Anda di halaman 1dari 12

TATA RUANG REKLAMASI TAMBANG BATUBARA di PT.

KALTIM PRIMA COAL


Oleh : M. Bismark RINGKASAN PT Kaltim Prima Coal (KPC) sebagai salah satu pemegang kuasa pertambangan batubara di Kutai Timur berkomitmen untuk memulihkan konsesi kawasan hutan bekas tambang dengan melakukan kegiatan reklamasi bekas tambang, rehabilitasi dan restorasi ekosistem. Rehabilitasi areal bekas tambang di PT KPC dimulai sejak tahun 1996 sampai 2009. Keberhasilan kegiatan ini dapat dilihat dari struktur vegetasi dan profil tegakan di hutan revegetasi pada tingkatan pohon umur 6 tahun, 10 tahun, 12 tahun dan hutan sekunder. Indikator lain adalah kehadiran 57 jenis burung, mamalia arboreal seperti orang utan (Pongo pygmaeus morio) dan ungulata. Pengelolaan selanjutnya dilakukan dengan penataan ruang kawasan restorasi ekosistem bekas tambang dalam bentuk zonasi yaitu zona lindung (14,6%), zona keanekaragaman hayati (20,6%), zona penyangga (14,5%), zona wisata (11,7%) dan zona pemanfaatan (38,6%) untuk mengoptimalkan fungsi tata ruang dan tata guna hutan. Porsi areal pemanfaatan di seluruh zonasi mencapai 65 % dari luas kawasan restorasi. Manfaat dari penataan zonasi adalah terbentuknya sistem DAS baru, koridor satwa, peningkatan perlindungan satwa langka, wisata alam dan wisata buru serta pengamanan Taman Nasional Kutai melalui penataan zona penyangga. PENDAHULUAN Reklamasi kawasan hutan bekas tambang merupakan bagian dari upaya pelestarian hutan khususnya di areal bekas tambang melalui revegetasi dan restorasi. Kawasan hasil restorasi memerlukan perhatian khusus karena sangat potensial untuk dikelola guna mempertahankan fungsi hutan, kelestarian biodiversitas dan sebagai penyangga bagi kawasan hutan sekitarnya maupun kawasan budidaya penghasil pangan, kayu bakar dan kebutuhan masyarakat lainnya. Pada saat terjadinya gejolak ekonomi dan moneter yang bersamaan dengan terjadinya perubahan iklim seperti musim kering yang panjang serta bencana kebakaran hutan dan lahan, menyebabkan terjadinya kerawanan pangan di pedesaan. Hal ini memerlukan adanya strategi dan kebijakan baru di sektor kehutanan untuk mempercepat penyelesaian masalah tersebut. Untuk itu sasaran rehabilitasi, restorasi dan pengelolaan kawasan hutan diarahkan pada pusat-pusat pemukiman penduduk desa hutan yang mempunyai tingkat ekonomi rendah dan rawan pangan. Pengembangan kawasan restorasi yang dikelola menurut zonasi sesuai kondisi biofisik dengan model agroforestri yang mengkombinasikan tanaman hutan dan tanaman pangan diharapkan dapat mengalihkan perhatian penduduk untuk tidak merambah ke dalam kawasan. Dengan tersedianya alternatif kegiatan yang memberikan insentif ekonomi bagi masyarakat secara berkelanjutan dalam zonasi kawasan restorasi akan meningkatkan nilai ekonomi dan fungsi hutan yang lebih baik, sehingga pengembangan dan pemanfaatan ruang di kawasan restorasi untuk kegiatan ekonomi dan konservasi akan sesuai dan mendukung Rencana Tata Ruang Wilayah. Penataan ini diperlukan untuk mencegah pemanfaatan lahan yang tidak 94

efisien, penggunaan ruang yang tumpang tindih antar sektor untuk kepentingan saat ini dan kepentingan masa depan, serta mencegah penggunaan lahan secara tidak terkendali yang dapat mengakibatkan kerusakan lingkungan. KAWASAN HUTAN KONSESI TAMBANG BATU BARA PT. KPC Kawasan berhutan di areal pertambangan PT KPC memiliki peran yang sangat penting bagi Taman Nasional Kutai sebagai kawasan penyangga, perluasan habitat dan daerah pengungsian satwa serta buffer bagi tekanan sosial-ekonomi penduduk sekitarnya. Dengan demikian, pengelolaan hutan di areal bekas tambang menjadi sangat strategis dan menentukan keberhasilan pengelolaan taman nasional tersebut. Di masa mendatang, hutan hasil reklamasi, rehabilitasi dan restorasi bekas tambang akan memiliki peranan yang sangat penting dalam rangka pemulihan ekosistem regional Kutai Timur khususnya dan Kalimantan Timur pada umumnya. Pengelolaan hutan konsesi dan restorasi areal bekas tambang adalah untuk mempertahankan fungsi hutan yang diindikasikan dari potensi biodiversitas, perbaikan habitat, daerah tangkapan air dan nilainya sebagai kawasan budidaya, ekowisata, pendidikan dan penelitian. Hutan dan jasa lingkungan di beberapa kawasan konservasi diketahui telah mengalami degradasi akibat tekanan dan permasalahan sosial, terutama disebabkan pola pemanfatan hutan dan lahan di luar kawasan. Mengingat pentingnya kawasan tambang PT KPC, dalam landskap bioregion Kalimantan Timur untuk perlindungan biodiversitas, habitat satwa terutama yang endemik diluar kawasan konservasi (PT KPC berbatasan dengan Taman Nasional Kutai) perlu pengelolaan kawasan restorasi yang telah dilaksanakan di kawasan bekas tambang PT. KPC. Pengelolaan untuk tujuan sebagaimana Gambar-1, dilakukan melalui koordinasi perencanaan dan pelaksanaan, sehingga pengembangan dan pengelolaan kawasan Hutan Restorasi mendapat dukungan dari berbagai sektor yang berkepentingan. Penetapan zonasi dalam kawasan restorasi didasarkan pada tiga aspek yang saling terkait yaitu aspek ekologi, ekonomi, dan sosial budaya masyarakat sehingga diharapkan dapat memberikan nilai tambah ekonomi untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat, dan mampu memulihkan fungsi hutan serta perlindungan bagi kawasan konservasi dan budaya masyarakat disekitarnya. Oleh karena itu pengelolaan kawasan hutan bekas tambang dapat pula mendukung program pengelolaan Taman Nasional Kutai melalui zona penyangga. Keterlibatan dan peran aktif masyarakat dalam pelaksanaan pengembangan manfaat dan fungsi kawasan restorasi merupakan bagian dari program pengelolaan kawasan kolaboratif.

95

KAWASAN HUTAN

PENGELOLAAN TAMBANG BATUBARA

KAWASAN BEKAS TAMBANG

KAWASAN HUTAN LAIN DAN HUTAN RIPARIAN

RESTORASI EKOSISTEM

FUNGSI EKONOMI

PENGELOLAAN KAWASAN RESTORASI DENGAN ZONASI

FUNGSI KONSERVASI

RESTORASI UNTUK: Tanaman budidaya Tanaman keras/kebun Hutan tanaman rakyat Silvopasture/peternakan Blok buru/Wisata Alam Tanaman buah-buahan Tanaman obat Tanaman energi nabati

RESTORASI UNTUK: Pengkayaan hutan Restorasi habitat satwa (tanaman pakan) Desa wisata hutan Agroforestry Penangkaran satwa langka Reintroduksi primata endemik

Kolaborasi Pengelolaan Kawasan Restorasi Oleh KPC dan Pemda (Sektor) Terkait

Penigkatan Sistem Ekonomi

Pengelolaan daerah Penyangga

Pelestarian Kehati dan DAS

Pemantapan Tata Ruang

Gambar-1.

Diagram Pengembangan Pengelolaan Kawasan Restorasi Lahan Bekas Tambang Batubara PT. KPC.

Untuk mengatasi dampak pemanfaatan kawasan sekitar taman nasional terhadap pelestarian fungsi taman nasional maupun nilai ekonomi dan ekologi kawasan di sekitar taman nasional diperlukan model pengelolaan kawasan di luar taman nasional, termasuk restorasi ekosistem yang mendukung kebijakan pengelolaan taman nasional. Kawasan ini dikelola sebagai buffer zone atau zona penyangga, seperti kegiatan restorasi ekosistem di kawasan tambang oleh PT KPC. Rehabilitasi areal bekas tambang di PT KPC telah dimulai sejak tahun 1996 berlanjut hingga tahun 2009 dengan luas lebih dari 5.000 ha, adapun sebaran areal rahabilitasi dapat dilihat pada Gambar 2.

96

Gambar 2.Rehabilitasi areal bekas tambang PT KPC tahun pelaksanaan 1996 sampai tahun 2008.

EKOLOGI KAWASAN RESTORASI 1. Hutan Revegetasi Kawasan hutan di Kalimantan pada umumnya dan di wilayah Sangata, Bengalon dan Muara Wahau sudah sangat terfragmentasi dan diperkirakan akan terus terdegradasi seiring dengan pembukaan lahan untuk perkebunan, pertambangan dan pengembangan wilayah. Dalam konteks integritas ekosistem regional, kawasan PT. KPC merupakan bagian dari ekosistem regional Kalimantan Timur, khususnya Kutai Timur yang berperan sebagai penghubung atau koridor antar fragmen ekosistem hutan di Kalimantan yang telah terdegradasi dan terfragmentasi tersebut. Untuk itu perlu revegetasi dan restorasi ekosistem dimana pertambahan hutan revegetasi merupakan salah satu indikator untuk mengetahui keberhasilan rehabilitasi lahan bekas tambang dan restorasi ekosistem, disamping keberadaan satwaliar arboreal yang dapat dijumpai. a. Hutan Revegetasi Restorasi pada areal bekas tambang batubara oleh pihak pengelola KPC dilaksanakan sejak tahun 1996 pada beberapa lokasi sehingga saat ini terdapat beberapa areal revegetasi dalam tingkatan umur yaitu Arboretum umur 12 tahun, HS Hatari umur 10 tahun, dan H-East Dam (Taman Payau) umur 6 tahun. Struktur vegetasi pada tingkat pohon di areal restorasi bekas tambang, KPC tersebut dan hutan sekunder yang ada tercantum pada Tabel-1.

97

Tabel-1.
No. 1. 2.

Struktur vegetasi pada tingkat pohon di areal revegetasi PT. KPC.


Parameter H-East Dam (6 Thn) 256 - johar Johar, laban, ketapang sengon 11 - sengon buto, 4 - sengon buto, 4 - sengon buto, 4 - johar, 192 - sengon, 16 - sengon buto, 16 4 HS Hatari (10 Thn) 416 sengon Johar, sengon, kassia Johar, sengon, kassia 6 - sengon, 8 - sengon, 32 - sengon, 48 - sengon, 20 - johar, 124 - kassia, 126 - johar, 112 - sengon, 36 6 Arboretum (12 Thn) 336 Sengon, johar, laban Gmelina, laban, johar Kobung, johar, laban 8 - sengon ,8 - sengon, 20 - jabon ,4 - johar , 4 - kobung,128 - kassia ,72 - johar ,48 2 Hutan Sekunder 228 kenanga elaeo slip, perupuk Sengkuang, setapung, kenanga 23 - elaelo slip, 4 - perupuk, 4 - ketapang ,4 - kenanga, 16 - kalak, 16 - kenanga, 16 - perupuk 8 - malik angin,20 - perupuk, 16 8

Kerapatan pohon (pohon/ha) Jenis pohon dominan Starta A (> 30) Starta B (25-30) Strata C (20-25 m) Strata D (15-20 m) Strata E (10 15 m) Strata F (5-10 m)

3. 4.

Strata G (< 5 m) Jenis pohon Potensi tegakan/ha Diameter > 50 cm (pohon/ha) Diameter 40-49 cm (pohon/ha) Diameter 30-39 cm (pohon/ha) Diameter 20-29 cm (pohon/ha) Diameter 10-19 cm (pohon/ha)

5.

Jenis pohon pakan satwa

Tumbuhan yang direhabilitasi telah berkembang bersama menjadi habitat dengan jenis pohon yang menjadi sumber pakan satwa. Bagian pohon yang dimakan adalah buah, daun muda dan kulit pohon, seperti sengon, sengon buto, ketapang, kranungan, dan laban. Profil tegakan vegetasi di PT. KPC Gambar-3 dan struktur tegakan hutan revegetasi di kawasan KPC, tersaji pada Gambar-4.

98

15 Tinggi bebas cabang (m) Tinggi total (m) T g i P h n(m in g o o ) 10

30

T g i P h n(m in g o o )

6 tahun

25 20 15 10 5 0

Tinggi bebas cabang (m) Tinggi total (m)

10 tahun

0 1 11 21 31 No Pohon 41 51 61

11

21

31

41

51

61

71

81

91

101

No Pohon

12 tahun
15 T g i P h n(m in g o o ) Tinggi bebas cabang (m) Tinggi total (m)

35 30 T g i P h n(m in g o o ) 25 20 15 10 5

Ht sekunder
Tinggi bebas cabang (m) Tinggi total (m)

10

0 1 11 21 31 41 No Pohon 51 61 71 81

0 1 11 21 31 No Pohon 41 51

Gambar-3. Profil tegakan tingkat pohon di areal revegetasi umur 6 tahun, 10 tahun, 12 tahun dan hutan sekunder.
AB_E Dam I (6 Th) Hatari (10 Th) Arboretum (12 Th) 6000 K ra a nte a n(N a e p ta g k /h )

5625 3000 1400 0 0 0 Semai Pancang Strata tegakan Pohon 0 2100 256 416 336

Gambar-4.

Struktur tegakan berdasarkan strata di hutan revegetasi.

2. Ekologi Satwaliar Keanekaragaman jenis satwaliar di areal revegetasi dan hutan sekunder mulai membaik, seperti keragaman jenis burung dan mamalia arboreal. Keberadaan satwa dengan status endemik dan jenis dilindungi akan menunjukkan peningkatan peran ekologis ekosistem hutan revegetasi yang dibangun. a. Burung Secara umum kawasan hutan revegetasi sudah mulai berfungsi sebagai habitat bagi beberapa jenis burung, terutama jenis-jenis burung pemakan serangga (insectivore). Dari 57 jenis burung yang dijumpai selama pengamatan, komposisinya adalah 45,6% jenis burung pemakan serangga, 22,8% burung pemakan buah (frugivores), 7% burung pemangsa dan 5,3% burung madu. Beberapa jenis burung penting yang dijumpai di kawasan tambang adalah rangkong badak (Buceros rhinoceros), elang hitam (Ictinaetus malayensis) dan burung kuntul (Egretta garzetta). Burung pemangsa (Falconidae dan Accipitridae) jarang dijumpai. Sementara itu di beberapa areal padang rumput dan daerah perairan danau dijumpa jenis-jenis burung air seperti burung mandar (Gallirallus striatus), bubut alang-alang (Centropus sinensis), burung kuntul (Egretta garzetta) dan raja udang (Alcenidae). Jika dibandingkan dengan hasil penelitian terdahulu, di areal revegetasi telah dijumpai 121 jenis burung (Boer, dkk. 2008). Formasi jenis tanaman yang cenderung seragam dan berasosiasi dengan tumbuhan semak belukar hanya dapat memberikan daya dukung bagi jenis-jenis burung pemakan serangga. Selain itu umur tanam hutan revegetasi masih relatif muda dengan didominasi oleh tanaman dengan kelas diameter 10-19 cm. Kondisi

99

tersebut masih menyulitkan jenis burung besar besar seperti burung rangkong dan elang untuk beraktivitas dan bersarang. b. Mamalia Pada hutan revegetasi yang diamati, kehadiran jenis mamalia terestrial lebih banyak daripada jenis mamalia arboreal (Tabel-2). Tabel-2. Jenis mamalia yang terdapat di areal hutan revegetasi PT. KPC dan status perlindungannya.
No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 Nama Lokal Orangutan Monyet Lutung merah Kalawet Beruk Rusa payau Pelanduk Kijang Tupai Musang Linsang air Bajing Beruang madu Nama Ilmiah Pongo pygmaeus morio Macaca fascicularis Macaca nemestrina Hylobates muelleri Macaca nemestrina Cervus unicolor Tragulus napu Muntiacus muntjak Lariscus insignis Paradoxurus hermaproditus Prionodon linsang Calosciurus notatus Helarctos malayanus Famili Pongidae Cercophitecidae Cercophitecidae Hylobatidae Cercophitecidae Cervidae Tragulidae Cervidae Sciuridae Viveridae Viverida Sciuridae Ursidae Status Perlindungan En (IUCN), App.I CITES, PP.7/1999 En (IUCN), App.I CITES, PP.7/1999 App.II CITES, PP.7/1999

PP.7/1999

c. Primata Jenis mamalia arboreal dari bangsa primata di PT. KPC adalah Pongo pygmaeus morio, Macaca fascicularis, Macaca nemestrina, Hylobates muelleri, Macaca nemestrina. Keberadaan orangutan diindikasikan dengan ditemukannya sarang orangutan di areal revegetasi taman payau. Sebagian besar sarang ditemukan pada bagian tepi areal revegetasi. Hal ini dimungkinkan karena pohon yang tumbuh dibagian luar lebih besar dan lebih tinggi dibanding dengan pohon yang ada pada bagian dalam. Jenis-jenis pohon yang dijadikan pohon sarang yaitu sengon, gmelina dan johar. Di areal revegetasi ditemukan orangutan dengan anak yang masih digendong. Jenis tanaman revegetasi adalah johar (Cassia siamea), jabon (Anthecephalus chinensis), sengon (Paraserianthus falcataria), laban (Vitex pubescens) dan gmelina (Gmelina arborea). Rata-rata kelas diameter jenis tanaman tersebut adalah 10-19 cm. Jenis-jenis tersebut bukan merupakan jenis pohon pakan. Di beberapa hutan revegetasi, ditemukan tanaman sengon terkelupas kulit batangnya karena dikonsumsi oleh orangutan dan temuan beberapa sarang orangutan yang dibangun di pohon johar dan gmelina. Beberapa jenis pohon yang terdapat di hutan sekunder, seperti ketapang (Terminalia macrocarpa), rambai (Bacaurea sp.), sengkuang (Dracontomelon dao) dan longan (Euphorianthus longan) merupakan sumber pakan orangutan.

100

Gambar-5. a) Aktivitas makan orangutan di hutan TN. Kutai; b) pohon sarang orangutan di kawasan hutan revegetasi taman payau; c) orangutan melakukan aktivitas di hutan revegetasi; d) Kulit batang tanaman sengon yang dikonsumsi orangutan. d. Ungulata Potensi kawasan atau areal reklamasi bekas tambang batubara PT. KPC potensial sebagai habitat satwa khususnya satwa ungulata seperti rusa (Cervus unicolor), kijang (Muntiacus muntjak), dan kancil (Tragulus napu) yaitu areal revegetasi umur 5 tahun ke atas dengan tumbuhan bawah jenis rumput dan hijauan sebagai sumber pakan. Namun demikian hanya beberapa areal yang ideal untuk dijadikan sebagai habitat, karena sebagian areal reklamasi tidak mempunyai grazing area sebagaimana habitat herbivora umumnya. Jenis-jenis rumput yang tumbuh dalam areal revegetasi yang berfungsi dan potensial sebagai pakan satwa herbivore seperti rusa, kijang dan kancil yaitu; rumput Brachiaria decumbens, Axonopus compressus, carex baccans, paspalum conjugatum, panicum barbatum, Isachne globosa, Leersia hexandra dan Imperata cylindrica, serta jenis-jenis legume seperti kaliandra (Calliandra callothyrus), turi (Sesbania glandiflora) dan lamtoro (Leucaena leucocephala). Jenis-jenis rumput dan legume disukai satwa ungulata khususnya rusa. Di areal dimana ditemukan jejak rusa dan kancil pada hutan revegetasi 10 tahun dengan kerapatan 416 pohon/ha mempunyai biomasa rumput sebesar 4,45 ton/ha (berat basah) atau 0,855 ton/ha (berat kering). Hasil perhitungan biomasa pada areal restorasi 12 tahun menghasilkan rumput 4,32 ton/ha (berat basah) dan 1,030 ton /ha (berat kering), sedangkan tanaman hutan 6 tahun menghasilkan berat basah rumputan 15,50 ton/ha dan berat kering 3,890 ton/ha. Jika produksi biomasa kering di areal restorasi berkisar antara 0,855 ton/ha sampai 3,890 ton/ha maka areal restorasi dapat menampung rusa antara 4 ekor sampai 19 ekor per hektar. Perkiraan daya dukung tiap lokasi dapat dilihat pada Tabel-3.

101

Tabel-3. Perkiraan daya dukung rusa pada areal hutan revegetasi.


No. 1. 2. 3. Umur Revegetasi Hutan 6 tahun 10 tahun 12 tahun Jumlah Jenis Tumbuhan Pohon 5 6 8 Jumlah Jenis Perkiraan Daya Tumbuhan Bawah Dukung (Individu/ha) Potensial 2 19 7 4 7 5

ZONASI KAWASAN HUTAN RESTORASI 1. Tipe Zonasi Faktor biofisik, sosial, ekonomi dan budaya masyarakat sekitar kawasan menjadi parameter merumuskan penetapan zonasi pengelolaan areal revegetasi yang diperkaya dengan kegiatan restorasi lahan bekas tambang. Zonasi yang sesuai dengan penataan fungsi dan manfaat ekologis kawasan restorasi adalah sebagai berikut: 1). Zona Kawasan Lindung Areal sekitar sumber air yang mempunyai manfaat penting untuk mempertahankan kelestarian fungsi DAS, tata air dan sumber air. Kawasan berlereng curam yang tidak mungkin diperbaiki topografinya dan rawan erosi atau longsor perlu di restorasi dan ditetapkan sebagai zona lindung dan areal khusus yang perlu ditetapkan sebagai zona lindung misalnya adalah areal penimbunan limbah, areal penyaringan atau purifikasi bahan pencemaran dan areal lainnya yang berbahaya. 2). Zona Penyangga Areal yang dapat difungsikan sebagai zona penyangga terhadap kawasan konservasi adalah kawasan hasil restorasi yang berbatasan langsung atau berdekatan dengan kawasan konservasi yang berfungsi sebagai perluasan habitat, daerah transit satwa migran, daerah pengungsian satwa, koridor lintasan satwa dan stepping stone satwa migran. 3). Zona Konservasi Keanekaragaman hayati Areal restorasi yang perlu ditetapkan sebagai zona konservasi keanekaragaman hayati antara lain adalah areal yang merupakan daerah jelajah harian, tempat bersarang atau berlindung dan tempat mencari makan satwa. 4). Zona Wisata Zona ini meliputi arboretum koleksi jenis-jenis pohon asli setempat atau endemik dan terancam punah atau dilindungi, hutan penelitian dan pendidikan, areal wisata alam, blok wisata buru dan penangkaran. Di zona ini memungkinkan untuk dibangun hutan wisata dengan mengatur jarak dan komposisi pohon sesuai dengan topografi dan bentang alamnya yang bernilai aestetika. Areal berburu dengan mengembangkan vegetasi rumput dan semak dengan pohon pelindung jenis lokal. 5). Zona Pemanfaatan Berupa areal budidaya intensif diperuntukkan sebagai basis pengembangan pertanian berkelanjutan dengan komoditas tanaman keras bernilai komersial tinggi, misalnya kelapa sawit, kakao, karet dan peternakan sapi. Sedangkan areal budidaya konservatif merupakan areal usaha budidaya yang dikombinasikan dengan usaha konservasi seperti; agroforestry, hutan kemasyarakatan, areal perburuan tradisional dan areal pemanfaatan hasil hutan bukan kayu.

102

2. Tata Ruang dan Tata Hutan 1). Tata Ruang Areal bekas tambang PT. KPC yang telah direklamasi dan direstorasi merupakan bagian tak terpisahkan dari sistem tata ruang wilayah Kabupaten Kutai Timur. Oleh karena itu, penataan ruang areal restorasi harus sejalan dengan kebijakan tata ruang daerah Kabupaten Kutai Timur. Berdasarkan hasil dileniasi areal reklamasi pasca tambang pada pengakhiran tambang (mine closure) di wilayah Sangata seluas 46.619,51 hektar, luas masing-masing zona sebagaimana Tabel-4, sedangkan komposisinya disajikan pada Gambar-6. Tabel-4. Pembagian luas zonasi areal restorasi pasca tambang PT. KPC.
ZONASI ZONA KONSERVASI KEHATI ZONA LINDUNG ZONA PENYANGGA ZONA PEMANFAATAN ZONA WISATA Luas (Ha) 9.600,50 6.814,68 6.764,98 17.994,09 5.445,26 46.619,51 Daratan (Ha) 8.957,16 6.424,55 6.662,30 17.994,09 4.944,74 44.982,84 Air/Danau (Ha) 643.34 390.13 102.68 0.00 500.52 1.636.67

Dari Gambar-6 tampak bahwa zona pemanfaatan menempati proporsi terbesar yaitu 38,09%. Zona pemanfaatan merupakan penyangga perekonomian masyarakat dan daerah setelah penambangan batubara selesai. Zona konservasi keanekaragaman hayati (kehati) di urutan kedua yaitu 20,59%. Zona konservasi tersebut sangat penting mengingat areal restorasi merupakan habitat satwa umbrella species dan keystone species yaitu orangutan Borneo (Pongo pygmaeus morio).
ZONA WISATA 11.7% ZONA KONSERVASI KEHATI 20.6%

Kawasan Fungsi Perlindungan 35%

ZONA LINDUNG 14.6%

ZONA PEMANFAATAN 38.6%

ZONA PENYANGGA TN. KUTAI 14.5%

Kawasan Fungsi Budidaya 65%

Gambar-6. Komposisi luas zonasi areal restorasi lahan pasca tambang PT. KPC dan pemanfaatannya. Apabila dilihat dari potensi pemanfaatan ruang di setiap zona guna pengembangan perekonomian daerah melalui berbagai kegiatan seperti pertanian, perkebunan, perikanan, wisata dan pengembangan wilayah maka diperoleh luasan seperti disajikan pada Tabel-5.

103

Tabel-5.

Luas dan persentase area restorasi bekas tambang PT. KPC yang dapat dimanfaatkan sesuai peruntukkannya.
Luas (Ha) 3.193,66 1.528,07 8.352,23 4.920,13 3.281,53 2.163,74 6.764,98 9.600,50 6.814,68 46.619,51 Porsi Pemanfaatan (%) 100 100 100 100 100 100 30 30 30 Jumlah 2.880,15 2.044,40 30.393,40 3.281,53 2.163,74 2.029,49 Luas Dapat Dimanfaatkan (Ha) 3.193,66 1.528,07 8.352,23 4.920,13

ZONA/BLOK PERUNTUKAN 1. ZONA PEMANFAATAN a. Budidaya Konservatif b. Pemanfaatan Terbatas c. Budidaya Intensif d. Pengembangan 2. ZONA WISATA a. Wisata Buru/Penangkaran b. Wisata Alam 3. ZONA PENYANGGA TN. KUTAI 4. ZONA KONSERVASI KEANEKARAGAMAN HAYATI 5. ZONA LINDUNG Jumlah

Ruang yang dapat dimanfaatkan untuk kegiatan ekonomi tersebar di semua zona. Untuk zona penyangga ekonomi, zona pemanfaatan dan zona wisata, arealnya 100% dapat dimanfaatkan untuk kegiatan ekonomi. Sedangkan di zona konservasi keanekaragaman hayati, zona lindung dan zona penyangga kawasan konservasi TN Kutai, masing-masing disediakan ruang 30% untuk kegiatan ekonomi. Kegiatan ekonomi yang boleh dilakukan adalah yang tidak bertentangan dengan peraturan perundangan dan ketentuan yang berlaku. Dalam konteks tata ruang wilayah, dimana suatu kawasan dibagi, menjadi fungsi perlindungan dan fungsi budidaya, maka komposisi ruang dari kawasan restorasi bekas tambang PT. KPC yang diperuntukan bagi fungsi lindung adalah 16.226,11 hektar (34.81%) dan fungsi budidaya 30393.4 hektar (65.19%). 2). Tata Hutan Pembangunan kembali hutan pada areal bekas tambang batu bara melalui kegiatan rehabilitasi dan restorasi merupakan program jangka panjang. Oleh karena itu pengelolaannya perlu direncanakan dengan sebaik-baiknya. Menurut UU No. 41 tahun 1999 tentang kehutanan pengelolaan hutan meliputi kegiatan (pasal 21): 1. Tata hutan dan penyusunan pengelolaan hutan, 2. Pemanfaatan hutan dan penggunaan kawasan hutan, 3. Rehabilitasi dan reklamasi hutan, 4. Perlindungan hutan dan konservasi alam. Tata hutan dilaksanakan dalam rangka pengelolaan kawasan hutan yang lebih intensif untuk memperoleh manfaat yang lebih optimal dan lestari (pasal 22, ayat 1, UU No. 41 tahun 1999). Tata hutan meliputi pembagian kawasan hutan dalam blok-blok berdasarkan ekosistem, tipe, fungsi dan rencana pemanfaatannya (pasal 22, ayat 2). Sedangkan pemanfaatan hutan bertujuan untuk memperoleh manfaat optimal bagi kesejahteraan masyarakat (pasal 23). Penyelenggaraan perlindungan hutan adalah untuk menjaga lingkungan dan fungsi hutan, fungsi produksi dan konservasi secara optimal (pasal 46).

104

Pembagian zonasi merupakan upaya penataan dalam rangka rancang bangun unit pengelolaan hutan, mencakup pengelompokan sumber daya hutan sesuai dengan tipe ekosistem dan potensi yang terkandung di dalamnya dengan tujuan untuk memperoleh manfaat yang sebesar-besarnya bagi kemakmuran masyarakat secara lestari. Perencanaan dan pengelolaan masing-masing zona mengacu pada ketentuan peraturan perundangan yang berlaku.

KESIMPULAN 1. Revegetasi kawasan bekas tambang batu bara PT KPC dan pemulihan fungsi hutan melalui restorasi ekosistem sudah menunjukkan perbaikan lingkungan dari segi pertumbuhan vegetasi, kerapatan pohon dan potensi tumbuhan bawah. 2. Perbaikan ekosistem hutan revegetasi yang dibangun telah berfungsi sebagai habitat bagi burung, mamalia dan primata, diantaranya jenis-jenis langka. 3. Untuk mengoptimalkan fungsi hutan, kawasan restorasi ditata dan dikelola dengan sistem zonasi, yaitu zona pemanfaatan (38,6%), zona wisata (11,7%), zona penyangga taman nasional (14,5%), zona konservasi keanekaragaman hayati (20,6%) dan zona lindung (14,6%). Berdasarkan pemanfaatannya, areal di seluruh zonasi yang menunjang kegiatan budidaya mencapai 65%. 4. Manfaat ekologis dari penataan zonasi meliputi terbentuknya sistem DAS baru, terbangunnya koridor satwa dan areal introduksi orangutan, serta peningkatan keanekaragaman satwa. Sedangkan dari nilai ekonomi adalah terbangunnya areal agroforestry, desa wisata, taman buru dan pengembangan zona penyangga taman nasional.

BAHAN BACAAN Anonimous. 2009. Disain Restorasi Ekosistem Lahan Bekas Tambang Batu Bara PT. Kaltim Prima Coal Kalimantan Timur. Kerjasama Pusat Litbang Hutan dan Konservasi Alam dengan PT. Kaltim Prima Coal. Departemen Kehutanan, Badan Litbang Kehutanan, Pusat Litbang Hutan dan Konservasi Alam. Bogor. Boer, C., Sutejo, Harmonis dan R.B. Suba. 2008. Analisis interelasi tumbuhan dan satwa di areal reklamasi-rehabilitasi pasca tambang batubara. Kerjasama antara Universitas Mulawarman dengan PT. KPC.

105