Anda di halaman 1dari 23

BAB I Pendahuluan

A. Latar Belakang Krisis moneter dan ekonomi yang melanda Indonesia membawa akibat yang cukup parah bagi perekonomian nasional. Hal itu terlihat pada dari bangkrutnya perusahaan perusahaan besar yang selama ini menguasai asset dan perekonomian nasional. Tragedi terpuruknya perekonomian Indonesia dapat menjadi pelajaran untuk meninjau kembali kebijakan yang selama ini tertuju pada perusahaan perusahaan besar untuk mengalihkan perhatian pada sektor usaha kecil menengah. Sektor usaha kecil menengah ternyata mempunyai daya tahan yang tinggi sehingga mampu bertahan dari badai krisis ekonomi dan moneter. Pembinaan dan perlindungan usaha kecil menengah, terutama pada krisis ini sangat strategis karena diperkirakan akan dapat menghasilkan nilai tambah (value added) yang memadai karena jumlah unit usahanya cukup banyak. Dengan usaha kecil menengah, akan terserap banyak tenaga kerja melalui usaha padat karya (labour intensive), dan dapat memperluas kesempatan berusaha dan memperoleh pemerataan pendapatan nasional yang selama ini didominasi oleh perusahaan perusahaan besar dan padat modal (capital intensive). Data statistik tahun 2002 menunjukkan bahwa dari 2.6 juta perusahaan industri, 99,27 % tergolong usaha kecil dan 0,73 % tergolong usaha menengah dan besar. Sedangkan jumlah pengusaha kecil menengah Indonesia 33,44 juta yang tersebar di berbagai sektor usaha. Namun, ternyata usaha besar lebih menguasai perekonomian Indonesia. Usaha kecil menengah hanya menyumbang 14% dari Produk Domestik Bruto (PDB) dan usaha menengah dan besar menyumbang 86 % dari PDB dari sektor industri. Pada era globalisasi ini membuka peluang sekaligus tantangan bagi pengusaha Indonesia termasuk usaha kecil, karena pada era ini daya saing produk sangat tinggi, live cycle product relative pendek mengikut trend pasar, dan kemampuan inovasi produk relatif cepat. Usaha Kecil Menengah merupakan salah satu bagian penting dari perekonomian suatu Negara ataupun daerah, tidak terkecuali di Indonesia.

B. Rumusan Masalah Rumusan masalah pada makalah ini adalah :

Bagaimana usaha sindang jaya mebel dalam mengembangkan dan mengatasi kendala kendala yang dihadapi di tengah persaingan ekonomi?

C. Tujuan Adapun tujuan dari pembuatan makalah ini adalah : Untuk mengetahui cara usaha sindang jaya mebel mengembangkan dan mengatasi kendalakendala yang dihadapi di tengah persaingan ekonomi. BAB II

Landasan Teori
Usaha Kecil didefinisikan sebagai kegiatan ekonomi yang dilakukan oleh perseorangan atau rumah tangga maupun suatu badan bertujuan untuk memproduksi barang atau jasa untuk diperniagakan secara komersial dan mempunyai omzet penjualan sebesar 1 (satu) miliar rupiah atau kurang. Sementara Usaha Menengah didefinisikan sebagai kegiatan ekonomi yang dilakukan oleh perseorangan atau rumah tangga maupun suatu badan bertujuan untuk memproduksi barang atau jasa untuk diperniagakan secara komersial dan mempunyai omzet penjualan lebih dari 1 (satu) miliar.

Ciri-ciri perusahaan kecil dan menengah di Indonesia, secara umum adalah:

Manajemen berdiri sendiri, dengan kata lain tidak ada pemisahan yang tegas antara pemilik dengan pengelola perusahaan. Pemilik adalah sekaligus pengelola dalam UKM. Modal disediakan oleh seorang pemilik atau sekelompok kecil pemilik modal. Daearah operasinya umumnya lokal, walaupun terdapat juga UKM yang memiliki orientasi luar negeri, berupa ekspor ke negara-negara mitra perdagangan. Ukuran perusahaan, baik dari segi total aset, jumlah karyawan, dan sarana prasarana yang kecil. Usaha Kecil Menengah tidak saja memiliki kekuatan dalam ekonomi, namun juga

kelemahan, berikut ini diringkas dalam bentuk tabel: Tabel 1. Kekuatan dan Kelemahan UKM Kekuatan Kelemahan

Kebebasan untuk bertindak Menyesuaikan setempat kepada

Relatif lemah dalam spesialisasi kebutuhan Modal dalam pengembangan terbatas

Peran serta dalam melakukan tindakan Sulit mendapat karyawan yang cakap /usaha Beberapa lembaga atau instansi bahkan UU memberikan definisi Usaha Kecil Menengah (UKM), diantaranya adalah Kementrian Negara Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (Menegkop dan UKM), Badan Pusat Statistik (BPS), dan UU No. 20 Tahun 2008. Menurut Kementrian Menteri Negara Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (Menegkop dan UKM), bahwa yang dimaksud dengan Usaha Kecil (UK) adalah entitas usaha yang mempunyai memiliki kekayaan bersih paling banyak Rp 200.000.000, tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha, dan memiliki penjualan tahunan paling banyak Rp 1.000.000.000. Sementara itu, Usaha Menengah (UM) merupakan entitas usaha milik warga negara Indonesia yang memiliki kekayaan bersih lebih besar dari Rp 200.000.000 s.d Rp10.000.000.000, tidak termasuk tanah dan bangunan. merupakan entitias usaha Pada tanggal 4 Juli 2008 telah ditetapkan Undang-undang No. 20 Tahun 2008 tentang Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah. Definisi UKM yang disampaikan oleh Undang-undang ini juga berbeda dengan definisi di atas. Menurut UU No 20 Tahun 2008 ini, yang disebut dengan Usaha Kecil adalah entitas yang memiliki kriteria sebagai berikut : (1) kekayaan bersih lebih dari Rp50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah) sampai dengan paling banyak Rp500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah) tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha; dan (2) memiliki hasil penjualan tahunan lebih dari Rp300.000.000,00 (tiga ratus juta rupiah) sampai dengan paling banyak Rp2.500.000.000,00 (dua milyar lima ratus juta rupiah). Sementara itu, yang disebut dengan Usaha Menengah adalah entitas usaha yang memiliki kriteria sebagai berikut : (1) kekayaan bersih lebih dari Rp 500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah) sampai dengan paling banyak Rp 10.000.000.000,00 (sepuluh milyar rupiah) tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha; dan (2) memiliki hasil penjualan tahunan lebih dari Rp2.500.000.000,00 (dua milyar lima ratus juta rupiah) sampai dengan paling banyak Rp 50.000.000.000,00 (lima puluh milyar rupiah). Dalam perspektif perkembangannya, UKM dapat diklasifikasikan menjadi 4 (empat) kelompok yaitu :

a. Livelihood Activities, merupakan UKM yang digunakan sebagai kesempatan kerja untuk mencari nafkah, yang lebih umum dikenal sebagai sektor informal. Contohnya adalah pedagang kaki lima. b. Micro Enterprise, merupakan UKM yang memiliki sifat pengrajin tetapi belum memiliki sifat kewirausahaan c. Small Dynamic Enterprise, merupakan UKM yang telah memiliki jiwa kewirausahaan dan mampu menerima pekerjaan subkontrak dan ekspor. d. Fast Moving Enterprise, merupakam UKM yang telah memiliki jiwa kewirausahaan dan akan melakukan transformasi menjadi Usaha Besar(UB).

Pemberdayaan ekonomi usaha kecil dan koperasi dilakukan Pemerintah dengan menetapkan beberapa peraturan yang memberikan fasilitas atau kegiatan mulai dari pengkreditan sampai dengan memecahkan masalah pemasaran yaitu Undang-Undang No. 9 Tahun 1995 tentang Usaha Kecil dan Peraturan Pemerintah No. 32 tahun 1998 tentang pembinaan dan Pengembangan Usaha Kecil. UKM memiliki peranan penting bagi masyarakat di tengah krisis ekonomi. Dengan memupuk UKM diyakini akan dapat dicapai pemulihan ekonomi. Hal serupa juga berlaku pada sektor informal dan tradisional, karena itu lebih mudah dimasuki oleh pelaku-pelaku usaha yang baru. Pendapat mengenai peran UKM atau sektor informal ada benarnya bila dikaitkan dengan perannya dalam meminimalkan dampak sosial dan krisis ekonomi khususnya persoalan pengangguran dan hilangnya penghasilan masyarakat. UKM dapat dikatakan merupakan salah satu solusi masyarakat untuk tetap bertahan dalam menghadapi krisis yakni dengan melibatkan diri dalam aktivitas usaha kecil terutama yang berkarakteristik informal. Dengan demikian maka persoalan pengangguran sedikit banyak dapat tertolong dan implikasinya adalah juga dalam hal pendapatan. UKM berperan dalam ekonomi Indonesia, baik ditinjau dari segi jumlah usaha

(establishment) maupun dari segi penciptaan lapangan kerja. UKM termasuk kelompok usaha yang penting dalam perekonomian Indonesia. Hal ini disebabkan usaha kecil, menengah dan koperasi merupakan sektor usaha yang memiliki jumlah terbesar dengan daya serap angkatan kerja yang signifikan. Oleh karena kesenjangan pendapatan yang cukup besar masih terjadi antara pengusaha besar dengan usaha kecil, menengah dan koperasi, pengembangan daya saing UKM secara langsung merupakan upaya dalam rangka peningkatan kesejahteraan rakyat banyak, sekaligus mempersempit kesenjangan ekonomi.

BAB III

Pembahasan
III. 1 Profil Perusahaan Nama Pemilik Bentuk Usaha Tahun Berdirinya Produksi Alamat : Sindang Jaya Mebel : Bapak Rohman : Perorangan : 2001 : Mebel : Perum. Vila Mutiara Blok N 106 no 9, Cikarang Barat Bekasi

III. 2 Proses Kerja Sindang Jaya Mebel Bapak Rohman sebagai pemilik usaha mebel Sindang Jaya memulai usaha dengan bermodalkan pengalaman dan keterampilan dibidang mebel dan tabungan yang disisihkan dari penghasilannya selama menjadi pekerja pada perusahaan mebel. Modal awal sepenuhnya dari pemilik usaha, sedangkan untuk modal pengembangan usaha disisihkan dari keuntungan usaha dan diperoleh dengan menjalin kemitraan dengan pemilik show room mebel dan pedagang perantara. Sindang jaya mebel melakukan produksi dengan sistem pesan terlebih dahulu dan membuat sampel untuk promosi. Dalam proses produksi ada pemilihan bahan, pengukuran, perakitan, penyelesaian. Bahan baku mebel adalah kayu jati dan kayu non jati, kayu non jati seperti misalnya kayu johar, kayu aboria, kayu pinus, kayu nangka dan lain-lain. Selain bahan baku kayu jati masih diperlukan tambahan beberapa bahan pembantu yang sering digunakan untuk pembuatan mebel antara lain sebagai berikut : polytur digunakan untuk mempercantik penampilan mebel, alat kunci, paku, lem, engsel, dan lain-lain. Memperoleh bahan baku dari supplier yang tidak tentu (tergantung kebutuhan dan harga). Alat produksi yang digunakan oleh para tukang mebel terdiri dari alat-alat yang masih sederhana tetapi ada juga yang sudah modern. Alat-alat mebel tersebut antara lain : Gergaji, Bur, Bubut, Sekel, Asah / Kikir, Bengso (alat pemecah kayu). beberapa tahapan mulai dari

Jumlah tenaga kerja yang ada 25 orang, Mereka termasuk tenaga terampil dan berpengalaman dibidang ini. Konsumen utamanya adalah masyarakat sekitar tapi jangkauan penjualan sindang jaya mebel sudah mencangkup luar kota seperti sukabumi, tangerang, dan bandung. Pemasaran mebel Sindang Jaya dilakukan dengan cara dipasarkan sendiri ke masyarakat atau dengan menjalin kemitraan dengan para tengkulak melalui toko-toko atau show room show room yang menginformasikan mebel-mebel yang sedang digemari konsumen disamping memberikan pinjaman modal usaha. Hubungan pengusaha industri kecil mebel dengan pemilik show room dan pedagang perantara melahirkan suatu model kemitraan dengan pola dagang. Sementara hubungan dengan industri rumah tangga melahirkan model kemitraan pola produksi.

III.3 Upaya Sindang Jaya Mebel dalam mengembangkan usahanya di tengah persaingan ekonomi Upaya yang dilakukan Sindang Jaya Mebel adalah meningkatkan kualitas produk dengan memberikan desain mebel yang lebih unik, dan bervariasi. Selain meningkatkan kualitas produk, Sindang Jaya Mebel juga meningkatkan pelayanan terhadap pelanggan dengan member garansi produk jika ada produk barang yang rusak, tepat waktu dalam memproduksi pesanan pelanggan.

III. 4 Berbagai kendala yang dihadapi Sindang Jaya Mebel dan cara mengatasinya Ada beberapa kendala yang umumnya dihadapai oleh Sindang Jaya Mebel seperti : a. Kesulitan Memperoleh Bahan Baku Sulit mendapatkan bahan baku dengan kualitas yang bagus dan harga terjangkau. Penggunaan bahan baku yang spesifik dan unik untuk usaha mebel dan tidak selalu terdapat di wilayah sekitar. b. Keterbatasan Teknologi Minimnya pemanfaatan teknologi internet dalam desain, pemasaran, dan promosi hasil produksi. Keterbatasan pengguasaan IT, sistem yang ada kurang mendukung, dan kurang tersedianya SDM pendukung menjadi kendala dalam pengembangan usaha. c. Keterbatasan Sumber Daya Manusia dengan kualitas yang baik

Sulitnya mendapat tenaga kerja yang memiliki keterampilan dalam bidang usaha mebel seperti mengukir, mendesain, mengecat, dll. Cara mengatasi kendala tersebut adalah sebagai berikut : Usaha Sindang Jaya Mebel harus memikirkan bahan baku alternatif lainnya sebagai pengganti bahan baku utama untuk mengatasi kesulitan memperoleh bahan baku. Untuk masalah dibidang Teknologi, Sindang Jaya Mebel harus menambah tenaga kerja yang memiliki keahlian TI. Dengan adanya teknologi informasi dapat mempermudah usaha Sindang Jaya dalam memasarkan produknya. Cara yang dilakukan untuk memperoleh SDM dengan kualitas yang baik adalah penerapan program peningkatan kualitas dan produktivitas tenaga kerja dengan tujuan untuk meningkatkan ketrampilan dan keahlian serta profesionalisme tenaga kerja dan mendorong peningkatan produktivitas industri mebel.

Logs Kayu hasil penebangan disebut logs dan dari sini proses pembuatan all wood furniture atau all furniture berawal. Logs didistribusikan ke pabrik atau pusat penggergajian menggunakan angkutan khusus baik di darat maupun melalui sungai. Beberapa perusahaan mengupas kulit logs agar bisa lebih cepat kering selama perjalanan. Biasanya pembeli atau wood furniture wholesale dan furniture wholesale ingin segera mengolah log tersebut menjadi all furniture beberapa hari setelah log tiba di dalam sawmill dan kiln dry. Untuk menghindari kerusakan dan retak, penampang log diberi paku cacing sebagai pengaman. Sawmilling Kemudian log dibelah sesuai dengan ukuran yang dibutuhkan untuk pembuatan all wooden furniture. Standar ketebalan papan pada saat pembelahan log adalah 3, 5, 7, 10, 12, dan 15 cm. Di area penggergajian kayu furniture jepara, papan-papan hasil pembelahan dipisahkan sesuai ketebalan dan jenis kayu sehingga memudahkan pengaturan di dalam kiln dry. Untuk pabrik wood furniture atau wooden furniture yang memiliki kapasitas produksi besar, memiliki sawmill akan membantu efisiensi produksi baik dalam segi pemakaian bahan maupun kecepatan produksi wood furniture. Sebelum masuk ke ruang pengeringan, papan dan balok disimpan dahulu di luar ruangan dengan tujuan agar kandungan air juga akan menguap karena suhu dan temperature udara di luar ruangan sehingga ketika di wood furniture store dan wooden furniture wholesale tetap menarik. Hal ini biasanya hanya dilakukan pada saat musim panas. Agar kualitas kayu terjaga, paling lama adalah 1 minggu setelah penggergajian, kayu harus segera dikeringkan. Semakin cepat kayu diproses akan lebih baik sehingga tidak ada waktu bagi jamur dan serangga untuk menyerang kayu dan tetap menjaga kualitas furniture di furniture store atau furniture wholesale. Kiln Dry Jenis kayu apapun harus melalui proses pengeringan. Adapun yang perlu diperhatikan adalah ukuran ketebalan papan, cara penumpukkan dan metode pengeringan. Kayu yang lunak cenderung mudah pecah jika dibuat wooden furniture apabila proses pengeringan terlalu cepat, dan ketika di wood furniture store atau wooden furniture wholesale furniture tersebut tidak akan bertahan lama. Pengeringan kayu membutuhkan waktu antara 2 hingga 4 minggu, dipengaruhi oleh jenis kayu, ketebalan papan dan kapasitas pengering. Cara pengeringan yang baik adalah dengan menggunakan peralatan yang benar. Pada all wood furniture industri kecil seperti furniture jepara tradisional biasanya untuk mengeringkan kayu cukup dengan disandarkan pada dinding atau tiang dan mengandalkan sinar matahari. Namun cara ini tidak bisa menghasilkan level all wooden furniture ideal di furniture store dan wood furniture wholesale.
http://manunggaljaya.wordpress.com/

Temukan beragam All Wood Furniture - Wood Furniture Store - Wooden Furniture Wholesale - Furniture Jepara - Wood Furniture - Wooden Furniture - Furniture Store - All Wooden Furniture - Wood Furniture Wholesale - Wood Furniture Wholesale - All Furniture - Furniture Wholesale hanya di All Wood Furniture : Wood Furniture Store & Wooden Furniture Wholesale Jepara 88db.com

Finishing Pada artikel 1 & 2 pembahasan hanya hingga proses assembling. Proses dasar pembuatan furniture selanjutnya adalah finishing. Finishing merupakan proses pelapisan akhir permukaan kayu yang bertujuan untuk memperindah permukaan kayu sekaligus memberikan perlindungan furniture dari serangan serangga ataupun kelembaban udara. Dalam beberapa jenis dan tipe furniture, proses finishing harus dilakukan sebelum komponen dirakit. Hal ini dilakukan karena finishing lebih mudah dilakukan sebelum komponen dirakit. Tentangkayu membahas lebih detail tentang finishing pada bagian terpisah. Packaging Terlepas dari proses finishing, product dipindahkan ke bagian packing. Di dalam area ini beberapa aksesoris (kunci, handle, rel dll) dan perlengkapan lain dipasang kembali. Jenis-jenis packing yang digunakan juga tergantung pada tujuan akhir dan level kualitas furniture. Lebih mahal dan lebih jauh lokasi pengiriman membutuhkan packaging yang lebih kuat dan lebih cermat. Seluruh proses tersebut harus dilakukan pada pembuatan furniture untuk mendapatkan kualitas semaksimal mungkin dan pada akhirnya menjadikan kepuasan tersendiri bagi pembeli. Proses menjadi kunci penting untuk keawetan dan kualitas furniture dari kayu. Hasil akhir yang tidak melalui proses lengkap bisa membuat kesan pertama yang menarik akan tetapi tidak bertahan lama.

Finishing Pada artikel 1 & 2 pembahasan hanya hingga proses assembling. Proses dasar pembuatan furniture selanjutnya adalah finishing. Finishing merupakan proses pelapisan akhir permukaan kayu yang bertujuan untuk memperindah permukaan kayu sekaligus memberikan perlindungan furniture dari serangan serangga ataupun kelembaban udara. Dalam beberapa jenis dan tipe furniture, proses finishing harus dilakukan sebelum komponen dirakit. Hal ini dilakukan karena finishing lebih mudah dilakukan sebelum komponen dirakit. Tentangkayu membahas lebih detail tentang finishing pada bagian terpisah. Packaging Terlepas dari proses finishing, product dipindahkan ke bagian packing. Di dalam area ini beberapa aksesoris (kunci, handle, rel dll) dan perlengkapan lain dipasang kembali. Jenis-jenis packing yang digunakan juga tergantung pada tujuan akhir dan level kualitas furniture. Lebih mahal dan lebih jauh lokasi pengiriman membutuhkan packaging yang lebih kuat dan lebih cermat. Seluruh proses tersebut harus dilakukan pada pembuatan furniture untuk mendapatkan kualitas semaksimal mungkin dan pada akhirnya menjadikan kepuasan tersendiri bagi pembeli. Proses menjadi kunci penting untuk keawetan dan kualitas furniture dari kayu. Hasil akhir yang tidak melalui proses lengkap bisa membuat kesan pertama yang menarik akan tetapi tidak bertahan lama.

MAKALAH BATU BATA


KATA PENGANTAR Dengan mengucap syukur Alhamdulillah kehadirat Allah SWT, atas segala limpahan Rahmat dan Karunia-Nya pada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah geografi sebagai tugas mata pelajaran geografi semester I kelas XII Tahun pelajaran 2011/2012. Kami sebagai penyusun mengucapkan terima kasih kepada Semua pihak yang tidak dapat kami sebutkan, yang berkenan memberi petunjuk sehingga penyusunan Makalah ini dapat terselesaikan. Makalah ini kami susun penuh hati-hati, tetapi masih banyak kesalahan dan keliruan. Atas kekurangannya kami mohon maaf yang sebesar-besarnya. Semoga makalah ini dapat bermanfaat. Demi perbaikan dan kesempurnaan makalah ini, kritik dan saran yang positif dari berbagai pihak sangat kami harapkan. Bodeh, 2011

Penulis

DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL.........................................i KATA PENGANTAR.......................................ii DAFTAR ISI..........................................iii BAB I PENDAHULUAN.....................................1 A.Latar Belakang Masalah........................1 B.Alasan Penulisan Judul........................1 C.Tujuan Penulisan..............................1 D.Metode Pengumpulan Data.......................1 BABI PEMBAHASAN.......................................2 A.Pemilihan Bahan................................2 B.Pencampuran Bahan..............................2 C.Pencetakan.....................................2 D.Pengeringan....................................2 E.Perapihan .....................................2 F.Pembakaran.....................................2 BAB III PENUTUP.......................................3 A.Kesimpulan.....................................3 B.Saran..........................................3 DAFTAR PUSTAKA........................................4 LAMPIRAN BAB I PENDAHULUAN

Makalah ini dibuat untuk melengkapi salah satu tugas mata pelajaran Geografi.Dimana tugas makalah ini diharapkan dapat melatih siswa untuk dapat memaparkan ide-ide hasil pengamatan, wawancara serta dokumentasi kedalam suatu makalah. A. Latar Belakang Masalah Pada dasarnya dalam penyusunan makalah ini dilator belakangi oleh berbagai hal diantaranya : 1.Sebagai salah satu tugas mata pelajaran Geografi. 2.Dengan observasi, kunjungan serta membaca dan mencari referensi mengenai proses produksi diharapkan kepada penulis untuk dapat mengetahui tentang produksi. B. Alasan Penulisan Judul Penulis mengambil judul Proses Pembuatan Batu Bata dengan alasan ingin mengetahui tentang pembuatan batu bata kepada pembaca. C. Tujuan Penulisan 1.Untuk menambah pengetahuan penulis sebagai bakal kelak terjun ke dunia produksi. 2.Sebagai bahan kelengkapan tugas mata pelajaran Geografi. D. Metode Pengumpulan Data 1.Metode Observasi Yaitu usaha untuk mendapatkan data yang diperlukan dengan cara mengadakan pengamatan kepada objek yang akan diambil. 2.Metode Wawancara Yaitu usaha untuk mendapatkan data dengan cara wawancara kepada narasumber yang mengetahui tentang proses pembuatan batu bata.

BAB II PEMBAHASAN A. Pemilihan Bahan Keduklah tanah agar membentuk lubang kemudian cara merang. B. Pencampuran Bahan Masukkan tanah dan merang kelubang dan juga diberi air secukupnya. C. Pencetakan Setelah adonan tercampur, kemudian dicetak dengan wadah (cetakan) yang telah disediakan, lalu dipleret supaya rapih. D. Pengeringan Setelah adonan yang telah dicetak sudah kering, kemudian dirapikan dari tanah yang melebihi cetakan (munjul) F. Pembakaran Proses terakhir adalah pembakaran dengan cara ditumpuk tapi dibawahnya ada lubang untuk

memasukan kayu-kayu dan ditutupi dengan merang, pembakaran dilakukan 1 hari

BAB III PENUTUP A. Kesimpulan Dengan dibuatnya makalah ini diharapkan siswa dapat mengetahui tentang cara memproduksi batu bata yang baik dan bisa menjadi inovasi untuk membantu perekonomian. B. Saran 1.Kembangkan pembuatan batu bata secara trodisional agar tetap terjaga keasliannya. 2.Jangan menganggap pembuatan batu bata itu nudah dan cepat.

DAFTAR PUSTAKA Bapak Bero, Pembuatan Batu Bata, Karyomukti Ibu Tini, Pembuatan Batu Bata, Karyomukti LAMPIRAN

Proses Pemilihan bahan

Proses Pencetakan

Proses Pengeringan

Proses Perapihan

Proses Pembakaran

Batu bata yang sudah jadi

Melihat Usaha Batu Bata Milik Sutrisno Dibaca: 1631 kali. Jambi Timur Ditulis oleh Franciscus, Muarojambi Kamis, 04 Februari 2010 14:44 Tidak Pernah Rugi, Omset 6,5 Juta per Bulan Mengawali hidup sebagai buruh pembuat bata bata tidak membuat sutrisno kecil hati. Berkat ketekunannya, dia kini memiliki usaha batu bata sendiri dan mampu mempekerjakan 10 orang karyawan. Bagaimana perjalanannya?

Desa Tunas Baru, Kecamatan Sekernan merupakan salah satu desa dari sejumlah desa penghasil genteng dan batu bata di Muarojambi. Salah seorang pengrajin batu bata yang cukup sukses di desa ini bernama Sutrisno. Dia tinggal di RT 01 Kecamatan Sekernan. Mencari Sutrisno ternyata cukup mudah karena rata-rata perajin batu bata di desa tersebut merupakan saudara kandung Sutrisno. Empat pengusaha batu bata di desa itu tercatat sebagai kakak kandungnya. Ketika ditemui pagi kemarin, Sutrisno sedang asyik melihat kinerja 10 karyawannya. Dia terlihat sedang memberikan komando terhadap anak buahnya. Melihat kedatangan Koran ini dia dengan ramah menyapa. Mau beli genteng ya mas, tegurnya sambil mendekat. Setelah berbasa-basi, akhirnya Sutrisno mengerti maksud kedatangan koran ini. Mengawali cerita, dia mengatakan awal usahanya berdiri ketika dia menjadi buruh pembuat batu bata pada tahun 1986. selama 8 tahun menjadi buruh, dia kemudian mencoba untuk membuat usaha sendiri. Pada tahun 1994, dia membuka usaha pencetakan batu bata di desa kedemangan, kecamatan sekernan. Waktu itu saya masih nyewa tanah orang, sekarang tidak lagi, kata pria kelahiran Pati Jawa Tengah ini. Masa awal usahanya berdiri, dia hanya dibantu oleh keluarga. Berkat keuletan, akhirnya berhasil mengumpulkan uang dan membeli tanah yang cukup luas di desa tunas baru. Saat ini usahanya boleh dikatakan cukup berkembang. Sebab, usaha miliknya telah dilengkapi mesin pencetak genteng dan batu bata. selain itu di juga telah mampu mempekerjakan 10 orang karyawan. Yang lebih hebatnya lagi, omset perbulan dari usahanya minamal 6,5 juta. Angka 6,5 juta ini minimal. Biasanya di atas itulah, katanya. Dia menerangkan, dalam satu hari, usaha miliknya bisa mencetak 1.200 keping genteng. untuk batu bata sebanyak 2 ribu biji dalam satu hari. Harga genteng saat ini katanya cukup baik, genteng garuda Rp 550/keping, mandili Rp 700/keping sementara batu bata Rp 400/biji.

Usaha batu bata, kata Sutrisno, tidak akan membawa kerugian. Sejak usahanya berdiri tahun 1994, sampai sekarang, dia mengaku tidak pernah rugi. Modalnya hanya tanah liat dan keterampilan kita saja. Mana ada ruginya, terangnya. Dalam memasok usahanya, pria berumur 44 tahun ini mengaku membeli tanah liat dari pihak lain. Untuk satu truk tanah liat dia mengaku membeli dengan harga Rp.400 ribu. 1 truk itu katanya bisa menghasilkan 11 ribu keeping genteng. Sedangkan beli tanah liat saja masih untung, apalagi kita punya sendiri, pasti untungnya lebih besar lagi, terangnya. Untuk memajukan usaha, Sutrisno mengaku dengan menggunakan modal sendiri. Diakuinya, pihak pemerintah Muarojambi beberapa kali menawarkan bantuan, namun ayah dari tiga anak ini menolak bantuan tersebut. Modal saya sudah cukup, makanya saya tidak menerima, katanya. Berkat usahanya ini, dua anak Sutrisno telah mencicipi pendidikan di Pulau Jawa. Untuk mendapat pendidikan yang lebih baik.(*)

Bisnis Batu Bata Tetap Eksis dan Menguntungkan


Bisnis Batu Bata Tetap Eksis dan Menguntungkan Terbit 06 Maret 2009 Dibaca 23,808 kali Komentar 86 Komentar Kategori: Peluang Bisnis Ide Bisnis: bisnis batu bata, peluang usaha bata, produksi batu bata, proses produksi batu bata, usaha batu bata

Pembangunan yang berkelanjutan banyak memberikan peluang bagi banyak orang. Apalagi ditunjang pendapatan yang semakin meningkat sehingga memberikan kesempatan untuk memenuhi kebutuhan utama, seperti properti. Dari hal inilah sebuah peluang muncul dalam pengadaan material utama pendukung dalam pembangunan properti yaitu batu bata. Meskipun dewasa ini sudah ditemukan inovasi bahan pengganti batu bata dalam membuat dinding bangunan, tetapi sebagian besar masyarakat masih menggunakan batu bata. Muhammad Yusuf, laki-laki kelahiran Tanjung Pinang ini pada Mei 2008 mencoba mengembangkan usaha batu bata yang dipercayakan oleh kakaknya untuk mengambil peluang seiring dengan pesatnya perkembangan kota Pekanbaru. Bersama beberapa pengusaha batu bata lainnya, suami dari Fauziah ini bergabung dalam sebuah komunitas pengusaha batu bata yang berkomitmen menjaga usaha ini berjalan dengan baik. Proses Produksi Batu Bata Saat ini dengan tungku pembakaran berkapasitas 20ribu batu bata, dalam 2 bulan 3x pembakaran bisa menghasilkan +/- 200ribu batu bata sesuai permintaan. Krisis global berpengaruh terhadap turunnya permintaan sehingga untuk menghabiskan 70ribu batu bata diperlukan waktu +/1.5bulan. Dalam proses produksinya, untuk produksi 70ribu batu bata dibutuhkan tanah liat sebanyak bak truk (sedang). Sedangkan untuk pembakarannya dibutuhkan kayu bakar sebanyak 1.5 bak truk dengan harga Rp1juta/truk, Rp500ribu untuk kayu dan Rp500ribu untuk transport. Dalam operasional usaha batu bata ini, Yusuf mempekerjakan 1 orang manajer dan 2 orang tenaga tetap. Manajer diberi gaji 1.5juta/bulan dan untuk tenaga tetap dibayar berdasar jumlah batu bata yang dicetak yaitu Rp27,-/batu bata/orang dan fasilitas tempat tinggal. Setiap kali pembakaran dibayarkan Rp1juta untuk sekali pembakaran,berapapun jumlah tenaga kerja yang dibutuhkan. Pada proses pembuatannya, awalnya tanah yang sudah disiapkan,

dimasukkan ke dalam mesin. Tanah diaduk dan dipadatkan kemudian dicetak berbentuk persegi panjang. Supaya tanah lebih liat dan padat, ditambahkan air dan minyak sawit +/-1 sendok. Cetakan tanah yang keluar dari mesin berbentuk memanjang tersebut dipotong-potong secara manual. Setelah tanah tercetak, disusun dan dikeringkan di suatu tempat atau di dekat tungku. Setelah tungku dikosongkan dari pembakaran sebelumnya, cetakan dimasukkan dan dibakar. Proses pembakaran membutuhkan waktu 4hari tanpa berhenti. Harga Terpengaruh Krisis Global Batu bata yang diproduksinya berukuran sedang, berukuran 5x10x20cm yang dijual dengan harga Rp 230-Rp240,- per buah. Keuntungan yang diperoleh bisa mencapai 120% dari biaya produksi.Hanya saja, dengan terjadinya krisis global yang membuat harga anjlok sampai Rp140,per buah. Kaitannya? Sebagian pendapatan masyarakat berasal dari usaha kelapa sawit, sehingga saat harga sawit jatuh, hal ini berpengaruh terhadap rencana pembangunan properti mereka. Hal ini juga terjadi pada proyek pemda yang sebagian besar diperoleh dari bisnis sawit. Sehingga tak sedikit pengusaha2 batu bata yang menurunkan harga bahkan beberapa diantaranya usahanya ditutup. Para konsumennya menilai,keunggulan dari batu bata produksi Yusuf mempunyai cetakan lebih rapi sehingga mereka selalu repeat order. Demi menjamin kualitas batu bata produksinya, laki-laki yang pernah kuliah di ITB dan UGM ini mendisiplinkan karyawannya dengan tidak membayarkan upah untuk batu bata yang rusak atau pemotongan gaji manajernya karena lalai mengontrol kondisi mesin yang rusak. Konsumen dari produk batu batanya antara lain kontraktor,developer atau masyarakat umum dengan minimal order 10ribu batu bata. Dengan pengalamannya di MLM yang cukup berharga, Yusuf selalu melakukan negosiasi kepada para pelanggannya,terutama pada saat krisis global saat ini. Untuk pengantaran, Yusuf membatasi sampai radius 120km2 dan biaya transportasi Rp80,-/batu bata. Kendala Usaha Kendala yang dihadapi selama menjalankan usaha ini tidak terlalu besar, sama seperti usaha pada umumnya. Hanya saja dampak krisis global yang melanda saat ini benar2 sangat terasa. Proses pembangunan properti masyarakat dan swasta terhenti karena dana tersendat,begitu juga proyek2 pemerintah daerah. Apalagi Yusuf baru saja mengeluarkan dana untuk pengembangan lahan baru dan terhenti karena krisis global.

Rencana pengembangan usaha ke depan setelah kondisi keuangan pulih pasca krisis,belajar dari pengalaman tersebut, proyek lahan baru akan ditunda. Yusuf berencana mengembangkan divisi tranportasi dengan memiliki truk angkutan yang bisa menghemat biaya pengangkutan kayu +/Rp3 juta/bulan dan bisa memberikan pemasukan baru dari usaha penyewaan truk. Jadi,selama masih ada rencana pembangunan fisik dan prasarana lain, usaha pembuatan batu bata masih cukup menjanjikan. Simulasi Usaha Pembuatan Batu Bata Asumsi : keuntungan per bulan berdasarkan penjualan 70.000 batu bata dengan harga normal Rp. 230 Pengeluaran Tanah Liat : truk x Rp. 800.000 = Rp. 400.000 Kayu bakar : 1 truk x Rp. 1.000.000 = Rp. 1.500.000 Transportasi : 1 bulan x Rp. 3.000.000= Rp. 3.000.000 Manajer : 1 orang x Rp. 1.500.000 = Rp. 1.500.000 Karyawan : 2 orang x 70.000 x 27 = Rp. 3.780.000 Total Pengeluaran = Rp. 10.180.000 Pendapatan Penjualan : 70.000 x Rp. 230 = Rp. 16.100.000 Total pendapatan = Rp. 16.100.000 Keuntungan : Rp. 16.100.000 Rp. 10.180.000 = Rp. 5.920.000 Related posts:
1. 2. 3. 4. 5. Bisnis Kerajinan Batu Paras Putih Industri Tas dan Koper Tanggulangin Sidoarjo Tetap Eksis Bisnis Penitipan Sepeda: Bisnis Mudah dan Menguntungkan Peluang Bisnis Pulsa Tetap Menggiurkan Dari Sekedar Hobi Menjadi Bisnis Yang Menguntungkan

Liputan Langsung UKM

Tungku masak

Anda mungkin juga menyukai