Anda di halaman 1dari 10

REPTIL 1.

Sanca kembang Klasifikasi Kerajaan: Animalia

Filum: Chordata Kelas: Reptilia Ordo: Squamata Supaordo: Serpentes Famili: Pythonidae Genus: Python Spesies: P. Reticulatus

Nama binomial: Python reticulatus Nama-nama lainnya adalah ular sanca; ular sawah; sawah-n-etem (Simeulue); ular petola (Ambon); dan dalam bahasa Inggris reticulated python atau kerap disingkat retics.

Gambar

Deskripsi

a. Morfologi sejenis ular tak berbisa yang berukuran besar. Ukuran terbesarnya dikatakan dapat melebihi 10 meter. Lebih panjang dari anakonda (Eunectes), ular terbesar dan terpanjang di Amerika Selatan. Keluarga sanca (Pythonidae) relatif mudah dibedakan dari ular-ular lain dengan melihat sisik-sisik dorsalnya yang lebih dari

45 deret, dan sisik-sisik ventralnya yang lebih sempit dari lebar sisi bawah tubuhnya

Sanca kembang terhitung ular yang terbesar dan terpanjang di dunia. The Guinness Book of World Records tahun 1991 mencatat sanca kembang sepanjang 32 kaki 9.5 inci (sekitar 10 meter) sebagai ular yang terpanjang (Murphy and Henderson 1997). Namun yang umum dijumpai adalah ular-ular yang berukuran 5-8 meter. Sedangkan berat maksimal yang tercatat adalah 158 kg (347.6 lbs). Ular sanca termasuk ular yang berumur panjang, hingga lebih dari 25 tahun. Ular-ular betina memiliki tubuh yang lebih besar. Ular jantan mulai kawin setelah mencapai panjang tubuh sekitar 7-9 kaki, sedangkan ular betina mulai kawin jika panjang tubuhnya sekitar 11 kaki. Sisik-sisik dorsal (punggung) tersusun dalam 70-80 deret; sisik-sisik ventral (perut) sebanyak 297-332 buah, dari bawah leher hingga ke anus; sisik subkaudal (sisi bawah ekor) 75-102 pasang. Perisai rostral (sisik di ujung moncong) dan empat perisai supralabial (sisik-sisik di bibir atas) terdepan memiliki lekuk lubang penghidu bahang (heat sensor pits) yang dalam b. Habitat Sanca kembang hidup di hutan-hutan tropis yang lembab (Mattison, 1999). Ular ini bergantung pada ketersediaan air, sehingga kerap ditemui tidak jauh dari badan air seperti sungai, kolam dan rawa.

c. Perilaku kawin Musim kawin berlangsung antara September hingga Maret di Asia. Berkurangnya panjang siang hari dan menurunnya suhu udara merupakan faktor pendorong yang merangsang musim kawin. Namun demikian, musim ini dapat bervariasi dari satu tempat ke tempat lain. Shine et al. 1999 mendapatkan bahwa sanca kembang di sekitar Palembang, Sumatera Selatan, bertelur antara

September-Oktober; sementara di sekitar Medan, Sumatera Utara antara bulan April-Mei. Jantan maupun betina akan berpuasa di musim kawin, sehingga ukuran tubuh menjadi hal yang penting di sini. Betina bahkan akan melanjutkan puasa hingga bertelur, dan sangat mungkin juga hingga telur menetas. Sanca kembang bertelur antara 10 hingga sekitar 100 butir. Telur-telur ini dierami pada suhu 88-90 F (31-32 C) selama 80-90 hari, bahkan bisa lebih dari 100 hari. Ular betina akan melingkari telur-telur ini sambil berkontraksi. Gerakan otot ini menimbulkan panas yang akan meningkatkan suhu telur beberapa derajat di atas suhu lingkungan. Betina akan menjaga telur-telur ini dari pemangsa hingga menetas. Namun hanya sampai itu saja; begitu menetas, bayibayi ular itu ditinggalkan dan nasibnya diserahkan ke alam.

d. Makanan Makanan utamanya adalah mamalia kecil, burung dan reptilia lain seperti biawak. Ular yang kecil memangsa kodok, kadal dan ikan. Ular-ular berukuran besar memangsa anjing, monyet, babi hutan, rusa, bahkan manusia. Ular ini lebih senang menunggu daripada aktif berburu, karena ukuran tubuhnya yang besar menghabiskan banyak energi untuk bergerak. Mangsa dilumpuhkan dengan melilitnya kuat-kuat (constricting) hingga mati kehabisan napas. Beberapa tulang di lingkar dada dan panggul mungkin patah karenanya. Kemudian setelah mati mangsa ditelan bulat-bulat mulai dari kepalanya. Setelah makan, terutama setelah menelan mangsa yang besar, ular ini akan berpuasa beberapa hari hingga beberapa bulan hingga ia lapar kembali. Seekor sanca yang dipelihara di Regents Park pada tahun 1926 menolak untuk makan selama 23 bulan, namun setelah itu ia normal kembali.

e. Penyebaran Sanca kembang menyebar di hutan-hutan Asia Tenggara. Mulai dari Kep. Nikobar, Burma hingga ke Indochina; ke selatan melewati Semenanjung Malaya hingga ke Sumatra, Kalimantan, Jawa, Nusa Tenggara (hingga Timor), Sulawesi; dan ke utara hingga Filipina. Sanca kembang memiliki tiga subspesies. Selain P.r. reticulatus yang hidup menyebar luas, dua lagi adalah P.r. jampeanus yang menyebar terbatas di Pulau Tanah Jampea dan P.r. saputrai yang menyebar terbatas di Kepulauan Selayar. Kedua-duanya di lepas pantai selatan Sulawesi Selatan.

f. Manfaat

Sanca terutama yang kecil sering dipelihara orang karena relatif jinak dan indah kulitnya. Pertunjukan rakyat, seperti topeng monyet, seringkali membawa seekor sanca kembang yang telah jinak untuk dipamerkan. Sirkus lokal juga kadang-kadang membawa sanca berukuran besar untuk dipamerkan atau disewakan untuk diambil fotonya. Sanca banyak diburu orang untuk diambil kulitnya yang indah dan bermutu baik. Lebih dari 500.000 potong kulit sanca kembang diperdagangkan setiap tahunnya. Sebagian besar kulit-kulit ini diekspor dari Indonesia, dengan sumber utama Sumatra dan Kalimantan.

2. Kadal lidah biru Klasifikasi Kingdom Phylum Subphylum Class Order Suborder Family Genus Species .gambar : Animalia : Chordata : Vertebrata : Reptilia : Squamata : Lacertilia : Scincidae : Tiliqua : Tiliqua gigas

Deskripsi

a. Morfologi Spesies ini sering dikenal dengan nama kadal blutong (blue tongue, karena memiliki lidah berwarna biru), kadal panama/panana. Spesies ini merupakan anggota familia Scincidae (skink lizard) dengan genus yang mempunyai anggota beberapa spesies diantaranya T. gigas sendiri, T. scincoides, T. rugosa, T. occipitalis, dll. Dilihat dari familianya, hewan ini mempunyai familia dengan karakter pada umumnya memiliki ciri morfologi sisik sikloid yang berukuran relative besar dengan permukaan kesat kering, sisik kepala memiliki lempeng yang termodifikasi menjadi sisik dengan nama tersendiri, anggota familia Scincidae juga memiliki ekor cukup panjang bulat dan umumnya dapat melakukan autotomi.

Sedangkan karakteristik spesies ini adalah leher pendek dan ekor berbentuk silindris dan padat, kepala seperti anak panah yang tumpul dengan lubang telinga besar, yang unik dari spesies ini adalah walaupun termasuk kadal skink terbesar, blutong memiliki ekstremitas yang kecil sehingga terlihat tidak proporsional dengan tubuhnya. Umumnya blutong memiliki motif banded pada tubuhnya dengan variasi warna yang sangat banyak, mulai dari coklat, hitam, kuning, krem, putih, abu-abu.

b. Habitat Spesies ini biasanya hidup pada habitat yang cenderung hangat hingga panas dan kering atau sedikit lembab dengan kisaran suhu sekitar 30 c pada siang hari dengan basking spot bersuhu 40-50 c. sedangkan pada malam hari suhunya sekitar 25 c. Kelembaban yang dibutuhkan antara 60% sampai 70%. Biasanya spesies ini hidup di padang rumput kering dan stepa dan cenderung di daerah yang dekat dengan air dan menempati daerah semak-semak atau bebatuan yang ada. Pada siang hari biasanya basking di area terbuka atau mencari mangsa. Selain itu juga dapat dijumpai pada daerah kering yang hanya terdapat sedikit air didalamnya. Walaupun tubuhnya cenderung gemuk dan memiliki ekstremitas yang kecil, akan tetapi blutong juga pandai memanjat pohon yang jarang terdapat di habitat aslinya, namun demikian blutong mempunyai habitat terestrial sehingga jarang ditemukan pada pepohonan dengan slope yang extreme. Biasanya blutong sering bertempat tinggal di serasah, bekas pohon tumbang dan atau bangunan yang tidak terpakai di pemukiman. c. Perilaku kawin Untuk reproduksi, blutong bereproduksi secara internal dan ovovivipar. Biasanya sebelum musim kawin, individu dewasa akan mengalami proses hibernasi pada musim dingin untuk menstimulus produktivitas sperma,

biasanya pada bulan November hingga februari, biasanya perkawinan terjadi setelah musim dingin/ hujan berakhir dan blutong jantan akan mulai mencari pasangannya lewat feromon betina yang siap kawin atau sekedar bertemu dengan betina dan melakukan perkawinan dengan diawali ritual yang menyerupai perkelahian. Biasanya pada individu betina yang menolak, blutong jantan akan menggigit bagian pundak betina untuk mengunci gerakan, setelah betina pasrah, maka terjadilah perkawinan. Biasanya selang 3 hingga 6 bulan kemudian betina akan melahirkan 5 hingga 15 bayi blutong yang terbungkus lapisan mucus transparan yang masih memiliki sisa putih telur yang selanjutnya bayi blutong akan mengeluarkan diri dari mucus tersebut dan sisa plasenta tersebut akan dimakan oleh bayi itu sendiri. d. Makanan Blutong bisa dikatakan pemakan segala makanan yang dapat masuk ke mulutnya. Dietnya berkisar dari burung, serangga, ikan, mamalia kecil, buahbuahan dan terkadang sayuran. Pada ukuran bayi hingga juvenile, blutong akan cenderung memakan serangga atau hewan berukuran kecil lainnya dan belum mau memakan buah-buahan. Biasanya pada ukuran bayi hingga juvenile, blutong akan lebih cenderung menyukai makanan berbasis daging, karena pada masa pertumbuhan ini blutong akan memerlukan banyak asupan protein dan kalsium yang didapat dari mangsa hidup. Akan tetapi setelah dewasa, biasanya proporsi makanan daging akan lebih sedikit dibandingkan buah-buahan, karena pada masa ini blutong akan lebih membutuhkan serat untuk memperlancar proses pembuangan, begitu juga vitamin agar tetap menjaga kebugaran tubuh menjelang usia tua. e. Penyebaran Untuk persebaranya, genus ini dapat ditemukan di daerah padang rumput basah hingga semi tandus/kering, stepa dan savannah di Australia dan Indonesia Timur dan sekitarnya dengan ketinggian relatif rendah. Untuk

spesies Tiliqua gigas yang terdapat di New Guinea dan berbagai pulau di Indonesia. f. Manfaat Dalam segi pemanfaatan, blutong biasanya banyak dimanfaatkan untuk hewan peliharaan seperti reptil pada umumnya. Selain itu, penduduk lokal jarang menggubris keberadaan blutong karena hanya terlihat seperti kadal kebun biasa dengan ukuran lebih besar. Akan tetapi, seiring berkembangnya zaman, pada saat ini blutong telah banyak diperdagangkan bahkan di ekspor secara ilegal untuk dijadikan hewan peliharaan karena memiliki tempramen sangat bersahabat serta mudah dalam memeliharanya, terkadang berperilaku senang mencuri perhatian manusia menjadikan blutong sebagai reptile pilihan untuk dipelihara. Hingga saat ini blutong telah sukses dibudidayakan oleh sebagian kecil masyarakat Indonesia untuk memenuhi permintaan pasar perdagangan hewan peliharaan. membutuhkan Hal siklus tersebut per 2 karena tahun dan untuk hanya

membudidayakannya

menghasilkan anakan yang sedikit sehingga sedikit sekali breeder yang membudidayakannya. Sumber:

http://materibagja.blogspot.com/ http://id.wikipedia.org/wiki/Ular_sanca_kembang http://komunitaspecintareptilbanyumas.blogspot.com/2011/06/bluetongue-kadal-panana.html http://www.satwaunik.com/reptil/uploads/2010/09/med_BlueTongue Skink.jpg