Anda di halaman 1dari 11

ISU-ISU PENTING PERSOALAN LINTAS BUDAYA DAN BANGSA

OLEH: KELOMPOK 3 NAMA MODERATOR NAMA NOTULEN NAMA TIM PEMAKALAH KETUA TIM ANGGOTA TIM : AGUNG ALIFFIANTO : DIAN INDAH ARINI : : DESELLA INNA RAHMATINA (110210152009) : 1. LISTIANA CAHYANTARI 2. DEWI NUR AROFAH 3. LIANA SAFITRI 4. FINDI DIANSARI 5. KIKI WIDIYA PUTRI (110210152003) (110210152008) (110210152011) (110210152012) (110210152013) (110210152004) (110210301018)

6. IKA NAYLA RACHMAWATI (110210152018) 7. MARDHIKA WULANSARI (110210152021) 8. IRMADATUS SHOLEKA 9. LAILATUL FAJRIYAH (110210301013) (110210301015)

UNIVERSITAS JEMBER 2012

ISUISU PENTING PERSOALAN LINTAS BUDAYA DAN BANGSA

1. Hakikat Isu-Isu Penting Persoalan Lintas Budaya dan Bangsa Isu adalah suatu peristiwa atau kejadian yang dapat diperkirakan terjadi atau tidak terjadi pada masa mendatang, yang menyangkut ekonomi, moneter, sosial, budaya, politik, hukum, pembangunan nasional, bencana alam, hari kiamat, kematian, ataupun tentang krisis. Sedangkan, budaya adalah suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok orang dan diwariskan dari generasi ke generasi. Bangsa adalah suatu kelompok manusia yang dianggap memiliki identitas bersama, dan mempunyai kesamaan bahasa, agama, ideologi, budaya, dan/atau sejarah. Isu-isu penting yang menjadi persoalan lintas budaya dan bangsa pada umumnya merupakan isu global yang menjadi keprihatinan umat manusia sedunia. Disebut isu global karena persoalan ini tidak hanya di hadapi oleh umat manusia dalam satu negara atau wilayah tertentu saja, melainkan seluruh umat manusia di berbagai belahan dunia. Berikut ini akan kita ketengahkan isu-isu global yang terjadi atas isu mengenai lingkungan dan isu mengenai kemanusiaan. Isu tentang lingkungan antara lain mencakup kekurangan pangan, kekurangan sumber air bersih, polusi, dan perubahan iklim. Sedangkan, isu tentang kemanusiaan mencakup isu mengenai kemiskinan, konflik atau perang, dan wabah penyakit. 2. Hakikat Isu Mengenai Lingkungan Lingkungan adalah suatu media di mana makhluk hidup tinggal, mencari, dan memiliki karakter serta fungsi yang khas yang mana terkait secara timbal balik dengan keberadaan makhluk hidup yang menempatinya, terutama manusia yang memiliki peranan yang lebih kompleks dan riil. Hakikat isu tentang lingkungan merupakan suatu keadaan dimana lingkungan masyarakat mengalami masalah terhadap lingkungan, yang mempunyai dampak negatif yakni dapat merusak keadaan lingkungan itu sendiri. Isu tentang lingkungan meliputi: isu mengenai kekurangan pangan, kekurangan sumber air bersih, polusi/pencemaran dan isu perubahan iklim. a. Isu Kekurangan Pangan di Dunia Makanan adalah salah satu kebutuhan dasar bagi manusia di samping tempat tinggal dan pakaian. Dengan demikian, isu krisis makanan bukanlah suatu isu remeh yang bisa dibiarkan begitu saja, karena krisis makanan yang menimpa dunia sekarang ini melibatkan berbagai bahan makanan pokok yang diperlukan oleh penduduk di seluruh belahan dunia demi kelangsungan kehidupannya. Yang menjadi pemicu terjadinya krisis pangan Indonesia dan dunia selain disebabkan oleh bertambahnya jumlah penduduk yang semakin

tidak terkendali tanpa diimbangi dengan peningkatan jumlah ketersediaan pangan, juga disebabkan oleh perubahan iklim dan bencana alam, serta adanya konflik antar penduduk yang sering terjadi akhir-akhir ini. Dengan semakin bertambahnya jumlah penduduk dunia khususnya penduduk Indonesia yang semakin pesat tanpa diimbagi dengan produksi pangan yang memadai, diperkirakan permintaan pangan dunia akan menjadi dua kali lipat lebih besar pada tahun 2050. Hal ini tentu meresahkan banyak kalangan, terutama masyarakat dan pemerintah. Pemberitaan mengenai krisis pangan global mendominasi beritaberita di sejumlah media massa nasional maupun international pada tahun 2012 ini. Isu ini kembali mencuat, setelah dua tahun yang lalu menjadi topik di publik. Kali ini pemicu ancaman kekurangan pangan tidak lagi disebabkan oleh kebijakan subsitusi komoditi pangan untuk tujuan biofuel, tetapi disebabkan juga oleh keadaan iklim khususnya curah hujan global yang tidak menentu. Ancaman kelangkaan suplai pangan sebenarnya bukan ancaman baru bagi manusia. Terhitung sejak Malthus mengeluarkan teorinya tentang pertambahan deret hitung (produksi pangan) dan deret ukur (pertumbuhan penduduk) pada tahun 1798, umat manusia sudah diperingatkan agar mengantisipasi ketidakseimbangan antara suplai dan deman akan pangan. Teori Malthus hanya menelurkan faktor penentu kelangkaan suplai pangan adalah manusia, sehingga pada diri manusia diperlukan kearifan untuk mengelolanya. Dan terbukti bahwa manusia mampu untuk mengelola ancaman yang dimaksud dengan melakukan sejumlah rekayasa yang melipatgandakan produksi pangan dunia. Teori Malthus kemudian untuk sementara dianggap gugur. Pemerintah disejumlah negara, khususnya negara-negara maju mampu mematahkan teori Malthus melalui kebijakan produksi pangan yang tepat (termasuk Indonesia dengan program Intensifikasi dan Ekstensifikasi pertanian di akhir dekade 1970an). Keberhasilan pelipatgandaan produksi pangan pada tiga dekade terakhir tidak lepas dari adanya komitmen yang kuat dari pemerintah berbagai negara untuk meningkatkan produksi pangan disamping adanya daya tarik pasar komoditi pangan. Pangan adalah suatu komoditi primer sehingga suplai nya relatif akan selalu direspon oleh pasar (global). masalahnya akan muncul saat komoditi primer ini dipakai untuk tujuan sekunder bahkan tersier seperti yang terjadi dua tahun lalu dan memicu ancaman kelangkaan suplai pangan. Sebut saja Rusia mengalami kekeringan hebat sehingga mempengaruhi kemampuan produksi pangannya. Sampai-sampai pemerintah Rusia terpaksa menutup keran ekspornya guna mengantisipasi pemenuhan permintaan pangan dalam negerinya. Sebaliknya China malah

mengalami bencana banjir yang mengagalkan produksi pangan tahun ini. Dengan jumlah penduduk yang demikian besarnya, terpaksa China harus menambah volume impor pangannya, juga untuk mengantisipasi permintaan dalam negerinya. Kebijakan yang di luar kelaziman kedua negara ini saja mampu mengganggu keseimbangan suplai dan demand pangan global. Jadinya semua negara, termasuk negara-negara kecil melakukan ancang-ancang kebijakan keamanan pangan yang sama. Suplai pangan global terganggu dan dampak nya inflasi dan ancaman krisis pangan global. Pergeseran Dimensi Krisis Ada hal menarik dari isu krisis pangan kali ini. Faktor pemicunya bukan saja akibat tekanan penduduk dan juga bukan saja karena masalah pemanasan global. Tetapi terjadi karena kombinasi tekanan antara kedua faktor yang dimaksud dan memberikan tekanan baru dengan format yang lebih kompleks. Cara menggantisipasinya juga tidak bisa lagi berupa kebijakan berdimensi tunggal seperti kebijakan pelipatgandaan produksi pangan yang terjadi dalam tiga dasawarsa terakhir. Sudah diperlukan adanya pendekatan kebijakan yang lebih kompleks dengan mempertimbangan faktor tekanan penduduk dan anomali iklim akibat pemanasan global. Ini baru kombinasi dua faktor dengan tekanan yang lebih berat. Dapat diibayangkan bagaimana rumitnya pemerintah berbagai negara di dunia harus melakukan format ulang kebijakan keamanan pangannya jika yang menjadi determinan faktornya adalah kombinasi dari tiga atau lebih faktor. Seperti contohnya faktor krisis energi, faktor kelangkaan erable land, faktor munculnya sejumlah besar konsumen klas menengah dengan konsumsi tinggi, faktor peperangan (terorisme), dsb. Sejumlah negara Eropa dan Amerika sudah mengantisipasi nya dengan kebijakan biofuelnya, ditambah dengan upaya menimbun stok pangan dalam negerinya bahkan untuk beberapa tahun ke depan. China sudah lama menerapkan kebijakan satu anak dan sejauh ini tergolong berhasil. Disamping itu China saat ini juga dikenal sebagai salah satu negara lumbung pangan dunia. Israel telah lama menerapkan praktek pertanian dengan sistem pemanfaatan air yang sangat efisien bahkan pemanfaatan potensi air laut dan berhasil melakukan ekspor pangan. Untuk Indonesia, keberhasilan menekan pertambahan penduduk melalui program KB saat ini hanya meninggalkan cerita indah bagi gerenasi baru. Ikut-ikutan mengagas pemanfaatan energi alternatif sejauh ini belum ada cerita keberhasilan yang menarik untuk didengar. Yang terakhir, saat menghadapi ancaman krisis pangan global kali ini pemerintah Indonesia menanggapi nya dengan menyatakan bahwa Indonesia berada dalam keadaan aman dilihat dari cadangan pangan nasional. Walaupun keadaan aman yang dimaksud hanya mampu bertahan untuk paling lama 6 bulan ke depan dengan cadangan pangan sekitar 1.4 juta ton.

Memang pemerintah sedang mengembangkan program extensifikasi tanaman pangan secara besar-besaran, khususnya di Merauke dan daerah potensi lainnya. Pengembangan kawasan pangan dalam skala luas atau food estate di Kabupaten Merauke, Papua diperkirakan memerlukan investasi sekitar Rp50 triliun hingga Rp60 triliun dengan luas potensil sekitar 200.000 hektare dan tambahan produksi padi (beras) mencapai satu juta ton Tapi sebagaimana dijelaskan di atas, rancangan kebijakan keamanan pangan tidak bisa hanya berdimensi tunggal, apa lagi itu ditangani secara sektoral. Indonesia memerlukan adanya suatu ancangan kebijakan yang lebih komprehensif guna mengatasi isu ancaman krisis pangan yang juga berdimensi jamak. b. Isu Kekurangan Sumber Air Bersih Sejak dahulu, air diakui sebagai sumber kehidupan. Air banyak dimanfaatkan manusia untuk berbagai keperluan, khususnya digunakan untuk minum. Oleh karena itu, ketersediaan air bersih merupakan suatu keharusan bagi penduduk di seluruh wilayah dunia. Dengan semakin meningkatnya jumlah penduduk dunia khususnya Indonesia, jumlah kebutuhan akan air bersih juga semakin meningkat pula. Tetapi, pada kenyataannya, saat ini sumber air bersih semakin berkurang. Berkurangnya ketersediaan air bersih ini memicu munculnya berbagai macam penyakit. Hal ini dikarenakan, semakin banyak masyarakat yang terpaksa menggunakan air yang telah tercemar untuk kebutuhan mereka sehari-hari. Selain memicu timbulnya berbagai macam penyakit, kelangkaan air bersih juga menjadikan orang menghabiskan banyak waktu serta dana demi mendapatkan air tersebut. Terjadinya kelangkaan air bersih selain disebabkan oleh bertambahnya jumlah penduduk juga disebabkan oleh adanya perubahan iklim yang tidak menentu, kekeringan panjang, dan banjir yang sering sekali terjadi akhir-akhir ini. Badan pusat statistik (BPS) memprediksi pada tahun 2015 jumlah penduduk Indonesia melonjak menjadi 24,7 juta jiwa. Jumlah tersebut mengakibatkan pemenuhan kebutuhan air meningkat menjadi 9.391 miliar m3 atau naik sekitar 47% dari tahun 2000. Sedangkan kenyataannya, ketersediaan air bersih cenderung menurun setiap tahunnya. Di pulau jawa misalnya, ketersediaan air hanya 1.750 m3 per kapita per tahun. Jika hal ini tidak ditanggulangi, dipastikan Indonesia akan mengalami kelangkaan air bersih pada tahun 2020. Keadaan ini sangat ironis mengingat Indonesia termasuk 10 negara yang kayaa kan sumber air. c. Isu Polusi/Pencemaran Polusi atau pencemaran lingkungan hidup adalah masuknya atau dimasukkannya makhluk hidup, zat, energy, dan atau komponen lain ke dalam lingkungan hidup oleh kegiatan manusia sehingga kualitasnya turun sampai ke tingkat tertentu yang menyebabkan lingkungan hidup tidak dapat berfungsi sesuai denngan peruntukannya.

Menurut tempat terjadinya, pencemaran dapat digolongkan menjadi tiga, yaitu pencemaran udara, air, tanah. Pencemar udara dapat berupa gas dan partikel. Contohnya, gas , , dan batu bara. Polusi air dapat disebabkan oleh beberapa jenis pencemar, antara lain pembuangan limbah industri, sisa insektisida, dan pembuangan sampah domestik, sampah organik, dan fosfat. Pencemaran tanah disebabkan oleh beberapa jenis pencemar, seperti sampah-sampah plastik yang sukar hancur, botol, karet sintesis, pecahan kaca, dan kaleng ; detergen yang bersifat nonbiodegradable (secara alami sulit diuraikan) dan zat kimia dari buangan pertanian, misalnya insektisida. Polusi suara disebabkan oleh suara bising kendaraan bermotor, kapal terbang, deru mesin pabrik, radio atau tape recorder yang berbunyi keras sehingga mengganggu pendengaran. Salah satu penyebab polusi udara di Indonesia saat ini adalah seringnya terjadi kebakaran hutan. Kebakaran hutan yang sering terjadi adalah di hutan-hutan Sumatera dan Kalimantan. Kebakaran hutan merupakan bencana yang setiap tahun terus terjadi. Kebakaran hutan skala besar adalah fenomena yang menjadi sebuah kecenderungan yang rutin dalam 20 tahun terakhir. Dampak buruk kebakaran hutan amat terasa. Polusi udara melanda di kota-kota sekitar hutan. Kebakaran hutan di Riau menyebabkan penduduknya mulai merasakan mata perih dan berkurangnya jarak pandang karena kabut asap. Disamping itu, ancaman penyakit ISPA mulai beredar. Polusi udara akibat kebakaran hutan di Indonesia juga berdampak bagi masyarakat luar, yaitu penduduk Malaysia dan Singapura. d. Perubahan Iklim Sumber energi fosil (minyak bumi, batu bara, dan gas alam) yang dihasilkan oleh banyak pembangkit energi mengakibatkan terjadinya pencemaran udara. Hal ini karena pembangkit tersebut mengeluarkan gas dan zat-zat pencemar, seperti gas sulfurdioksida(SO2) dan gas-gas rumah kaca (GRK) seperti karbondioksida (CO2). Banyak penelitian menyebutkan bahwa GRK telah memicu terjadinya pemanasan global akibat adanya efek rumah kaca. Efek rumah kaca ini di sebabkan oleh GRK yang terkumpul di atmosfer yang kemudian membentuk selubungyang menghalangi radiasi matahari yang di pantulkan bumi sehingga tidak dapat lepas ke atmosfer. Efek rumah kaca ini di sebabkan oleh beradaan CO2, CFC, metana, ozon, dan N2O di lapisan troposfer yang menyerap radiasi sinar matang dipantulkan oleh permukaan bumi. Akibatnya, panas terperangkap dalam lapisan troposfer dan menimbulkan fenomena pemanasan global di bumi. Lebih lanjut, pemanasan global telah memicu terjadinya perubahan iklim (climate change).Perubahan iklim mengakibatkan adanya perubahan perubahan yang tidak terkira sebelumnya,seperti peningkatan suhu,

melelehnya gunung es, permukaan air laut naik, banyaknya banjir danbadai, serta musim panas yang semakin panjang. Perubahan perubahan iklim yang ekstrem ini dapat mengancam kehidupan manusia dibumi. Ancaman tersebut antara lain : 1. Panasnya suhu menimbulkan makin banyaknya wabah penyakit endemik seperti leptospirosis, demam berdarah, diare dan malaria. 2. Wilayahwilayah pesisir dan pulaupulau kecil terancam tenggelam oleh naiknya air laut. 3. Maraknya banjir dan badai topan yang sewaktuwaktu melanda pemukiman manusia. 4. Berkurangnya ketersediaan air bersih karena kekeringan dalam jangka waktu lama. 5. Kegagalan panen karena cuaca yang tidak mendukung. 3. Hakikat isu tentang kemanusiaan Istilah kemanusiaan berasal dari kata manusia yang mendapat tambahan awalan ke- dan akhiran -an sehingga menjadikan kata benda abstrak. Manusia merujuk pada kata benda konkret, sedangkan kemanusiaan merupakan kata benda abstrak. Dengan demikian, kemanusiaan tidak dapat dipisahkan dari manusia. Kemanusiaan berarti hakikat dan sifat-sifat khas manusia sebagai makhluk yang tinggi harkat dan martabatnya. Kemanusiaan menggambarnya ungkapan akan hakikat dan sifat yang seharusnya dimiliki oleh manusia. Manusia sebagai makhluk yang hidup tentunya tidak dapat terlepas dari masalah atau isu-isu yang terjadi pada kehidupannya. Sebuah atau isu krisis kemanusiaan (atau "bencana kemanusiaan") adalah suatu peristiwa atau serangkaian peristiwa yang merupakan ancaman penting bagi keselamatan keamanan, kesehatan, atau kesejahteraan suatu komunitas atau kelompok besar orang lainnya, biasanya di wilayah yang luas. Isu-isu tersebut dapat berupa kemiskinan, konflik atau perang, dan wabah penyakit. Hakikat isu tentang kemanusiaan berarti krisis kemanusiaan atau bencana yang mengancam kehidupan manusia. Isu-isu tentang kemanusiaan ini harus mendapat perhatian yang serius agar dapat teratasi secara baik dan maksimal. Berikut akan kami bahas mengenai isu-isu tentang kemanusiaan tersebut: a. Kemiskinan Kemiskinan merupakan masalah global yang sering dihubungkan dengan kebutuhan, kesulitan, dan kekurangan di berbagai keadaan hidup. Kemiskinan dapat dipahami dalam berbagai cara. Pemahamannya mencakup : 1. Gambaran akan kekurangan materi, yang biasa mencakup kebutuhan pangan sehari-hari, sandang, perumahan, dan pelayanan kesehatan.

Kemiskinan dalam arti ini dipahami sebagai situasi kelangkaan barangbarang dan pelayanan dasar. 2. Gambaran tentang kebutuhan sosial, termasuk keterkucilan sosial, ketergantungan, dan ketidakmampuan untuk berpartisipasi dalam masyarakat. Hal ini termasuk pendidikan dan informasi. Keterkucilan sosial biasanya dibedakan dari kemiskinan, karena hal ini mencakup masalah-masalah politik dan moral, dan tidak dibatasi pada bidang ekonomi. 3. Gambaran tentang kurangnya penghasilan dan kekayaan yang memadai. Makna memadai disini sangat berbeda-beda, melintasi bagian-bagian politik dan ekonomi di seluruh dunia. 4. Kemiskinan pendudu dunia kebanyakan terdapat di Negara-negara berkembang. Istilah Negara berkembang biasanya digunakan untuk merujuk kepada Negara-negara yang miskin. Misalnya, Negara-negara di kawasan Asia Selatan, seperti India dan Bangladesh. Kawasan Negara miskin lainnya adalah Negara-negara di kawasan Afrika, seperti Sudan, Rwanda, dan Mali. Kemiskinan tampak menjadi problema serius yang harus segera ditangani. Saat ini, masih lebih dari 1 miliar warga dunia hidup dengan pendapatan dibawah 1 dollar sehari. Indonesia sebagai Negara berkembang tidak luput dari ancaman kemiskinan meskipun presentase penduduk miskin semakin berkurang. Setiap tahun, namun jumlah penduduk miskin semakin besar karena bertambahnya jumlah penduduk Indonesia. Berdasrkan data BPS tahun 2006, pada periode 1996-1999, jumlah penduduk miskin meningkat sebesar 13,96 juta karena krisis ekonomi, yaitu dari 34,01 juta pada tahun 1996 menjadi 47,97 juta pada tahun 1999. Persentase penduduk miskin meningkat dari 17,47% menjadi 23,43% pada periode yang sama. Pada periode 1999-2002 terjadi penurunan jumlah penduduk miskin sebesar 9,57 juta, yaitu dari 47,97 juta pada tahun 1999 menjadi 38,40 juta pada tahun 2002. Secara relatife juga terjadi penurunan presentase penduduk miskin dari 23,43% pada tahun 1999 menjadi 18,20% pada tahun 2002. Penurunan jumlah penduduk mikskin juga terjadi pada periode 2002-2005 sebesar 3,3 juta, yaitu dari 38,40 juta pada tahun 2002 menjadi 15,97% pada tahun 2005. Presentase penduduk miskin antara daerah perkotaan dan pedesaan tidak banyak berubah. Pada bulan Februari 2005, sebagian besar (64,67%) penduduk miskin berada di daeerah pedesaan, sementara pada bulan Maret 2006 presentase ini turun sedikit menjadi 63,41% b. Konflik atau Perang Konflik berasal dari bahasa latin, yaitu Configere yang berarti saling memukul. Secara sosiologis, konflik diartikan sebagai suatu proses sosial antara dua orang atau lebih (bisa juga kelompok) dimana salah satu pihak

berusaha menyingkirkan pihak lain dengan menghancurkan atau membuatnya tidak berdaya. Konflik dilatarbelakangi oleh perbedaan ciri ciri yang dibawa individu dalam suatu interaksi. Perbedaan tersebut diantaranya adalah menyangkut ciri fisik, kepandaian, pengetahuan, adat istiadat, keyakinan dan lain sebagainya. Dengan dibawasertanya ciri-ciri individual dalam interaksi sosial, konflik merupakan situasi yang wajar dalam setiap masyarakat dan tidak satu masyarakat pun yang tidak pernah mengalami konflik antar anggotanya atau dengan kelompok masyarakat lainnya, konflik hanya akan hilang bersamaan dengan hilangnya masyarakat itu sendiri. Konflik bertentangan dengan integrasi. Konflik dan Integrasi berjalan sebagai sebuah siklus di masyarakat. Konflik yang terkontrol akan menghasilkan integrasi. sebaliknya, integrasi yang tidak sempurna dapat menciptakan konflik. Konflik social ( termasuk konflik politik ) adalah sebuah fenomena social penting yang memerlukan penyelesaian konflik. Konflik social juga merupakan fenomena yang mempengaruhi pembuatan keputusan. Semakin hebat konflik, semakin sulit membuat keputusan yang mengikat semua pihak. Konflik dalam derajat tinggi, yaitu perang antar manusia itulah yang mengancam sendi-sendi kehidupan manusia. Perang hanya menyisakan beragam penderitaan, kesengsaraan, kehancuran, dan kehilangan segalanya. Namun, anehnya kehidupan umat manusia sejak masa lalu sampai sekarang tidak pernah sepi dari kasus-kasus peperangan. Umat manusia di dunia ini telah merasakan betapa kejamnya perang dunia I maupun perang dunia II. Perang Dunia I telah menyebabkan lebih dari 9 juta jiwa meninggal di medan perang. Hampir sebanyak itu juga jumlah warga sipil yang meninggsl akibat kekurangan makanan, kelaparan, pembunuhan missal, dan terlibat secara tak sengaja dalam suatu pertempuran. Perang Dunia II adalah peperangan yang paling meluas dan mengakibatkan kerusakan paling banyak dalam sejarah dunia modern. Perang Dunia II telah mengorbankan sekitar 50 juta nyawa. Setelah era perang dingin usai, dunia ternyata tidak segera aman dan damai, tetepi justru muncul konflik atau perang dalam skala kecil yang tersebar di banyak wilayah. Banyak konflik yang terjadi karena perbedaan ras dan etnis, seperti konflik Bosnia-Kroasia, konflik di Rwanda, konflik di Kazakhstan, dan konflik di Darfur, Sudan. Konflik juga masih saja berkecambuk di Timur Tengah. Dengan demikian, konflik dan perang telah menyebabkan tragedy kemanusiaan yang luar biasa yang disebabkan oleh ulah manusia itu sendiri. c. Wabah Penyakit Wabah adalah kejadian berjangkitnya suatu penyakit menular dalam masyarakat yang jumlah penderitanya meningkat secara nyata, melebihi

dari keaaan yang lazim pada waktu dan daerah tertentu serta dapat menimbulkan malapetaka. Sumber penyakit dapat berasal dari manusia, hewan, tumbuhan, dan benda-benda yang mengandung bibit penyakit, serta dapat menimbulkan wabah. Penyakit yang mewabah sekarang ini dapat dengan sangat cepat menyebar menembus batas-batas wilayah dan negara, hal ini disebut dengan istilah globalisasi penyakit. Yang merupakan dampak negatif dari semakin capatnya pergerakan manusia, hewan, tumbuhan dan barangbarang yang dibawa. Penyakit yang menyebar dewasa ini semakin banyak dan beragam contohnya antara lain virus polio, sindrom pernafasan akut (SARS), AIDS, Flu burung, sapi gila, penyakit mulut dan kuku, demam berdarah dan ebola. Selain penyakit infeksi, penyakit modern juga muncul akibat perubahan gaya hidup. Penyakit ini kini juga menjadi penyakit yang mengglobal. Penyakit gaya hidup juga tidak mengenal batasan negara dan status ekonomi. Contoh dari penyakit ini antara lain serangan jantung, darah tinggi, depresi, stroke dan obesitas pada anak-anak. Penyakit tersebut pada mulanya muncul di negara-negara maju namun saat ini juga melanda negara-negara industri baru di Asia. Wabah penyakit yang menimpa umat manusia dari dahulu hingga sekarang sampai dengan masa depan tetap merupakan ancaman terhadap kelangsungan hidup, selain itu, dapat membahayakan kesehatan masyarakat, mengakibatkan hambatan dalam pelaksanaan pembangunan nasional, menurunkan tingkat produktivitas manusia dalam bekerja dan berpengaruh terhadap pendapatan, disisi lain pendapatan yang diperoleh akan banyak dikeluarkan untuk biaya pengobatan. Sehingga pada akhirnya timbulnya penyakit bisa berpengaruh terhadap tingkat ekonomi masyarakat.

DAFTAR PUSTAKA

Hariyono. 1996. Pemahaman Kontekstual Tentang Ilmu Budaya Dasar. Yogyakarta: Kanisius Herminanto. 2011. Ilmu Sosial Bidaya Dasar. Jakarta: Bumi Aksara Supartono W, Drs. 2004. Ilmu Budaya Dasar. Jakarta: Ghalia Indonesia