Anda di halaman 1dari 8

BAB 3.

PEMBAHASAN

3.1 Tujuan bedah preprostetik Mengembalikan fungsi rahang (fungsi pengunyahan, berbicara, menelan) Memelihara atau memperbaiki struktur rahang Memperbaiki rasa kenyamanan pasien Memperbaiki estetis wajah

3.2 Indikasi dan kontraindikasi bedah preprostetik a. Indikasi

Tidak ada kondisi patologis pada intra oral dan ekstra oral Hubungan / relasi rahang yang tidak baik secara anteroposterior, transversal dan

dimensi vertical

Bentuk prosessus alveolar yang tidak baik Terdapat tonjolan tulang atau jaringan lunak atau undercut Mukosa yang tidak baik pada daerah dukungan gigi tiruan Kedalaman vestibular yang tidak cukup Bentuk alveolar dan jaringan lunak yang tidak cukup untuk penempatan implant.

b. Kontraindikasi Penderita dengan kelainan sistemik yang tidak terkontrol Penyakit-penyakit atrofi pada tulang rahang

3.3 Macam bedah preprostetik

a.

Bedah Preprostetik Jaringan Keras 1. Alveolplasty Alveoloplasty adalah prosedur bedah yang biasanya dilakukan untuk mempersiapkan linggir alveolar karena adanya bentuk yang irreguler pada tulang alveolar berkisar dari satu gigi sampai seluruh gigi dalam rahang, dapat dilakukan segera sesudah pencabutan atau dilakukan tersendiri sebagai prosedur korektif yang dilakukan kemudian. Simple alveolplasty/ Primary alveolplasty Tindakan ini dilakukan bersamaan dengan pencabutan gigi , setelah pencabutan gigi sebaiknya dilakukan penekanan pada tulang alveolar soket gigi yang dicabut . Apabila setelah penekanan masih terdapat bentuk yang irreguler pada tulang alveolar maka dipertimbangkan untuk melakukan alveolplasty. Petama dibuat flap mukoperiosteal kemudian bentuk yang irreguler diratakan dengan bor , bone cutting forcep atau keduanya setelah itu dihaluskan dengan bone file. Setelah bentuk tulang alveolar baik dilakukan penutupan luka dengan penjahitan. Selain dengan cara recontouring tadi apabila diperlukan dapat disertai dengan tindakan interseptal alveolplasty yaitu pembuangan tulang interseptal, hal ini dilakukan biasanya pada multipel ekstraksi. Secondary alveolplasty. Linggir alveolar mungkin membutuhkan recountouring setelah beberapa lama pecabutan gigi akibat adanya bentuk yang irreguler. Pembedahan dapat dilakukan dengan membuat flap mukoperiosteal dan bentuk yang irregular dihaluskan dengan bor, bone cutting forcep dan dihaluskan dengan bone file setelah bentuk irreguler halus luka bedah dihaluskan dengan penjahitan. Pada secundary alveolplasty satu rahang sebaiknya sebelum operasi dibuatkan dulu Surgical Guidance yang berguna sebagai pedoman pembedahan. 2. Alveolar Augmentasi Pada keadaan resorbsi tulang yang hebat , maka diperlukan tindakan bedah yang lebih sulit dengan tujuan : Menambah besar dan lebar tulang rahang, menambah kekuatan rahang, memperbaiki jaringan pendukung gigi tiruan. Terdapat beberapa cara untuk menambah ketinggian linggir alveolar, yaitu :

costae

Dengan cangkok tulang autogenous, tulang dapat diperoleh tulang iliak atau Dengan melakukan osteotomi : Visor Osteotomi atau Sandwich Osteotomi Penambahan dengan menggunakan Hydroxilapatit. Hidroxilapatit

merupakan suatu bahan alloplastik yang bersifat Biocompatible yang dapat digunakan untuk menambah ketinggian tulang alveolar. 3. Oral Tori Oral tori merupakan tonjolan tulang yang dapat terjadi pada mandibula atau maksila. Oral tori merupakan lesi jinak, tumbuhnya lambat, tidak menimbulkan rasa sakit, pada palpasi terasa keras, terlokalisir dan berbatas jelas, etiologi belum diketahui dengan pasti tetapi beberapa ahli menduga terjadi karena adanya proses inflamasi pada tulang. Pembedahan terhadap oral tori jarang dilakukan , kecuali pada keadaan terdapatnya gangguan pembuatan protesa yang tidak dapat diatasi sehingga harus dilakukan pembedahan. Terdapat 2 macam oral tori yaitu : Torus mandibularis Biasanya terdapat pada lingual rahang bawah didaerah kaninus atau premolar kiri dan kanan, bisa single atau mulriple. Bila diperlukan dapat dilakukan eksisi.

Torus palatinus.

Torus palatinus terdapat pada palatum sepanjang sutura palatinus media dan dapat meluas ke lateral kiri dan kanan. Ukurannya bervariasi pada torus palatinus berukuran besar dapat mengganggu fungsi bicara dan pengunyahan. Pembedahan dilakukan apabila terdapat gangguan fungsi bicara dan pengunyahan.
3.4 Prosedur bedah preprostetik pada skenario

Pengambilan torus (torektomi) Torus palatinus : ukuran dan bentuk bervariasi , tonjolan kecil/tunggal, multilokuler. Prosedur : a. Incisi pada bagian sagital (incisi sagital) tinggal pada pertengahan palatal line di depan garis vibrasi ke depan tepat di belakang papilla incisivus b. Incisi serong bagian anterior membentuk huruf V

c. incisi V pada podterior untuk memperlebar jalan masuk(hati-hati->a.pal. mayor) d. Flap mukoperiost disingkapkan kea rah bukal e. Pertahankan flap dengan jahitan retraksi. f. torus dibur dengan bur fissure sampai ke dalaman tertentu, dibuat segmen-segmen. g. Segmen-segmen dikeluakan dengan osteotom h. Penghalusan akhir dengan bur bulat dan kikir i. rigasi/ inspeksi j. jaringan lunak yang berlebihan dibuang k. Dilakukanpenutupan flap dengan jahitan matras horizontal tertutup. l. Untuk mencegah terjadinya hematoma dan penimbunan makanan pada daerah jahitan sebaiknya dibuatkan obturator m.

3.5 Penatalaksanaan bedah preprostetik a. Pra bedah Persiapan pra bedah merupakan tahap pertama dari perawatan yang dimulai sejak pasien diterima masuk di ruang terima pasien dan berakhir ketika pasien dipindahkan ke kursi / meja operasi untuk dilakukan tindakan pembedahan. Persiapan pembedahan dapat dibagi menjadi 2 bagian, yang meliputi persiapan psikologi baik pasien maupun keluarga dan persiapan fisiologi (khusus pasien). 1. Persiapan Psikologis Terkadang pasien dan keluarga yang akan menjalani operasi emosinya tidak stabil. Hal ini dapat disebabkan karena :

Takut akan perasaan sakit, narcosa atau hasilnya. Keadaan sosial ekonomi dari keluarga.

Penyuluhan merupakan fungsi penting dari perawat pada fase pra bedah dan dapat mengurangi cemas pasien. Hal-hal dibawah ini penyuluhan yang dapat diberikan kepada pasien pra bedah. Informasi yang dapat membantu pasien dan keluarganya sebelum operasi : Pemeriksaan-pemeriksaan sebelum operasi (alasan persiapan) Hal-hal yang rutin sebelum operasis. Alat-alat khusus yang

diperlukan. 2. Persiapan Fisiologis

Riwayat kesehatan sangatah penting dilakukan. Data yang kita perlukan dapat kita dapatkan dari melakukan anamnesa terhadap pasien tersebut. Dokter juga perlu menanyakan kemungkinan penyakit sistemik atau penyakit tertentu yang diderita pasien karena data ini sangat berharga untuk mengidentifikasi pasien yang mempunyai penyakit sistemik. 3. Persiapan Darah Pers iap an pasi en pra bedah perlu dip erh atikan kedaan pasien yangberhubungan dengan ada tidaknya gangguan perdarahan yang dideria pasien. Adapunbeberap a tes t yan g dapat di lakukan yaitu waktu protromb in (PT) suatu evaluasi rangkaian koagulasi ekstrinsik dan waktu tromboplastin aktif parsial (PTT) merupakan evaluasi rangkaian koagulasi intrinsik. Hitun g trombosit dan waktupembekuan darah menunjukan jumlah trombosit yang tersedia dan mengukur fungsinya. Riwayat pasien yang meminum aspirin juga perlu diperhatikan karena aspirin ini berefek pada agregasi trombosit. Apabila pada pelaksanaan operasi pasien memerlukan trasnfusi darah makatransfusi dapat dilakukan dengan golongan darah spesifik atau golongan darah Onegati f. Oleh karen a itu dokter yan g akan melakukan tind ak an bedah diharapkan sudah menyediakan persediaan labu darah yang sesuai dengan pasien tersebut untuk mengantisipasi kedaan gaawat yang tidak diinginkan.
4. Pemberian Obat Premedikasi dan Antibiotik

Profilaksis sebelum dilakukannya operasi pasien akan diberikan obat-obatan premesikasi untuk memberikan kesempatan pasien mendapatkan waktu istirahat yangcukup. Obat-obatan premedikasi yang biasanya diberikan adalah valium dan diazepam . An tibi otik profi laksi s biasanya di beri kan dengan s ebelum tujuan pasi en mencegah

di operasi . Antibiotik

profilaksis

diberikan

terjadinya infeksi selamaoperasi dilakukan, obat-obatan antibiotik profilaksis ini diberikan 1-2 jam sebelumoperasi dimulai. Antibiotik yang dapat diberikan adalah cefriaxone 1 gram atau obat-obat lain yang sesuai dengan indikasi pasien.

5. Persiapan Operator, Alat dan Ruangan Persiapan Operator dapat berupa pemakaian pelindung operasi meliputi sarung tangan, masker, ataupun imunisasi. Untuk persiapan alat dan ruangan dapat berupa sterilisasi dan dekontaminasi, pelindung permukaan, persiapan peralatan tajam, persiapan peralatan disposibel (sekali pakai). b. Pasca bedah Pemasangan obturator Sebaiknya dilakukan pembuatan obturator pasca pembedahan untuk mencegah penimbunan beku darah dan penimbunan sisa makanan pada daerah pembedahan. Dapat juga menggunakan surgical template seperti splin atau stent untuk menyokong flap mukosal dengan tulang sehingga tiak ada daerah penimbunan beku darah, terbuat dari bahan plastis atau resin akrilik. Pada pasien yang tidak bergigi dapat berupa dasar gigitiruan, dan pada pasien yang masih bergigi berupa dasar gigitiruan dengan penambahan pembuatan klamer untuk retensi. Pemberian obat-obatan Setelah dilakukan pembedahan pasti ada rasa sakit, sangat penting untuk dokter gigi menjelaskan keadaan ini kepada pasien, pemberian obat-obatan yang penting setelah pembedahan yaitu analgesik dan antibiotik, pemberian analgesik adalah untuk mengurangi rasa sakit setelah pembedahan, pemberian antibiotik untuk mencegah terjadinya inflamasi pada daerah palatum. Menjaga kebersihan rongga mulut Kontrol perawatan dilakukan setiap hari dengan irigasi salin steril atau antiseptik (obat kumur). Pasien disarankan untuk menjaga kebersihan rongga mulut terutama pada daerah pembedahan, pada hari pertama setelah pembedahan pasien disarankan menyikat gigi dengan perlahan dekat daerah pembedahan untuk mencegah terjadinya pendarahan dan rasa sakit . Pasien dianjurkan untuk makan makanan lunak untuk mencegah adanya penekanan

daerah palatum pada waktu pengunyahan. Jahitan dapat dibuka dalam waktu 7-10 hari dan penyembuhan daerah palatal 3-6 minggu.