Anda di halaman 1dari 1

Konsultasi Publik RUU Tipikor

Dikirim oleh prasetya1 pada 08 November 2007 | Komentar : 0 | Dilihat : 311

Konsultasi Publik Rancangan Undang-Undang (RUU) Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Diikuti seluruh lapisan masyarakat, Konsultasi Publik Rancangan Undang-Undang (RUU) Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) diselenggarakan oleh PP Otoda Fakultas Hukum Universitas Brawijaya. Kegiatan ini diselenggarakan di lantai VIII gedung Rektorat Universitas Brawijaya Kamis (8/11) dengan menggandeng Partnership dan Koalisi Pemantau Peradilan. Hadir sebagai pemateri, Setyawan Nurdayasakti SH MH (Universitas Brawijaya), Dr Ibnu Tricahyo SH MH (Universitas Brawijaya), Muchamad Ali Safa?at (Partnership) serta Muji Kartika Rahayu (ICW). Disampaikan Ali Safa?at, berbagai hal baru mengenai korupsi terdapat dalam undang-undang tersebut di antaranya mengenai penyadapan/perekaman pembicaraan, pemeriksaan in absentia, pembalikan beban pembuktian serta pengelolaan asset hasil korupsi. Terkait hal ini, berbagai masukan publik yang telah dihimpun diantaranya sanksi pidana, harmonisasi dengan UU yang lain, penguatan fungsi LHKPN (Laporan Harta Kekayaan Pejabat Negara). Konsultasi di Malang kali ini dikatakan Ali Safa?at merupakan yang kelima kalinya setelah sebelumnya hal serupa juga dilangsungkan di berbagai daerah seperti Aceh, Bandung, Bali dan Manado. Sementara itu, Muji Kartika Rahayu yang diwawancarai disela-sela acara menyatakan bahwa Indonesia telah meratifikasi komitmen internasional yang dikeluarkan PBB dalam pemberantasan korupsi berupa UNCAC (United Nations Commission Against Corruption). Konsekuensi dari hal tersebut dikatakan alumni Fakultas Hukum angkatan 1994 ini menuntut Indonesia untuk membuat gap analisis antara UNCAC tersebut dengan UU Korupsi yang ada. Melalui RUU tipikor versi masyarakat ini, disampaikan Kartika, masyarakat diharapkan dapat menyampaikan insiatif dan aspirasinya dalam memberantas korupsi dengan mengajukan gugatan ke pemerintah yang sampai saat ini dinilai aktivis ICW ini masih memiliki resistensi tinggi. Gugatan masyarakat ini dikatakannya menjamin perlindungan hukum bagi si pelapor dan saksi. Terhadap tipikor, Ibnu Tricahyo lebih menekankan tindakan preventif daripada pemberantasan dengan membentuk sisten tata Negara yang accountable, terkontrol dan teruji. Lebih lanjut, ia mengurai beberapa Negara yang telah berhasil menutup peluang korupsi diantaranya Swedia, Koera Selatan, Jepang, serta Kanada. ?Secara substansi RUU Tipikor ini sama dengan UU Korupsi yang ada sebelumnya, hanya yang membedakan adalah adanya peradilan khusus tipikor dengan menunjuk hakim ad hoc?, ujarnya. [nok]