Anda di halaman 1dari 21

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Setiap zat yang berada di permukaan bumi ini memiliki sifat yang berbeda baik dari segi fisika dan kimianya. Keadaan fisik yang dapat langsung kita lihat pada suatu benda adalah bentuk-bentuk dari suatu zat atau biasa juga disebut wujud dari benda tersebut yang terdiri dari cairan, padatan, maupun gas. Selain itu, massa atau berat benda juga merupakan sifat dari benda yang dapat diukur. Semua sifat-sifat dari zat tersebut digunakan untuk mengidentifikasi bermacam-macam hal, tetapi dalam segi kimianya, sifat tersebut digunakan untuk mengidentifikasi zat itu sendiri. Berdasarkan wujudnya, zat dapat dibedakan atas tiga jenis, yaitu zat padat, zat cair, dan zat gas. Setiap zat terdiri dari partikel-partikel yang sangat kecil yang berupa atom, molekul, maupun ion. Keadaan gas adalah keadaan yang paling sederhana untuk dipahami dari padatan maupun cairan. Gas bisa dicirikan dengan berbagai cara. Gas terdiri atas molekul-molekul yang bergerak menurut jalan yang lurus ke segala arah dengan kecepatan yang sangat tinggi. Molekul-molekul gas ini selalu bertumbukan dengan molekul-molekul yang lain atau dengan dinding bejana. Tumbukan terhadap dinding bejana yang menyebabkan adanya tekanan. Massa molekul dari suatu senyawa merupakan sifat fisika zat yang lazimnya ditentukan dengan melihat sifat kimia, terutama pada rumus molekul dari zat tersebut. Secara teori massa molekul suatu senyawa dapat dicari apabila massa atom penyusunnya diketahui. Dalam ilmu kimia, massa atom telah menjadi suatu

ketetapan yang dimiliki unsur. Partikel-partikel bergerak karena memiliki energi kinetik, kecepatan gerak partikel ini bergantung pada suhu dan keadaan fisik benda. Telah dibuktikan bahwa setiap gas yang memenuhi hukum Boyle, hukum Charles, dan hukum Avogadro juga memenuhi gas ideal dan persamaan itu dikenal sebagai persamaan gas ideal. Untuk membuktikan kebenaran teori ini, maka hal ini yang melatarbelakangi dilakukannya percobaan ini. 1.2 Maksud dan Tujuan Percobaan 1.2.1 Maksud Percobaan Maksud dari percobaan ini adalah untuk mengetahui dan mempelajari metode penentuan massa molekul zat mudah menguap berdasarkan pengukuran massa jenisnya. 1.2.2 Tujuan Percobaan Tujuan dari percobaan ini adalah : 1. Menentukan kerapatan zat mudah menguap dengan menimbang bobot sebelum dan sesudah penguapan. 2. Menentukan massa molekul zat mudah menguap dengan menggunakan data 1 (kerapatan zat) dan persamaan gas ideal. 1.3 Prinsip Percobaan Prinsip dari percobaan ini adalah penentuan massa molekul dan kerapatan zat mudah menguap yaitu aseton dan kloroform melalui proses penguapan, pengembunan, dan penentuan selisih bobot senyawa sebelum dan sesudah penguapan.

1.4 Manfaat Percobaan Manfaat dari percobaan ini adalah kita dapat membandingkan massa molekul zat yang mudah menguap berdasarkan percobaan dengan yang ada dalam literatur.

BAB III METODE PERCOBAAN

3.1 Bahan Percobaan Bahan yang digunakan dalam percobaan ini adalah kloroform, aseton, akuades, aluminium foil, kertas label, sabun dan tissue roll.

3.2 Alat Percobaan Alat yang digunakan dalam percobaan ini adalah erlenmeyer 50 mL, gelas piala 200 dan 250 mL, jarum, neraca analitik, karet gelang, penangas air, desikator, termometer 0 100 oC, bulb, pipet volume 5 mL, dan sikat tabung.

3.3 Prosedur Percobaan Pertama-tama, disediakan erlenmeyer bersih dan kering sebanyak 2 buah. Ditimbang masing-masing erlenmeyer kosong dan catat bobotnya. Lalu, ditutup dengan aluminium foil, diikat dengan karet gelang dan ditimbang kembali serta dicatat bobotnya, kemudian aluminium foil dan karet gelangnya dilepas dari erlenmeyer. Setelah itu, erlenmeyer diisi dengan akuades sampai penuh. Ditimbang erlenmeyer yang telah berisi akuades di neraca analitik, lalu dicatat bobot erlenmeyer tersebut. Dibuang akuades dan erlenmeyer dikeringkan. Kemudian diisi erlenmeyer dengan 5 mL kloroform, ditutup dengan aluminium foil dan diikat kuat dengan karet gelang. Lalu, aluminium foil tersebut dilubangi sampai 10 lubang dengan jarum agar uap dapat keluar. Kemudian, erlenmeyer direndam dalam penangas air sampai semua cairan kloroform menguap. Diukur dan dicatat suhu penangas air ketika semua cairan kloroform menguap. Setelah seluruh cairan kloroform menguap, erlenmeyer diangkat dan dilap bagian luarnya. Kemudian, didinginkan dalam desikator. Setelah dingin,

erlenmeyer ditimbang. Diulangi prosedur di atas dengan mengganti kloroform dengan aseton.

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Pengamatan 1. Kloroform Bobot erlenmeyer + air Bobot erlenmeyer kosong Suhu air dalam penangas air Massa Jenis air 2. Aseton Bobot erlenmeyer + air Bobot erlenmeyer kosong Suhu air dalam penangas air Massa Jenis air Tabel Pengamatan Jenis zat cair Kloroform Aseton Bobot erlenmeyer + aluminium foil + karet gelang (g) 37,95 38,19 Bobot erlenmeyer + aluminium foil + karet gelang + uap cairan (g) 38,09 38,21 = 97,13 g = 37,74 g = 63 oC = 1 g/mL = 94,16 g = 37,47 g = 79 oC = 1 g/mL

No.

1. 2.

4.2 Perhitungan 1. Kloroform Bobot erlenmeyer + alumunium foil + karet gelang + uap kloroform = 38,09 g Bobot erlenmeyer + alumunium foil + karet gelang Bobot kloroform= 38,09 g - 37,95 g = 0,14 g = 37,95 g

Bobot erlenmeyer + air = 94,16 g Bobot erlenmeyer kosong = 37,47 g Bobot air = 94,16 g - 37,47 g = 56,69 g Massa jenis air = 1 g/mL Bobot air Volume air = air 56,69 g = 1 g/mL = 56,69 mL = 0,05669 L Volume gas = Volume air = 0,0567 L Bobot kloroform Massa jenis kloroform = Volume gas 0,14 g = 0,05669 L = 2,46957 g/L Suhu penangas air Tekanan Gas = 79 oC = 352 K = 760 mmHg = 1 atm

Mr

di mana R = 0,0821 L atm mol-1K-1


a a

= = 71,3686 g/mol

Mr Kloroform (CHCl3) secara praktek dan teoritis adalah sebesar 71,3686 g/mol dan 119,38 g/mol.

2. Aseton Bobot erlenmeyer + alumunium foil + karetgelang + uap aseton = 38,21 g Bobot erlenmeyer + alumunium foil + karet gelang Bobot aseton = 38,21 g 38,19 g = 0,02 g Bobot erlenmeyer + air Bobot erlenmeyer kosong Bobot air = 97,13 g - 37,74 g = 59,39 g Massa jenis air = 1 g/mL Bobot air Volume air = air 59,39 g = 1 g/mL = 59,39 mL = 0,05939 L Volume gas = Volume air = 0,05939 L Bobot aseton Massa jenisaseton = Volume gas 0,02 g = 0,05939 L = 0,3368 g/L Suhu penangas air Tekanan Gas Mr =

= 38,19 g

= 97,13 g = 37,74 g

= 63 oC = 336 K = 760 mmHg = 1 atm

di mana R = 0,0821 L atm mol-1K-1


a a

= 9,2896 g/mol

Mr aseton (C3H6O) secara praktek dan teoritis adalah sebesar 9,2896 g/mol dan 58,08 g/mol. 4.3 Pembahasan Massa molar adalah massa dari satu mol sebuah unsur kimia atau senyawa kimia. Massa molar sering digunakan dalam perhitungan stoikiometri dalam ilmu kimia. Massa molekul adalah istilah yang berbeda namun berhubungan. Massa molekul artinya massa satu molekul. Tujuan utamanya adalah sebagai faktor konversi antara jumlah gram sebuah zat murni, yang dapat diukur secara langsung, dan jumlah mol zat tersebut, yang sulit diukur secara langsung namun lebih penting secara kimia. Dalam percobaan ini, ada dua cairan yang digunakan untuk menentukan bobot molekul, yaitu aseton dan kloroform. Kedua cairan tersebut merupakan zat yang mudah menguap. Penentuan massa molekul suatu zat yang mudah menguap dilakukan berdasarkan pengukuran massa jenis zat tersebut. Adapun penentuan massa jenisnya dilakukan berdasarkan penimbangan zat tersebut sebelum dan setelah penguapan. Pada percobaan ini, volume dari erlenmeyer harus diketahui terlebih dahulu, yaitu dengan menimbang kosong erlenmeyer tersebut, kemudian mengisinya dengan air dan ditimbang kembali, sehingga diperoleh massa air. Volume air dapat ditentukan berdasarkan kerapatan air pada temperatur yang sesuai. Penggunaan erlenmeyer yang bersih dan kering bertujuan agar tidak ada faktor pengganggu yang dapat mempengaruhi nilai massa molekul yang akan ditentukan. Dalam pengukurannya, digunakan erlenmeyer yang ditutup dengan aluminium foil dan karet gelang. Hal ini bertujuan untuk memberikan ruang pada zat tersebut pada saat

menguap. Aluminium foil digunakan karena selain bersifat elastis, aluminium foil juga tidak mudah berubah bentuk. Setelah mengetahui volume erlenmeyer, isi erlenmeyer diganti dengan zat yang mudah menguap, yaitu kloroform dan aseton. Pembilasan erlenmeyer bekas air tadi dengan zat yang akan digunakan harus dilakukan agar tidak ada sisa air dalam erlenmeyer yang dapat mempengaruhi hasil yang akan diperoleh. Penguapan dilakukan dengan cara penutup erlenmeyer dilubangi terlebih dahulu agar uap dari zat tersebut dapat menempati ruang erlenmeyer pada tekanan normal (1 atm), kemudian erlenmeyer dimasukkan dalam penangas air. Pemanasan dilakukan untuk mendorong udara yang terdapat dalam erlenmeyer, sehingga uap keluar. Pemanasan dihentikan dengan segera saat cairan mudah menguap yang digunakan dalam percobaan ini telah habis menguap dan uapnya masih terperangkap dalam erlenmeyer. Uap tertinggal dalam erlenmeyer pada saat tekanannya sama dengan tekanan luar. Sebelum ditimbang kembali, uap dalam erlenmeyer dibiarkan mengembun kembali agar tidak keluar lagi dari erlenmeyer dengan cara pendinginan yang dilakukan di dalam desikator. Desikator berfungsi agar udara dapat masuk kembali ke dalam erlenmeyer melalui lubang kecil pada aluminium foil dan uap cairan mudah menguap yang terdapat dalam erlenmeyer mengembun kembali. Pada percobaan ini diperoleh kerapatan atau massa jenis dari kloroform adalah 2,46957 g/mol, sedangkan kerapatan atau massa jenis dari aseton adalah 0,3368 g/mol. Untuk massa molekulnya diperoleh hasil, yaitu massa molekul dari kloroform adalah sebesar 71,3686 g/mol, padahal secara teoritis massa molekul kloroform adalah sebesar 119,38 g/mol. Sedangkan massa molekul dari aseton adalah sebesar 9,2896 g/mol dan secara teoritis massa molekul aseton sebesar 58,08 g/mol. Hal ini berbeda dari hasil yang diperoleh. Kemungkinan hal ini

disebabkan karena neraca analitik yang digunakan belum stabil dengan sempurna sehingga terjadi penimbangannya tidak akurat. Hal lainnya, kemungkinan masih ada bekas air sehingga mempengaruhi berat cairan yang akan ditimbang atau ada kotoran yang melekat pada bagian luar erlenmeyer. Pada kondisi kesetimbangan, erlenmeyer hanya berisi uap cairan dengan tekanan yang sama dengan tekanan udara luar. Pada saat penimbangan, mungkin praktikan kurang teliti dalam memperhatikan apakah sudah setimbang atau belum. Begitupun pada saat pengukuran suhu, mungkin praktikan kurang teliti atau adanya paralaks sehingga data yang diperoleh tidak terlalu akurat. Kedua larutan ini sangat mudah menguap sehingga disebut larutan volatil. Massa molekul dinyatakan sebagai perbandingan antara massa suatu senyawa dengan mol senyawa tersebut.

LEMBAR PENGESAHAN

Makassar, 10 Oktober 2011

ASISTEN

PRAKTIKAN

RAYMOND KWANGDINATA NIM : H311 09 270

ZULVIANA SUDIRMAN NIM : H311 09 267

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA FISIKA

PERCOBAAN II PENENTUAN MASSA MOLEKUL BERDASARKAN PENGUKURAN BOBOT JENIS

NAMA NIM KELOMPOK HARI / TANGGAL ASISTEN

: ZULVIANA SUDIRMAN : H311 09 267 : V (LIMA) : KAMIS / 6 OKTOBER 2011 : RAYMOND KWANGDINATA

LABORATORIUM KIMIA FISIKA JURUSAN KIMIA FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS HASANUDDIN MAKASSAR 2011

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan Kesimpulan yang dapat diperoleh dari percobaan ini adalah : 1. Kerapatan untuk kloroform adalah 2,46957 g/L, sedangkan kerapatan aseton adalah 0,3368 g/L. 2. Massa molekul kloroform adalah 71,3686 g/mol, sedangkan massa molekul aseton adalah 9,2896 g/mol.

5.2 Saran Saran untuk percobaan ini adalah sebaiknya dilakukan terlebih dahulu pengukuran massa jenis gas sebelum penentuan volume erlenmeyer, sebab untuk mengeringkan erlenmeyer dari air lebih sulit, dan pada pembilasan tidak semua air dapat terbilas. Saran untuk laboratorium adalah agar peralatan laboratorium tetap terjaga kebersihannya.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Keadaan gas adalah yang paling sederhana untuk dipahami dari padatan dan cairan. Gas bisa dicirikan dengan berbagai cara. Semua gas akan memuai memenuhi ruangan dan akan menyerupai bentuk ruang tempatnya berada. Semua zat yang bersifat gas dapat berbaur dengan sesamanya dan akan bercampur dalam segala perbandingan. Oleh karena itu, semua campuran gas adalah larutan yang homogen. Gas tidak dapat dilihat secara kasat mata dalam arti bahwa tidak ada partikel-partikel gas yang dapat dilihat. Beberapa gas berwarna, seperti gas klor

(kuning kehijau-hijauan), brom (merah kecoklat-coklatan) dan iod (ungu), beberapa di antaranya mudah meledak, seperti hidrogen, dan beberapa di antaranya secara kimiawi bersifat lembab (inert), seperti helium dan neon (Petrucci, 1999). Berbeda dengan cairan atau padatan, gas mudah dimampatkan. Gas tidak mempunyai bentuk dan volume yang tetap, gas akan selalu mengisi setiap ruang dimana gas tersebut ditempatkan. Pada keadaan gas, partikel-partikel bergerak secara acak. Jarak antara partikel-partikel relatif jauh lebih besar daripada ukuran-ukuran partikel, sehingga gaya tarik-menarik antar partikel sangat kecil sehingga dapat diabaikan. Laju suatu partikel selalu berubah-ubah, hal ini disebabkan terjadinya tumbukan antara partikel yang satu dengan partikel lainnya ataupun antara partikel dengan dinding wadah (Bird, 1993). Gas ideal tidak dapat membentuk cairan. Hal ini dikarenakan gas ideal tidak mempunyai gaya-gaya intermolekuler antara partikel-partikelnya, baik yang bersifat tarik-menarik ataupun tolak-menolak. Kenyataannya, gas nyata tidak bersifat demikian. Ketika jarak antara partikel-partikel gas nyata cukup jauh, terdapat gaya

tarik-menarik di antaranya. Tetapi ketika partikel-partikel ini berada pada jarak yang sangat dekat gaya tarik-menarik tadi berubah menjadi tolak-menolak. Hal ini disebabkan awan elektron partikel-partikel ini mulai saling bertumpang tindih dan saling tolak-menolak (Bird, 1993). Hukum Boyle menyatakan bahwa tekanan (P) berbanding tebalik dengan volume (V) pada temperatur yang tetap dan untuk sejumlah tetentu gas, yaitu (Dogra dan Dogra, 1990) :

atau atau

PV = konstan P1V1 = P2V2 Hukum Charles atau hukum Gay-Lussac menyatakan bahwa sejumlah

tertentu gas pada tekanan tetap, volume (V) berbanding lurus dengan temperatur (T). hubungannya adalah (Dogra dan Dogra, 1990) : a

Hukum Boyle dan hukum Charles atau hukum Gay-Lussac dapat digabungkan bersama, yaitu untuk sejumlah massa tertentu dari gas (Dogra dan dogra, 1990) : a Kondisi sejumlah massa tertentu dapat dihilangkan dengan bantuan hipotesis Avogadro yang menyatakan bahea pada kondisi temperatur dan tekanan yang sama, gas-gas dengan volume sama akan mengandung jumlah molekul yang sama. Maka, persamaan tersebut menjadi (Dogra dan Dogra, 1990) :

PV = nRT dimana n adalah banyaknya mol dan R adalah konstanta gas (Dogra dan Dogra, 1990). Rumus empirisnya, massa molekul (bobot molekul) relatif dapat ditentukan hanya dengan menjumlahkan massa atom (bobot atom) relatif dari unsur-unsur yang membentuk senyawa itu. Dalam penjumlahan ini perlu diperhatikan, bahwa massa atom relatif suatu unsur tertentu, harus dikalikan dengan bilangan yang menunjukkan jumlah atom-atomnya dalam molekul itu (Svehla, 1985). Menurut Aliyatulmuna (2010), bobot molekul dapat ditentukan melalui beberapa metode di antaranya metode kenaikan titik didih / ebullioscopic, metode penurunan titik beku / cryoscopic, dan hipotesis Avogadro. Metode cryoscopic digunakan pada penentuan bobot molekul zat terlarut melalui persamaan penurunan titik beku (Petrucci, 1999) : g
f

aa

Kedua persamaan tersebut dirumuskan atas dasar pendekatan pada larutan encer sehingga titik beku larutan dan titik beku pelarut murni dianggap nilainya hampir sama. Pendekatan ini di erap a de ga cara e rap a i e a a

dengan nol melalui persamaan (Petrucci, 1999) :

Pendekatan yang lebih langsung untuk menetapkan bobot molekul dibandingkan metode Cannizaro adalah menggunakan persamaan gas ideal. Untuk tujuan ini, perlu mengubah persamaan itu sedikit. Bobot molekul suatu zat atau senyawa dapat ditentukan dengan menggunakan persamaan gas ideal. Jumlah mol gas yang biasanya dinyatakan dengan n, adalah sama dengan massa gas (m) dibagi

dengan massa molar (Mr) yang satuannya g/mol. Jadi, n = m/Mr bobot molekul secara numerik sama dengan massa molar (Petrucci, 1999) : PV= mRT Mr

Penentuan bobot molekul gas dengan menggunakan persamaan di atas, diperlukan pengukuran volume (V) dari suatu zat yang diketahui massanya (m) pada suhu (T) dan tekanan (P) tertentu. Bentuk dari persamaan gas ideal tersebut tidak terbatas untuk menentukan bobot molekul. Tetapi dapat juga digunakan dalam berbagai penggunaan lain dimana jumlah gas diberikan atau dicari dalam bentuk gram, bukan mol (Petrucci, 1999). Sebagian besar zat akan memuai jika dipanaskan, kecuali air. Bila air dipanaskan pada suhu 0 oC dan pada tekanan 1 atm, densitasnya akan meningkat ke nilai maksimum 999,972 kg/m3 pada 3,98 oC. Setelah itu, kerapatan akan semakin berkurang seiring dengan dilakukannya pemanasan lebih lanjut. Besarnya perilaku menyimpang ini masih lebih kecil dibandingkan dengan ekspansi anomali air atas titik beku. Sampai saat ini, tak satu pun dari anomali ini yang dapat dipahami dengan baik (Cawley, dkk., 2005). Jikalau suatu cairan mudah menguap dengan suhu didih kurang dari 100 oC ditempatkan ke dalam labu erlenmeyer kemudian dipanaskan sampai suhu 100 oC, maka cairan tersebut akan menguap. Dengan demikian, uap itu akan mendorong udara yang ada dalam labu erlenmeyer keluar melalui lubang kecil. Setelah semua udara keluar, uap cairan akan keluar sampai tercapai kesetimbangan yaitu tekanan uap cairan dalam labu erlenmeyer sama dengan tekanan udara luar. Pada kondisi kesetimbangan ini, labu erlenmeyer hanya berisi uap cairan dengan tekanan sama dengan tekanan udara luar. Volume uap cairan sama dengan volume labu erlenmeyer

dan suhunya sama dengan suhu didih air pada penangas air (kira-kira 100 oC). Labu erlenmeyer kemudian dikeluarkan dari penangas, didinginkan dan setelah dingin ditimbang untuk mengetahui bobot gas yang terdapat di dalamnya (Taba, dkk., 2010). Hukum pertama termodinamika secara umum menjelaskan kekekalan energi. Energi tidak dapat diciptakan dan tidak dapat dimusnahkan. Anggap bahwa pada sebuah sistem sejumlah panas sebesar q dimasukkan. Penyerapan panas ini meningkatkan energi sistem dan juga menunjukkan kerja kepada sistem (Norman, 1978).

DAFTAR PUSTAKA

Aliyatulmuna, A., 2009, Larutan Encer pada Bobot Molekul melalui Metoda Cryoscopic, BSS (online), 65 (1), (http://adilah_a@telkom.net, diakses pada tanggal 8 Oktober 2011), 1-7. Bird, T., 1993, Kimia Fisik untuk Universitas, diterjemahkan oleh Kwee Ie Tjien, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta. Cawley, M. F., McGlynn, D., dan Mooney, P. A., 2006, Measurement of The Temperature of Density Maximum of Water Solutions Using A Convective Flow Technique, International Journal of Heat and Mass Transfer (online), 49, ( http://eprint.nuim.ie/935/diakses tanggal 8 Oktober 2011), 1763-1772. Dogra, S. K., dan Dogra, S., 1990, Kimia Fisik dan Soal-Soal, diterjemahkan oleh Umar Mansyur, Universitas Indonesia, Jakarta. Norman, R. O. C., 1978, Principles of Organic Synthesis, Chapman and Hall, London. Petrucci, R. H., 1999, Kimia Dasar Jilid 1 Edisi keempat, diterjemahkan oleh Suminar Achmadi, Erlangga, Jakarta. Svehla, G., 1985, Analisis Anorganik Kualitatif Makro dan Semimikro, PT. Kalma Media Pusaka, Jakarta.

Bagan Prosedur Kerja

Kloroform dan Aseton Ditimbang erlenmeyer kosong Ditutup dengan aluminium foil dan dikencangkan dengan karet gelang kemudian ditimbang. Erlenmayer diisi air, kemudian ditimbang bobotnya. Diganti air dengan 5 ml kloroform ditutup lagi dengan aluminium foil dan ikat dengan karet gelang kemudian aluminium foil dilubangi sampai 10 lubang dengan jarum agar uap dapat keluar. Erlenmayer direndam dalam air yang sedang dipanaskan dengan penangas air sampai cairan menguap. Suhu air pada penangas dicatat ketika semua cairan menguap Setelah semua cairan menguap, erlenmeyer diangkat dan dilap bagian luar erlenmeyer. Data Dimasukkan kedalam desikator Setelah dingin erlenmeyer ditimbang kembali Diulangi percobaan dengan mengganti kloroform dan aseton