Anda di halaman 1dari 35

Makalah Ilmu Lingkungan

RENCANA PENGELOLAAN LINGKUNGAN PEMBANGUNAN HYPERMART (Carrefour ITC Depok)


oleh Anissa Permatadietha Ardiellaputri (1006661203) Hengki (1006775874) Laksita Utami (1006686534) Teknologi Bioproses Departemen Teknik Kimia Universitas Indonesia

Makalah Ilmu Lingkungan Teknologi BIoproses 2010

KATA PENGANTAR
Segala puji selayaknya penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas nikmat, karunia dan kemudahan dari-Nya lah penulis dapat menyelesaikan makalah berjudul Rencana Pengelolaan Lingkungan PT. Carrefour Indonesia ini. Makalah ini berkenaan dengan tugas akhir dalam mata kuliah Ilmu Lingkungan yaitu dalam pembelajaran rencana pengelolaan lingkungan serta analisa mengenai dampak lingkungan. Selain sebagai pemenuhan tugas pembuatan makalah, penulis berharap makalah ini dapat memberikan manfaat sebagai sumber pengetahuan mengenai pengelolaan lingkungan untuk rencana hyrpermart. Tak lupa penulis mengucapkan terima kasih kepada Ibu Roekmijati W. Soematojo selaku dosen pembimbing mata kuliah Ilmu Lingkungan, kepada Akbar Yudhanto, Teknologi Bioproses 2009, selaku asisten mata kuliah, dan kepada semua pihak yang telah membantu penyusunan makalah ini sehingga dapat terselesaikan dengan baik. Namun demikian, makalah ini tentu saja tidak lepas dari kekurangan dan kesalahan, karenanya penulis menerima kritik dan saran positif yang dapat membantu memperbaiki makalah ini untuk ke depannya. Terima kasih dan semoga bermanfaat.

Depok, Mei 2012

Penulis

Rencana Pengelolaan dan Pemantauan Lingkungan (RKL RPL) Pembangunan Hypermart Carrefour ITC Depok

ii

Makalah Ilmu Lingkungan Teknologi BIoproses 2010

DAFTAR ISI
Kata Pengantar ................................................................................................................................ ii DAFTAR ISI ................................................................................................................................... iii Bab I. Bab II. Pendahulan....................................................................................................................... 1 Pembahasan ..................................................................................................................... 2 2.1. Deskripsi Kegiatan.................................................................................................... 2 2.2. Rona Lingkungan ...................................................................................................... 7 2.3. Perkiraan Dampak..................................................................................................... 9 Bab III. Rencana Pengelolaan Lingkungan ..................................................................................... 14 3.1. Rencana Pengelolaan Lingkungan Tahap Pra Konstruksi ........................................ 14 3.2. Rencana Pengelolaan Lingkungan Tahap Konstruksi .............................................. 14 3.3. Rencana Pengelolaan Lingkungan Tahap Operasi ................................................... 15 3.4. Rencana Pengelolaan Lingkungan Tahap Pasca Operasi ......................................... 20 Bab IV. Rencana Pemantauan Lingkungan ..................................................................................... 23 4.1. Rencana Pemantauan Lingkungan Tahap Pra Konstruksi ........................................ 23 4.2. Rencana Pemantauan Lingkungan Tahap Konstruksi .............................................. 23 4.3. Rencana Pemantauan Lingkungan Tahap Operasi ................................................... 26 4.4. Rencana Pemantauan Lingkungan Tahap Pasca Operasi ......................................... 27 Bab V. Penutup ............................................................................................................................ 29

DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................................................... 30 LAMPIRAN .................................................................................................................................... 31

Rencana Pengelolaan dan Pemantauan Lingkungan (RKL RPL) Pembangunan Hypermart iii Carrefour ITC Depok

Makalah Ilmu Lingkungan Teknologi BIoproses 2010

BAB I PENDAHULUAN

Pusat perbelanjaan kini telah menjadi bagian penting dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia, menjadi alternatif bagi masyarakat selain pasar tradisional untuk memenuhi kebutuhan akan keperluan sehari-hari. Pusat perbelanjaan dengan mudah ditemukan didaerah perkotaan dengan berbagai skala dari minimarket hingga skala hypermarket (skala besar) yang memberikan pengalaman berbelanja one stop shopping yang menyediakan hampir semua kebutuhan masyarakat. Asosiasi Pusat Belanja Indonesia (APBI) mencatat terdapat 170 pusat perbelanjaan yang berdiri di Jakarta hingga akhir 2011. Research Colliers International Indonesia memperkirakan selama tahun 2012-2013 di Jakarta akan ada tambahan 21 pusat perbelanjaan baru dengan total luas lantai 827.376 m2 . Fenomena pertumbuhan pusat perbelanjaan ini di satu sisi memberikan masyarakat kemudahan untuk berbelanja dan menjadi penggerak ekonomi di suatu daerah karena menambah lapangan pekerjaan untuk masyarakat. Di sisi lain pusat perbelanjaan yang memberikan fasilitas yang nyaman ini dapat menggusur peran pasar tradisional yang sebagian besar diisi oleh pedagang menengah ke bawah. Pusat perbelanjaan yang mengkonsumsi lahan dalam jumlah yang besar ini mengurangi daerah resapan air dan ruang hijau terbuka di daerah perkotaan. Kemacetan jalan disekitar lokasi pusat perbelanjaan juga menjadi dampak negatif yang tidak mudah untuk diatasi. Pusat perbelanjaan menggunakan sumber daya seperti listrik, air dan bahan bakar secara massif. Limbah air dari satu pusat perbelanjaan dapat mencapai angka 2.200 m3/bulan (Badan Pengelola Lingkungan Hidup, 2010) cukup untuk kebutuhan minum 30.000 orang untuk 1 bulan dan konsumsi listrik mencapai 40 Megawatt/bulan. Konsumsi sumber daya dan produksi limbah yang besar dari pusat perbelanjaan ini perlu direncanakan dengan baik penggelolaannya yang tertuang dalam Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL) hypermart. Dengan demikian, dampak negatif dari kehadiran hypermart pada lingkungan dapat diminimalisasikan, sehingga keuntungan dari pembukaan hypermart dapat dimanfaatkan oleh masyarakat luas dari berbagai aspek.

Rencana Pengelolaan dan Pemantauan Lingkungan (RKL RPL) Pembangunan Hypermart Carrefour ITC Depok

Makalah Ilmu Lingkungan Teknologi BIoproses 2010

BAB II PEMBAHASAN

2.1. Deskripsi Kegiatan 2.1.1. Gambaran Umum Hypermarket (Carrefour ITC Depok) Rencana Pengelolaan Lingkungan untuk hypermart (pusat perbelanjaan skala besar) ini disusun dengan mengambil PT. Carrefour Indonesia yang berlokasi di ITC Depok Jawa Barat, sebagai objek. PT. Carrefour Indonesia, Depok yang berdiri sejak Agustus 2005. Carrefour didirikan oleh keluarga Fournier dan Defforey. Keluarga ini pada awalnya membuka sebuah supermarket di kota Annecy, Haute-Savoie, Peranci pada tahun 1960. Pada tahun 1962, sebuah keluarga yang menjadi pelopor berdirinya Promodes, Paul Auguste Halley, juga membuka supermarket di kota Mantes-la-Ville, Perancis. Walaupun berbeda kota, tetapi kedua keluarga ini ternyata bersaing. Masing-masing ingin menjadi yang pertama. Bila keluarga Fournier dan Defforey membuka cabang di kota lain, maka keluarga Promodes pun tak mau kalah. Tahun 1963, keluarga Fournier dan Defforey mengalami selisih paham yang mengakibatkan keluarga ini pecah. Padahal keluarga ini telah merencanakan untuk memperluas pangsa pasar mereka, yaitu dengan membangun sebuah hypermarket. Kesempatan ini dipakai oleh keluarga Promodes. Keluarga Promodes ini mengaja salah satu anggota keluarga Fournier dan Defforey untuk bekerja sama. Anggota keluarga Fournier dan Defforey tersebut membocorkan rencana pembangunan hypermarket yang bernama Carrefour ke keluarga Promodes. Mendengar rencana itu, keluarga Promodes langsung bergegas mendahului pembangunan hypermarket Carrefour di Perancis. Akan tetapi, ketika pembangunan hampir selesai, keluarga Fournier dan Defforey telah mengumumkan pembukaan hypermarket mereka yang diberi nama Carrefour. Pengumuman tersebut membuat keluarga Promodes terkejut. Pasalnya, mereka sudah menancapkan tiang nama yang sebenarnya juga ingin memakai nama Carrefour. Hal ini membuat keluarga Promodes harus memutar otak mencari nama lain yang juga terdiri dari 9 (sembilan) huruf. Lalu muncullah nama Continent. Persaingan masih tetap berlanjut. Masing-masing saling memperluas pangsa pasar mereka. Selain dengan membuka cabang di negara-negara lain, mereka juga membuat berbagai jenis produk dan layanan jasa. Carrefour dan Continent masuk ke Indonesia pada tahun 1998. keberadaan mereka di Indonesia adalah berawal dari undangan para pengusaha Indonesia untuk
Rencana Pengelolaan dan Pemantauan Lingkungan (RKL RPL) Pembangunan Hypermart Carrefour ITC Depok

Makalah Ilmu Lingkungan Teknologi BIoproses 2010

memperkenalkan konsep hypermarket pada masyarakat Indonesia dengan tujuan membangkitkan investasi asing sebagai usaha perbaikan perekonomian semenjak dilanda krisis ekonomi pada tahun 1997. Adanya persetujuan pemerintah Indonesia dengan IMF pada tanggal 15 Agustus 1998 membuka kesempatan kepada para ritel asing untuk membuka usaha di Indonesia yang ditetapkan dengan Kepres No. 99 tahun 1998. Hal ini menjadi awal yang positif bagi Carrefour dan Continent untuk membuka bisnis hypermarket di Indonesia. Carrefour Indonesia dibuka pada bulan

Oktober 1998 di Cempaka Putih. Dan pada saat yang bersamaan, Continent juga dibuka di Pasar Festival. Keduanya berlokasi di Jakarta. Tanggal 14 Oktober 1998, keluarga penerus Carrefour dan Continent memutuskan untuk bersatu dengan memakai logo yang sama, yaitu logo Carrefour. Carrefour artinya
Gambar 1. Lambang Carrefour (Sumber. http://www.carefour.org)

adalah persimpangan jalan. Semua Carrefour yang ada di Indonesia dibangun di persimpangan jalan,

baik itu persimpangan besar maupun persimpangan kecil. Lambang Carrefour terdiri dari 2 (dua) warna, yaitu merah dan biru. Warna merah artinya stop. Warna biru artinya kesuksesan. Lambang Carrefour ini membentuk huruf C dan memiliki anak panah biru. Maksudnya, setiap orang yang lewat akan berhenti dan menuju ke arah kesuksesan. Saat ini Carrefour telah membuka 20 toko. Berikut adalah toko-toko Carrefour yang ada di Indonesia : 14 Oktober 1998 15 Maret 1999 13 Juli 1999 24 Agustus 1999 22 Maret 2000 29 Juni 2000 12 September 2001 Juli 2002 Oktober 2002 16 Juni 2003 Mei 2004 Agustus 2004 : Carrefour Cempaka Putih : Carrefour Pluit Mega Mall : Carrefour Cempaka Mas : Carrefour Duta Merlin : Carrefour Ratu Plaza : Carrefour MT. Haryono : Carrefour Lebak Bulus : Carrefour Puri Indah : Carrefour Ambassador : Carrefour Mollis : Carrefour Golden City : Carrefour Palembang Square
3

Rencana Pengelolaan dan Pemantauan Lingkungan (RKL RPL) Pembangunan Hypermart Carrefour ITC Depok

Makalah Ilmu Lingkungan Teknologi BIoproses 2010

25 Agustus 2004 September 2004 September 2004 Oktober 2004 1 Mei 2005 24 Agustus 2005 26 September 2005 8 Desember 2005

: Carrefour Permata Hijau : Carrefour Medan Fair : Carrefour Mangga Dua : Carrefour Makasar : Carrefour BSD : Carrefour Depok : Carrefour Taman Palem : Carrefour Cikokol

PT. Carrefour Indonesia memiliki bisnis utama sebagai peritel yang menyediakan kebutuhan sehari-hari masyarakat dengan menyediakan sendiri sarana-prasarana yang dibutuhkan dalam skala besar. PT. Carrefour Indonesia menggunakan konsep supermarket dalam operasionalnya dan membuka berbagai cabang di kota-kota besar di Indonesia.
Communication

Goods/Services Industry (a collection of sellers) Money Market (a collection of buyers)

Information
Gambar 2. Sistem Pemasaran (juga dianut oleh PT Carrefour Indonesia dalam perannya sebagai pihak industri dan market) (Sumber. Kotler. 2003. Principals of Marketing Industry. New York : Prentice Hall)

PT. Carrefour Indonesia dengan kegiatan operasionalnya yang dilakukan dengan skala besar, dapat dengan mudah mempengaruhi lingkungan karena besarnya sumber daya dipakai. Limbah yang dihasilkan pun dalam skala besar yang memerlukan usaha pengelolaan khusus agar dapat meminimalisir dampaknya pada lingkungan. Selain kegiatan operasionalnya sendiri. Dengan sarana dan prasarana skala besar yang dibutuhkan agar kegiatan operasional dapat berjalan, maka tahapan prakonstruksi dan konstruksinya sendiri pun harus dikelola dengan baik dari aspek lingkungan.

Rencana Pengelolaan dan Pemantauan Lingkungan (RKL RPL) Pembangunan Hypermart Carrefour ITC Depok

Makalah Ilmu Lingkungan Teknologi BIoproses 2010

Kegiatan-kegiatan dati prakonstruksi hingga operasional akan menghasilkan dampak seperti produksi limbah air dan padat, limbah di udara, dampak pada lalu lintas, dan lain-lain. Pada pembahasan Rencana Pengelolaan Lingkungan ini akan diuraikan dari dampak dan pengelolaan serta pemantauan dari tahap prakonstruksi hingga tahap operasional yaitu saat kegiatan perdagangan telah dimulai.

2.1.2. Alur Kegiatan (Metode Penelitian)

PROYEK

ANALISA

Ada Dampak Penting

Tidak Ada Dampak Penting

Wajib AMDAL

Tidak wajib AMDAL

Gambar 3. Flowchart awal (kerangka pemikiran)

Menurut UU No. 23/1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup dan PP No. 27/1999 tentang Analisis mengenai dampak lingkungan hidup (AMDAL) adalah kajian mengenai dampak besar dan penting suatu usaha dan/atau kegiatan yang direncanakan pada lingkungan hidup yang diperlukan bagi proses pengambilan keputusan tentang penyelenggaraan usaha dan/atau kegiatan. AMDAL merupakan kajian dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup, dibuat pada tahap perencanaan, dan digunakan untuk pengambilan keputusan. Hal hal yang dikaji dalam proses AMDAL: aspek fisik-kimia, ekologi, sosial-ekonomi, sosial budaya, dan kesehatan masyarakat sebagai pelengkap studi kelayakan suatu rencana usaha dan/atau kegiatan. Analisis mengenai dampak lingkungan hidup di satu sisi merupakan bagian studi kelayakan untuk melaksanakan suatu rencana usaha dan/atau kegiatan, di sisi lain merupakan syarat yang harus dipenuhi untuk mendapatkan izin melakukan usaha dan/atau kegiatan. Berdasarkan analisis ini dapat diketahui secara lebih jelas dampak besar

Rencana Pengelolaan dan Pemantauan Lingkungan (RKL RPL) Pembangunan Hypermart Carrefour ITC Depok

Makalah Ilmu Lingkungan Teknologi BIoproses 2010

dan penting terhadap lingkungan hidup, baik dampak negatif maupun dampak positif yang akan timbul dari usaha dan/atau kegiatan sehingga dapat dipersiapkan langkah untuk menanggulangi dampak negatif dan mengembangkan dampak positif. Begitu pula pada proyek hypermart (Carrefour ITC Depok), yang memiliki dampak yang cukup signifikan bagi kehidupan sosial-budaya masyarakat sekitar proyek termasuk bagi lingkungan. Lokasinya yang berada tepat ditengah kota Depok, dan langsung berhubungan dengan alur kehidupan masyarakat menjadi penyebab utama mengapa pembagunan hypermart ini bersifat wajib AMDAL. Hal ini sesuai dengan PP No. 27/1999 pasal 3 ayat 1 yang menerangkan bahwa, usaha dan/atau kegiatan yang kemungkinan dapat menimbulkan dampak besar d an penting terhadap lingkungan hidup meliputi : a. pengubahan bentuk lahan dan bentang alam b. eksploitasi sumber daya alam baik yang terbaharui maupun yang tak terbaharu c. proses dan kegiatan yang secara potensial dapat menimbulkan pemborosan, pencemaran dan kerusakan lingkungan hidup, serta kemerosotan sumber daya alam dalam pemanfaatannya; d. proses dan kegiatan yang hasilnya dapat mempengaruhi lingkungan alam, lingkunganbuatan, serta lingkungan sosial dan budaya; e. proses dan kegiatan yang hasilnya akan dapat mempe ngaruhi pelestarian kawasan konservasi sumber daya dan/atau perlindungan cagar budaya. Setelah proses penentuan wajib atau tidaknya AMDAL bagi proyek ini, kemudian kegiatan berlanjut pada pelaksanaan AMDAL itu sendiri. Tujuan secara umum AMDAL adalah menjaga dan meningkatkan kualitas lingkungan serta menekan pencemar an sehingga dampak negatifnya menjadi serendah mungkin. Dengan demikian AMDAL diperlukan bagi proses pengambilan keputusan tentang pelaksanaan rencana kegiatan yang mempunyai dampak terhadap lingkungan hidup. Untuk proses pelaksanaan AMDAL dapat dilihat dibawah ini.

Pelingkupan KA AMDAL AMDAL RKL RPL Gambar 4. Flowchart (tahapan) kegiatan

Rencana Pengelolaan dan Pemantauan Lingkungan (RKL RPL) Pembangunan Hypermart Carrefour ITC Depok

Makalah Ilmu Lingkungan Teknologi BIoproses 2010

Keterangan : a. Pelingkupan adalah proses pemusatan studi pada hal hal penting yang berkaita dengan dampak penting. b. Kerangka acuan (KA AMDAL) adalah ruang lingkup kajian analisis mengenai dampak lingkungan hidup y ang merupakan hasil pelingkupan. c. Analisis dampak lingkungan hidup (AMDAL) adalah telaahan secaracermat dan mendalam tentang dampak besar dan penting suatu rencana usaha dan/atau kegiatan. d. Rencana pengelolaan lingkungan hidup (RKL) adalah upaya penanganan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup yang ditimbulkan akibat dari rencana usaha dan/atau kegiatan. e. Rencana pemantauan lingkungan hidup (RPL) adalah upaya pemantauan komponen lingkungan hidup yang terkena dampak besar da n penting akibat dari rencana usaha dan/atau kegiatan. Kedua flowchart pada penjabaran di ataslah yang menjadi latar belakang penyusunan makalah RKL Pembagungan Hypertmart Carrefour ITC Depok ini. Makalah ini akan banyak mengaitkan kondisi masyarakat sekitar bagik dari segi sosial-budaya, ekonomi, hingga pelestarian lingkungan dengan harapan mampu meningkatkan efektifitas AMDAL itu sendiri. Seperti yang diketahui, Carrefour ITC Depok sebagai target proyek pada penelitian ini terletak sebagi satu kesatuan bangunan dengan ITC Depok, maka dari itu perlu ditekankan bahwa, dalam makalah ini diasuimsikan bahwa proyek (ITC Depok) belum berdiri dan pihak Carrefour ikut terlibat dalam rangkaian proses pembagunan proyek.

2.2. Rona Lingkungan 2.2.1. Komponen Tata Ruang PT. Carrefour Indonesia, Depok terletak di pusat kota Depok, yaitu Jalan Margonda Raya. Berbatasan secara langsung dengan Jalan Margonda Raya, Terminal Pusat Depok, dan Stasiun Depok Baru. Luas lahan yang digunakan adalah 1 ha (Gambar.10, Lampiran)

2.2.2. Komponen Kimia-Fisika 2.2.2.1. Keadaan Geografis

Rencana Pengelolaan dan Pemantauan Lingkungan (RKL RPL) Pembangunan Hypermart Carrefour ITC Depok

Makalah Ilmu Lingkungan Teknologi BIoproses 2010

Secara geografis Kota Depok terletak pada koordinat 6o 1900 6o2800 Lintang Selatan dan 106o 4300 106o 5530 Bujur Timur. Secara geografis, Kota Depok berbatasan langsung dengan Provinsi DKI Jakarta disebelah utara, Kabupaten Bogor disebelah selatan, dan dikelilingi area kabupaten lain yang masih dalam wilayah Provinsi jawa Barat (Gambar.11, Lampiran) atau berada dalam lingkungan wilayah Jabotabek. Bentang alam Kota Depok dari Selatan ke Utara merupakan daerah dataran rendah perbukitan bergelombang lemah, dengan elevasi antara 50 140 meter diatas permukaan laut dan kemiringan lerengnya kurang dari 15%. Kota Depok sebagai wilayah termuda di Jawa Barat, mempunyai luas wilayah sekitar 200,29 km2. Kondisi geografisnya dialiri oleh sungai-sungai besar yaitu Sungai Ciliwung dan Cisadane serta 13 sub Satuan Wilayah Aliran Sungai. Disamping itu terdapat pula 25 situ. Data luas situ pada tahun 2005 sebesar 169,68 Ha, dengan kualitas air rata-rata buruk akibat tercemar.

2.2.2.2. Keadaan Iklim PT. Carrefour Indonesia, Depok terletak di pusat Kota Depok yang memiliki iklim tropis dengan perbedaan curah hujan yang cukup kecil dan dipengaruhi oleh iklim musim. Secara umum musim kemarau antara bulan AprilSeptember dan musim hujan antara bulan Oktober-Maret. Temperatur Kelembaban rata-rata Penguapan rata-rata Kecepatan angin rata-rata Penyinaran matahari rata-rata Jumlah curah hujan Jumlah hari hujan : 24,3o-33oC : 25 % : 3,9 mm/th : 14,5 knot : 49,8 % : 2684 m/th : 222 hari/tahun

2.2.2.3. Komponen Sosial, Ekonomi, dan Budaya PT. Carrefour Indonesia yang berbatasan langsung dengan areal publik seperti jalan utama, terminal, dan stasiun menjadikan areal PT. Carrefour Indonesia secara langsung terhubung dengan kehidupan masyarakat. Masyarakat di areal tersebut bekerja sebagai pedagang baik skala kecil maupun skala menengah yang tersebar di sekitar jalan utama, terminal dan stasiun (Gambar.12 Lampiran)
Rencana Pengelolaan dan Pemantauan Lingkungan (RKL RPL) Pembangunan Hypermart Carrefour ITC Depok

Makalah Ilmu Lingkungan Teknologi BIoproses 2010

2.3. Perkiraan Dampak 2.3.1. Matriks Perkiraan Dampak


Tabel 1. Matriks Perkiraan Dampak Pembangunan Carrefour ITC Depok

Tahap Kegiatan Komponen Lingkungan


A

Pra Konstruksi
B C A

Konstruksi
B C D A

Operasi
B C D A

Pasca Operasi
B C

I. Aspek tata ruang I.1. Tata guna lahan I.2. Fasilitas Lingkungan II. Komponen Fisika-Kimia II.1. Kualitas Udara II.2. Kebisingan II.3. Kualitas Air (Permukaan) II.4. Kondisi Geologis (lahan) II.5. Energi listrik III. Sosial Budaya III.1. Sikap Hidup III.2. Persepsi Masyarakat III.3. Keamanan dan Ketertiban III.4. Kesehatan Masyarakat IV.Sosial Ekonomi IV.1.1. Pendapatan Daerah IV.1.2 Struktur Mata Pencahariaan Penduduk IV.1.3. Kesempatan Kerja IV.1.4. Tingkat Pendapatan

2/1

3/3

1/1 1/2

2/2

+ 2/2 1/2

1/1

+ 2/2 + 1/2

-1/3 -1/3 1/2 1/2 + 2/2 -1/1 1/2

-2/1 -2/1 -1/1 -1/1

+ 3/3

1/1 1/1 1/1

+ 3/3

+1/2 2/2 2/2 -1/1 2/2 -1/1 -1/1 -1/1 + 1/1

1/1 1/1 - 2/2

+ 1/2 2/2

+ 3/3 + 2/3

+ 2/3

+ 2/2 + 1/2 + 1/2

1/1 1/2 1/2 1/2

+ 1/2 2/2 +2/3 2/2

1/2 1/2 2/2

1/1 1/1 1/1

+ 1/2 3/3 + 3/3 2/3

Rencana Pengelolaan dan Pemantauan Lingkungan (RKL RPL) Pembangunan Hypermart Carrefour ITC Depok

Makalah Ilmu Lingkungan Teknologi BIoproses 2010

Keterangan : Besaran Dampak 1 = kecil 2 = sedang 3 = besar Kepentingan Dampak 1 = kurang penting 2 = penting 3 = sangat penting Contoh :1/3 = Dampak negatif, besaran kecil [Kepentingan dampak sangat penting] Tahap Kegiatan Pra Konstruksi A. Survey dan Pengukuran Lahan B. Pendataan demografi C. Pembebasan lahan Konstruksi A. Mobilisasi peralatan dan bahan B. Rekruitmen tenaga kerja C. Penyiapan lahan D. Pembangunan sarana dan prasarana Operasi A. Perubahan daya guna lahan B. Rekruitmen tenaga kerja C. Instalasi air bersih D. Persepsi masyarakat mengenai kesehatan dan keamanan Pasca Operasi A. Pembuangan limbah padat B. Penurunan nilai estetika C. Interaksi masyarakat dan pengunjung

2.3.2. Perkiraan Dampak pada Tahap Prakonstruksi Kegiatan pada tahap pra-konstruksi berupa kegiatan survei dan pengukuran, penetapan batas-batas proyek bangunan dan perencanaan site plant. Dampak yang paling potensial saat kegiatan pra-konstruksi adalah pendataan demografi dan sosialisasi konsep pasar modern, masalah tanah yaitu penetapan batas-batas wilayah dan lahan dan persiapan teknik birokrasi. Kemungkinan terhadap dampak negatif dapat dilihat pada sisi keresahan yang timbul dikalangan masyarakat dengan adanya pembatasan wilayah, yang dapat
Rencana Pengelolaan dan Pemantauan Lingkungan (RKL RPL) Pembangunan Hypermart 10 Carrefour ITC Depok

Makalah Ilmu Lingkungan Teknologi BIoproses 2010

mengurangi mobilisasi masyarakat, apalagi di sekitar proyek terdapat terminal dan lokasinya terletak tepat dipersimpangan, sehingga kemungkinan timbul kemacetan yangssemakin parah. Setelah kegiatan pra-konstruksi ini dilalui maka, kegiatan selanjutnya adalah tahap konstruksi.

2.3.3. Perkiraan Dampak pada Tahap Konstruksi Tahap konstruksi yaitu tahap kegiatan pelaksanaan fisik/konstruksi pembangunan dari mulai penerimaan tenaga kerja, mobilitas alat dan materi, persiapan lahan, pembangunan gedung, sarana, dan prasarana. 1. Mobilisasi peralatan dan bahan, sebelum pembangunan konstruksi gedung dimulai, terlebih dahulu dilakukan mobilisasi baik alat maupun material bangunannya. Hal tersebut bertujuan agar jalannya kegiatan konstruksi tidak terjadi kendala. Mobilisasi alat-alat dan material konstruksi berpotensi menimbulkan gangguan lalu lintas berupa laju kendaraan yang terhambar dan kecelakaan lalu lintas. Buldozer untuk pematangan tanah dan penyiapan jalan Excavator untuk kebutuhan pengerukan Truk dan dumptruck untuk mobilisasi alat dan bahan Stoom Walls untuk pengerasan jalan Mesin molen untuk cor Alat-alat pertukangan Aspek ini dapat menimbulkan dampak negatif selama tahap konstruksi karena akan menimbulkan pencemaran udara (beberapa alat menghasilkan outpot sampingan seperti asap), dan peningkatan level kebisingan termasuk peningkatan kemacetan lalu lintas. Selain itu mobilisasi dari peralatan seperti Buldozer dapat merusak keadaan jalan, karena kondisi aspal di sekitar proyek tidak cocok dengan beban kendaraan yang melintasinya, dimana kondisi aspal di di setting untuk jalan raya biasa. 2. Tenaga kerja, tenaga kerja yang diperlukan oleh proyek pembangunan terdiri dari tenaga kasar dan tenaga kerja berkeahlian, seperti arsitek, dan tenaga teknik sipil. Aspek ini dapat menimbulkan dampak positif dilihat dari kebutuhan tenaga kerjanya. Tenaga ahli yang beragam dan berasal dari beberapa bidang keahlian jelas akan mampu menyerap banyak tenaga kerja. 3. Kegiatan penyiapan lahan, pekerjaan dimulai dengan pembersihan lokasi dengan cara pengerukan. Lalu diadakan survei dan pemetaan unutk mendapatkan batasRencana Pengelolaan dan Pemantauan Lingkungan (RKL RPL) Pembangunan Hypermart 11 Carrefour ITC Depok

Makalah Ilmu Lingkungan Teknologi BIoproses 2010

batas tanah. Setelah peta diselesaikan, selanjutanya dilakuakan pematokan batas tanah diikuti pembersihan lahan. Dari proses ini akan dapat menimbulkan dampak negatif bila dilihat dari munculnya persepsi masyaraakat tentang proyek yang sedang berlangsung. Persepsi masyarakat terhadap proyek yang baru dibangun akan cenderung negatif sebab pola kehidupan dam mata pencaharian mereka yang kebetulan terkait dengan lingkungan sekitar tiba-tiba saja berubah. Selain itu persepsi yang muncul adalah mengenai gangguan kesehatan, kenyamanan, dan keamanan akibat rangkaian proses pembangunan proyek. Disinilah proses pengelolaan dengan mengandalkan pendekatan terhadap kehidupan social sangat penting untuk dilakukan. 4. Pembangunan gedung, sarana dan prasarana utama, kegiatan pembangunan sarana dan prasarana utama diawali dengan pembangunan jalan di lingkungan lokasi kegiatan, pembangunan saluran drainase sederhana, pembangunan gedung, pembangunan sarana sanitasi, tempat pembuangan sampah dan pembangunan drainase permanen. hingga dokumen disusun. Dampak yang muncul dari proses ini cenderung negatif sebab seluruh proses pembangunan memiliki resiko yang tinggi akan munculnya gangguan kesehatan bagi masyarakat sekitar, dan menimbulkan ancaman keselamantan serta kesehatan bagi pekerjanya.

2.3.4. Perkiraan Dampak pada Tahap Operasi Kegiatan sebagai sumber dampak lingkungan yang akan timbul adalah : perubahan daya guna lahan yang dapat memicu terjadinya konflik kepentingan, terjadinya pengembangan perekonomian rumah tangga dan sumberdaya, timbulnya persepsi masyarakat terhadap proyek baik positif maupun negatif, timbulnya penyakit akibat dari pembangunan dan sistem instalasi air bersih yang dilakukan pihak terkait, dan perubahan mata pencaharian. Perubahan mata pencaharian sebenarnya dari satu sisi dapat dilihat sebagai dampak positif dengan adanya recruitment tenaga kerja untuk keseluhan kegiatan operasi. Melalui proses ini akan tercipta kesempatan kerja baru, mata pencaharian dan peningkatan pendapatan baru dari kegiatan operasi.

2.3.5. Perkiraan Dampak pada Tahap Pasca Operasi Dampak pada tahap pasca operasi dapat dilihat pada proses pembuangan limbah. Pengolahan limbah cair dapat mengurangi kualitas air dan limbah padat yang tidak melalui proses pengelolaan dengan baik dapat meningkatkan timbunan sampah apda TPA sekitar.
Rencana Pengelolaan dan Pemantauan Lingkungan (RKL RPL) Pembangunan Hypermart 12 Carrefour ITC Depok

Makalah Ilmu Lingkungan Teknologi BIoproses 2010

Selain itu akan terjadi oeningkatan pencemaran udaran dan kebisingan akibat polutan yang ditimbulkan oleh hasil pembakaran bahan bakar dari genset dan kendaraan pengunjung. Di sisi lain, dampak negatif juga dapat dilihat dari penurunan nilai estetika akibat ketidakpedulian pengunjung terhadapt kebersihan, seperti membuang sampah

sembarangan, merokok di area operasional, tidak menjaga kebersihan fasilitas penunjang seperti toilet. Sirkulasi kendaraan keluar masuk yang tidak terkelola dengan baik menyebabkan kemacetan dan penerangan yang tidak baik dijalur masuk keluar pada perparkiran basement dapat menyebabkan kemacetan lalu lintas. Dampak positif yang terdapat pada tahap ini dapat dilihat dari segi interaksi antar karyawan ataupuan antara karyawan dan pengunjung. Hal ini dapat mengubah pola kehidungan sosial masyarakat ke arah global sehingga masyarakat dapat memiliki pola pemikiran yang lebih terbuka.

Rencana Pengelolaan dan Pemantauan Lingkungan (RKL RPL) Pembangunan Hypermart 13 Carrefour ITC Depok

Makalah Ilmu Lingkungan Teknologi BIoproses 2010

BAB III RENCANA PENGELOLAAN LINGKUNGAN

Guna melaksanakan pengelolaan lingkungan yang baik sesuai dengan tujuan dan sasaran yang diharapkan, diperlukan pedoman atau petunjuk pelaksanaan sebagai acuan dalam melaksanakan kegiatan pengelolaan lingkungan berupa Rencana Pengelolaan Lingkungan Hidup (RKL). Dokumen Rencana Pengelolaan Lingkungan Hidup (RKL) merupakan bagian dokumen AMDAL Reklamasi Pantai yang wajib disusun dan dilaksanakan oleh pemrakarsa dalam rangka pelaksanaan pengelolaan lingkungan kawasan wisata pantai. Pelaksanaan RKL juga diperlukan bagi pihak lain yang berkepentingan antara lain: Institusi Pemerintah sebagai perencana kegiatan pelaksana dan pengawas pembangunan serta pengelolaan lingkungan hidup di wilayah reklamasi pantai dan sekitarnya. Masyarakat di sekitar lokasi reklamasi pantai terutama yang akan terkena dampak penting. Pemerhati lingkungan termasuk LSM, pakar dan masyarakat umum lainnya.

3.1. Rencana Pengelolaan Lingkungan Tahap Prakosntruksi Dampak yang dapat terjadi pada tahapan ini yaitu potensi terjadinya konflik karena penetapan batas-batas wilayah proyek antara pihak yang berkepentingan, misal masyarakat sekitar. Pengelolaan yang dapat dilakukan antara lain : a. Sosialisasi rencana kegiatan secara teratur b. Penetapan batas-batas wilayah proyek dilakukan dengan kehadiran dari pihakpihak yang berkepentingan agar kedepannya tidak ada kesalahpahaman mengenai batas wilayah masing-masing. c. Pelaksanaan proses ganti rugi yang memadai, sesuai dengan perjanjian kedua belah pihak, antara pelaksana pengelolaan dan masyarakat terkait, yang diawasi oleh instansi pengawas terkait

3.2. Rencana Pengelolaan Lingkungan Tahap Konstruksi Proses konstruksi melibatkan sejumlah peralatan berat seperti dumptruck, buldoser, dan lain-lainnya. Pengoperasian sejumlah peraltan berat ini menyebabkan peningkatan pencemaran udara yang berasal dari debu di sekitar lokasi pembangunan. Apalagi
Rencana Pengelolaan dan Pemantauan Lingkungan (RKL RPL) Pembangunan Hypermart 14 Carrefour ITC Depok

Makalah Ilmu Lingkungan Teknologi BIoproses 2010

mengingat bahwa depok merupakan daerah yang memiliki curah hujan yang cukup tinggi, makal jalan umum yang juga digunakan sebagai lintasan keluar masuk dumptruck dipenuhi oleh tanah yang tersebar dari ban dumptruck yang keluar masuk ke lokasi pembangunan. Untuk mengatasi hal tersebut, maka kontraktor pelaksana pembangunan Carrefour ITC Depok melakukan upaya pengelolaan sebagai berikut : a. Penyiraman lokasi di sekitar proyek sehingga debu yang beterbangan dapat diminimalkan. b. Pembersihan ban dumptruck yang keluar dari areal proyek sehingga tanah yang lengket pada ban kendaraan tersebut dapat dikurangi dan tidak tercecer di sepanjang jalar raya yang dilintasi kendaraan tersebut. Dalam hal mobiliasasi peralatan, dampak yang muncul ialah mengenai kerusakan jalan raya akibat mobilisasi kendaraan-kendaraan konstruksi seperti bulldozer dan dumptruck. Dampak ini dapat diatasi dengan pengaturan beban dan ritasi kendaraan, pemasangan rambu-rambu lalu lintas (beban kendaraan maksimal) serta perbaikan jalan di sekitar tapak proyek. Dampak lainnya mengenai gangguan lalu lintas hingga peningkatan angka kecelakaan dapat diatas dengan pemasangan rambu-rambut lalu lintas (dengan kecepatan maksimal kendaran yang melintas 20 km/jam), pengaturan dan ritasi kendaraan, pengaturan waktu kegiatan lalu lintas material (dilaksanakan tidak pada jam sibuk, 06.0008.00 dan 16.00-17.00) serta diikuti dengan sosialisasi kegiatan (tahap konstruksi). Pada tahap ini terdapat juga dampak positif dari rekruitmen tenaga kerja bangunan, dimana hal ini dapat menciptakan kesempatan kerja baru bagi masyarakat sekitar, sebab akan banyak tenaga kerja local yang terserap. Pengelolaan terhadap dampak ini dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut. Penyuluhan kepada masyarakat tentang rencana kegiatan proyek dan manfaatnya pada aspek kesempatan kerja, mata pencaharian dan pendapatan. Memberikan prioritas tenaga kerja bagi masyarakat lokal, sepanjang memenuhi persyaratan keterampilan yang dibutuhkan.

3.3. Rencana Pengelolaan Lingkungan Tahap Operasi Pada tahap ini, dampak yang paling krusial adalah instalasi air bersih, sebab proses ini berdampak langsung bagi kualitas air bersih disekitar Carrefour ITC Depok. ITC depok secara keseluruhan memiliki reservoir tempat penyimpanan air tertutup sebelum disistribusikan untuk fasilitas sanitasi yang ada seperti kamar mandi, WC, tempat wuduk, dan westafel. Sumber air bersih berasal dari air sumbur bor (deep well) dan PDAM Tirta
Rencana Pengelolaan dan Pemantauan Lingkungan (RKL RPL) Pembangunan Hypermart 15 Carrefour ITC Depok

Makalah Ilmu Lingkungan Teknologi BIoproses 2010

Kahuripan (PDAM ini menampung kebutuhan air bersih Depok dan Bogor hingga pertengahan tahun 2012, dan PDAM kota Depok selesai pembangunannya). Disamping digunakan untuk kebutuhan pengoperasian Carrefour, air bersih juga digunakan untuk kebutuhan pertamanan dan hydrant kebakaran. Pemantauan yang telah dilakukan oleh pengelola bangunan saat ini dalam pengelolaan air bersih melalui pengujian kualitas air bersih yang digunakan secara regular. Alur pengelolaan air bersih Carrefour ITC Depok.
Carrefour ITC Depok Hidrant Taman WC Westafel Tempat wuduk Kamar mandi

Sumur bor

Reservoir Distribution
PDAM Tirta Kahuripoan

Gambar 5. (Asumsi) Skeka instalasi air bersih Carrefour ITC Depok

Dari proses instalasi ini, kemudian akan muncul limbah cair yang pengelolaannya tentu perlu mendapatkan perhatian khusus sebab pengelolaan yang tidak tepat akan menybabkan pencemaran air. Pengendalian pencemaran air adalah upaya pencegahan dan penanggulangan pencemaran air serta pemulihan kualitas air untuk menjamin agar sesuai dengan baku mutu air. Tujuan pengelolaan limbah cair adalah untuk mengendalikan agar tidak terjadi pencemaran air atau menghasilkan zero pollution (tidak ada polutan dalam air). Oleh karenanya maka sasaran yang ingin dicapai adalah agar mengusahakan agar jumlah limbah yang dihasilkan sekecil mungkin dengan kadar kontaminan sekecil mungkin. Untuk mencapai tujuan ini, maka tidak hanya proses pengelolaan yang dapat dilakukan, tetapi juga proses pengolahan.

3.3.1. Produksi Bersih (Pengelolaan Limbah Cair) Limbah yang berasal dari pusat perbelanjaan (seperti Carrefour ITC

Depok) pada prinsipnya di lokalisasi agar tidak menyebar. Sekitar tahun 1970 limbah industri termasuk pertokoan ditangani dengan membuat instalasi pengolahan limbah di tempat (end of pipe). Model ini disebut sebagai penanganan limbah industri dengan sistem setempat. Pengolahan terhadap limbah industri ini memerlukan biaya yang tidak kecil, sehingga berpengaruh terhadap harga jual barang produksinya. Kemudian para industriawan melakukan berbagai upaya, agar limbah yang dihasilkan sesedikit mungkin dan dengan memanfaatkan kembali
Rencana Pengelolaan dan Pemantauan Lingkungan (RKL RPL) Pembangunan Hypermart 16 Carrefour ITC Depok

Makalah Ilmu Lingkungan Teknologi BIoproses 2010

limbah yang ada. Cara ini disebut dengan istilah produksi bersih. Produksi bersih didefinisikan sebagai strategi pengelolaan lingkungan yang bersifat preventif, proaktif, terpadu dan diterapkan secara kontinyu pada setiap kegiatan mulai dari hulu sampai dengan ke hilir yang terkait dengan proses produksi terhadap suatu produk dan atau jasa. Industri /pertokoan yang dibangun di suatu kawasan disebut kawasan industry (Carrefour ITC Depok terletak di tengah kota Depok, yang dikelilingi oleh pertokoan dan fasilitas umum lainnya). Sistem penanganan limbah yang dikembangkan adalah sistem penanganan limbah terpusat, dengan dibuatkan jaringan air kotor dan berakhir di instalasi pengolahan limbah industri. Jenis industri yang dibangun di kawasan industri ini bervariasi, sehingga kualitas limbah yang dihasilkan juga bervariasi. Apabila disatukan (dicampur) limbahnya, akan menyulitkan dalam proses pengolahan serta meningkatkan biaya investasi dan biaya operasionalnya, yang mempengaruhi tarif pengolahan limbah. Bagi industri yang limbahnya memang sulit diolah akan menguntungkan, sedangkan industri yang tidak sulit diolahnya akan dirugikan. Oleh karenanya masing-masing industri melakukan pengolahan pendahuluan, hingga efluen limbah sebelum masuk ke jaringan air kotor telah memenuhi syarat tertentu. Bagan penanganan limbah cair domestik digambarkan berikut ini :

Gambar 6. Penanganan limbah cair (Sumber. Departemen Pendidikan Nasional, (2004). Buku acuan Pendidikan Lingkungan Hidup. Jakarta)

Rencana Pengelolaan dan Pemantauan Lingkungan (RKL RPL) Pembangunan Hypermart 17 Carrefour ITC Depok

Makalah Ilmu Lingkungan Teknologi BIoproses 2010

3.3.2. Produksi Bersih (Pengolahan limbah cair) Selain mengubah proses, penanggulangan pencemaran air secara teknik juga dilakukan dengan pengolahan limbah sebelum dialirkan ke sungai . pengolahan limbah adalah proses penghilangan bahan-bahan pencemar dari air yang sebelumnya digunakan oleh industry, pertania, atau berbagai kegiatan di kota seperti pertokoan, perkantoran, pemukiman, dan lain-lain. Pemerintah kini mewajibkan setiap industry yang menghasiolkan limbah untuk membuat IPAL (Instalasi Pengolahan Air Limbah). Ada sejumlah metode dalam pengolahan limbah tergantung pada jenis limbah yang akan diolah. Berikut adalah salah satu metode pengolahan limbah : Pengolahan primer, biasanya mencakup penghilangan material-material berukutan besar dengan menggunakan saringan atau disebut screening. Pengolahan primer merupakan proses pengolahan pendahuluan untuk menghilangkan padatan tersuspensi, koloid, serta penetralan yang umumnya menggunakan proses fisika atau kimia. Pengolahan sekunder, dilakukan untuk mneghilangkan material-material berukuran lebih kecil dan partikel-partikel yang masih ada pada air limbah melalui penyaringan dengan menggunakan alat seperti membrane atau dengan munggunakan mikroba (secara biologi). Kedua teknik tersebut dapat juga digunakan secara bersamaan untuk memecah partikel, sehingga meningkatkan luas permukaan partikel dan dengan cara demikia mikroba dapat bekerja lebih efektif. Langkah pertama dalam tahap sekunder biasanya adalah megirimkan limbah ke tangki aerasi (aeration tank) atau tangki pengudaraan. Pengolahan tersier, menggunakna cara-cara kimia untuk membunuh kumankuman. Semakin banyak proses dalam pengolahan limbah biasanya akna membuat limbah menjadi lebih bersih dari bahan-bahan pencemar. Dengan demikian air yang masuk ke sungai, danau, atau lingkungan lainnya akan lebih bersih. Namun, semakin banyak proses atau langkah berarti semakin besar biaya untuk mengoperasikan dan memelihara peralatan pengolah limbah.

Rencana Pengelolaan dan Pemantauan Lingkungan (RKL RPL) Pembangunan Hypermart 18 Carrefour ITC Depok

Makalah Ilmu Lingkungan Teknologi BIoproses 2010

Gambar 7. Proses Pengolahan Air Limbah (Sumber. http://earthpeace.com/image&/wastewater.png, diakses pada 7 Mei 2012, pukul 20.19)

Di samping pengelolaan air limbah, Pengelolaan kebersihan dan penghijauan lingkungan juga dilakukan untuk menjaga lingkungan Carrefour ITC Depok tetap tertata rapi dan bersih. Pengelolaan kebersihan dilakukan dengan mengeluarkan beberapa peraturan yang ditujukan kepada masyarakt pengguna untuk tetap menjaga kebersihan pasar, seperti larangan buang sampah sembarangan, larangan merokok di bagian dalam bagunan, dan lainnya. Di samping itu pengelolaan penghijauan dilakukan dengan mempertahankan tetap adanya ruang terbuka hijau di sekitar bangunan. Penghijauan yang dilakukan saat ini masih sangat terbatas kepada penanaman pohon pelindung di depan ITC Depok yang juga diharapkan dapat menjadi buffer kebisingan dan pencemaran udara dari aktivitas Carrefour ITC Depok seperti operasional genset. Pembangunan pertokoan berlantai lima pada lahan seluas 32.000 m ini memerlukan kebijakan yang mendasar dalam menyediakan lapangan parkir kendaraan. Lapangan parkir itu diperlukan baik untuk pemilik kios serta pengunjung. Diperlukan luasan tertentu sesuai dengan proyeksi pengelola toko dan pengunjung yang bakal memanfaatkan lahan parkir tersebut. Selain luasnya, juga diperlukan cara-cara pengaturan parkir hingga menjamin sirkulasi kendaan keluar masuk yang lancar, dan tidka menimbulkan hambatan pada lalu lintas umum. Pengelolaan yang telah dilakukan adalah dengan menyediakan area parkir pada basement bangunan ITC Depok. Namun, pemanfaatan lapangan parkir sepertinya tidak dikelola dengan baik sebab dapat diihat dengan kasat mata bahwa lebih banyak kendaraan yang parkir di seputaran Carrefour ITC Depok dibandingkan dengan kuantitas jumlah kendaraan yang parkir di area yang disediakan.

Rencana Pengelolaan dan Pemantauan Lingkungan (RKL RPL) Pembangunan Hypermart 19 Carrefour ITC Depok

Makalah Ilmu Lingkungan Teknologi BIoproses 2010

3.4. Rencana Pengelolaan Lingkungan Tahap Pasca Operasi Dampak yang paliung krusial pada tahap ini adalah pembuangan limbah padat. Limbah padat sering disebut juga sebagai sampah. Limbah padat umumnya mengandung unsur bahan pencemar dengan konsentrasi yang bervariasi. Apabila limbah padat di kembalikan ke alam dalam jumlah besar atau terakumulasi/menumpuk di alam, maka akan mengganggu keseimbangan ekosistem alam. Prinsip pengelolaan limbah padat dimulai pada sumbernya. Yang paling baik dilakukan adalah mengurangi jumlah limbah padat melalui pengelolaan sumbernya. Dengan demikian, limbah tidak cepat bertambah tetapi dapat dikurangi. Ada beberapa cara untuk meminimisasi dampak yang merugikan lingkungan akibat pembuangan limbah padat yaitu: (1) mengurangi penggunaan bahan baku dalam proses pengolahan industri, (2) mengurangi jumlah limbah padat yang dihasilkan dengan cara antara lain tidak mudah mengganti-ganti perabotan rumahtangga, (3) penggunaan kembali material limbah padat, (4) pemulihan material limbah padat, (5) pemulihan energi limbah padat dan (6) pengelolaan limbah padat yang berkesinambungan. Kegiatan minimisasi limbah padat berpedoman pada konsep pelaksanaan pembangunan yang sustainabel. Pembangunan yang sustainabel adalah pembangunan yang menghemat sumberdaya alam dan pembangunan yang memberi nilai tambah sumberdaya alam. Untuk mencapai hal tersebut, diperlukan dua upaya secara simultan, yaitu : Melakukan penghematan pemanfaatan sumberdaya alam melalui berbagai upaya antara lain pemanfaatan kembali (reuseability), mengganti sesuatu yang lebih hemat dan lebih aman (replacement), menolak sesuatu yang membahayakan keselamatan hidup (refusal), memperbaiki yang kurang sesuai (repair), menyusun struktur yang tidak sesuai (reconstruct), memperpanjang umur sesuatu

(redurability), mengurangi limbah (reduce), memanfaatkan kembali limbah yang masih dapat dimanfaatkan (recycle), mentransformasi limbah (recovery) dan sebagainya.

Gambar 8. Diagram dari hirarki limbah (Sumber. http://id.wikipedia.org/ Waste_hierarchy.svg, diakses pada 7 Mei 2012, pukul 20.21) Rencana Pengelolaan dan Pemantauan Lingkungan (RKL RPL) Pembangunan Hypermart 20 Carrefour ITC Depok

Makalah Ilmu Lingkungan Teknologi BIoproses 2010

Memberi nilai tambah sumberdaya alam yang kita manfaatkan. Misalnya dengan menghasilkan produk yang lebih unggul, memproduksi barang atau jasa yang lebih tinggi nilainya, dan sebagainya.

Proses penanganan limbah berawal dari penghasil limbah (sumber limbah). Pada tahap ini diperlukan identifikasi limbah padat apakah masih memiliki nilai atau langsung dibuang ke TPA (tempat pembuangan / penataan akhir). Limbah padat yang masih memiliki nilai (mis, kertas, plastik, limbah organik) di proses lanjut ( daur ulang, pemanfaatan kembali, dll), sedangkan limbah yang tidak dapat dimanfaatkan lagi dikumpulkan dalam bak sampah (penyimpanan on site) menunggu diambil oleh petugas pengumpul sampah. Petugas pengumpul sampah ini menggunakan gerobak sampah untuk memindahkan sampahnya ke tempat penampungan sementara (TPS) dan selanjutnya dengan truk sampah diangkut ke TPA. Namun ada juga dari penyimpanan on site ini langsung diangkut oleh truk sampah ke TPA. Kegiatan pemilahan limbah padat menurut tahapan proses penanganan limbah padat di atas, mensyaratkan adanya kegiatan pemilahan limbah padat sejak dari penghasil limbah. Sementara itu kenyataan di lapangan proses pemilahan dari sumber penghasil limbah belum dilakukan, melainkan para pemulung yang mengambil barang yang dibutuhkan dari tempat sampah untuk diproses lanjut.

Gambar 9. Proses pananganan limbah (Sumber. Departemen Pendidikan Nasional, (2004). Buku acuan Pendidikan Lingkungan Hidup. Jakarta)

Rencana Pengelolaan dan Pemantauan Lingkungan (RKL RPL) Pembangunan Hypermart 21 Carrefour ITC Depok

Makalah Ilmu Lingkungan Teknologi BIoproses 2010

Tujuan pembuangan akhir sampah adalah membuang sampah agar tidak mencemari lingkungan tempat tinggal manusia, dan juga tempat lingkungan dimana sampahtersebut dibuang. Ada bergai cara yang dapat dilakukan pada proses pembuangan akhir. Misalnya Penimbunan tanah (Land Fill), penimbunan limbah padat secara sehat, dan pembakaran. Cara penimbunan sampah Land fill tidak menjamin aman bagi lingkungan, karena sering terjadi pencemaran air tanah akibat cairan busuk (lindi) yang ditimbulkan akabitan pembusukan bahan organic didalam tanah. Kemungkinan akan terakumulasinya gas- gas racun yang dihasilkan pada proses pengeruaian secara anaerobic; sehingga akan mematikan kehidupan mikroorganisma yang menguntungkan, yang hidup di dalam tanah. Dalam tipe ini semua jenis limbah padat dibuang ke dalamnya yaitu sampah yang tak mudah membusuk (seperti kertas-kertas, potongan-potongan kayu, potongan besi seng, kaleng bekas) dan sampah organik yang mudah membusuk. Campuran sampah ini akan membusuk dan menyebarkan bau tak sedap, lalat, kacoa, dan jenis binatang lain hidup di dalamya. Penimbunan limbah padat secara sehat dilakukan secara terencana dengan difasilitasi peralatan pengaman agar tidak mencemari lingkungan tanah perairan dan lingkungan sekitarnya. Area cekungan yang dijadikan lokasi pembuangan akhir sampah dinding dan dasar cekungan dilapisi bahan yang relatif kedap air (biasanya geotextile), dilengkapi dengan pipa penyalur gas metan, dan saluran drainase untuk menampung lindi yang dihasilkan. Sampah dibuang dan dibiarkan menggunung seperti cara penimbunan tanah. Tetapi, setelah sampah mencapai ketinggian tertentu, permukaan atasnya ditimbun dengan tanah. Lapisan tanah ini sedikitnya harus setebal 60 cm. Penimbunan limbah padat juga dilakukan bertahap, yaitu setiap hari setelah penimbunan dilakukan pemadatan dan penuntupan dengan tanah liat (bahan kedap air) untuk mencegah terjadinya pencampuran dengan air hujan, dan gangguan dari binatang. Pemusnahan sekaligus pemanfaatan sampah dengancara ini memang membutuhkan dana lebih besar dan waktu serta tenaga lebih besar, tetapi lebih aman dan tidak merugikan kehidupan masyarakat.

Rencana Pengelolaan dan Pemantauan Lingkungan (RKL RPL) Pembangunan Hypermart 22 Carrefour ITC Depok

Makalah Ilmu Lingkungan Teknologi BIoproses 2010

BAB IV RENCANA PEMANTAUAN LINGKUNGAN

Dokumen Rencana Pemantauan Lingkungan Hidup (RPL) merupakan bagian Dokumen AMDAL yang wajib disusun dan dilaksanakan oleh Pemrakarsa dalam rangka pelaksanaan pengelolaan lingkungan akibat adanya pembangunan Hypermart yang turut mempengaruhi keseimbangan lingkungan dan keadaan sosial masyarakat sebagaimana di uraikan di atas. Maksud dan Tujuan dilaksanakan pemantauan lingkungan hidup antara lain untuk: Mengetahui perubahan lingkungan atau dampak penting yang timbul akibat pembangunan hypermart. Mengevaluasi pengelolaan lingkungan yang telah dan akan dilaksanakan di kawasan terkait.

4.1. Rencana Pemantauan Lingkungan Tahap Pra Konstruksi Dampak yang dapat terjadi pada tahapan ini yaitu potensi terjadinya konflik karena penetapan batas-batas wilayah proyek antara pihak yang berkepentingan, misal masyarakat sekitar. Pemantauan dilakukan secara berkala dari internal untuk memastikan semua areal proyek yang telah ditentukan sesuai dengan kesepakatan antara pihak-pihak yang berkepentingan. Hal berikutnya yang menjadi perhatian adalah intensitas keluhan masyarakat yang takut akan terkena dampak pembangunan. Untuk mengatasinya, pihak pengelola perlu melakukan observasi dan wawancara (pendekatan langsung) pada warga agar dapat mengetahui tingkat keresahan masyarakat yang akan terkena dampak. Pendekatan ini bias dilakukan sebagi upaya pemantauan secara berkala sepanjang proses konstruksi untuk mencegah adalah pertentangan tiba-tiba dari masyarakat ketika proses m=pembangunan mulai menghasilkan pencemaran bagi lingkungan.

4.2. Rencana Pemantauan Lingkungan Tahap Konstruksi Pengelolaan yang telah dilakukan terhadap dampak yang ditimbulkan dari beberapa peralatan di lokasi pembangunan telah cukup mengurangi pencemaran udara dan meningkatkan tingkat kebersihan jalan raya walupun masih kurang maksimal. Penurunan kualitas udara dan peningkatan kebisingan tetap sulit untuk dikesampingkan karena

Rencana Pengelolaan dan Pemantauan Lingkungan (RKL RPL) Pembangunan Hypermart 23 Carrefour ITC Depok

Makalah Ilmu Lingkungan Teknologi BIoproses 2010

pengelolaan yang ada tidak mampu mengembalikan kondisi lingkungan sekitar pada keadaan semula sebelum proses pembangunan berlangsung. Untuk menentukan sejauh apa tingkat pencemaran yang terjadi perlu dilakukan proses pemantauan lingkungan. Dalam proses RPL perlu ditetapkan tolak ukur dampak, dalam hal ini dapat digunakan Baku Mutu Kualitas Udara Ambien, berdasarkan kepada Keputusan Menteri Lingkungan Hidup (Kep.02/MENKELH/11/1996). Parameter kualitas udara yang akan diukur adalah : debu, NOx, SO2, CO, HC, selain itu dilakukan pengukuran intensitas kebisingan. Secara singkat data iklim dan kualitas udara yang akan dikumpulkan adalah sebagai berikut: a. Wilayah telaah : daerah studi rencana pembangunan (Carrefour ITC Depok dan lingkungan sekitarnya) b. Paramater: temperature dan curah hujan.

Tabel 2. Ringkasan Wilayah Telaah Kualitas Udara dan Kebisingan

Udara Wilayah telaah Daerah di sekitar area pembangunan Sama

Kebisingan dengan lokasi

proyek (lingkungan sekitar Carrefour pengukuran udara ITC Depok

Parameter Debu, NOx, SO2, CO, HC Metoda Sampling dan analisa laboratorium

Intensitas Kebisingan Pengukuran langsung

menggunakan sound level meter Periode Selama proses konstruksi Selama proses konstruksi

Kualitas udara akan diukur di lapangan bersamaan dengan dilakukannya pengukuran iklim mikro dengan menggunakan alat dan metode analisis sebagaimana disajikan pada tabel dibawah ini. Hasil pengukuran kualitas udara ambien akan dibandingkan dengan baku mutu kualitas udara ambien yang berlaku di Kota Depok.

Tabel 3. Parameter, Metode Analisis, dan Peralatan Kualitas Udara dan Kebisingan

No. Parameter 1 Debu 2 NOx 3 SO2

Metode Analisis Gravimetri Grietz Salzmann Pararrosaniline

Peralatan Canister, Vol. Sampler Spektrofotometer Spektrofotometer

Rencana Pengelolaan dan Pemantauan Lingkungan (RKL RPL) Pembangunan Hypermart 24 Carrefour ITC Depok

Makalah Ilmu Lingkungan Teknologi BIoproses 2010

4 5 6 7

CO Pb HC Kebisingan

NDIR Gravimetrik, Ekstraktif, Pengabuan Flame Ionization -

NDIR Analyzer Hi-Vol, AAS Gas Chromatograph Sound Level Meter

(Sumber. Lampiran Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 41 Tahun 1999 tentang Pengendalian Pencemaran Udara dan Keputusan Menteri Lingkungan Hidup Kep-48/MENLH.1996 tentang Baku Mutu Kebisingan) Tabel 4. Baku Mutu UdaraAmbien

Parameter SO2, g/m3 (ppm) CO, g/m3 (ppm) NOx, g/m3 (ppm) O3, g/m3 (ppm) Debu, g/m3 (ppm) Pb, g/m3 (ppm) H2S, g/m3 (ppm) NH3, g/m3 (ppm) HC, g/m3 (ppm)

Baku Mutu 260 (0.1) 2.260 (20) 92.5 (0.05) 200 (1.0 260 60 42 (0.03) 1.360 (2) 160 (0.24)

Waktu 24 jam 8 jam 24 jam 1 jam 24 jam 24 jam 30 menit 24 jam 3 jam

(Sumber. KepMen KLH No.02/MENKLH/1988)

Faktor kebisingan juga perlu dipantau, akibat beroperasinya sejumlah peralatan konstruksi yang mengganggu kenyamanan masyarakat sekitar. Tingkat kebisingan tersebut harusnya dipanatu secara berkala sebab pendengaran manusia memiliki ambang batas tersendiri dengan jumlah waktu paparan yang terbatas. Survey dapat dilakukan dengan menggunakan instrumentasi sound level meter, untuk kemudian membandingkan hasil yang diperoleh dengan baku mutu tingkat kebisingan sebagai parameter.
Tabel 5. Baku Mutu Tingkat Kebisingan

Tingkat Kebisingan dBA Zona Penelitian, Perawatan Kesehatan, Sosial, dst Perumahan, Pendidikan, Rekreasi Perkantoran, Pertokoan, Perdagangan, Pasar, dst Industri, Pabrik, ST. KA, Terminal Bus, dst Maksimum yang dianjurkan 35 45 50 60 Maksimum yang diperbolehkan 45 55 60 70

(Sumber. Peraturan Mentri Kesehatan RI No.718/MENKES/Per/XI/1987)

Rencana Pengelolaan dan Pemantauan Lingkungan (RKL RPL) Pembangunan Hypermart 25 Carrefour ITC Depok

Makalah Ilmu Lingkungan Teknologi BIoproses 2010

4.3. Rencana Pemantauan Lingkungan pada Tahap Operasi Pada tahap ini, dampak yang cukup krusial dan butuh pemnatauan secara berkala adalah masalah kualitas air di Carrefour ITC Depok. Pemeriksaan kualitas air (parameter fisik, kimia dan bakteriologi) akan dilakukan dengan pengumpulan data primer dan data sekunder. Pengumpulan data primer diperoleh dari hasil pengujian kualitas air permukaan dan air tanah yang ada di rencana lokasi proyek pembangunan UPS. Pengujian akan dilakukan di laboratorium rujukan. Untuk beberapa parameter dilakukan pemeriksaan in situ (di lapangan), sedangkan pengumpulan data sekunder akan dilakukan dengan membandingkan berdasarkan hasil penelitian sebelumnya di sekitar tapak lokasi yang kemungkinan pernah dilakukan. Parameter kualitas air yang dianalisa meliputi sifat fisik, kimia, dan bakteriologi. Pemilihan parameter yang dianalisis akan ditentukan oleh karakteristik kegiatan khususnya dari kegiatan pada tahap konstruksi dan tahap operasi UPS (Unit Pengolahan Sampah). Beberapa parameter yang cepat berubah karena waktu diukur di lapangan (in situ), sedangkan parameter lainnya diperiksa di laboratorium. Parameter kualitas air permukaan yang diamati serta alat dan metoda analisisnya disajikan pada table dibawah ini.
Tabel 6. Parameter, Alat, dan Metoda Analisis Kualitas Air Permukaan

No.

Parameter

Unit
0

Alat/Metoda Thermometer, Pemuaian

Keterangan In-situ Lab induk Lab induk

Fisika Temperatur 1 2 3 TSS TDS

Gravimetri Gravimetri mg/l mg/l mg/l mg/l mg/l mg/l mg/l mg/l mg/l mg/l mg/l pHmeter DO Meter, Modifikasi Winkler Modifikasi Winkler Titrimetri AAS AAS Metode Brusin Metode Sulfanilik Metode Nessler Titrimetri/Spektrofotometri Gravimetri/Spektrofotometri Ekstraksi

Kimiawi pH 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 DO BOD COD Klorida (Cl) Fluorida (F) Nitrat (-NO3) Nitrit (-NO2) Amoniak bebas Sulfida Sulfat (SO4) Minyak/lemak

In-situ In-situ Lab induk Lab induk Lab induk Lab induk Lab induk Lab induk Lab induk Lab induk Lab induk Lab induk

Rencana Pengelolaan dan Pemantauan Lingkungan (RKL RPL) Pembangunan Hypermart 26 Carrefour ITC Depok

Makalah Ilmu Lingkungan Teknologi BIoproses 2010

13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26

Natrium (Na) Arsen (As) Nikel (Ni) Barium (Ba) Besi (Fe) Mangan (Mn) Tembaga (Cu) Timbal (Pb) Seng (Zn) Krom total Detergen Fenol Senyawa aktif biru metilen Posfat

mg/l mg/l mg/l mg/l mg/l mg/l mg/l mg/l mg/l mg/l mg/l mg/l mg/l mg/l JPT/100 ml JPT/100 ml

AAS AAS AAS AAS AAS AAS AAS AAS AAS AAS Grafimetri, Spektrofotometri, Inframerah Spektrofotometri Spektrofotometri Spektrofotometri Botol steril model tabung ganda inkubator Botol steril model tabung ganda inkubator

Lab induk Lab induk Lab induk Lab induk Lab induk Lab induk Lab induk Lab induk Lab induk Lab induk Lab induk Lab induk Lab induk Lab induk Lab induk Lab induk

Bakteriologi Total koliform 1 2 Kolifirm tinja

(Sumber. Peraturan Pemerintah RI Nomor 82 Tahun 2001 dan keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 37 Tahun 2003 tentang Metoda Analisis Kualitas Air Permukaan dan Pengambilan Contoh Air Permukaan)

Pada tahap ini, saat proses recruitment tanaga kerja juga perlu dilakukan pemantauan. Pemantauan dimaksudkan agar pelaksana/pemrakarsa proyek dapat meprioritaskan tenaga kerja lokal. Hal ini dapat mengindari kecemburuan masyarakat terhadap proyek terkait dan mencegah konflik.

4.4. Rencana Pemantauan Lingkungan pada Tahap Pasca Operasi Setelah proses operasi, akan selalu timbul limbah padat (sampah) sebagai output dari proses operasi itu sendiri. Informasi dan data mengenai komposisi kimia sampah erat kaitannya dengan pemilihan alternatif pengolahan dan pemanfaatan tanah. Untuk mengetahui kandungan unsur kimia yang terdapat dalam sampah dapat dilakukan analisa dan percobaan di laboratorium. Pada sistem Sanitary Landfill dan Open Dumping, informasi mengenai komposisi kimia sampah dimanfaatkan untuk mengetahui tingkat pencemaran yang ditimbulkan oleh leachate terhadap air tanah. Sedang pada proses penghumusan, informasi ini sangat

Rencana Pengelolaan dan Pemantauan Lingkungan (RKL RPL) Pembangunan Hypermart 27 Carrefour ITC Depok

Makalah Ilmu Lingkungan Teknologi BIoproses 2010

berguna untuk mengetahui besarnya kandungan unsur-unsur, seperti zat hara yang diperlukan oleh tanaman. Umumnya komposisi kimia sampah terdiri dari unsur Carbon, Hidrogen, Oksigen, Nitrogen, Sulfur dan Phospor (C, H, O, N, S, P), serta lainnya yang terdapat dalam protein, karbohidrat dan lemak. Pemantauan limbah padat juga dapat dilakukan melalui beberapa metoda berikut ini. Wawancara/Interview, dilakkan pada pengunjung, pedagang, dan petugas kebersihan dengan menggunakan lembaran pengamatan lapangan (questioner) yang telah disusun, wawancara dilakukan untuk masing-masing responden secara kontinyu selama kurunwaktu tertentu (misalkan 3 bulan) Observasi/pengamatan, adalah pengamatan langsung ke lapangan, untuk melihat kondisi sara dan prasarana untuk pengelolaan limbah padat domestic yang ada pada Carrefour ITC Depok. Pengolahan dan analisa data, hasil survey terhadap tempat penampungan sementara, pengangkutan, dan pengolahan data dengan emnggunakan

komputerisasi dan mengkategorikan nilai skor pada hasil pengisisan quisioner. Pemantauan pencemaran lingkungan dapat dilakukan pada lokasi sekitar Carrefour ITC Depok seperti lokasi penghasil limbah padat, TPS, lokasi jalur pengangkutan limbah, dan lokasi lainnya yang berpotensi. Disamping permasalahan lingkungan, permasalah sosial seperti timbulnya kecemburuan dan keresahan masyarakat berkaitan pelayanan yang tidak sesuia dan tidak prima oleh Pengelola, seperti penempatan pedagang. Apabila penempatan ini tidak sesuai dengan kesepakatan yang diambil pada saat sebelum pembangunan, maka besar kemungkinan akan terjadi persepsi negatif atau konfliks antara masyarakat pedagang pengelola hypermart. Pengumpulan dan analisis data pengelolaan di lapangan ditekankan utuk mendapatkan gambaran kondisi lingkungan pada saat operasional Carrefour ITC Depok dan membandingkan dengan kondisi sebelumnya (kondisi rona lingkungan). Pengumpulan data dan analisisnya dilakukan dengan pengambilan data primer dan sekunder melalui wawancara dan analisa data terhadap ketidakpuasan dan kecemburuan sosial. Data yang terkumpul kemudia ditabulasi dan dianalisi secara deskriptif.

Rencana Pengelolaan dan Pemantauan Lingkungan (RKL RPL) Pembangunan Hypermart 28 Carrefour ITC Depok

Makalah Ilmu Lingkungan Teknologi BIoproses 2010

BAB V PENUTUP

Kesimpulan 1. AMDAL (Analisis Mengenai Dampak Lingkungan), merupakan salah satu alat yang dibuat untuk tindakan terhadap kemungkinan ketidaklsetarinya fungsi lingkungan sebagai akibat adanya rencana usaha dan atau kegiatan pambangunan. 2. Pusat perbelanjaan skala besar seperti hypermart membutuhkan pengelolaan yang tepat, sistematis, dan efisien bagi keseluruhan aspek mulai dari perencanaan pembangunan, masyarakat sekitar, hingga lingkunga. 3. Rencana Pengelolaan Lingkungan dan Rencana Pemantauan Lingkungann merupakan bagian dokumen AMDAL yang wajib disusun dan dilaksanakan oleh pemrakarsa dalam rangka pelaksanaan pengelolaan lingkungan kawasan industry dan perkotaan. 4. Guna melaksanakan pengelolaan lingkungan yang baik sesuai dengan tujuan dan sasaran yang diharapkan, diperlukan pedoman atau petunjuk pelaksanaan sebagai acuan dalam melaksanakan kegiatan pengelolaan lingkungan berupa Rencana Pengelolaan Lingkungan Hidup (RKL), yang juga didukung dengan pemantauan yang baik melalui penyusunan Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL). 5. Secara umum, dampak dari pembangunan hypermart menyentuh langsung kehidupan masyarakat sekitar proyek dan mengakibatkan perubahan keseimbangan lingkungan sehingga pembangunan hypermart memiliki sifat wajib AMDAL, maka dari itu dibutuhkan adanya dokumen-dokumen substansial seperti RKL dan RPL. 6. Dalam pembuatannya, RKL dan RPL meninjau beberapa aspek kehidupan mulai dari geografis tan topografi wilayah, komponen fisika-kimia terkait, serta aspek sosial, ekonomi, dan budaya. 7. Peninjau atau institusi yang berhak menentukan dampak terhadap lingkungan adalah pemilik perusahaan, pemerintah daerah setempat dan masyarakat sekitar. Saran Dalam upaya peningkatan pembangunan di area perkotaan seharusnya lebih

memperhatikan dampak yang dapat terjadi pada lingkungan, teruatam pada aspek kesehatan masyarakat. Begitu juga pada pembangunan hypermart yang harus selalu memperhatikan syarat-syarat yang telah ditetapkan.

Rencana Pengelolaan dan Pemantauan Lingkungan (RKL RPL) Pembangunan Hypermart 29 Carrefour ITC Depok

Makalah Ilmu Lingkungan Teknologi BIoproses 2010

DAFTAR PUSTAKA

Departemen Pendidikan Nasional, (2004). Buku acuan Pendidikan Lingkungan Hidup. Jakarta. Kotler. 2003. Principals of Marketing Industry. New York : Prentice Hall. KepMen KLH No.02/MENKLH/1988 Lampiran Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 41 Tahun 1999 tentang Pengendalian Pencemaran Udara dan Keputusan Menteri Lingkungan Hidup Kep48/MENLH.1996 tentang Baku Mutu Kebisingan Peraturan Mentri Kesehatan RI No.718/MENKES/Per/XI/1987 Peraturan Pemerintah RI Nomor 82 Tahun 2001 dan Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 37 Tahun 2003 tentang Metoda Analisis Kualitas Air Permukaan dan Pengambilan Contoh Air Permukaan http://3.bp.blogspot.com/_288fhLNuaJ4/TF8Ei55m4sI/AAAAAAAABJA/NBLTYoadsY/ s1600/itc+depok.jpg, diakses pada 14 Mei 2012, pukul 21.04 http://www.carefour.org http://desmond.imageshack.us/Himg299/scaled.php?server=299&filename=kotasatelityan gaadawebdw0.jpg&res=landing, diakses pada 14 Mei 2012, pukul 20.47 http://earthpeace.com/image&/wastewater.png, diakses pada 7 Mei 2012, pukul 20.19 http://i364.photobucket.com/albums/oo82/GrandiePektay/Kaskus/Counter%20ITC%20De pok/DenahlokasiITCDepok.jpg, diakses pada 14 Mei 2012, pukul 20.21 http://id.wikipedia.org/ Waste_hierarchy.svg, diakses pada 7 Mei 2012, pukul 20.21

Rencana Pengelolaan dan Pemantauan Lingkungan (RKL RPL) Pembangunan Hypermart 30 Carrefour ITC Depok

Makalah Ilmu Lingkungan Teknologi BIoproses 2010

LAMPIRAN

Gambar 10. Denah Proyek (Carrefour ITC Depok) (Sumber.http://i364.photobucket.com/albums/oo82/GrandiePektay/Kaskus/Counter%20ITC%20Depok/Dena hlokasiITCDepok.jpg, diakses pada 14 Mei 2012, pukul 20.21)

Gambar 11. Keadaan geografis kota Depok (Sumber.http://desmond.imageshack.us/Himg299/scaled.php?server=299&filename=kotasatelityangaadaweb dw0.jpg&res=landing, diakses pada 14 Mei 2012, pukul 20.47) Rencana Pengelolaan dan Pemantauan Lingkungan (RKL RPL) Pembangunan Hypermart 31 Carrefour ITC Depok

Makalah Ilmu Lingkungan Teknologi BIoproses 2010

Gambar 12. Kehidupan masyarakat di sekitar Carrefour ITC Depok (Sumber. http://3.bp.blogspot.com/_288fhLNuaJ4/TF8Ei55m4sI/AAAAAAAABJA/NBLTYoadsY/s1600/itc+depok.jpg, diakses pada 14 Mei 2012, pukul 21.04)

Rencana Pengelolaan dan Pemantauan Lingkungan (RKL RPL) Pembangunan Hypermart 32 Carrefour ITC Depok