Anda di halaman 1dari 3

3.

Pendidikan kesehatan kepada masyarakat agar mereka dapat mengenal gejala penyakit pada tingkat awal dan segera mencari pengobatan. Masyarakat perlu menyadari bahwa berhasil atau tidaknya usaha pengobatan, tidak hanya tergantung pada baiknya jenis obat serta keahlian tenaga kesehatannya, melainkan juga tergantung pada kapan pengobatan itu diberikan. Pengobatan yang terlambat akan menyebabkan usaha penyembuhan menjadi lebih sulit, bahkan mungkin tidak dapat sembuh lagi misalnya pengobatan kanker (neoplasma) yang terlambat. Kemungkinan kecacatan terjadi lebih besar, penderitaan sakit menjadi lebih lama, biaya untuk pengobatan dan perawatan menjadi lebih besar.

d. Pembatasan Kecacatan dan Berusaha untuk Menghilangkan Gangguan Kemapuan Bekerja yang Diakibatkan suatu Penyakit (Disibility Limitation) Usaha ini merupakan pengobatan dan perawatan yang sempurna agar penderita sembuh kembali dan tidak cacat. Bila sudah terjadi kecacatan, maka dicegah agar kecacatan tersebut tidak bertamabah berat (dibatasi), fungsi dari alat tubuh yang menjadi cacat ini dipertahankan semaksimal mungkin.

e. Rehabilitasi (Rehabilitation) Rehabilitasi adalah usaha untuk mengembalikan bekas penderita ke dalam masyarakat, sehingga dapat berfungsi lagi sebagai anggota masyarakat yang berguna untuk dirinya dan masyarakat, semaksimalnya sesuai dengan kemampuannya. Rehabilitasi ini terdiri atas : 1. Rehabilitasi fisik Yaitu agar bekas penderita memperoleh perbaikan fisik semaksimalnya. Misalnya, seorang yang karena kecelakaan, patah kakinya, perlu mendapatkan rehabilitasi dari kaki yang

patah yaitu dengan mempergunakan kaki buatan yang fungsinya sama dengan kaki yang sesungguhnya. 2. Rehabilitasi mental Yaitu agar bekas penderita dapat menyesuaikan diri dalam hubungan perorangan dan sosial secara memuaskan. Seringkali bersamaan dengan terjadinya cacat badaniah muncul pula kelainan-kelaianan atau gangguan mental. Untuk hal ini bekas penderita perlu mendapatkan bimbingan kejiwaan sebelum kembali kedalam masyarakat. 3. Rehabilitasi Social Vokasional Yaitu agar bekas penderita menempati suatu pekerjaan/jabatan dalam masyarakat dengan kapasitas kerja yang semaksimalnya sesuai dengan kemampuan dan ketidakmampuannya. 4. Rehabilitasi Aesthetis Usaha Rehabilitasi Aesthetis perlu dilakukan untuk

mengembalikan rasa keindahan, walaupun kadang-kadang fungsi dari alat tubuhnya itu sendiri tidak dapat dikembalikan misalnya penggunaan mata palsu.

Usaha pengembalian bekas penderita ini kedalam masyarakat, memerlukan bantuan dan pengertian dari segenap anggota masyarakat untuk dapat mengerti dan memahami keadaan mereka (fisik mental dan kemampuannya) sehingga memudahkan mereka dalam proses penyesuian dirinya dalam masyarakat dalam keadaan yang sekarang ini. Sikap yang diharapkan dari warga masyarakat adalah sesuai dengan falsafah pancasila yang berdasarkan unsur kemanusiaan dan keadilan sosial. Mereka yang direhabilitasi ini memerlukan bantuan dari setiap warga masyarakat, bukan hanya berdasarkan belas kasihan semata-mata, melainkan juga berdasarkan hak asasinya sebagai manusia.

B. Skrinning atau Deteksi Dini Keganasan Leher Rahim dengan IVA, PAP SMEAR Kanker leher rahim atau serviks merupakan kanker terbanyak yang diderita oleh perempuan di Indonesia. Data rumah sakit sentral di Indonesia terdapat 15.000 pasien baru kanker leher rahim setiap tahunnya dan 8.000 dianataranya meninggal. Secara statistic, hampir setiap 1 jam terdapat perempuan yang meninggal akibat kanker leher rahim. Perbandingannya, di duina setiap 2 menit meninggal akibat kanker serviks. Pada dasarnya, kanker ini adalah tumor ganas yang mengenai leher rahim. Kanker serviks disebabakan oleh HPV (Human Papilloma Virus) onogenik, tipe 16 dan 18, dan mudah ditularkan mealui hubungan seksual yang tidak sehat dan juga kontak tubuh lainnya. Faktor resiko pendukung terjadinya kanker leher rahim diantaranya: a. Kawin usia muda (< 20 tahun) b. Mitra seksual yang berganti-ganti c. Infeksi pada kelamin (Infeksi Menular Seksual) d. Banyak melahirkan anak e. Merokok f. Kekurangan vitamin A,C, atau E Gejala klinis Kanker leher rahim tidak menimbulkan keluhan atau gejala pada tahap awal. Gejala klinis hanya terasa pada stadium kanker yang sudah lanjut, diantaranya: a. Keputihan yang berbau dan bercampur darah b. Perdarahan diluar haid c. Perdarahan saat senggama d. Nyeri panggul