yang berumur satu atau dua tahun. Pergunakan tanaman transplant yang sehat. Sanitasikan alat-alat flat jika ingin dipergunakan kembali untuk produksi tanaman transplant. Fumigas yang memiliki jangkauan spekturm yang luas dapat dipergunakan untuk tanah dalam tempat-tempat bibit untuk mengontrol pathogen dan penggunaan kembali secara berkala tahunan bisa jadi penting jikalau re - kontaminasi kembali terjadi. Hindari penggunaan tanaman kentang, kedelai, tomat, terung, dan cucurbits sebagai tanaman yang hedak dipergunakan sebagai rotasi tanaman. Gantikan dengan tanaman non solanaceous selama tiga tahun. Mulsa juga dapat dipergunakan untuk mengurangi cipratan ke buah dan daun yang letaknya lebih rendah. Minimalkan atau hindari irigasi 'overhead' untuk mengurangi periode basah pada tanaman. Pemanenan segera dilaksanakan setelah matang karena antraknosa berkembang lebih siap di saat - saat seperti itu. Gulma secara teratur dan menghindari melukai buah. Penuhi tanah dengan puing tanaman yang telah membusuk sepenuhnya sebelum dilakukannya proses penananam lagi. Jika diketahui hanya beberapa tanaman dipengaruhi oleh penyakit ini, tanaman yang terkena penyakit dapat dihapus dari lapangan dan dibuang saja. Hindari cara menanam tanaman yang tumpang tindih di dekatnya. Gunakan fungsida yang bersifat mencegah ketika mulai berbuah dan ini akan mencegah atau paling tidak menguarngi terkena penyakit. Pencegahan dengan fungisida ini tergantung dari dosi yang dipergunakan dan cakupan tanamannya. Nanti beberapa tanaman yang bersifat resisten dapat segera diketahui dan selanjutnya cek dengan agen setempat untuk tanaman - tanaman yang dapat tahan penyakit ini.

Kenali Gejala Penyakit Antraknose

CARA CERDAS MENGENDALIKAN PENYAKIT PATEK (ANTRAKNOSA) PADA TANAMAN CABE


Sampai saat ini patek (antraknosa) masih merupakan penyakit utama tanaman cabe, bahkan menurut informasi sekarang patek juga mulai menyerang cabai rawit. Penyakit patek (antraknosa) sangat susah sekali dikendalikan jika sudah terlanjur menyerang. Kerugian yang ditimbulkan oleh penyakit patek bisa mencapai 100%. Penyakit patek disebabkan oleh dua jenis jamur:
1. Jamur Colletotricum capsici, serangan jamur ini pada cabe dicirikan dengan cara menginokulasi pada tengah buah cabai dan biasanya menyerang cabai yang sudah tua. 2. Jamur Gloeosporium sp, jamur ini dicirikan dari jenis serangannya pada ujung cabai dan bisa menyerang pada cabai yang muda maupun tua.

Kedua jamur tersebut bisa menyerang sendiri-sendiri maupun bersamaan (kombinasi keduanya). Serangan jamur tersebut biasanya akan meningkat saat kelembaban tinggi disertai suhu udara yang tinggi pula. Untuk mengendalikan penyakit patek (anraknosa) pada tanaman cabai tidak bisa dilakukan hanya saat sudah mulai terjadinya serangan, namun harus dimulai dari awal proses penanaman. Untuk lebih lengkapnya cara mengendalikan penyakit patek pada tanaman cabai bisa dilakukan langkahlangkah sebagai berikut:
1. Pergunakan bibit yang sehat, jika menggunakan bibit sendiri jangan menggunakan dari bekas cabai yang terserang patek. Karena spora jamur tersebut mampu bertahan pada benih cabai. 2. Pilih lokasi lahan yang bukan bekas tanaman cabai, terong, tomat dll (satu famili dengan cabai). Spora Gloeosporium maupu Colletotricum mampu beradaptasi hidup dalam tanah dalam waktu tahunan 3. Tanamlah varietas cabai yang lebih tahan patek, biasanya cabai keriting lebih tahan terhadap penyakit patek 4. Pergunakan pupuk dasar maupun kocoran yang rendah unsur Nitrogen, karena unsur N hanya akan membuat tanaman cabai menjadi rentan. Selain itu unsur N juga akan membuat tanaman menjadi rimbun yang akan meningkatkan kelembaban sekitar tanaman. 5. Perbanyak unsur Kalium dan Calsium untuk membantu pengerasan kulit buah cabai 6. Pergukanlah mulsa plastik untuk menghindari penyebaran spora jamur melalui percikan air hujan 7. Pergunakanlah jarak tanam yang ideal sesuai dengan varietas yang akan kita tanam, usahakan jangan terlalu rapat karena hal ini akan sangat membahayakan keselamatan tanaman cabai 8. Lakukan pencegahan dengan penyemprotan fungisida kontak berbahan aktif mankozeb atau tembaga hidroksida secara rutin satu minggu sekali (tetapi ini betentangan dengan konsep pengendalian hama secara terpadu) 9. Lakukan perempelan untuk mengurangi krimbunan tanaman cabai 10. Pergunakan peralatan yang terbebas dari penyebab penyakit patek 11. Jika langkah-langkah diatas sudah dilakukan tetapi masih terjadi serangan penyakit patek maka segeralah buang tanaman yang sakit kalau perlu membakarnya.

12. Segeralah melakukan tindakan penyelamatan terhadap cabai yang belum terserang secepatnya (saya katakan secepatnya karena penyakit patek bisa menyebar dalam hitungan jam). Tindakan yang perlu dilakukan adalah menyemprot dengan fungisida kontak (dithane, nordox, kocide, antracol, dakonil dll) bersamaan dengan sistemik (derosal, bion M, amistartop dll)

PENGGENDALIAN PENYAKIT PATEK PADA TANAMAN CABAI DENGAN MENGGUNAKAN PUPUK AGEN HAYATI ABG-BIO

Penyakit "Patek" (antraknosa) pada cabe Penyakit patek (antraknosa) pada cabai diakibatkan oleh cendawan Colletotrichum capsici Sydow dan Colletotrichum gloeosporioides. Penyakit patek banyak mendatangkan kerugian bagi para petani karena telah menghancurkan hasil panen hingga 20-90 % terutama pada saat musim penghujan. Cendawan penyebab penyakit ini akan berkembang dengan sangat pesat jika kelembaban udara cukup tinggi yaitu lebih dari 80 rH dengan suhu 320C. Gejala serangan penyakit patek pada cabe yaitu : 1. Busuk buah (berwarna kuning-coklat seperti terkena sengatan matahari) dan diikuti oleh busuk basah yang terkadang ada jelaganya berwarna hitam. 2. Sedangkan pada biji dapat menimbulkan kegagalan berkecambah atau bila telah menjadi kecambah dapat menimbulkan rebah kecambah. 3. Pada tanaman dewasa dapat menimbulkan mati pucuk, infeksi lanjut ke bagian lebih bawah yaitu daun dan batang yang akan menimbulkan busuk kering warna cokelat kehitamhitaman. Cara Pengendalian Penyakit Patek Dengan ABG-Bio

Tindakan Pengobatan

ABG-BIO, Pupuk Pengendali Agen Hayati

Untuk tanaman cabai yang sudah terserang patek, terlebih dahulu encerkan satu bungkus ABG Bio ke dalam 50 liter. Tambahkan pula 10 tutup botol ABG-Daun atau Buah ( jika belum berbunga/berbuah gunakan ABG-Daun, jika sudah berbunga/berbuah gunakan ABG-Buah ), 2 bungkus ABG-Bios, dan 2 kg dedak. Kemudian diamkan campuran tersebut selama 30 menit, baru setelah itu disiramkan ke areal perakaran. Setiap tanaman kira-kira memperoleh 1 gelas air minuman mineral. Penyiraman tersebut dilakukan setiap 10 hari sekali diikuti dengan menyemprotkan ABG Daun dengan dosis 3 tutup botol untuk 1 tangki sprayer ke batang dan daun tanaman cabe pada hari yang sama. Kemudian hentikan penggunaan, lalu diganti dengan menyemprotkan ABG Buah ke batang dan daun tanaman cabe dengan dosis 3 tutup botol untuk 1 tangki spryer setiap 10 hari sekali. Maka bakal bunga akan muncul kembali dan tanaman cabe yang telah terserang akan kembali menghasilkan buah untuk dipanen. Memusnahkan bagian tanaman yang terinfeksi, namun perlu diperhatikan saat melakukan pemusnahan, tangan yang telah menyentuh (sebaiknya diusahakan tidak menyentuh) luka

pada tanaman tidak menyentuh tanaman/buah yang sehat, dan sebaiknya dilakukan menjelang pulang sehingga kita tidak terlalu banyak bersinggungan dengan tanaman/buah yang masih sehat. Tindakan Pencegahan

Melakukan perendaman biji dalam air panas (sekitar 55 derajat Celcius) selama 30 menit atau perlakuan dengan fungisida sistemik yaitu golongan triazole dan pyrimidin (0.050.1%) sebelum ditanam atau menggunakan agen hayati ABG-Bio. Penyiraman fungisida atau agen hayati ABG-Bio pada umur 5 sebelum pindah tanam. Penggiliran (rotasi) tanaman dengan tanaman lain yang bukan famili solanaceae (terong, tomat dll) atau tanaman inang lainnya misal pepaya karena patogen antraknosa pada pepaya dapat menyerang cabai pada pertanaman. Penggunaan fungisida fenarimol, triazole, klorotalonil, dll. khususnya pada periode pematangan buah dan terutama saat curah hujan cukup tinggi.. Fungisida diberikan secara bergilir untuk satu penyemprotan dengan penyemprotan berikutnya, baik yang menggunakan fungisida sistemik atau kontak atau bisa juga gabungan keduanya. Penggunaan mulsa hitam perak, karena dengan menggunakan mulsa hitam perak sinar matahari dapat dipantukan pada bagian bawah permukaan daun/tanaman sehingga kelembaban tidak begitu tinggi. Menggunakan jarak tanam yang lebar yaitu sekitar 65-70 cm (lebih baik yang 70 cm) dan ditanam secara zig-zag ini bertujuan untuk mengurangi kelembaban dan sirkulasi udara cukup lancar karena jarak antar tanaman semakin lebar, keuntungan lain buah akan tumbuh lebih besar. Jangan gunakan pupuk nitrogen (N) terlalu tinggi, misal pupuk Urea, Za, ataupun pupuk daun dengan kandungan N yang tinggi. Penyiangan / sanitasi gulma atau rumput-rumputan agar kelembaban berkurang dan tanaman semakin sehat. Jangan menanam cabai dekat dengan tanaman cabai yang sudah terkena lebih dahulu oleh antraknosa / patek, ataupun tanaman inang lain yang telah terinfeksi. Pengelolaan drainase yang baik di musim penghujan.

Agen hayati sangat efektif untuk mengatasi penyakit patek pada cabai sebagai suatu upaya untuk mengurangi ketergantungan terhadap pestisida kimia. Perlu diperhatikan bila menggunakan agen hayati sebaiknya tidak menggunakan pestisida kimia terutama bakterisida, karena akan menyebabkan kematian pada agen hayati tersebut. Agen hayati tersebut dapat diperoleh dalam bentuk jadi, yang dinamakan PUPUK AGEN HAYATI ABG-BIO sehingga lebih mudah untuk digunakan dan harganya sangat terjangkau. Selamat membuktikan. .