Anda di halaman 1dari 3

Interaksi Genetik dan Lingkungan pada Ternak

Produktivitas seekor ternak dipengaruhi oleh faktor genetik atau keturunan dan faktor lingkungan. Semua orang yang berkecimpung dalam dunia peternakan pasti sudah mengetahui bahwa Penotipe = Genotipe + Lingkungan, atau biasanya disingkat dengan P = G + E. Dan jika terdapat interaksi antara faktor genetik dengan faktor lingkungan maka ditulis sebagai P = G + E + GE. Faktor genetik merupakan faktor keturunan yang dibawa sejak lahir dan bersifat tetap, sedangkan faktor lingkungan merupakan kesempatan atau peluang untuk memaksimalkan peran faktor genetik yang dimilikinya dan bersifat tidak tetap atau bisa berubah dari waktu ke waktu. Yang termasuk faktor lingkungan meliputi makanan, manajemen serta lingkungan hidup di mana ternak dipelihara (Anonymous, 2012). Fenotip ditentukan sebagian oleh genotip individu, sebagian oleh lingkungan tempat individu itu hidup, waktu, dan pada sejumlah sifat, interaksi antara genotip dan lingkungan. Waktu biasanya digolongkan sebagai aspek lingkungan (hidup) pula (Rahadi, 2010). Genotipe ditentukan sewaktu terjadi pembuahan (fertilisasi) dan akan tetap selama hidupnya, kecuali jika terjadi mutasi. Fenotipe merupakan kombinasi dari faktor genetik dan faktor lingkungan. Adanya keragaman fenotipe dari sifat-sifat dalam populasi disebabkan oleh faktor genetik (G), lingkungan (L) dan interaksi genetik dengan ligkungan (IGL). Faktor genetik ditentukan oleh susunan gen dan kromosom yang dimiliki individu dari orang tuanya. Faktor lingkungan dapat dikatakan sebagai kesempatan yang dimiliki individu, yang meliputi faktor nongenetik antara lain pakan, suhu, penyakit, tatalaksana, kecelakaan dan lainnya. Interaksi faktor genetik dan lingkungan dapat diartikan ternak dengan genotipe tertentu lebih adaptif pada suatu lingkungan dibandingkan dengan lingkungan yang lain (Rusfidra, 2006). Pada hasil penelitian Kamayanti, dkk (2006) tentang interaksi genetik dan lingkungan pada pejantan sapi perah, pejantan unggul di suatu lingkungan tertentu dapat tidak unggul pada lingkungan yang berbeda, dikarenakan adanya faktor interaksi genetik dan lingkungan dalam mempengaruhi sifat pewarisan produksi susu. Berdasarkan nilai cummulative difference akhir yang dibandingkan dengan peringkat berdasarkan nilai pemuliaan dalam katalog, memperlihatkan terjadi perubahan peringkat pejantan yang diimpor dari Jepang setelah digunakan di BPTU Baturraden dan peternakan binaan.Ditinjau dari nilai cummulative difference akhir dapat dikatakan bahwa terjadi perubahan urutan pejantan

setelah digunakan di BPTU Baturraden dan peternakan binaannya. Hal ini mengindikasikan adanya pengaruh interaksi antara faktor genetik dengan lingkungan yang menyebabkan perubahan peringkat pejantan dalam mewariskan sifat produksi susu pada keturunannya di daerah tropis Indonesia, khusunya pada Kecamatan Banyumas, Jawa Tengah. Sesuai dengan penelitian Sitorus dan Subandrio dalam Kamayanti (2006) bahwa pejantan yang superioritasnya tertinggi di negara asalnya tidak dengan sendirinya menjadi pejantan yang memiliki superioritas tertinggi. Hal ini dapat terjadi karena lingkungan serta manajemen dimana ternak berada sangat berbeda.

Sumber : Anonym. 2012. Pengaruh Faktor Genetik pada Performa Ternak.

http://peternakan.fp.unib.ac.id/. Kamayanti, Y. dkk. 2006. Pemeriksaan Interaksi Genetik dan Lingkungan dari Daya Pewarisan Produksi Susu Pejantan Friesian-Holstein Impor yang Dipakai sebagai Sumber Bibit pada Perkawinan IB. http://repository.ipb.ac.id/. Rahadi, Syam. 2010. Pengantar Ilmu Pemuliaan. http://ilmuternak.wordpress.com/. Rusfidra, A. 2006. Dasar Fisiologis Pewarisan Sifat. http://rusfidra.multiply.com/.

INTERAKSI GENOTIP DAN LINGKUNGAN PADA TERNAK


Tugas Terstruktur Mata Kuliah Pemuliaan Ternak Oleh Kelompok 7 : Mulia Ibrahim A. Arimbi Aristya Tito Pramudya A. Julya Masyita Sari 105050100111050 105050100111053 105050100111054 105050100111057

FAKULTAS PETERNAKAN UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG 2012