Anda di halaman 1dari 8

PETUNJUK TEKNIS PENGUJIAN KESEHATAN BENIH ( CENDAWAN )

Zaki Ismail Fahmi, SP. (Calon PBT Ahli) Balai Besar Perbenihan dan Proteksi Tanaman Perkebunan Surabaya

I.

PENDAHULUAN

Pengujian kesehatan benih bertujuan untuk mengetahui status kesehatan dari suatu kelompok benih. Pengujian ini perlu dilakukan karena banyak mikroorganisme terbawa benih yang bersifat patogenik. Patogen yang terbawa oleh benih dapat berupa cendawan, bakteri, virus dan nematode (ISTA, 2010). Metode pengujian kesehatan benih yang digunakan tergantung pada jenis benih, jenis patogen yang mungkin terbawa benih dan tujuan pengujian. Penentuan metode tersebut dimaksudkan agar deteksi dan identifikasi patogen terbawa benih dapat dilakukan dengan mudah dan akurat. Hal tersebut berarti pengujian untuk pengujian suatu contoh benih dapat digunakan lebih dari satu metode pengujian kesehatan benih. Tulisan ini bertujuan menginformasikan beberapa teknik pengujian kesehatan benih dan prosedur pengujiannya terutama terhadap patogen terbawa benih berupa cendawan.

II.

METODE PENGUJIAN KESEHATAN BENIH ( CENDAWAN ) Prinsip dari pengujian kesehatan benih diantaranya yaitu dilakukan atas permintaan

dari pelanggan, hanya dilakukan untuk mendeteksi patogen dan penyakit fisiologis tertentu, apabila contoh kirim telah mendapat perlakuan dengan pestisida atau perawatan lain maka pengirim harus menyebutkannya dan pengujian dilakukan dengan menggunakan metode dan alat yang sudah dipastikan kelayakannya untuk digunakan (BPMBTPH, 2004; dan ISTA, 2010). Contoh kerja yang digunakan dalam pengujian kesehatan benih diambil dari hasil pengujian kemurnian benih. Contoh benih harus dikemas dan dikirimkan dalam keadaan yang tidak memungkinkan terjadinya perubahan status kesehatan benih. Kebutuhan benih untuk pengujian tergantung metode yang digunakan, umumnya contoh kerja yang dibutuhkan minimal 400 butir yang terdiri atas beberapa ulangan tergantung metode dan kebijaksanaan masingmasing laboratorium (BPMBTPH, 2004; dan Ependi, 2009). Berdasarkan studi literatur (BPMBTPH, 2004; BB-PPMBTPH, 2010; dan Harahap, 2010) teknik pengujian kesehatan benih untuk mendeteksi patogen (khusunya cendawan) terbawa benih dapat dikelompokan menjadi :

a. Metode Tanpa Inkubasi 1) Metode Pengamatan Secara Visual terhadap Benih Kering Pengujian ini dilakukan secara cepat untuk mendapatkan informasi awal tentang penampakan atau status kesehatan benih. Kekurangan metode ini yaitu hanya mendeteksi cendawan yang ada di permukaan benih atau tercampur bersama benih serta kondisi fisik benih. Metode ini digunakan untuk mendeteksi cendawan yang menyebabkan gejala khas pada benih misalnya disklorisasi atau perubahan warna pada kulit benih, perubahan ukuran, dan bentuk benih. Sebagai tambahan metode ini berguna untuk mengetahui adanya serangan/infestasi serangga benih atau kerusakan benih atau melihat adanya perlakuan benih dengan pestisida. Metode ini berkaitan langsung dengan kegiatan analisis kemurnian benih (purity), yaitu apakah benih tercampur dengan benda-benda dan benih lainnya dalam proses pemberian sertifikasi benih. Prosedur : metode ini bersifat kualitatif, sehingga tidak ada standar dalam jumlah contoh benih tertentu yang digunakan dalam pengujian. 2) Metode Pencucian Benih Metode pencucian benih terutama dilakukan untuk mendeteksi cendawancendawan yang membentuk struktur di permukaan benih. Pengujian dapat dilakukan secara cepat dan mudah, namun pengujian dengan cara ini memiliki keterbatasan karena cendawan yang berada di dalam jaringan benih tidak dapat diketahui atau terdeteksi. Hasil pengujian tersebut tidak dapat menggambarkan tingkat infeksi dan infestasi patogen pada benih. Prosedur : sebagaimana pengamatan secara visual terhadap benih kering, dalam metode pencucian benih tidak ada standar dalam jumlah benih yang diuji. Prosedur yang digunakan diberbagai laboratorium adalah sebagai berikut : Benih yang akan diamati sebanyak 50 g (dari 1 kg benih contoh) dimasukkan ke dalam Erlenmeyer kemudian ditambahkan 100 ml air steril. Untuk memudahkan peluruhan struktur cendawan dari permukaan benih sering ditambahkan 1 tetes twin 20. Benih tersebut dikocok selama 5 menit dengan shaker selanjutnya disaring dengan kain kasa. Air hasil pencucian dimasukkan dalam tabung sentrifugasi dan kemudian disentrifugasi pada kecepatan 1.500 2.000 rpm selama 3 menit.

Sedimen yang terbentuk dipisahkan dengan air, caranya dengan membuang air tersebut menggunakan pipet. Pengamatan mikroskopis : sebanyak 1 ml lactofenol ditambahkan pada sedimen dalam tabung dan dicampur hingga merata. Dengan menggunakan pipet, campuran sedimen diteteskan pada gelas objek dan ditutup dengan gelas penutup dan selanjutnya dilakukan pengamatan di bawah mikroskop dengan pembesaran 100 400 kali untuk melihat struktur cendawan. Bila pendekatan kuantitatif diperlukan, maka pengamatan dapat dilakukan dengan menggunakan haemocytometer untuk mengetahui kepadatan inokulum (cendawan) per satuan berat benih.

b. Metode Inkubasi Prinsip metode ini adalah memberikan kondisi tumbuh yang optimal bagi patogen terbawa benih, baik yang ada pada permukaan maupun yang ada di dalam jaringan benih. Dengan cara tersebut maka patogen terbawa benih, terutama cendawan dapat terdeteksi dengan mengamati karakteristik pertumbuhan dan struktur cendawan. Pengujian kesehatan benih dengan metode inkubasi yang sering dilakukan adalah pengujian dengan media kertas (Blotter test) dan pengujian dengan menggunakan media agar. 1) Metode Media Kertas (Blotter test) Benih ditumbuhkan pada kertas saring basah yang telah dicelupkan ke dalam air steril, diinkubasikan selama 7 hari dengan penyinaran lampu ultraviolet selama 12 jam terang dan 12 jam dalam kondisi gelap secara bergantian. Benih yang diinkubasi tersebut diamati di bawah mikroskop stereo dengan perbesaran 50 60 kali untuk melihat pertumbuhan cendawan. Pemeriksaan cendawan dengan metode ini paling banyak digunakan karena mudah dilaksanakan dengan biaya relatif murah dan hampir semua jenis cendawan yang terbawa benih dapat diuji. Patogen yang dapat diketahui dengan metode ini adalah dari genera Aspergillus, Alternaria, Ascochyta, Botrytis, Botryodiplodia, Cladosporium, Colletotrichum, Dreshslera, Fusarium, Macrophomina, Rhizoctonia, Pheronospora dan Phoma.

Prosedur : a. Metode Inkubasi dengan Media Kertas Standar Sebanyak 400 benih diletakkan dalam cawan petri berdiameter 9 cm. Jumlah benih per cawan petri 10 atau 25 tergantung dari ukuran benih. Tiap cawan petri diberi label nomor benih dan tanggal pengujian. Sebelum benih diletakkan, cawan dialasi dengan 2 lapis kertas saring basah. Usahakan air jangan terlalu banyak (tidak tergenang). Letakkan benih satu per satu dengan menggunakan pinset. Selanjutnya benih diinkubasi pada suhu kamar dengan penyinaran lampu ultra violet 12 jam terang dan 12 jam gelap secara bergantian selama 7 hari. Pada hari ke-8 dilakukan pengamatan dengan menggunakan mikroskop. b. Metode Inkubasi dengan Media Kertas dengan Pendinginan Sebanyak 400 benih diletakan dalam cawan petri yang telah dialasi kertas saring seperti pada metode inkubasi dengan kertas standar. Benih diinkubasi selama 24 jam pada suhu ruang dengan penyinaran lampu ultra violet 12 jam terang dan 12 jam gelap. Pada hari ke-2 benih disimpan pada suhu -200C selama 24 jam. Tujuan perlakuan pendinginan tersebut adalah untuk menghambat atau menekan perkecambahan benih. Perkecambahan benih akan menyebabkan pengamatan menjadi bias. Setelah diberi perlakuan dingin kemudian benih diinkubasi selama 5 hari pada suhu ruang dengan penyinaran lampu ultra violet 12 jam terang dan 12 jam terang secara bergantian. Pada hari ke-8 benih diamati seperti prosedur pengamatan metode inkubasi dengan media kertas standar.

2) Metode Media Agar Dalam metode media agar inokulum terbawa benih dideteksi berdasarkan karakteristik koloni pada media agar yang berkembang dari benih. Secara umum prinsipnya sama dengan prinsip dari pengujian dengan media kertas. Kelebihan menggunakan media agar, yaitu memberikan informasi relatif lebih cepat dan cukup menggambarkan status kesehatan benih dibandingkan dengan metode kertas, karena ketersediaan nutrisi pada media agar memungkinkan cendawan tumbuh dan

berkembang lebih baik dan lebih cepat sehingga memudahkan dalam pengamatan. Biasanya cendawan akan membentuk koloni yang khas pada media agar. Dalam pelaksanaan pengujiannya, metode ini memerlukan persiapan yang lebih lama, relatif rumit dan mahal, terutama bila menggunakan media spesifik. Untu keperluan pengujian dengan media agar digunakan berbagai jenis media semi selektif atau selektif seperti MA (Malt Agar), PDA (Potato Dextrose Agar), WA (Water Agar). Prosedur : Media agar steril disiapkan dalam cawan petri steril. Sebanyak 400 benih dari satu contoh benih diberi perlakuan sterilisasi permukaan dengan NaOCl 1 % selama 1 menit. Kemudian benih dibilas dengan aquades, ditiriskan pada kertas saring steril. Benih diletakkan pada media agar dalam cawan petri. Tiap cawan ditanami 10 butir benih. Pekerjaan penanaman benih tersebut dilakukan secara aseptik, yaitu membersihkan tempat dan alat kerja dengan alkohol 70 %. Benih diinkubasikan pada suhu 2020 C selama 7 hari dengan penyinaran lampu ultra violet 12 jam terang dan 12 jam gelap secara bergantian. Pengamatan dengan mikroskop stereo dilakukan pada hari ke-8 tetapi dapat pula dilakukan mulai hari ke-4, karena koloni cendawan sudah mulai tampak. Hal yang diamati adalah karakteristik koloni dan struktur cendawan. Untuk bakteri bahkan pengamatan sudah dapat dilakukan pada hari ke-2 atau ke-3.

3) Metode Media Pasir Pengujian ini dapat memberikan informasi yang lebih mendekati kondisi di lapangan. Metode ini membutuhkan waktu yang lebih lama 2 minggu. Metode ini sesuai untuk patogen terbawa benih yang membutuhkan waktu inkubasi yang lebih lama. Media yang digunakan adalah tanah pasir atau batu bata yang sudah disterilisasi kemudian dibasahi dengan air steril yang cukup hingga tidak memerlukan penyiraman selama inkubasi. Suhu yang digunakan umumnya rendah yaitu (10 120 C) untuk merangsang tumbuhnya cendawan.

c. Uji Gejala pada Bibit/Kecambah Patogen dapat menghasilkan gejala pada bibit / kecambah baik pada akar, kotiledon, atau hipokotil. Benih yang terinfeksi pada kondisi yang terinfeksi pada kondisi yang menguntungkan dapat menghasilkan gejala pada bibit sama dengan gejala di lapangan, sehingga metode ini dapat digunakan untuk mendapatkan informasi yang mewakili penampakan di lapangan. Sejumlah cendawan terbawa benih sering menghasilkan gejala infeksi atau serangan pada kecambah atau bibit tanaman. Gejala terjadi pada akar, batang, daun atau seluruh bagian kecambah atau bibit tanaman. Pada berbagai kejadian inokulum cendawan terbawa benih menyebabkan kematian tanaman atau kecambah. Media tumbuh yang digunakan untuk pengujian gejala pada bibit / kecambah adalah media pasir, bata merah, campuran pasir, dan tanah serta media buatan seperti agar air. Pengujian kesehatan benih dengan gejala bibit / kecambah mempunyai beberapa kelebihan dibandingkan metode yang lain, antara lain : a. Dapat mengamati penularan (transmisi) patogen dari benih ke tanaman dari satu fase ke fase pertumbuhan tanaman. b. Beberapa patogen tidak mudah dideteksi dengan metode lain karena serangan patogen tersebut yang bersifat laten. Sehingga diperlukan fase tertentu pertumbuhan tanaman agar gejala dan perkembangan patogen dapat dideteksi. c. Sangat bermanfaat untuk pengujian contoh benih yang jumlahnya terbatas seperti benih hasil pemuliaan pada tahap tertentu. d. Pengujian gejala bibit / kecambah dapat digunakan untuk evaluasi efektivitas perlakuan benih.

Pangujian dengan media agar air (water agar) : Prosedur : Tuangkan 10 ml agar air ke dalam tabung reaksi ukuran 160 x 16 mm kemudian tutup dengan kapas dan selanjutnya disterilisasi pada temperatur 1200C selama 15 menit. Sebutir benih ditanam pada media agar air steril. Sebelum dan sesudah penanaman, tabung tetap tertutup dengan kapas. Penanaman dikerjakan secara aseptik.

Tabung reaksi yang berisi media agar air dan benih kemudian diletakkan pada rak tabung reaksi dan diinkubasikan sampai 14 hari pada temperatur ruang dengan penyinaran lampu ultraviolet.

Setelah masa inkubasi diamati gejala yang timbul, koloni cendawan dan struktur

III.

PERHITUNGAN DAN PELAPORAN

Hasil pengujian dinyatakan dalam persentase berdasarkan jumlah benih yang terinfeksi cendawan pada jumlah benih yang diuji. % infeksi = jumlah benih yang terinfeksi x 100% Jumlah benih yang ditabur Dalam pelaporannya mencantumkan hal-hal sebagai berikut : nama latin patogen yang menginfeksi, persentase infeksi, metode pengujian yang digunakan (termasuk perlakuan pendahuluan yang dilaksanakan sebelum benih diinkubasi), jumlah benih atau bagian benih yang diperiksa, waktu pengujian, jumlah contoh kirim, tanggal panen, nama dan paraf analis yang melaksanakan pengujian pada buku analis dan kartu induk pengujian (BPMBTPH, 2004; BB-PPMBTPH, 2010; dan ISTA, 2010).

IV.

PENUTUP

Hasil pengujian kesehatan benih dapat memberikan cara perlakuan (treatment) dalam suatu lot benih untuk mengendalikan patogen terbawa benih atau mengurangi penyebaran penyakit. Patogen terbawa benih dapat berupa cendawan, bakteri, virus dan nematode. Kelompok cendawan merupakan patogen yang paling dominan berasosiasi dengan benih. Metode pengujian kesehatan benih yang digunakan sangat tergantung pada jenis benih, jenis patogen yang terbawa benih dan tujuan pengujian. Metode pengujian kesehatan benih ( cendawan ) dikelompokkan menjadi : a. b. Metode Tanpa Inkubasi Metode Pengamatan secara Visual terhadap Benih Kering Metode Pencucian Benih Metode Inkubasi Media Kertas (Blotter Test)

c.

Media Agar Media Pasir Uji Gejala pada Bibit / Kecambah

DAFTAR PUSTAKA Balai Pengembangan Mutu Benih Tanaman Pangan dan Hortikultura. 2004. Pengujian Mutu Benih Tanaman Pangan dan Hortikultura. Direktorat Perbenihan, Direktorat Jendral Bina Produksi Tanaman Pangan, Departemen Pertanian, Jakarta. 255 hal. Balai Besar Pengembangan Mutu Benih Tanaman Pangan dan Hortikultura. 2010. Kesehatan Benih (Cendawan, Bakteri, Virus dan Nematoda. Direktorat Jendral Tanaman Pangan, Kementrian Pertanian, Jakarta. 86 hal. Ependi, I. 2009. Uji Kesehatan Benih. http://asgarsel.blogspot.com/2009/10/ujikesehatan-benih.html. Akses 12 Maret 2011. Harahap, L. H. 2010. Pengujian Kesehatan Benih Impor. www.bbkpbelawan.go.id .deptan.go.id. Akses 13 Maret 2011. ISTA. 2010. International Rules for Seed Testing Edition 2010. ISTA Co., Switzerland. Last Updated ( Thursday, 26 May 2011 13:26 ) BALAI BESAR PERBENIHAN & PROTEKSI TANAMAN PERKEBUNAN SURABAYA DIREKTORAT JENDERAL PERKEBUNAN - KEMENTERIAN PERTANIAN