Anda di halaman 1dari 10

KEANEKARAGAMAN BURUNG DI KAMPUS KETINTANG UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA Birds Diversity in Ketintang Campus, the State University of Surabaya

Aushia Tanzih Al Haq, Novi Irmania, Ica Nur Indasari, dan Reni Ambarwati Jurusan Biologi-FMIPA Universitas Negeri Surabaya, Email: renibio95@yahoo.co.id

ABSTRACT Birds occupy a wide range of ecological positions and human interest. Nonetheless, birds undergo habitat loss due to the beginning of land conversion and degradation. Ketintang Campus of State University of Surabaya (Unesa) had wet land and dry land which probably associated with birds, so it is important to assess the birds diversity in this area. The purposes of this study were to know the birds diversity in Ketintang Campus, and to identify the vegetation which is liked by those birds. The observation was done along the transects exploration by walking slowly in each 20 metres distance and 10 metres radius for 15 minutes. The data obtained by replicating the observation in three times on 05.30-08.00 a.m. and 03.00-05.00 p.m. The results showed that there were 12 species of birds belong to 9 families, i.e. Apodidae, Ardeidae, Columbidae, Dicaeidae, Hirundinidae, Nectariniidae, Ploceidae, Pycnonotidae, and Silviidae. The most abundant species were Collocalia esculenta and Passer montanus. The protected bird found was Nectarinia jugularis. The vegetation liked by those birds were the type of seedy and fruity trees. Key words: birds, diversity, Ketintang Campus of the State University of Surabaya

PENGANTAR Burung merupakan satwa yang mempunyai arti penting bagi suatu ekosistem maupun bagi kepentingan hidup manusia. Peranan burung yang cukup penting adalah membantu mengontrol populasi serangga, membantu penyerbukan bunga, dan pemencaran biji (Hernowo dan Prasetyo, 1989). Satwa ini dapat juga menjadi ancaman bagi petani ataupun peladang (Ambarwati, dkk., 1997). Burung juga termasuk jenis satwa yang banyak dikonsumsi oleh masyarakat Jawa Timur. Berbagai jenis burung di Indonesia memiliki nilai ekonomi yang cukup tinggi, antara lain berdasarkan potensi morfologis, suara, tingkah laku dan sebagai sumber protein hewani (Iskandar, 1989). Kehadiran burung dalam jaringjaring makanan menjadikannya sebagai indikator lingkungan karena

apabila terjadi degradasi lingkungan, burung menjadi komponen alam terdekat yang terkena dampaknya. Saat ini, sayangnya, sebagian besar hutan di Jawa dan Bali yang berfungsi sebagai habitat alami burung telah dikonversi untuk penggunaan lain dan sebagian lainnya telah mengalami kerusakan. Penutupan hutan di Jawa dan Bali hanya meliputi 8% dari seluruh lahan daratan (Whitten, 1996). Keterbatasan lahan di Jawa dan Bali dan berkurangnya habitat alami ini menyebabkan burung sulit mendapatkan makanan dan memelihara keturunan mereka dengan baik. Dengan demikian, perlu

diupayakan usaha pelestarian burung secara ex-situ (di luar habitat aslinya, misalnya areal suaka alam) maupun in-situ, termasuk areal perkotaan, misalnya taman kota, jalur hijau, perkebunan, pekarangan, atau bahkan sekolah dan kampus. Profil wilayah Kampus Ketintang Universitas Negeri Surabaya (Unesa), yang terbagi dalam lahan basah dan lahan kering, terletak di kawasan Wonokromo yang merupakan wilayah pemukiman,

perdagangan, dan jasa, menarik untuk diangkat sebagai lahan konservasi yang menunjang habitat alami burung. Habitat burung yang paling utama antara lain adalah pekarangan, kebun, hutan, sawah, dan taman-taman yang terdapat sejumlah pohon. Pohon merupakan komponen habitat burung yang terpenting karena berfungsi sebagai tempat untuk mencari makanan, tempat tinggal dan sebagai tempat untuk bersarang dan bertelur. Data tentang kenakeragaman jenis burung di kawasan Kampus Ketintang Unesa saat ini belum tersedia sehingga perlu dilakukan penelitian inventarisasi dan identifikasi keanekaragaman jenisnya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui keanekaragaman jenis burung di Kampus Ketintang Universitas Negeri Surabaya dan mengetahui jenis vegetasi yang disukai oleh burung di Kampus Ketintang Universitas Negeri Surabaya.

CARA KERJA Penelitian dilakukan dengan metode jelajah, melalui jalur transek yang telah ditentukan dan mencatat semua jenis burung yang terlihat di sekitarnya (Hidayat et al, 1996). Objek penelitian adalah burung-burung yang terdapat pada kawasan Kampus Ketintang Universitas Negeri Surabaya. Setiap jarak 20 meter, pengamat berhenti selama 15 menit untuk mengamati daerah sekelilingnya dengan radius 10 meter (modifikasi Bibby dan Burgees, 1992). Alat-alat yang digunakan adalah binokuler, lembar pengamatan, alat tulis, peta observasi, penunjuk waktu, kamera, serta buku panduan lapangan burung-burung Jawa dan Bali. Inventarisasi burung dilakukan pada pagi hari pada pukul 05.30 08.00 WIB dan sore hari pada pukul 15.00 17.30 WIB. Identifikasi burung dilakukan dengan mencocokkan antara data yang diperoleh di lapangan melalui observasi dengan sumber pustaka yang ada, yaitu buku panduan lapangan burung-burung Jawa dan Bali (MacKinnon, 1995; Holmes dan Nash, 1999). Adapun inventarisasi vegetasi dilakukan dengan mencatat semua jenis tumbuhan yang menjadi habitat burung dimana burung yang bersangkutan terlihat melakukan aktivitas seperti nesting, roosting, dan feeding. Replikasi observasi burung dilakukan sebanyak tiga kali pengamatan pagi hari dan tiga kali pengamatan sore hari pada hari yang sama.

HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil penelitian menunjukkan bahwa di kawasan Kampus Ketintang Universitas Negeri Surabaya terdapat 9 famili burung. Satu famili, yaitu Ardeidae, merupakan famili burung air tawar (freshwater bird) dan delapan famili lainnya adalah burung darat (terrestrial bird). Burung ini dijumpai pada lahan terbuka, sawah, taman, dan hutan kampus yang terletak di belakang Fakultas MIPA. Hasil identifikasi menunjukkan bahwa dua jenis merupakan anggota Hirundinidae, dua jenis dari famili Ploceidae, dua jenis dari Pycnonotidae, sedangkan yang termasuk dalam famili Apodidae,

Ardeidae, Columbidae, Dicaeidae, Nectariniidae, dan Silviidae masingmasing hanya satu jenis (Tabel 1). Tabel 1. Jenis burung yang dijumpai pada kawasan Kampus Ketintang Universitas Negeri Surabaya Famili Apodidae Ardeidae Columbidae Dicaeidae Hirundinidae Nama spesies Collocalia esculenta Ardeola speciosa Streptopelia chinensis Dicaeum trochileum Hirundo rustica Nama daerah Status perlindungan N N N N N N P N N N N N

Nectariniidae Ploceidae

Pycnonotidae Silviidae

Walet sapi Blekok sawah Tekukur Cabai jawa Layang-layang api Layang-layang Hirundo tahitica batu Burung madu Nectarinia jugularis sriganti Lonchura gastrocoides Bondol jawa Burung gereja Passer montanus erasia Pycnonotus aurigaster Cucak kutilang Merbah cerukcuk Pycnonotus goiavier Prenjak jawa Prinia familiaris

Keterangan: Status perlindungan: P: dilindungi di Indonesia, N: tidak dilindungi; berdasarkan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 7 tahun 1999

Berdasarkan kehadirannya pada saat pengamatan, jenis burung yang selalu dijumpai adalah anggota famili Apodidae, Columbidae, Dicaeidae, Hirundinidae, Ploceidae, dan Pycnonotidae (Tabel 2). Enam famili ini adalah jenis burung darat yang sering dijumpai di lokasi pengamatan, dengan jumlah yang relatif lebih banyak dibandingkan burung darat lainnya. Anggota Apodidae dan Hirundinidae cenderung aerial dan seringkali dijumpai terbang melayang atau melingkar di atas tanah atau air untuk menangkap serangga. Anggota Columbidae, Diaceidae, Ploceidae, dan Pycnonotidae banyak ditemukan singgah dan mencari biji dan buahbuahan di pohon flamboyan, kersen, palem, dan sono. Pepohonan berbiji dan berbuah banyak dijumpai di kawasan Kampus Ketintang Unesa sehingga jenis-jenis burung frugivora, insektivora, dan graminivora cukup dominan dan mudah dijumpai.

Tabel 2. Daftar kehadiran burung pada saat pengamatan Famili Apodidae Ardeidae Columbidae Nama spesies Collocalia esculenta Ardeola speciosa Streptopelia chinensis Dicaeum trochileum Hirundo rustica Hirundo tahitica Nectarinia jugularis Lonchura gastrocoides Passer montanus Pengamatan I II III 15 17 10 1 1 12 14 9 Vegetasi persinggahan (aerial) Rerumputan yang tergenang air Flamboyan, pisang, kersen, sono Sono, trembesi (aerial) (aerial) Jambu Mangga, palem Flamboyan, lamtoro, sono, trembesi, kersen, jati, singkong Palem Kersen, lamtoro, palem Trembesi

Dicaeidae Hirundinidae Nectariniidae Ploceidae

17 3 9 5 35

10 5 6 10 4 25

13 5 6 7 4 30

Pycnonotidae

Pycnonotus aurigaster Pycnonotus goiavier Prinia familiaris

10 12 -

8 6 1

6 7 -

Silviidae

Jenis burung yang hanya terlihat pada dua kali pengamatan adalah blekok sawah (Ardeola speciosa) dan burung madu sriganti (Nectarinia jugularis). A. speciosa dijumpai sedang mencari makan pada rerumputan yang tergenang air. Burung akuatik ini adalah pemakan vertebrata lain, seperti ikan, berudu, dan katak, serta serangga sehingga hanya dijumpai pada lahan basah seperti sawah dan rawa-rawa (Holmes dan Nash, 1999). N. jugularis dijumpai berkelompok pada pohon jambu. Jenis ini termasuk nektarivora sehingga seringkali singgah pada tumbuhan berbunga yang mengandung banyak nektar (Becking, 1989; Alderton, 2003) Vegetasi ini tidak banyak dijumpai di kawasan Kampus Ketintang Unesa. Telaah terhadap status jenis menunjukkan bahwa seluruh anggota Nectariniidae, termasuk N. jugularis, adalah avifauna yang dilindungi di Indonesia (Peraturan Pemerintah No. 7 Tahun 1999, 1999; Wirasiti, 2004).

Spesies yang sangat jarang dijumpai di Kampus Ketintang Unesa adalah prenjak jawa (Prinia familiaris). P. familiaris memiliki bulu berwarna kehijauan dan garis sayap putih. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hampir seluruh burung yang menghuni kawasan Kampus Ketintang Unesa merupakan jenis pemakan biji dan buah (graminivora dan frugivora). Hal ini berkaitan dengan morfologi burung dan sumber daya alam yang terdapat di kawasan Kampus Ketintang Unesa. Rose dan Scoot (1994) menyatakan bahwa lokasi pencarian makanan pada burung umumnya dipilih berdasarkan perbedaan bentuk dan ukuran tubuh setiap jenis makanan yang disukai. Jenis-jenis makanan yang dapat diperoleh dari Kampus Ketintang Unesa antara lain adalah biji dan buah dari tanaman lamtoro, palem, kersen, dan mangga, atau serangga kecil yang berasosiasi di dalamnya. Penyebaran satwa pada suatu kawasan sangat dipengaruhi oleh kondisi ketersediaan daya dukung lingkungan. Satwa akan lebih banyak ditemukan pada habitat yang memiliki kelimpahan sumber daya yang

dibutuhkannya, dan sebaliknya akan jarang atau tidak ditemukan pada lingkungan yang kurang menguntungkan baginya (Wynne-Edwards dalam Nurmansyah, dkk, 2008). Alikodra (2002) juga mengemukakan bahwa suatu wilayah yang sering dikunjungi burung disebabkan karena habitat tersebut dapat mensuplai makanan, minuman serta berfungsi sebagai tempat berlindung/sembunyi, tempat tidur dan tempat kawin. Pepohonan yang rimbun dan memiliki tajuk tinggi di Kampus Ketintang Unesa seperti trembesi, sono, dan flamboyan, yang mendukung hunian burung yang membutuhkan sumber makanan dan tajuk yang tinggi untuk tempat bertengger dan berlindung. Kelimpahan burung yang khas pada daerah perkotaan, yaitu Passer montanus, Streptopelia chinensis, Collocalia esculenta, dan Dicaeum trochileum, yang hampir selalu ditemukan pada setiap pengamatan dalam jumlah yang relatif besar (Tabel 2) juga disebabkan oleh keberhasilan mereka dalam menciptakan relung yang khusus bagi dirinya sendiri untuk mengurangi kompetisi atas kebutuhan sumber daya dan sebagai bentuk

adaptasi terhadap kondisi lingkungan (Elfidasari dan Junardi, 2006). Passer montanus dan Streptopelia chinensis yang seringkali mencari makan biji-bijian di tanah secara berkelompok dan berasosiasi dekat dengan manusia. Dicaeum trochileum berukuran sangat kecil tetapi bersifat aktif terbang hilir mudik dengan cepat untuk memakan buah benalu. Sebaliknya, Collocalia esculenta yang melayang di permukaan rerumputan pendek, beberapa kali ditemui bersama dengan burung aerial lain seperti Hirundo tahitica dan Hirundo rustica, yang juga umum di perkotaan, menghabiskan sebagian besar waktunya di udara untuk berburu serangga terbang. Perbedaan pola dan cara memperoleh mangsa ini diduga mampu menciptakan kebersamaan antara beberapa jenis burung untuk dapat hidup dan mencari mangsa bersama-sama pada waktu dan lokasi yang sama. Jenis burung yang dijumpai di Kampus Ketintang Universitas Negeri Surabaya tersebut serupa dengan jenis-jenis burung perkotaan yang juga dijumpai di areal ruang terbuka hijau (RTH) lain di Kota Surabaya, seperti halnya Kampus C Universitas Airlangga, Kampus Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), dan RTH Kebun Binatang Surabaya (KBS), antara lain burung gereja (Passer montanus), walet merbah sapi cerucuk

(Pycnonotus

goiavier),

bondol

(Lonchura),

(Collocalia

esculenta), dan tekukur (Streptopelia chinensis) (Ambarwati, dkk., 1997; Hermawan, dkk., 2010; Satriyono, dkk., 2007). Burung-burung ini dapat diamati dari jarak yang cukup dekat, yaitu kurang lebih 5 meter karena sudah cukup terbiasa dengan kehadiran manusia (Ambarwati, 2011). Selain dipengaruhi oleh adaptasi, relung, dan kelimpahan sumber daya, keanekaragaman burung di perkotaan juga dipengaruhi oleh luas area dan komposisi vegetasi. Penelitian serupa di Kampus C Universitas Airlangga Surabaya, dengan luas area sekitar 41,459 ha,

merepresentasikan 42 spesies burung yang didominasi oleh burung darat (Hermawan, dkk., 2010), sementara pemantauan di Kampus Sukolilo Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya, dengan luas area sekitar 180 ha, menunjukkan 52 spesies burung yang didominasi oleh burung

akuatik. Kebun Binatang Surabaya (KBS) yang merupakan RTH yang lebih sempit dari kedua kampus tersebut, yaitu sekitar 15 ha, tetapi memiliki komposisi vegetasi yang beragam, dihuni oleh 22 spesies burung dari 14 famili (Ambarwati, 2011). Wiens (1989) menyatakan bahwa keanekaragaman jenis burung makin tinggi pada habitat yang makin luas. Area yang lebih kecil memiliki daya dukung yang lebih rendah untuk populasi burung dan meningkatkan isolasi yang membatasi pergerakan individu antara fragmen (Beeby, 1993). Hal ini disebabkan karena fragmentasi dapat memperkecil potensi suatu spesies untuk menyebar dan melakukan kolonisasi serta fragmentasi habitat dapat mengurangi daerah jelajah hewan. Komposisi vegetasi dan tipe lahan juga berpengaruh langsung terhadap keanekaragaman burung pada suatu habitat. Burnie (1992) mengemukakan bahwa untuk jenis-jenis burung yang membangun persarangannya di atas pohon, dalam hal pemilihan jenis pohon dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu jenis pohon yang dapat menyediakan pakan baginya, arsitektur percabangan yang memungkinkan sebagai tempat untuk meletakkan sarang sehingga dapat memberikan rasa aman bagi telur dan anak yang diletakkan di dalam sarang. Areal di tengah perkotaan, seperti halnya Kampus C Universitas Airlangga dan KBS, memilki jenis-jenis burung, terutama burung darat yang hampir sama dengan Kampus Ketintang Surabaya, tetapi dengan komposisi jenis burung yang lebih beragam karena areal tersebut ditutup oleh pepohonan yang banyak digunakan burung untuk beraktivitas antara lain pohon asam, trembesi, beringin, kaliandra, ki payung, kersen, cemara, asam belanda, kersen, dan petai (Ambarwati, dkk., 1997; Ambarwati, 2011). Hernowo dan Prasetyo (1989) menyatakan bahwa beberapa jenis tumbuhan tersebut merupakan jenis flora yang disukai oleh burung. Area yang lebih luas, dengan tipe lahan basah (wetland), seperti halnya Kampus Sukolilo Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya, memiliki komposisi jenis burung yang lebih tinggi, terutama burung akuatik, seperti famili Alcedinidae dan Ardeidae, karena komposisi vegetasinya yang didominasi

oleh

vegetasi

pesisir

yang

mendukung

kehidupan

burung

yang

menghabiskan sebagian besar waktunya di air (Satriyono, dkk., 2007).

KESIMPULAN Jenis burung di Kampus Ketintang Universitas Negeri Surabaya terdiri atas 12 spesies berasal dari 9 famili. Jenis burung yang paling sering dijumpai pada saat pengamatan berasal dari famili Plecoidae dan Apodidae, yaitu jenis Passer montanus dan Collocalia esculenta. Satu jenis termasuk jenis yang dilindungi di Indonesia, yaitu Nectarinia jugularis. Vegetasi yang disukai burung di Kampus Ketintang Unesa adalah pepohonan yang berbuah dan berbiji.

KEPUSTAKAAN Alderton, D. 2003. The Complete Book of Birds. Leicester: Hermes House Alikodra, H.S. 2002. Pengelolaan Satwa Liar. Bogor: Yayasan Penerbit Fakultas Kehutanan IPB. Ambarwati, R. 2011. Potensi Kebun Binatang Surabaya sebagai Tempat Pembelajaran Konservasi Burung. Prosiding Seminar Nasional Sains 2011: 122-128 Ambarwati, R., dkk. 1997. Pemanfaatan Taman Kota dan Jalur Hijau Tepi atau Tengah Jalan sebagai Habitat Burung. Laporan Penelitian. Kelompok Studi Burung, Surabaya (tidak dipublikasikan) Becking, J.H. 1989. Henri Jacob Victor Sody (1892-1959): his life and work: A Biographical and Bibliographical Study. Netherlands: Brill Archive Beeby. 1993. Applied Ecology. London: Chapman and Hall Bibby, C.J., dan Burgess N.D., 1992. Bird Cencus Technique. New York: Academic Press. Burnie, D. 1992. Bird-Juvenile Literature. London: The Natural History Museum Burnie, D. 1992. Ensiklopedi Indonesia Seri Fauna: Burung. Jakarta: PT. Saksama. Elfidasari, D., dan Junardi. 2006. Keanekaragaman Burung Air di Kawasan Hutan Mangrove Peniti, Kabupaten Pontianak. Biodiversitas 7(1): 63-66 Hermawan A., Swastikaningrum, H., dan Mulyani, H. 2010. Keanekaragaman dan Status Perlindungan Burung di Kampus C Universitas Airlangga. Kumpulan Makalah Seminar Biodiversitas di Universitas Airlangga, 31 Juli 2010.

Hernowo, J.B., dan Prasetyo, L.B.1989. Konsepsi Ruang Terbuka Hijau di Kota sebagai Pendukung Pelestarian Burung. Media Konservasi II (4): 61-71 Hidayat, Harianto, dan Nurcahyani. 1996. Keanekaragaman Jenis Burung Air di Lebak Bun-Bun, Kecamatan Kayu Agung, Kabupaten Ogan Komering Ilir, Sumatera Selatan. Plasma nutfah . 5(2): 43-50 . Holmes, D., dan Nash, S.. 1999. Seri Panduan Lapangan Burung-burung di Jawa dan Bali. Jakarta: LIPI-BirdLife Iskandar, J. 1989. Jenis Burung yang Umum di Indonesia. Jakarta: Penerbit Djambatan. MacKinnon, J. 1995. Panduan Lapangan Pengenalan Burung-burung di Jawa dan Bali. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press Nurmansyah, dkk. 2008. Pengaruh Vegetasi Mangrove terhadap Keberadaan dan Keanekaragaman Jenis Burung Air di Suaka Margasatwa Pulau Rambut. Bandung: Institut Pertanian Bogor. Republik Indonesia. 1999. Lampiran Peraturan Pemerintah No. 7 Tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa Dalam Peraturan Pemerintah No. 7 Tahun 1999. Jakarta, t.p. Rose, P.M. and Scott, D.A. 1994. Waterfowl Population Estimates. IWRB, Publication No.29. Slimbridge. U.K.: IWRB. Satriyono, A., dkk., 2007. Keanekaragaman Jenis Burung di Kampus Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya. Laporan Pemantauan. Divisi Studi Burung Pecuk, Surabaya (tidak dipublikasikan) Whitten, T., et al. 1996. The Ecology of Java and Bali. Oxford: Oxford University Press Wiens, J.A.. 1989. The Ecology of Bird Communities. Cambridge: Cambridge University Pres Wirasiti, dkk. 2004. Jenis-jenis dan Karakteristik Burung yang Ditemukan di Kawasan Bedugul dan Sekitarnya. Denpasar: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universirtas Udayana