Anda di halaman 1dari 8

Sejarah Institut Akuntan Publik Indonesia (IAPI)

May 14, 2008 Hardi Institut Akuntan Publik Indonesia (IAPI) atau Indonesian Institute of Certified Public Accountants (IICPA), mempunyai latar belakang sejarah yang cukup panjang, dimulai dari didirikannya Ikatan Akuntan Indonesia di tahun 1957 yang merupakan perkumpulan akuntan Indonesia yang pertama. Perkembangan profesi dan organisasi Akuntan Publik di Indonesia tidak bisa dipisahkan dari perkembangan perekonomian, dunia usaha dan investasi baik asing maupun domestik, pasar modal serta pengaruh global. Secara garis besar tonggak sejarah perkembangan profesi dan organisasi akuntan publik di Indonesia memang sangat dipengaruhi oleh perubahan perekonomian negara pada khususnya dan perekonomian dunia pada umumnya. Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) : 23 Desember 1957 Di awal masa kemerdekaan Indonesia, warisan dari penjajah Belanda masih dirasakan dengan tidak adanya satupun akuntan yang dimiliki atau dipimpin oleh bangsa Indonesia. Pada masa ini masih mengikuti pola Belanda masih diikuti, dimana akuntan didaftarkan dalam suatu register negara. Di negeri Belanda sendiri ada dua organisasi profesi yaitu Vereniging van Academisch Gevormde Accountans (VAGA ) yaitu ikatan akuntan lulusan perguruan tinggi dan Nederlands Instituut van Accountants (NIvA) yang anggotanya terdiri dari lulusan berbagai program sertifikasi akuntan dan memiliki pengalaman kerja. Akuntan-akuntan Indonesia pertama lulusan periode sesudah kemerdekaan tidak dapat menjadi anggota VAGA atau NIvA. Situasi ini mendorong Prof. R. Soemardjo Tjitrosidojo dan empat lulusan pertama FEUI yaitu Drs. Basuki T.Siddharta, Drs. Hendra Darmawan, Drs. Tan Tong Joe dan Drs. Go Tie Siem memprakarsai berdirinya perkumpulan akuntan Indonesia yang dinamakan Ikatan Akuntan Indonesia yang disingkat IAI pada tanggal 23 Desember 1957 di Aula Universitas Indonesia. Ikatan Akuntan Indonesia Seksi Akuntan Publik (IAI-SAP) : 7 April 1977 Di masa pemerintahan orde baru, terjadi banyak perubahan signifikan dalam perekonomian Indonesia, antara lain seperti terbitnya Undang-Undang Penanaman Modal Asing (PMA) dan Penanaman Modal Dalam negeri (PMDN) serta berdirinya pasar modal. Perubahan perekonomian ini membawa dampak terhadap kebutuhan akan profesi akuntan publik, dimana pada masa itu telah berdiri banyak kantor akuntan Indonesia dan masuknya kantor akuntan asing yang bekerja sama dengan kantor akuntan Indonesia. 30 tahun setelah berdirinya IAI, atas gagasan Drs. Theodorus M. Tuanakotta , pada tanggal 7 April 1977 IAI membentuk Seksi Akuntan Publik sebagai wadah para akuntan publik di Indonesia untuk melaksanakan program-program pengembangan akuntan publik. Ikatan Akuntan Indonesia Kompartemen Akuntan Publik (IAI-KAP) : 1994 Dalam kurun waktu 17 tahun sejak dibentuknya Seksi Akuntan Publik, profesi akuntan publik berkembang dengan pesat. Seiring dengan perkembangan pasar modal dan perbankan di Indonesia, diperlukan perubahan standar akuntansi keuangan dan standar

profesional akuntan publik yang setara dengan standar internasional. Dalam Kongres IAI ke VII tahun 1994, anggota IAI sepakat untuk memberikan hak otonomi kepada akuntan publik dengan merubah Seksi Akuntan Publik menjadi Kompartemen Akuntan Publik. Institut Akuntan Publik Indonesia (IAPI) : 24 Mei 2007 Setelah hampir 50 tahun sejak berdirinya perkumpulan akuntan Indonesia, tepatnya pada tanggal 24 Mei 2007 berdirilah Institut Akuntan Publik Indonesia (IAPI) sebagai organisasi akuntan publik yang independen dan mandiri dengan berbadan hukum yang diputuskan melalui Rapat Umum Anggota Luar Biasa IAI Kompartemen Akuntan Publik. Berdirinya Institut Akuntan Publik Indonesia adalah respons terhadap dampak globalisasi, dimana Drs. Ahmadi Hadibroto sebagai Ketua Dewan Pengurus Nasional IAI mengusulkan perluasan keanggotaan IAI selain individu. Hal ini telah diputuskan dalam Kongres IAI X pada tanggal 23 Nopember 2006. Keputusan inilah yang menjadi dasar untuk merubah IAI Kompartemen Akuntan Publik menjadi asosiasi yang independen yang mampu secara mandiri mengembangkan profesi akuntan publik. IAPI diharapkan dapat memenuhi seluruh persyaratan International Federation of Accountans (IFAC) yang berhubungan dengan profesi dan etika akuntan publik, sekaligus untuk memenuhi persyaratan yang diminta oleh IFAC sebagaimana tercantum dalam Statement of Member Obligation (SMO). Pada tanggal 4 Juni 2007, secara resmi IAPI diterima sebagai anggota asosiasi yang pertama oleh IAI. Pada tanggal 5 Pebruari 2008, Pemerintah Republik Indonesia melalui Peraturan Menteri Keuangan Nomor 17/PMK.01/2008 mengakui IAPI sebagai organisasi profesi akuntan publik yang berwenang melaksanakan ujian sertifikasi akuntan publik, penyusunan dan penerbitan standar profesional dan etika akuntan publik, serta menyelenggarakan program pendidikan berkelanjutan bagi seluruh akuntan publik di Indonesia. Perjalanan panjang keberhasilan organisasi akuntan publik dalam programnya meningkatkan profesi ini di Indonesia adalah berkat jasa para akuntan publik di Indonesia dibawah kepemimpinan : 1. Drs. Theodorus M. Tuanakotta 2. Drs. MP. Sibarani 3. Drs. Ruddy Koesnadi 4. Drs. Iman Sarwoko 5. Drs. Amir Abadi Jusuf 6. Drs. Ahmadi Hadibroto 7. Dra. Tia Adityasih 8. Dra. Tia Adityasih IAI-SAP 1977 - 1979 IAI-SAP 1979 - 1984 IAI-SAP/IAI-KAP 1984 - 1995 IAI-KAP 1995 - 1997 IAI-KAP 1997 - 1999 IAI-KAP 1999 - 2003 IAI-KAP 2003 - 24 Mei 2007 IAPI 24 Mei 2007 - kini

Sumber : Website IAPI (www.akuntanpublikindonesia.com)

[sunting] Sejarah

IAPI mempunyai latar belakang sejarah yang cukup panjang, dimulai dari didirikannya Ikatan Akuntan Indonesia di tahun 1957 yang merupakan perkumpulan akuntan Indonesia yang pertama. Perkembangan profesi dan organisasi Akuntan Publik di Indonesia tidak bisa dipisahkan dari perkembangan perekonomian, dunia usaha dan investasi baik asing maupun domestik, pasar modal serta pengaruh global. Secara garis besar tonggak sejarah perkembangan profesi dan organisasi akuntan publik di Indonesia memang sangat dipengaruhi oleh perubahan perekonomian negara pada khususnya dan perekonomian dunia pada umumnya.

[sunting] Ikatan Akuntan Indonesia


Di awal masa kemerdekaan Indonesia, warisan dari penjajah Belanda masih dirasakan dengan tidak adanya satupun akuntan yang dimiliki atau dipimpin oleh bangsa Indonesia. Pada masa ini masih mengikuti pola Belanda masih diikuti, dimana akuntan didaftarkan dalam suatu register negara. Di negeri Belanda sendiri ada dua organisasi profesi yaitu Vereniging van Academisch Gevormde Accountans (VAGA ) yaitu ikatan akuntan lulusan perguruan tinggi dan Nederlands Instituut van Accountants (NIvA) yang anggotanya terdiri dari lulusan berbagai program sertifikasi akuntan dan memiliki pengalaman kerja. Akuntan-akuntan Indonesia pertama lulusan periode sesudah kemerdekaan tidak dapat menjadi anggota VAGA atau NIvA. Situasi ini mendorong Prof. R. Soemardjo Tjitrosidojo dan empat lulusan pertama FEUI yaitu Drs. Basuki T.Siddharta, Drs. Hendra Darmawan, Drs. Tan Tong Joe dan Drs. Go Tie Siem memprakarsai berdirinya perkumpulan akuntan Indonesia yang dinamakan Ikatan Akuntan Indonesia yang disingkat IAI pada tanggal 23 Desember 1957 di Aula Universitas Indonesia.

[sunting] Ikatan Akuntan Indonesia Seksi Akuntan Publik (IAI-SAP)


Di masa pemerintahan orde baru, terjadi banyak perubahan signifikan dalam perekonomian Indonesia, antara lain seperti terbitnya Undang-Undang Penanaman Modal Asing (PMA) dan Penanaman Modal Dalam negeri (PMDN) serta berdirinya pasar modal. Perubahan perekonomian ini membawa dampak terhadap kebutuhan akan profesi akuntan publik, dimana pada masa itu telah berdiri banyak kantor akuntan Indonesia dan masuknya kantor akuntan asing yang bekerja sama dengan kantor akuntan Indonesia. 30 tahun setelah berdirinya IAI, atas gagasan Drs. Theodorus M. Tuanakotta, pada tanggal 7 April 1977 IAI membentuk Seksi Akuntan Publik sebagai wadah para akuntan publik di Indonesia untuk melaksanakan program-program pengembangan akuntan publik.

[sunting] Ikatan Akuntan Indonesia Kompartemen Akuntan Publik (IAI-KAP)


Dalam kurun waktu 17 tahun sejak dibentuknya Seksi Akuntan Publik, profesi akuntan publik berkembang dengan pesat. Seiring dengan perkembangan pasar modal dan perbankan di Indonesia, diperlukan perubahan standar akuntansi keuangan dan standar profesional akuntan publik yang setara dengan standar internasional. Dalam Kongres IAI

ke VII tahun 1994, anggota IAI sepakat untuk memberikan hak otonomi kepada akuntan publik dengan merubah Seksi Akuntan Publik menjadi Kompartemen Akuntan Publik.

[sunting] Institut Akuntan Publik Indonesia (IAPI)


Setelah hampir 50 tahun sejak berdirinya perkumpulan akuntan Indonesia, tepatnya pada tanggal 24 Mei 2007 berdirilah Institut Akuntan Publik Indonesia (IAPI) sebagai organisasi akuntan publik yang independen dan mandiri dengan berbadan hukum yang diputuskan melalui Rapat Umum Anggota Luar Biasa IAI Kompartemen Akuntan Publik. Berdirinya Institut Akuntan Publik Indonesia adalah respons terhadap dampak globalisasi, dimana Drs. Ahmadi Hadibroto sebagai Ketua Dewan Pengurus Nasional IAI mengusulkan perluasan keanggotaan IAI selain individu. Hal ini telah diputuskan dalam Kongres IAI X pada tanggal 23 Nopember 2006. Keputusan inilah yang menjadi dasar untuk merubah IAI Kompartemen Akuntan Publik menjadi asosiasi yang independen yang mampu secara mandiri mengembangkan profesi akuntan publik. IAPI diharapkan dapat memenuhi seluruh persyaratan International Federation of Accountans (IFAC) yang berhubungan dengan profesi dan etika akuntan publik, sekaligus untuk memenuhi persyaratan yang diminta oleh IFAC sebagaimana tercantum dalam Statement of Member Obligation (SMO). Pada tanggal 4 Juni 2007, secara resmi IAPI diterima sebagai anggota asosiasi yang pertama oleh IAI. Pada tanggal 5 Februari 2008, Pemerintah Republik Indonesia melalui Peraturan Menteri Keuangan Nomor 17/PMK.01/2008 mengakui IAPI sebagai organisasi profesi akuntan publik yang berwenang melaksanakan ujian sertifikasi akuntan publik, penyusunan dan penerbitan standar profesional dan etika akuntan publik, serta menyelenggarakan program pendidikan berkelanjutan bagi seluruh akuntan publik di Indonesia. Tanggal 5 dan 6 Desember kantor tempat saya bekerja (Ikatan Akuntan Indonesia divisi USAP) mengadakan kegiatan Ujian Sertifikasi Akuntan Publik Indonesia (Certified Public Accountant-Indonesia). Di Auditorium Binakarna Menara Bidakara, Jakarta. Kegiatan ini diadakan dua kali setahun dengan tujuan menyaring profesi para akuntan untuk lebih profesional dalam bidangnya. Periode ini ada 306 peserta yang mengikuti, mereka berasal dari berbagai kalangan (akuntan publik, akuntan pemerintahan, akuntan pendidik, konsultan, dsb). Di periode sebelumnya ada 241 peserta yang mengikuti dan yang berhasil lulus hanya 11 orang (GOSH!!! could you imagine???), tentunya harus memenuhi standar kualifikasi yang telah ditetapkan yang disesuaikan dengan kondisi bidang akuntansi di Indonesia. Tidak mudah memang, karena para akuntan yang mengikuti ujian ini harus mengikuti tes kemampuan tujuh subjek pokok, yaitu: Pelaporan Akuntansi dan Keuangan (PAK), Auditing dan Jasa Atestasi lainnya (AUD), Akuntansi Manajemen (AM), Manajemen Keuangan (MK), Sistem Informasi Akuntansi (SIA), Perpajakan (PJK), Hukum Komersial (HK). Jumlah soal yang harus mereka jawab terdiri dari 385 soal pilihan ganda dan 6 essai. Kali ini adalah pengalaman pertama saya menjadi panitia sekaligus pengawas (cadangan), secara salah satu pengawas dari UI berhalangan hadir karena sakit.

Fiuhh!!! Capek juga mengawasi orang ujian 8 jam seharian, hanya diselingi dengan sholat, lunch dan coffebreak. Tapi saya cukup menikmati, karena saya senang mengamati banyak hal.

Sewaktu pelaksanaan ujian ada banyak hal-hal lucu, saya mengamati tingkah laku beberapa peserta. Hari pertama saya mengawas di sektor satu baris ke 11 dan 12. Perlu diketahui, sepuluh orang peserta diawasi oleh seorang pengawas yang posisinya masing-masing berada di samping meja ujian. Meja yang digunakan bentuknya memanjang tanpa laci atau tempat untuk menaruh barang apapun, di atas meja tak boleh ada barang lain selain alat tulis dan kartu ujian yang terpampang foto si peserta untuk dicocokkan dengan wajah peserta (maklum, sudah rahasia umum perjokian di Indonesia marak, khususnya di bidang pendidikan). Jarak satu peserta ke peserta lainnya setengah meter dari kiri kanan dan depan belakang. Setiap peserta tidak mendapatkan soal yang sama dengan peserta di sebelah kanan kiri dan depan belakangnya. Jadi, kualitas pelaksanaan ujian tergantung dari pengawas. Waktu yang diberikan untuk menyelesaikan soal berkisar 1 - 2 menit. Beberapa hal yang sering membuat saya tertawa geli sendirian sewaktu mengawasi ujian lebih dikarenakan pengamatan saya terhadap tingkah laku peserta, seperti: mondar-mandir ke toilet dibuntuti pengawas dan ditunggu di depan pintu toilet (hahaha...), garuk-garuk kepala, mengelus-elus kening, diam dengan tegak seperti sedang memohon pencerahan (mungkin berkonsentrasi mengumpulkan ingatan akan pengetahuan yang bisa membantu menjawab soal yang ada), menggoyang-goyangkan kaki, mengusap-usap tengkuk leher, memencet hidung atau juga mengelus-elusnya, merem melek, melihat ke atas, komat kamit, ada juga ibu hamil yang mengelus-elus perutnya (mungkin untuk menenangkan si jabang bayi yang mulai bergerak, atau berharap keberuntungan si bayi membantu menjawab soal, lho???), ada juga yang teler alias tidur, dan masih banyak lagi. Ya ampuuunnn!!! bayar untuk ikut ujian hingga 3 juta tapi kok nggak siap??? Orang-orang yang direkrut untuk pelaksanaan ujian ini adalah orang-orang independen dan disaring cukup ketat. Diusahakan untuk komit dengan kesepakatan untuk bebas dari conflict of interest, karena tanggung jawab orang-orang ini adalah ke publik. Tak ada pihak manapun yang punya hak menekan. Mohon doanya yaa...Semoga atasan saya dan tim dapat bekerja dengan baik hingga pengumuman kelulusan.

Btw, hari pertama berangkat ke tempat pelaksanaan Jakarta diguyur hujan semalaman, alhasil di beberapa wilayah terkena banjir. Jalan-jalan yang harus saya lalui dari rumah ke Menara Bidakara pun begitu. Jam 5 pagi saya sudah berangkat naik bus Patas AC 49 jurusan Tanjung Priuk - Blok M, setelah sebelumnya saya naik angkot KWK 07 ke Halte Polres Jak-Ut dengan menenteng sepatu dan memakai sandal jepit kuning. Setelah mendapati kursi empuk di bus, saya sibuk mengganti sandal jepit dengan sepatu. Saya selalu menyediakan tisu basah antiseptik, lalu saya bersihkan kulit kaki saya menggunakan tuh tisu, dilanjutkan memakai kaus kaki dan sepatu boots hitam. Rasa tenang hinggap ketika bus yang saya tumpangi memasuki jalan tol, jalur alternatif terbaik ketika Jakarta diguyur hujan. Tiba di Bidakara jam 7 kurang 15 menit, saya janji jam setengah 7 (terlambat 15 menitt euyy!!!), sorenya saya memutuskan untuk ikut menerima tawaran menginap panitia di Hotel Bumi Karsa yang masih satu komplek dengan area ujian. Subuh sekitar jam 4 suhu badan saya mulai naik, OMG! Saya drop, alhasil hari ke dua saya tak dapat bekerja secara maksimal. Manajer saya menegaskan saya untuk istirahat di kamar hingga jam 12 siang plus mengkonsumsi obat dan multivitamin. Rasanya berat meninggalkan teman-teman lain yang satu tim, meninggalkan tugas, meninggalkan momen-momen dan hal-hal lucu (meski mungkin ada yang beranggapan membosankan).

Akuntan Publik
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari Akuntan Publik adalah akuntan yang telah memperoleh izin dari Menteri Keuangan untuk memberikan jasa akuntan publik (lihat di bawah) di Indonesia. Ketentuan mengenai Akuntan Publik di Indonesia diatur dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor 17/PMK.01/2008. Setiap Akuntan Publik wajib menjadi anggota Institut Akuntan Publik Indonesia (IAPI), asosiasi profesi yang diakui oleh Pemerintah.

Daftar isi

1 Perizinan o 1.1 Ujian Sertifikasi Akuntan Publik 2 Kantor Akuntan Publik 3 Bidang jasa 4 Akuntan Publik di negara lain o 4.1 Amerika Serikat 5 Lihat pula 6 Pranala luar

[sunting] Perizinan
Izin Akuntan Publik dikeluarkan oleh Menteri Keuangan. Akuntan yang mengajukan permohonan untuk menjadi Akuntan Publik harus memenuhi persyaratan sebagai berikut:

Memiliki nomor Register Negara untuk Akuntan. Memiliki Sertifikat Tanda Lulus USAP yang diselenggarakan oleh IAPI. Apabila tanggal kelulusan USAP telah melewati masa 2 tahun, maka wajib menyerahkan bukti telah mengikuti Pendidikan Profesional Berkelanjutan (PPL) paling sedikit 60 Satuan Kredit PPL (SKP) dalam 2 tahun terakhir. Berpengalaman praktik di bidang audit umum atas laporan keuangan paling sedikit 1000 jam dalam 5 tahun terakhir dan paling sedikit 500 (lima ratus) jam diantaranya memimpin dan/atau mensupervisi perikatan audit umum, yang disahkan oleh Pemimpin/Pemimpin Rekan KAP. Berdomisili di wilayah Republik Indonesia yang dibuktikan dengan Kartu Tanda Penduduk (KTP) atau bukti lainnya. Memiliki Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP). Tidak pernah dikenakan sanksi pencabutan izin Akuntan Publik. Membuat Surat Permohonan, melengkapi formulir Permohonan Izin Akuntan Publik, membuat surat pernyataan tidak merangkap jabatan

sebagaimana dimaksud dalam Pasal 46, dan membuat surat pernyataan bermeterai cukup yang menyatakan bahwa data persyaratan yang disampaikan adalah benar.

[sunting] Ujian Sertifikasi Akuntan Publik


Untuk dapat menjalankan profesinya sebagai akuntan publik di Indonesia, seorang akuntan harus lulus dalam ujian profesi yang dinamakan Ujian Sertifikasi Akuntan Publik (USAP) dan kepada lulusannya berhak memperoleh sebutan "CPA Indonesia" (sebelum tahun 2007 disebut "Bersertifikat Akuntan Publik" atau BAP). Sertifikat akan dikeluarkan oleh IAPI. Sertifikat Akuntan Publik tersebut merupakan salah satu persyaratan utama untuk mendapatkan izin praktik sebagai Akuntan Publik dari Departemen Keuangan.

[sunting] Kantor Akuntan Publik


Artikel utama untuk kategori ini adalah Kantor Akuntan Publik. Akuntan Publik dalam memberikan jasanya wajib mempunyai Kantor Akuntan Publik (KAP) paling lama 6 bulan sejak izin Akuntan Publik diterbitkan. Akuntan Publik yang tidak mempunyai KAP dalam waktu lebih dari 6 bulan akan dicabut izin Akuntan Publiknya.

[sunting] Bidang jasa

Bidang jasa Akuntan Publik meliputi:

Jasa atestasi, termasuk di dalamnya adalah audit umum atas laporan keuangan, pemeriksaan atas laporan keuangan prospektif, pemeriksaan atas pelaporan informasi keuangan proforma, review atas laporan keuangan, dan jasa audit serta atestasi lainnya. Jasa non-atestasi, yang mencakup jasa yang berkaitan dengan akuntansi, keuangan, manajemen, kompilasi, perpajakan, dan konsultasi.

Dalam hal pemberian jasa audit umum atas laporan keuangan, seorang Akuntan Publik hanya dapat melakukan paling lama untuk 3 (tiga) tahun buku berturut-turut

[sunting] Akuntan Publik di negara lain


[sunting] Amerika Serikat
Artikel utama untuk kategori ini adalah Certified Public Accountant. Profesi ini dilaksanakan dengan standar yang telah baku yang merujuk kepada praktek akuntansi di Amerika Serikat sebagai ncgara maju tempat profesi ini berkembang. Rujukan utama adalah US GAAP (United States Generally Accepted Accounting Principle's) dalam melaksanakan praktek akuntansi. Sedangkan untuk praktek auditing digunakan US GAAS (United States Generally Accepted Auditing Standard), Berdasarkan prinsip-prinsip ini para Akuntan Publik melaksanakan tugas mereka, antara lain mengaudit Laporan Keuangan para pelanggan. Kerangka standar dari USGAAP telah ditetapkan oleh SEC (Securities and Exchange Commission) sebuah badan pemerintah quasijudisial independen di Amerika Serikat yang didirikan tahun 1934. Selain SEC, tcrdapat pula AICPA (American Institute of Certified Public Accountants) yang bcrdiri sejak tahun 1945. Sejak tahun 1973, pengembangan standar diambil alih oleh FASB (Financial Accominting Standard Board) yang anggotaangotanya terdiri dari wakil-wakil profesi akuntansi dan pengusaha.

Anda mungkin juga menyukai