Anda di halaman 1dari 11

Terapi Fungsional

Koordinasi

KOORDINASI SEBAGAI KOMPONEN FUNGSI MOTORIK

A. Pengertian Koordinasi Kemampuan untuk melakukan gerakan dengan berbagai tingkat kesukaran dengan cepat dan efisien dan penuh ketepatan, serta untuk mengontrol pergerakan tubuh dalam kerjasama dengan fungsi sensorik tubuh misalnya menangkap bola (bola, tangan dan mata koordinasi).

B. Cara Meningkatkan Koordinasi Untuk meningkatkan atau mengembalikan aktivitas fungsional pasien yang telah mengalami penurunan fungsi koordinasi dapat diberikan dengan sistem metode Frenkels Exercise. Prinsip-prinsip dari metode ini adalah sebagai berikut : 1. Menggunakan Indera yang lain: visual, auditory, cutaneous 2. Latihan dirancang untuk perbaikan koordinasi bukan kekuatan, sehingga tidak menggunakan resisted kecuali gravitasi 3. Menggunakan pola gerak yang mampu merangsang propioceptor 4. Latihan diawali dengan total pola gerak reflek tegak mekanisme stabilisasi ADL (Activity Daily Living) 5. Latihan dilakukan pada posisi: berbaring duduk berdiri berjalan 6. Gerakan diberikan dari yang sederhana sulit, Gross motor fine motor 7. Perintah harus jelas dan slowly (auditory) 8. Posisi kepala pasien harus diatur agar mata dapat melihat gerakan yang dilakukan (visual) 9. Jangan sampai terjadi kelelahan karena latihan 10. Latihan dilakukan dalam kisaran LGS normal agar tidak terjadi overstretch 11. Dapat menggunakan alat bantu berupa gambar/coretan 12. Diperlukan konsentrasi, keseksamaan & pengulangan gerak

Koordinasi

Page 1

Terapi Fungsional

Koordinasi

C. Aktifitas yang Memerlukan Komponen Koordinasi 1. Menulis 2. Makan 3. Menangkap bola 4. Menyusun puzzle 5. Mengambil benda, dsb. Contoh kegiatan di atas sebagian besar menggunakan koordinasi dari mata, tangan, dan trunk.

D. Contoh Kasus Salah satu contoh kasus dari gangguan koordinasi adalah ataxia. Ataxia adalah suatu inkoordinasi atau kekikukan gerakan sebagai akibat dari ketidakmampuan untuk memperkirakan dengan teliti tentang jarak dan ketepatan. Biasanya ditandai dengan tremor dan hilangnya gerakan yang terkoordinasi. Ataxia sering muncul ketika bagian dari sistem saraf yang mengendalikan gerakan mengalami kerusakan. Penderita ataksia mengalami kegagalan kontrol otot pada tangan dan kaki mereka, sehingga menghasilkan kurangnya keseimbangan dan koordinasi atau gangguan gait. Biasanya keseimbangan dan koordinasi yang dipengaruhi pertama kali. Tidak adanya koordinasi tangan, lengan dan kaki dan kemampuan berbicara adalah gejala umum lainnya. Berjalan menjadi semakin sulit dan ditandai oleh berjalan dengan menempatkan kaki semakin jauh untuk mengimbangi keseimbangan yang buruk. Gangguan koordinasi lengan dan tangan mempengaruhi kemampuan seseorang untuk melakukan kontrol gerak yang baik seperti menulis dan makan. Gerakan mata yang lambat dapat dilihat pada beberapa bentuk ataksia. Seiring berjalannya waktu, ataksia dapat mempengaruhi kemampuan berbicara dan menelan.

Koordinasi

Page 2

Terapi Fungsional

Koordinasi

Contoh latihan untuk ataxia adalah : 1. Posisi Latihan Berbaring, Kepala ditinggikan sehingga pasien dapat melihat gerakan tungkainya. a) Fleksikan satu tungkai pada panggul dan lutut, geser tumit anda

sepanjang tempat tidur. Luruskan panggul dan lutut kembali ke posisi duduk. Ulangi dengan tungkai lainnya. b) Fleksikan satu tungkai pada panggul dan lutut seperti pada #1,

kemudian geser satu tungkai anda keluar bed (dengan tumit menempel di tempat tidur). Geser tungkai kembali ke posisi awal dan luruskan panggul dan lutut. Ulangi dengan tungkai yang lain. c) Fleksikan satu tungkai pada pinggul dan lutut dengan tumit terangkat dari tempat tidur. Luruskan tungkai untuk kembali ke posisi awal. Ulangi dengan tungkai lain. d) Luruskan satu tungkai pada panggul dan lutut geser tumit Anda bersama dan berhenti pada setiap titk di tempat tidur yg telah ditandai. Ulangi dengan tungkai lain. e) Tekuk panggul dan lutut satu tungkai dan tempatkan tumit di lutut yang berlawanan. Kemudian geser tumit pada tulang kering ke bawah hingga pergelangan kaki dan kembali ke lutut. Kembali ke posisi awal dan ulangi dengan tungkai lain. f) Tekuk kedua panggul dan lutut geser tumit di tempat tidur dan dijaga agar pergelangan kaki bergerak bersama-sama. Luruskan kedua tungkai untuk kembali ke posisi awal. g) Tekuk satu tungkai pada panggul dan lutut sementara tungkai yang lain diluruskan seperti gerakan bersepeda.

2. Posisi Latihan Duduk di Kursi dengan kaki rata dengan lantai a) Diawali dengan mengangkat tumit. Kemudian ditingkatkan dengan mengangkat seluruh kaki dan menempatkannya pada gambar kaki yang telah dibuat di lantai.

Koordinasi

Page 3

Terapi Fungsional

Koordinasi

b) Buatlah dua tanda silang di lantai dengan kapur. Bergantian kaki digerakan menelusuri tanda silang di lantai maju mundur, kiri kanan. c) Belajar untuk bangkit dari kursi: pertama membungkuk ke depan, kemudian luruskan panggul dan lutut, lalu angkat pantat. Ulangi untuk latihan ke posisi duduk.

3. Latihan pada Posisi Berdiri Tegak dengan Kedua Kaki terpisah 10-15 cm a) Berjalan menyamping setengah langkah ke kanan dimulai dengan latihan atau aba-aba sbb: (1) geser berat badan ke kaki kiri, (2) tempatkan kaki kanan 30 cm ke kanan, (3) geser berat badan ke kaki kanan, (4) bawa kaki kiri ke kanan. Ulangi latihan dengan setengah langkah ke kiri. Jarak langkah yang diambil ke kanan atau kiri dapat divariasi. b) Berjalan maju pada dua garis paralel dengan jarak 40 cm. Tempatkan kaki kiri persis di garis yang kiri, dan kaki kanan persis di garis yang kanan. Pastikan, penempatan kaki harus tepat. Kemudian pasien diminta berjalan ke depan sepanjang dua garis tersebut sejauh 10 langkah kemudian Istirahat. c) Berjalan maju dengan menempatkan setiap kaki pada jejak yang telah dibuat di lantai. Penempatan kaki di lantai harus paralel sejauh 5 cm dari garis tengah. Jarak langkah diawali dengan langkah langkah langkah 1 langkah. d) Belok ke kanan. Pertama, memutar kaki kanan keluar, berputar pada tumit, kedua, angkat tumit kiri dan putar kaki kiri ke dalam dengan axis pada jari kaki. Ketiga, selesaikan putaran penuh, dan kemudian ulangi ke kiri. e) Berjalan naik turun tangga. Tempatkan kaki kanan pada salah satu pijakan tangga dan angkat tungkai kiri ke samping kaki kanan

tersebut. Kemudian berlatih berjalan menaiki tangga dengan menempatkan satu kaki pada setiap langkah. Latihan diawali dengan

Koordinasi

Page 4

Terapi Fungsional

Koordinasi

menggunakan peganggan sebagai bantuan keseimbangan, kemudian tingkatkan tanpa pegangan.

4. Latihan untuk Ekstremitas Upper Latihan koordinasi tangan dengan mata menggunakan sebuah papan dan alat tulis. Misalnya: mengubah tanda minus ke tanda plus, menyalin diagram sederhana (garis lurus, lingkaran, garis-garis zigzag, dll). Berbagai jenis puzzle dapat digunakan untuk

meningkatkan koordinasi mata dan tangan.

E. Penilaian Terhadap Komponen Koordinasi Saat dilakukan tes koordinasi, selain faktor kemampuan melakukan gerakan faktor kecepatan untuk membentuk gerakan juga harus

dipertimbangkan. Gerakan harus halus dan akurat dengan arah gerakan, kecepatan, keseimbangan, dan ketegangan otot harus tepat. Pemeriksaan koordinasi dapat dibagi dalam : a. Pemeriksaan koordinasi non-ekuilibrium, tes ini untuk menilai komponen statis dan dinamis dari gerakan ketika tubuh tidak pada posisi tegak, meliputi gerakan motorik kasar dan halus. Pemeriksaan koordinasi non-ekuilibrium meliputi pemeriksaan berikut : 1. Jari ke hidung. Sendi bahu abduksi 900 dengan sendi siku ekstensi. Pasien diminta menyentuhkan ujung jari telunjuk ke ujung hidungnya dengan mata tertutup. 2. Jari pasien ke jari terapis. Pasien dan terapis duduk berhadapan, jari telunjuk terapis diluruskan menunjuk ke atas dihadapan lansia. Pasien diminta menyentuh jari telunjuknya ke ujung jari telunjuk terapis. Posisi terapis perlu diubah-ubah untuk memeriksa kemampuan mengubah jarak, arah, atau kekuatan gerakan. 3. Jari ke jari tangan yang lain. Kedua sendi bahu abduksi 900 dan sendi siku ekstensi. Pasien diminta menggerakkan kedua lengannya horizontal abduksi dan menyentuhkan kedua ujung jari telunjuknya satu terhadap yang lain.

Koordinasi

Page 5

Terapi Fungsional

Koordinasi

4. Menyentuh hidung dan jari-jari tangan bergantian. Pasien secara bergantian menyentuh ujung hidung dan ujung jarinya

menggunakan jari telunjuk yang satunya. 5. Gerak oposisi jari tangan. Pasien menyentuhkan ujung ibu jarinya ke jari-jari lainnya secara berurutan. Kecepatannya ditingkatkan secara bertahap. 6. Menggenggam. Pasien menggenggam dan membuka jari-jari bergantian. Kecepatan ditingkatkan bertahap. 7. Pronasi-supinasi. Kedua sendi siku fleksi 900 dan merapat ke tubuh. Pasien diminta memutar kedua lengan bawahnya sehingga telapak tangannya menghadap ke atas dan ke bawah bergantian. 8. Rebound test. Sendi siku fleksi, terapis memberikan tahanan manual untuk menimbulkan kontraksi isometric otot biceps kemudian dengan tiba-tiba tahanan dihilangkan. Respons normal adalah otot antagonis (otot triceps) yang akan berkontraksi dan mencegah gerakan siku ke fleksi. 9. Tepuk tangan. Pasien diminta untuk mengetukkan tapak tangannya ke meja tanpa mengangkat pergelangan tangan. 10. Tepuk kaki. Pasien diminta untuk mengetukkan tapak kakinya ke lantai, tanpa mengangkat lutut dan tulit tetap menyentuh lantai. 11. Menunjuk. Pasien dan terapis berhadapan, posisi duduk atau berdiri. pasien dan terapis memposisikan kedua lengannya horizontal ke depan (fleksi sendi bahu 900) sehingga kedua jari telunjuk pasien dan terapis saling bersentuhan. Pasien diminta mengangkat satu atau dua lengannya ke atas sehingga jari telunjuk menunjuk ke atas, kembali ke posisi semula sehingga kedua jari telunjuk saling bersentuhan. Respons normal adalah jari-jari pasien tepat kembali pada posisi awalnya. 12. Tumit ke lutut dan tumit ke jari-jari kaki bergantian. Posisi terlentang, pasien diminta untuk menyentuh lutut dan ibu jari kaki bergantian menggunakan tumit kaki yang lain.

Koordinasi

Page 6

Terapi Fungsional

Koordinasi

13. Jari-jari kaki menyentuh jari tangan terapis. Posisi terlentang, pasien diminta menyentuhkan ibu jari kakinya ke jari tangan terapis. Posisi jari tangan terapis dapat diubah-ubah untuk mengetahui kemampuan pasien dalam mengubah jarak, arah, atau kekuatan gerakan. 14. Tumit menyentuh bawah lutut. Dalam posisi terlentang, pasien menggeserkan satu tumitnya naik turun pada tulang kering tungkai lainnya. 15. Menggambar lingkaran dengan tangan. Pasien menggambar lingkaran imajinasi di udara, di meja, atau di lantai menggunakan anggota gerak atas. 16. Menggambar lingkaran dengan kaki. Pasien menggambar lingkaran imajinasi di udara atau lantai menggunakan anggota gerak bawah. 17. Mempertahankan anggota posisi gerak atas. Pasien

mempertahankan kedua lengan horizontal di depan tubuh. 18. Mempertahankan posisi anggota gerak bawah. Pasien

mempertahankan kedua lututnya ekstensi.

b. Pemeriksaan koordinasi ekuilibrium, test ini untuk menilai komponen statis dan dinamis dari postur dan keseimbangan ketika tubuh dalam posisi berdiri, meliputi gerakan motorik kasar, dan observasi tubuh saat static dan dinamis. Pemeriksaan koordinasi ekuilibrium meliputi hal-hal berikut : 1. Berdiri dengan postur normal. 2. Berdiri dengan postur normal, mata tertutup. 3. Berdiri dengan kaki rapat. 4. Berdiri pada satu kaki. 5. Berdiri, fleksi trunk dan kembali ke posisi netral. 6. Berdiri, lateral fleksi trunk. 7. Berjalan, letakkan tumit salah satu kaki di depan jari kaki yanag lain. 8. Berjalan pada garis lurus.

Koordinasi

Page 7

Terapi Fungsional

Koordinasi

9. Berjalan mengikuti tanda yang digambar pada lantai. 10. Berjalan menyamping. 11. Berjalan mundur. 12. Berjalan pada lingkaran. 13. Berjalan dengan tumit. 14. Berjalan dengan ujung kaki.

c. Step Test Bentuk pengukuran : Menghitung jumlah step satu tungkai pada saat tungkai yang lain tetap menumpu berat badan. Peralatan : Stopwatch blok setinggi 7,5 cm. Lama pengukuran : 30 detik. Prosedur pengukuran : Pasien berdiri tanpa alas kaki, tanpa bantuan, kedua kaki sejajar. Blok ditaruh di depan kaki pada jarak 5cm. Terapis berdiri di samping pasien dengan satu tungkai member fiksasi pada blok. Pasien diminta melakukan stepping ke atas blok sampai tapak kaki menapak penuh pada blok kemudian kembali lagi. Sementara itu tungkai yang lain tetap menumpu berat badan tanpa menggeser. Stepping dilakukan secepat mungkin selama 15 detik, kecuali bila pasien goyah harus distop. Kemudian test diteruskan dengan tungkai satunya. Nilai normative : Pada usia rata-rata 73 tahun, jumlah step = 17 dalam waktu 15 detik. Reliabilitas : Retest reability ICC > 0,90 pada usia lanjut sehat. Retest reability ICC > 0,88 pada pasien stroke.

Validitas : Memiliki korelasi yang signifikan dengan Functional Reach Test.

Koordinasi

Page 8

Terapi Fungsional

Koordinasi

Kelebihan dan kelemahan : Cepat, sederhana, peralatan minimal. Sensitive terhadap disfungsi balance. Tidak dapat digunakan pada gangguan balance yang berat.

d. Functional Reach Test (FR) Bentuk pengukuran : Mengukur kemampuan menjangkau jarak ke depan pada posisi berdiri. Alat yang diperlukan : Meter line yang dipasang di dinding secara mendatar, setinggi acromion. Waktu yang dibutuhkan : 15 detik. Prosedur pengukuran : Pasien berdiri tegak pada kedua tungkai (tanpa alas kaki) sedemikian sehingga dinding berada di sampingnya dengan jarak sedekat mungkin tetapi tidak sampai menyentuh. Lengan yang dekat dengan dinding berada pada posisi fleksi 900 dan terapis mencatat pada jarak posisi caput metacarpal jari tengah. Kemudian pasien diminta untuk menjangkau jarak ke depan sejauh mungkin tanpa goyah dan terapis mencatat posisi caput metacarpal jari tengah. Selisih jarak tersebut merupakan jarak raih pasien yang bersangkutan (nilai FR). Nilai normatif : Usia 20-24 tahun : L = 42 cm, P = 37 cm Usia 41-69 tahun : L = 38 cm, P = 35 cm Usia 70-87 tahun : L = 33 cm, P = 27 cm Reliabilitas : Interrater reabillity ICC = 0,98 Retest reabillity ICC = 0,92 Validitas : Concurrent validity

Koordinasi

Page 9

Terapi Fungsional

Koordinasi

Kelebihan : Cepat, sederhana, peralatan minimal

e. Timed up and Go test Bentuk pengukuran : Mengukur kecepatan berjalan Alat yang diperlukan : Kursi dengan tinggi tempat duduk 45cm, tinggi lengan kursi=63cm Stopwatch

Waktu yang dibutuhkan : 10 detik 3 menit Prosedur : Pasien memakai alas kaki yang biasanya dipakai. Dimulai dari duduk di kursi, punggung bersandar, lengan pada lengan kursi. Saat aba aba dimulai go, pasien berdiri kemudian berjalan dengan kecepatan yang enak bagi pasien sejauh 3 meter, berputar dan kembali duduk dengan punggung bersandar. Terapis menghitung waktu yang dibutuhkan. Reliabilitas : Interrater reliability ICC = 0,99 Retest reliability ICC = 0,99

Validitas : Mempunyai korelasi yang signifikan dengan Berg Balance Scale dan Barthel Index Kelebihan dan kelemahan : Cepat, sederhana, peralatan minimal Kurang sensitive

Nilai normative : Pada sample usia rata rata 75 tahun = 85 detik

Koordinasi

Page 10

Terapi Fungsional

Koordinasi

DAFTAR PUSTAKA
http://nellami-young.blogspot.com/2009/11/ataksia-ataxia-definisi-ataksia-sering.html http://translate.google.co.id/translate?hl=id&langpair=en|id&u=http://www.brianmac. co.uk/agility.htm http://translate.google.co.id/translate?hl=id&langpair=en|id&u=http://cirrie.buffalo.ed u/encyclopedia/en/article/112/

Jenifer M. Lee. 1990. Segi Praktis Fisioterapi. Jakarta: Binarupa Aksara.

Koordinasi

Page 11