Anda di halaman 1dari 16

Sampling, Penyimpanan, Penentuan : Potensial Redoks, Kapasitas Tukar Cation (CEC), Kadar C-Organik, dan Kadar Fosfat dalam

Fraksi (ELFE, AR, OO, Refractory) pada Sampel Sedimen

PROPOSAL PRAKTIKUM ANALISIS BAHAN PERTANIAN DAN LINGKUNGAN

Disusun Oleh: 1. 2. 3. 4. Algafari Bakti Manggara Candra Irawan Pauzan Layta Dinira 116090200111009 116090200111007 116090200011005

PROGRAM STUDI KIMIA FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM PROGRAM PASCASARJANA UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG 2012

I. Sampling dan Penyimpanan Sampel Sedimen (dikerjakan bersama) Sampel sedimen diambil dengan menggunakan grab sampler yang kemudian dimasukkan ke dalam plastik klip sebanyak 250 gram untuk masing-masing titik pengambilan sampel. Sampel sedimen diambil pada tiap stasiun dengan menggunakan alat Ekman grab. Sampel sedimen yang diambil merupakan sedimen pada bagian permukaan dasar perairan yang memiliki ketebalan kurang dari 20 cm. Contoh sedimen kemudian ditampung dalam botol polyetylen. Selanjutnya tempat sampel dibungkus dengan kantong plastik dan selanjutnya dimasukkan ke dalam Cool box untuk diangkut menuju laboratorium. Sampel sedimen kemudian dianalisa di laboratorium Fakultas MIPA Universitas Brawijaya untuk diukur parameter fisika dan kimianya. Pengambilan data sedimen dimaksudkan sebagai data dasar dalam mengumpulkan dan menganalisis kondisi eksisting kualitas perairan serta sebagai indikator pencemaran lingkungan di lokasi kajian.

II. Penentuan Potensial Redoks (Candra Irawan) 1. Latar Belakang Salah satu dinamika ion yang paling menonjol dalam penggenangan sedimen adalah kelarutan besi dari ion Fe+3 menjadi Fe+2 yang berpotensi menyebabkan keracunan. Perubahan bentuk Fe+3 menjadi Fe+2 terjadi karena adanya perubahan suasana oksidatif menjadi reduktif. Reaksi tersebut melibatkan aktivitas mikroba tanah menstimulasi proses reduksi Fe+3 menjadi Fe+2, meningkatkan pH, menurunkan Eh, dan terjadi peningkatan ketersediaan P. Reaksi reduksi besi dapat digambarkan berikut ini (Yoshida, 1981).

Tingginya aktivitas ion Fe2+ sebagai pemicu terjadinya fiksasi hara P sehingga ketersediaannya berbanding terbalik dengan tingkat aktivitas ion Fe2+ tetapi berbanding lurus dengan perubahan nilai Eh. Ponnamperuma, Castro dan Valencia (1969) menyatakan umumnya potensial redoks mengalami penurunan dari 700 mV sampai 300 mV, sedangkan pH sedimen berubah dari 4,5 menjadi 6,5 7,0. Patrick dan Redy (1978) menjelaskan adanya perubahan pada sedimen tergenang yang disertai dengan perubahan elektrokimia yang dapat merugikan tanaman. Potensial redoks merupakan sifat elektrokimia yang dapat dipakai sebagai indikasi dalam mengukur derajat anaerobiosis tanah dan tingkat transformasi biogeokimia yang terjadi (Patrick

dan Mahapatra, 1968; Ponnamperuma, 1972). Kondisi anaerob, mikroorganisme fakultatif dan obligat akan menggunakan oksidan anorganik selain oksigen sebagai akseptor elektron, seperti NO3- Mn4+, Fe3+, CO2, N2 dan H+, yang kemudian akan direduksi berturt-turut menjadi N2, Mn2+, Fe2+, H2S, CH4, NH4+, dan NH2 (Patrick dan Reddy, 1978) yang juga telah diperoleh dari hasil kajian Basir-Cyio (2001) dan Darman (2003). 2. Prinsip Kemampuan (ability) sedimen untuk mereduksi atau mengoksidasi senyawa dikenal sebagai POTENSIAL REDOKS (sering disingkat Eh). Dengan mengukur nilai Eh pada kedalaman berbeda, lokasi dari lapisan Redox Potensial Discontinuity (RPD) dapat ditentukan. RPD menggambarkan suatu perubahan dari kondisi oksidasi kereduksi, hal ini berhubungan secara luas dengan lingkungan aerobik dan anaerobik. Eh tinggi (> + 200 mv) merupakan zona oksidasi Eh rendah (< 0 mv) merupakan zona reduksi Eh sedang (0 200 mv) merupakan zona transisi 3. Metode 3.1 Alat dan Bahan Alat-alat yang akan digunakan pada percobaan ini adalah corer, plastik, neraca analitis, Multi water Quality checker, dan Ice box. Bahan yang akan digunakan pada percobaan ini adalah sedimen. 3.2 Prosedur Pengambilan sampel sedimen dilakukan dengan menggunakan corer berdiameter 5 cm pada lapisan di berbagai kedalaman yaitu 010 cm, 1020 cm dan 2030 cm pada setiap titik sampling. Sampel sedimen diambil sebanyak 500 gram kemudian dimasukkan ke dalam plastik hitam untuk dianalisis di laboratorium. Untuk pengukuran pH dan potensial redoks (Eh) sedimen, sampel sedimen diambil dengan corer pada lapisan di berbagai kedalaman yaitu 2cm, 4 cm dan 6 cm pada setiap titik sampling. Sampel sedimen yang telah diambil dimasukkan ke dalam kantong plastik hitam, selanjutnya dimasukkan ke dalam ice box untuk meminimalkan aktivitas mikroorganisme dan ditutup rapat untuk mencegah terjadinya oksidasi dengan udara bebas. Pengukuran Eh pada setiap lapisan di berbagai kedalaman sedimen dilakukan dengan menggunakan EhpH meter (Multi water Quality checker).

4. Referensi Darman, S., 2003, Pengaruh Penggenangan dan Pemberian Bahan Organic Terhadap Potensial Redoks, pH, Status Fe, P, dan Al Dalam Larutan Tanah Ultisol Kulawi, J. Agroland 10, 2:119-125. Gotoh, S.H. dan Patrick, Jr., 1972, Transformation of Manganese in Water Logged Soil as Affected by Eh & pH, Soil Scisoc. Amer. Porc, 34:738 742 Tatu, I. Z., 2001, Kajian Penggenangan Terhadap Potensial Redoks, Keasaman, dan Status Fe, P, Al Terlarut Tanah Ultisol Kulawi, Faperta, Univ. Tadulako. Unpublish.

III. Penentuan Kapasitas Tukar Kation (Cation Exchange Capacity) (Layta Dinira) 1. Latar Belakang Salah satu sifat kimia tanah yang terkait erat dengan ketersediaan hara bagi tanaman dan menjadi indikator kesuburan tanah adalah Cation Exchange Cappacity (CEC) atau Kapasitas Tukar Kation (KTK). Preparasi sampel tanah untuk penentuan Kapasitas Tukar Kation (KTK) dapat dilakukan dengan beberapa cara, di antaranya menggunakan perkolasi atau perendaman dan penyaringan larutan amonium asetat. Ion amonium akan diserap oleh tanah dan sejumlah kation akan dilepaskan dari tanah pada larutan. Adapun cara-cara yang biasa digunakan untuk menentukan ion NH4+ dalam sampel tanah antara lain destilasi dan kolorimetri (Sarkar dan Haldar, 2005; Balai Penelitian Tanah, 2005). Percobaan ini menggunakan metode perendaman dan penyaringan pada preparasi sampel tanah karena alat yang digunakan relatif mudah ditemukan, yaitu kertas saring Whatman, dibandingkan dengan metode perkolasi yang membutuhkan tabung perkolasi dan bahan yang sukar ditemukan di laboratorium seperti filter flock dan filter pulp. Meninjau tidak stabilnya listrik di laboratorium yang dapat menyebabkan kegagalan pada saat destilasi, metode kolorimetri menggunakan reagen Nessler dipilih untuk menentukan jumlah mol NH4+ per sampel tanah sebagai KTK. 2. Prinsip Tanah merupakan partikel-partikel yang bermuatan negatif sehingga dapat menyerap kationkation. Ketika suatu sampel tanah direndam dalam suatu larutan garam, contohnya amonium asetat, ion amonium akan diserap oleh tanah dan sejumlah kation akan dilepaskan dari tanah pada larutan. Peristiwa ini disebut pertukaran kation. Ion NH4+ berlebih dicuci menggunakan etanol 96%. Ion NH4+ yang teradsorpsi oleh tanah kemudian ditukar dengan kation Na+ dari

larutan NaCl, sehingga ion-ion NH4+ terlepas dari tanah dan terlarut dalam filtrat. Jumlah mol ion NH4+ yang terdapat dalam filtrat per massa sampel yang digunakan ditentukan sebagai kapasitas tukar kation dengan satuan cmol(p+)/kg (Sarkar dan Haldar, 2005; Balai Penelitian Tanah, 2005). Jumlah ion NH4+ dalam larutan dapat ditentukan dengan metode Nessler. Apabila ion ammonium direaksikan dengan reagen Nessler (larutan basa dari kalium tetra iodo merkurat (II)), akan didapatkan larutan yang berwarna kuning jingga dengan intensitas warna yang dihasilkan sesuai dengan jumlah kandungan ion ammonium. Reaksi yang terjadi yaitu (Svehla, 1985): NH4+ + 2[HgI4]2 + 4OH HgOHg(NH2)I + 7I + 3H2O 3. Metode 3.1 Alat dan Bahan Alat-alat yang akan digunakan pada percobaan ini adalah peralatan gelas (gelas kimia 250 mL, labu takar 100 mL; 250 mL; dan 1 L, spatula, gelas arloji, corong, kuvet), kertas saring Whatman No. 44, oven, dan spektrofotometer sinar tampak. Bahan-bahan yang akan digunakan pada percobaan ini adalah padatan amonium asetat, padatan / larutan asam asetat, larutan amonia pekat, padatan NaCl, padatan NaOH, padatan KI, padatan HgCl2, padatan K.Na tartrat, padatan NH4Cl, dan akuades. 3.2 Prosedur 3.2.1 Pembuatan reagen a. Larutan amonium asetat 1 M pH 7 Padatan amonium asetat sebanyak 77,08 gram dilarutkan dengan akuades secukupnya dalam gelas kimia 250 mL. Larutan diatur pHnya menjadi 7 menggunakan larutan asam asetat dan amonia berbagai konsentrasi. Larutan diencerkan pada labu takar 1 L hingga tanda batas dengan larutan pH 7 dan dikocok hingga homogen. b. Larutan NaCl 10% Padatan NaCl sebanyak 100 gram dilarutkan dengan akuades secukupnya dalam gelas kimia 250 mL. Larutan dipindahkan pada labu takar 1 L, diencerkan dengan akuades hingga tanda batas, dan dikocok hingga homogen.

c. Larutan NaOH 50% (b/v) Padatan NaOH sebanyak 25 gram dilarutkan dalam gelas kimia menggunakan akuades hingga 50 mL. d. Larutan Nessler Padatan KI ditimbang sebanyak 5 gram kemudian dilarutkan dengan akuades secukupnya sambil diaduk dengan menggunakan pengaduk magnetik pada gelas kimia. Padatan HgCl2 ditambahkan ke dalam larutan KI hingga timbul endapan berwarna merah. Endapan disaring dengan menggunakan kertas saring, dan filtrat ditampung ke dalam labu ukur 100 mL. Filtrat ditambah dengan larutan NaOH 50% (b/v), kemudian ditambah akuades hingga tanda batas dan dikocok hingga homogen. e. Larutan K.Na Tartrat Padatan K.Na tartrat ditimbang sebanyak 5 gram dan dilarutkan dalam 10 mL akuades lalu dipanaskan. Setelah dingin ditambah 0,5 mL pereaksi Nessler dan didiamkan selama 2 hari kemudian disaring. Filtrat yang didapatkan selanjutnya digunakan untuk analisis. f. Larutan stok NH4Cl 100 ppm Padatan NH4Cl ditimbang sebanyak 0,0297 gram kemudian dimasukan ke dalam gelas kimia. Akuades ditambahkan secukupnya dan diaduk hingga padatan larut. Larutan dipindahkan ke dalam labu ukur 100 mL kemudian ditambahkan akuades hingga tanda batas dan dikocok hingga homogen. g. Larutan standar NH4Cl 0,5; 1; 1,5; 2; 2,5 ppm Larutan standar dengan konsentrasi 0,5; 1; 1,5; 2; 2,5 ppm dibuat dari larutan stok NH4Cl 100 ppm. Larutan stok NH4Cl diambil masing masing sebanyak 0,5 mL, 1 mL, 1,5 mL, 2 mL, dan 2,5 mL menggunakan pipet ukur 5 mL lalu dimasukkan ke dalam labu ukur 100 mL, ditambah akuades hingga tanda batas dan dikocok hingga homogen. 3.2.2 Kapasitas Tukar Kation Sampel tanah sebanyak 10 gram ditimbang dalam gelas kimia 250 mL. Larutan amonium asetat 1 N pH 7 sebanyak 50 mL ditambahkan ke dalam gelas kimia tersebut. Gelas kimia ditutup dengan gelas arloji kemudian dilakukan pengadukan selama 1 jam. Setelah pengadukan suspensi dibiarkan semalaman. Suspensi disaring menggunakan kertas saring Whatman No.44. Filtrat dimasukkan dalam labu takar 250 mL. Sampel tanah dipindahkan ke dalam kertas saring dan pada kertas saring yang berisi tanah ditambahkan larutan amonium asetat 1 N pH 7 sebanyak

20 mL. Filtrat ditampung dalam labu takar 250 mL. Penambahan amonium asetat terus dilakukan hingga labu takar mencapai tanda batas. Residu (tanah) yang masih ada dalam kertas saring dicuci menggunakan etanol 96% sebanyak 100 mL kemudian dikeringkan pada temperatur 60 oC sampai berat konstan. Residu yang telah dikeringkan ditimbang beratnya kemudian dipindahkan pada gelas kimia 250 mL. Larutan NaCl 10% sebanyak 50 mL ditambahkan ke dalam gelas kimia berisi residu. Gelas kimia ditutup dengan gelas arloji kemudian dilakukan pengadukan menggunakan pengaduk magnetik selama 1 jam. Setelah pengadukan suspensi dibiarkan semalaman. Suspensi disaring menggunakan kertas saring Whatman No.44. Filtrat dimasukkan dalam labu takar 250 mL. Sampel tanah dipindahkan ke dalam kertas saring dan pada kertas saring yang berisi tanah ditambahkan larutan NaCl 10% sebanyak 20 mL. Filtrat ditampung dalam labu takar 250 mL. Penambahan larutan NaCl 10% terus dilakukan hingga labu takar mencapai tanda batas lalu larutan dikocok hingga homogen. Filtrat dipipet sebanyak 0,5 mL, dimasukan ke dalam labu takar 100 mL, lalu ditambah akuades sampai tanda batas. Larutan dimasukan ke dalam tabung reaksi sebanyak 0,5 mL + 0,5 mL larutan K.Na tartrat, dikocok + 0,5 mL larutan Nessler, dikocok + 5 mL akuades, dikocok dan dibiarkan selama + 10 menit. Sampel diukur nilai absorbansinya dengan spektrofotometer sinar tampak pada panjang gelombang 490 nm. Absorbansi larutan sampel diplotkan ke dalam kurva baku 0; 0,5; 1; 1,5; 2 dan 2,5 ppm dengan menggunakan standar NH4Cl.. 3.3 Perhitungan Kapasitas Tukar Kation Hasil absorbansi larutan standar diplotkan dengan konsentrasi sehingga didapatkan kurva standar dengan persamaan y = ax. Absorbansi sampel diplotkan ke dalam persamaan tersebut sehingga didapatkan konsentrasi sampel sebesar a ppm. Maka massa sampel dalam larutan sebesar : Massa NH4+ (mg) = a mg/L x 6,5 mL = b mg = massa NH4+ dalam 0,5 mL sampel Massa NH4+ dalam 250 mL = Mol NH4+ = = d mmol x b mg = c mg

Kapasitas tukar kation merupakan jumlah mmol kation (NH4+) per 100 gram contoh tanah, maka: Kapasitas tukar kation = x d (cmol(p+)/kg)

4. Referensi Balai Penelitian Tanah, 2005, Petunjuk Teknis Analisis Kimia Tanah, Tanaman, Air dan Pupuk, Departemen Pertanian, Bogor. Sarkar, D. dan A. Haldar, 2005, Physical and Chemical Methods in Soil Analysis, New Age International Publishers, New Delhi. Svehla, G., 1985, Buku Teks Analisis Anorganik Kualitatif, Edisi ke 5 (terjemahan), Kalman Media Pustaka, Jakarta.

IV. Penentuan Kadar C-Organik 1. Latar Belakang Pemuatan kadar C-organik berlebih dalam komposisi sedimen dapat menyebabkan terjadinya beberapa efek yang merugikan secara ekologis, antara lain kerusakan habitat akuatik sehingga memicu terjadinya perubahan habitat bentik, nilai estetika perairan akan berkurang atau bahkan hilang, serta mengurangi kapasitasnya sebagai wilayah resapan air (Rayment, G.E. dan F.R. Higginson. 1992). Kadar C-organik menjadi fokus perhatian karena sangat erat kaitannya dengan karakter bahan organik total (TOM; Total Organic Matter). Transformasi biokimia TOM dalam sedimen berperan penting dalam ekosistem perairan darat. Secara tidak langsung kadar Corganik dalam sedimen merupakan parameter kualitas suatu perairan sehingga penentuannya penting untuk dilakukan. 2. Prinsip Karbon sebagai senyawa organik akan mereduksi Cr6+ yang berwarna jingga menjadi Cr3+ yang berwarna hijau dalam suasana asam. Intensitas warna hijau yang terbentuk setara dengan kadar karbon dan dapat diukur dengan spektrofotometer pada panjang gelombang 561 nm. 3. Metode 3.1 Alat dan Bahan 3.1.1 Alat a) Neraca analitik b) Spektrofotometer c) Seperangkat alat gelas d) Labu ukur 100 ml

e) Pipet volume 5 ml 3.1.2 Bahan a) Asam sulfat pekat b) Kalium dikromat 1 N Sebanyak 98,1 g kalium dikromat dilarutkan dengan 600 ml air bebas ion dalam piala gelas, tambahkan 100 ml asam sulfat pekat, panaskan hingga larut sempurna, setelah dingin diencerkan dalam labu ukur 1 l dengan air bebas ion sampai tanda garis. c) Larutan standar 5.000 ppm C Dilarutkan 12,510 g glukosa p.a. dengan air suling di dalam labu ukur 1 l dan diimpitkan. 3.2 Prosedur Ditmbang 0,500 g contoh tanah ukuran <0,5 mm, dimasukkan ke dalam labu ukur 100 ml. Ditambahkan 5 ml K2Cr2O7 1 N, lalu dikocok. Tambahkan 7,5 ml H2SO4 pekat, dikocok lalu diamkan selama 30 menit. Diencerkan dengan air bebas ion, dibiarkan dingin dan diimpitkan. Keesokan harinya diukur absorbansi larutan jernih dengan spektrofotometer pada panjang gelombang 561 nm. Sebagai pembanding dibuat standar 0-250 ppm, dengan memipet 0- 5 ml larutan standar 5.000 ppm ke dalam labu ukur 100 ml dengan perlakuan yang sama dengan pengerjaan contoh. Bila pembacaan contoh melebihi standar tertinggi, penetapan diulang dengan menimbang contoh lebih sedikit. Faktor dalam perhitungan diubah sesuai berat contoh yang ditimbang. 3.3 Perhitungan Kadar C-Organik Kadar C-organik (%) = ppm kurva x = ppm kurva x Keterangan: ppm kurva = kadar contoh yang didapat dari kurva hubungan antara kadar deret standar dengan pembacaannya setelah dikoreksi blanko. fk = faktor koreksi kadar air = 100/(100 % kadar air) 4. Referensi Black, C.A., 1965, Methods of Soil Analysis, Part 2, Agronomy 9, American Society of Agronomy, Madison,Wis. x x fk x 100 % x x fk x 100%

Graham, E.R., 1948, Determination of soil organik mater by means of a photoelectric colorimeter, Soil Sci., 65: 181 - 183. Page, A.L., R.H. Miller dan D.R. Keeney, 1982, Methods of Soil Analysis, Part 2- Chemical and Microbiological Properties, 2nd Edition, American Society of Agronomy, Madison, Wisconsin. Rayment, G.E. dan F.R. Higginson, 1992, Australian Laboratory Handbook of Soil and Water Chemicals Methods, Inkata Press, Melbourne, Sydney.

V. Kadar Fosfat 1. Latar Belakang Fosfat merupakan salah satu unsur esensial bagi metabolisme dan pembentukan protein sehingga analisis kandungan fosfat dalam tanah penting untuk dilakukan. Senyawa fosfat yang kompleks menyebabkan hampir tidak mungkin untuk mengidentifikasi senyawa fosfat secara individual dan terpisah. Oleh sebab itu perlu dilakukan fraksionasi, yaitu pengelompokan senyawa fosfat tanah menggunakan pengekstrak tertentu yang mengambilnya dari tanah secara berurutan. Fraksionasi didasarkan pada asumsi bahwa pengekstrak kimia akan secara selektif melarutkan senyawa fosfat yang berbeda, seperti fosfat yang larut dalam air tanah, terikat pada oksida logam, terikat pada bahan organik tanah, dan terikat pada mineral (Balai Penelitian Tanah, 2005). Adapun analisis kandungan fosfat pada masing-masing ekstrak dilakukan dengan metode kolorimetri (metode amonium molibdovanadat) karena ketersediaan bahan di laboratorium dan metode ini relatif mudah dilakukan. 2. Prinsip Prosedur fraksinasi fosfat didasarkan pada perbedaan kelarutan senyawa fosfat anorganik pada masing-masing ekstraktan. Pada tanah masam, reagen amonium klorida digunakan pertama kali untuk memisahkan fosfat yang terlarut pada air tanah, kemudian dilanjutkan dengan pemisahan dari oksida Al menggunakan amonium florida, lalu dilanjutkan dengan NaOH untuk memisahkan fosfat dari oksida Fe. Fosfat yang terikat pada bahan organik tanah dilepaskan menggunakan ekstraktan natrium sitrat-natrium bikarbonat dilanjutkan dengan asam sulfat atau asam klorida untuk memisahkan fosfat yang terikat kuat pada mineral. Sementara untuk tanah basa (mengandung CaCO3), reagen amonium florida akan bereaksi dengan CaCO3 membentuk

CaF2 yang akan mengendapkan fosfat, sehingga ekstraksi menggunakan reagen tersebut tidak dilakukan untuk tanah basa (Zhang dan Kovar, 2000). Fosfat dapat membentuk larutan kompleks yang berwarna bila direkasikan dengan vanadomolibdat. Kompleks ini dalam suasana asam (asam nitrat) larut dalam air, menghasilkan warna kuning yang efektif diukur pada panjang gelombang sekitar 420 440 nm dengan alat Spektrofotometer Visible (maupun Spektrofotometer UV-Vis). Intensitas warna kuning adalah proporsional dengan konsentrasi fosfat. Adanya amonium nitrat atau asam nitrat, kompleks yang terbentuk tidak mengendap. Adapun reaksi yang terjadi (Svehla, 1985) : HPO42- + 3NH4+ + 12MoO42- + 23H+ --> (NH4)3[P(Mo3O10)4]+ 12H2O (NH4)3[P(Mo3O10)4 adalah kristal yang dapat mengendap, namun dengan adanya vanadat dan asam nitrat, terjadi pelarutan kembali. 3. Metode 3.1 Alat dan Bahan Alat-alat yang akan digunakan pada percobaan ini adalah peralatan gelas, seperangkat alat sentrifugasi lengkap dengan tabungnya, pH meter, dan spektrofotometer sinar tampak. Bahanbahan yang akan digunakan dalam percobaan ini adalah padatan NH4Cl, padatan NH4F, larutan amonia pekat, padatan NaOH, padatan NaCl, larutan H2SO4 pekat, larutan HCl pekat, padatan Na3C6H5O7.2H2O, padatan NaHCO3, padatan natrium ditionat (Na2S2O4) dan akuades. 3.2 Prosedur 3.2.1 Pembuatan reagen a. Larutan amonium klorida (NH4Cl) 1 M Padatan NH4Cl ditimbang sebanyak 13,325 gram, dipindahkan dalam gelas kimia, dan dilarutkan secukupnya menggunakan akuades. Larutan dipindah ke dalam labu takar 250 mL, diencerkan dengan akuades hingga tanda batas, dan dikocok sampai homogen. b. Larutan amonium florida (NH4F) 0,5 M pH 8,2 Padatan NH4F ditimbang sebanyak 4,625 gram, dipindahkan dalam gelas kimia, dan dilarutkan secukupnya menggunakan akuades. Larutan diatur pHnya menjadi 8,2 menggunakan larutan NH4OH berbagai konsentrasi. Larutan dimasukkan ke dalam labu takar 250 mL, diencerkan dengan larutan pH 8,2 hingga tanda batas, dan dikocok sampai homogen.

c. Larutan NaOH 0,1 M Padatan NaOH ditimbang sebanyak 1 gram, dipindahkan dalam gelas kimia, dan dilarutkan secukupnya menggunakan akuades. Larutan dipindah ke dalam labu takar 250 mL, diencerkan dengan akuades hingga tanda batas, dan dikocok sampai homogen. d. Larutan NaOH 0,1 M + NaCl 1 M Padatan NaOH ditimbang sebanyak 1 gram dan padatan NaCl ditimbang 14,625 gram, dicampur dalam satu gelas kimia, dan dilarutkan secukupnya menggunakan akuades. Larutan dipindah ke dalam labu takar 250 mL,diencerkan dengan akuades hingga tanda batas, dan dikocok sampai homogen. e. Larutan NaCl pekat Padatan NaCl ditimbang sebanyak 400 gram, dipindahkan dalam gelas kimia, dan dilarutkan secukupnya menggunakan akuades. Larutan dipindah ke dalam labu takar 1 L, diencerkan dengan akuades hingga tanda batas, dan dikocok sampai homogen. f. Larutan H2SO4 0,5 M Larutan H2SO4 pekat diambil sebanyak 3,5 mL menggunakan pipet ukur 10 mL dan dimasukkan dalam labu takar 250 mL. Larutan diencerkan dengan akuades hingga tanda batas dan dikocok sampai homogen. g. Larutan HCl 0,5 M Larutan HCl pekat diambil sebanyak 10,5 mL menggunakan gelas ukur 50 mL dan dimasukkan dalam labu takar 250 mL. Larutan diencerkan dengan akuades hingga tanda batas dan dikocok sampai homogen. h. Larutan natrium sitrat 0,3 M Padatan Na3C6H5O7.2H2O ditimbang sebanyak 22,05 gram, dipindahkan dalam gelas kimia, dan dilarutkan secukupnya menggunakan akuades. Larutan dipindah ke dalam labu takar 250 mL, diencerkan dengan akuades hingga tanda batas, dan dikocok sampai homogen. i. Larutan natrium bikarbonat 1 M Padatan NaHCO3 ditimbang sebanyak 4,2 gram, dipindahkan dalam gelas kimia, dan dilarutkan secukupnya menggunakan akuades. Larutan dipindah ke dalam labu takar 50 mL, diencerkan dengan akuades hingga tanda batas, dan dikocok sampai homogen.

j. Larutan stok fosfat 2000 ppm Padatan KH2PO4 ditimbang 0,286 gram, (sebelumnya dikeringkan pada suhu 105 oC selama 2 jam), dimasukkan ke dalam gelas piala, dilarutkan dengan air, kemudian dimasukkan ke dalam labu ukur 100 mL dan diencerkan hingga tanda batas. k. Larutan standar fosfat 200 ppm Larutan stok fosfat 2000 ppm dipipet 10 mL, dimasukkan ke dalam gelas piala, ditambah 10 ML HCl 25%, lalu dimasukkan ke dalam labu volumetrik 100 mL dan diencerkan hingga tanda batas. l. Deret Larutan Standar fosfat (0 - 200 ppm) Larutan standar fosfat 200 ppm dipipet masing - masing 0; 0,5; 2,5; 5; dan 10 mL, dimasukkan kedalam labu volumetrik 10 mL. Labu pertama hingga ke-empat diencerkan hingga tanda batas 10 mL. Labu ke-lima tidak perlu diencerkan karena pengambilan larutan standar adalah sebanyak 10 mL. Tersedia deret standar I = 0 ppm (balnko), standar II = 10 ppm, standar III = 50 ppm, standar IV = 100 ppm, dan standar V = 200 ppm. m. Pereaksi I : amonium molibdat 1% Padatan NH4Mo7O24.4H2O ditimbang 1 gram, dimasukkan ke dalam gelas piala, ditambah air bebas ion hingga larut, dimasukkan ke dalam labu volumetrik 100 mL, lalu ditambah air bebas ion hingga tanda batas. n. Pereaksi II : amonium vanadat 0,5 % Padatan NH4VO3 ditimbang 0,5 gram, dimasukkan ke dalam gelas piala, ditambah 7 mL HNO3 67%, ditambah air bebas ion, dipindahkan ke dalam labu volumetrik 100 mL, kemudian diencerkan hingga tanda batas. o. Pereaksi campuran: Pereaksi I 100 mL dan Pereaksi II 100 mL, dimasukkan ke dalam gelas kimia ukuran 250 mL.

3.2.2 Fraksinasi Fosfat Langkah-langkah yang akan dilakukan dalam fraksinasi fosfat bergantung pada pH sampel tanah. 1. Fosfat sebagai fraksi ELFE Untuk sedimen ber-pH asam, sampel dengan ukuran <2 mm diambil sebanyak 1 gram kemudian dimasukkan dalam tabung centrifuge 100 mL. Larutan NH4Cl 1 M sebanyak 50 mL dimasukkan pada tabung tersebut kemudian dikocok selama 30 menit. Suspensi

disentrifugasi dan semua supernatan dimasukkan ke dalam labu takar 50 mL lalu diencerkan hingga tanda batas menggunakan akuades (ekstrak A). Untuk sedimen ber-pH basa, sampel dengan ukuran <2 mm diambil sebanyak 1 gram kemudian tambahkan larutan 0,1 M NaOH + 1 M NaCl sebanyak 50 mL dan dikocok selama 17 jam. Suspensi disentrifugasi dan semua supernatan dimasukkan ke dalam labu takar 100 mL (ekstrak A). Larutan NaCl pekat sebanyak 25 mL dimasukkan ke dalam tabung sentrifugasi berisi sampel tanah kemudian disentrifugasi. Supernatan NaCl pekat ditampung dalam labu takar 100 mL yang telah berisi supernatan awal. Penambahan larutan NaCl pekat dan penampungan supernatan dalam labu takar 100 mL dilakukan duplo. Labu takar tersebut kemudian diencerkan dengan larutan NaCl pekat hingga tanda batas, dan dikocok hingga homogen. 2. Fosfat sebagai fraksi AR Untuk sedimen ber-pH asam, residu pada poin 1 ditambah larutan NH4F 0,5 M sebanyak 50 mL kemudian dikocok selama 1 jam untuk mengekstrak fosfat yang terikat pada aluminium. Suspensi disentrifugasi dan semua supernatan dimasukkan ke dalam labu takar 100 mL (ekstrak B). Larutan NaCl pekat sebanyak 25 mL dimasukkan ke dalam tabung sentrifugasi berisi sampel tanah kemudian disentrifugasi. Supernatan NaCl pekat ditampung dalam labu takar 100 mL yang telah berisi supernatan awal. Penambahan larutan NaCl pekat dan penampungan supernatan dalam labu takar 100 mL dilakukan duplo. Labu takar tersebut kemudian diencerkan dengan larutan NaCl pekat hingga tanda batas, dan dikocok hingga homogen. Residu/sampel tanah hasil perlakuan di atas ditambah dengan larutan NaOH 0,1 M sebanyak 50 mL lalu dikocok selama 17 jam untuk mengekstrak fosfat yang terikat pada besi. Suspensi disentrifugasi dan semua supernatan dimasukkan ke dalam labu takar 100 mL (ekstrak C). Larutan NaCl pekat sebanyak 25 mL dimasukkan ke dalam tabung sentrifugasi berisi sampel tanah kemudian disentrifugasi. Supernatan NaCl pekat ditampung dalam labu takar 100 mL yang telah berisi supernatan awal. Penambahan larutan NaCl pekat dan penampungan supernatan dalam labu takar 100 mL dilakukan duplo. Labu takar tersebut kemudian diencerkan dengan larutan NaCl pekat hingga tanda batas, dan dikocok hingga homogen. Sedangkan untuk sedimen ber-pH basa , residu pada poin 1 dimasukkan ke dalam labu takar, ditambah 20 ml pengekstrak natrium bikarbonat, kemudian dikocok dan didiamkan selama 30 menit.

3. Fosfat sebagai fraksi OO Untuk sedimen dengan pH asam maupun basa perlakuannya sama, yaitu residu / sampel tanah dari poin 2 ditambah dengan larutan Na3C6H5O7 0,3 M sebanyak 40 mL dan larutan NaHCO3 1 M sebanyak 5 mL. Suspensi dipanaskan menggunakan penangas air pada temperatur 85 oC. Padatan Na2S2O4 ditambahkan sebanyak 1 gram sambil diaduk. Pemanasan dilanjutkan selama 15 menit kemudian disentrifugasi. Semua supernatan dimasukkan labu takar 100 mL (ekstrak D). Larutan NaCl pekat sebanyak 25 mL dimasukkan ke dalam tabung sentrifugasi berisi sampel tanah kemudian disentrifugasi. Supernatan NaCl pekat ditampung dalam labu takar 100 mL yang telah berisi supernatan awal. Penambahan larutan NaCl pekat dan penampungan supernatan dalam labu takar 100 mL dilakukan duplo. Labu takar tersebut kemudian diencerkan dengan larutan NaCl pekat hingga tanda batas, dan dikocok hingga homogen. 4. Fosfat sebagai fraksi Refractory Untuk sedimen ber-pH asam , tanah / residu dari poin 3 ditambah dengan larutan H2SO4 0,25 M sebanyak 50 mL kemudian dikocok selama 1 jam. Suspensi kemudian disentrifugasi selama 10 menit lalu semua supernatan dimasukkan dalam labu takar 100 mL (ekstrak E). Larutan NaCl pekat sebanyak 25 mL dimasukkan ke dalam tabung sentrifugasi berisi sampel tanah kemudian disentrifugasi. Supernatan NaCl pekat ditampung dalam labu takar 100 mL yang telah berisi supernatan awal. Penambahan larutan NaCl pekat dan penampungan supernatan dalam labu takar 100 mL dilakukan duplo. Labu takar tersebut kemudian diencerkan dengan larutan NaCl pekat hingga tanda batas, dan dikocok hingga homogen. Sedangkan untuk sedimen ber-pH basa tanah / residu dari poin 3 ditambah dengan larutan HCl 0,5 M sebanyak 50 mL kemudian diaduk selama 1 jam menggunakan shaker. Suspensi kemudian disentrifugasi selama 10 menit lalu semua supernatan dimasukkan dalam labu takar 100 mL (ekstrak fosfat refractory). Tanah dicuci dua kali dengan 25 mL larutan NaCl pekat. Larutan ditampung dalam labu takar 100 mL yang telah berisi supernatan, diencerkan dengan larutan NaCl pekat hingga tanda batas, dan dikocok hingga homogen. 3.2.3 Penentuan Kadar Fosfat a. Optimasi panjang gelombang spektrofotometer Larutan standar 50 ppm diambil secukupnya lalu diukur serapannya mulai dari panjang gelombang 400 nm hingga 500 nm dengan kenaikan 10 nm. panjang gelombang yang mendapatkan serapan tertinggi dicatat.

b. Pengukuran standar dan sampel Larutan standar masing - masing dipipet 1 mL, dimasukkan dalam kuvet, dan ditambahkan 9 mL Pereaksi Campuran, dikocok hingga homogen, kemudian diukur serapannya. Setelah diperoleh data masing - masing standar, kemudian dibuat kurva standar. Demikian pula dengan larutan sampel (fosfat dari setiap fraksi), diambil 1 mL dan ditambahkan 9 mL Pereaksi Campuran, lalu diukur serapannya. Percobaan dilakukan triplo. 3.3 Perhitungan Kadar Fosfat Hasil absorbansi larutan standar diplotkan dengan konsentrasi sehingga didapatkan kurva standar dengan persamaan y = ax. Absorbansi sampel diplotkan ke dalam persamaan tersebut sehingga didapatkan konsentrasi fosfat dalam sampel sebesar a ppm. Maka massa fosfat dalam larutan sebesar : Massa PO43- (mg) = a mg/L x 10 mL = b mg = massa PO43- dalam 1 mL larutan sampel Massa PO43- dalam 100 mL = Kadar fosfat dalam sampel = 4. Referensi Balai Penelitian Tanah, 2005, Petunjuk Teknis Analisis Kimia Tanah, Tanaman, Air dan Pupuk, Departemen Pertanian, Bogor. Svehla, G., 1985, Buku Teks Analisis Anorganik Kualitatif, Edisi ke 5 (terjemahan), Kalman Media Pustaka, Jakarta. Zhang, H. dan J.L. Kovar, 2000, Phosphorus Fractination, Southern Cooperative Series Bulletin, 396:50-53. x b mg = c mg x 100% = d %

Beri Nilai