Anda di halaman 1dari 2

Ingkar Janji

Namaku Doni, saat masih kecil aku mempunyai seorang sahabat. Namanya Riko. Dari kecil hingga TK kami selalu bermain bersama. Kedekatan kami karena kedua mama kami bersahabat sejak lama. Hari-hariku selalu kuhabiskan bersamanya. Tiba saat memasuki jenjang SD, pergaulan kami mulai berbeda. Riko selalu sibuk dengan buku-buku tebalnya. Kacamatanya-pun tak kalah tebal. Sementara aku banyak menemukan banyak teman baru di sekolah. Aku lebih banyak bermain dan bersama dengan mereka. Riko sangat menutup diri dari pergaulan. Hubungan persahabatan kami mulai renggang. Aku mulai males mengajaknya bermain. Sempat aku mengajaknya bersama teman-temanku, tetapi yang ada dipikirannya hanya buku, buku, dan buku. Kami semakin menjauh. Akhir-akhir ini mama jarang melihat kamu main sama Riko, udah putus ya? Celetuk mama. Heee, emang Doni pacaran sama Riko? Males aja ngajak main dia maa! Jawabku setengah malas. Ajak lah sekali-sekali, mamanya Riko bilang Riko jadi kurang punya pergaulan. Apalagi semenjak kamu jarang main lagi sama dia, ucap mama. Emang sifatnya dia kayak gitu maa! Susah banget di ajak bergaul. Giliran diajak main, yang dibahas buku lagi, buku lagi. Siapa yang suka coba? Makanya dia di jauhi temen-temen, kataku menjelaskan. Ya kalau teman-teman barunya menjauhi, temannya yang lama kan masih ada. Sekali-sekali ajak lah Riko bermain. Mamanya bilang Riko jadi sakit-sakitan karena kurang bergerak, pinta mama padaku. Ia deh, aku usahain, sahutku sembari menuju ke kamar. Akhirnya aku berinisiatif mengajak Doni memancing pada hari minggu siang. Aku mengajak ia memancing di waduk dekat rumah, dan dia tidak menolak tawaranku. Tiba pada hari minggu, kami meluangkan waktu bersama. Pagi harinya aku berpamitan sama mama. Aku menuju tempat kami janjian. Di perjalanan, aku mampir sebentar ke toko untuk membeli bekal makanan saat memancing. Hai Doni! Sapa Rio teman sekolahku. Hai Rio, kamu ngapain ke toko pagi-pagi gini? Tanya ku. Aku baru beli kaset playstation baru nih. Tapi aku ngga ada lawan buat tanding,

kamu mau nemenin aku maen PS di rumah ku? Aku traktir deh, ucap Rio dengan semangat. Melihat banyak kaset game baru di tangannya, tak kuasa aku menolak ajakan Rio. Dari pagi sampai sore kami asik bermain PS. Di tengah kegembiraan itu ada satu hal yang mengganjal pikiranku. Tetapi karena sudah terlanjur asik bermain, aku tak terlalu memikirkannya. Hujan turun dengan derasnya. Rio, aku pulang dulu ya, udah sore nih. Aku takut dimarah mama, ucap ku. Masih hujan nih Don, masa kamu mau pulang? Kita lanjutin aja dulu mainnya. Lihat tuh, petirnya serem banget, angin nya gede lagi. Santai aja lah dulu, kata Rio seraya menenangkan ku. Iya sih, serem juga. Aku numpang mandi di rumahmu ya? Ucapku pada Rio. Oke Friend, ngga masalah. Anggap aja rumah mu sendiri, sahut Rio mantap. Kami terus bermain sambil menunggu hujan reda. Sekitar jam 9 malam aku pulang. Sesampai di rumah aku sudah ditunggu oleh mama. Dari mana kamu Don, jam segini baru pulang? Tanya mama. Main dari rumah temen ma, sahutku. Merasa punya janji ngga sama sahabatmu? Tanya mama dengan nada menyindir. Astaga, kataku dalam hati. Aku lupa punya janji mancing sama Riko di waduk. Tadi mamanya Riko nelfon mama, katanya Riko pulang dengan keadaan basah kuyup. Kamu tega membiarkan Riko seharian menunggu kamu di waduk, sampai kehujanan pula. Sekarang Riko ada di Rumah Sakit karena kondisi fisiknya memburuk. Mama harus bilang apa sama mamanya Riko? Mama harus bilang kamu lagi seneng-seneng sama temen kamu yang lain dan lupa punya janji sama Riko? Ucap mama kesal. Maafin Doni ma, Doni janji ga bakal ngulang kesalahan yang sama, jawabku memohon. Minta maaf jangan sama mama, tetapi sama Riko dan mamanya. Jangan pernah ngulang kesalahan ini lagi, mengerti?. Ngerti ma, sahutku pelan. Akhirnya malam itu juga aku minta mama nganter aku ke Rumah Sakit tempat Riko di rawat. Sejak hari itu aku berjanji akan selalu menepati janjiku kepada siapapun.