Anda di halaman 1dari 22

BAB I PENDAHULUAN

Pada prinsipnya pengendalian dibagi menjadi 2 yaitu pengendalian manual dan pengendalian otomatis . Pengendalian otomatis pada dasarnya sama dengan pengendalian manual. Pada pengendalian otomatis, peranan dari operator digantikan oleh suatu alat yang disebut pengendali (controller). Jadi yang bertugas menambah dan mengurangi bukaan valve tidak lagi dikerjakan oleh operator tetapi atas perintah controller, operator hanya bertugas memberikan harga ke controller (set value / set point = SV / SP). Oleh karena itu pengendalian otomatis pada valve harus dilengkapi dengan actuator sehingga unit valve tersebut disebut dengan control valve. Sehingga apabila terjadi ketidaksesuaian harga yang diberikan operator terhadap controller (SV), maka atas perintah controller akan membuka atau menutup sesuai dengan kondisi operasi yang sedang berjalan (process variable = PV). Dalam suatu sistem kontrol sekurang kurangnya terdapat 5 macam elemen utama yang membentuk sistem kontrol yaitu : a. Sensing element (Sensor), adalah elemen yang pertama kali merasakan adanya variabel proses dan kemudian merubahnya ke dalam bentuk gerakan mekanik atau sinyal elektrik yang sesuai dengan besarnya variabel yang dideteksinya. b. Proses, adalah sebutan variabel proses yang dikontrol / dikendalikan. c. Transmitter, berfungsi untuk merubah nilai variabel proses yang dirasakan oleh sensor menjadi bentuk signal standard dan ditransmisikan ke dalam instrumen lainnya (controller, recorder) yang besarnya tergantung dari jenis transmitter-nya yaitu 4-20 mA atau 1-5 Vdc (untuk transmitter elektrik) atau 3-15 psi (untuk transmitter pneumatic) d. Elemen pengatur (controller), adalah elemen pengatur memanfaatkan signal error yang dihasilkan untuk memberikan kemudian digunakan sebagai dasar untuk

memberikan perintah perbaikan yang akan dilakukan oleh

elemen pengontrol akhir (final control element).

e. Elemen pengontrol akhir (final control element), dapat berupa control valve, motor, pompa yang menerima dan melaksanakan signal instruksi yang diberikan oleh controller untuk mempertahankan nilai variabel proses pada nilai setpoint-nya.

Gambar 1 Elemen-Elemen Sistem Pengendalian Aliran

BAB II ISI

Final control element adalah elemen akhir dari suatu sistem pengendalian yang fungsinya mengoreksi perbedaan antara process variable (PV) terhadap set variable (SV) berupa gerakan naik-turun (buka-tutup) valve sesuai sinyal yang diterimanya dari kontroler. Dalam suatu sistem, final control element merupakan salah satu kunci kestabilan sistem. Tidak ada gunanya kita mengoptimalkan controller, memodernkan feedback system, atau meghilangkan noise dalam signal transmitting tanpa disertai dengan pengoptimalan fungsi final control element dan actuatornya. Final control element dalam suatu kontrol sistem merupakan hasil akhir dari output controller yang nantinya akan memengaruhi langsung nlai proses variabel. Final control element bisa berupa actuator dan valvenya, atau motor dengan variable speed, atau bisa juga heater dan cooler dan sebagainya. Control valve adalah final control element yang paling umum digunakan untuk mengatur aliran bahan dalam sebuah proses. Control valve bertugas melakukan langkah koreksi terhadap variabel termanipulasi, sebagai hasil akhir sistem pengendalian. Control valve hanyalah salah satu elemen pengendali akhir (final element control), namun paling umum yang digunakan, Akibatnya muncul pengertian control valve = elemen pengendali akhir. Ditinjau dari gerakan valvenya, aksi control valve terdiri dari : a. Air To Open (ATO), yaitu apabila control valve menerima sinyal dari controller sebesar 3 15 psi gerakannya akan mengakibatkan bertambahnya aliran yang melewatinya. b. Air To Closed (ATC), yaitu apabila control valve menerima sinyal dari controller sebesar 3 15 psi gerakannya akan mengakibatkan berkurangnya aliran yang melewatinya. Pemilihan ATO atau ATC disesuaikan dengan safety operation pada keadaan instrument-air supply failure (kegagalan angin). Contoh : control valve pada tower vapour line untuk tower top pressure control, dipilih air to close (ATC). Kemudian control valve pada fuel untuk burner dipilih air to open (ATO).

A.

Aksi Control Valve Control valve mempunyai aksi direct atau aksi reverse, untuk menentukan

aksi control valve, maka kita harus memahami beberapa istilah dasar. Input : istilah input pada valve kita definisikan, bahwa input sebagai sinyal yang menyebabkan valve merubah posisi stroke. Hal ini biasanya berupa sinyal pneumatik 3 15 psi atau 20 100 kPa. Output : output valve adalah fluida mengalir melalui valve. Gas, uap dan cairan adalah fluida. Aksi Direct : aksi direct dapat ditentukan dengan melihat hubungan antara input dan output-nya. Jika kenaikan input

menyebabkan kenaikan output maka dikatakan bahwa valve tersebut mempunyai aksi direct. Aksi Reverse : kenaikan input menyebabkan menurunnya output maka dikatakan bahwa valve tersebut mempunyai aksi reverse. Istilah-istilah berikut mempunyai hubungan dengan control valve aksi direct: ATO adalah naiknya sinyal akan menyebabkan valve membuka. Fail Closed : Jika sinyal yang menuju valve hilang maka valve menutup. Pada gambar di bawah ini, control valve aksi direct dengan menggunakan simbol standar ISA. Anak panah berada di stem valve untuk menunjukkan bila terjadi posisi gagal.

Gambar 2 Control Valve Istilah-istilah berikut berhubungan dengan valve yang mempunyai aksi reverse : ATC adalah naiknya sinyal akan menyebabkan valve menutup.

Fail Open : jika sinyal hilang terjadi kegagalan, maka posisi valve akan membuka. Hal ini berarti bahwa adanya sinyal udara akan menutup valve dan oleh karena itu valve mempunyai aksi reverse.

Fail Safe Suatu pertimbangan penting ketika memilih control valve untuk aplikasi

khusus dalam posisi gagal tetapi aman. Tergantung proses yang dikontrol, jika memilih valve untuk aplikasi sedemikan sehingga ketika terjadi kehilangan sinyal, maka valve gagal tetapi dalam posisi aman. Aktuator diafragma pneumatik mempunyai posisi full open atau full close. Hal ini adalah bagian dimana valve ditentukan oleh apakah aksi valve-nya air to open atau air to close seperti dijelaskan sebelumnya. Spring internal yang mempunyai gaya yang melawan aktuator adalah yang bertanggung jawab terhadap seting valve-nya apakah posisi membuka atau posisi menutup. Ketika memilih valve yang terpenting ialah memahami karakteristik yang dikontrol, dan memilih valve yang sesuai yang dibutuhkan proses tersebut. Sebagai contoh, kita akan menggunakan valve untuk mengontrol temperatur air yang meninggalkan heat exchanger seperti terlihat pada gambar di bawah ini.

Gambar 3 Skema Fail Safe (Fail Closed) Proses seperti pada gambar di atas, dipilih valve fail closed. Jika sinyalnya yang menuju valve hilang, maka valve harus menutup dan air yang dipanaskan tetap dingin. Dalam proses ini jika menggunakan valve gagal membuka maka air mungkin mendidih dan menghasilkan tekanan yang berlebihan pada heat exchanger dan mungkin akan menyebabkan kerusakan pada heat exchanger

tersebut. Tetapi bila menggunakan valve dengan aksi fail closed seperti terlihat pada gambar akan menghilangkan kemungkinan-kemungkinan terbentuknya tekanan tinggi.

B.

Bagian-Bagian Valve dan Fungsinya Control valve terdiri dari tiga (3) bagian utama, yaitu aktuator, body valve

assembly dan asembli bonnet. Gambar dibawah menunjukkan hubungan ketiga bagian tersebut, yang membentuk control valve lengkap.

Gambar 4 Bagian-Bagian Valve 1. Actuator Control Valve Actuator control valve terdiri dari komponen-komponen berikut : Koneksi Tekanan Beban (Loading Pressure Connection) Koneksi udara bertekanan (pneumatik) dimana sinyal kontrol dikirimkan ke valve. Wadah Diaphragma (Diaphragm Casing) Merupakan rumah atau wadah (ada yang dibagian atas / bawah) tempat berakumulasinya udara bertekanan (pneumatik) dan menyangga dua sisi diaphragma. Diaphragma Diaphragma adalah elemen fleksibel dibuat dari material seperti karet atau bahan polimer sintetis, yang digunakan untuk mentransmit tenaga pada pelat diaphragma dan juga merupakan penyekat udara yang kuat.

Pelat Diaphragma Sebuah pelat diaphragma yang digunakan untuk mentransfer sinyal kontrol ke stem aktuator.

Pegas Aktuator (Actuator Spring) Pegas atau spring digunakan untuk melawan gaya pelat diaphragma dan akan mengembailkannya ke kondisi semula.

Stem Aktuator (Actuator Stem) Batang atau poros yang menghubungkan pelat diaphragma ke plug valve. Spring Seat Sebuah alat yang digunakan sebagai dudukan / memegang pegas atau spring.

Spring Adjuster Koneksi yang digunakan untuk menyetel regangan pegas aktuator. Stem Connection Klamp yang digunakan untuk memegang stem aktuator dan stem plug valve.

Yoke Struktur yang menyangga asembli aktuator dari asembli bonnet. Travel Indicator Sebuah plat tipis yang digunakan untuk menunjukkan posisi valve. Skala Indikator Skala ukur untuk menunjukkan posisi valve apakah valve dalam posisi (O open atau C close).

Gambar 5 Konstruksi Sederhana Control Valve Dalam aplikasi di lapangan, aktuator control valve yang digunakan ada yang terkoneksi dengan solenoid (on/off) dan ada juga yang terkoneksi dengan

positioner (kondisi continue), dan penggunaannya harus selalu dikaitkan dengan kebutuhan proses. Solenoid digunakan pada proses yang membutuhkan buka dan tutup valve secara full position (buka dan tutup 100%), sedangkan positioner diaplikasikan pada proses dengan variabel proses yang senantisa berubah-ubah dengan range yang fleksibel (dari 0% sampai dengan 100%). Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar berikut :

Gambar 6 Penggunaan Solenoid

Gambar 7 Penggunaan Positioner Actuator control valve dilengkapi pula dengan positioner. Positioner merupakan pengendali proporsional yang mengatur posisi stem sesuai dengan sinyal kontrol. Positioner digunakan untuk informasi pada posisi umpan balik dan memastikan bahwa katup berada dalam posisi yang benar. Kinerja positioner tergantung pada keakuratan umpan balik posisi dan keterkaitan digunakan. Untuk aplikasi kontrol kritis, keterkaitan perlu lebih akurat dan kuat. Kontrol tekanan umumnya 3 sampai 15 psi, tapi positioner dapat beroperasi sampai dengan 100 psi yang memberikan kekuatan yang lebih besar. Positioner terdiri dari beberapa bagian yaitu : Resricted Orifice yang berfungsi menghambat tekanan sumber (suplay). Bellow dan spring berfungsi sebagai penterjemah tekanan pneumetik ke besaran gerak. Nozzel dan Baffle berfungsi untuk membocorkan sebagian tekanan suplay yang bekerja pada diaphragma.

Elongated Slot berfungsi sebagai engsel untuk menjaga agar baffle naik turun seirama dengan gerak stem Rellay Manfaat yang lain dari positioner adalah untuk mempercepat reaksi

control valve sehingga lag time dapat diperkecil, valve positioner dapat diartikan juga sebagai controller karena di dalamnya terdapat proses umpan balik (Proporsional Control) dari aksi aktuator ke positioner.

2. Body Valve Assembly Body Valve Assembly terdiri dari : Body valve, Asembli Bonnet, dan Trim Valve.

Gambar 8 Body Valve Assembly Berbagai macam bentuk body control valve telah dikembangkan beberapa tahun yang lalu, namun secara garis besar valve dapat diklasifikasikan ke dalam dua kelompok berdasarkan cara penutupan, yaitu gerak linear dan gerak rotasi. Berikut beberapa valve body yang populer penggunaannya saat ini.

A. Globe Valves 1. Single-Port Valve Body Kelebihan : Rangeability : tinggi

Tight shutoff : kebocoran sangat kecil atau tidak ada pada saat control valve dalam kondisi baru atau baik. Tersedia plug yang dapat dibalik (reversible) Sering digunakan dalam ukuran di bawah 2 inches Control valve dengan disain unbalanced membutuhkan actuator yang relatif lebih besar. Mempunyai karakteristik Low Pressure Recovery.

Kekurangan :

a. Popular Single-Ported Globe-Style Valve Body Control valve ini digunakan secara luas pada aplikasi pengendalian proses,terutama untuk ukuran 1 ~ 4 inch.

Gambar 9 Popular Single-Ported Globe-Style Valve Body

b. Flanged Angle-Style Control Valve Body Bentuk angle valve hampir selalu single-port, biasanya digunakan di dalam aplikasi feedwater dan heater drain.

Gambar 10 Flange Angle-Style Control Valve Body

c. Bar Stock Valve Bodies Control valve ini sering digunakan untuk aplikasi korosif di dalam industri kimia.

Gambar 11 Bar Stock Valve Bodies

d. High Pressure Globe-Style Control Valve Body High pressure single-ported globe valve sering digunakan untuk aplikasi dalam produksi minyak dan gas. Flanged tersedia dalam rating class 2500.

Gambar 12 High Pressure Globe-Style Control Valve Body

e. Ballanced-Plug Cage-Style Valve Bodies Control valve ini tersedia dalam size hingga 20 inch dengan pressure rating class 2500.

Gambar 13 Ballanced-Plug Cage-Style Valve Bodies

f. High Capacity, Cage-Guided Valve Bodies Control valve ini dirancang untuk aplikasi yang menimbulkan noise seperti pada station penurunan tekanan dari gas bertekanan tinggi dimana kecepatan sonic (sonic velocity) dari gas sering ditemui pada keluaran valve bila menggunakan control valve konvensional.

2.

Double-Port Valve Body Control valve jenis double-port ini secara normal hampir semua di-

assembled dengan aksi plug valve secara push-down to open (reverse), namun dapat juga dirakit dengan aksi push-down to closed (direct). Control valve ini dirancang untuk digunakan

untuk fluida dengan viskositas tinggi, kotor, terkontaminasi atau proses yang mengakibatkan deposit pada trim valve. Kelebihan : Kapasitas flow : tinggi dibanding dengan single port valve pada ukuran yang sama. Rangeability : tinggi Control valve dengan disain unbalanced membutuhkan aktuator yang relatif lebih kecil dibanding single port. Tersedia plug yang dapat dibalik (reversible) Sering digunakan dalam ukuran di atas 2 inches

Kekurangan : Rate kebocoran (leakage) pada saat shut off relatif tinggi, Mempunyai karakteristik Low Pressure Recovery. Erosi terjadi pada aplikasi high pressure drop dalam kaitan dengan karakteristik kebocoran. Tidak baik untuk flow yang tinggi, aplikasi low pressure drop.

Gambar 14 Reverse-Acting Double-Ported Globe-Style Valve Body

3.

Three-Way Valve Bodies Three way valve dirancang untuk digunakan pada aplikasi sebagai

pemecah (diverting) aliran fluida dan sebagai penyatu (blending) aliran fluida.

Kelebihan : Baik untuk aplikasi blending atau diverting Dapat menggantikan 2 two-way valve pada aplikasi tertentu. Sering digunakan untuk sistem kontrol temperatur heat exchanger. Kekurangan : Tidak bias mengendalikan total flow. Bila diinginkan ukuran port yang berbeda, maka tidak tersedia. Harus diketahui kondisi flow dengan tepat.

Gambar 15 Three Way Valve with Balanced Valve Plug B. Rotary Valves 1. Butterfly Valve Bodies

Gambar 16 Typical Butterfly Control Valve

Kelebihan : Kapasitas : besar Hemat, terutama pada ukuran yang besar Mempunyai karakteristik High Pressure Recovery

Low pressure drop melalui valve Baik untuk servis slurry Membutuhkan space yang minimum untuk instalasi Tersedia dalam ukuran besar (hingga 200 inches)

Kekurangan : Torque tinggi, dibutuhkan actuator besar jika ukuran valve besar atau pressure drop tinggi Tight shut off tergantung pada penggunaan resilient seat dimana temperaturnya terbatas Throttling travel terbatas hingga 60

2.

V-Notch Ball Control Valve Bodies

Gambar 17 Rotary-Shaft Control Valve with V-Notch Ball Kelebihan : High capacity Karakteristik control : baik Rangeability : baik Baik untuk servis slurry

Kekurangan : Operating pressure : terbatas Tidak baik untuk high pressure drop.

3.

Eccentric-Plug Control Valve Bodies

Gambar 18 Eccentric-Plug Control Valve

4.

Eccentric-Disk Control Valve Bodies

Gambar 19 Eccentric-Disk Rotary-Shaft Control Valve

3. Asembli Bonnet Asembli bonnet ditempatkan di bagian atas body valve dan mempunyai seal untuk stem valve dengan maksud untuk mencegah kebocoran fluida di sepanjang stem. Biasanya menggunakan 3 gasket untuk seal bonnet pada body valve. Bonnet mengikat aktuator.

C.

Macam-macam Aktuator pada Valve dan Prinsip Kerjanya Aktuator piston beroperasi dengan suplai lebih tinggi (tipikal 60 150 psi)

1. Actuator Piston

dibanding tipe diaphragma. Aktuator piston juga memberikan stem travel lebih besar dibanding tipe diaphragma. Tekanan beban dapat dimasukkan pada bagian atas atau bawah untuk menggerakkan piston keatas atau kebawah. Ketika pada bagian atas dibebani dengan tekanan udara maka bagian bawah harus di dikosongkan agar piston dapat bergerak dan sebaliknya bila bagian bawah dibebani maka bagian atas harus dikosongkan.

Gambar 20 Diagram Konstruksi Aktuator Piston Aktuator piston standar berbeban double mempunyai fungsi sebagai fail safe position. Sebagai fail safe position mempunyai arti bahwa bila ada kejadian sinyal mengalami kegagalan maka valve tidak menutup penuh atau membuka penuh tetapi tetap berada pada posisi terakhir. Agar memberikan posisi fail safe, maka sebuah spring harus ditambahkan untuk menggerakkan aktuator piston pada posisi buka penuh atau tutup penuh. Cara kerja dari alat ini adalah aktuator piston biasanya banyak digunakan pada aplikasi kontrol on-off atau emergency shutdown (ESD) yang digerakkan oleh selenoid. Kelebihan tipe aktuator ini adalah, dapat menyediakan torsi maksimum dalam dua arah. Jika diperlukan dapat digerakkan dengan tenaga hidrolik. Sinyal beban adalah tekanan udara suplai instrumen penuh dan oleh karena itu kadangkadang diperlukan regulator. Aktuator tipe piston kadang-kadang digunakan untuk kontrol proporsional, atau aplikasi dimana bukaan valve harus berubah-ubah antara tutup penuh dan buka penuh. Dalam kasus seperti ini sinyal input dari kontroler dimasukkan ke valve positioner dan positioner mengatur posisi piston.

2. Actuator Elektrik Aktuator listrik pada dasarnya adalah motor listrik (biasanya tiga phase) dihubungkan dengan stem valve melalui gear set. Kombinasi dari motor, gear set, limit switch dan valve disebut valve yang dioperasikan dengan motor atau motor operated valve atau MOV.

Gambar 21 Control Valve Type Motor Operating Valve (MOV)

Aktuator hidrolik atau elektro-hidrolik dapat dipertimbangkan untuk mengisolasi area dan aplikasi-aplikasi dimana redamannya besar. Ball valve atau butterfly valve memerlukan aktuator dengan torsi yang ekstra tingi, dan cepat. Ini benar-benar khusus terutama jika sifat permintaan proses memerlukan sebuah valve dengan kinerja atau performan yang tinggi. Berkenaan dengan aktuator electro-hidrolik yang ditunjukkan dalam Gambar diatas, bila sinyal input listrik bertambah, maka medan maknit disekitar kumparan bertambah sehingga menggerakkan coil untuk mendekat ke gaya motor dan menggerakkan flapper untuk mendekati nozzle A dan menjauhi nozzle B. Tekanan yang tidak seimbang pada bellow memutar flapper untuk mendekati nozzle D dan menjauh dari nozzle C. Aksi ini menaikkan tekanan ke bagian atas silinder dan silinder menekan piston dan batang piston bergerak kearah bawah. Nozzle C mengijinkan fluida pada bagian bawah piston dibuang kembali ke casing. Lengan umpan balik dan pegas memberikan gerakan umpan balik piston sehingga membentuk lup tertutup agar terjadi keseimbangan gaya pada piston. Aktuator hidrolik murni bekerja dengan cara yang sama kecuali pompa (tidak memerlukan listrik) ditempatkan sedikit jauh dari aktuator. Pada beberapa instalasi khusus hidrolik yang lebih besar menghasilkan tekanan sampai 2000 psi akan digunakan pada beberapa aktuator hidrolik. Pendorong hidrolik yang kedua harus selalu disediakan untuk backup.

Manfaat hidrolik: a. Densitas energi lebih tinggi karena pressure yang digunakan juga biasanya lebih tinggi. b. Fluida yang digunakan biasanya incompressible, untuk mendapatkan spring action minimum. Ketika fluida hidrolic yang mengalir dihentikan gerakan aliran yang paling kecil sekalipun akan melepaskan pressure ke aliran sehingga tidak perlu melepaskan pressurized air untuk merelease tekanan load.

3. Aktuator Diaphragma Cara kerja control valve dengan penggerak pneumatik adalah sebagai berikut sebuah sinyal pneumatik dimasukkan pada bagian atas atau bawah diaphragma (tergantung aksi control valve). Sinyal tersebut menekan diaphragma dan pelat diaphragma (dihubungkan dengan stem valve) menggerakkan plug naik atau turun. Karakteristik valve dapat dimodifikasi dengan menggunakan gabungan perancangan plug dan cage. Manfaat pneumatik: a. Fluida yang digunakan bisa sangat ringan sehingga supply hosesnya tidak terlalu berat. b. Karena fluida yang digunakan biasanya hanya udara, tidak perlu pipa return untuk fluida yg digunakan dan bila ada bocor tidak akan messy.

BAB III KESIMPULAN

Final control element adalah elemen akhir dari suatu sistem pengendalian yang fungsinya mengkoreksi perbedaan antara process variable (PV) terhadap set variable (SV). Final control element dapat berupa control valve, motor, pompa yang menerima dan melaksanakan signal instruksi yang diberikan oleh controller untuk mempertahankan nilai variabel proses pada nilai setpoint-nya. Control valve adalah final control element yang paling umum digunakan untuk mengatur aliran bahan dalam sebuah proses. Control valve bertugas melakukan langkah koreksi terhadap variabel termanipulasi, sebagai hasil akhir sistem pengendalian. Control valve hanyalah salah satu elemen pengendali akhir (final element control), namun paling umum yang digunakan, Akibatnya muncul pengertian control valve = elemen pengendali akhir. Terdapat beberapa aspek yang harus diperhatikan ketika memilih control valve : 1. Jenis Pengendalian (Flow, Pressure, temperature, Level, analyzer dll) atau hanya On-Off control 2. Material control valve (satinless steel, carbon steel dll) 3. Fail opened atau fail closed 4. Aktuator (piston, elektrik, atau diaphragma) 5. Jenis control valve (globe atau rotary)

DAFTAR PUSTAKA

http://3lektroku.blogspot.com/2011/11/control-valve.html http://www.scribd.com/doc/46246001/34/Final-Control-Element http://www.scribd.com/doc/80730566/38/Control-Valve-Body http://yusufzae.blogspot.com/2012/03/makalah-instrumentasi-danpengukuran.html

TUGAS PENGENDALIAN PROSES

FINAL CONTROL ELEMENT

Disusun Oleh : 1. Muflih Arisa Adnan 2. Muh Kurniawan A.M. 3. Nidika Sawitri 4. Nita Patma Sari 5. Nurul Wulandari 6. Pradito Harlyandi I 0509029 I 0509030 I 0509032 I 0509033 I 0509035 I 0509037

JURUSAN TEKNIK KIMIA FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA 2012