Anda di halaman 1dari 9

II.

TINJAUAN PUSTAKA

A. Komet 1. Klasifikasi dan Morfologi komet Menurut Goenarso (2005), klasifikasi ikan komet sebagai berikut: Kingdom Phylum Class Ordo Famili Genus
Spesies

: Animalia : Chordata : Actinopterygii : Cypriniformes : Cyprinidae : Carassius


: Carassius auratus

Komet berasal dari Cina, dengan nama asing Goldfish dan di pasaran lebih dikenal dengan sebutan Mas Koki. Dikalangan pembudidaya ikan hias di dunia, ikan komet termasuk salah satu ikan hias yang sangat populer dan banyak penggemarnya. Tubuhnya yang aneh itu sulit digambarkan bentuknya dan oleh para peternak disebut fantastik. Ikan komet yang dikenal sekarang dipasaran maupun dikalangan pembudidaya bukan lagi seperti aslinya, tetapi telah jauh berbeda (Lingga dan Susanto, 2003).

Morfologi komet tidak jauh beda dengan morfologi ikan mas. Karakteristik komet masih dapat dibedakan dari karakteristik ikan mas secara umum,

meskipun jika didekatkan keduanya akan sangat mirip, oleh sebab itu diluar negeri ikan komet dijuluki sebagai ikan mas (goldfish). Ikan komet sangat aktif berenang baik di dalam kolam maupun di dalam akuarium, tidak dapat bertahan dalam ruang yang sempit dan terbatas, serta membutuhkan filtrasi yang kuat dan pergantian air yang rutin. Ikan komet banyak ditemui dengan warna putih, merah dan hitam, dapat tumbuh dan hidup hingga berumur 7 hingga 12 tahun dan panjang dapat mencapai 30 cm (Practical Fish Keeping, 2006).

Gambar 1. Morfologi ikan komet (Carassius auratus) (http://informasi-budidaya.blogspot.com/2011/02/penyebaran-ikan-hias-maskokidi-eropa.html)

Bentuk tubuh ikan komet agak memanjang dan memipih tegak (compresed) dimana mulutnya terletak di ujung tengah dan dapat disembulkan. Bagian ujung mulut memiliki dua pasang sungut. Diujung dalam mulut terdapat gigi kerongkongan yang tersusun atas tiga baris dan gigi geraham secara umum. Hampir seluruh tubuh ikan komet ditutupi oleh sisik kecuali beberapa varietas

yang memiliki beberapa sisik. Sisik ikan komet termasuk sisik sikloid dan kecil. Sirip punggung memanjang dan pada bagian belakangnya berjari keras. Letak sirip punggung bersebrangan dengan sirip perut. Garis rusuk atau line literalis pada ikan mas komet tergolong lengkap berada di pertengahan tubuh dan melentang dari tutup insang sampai ke ujung belakang pangkal ekor (Practical Fish Keeping, 2011)

2. Reproduksi dan siklus hidup komet Ikan komet dapat matang gonad dengan memperhatikan kondisi air dan nutrisi yang tepat. Perkembangbiakan ikan komet biasanya terjadi setelah perubahan temperatur yang signifikan. Ikan jantan akan mengejar ikan betina yang membawa telur agar telur lepas dengan cara menabrak dan menyenggol ikan betina. Sama seperti cypnids lainnya, telur ikan komet dilapisi lendir padat yang berfungsi sebagai perekat untuk menepel pada substrat. Telur ikan komet bisa mencapai 1000 butir. Telur ini akan menetas setelah 48 jam sampai 72 jam. Larva ikan komet ini akan terus tumbuh dan mulai menampakkan warna setelah 30 hari. Setelah 6 sampai 8 bulan ikan komet sudah dapat dijadikan calon induk (Anonim, 2012).

B. Penyakit dan Parasit Penyakit diartikan sebagai suatu keadaan fisik, morfologi dan atau fungsi yang mengalami perubahan dari keadaan normal Secara umum. penyakit dibedakan menjadi 2 jenis yaitu penyakit infeksi dan non infeksi. Penyakit infeksi disebabkan oleh organisme hidup seperti parasit, jamur, bakteri, dan virus.

10

Penyakit non infeksi disebabkan oleh faktor non hidup seperti pakan, lingkungan,keturunan dan penanganan. Parasit dapat diartikan sebagai organisme yang hidup pada organisme lain yang mengambil makanan dari tubuh organisme tersebut, sehingga organisme tempatnya makan (inang) akan mengalami kerugian (Anonim, 2012).

1. Morfologi, Fisiologi dan Adaptasi parasit Salah satu syarat dari parasitisma adalah adanya adaptasi terhadap kondisi spesifik tertentu, morphologi dan physiology sehingga parasit dapat hidup pada permukaan atau bagian dalam tubuh inang. Adaptasi yang diperlukan memungkinkan parasit untuk dapat hidup, berkembang dan bereproduksi pada kondisi tertentu dalam mikrohabitat. Adaptasi morphologi parasitisma nampak pada bentuk tubuh parasit, dimana bentuk parasit tergantung pada lokasinya dalam inang. Ektoparasit yang hidup pada bagian luar tubuh ikan umumnya berbentuk datar dorsoventral, agak concav pada salah satu sisi dan convex pada sisi lainnya, bagian sisi concave melekat pada inang dan berperan seperti disc pengisap. Parasit jenis ini sulit terlepas oleh arus ketika ikan berenang. Contoh parasit ini adalah ciliata (Chilodonella sp., Trichodina sp), branchiuran (Argulus sp.), Copepoda (Lepeopthirius sp., Caligus sp.), dan banyak spesies monogenea (Entobdella sp., Benedenia sp). Dilain pihak, parasit yang hidup pada usus, biasanya memanjang, seperti pita (cestoda), silinder (nematoda, acantocephala). Bentuk seperti ini memungkinkan kandungan usus untuk bergerak secara bebas disekitar parasit dan parasit dapat melekat dengan posisi yang aman. Beberapa adaptasi juga terlihat pada organ-organ yang dimiliki parasit. Adanya hook, pengisap (sucker) dan

11

clamp memungkin parasit monogenea untuk dapat melekat dengan aman pada permukaan tubuh atau insang inang. Scolex pada cestoda yang dilengkapi dengan pengisap dan alat pelekatan lainnya memungkinkan parasit ini untuk dapat melekat pada mukosa usus. Cephalotoraks pada banyak parasit copepoda memiliki bentuk yang memungkinkannya untuk dapat melekat secara permanen pada ikan, seperti Lernaea sp., Lernaeocera sp). Spesies lain yang dapat berpindah dari satu habitat ke habitat lain umumnya memiliki alat pelekatan berupa hook pada bagian antenna, maxilliped dan appendages lainnya (Caligus sp). Lingkungan yang diciptakan untuk parasit oleh tubuh inang, yaitu ketersediaan makanan yang tidak perlu dicari dan biasanya terdapat disekeliling tubuh parasit, dapat menyebabkan kondisi anoksia (kurang oksigen). Oleh karena itu, tidak hanya adaptasi morphologi yang dibutuhkan tetapi juga adaptasi fisiology. Beberapa parasit yang hidup di usus seperti cestoda dan acantocephala tidak memiliki system pencernaan. Makanan, yang terdapat sekeliling parasit, diabsorbsi secara osmotik melalui seluruh permukaan tubuh. Proses ini difasilitasi oleh struktur kutikula yang berbentuk microvilli yang menutupi tubuh. Microvilli ini sangat signifikan membantu proses penyerapan makanan. Parasit yang hidup pada bagian usus memiliki lingkungan yang gelap dan pergerakan yang terbatas, sehingga pada parasit ini tidak terdapat adanya organ perasa terutama mata. Parasit monogenea yang hidup pada permukaan tubuh inang dan mendapatkan pencahayaan memilki bintik mata. Di lain pihak, larva digenea (miracidium dan cercaria) yang hidup di luar tubuh inang memiliki bintik mata. Cestoda, nematoda dan acantocephala tidak memiliki bintik mata. Ektoparasit menggunakan oksigen terlarut dalam air, sedangkan endoparasit mendapatkan energi dengan melakukan

12

dekomposisi glycogen dalam selnya. Akibatnya akan dikeluarkan karbondioksida dan asam-asam lemak. Endoparasit juga terekspose enzim pencernaan yang diekskresi inang, sehingga kelangsungan hidup endoparasit hanya mungkin jika dapat menetralisir enzim pencernaan. Oleh karena itu, endoparasit mengeluarkan bahan mucoproteid untuk menetralisir enzim inang (Anshari, 2008).

2. Invasi Parasit Cara invasi parasit pada inangnya dapat dilakukan dengan berbagai cara tergantung jenis parasitnya. Ada jenis parasit yang menginvasi inang dengan cara kontak langsung, melalui rantai makanan dan penetrasi pada kulit. Siklus hidup parasit ada yang langsung dan ada yang tidak langsung. Siklus hidup langsung tidak memerlukan inang antara dan hanya membutuhkan inang utama, sedangkan siklus hidup tidak langsung memerlukan inang antara dan inang utama. Ikan dapat berperan sebagai inang antara atau inang utama tergantung jenis parasit yang menginfeksi. Cara invasi lainnya adalah dengan penetrasi langsung parasit pada kulit. Tidak semua parasit dipidahkan secara pasif dari satu inang ke inang lainnya melalui makanan atau secara phoresis. Stadia invasif dari bermacam-macam spesies, terutama cercaria dari digenea secara aktif menyerang inang, membuat luka pada bagian kulit dan menembus jauh ke dalam jaringan inang untuk menetap dan berkembang menjadi lebih lanjut yang disebut metacercaria. Cercaria memiliki adaptasi khusus yang memungkinkannya apat melukai kulit dan menembus jauh ke dalam jaringan inang. Parasit ini dilengkapi dengan alat khusus yaitu stylet pada bagian oral suckernya dan juga mengandung kelenjar penetrasi yang mengeluarkan enzim proteolitik yang dapat melarutkan jaringan inang,

13

sehingga memungkinkan bagi cercaria tersebut untuk melakukan migrasi ke target organnya (Anshari, 2008).

3. Siklus Hidup Parasit Dalam siklus hidupnya, parasit tertentu dapat memiliki siklus hidup langsung maupun tidak langsung. Siklus hidup langsung hanya memerlukan satu inang dalam siklus hidupnya. Parasit yang memiliki siklus hidup tidak langsung memerlukan lebih dari satu inang untuk kelangsungan hidupnya. Siklus hidup tidak langsung memerlukan inang antara dimana tahap larva parasit berkembang pada inang antara tersebut, dan inang utama dimana parasit tumbuh dan berkembang menjadi dewasa. Inang utama biasanya memakan inang antara sehingga parasit dapat berpindah. Selain itu parasit dapat juga berpindah pada inang lain tetapi tidak mengalami perubahan fase, inang ini disebut inang paratenik. Beberapa jenis parasit bersifat inang spesifik yang berarti bahwa parasit tersebut hanya dapat menginfeksi satu atau terbatas spesies inang. Pengetahuan tentang siklus hidup parasit sangat berguna dalam melakukan pencegahan, karena parasit dapat dihilangkan atau dicegah dengan mudah pada tahap yang paling lemah dari parasit, sebaliknya dapat menghindari treatment pada tahap yang paling resistan terhadap parasit. Sebagian besar protozoa memiliki siklus hidup langsung. Tahap infeksi parasit ini berada dalam air dan selanjutnya menginfeksi inang yang sama atau inang yang lain dan menyebar dalam populasi ikan, contoh parasit Ichthyopthirius multifilis, Amyloodinium ocellatum. Parasit darah, Cryptobia memerlukan vector/inang antara yaitu lintah Piscicola sp, dan disebarkan pada ikan ketika lintah menghisap darah ikan. Selain itu parasit

14

golongan monogenea memiliki siklus hidup langsung. Parasit ini mengeluarkan telur dan setelah menetas akan menjadi larva berenang bebas yang disebut oncomiracidia dan menginfeksi inang dalam beberapa jam. Setelah mencapai inang parasit ini bermigrasi ke target organ dan berkembang menjadi parasit dewasa. Salah satu genus dalam golongan monogenea yang tidak mengeluarkan telur adalah Gyrodactylus. Parasit ini mengeluarkan larva dari uterus parasit (viviparus) dan menginfeksi inang melalui kontak fisik. Golongan helminth seperti digenea dan cestoda memiliki siklus hidup tidak langsung. Parasit digenea mengelurkan telur (oviparus) dan selanjutnya menetas menjadi larva berenang bebas yang disebut miracidium (beberapa jenis digenea tidak melalui fase miracidium). Miracidium hanya dapat bertahan beberapa jam dalam air dan setelah menemukan inang antara I, umumnya gastropada atau bivalva, dan akan berkembang menjadi sporocyst/redia pada inang antara I. Dari inang antara I selanjutnya akan dikeluarkan larva berenang bebas yang disebut cercaria. Cercaria akan berenang secara aktif mencari inang antara II yang sesuai untuk berkembang menjadi metacercaria pada inang antara II. Jika inang antara II dimakan oleh inang utama maka parasit akan berkembang menjadi dewasa pada inang utama. Cestoda juga termasuk oviparus dan memerlukan satu atau lebih inang antara. Telur keluar bersama dengan feces ikan dan setelah menetas akan menjadi larva berenang bebas yang disebut coracidium dan selanjutnya menginfeksi inang antara I dari golongan invertebrata menjadi procercoid. Inang antara I dimakan oleh inang antara II (biasanya ikan), dan selanjutnya parasit berubah fase menjadi plerocercoid. Setelah inang antara II dimakan oleh inang utama maka parasit akan berubah menjadi tahap dewasa. Siklus hidup cestoda juga dapat melibatkan inang

15

paratenik dalam siklus hidupnya. Nematoda umumnya adalah oviparus. Inang antara umumnya adalah arthropoda. Parasit biasanya ter-encyst pada viscera dan otot dari inang antara atau inang paratenik. Acantocephala juga memerlukan inang invertebrata, biasanya arthropoda, untuk kelangsungan hidupnya. Feces yang mengandung telur parasit biasanya dimakan oleh inang antara, dan telur menetas pada saluran pencernaan inang, menjadi fase acanthor. Acanthor selanjutnya berkembang menjadi fase acanthella pada serosa usus inang antara. Selanjutnya parasit akan berkembang menjadi cystacanth, yang merupakan fase infektif dari parasit. Inang utama yang memakan inang antara menyebakan cystacanth berkembang dalam tubuh inang utama menjadi parasit dewasa. Ergasilid betina dewasa biasanya yang bersifat parasit, sedangkan ergasilid jantan tidak bersifat parasit. Siklus hidup Ergasilus sp melibatkan 6 tahap naupli, 5 tahap copepodid dan 1 tahap dewasa. Lernaea sp memerlukan hanya satu inang untuk siklus hidupnya. Parasit ini memiliki 3 tahap naupliar berenang bebas, dan 5 copepodid yang biasanya hidup pada insang (Ashary, 2008).

16