Anda di halaman 1dari 22

LAPORAN PRAKTIKUM BIOLOGI

MODUL SEL DAN GENETIK

Kelompok XII Akhdes Indra Objektivitas Waw Angela Christina Christopher Christian Halim Dita Gemiana Faradilla Keiko Fienda Ferani Muhammad Waliyyulhaq Randy Satria Nugraha Rusdy Riva Ambardina Pradita

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS INDONESIA 2010

PRAKTIKUM I Mikroskop Tujuan 1. Mengamati dan mengenali bagian bagian mikroskop 2. Menggunakan mikroskop dengan tepat Landasan Teori Mikroskop adalah alat yang digunakan untuk mengidentifikasi partikel baik organisme maupun non-organisme yang sangat kecil dan tidak dapat diidentifikasi dengan mata normal.1 Berdasarkan sistem pencahayaannya, mikroskop dapat dibedakan atas dua macam2:
a. Mikroskop optik yakni mikroskop yang menggunakan sumber pencahayaan cahaya

tampak dengan cepat rambat 3 x 108 m/s. Yang termasuk dalam mikroskop optik antara lain mikroskop cahaya, mikroskop gelap terang, mikroskop fase kontras dan mikroskop flouresens. Umummnya mikroskop ini digunakan untuk mengamati mikroorganisme maupun partikel non organisme dengan ukuran >= 100 nm. b. Mikroskop non-optik yakni mikroskop yang menggunakan sumber pencahayaan dari cahaya yang panjang gelombangnya lebih pendek. Misalnya mikroskop sinar x dan mikroskop electron. Prinsipnya adalah dengan menggunakan cahaya yang panjang gelombangnya pendek, energy untuk memfokuskan materi yang amat kecil (< 10 nm) dapat diperbesar Pada praktikum digunakan dan diidentifikasi mikroskop cahaya biasa. Mikroskop ini menggunakan cahaya tampak sebagai sumber cahaya.

Alat dan Bahan 1. Mikroskop 2. Slide/Preparat 3. Minyak Emersi

Cara Kerja I. Mengamati dan Mengenali Struktur Mikroskop Cahaya Bagian-bagian dari mikroskop cahaya yakni:

1. Lensa okuler yakni lensa konveks dengan perbesaran 4x atau 10x yang berada dekat dengan mata pengamat. Lensa ini memperbesar bayangan yang dihasilkan oleh lensa objektif. 2. Tangkai yakni alat penghubung meja preparat dan tubus dan biasanya digunakan untuk mengangkat mikroskop 3. Lensa objektif, yakni lensa konveks yang digunakan untuk melihat perbesaran dari objek di preparat. Lensa ini memiliki 4 bentuk perbesaran yakni perbesaran 4x, 10x, 40x, dan 100x. Lensa objektif terdiri dari a. Tubus, yakni batang dari lensa objektif yang berhubungan dengan lensa okuler. Di tubus biasanya terdapat tulisan misalnya 100/1,25

160/0,17 Yang berarti: 100 = perbesaran 1,25= aperture numeric 160 = panjang tubus (mm) 0,17= tebal gelas penutup lensa objektif (mm) b. Gelas penutup lensa objektif. 4. Revolver, yakni alat pemutar lensa objektif. 5. Meja spesimen atau meja preparat yakni tempat preparat yang akan diamati. Pada meja preparat biasanya terdapat a. Pemutar preparat, yakni alat untuk menggerakkan-gerakkan preparat untuk menemukan daerah yang hendak diamati. Bagian atas dari pemutar berfungsi untuk memaju-mundurkan preparat, sedangkan bagian bawahnya berfungsi untuk menggerakkan preparat ke kiri dan ke kanan. b. Kondensor atau diafragma yang berfungsi untuk menentukan besar intensitas cahaya yang diteruskan ke lensa objektif dan melalui objek. c. Pengatur kondensor yang berfungsi untuk menaikkan atau menurunkan kondensor d. Penjepit preparat yang digunakan untuk memfiksasi preparat sehingga dapat digerakkan secara teratur. 6. Pengatur fokus yang terdiri a. Makrometer yakni alat yang digunakan untuk menaikkan atau menurunkan tubus dan meja preparat sampai didapatkan fokus dasar yang baik. b. Mikrometer yakni alat yang memfokuskan lebih lanjut perbesaran dari lensa mikroskop. Mikrometer digunakan setelah makrometer diatur sedemikian rupa. 7. Sistem pencahayaan dimana sumber cahaya yang digunakan adalah cahaya tampak, dibedakan atas dua yakni

a. Pada mikroskop cahaya dengan sumber cahaya non-elektrik, terdapat cermin dua sisi yakni sisi konkaf dan sisi datar. Sisi konkaf digunakan untuk memantulkan sinar konvergen sehingga intensitas sinar yang diterima lebih kuat. Sisi datar digunakan untuk memantulkan secara sempurna sinar yang diterima. b. Pada mikroskop dengan sumber cahaya elektrik, cahaya langsung dipantulkan dari bola lampu yang terdapat di bawah kondensor ke arah meja preparat. Pada mikroskop cahaya elektrik juga terdapat kondensor untuk menentukan intensitas cahaya yang diteruskan. Selain itu terdapat tombol power di bagian kaki mikroskop untuk mengaktifkan atau emnonaktifkan sumber cahaya elektrik. 8. Kaki mikroskop yakni bagian bawah mikroskop yang menjadi penyangga mikroskop secara keseluruhan. II. Menggunakan mikroskop dengan tepat Cara menggunakan mikroskop yang tepat 1. Mengeluarkan mikroskop dari kotak dengan memegang tangkai dan kaki mikroskop. Kemudian mikroskop diletakkan di tempat yang datar
2. Mengatur pencahayaan mikroskop. Pada mikroskop cahaya elektrik, mikroskop

dihubungkan dengan sumber listrik AC kemudian tombol power diset menjadi on dan kondensor diatur untuk menentukan intensitas cahaya yang diteruskan ke preparat. Pada mikroskop cahaya non-elektrik, cermin diarahkan ke sumber cahaya (lampu atau sinar matahari). Biasanya digunakan cermin yang bersisi konkaf (cekung), kemudian atur diafragma untuk menentukan intensitas cahaya yang diteruskan. 3. Mengatur lensa objektif. Biasanya pertama tama digunakan perbesaran kecil dan dilanjutkan perbesaran yang lebih besar. Jadi biasanya mulai dari perbesaran 4x, kemudian 10x,40x, dan 100x. Pengaturan lensa objektif dilakukan dengan memutar revolver sampai berbunyi klik dan cahaya dapat diteruskan samapi ke lensa okuler. 4. Mengatur preparat dengan menggunakan pemutar preparat sehingga objek yang diamati dapat dilihat pada lensa okuler. 5. Menggunakan pengatur fokus. Pertama digunakan makrometer untuk menentukan fokus dasar dengan menaik turunkan tubus. Makrometer ini menaikkan dan

menurunkan meja preparat sampai bayangan yang diamati terfokus. Bila makrometer ini sudah diset, maka tidak perlu diubah ubha lagi. Pengaturan fokus berikutnya, terutama ketika perbesaran lensa objektif diubah, digunakan micrometer. 6. Catatan lain yakni dalam penggunaan lensa objektif dengan perbesaran 110x digunakan min yak emersi pada preparat agar beda fase yang melewati objek lebih besar (medium air memiliki beda fase lebih besar daripada medium padat). 7. Bila telah selesai digunakan, badan mikroskop dapat dibersihkan dengan menggunakan tissu. Untuk membersihkan lensa mikroskop digunakan kertas lensa khusus. 8. Mikroskop diletakkan kembali di kotak mikroskop.

Departemen Biologi Kedokteran FKUI. Penuntun Praktikum Biologi: Modl Sel dan Genetika. Jakarta: 2010. PRAKTIKUM II Fraksinasi Sel Tujuan Memisahkan komponen sel untuk membedakan komponen-komponen sel tersebut. Landasan Teori - Nukleus Nukleus (inti), yang biasanya adalah komponen sel terorganisasi tunggal paling besar, dapat dilihat sebagai sebuah struktur bulat atau oval tersendiri, biasanya terletak dekat dengan bagian tengah sel. Nukleus dikelilingi oleh suatu membran berlapis ganda, yang memisahkannya dari bagian-bagian sel lain. Di dalam nukleus terdapat materi genetik sel, asam deoksiribonukleat (DNA) yang memiliki dua fungsi penting. Pertama, DNA memberikan kode atau instruksi untuk mengarahkan sintesis berbagai protein struktural dan enzimatik spesifik di dalam sel. Dengan mengarahkan jenis dan jumlah berbagai enzim dan protein lain yang diproduksi, nukleus secara tidak langsung mengatur sebagian besar aktivitas sel dan berfungsi sebagai pusat kontrol sel. Kedua, DNA berfungsi sebagai cetak

biru genetik selama replikasi sel untuk memastikan bahwa sel menghasilkan sel anak persis seperti induknya, sehingga dapat terus dihasilkan jenis sel yang identik di dalam tubuh. - Mitokondria Mitokondria adalah organel energi atau pembangkit tenaga sel; organel ini mengambil energi dari zat-zat gizi dalam makanan dan mengubahnya menjadi suatu bentuk yang dapat digunakan untuk menjalankan aktivitas sel. Jumlah mitokondria per sel sangat bervariasi, bergantung pada kebutuhan energi tiap-tiap jenis sel. Sebuah sel mungkin mengandung hanya seratus atau bahkan beberapa ribu mitokondria. Pada beberapa jenis sel, mitokondria terkemas kompak di bagian-bagian sel yang paling banyak menggunakan energi. Sebagai contoh, mitokondria terkemas di antara unit-unit kontraktil di sel-sel otot jantung. Mitokondria adalah struktur berbentuk batang atau oval yang besarnya seukuran dengan bakteri. Di bawah mikroskop, mitokondria sering tampak seperti bakteri batang. Pada kenyataannya, banyak bukti yang mengisyaratkan bahwa mitokondria adalah turunan bakteri yang menginvasi dan ditelan oleh sel primitif pada awal sejarah evolusi. Secara umum dipercaya bahwa hal itu berawal dari suatu hubungan simbiotik dengan bakteri yang kemudian berkembang, akhirnya menjadi organel permanen. Walaupun tidak tampak pada sajian rutin H.E (Hematoksilin dan eosin), mitokondria dapat terlihat dengan pulasan hematoksilin besi dan pulasan Janus Green. Mereka terlihat sebagai badan mirip benang atau sebagai batang, bulatan, bangunan lonjong, yang bergerak, berubah bentuk dan besarnya, membelah dan menyatu. Setiap mitokondria dibungkus oleh sebuah membran berlapis dua yang disebut krista. Krista menonjol ke rongga bagian dalam yang terisi oleh laurtan mirip gel yang dikenal sebagai matriks. Krista-krista ini mengandung protein penting yang akhirnya berperan dalam mengubah sebagian besar energi yang terkandung dalam makanan menjadi suatu bentuk yang dapat digunakan ( protein transportasi elektron). Banyaknya lipatan-lipatan membran bagian dalam ini sangat memperluas permukaan daerah yang dapat ditempati oleh protein-protein penting tersebut. Matriks terdiri dari campuran pekat ratusan enzim yang berbeda yang penting untuk mempersiapkan molekul-molekul nutrien untuk pengambilan akhir energi yang dapat digunakan oleh protein-protein di krista. Alat

1. Sentrifuge 2. Pipet transfer 3. Tabung mikrofuge 4. Mikroskop cahaya 5. Pipet 100ul, 1000ul 6. Kaca objek dan gelas penutup

Bahan 1. Homogenat hepar tikus yang dibuat dengan menghancurkan hepar tikus menggunakan homogenizer dan sebelumnya telah diberi larutan sukrosa 2% 2. PBS (Phospat Bufer Saline), untuk menjaga lingkungan agar bagian atau fraksi tidak rusak 3. Metylen Blue (pewarna nukleus) 4. Janus Green (pewarna mitokondria) Cara Kerja Tahap I 1. Mengambil 1,5 homogenat pada tabung mikrofuge dan memutarnya dengan sentrifugasi pada 5000 rpm selama 15 menit 2. Memisahkan supernatan dan memindahkan ke tabung mikrofuge yang baru 3. Mengencerkan endapan (pellet) dengan menambahkan 200 ul PBS, lalu menambahkan metylen blue dengan perbandingan 1:1. Pellet tersebut diteteskan pada kaca objek kemudian diperiksa di bawah mikroskop, pertama dengan perbesaran 4x10, kemudian 10x10, dan akhirnya 40x10.

Tahap II

1. Memutar supernatan yang didapat dari tahap I dengan kecepatan 12.000 rpm selama 10 menit. Setelah itu didiamkan sebentarm lalu diputar lagi dengan kecepatan 12.000 rpm selama 5 menit 2. Memisahkan pellet dan membuang supernatan 4. Mengencerkan pellet dengan menambahkan 100ul PBS dan memberikan Janus Green dengan perbandingan 1:1. Lalu pellet tersebut diteteskan pada kaca objek dan diperiksa di bawah mikroskop, pertama dengan perbesaran 4x10, kemudian 10x10, dan akhirnya 40x10.

Hasil Pengamatan Tahap I

Tahap II

Kesimpulan Dari percobaan yang dilakukan, disimpulkan bahwa organel-organel sel seperti nukleus dan mitokondria dapat diamati di bawah mikroskop, dengan melakukan fraksinasi sel dan melakukan pewarnaan khusus.

Daftar Pustaka Departemen Biologi Kedokteran FKUI. Penuntun Praktikum Biologi: Modl Sel dan Genetika. Jakarta: 2010.

PRAKTIKUM III Analisis Kromosom Tujuan Mengetahui cara menganalisis dan mengidentifikasi kromosom dan kariotip pada manusia Landasan Teori Kromosom adalah untaian material genetik yang terdapat didalam setiap sel mahluk hidup. Setiap sel yang normal mempunyai 46 kromosom yang terdiri dari 22 pasang kromosom tubuh (kromosom 1 s/d kormosom 22) dan 1 pasang kromosom sex (kromosom X dan Y) yang menentukan jenis kelamin. Setiap orang mendapatkan 1 dari tiap pasangan kromosom dari ayahnya dan 1 dari ibunya, dengan kata lain setiap orang mendapatkan 23 kromosom dari ayah (dibawa oleh sperma) dan 23 kromosom dari ibunya (dibawa oleh sel telur), yang kemudian total menjadi 46 kromosom (23 pasang) setelah pembuahan. Kromosom yang terdapat dalam sebuah sel tidak pernah sama ukurannya. Berdasarkan letak sentromer dapat dibedakan beberapa bentuk kromosom, yaitu metasentris, submetsentris, akrosentris, dan telosentris. Tiap untaian kromosom membawa informasi genetik yang sangat menentukan proses pertumbuhan dan perkembangan janin dan juga fungsi tubuh untuk kehidupan sehari-hari. Jumlah kromosom akan sangat mempengaruhi pembentukan protein-protein tubuh dan dapat mengakibatkan pertumbuhan dan perkembangan janin atau bayi yang tidak normal. Ada beberapa indikasi pada pemeriksaan kromosom, yaitu hambatan (retardasi) perkembangan psikomotorik yang nampak jelas, kelainan bawaan/kongenital kecil atau multiple, dan pemastian terhadap dugaan sindrom sitogenetik tertentu, karena gambaran keadaan kliniknya. Analisis kromosom dapat dilakukan dengan cara mengkultur atau membiakkan sel yang diperoleh dari :
1. darah tepi (peripherial blood), memerlukan 3-4 hari kultur

2. biopsi kulit, menghasilkan fibroblas 3. sumsum tulang, digunakan untuk diagnosis keganmasan hematologis.
4. Fetal cells, berasal dari cairan amnion (amniosentesis) dan biopsi villi khorialis.

Pemeriksaan kromosom nampak pada saat sel sedang membelah. Cara langsung untuk memeriksanya adalah dengan melihat pada sel yang langsung membelah di sumsum tulang (sternum, krista iliaka, dan tubercositas tibiae). Pemeriksaan kromosom tidak langsung dilakukan dengan memicu agar sel dapat membelah (PHA) sehingga dapat dibiakkan menjadi sel darah tepi fibroblas. Pemeriksaan kromosom dapat dilakukan dengan menggunakan Kolkhisin, yaitu untuk menghentikan pembelahan mitosis berakibat pada tidak terbentuknya benang spindel, sehingga mitosis berhenti pada tahap metafase, dan kromosom dapat terlihat dengan jelas. Kolkhisin ini diberikan pada akhir proses, lalu diberi zat warna agar kromosom dapat terlihat jelas. Metode Pita Kromosom membuat setip kromosom dapat dikenali lebih mudah karena pita yang terlihat berbeda. Dalam mengidentifikasi kromosom, kromosom diberi warna atau pewarnaan banding/pita/corak kromosom dan yang umum digunakan adalah G banding (Giemsa). Penggolongan kromosom manusia (klasifikasi Denver) berdasarkan 2 hal, yaitu urutan besar atau kecilnya kromosom dan letak sentromer pada kromosom tersebut.

Alat dan Bahan Alat: - Sentrifuge steril - Pipet transfer - syring - Mikroskop cahaya - Laminal flo - inkubator Bahan: - Sampel darah - RPMI - Calf serum - PHA - Kolkisin -Giemsa

Cara Kerja Tahap I 1. Kultur darah dilakukan oleh setiap kelompok secara bergantian masuk ke ruang steril.
2. Kultur dilakukan dalam keadaan steril terhadap Whoole Blood (0,8 ml) dengan

menambahkan 5 ml RPMI, 0,8 ml calf serum, dan 60-120 ul PHA dalam medium.
3. Selanjutnya medioum diinkubasi dalam inkubator CO2 (5%) selama 72 jam.

4. Setelah 72 jam diinkubasi, reaksi dihambat dengan menambahkan Kolkisin kira-kira 1,5 jam sebelum kultur dihentikan (dikeluarkan dari inkubator). 5. Selanjutnya diproses dan dibuat preparat kromosom dengan pewarnaan Giemsa.

Tahap II 1. Preparat kromosom yang sudah dikultur dilihat dengan menggunakan mikroskop dengan perbesaran objektif 100 x, dengan bantuan minyak emersi.

Tahap III 1. Membuat kariotip manusia menurut klasifikasi DENVER Kromosom manusia dibagi dalam 7 golongan, yaitu : 1. Golongan A:

Terdiri dari 2 pasang kromosom metasentrik terbesar, yaitu kromosom nomor 1 dan 3; serta 1 pasang kromosom (nomor 2) sub metasentrik terbesar. 2. Golongan B:

Terdiri dari 2 pasang kromosom sub metasentrik yang lebih kecil dari golongan A dan disusun oleh kromosom nomor 4 dan 5. 3. Golongan C :

Kromosom berukuran lebih kecil dari golongan B. Pada seorang wanitaterdiri dari 8 pasang kromosom metasentrik dan sub metasentrik sedangkan pada laki-laki terdiri dari 7 pasang kromosom. Golongan C terdiri dari kromosom nomor 6-12 dan kromosom X.

4.

Golongan D :

Merupakan kromosom akrosentrik terbesar(lebih kecil daripada golongan C) dan bersatelit. Ada 3 pasang kromosom nomor : 13,14, dan 15. 5. Golongan E

Lebih kecil daripada golongan D dan terdiri dari 3 pasang kromosom, yaitu kromosom nomor :16,17,dan 18. Kromosom hampir metasentrik sedangkan kromosom nomor 17 dan 18 submetasentrik. 6. Golongan F:

Terdiri dari 2 pasang kromosom metasentrik kecil (lebih kecil daripada golongan E) yaitu kromosom nomor 19 dan 20. 7. Golongan G

Terdiri dari 2 pasang kromosom, yaitu kromosom nomor 21 dan 22 merupakan kromosom terkecil, akrosentrik dan bersatelit. Pada laki-laki kromosom G ada 5 karena kromosom Y termasuk kelompok ini. Tiap anggota kelompok diberikan fotokopi gambar kromosom dan harus disusun kariotipnya pada lembar yang telah disediakan sesuai dengan Klasifikasi Denver. Hasil Tahap I (demo) Tahap II Tahap III (sudah dikumpulkan) Diskusi Dari kegiatan tahap I, kita dapat mempelajari bagaimana cara membuat kultur dari darah manusia. Prinsip dasarnya ialah melihat kromosom saat kromosom berada pada tahap siklus sel yang tepat, yaitu tahap metaphase dan anfase. Kita menggunakan kolkisin dalam membuat kultur darah. Kolkisin merupakan microtubule-spesific drug yang mengikat subunit dan mencegah polimerasi dari mikrotubul, komponen utama benang spindel. Akibatnya, siklus sel akan terhenti dan setelah diberi pewarnaan kita dapat melihatnya dibawah mikroskop. Pada kegiatan tahap II, kita dapat mempelajari kariotipe kromosom manusia. Adapun yang dapat kita lihat ialah struktur kromosom dan menghitung jumlahnya. Jumlah kromosom normal

pada manusia ialah 46 kromosom diploid (2n) yang terdiri dari 22 pasang autosomal dan 1 pasang kromosom seks. Jika saat kita hitung ternyata jumlahnya lebih dari 46 atau malah kurang dari 46 maka kita dapat mencurigai bahwa kariotipe tersebut diperoleh dari orang yang menderita penyakit genetika. Pada kegiatan tahap III, kita melakukan penyusunan kariotipe manusia berdasarkan klasifikasi Danver. Klasifikasi tersebut didasarkan pada ukuran kromosom dan letak sentromer. Ternyata tidak ditemukan kromosom manusia yang berbentuk telosentrik. Kromosom nomor 1 adalah kromosom dengan ukuran terbesar sedangkan kromosom nomor 22 merupakan kromosom terkecil. Kromosom nomor 23 adalah kromosom seks yang dapat terdiri dari XX (pada wanita) atau XY (pada pria). Kromosom X mirip struktunya dengan kromosom kelompok C sedangkan kromosom Y mirip strukturnya dengan kromosom kelompok G. Kesimpulan Dari kegiatan tahap I, II, III dapat kami pelajari bagaimana cara membuat kultur darah, melihat kromosom manusia, dan bagaimana cara membuat kariotipe manusia berdasarkan klasifikasi Denver. Dalam kegiatan tersebut, jumlah kromosom yang kami lihat dari mikroskop berjumlah 47 kromosom, bukan jumlah normal kromosom yang dimiliki manusia. Sedangkan pada tahap III, kariotipe yang kami susun merupakan kariotipe milik seorang wanita yang menderita Down Syndrome karena terdapat trisomi pada kromosom 21. Daftar Pustaka Suryo. Genetika Manusia.2008. Yogyakarta : Gajah Mada Press.h.9-13. Departemen Biologi Kedokteran FKUI. Penuntun Praktikum Biologi: Modl Sel dan Genetika. Jakarta: 2010.

Praktikum IV Golongan Darah, Badan Kromatin & Alel

Tujuan 1. Mempelajari system penggolongan darah (ABO) dan rhesus dengan melihat reaksi aglutinasi antara antigen dan antibody. 2. Mengamati adanya Badan Barr pada sel epitel mukosa pipi dan Drum Stick pada neutrofil tembereng. 3. Menghitung frekuensi alel pada sebuah populasi. Landasan Teori Golongan Darah Berbagai system golongan terbentuk karena pada lokus isoaglutinogen (I) terjadi mutasi berulang-ulang sehingga menimbulkan alel berganda (multiple alel). Pada system ABO, seseorang yang bergolongan darah A memiliki zat anti B atau antibodi B (beta). Seseorang yang bergolongan darah B memiliki antigen B pada permukaan eritrositnya dan pada plasma darahnya memiliki zat anti A (alfa). Seseorang dengan golongan darah AB memiliki zat anti A dan B pada plasma darahnya. Reaksi aglutinasi terjadi jika antigen A bercampur atau bertemu dengan zat anti A, dan antigen B bercampur atau bertemu dengan zat anti B. Pada system rhesus terdiri dari rhesus positif dan negative. Sebagian besar orang Asia, termasuk Indonesia, memiliki Rhesus positif. Sedangkan rhesus negative banyak dimiliki oleh ras orang kaukasia. Zat anti rhesus secara alami tidak terdapat pada plasma darah, namun berada dalam plasma darah hewan percobaan (kelinci) yang telah disuntik antigen rhesus. Reaksi aglutinasi terjadi jika antigen rhesus bercampur atau bertemu dengan zat anti rhesus. Contoh reaksi aglutinasi golongan darah: Frekuensi Alel Alel adalah pasangan gen dalam kromosom yang menjadi genotip dari suatu sifat dan akan mengekspresikan fenotip. Pasangan alel dapat berupa homozigot dominan, homozigot resesif ataupun heterozigot. Alel yang berpasangan akan mengekspresikan fenotip tertentu. Biasanya alel dominan dapat diekspresikan pada homozigot dominan maupun heterozigot. Sedangkan, alel resesif diekpresikan pada homozigot resesif. Frekuensi alel adalah bentuk distribusi suatu alel dalam suatu populasi. Populasi adalah kumpulan dari individu yang menempati suatu wilayah tertentu dalam jumlah yang tertentu.

Keberadaan sebuah populasi memungkinkan keanekaragaman pasangan alel suatu sifat, baik sifat monogen maupun sifat poligen. Menurut Hardy Weinberg, frekuensi suatu alel dalam sebuah populasi pada dasarnya adalah tetap, bila dipenuhi syarat-syarat berikut a. Populasi dalam jumlah yang besar (atau infinite) dan memiliki kemampuan regenerasi tinggi, sehingga perubahan kecil dalam populasi tidak akan mempengaruhi gambaran populasi secara umum.
b. Adanya random mating antarindividu dalam suatu populasi c. Tidak adanya evolutionary forces yang mengakibatkan adaptasi menyeluruh pada

populasi sehingga gambaran populasi berubah. d. Tidak terjadi migrasi (perpindahan individu), mutasi (perubahan susunan genetic) pada populasi yang memungkinkan perubahan proporsi alel.

Secara umum, hukum Hardy Weinberg digambarkan dalam matematis sebagai

p+q=1 (p+q)2=1 p2+2pq+q2=1 Keterangan : p= alel 1 q= alel 1 (pasangan alel 1) Gol Darah A B AB O Rhesus + Rhesus Anti A + + Anti B + + Anti A, B + + + + Anti Rhesus

Keterangan: (+) = adanya reaksi aglutinasi (-) = tidak adanya reaksi aglutinasi Alat 1. Autoclix, untuk mengambil darah 2. Jarum untuk autoclix 3. Tusuk gigi 4. Kertas atau kartu penunjuk golongan darah Bahan 1. Zat anti A 2. Zat anti B 3. Zat anti A, B 4. Zat anti Rhesus 5. Alcohol swab Cara Kerja Golongan Darah 1. Mengisi autoclix dengan jarum steril. Mengatur kedalaman jarum (1-5).
2. Mengusapkan alcohol swab pada bagian jari yang akan diambil darahnya.

3. Meletakkan autoclix di atas kulit jari bagian ujung kemudian menekannya.


4. Meneteskan darah di atas kertas/kartu penunjuk golongan darah.

5. Menambahkan zat anti A pada kotak 1, zat anti B pada kotak 2, zat anti A,B pada kotak 3, dan zat anti rhesus pada kotak 4. 6. Mengaduk masing-masing campuran darah dengan zat anti dengan tusuk gigi. 7. Mendiamkan beberapa detik lalu mengamati ada tidaknya reaksi aglutinasi.

8. Mencatat dan menganalisis hasil pengamatan. Badan Kromatin 1. Preparat diletakkan diatas stage mikroskop 2. Putar kondensor pada perbesaran 100x 3. Atur makrometer serta micrometer hingga didapat gambar yang jelas 4. Naikkan pembesaran secara bertahap dari 100x hingga 400x 5. Lihat bagian-bagian pada sel darah pada sediaan apusan darah tepi 6. Cari neutrofil serta bagian pada neutrofil yang menyerupai drum stick 7. Naikkan kembali perbesaran menjadi 1000x dengan meneteskan minyak emersi pada preparat 8. Gambar keseluruhan bagian neutrofil yang terlihat 9. Melakukan langkah-langkah pengamatan yang sama pada sediaan sel epitel mukosa pipi

Hasil Pengamatan Golongan Darah No. Nama Anti A Anti B Anti A, B Anti Rhesus 1. Akhdes Indra O. W 2. 3. Angela Christina Christopher Christian 4. 5. 6. Dita Gemiana Faradila Keiko Fienda Ferani + + + + + + + B+ A+ O+ + + + + + + + B+ A+ + + Gol Darah A+

7.

Muhammad Walliyulhaq

O+

8. 9.

Randy SN Rusdy Riva Ambardina + + + A+

Keterangan: (+) = adanya reaksi aglutinasi (-) = tidak adanya reaksi aglutinasi Analisis: Cara menentukan golongan darah adalah sebagai berikut: 1. Golongan darah A: terjadi aglutinasi pada pemberian zat anti A dan anti A,B 2. Golongan darah B: terjadi aglutinasi pada pemberian zat anti B dan anti A,B 3. Golongan darah AB: terjadi aglutinasi pada pemberian zat anti A, anti B, dan anti A,B 4. Golongan darah O: tidak terjadi aglutinasi pada pemberian zat anti A, anti B, dan anti A,B 5. Rhesus positif: terjadi aglutinasi pada pemberian zat anti Rhesus 6. Rhesus negatif: tidak terjadi aglutinasi pada pemberian zat anti Rhesus Badan Kromatin Dari hasil pengamatan dengan menggunakan mikrosokop cahaya dengan perbesaran 100x serta diberikan tambahan minyak emersi, ditemukan salah satu kromatin X pada inti sel epitel mukosa pipih yang membentuk Badan Barr (Barr Body). Badan Barr ini terletak di tepi inti sel dan melekat dengan selaput inti sel. Badan barr terlihat seperti bagian inti yang berwarna lebih gelap dari bagian inti maupun kromatin yang lain. Badan Barr menunjukkan bahwa pengamtan dilakukan pada kromosom perempuan, karena Badan Barr dibentuk oleh salah satu kromatin X perempuan. Namun, ada pengamatan lain, yaitu pengamatan inti sel pada sel neutrofil tembereng, ditemukan pula kromatin X yang juga memebentuk Badan BarrI, tetapi mengalami perlekatan pada membran inti. Kromatin X ini membentuk suatu bagian dari inti yang menonjol keluar dari inti neutrofil. Bentuknya bulat dan padat, persis menyerupai pemukul hanya

gendering (stick drum). Hal ini juga membuktikan bahwa preparat yang diamati berasal dari perempuan yang salah satu kromosomnya membentuk badan barr atau tidak aktif.

Frekuensi Alel Dari hasil penghitungan pada mahasiswa FKX tahun ajaran 2009/2010 kelas regular didapati bahwa a. Jumlah individu dengan daun telinga menggantung sebanyak 124 orang. Selanjutnya alel dominan yang mengekspresikan daun telinga menggantung dilambangkan sebagai p b. Jumlah individu dengan daun telinga melekat yakni 49 orang. Selanjutnya alel resesif yang menjadi pasangan alel p dilambangkan sebagai q Daun telinga yang menggantung memiliki genotip pp dan pq Daun telinga menempel memiliki genotip qq Maka frekuensi daun telinga menempel adalah f(qq)= f(q) =
49 = 0,28 173

0,28 = 0,53
Karena p+q=1

sehingga f(p)=1-f(q) f(p)= 0,47 f(pp)= f(p)2=0,22 Sehingga 1. Frekuensi alel homozigot dominan (pp) = 0,22 x 173 = 38 orang 2. Frekuensi alel homozigot resesif (qq) = 0,28 x 173

= 49 orang

3. Frekuensi alel heterozigot (pq)

= (1-0,22-0,28) x 173 x 2 = 86 orang

Kesimpulan Penetuan golongan darah system ABO dan system Rhesus dilakukan dengan mengamati ada tidaknya reaksi aglutinasi antara antigen dengan antibodi (sampel darah dan zat-zat anti).

Daftar Pustaka Departemen Biologi Kedokteran FKUI. Penuntun Praktikum Biologi: Modl Sel dan Genetika. Jakarta: 2010.