Anda di halaman 1dari 2

Diagnosis anemia defisiensi besi dibuat berdasarkan gambaran klinis serta hasil pemeriksaan penunjang.

Pemeriksaan dilakukan selain untuk menegakkan diagnosis anemia defisiensi besi, juga digunakan untuk menentukan etiologi dari kondisi anemia tersebut. Pemeriksaan yang umum dilakukan adalah Morfologi darah tepi (pemeriksaan morfologi eritrosit) Pemeriksaan kadar besi serum dan kadar total iron binding capacity (TIBC) Pemeriksaan kadar feritin serum Pemeriksaan pengecatan besi sumsum tulang

Dalam pemeriksaan morfologi eritrosit, kita menilai indeks eritrosit berdasarkan nilai MCV, MCH dan MCHC. Tes ini dapat memberi gambaran bentuk dari anemia yang diderita oleh seseorang berdasarkan pewarnaan dan ukuran eritrosit. Akan tetapi tes ini tidak memiliki spesifitas yang cukup tinggi untuk membantu diagnosis pasti penyebab anemia. Dari ketiga komponen pada indeks eritrosit, MCH memiliki spesifitas yang paling baik. Sedanngkan MCV memiliki sensitivitas dan spesifisitas lebih baik disbanding MCHC. MCHC baru akan turun pada kondisi anemia yang berat. Rata rata indeks eritrosit pada ADB lebih rendah ketimbang pada kondisi lain, demikian halnya pada kadar besi serum, ferritin serum, dan saturasi transferrin juga lebih rendah. Yang berbeda adalah pada nilai TIBC yang meningkat. Pemeriksaan kadar besi serum memiliki spesifisitas 100% akan tetapi sensivitasnya kurang. Untuk pemeriksaan TIBC, spesifisitasnya mencapai 90% akan tetapi sensitivitasnya rendah. Berbeda dengan kadar trasnferin dimana sensitivitasnya tinggi namun spesifitasnya rendah. Di antara keempat komponen pemeriksaan status besi di atas, ferritin serum memiliki sensitivitas dan spesifisitas paling baik, TIBC dan transferrin serum hampir sama sensitivitas dan spesifisitasnya. Kadar ferritin serum meningkat pada proses infeksi atau inflamasi. Maka dari itu pada anemia defisiensi besi yang disebabkan proses infeksi yang lama atau anemia defisiensi besi yang terjadi berbarengan dengan suatu proses infeksi dapat menyebabkan tidak jelasnya nilai ferritin serum. Pada ADB kadar ferritin serum mengalami penurunan, berkaitan dengan cadangan besi tubuh yang berkurang, sedangkan pada proses infeksi terdapat peningkatan kadar ferritin serum. Hal ini berakibat pada nilai ferritin serum yang dapat menjadi normal, atau

menurun sedikit, atau bahkan meningkat sedikit. Hal ini menyebabkan kita tidak dapat lagi menggunakan pemeriksaan ini untuk mendiagnosis anemia defisiensi besi secara spesifik pada kasus kasus seperti di atas. Maka dari itu pemeriksaan yang dianjurkan dilakukan pada kecurigaan anemia defisiensi besi adalah kadar hemoglobin, besi serum, TIBC, morfologi darah tepi / morfologi eritrosit dan CRP (C-reactive protein). Kadar CRP ini diperiksa karena peningkatan CRP menunjukkan adanya proses infeksi atau inflamasi.

Sumber: Lee GR. Iron deficiency and iron deficiency anemia. Wintrobes Clinical Hematology. 10th ed. Philadelphia : Lea&Febiber; p808 Conrad ME. Iron Deficiency Anemia. Medicine Journal 2002. p114. Lanzkowsky P. Problem in diagnosis of iron deficiency anemia. Pediatrics Annals.p618