A Feminist Psychologist's Blog

   

Home CONSULTATION DICTIONARY MY GUEST

Psikologi Hukum Feminis (Etika Kepedulian), dan Keadilan Sebagai “YangTak-Mungkin”
April 18, 2011 Oleh: Donny Danardono Buku Tiada Keadilan Tanpa Kepedulian: KDRT Perspektif Psikologi Feminis [2009] yang ditulis oleh Ester Lianawati, pengajar Fakultas Psikologi Universitas Kristen Krida Wacana ini menarik dalam sejumlah hal. Pertama, buku ini adalah studi interdisiplin psikologi dan hukum, dan bahkan filsafat moral [etika kepedulian]. Kedua, buku ini adalah evaluasi terhadap UU No. 23/2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga [PKDRT] yang ia anggap sebagai norma hukum pendekonstruksi relasi dikotomis publik-privat (h. 2), tapi yang sekaligus lemah dalam hal menganggap kekerasan seksual, penelantaran ekonomi dan fisik terpisah dari kekerasan psikis. Kekerasan psikis hanya dianggap sebagai dampak dari ketiga bentuk kekerasan sebelumnya (h. 7). Padahal seperti yang banyak diketahui, kekerasan psikis bukan sekedar dampak, tapi menyatu dengan ketiga bentuk kekerasan itu. Ketiga, Ester – dengan berangkat dari mazab realisme hukum yang tak memisahkan hukum dari moral, politik, psikologi atau pun sosiologi – menganggap para penegak hukum dan khususnya hakim saat membuat keputusan senantiasa dipengaruhi oleh faktor-faktor non-hukum tersebut. Ia memberi contoh, bahwa ―cara seorang hakim mengkarakterisasikan korban dapat menimbulkan variasi dalam respons dan putusan hukumnya‖ (h. 6). Keempat, berdasarkan ketiga hal tersebut, Ester mengusulkan perlunya aparat penegak hukum mengkaitkan etika kepedulian yang oleh pencetusnya, Carol Gilligan, dianggap sebagai etika yang khas perempuan. Menurut Gilligan, berbeda dari pria, perempuan cenderung mendasarkan perilakunya pada kepedulian – yang berupa kemampuan mendengarkan kisah-kisah orang lain dan diri sendiri – karena perbedaan status sosial, relasi kuasa dan bentuk reproduksi antara peremuan dan pria: Clearly, these differences arise in a social context where factors of social status and power combine with reproductive biology to shape experience of males and females and the relations between sexes. My interest lies in the interaction of experience and thought, in different voices and the dialogues to which they give rise, in the way we listen to ourselves and to others, in the stories we tell about our lives.[1]

Namun. Setidaknya hal ini tercermin dari keempat permasalahan penelitian yang ia ajukan (h. Tapi ia berorientasi pada pemahaman terhadap ketertindasan perempuan (h. Ester pun juga mendengarkan kisah para perempuan korban tersebut ketika mereka memproses kasusnya secara hukum. dan beberapa aparat penegak hukum (h. serta bagaimana tanggapan para perempuan yang menjadi korban KDRT tersebut terhadap segala proses hukum yang mereka lalui. Maka. Sesuatu yang luar biasa. Dan akhirnya ia pun mencatat perspektif para pelaku tentang korbannya. 107). Ia mengetahui. Dan ia mengetahui bagaimana perspektif bias gender para penegak hukum itu memengaruhi cara pandang mereka terhadap para perempuan tersebut. dan membuat keputusan hukum. tujuan Ester adalah menunjukkan faktor apa saja yang memengaruhi para penegak hukum dalam memeriksa kasus-kasus KDRT ini. Tak semua peneliti bisa dan tekun dalam mencatat perspektif pelaku (h. Ia tak semata-mata menggunakan psikologi untuk mengkonstruksikan identitas perempuan.Dengan demikian Ester mengusulkan perlunya menggabungkan hukum (yang berorientasi pada penegakan keadilan) dengan psikologi (yang berorientasi pada kepedulian atau kemampuan mendengarkan orang lain dan diri sendiri). memproses kasus-kasus mereka. 23 dan 35). 119). Saya menganggap strategi (metode) pengumpulan dan analisa berbagai data tersebut berangkat dari etika kepedulian. saya kira. Ia berusaha mengetahui mengapa mereka – walau telah berkali-kali menjadi korban KDRT – tetap bertahan dalam perkawinannya tersebut? Ia menemukan berbagai alasannya – yang ia sebut sebagai penyebab-penyebab struktural (h. Ester tekun mengumpulkan dan menelaah transkrip pertemuan. pendamping mereka. jawaban di lembar kuesioner. 13). Ester pun dengan tekun mencatat berbagai kisah pendampingan para korban itu. Etika kepedulian ini. pada akhirnya. surat dan buku harian. 22). Ia pun tahu. Di sinilah Ester mengusulkan. bahwa . yaitu kemauan untuk mendengarkan kisah orang lain yang dalam hal ini para perempuan korban KDRT. begitulah Ester berusaha mendengarkan para nara sumbernya (perempuan-perempuan korban KDRT). 21-22). Ini adalah bentuk keterkaitan atau konsistensi antara teori dan praksis. bahwa berbagai perspektif ―negatif‖ para pendamping tentang pandangan Tuhan dan perceraian telah memengaruhi perempuan korban dalam melangkah (h. karena tetap berpeluang menyalahkan perempuan dan melestarikan budaya patriarki (h. bahwa kisah keenam perempuan korban itu tak hanya membenarkan teori sikuls ―kekerasan-bulan madu‖ yang memberi kesan para perempuan korban itu tak berdaya dan pasif. 34). 9-10). 105). Tiada Keadilan Tanpa Kepedulian Untuk bisa mengungkap bagaimana para penegak hukum menetapkan siapa pelaku dan korban. telah memberinya kritisisme saat mempraktekkan psikologi feminis. tapi mereka juga aktif melakukan perlawanan – seperti yang diteorikan oleh Gondolf – yaitu dengan meninggalkan pelaku atau meminta atasan pelaku untuk menindaknya (h. dan bahkan mewawancari para korban. jenis kelamin pendamping juga memengaruhi perspektif para perempuan korban tentang kasus yang mereka alami (h.

otonomi individu (sebuah otonomi yang dibentuk oleh hak) dan penegakan hak. kebutuhan. Bagi Habermas. yaitu menggabungkan hukum dan etika kepedulian. dengan kata lain.[4] Penggabungan etika keadilan dan kepedulian yang memang canggih dan meyakinkan ini. Sebab komunikasi akan bisa menjamin kemajemukan pandangan hidup dan sekaligus merumuskan apa yang adil dan tak adil dalam waktu dan tempat tertentu. saya tak menemukan perspektif Ester tentang penegakan hukum (keadilan) dan kepedulian. Sebaliknya etika kepedulian berangkat dari sesuatu yang nyata. mungkinkah keadilan dirumuskan? Bagaimana mungkin pelaku dan korban yang memiliki relasi kuasa (bahasa) yang berbeda bisa merumuskan apa yang adil . Argumentasi Magnis adalah seseorang hanya akan mampu bertindak adil. Ester memang tak secara eksplisit menguraikan argumentasinya seperti Franz Magnis tersebut. kebutuhan dan harapan korban. 177). Etika Kepedulian dan Keadilan Sebagai “Yang-Tak-Mungkin” Tapi justru itulah persoalannya.[2] Franz Magnis mengatakan. * Sejauh saya membaca buku tersebut. adalah cara untuk bersikap peduli pada orang lain yang berbeda dari kita. dan sebaliknya etika keadilan menjadi tak mungkin tanpa etika kepedulian. bahwa etika kepedulian berbeda dari etika keadilan. Jadi apa yang ditulis oleh Ester adalah sebuah tafsir terhadap realisme hukum. Penindasan dan dominasi berasal dari pengabaian diri sebagai makhluk yang lemah.[3] Berdasarkan kedua perspektif itu. secara a-priori tertutup pada kemungkinan bertindak secara moral (adil). Tawaran Ester ini sebenarnya sama dan sebangun dengan tafsir Franz Magnis-Suseno tentang etika kepedulian Carol Gilligan. keadilan tak dapat dirumuskan sendirian oleh filsuf atau negarawan tertentu. yaitu anggapan bahwa setiap manusia adalah makhluk yang lemah dan karenanya saling membutuhkan. Sebuah anggapan yang muncul dari refleksi penuh terhadap teori komunikasi Habermas. tapi secara komunikatif oleh orang-orang yang tengah menghadapi persoalan. yaitu hak.para pendamping korban dan para penegak hukum perlu memiliki etika kepedulian agar mereka ―dapat menangkap persoalan. sehingga mereka bisa menegakkan hukum (keadilan) secara baik. bahwa menurutnya apabila para penegak hukum punya etika kepedulian. dan harapan korban‖ (h. Komunikasi. Karena itu etika kepedulian menawarkan kepedulian atau kesadaran tentang anggapan bahwa setiap orang mudah tersakiti perasaannya dan tak terabaikannya relasi antar individu. Etika keadilan berorientasi pada sesuatu yang abstrak. maka mereka mampu mendengarkan segala persoalan. Saya hanya mendapat kesan. bila ia terlebih dulu peduli pada orang lain. Franz Magnis-Suseno – yang mendasarkan diri pada perkembangan pemikiran Gilligan dan Frankena – bahwa etika kepedulian mengandaikan etika keadilan dan begitu sebaliknya. Orang yang tidak peduli pada orang lain. menunjukkan bahwa etika kepedulian tak bisa menyelesaikan masalah bila tak disertai etika keadilan. dalam sebuah masyarakat majemuk. tapi saya yakin ia tak keberatan dengan argumentasi Franz Magnis tersebut.

others would quickly say. pelaku. dan bila dikulum saja ayah dan ibu akan sekarat).dan tidak adil? Bagaimana mungkin penindas dan tertindas bisa merumuskan apa yang adil dan tak adil bagi mereka? Apakah keadilan juga bisa ditetapkan oleh pihak ketiga – penegak hukum – setelah berdasarkan etika kepedulian mendengarkan persoalan. from this point on I can offer no response. Sebab baginya proses pembentukan dan penegakan hukum merupakan proses yang mengkaitkan kekuasaan negara (yang baginya tak pernah didirikan berdasarkan hukum tertentu. ―yes or no‖ [. karena itu setiap norma hukum yang dibuat oleh negara selalu ada dalam posisi ambigu. karena mereduksi identitas seseorang atau sesuatu yang didefinisikan). tapi revolusi. Needless to say. neither just nor unjust?[6] Karena itu dengan mendasarkan diri pada dekonstruksi – sebagai sebuah strategi untuk menunjukkan ambiguitas. ―yes or no‖). so that. Keadilan memang penting. in this initial moment. Karena mewujudkan dan menjamin keadilan dalam hukum bukan hanya akan mereduksi pengalaman seseorang terhadap keadilan. to any questions put in this way (―either/or‖. kebutuhan dan harapan korban seperti yang disampaikan oleh Kristi Purwandari di Pengantar Buku?[5] Tapi persoalan berikutnya adalah bagaimana mengidentifikasi korban. bila tidak ayah yang mati. tapi pada kemungkinan manusia mengetahui atau tepatnya mengalami ‗yang tak mungkin‘ (the impossible).. to either party or to either party‘s expectations formalized in this way. Derrida menganggap keadilan adalah penting. and definitive criteria that would allow one to distinguish unequivocally between droit and justice. the other (the difference) dan paradoks sebuah teks – Derrida menunjukkan bahwa dekonstruksi tak berakhir pada nihilisme. is perhaps the absence of rules. sebuah pengalaman yang kira-kira sama dengan situasi ketika seseorang mengalami dilema atau ―makan buah simalakama‖ (bila buah itu dimakan ibu akan mati. termasuk tak mungkin diwadahi oleh hukum. Jadi. That is the choice of ―either/or‖. it is neither legal nor legal – or. bagaimana mungkin keadilan yang anti kekerasan bisa dirumuskan oleh kekerasan? Kata Derrida tentang hal ini: How are we to distinguish between the force of law of a legitimate power and the supposedly originary violence that must have established this authority and that could not itself have been authorized by any anterior legitimacy. tapi tak mungkin dirumuskan dan diwadahi dalam institusi apapun. what makes it suffer and what makes those it torments suffers. tapi selalu tertunda ketika . Mungkin di sini sudah waktunya kita menelaah pemahaman Jacques Derrida tentang keadilan.[7] Maka penegakan hukum adalah wujud relasi kuasa yang jauh dari keadilan. yakni sesuatu yang tak bisa dirumuskan secara tekstual. yaitu tidak sah dan sah sekaligus) – berbagai kekuasaan non-negara dan kekerasan (yang antara lain berupa praktek pendefinisian yang dianggapnya sebagai bentuk kekerasan. ketidakpastian. Jadi.]. of norms. tapi juga merupakan tindakan yang kontradiktoris. baginya keadilan adalah pengalaman tentang ‘yang tak mungkin’. Dalam situasi dilematis ini semua keputusan yang diambil atau akan diambil akan sama kelirunya: The ―sufference‖ of deconstruction. at least no reassuring response.. dan bukan korban? Ester tak menguraikan hal ini. Tapi bukan berarti keadilan tak penting lagi. Ia adalah ―penegakan‖ tafsir-tafsir tertentu tentang hukum dan relasi para pihak yang berperkara.

Ia merupakan bentuk kekerasan.. 243. untuk dekonstruksi-dekonstruksi yg mengagumkan. Carlson (eds. untuk semua kiriman artikel-artikelnya. dan Laki-Laki‖ dalam Franz MagnisSuseno (ed. Like One blogger likes this post. Terima kasih untuk Mas Donny. Hukum dan pengadilan memang penting. musuh dan diri sendiri).mau diwujudkan. untuk diskusidiskusinya yang selalu mencerahkan. Dengan demikian semua teori keadilan atau upaya mewujudkan keadilan melalui keputusan hukum tak lain dari praktek kekuasaan tertentu. New York. h. h. untuk semua masukannya yang sangat berguna. ―Force of Law: the ‗Mystical Foundation of Authority‖ dalam Drucilla Cornell. Michel Resenfeld. Cambridge.1982. [4] Ibid. h. [5] h. 2005. Dampak negatif relasi kuasa hanya bisa dikurangi oleh etika kepedulian (keinginan untuk membahagiakan orang lain. 4. tapi di kedua institusi itu ‗keadilan‘ selalu tertunda. Etika. bukan keadilan yang anti dan mau mengakhiri kekerasan itu sendiri. 236-244. h. Routledge. – Tulisan ini adalah karya Donny Danardono. hal. 1992.  . Perspektif Psikologi Feminis‖ di Auditorium Universitas Kristen Krida Wacana. dan untuk terus menyemangati saya untuk menulis. hal.) Pijar-Pijar Filsafat: dari Gatoloco ke filsafat Perempuan. Kedua institusi itu hanya mampu mempraktekkan relasi kuasa.). Semarang. Tulisan ini disampaikan dalam bedah buku ―Tiada Keadilan Tanpa Kepedulian: KDRT. dari Adam Müller ke Postmodernism. [2] Frans Magnis-Suseno. 2. 6 [7] Ibid. xv. 237-238. dan tentunya untuk mengizinkan saya memuat tulisan ini [1] Carol Gilligan. David G. [6] Jacques Derrida. Jakarta. [3] Ibid. In Different Voice: Psychological Theory and Women’s Development. Ia ibarat horison yang memberi wawasan geografis tentang sebuah wilayah. pengajar filsafat hukum dan Ketua PMLP (Program Magister Lingkungan dan Perkotaan) Unika Soegijapranata. 11 Maret 2010. ―Etika Kepedulian. Deconstruction and the Possibility of Justice. tapi selalu menjauh ketika didekati. Harvard University Press.

2011 4:27 am Kangen euy dengan warnanya Reply o Ester Lianawati permalink* May 7. mas? mksh dah mampir ya Reply 2. mas ^^ pa kbr. Didin Septa Rahmadi permalink October 21. Batavusqu permalink May 5.from → Psikologi dan hukum ← Perubahan? Hadapi dan Nikmati Saja Dampak Psikis Kekerasan dalam Rumah Tangga → 6 Comments leave one → 1. 2011 8:13 am warna apa. 2011 10:06 pm haiiiii…. suatu hal yang masih membuat saya bingung sampe sekarang!!! ―perbedaan tingkat sexsualitas antara pria dan wanita‖ apakah ada kaitannya feminisme? sehingga adanya tuntutan kesetaraan gender?!!! dan terima kasih atas tulisannya untuk menambah refrensi!!! Reply .

menjadikan perempuan sbg objek seksual yg slh satunya bs kita liat dlm pencitraan iklan2 di media dsb). Donny Danardono permalink October 23. itu karena didasarkan pada anggapan yang bias gender tentang seksualitas pria yang lebih besar daripada wanita. pemuasan kebutuhan seksual dari sudut pandang laki2-laki smntr laki2 tdk merasa wajib memahami seksualitas perempuan. krn bias gender ttg seksualitas perempuan laki2 ini jg menjadi penyebab penindasan perempuan (misalnya memaksakan hub seksual pd pacar/istri dgn alasan bhw perempuan hrs memenuhi hasrat seksualnya yg lbh besar sbg laki2. perlu dicatat jg kesetaraan gender yg dimksd dlm perjuangan feminisme bukan untuk membalik situasi. 2011 8:13 am mksh mas Donny. Banyak sudah buku yang mengulas ini. misalnya kl laki2 . dan mungkin sekarang. Reply o Ester Lianawati permalink* October 23. tlg bantu jelasin ya. pria mereasa lebih bebas membicarakan dan mengumbar hasrat seksnya. melegitimasi perselingkuhan laki2. 2011 6:32 am Saya kira tak ada perbedaan tingkat seksualitas antara pria dan wanita. Tak ada data yang mengatakan tingkat seksualitas pria lebih besar daripada wanita. nah kaitannya dgn feminisme. makasih Reply 3. 2011 10:06 am mas Donny. Kalau pada zaman dulu.o Ester Lianawati permalink* October 22.

memaksakan hub seksual maka perempuan pun bisa. tp kesetaraan dlm arti tidak ada lg opresi thd perempuan khususnya yg berakar pd mslh seksualitas ini –tdk pula menciptakan opresi baru thd laki2–. dan jg dlm relasi dgn pasangan bs lbh menghargai seksualitas masing2. spt kata mas Donny. atau perempuan pun berselingkuh atas dsr kebutuhan seksual yg besar.ya Didin. kl km tertarik dgn topik ini bisa cari-cari bukunya salam Reply Leave a Reply Email (Address never made public) Name Website Notify me of follow-up comments via email. Ini versi ‗sederhana‘ nya .  Ester Lianawati  Buku Saku Untuk Penegak Hukum .

… . Bagi yang memerlukan buku ini. Jakarta Pusat di 021-3160788  Recent Posts o o o o o o o Psychological & subjective well-being. Konco Wingking atau Sigaraning Nyawa? Dapatkah Bunuh Diri Dicegah? Kekerasan Terhadap Perempuan Di Seluruh Dunia  Top Posts o o o o o o o o o o  type and pr  Recent Comments Ester Lianawati on CONSULTATION Ester Lianawati on Mengungkap Preferensi Pasien. apa bedanya? Psikologi dalam Ranah Hukum Perjalanan Psikologi Feminis Perempuan Jawa. apa bedanya? Date of Death : Dua puluh lima februari Mengungkap Preferensi Pasien. Kerendahan hati untuk yang Terlupakan Menyambut Tahun Baru dengan Tersenyum Kita Layak Dicintai — dengan benar Kematian Cinta Dampak Psikis Kekerasan dalam Rumah Tangga Anda Perfeksionis ? Memahami Komitmen Perkawinan : Bersama Hingga Ujung Umur Memahami Psikologi Korban KDRT: Mengapa Perempuan Bertahan? Psychological & subjective well-being. dapat menghubungi Program Studi Kajian Wanita (Kajian Gender) UI Jl Salemba Raya No. Merangkul Model-model Relasi Dokter-Pasien Robert Zajonc dan Israel Waynbaum. 4.

Ester Lianawati on Memahami Komitmen Perkawinan :… Riri on CONSULTATION Cahya on Mengungkap Preferensi Pasien. … Cahya on Memahami Komitmen Perkawinan :… Ester Lianawati on Memahami Lebih Jauh Teori… Ester Lianawati on CONSULTATION  Flickr Photos More Photos  Blogroll o o o o o o Abie Hakim Batavusqu examenfrancais Galeri Taufik Hijau Bumiku Julia .

Follow Follow “A Feminist Psychologist's Blog” Get every new post delivered to your Inbox.com WordPress.com.) Sandy Vidia Paramita WordPress. Theme: Vigilance by The Theme Foundry.org Kehidupan sehari-hari Psikologi dan hukum Psikologi perempuan dan gender Psikologi positif Puisi Relasi personal Tentang feminisme Tentang psikologi Uncategorized Categories Blog at WordPress.com .Jiwitlah Daku Kau Kutabok . Enter your Powered by WordPress.o o o o o o o o o o o o  o o o o o o o o o Kajian Gender Laki-laki Baru LBH APIK Parlez Francais POPsy Pulih Punya Taufik Neh Riza.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful