Anda di halaman 1dari 19

KEPEMIMPINAN MENURUT PRESPEKTIF ISLAM

MAKALAH
Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Mata Kuliah Pengantar Management PEM

Disusun Oleh David Irwanto Edita Mahendra Fatricia Maulani Maria Donna

STUDI AKOMODASI KATERING JURUSAN HOSPITALITY SEKOLAH TINGGI PARIWISATA BANDUNG BANDUNG 2011-2012

KATA PENGANTAR Puji syukur saya panjatkan ke hadirat Allah SWT kerena dengan rahmat dan pertolonganNya kami telah menyelesaikan makalah tentang KEPEMIMPINAN MENURUT PERSPEKTIF ISLAM . Saya juga mengucapkan terima kasih kepada bapak Sukmaedi,SE.,MM. selaku dosen pada mata kuliah Pengantar Managemen (PEM) yang telah membimbing kami dalam pembuatan makalah dan kepada pihak-pihak lain yang membantu proses penyusunan makalah kami ini. Dikatakan oleh para ahli bahwa Indonesia negeri kita yang tercinta ini sedang mengalami krisis kepemimpinan. Sebuah pertanyaan yang tidak gampang. Diperlukan dasar terstruktur serta parameter relevan untuk menjawabnya. Artinya, perlu dijelaskan apa landasan kepemimpinan, kemudian diuraikan apa tantangan krusial yang dihadapi oleh Indonesia, baik kini dan di masa depan. Beranjak dari keduanya, dirumuskan kira-kira kepemimpinan seperti apa yang dibutuhkan untuk menjawab tantangan tersebut . Dalam makalah ini kami akan membahas pemikiran-pemikiran tentang masalah kepemimpinan yang lebih khusus menitik beratkan pada sebuah konsep kepemimpinan dalam perspektif islam. Semoga kalimat demi kalimat yang kami tulis dalam makalah ini dapat berguna bagi kita semua dengan memberikan kesadaran bagi kita untuk menjadi pemimpin yang amanah di masa yang akan datang.

Bandung, 20 februari 2012

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Fenomena yang terjadi sekarang ini di zaman yang dikatakan modern dengan berbagai jenis fasilitas yang telah diciptakan, dengan akses informasi yang serba cepat membuat kehidupan ini seakan mudah. Selain hal tersebut, pada zaman ini dengan slogan demokrasi setiap orang bebas untuk membuat perkumpulan,ormas ataupun partai yang terkategorikan kelompok kecil ataupun besar. Dimana mereka sering mengatasnamakan bagwa ormas ataupun kelompok mereka berbasis islam. Dari hal tersebut muncul berbagai pertanyaan apakah hal ini adalah kemajuan atau sebaliknya ??? Mungkin karena krisis kepemimpinan yang terjadi di negara ini yang menyebabkan berbagai ormas muncul dengan marak. Maka bisa dikatakan bahwa bagsa ini memang butuh seorang sosok yang bisa mengayomi seluruh harapan rakyat.

1.1

Tujuan Pembahasan Masalah

Pembahasan kali ini bertujuan untuk mengatahui karakteristik dan metode kepemimpinan dalam konteks islam. Selain itu kita akan belajar mengenai konsep kepemimpinan dalam islam dengan melihat contoh-contoh para pemimpin pada zaman dulu dan masa kini agar kita dapat menjadi pemimpin yang hebat di masa yang akan datang.

BAB II PEMBAHASAN

2.1

Definisi Kepemimpinan (Teori Kepemimpinan)

Untuk memahami sebuah konsep kepemimpinan kmungkin alangkah baiknya kita mengetahui terlebih dahulu mengenai berbagai definisi ataupun teori-teori mengenai kepemimpinan itu sendiri. Berikut ini merupakan beberapa teori mengenai kepemimpinan menurut pendapat para

ahli : 1. Menurut Tead; Terry; Hoyt (dalam Kartono, 2003) Pengertian Kepemimpinan yaitu kegiatan atau seni mempengaruhi orang lain agar mau bekerjasama yang didasarkan pada kemampuan orang tersebut untuk membimbing orang lain dalam mencapai tujuan-tujuan yang diinginkan kelompok. 2. Menurut Young (dalam Kartono, 2003) Pengertian Kepemimpinan yaitu bentuk dominasi yang didasari atas kemampuan pribadi yang sanggup mendorong atau mengajak orang lain untuk berbuat sesuatu yang berdasarkan penerimaan oleh kelompoknya, dan memiliki keahlian khusus yang tepat bagi situasi yang khusus. 3. Moejiono (2002) memandang bahwa leadership tersebut sebenarnya sebagai akibat pengaruh satu arah, karena pemimpin mungkin memiliki kualitas-kualitas tertentu yang membedakan dirinya dengan pengikutnya. Para ahli teori sukarela (compliance induction theorist) cenderung memandang leadership sebagai pemaksaan atau pendesakan pengaruh secara tidak langsung dan sebagai sarana untuk membentuk kelompok sesuai dengan keinginan pemimpin (Moejiono, 2002). 4. Setiap kalian adalah pemimpin dan bertanggung jawab atas apa yang di pimpinnya, Seorang penguasa adalah pemimpin bagi rakyatnya dan bertanggung jawab atas mereka, seorang istri adalah pemimpin di rumah Setiap kalian adalah pemimpin dan bertanggung jawab atas apa yang di pimpinnya, Seorang penguasa adalah pemimpin bagi rakyatnya dan bertanggung jawab atas mereka, seorang istri adalah pemimpin di rumah suaminya dan dia bertanggung jawab atasnya. Seorang hamba sahaya adalah penjaga harga tuannya dan dia bertanggung jawab atasnya. (HR Bukhari) Selain menurut para ahli definisi kepemimpinan juga di kemukakan oleh agama islam yaitu, pemimpin adalah anggota dari sebuah tim yang diberi peringkat tertentu dan

diharapkan untuk melakukan secara konsisten dengan itu. Seorang pemimpin memimpin sebuah kelompok yang diharapkan mempunyai pengaruh dalam membentuk dan mencapai tujuan etis dan tujuan. Keberhasilan pemimpin bergantung pada pembentukan tim yang mengarah ke semangat tim. Kalau kita lihat sejarah, salah satu kunci keberhasilan Rasulullah saw membangun umatnya ialah karena beliau memimpin dengan akhlak, memimpin dengan moral. Beliau menjadi teladan yang baik. Firman Allah dalam surah al-Ahzab ayat 21: Sesungguhnya adalah bagi kamu pada diri Rasulullah itu terdapat contoh-teladan yang baik (sikap yang harus diteladani).

2.2

Teori Kemunculan Pemimpin


1. TEORI HERIDITAS (keturunan): Pemimpin muncul dari orang-orang terkemuka.Ciricirinya sifat yang dominan adalah kurang demokratis dan kharismatik.Dalam perspektif Islam teori ini sanagtditerministik shg menganggap lingkungan keluarga dan social tidak berpengaruh padahal ada hadis Nabi saw yang menjelaskan ttg hal tsb: Kullu mauludin yuladu ala alfithrati faabawahu yuhawwidaanihi aw yunashshiraanihi aw yumajjisaanihi. 2. TEORI ENVIRONMENTAL (lingkungan).Pemimpin muncul krn Faktor lingkungan. Teori ini kebalikan dari teori pertama yang kurang memperhitungkan factor keturunan untuk menjadi seorang pemimpin. Ciri-cirinya demokratis dan kepiawian. Dalam perspektif Islam faktor keturunan juga cukup signifikan utk melahirkan seorang pemimpin oleh karenanya Nabi menganjurkan utk mencari pasangan hidup dari bibit ata keturunan yang baik. 3. TEORI KONVERGENSI (Campuran antar keduanya). Menganggap kedua-duanya signifikan. Model ini lebih banyak diterima masyarakat modern, khususnya negara2 demokratis.

2.3 Tipe Dan Gaya Kepemimpinan


1. Tipe otokratis: memperlakukan organisasi yg dipimpinnya sbg milik pribadi. Tipe
kepemimpinan ini biasanya menggunakan gaya inspektif dan investigatif. Kelemahannya antara lain: para bawahan merasakan tekanan psikis dan tekanan pengembangan karier, bawahan takut utk bersalah, produktivitas kerja adakalanya sengaja diturunkan. 2. Tipe paternalistic: Pemimpin cenderung menganggap yg dipimpin tdk dewasa. (lebih menonjolkan figur, kalau figurnya wafat organisasi mjd stagnan, mundur atau runtuh. Gaya kepemimpinan tipe ini biasanya: edukatif, naratif, motivatif, gaya persuasive, inovativ dan gaya represif. Gaya ini bisa positif kalau pribadinya baik yaitu bertindak sbg ayah yg bijaksana, ttp mnjdi negative apabila pribadi ayah tdk ditunjang hal-hal positif dan visioner. 3. Tipe Militeristik: Tdk hrs dlm organisasi militer ttp gaya kepemimpinannya spt militer yakni perintah pemimpin harus ditaati scr mutlak (garis komando). Gaya

kepemimpinannya: instruktif, investigative, dg dmik, hal2 yg bersifat inisiatif, inovatif, dan kreatif prouktif kurang mendapat saluran. 4. Demokratis: Pemimpin berusaha menyinkronkan antara kepentingan dan tujuan organisasi dg kepentingan dan tujuan yg dipimpinnya. Gaya kepemimpinan tipe ini adalah inspektif, inovatif, persusif atau bahkan gaya partisipatif. Oleh karenanya tipe ini kerjasama dalam organisasi merupak swt keniscayaan. 5. Tipe kharismatik: Pemimpin mempunyai daya pikat yg sangat besar/sangat berpengaruh thd pengikutnya. Tipe ini cenderung menonjolkan figure, banyak pengikutnya dan fanatic, mengkultuskan sang pemimpin. Gaya kepemimpinan tipe ini adalah motivatif, edukatif, dan partsipatif. (Referensi: Drs. H. Muhadi Zainuddin Lc. Studi Kepemimpinan Islam,Dan Drs. Sukrana, Kepemimpinan dalam Administrasi).

2.4

Beberapa kriteria kepemimpinan dalam islam :

Kepemimpinan setelah Rasulullah SAW , merupakan pemimpin yang harus memiliki kualitas spiritual yang sama dengan Rasul, terbebas dari segala bentuk dosa, memiliki pengetahuan yang sesuai dengan realitas, tidak terjebak dan menjauhi kenikmatan dunia, serta harus memiliki sifat adil. Oleh sebab itu ia haruslah mengetahui cita rasa spritual yang sesuai dengan realitasnya, agar ketika menyampaikan sesuatu pesan maka ia paham betul akan makna yang sesungguhnya dari realitas (cakupan) spiritual tersebut. Ketika pemimpin memiliki kualitas spiritual yang sama dengan rasul maka pastilah ia terbebas dari segala bentuk dosa.Terdapat beberapa kriteria dalam konsep kepemimpinan dalam islam. Islam menentukan seseorang pantas menjadi seorang pemimpin dengan melihat beberapa aspek diantaranya: 2.4.1 Menggunakan Hukum Allah

Dalam berbagai aspek dan lingkup kepemimpinan, ia senantiasa menggunakan hukum yang telah di tetapkan oleh Allah, hal ini sebagaimana ayat ; "Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamuberlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya". (Qs : 4:59)

Melalui ayat di atas ta'at kepada pemimpin adalah satu hal yang wajib dipenuhi, tetapi dengan catatan, para pemimpin yang di ta'ati, harus menggunakan hukum Allah, hal ini sebagaimana di nyatakan dalam ayat-Nya yang lain : "Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu dan janganlah kamu mengikuti pemimpin-pemimpin selain-Nya. Amat sedikitlah kamu mengambil pelajaran (daripadanya)". (Qs: 7 :3) "..Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka

itu adalah orang-orang yang kafir..." (Qs :5:44) "..Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang zalim..." (Qs: 5 45) "..Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang fasik.." (Qs: 5 :47) " Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin ?". (Qs : 5 :50) Dan bagi kaum muslimin Allah telah dengan jelas melarang untuk mengambil pemimpin sebagaimana ayat; Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa diantara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim". (Qs : 5 : 51)

Dari beberapa ayat diatas, bisa disimpulkan, bahwa pemimpin dalam islam adalah mereka yang senantiasa mengambil dan menempatkan hukum Allah dalam seluruh aspek kepemimpinannya.

2.4.2 Tidak meminta jabatan, atau menginginkan jabatan tertentu..

"Sesungguhnya kami tidak akan memberikan jabatan ini kepada seseorang yang memintanya, tidak pula kepada orang yang sangat berambisi untuk mendapatkannya" (HR Muslim). "Sesungguhnya engkau ini lemah (ketika abu dzar meminta jabatan dijawab demikian oleh Rasulullah), sementara jabatan adalah amanah, di hari kiamat dia akan mendatangkan penyesalan dan kerugian, kecuali bagi mereka yang menunaikannya dengan baik dan melaksanakan apa yang menjadi kewajiban atas dirinya". (HR Muslim). Kecuali, jika tidak ada lagi kandidat dan tugas kepemimpinan akan jatuh pada orang yang tidak amanah dan akan lebih banyak membawa modhorot daripada manfaat, hal ini sebagaimana ayat ; "Jadikanlah aku bendaharawan negeri (mesir), karena sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga dan berpengetahuan". (Qs : Yusuf :55) Dengan catatan bahwa amanah kepemimpinan dilakukan dengan ; 1. Ikhlas. 2. Amanah. 3. Memiliki keunggulan dari para kompetitor lainnya. 4. Menyebabkan terjadinya bencana jika dibiarkan jabatan itu diserahkan kepada orang lain.

2.4.3 Kuat dan amanah

"Salah seorang dari kedua wanita itu berkata: "Ya bapakku ambillah ia sebagai orang yang bekerja (pada kita), karena sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita) ialah orang yang kuat lagi dapat dipercaya." (Qs : 28: 26). 2.4.4 Profesional

"Sesungguhnya Allah sangat senang pada pekerjaan salah seorang di antara kalian jika dilakukan dengan profesional" (HR : Baihaqi) 2.4.5 Tidak aji mumpung karena KKN Rasulullah SAW, "Barang siapa yang menempatkan seseorang karena hubungan kerabat, sedangkan masih ada orang yang lebih Allah ridhoi, maka sesungguhnya dia telah mengkhianati Allah, Rasul-Nya dan orang mukmin". (HR Al Hakim). Umar bin Khatab; "Siapa yang menempatkan seseorang pada jabatan tertentu, karena rasa cinta atau karena hubungan kekerabatan, dia melakukannya hanya atas pertimbangan itu, maka seseungguhnya dia telah mengkhianati Allah, Rasul-Nya dan kaum mukminin". 2.4.6 Menempatkan orang yang paling cocok "Rasulullah menjawab; jika sebuah perkara telah diberikan kepada orang yang tidak semestinya (bukan ahlinya), maka tunggulah kiamat (kehancurannya)". (HR Bukhari). Dalam konteks hadits ini, setidaknya ada beberapa hal yang bisa kita cermati, 1. Seorang pemimpin harus bisa melihat potensi seseorang. Setiap manusia tentunya diberikan kelebihan dan kekurangan.Kesalahan terbesar bagi seorang pemimpin adalah ketika dirinya tidak bisa melihat potensi seseorang dan menempatkannya pada tempat yang semestinya. Begitu pentingnya perhatian bagi seorang pemimpin terhadap hal ini, maka Rasulullah saw bersabda sebagaiman hadits pada poin 5 di atas. Ketidakmampuan pemimpin dalam hal ini hanya akan membuat jama'ah atau organisasi yang di pimpinnya menjadi tidak efektif dan efisien, bahkan tidak sedikit kesalahan pemimpin dalam hal ini menimbulkan kekacauan yang membawa kepada kehancuran. 2. Bisa mengasah potensi seseorang. Selain ia bisa melihat potensi pada diri seseorang, seorang pemimpin dengan caranya yang paling baik, ia bisa mengasah potensi mereka yang berada dalam kepemimpinannya. Mengasah potensi seseorang berbeda dengan "memaksa" seseorang untuk menjadi seseorang yang tidak di inginkannya.

3. Menempatkan seseorang sesuai dengan potensi yang ia miliki. "Right man in the right place", adalah ungkapan yang seringkali kita dengar. Bahwa menempatkan seseorang itu harus berada pada tempat yang paling tepat bagi orang tersebut serta penugasannya. 4. Mengatur setiap potensi dari mereka yang di pimpinnya menjadi satu kekuatan yang kokoh. Bangunan yang baik, kokoh dan indah tentunya tidak hanya terdiri dari satu elemen, tetapi terdiri dari berbagai elemen yang ada di dalamnya. Tentunya, penempatan dan penggunaan masing-masing elemen itulah yang sangat mempengaruhi bagaimana sebuah bangunan itu. Perumpamaan sederhana ini bisa kita gunakan untuk memahami tugas seorang pemimpin dalam menempatkan, menggunakan mereka yang berada dalam kepemimpinannya.

2.5 Kepemimpinan Islam Setelah Nabi

2.5.1 Bani Umayyah: Sistem dan pola kepemimpinan Bani Umayyah secara umum dapat dikatakan menganut system monarkhi (turun temurun), karena meskipun pemerintahan Dinasti Umayyah memakai gelar khalifah namun cara pengangkatannya menyimpang dari keempat cara yang ditempu oleh pemerintahan khulafa al-Rasyidin. Sistem khalifah al-Rasyidin berakhir untuk selama-lamanya setelah Muawiyah mengangkat putranya (Yazid) sebagai putra mahkota. Praktek kepemimplah inan Dinasti Umayyah yang berbeda dengan khulafa alRasyidin adalah: a. unsure pengikat bangsa lebih ditekankan pada kesatuan politik dan ekonomi b. khalifah adalah jabatan sekuler dan berfungsi sebagai kepala pemerintahan eksekutif, c. dinasti ini bersifat ekslusif karena lebih mengutamakan orang-orang Arab duduk dalam pemerintahan d. dinasti ini tidak meninggalkan unsure agama dalam pemerintahan(formalitas agama tetap dipatuhi dan kadang menampilkan dirinya sebagai pejuang Islam, e. kurang melaksanakan musyawarah karenananya kekuasaan khalifah bersifat absolute walaupun belum begitu menonjol,

f. para khalifah (raja) telah memilih cara hidup kaisar dan kisra (telah meninggalkan cara2 hidup Nabi dan khulafa al-Rasyidin. Namun demikian dinasti memberikan perubahan yahg signifikan dan inovatif antara lain: a. Membangun kekuasaan militer (AD, AL dan Kepolisian), b. Meneruskan wilayah kekuasaan Islam baik ke Timur maupun ke Barat, c. mengadakan pebaruan di bidang administerasi pemerintahan dan melengkapinya dengan jabatan2 baru yg dipengaruhi oleh kebudayaan Bizantium. 2.5.2 Bani Abbasiyah Setelah pemerintahan bani Umayyah jatuh (99 tahun) berkuasa, kekuasaan khalifah jatuh ke tangan Bani Abbas. Pola kepemimpinan Bani Abbas pada umumnya tidak jauh berheda dengan Bani Umayyah (menyimpang dari praktik Nabi Muhammad dan khulafa alRasyidin). Sistem kepemimpinannya pun tidak berbeda dengan Umayyah yaitu model monarkhi dengan tetap menggunakan gelar khalifah.Tetapi derajatnya berbeda khalifah2 Bani Abbas menempatkan diri sebagai zillullah filardi (bayangan Allah di bumi).Tegasnya khalifah memperoleh kekusaannya dari Allah bukan dari rakyat, oleh karena itu brsifat absolute. Ciri lain dari praktik kepemimpinan Bani Abbas: a. Jabatan khalifah tdk bisa dipisahkan dari negara. Kepala pemerintahan eksekutip dijabat oleh seorang wazir, b. Unsure pengikat bangsa adalah agama (muslim arab dan non-arab sama) c. Corak pemerintahannya banyak dipengaruhi oleh Persia, d. Dinasti ini memanfaatkan kemajuan ekonomi utk pengembangan penelitian ilmiah di berbagai bidang shg mencapai perestasi gemilang yg mengagumkan dunia. 2.5.3 Kepemimpinan di negara2 Islam 1. Arab Saudi: Kerajaan, Kepala negara dan pemerintahannya adalah raja.Kekuasaan eksekutip dilaksanakan oleh para pembantu raja yaitu Dewan Menteri. Tdk memiliki UU tertulis namun kaedah2 pokok yg terkandung dalam al-Quran dianggap sbg UU (system hukum yg dipakai adalah syariat Islam__al-Quran. Al-Sunnah dan ijtihad para

ulama).Dengan demikian KSA tdk monarkhi absolute dan teokrasi krn kekuasaan dibatasi oleh syariat. 2. Pakistan: Republik Islam Pakistan, Kepala negara presiden, dan kepala pemerintahan perdana menteri. Kekuasaan legislative DPR. 3. Maroko:Kerajaan yg berkonstitusi dan demokratis, kedaulatan di tangan bangsa dan Islam adalah agama negara. Menganut system banyak partai. Hukum Islam hanya berlaku di bidang-bidang tertentu, perkawinan, waris dan wakaf menurut mazhab Mailiki. 4. Mesir: Republik Arab Mesir, kepala negara dan pemerintahan presiden yg dipilih oleh DPR yg beranggotakan 458 orang.Negara demokrasi, sosialis yg didasarkan pada aliansi kekuasaan rakyat yg berpengaruh.Agama negara Islam dan bahasa resmi Arab. 5. Turki: Republik nasionalis, kerakyatan, kenegaraan, sekuler dan revolusionis, kedaulatan di tangan bangsa.Kepala negara adalah presiden (Sumber: Muhadi Zainuddin,Studi Kepimpinan Islam, Mohammad Tahir Azhari, Negara Hukum, J.Suyuthi Pulungan, Fiqh Siyasah).

2.6 Moralitas Kepemimpinan Yang Baik Dan Buruk Menurut Al-Quran Dan Sunnah
2.6.1 Perspektif al-Quran: 1. Mencintai kebenaran (al-Baqarah ayat 147: al-Haqqu minrrabbika falakunanna minal mumtarin=Kebenaran itu adalah dari TuhanMu, sebab itu janganlah kamu termasuk orang-orang yang ragu), baca juga al-Maidah ayat 8=Kunu qawwamina lillahi Hendaklah kamu menjadi orang2 yg selalu menegakkan kebenaran. 2. Dapat menjaga amanah dan kepercayaan orang lain=al-Baqarah ayat 166=orang2 yg diikuiti itu berlepas diri dari org yang mengikutinya, dan mereka melihat siksa dan (ketika) segala hubungan antara mereka terputus sama sekali. 3. Ikhlas dan memiliki semangat pengabdian=al-Baqarah ayat 245=siapakah yh memanjari Allah dg pnjar ygbaik (menafkahkan harta di jalan Allah), maka Allah akan melipatgandakan pemabayarannya secaraberganda 4. Baik dalam pergaulan masyarakat=Fushshilat ayat 34= Dan tdklah sama kebaikan degan kejahatan. Sebab itu tolaklah kejahatan itu dengan perbuatan yang baik, supaya yang takdirnya dalam permusuhan antaramu dengan dia, berubah sikap menjadi sahabat karibmu yang mesra 5. Bijaksana=Yusuf ayat 22= Kami beri dia ilmu kebijaksanaan

2.6.2 Perspktif as-Sunnah


1. 2.

3.

4.

5.

Memimpin utk melayani bukan utk dilayani, HR. Abu Naim= Pemimpin suatu kaum adalah pengabdi (pelayan) mereka Zuhud thd kekuasaan=HR.Muslim= Kami tdk mengangkat org yg bermbisi kedudukan. HR. al-Bukhari dan Muslim= Wahai Abrurrahmanbin Suramah, janganlah kamu menuntut swt jabatan,sesungguhnya jika diberi krn krn ambisimu maka kamu akan menanggung segala bebannya, ttp jika ditugaskan tanpa ambisimu maka kamu akan ditolong mengatasinya. Jujur dan tdk munafik=HR. Ath-Thabrani= Akan dating sesudahku penguasa2 yg memerintahmu, di atas mimbar mereka memberi petunjuk dan ajaran dg bijaksana, ttp bila turun dr mimbar mereka melakukan tipu daya dan pencurian. Hati mereka lebih busuk dari bangkai. Memiliki visi Keummatan(terbebas dari fanatisme)= HR. Ahmad= Ya Rasulullah, apabila seseorang mencintai kaumnya, apakah ia tergolong fanatisme? Nabi saw menjawab: tidak, fanatisme (asabiyah) ialah apabila seseorang mendukung (membantu) kaumnya atas suatu kezaliman. Memiliki tanggung jawab moral=HR.al-Bukhari dan Muslim= Semua kamu pemimpin dan bertanggung jawab atas kepemimpinannya

2.7

Perbandingan Kepemimpinan Ideal Menurut Islam Dan Barat


KEPEMIMPINAN ISLAM KEPEMIMPINAN BARAT
Memiliki kecerdsan (intelligent) Kemampuan mengawasi (supervisory ability) Mempunyai inisiatif Ketenangan diri (self assurance) Adil (fair) Pengertian (understanding) Berpengetahuan khusus (knowledge able in particular job) Memiliki pandangan ke depan (perspective) Memiliki kejujuran (having high integrity Human relation Memiliki keberanian Kesediaan menerima Kemampuan berkomunikasi Keuletan Manusiawi Kematangan perasaan Berpengaruh

Kuat dalam aqidah Mampu memimpin dan mengendalikan dirinya sendiri sebelum memimpin orang lain Managerial yang baik Human relation Visinya adalah al-Quran Tawadu Memiliki sifat shiddiq, amanah, tablig, dan fatanah. Memiliki kepekaan sosial yang tajam Tabah dan tahan menerima kritik Pemaaf dan memiliki jiwa tasamuh Tidak memiliki sifat firaun

*Dikutip dari: Ghizeli dan Sodgill, L.Sank, Thomas W. Harrel, Keith Davis, Robert J. Thierauf dan R.C. Klokamp, George R. Tery dan Paul Hare.

Dari data di atas dapat disimpulkan bahwa perbedaan kepemimpinan islam dan barat ialah :

berinteraksi dengan komunitasnya. Pendekatan Islam internal (bahwa pribadi seseorang pemimpin itu merupakan cerminan dari keberhasilannya yang dimulai dari dirinya sendiri sebelum memimpin orang lain. Sifat ideal seorng pemimpin perspektif Barat melalui sebuah proses latihan murni tanpa ada faktor lain di dalamnya. Perspektif Islam meyakini bahwa sifat-sifat tertentu seseorang merupakan karakter khas yang dimilikinya sebagai karunia Allah. Perspektif Islam kepemimpinan adalah amanah yang diembankan Allah kepada manusia sehingga kelak akan dimintai pertanggung jawaban oleh Allah. Perspektif Barat mencukupkan amanahkepemimpinan sebagai tanggung jawab legal formal saja. : Lihat Aunur Rahim Faqih, Kepemimpinan Islam, dan Imam Munawwar, Asasasas Kepemimpinan dalm Islam).

Ada beberapa jenis kepemimpinan seperti yang kita lihat dalam masyarakat kita politik, social, dan manajerial. Kita adalah zaman revolusi manajerial. Dimana-mana kita membangun organisasi kantor, pabrik, bank, rumah sakit, sekolah, klub menggunakan aturan organisasi, peraturan, kebijakan dan strategi. Aturan berhubungan dengan cara-cara melalui mana keuangan, operasi, dan kegiatan pemasaran yang mengatur. Strategi membuka cara untuk mewujudkan tujuan perusahaan menurut pedoman kebijakan organisasi. Perbedaan antara manajer dengan pemimpin manajerial telah ditunjukan dibawah ini : a. Fungsi utama dari seorang manajer untuk mengelola dan mengendalikan dalam hirarki organisasi, sementara fungsi utama dari seorang pemimpin manajerial adalah sesuatu berinovasi untuk mengembangkan status organisasi dalam kompetitif lingkungan. b. Manajer berfokus pada system, struktur, kebijakan, dan prosedur organisasi, sedangkan titik fokus para pemimpin manajerial adalah karyawan dan staff. c. Manajer biasanya disukai atasan mereka, sedangkan para pemimpin yang disukai oleh bawahan dan teman-temannya. d. Manajer mengandalakan mekanisema komtrol, tetapi pemimpin bergantung pada pengembangan rasa saling percaya. e. Manajer meletakkan mata mereka pada baris bawah, tetapi para pemimpin menaruh mata mereka di cakrawala. f. Manajer memiliki hubungan vertical dengan bawahan mereka, sementara para pemimpin telah horizontal, vertical dan diagonal hubungan dengan bawahan mereka, pengikut, teman sebaya dan bos.

2.8

Prinsip-prinsip Dasar Pelaksanaan Kepemimpinan

Kepimpinan Islam ada tiga prinsip dasar yang mengatur pelaksanaan kepemimpinan Islam: Syura dan Musyawarah, Keadilan, serta Kebebasan Berfikir dan Memberi Pendapat. 2.8.1 Syura dan Musyawarah

Musyawarah adalah prinsip pertama dalam kepemimpinan Islam. Al-Quran menyatakan dengan jelas bahwa pemimpin Islam wajib mengadakan musyawarah dengan orang yang mempunyai pengetahuan atau dengan orang yang dapat memberikan pandangan yang baik. Dan orang-orang yang menerima seruan Tuhannya dan mendirikan solat, sedangkan urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarah antara mereka; dan mereka menafkahkan sebagian rezeki yang kami berikan kepadanya. (Surah Asy-Syura, ayat 38). Rasulullah SAW juga diperintahkan oleh Allah supaya melakukan musyawarah dengan sahabat-sahabat beliau: Maka rahmat Allah-lah yang telah menyebabkan kamu berlemah-lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Oleh kerana itu maafkanlah mereka, mohonlah ampunan bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan tersebut. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad maka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang yang bertawakal kepadaNya (Surah Ali Imran, ayat 159). Pelaksanaan musyawarah memungkinkan anggota organisasi Islam turut serta dalam proses membuat keputusan. Pada saat yang sama musyawarah berfungsi sebagai tempat mengawasi tingkah laku pemimpin jika menyimpang dari tujuan umum kelompok. Tentu saja pemimpin tidak wajib melakukan musyawarah dalam setiap masalah. Masalah rutin hendaknya diselesaikan dengan pendekatan berbeza dengan masalah yang berkaitan perbuatan kebijaksanaan. Apa yang rutin dan apa yang tidak harus diputuskan dan dirumuskan oleh setiap kelompok berdasarkan dan bersesuaian dengan ukuran, keperluan, sumber daya manusia, suasana dan lingkungan yang ada. Apa yang pasti, pemimpin harus mengikuti dan melaksanakan keputusan yang telah diputuskan dalam musyawarah. Dia harus menghindari dirinya dari memanipulasi bermain kata-kata untuk menonjolkan pendapatnya atau mengungguli keputusan yang dibuat dalam musyawarah. Secara umum petunjuk berikut dapat membantu untuk menjelaskan ruang lingkup musyawarah:

1. Urusan-urusan pentadbiran dan eksekutif diserahkan kepada pemimpin. 2. Persoalan yang memerlukan keputusan segera harus ditangani pemimpin dan dibentangkan kepada kelompok untuk ditinjau dalam pertemuan berikutnya atau langsung melalui telefon. 3. Anggota kelompok atau wakil mereka harus mampu membuat pemeriksaan semula dan menanyakan tindakan pemimpin secara bebas tanpa rasa segan dan malu. 4. Kebijaksanaan yang harus diambil, sasaran jangka panjang yang direncanakan dan keputusan penting yang harus diambil para wakil terpilih diputuskan dengan cara musyawarah. Masalah ini tidak boleh diputuskan oleh pemimpin seorang diri.

2.8.2 Keadilan dan Pemimpin yang Adil Pemimpin seharusnya memperlakukan manusia secara adil dan tidak berat sebelah tanpa mengira suku bangsa, warna kulit, keturunan dan lain-lain. Al-Quran memerintahkan agar kaum Muslimin berlaku adil bahkan ketika berurusan dengan para penentang mereka. Sesungguhnya Allah memerintahkan kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum antara manusia supaya kamu berlaku adil. (Surah An-Nisa, ayat 58). Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum mendorong kamu berlaku tidak adil. Berlaku adillah, kerana adil lebih dekat kepada taqwa. (Surah Al-Maidah, ayat 8.) Hai orang-orang yang beriman, jadilah kamu benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi kerana Allah walaupun terhadap dirimu sendiri, ibu-bapa, dan kaum kerabatmu, sama ada ia kaya atau miskin, kerana Allah akan melindungi. (Surah An-Nisa, ayat 135). Selain memenuhi prinsip keadilan yang menjadi asas tertegaknya masyarakat Islam, pemimpin organisasi Islam juga mesti mendirikan badan peradilan internal atau lembaga hukum untuk menyelesaikan pelbagai perbezaan atau pengaduan dalam kelompok itu. Anggota-anggota lembaga tersebut harus dipilih dari orang-orang yang berpengetahuan, arif dan bijaksana.

2.8.3 Kebebasan Berfikir dan Memberi Pendapat Pemimpin Islam hendaklah memberikan ruang dan mengundang anggota kelompok untuk mengemukakan kritikannya secara konstruktif. Mereka dapat mengeluarkan pandangan atau masalah-masalah mereka dengan bebas, serta mendapat jawapan dari segala

persoalan yang mereka ajukan. Al-Khulafa al-Rasyidin memandang persoalan ini sebagai unsur penting bagi kepimpinan mereka. Ketika seorang wanita tua berdiri untuk memperbetul Saidina Umar ibn al-Khattab sewaktu beliau berpidato di sebuah masjid, beliau dengan rela mengakui kesalahannya dan bersyukur kepada Allah SWT, kerana masih ada orang yang mahu membetulkan kesalahannya. Pada suatu hari Saidina Umar pernah pula bertanya kepada umat Islam mengenai apa yang dilakukan oleh mereka jika beliau melanggar prinsip-prinsip Islam. Seorang lelaki menyebut bahawa mereka akan meluruskan dengan sebilah pedang. Lantar Saidina Umar bersyukur kepada Allah kerana masih ada orang di dalam lingkungan umat yang akan memperbetulkan kesalahannya. Pemimpin hendaklah berjuang menciptakan suasana kebebasan berfikir dan pertukaran gagasan yang sihat dan bebas, saling kritik dan saling menasihati antara satu sama lain, sehingga para pengikutnya merasa senang membincangkan masalah atau persoalan yang menjadi kepentingan bersama. Seorang Muslim disarankan memberi nasihat yang ikhlas apabila diperlukan. Tamim bin Aws meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda: Agama adalah nasihat, Kami berkata: Kepada siapa? Beliau menjawab: Kepada Allah, Kitab-kitab-Nya, Rasul- Nya, pemimpin umat Islam dan kepada masyarakat kamu seluruhnya. (Hadith Riwayat Imam Muslim). Secara ringkas kepimpinan Islam bukanlah kepimpinan tirani dan tanpa koordinasi. Pemimpin Islam, setelah mendasari dirinya dengan prinsip-prinsip Islam, bermusyawarah dengan sahabat-sahabat secara objektif dan dengan penuh rasa hormat, maka selepas itu menjadi tanggungjawabnya untuk membuat keputusan dan tindakan dengan seadil-adilnya.

BAB III PENUTUP 3.1 Kesimpulan


Islam adalah panduan untuk memberantas semua masalah dalam kehidupan sosial kita. Allah swt telah menjawab orang yang beriman sebagai umat, yang menunjukkan pentingnya kepemimpinan dalam Islam. Allah berjata kepada-Nya Nabi Muhammad Aku telah sempurna agama anda untuk ana, menyelesaikan nikmat-Ku atasmu, dan telah dipilih untuk anda Islam sebagai agama (QS. Al-Maidah). Mohammad mengatakan Setiap orang dari kalian adalah gembala dan setiap salah satu dari anda bertanggung jawab untuk apa yang gembala (Sahih Al Bukhari). Islam sebagai kode hidup yang lengkap memiliki seperangkat prinsip-prinsip, pedoman bagi para manajer untuk memimpin sumber daya manusia dalam suatu organisasi dalam kepemimpinan Islam manajerial. Hal ini menunjukkan prinsip-prinsip operasional kepemimpinan manajerial, Teori Grid Manajerial, kontinum kepemimpinan, membangun semangat tim-tim dan kualitas seorang oemimpin manajerial dari perspektif Islam. Ada berbagai teori tentang kepemimpinan, dengan berbagai definisi kepemimpinan dan penjelasan dari model yang berbeda dan gaya kepemimpinan, kepemimpinan tradisional, kepemimpinan karismatik, kepemimpinan legislative, liberal dan gaya kepemimpinan otokratis dan seterusnya. Teori-teori ini memeriksa sarana, proses dan prosedur dimana orang beranggapan posisi dan peran kepemimpinan serta sarana, proses dan prosedur dimana putusan menerima persertujuan dari memerintah. Dengan kata lain, mereka fokus pada cara dan proses yang otoritas pemimpin menerima penerimaan populer dan legitimasi. Pertanyaan yang muncul adlah apakah orang-orang yang mewarisi atau ditunjuk atau dipilih untuk posisi dan peran kepemimpinan atau apakah keterampilan, atribut, karakteristik, dan kepribadian kepemimpinan adlah bawaan, diperoleh atau dipelajari. Dalam pandangan Islam, pemimpin adalah anggota dari sebuah tim yang diberi peringkat tertentu dan diharapkan untuk melakukan secara konsisten dengan itu. Seorang pemimpin memimpin sebuah kelompok yang diharapkan mempunyai pengaruh dalam membentuk dan mencapai tujuan etis dan tujuan. Keberhasilan pemimpin bergantung pada pembentukan tim yang mengarah ke semangat tim.

3.2

Saran

Dalam Pendidikan kita membutuhkan upaya membangun akhlaaqul kariimah sebagaimana Rasulullah Muhammad saw menjalani kehidupan dengan sifat-sifat mulianya: shidiq (berkata benar, jujur), amanah (bisa dipercaya), tabligh(menyampaikan amanat), fathanah (cerdas). Dengan keempat sifat mulia inilah marilah kita mulai membangun pribadi yang mulia sesuai harapan umat. Semoga bermanfaat.

DAFTAR PUSTAKA

Rahman,Afzalur.2002.Nabi Muhammad Sebagai Seorang Pemimpin(edisi revisi).Djakarta.AMZAH Rakhmat,Jalaludin.2009.Road To Muhammad.Bandung.mizan media utama Sukmaedi.2011.Dasar-Dasar Management.Bandung.CV.Karya Adhika Utama Tobing,Elwin.2004.Landasan Kepemimpinan Nasional (online). http://www.theindonesianinstitute.org/tpfeb2504.htm Umar,Hasbi.Tanpa tahun.Islam dan Kepemimpinan Nasional.(ONLINE). http://iepistemology.net/attachments/1131_jp-v5n10%20Islam%20dan%20Kepemimpinan%20Nasional%20-%20HM%20Hasbi%20Umar.pdf Tanpa Nama.Tanpa Tahun. Menggali Potensi Menebar Prestasi.(ONLINE). http://lp2uonline.tripod.com/Arc5.html