Anda di halaman 1dari 2

Mekanisme aterosklerosis Aterosklerosis berawal dari penumpukan kolesterol terutama ester kolesterol-LDL (lipoprotein densitas rendah) di dinding arteri.

LDL secara normal bisa masuk dan keluar dari dinding arteri lewat endotel. Masuknya lipoprotein ke lapisan dalam dinding pembuluh darah meningkat seiring tingginya jumlah lipoprotein dalam plasma (hiperlipidemia), ukuran lipoprotein dan tekanan darah (hipertensi). Peningkatan semua itu akan meningkatkan permeabilitas dinding pembuluh darah, sehingga lipoprotein dan ester kolesterol mengendap di dinding arteri. Gangguan fungsi lapisan dinding pembuluh darah ini menjadi awal proses aterosklerosis dan mendorong mekanisme inflamasi serta infeksi. Inflamasi atau peradangan merupakan respons dasar tubuh terhadap injury (luka). Luka umumnya disebabkan oleh infeksi, tapi bisa juga sebagai reaksi alergi maupun imunologis. Manifestasi klinik dari proses aterosklerosis kompleks adalah penyakit jantung koroner, stroke bahkan kematian. Menurut Studi Framingham,C-reactive protein (CRP) merupakan pertanda (marker) inflamasi yang berhubungan dengan kejadian kardiovaskular maupun stroke. Upaya menekan faktor inflamasi dapat mencegah proses aterosklerosis. Aktivitas fisik yang teratur terbukti mampu menekan CRP, berarti pula menekan faktor inflamasi. Karena itu, bergerak atau melakukan aktivitas fisik secara teratur merupakan konsep awal upaya pencegahan penyakit kardiovaskular dan upaya rasional bagi penderita gangguan kardiovaskular dalam rehabilitasi jantung. Latihan daya tahan dikombinasikan dengan latihan beban selama empat bulan terbukti menurunkan kadar TNF alpha (salah satu jenis sitokin inflamasi) secara bermakna pada penderita gagal jantung maupun penyakit jantung koroner. Jenis Aktivitas yang Mempengaruhi Pada orang sehat, prevalensi hipertensi, hiperlipidemia, serta iskemia (kondisi kekurangan darah dalam jaringan) lebih rendah pada orang yang aktivitas fisiknya lebih berat dan teratur dibanding yang tidak teratur maupun yang tidak berolahraga. Boleh disimpulkan, aktivitas fisik teratur mempunyai daya proteksi terhadap kematian kardiovaskular serta penyakit lain akibat gaya hidup (non communicable disease). Tidak perlu olahraga yang sulit dan mahal. Jalan kaki enam kilometer per jam, senam aerobik beban sedang, menari sudah memadai untuk menjaga kesehatan jantung. Demikian pula kegiatan setara seperti naik tangga dua tingkat, membawa barang 10 kilogram, mencangkul, atau berkebun. Aktivitas apa pun asal mampu meningkatkan denyut jantung antara 110-130 per menit, berkeringat dan disertai peningkatan frekuensi napas namun tidak sampai terengahengah sudah cukup baik untuk mencegah penyakit jantung dan stroke.
SUMBER : Sherwood, Lauralee.2001. Fisiologi Manusia : Dari Sel ke Sistem. Jakarta:EGC