P. 1
PROTEKSI RADIODIAGNOSTIK

PROTEKSI RADIODIAGNOSTIK

|Views: 598|Likes:
Dipublikasikan oleh Tole Wae

More info:

Published by: Tole Wae on Jun 05, 2012
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/01/2014

pdf

text

original

TINJAUAN TENTANG PROGRAM PROTEKSI & KESELAMATAN RADIASI BIDANG FASILITAS RADIASI & ZAT RADIOAKTIF

Posted by Togap Marpaung 26.9.11, under | 1 comment Abstrak, Sejak tahun 2007, sistem pengawasan pemanfaatan tenaga nuklir, khususnya dalam bidang FRZR telah sesuai dengan rekomendasi IAEA, yaitu BSS No. 115 Tahun 1996. Salah satu muatan penting BSS, yaitu mengenai tanggung jawab umum Pemegang Izin telah ditetapkan dalam PP No.33 Tahun 2007 tentang Keselamatan Radiasi Pengion dan Keamanan Sumber Radioaktif. Tanggung jawab Pemegang Izin, yaitu: (1) membuat tujuan proteksi dan keselamatan radiasi, dan (2) mengembangkan, menerapkan dan mendokumentasikan Program P & KR yang tepat. Dalam PP No.29 Tahun 2008 tentang Perizinan Pemanfaatan Sumber Radiasi Pengion dan Bahan Nuklir telah diatur substansi Program P & KR tersebut. Uraian rinci Program P & KR diatur dalam Peraturan Kepala Bapeten sesuai dengan jenis pemanfaatan tenaga nuklir di bidang medik, industri dan penelitian. Program P & KR merupakan salah satu persyaratan izin, dokumen yang dinamis, sangat terbuka untuk dimutakhirkan secara periodik. Pemutakhiran dilakukan baik atas inisiatif Pemegang Izin sendiri maupun melalui masukan yang disampaikan oleh Bapeten. Tujuan utama Program P & KR adalah menunjukkan tanggung jawab Pemegang Izin melalui penerapan struktur manajemen, kebijakan, dan prosedur yang sesuai dengan sifat dan tingkat risiko. Ketika inspeksi dilakukan di suatu fasilitas, misalnya rumah sakit maka dokumen Program P & KR menjadi salah satu topik diskusi antara Tim Inspeksi dengan Pemegang Izin, PPR, dan Praktisi Medik. Untuk mempermudah penyusunan dokumen tersebut maka Pedoman Penyusunan Program P & KR yang rinci sesuai dengan jenis pemanfaatan tenaga nuklir dalam bidang medik, industri dan penelitian akan dibuat secara tersendiri oleh Bapeten. Dokumen Program P & KR tidak perlu disetujui oleh Kepala Bapeten, seperti Juklak yang menjadi salah satu persyaratan izin pada masa lampau. Kata kunci: proteksi radiasi, keselamatan radiasi dan syarat izin. REVIEW ON RADIATION IN RADIATION AND PROTECTION AND SAFETY RADIOACTIVE MATERIAL PROGRAM FACILITY

Abstract, Since 2007, a regulatory for nuclear energy utilization, particularly in the field of radiation facilities and radioactive material is agrement with the recommendations of the IAEA, namely BSS No. 115 of 1996. One of the main contents of the BSS is the common responsibility of Licensee had stipulated in Government Regulation (GR) No.33 of 2007 on Ionizing Radiation Safety and Security of Radioactive Sources. Responsibility of Licensee namely: (1) create a goal of radiation protection and safety, and (2) develop, implement and document appropriated P & RS Program. Similarly, in GR No.29 of 2008 on

Perubahan tersebut dikarenakan adanya 3 (tiga) PP yang ditandatangani oleh Presiden dalam 3 (tiga) tahun secara berurutan. The main objective P & RS Program is showing responsibility Licensee through the implementation of management structures. Salah satu muatan penting dalam PP tersebut adalah mengenai pentingnya suatu dokumen Program P & KR. very open to be updated periodically.Licensing of Utilization of Ionizing Radiation Sources and Nuclear Materials has been regulated the substance of the P & RS Program. such as hospitals. Document of P & RS Program does not need to be approved by the Chairman of Bapeten. Updates could be made both at the initiative of Licensee or input given by Bapeten. yaitu Basic Safety Standards (BSS) No. P & RS Program is one of the licence requirements. dan 3. membuat tujuan proteksi dan keselamatan radiasi. policies. Uraian lebih rincinya diatur dalam Peraturan Kepala (Perka) Bapeten sesuai dengan jenis pemanfaatan tenaga nuklir di bidang fasilitas radiasi dan zat radioaktif (FRZR). Salah satu muatan penting dalam BSS adalah mengenai tanggung jawab employers. radiation safety and licence requirement. When the inspection conducted in a facility. meliputi: 1. registrants. PP No. khususnya dalam bidang FRZR di Indonesia. PP No. industry and research fields will be made separately by Bapeten. Key words: radiation protection. industri dan penelitian. the document of P & RS Program to be one topic of discussion between the Inspection Team with Licensee. dan licensees. and procedures in accordance with the nature and level of risk. To facilitate the preparation of the document so that the detailed Guidance P & RS Program in accordance with the type of use of nuclear energy in the medical. sebagai berikut: 1. PENDAHULUAN Sejak tahun 2007 telah terjadi perubahan sangat mendasar terhadap sistem pengawasan pemanfaatan tenaga nuklir. PP No. Aspek proteksi dan keselamatan radiasi yang diatur dalam dua regulasi mengacu pada rekomendasi International Atomic Energy Agency (IAEA). it is a dynamic document. 115 Tahun 1996.29 Tahun 2008 tentang Perizinan Pemanfaatan Sumber Radiasi Pengion dan Bahan Nuklir diberlakukan. meliputi: medik. such as a SOP that became one of the licence requirements in the past. 2. 27 Tahun 2009 tentang Jenis dan Tarif atas Jenis Penerimaan Negara Bukan Pajak yang Berlaku pada Badan Pengawas Tenaga Nuklir. A more detailed description of the P & RS Program is regulated in the Chairman Regulation of Bapeten according to the type of use of nuclear energy in medical. dan . industrial and research fields.33 Tahun 2007 tentang Keselamatan Radiasi Pengion dan Keamanan Sumber Radioaktif. RPO and Medical Practitioners.

diberikan pada Gambar 2. Gambar 1. Dua butir tanggung jawab tersebut. BSS No. menerapkan dan mendokumentasikan program proteksi dan keselamatan radiasi (Program P & KR) yang tepat. 115/1996 Sistematika Program P & KR yang diatur dalam PP dan Perka mengacu pada publikasi TECDOC No. . diberikan pada Gambar 1.2. 1113 Tahun 1999. mengembangkan.

dan prosedur yang sesuai dengan sifat dan tingkat risiko. Dalam membahas Keselamatan Radiasi hendaknya tidak membahas aspek keselamatan lainnya. namun hingga bulan April 2011 belum diperoleh informasi apakah Tim sudah merampungkan tugasnya. HASIL DAN PEMBAHASAN Filosofi Proteksi dan Keselamatan Radiasi Umum Meskipun penekanan bagian ini tentang Proteksi dan Keselamatan Radiasi maka hendaknya diingat bahwa Keselamatan Radiasi merupakan bagian dari Keselamatan secara keseluruhan. Tujuan sebagai berikut: (1) agar pihak Badan Pengawas maupun Pengguna sumber radiasi pengion di bidang FRZR dapat memperoleh pemahaman yang lebih jelas dan pasti mengenai substansi Program P & KR. 1113/1999 Program P & KR adalah salah satu persyaratan izin. dan (2) adanya keinginan Pimpinan Bapeten melalui Deputi Bidang Perizinan dan Inspeksi pada bulan Juli 2010 untuk membentuk Tim Penyusunan Panduan Program P & KR untuk setiap jenis penggunaan sumber radiasi pengion dalam bidang FRZR. kebijakan. dalam hal tanggung jawab yang merupakan tugas pokok dan fungsi. TECDOC No. Tujuan utama Program P & KR adalah menunjukkan tanggung jawab Pemegang Izin melalui penerapan struktur manajemen. Metodologi yang dilakukan adalah studi literatur berdasarkan pada pemahaman mengikuti pendidikan Post Graduate Diploma in Radiation Protection di UKM Malaysia dan pelatihan yang didukung pengalaman sebagai inspektur utama dan staf senior Bapeten. Pengertian dua terminologi tersebut sangat luas maknanya. Latar belakang penulisan makalah ini sebagai berikut: (1) adanya pemahaman yang berbeda-beda mengenai substansi Program P & KR. hal ini dapat diartikan sebagai Petugas Proteksi Radiasi-PPR (Radition Protection OfficerRPO) atau Petugas Keselamatan Radiasi-PKR (Radiation Safety Officer-RSO). Dokumen Program P & KR merupakan rapor yang harus dinilai oleh Bapeten melalui inspektur ketika inspeksi di lapangan. Sesuai harapan Deputi Bidang PI bahwa Tim yang dibentuk dapat menyelesaikan tugasnya bulan Oktober 2010. Terminologi Keselamatan Radiasi atau Keselamatan Radiologik dan Proteksi Radiasi atau Proteksi Radiologik sering digunakan secara bersamaan yang dapat dipertukarkan. . dan (2) agar makalah ini dapat dipertimbangkan oleh Tim sebagai salah satu referensi.Gambar 2. merupakan dokumen yang dinamis dan sangat terbuka untuk dimutakhirkan secara periodik. Latar belakang penulisan makalah ini adalah beragamnya pemahaman mengenai substansi Program P & KR.

Ada 2 (dua) rekomendasi yang paling akhir dan masih relevan digunakan oleh negara anggota IAEA. Meskipun ICRP telah menerbitkan publikasi terbaru No 103 Tahun 2007. namun IAEA juga belum merekomendasikan konsep terbaru tersebut. yaitu: ICRP No. pasal 19. ayat 1. dan negara lain seperti Amerika menyebut PKR (RSO) bahkan negara Inggris menggunakan terminologi Proteksi juga tetapi dengan sedikit berbeda. waktu dan penahan radiasi. 60 Tahun 1990. dan yang kompeten dalam memberikan rekomendasi dan pedoman mengenai proteksi radiasi. 26 Tahun 1977 dan ICRP No. ditetapkan bahwa ”Setiap petugas yang mengoperasikan Reaktor Nuklir dan petugas tertentu di dalam Instalasi Nuklir lainnya dan di dalam instalasi yang memanfaatkan sumber radiasi pengion wajib memiliki izin. Proteksi Radiasi berhubungan dengan Pembatasan Dosis Radiasi dan Keselamatan Radiasi berhubungan dengan mengurangi potensi Kecelakaan Radiasi. Penyebutan PPR (RPO). Secara filosofis agar dapat memahami secara baik Proteksi Radiasi maka dasar-dasar Proteksi Radiasi harus diketahui. Indonesia menyebut PPR (RPO). hal itu tergantung dari badan pengawas (BP) suatu negara menetapkan personil yang berkualifikasi tersebut sebagai PPR atau PKR. suatu saat boleh saja penyebutan PPR atau PKR berubah menjadi Petugas Proteksi dan Keselamatan Radiasi (PP & KR). PPR (RPA) atau PKR (RSO) mempunyai makna yang sama. Demikian halnya mengenai ilmu-ilmu dasar fisika radiasi dan yang terkait dengan satuan dan besaran radiasi yang merupakan bagian dari ilmu dosimetri (perubahan besaran fisika menjadi besaran radiasi) dan disiplin ilmu lain seperti. 10 Tahun 1997 tentang Ketenaganukliran. dibentuk tahun 1928. ICRP menerbitkan lagi secara berkala rekomendasinya. Rekomendasi ICRP Komisi Internasional untuk Proteksi Radiasi (International Commission on Radiological ProtectinICRP) adalah organisasi ilmiah yang non-pemerintah. Petugas tertentu yang dimaksud dalam pasal 19. terlebih lagi proteksi radiasi interna yang lebih susah karena memperhitungan parameter yang lebih kompleks. alat ukur radiasi dan biologi radiasi juga harus dipahami. Setelah penerbitan publikasi yang pertama. yaitu: RPO dan RSO. . Sesungguhnya perbedaan dari pemahaman dua hal tersebut adalah besar secara akademik. ICRP pertama sekali menerbitkan publikasinya pada tahun 1928. ayat 1 inilah yang berarti PPR. memberi perhatian hanya mengenai penggunaan radiasi dalam bidang medik yang selanjutnya dikembangkan mencakup kegiatan nuklir lainnya. Oleh sebab itu. yaitu Penasehat Proteksi RadiasiPPR (Radiation Protection Adviser-RPA).Dalam publikasi IAEA juga disebutkan dua kualifikasi personil tersebut. Dalam Undang-undang No. seperti proteksi radiasi ekterna meliputi faktor jarak.

May 2000. Safety Fundamentals dengan warna sampul putih. 1999. 3. dan 3. 1999. 2. Tujuan proteksi radiasi adalah mencegah terjadinya efek deterministik orang-perorangan dengan tetap mempertahankan dosis di bawah ambang batas. TECDOC No. meskipun ICRP adalah bukan badan pengawas (BP) maupun bukan standar nasional dan internasional. 60. 2. dan 3. meliputi: 1. Safety Requirements dengan warna sampul merah. Limitasi Dosis. Safety Guides dengan warna sampul hijau. Rekomendasi IAEA IAEA adalah salah satu badan yang berada di bawah Persatuan BangsaBangsa-PBB (United Nations-UN). Salah satu dokumen IAEA yang paling tersohor saat ini adalah BSS No. RS-G-1. kesehatan dan kesejahteraan di seluruh dunia. IAEA menerbitkan dokumen dalam berbagai jenis sebagai Standar Keselamatan Nuklir (Nuclear Safety Standards) yang terdiri dari 3 (tiga) kategori sebagai berikut: 1. IAEA merekomendasikan agar tiap negara anggota IAEA mengikuti BSS No. 115 tetapi dengan terminologi . IAEA tidak menggunakan terminologi prinsip atau asas proteksi radiasi (Radition Protection Principle) dalam BSS No. TECDOC No. XXX. dibentuk tahun 1957 dan memiliki kewenangan khusus mengenai pengawasan pemanfaatan tenaga nuklir oleh negara-negara anggota. Safety Guide. Publikasi IAEA sebagai dokumen dasar yang menjelaskan secara rinci mengenai Program P & KR. dan menjamin terlaksananya seluruh tindakan yang diperlukan untuk membatasi peluang terjadinya efek stokastik pada masyarakat. dokumen lain juga masih ada berupa dokumen teknis (technical document – TECDOC).1. Optimisasi. ICRP sudah sejak dari awal memberikan pemahaman mengenai prinsip atau azas Proteksi Radiasi. Selain dokumen tersebut. 2.115 supaya ketentuan keselamatan tiap negara anggota menjadi standar dan harmonis secara internasional. No. Tujuan dibentuk IAEA secara legal adalah mempercepat dan memperluas penggunaan tenaga atom untuk perdamaian. 115 yang diadopsi dari rekomendasi ICRP No. 1113. Radiation Safety in Radiotherapy. Justifikasi. antara lain: 1.Rekomendasi ICRP membentuk dasar standar proteksi radiasi ke seluruh dunia. Dari uraian di atas maka secara sederhana dapat diartikan bahwa Proteksi Radiasi adalah upaya atau tindakan yang dilakukan untuk memproteksi makhluk hidup melalui penerapan prinsipnya yang konsisten.

Limitasi Dosis. Olehkarena tidak ada NBD untuk pemanfaatan tenaga nuklir dalam bidang medik maka Tingkat Panduan (khusus radiologi diagnostik dan kedokteran nuklir) menjadi Pembatas Dosis sehingga keselamatan pasien (patient safety) dapat dijamin. Persyaratan untuk Pemanfaatan (Requirement for Practices). Pembatas Dosis (Dose Constraint). dan 3. hari kemarin dan pada saat ini adalah justifikasi (justify) tetapi besok dan lusa dapat menjadi tidak justifikasi atau dilarang (not justify or unjustified). dalam konteks sains nuklir. artinya semuanya dinamis. sebagai berikut: 1. Tingkat Panduan (Guidance Level for Medical Exposure). Harus diingat bahwa Limitasi Dosis tidak berlaku untuk: (a) paparan medik (medical exposure) dan paparan yang berasal dari alam. Pemahaman ini diuraikan dalam BSS pada bagian ke dua. dapat berubah. Limitasi Dosis Kedua adalah Limitasi dosis. Justifikasi Pemanfaatan 2.persyaratan. dalam penerapan Optimisasi Proteksi dan Keselamatan Radiasi harus juga mempertimbangkan: a. Namun demikian. Muatan Program P & KR . Jenis pemanfaatan yang telah dijustifikasi inilah yang diberi otorisasi oleh BP tiap negara anggota. dan b. Urutan dari satu sampai dengan tiga tersebut samadengan urutan pemahaman mengenai pancasila yang urutannya harus tepat dari satu sampai dengan lima. Justifikasi Pemanfaatan Yang pertama bahwa setiap jenis pemanfaatan harus terlebih dahulu dijustifikasi antara manfaat dan risiko. Secara sederhana dapat diartikan Keselamatan Radiasi adalah upaya atau tindakan yang dilakukan untuk mengurangi potensi kecelakaan radiasi dengan menerapkan proteksi radiasi atau pertahanan berlapis (depence in depth) dalam konteks persyaratan teknis. Optimisasi Proteksi dan Keselamatan Radiasi. Namun demikian tidak ada yang absolut atau mutlak. dalam hal ini manfaat harus lebih besar dari risiko atau mudarat. yang diberlakukan untuk paparan kerja (occupational exposure) dan paparan masyarakat (public exposure) melalui penerapan NBD. Optimisasi Proteksi dan Keselamatan Radiasi Ketiga adalah Optimisasi Proteksi dan Keselamatan Radiasi. salah satu unsurnya adalah Persyaratan Proteksi Radiasi (Radiation Protection Requirements) yang harus berurutan. yang harus diupayakan agar besarnya dosis yang diterima serendah mungkin yang dapat dicapai (as low as reasonably achiable-ALARA) dengan mempertimbangkan faktor sosial dan ekonomi.

operasi. kualifikasi.Program P & KR terkait dengan semua fase pemanfaatan tenaga nuklir. Pengguna yang diberi mandat. seperti instalasi nuklir). paparan normal dan paparan potensial harus dipertimbangkan. untuk permohonan izin Radioterapi. dan pemeliharaan dari rekaman dan bagaimana suatu masalah dapat mempengaruhi keselatamatan yang teridentifikasi dan terkoreksi. pelatihan personil. Penetapan dan penerapan dari Program P & KR. hingga ke hal yang sedemikian kompleks. dosis yang diterima oleh pekerja radiasi adalah benar-benar di bawah NBD. Mengacu kepada TECDOC-1113. informasi yang disampaikan mengenai Program P & KR. namun khusus untuk tujuan medik ada 1 (satu) tambahan tentang Paparan Medik. Struktur Organisasional a. dan pada tingkat kegiatan (konstruksi. atau Pemegang izin. ahli fisika radiasi atau PPR mungkin juga dengan orang yang sama). tugas dari PPR. Tujuan Program P & KR adalah merefleksikan penerapan dari tanggung jawab manajemen untuk proteksi dan keselamatan radiasi melalui penerapan struktur manajemen. Dalam hal ini. dan pengalaman. Dalam banyak hal pemanfaatan tenaga nuklir. Khususnya meliputi: tingkatan staf. meliputi banyak hal untuk mencegah atau mengurangi paparan potensial dan mitigasi akibat kecelakaan. c. Penerapan prinsip optimisasi seharusnya menjadi daya dorong yang utama pula. penting untuk menjamin bahwa Program P & KR dapat diterapkan dalam setiap tahapan dan langkah pertama yang harus dilakukan adalah evaluasi radiologik. b. misalnya dari mulai desain hingga proses dekomisioning. Sistem kendali managemen dan organisasional mencakup tugas dan tanggung jawab yang terkait dengan keselamatan radiasi. dan hanya sebagian kecil dari sekelompok pekerja yang dipengaruhi oleh prinsip pembatasan. pemelihan peralatan. penjelasan prosedur tertulis. suatu persyaratan bagi PPR untuk melaporkan keadaan yang tidak selamat kepada Komite Keselamatan Radiasi. prosedur dan penatalaksanaan secara organisasional yang disesuaikan dengan sifat dan besarnya risiko. pada umumnya ada 4 (empat) hal pokok yang disampaikan oleh Pemohon Izin kepada BP. Sebagai contoh. Karakteristik dari keadaan paparan dapat dipertimbangkan tergantung pada jenis fasilitas atau instalasinya (mulai dari hal yang sederhana. diuraikan secara rinci sebagai berikut: I. Mengingat dokumen Program P & KR bukan sesuatu yang statis tetapi dinamis maka dokumen tersebut sangat terbuka untuk dimutakhirkan dengan maksud penyempurnaan. (Catatan: pengguna. seperti peralatan pemeriksaan bagasi di bandara atau fluoroskopi bagasi. ahli fisika radiasi (qualified expert). atau dengan umur suatu fasilitas. pemakaian peralatan (sumber radiasi dan . kebijakan. perawatan atau dekomisioning). Pelatihan akan meliputi: penjelasan tentang bahaya radiasi dan efek. dan PPR dan mencakup pelatihan yang diberikan terhadap personil.

dan instruksi penanggulangan kedaruratan. meliputi tingkat acuan dan tindakan yang diambil dalam hal terlampaui.40). c. tindakan protektif dan ketentuan keselamatan. b.43) IV. supervisi yang sesuai. Fotokopi prosedur pengoperasian dan keselamatan meliputi: kendali akses ke daerah kerja. Kebijakan dan prosedur untuk klassifikasi daerah pengendalian dan daerah pengawasan. Klasifikasi Daerah Kerja dan Pemantauan Perorangan a. lainnya. Program pemantauan tempat kerja (BSS. I. Dosimeter baca langsung (Direct reading dosimeter-DRD) __________ (iv). Peraturan lokal dan prosedur terkait investigasi dan tingkat kewenangan. d. ____________ III. I.32-I. d. Nama dan alamat pelayanan dosimetri _____________ Tipe : (i). Dosimeter personil yang tersedia untuk dan kebijakan menentukan dosimetri terhadap pekerja radiasi (BSS. (BSS. Peraturan dan Supervisi Lokal a. Program pelatihan untuk menjamin semua personil diberi pelatihan yang memadai sesuai prosedur pengoperasian dan bagaimana tindakan yang dapat mempengaruhi keselamatan (BSS. I. c.41-I. Film Badge (FB) _______ (ii).16-I. Kebijakan yang berhubungan dengan pekerja wanita hamil (pemberitahuan kondisi pekerjaan untuk memproteksi janin/embrio) dan instruksi diberikan kepada setiap pekerja (BSS. arti dari tanda peringatan. Program untuk optimisasi penyinaran medik dan pekerja untuk tingkat serendah mungkin yang dapat dicapai (ALARA). dsb. e.27). II. Penyusunan rencana layanan dengan organisasi lain dan tenaga ahli yang terkenal (qualified expert) V. I. prosedur masuk. b. meliputi kuantitas yang diukur.21-I. Thermo luminescent dosimeter (TLD) __________ (iii).25). metode pengukuran dan daerah pengawasan. Pemantauan Tempat Kerja. Pengangkutan Zat Radioakif . prosedur terbaru juga dibuat dan dipelihara maupun proses perubahan prosedur. inventori sumber dan uji kebocoran. Kebijakan meninjau kembali dosis personil.36). b.27). informasi kepada pekerja terkait risiko kesehatan akibat papaparan kerja. Jaminan Mutu a.17 dan I. c. dimana dan kapan pengukuran harus dilakukan.. Program ditinjau kembali secara periodik. dan metode untuk mengkorfimasi kesesuaian pelatihan (pengujian dan pendemontrasian). I.37-I. I. dan tingkat acuan dan tindakan yang dilakukan jika nilai tersebut terlampaui.instrumentasi). Program pemeriksaan kesehatan didasarkan pada prinsip kesehatan pekerja secara umum dan didisain untuk mengetahui kebugaran pekerja secara rutin maupun pekerja yang ditugaskan secara khusus (BSS. Program untuk menjamin bahwa persyaratan keselamatan radiasi yang dimintai BP dievaluasi dan disetujui.

Survei daerah kerja dosis atau laju dosis kontaminasi d. Bukti pemeriksaan kesehatan pekerja m. Uji kebocoran sumber radioaktif tertutup f. Rekaman dosimetri klinik Untuk sumber radiasi yang bukan zat radioaktif. hilangnya penahan sumber. Pembuangan sumber bekas b. Inventaris dan akuntablitas sumber g. 2. atau sumber macet.Jika dilakukan pengangkutan atau pengiriman sumber baru atau bekas.44-I. Survei pelepasan pasien o. Pengangkutan n. I. Prosedur Kedaruratan Prosedur kedaruratan memuat potensi kedaruratan seperti potensi kerusakan sumber.32) a. dan kesalahan pemberian dosis terhadap pasien. Prosedur tersebut seharusnya mengandung: dokumentasi sertifikat bungkusan. Uji dan kalibrasi peralatan e. Modifikasi fasilitas k. TS-R-1 IAEA). Pemindahan atau Pembuangan (Disposal) Sumber Radioatif Pengaturan rencana pemindahan atau disposal sumber radioaktif bekas VIII. VI. Untuk layanan kedaruratan lokal (misalnya. Jika terjadi kedaruratan lain. Dasar Hukum Pada tahun 2005. polisi) dapat diberikan copy prosedur kedaruratan kepada tim kedarauratan tersebut.40. Paparan individu (personil): rekaman terbaru riwayat kerja sebelumnya c. VII. pemantatauan paparan bungkusan. 64 Tahun 2000 tentang Perizinan Pemanfaatan Tenaga Nuklir. 63 Tahun 2000 tentang Keselamatan dan Kesehatan terhadap Pemanfaatan Radiasi Pengion. Sistem Pencatatan (BSS. (VI) dan (VII). penyusunan rencana untuk persiapan dan mengangkut bungkusan yang berisi sumber radioaktif (Safety Standard Seies No. Dalam hal semua kasus tingkat bahaya hendaknya dievaluasi. II.49. Audit dan peninjauan kembali program keselamatan radiasi h. Setiap kejadian yang berada di luar kawasan hendaknya juga dievaluasi.115 . Perawatan dan perbaikan kerja j. pemindahan/penerimaan dokumen. Direktorat Pengaturan Pengawasan FRZR diberi tugas untuk melaksanakan amendemen terhadap PP No. dan PP No. Laporan investigasi insiden dan kecelakaan radiasi i. dan rincian persiapan pengiriman. misalnya pesawat sinar-X diagnostik tidak mencakup poin (V). Ketika itu. pemadam kebakaran. Direktur DP2FRZR mengusulkan kepada pimpinan Bapeten agar BSS No. Pelatihan yang diberikan l. mohon diberikan prosedur kedaruratan tambahan yang sesuai.31-II.

meliputi: medik. industri dan penelitian. gauging. Salah satu poin penting dalam Konsepsi adalah Program P & KR. b. Dengan demikian. dan disetujui oleh instansi yang berwenang di bidang kesehatan ketenaga-kerjaan . spesifikasi teknis sumber radiasi pengion atau bahan nuklir yang digunakan. dan/atau g. prosedur kerja. Untuk penggunaan pembangkit radiasi pengion (pesawat sinar-X dan Linac) terdiri dari: radiologi diagnostik dan intervensional. Muatan Program P & KR Berdasarkan PP No. dalam PP No. Muatan dalam bentuk sistematika Program P & KR diatur dalam Perka Bapeten sesuai dengan jenis pemanfaatan tenaga nuklir di bidang fasilitas radiasi dan zat radioaktif (FRZR). sesuai dengan standar keselamatan radiasi. dokumen Juklak statusnya sama dengan Program P & KR. fluoroskopi bagasi. pasal 3 ayat (e). program proteksi dan keselamatan radiasi dan/atau keamanan sumber radioaktif. dan mendokumentasikan Program P & KR yang dibuat berdasarkan sifat dan risiko untuk setiap pemanfaatan tenaga nuklir. f. Oleh sebab itu Pemohon Izin harus terlebih dahulu membuat Petunjuk pelaksanan kerja (Juklak) yang harus disetujui oleh Bapeten. Namun sejak diberlakukannya PP No. yang ditunjuk pemohon izin. Bagian Ketiga mengenai Persyaratan Teknis. pasal 14 ayat 1 huruf d. 29 Tahun 2008 maka dokumen Juklak ini telah diganti menjadi dokumen Program P & KR yang tidak perlu ditandatangani oleh pihak Bapeten sebagai bentuk persetujuan. c. dan (3) Perka Bapeten sebagai peraturan pelaksanaan dari dua PP tersebut. e. d. laporan verifikasi keselamatan radiasi dan/atau keamanan sumber radioaktif. perlengkapan proteksi radiasi dan/atau peralatan keamanan sumber radioaktif. salah satu tanggung jawab Pemegang Izin adalah menyusun. fotofluorografi. 33 Tahun 2007. Demikian halnya untuk penggunaan bidang industri. 29 Tahun 2008. ditetapkan bahwa salah satu persyaratan umum untuk memperoleh izin adalah memiliki Prosedur Kerja yang aman bagi pekerja. 29 Tahun 2008 Dalam PP No. 33 Tahun 2007 Dalam PP No. mengembangkan. radioterapi dan kedokteran nuklir. dan produk konsumen. 29 Tahun 2008. ps 6. Adapun dasar hukum yang menetapkan Program P & KR. melaksanakan. 64 Tahun 2000 tentang Perizinan Pemanfaatan Tenaga Nuklir. well logging. Muatan Program P & KR Berdasarkan PP No. data kualifikasi personil. hasil pemeriksaan kesehatan pekerja radiasi yang dilakukan oleh dokter yang memiliki kompetensi. Pada awalnya.digunakan sebagai referensi utama. BAB II. 33 Tahun 2007. yang meliputi: . masyarakat dan lingkungan hidup. meliputi: a. ayat 2 huruf b. meliputi: (1) PP No. seperti radiografi industri. iradiator. (2) PP No.

dan/atau i. d. personil yang bekerja di fasilitas atau instalasi.7. Untuk Kelompok A berlaku mulai dari huruf a sampai dengan huruf g. pembagian daerah kerja. Selanjutnya diatur pada bagian penjelasan mengenai Program P & KR meliputi: a. aktivitas radionuklida yang akan digunakan dalam barang konsumen. Semestinya mulai huruf a sampai dengan huruf g. c. fungsi dan radionuklida yang terkandung dalam barang konsumen. (c) pemanfaatan. Untuk Kelompok B berlaku mulai dari huruf b. Radiografi Industri berbeda dengan Radiografi Medik (Radiologi Diagnostik dan/atau Intervennsional). tergantung pada (a) organisasi. Pengertian Prosedur operasi normal tidak hanya mencakup 2 (dua) hal. yaitu: (1) Prosedur pengoperasian peralatan. 9 Tahun 2009. h. secara substansi tetap mengacu kepada TECDOC1113. Meskipun sistematika dibuat relatif sederhana (5 bab) tetapi muatannya dapat dikembangkan atau dimutakhirkan. dan/atau petugas keamanan sumber radioaktif atau bahan nuklir. ada yang keliru. penyelenggara keselamatan radiasi. e. petugas proteksi radiasi dan personil lain yang memiliki kompetensi. khususnya Pesawat Sinar-X Kedokteran Gigi. dan (2) Prosedur proteksi dan keselamatan radiasi untuk personil tetapi dapat bermakna lebih luas. (b) sumber radiasi pengion. Penjelasan mengenai Program P & KR mulai huruf a sampai dengan huruf i. f. Pada pasal 15 diatur mengenai Persyaratan Teknis berlaku untuk Pemanfaatan Sumber Radiasi Pengion dan Bahan Nuklir Kelompok A. 2. g. B dan C. Untuk Radiologi Diagnostik. b dan huruf g angka 2. 3. Ø Organisasi Pada Bab II. personil yang menangani sumber radiasi pengion. No. uraian mengenai barang konsumen . muatan Program P & KR tiap Perka Bapeten dapat berbeda antara satu dengan yang lain. tergantung pada jenis pemanfaatan. rencana penanggulangan keadaan darurat. b. pemantauan radioaktivitas lingkungan di luar fasilitas atau instalasi. Untuk Kelompok C berlaku huruf a. c. penggunaan dan manfaat produk. program jaminan mutu proteksi dan kerselamatan radiasi.1. Prosedur merupakan bagian dari Program P & KR. d dan huruf f. satu orang dapat bertindak untuk semua . pemantauan paparan radiasi dan/atau kontaminasi radioaktif di daerah kerja. dan (d) pengguna akhir (end user). Dengan demikian. misalnya penggunaan kamera untuk radiografi industri dengan penggunaan pesawat sinar-X untuk radiografi medik.8 dan No. Muatan Program P & KR Berdasarkan Perka Bapeten Sistematika Program P & KR yang ditetapkan dalam Perka Bapeten No. Butir huruf h dan huruf i adalah bagian dari Persyaratan Teknis untuk Pemanfaatan Kelompok C.

pemegang izin. Ø Pengguna akhir (end user) Program Jaminan Mutu diwajibkan jika pengguna akhir (end user) ditujukan untuk manusia. sebagai berikut: Ø Kamera Radiografi Industri . meliputi: Radiologi Diagnostik dan Intervensional (dengan uji kesesuaian). misalnya kamera radiografi. impor. kedokteran nuklir. (2) Radiologi Diagnostik dan Intervensional. 10 Tahun 1997 tentang Ketenaganukliran bahwa pemanfaatan bermakna sangat luas. Sebagai contoh. Tetapi penggunaan yang lain sudah pasti dalam bentuk Organisasi karena satu orang tidak mungkin bertindak untuk semua status. dan (3) Impor dan Pengalihan Pembangkit Radiasi Pengion. Kedokteran Nuklir.status (sebagai pemilik. maupun wadah limbah radioaktif maka mutu produk menjadi kewenangan Bapeten. misalnya siklotron untuk produksi radioisotop dan/atau radiofarmaka dan pesawat sinar-X. Radioterapi. dan operator) maka tidak perlu organisasi. Pada saat pembahasan tiap draf Perka Bapeten selalu melibatkan pihak internal Bapeten (semua unit FRZR) dan pihak eksternal (instansi yang berwenang. pengguna. XRF/XRD) tidak memerlukan pembagian daerah kerja. Tidak semua pemanfaatan bidang FRZR harus ada pembagian daerah kerjanya. diperlukan pembagian daerah kerja. fasilitasnya tidak ada sebab fasilitas adalah milik pihak pengguna. Untuk sumber radioaktif tidak perlu dibuat prosedur pengangkutan zat radioaktif maupun prosedur pengelolaan sumber radioaktif tidak digunakan (disused sealed radioactive source-DSRS). Sedangkan untuk impor dan pengalihan. pengalihan. fasilitasnya pasti ada. pesawat sinar-X). Untuk penggunaan. dan (2) Sumber radioaktif. Tetapi gauging industri dengan radioaktif aktivitas rendah atau pembangkit radiasi pengion dengan energi rendah (misal. profesi. radioterapi dan radiologi diagnostik. PPR. dan pengelolaan limbah radioaktif. Iradiator Kategori IV dan Fasilitas Kalibrasi. Sistematika Program P & KR untuk: (1) Kamera Radiografi Industri. dokter gigi yang kompeten membaca citra. yaitu: daerah pengendalian (controlled area) dan daerah supervisi (supervised area). asosiasi dan/atau akademisi). pengangkutan zat radioaktif. Ø Pemanfaatan Sesuai dengan UU No. dan (2) Produksi bungkusan zat radioaktif. Ø Sumber Radiasi Pengion Sumber radiasi pengion dapat berupa: (1) Pembangkit radiasi pengion (misalnya. Sebagai contoh. diantaranya penggunaan. ada 13 (tiga belas) kegiatan. Ø Produksi dalam Negeri (1) Produksi sumber radiasi pengion. Meskipun Sistematika dibuat relatif sederhana namun dalam menyusun Pedoman Program P & KR dapat dikembangkan lebih dinamis sesuai jenis sumber radiasi pengion yang digunakan.

I. Prosedur Pengoperasian Peralatan Radiografi Industri IV. ORGANISASI PROTEKSI DAN KESELAMATAN RADIASI II.2. Prosedur Intervensi dalam Keadaan Darurat BAB V. Deskripsi Fasilitas III.2.3.2. Deskripsi Peralatan Radiografi Industri III.2. PROSEDUR PROTEKSI DAN KESELAMATAN RADIASI IV.3.2. Prosedur Proteksi dan Keselamatan Radiasi dalam Operasi Normal IV. DAN PERLENGKAPAN PROTEKSI RADIASI III. Program P & KR tersebut disusun oleh PPR dalam suatu dokumen. Struktur Organisasi II.4. I. Pelatihan BAB III. Sistematika secara umum dari Program Proteksi dan Keselamatan Radiasi yang akan disusun oleh PPR dalam suatu dokumen.3. REKAMAN DAN LAPORAN Ø Radiologi Diagnostik dan Intervensional Pedoman penyusunan Program Proteksi dan Keselamatan Radiasi yang rinci sesuai dengan jenis Penggunaan Pesawat Sinar-X Radiologi Diagnostik dan Intervensional. Pembagian Daerah Kerja III.4.1. Oleh karena itu. Ruang Lingkup I.1.1. Prosedur Proteksi dan Keselamatan Radiasi untuk Personil IV. akan dibuat secara tersendiri oleh Bapeten.2. I.Program P & KR tidak perlu disetujui oleh Kepala Bapeten sebagaimana dokumen Juklak yang menjadi salah satu persyaratan izin dalam hal keselamatan radiasi. Tanggung Jawab II.1. BAB V. Latar Belakang I. antara lain melalui inspektur pada saat pelaksanaan inspeksi.1.1. DESKRIPSI FASILITAS. PERALATAN RADIOGRAFI INDUSTRI. I. PENDAHULUAN I.1. meliputi: BAB I. Deskripsi Perlengkapan Proteksi Radiasi BAB IV. Program P & KR sangat terbuka untuk dikembangkan dan dimutakhirkan secara periodik sesuai situasi dan kondisi baik atas inisiatif pihak pengguna sendiri maupun berdasarkan masukan yang disampaikan oleh Bapeten. PENDAHULUAN Latar Belakang Tujuan Ruang Lingkup Definisi . meliputi: BAB I.3.4. Tujuan I. Definisi BAB II.1.

Deskripsi Sumber Radiasi Pengion dan Peralatan Penunjang .2.1.3. PENYELENGGARA PROTEKSI DAN KESELAMATAN RADIASI II. meliputi: BAB I.1. Tanggung Jawab II. IV.1. Deskripsi Fasilitas III.2.3.1.1. II. BAB V. II. BAB II.2. Deskripsi Perlengkapan Proteksi Radiasi PROSEDUR PROTEKSI DAN KESELAMATAN RADIASI Proteksi dan Keselamatan Radiasi dalam Operasi Normal Pengoperasian Pesawat Sinar-X Proteksi dan Keselamatan Radiasi untuk Personil Proteksi dan Keselamatan Radiasi untuk Pasien Proteksi dan Keselamatan Radiasi untuk Pendamping Pasien Rencana Penanggulangan Keadaan Darurat REKAMAN DAN LAPORAN Keadaan Operasi Normal Keadaan Darurat BAB IV. I.1. PESAWAT SINAR-X DAN PERALATAN PENUNJANG. I. DAN PERLENGKAPAN PROTEKSI RADIASI III. I.BAB II. PENDAHULUAN Latar Belakang Tujuan Ruang Lingkup Definisi PENYELENGGARA PROTEKSI DAN KESELAMATAN RADIASI Struktur Organisasi Tanggung Jawab Pelatihan DESKRIPSI SUMBER RADIASI PENGION DAN PERALATAN PENUNJANG. II. V. Sistematika secara umum dari Program Proteksi dan Keselamatan Radiasi yang akan disusun oleh PPR dalam suatu dokumen.2.1. I.1. IV.3. DESKRIPSI FASILITAS. BAB III. IV. Pembagian Daerah Kerja III.1.2.4.3. DAN PERLENGKAPAN PROTEKSI RADIASI III.2. V. IV. Pelatihan BAB III.2. akan dibuat secara tersendiri oleh Bapeten.4. Deskripsi Pesawat Sinar-X dan Peralatan Penunjang III.1. Ø Impor dan Pengalihan Pembangkit Radiasi Pengion Pedoman penyusunan Program Proteksi dan Keselamatan Radiasi yang rinci sesuai dengan jenis Impor dan/atau Pengalihan Zat Radioaktif dan/atau Pembangkit Radiasi Pengion.1. Struktur Organisasi (jika penyelenggara dalam bentuk organisasi) II. IV.4. IV.3.1.

Sistematika dan muatan Program P & KR maupun Prosedur untuk pemanfaatan di Bidang FRZR dapat berbeda antara satu dengan yang lain.2.1. intansi yang terkait dan pengguna). IV. dan Prosedur Instalasi. ii.1.2. Dokumen Program P & KR hendaknya dianggap sebagai rapor baik oleh Pemegang Izin maupun Badan Pengawas sehingga Program P & KR ini dapat digunakan sebagai dasar penilaian dari pemenuhan dari aspek proteksi dan keselamatan radiasi dari suatu kegiatan pemanfaatan dalam bidang FRZR. 5.2.1.1. IV. V. IV. merupakan dokumen yang dinamis dan sangat terbuka untuk dimutakhirkan secara periodik. dan prosedur yang sesuai dengan sifat dan tingkat risiko. BAB V. Dokumen Program P & KR adalah salah satu persyaratan izin.2.1. (b) sumber radiasi pengion. dan penggunaan akhir (end user).2. Prosedur Proteksi dan Keselamatan Radiasi untuk Personil Prosedur Pemantauan Paparan Radiasi Prosedur Uji Fungsi Prosedur Pengangkutan Zat Radioaktif Prosedur Pengelolaan Sumber Radioaktif Tidak Digunakan Prosedur Intervensi dalam Keadaan Darurat IV. kebijakan. IV.2 Tindakan Penanggulanagan REKAMAN DAN LAPORAN Keadaan Operasi Normal Keadaan Darurat KESIMPULAN 1.2. IV. Tujuan utama Program P & KR adalah menunjukkan tanggung jawab Pemegang Izin melalui penerapan struktur manajemen. Prosedur merupakan bagian dari Program P & KR dan pengertian Prosedur operasi normal dapat bermakna lebih luas. rekomendasi IAEA melalui adaptasi dari IAEA-TECDOC-1113 dan masukan dari berbagai pihak nara sumber di internal maupun pihak eksternal Bapeten (diantaranya asosiasi profesi. Pemutakhiran dapat dilakukan baik atas inisiatif Pemegang Izin sendiri maupun melalui masukan yang disampaikan oleh Bapeten. Deskripsi Perlengkapan Proteksi Radiasi BAB IV.1. IV. Ketika inspeksi dilakukan di suatu fasilitas. IV.III.1.2.3. PROSEDUR PROTEKSI DAN KESELAMATAN RADIASI Prosedur Proteksi dan Keselamatan Radiasi dalam Operasi Normal Prosedur Pengalihan Sumber Radiasi Pengion Prosedur Distribusi/Pengangkutan. Penyusunan sistematika Program P & KR dalam Perka Bapeten dilakukan sesuai dengan 2.2. 3. IV.5. IV.4. 4.1.6. IV.1.2. dokumen Program P & KR . i. V. akademisi.1. tergantung pada: (a) organisasi. 6. (c) pemanfaatan.1 Kejadian Kedaruratan IV.

Bapeten. Bapeten. IAEA. No. (2010). 6. Bapeten. Peraturan Pemerintah No. Occupational Radiation Protection. Peraturan Kepala Bapeten No. RS-G-1. tentang Keselamatan Radiasi dalam Penggunaan Peralatan Radiografi Industri. Bapeten.menjadi salah satu topik diskusi antara Tim Inspeksi dengan Pemegang Izin. Vienna. (1999). Undang-undang No. Bapeten. 8 Tahun 2009. Safety assessment plans for authorization and inspection sources. (2009). Peraturan Pemerintah No. 2. (1999). Recommendations of the International Commmission on Radiological Protection. 29 tahun 2008 tentang Perizinan Pemanfaatan Sumber Radiasi Pengion dan Bahan Nuklir. Jakarta. 12. Jakarta. TECDOC – 1067. (1998). Jakarta. Bapeten. Peraturan Kepala Bapeten No. (2007). DAFTAR PUSTAKA 1. (1990). IAEA.1. IAEA. Bapeten. 4. Bapeten. International Basic Safety Standards for Protection against Ionizing Radiation and for the Safety of Radiation Sources”. 9. IAEA. Jakarta. 8. Vienna 11. IAEA. IAEA. Oxford and Pergamon Press. 60. draf Peraturan Kepala Bapeten tentang Keselamatan Radiasi dalam Penggunaan Peralatan Radiologi Diagnostik dan Intervensional. Bapeten. Organisation and implementation of a national regulatory infrastructure governing protection against ionising radiation and the safety of radiation sources. Bapeten. Jakarta. 10 Tahun 1997 tentang Ketenaganukliran. Safety Guide. Jakarta. TECDOC – 1113. Bapeten. (1996). Safety Series No. tentang Keselamatan Radiasi dalam Penggunaan Peralatan Gauging. (2009). Bapeten. Vienna. IAEA. 115. Bapeten. 7. 9 Tahun 2009. New York. . IAEA. (2008). Jakarta. ICRP. (2009) Peraturan Kepala Bapeten No. 33 tahun 2007 tentang Keselamatan Radiasi Pengion dan Keamanan Sumber Radioaktif. PPR dan Praktisi Medik. tentang Keselamatan Radiasi dalam Penggunaan Peralatan Well Logging. Bapeten. 5. Vienna 10. Publication No. 3. 7 Tahun 2009. (1999).

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->