Anda di halaman 1dari 37

PERBEDAAN MENGKONSUMSI BUAH PIR DENGAN BUAH APEL TERHADAP INDEKS PLAK GIGI PADA MAHASISWA TINGKAT III

JURUSAN KESEHATAN GIGI POLITEKNIK KESEHATAN TASIKMALAYA 2011

Karya Tulis Ilmiah

Diajukan untuk memenuhi salah satu syarat untuk menyelesaikan Pendidikan Ahli Madya (DIII) Kesehatan Gigi

Disusun oleh : RUSMIATI DWI ROHANAWATI NIM : P2.06.025.0.08.042

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA POLITEKNIK KESEHATAN TASIKMALAYA JURUSAN KESEHATAN GIGI TASIKMALAYA 2011 1

LEMBAR PERSETUJUAN

PERBEDAAN MENGKONSUMSI BUAH PIR DENGAN BUAH APEL TERHADAP INDEKS PLAK GIGI PADA MAHASISWA TINGKAT III JURUSAN KESEHATAN GIGI POLITEKNIK KESEHATAN TASIKMALAYA 2011

Telah diseminarkan :

Pada Tanggal Di

2011

: Tasikmalaya

Pembimbing I

Pembimbing II

drg. Yayah Sopianah, M.Kes NIP.196709071993022001

Rudi Triyanto, S.SiT. MDSc. NIP.196412041985031002

LEMBAR PENGESAHAN

PERBEDAAN MENGKONSUMSI BUAH PIR DENGAN BUAH APEL TERHADAP INDEKS PLAK GIGI PADA MAHASISWA TINGKAT III JURUSAN KESEHATAN GIGI POLITEKNIK KESEHATAN TASIKMALAYA

Karya Tulis Ilmiah

Diajukan sebagai salah satu syarat untuk menyelesaikan

4 Pendidikan Diploma III Ahli Madya Kesehatan Gigi

Tasikmalaya,

Juli 2010

Telah diperiksa dan disahkan oleh :

Pembimbing I

Pembimbing II

drg. Denny Pudjiadi S. NIP.197112272002121001

Rena Setiana P, S.ST.

Mengetahui, Ketua Jurusan Kesehatan Gigi Poltekkes Depkes Tasikmalaya Kaprodi D III Jurusan Kesehatan Gigi

drg. Hadiyat Miko, M. Kes NIP.196308171993121001

drg. Anie Kristiani, M.Pd NIP. 196408231993032001

LEMBAR PERSETUJUAN

PERBEDAAN MENGKONSUMSI BUAH PIR DENGAN BUAH APEL TERHADAP INDEKS PLAK GIGI PADA MAHASISWA TINGKAT III JURUSAN KESEHATAN GIGI POLITEKNIK KESEHATAN TASIKMALAYA 2011

Telah diujikan :

Pada Tanggal Di

: 27 Juli 2010 : Tasikmalaya

Penguji I

Penguji II

drg. Denny Pudjiadi S. NIP.197112272002121001

Ida Dahliasari, S.SiT. M.Pd NIP.19580524197062001

Mengetahui, Ketua Jurusan Kesehatan Gigi Poltekkes Depkes Tasikmalaya Kaprodi D III Jurusan Kesehatan Gigi

drg. Hadiyat Miko, M.Kes NIP.196308171993121001

drg. Anie Kristiani, M.Pd NIP. 196408231993032001

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pembangunan kesehatan dalam jangka panjang sebagaimana tercantum dalam Rencana Pembanguanan Jangka Panjang Nasional 2005-2025 diarahkan untuk meningkatkan kesadaran, kemauan dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar peningkatan derajat kesehatan masyarakat yang setinggi- tingginya dapat terwujud, pembangunan kesehatan diselenggarakan berdasarkan perikemanusiaan, pemberdayaan dan kemandirian masyarakat (Depkes R.I.,2008) Kemandirian masyarakat dalam pembangunan kesehatan dititik beratkan pada upaya promotif dan preventif, yang tercantum dalam Undang-Undang Kesehatan No. 23 tahun 1992 pasal 20 tentang upaya kesehatan menyatakan bahwa untuk mewujudkan derajat kesehatan yang optimal bagi masyarakat, diselenggarakan upaya kesehatan dengan pendekatan pemeliharaan, peningkatan kesehatan (promotif), pencegahan penyakit (preventif), penyembuhan penyakit (kuratif) dan pemulihan kesehatan (rehabilitas) yang dilaksanakan secara menyeluruh, terpadu dan berkesinambungan (Depkes R.I.,2000). Menurut Suwelo (1992), Pembangunan dibidang kesehatan bertujuan untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat agar tingkat kesehatan masyarakat menjadi lebih baik. Pembangunan dibidang Kesehatan merupakan bagian integral dari pembangunan masyarakat. Berdasarkan Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) tahun 1995 dan Survei Sosial Ekonomi Nasional (SUSENAS) tahun 1998, mengimformasikan bahwa masyarakat belum menyadari pentingnya pemeliharaan

kesehatan gigi dan mulut. Hal ini terlihat dari 22,8% penduduk Indonesia tidak menyikat gigi, dan dari 77,2% yang menyikat gigi hanya 8,1% yang menyikat gigi tepat waktu (Herijulianti,dkk,2001). Mulut dikatakan bersih apabila gigi-gigi yang terdapat di dalamnya bebas dari plak dan kalkulus. Plak selalu terbentuk pada gigi dan meluas ke seluruh permukaan, apabila seseorang tidak menggosok gigi. Hal ini disebabkan karena rongga mulut bersifat basah, lembab gelap sehingga menyebabkan kuman berkembang biak. Plak dapat dihilangkan dengan cara menggosok gigi, sedangkan karang gigi dapat dihilangkan dengan cara tertentu yaitu dengn scalling dan root planning yang

dilakukan oleh Dokter gigi atau perawat gigi. Kebersihan mulut dapat diukur dengan menggunakan indeks diantaranya OHI-S (Oral HygieneIindex Simlfiied) dari Green Vermillion, yang merupakan hasil penjumlahan dari debris indeks dan kalkulus indeks (Nio, 1987). Gigi yang sehat adalah gigi yang rapi, bersih dan gusi berwarna merah muda. Pada kondisi normal, dari dalam gigi dan mulut yang sehat ini tidak tercium bau tidak sedap. Kondisi gigi dan mulut yang sehat dapat dicapai dengan perawatan yang teratur dan tepat(Santi, 2009). Menyikat gigi adalah cara yang umum dianjurkan untuk membersihkan seluruh deposit lunak dan plak pada permukaan gigi (Nio, 1987). Plak adalah suatu endapan lunak yang melekat erat pada permukaan gigi yang terdiri dari berbagai macam kuman dan bakteri apabila seseorang mengabaikan

kebersihan gigi dan mulut. Plak juga dianggap sebagai salah satu faktor lokal penyebab lokal dalam berbagai penyakit gigi dan jaringan pendukungnya( Nio, 1987).

Untuk mencegah terjadinya penyakit gigi dan mulut yang disebabkan oleh akumulasi plak gigi, maka tindakan pengendalian plak dianggap penting. Pengendalian plak merupakan pengurangan plak mikroba dan pencegahan akumulasi pada gigi dan permukaan gusi yang berdekatan, memperlambat pembentukan kalkulus (iqbal, 2009). Upaya untuk mengurangi pembentukan plak diantaranya dengan menyikat gigi dua kali sehari setelah makan pagi dan sebelum tidur malam (Wendari, 2001 cit, laksminingrum, 2007). Serta dengan makan buah-buahan yang berserat dan banyak mengandung air dapat menghilangkan sisa makanan (Octaya, 2010). Makanan yang kasar dan berserat dapat menyebabkan proses pengunyahan lebih lama. Gerakan mengunyah ini sangat menguntungkan bagi kesehatan gigi dan gusi. Mengunyah akan merangsang pengaliran air liur yang dapat membersihkan gigi dan mengencerkan serta menetralisirkan zat-zat asam yang ada. Makanan berserat dapat menimbulkan efek seperti sikat dan tidak melekat pada gigi. jenis makanan yang bersifat kasar diantaranya adalah buah- buahan yang bersifat kasar dan berserat sehingga mempunyai efek seperti sikat gigi yang dapat membersihkan gigi (Beck, 2000, cit. Khusnul, 2009). Buah pir termasuk kedalam buah yang bersifat kasar dan berserat. Makan yang berserat dan kasar dapat menyebabkan pengunyahan makan tersebut lama sehingga akan merangsang produksi air liur lebih banyak dan dapat membersihkan gigi (Beck, 2000, cit, khusnul, 2009). Serat-serat yang terdapat dalam buah pir dapat digunakan sebagai sikat alami yang dapat membantu meningkatkan kebersihan rongga mulut dan mengurangi penumpukan plak pada permukaan gigi. Pir juga mengandung banyak vitamin, mineral, dan air. Rasa asam dan manis ini pun dapat meningkatkan volume air ludah. Peningkatan kadar air ludah dapat membantu membersihkan bakteri-bakteri yang membahayakan mulut. Pada akhirnya hal ini dapat mengurangi resiko gigi berlubang

10

dan penyakit gusi lainnya (Martariwansyah, 2008). Selain pir Menurut Journal Of America Dental Association tahun 1998, buah Apel merupakan yang kaya akan serat, mengandung zat tannin yang bermanfaat untuk mencegah kerusakan gigi dan penyakit gusi yang disebabkan oleh penumpukan plak. Plak dapat terjadi pada semua kalangan, mulai dari anak-anak sampai usia lanjut, termasuk usia dewasa awal (20-35) yang sedang menempuh pendidikan

diperguruan tinggi sebgai mahasiswa. Menurut kamus bahasa Indonesia mahasiswa adalah seseorang yang sedang di pendidikan tinggi. Mahasiswa adalah anggota masyarakat yang berusaha mengembangkan potensi diri melalui proses pembelajaran yang tersedia pada jenjang dan jenis pendidikan tertentu (Poltekes, 2003). Menurut hasil penelitian Octaya, R (2010) mununjukan bahwa buah yang mengandung serat dan air dapat membantu membersihkan plak gigi. Berdasarkan uraian diatas, maka penulis tertarik untuk mengambil judul Perbedaan Mengkonsumsi Buah Apel dengan Buah Pir terhadap Indeks Plak Gigi pada Mahasiswa tingkat III Kesehatan Gigi Politeknik Kesehatan Tasikmalaya. B. Rumusan Masalah Berdasarkan uraian diatas dapat dirumuskan suatu permasalah sebagai berikut Apakah ada perbedaan mengkonsumsi buah pir dan buah apel terhadap indeks plak gigi pada mahasiswa tingkat III Kesehatan Gigi Politeknik Kesehatan Tasikmalaya?. C. Keaslian Penelitian

11

Sepengetahuan penulis penyusunan karya tulis ilmiah mengenai perbedaan mengkonsumsi buah pir dan buah apel terhadap indeks plak gigi pada mahasiswa tingkat III Kesehatan Gigi Politeknik Kesehatan Tasikmalaya sejauh penulis ketahui belum pernah dilakukan. Adapun Karya tulis ilmiah yang mirip dengan judul diatas adalah KTI karangan Ayu Kurniasih (2008) dengan judul Pengaruh daya kunyah Apel terhadap indeks plak gigi pada mahasiswa tingkat II Jurusan Kesehatan Gigi Politeknik Kesehatan Tasikmalaya tahun 2008 dan manfaat buah pir terhadap kebersihan gigi tahun 2009 Karya Tulis Ilmiah karangan Khusnul Khotimah. Letak perbedaan penulis menitik beratkan pada perbandingan jenis buah dan KTI ini merupakan studi pustaka D. Tujuan Penelitian 1. Tujuan Umum Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan mengkonsumsi buah pir dan buah apel terhadap indeks plak gigi pada mahasiswa tingkat III Kesehatan Gigi Politeknik Kesehatan Tasikmalaya sejauh penulis ketahui belum pernah dilakukan. 2. Tujuan Khusus
a. Mengetahui angka indeks plak gigi sebelum dan setelah mengkonsumsi buah

Apel pada pada mahasiswa tingkat III Kesehatan Gigi Politeknik Kesehatan Tasikmalaya.
b. Mengetahui angka indeks plak gigi sebelum dan setelah mengkonsumsi buah

Pir pada pada mahasiswa tingkat III Kesehatan Gigi Politeknik Kesehatan Tasikmalaya.

12 c. Mengetahui perbedaan mengkonsumsi puah pir dan buah apel terhadap indeks

plak gigi pada mahasiswa tingkat III Kesehatan Gigi Politeknik Kesehatan Tasikmalaya. E. Manfaat Penelitian 1. Bagi penulis Menambah wawasan dan ilmu pengetahuan bagi penulis tentang perbedaan mengkonsumsi buah apel dengan buah pir terhadap indeks plak gigi. 2. Bagi Mahasiswa Menambah wawasan bagi mahasiswa tentang perbedaan mengkonsumsi buah pir dan buah apel terhadap indeks plak gigi. 3. Bagi institusi Menambah Tasikmalaya. kepustakaan Jurusan Kesehatan Gigi Politeknik Kesehatan

13

BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Buah Pir 1. Sejarah buah pir Buah pir memiliki nama latin yaitu Pyrus ussuriensis. Pohon pir berasal dari wilayah Eurisia. Perkebunan pertama dimulai dari yunani tepatnya di daerah Peloponnes. Seperti saat ini pir dapat dijumpai di daerah-daerah yang

14

beriklim sedang diselurh dunia ( Wijaya, 2008). Negara-negara penghasil pir adalah China 25% italia 10% USA 7% dari volume produksi dunia. Negara pengimpor pir terbesar adalah jerman, Inggris, dan Italia. Pir di beberapa Negara memiliki nama yang berbeda seperti: Inggris(Pear), prancis (piore), Spanyol dan italia (Pera), Jerman (birne)(Wijaya,2008). Buah pir berbentuk lonjong, mengerut serta berwarna hijau dan kuning. Daging buahnya berwarna putih dan memiliki tekstur yang agak kasar. Rasanya manis dan segar karena kandungan airnya cukup tinggi (Wirakusumah, 2007). Pir atau pear adalah sebutan untuk pohon dari tanaman Pyrus dan buah yang dihasilkan. Beberapa jenis pohon pir yang dapat menghasilkan buah yang enak dimakan karena mengandung banyak air dan manis (Sofian, 2008). 2. Manfaat buah pir Menurut Martariwansyah, SKG., (2008), buah pir berfungsi sebagai sikat gigi alami. Serat-serat yang terdapat dalam buah pir dapat digunakan sebagai sikat alami yang dapat membantu meningkatkan kebersihan rongga mulut dan mengurangi penumpukan plak pada permukaan gigi. Pir juga banyak mengandung vitamin, mineral, dan air. Rasa asam dan manis ini pun dapat meningkatkan volume air ludah. Peningkatan kadar aliran ludah dapat membantu membersihkan bakteri-bakteri yang membahayakan mulut. Pada akhirnya hal ini dapat mengurangi resiko terjadinya gigi berlubang dan penyakit gusi lainnya. Makanan yang kasar dan berserat dapat menyebabkan proses pengunyahan lebih lama. Gerakan mengunyah ini sangat menguntungkan bagi kesehatan gigi dan gusi. Mengunyah akan merangsang pengaliran air liur yang

15

dapat membersihkan gigi dan mengencerkan serta menetralisirkan zat-zat asam yang ada. Makanan berserat dapat menimbulkan efek seperti sikat dan tidak melekat pada gigi. (Indri, 2008). 3. Kandungan buah pir Buah pir tergolong tanaman yang mempunyai nilai gizi yang cukup baik, diantaranya adalah kalium, serat pangan (dietary fiber), vitamin C, Vitamin K, dan tembaga. Menurut the Geogrge Meteljan Foundation (2006), kandungan serat pangan pada buah pear termasuk dalam kategori baik. Konsumsi satu buah pear telah memenuhi 19,8 % kebutuhan tubuh akan serat pangan setiap hari. Menurut Martariwansyah (2002), bahan yang terkandung dalam buah pir mirip dengan yang terkandung pada buah apel yaitu sebagai berikut: Tabel 1. Kandungan buah pir per 100 mg Kandungan Air Energi Karbihidrat Gula buah Serat diet Kalium Kadar zat gizi 83.81 59 gr 12 gr 10 gr 2.5 gr 125 gr Mineral vitamin Kalsium Asam folat Vitamin A Asam askorbat Magnesium Boron dan banyaknya 11 mg 12 mg 20 mg 4 mg 10 mg 0.33g

B. Buah apel 1. Sejarah buah Apel

16

Buah apel atau Malus domestica atau pyrus malus. Apel, tidak seorang pun yang mengetahui dengan tepat kapan orang mulai mengkonsumsi buah ini. Penemuan fosil awal di sebuah danau di swiss sering dijadikan patokan bahwa apel sudah dikenal sejak berabad-abad yang lalu. Namun, arkeolog memperkirakan manusia sudah menikmati apel sejak 6500 tahun SM. Penyebaranya dilakukan oleh tentara Romawi yang selalu mengadakan invasi dan penjajahan ke berbagai penjuru dunia. (Indy, 2010). Apel merupakan tanaman buah tahunan yang berasal dari pegunungan Caucacus di Asia barat, dan kemudian menyebar ke pelosok Asia. Terlepas dari mana apel berasal, varietas apel yang dikembangkan di Indonesia sendiri umumnya didatangkan dari eropa dan Australia. Buah ini masuk ke Indonesia sejak tahun 1934 melalui proses yang teramat panjang. Hingga kini, berbagai penelitian tengah dilakukan oleh Departemen Pertanian, khususnya Ditjen Hortikultura yang menangani tanaman buah menjadikan apel dapat tumbuh diarea manapun (Sufrida, 2002). 2. Manfaat buah Apel Menurut Ayu Sekar (2010) manfaat buah apel yaitu sebagai berikut : 1. Menurunkan kadar kolestrol 2. Mencegah kanker dan menyehatkan paru-paru 3. Mencegah penyakit jantung dan stroke 4. Menurunkan berat badan 5. Sebagai sumber serat yang baik, Apel baik untuk pencernaan dan membantu

17

6. Menjaga kesehatan gigi 7. Membuat perempuan tetap cantik 8. Melindungi tubuh dari virus flu Menurut Journal Of America Dental Association tahun 1998, buah Apel merupakan yang kaya akan serat, mengandung zat tannin yang bermanfaat untuk mencegah kerusakan gigi dan penyakit gusi yang disebabkan oleh penumpukan plak.
3. Kandungan buah Apel

Apel banyak mengandung flavonoid dibandingkan dengan buah-buahan yang lain yang dapat membantu mencegah pertumbuhan sel kanker prostat. (Ayu Sekar, 2010). Menurut Sufrida, 1998 bahwa kandugan gizi yang terdapat dalam 100 gram buah apel adalah sebagai berikut : Tabel 2. Kandungan 100 gram buah apel
Energi Protein Lemak Karbohidrat Kalsium Fosfor Serat Besi Vit A Vit B1 Vit B2 58.0 kal 0.03 g 0.40 g 14.90 g 6.00 g 10.00 g 0.007 g 1.30 mg 24 RE 0.04 mg 0.03 mg

18 Vit C Niacin 5.00 mg 0.10 mg

A. Plak

1. Pengertian Plak Plak adalah suatu endapan lunak yang melekat erat pada permukaan gigi yang terdiri dari berbagai macam kuman dan bakteri apabila seseorang mengabaikan kebersihan gigi dan mulut. Plak juga dianggap sebagai salah satu faktor penyebab lokal dalam berbagai penyakit gigi dan jaringan pendukungnya. Jumlah kuman yang terdapat dalam plak basah kira-kira 250 juta per mg ( Nio, 1987). 2. Jenis Plak Jenis plak ada 2 macam yaitu:
a. Plak Supragingival

Yaitu plak yang melekat pada permukaan gigi yang terletak di atas margin gingival. Plak supragingival berhubungan dengan penumpkan mikroba pada permukaan gigi. Mikroba pada permukaan gigi ini dapat menuju ke sulkus gusi sehingga dapat lebih berkontak dengan tepi gusi (Genco, 1990).
b. Plak Subgingival

Plak subgingival yaitu plak yang melekat pada permukaan gigi terletak di bawah margin gingival. Plak subgingival berhubungan dengan penumpukan mikroba pada sulkus gusi maupun pada saku Periodontal (Genco. 1990).

19

Karakteristik plak subgingival adalah terdapatnya sejumlah leuklosit diantaranya permukaan kumpulan mikroba dan epitel sulkus gusi. Plak subgingival memiliki dua letak, letak terdalam merupakan suatu tumpukan padat terutama bakteri gram negativ yang melekat pada permukaan gigi, letak terluar mengandung bakteri terutama bakteri gram positif (Houwink, 1993). 3. Komposisi Plak Jenis kuman didalam plak tergantung dari umur plak. Plak muda banyak mengndung kuman cocus yang dapat menyebabkan caries, sedangkan plak tua selain mengandung cocus juga terdapat kuman filament, spiral dan spirocaeta yang dapat menyebabkan gingivitis ( Nio, 1987). 4. Faktor-faktor yang mempengaruhi proses pertumbuhan plak Menurut Nio (1987), pertumbuhan plak dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu: a. Tempat yang aman 1) Tempat yang sukar dicapai oleh sikat gigi, misalnya daerah interdental atau gusi. 2) Gigi geligi yang posisinya terletak di luar lengkung gigi disebut malposisi. 3) Pada daerah-daerah molar atas bagian bukal. Molar bawah bagian lingual dan daerah gigi depan bagian lingual. Pada daerah-daerah tersebut tidak semua orang terampil membersihkannya.

20

b. Waktu Plak terbentuk kembali langsung setelah menyikat gigi. Setelah kurang lebih 10 menit cocus mulai berkembang biak, bila makan sukrosa maka kuman dalam plak akan merubah sukrosa menjadi asam. Asam ini dapat melarutkan email, sehingga terjadi caries. Bila plak dibiarkan tumbuh, setelah hari ke 2 menetaplah kuman-kuman bentuk filament dan setelah hari ke 7 muncullah jenis spiral dan spirocaeta. Sesudah hari ke 7 plak mengandung bermacam-macam kuman dan dapat mengakibatkan terjadinya gingivitis. Maka setiap orang memiliki kebiasaan menyikat gigi secara teratur tapi ada pula yang lalai menyikat gigi pada bagian belakang, yaitu pada molar tiga rahang bawah, oleh karena itu waktu untuk plak berkembang biak di daerah tersebut lebih menguntungkan. c. Makanan 1) Macam makanan Makanan yang tergolong manis seperti karbohidrat, khususnya sukrosa dapat menyebabkan cocus berkembang subur. 2) Konsistensi Makanan yang lunak lebih menguntungkan kuman untuk berkembang biak dari pada makanan yang keras. 3) Daya lekat makanan

21

Makanan yang melekat akan lebih menguntungkan kuman untuk berkembang biak bila seseorang mengabaikan kebersihan gigi dan mulutnya. 4) Frekuensi makanan Makanan sering kita makan, makin tebal plak itu tertimbun. B. Kebersihan Gigi dan Mulut Kebersihan gigi dan mulut adalah kondisi dimana gigi yang terdapat didalam mulut terbebas dari plak, kalkulus dan penyakit-penyakit gigi dan mulut lainnya (Nio, 1987). Memelihara kesehatan gigi dan mulut sangat penting dilaksanakan karena untuk mencegah penyakit karies gigi dan radang dari jaringan penyangga gigi, dimana plak merupakan penyebab utama dari kedua penyakit tersebut diatas. Supaya gig tahan terhadap penyakit, maka mendapatkan perawatan dan perhatian yang baik dengan cara-cara sebagai berikut: 1. Menjaga kebersihan gigi dan mulut dengan menggosok gigi setiap sesudah makan dan sebelum tidur 2. Memperhatikan diet makanan. 3. Memeriksakan gigi kepada petugas pelayanan kesehatan gigi selama 6 bulan sekali secara berkala (Depkes, R.I 1996). Menurut Sukma (2008), kesadaran untuk memelihara kebersihan gigi dan mulut merupakan salah satu upaya tindakan pencegahan (preventive) yang paling baik guna mencegah terjadinya masalah gigi dan mulut. Hal-hal sederhana dapat kita lakukan sebagai upaya untuk memelihara kebersihan gigi dan mulut, diantaranya:

22

1. Menyikat gigi Hampir semua orang melakukan upaya ini setiap hari. Hal yang perlu diperhatikan dalam menyikat gigi, yaitu: pemeliharaan jenis sikat gigi yang baik dan sesuai standar yang dianjurkan oleh Depkes dan dalam frekuensi penyikatan gigi yang baik dan benar. Tehnik penyikatan yang tidak dilakukan dengan benar dapat menimbulkan dampak yang tidak baik untuk gusi (Sukma, 2008). Tehnik menyikat gigi yang umum dikenal oleh masyarakat adalah menyikat gigi secara horizontal ini apabila dilakukan secara terus menerus dapat menyebabkan resesi gingival (penurunan gusi) sehingga akar gigi akan terlihat, yang kemudian akan memicu munculnya penyakit Periodontal. Selain itu, tehnik penyikatan secara horizontal juga akan menyebabkan abrasi, yang dapat menimbulkan kondisi hipersensitif pada gigi (Sukma,2008). Tehnik menyikat gigi yang dianjurkan adalah secara vertical, horizontal, dan memutar. Tehnik penyikatan secara vertical dengan arah gerakan keatas dan kebawah dalam keadaan rahang atas dan rahang bawah tertutup (kondisi gigi atas dan gigi bawah bertemu) untuk gigi yang menghadap kearah pipi dan bibir. Permukaan gigi yang menghadap kearah lidah dan langit-langit, biasanya dengan dilakukan tehnik penyikatan gigi secara vertical dalam keadaan mulut terbuka (Sukma, 2008). Khusus untuk permukaan gigi yang berfungsi sebagai permukaan kunyah, digunakan tehnik penyikatan secara horizontal, yaitu menyikat gigi kearah depan dan belakang. Tehnik penyikatan dengan gerakan memutar

23

secara perlahan di permukaan gigi yang menghadap ke arah pipi dan bibir untuk pemijatan gusi dan juga untuk membersihkan sisa makanan di daerah aproximal. Gerakan penyikatan dilakukan memutar hingga mengenai gusi (Sukma, 2008). Pemilihan sikat gigi pun perlu mendapatkan perhatian. Bulu sikat gigi hendaknya jangan terlalu keras, karena akan melukai gusi dan jaringan sekitar gigi. Sebaliknya juga, bulu sikat jangan terlalu lembut, karena tidak dapat mengangkat sisa-sisa makanan dan plak dengan baik. Pilihlah sikat gigi dengan bulu sikat medium (Sukma, 2008). Frekuensi menyikat gigi dalam sehari, minimal dilakukan dua kali, yaitu setelah makan pagi dan sebelum tidur malam. Waktu yang dibutuhkan untuk setiap kali menyikat gigi, sekitar 2-3 menit (Sukma, 2008).
2. Penggunaan Dental floss.

Saat ini penggunaan dental floss atau benang gigi mulai diperkenalkan kepada masyarakat. Penggunaan dental floss dilakukan untuk membantu membersihkan sisa makanan yang ada di daerah yang sulit dijangkau olih sikat gigi, yaitu di daerah proximal gigi/ diantara gigi geligi (Sukma, 2008). 3. Penggunaan alat pembersih lidah Alat pembersih lidah sudah banyak di jual di pasaran. Fungsinya untuk membersihkan bagian permukaan lidah. Pada saat menyikat gigi, orang sering mengabaikan lidah. Sisa makanan selain di gigi, juga menempel di lidah, sehingga lidah pun perlu dibersihkan (Sukma, 2008). 4. Control ke sarana pelayanan kesehatan gigi

24

Setelah kita melakukan upaya untuk memelihara kebersihan gigi dan mulut, tentunya kita tetap perlu untuk melakukan control ke puskesmas/ Dokter gigi secara teratur, minimal 6 bulan sekali (Sukma, 2008).
C. Indeks Kebersihan Gigi dan Mulut

1. Cara Mengukur Kebersihan Gigi dan Mulut Kebersihan gigi dan mulut diukur dengan menggunakan suatu kriteria tertentu yang disebut indeks. Indeks adalah angka yang menyatakan keadaan klinis yang didapat pada waktu pemeriksaan. Angka yang menunjukan kebersihan gigi dan mulut seseorang ini adalah angka yang diperoleh berdasarkan penilaian yang obyektif, dengan menggunakan suatu indeks sehingga dapat dievaluasi berdasarkan data-data yang diperoleh sehingga kemajuan dan kemunduran kebersihan gigi dan mulut seseorang atau masyarakat dapat diketahui (Djuita, 1989). Menurut Green dan Vermilion (1964, cit. Nio, 1987) untuk mengukur kebersihan gigi dan mulut dapat menggunakan suatu indeks yang disebut Oral Hyiene Index Simplified (OHI-S). nilai dari OHI-S ini merupakan nilai yang diperoleh dari hasil penjumlahan antara Debris/plak indeks (DI) dan Kalkulus Indeks (CI). 2. Gigi Indeks Penilaian OHI-S Menurut Be Kien Nio, (1987) pemeriksaan debris dan kalkulus dilakukan pada gigi tertentu dan pada permukaan tertentu dari gigi tersebut yaitu: a. Rahang atas yang diperiksa

25 1. Gigi molar permanen pertama kanan atas (M1 kanan atas), yang

diperiksa adalah permukaan buccal


2. Gigi inisif permanen pertama kanan atas (I1 kanan atas), yang diperiksa

adalah permukaan labial.


3. Gigi molar permanen pertama kiri atas (M1 kiri atas), yang diperiksa

adalah permukaan buccal. b. Rahang bawah yang diperiksa


1) Gigi mplar permanent pertama kiri bawah (M1 kiri bawah), yang

diperiksa adalah permukaan lingual.


2) Gigi inisif permanen pertama kiri bawah (I1 kanan bawah), yang

diperiksa adalah permukaan labial.


3) Gigi molar permanen pertama kanan bawah ( M1 kanan bawah), yang

diperiksa adalah permukaan lingual ( Be Kien Nio, 1987). Bila ada kasus dimana salah satu gigi indeks tersebut tidak ada, maka penilaian dilakukan sebagai berikut: a. b. c. d. e. Bila M1 atas atau bawah tidak ada, penilaian pada m2 atau bawah, Bila M1 dan M2 atau bawah tidak ada, penilaian pada m3 atau bawah, Bila M1, M2 dan M3 atau bawah tidak ada, tidak dilakukan penilaian, Bila I1 kanan atas tidak ada, penilaian dilakukan pada I1 kiri atas, Bila I1 kanan dan kiri tidak ada, tidak dapat dilakukan penilaian,

26

f. g.
h.

Bila I1 bawah tidak ada, dilakukan penilaian pada I1 kanan bawah, Bila I1 kanan atau kiri atas tidak ada, tidak dapat dilakukan penilaian, Hasil penilaian ini selalu dilakukan untuk pemeriksaan pada gigi permanen, Apabila terdapat suatu kasus dimana beberapa diantara keenam gigi

yang harusnya dinilai tidak ada, maka penilaian untuk debris indeks dan kalkulus indeks masih dapat dilakukan paling sedikit harus ada dua gigi yang masih dapat dinilai (Djuita, 1989). 3. Kriteria Penilaian OHI-S (Debris Indeks/Plak Indeks) Menurut Depkes R.I., (1995) criteria penilaian debris/plak seseorang dapat dilihat dari adanya debris/plak pada permukaan giginya. Untuk menentukan kriteria penilaian debri/plaks indeks adalah sebagai berikut:

Table 3 : Kriteria pemeriksaan debri/plak indeks No Kriteria 1. Pada permukaan gigi yang terlihat tedak ada debris maupun pewarnaan ekstrinsik 2. Pada permukaan gigi yang terlihat, ada debris lunak yang menutupi permukaan tersebut seluas 1/3 permukaan atau kurang dari 1/3 servikal permukaan gigi 3. Pada permukaan gigi yang terlihat, ada debris lunak yang menutupi permukaan tersebut seluas dari 1/3 servikal gigi, tetapi kurang dari 2/3 permukaan gigi. 4. Pada permukaan gigi yang terlihat, ada debris lunak yang menutupi permukaan lebih dari 2/3 permukaan gigi, atau seluruh permukaan gigi. (Green and Vermilion, 1964, cit, Be Kien Nio, 1987) Nilai 0 1 2 3

27

Debris Indeks/Plak indek =

Jumlah Penilaian

Jumlah gigi yang diperiksa Penilaian debris/plak skor :


a. b. c.

Baik (good), apabila nilai berada diantara 0-0,06. Sedang (fair), apabila nilai berada diantara 0,07-1,8. Buruk (poor), apabila nilai berada diantara 1,9-3,0.

D. Mahasiswa 1. Pengertian Mahasiswa Mahasiswa adalah seseorang yang sedang mempersiapkan diri dalam keahlian tertentu dalam pendidikan tinggi (Somawihardja, 1998). Mahasiswa adalah anggota masyarakat yang berusaha mengembangkan potensi didi melalui proses pembelajaran yang tersedia pada jenjang dan jenis pendidikan tertentu (Poltekes, 2003). 2. Aspek-Aspek yang perlu dipersiapkan mahasiswa: 1. Pengetahuan dan Keahlian 2. Sikap dan metode berpikir ilmiah 3. Karakter dan mental serta kepribadian 4. Sikap sosial 5. Rohani (Somawihardja, 1998).

28

BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Kerangka Konsep Variabel Bebas Buah pir Variabel Terikat Variabel Bebas Indeks plak gigi

Buah apel

Gambar 1. kerangka konsep B. Hipotesa Adanya Perbedaan Mengkonsumsi Buah Pir dan Buah Apel terhadap Indeks Plak Gigi pada Mahasiswa tingkat III Kesehatan Gigi Politeknik Kesehatan Tasikmalaya. C. Jenis Penelitian Jenis penelitian yang dilakukan adalah penelitian eksperimen semu (quasi experiment) dengan rancangan Non-Equivalent Control Group pre test and post test group design (Notoatmodjo, 2002). Dimulai dengan observasi, untuk mengetahui indeks plak,

29

kemudian mengkonsumsi buah pir dan buah apel, lalu dilakukan pemeriksaan indeks plak gigi untuk membandingkan buah apel dan buah pir terhadap indeks plak gigi.

D. Populasi dan Sampel

1. Populasi Populasi dalam penelitian ini adalah mahasiswa tingkat III Jurusan Kesehatan Gigi Politeknik kesehatan Tasikmalaya yang berjumlah 50 orang. 2. Sampel Sampel dalam penelitian ini diperoleh dengan cara porposive sampling, yaitu mahasiswa Jurusan Kesehatan Gigi Politeknik Kesehatan Tasikmalaya, sebanyak 49 orang dengan kriteria inklusif :
a. Tidak sedang memakai alat ortodonti, alat protesa lepasan maupun permanen

pada gigi indeks. b. Belum menyikat gigi. E. Tehnik Pengumpulan Data 1. Data primer Yaitu data yang diperoleh langsung dari subyek penelitian dengan pemeriksaan intra oral yaitu 50 orang mahasiswa tingkat III Jurusan Kesehatan gigi Politeknik Kesehatan Tasikmalaya, dengan pemeriksaan debris/plak indeks. 2. Data Sekunder

30

Yaitu data yang diperoleh langsung dari mahasiswa Jurusan Jesehatan Gigi Politeknik Kesehatan Tasikmalaya sebagai penunjang untuk penelitian, misalnya berupa identitas mahasiswa.

F. Alat dan Bahan Penelitian 1. Alat Alat yang akan dipakai dalam penelitian adalah: Diagnostik set ( sonde, kaca mulut, eksavator, pinset), Baki instrument, Gelas kumur sterilisasi kimia, masker, hand scoen, lembar pemeriksaan dan alat tulis. 2. Bahan Bahan yang digunakan pada penelitian ini adalah sebagai berikut: kapas, tissue, benicide, aquadest, dan handuk kecil.
G. Jalan Penelitian

Penelitian ini dilakukan dengan cara sebagai berikut : 1. Persiapan a. Observasi b. Perizinan kepada pihak kampus Jurusan Kesehatan Gigi Politeknik Kesehatan Tasikmalaya.

31

c. Persiapan formulir penelitian untuk mencatat hasil pemeriksaan d. Persiapan bahan dan alat e. Survei tempat 2. Pelaksanaan Penelitian Penelitian akan dilaksanakan di Tasikmalaya dengan sasaran mahasiswa Tingkat III Jurusan Kesehatan Gigi Politeknik Kesehatan Tasikmalaya dengan alasan mahasiswa yang akan dijadikan naracoba belum menyikat gigi. Penelitian ini hanya dilakukan satu kali pemeriksaan, dengan cara naracoba diperiksa debris/plak indeks sebelum dan sesudah diberi buah Apel dan buah pir sebanyak 100gr, supaya dapat melihat perbandingan debris/plak indeks Tabel 4 : Rancangan jadwal pelaksanan penelitian: Bulan No Kegiatan 1 1. Persiapan : a. Perizinan b. Persiapan alat dan bahan 2. Pelaksanaan Penelitian: a. Pemeriksaan sebelum diberi buah apel dan pir b. Pemberian buah Apel dan Pir c. Pemeriksaan setelah diberi buah Apel dan pir X X X X X Mei 2 3 4 1 Juni 2 3 4

3.

Pengolahan Data

32

4.

Hasil akhir

H. Variabel Penelitian 1. Variable Bebas Variabel bebas dalam penelitian ini adalah buah apel dan buah pir 2. Variabel Terikat Variabel terikat dalam penelitian ini adalah debris/plak indeks I. Definisi Operasional
1. Buah Apel adalah salah satu buah yang mempunyai mengandung serat dan air,

sehingga dapat membersihkan sisa makanan (debris) plak pada permukaan gigi. 2. Buah pir adalah salah satu buah yang banyak mengandung serat dan air,sehingga dapat membantu membersihkan plak pada permukaan gigi. 3. Plak adalah suatu endapan lunak yang melekat erat pada permukaan gigi apabila seseorang mengabaikan kebersihan gigi dan mulut dan dapat dibersihkan dengan menyikat gigi.
4. Angka OHI-S adalah angka untuk menilai kebersihan gigi dan mulut secara

subyaktif pada mahasiswa tingkat III Jurusan Kesehatan Gigi Politeknik Kesehatan Tasikmalaya. Namun dalam penelitian ini alat ukur yang digunakan dititik beratkan pada debris/plak andeks. J. Analisa Data

33

Penelitian ini bertujuan untuk melihat adanya perbedaan mengkonsumsi buah apel dengan buah pir terhadap indeks plak gigi pada mahasiswa Jurusan Kesehatan Gigi Politeknik Kesehatan Tasikmalaya, pada penelitian ini data diolah dan dianalisa dengan menggunakan standar pengujian yaitu adanya kriteria penilaian debris/plak indeks, tabel:
a. Tabel distribusi debris/plak indeks. b. Tabel distribusi frekuensi debris/plak indeks. c. Menghitung presentasi kriteria nilai debris/plak indeks

Nilai plak skor menggunakan rumus debris/plak indeks:

Plak Indeks/ Debris indeks

= Jumlah plak indeks total Jumlah gigi yang diperiksa

Pengelolaan data yang digunakan adalah dengan distribusi frekuensi kemudian diukur rata-rata sebelum dan sesudah diberi perlakuan memakan buah Apel dan buah Pir. BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A.Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:
1.

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakuakan di

Jurusan Kesehatan Gigi Poltekkes

Tasikmalaya sebelum diberi buah pir, dengan kriteria baik yang semula tidak ada orang (0%) menjadi 17 orang (85%), kriteria sedang yang semula 13 orang (65%) menjadi 2 orang (10%), kriteria buruk yang semula 7 orang (35%) menjadi 1 orang (5%).

34 2.

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakuakan di

Jurusan Kesehatan Gigi Poltekkes

Tasikmalaya sebelum diberi buah apel, yaitu kriteria baik yang semula tidak ada orang (0%) menjadi 5 orang (25%), kriteria sedang yang semula 11 orang (55%) menjadi 14 orang (70%), kriteria buruk yang semula 9 orang (45%) menjadi 1 orang (5%).
3.

Adanya perbedaan mengkonsumsi buah apel dan pir terhadap plak pada mahasiswa jurusan kesehatan gigi Tasikmalaya terbukti adanya perubahan, sebelum mendapatkan perlakuan rata-rata skor plak sebesar 1,75 lalu sesudah diberi buah pir didapat hasil ratarata skor plak sebesar 0,6 dengan selisih 1,15. Sedangkan pada buah apel sebelum mendapatkan perlakuan rata-rata skor plak sebesar 1,82, lalu sesudah diberi buah apel didapat hasil rata-rata skor plak sebesar 0,83 dengan selisih 0.99. Hal ini menunjukan bahwa buah pir lebih efektif terhadap penurunanan indeks plak.

B. Saran
1.

Diharapkan para mahasiswa jurusan kesehatan gigi lebih banyak mengkonsumsi buah yang berserat dan mengandung air.

2.

Diharapkan para mahasiswa untuk mengkonsumsi buah sesudah makan harus digigit langsung dan dikunyah dengan baik sehingga memiliki daya bersih yang efektif.

3.

Diharapkan setiap mahasiswa tidak mengabaikan kebersihan gigi dan mulutnya.

DAFTAR PUSTAKA .., 2008, Depkes. R.I, Jakarta. Pembangunan Kesehatan di Indonesia,

Depkes, RI., 1996, Pedoman Penuntun Kesehatan Gigi dan Mulut, Direktorat Jendral Pelayanan Medik, Jakarta.

35

Djuita, I., 1989, Spesifik Protection, Sekolah Pengatur Rawat Gigi, Jakarta. Erian, 2009, Plak Gigi Penyebab (http://dentalhealthcare.wordpress.com). Gigi Berlubang,

Genco, J.R.,1990,Periodontiks (Trj), hipokrates, Jakarta. Houwink, B.,dkk, 1993, Ilmu Kedokteran Gigi Pencegahan, Gajah Mada University Press, Yogyakarta. Herijulianti, dkk., 2001, Pendidikan Kesehatan Gigi dan Mulut, EGC : Jakarta. Khotimah, K., 2009, Manfaat Buah Pir Terhadap Kebersihan Gigi, KTI, Poltekes, Tasikmalaya. Kholasoh, S., Back To Nature Terapi Buah, PT Musi Persaka Utama: Jakarta. Kinanti, S.A., 2010, 101 Khasiat Buah-buahan, Araska Media Utama : Yogyakarta. Indri, 2006, Gaya Hidup Sehat 355, Majalah : Jakarta. Martariwansyah, SKG, 2008, Gigiku sehat mulutku sehat, Hayati quqlita : Bandung. Nio, B.K., 1987, Preventif Dentistry, YKGI, Bandung, hal:40-48 Nio,B.K., 1992, Preventive Dentistry Untuk Sekolah Pengatur Rawat Gigi, Yayasan Pendidikan Kesehatan Gigi Indonesia, Bandung. Notoatmodjo, S., 2002, Metodologi Penelitian Kesehatan, Rineka Cipta , Jakarta. Poltekes., 2003, Panduan Akademik Penyelenggaraan Pendidikan Program Diploma III Kesehatan Politeknik, Tasikmalaya. Somawihardja, 1989, Visi pelayanan mahasiswa, http://rdsg.engohio.com. Sofian, 2008, Apa sih sukajadi.blogspot.com). manfaat buah Pir, (http://sofian-

Suwelo, I.S., 1992, Karies Gigi Pada Anak dengan Berbagai Faktor Etiologi, EGC, Jakarta. Sufrida, Y,. Khasiat dan Manfaat Buah Apel, Agro Media : Bandung. Sukma, 2008, Pemeliharaan Kebersihan Kesehatan Gigi dalam Kehidupan Sehari-hari, http://www.obi.or.id. Rani, O., Pengaruh Buah Bengkuang Dalam Membersihkan Plak Gigi Pada Mahasiswa laki-laki Jurusan kesehatan Gigi politeknik Kesehatan Tasikmalaya, KTI, Poltekes, Tasikmalaya. Wijaya, K.A., 2008, Seri Hortikultural Buah-buahan, Prestasi pustakaraya: Jakarta.

36

DAFTAR PUSTAKA .., 2008, Depkes. R.I, Jakarta. Pembangunan Kesehatan di Indonesia,

Depkes, RI., 1996, Pedoman Penuntun Kesehatan Gigi dan Mulut, Direktorat Jendral Pelayanan Medik, Jakarta. Djuita, I., 1989, Spesifik Protection, Sekolah Pengatur Rawat Gigi, Jakarta. Erian, 2009, Plak Gigi Penyebab (http://dentalhealthcare.wordpress.com). Gigi Berlubang,

Genco, J.R.,1990,Periodontiks (Trj), hipokrates, Jakarta. Houwink, B.,dkk, 1993, Ilmu Kedokteran Gigi Pencegahan, Gajah Mada University Press, Yogyakarta. Herijulianti, dkk., 2001, Pendidikan Kesehatan Gigi dan Mulut, EGC : Jakarta. Khotimah, K., 2009, Manfaat Buah Pir Terhadap Kebersihan Gigi, KTI, Poltekes, Tasikmalaya. Kholasoh, S., Back To Nature Terapi Buah, PT Musi Persaka Utama: Jakarta. Kinanti, S.A., 2010, 101 Khasiat Buah-buahan, Araska Media Utama : Yogyakarta. Indri, 2006, Gaya Hidup Sehat 355, Majalah : Jakarta. Martariwansyah, SKG, 2008, Gigiku sehat mulutku sehat, Hayati quqlita : Bandung. Nio, B.K., 1987, Preventif Dentistry, YKGI, Bandung, hal:40-48 Nio,B.K., 1992, Preventive Dentistry Untuk Sekolah Pengatur Rawat Gigi, Yayasan Pendidikan Kesehatan Gigi Indonesia, Bandung. Notoatmodjo, S., 2002, Metodologi Penelitian Kesehatan, Rineka Cipta , Jakarta. Poltekes., 2003, Panduan Akademik Penyelenggaraan Pendidikan Program Diploma III Kesehatan Politeknik, Tasikmalaya. Somawihardja, 1989, Visi pelayanan mahasiswa, http://rdsg.engohio.com.

37

Sofian, 2008, Apa sih sukajadi.blogspot.com).

manfaat

buah

Pir,

(http://sofian-

Suwelo, I.S., 1992, Karies Gigi Pada Anak dengan Berbagai Faktor Etiologi, EGC, Jakarta. Sufrida, Y,. Khasiat dan Manfaat Buah Apel, Agro Media : Bandung. Sukma, 2008, Pemeliharaan Kebersihan Kesehatan Gigi dalam Kehidupan Sehari-hari, http://www.obi.or.id. Rani, O., Pengaruh Buah Bengkuang Dalam Membersihkan Plak Gigi Pada Mahasiswa laki-laki Jurusan kesehatan Gigi politeknik Kesehatan Tasikmalaya, KTI, Poltekes, Tasikmalaya. Wijaya, K.A., 2008, Seri Hortikultural Buah-buahan, Prestasi pustakaraya: Jakarta.