Anda di halaman 1dari 15

Makalah Farmakokinetika

KINETIKA ABSORBSI ORAL

OLEH

KELOMPOK VII NURLENA IKAWATI/F1F110013 RISFA RIANTI/F1F110037 NUR HATIDJAH AWALIYAH/F1F110075

JURUSAN FARMASI FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS HALUOLEO KENDARI 2012

KATA PENGANTAR Dengan mengucapkan puji syukur kehadirat Allah SWT, yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis memperoleh kesehatan dan kekuatan untuk dapat menyelesaikan makalah farmakokinetik ini. Ucapan terima kasih penulis sampaikan kepada seluruh pihak, khususnya kepada dosen pembibing atas kesediaannya dalam membimbing sehingga makalah ini dapat terselesaikan. Penulis menyadari sepenuhnya atas keterbatasan ilmu maupun dari segi penyampaian yang menjadikan makalah ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu, kritik dan saran yang membangun sangat diperlukan dari semua pihak untuk sempurnanya makalah ini.

Kendari, Maret 2012

Penulis

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR DAFTAR ISI BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang B. Rumusan Masalah C. Tujuan BAB II PEMBAHASAN BAB III PENUTUP A. Kesimpulan B. Saran DAFTAR PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Bentuk sediaan dan cara pemberian merupakan penentu dalam memaksimalkan proses absorbsi obat oleh tubuh karena keduanya sangat menentukan efek biologis suatu obat seperti absorpsi, kecepatan absorpsi dan bioavailabilitas (total obat yang dapat diserap), cepat atau lambatnya obat mulai bekerja (onset of action), lamanya obat bekerja (duration of action), intensitas kerja obat, respons farmakologik yang dicapai serta dosis yang tepat untuk memberikan respons tertentu. Obat sebaiknya dapat mencapai reseptor kerja yang diinginkan setelah diberikan melalui rute tertentu yang nyaman dan aman seperti suatu obat yang memungkinan diberikan secara intravena dan diedarkan di dalam darah langsung dengan harapan dapat menimbulkan efek yang relatif lebih cepat dan bermanfaat. Cara pemberian obat yang paling menyenangkan adalah dengan pemberian secara oral. Untuk mencapai tujuan pemberian tersebut, molekul obat harus dapat diabsorpsi pada saluran pencernaan dan masuk ke dalam sistem sirkulasi dalam jumlah yang diinginkan. Absorbsi sistemik suatu obat dari saluran cerna atau tempat ekstravaskuler yang lain bergantung pada bentuk sediaan, anatomi dan fisiologi tempat absorbsi. Untuk alasan ini, maka dianggap perlu dalam membahas mengenai kinetika absorbsi obat dalam penggunaan secara oral.

B. RUMUSAN MASALAH Rumusan mengetahui 1. Bagaimana kinetika absorbsi obat dalam penggunaan secara oral? 2. Bagaimana mengetahui model matematika kinetika masalah dalam makalah ini adalah untuk

absorbsi obat dalam penggunaan secara oral. 3. Apa saja parameter-parameter yang terkait kinetika

absorbsi penggunaa secara oral ? C. TUJUAN Tujuan pembuatan makalah ini adalah : 1. Untuk mengetahui kinetika absorbsi obat dalam penggunaan secara oral. 2. Untuk mengetahui model matematika kinetika absorbsi obat dalam penggunaan secara oral. 3. Untuk mengtahui parameter yang terkait kinetika absorbsi penggunaa secara oral.

BAB II PEMBAHASAN Pada pemberian melalui oral, obat yang larut dalam lemak lebih mudah diabsorpsi dibanding dengan yang kurang larut dalam lemak. absorpsi obat terjati apabila berupa partikel kecil, yaitu setelah obat mengalami disintegrasi dari bentuk semula di tempat absorpsinya. Sifat kimia yang mempengarui kecepatan absorpsi adalah pk dan pH tempat absorbsi. Absorpsi adalah pergerakan partikel-pertikel obat dari saluran gastrointestinal ke dalam cairan tubuh melalui absorpsi pasif, absorpsi aktif atau pinositosis. Absorbsi merupakan proses perpindahan obat dari tempat absorbsinya ke dalam sirkulasi sistemik. Absorbsi obat kebanyakan terjadi secara difusi pasif. Beberapa obat tidak langsung masuk kedalam sirkulasi sistemik setelah absorpsi tetapi melewati dinding usus masuk kedalam hati, melalui vena porta dalam hati, kebanyakan obat dimetabolisasi menjadi bentuk yang tidak aktif untuk diekskresikan, sehingga mengurangi jumlah yang aktif. Proses ini dimana obat melewati hati terlebih dahulu disebut sebagai efek first pass effect, atau first pass hepatic. Sebagian besar obat diberikan secara oral dan obat-obat ini harus melewati dinding usus untuk memasuki aliran darah. Proses absorpsi ini dipengaruhi oleh banyak faktor namun biasanya sesuai kelarutan obat dalam lemak. Oleh karena itu, absorpsi molekul yang tidak terionisasi dipermudah karena molekul ini jauh lebih larut lemak, dari pada molekul-molekul yang terionisasi dan molekul terionisasi ini diselubungi cangkang molekul air. Obat

diabsorpsi terutama diusus halus, karena permukaanya luas. Hal ini berlaku bahkan untuk asam lemak misalnya aspirin yang tidak terionisasi dalam asam lambung. Obat yang cukup larut lemak untuk dapat diabsorpsi secara oral dengan cepat terdistribusi keseluruh kompartemen cairan tubuh. Kebanyakan obat oral diabsorpsi diusus halus melalui kerja permukaan vili mukosa yang luas jika sebagian dari vili ini berkurang, karena pengangkatan sebagian dari usus halus, maka absorpsi juga berkurang. Obatobat yang mempunyai dasar protein seperti insulin dan hormone pertumbuhan, dirusak dalam usus halus oleh enzim-enim pencernaan absorpsi pasif umumnya terjadi melalui difusi. Dengan proses difusi, obat tidak memperlukan energi untuk menembus membrane. Absorbsi obat yang terjadi secara difusi pasif dipengaruhi oleh pKa obat, pH tempat absorbsi dan fraksi obat yang tidak terionkan. Absorpsi aktif membutuhkan carrier untuk bergerak melawan perbedaan konsentrasi. Sebuah enzim atau protein dapat membawa obat-obat menembus membrane. Pinositosis berarti membawa obat menembus membrane dengan proses menelan. Pada pemberian melalui oral, obat yang larut dalam lemak lebih mudah diabsorpsi dibanding dengan yang kurang larut dalam lemak. absorpsi obat terjati apabila berupa partikel kecil, yaitu setelah obat mengalami disintegrasi dari bentuk semula di tempat absorpsinya. Sifat kimia yang mempengarui kecepatan absorpsi adalah pk dan pH tempat absorbsi. Absorpsi obat dipengaruhi oleh aliran darah, rasa nyeri, stress, kelaparan, makanan dan pH. Sirkulasi buruk akibat syok, obat-obat

fasokonstriktor atau penyakit yang merintangi absorpsi. Rasa nyeri, stress dan makanan yang padat, pedas dan berlemak dapat memperlambat masa pengosongan lambung, sehingga obat lebih lama berada didalam lambung. Latihan dapat mengurangi aliran darah dengan mengalihkan darah lebih banyak mengalir ke otot sehingga menurunkan sirkulasi kesaluran

gastrointestinal. Pada pemberian per oral obat tidak langsung masuk ke pembuluh darah, tapi harus masuk ke lambung dulu dan diabsropsi di lambung/usus tergantung pHnya.

Seperti gambar di atas setelah obat dari saluran Gastrointestinal (GI) diabsorpsi, baru bisa masuk ke tubuh (kotak putih) di sinilah baru obat bisa berefek.setelah itu akan hilang dengan proses eliminasi. Dosis yang kita berikan itu tidak semuanya masuk ke pembuluh darah. jika diintravaskuler DB0 = dosis yg kita berikan.

Pada ekstravaskuler jumlah obat yang diterima oleh obat tidak sama dengan dosis yg kita berikan. Pertama saat dia diabsorpsi ada sejumlah obat yang ilang. Ilang maksudnya ada obat yang g keabsorpsi semua, terus selain itu setelah nembus lambung mereka masuk ke vena hepatic dan dimetabolisme oleh hati di metabolisme lintas pertama (first pass effect). Keseluruhan laju absorbsi obat dapat digambarkan secara matematik sebagai suatu proses order kesatu atau order nol. Dalam model farmakokinetik ini sebagian besar menganggap bahwa absorbsi obat mengikuti order kesatu, kecuali apabila anggapan absorbsi order nol memperbaiki model secara bermakna atau telah teruji dengan percobaan. 1. Model Absorpsi Orde Nol Pada model ini obat dalam saluran cerna DGI diabsorpsi secara sistemik pada suatu tetapan laju reaksi, K0. Obat dieliminasi dari tubuh oleh suatu proses order kesatu dengan suatu tetapan laju order kesatu, K. model farmakokinetik yang menganggap absorpsi orde nol digambarkan dalam gambar berikut.

Laju absorpsi obat adalh konstan dan berlanjut sampai jumlah obat dalam dinding usus (DGI) habis. Waktu dimana absorpsi obat berlangsung sama dengan DGI/K0. Setelah waktu ini obat tidak tersedia lagi untuk diabsorpi dari dinding usus. Konsentrasi obat dalam plasma akan menurun menurut suatu proses laju eliminasi orde kesatu.

2. Model Absorpsi orde ke satu kebanyakan obat mengikuti orde ke satu. Model ini menganggap laju absorpsi dan laju eliminasi juga termasuk orde ke satu. Seperti yang sudah disebutkan di atas bahwa pada saat diabsorpsi obat tidak sepenuhnya sampai di saluran sistemik. Parameter yang dipakai untuk menunjukkan fraksi obat yang sampai di saluran sistemik yaitu F (bioavailabilitas). Selain itu ada pula Ka atau tetapan laju absorpsi obat di saluran gastro intestinal.

Adapun parameter-parameter farmakokinetik yang digunakan pada sediaan oral yaitu : 1. Tetapan Laju Absorpsi (Ka) dan Waktu Paruh Absorpsi (ta) Tetapan laju absorpsi (Ka) adalah tetapan laju absorpsi order kesatu dengan satuan waktu-1. Ka diperoleh dengan membuat kurva antara waktu absorpsi dengan log Cpdiff kemudian diregresikan sehingga diperoleh persamaan regresi. Harga Ka dapat dihitung dengan rumus: Ka (waktu-1) = 2, 303 x (-slope) atau Ka (waktu-1) = 2,303 x (-b) Sedangkan ta ddihitung dengan menggunakan rumus: ta = 0, 693/Ka

2. Tetapan kecepatan eliminasi (Ke) dan waktu paruh eliminasi (te) Tetapan laju eliminasi (Ke) adalah tetapan laju eliminasi order kesatu dengan satuan waktu-1. Harga Ke diperoleh dengan membuat kurva antara waktu eliminasi dengan log Cp kemudian diregresikan sehingga diperoleh persamaan regresi. Harga Ke diperoleh dengan rumus: Ke (waktu-1) = 2,303 x (-slope) atau Ke (waktu-1) = 2,303 x (-b) te = 0,693/Ke 3. Waktu yang diperlukan untuk mencapai kadar maksimum (tmaks) tmaks adalah waktu konsentrasi plasma mencapai puncak dapat disamakan dengan waktu yang diperlukan untuk mencapai konsentrasi obat maksimum setelah pemberian obat. Waktu yang diperlukan untuk mencapai konsentrasi maksimum tidak tergantung pada dosis tetapi tergantung pada tetapan laju absorpsi (Ka) dan eliminasi (Ke). Harga tmaks dapat dihitung sebagai berikut: Tmaks = 4. Kadar maksimum dalam darah (Cpmaks) Cpmaks adalah konsentrasi plasma puncak menunjukkan konsentrasi obat maksimum dalam plasma setelah pemberian obat secara oral Pada konsentrasi maksimum, laju absorpsi obat sama dengan laju eliminasi, sehingga harga Cpmaks dapat dihitung dengan rumus di bawah ini: Cpmaks = Cpo (e-Ke.tmaks e-Ka.tmaks)

5. Volume distribusi (Vd) Volume distribusi dipengaruhi oleh keseluruhan laju eliminasi dan jumlah perubahan klirens total obat di dalam tubuh. Vd = 6. Area di bawah kurva (AUC) AUC mencerminkan jumlah total obat aktif yang mencapai sirkulasi sistemik. AUC merupakan area di bawah kurva kadar obat dalam plasma waktu dari t = 0 sampai t = ~ . Harga AUC dapat diperoleh dengan cara: a. AUC dari 0 - n jam, dapat dihitung dengan rumus luas segitiga yaitu x alas x tinggi b. AUC dari waktu n1 nx dihitung dengan rumus

c. AUC dari waktu nx - ~ dihitung dengan rumus

7. Klirens total (Cltot) Klirens adalah volume plasma yang dibersihkan dari obat persatuan waktu oleh seluruh tubuh (ml/menit). Klirens obat merupakan ukuran eliminasi obat dari tubuh tanpa mempermasalahkan mekanisme prosesnya. Klirens total

adalah jumlah total seluruh jalur klirens di dalam tubuh termasuk klirens melalui ginjal dan hepar. Cltot = Vd . Ke

8. Volume kompartemen sentral (Vp) Volume kompartemen sentral berguna untuk menggambarkan perubahan konsentrasi obat karena merupakan kompartemen yang diambil sebagai kompartemen cuplikan. Vp berguna dalam menentukan klirens obat. Besaran Vp memberikan petunjuk adanya distribusi obat di dalam tubuh.

Harga Vp dapat dihitung dengan menggunakan rumus: Vp = 9. Jumlah obat terabsorpsi, persen obat terabsorpsi dan persen obat tidak terabsorpsi a. Jumlah obat terabsorpsi menurut waktu dapat dihitung dengan menggunakan: = b. Persen obat terabsorpsi dapat dihitung dengan menggunakan rumus: % terabsorpsi = c. Persen obat tidak terabsorpsi : % obat tidak terabsorpsi = 100% - % obat terabsorpsi x 100%

BAB III PENUTUP

Kesimpulan dari makalah ini adalah : 1. Kinetika absorpsi oral ialah laju atau pergerakan partikel-pertikel obat dari saluran gastrointestinal ke dalam cairan tubuh melalui absorpsi pasif, absorpsi aktif atau pinositosis. 2. Secara matematik laju absorpsi obat dapat digambarkan dengan model absorpsi obat yaitu orde nol dan orde kesatu. 3. Parameter farmakokinetik pada sediaan oral adalah Tetapan Laju Absorpsi (Ka) dan Waktu Paruh Absorpsi (ta), Tetapan kecepatan eliminasi (Ke) dan waktu paruh eliminasi (te), Waktu yang diperlukan untuk mencapai kadar maksimum (tmaks), Kadar maksimum dalam darah (Cpmaks), Volume distribusi (Vd), Area di bawah kurva (AUC), Klirens total (Cltot), Volume kompartemen sentral (Vp), Jumlah obat terabsorpsi, persen obat terabsorpsi dan persen obat tidak terabsorpsi.

DAFTAR PUSTAKA Hakim, lukman. 2003. Farmakokinetik, Penerbit Bursa Ilmu. Yoyakarta Mutchler Ernst,1991, Dinamika Obat, Edisi Kelima, Penerbit Institut Teknologi Bandung, Bandung. Sharger, leon dan Andrew B.C. YU. 2005. Biofarmasetika dan farmakokinetika terapan, Edisi kedua, Airlangga universitas press. Surabaya