Anda di halaman 1dari 6

BAB II Tinjauan Pustaka 2.

1 Teras Teras adalah bangunan konservasi tanah dan air yang dibuat dengan penggalian dan pengurugan tanah, membentuk bangunan utama berupa bidang olah, guludan, dan saluran air yang mengikuti kontur serta dapat pula dilengkapi dengan bangunan pelengkapnya seperti saluran pembuangan air (SPA) dan terjunan air yang tegak lurus kontur. (Yuliarta et al., 2002). Sedangkan menurut Sukartaatmadja (2004), teras adalah bangunan konservasi tanah dan air secara mekanis yang dibuat untuk memperpendek panjang lereng dan atau memperkecil kemiringan lereng dengan jalan penggalian dan pengurugan tanah melintang lereng. Tujuan pembuatan teras adalah untuk mengurangi kecepatan aliran permukaan (run off) dan memperbesar peresapan air, sehingga kehilangan tanah berkurang. Teras berfungsi mengurangi panjang lereng dan menahan air, sehingga mengurangi kecepatan dan jumlah aliran permukaan, dan memungkinkan penyerapan air oleh tanah. Dengan demikian erosi berkurang. (Arsyad, 1989). Menurut Yuliarta et al (2002), manfaat teras adalah mengurangi kecepatan aliran permukaan sehingga daya kikis terhadap tanah dan erosi diperkecil, memperbesar peresapan air ke dalam tanah dan menampung dan mengendalikan kecepatan dan arah aliran permukaan menuju ke tempat yang lebih rendah secara aman.

2.2 Teras Guludan Teras guludan adalah suatu teras yang membentuk guludan yang dibuat melintang lereng dan biasanya dibuat pada lahan dengan kemiringan lereng 10 15 %. Sepanjang guludan sebelah dalam terbentuk saluran air yang landai sehingga dapat menampung sedimen hasil erosi. Saluran tersebut juga berfungsi untuk mengalirkan aliran permukaan dari bidang olah menuju saluran pembuang air. Kemiringan dasar saluran 0,1%. Teras guludan hanya dibuat pada tanah yang bertekstur lepas dan permeabilitas tinggi. Jarak antar teras guludan 10 meter tapi

pada tahap berikutnya di antara guludan dibuat guludan lain sebanyak 3 5 jalur dengan ukuran lebih kecil. (Sukartaatmadja, 2004)

Gambar 1. Persyaratan Teknis teras Guludan Sedangkan menurut Priyono et. al. (2002), teras guludan adalah bangunan konservasi tanah berupa guludan tanah dan selokan / saluran air yang dibuat sejajar kontur, dimana bidang olah tidak diubah dari kelerengan permukaan asli. Di antara dua guludan besar dibuat satu atau beberapa guludan kecil. Teras ini dilengkapi dengan SPA sebagai pengumpul limpasan dan drainase teras.

Gambar 2. Penampang Teras Guludan

Pembuatan teras guludan adalah: (a) persiapan lapangan dengan pemancanganm patok-patok menurut garis kontur dengan menggunakan ondolondol dan atau waterpass sederhana. Jarak patok dalam baris 5 m dan jarak antar baris rata-rata 10 m (sama dengan jarak antara dua guludan), (b) pembuatan selokan teras dilakukan dengan menggali tanah mengikuti arah larikan patok. Ukuran selokan teras: dalam 30 cm, lebar bawah 20 cm, dan lebar atas 50 cm, (c) tanah hasil galian pada pembuatan selokan teras ditimbunkan di tepi luar (bagian bawah saluran) sehingga membentuk guludan dengan ukuran: lebar atas 20 cm, lebar bawah 50 cm dan tinggi 30 cm. Guludan dan selokan dibuat tegak lurus garis kontur. Pembuatan teras dimulai dari bagian atas lereng, (d) penenaman tanaman penguat teras pada guludan, dapat berupa jenis kayu-kayuan yang ditanam dengan jarak 50 cm bila menggunakan stek / stump, atau ditabur jika menggunakan benih/biji, dan jarak tanam 30 50 cm jika menggunakan jenis rumput. Pemeliharaan yang harus dilakukan terhadap teras guludan yang dibuat adalah: (a) mengeruk tanah akibat erosi yang menimbun selokan teras untuk digunakan memperbaiki guludan, (b) memperbaiki guludan dan memelihara tanaman penguat teras. Teras gulud adalah teras yag ibuat dengan menggali saluran dan membuat guludan menurut kontur. Saluran dan guludan berfungsi untuk menampung dan menghambat aliran permukaan, sehingga dapat mengurangi erosi pada pertanian lahan kering bertopografi miring. Teras gulud pada umumnya dibangun pada lahan dengan kemiringan lereng < 15%. Dengan waktu, saluran akan terisi sedimen, sehingga efektivitas untuk menampung dan menghambat aliran permukaan berkurang. Bila aliran permukaan melimpah di atas guludan (overtopping), guludan akan rusak. Namun pemeliharaan saluran teras gulud cukup sulit dilakukan karena saluran cepat penuh terisi oleh longsornya dinding saluran dan sedimen halus yang tersangkut oleh aliran permukaan.

Pemanfaatan sisa tanaman sebagai mulasa vertikal untuk mengisi saluran teras gulud dapat mempunyai manfaat ganda, antara lain : 1. Mencegah longsornya dinding saluran serta melindungi permukaan resapan dari tumbukan air hujan dan penyumbatan pori oleh sedimen halus. 2. Dapat menghindari kemungkinan penularan hama dan penyakit tanaman yang ada pada sisa tanaman . 3. Aktivitas organisme yang membantu proses pelapukan sisa tanaman bahkan dapat memperbaiki kondisi fisik tanah sekitar saluran dan meningkatkan laju peresapan air dalam saluran melalui biopori yang dibentuk oleh fauna tanah (terutama cacing tanah). 4. Campuran kompos dan sedimen yang tertampung dalam saluran cukup gembur sehingga mudah diangkat dari saluran untuk dikembalikan ke bidang pertanaman setelah panen. 5. Saluran yang sudah dikosongkan dapat digunakan untuk

mengumpulkan dan mengomposkan sisa tanaman sehingga dapat memudahkan persiapan lahan untuk musim tanam berikutnya. Teras gulud adalah barisan guludan yang dilengkapi dengan saluran air di bagian belakang gulud. Metode ini dikenal pula dengan istilah guludan bersaluran. Bagian-bagian dari teras gulud terdiri atas guludan, saluran air, dan bidang olah (Gambar 2).

Gambar 2. Sketsa penampang samping teras gulud. Fungsi dari teras gulud hampir sama dengan teras bangku, yaitu untuk menahan laju aliran permukaan dan meningkatkan penyerapan air ke dalam tanah. Saluran air dibuat untuk mengalirkan aliran permukaan dari bidang olah ke saluran pembuangan air. Untuk meningkatkan efektivitas teras gulud dalam menanggulangi erosi dan aliran permukaan, guludan diperkuat dengan tanaman penguat teras. Jenis tanaman yang dapat digunakan sebagai penguat teras bangku juga dapat digunakan sebagai tanaman penguat teras gulud. Sebagai kompensasi dari kehilangan luas bidang olah, bidang teras gulud dapat pula ditanami dengan

tanaman bernilai ekonomi (cash crops), misalnya tanaman katuk, cabai rawit, dan sebagainya. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pembuatan teras gulud: (1) Teras gulud cocok diterapkan pada lahan dengan kemiringan 10-40%, dapat juga pada lahan dengan kemiringan 40-60% namun relatif kurang efektif. (2) Pada tanah yang permeabilitasnya tinggi, guludan dapat dibuat menurut arah kontur. Pada tanah yang permeabilitasnya rendah, guludan dibuat miring terhadap kontur, tidak lebih dari 1% ke arah saluran pembuangan. Hal ini ditujukan agar air yang tidak segera terinfiltrasi ke dalam tanah dapat tersalurkan ke luar ladang dengan kecepatan rendah.

DAFTAR PUSTAKA Anonim. Teras. http://bebasbanjir2025.wordpress.com/teknologi-pengendalianbanjir/teras-2/ di akses pada tanggal 24 Maret 2012 pukul 13:51 WIB Anonim. Konservasi tanah dan air. http://www.slideshare.net/IBSetiawan/modulkonservasi-tanah di akses pada tanggal 24 Maret 2012 pukul 14:19 WIB Anonim. Ragam berbagai teknik konversi tanah. http://revinoc85.blogspot.com/2010/05/ragam-berbagai-teknik-konservasitanah.html di akses pada tanggal 24 Maret 2012 pukul 14:21 WIB Anonim. Penanganan erosi lereng. http://www.banyuke.com/2011/05/penanganan-erosi-lereng-melaluimetode.html di akses pada tanggal 24 Maret 2012 pukul 14:32 WIB