Anda di halaman 1dari 10

TUGAS BHP 8 AKREDITASI RUMAH SAKIT

Disusun untuk memenuhi tugas pengganti BHP8

Disusun Oleh: Refa Setiadi NIK

UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG FAKULTAS KEDOKTERAN 2012

BAB I KASUS
71% RS di Jatim Tak Terakreditasi
SURABAYA- Bertambahnya jumlah rumah sakit (RS) di Jatim ternyata masih saja tak diimbangi dengan peningkatan layanan kesehatan memadai. Indikasi ini setidaknya masih rendahnya jumlah RS yang mengantongi akreditasi dari Kementerian Kesehatan. Dari 309 RS di Jatim hanya sekitar 29% atau sekitar 90 RS yang sudah terakreditasi. Sisanya 71% atau sebanyak 219 tidak terakreditasi. Kepala Dinas Kesehatan Jatim, Drs Mudjib Affan MARS mengatakan, akreditasi RS menjadi sesuatu hal yang penting lantaran menjadi jaminan bagi masyarakat mendapatkan kualitas layanan kesehatan. Setiap rumah sakit harus terakreditasi, karena akreditasi merupakan salah satu standart kualitas dan pelayanan rumah sakit, kata Affan, Kamis (11/8). Lantaran itu, Dinkes Jatim menargetkan tahun 2012 nanti seluruh RS harus sudah mendapatkan akreditasi paling tidak secara nasional di Jatim yang berlaku untuk rumah sakit tipe A, B, C dan D. Ia menyebutkan, dari 309 RS di Jatim rinciannya 206 RS swasta, 58 RS pemerintah, 12 RS BUMN atau BUMD dan 25 RS milik TNI dan polri. Jumlah tersebut telah memenuhi jumlah penduduk di Jatim, paparnya. Sebab dari 309 RS tersebut setidaknya ada lebih dari 4.000 tempat tidur.Untuk jumlah rumah sakit memang sudah mencukupi. Namun, persebarannya belum merata, katanya. Ia mengungkapkan, RS tersebut sebagian ada di kota besar. Seperti Surabaya, Malang , Kediri , Jombang dan kota besar lainnya. Di kota tersebut semua tipe rumah sakit ada di kota besar. Sedangkan di daerah kebanyakan rumah sakit bertipe C dan D dengan jumlah yang cukup sedikit. Karena itu, ia mengimbau agar lembaga swasta yang ingin mendirikan rumah sakit di kota besar dan kota lain dibatasi. Dengan memberlakukan syarat yang lebih tinggi. Sebab, dengan penyebaran rumah sakit yang tidak merata tersebut maka, akreditasi bisa menjadi jaminan mutu pelayanan bagi masyarakat. Jadi, kalau bisa dengan adanya akreditasi rumah sakit maka pelayanan di RS daerah dan kota besar sama, ungkapnya. Dihubungi terpisah, Dr Slamet Riyadi Yuwono, DTMH, MARS, Ketua Persatuan Rumah Sakit Indonesia (PERSI) Jatim membenarkan, kalau

tidak semua rumah sakit di Jatim terakreditasi. Jumlahnya memang relatif masih kecil, paparnya. Jumlah yang cukup kecil tersebut, lantaran dulunya akreditasi dilakukan sebagai imbauan saja. Namun, setelah muncul Undang-Undang No. 44 tahun 2009 tentang Rumah Sakit maka akreditasi menjadi kewajiban bagi semua rumah sakit. Tapi, lanjut dia, hal ini tidak hanya terjadi di Jatim saja. Sebab data Kementerian Kesehatan tahun 2010 mengungkapkan dari 1.523 rumah sakit di Indonesia dan baru 653 RS yang terakreditasi. Sedangkan saat ini jumlah rumah sakit sudah 1.668 unit. Sebanyak 50 persen dari rumah sakit yang belum terakreditasi adalah rumah sakit pemerintah, dan 50 persen lainnya rumah sakit swasta, terangnya. Akreditasi rumah sakit, kata dia, diperlukan sebagai batas penilaian pelayanan yang diberikan rumah sakit. Rumah sakit yang terakreditasi berarti sudah memenuhi standar pelayanan yang ditentukan pemerintah. Akreditasi rumah sakit dibagi tiga, yaitu untuk lima pelayanan, 12 pelayanan dan 16 pelayanan. Saat ini mayoritas RS yang mendapatkan akreditasi, baru sampai tahap lima pelayanan Rumah sakit yang terakreditasi akan memberikan keuntungan pada masyarakat berupa kepastian hukum serta standart pelayanan medis. Seperti jaminan pelayanan dan standart operation procedure (SOP). Di Jatim langkah langkah yang rumah sakit akreditasi yang belum,terangnya. Ia mengatakan, terdapat beberapa kendala yang menyebabkan rumah sakit tidak mendapatkan akreditasi, di antaranya mutu pelayanan yang memang tidak memenuhi syarat atau kurang tenaga kerja. Selain akreditasi lokal, pemerintah juga mendorong agar seluruh rumah sakit memiliki akreditasi internasional. Hingga saat ini, hanya empat rumah sakit di Indonesia yang memiliki mutu dunia, antara lain, RS Siloam, RS Sentosa dan RS Eka, katanya.
sumber: Surabaya Post, Jumat 12 Agustus 2011

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Definisi Akreditasi Rumah Sakit adalah pengakuan oleh pemerintah kepada RS yang telah memenuhi standar yang ditetapkan pemerintah; melalui assessment & proses external peer review oleh organisasi penilai yan kes (di Indonesia oleh KARS) yang menilai keakuratan tingkat kinerja

dihubungkan dng standar & cara implementasi peningkatan sistem Pelayanan Kesehatan secara berkesinambungan (IsQua, Accreditation Federation 2001) Akreditasi Rumah Sakit adalah suatu pengakuan yang diberikan oleh Pemerintah kepada Rumah Sakit karena telah memenuhi standar yang ditentukan (DEPARTEMEN KESEHATAN) Tujuan Meningkatkan pelayanan pasien meningkatkan kepercayaan masyarakat perbaikan management pelayanan kesehatan meningkatkan rekrutment staf Meningkatkan pembayaran pelayanan Mendapatkan kepercayaan dari pihak yang berkepentingan (pemerintah) Manfaat Akreditasi Peningkatan Pelayanan (diukur dengan clinical indicator) Peningkatan Administrasi dan Perencanaan Peningkatan Kordinasi Asuhan Pasien

Peningkatan Kordinasi Pelayanan Peningkatan Komunikasi antar staff Peningkatan sistem dan prosedur Lingkungan yang lebih aman minimalisasi resiko Penggunaan Sumber Daya Lebih Efisien Kerjasama Organisasi Lebih baik Penurunan Keluhan Pasien dan Staff Peningkatan Kesadaran Staff akan Tanggung Jawabnya Peningkatan Moril dan Motivasi Re-energized Organization Kepuasan Stake Holder

Dasar Hukum Akreditasi Undang-undang 23 tahun 1992 tentang kesehatan, pasal 59 menegaskan bahwa peningkatan mutu sarana kesehatan perlu diperhatikan KODERSI tahun 2000 tentang Kewajiban Umum Rumah sakit, pasal 3 berbunyi Rumah sakit harus mengutamakan pelayanan yang baik dan bermutu secara berkesinambungan serta tidak mendahulukan urusan biaya. Dalam Undang-undang RI Nomor 44 tahun 2009 tentang Rumah Sakit Bagian III Akreditasi pasal 40 ayat 1) berbunyi "Dalam upaya peningkatan mutu pelayanan Rumah sakit wajib dilakukan akreditasi secara berkala minimal 3 (tiga) tahun sekali Dalam Undang-undang RI Nomor 44 tahun 2009 tentang Rumah Sakit Bagian VII Perizinan pasal 25 ayat (4) berbunyi " Izin operasional sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diberikan untuk jangka waktu 5 (tahun) dan dapat diperpanjang kembali selama memenuhi persyaratan.

Permenkes no. 159b/88 tentang RS, pasal 26 mengatur tentang akreditasi RS

SK Menkes 436/93 menyatakan berlakunya standar yan RS & standar yanmed

SK Dirjen Yanmed No. YM.02.03.3.5.2626 tentang Komisi Akreditasi RS dan Sarana Kesehatan Lainnya.

Kebijakan akreditasi RS SK Menkes 228/Menkes/SK/III/2002 tentang pedoman Penyusunan Standar Pelayanan Minimal RS yang wajib dilaksanakan daerah. Semua RS minimal harus terakreditasi untuk 5 pelayanan (Adminsitrasi & manajemen, Pelayanan Medik, Pelayanan Gawat Darurat, Keperawatan & Rekam Medik) Dinas Kesehatan Propinsi agar melakukan monitoring & evaluasi paska survei akreditasi. Faktor-faktor yang mendorong dilakukannya akreditasi kasus-kasus medical error di RS Tuntutan hukum terhadap mutu pelayanan RS yang semakin meningkat Fisik bangunan (IGD, ICU, IBS, Perinatologi) RS masih banyak yang belum memenuhi standar. Peralatan medis yang masih kurang Masih banyak RS yang kekurangan dokter (spesialis). Persyaratan perpanjangan perijinan RS

Tahapan Akreditasi Tahap I 1. Administrasi dan management 2. Pelayanan medis 3. Pelayanan gawat darurat

4. Pelayanan keperawatan 5. Rekam medis Tahap II 1. Pelayanan Farmasi 2. Pelayanan K3 3. Pelayanan Radiologi 4. Pelayanan Laboratorium 5. Pelayanan Kamar Operasi 6. Pengendalian infeksi 7. Pelayanan Perinatal Risiko tinggi

Tahap III 1. Pelayanan Anestesi dan Reanimasi 2. Pelayanan Rehabilitasi Medik 3. Pelayanan Gizi 4. Pelayanan Intensif 5. Pelayanan Sterilisasi sentral 6. Pemeliharaan Sarana 7. Pelayanan Lain, seperti AsKes, JPKM, Bank Daerah 8. Perpustakaan

Surveyour Administrasi Administrasi dan management, Rekam Medis, Yan Farmasi, K3 Medis Yan Medis, Gawat Darurat, Yan Radiologi, Yan Laboratorium, Yan Kamar Operasi Keperawatan Yan Keperawatan, Pengendalian Infeksi Nosokomial, Yan perinatal risiko tinggi

Langkah Strategis Sukses Akreditasi R.S Langkah 1 : Persiapan Organisasi Langkah 2 : Persiapan Bahan/Materi Langkah 3 : Study Banding Langkah 4 : Penyusunan SOP Langkah 5 : Perbaikan input-proses-hasil (output) Langkah 6 : Self Assesment Kegiatan 7 : Pra survay Langkah 8 : Persiapan hari H Survey Langkah 9 : Kegiatan 3-4 hari Survey

Standar dalam Akreditasi RS Standar 1 : falsafah dan tujuan Standar 2 : administrasi dan manajemen Standar 3 : staf dan pimpinan Standar 4 : fasilitas dan peralatan Standar 5 : kebijakan dan prosedur Standar 6 : pengembangan staf dan program pendidikan STandar 7 : Evaluasi Dan Peningkatan Mutu

Keputusan Status Akreditasi 1. Tidak diakreditasi/ Tidak lulus - nilai total < 65% 2. Akreditasi Bersyarat - nilai total > 65% , < 75% - tidak ada nilai <= 60% - satu tahun diakreditasi lagi

3. Akreditasi Penuh - nilai total >= 75% - tidak ada nilai <= 60% - tiga tahun masa berlaku 4. Akreditasi Istimewa - didapat 3x berturut-turut - lima tahun masa berlaku

BAB III PEMBAHASAN

Kasus yang terjadi di Surabaya tersebut merupakan kasus yang perlu diperhatikan oleh semua pihak. Sebanyak 71% rumah sakit di Surabaya belum terakreditasi. Padahal akreditasi ini merupakan hal yang penting dalam menjaga kualitas pelayanan rumah sakit yang bersangkutan dan memberikan kepastian hukum kepada pasien dalam mendapatkan pelayanan medis sesuai (SOP). Jika Mengacu kepada Undang-Undang no. 44 tahun 2009 tentang rumah sakit, pada ketentuan peralihan pasal 64, akreditasi ini selambat-lambatnya harus dilakukan dalam jangka waktu 2 tahun, setelah undang-undang tersebut di undangkan. Jika sampai jangka waktu 2 tahun masih belum dilakukan, rumah sakit yang belum di akreditasi akan dicabut izinnya, sesuai dengan yang tercantum pada perizinan pasal 27 (b) dan (c).

Anda mungkin juga menyukai