Anda di halaman 1dari 40

tode Pengumpulan Data Penelitian Kualitatif Written by Prof. Dr. H. Mudjia Rahardjo, M.

Si Friday, 10 June 2011 02:25 (Materi Kuliah Metodologi Penelitian PPs. UIN Maliki Malang)

A. Pengantar

Pengumpulan data merupakan salah satu tahapan sangat penting dalam penelitian. Teknik pengumpulan data yang benar akan menghasilkan data yang memiliki kredibilitas tinggi, dan sebaliknya. Oleh karena itu, tahap ini tidak boleh salah dan harus dilakukan dengan cermat sesuai prosedur dan ciri-ciri penelitian kualitatif (sebagaimana telah dibahas pada materi sebelumnya). Sebab, kesalahan atau ketidaksempurnaan dalam metode pengumpulan data akan berakibat fatal, yakni berupa data yang tidak credible, sehingga hasil penelitiannya tidak bisa dipertanggungjawabkan. Hasil penelitian demikian sangat berbahaya, lebih-lebih jika dipakai sebagai dasar pertimbangan untuk mengambil kebijakan publik. Misalnya, jika peneliti ingin memperoleh informasi mengenai persepsi guru terhadap kurikulum yang baru, maka teknik yang dipakai ialah wawancara, bukan observasi. Sedangkan jika peneliti ingin mengetahui bagaimana guru menciptakan suasana kelas yang hidup, maka teknik yang dipakai adalah observasi. Begitu juga jika, ingin diketahui mengenai kompetensi siswa dalam matapelajaran tertentu, maka teknik yang dipakai adalah tes, atau bisa juga dokumen berupa hasil ujian. Dengan demikian, informasi yang ingin diperoleh menentukan jenis teknik yang dipakai (materials determine a means). Itu pun masih ditambah dengan kecakapan peneliti menggunakan teknik-teknik tersebut. Bisa saja terjadi karena belum berpegalaman atau belum memiliki pengetahuan yang memadai, peneliti tidak berhasil menggali informasi yang dalam, sebagaimana karakteristik data dalam penelitian kualitatif, karena kurang cakap menggunakan teknik tersebut, walaupun teknik yang dipilih sudah tepat. Solusinya terus belajar dan membaca hasil-hasil penelitian sebelumnya yang sejenis akan sangat membantu menambah kecakapan peneliti. Penggunaan istilah data sebenarnya meminjam istilah yang lazim dipakai dalam metode penelitian kuantitatif yang biasanya berupa tabel angka. Namun, di dalam metode penelitian kualitatif yang dimaksudkan dengan data adalah segala informasi baik lisan maupun tulis, bahkan bisa berupa gambar atau foto, yang berkontribusi untuk menjawab masalah penelitian sebagaimana dinyatakan di dalam rumusan masalah atau fokus penelitian. Di dalam metode penelitian kualitatif, lazimnya data dikumpulkan dengan beberapa teknik pengumpulan data kualitatif, yaitu; 1). wawancara, 2). observasi, 3). dokumentasi, dan 4). diskusi terfokus (Focus Group Discussion). Sebelum masing-masing teknik tersebut diuraikan secara rinci, perlu ditegaskan di sini bahwa hal sangat penting yang harus dipahami oleh setiap peneliti adalah alasan mengapa masing-masing teknik tersebut dipakai, untuk memperoleh informasi apa, dan pada bagian fokus masalah mana yang memerlukan teknik wawancara, mana yang memerlukan teknik observasi, mana yang harus kedua-duanya

dilakukan, dst. Pilihan teknik sangat tergantung pada jenis informasi yang diperoleh.

B. Penjelasan ringkas masing-masing teknik 1. Wawancara Wawancara ialah proses komunikasi atau interaksi untuk mengumpulkan informasi dengan cara tanya jawab antara peneliti dengan informan atau subjek penelitian. Dengan kemajuan teknologi informasi seperti saat ini, wawancara bisa saja dilakukan tanpa tatap muka, yakni melalui media telekomunikasi. Pada hakikatnya wawancara merupakan kegiatan untuk memperoleh informasi secara mendalam tentang sebuah isu atau tema yang diangkat dalam penelitian. Atau, merupakan proses pembuktian terhadap informasi atau keterangan yang telah diperoleh lewat teknik yang lain sebelumnya. Karena merupakan proses pembuktian, maka bisa saja hasil wawancara sesuai atau berbeda dengan informasi yang telah diperoleh sebelumnya. Agar wawancara efektif, maka terdapat berapa tahapan yang harus dilalui, yakni ; 1). mengenalkan diri, 2). menjelaskan maksud kedatangan, 3). menjelaskan materi wawancara, dan 4). mengajukan pertanyaan (Yunus, 2010: 358). Selain itu, agar informan dapat menyampaikan informasi yang komprehensif sebagaimana diharapkan peneliti, maka berdasarkan pengalaman wawancara yang penulis lakukan terdapat beberapa kiat sebagai berikut; 1). ciptakan suasana wawancara yang kondusif dan tidak tegang, 2). cari waktu dan tempat yang telah disepakati dengan informan, 3). mulai pertanyaan dari hal-hal sederhana hingga ke yang serius, 4). bersikap hormat dan ramah terhadap informan, 5). tidak menyangkal informasi yang diberikan informan, 6). tidak menanyakan hal-hal yang bersifat pribadi yang tidak ada hubungannya dengan masalah/tema penelitian, 7). tidak bersifat menggurui terhadap informan, 8). tidak menanyakan hal-hal yang membuat informan tersinggung atau marah, dan 9). sebaiknya dilakukan secara sendiri, 10) ucapkan terima kasih setelah wawancara selesai dan minta disediakan waktu lagi jika ada informasi yang belum lengkap. Setidaknya, terdapat dua jenis wawancara, yakni: 1). wawancara mendalam (in-depth interview), di mana peneliti menggali informasi secara mendalam dengan cara terlibat langsung dengan kehidupan informan dan bertanya jawab secara bebas tanpa pedoman pertanyaan yang disiapkan sebelumnya sehingga suasananya hidup, dan dilakukan berkalikali; 2). wawancara terarah (guided interview) di mana peneliti menanyakan kepada informan hal-hal yang telah disiapkan sebelumnya. Berbeda dengan wawancara mendalam, wawancara terarah memiliki kelemahan, yakni suasana tidak hidup, karena peneliti terikat dengan pertanyaan yang telah disiapkan sebelumnya. Sering terjadi pewawancara atau peneliti lebih memperhatikan daftar pertanyaan yang diajukan daripada bertatap muka dengan informan, sehingga suasana terasa kaku. Dalam praktik sering juga terjadi jawaban informan tidak jelas atau kurang memuaskan. Jika ini terjadi, maka peneliti bisa mengajukan pertanyaan lagi secara lebih spesifik. Selain kurang jelas, ditemui pula informan menjawab tidak tahu. Menurut Singarimbun dan Sofian Effendi (1989: 198-199), jika terjadi jawaban tidak tahu, maka peneliti harus berhati-hati

dan tidak lekas-lekas pindah ke pertanyaan lain. Sebab, makna tidak tahu mengandung beberapa arti, yaitu: 1) informan memang tidak mengerti pertanyaan peneliti, sehingga untuk menghindari jawaban tidak mengerti", dia menjawab tidak tahu. 2) informan sebenarnya sedang berpikir memberikan jawaban, tetapi karena suasana tidak nyaman dia menjawab tidak tahu. 3) pertanyaannya bersifat personal yang mengganggu privasi informan, sehingga jawaban tidak tahu dianggap lebih aman 4) informan memang betul-betul tidak tahu jawaban atas pertanyaan yang diajukan. Karena itu, jawaban tidak tahu" merupakan jawaban sebagai data penelitian yang benar dan sungguh yang perlu dipertimbangkan oleh peneliti.

2. Observasi Selain wawancara, observasi juga merupakan salah satu teknik pengumpulan data yang sangat lazim dalam metode penelitian kualitatif. Observasi hakikatnya merupakan kegiatan dengan menggunakan pancaindera, bisa penglihatan, penciuman, pendengaran, untuk memperoleh informasi yang diperlukan untuk menjawab masalah penelitian. Hasil observasi berupa aktivitas, kejadian, peristiwa, objek, kondisi atau suasana tertentu, dan perasaan emosi seseorang. Observasi dilakukan untuk memperoleh gambaran riil suatu peristiwa atau kejadian untuk menjawab pertanyaan penelitian. Bungin (2007: 115-117) mengemukakan beberapa bentuk observasi, yaitu: 1). Observasi partisipasi, 2). observasi tidak terstruktur, dan 3). observasi kelompok. Berikut penjelasannya: 1) Observasi partisipasi adalah (participant observation) adalah metode pengumpulan data yang digunakan untuk menghimpun data penelitian melalui pengamatan dan penginderaan di mana peneliti terlibat dalam keseharian informan. 2) Observasi tidak terstruktur ialah pengamatan yang dilakukan tanpa menggunakan pedoman observasi, sehingga peneliti mengembangkan pengamatannya berdasarkan perkembangan yang terjadi di lapangan. 3) Observasi kelompok ialah pengamatan yang dilakukan oleh sekelompok tim peneliti terhadap sebuah isu yang diangkat menjadi objek penelitian.

3. Dokumen Selain melalui wawancara dan observasi, informasi juga bisa diperoleh lewat fakta yang tersimpan dalam bentuk surat, catatan harian, arsip foto, hasil rapat, cenderamata, jurnal kegiatan dan sebagainya. Data berupa dokumen seperti ini bisa dipakai untuk menggali

infromasi yang terjadi di masa silam. Peneliti perlu memiliki kepekaan teoretik untuk memaknai semua dokumen tersebut sehingga tidak sekadar barang yang tidak bermakna.

4. Focus Group Discussion Metode terakhir untuk mengumpulkan data ialah lewat Diskusi terpusat (Focus Group Discussion), yaitu upaya menemukan makna sebuah isu oleh sekelompok orang lewat diskusi untuk menghindari diri pemaknaan yang salah oleh seorang peneliti. Misalnya, sekelompok peneliti mendiskusikan hasil UN 2011 di mana nilai rata-rata siswa pada matapelajaran bahasa Indonesia rendah. Untuk menghindari pemaknaan secara subjektif oleh seorang peneliti, maka dibentuk kelompok diskusi terdiri atas beberapa orang peneliti. Dengan beberapa orang mengkaji sebuah isu diharapkan akan diperoleh hasil pemaknaan yang lebih objektif. ----Selamat Mencoba --Malang, 9 Juni, 2011

Daftar Pustaka

Bungin, M. Burhan. 2007. Penelitian Kualitatif: Komunikasi, Ekonomi, Kebijakan Publik, dan Ilmu Sosial Lainnya. Jakarta: Kencana Prenada Media Group. Creswell, John W., Vicki L. Plano Clark. 2007. Designing and Conducting Mixed Methods Research.Thousand Oaks: SAGE Publications Singarimbun, Masri dan Sofian Effendi (ed.). 1989. Metode Penelitian Survai. Jakarta: LP3S Yunus, Hadi Sabari. 2010. Metodologi Penelitian Wilayah Kontemporer. Yogyakarta: Pustaka Pelajar

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Anak merupakan amanah dari Allah Swt, seorang anak dilahirkan dalam keadaan fitrah tanpa noda dan dosa, laksana sehelai kain putih yang belum mempunyai motif dan warna. Oleh karena itu, orang tualah yang akan memberikan warna terhadap kain putih tersebut; hitam, biru hijau bahkan bercampur banyak warna.

Setiap orang tua menginginkan anak-anaknya cerdas, berwawasan luas dan bertingkah laku baik, berkata sopan dan kelak suatu hari anak-anak mereka bernasib lebih baik dari mereka baik dari aspek kedewasaan pikiran maupun kondisi ekonomi. Oleh karena itu, di setiap benak para orang tua bercita-cita menyekolahkan anak-anak mereka supaya berpikir lebih baik, bertingkah laku sesuai dengan agama serta yang paling utama sekolah dapat mengantarkan anakanak mereka ke pintu gerbang kesuksesan sesuai dengan profesinya.[1] Setelah keluarga, lingkungan kedua bagi anak adalah sekolah. Di sekolah, guru merupakan penanggung jawab pertama terhadap pendidikan anak sekaligus sebagai suri teladan. Sikap maupun tingkah laku guru sangat berpengaruh terhadap perkembangan dan pembentukan pribadi anak. Pada perspektif lain, kondisi ekonomi masyarakat tentu saja berbeda, tidak semua keluarga memiliki kemampuan ekonomi yang memadai dan mampu memenuhi segala kebutuhan anggota keluarga. Salah satu pengaruh yang ditimbulkan oleh kondisi ekonomi seperti ini adalah orang tua tidak sanggup menyekolahkan anaknya pada jenjang yang lebih tinggi walaupun mereka mampu membiayainya di tingkat sekolah dasar. Jelas bahwa kondisi ekonomi keluarga merupakan faktor pendukung yang paling besar kelanjutan pendidikan anak-anak., sebab pendidikan juga membutuhkan dana besar. Hampir di setiap tempat banyak anak-anak yang tidak mampu melanjutkan pendidikan, atau pendidikan putus di tengah jalan disebabkan karena kondisi ekonomi keluarga yang memprihatinkan. Kondisi ekonomi seperti ini menjadi penghambat bagi seseorang untuk memenuhi keinginannya dalam melanjutkan pendidikan. Sementara kondisi ekonomi seperti ini disebabkan berbagai faktor, di antaranya orang tua tidak mempunyai pekerjaan tetap, tidak mempunyai keterampilan khusus, keterbatasan kemampuan dan faktor lainnya. Putus sekolah bukan merupakan persoalan baru dalam sejarah pendidikan. Persoalan ini telah berakar dan sulit untuk di pecahkan, sebab ketika membicarakan solusi maka tidak ada pilihan lain kecuali memperbaiki kondisi ekonomi keluarga. Ketika membicarakan peningkatan ekonomi keluarga terkait bagaimana meningkatkan sumber daya manusianya. Sementara semua solusi yang diinginkan tidak akan lepas dari kondisi ekonomi nasional secara menyeluruh, sehingga kebijakan pemerintah berperan penting dalam mengatasi segala permasalahan termasuk perbaikan kondisi masyarakat.[2] Menurut pengamatan sementara, sebagian anak-anak di Kecamatan Jangka mengalami putus sekolah terutama anak-anak yang sedang menempuh pendidikan di tingkat atas. Maka hal yang menjadi rumusan masalah di sini adalah sebagai berikut: 1. Berapa banyak anak putus sekolah di Kecamatan Jangka? 2. Faktor-faktor apa saja yang menyebabkan terjadinya anak putus sekolah di Kecamatan Jangka? 3. Bagaimana sikap orang tua terhadap pendidikan anaknya?

4. Bagaimana cara pembinaan orang tua terhadap anak putus sekolah di Kecamatan Jangka? 5. Bagaimanakah cara masyarakat menanggulangi anak putus sekolah di Kecamatan Jangka? Berdasarkan latar belakang dan rumusan masalah tersebut di atas maka timbullah keinginan penulis untuk mengangkat permasalahan ini dalam sebuah karangan ilmiah (skripsi)dengan menetapkan sebagai judul adalah: Anak Putus Sekolah dan Cara pembinaannya di Kecamatan Jangka Kabupaten Bireuen. B. Penjelasan Istilah Untuk menghindari kekeliruan dan lebih mengarahkan pembaca dalam memahami judul skripsi ini penulis merasa perlu untuk menjelaskan beberapa istilah yang terdapat dalam judul tersebut. Adapun istilah- istilah yang perlu di jelaskan adalah sebagai berikut: 1. Anak Artinya orang atau binatang yang baru di teteskan. Anak adalah turunan kedua sesudah orang yang dilahirkan. Dari pengertian di atas dapat dipahami bahwa anak adalah manusia yang hidup setelah orang yang melahirkannya, anak itu merupakan rahmat Allah kepada manusia yang akan meneruskan cita-cita orang tuanya dan sebagai estafet untuk masa yang akan datang.[3] Adapun anak yang penulis maksudkan dalam skripsi ini adalah anak sebagai keturunan kedua dari sepasang suami istri yang terikat dengan tali pernikahan yang sah yang tidak terlepas dari didikan orang tua baik didikan agama maupun pendidikan umum sehingga anak bisa bersaing dan tercapai cita-citanya. 2. Anak Putus Sekolah Putus sekolah (dalam bahasa Inggris dikenal dengan Putus sekolah) adalah proses berhentinya siswa secara terpaksa dari suatu lembaga pendidikan tempat dia belajar. Anak Putus sekolah yang dimaksud dalam penulisan skripsi ini adalah terlantarnya anak dari sebuah lembaga pendidikan formal, yang disebabkan oleh berbagai faktor, salah satunya kondisi ekonomi keluarga yang tidak memadai. 3. Cara Pembinaannya Cara: 1). Aturan sistem. 2). Gaya, laku, ragam. 3). Adat, resam, kebiasaan. Pembinaan merupakan suatu proses kegiatan yang di lakukan secara berdaya guna memperoleh hasil yang baik.[4] Adapun pembinaan yang dimaksud dalam pembahasan ini adalah suatu usaha untuk pembinaan kepribadian yang mandiri dan sempurna serta dapat bertanggungjawab, atau suatu usaha, pengaruh, perlindungan dalam bantuan yang di berikan kepada anak yang tertuju kepada kedewasaan anak itu, atau lebih cepat untuk membantu anak agar cakap dalam melaksanakan tugas hidup sendiri,

pengaruh itu datangnya dari orang dewasa (diciptakan oleh orang dewasa seperti sekolah, buku pintar hidup sehari-hari, bimbingan dan nasehat yang memotivasinya agar giat belajar), serta di tujukan kepada orang yang belum dewasa. Menurut Yurudik Yahya, pembinaan adalah suatu bimbingan atau arahan yang dilakukan secara sadar dari orang dewasa kepada anak yang perlu dewasa agar menjadi dewasa, mandiri dan memiliki kepribadian yang utuh dan matang kepribadian yang dimaksud mencapai aspek cipta, rasa dan karsa.[5] Istilah pembinaan atau berarti pendidikan yang merupakan pertolongan yang diberikan dengan sengaja oleh orang dewasa kepada anak yang belum dewasa. Selanjutnya pembinaan atau kelompok orang lain agar menjadi dewasa atau mencapai tingkat kehidupan yang lebih tinggi dalam arti mental. Dari penjelasan di atas dapat penulis simpulkan bahwa pembinaan merupakan suatu proses yang di lakukan untuk merubah tingkah laku individu serta membentuk kepribadiannya, sehingga apa yang di cita-citakan dapat tercapai sesuai dengan yang diharapkan. C. Tujuan Penelitian Adapun tujuan yang hendak penulis capai dalam pembahasan ini adalah sebagai berikut: 1. Untuk mengetahui berapa banyak anak putus sekolah di Kecamatan Jangka. 2. Faktor-faktor apa yang menyebabkan anak putus sekolah. 3. Bagaimana sikap orang tua terhadap anak putus sekolah? 4. Bagaimana usaha masyarakat dalam menanggulangi anak putus sekolah di Kecamatan Jangka. D. Postulat dan Hipotesis Bertitik tolak pada latar belakang masalah di atas, maka penulis perlu mengemukakan beberapa postulat yang kedudukannya sebagai dasar pemikiran dalam suatu wilayah. Winarno Surachman mengemukakan bahwa: Anggapan dasar (postulat) yang menjadi tumpuan dasar segala pandangan dan kegiatan terhadap masalah yang dihadapi dalam suatu penelitian. Postulat ini menjadi titik pangkal, di mana dengan adanya postulat ini tidak lagi menjadi keragu-raguan penyelidik.[6] Adapun postulat (anggapan dasar) dalam masalah ini adalah sebagai berikut: 1. Anak-anak wajib memperoleh pendidikan, terutama pada usia 9 (sembilan) sampai 15 (lima belas) tahun, karena sesuai dengan peraturan pemerintah. 2. Tanggung jawab pendidikan anak berada pada tangan orang tua, guru dan masyarakat.

Berdasarkan anggapan dasar di atas, maka yang menjadi hipotesis (dugaan sementara) adalah sebagai berikut: 1. Kebanyakan anak putus sekolah di Kecamatan Jangka disebabkan oleh kurangnya biaya dan kesadaran orang tua dalam menyekolahkan anaknya. 2. Anak putus sekolah di Kecamatan Jangka berdampak negatif dalam masyarakat. 3. Cara pembinaan terhadap anak putus sekolah di Kecamatan Jangka belum optimal. E. Populasi dan Sampel Populasi adalah Keseluruhan objek penelitian, sedangkan sampel adalah sebagian dari populasi yang dapat mewakili keseluruhan populasi yang ada.[7] Adapun yang menjadi populasi dalam penelitian ini adalah seluruh masyarakat yang ada di Kecamatan Jangka yang berjumlah 44 desa dengan jumlah penduduknya 24.208 jiwa, yang terdiri dari 5 (lima) kemukiman dan tingkat putus sekolahnya diambil mulai dari Sekolah Dasar dan Menegah. Berdasarkan populasi di atas maka yang dijadikan sebagai sampel dalam penelitian ini adalah 3 desa yang terdapat dalam Kecamatan Jangka yang mempunyai anak putus sekolah. Sampel yang penulis ambil di sini adalah masing-masing 2 orang dari 3 desa yaitu kepalah desa dan Tgk. Imum Meunasah. Sampel ini dianggap dapat mewakili seluruh populasi dan dapat memberikan data yang penulis perlukan. Tiga desa tersebut menurut pengamatan penulis adalah desa yang banyak terdapat anak putus sekolah, yaitu: 1. Bugak Punjot, dengan jumlah 2 orang (Kepala Desa dan Tgk. Imum) 2. Bugak Mesjid, dengan jumlah 2 orang (Kepala Desa dan Tgk. Imum) 3. Bugak Meunasah dua, dengan jumlah 2 orang (Kepala Desa dan Tgk. Imum) F. Metodelogi Penelitian Setiap penelitian memerlukan metode dan teknik pengumpulan data yang sesuai dengan masalah yang dihadapi. Metode penelitian yang dapat dipergunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif yaitu suatu metode yang ingin mengungkapkan, mengembangkan dan menafsirkan data, peristiwa, kejadiankejadian dan gejala-gejala fenomena-fenomena yang terjadi pada saat sekarang.[8] Metodologi penelitian ini sangat tepat digunakan untuk memperoleh data dan informasi yang objektif. Dalam pelaksanaannya penulis menggunakan dua jenis penelitian, adalah sebagai berikut: 1. Library Research (studi kepustakaan), digunakan untuk melihat dan mempelajari buku-buku, literatur-literatur dan bahan referensi lainnya sebagai sumber untuk menguraikan landasan teoritis dari skripsi ini.

2. Field Research (studi lapangan), digunakan untuk mencari dan mengumpulkan data dari lapangan. Yang dalam pelaksanaannya digunakan3 (tiga) instrumen penelitian, yaitu: a. Observasi Yaitu cara yang ditempuh untuk mengamati kondisi lapangan penelitian, yaitu pengamatan langsung maupun tidak langsung yang ditemui di daerah penelitian. b. Wawancara Wawancara yaitu cara yang ditempuh untuk mewawancarai para informan demi memperoleh data-data yang diperlukan dalam penelitian ini. Wawancara ditujukan dengan jalan mengajukan pertanyaan langsung kepada tokoh pimpinan dengan pertanyaan yang telah di persiapkan. c. Angket Angket merupakan beberapa pertanyaan-pertanyaan sesuai dengan masalah penelitian yang telah di persiapkan kepada masing-masing responden, yaitu masyarakat tiap desa yaitu 3 desa yang terdapat dalam Kecamatan Jangka yang mempunyai anak putus sekolah untuk memberikan jawabannya. Adapun teknik penulisan skripsi ini penulis berpedoman pada buku Pedoman Penulisan Karya Ilmiah Fakultas Tarbiyah IAIN Ar-Raniry Darussalam Banda Aceh Tahun 2004. Dan buku-buku lain yang dianggap penting.

[1] Mulyadi Kartanegara, Mozaik Khazanah Islam, Bunga Rampai Dari Chicago, cet. I (Jakarta Selatan: Paramadina, 2000), h. 75 [2] Ali Imran, Kebijakan Pendidikan di Indonesia, Cet. II (Jakarta: Bumi Aksara, 2002), h. 39 [3] WJS Pooerwadarminta, Kamus Besar Bahasa Indonesia, cet. II (Jakarta: Balai Pustaka, 1985), hal. 226 [4] Yang Kassin, Kamus Bahasa Malaysia Baru, tahun 1996, hal. 83 [5] Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Kamus Besar Bahasa Indonesia (Jakarta: Balai Pustaka, 1996), hal. 866 [6] Winarno Surachman, Dasar dan Tehnik Research Pengantar Metodelogi Ilmiyah ,(Bandung: Tarsito, 1982), hal. 38 [7] Sutrisno hadi, Metodelogi Research, Jilid I, cet V (Yogyakarta: UGM, 1996), hal. 56

[8] Kartini Kartono, Pengantar Metodelogi Research Sosial (Bandung: Grafika, 1974), hal. 116 Jenis dan Metode Penelitian Kualitatif Written by Prof. Dr. H. Mudjia Rahardjo, M.Si Tuesday, 01 June 2010 04:52 Tujuan utama penelitian kualitatif adalah untuk memahami (to understand) fenomena atau gejala sosial dengan lebih menitik beratkan pada gambaran yang lengkap tentang fenomena yang dikaji daripada memerincinya menjadi variabel-variabel yang saling terkait. Harapannya ialah diperoleh pemahaman yang mendalam tentang fenomena untuk selanjutnya dihasilkan sebuah teori. Karena tujuannya berbeda dengan penelitian kuantitatif, maka prosedur perolehan data dan jenis penelitian kualitatif juga berbeda. Setidaknya ada delapan jenis penelitian kualitatif, yakni etnografi (ethnography), studi kasus (case studies), studi dokumen/teks (document studies), observasi alami (natural observation), wawancara terpusat (focused interviews), fenomenologi (phenomenology), grounded theory, studi sejarah (historical research). Berikut uraian ringkas tentang masing-masing jenis penelitian itu.

No Jenis Penelitian 1. Etnografi (Ethnography)

Uraian Etnografi merupakan studi yang sangat mendalam tentang perilaku yang terjadi secara alami di sebuah budaya atau sebuah kelompok sosial tertentu untuk memahami sebuah budaya tertentu dari sisi pandang pelakunya. Para ahli menyebutnya sebagai penelitian lapangan, karena memang dilaksanakan di lapangan dalam latar alami. Peneliti mengamati perilaku seseorang atau kelompok sebagaimana apa adanya. Data diperoleh dari observasi sangat mendalam sehingga memerlukan waktu berlamalama di lapangan, wawancara dengan anggota kelompok budaya secara mendalam, mempelajari dokumen atau artifak secara jeli. Tidak seperti jenis penelitian kualitatif yang lain dimana lazimnya data dianalisis setelah selesai pengumpulan data di lapangan, data penelitian etnografi dianalisis di lapangan sesuai konteks atau situasi yang terjadi pada saat data dikumpulkan. Penelitian etnografi bersifat antropologis karena akar-akar metodologinya dari antropologi. Para ahli pendidikan bisa menggunakan etnografi untuk meneliti tentang pendidikan di sekolahsekolah pinggiran atau sekolah-sekolah di tengah-tengah kota.

Studi Kasus (Case Studies)

Studi kasus merupakan penelitian yang mendalam tentang individu, satu kelompok, satu organisasi, satu program kegiatan, dan sebagainya dalam waktu tertentu. Tujuannya untuk memperoleh diskripsi yang utuh dan mendalam dari sebuah entitas. Studi kasus menghasilkan data untuk selanjutnya dianalisis untuk menghasilkan teori. Sebagaimana prosedur perolehan data penelitian kualitatif, data studi kasus diperoleh dari wawancara, observasi, dan arsif. Studi kasus bisa dipakai untuk meneliti sekolah di tengah-tengah kota di mana para siswanya mencapai prestasi akademik luar biasa.

Studi Dokumen/Teks (Document Study)

Studi dokumen atau teks merupakan kajian yang menitik beratkan pada analisis atau interpretasi bahan tertulis berdasarkan konteksnya. Bahan bisa berupa catatan yang terpublikasikan, buku teks, surat kabar, majalah, surat-surat, film, catatan harian, naskah, artikel, dan sejenisnya. Untuk memperoleh kredibilitas yang tinggi peneliti dokumen harus yakin bahwa naskah-naskah itu otentik. Penelitian jenis ini bisa juga untuk menggali pikiran seseorang yang tertuang di dalam buku atau naskah-naskah yang terpublikasikan. Para pendidik menggunakan metode penelitian ini untuk mengkaji tingkat keterbacaan sebuah teks, atau untuk menentukan tingkat pencapaian pemahaman terhadap topik tertentu dari sebuah teks.

4.

Pengamatan Alami (Natural Observation)

Pengamatan alami merupakan jenis penelitian kualitatif dengan melakukan observasi menyeluruh pada sebuah latar tertentu tanpa sedikitpun mengubahnya. Tujuan utamanya ialah untuk mengamati dan memahami perilaku seseorang atau kelompok orang dalam situasi tertentu. Misalnya, bagaimana perilaku seseorang ketika dia berada kelompok diskusi yang anggota berasal dari latar sosial yang berbedabeda. Dan, bagaimana pula perilaku dia jika berada dalam kelompok yang homogen. Peneliti menggunakan kamera tersembunyi atau isntrumen lain yang sama sekali tidak dikatahui oleh orang yang diamati (subjek).peneliti bisa mengamati sekelompok anak ketika bermain dengan temantemannya untuk memahami perilaku interaksi sosial mereka.

KULIAH 1 METODE PENELITIAN KUALITATIF

1. Pendahuluan

Setiap kegiatan penelitian sejak awal sudah harus ditentukan dengan jelas pendekatan/desain penelitian apa yang akan diterapkan, hal ini dimaksudkan agar penelitian tersebut dapat benar-benar mempunyai landasan kokoh dilihat dari sudut metodologi penelitian, disamping pemahaman hasil penelitian Obyek dan masalah yang akan lebih penelitian proporsional apabila mempengaruhi desain ataupun pembaca mengetahui pendekatan yang diterapkan. memang pertimbangan-pertimbangan mengenai pendekatan,

metode penelitian yang akan diterapkan. Tidak semua obyek dan masalah penelitian bisa didekati dengan pendekatan tunggal, sehingga diperlukan pemahaman pendekatan lain yang berbeda agar begitu obyek dan masalah yang akan diteliti tidak pas atau kurang sempurna dengan satu pendekatan maka pendekatan lain dapat digunakan, atau bahkan mungkin menggabungkannya. Secara umum pendekatan penelitian atau sering juga disebut paradigma penelitian yang cukup dominan adalah paradigma penelitian kuantitatif dan penelitian kualitatif. Dari segi peristilahan para akhli nampak menggunakan istilah atau penamaan yang berbeda-beda meskipun mengacu pada hal yang sama, untuk itu guna menghindari kekaburan dalam memahami kedua pendekatan ini, berikut akan dikemukakan penamaan yang dipakai para akhli dalam penyebutan kedua istilah tersebut seperti terlihat dalam tabel 1 berikut ini : Tabel 1. Quantitative and Qualitative Research : Alternative Labels Quantitative
Rasionallistic Inquiry from the Outside functionalist Positivist Positivist

Qualitative
Naturalistic Inquiry from the inside Interpretative Constructivist Naturalistic-ethnographic

Authors
Guba &Lincoln (1982) Evered & Louis (1981) Burrel & Morgan (1979) Guba (1990) Hoshmand (1989)

Sumber : Julia Brannen (Ed): 1992 : 58)

Sementara itu Noeng Muhadjir (1994 : 12) mengemukakan beberapa nama yang dipergunakan para ahli tentang metodologi penelitian kualitatif yaitu: grounded research, ethnometodologi, paradigma naturalistik, interaksi simbolik, semiotik, heuristik, hermeneutik, atau holistik . perbedaan tersebut dimungkinkan karena perbedaan titik tekan dalam melihat permasalahan serta latar brlakang disiplin ilmunya, istilah grounded research lebih berkembang dilingkungan sosiologi dengan tokohnya Strauss dan Glaser (untuk di Indonesia istilah ini diperkenalkan/dipopulerkan oleh Stuart A. Schleigel dari
Universitas California yang pernah menjadi tenaga ahli pada Pusat Latihan Penelitian Ilmuilmu soaial Banda Aceh pada tahun 1970-an),

ethnometodologi lebih berkembang

di lingkungan antropologi dan ditunjang antara lain oleh Bogdan , interaksi simbolik lebih berpengaruh di pantai barat Amerika Serikat dikembangkan oleh Blumer, Paradigma naturalistik dikembangkan antara lain oleh Guba yang pada awalnya memperoleh pendidikan dalam fisika, matematika dan penelitian kuantitatif. Secara lebih rinci Patton (1990 : 88) mengemukakan-penamaanmacam-macam penelitian kualitatif (Qualitative inquiry) berdasarkan tradisi teoritisnya yang diuraikan dalam bentuk tabel sebagai berikut : Tabel 1. variety in qualitative Inquiry : Theoritical traditions
No 1 2

Perspektif
Ethnography Phenomenology

Akar Ilmu
Anthropology Philosophy

Pertanyaan Utama
Apa kebudayaan masyarakat ini ? Apa struktur dan esensi pengalaman atas gejala-gejala ini bagi masyarakat tersebut? Apa pengalaman saya mengenai gejalagejala ini dan apa pengalaman essensial bagi yang lain yang juga mengalami gejala ini secara intens ? Bagaimana orang memahami kegiatan sehari-hari mereka sehingga berprilaku dengan cara yang dapat diterima secara sosial ? Apa simbul dan pemahaman umum yang telah muncul dan memberikan makna bagi interaksi sosial masyarakat ?

Heuristics

Psikologi Humanistik

Ethnomethodolog y

Sosiology

Symbolic interactionism

Psikologi sosial

6 7 8 9 10

Echological Psychology System theory Chaos theory: non -linier dynamics Hermeneutics Orientaional, qualitative

Psikologi lingkungan interdisipliner Fisika teoritis : ilmuilmu alam Teologi, filsafat, kritik sastra Ideologi, ekonomi politik

Bagaimana orang-orang mencapai tujuan mereka melalui prilaku tertentu dalam lingkungan yang tertentu ? Bagaimana dan kenapa sistem ini berfungsi secara keseluruhan ? Apa yang mendasari keteraturan gejalagejala yang tak teratur jika ada ? Apa kondisi-kondisi yang melahirkan prilaku atau produk yang dihasilkan yang memungkinkan penafsiran makna ? Bagimana perspektif ideologi seseorang berujud dalam suatu gejala ?

Dalam

perkembangannya,

belakangan

ini

nampaknya

istilah

penelitian kualitatif telah menjadi istilah yang dominan dan baku, meskipun mengacu pada istilah yang berbeda dengan pemberian karakteristik yang berbeda pula, namun bila dikaji lebih jauh semua itu lebih bersifat saling melengkapi/memperluas dalam suatu bingkai kualitatif. Oleh karena itu dalam wacana metodologi penelitian, umumnya diakui terdapat dua paradigma utama dalam metodologi penelitian yakni paradigma positivist (penelitian kuantitatif) dan paradigma naturalistik (penelitian kualitatif), ada ahli yang memposisikannya secara diametral, namun ada juga yang mencoba menggabungkannya baik dalam makna integratif maupun bersifat komplementer, namun apapun kontroversi yang terjadi kedua jenis penelitian tersebut memiliki perbedaan-perbedaan baik dalam tataran filosofis/teoritis maupun dalam tataran praktis pelaksanaan penelitian, dan justru dengan perbedaan tersebut akan nampak kelebihan dan kekurangan masing-masing, sehingga seorang peneliti akan dapat lebih mudah memilih metode yang akan diterapkan apakah metode kuantitatif atau metode kualitatif dengan memperhatikan obyek penelitian/masalah yang akan diteliti serta mengacu pada tujuan penelitian yang telah ditetapkan. Meskipun dalam tataran praktis perbedaan antara keduanya seperti nampak sederhana dan hanya bersifat teknis, namun keduanya mempunyai landasan epistemologis/filosofis secara esensial yang sangat metodologi penelitian

berbeda. Penelitian kuantitatif merupakan pendekatan penelitian yang mewakili paham positivisme, sementara itu penelitian kualitatif merupakan pendekatan penelitian yang mewakili paham naturalistik (fenomenologis). Untuk lebih memahami landasan filosofis kedua paham tersebut, berikut ini akan diuraiakan secara ringkas kedua aliran faham tersebut. 1.1. Positivisme Positivisme merupakan aliran filsafat yang dinisbahkan/ bersumber dari pemikiran Auguste Comte seorang folosof yang lahir di Montpellier Perancis pada tahun 1798, ia seorang yang sangat miskin, hidupnya banyak mengandalkan sumbangan dari murid dan teman-temannya antara lain dari folosof inggeris John Stuart Mill (juga seorang akhli ekonomi), ia meninggal pada tahun 1857. meskipun demikian pemikiran-pemikirannya cukup berpengaruh yang dituangkan dalam tulisan-tulisannya antara lain Cours de Philosophie Positive (Kursus filsafat positif) dan Systeme de Politique Positive (Sistem politik positif). Salah satu buah pikirannya yang sangat penting dan berpengaruh adalah tentang tiga tahapan/tingkatan cara berpikir manusia dalam berhadapan dengan alam semesta yaitu : tingkatan Teologi, tingkatan Metafisik, dan tingkatan Positif Tingkatan Teologi (Etat Theologique). Pada tingkatan ini manusia belum bisa memahami hal-hal yang berkaitan dengan sebab akibat. Segala kejadian dialam semesta merupakan akibat dari suatu perbuatan Tuhan dan manusia hanya bersifat pasrah, dan yang dapat dilakukan adalah memohon pada Tuhan agar dijauhkan dari berbagai bencana. Tahapan ini terdiri dari tiga tahapan lagi yang berevolusi yakni dari tahap animisme, tahap politeisme, sampai dengan tahap monoteisme. Tingkatan Metafisik (Etat Metaphisique). Pada dasarnya tingkatan ini merupakan suatu variasi dari cara berfikir teologis, dimana Tuhan atau Dewa-dewa diganti dengan kekuatan-kekuatan abstrak misalnya dengan istilah kekuatan alam. Dalam tahapan ini manusia mulai menemukan keberanian dan merasa bahwa kekuatan yang menimbulkan bencana

dapat dicegah dengan memberikan berbagai sajian-sajian sebagai penolak bala/bencana. Tingkatan Positif (Etat Positive). Pada tahapan ini manusia sudah menemukan pengetahuan yang cukup untuk menguasai alam. Jika pada tahapan pertama manusia selalu dihinggapi rasa khawatir berhadapan dengan alam semesta, pada tahap kedua manusia mencoba mempengaruhi kekuatan yang mengatur alam semesta, maka pada tahapan positif manusia lebih percaya diri, dengan ditemukannya hukumhukum alam, dengan bekal itu manusia mampu menundukan/mengatur (pernyataan ini mengindikasikan adanya pemisahan antara subyek yang mengetahui dengan obyek yang diketahui) alam serta memanfaatkannya untuk kepentingan manusia, tahapan ini merupakan tahapan dimana manusia dalam hidupnya lebih mengandalkan pada ilmu pengetahuan. Dengan memperhatikan tahapan-tahapan sepertti dikemukakan di atas nampak bahwa istilah positivisme mengacu pada tahapan ketiga (tahapan positif/pengetahuan positif) dari pemikiran Comte. Tahapan positif merupakan tahapan tertinggi, ini berarti dua tahapan sebelumnya merupakan tahapan yang rendah dan primitif, oleh karena itu filsafat Positivisme merupakan filsafat yang anti metafisik, hanya fakta-fakta saja yang dapat diterima. Segala sesuatu yang bukan fakta atau gejala (fenomin) tidak mempunyai arti, oleh karena itu yang penting dan punya arti hanya satu yaitu mengetahui (fakta/gejala) agar siap bertindak (savoir pour prevoir). Manusia harus menyelidiki dan mengkaji berbagai gejala yang terjadi beserta hubungan-hubungannya diantara gejala-gejala tersebut agar dapat meramalkan apa yang akan terjadi, Comte menyebut hubunganhubungan tersebut dengan konsep-konsep dan hukum-hukum yang bersifat positif dalam arti berguna untuk diketahui karena benar-benar nyata bukan bersifat spekulasi seperti dalam metafisika. 1.2. Fenomenologi

Edmund

Husserl

adalah

filosof

yang

mengmbangkan

metode

Fenomenologi, dia lahir di

Prostejov Cekoslowakia dan mengajar di

berbagai Universitas besar Eropa, meninggal pada tahun 1938 di Freiburg. Hasil pemikirannya dapat diselamatkan dari kaum Nazi, dengan membawa seluruh buku dan tulisannya tulisan-tulisan pentangnya ke Universitas Leuven Belgia, sehingga adalah Logis) dan : Logische Ideen zu Untersuchungen einer reinen kemudian dapat dikembangkan lebih lanjut oleh murid-muridnya. Diantara (Penyeliddikan-penyelidikan

Phanomenologie und Phanomenologischen Philosophie (gagasan-gagasan untuk suatu fenomenologi murni dan filsafat fenomenologi) Dalam faham fenomenologi sebagaimana diungkapkan oleh Husserl, bahwa kita harus kembali kepada benda-benda itu sendiri (zu den sachen selbst), obyek-obyek harus diberikan kesempatan untuk berbicara melalui deskripsi fenomenologis guna mencari hakekat gejala-gejala (Wessenchau). Husserl berpendapat bahwa kesadaran bukan bagian dari kenyataan melainkan asal kenyataan, dia menolak bipolarisasi antara kesadaran dan alam, antara subyek dan obyek, kesadaran tidak menemukan obyek-obyek, tapi obyek-obyek diciptakan oleh kesadaran. Kesadaran merupakan sesuatu yang bersifat intensionalitas (bertujuan), artinya kesadaran tidak dapat dibayangkan tanpa sesuatu yang disadari. Supaya kesadaran timbul perlu diandaikan tiga hal yaitu : ada subyek, ada obyek, dan subyek yang terbuka terhadap obyek-obyek. Kesadaran tidak bersifat pasif karena menyadari sesuatu berarti mengubah sesuatu, kesadaran merupakan suatu tindakan, terdapat interaksi antara tindakan kesadaran dan obyek kesadaran, namun yang ada hanyalah kesadaran sedang obyek kesadaran pada dasarnya diciptakan oleh kesadaran. Berkaitan dengan hakekat obyek-obyek, Husserl berpandapat bahwa untuk menangkap hakekat obyek-obyek diperlukan tiga macam reduksi guna menyingkirkan semua hal yang mengganggu dalam mencapai wessenchau yaitu: Reduksi pertama. Menyingkirkan segala sesuatu yang

subyektif, sikap kita harus obyektif, terbuka untuk gejala-gejala yang harus diajak bicara. Reduksi kedua. Menyingkirkan seluruh pengetahuan tentang obyek yang diperoleh dari sumber lain, dan semua teori dan hipotesis yang sudah ada Reduksi ketiga. Menyingkirkan seluruh tradisi pengetahuan. Segala sesuatu yang sudah dikatakan orang lain harus, untuk sementara, dilupakan, kalau reduksi-reduksi ini 1.3. Perbandingan tataran Filosofis Kedua aliran filsafat tersebut terus berkembang dengan dukungan prngikut-pengikutnya, yang dalam wacana metodologi penelitian telah mendorong lahirnya paradigma penelitian kuantitatif (positivisme) dan paradigma penelitian kualitatif (fenomenologi). Kedua paradigma pendekatan penelitian tersebut nampak sekali mempunyai asumsi/aksioma dasar filosofis dan paradigma berbeda yang menurut Lincoln dan Guba perbedaan tersebut terletak dalam asumsi/aksioma tentang kenyataan, hubungan pencari tahu dengan tahu (yang diketahui), generalisasi, kausalitas, dan masalah nilai, untuk lebih rincinya dapat dilihat dalam tabel berikut : Dalam pandangan positivisme dari sudut ontologi meyakini bahwa realitas merupakan suatu yang tunggal dan dapat dipecah-pecah untuk dipelajari/dipahami secara bebas, obyek yang diteliti bisa dieliminasikan dari obyek-obyek lainnya, sedangkan dalam pandangan fenomenologi kenyataan itu merupakan suatu yang utuh, oleh karena itu obyek harus dilihat dalam suatu konteks natural tidak dalam bentuk yang terfragmentasi. Dari sudut epistemologi, positivisme mensyaratkan adanya dualisme antara subyek peneliti dengan obyek yang ditelitinya, pemilahan ini dimaksudkan agar dapat diperoleh hasil yang obyektif, sementara itu dalam pandangan Fenomenologis subyek dan obyek tidak dapat dipisahkan dan aktif bersama dalam memahami berbagai gejala. Dari sudut aksiologi, positivisme mensyaratkan agar penelitian itu bebas nilai agar dicapai obyektivitas konsep-konsep dan hukum-hukum sehingga tingkat berhasil, maka gejala-gejala akan memperlihaaaatkan dirinya sendiri/dapat menjadi fenomin

keberlakuannya bebas tempat dan waktu, sedangkan dalam pandangan fenomenologi penelitian itu terikat oleh nilai sehinggan hasil suatu penelitian harus dilihat sesuai konteks. Untuk lebih jelasnya berikut ini akan dikemukakan perbandingan antara paradigma positivisme dan paradigma alamiah (fenomenologi) dengan mengacu pada pendapat Lincoln dan Guba, sebagaimana terlihat dalam tabel berikut : Tabel 2. Perbedaan Aksioma Paradigma Positivisme dan Alamiah No Aksioma Tentang Hakikat kenyatan Hubungan pencari tahu dan yang tahu Paradigma Positivisme Kenyataan adalah tunggal, nyata dan fragmentaris Pencari tahu dengan yang tahu adalah bebas, jadi ada dualisme Generalisasi atas dasar bebas-waktu dan bebas-konteks (pernyataan nomotetik) Terdapat penyebab sebenarnya yang secara temporer terhadap, atau secara simultan terhadap akibatnya Paradigma Alamiah/Kualitatif Kenyataan adalah ganda,dibentuk, dan me-rupakan keutuhan Pencari tahu dengan yang tahu aktif bersama, jadi tidak dapat dipisahkan Hanya waktu dan konteks yang mengikat hipotesis kerja (pernyataan idiografis) yang dimungkinkan Setiap keutuhan berada dalam keadaan mempengaruhi secara bersama-sama sehingga sukar membedakan mana sebab dan mana akibat
Inkuirinya terikat nilai

Kemungkinan Generalisasi

Kemungkinan hubungan sebab akibat

Peranan nilai

Inkuirinya bebas nilai

(Sumber : Lexy J. Moleong : 2000 : 31)

1.4. Perbandingan tataran Metodologis Memahami landasan filosofis penelitian kualitatif dalam perbandingannya dengan penelitian kuantitatif merupakan hal yang penting sebagai dasar bagi pemahaman yang tepat terhadap penelitian kualitatif, namun demikian bagi seorang peneliti penguasaan dalam

tingkatan operasional lebih diperlukan lagi agar dalam pelaksanaan penelitian tidak terjadi kerancuan metodologis, dan penelitian benar-benar dilaksanakan dalam suatu bingkai pendekatan yang jelas dan dapat dipertanggungjawabkan. Dalam tataran metodologis perbedaan landasan filosofis terrefleksikan dalam perbedaan metode penelitian, dimana positivisme dimanifestasikan dalam metode penelitian kuantitatif sedangkan fenomenologi dimanifestasikan dalam metode penelitian kualitatif. Kedua pendekatan ini sering diposisikan secara diametral, meskipun belakangan ini terdapat upaya untuk menggabungkannya baik dalam bentuk paralelisasi maupun kombinasi, adapun perbedaan antara metode kuantitatif dengan kualitatif adalah sebagai berikut : Tabel 3. Perbedaan Metode Kuantitatif dengan Kualitatif No 1 Metode Kuantitatif Menggunakan hiopotesis yang ditentukan sejak awal penelitian Definisi yang jelas dinyatakan sejak awal Reduksi data menjadi angkaangka Lebih memperhatikan reliabilitas skor yang diperoleh melalui instrumen penelitian Penilaian validitas menggunakan berbagai prosedur dengan mengandalkan hitungan statistik Mengunakan deskripsi prosedur yang jelas (terinci) sampling random Desain/kontrol statistik atas variabel eksternal Metode Kualitatif Hipotesis dikembangkan sejalan dengan penelitian/saat penelitian Definisi sesuai konteks atau saat penelitian berlangsung Deskripsi naratif/kata-kata, ungkapan atau pernyataan Lebih suka menganggap cukup dengan reliabilitas penyimpulan Penilaian validitas melalui pengecekan silang atas sumber informasi

2 3 4

6 7 8

Menggunakan deskripsi prosedur secara naratif Sampling purposive Menggunakan analisis logis dalam mengontrol variabel ekstern Menggunakan desain khusus Mengandalkan peneliti dalam untuk mengontrol bias prosedur mengontrol bias

10 11

12

Menyimpulkan hasil menggunakan statistik Memecah gejala-gejala menjadi bagian-bagian untuk dianalisis Memanipulasi aspek, situasi atau kondisi dalam mempelajari gejala yang kompleks

Menyimpulkan hasil secara naratif/kata-kata Gejala-gejala yang terjadi dilihat dalam perspektif keseluruhan Tidak merusak gejala-gejala yang terjadi secara alamiah /membiarkan keadaan aslinya

(diadaptasi dari Jack R. Fraenkel & Norman E. Wallen. 1993 : 380)

Penelitian kualitatif
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas Langsung ke: navigasi, cari Penelitian kualitatif adalah riset yang bersifat deskriptif dan cenderung menggunakan analisis dengan pendekatan induktif. Proses dan makna (perspektif subyek) lebih ditonjolkan dalam penelitian kualitatif. Landasan teori dimanfaatkan sebagai pemandu agar fokus penelitian sesuai dengan fakta di lapangan. Selain itu landasan teori juga bermanfaat untuk memberikan gambaran umum tentang latar penelitian dan sebagai bahan pembahasan hasil penelitian. Terdapat perbedaan mendasar antara peran landasan teori dalam penelitian kuantitatif dengan penelitian kualitatif. Dalam penelitian kuantitatif, penelitian berangkat dari teori menuju data, dan berakhir pada penerimaan atau penolakan terhadap teori yang digunakan; sedangkan dalam penelitian kualitatif peneliti bertolak dari data, memanfaatkan teori yang ada sebagai bahan penjelas, dan berakhir dengan suatu teori. Penelitian kualitatif jauh lebih subyektif daripada penelitian atau survei kuantitatif dan menggunakan metode sangat berbeda dari mengumpulkan informasi, terutama individu, dalam menggunakan wawancara secara mendalam dan grup fokus. Sifat dari jenis penelitian ini adalah penelitian dan penjelajahan terbuka berakhir dilakukan dalam jumlah relatif kelompok kecil yang diwawancarai secara mendalam. Peserta diminta untuk menjawab pertanyaan umum, dan interviewer atau moderator group periset menjelajah dengan tanggapan mereka untuk mengidentifikasi dan menentukan persepsi, pendapat dan perasaan tentang gagasan atau topik yang dibahas dan untuk menentukan derajat kesepakatan yang ada dalam grup. Kualitas hasil temuan dari penelitian kualitatif secara langsung tergantung pada kemampuan, pengalaman dan kepekaan dari interviewer atau moderator group. Jenis penelitian yang sering kurang dilakukan dari survei karena mahal dan sangat efektif dalam memperoleh informasi tentang kebutuhan komunikasi dan tanggapan dan pandangan tentang komunikasi tertentu. Dalam hal ini sering metode pilihan dalam kasus di mana pengukuran atau survei kuantitatif tidak diperlukan.

Kerahasiaan

Faktor yang penting kunci dari kesuksesan dalam organisasi penelitian adalah komunikasi dengan orang-orang adalah kerahasiaan. Responden survei dan peserta dalam wawancara mendalam dan fokus grup sering diminta untuk memberikan informasi secara terbuka, jujur dan pribadi tanggapan tentang isu-isu sensitif, kekhawatiran, persepsi dan pendapat tentang berbagai topik. Untuk mendapatkan kebenaran dari responden, para peneliti harus mampu untuk tidak hanya menjamin, tetapi untuk benar-benar menjamin, bahwa identitas peserta penelitian akan dijaga kerahasiaannya dan dilindungi sepenuhnya. Kerahasiaan merupakan salah satu alasan utama, di samping kualifikasi khusus , terdiri dari konsultan independen yang melakukan penelitian dan pengukuran komunikasi organisasi .

Jaringan
Selain penelitian yang melibatkan masyarakat dan media komunikasi yang dihasilkan, kegiatan dan manajemen komunikasi dengan responden terdapat aspek penting lainnya yaitu organisasi komunikasi yang belajar untuk sepenuhnya pemahaman dimensi tentang bagaimana sebuah organisasi berkomunikasi dan apa yang bekerja dan apa yang tidak dalam hal ini termasuk pemeriksaan penggunaan pola komunikasi elektronik sistem seperti e-mail, Voice-Mail, intranet, dll, analisis pola arus komunikasi dalam jaringan, sistem umpan balik dan komunikasi informal seperti memo. Penelitian di daerah-daerah yang sering dilakukan oleh sistem teknologi komunikasi dan audit personel profesional seperti lembaga periset.

Berita Politik Humaniora Ekonomi Hiburan Olahraga Lifestyle Wisata Kesehatan Tekno Media Muda Green Lipsus Fiksiana Freez Home Humaniora Edukasi Artikel

Edukasi Halim Malik

TERVERIFIKASI
Jadikan Teman | Kirim Pesan

2012---->Pengharapan... 0inShare Share

Penelitian Kualitatif
OPINI | 11 February 2011 | 07:53 Kompasianer menilai bermanfaat (Pengertian Data, Analisis Data dan Cara Menganalisis Data Kualitatif) Oleh: HALIM MALIK Penelitian kualitatif adalah penelitian yang bersifat deskriptif dan cenderung menggunakan analisis dengan pendekatan induktif. Proses dan makna lebih ditonjolkan dalam penelitian kualitatif. Landasan teori dimanfaatkan sebagai pemandu agar fokus penelitian sesuai dengan fakta di lapangan. Selain itu landasan teori juga bermanfaat untuk memberikan gambaran umum tentang latar penelitian dan sebagai bahan pembahasan hasil penelitian. Terdapat perbedaan mendasar antara peran landasan teori dalam penelitian kuantitatif dengan penelitian kualitatif. Dalam penelitian kuantitatif, penelitian berangkat dari teori menuju data, dan berakhir pada penerimaan atau penolakan terhadap teori yang digunakan; sedangkan dalam penelitian kualitatif peneliti bertolak dari data, memanfaatkan teori yang ada sebagai bahan penjelas, dan berakhir dengan suatu teori. Penelitian kualitatif lebih subyektif daripada penelitian atau survei kuantitatif dan menggunakan metode sangat berbeda dari mengumpulkan informasi, terutama individu, dalam menggunakan wawancara secara mendalam dan grup fokus. Sifat dari jenis penelitian ini adalah penelitian dan penjelajahan terbuka berakhir dilakukan dalam jumlah relatif kelompok kecil yang diwawancarai secara mendalam(Wikipedia: 2009) Menurut Brannen (1997: 9-12), secara epistemologis memang ada sedikit perbedaan antara penelitian kualitatif dan kuantitatif. Jika penelitian kuantitatif selalu menentukan data dengan variabel-veriabel dan kategori ubahan, penelitian kualitatif justru sebaliknya. Perbedaan penting keduanya, terletak pada pengumpulan data. Tradisi kualitatif, peneliti sebagai instrument pengumpul data, mengikuti asumsi cultural, dan mengikuti data. Penelitian kualitatif (termasuk penelitian historis dan deskriptif) adalah penelitian yang tidak menggunakan model-model matematik, statistik atau komputer. Proses penelitian dimulai dengan menyusun asumsi dasar dan aturan berpikir yang akan digunakan dalam penelitian. Asumsi dan aturan berpikir tersebut selanjutnya diterapkan secara sistematis dalam pengumpulan dan pengolahan data untuk memberikan penjelasan dan argumentasi. Dalam penelitian kualitatif informasi yang dikumpulkan dan diolah harus tetap obyektif dan tidak Dibaca: 11419 Komentar: 10 2 dari 2

dipengaruhi oleh pendapat peneliti sendiri. Penelitian kualitatif banyak diterapkan dalam penelitian historis atau deskriptif. Penelitian kualitatif mencakup berbagai pendekatan yang berbeda satu sama lain tetapi memiliki karakteristik dan tujuan yang sama. Berbagai pendekatan tersebut dapat dikenal melalui berbagai istilah seperti: penelitian kualitatif, penelitian lapangan, penelitian naturalistik, penelitian interpretif, penelitian etnografik, penelitian post positivistic, penelitian fenomenologik, hermeneutic, humanistik dan studi kasus. Metode kualitatif menggunakan beberapa bentuk pengumpulan data seperti transkrip wawancara terbuka, deskripsi observasi, serta analisis dokumen dan artefak lainnya. Data tersebut dianalisis dengan tetap mempertahankan keaslian teks yang memaknainya. Hal ini dilakukan karena tujuan penelitian kualitatif adalah untuk memahami fenomena dari sudut pandang partisipan, konteks sosial dan institusional. Sehingga pendekatan kualitatif umumnya bersifat induktif. 1. Pengertian Data Kualitatif Data kualitatif yaitu data yang berhubungan dengan kategorisasi, karakteristk berwujud pertanyaan atau berupa kata-kata. Data ini biasanya didapat dari wawancara dan bersifat subjektif sebab data tersebut ditafsirkan lain oleh orang yang berbeda (Riduan, 2003: 5-7). Data kualitatif dapat diberi dalam bentuk ordinal atau rangking (skala yang diurutkan dari jenjang terendah atau sebaliknya). Setiap peneliti selalu melakukan kegiatan pengumpulan data atau informasi dari lapangan dan kemudian mereka akan memperoleh data kualitatif yang banyak. Yang dimaksud data kualitatif menurut Ryan dan Bernard (2002), adalah semua informasi yang berupa test, sit com, email, cerita rakyat, sejarah kehidupan, yang berguna untuk membangun dan mengarahkan pada pengembangan pengertian yang mendalam atas dasar setting orang-orang yang diteliti. Data tersebut biasanya masih berupa data kasar di antaranya seperti: catatan kancah yang sumbernya bermacam-macam, termasuk sebagai tulisan tangan, tape recorder, ringkasan dokumen dan sebagainya. Data yang ada tanpa melalui angka administrasi secara sistematis dan selanjutnya dianalisis. Analisis data dalam penelitian kualitatif, pada prinsipnya berbeda dengan analisis pada data kuantitatif. Jika pada penelitian kuantitatif, analisis data dilakukan setelah proses pengumpulan data dari lapangan, maka pada penelitian kualitatif, langkah analisis telah dimulai sejak peneliti terjun ke kancah untuk mengambil data yang pertama kali melalui kegiatan refleksi. Pada saat itu secara kontinyu atau on going peneliti mulai menggunakan data yang ada untuk mencapai tujuan penelitian yaitu memecahkan fokus penelitian. Menurut Lofland & Lofland (1984: 47) sumber data utama dalam penelitian kualitatif ialah kata-kata, dan tindakan, selebihnya adalah data tambahan seperti dokumen dan lain-lain. Sementara Barney G. Glasser dan Anselm L. Strauss mengatakan bahwa sumber-sumber data kualitatif baru, oleh para ilmuwan sosial untuk tujuan tertentu mereka kebanyakan menggunakan dokumen yang dihasilkan oleh orang lain seperti: surat-surat, biografi, otobiografi, catatan memori bahan pidato, novel serta berbagai bentuk non fiksi cenderung dipakai untuk penggunaan tujuan-tujuan tertentu. Penggunaannya bermacam-macam seperti: (1) materi itu bisa dipakai terutama pada hari-hari permulaan penelitian, untuk membantu

peneliti memahami bidang substantive yang telah ditentukan untuk dikaji, (2) sumber-sumber kualitatif ini dipakai untuk analisis deskriptif, seperti dalam penelitian tentang kewiraswastaan atau partai politik, misalnya menganalisis tradisi ilmu pengetahuan politik dan sejarah, tapi sudah diarahkan pada sosiologi. Penggunaan data kualitatif ini sudah meluas dan sangat bermanfaat, (3) dibentuklah kajian-kajian khusus yang sangat empiris, seperti bila isi novel atau surat kabar dikaji tentang apa yang ditampilkan dari satu zaman, satu kelompok, atau cita rasa yang sedang berubah di satu negara. Rangkaian terbatas dari materi kualitatif yang digunakan oleh para sosiolog ini sebagian besar karena mereka kebetulan memfokuskan diri pada verifikasi. Untuk sebagian besar peneliti, data kualitatif ini sebenarnya mirip dengan hasil kerja lapangan dan interview, yang dikombinasikan dengan dokumen latar belakang apa saja yang mungkin diperlukan untuk membuat penelitian itu sejajar dengan konteks. Sebagian sosiolog tidak pernah memikirkan perpustakaan sebagai satu sumber data riil untuk penelitian mereka. Data kualitatif merupakan sumber-sumber dari deksripsi yang sangat luas dan berlandaskan kokoh, serta memuat penjelasan tentang proses-proses yang terjadi dalam lingkup setempat. Dengan data kualitatif kita dapat mengikuti dan memahami alur peristiwa secara kronologis, menilai sebab-akibat dalam lingkup pikiran orang-orang setempat, dan memperoleh penjelasan yang banyak dan bermanfaat. Data kualitatif lebih condong dapat membimbing kita untuk memperoleh penemuan-penemuan yang tak diduga sebelumnya dan untuk membentuk kerangka teoritis baru, data tersebut membantu para peneliti untuk melangkah lebih jauh dari praduga dan kerangka kerja awal. Seperti yang dikemukakan oleh Smith 1978 (Miles & Huberman, 1992: 1), penemuan-penemuan dari penelitian kualitatif mempunyai mutu yang tak dapat disangkal. Kata-kata, khususnya bilamana disusun ke dalam bentuk cerita atau peristiwa, mempunyai kesan yang lebih nyata, hidup, dan penuh makna, seringkali jauh lebih meyakinkan pembacanya, peneliti lainnya, pembuat kebijakan, praktisi daripada halaman-halaman yang penuh dengan angka-angka. 2. Yang terpenting dalam analisis data kualitatif Menurut Miles & Huberman (1992: 16) Bahwa analisis terdiri dari tiga alur kegiatan yang terjadi secara bersamaan yaitu: reduksi data, penyajian data, penarikan kesimpulan/verifikasi. - Reduksi Data; reduksi data diartikan sebagai proses pemilihan, pemusatan perhatian pada penyederhanaan, pengabstakan, dan transformasi data kasar yang muncul dari catatancatatan tertulis di lapangan. Reduksi data berlangsung terus-menerus selama proyek yang berorientasi penelitian kualitatif berlangsung. Antisipasi akan adanya reduksi data sudah tampak waktu penelitiannya memutuskan (acapkali tanpa disadari sepenuhnya) kerangka konseptual wilayah penelitian, permasalahan penelitian, dan pendekatan pengumpulan data mana yang dipilihnya. Selama pengumpulan data berlangsung, terjadilan tahapan reduksi selanjutnya (membuat ringkasan, mengkode, menelusur tema, membuat gugus-gugus, membuat partisi, membuat memo). Reduksi data/transfoemasi ini berlanjut terus sesudah penelian lapangan, sampai laporan akhr lengkap tersusun. Reduksi data merupakan bagian dari analisis. Reduksi data merupakan suatu bentuk analisis yang menajamkan, menggolongkan, mengarahkan, membuang yang tidak perlu, dan mengorganisasi data dengan cara sedemikian rupa hingga kesimpulan-kesimpulan finalnya dapat ditarik dan diverifikasi.

Dengan reduksi data peneliti tidak perlu mengartikannya sebagai kuantifikasi. Data kualitatif dapat disederhanakan dan transformasikan dalam aneka macam cara, yakni: melalui seleksi yang ketat, melalui ringkasan atau uraian singkat, menggolongkan-nya dalam satu pola yang lebih luas, dsb. Kadangkala dapat juga mengubah data ke dalam angka-angka atau peringkat-peringkat, tetapi tindakan ini tidak selalu bijaksana. - Penyajian Data; Miles & Huberman membatasi suatu penyajian sebagai sekumpulan informasi tersusun yang memberi kemungkinan adanya penarikan kesimpulan dan pengambilan tindakan. Mereka meyakini bahwa penyajian-penyajian yang lebih baik merupakan suatu cara yang utama bagi analisis kualitatif yang valid, yang meliputi: berbagai jenis matrik, grafik, jaringan dan bagan. Semuanya dirancang guna menggabungkan informasi yang tersusun dalam suatu bentuk yang padu dan mudah diraih. Dengan demikian seorang penganalisis dapat melihat apa yang sedang terjadi, dan menentukan apakah menarik kesimpulan yang benar ataukah terus melangkah melakukan analisis yang menurut saran yang dikisahkan oleh penyajian sebagai sesuatu yang mungkin berguna. - Menarik Kesimpulan; Penarikan kesimpulan menurut Miles & Huberman hanyalah sebagian dari satu kegiatan dari konfigurasi yang utuh. Kesimpulan-kesimpulan juga diverifikasi selama penelitian berlangsung. Verifikasi itu mungkin sesingkat pemikiran kembali yang melintas dalam pikiran penganalisis (peneliti) selama ia menulis, suatu tinjauan ulang pada catatan-catatan lapangan, atau mungkin menjadi begitu seksama dan makan tenaga dengan peninjauan kembali serta tukar pikiran di antara teman sejawat untuk mengembangkan kesepakatan intersubjektif atau juga upaya-upaya yang luas untuk menempatkan salinan suatu temuan dalam seperangkat data yang lain. Singkatnya, maknamakna yang muncul dari data yang lain harus diuji kebenarannya, kekokohannya, dan kecocokannya, yakni yang merupakan validitasnya. Pendapat di atas sejalan dengan pendapat Moleong (1989: 190), bahwa analisis data pada umumnya mengandung tiga kegiatan yang saling terkait yaitu (a) kegiatan mereduksi data, (b) menampilkan data, dan (c) melakukan verifikasi untuk membuat kesimpulan. Sementara Sukardi (2006: 72), mengatakan Bahwa Ada beberapa elemen penting dalam analisis data yang penting dalam analisis data kualitatif yang perlu terus diingat oleh setiap peneliti dalam melakukan kegiatan analisis data adalah sebagai berikut: a. Reduksi Data Proses analisis data mestinya dimulai dengan menelaah seluruh data yang tersedia dari berbagai sumber. Setelah dikaji, langkah berikutnya adalah membuat rangkuman untuk setap kontak atau pertemuan dengan responden. Dalam merangkum data biasanya ada satu unsur yang tidak dapat dipisahkan dengan kegiatan tersebut. Kegiatan yang tidak dapat dipisahkan ini disebut membuat abstraksi, yaitu membuat ringkasan yang inti, proses, dan persyaratan yang berasal dari responden tetap dijaga. Dari rangkuman yang dibuat ini kemudian peneliti melakukan reduksi data yang kegiatannya mencakup unsur-unsur spesifik termasuk (1) proses pemilihan data atas dasar tingkat relevansi dan kaitannya dengan setiap kelompok data, (2) menyusun data dalam satuan-satuan sejenis. Pengelompokkan data dalam satuan yang sejenis ini juga dapat diekuivalenkan sebagai kegiatan kategorisasi/variable, (3) membuat koding data sesuai dengan kisi-kisi kerja penelitian. Kegiatan lain yang masih termasuk dalam mereduksi data yaitu kegiatan memfokuskan, menyederhanakan dan mentransfer dari data kasar ke catatan lapangan. Dalam penelitian kualitatif-naturalistik, ini

merupakan kegiatan kontinyu dan oleh karena itu peneliti perlu sering memeriksa dengan cermat hasil catatan yang diperoleh dari setiap terjadi kontak antara peneliti dengan responden. b. Menampilkan Data Pada proses ini peneliti berusaha menyusun data yang relevan, sehingga menjadi informasi yang dapat disimpulkan dan memiliki makna tertentu dengan cara menampilkan dan membuat hubungan antar variabel agar peneliti lain atau pembaca laporan penelitian mengerti apa yang telah terjadi dan apa yang perlu ditindaklanjuti untuk mencapai tujuan penelitian. Penampilan atau display data yang baik dan tampak jelas alur pikirnya, adalah merupakan hal yang sangat didambakan oleh setiap peneliti karena dengan display yang baik merupakan satu langkah penting untuk menuju kea rah jalan lancer untuk mencapai analisis kualitatif yang valid dan handal. c. Verifikasi Data Pada langkah verifikasi peneliti sebaiknya masih tetap mampu, di samping tetap menuju ke arah kesimpulan yang sifatnya terbuka, juga peneliti masih dapat menerima masukan data dari peneliti lain. Bahkan pada langkah verifikasi ini sebagian peneliti juga masih kadang ragu-ragu untuk meyakinkan dirinya apakah mereka dapat mencapai pada tingkat final, di mana langkah pengumpulan data dinyatakan berakhir. Untuk dapat menggambarkan dan menjelaskan kesimpulan yang memiliki makna, seorang peneliti pada umumnya dihadapkan pada dua kemungkinan strategi atau taktik penting, yaitu: (1) memaknai analisis spesifik, (2) menarik serta menjelaskan kesimpulan. 1. Taktik untuk Memaknai Menurut Huberman bahwa manusia merupakan penemu makna, yaitu mereka bisa mendapatkan arti suatu gejala yang semula berserakan menjadi memiliki makna arti mendalam tertentu dalam waktu relative cepat. Dan bila dicermati lebih jah Dia mengatakan bahwa ada beberapa cara cepat untuk menggerakkan dari semula gejala yang ada dan bergerak sehingga memiliki makna. Beberapa cara tersebut di antaranya yaitu (1) counting atau menghitung untuk menjelaskan apa yang ada di sama, (2) melihat kemungkinannya, (3) mengelompokkan atau clustering, (4) membantu para peneliti melihat what goes with what (apa yang terjadi dengan apa), dan kemudian dikaitkan dengan methapore gejala yang ada, (5) mencapai integrasi antara di antara data-data yang berbeda, (6) melihat keterkaitan mereka secara abstrak, termasuk dalam hal ini menjumlahkan dari particular kea rah general, (7) factoring, (8) analisis analogi seperti yang dilakukan dalam teknik kuantitatif, (9) menentukan variebel perantara atau intervening variable, (10) membangun rantai logika dari data yang ada, (11) akhirnya membangun konsep-konsep dari teori yang bervariasi. 2. Mengkonfirmasi Makna Untuk mengetahui kualitas data, seorang peneliti dapat menilai melalui beberapa metode seperti: mengecek representativenes atau keterwakilan data, mengecek dari pengaruh peneliti, mengecek melalui triangulasi, melakukan pembobotan bukti dari sumber data-data yang dapat dipercaya, membuat perbandingan atau mengkontraskan antara variabel, dan penggunaan kasus ekstrim yang direalisasi dengan memaknai data out liers. Dengan mengkonfirmasi makna dari data-data yang diperoleh dengan menggunakan satu cara atau

lebih, diharapkan peneliti akan memperoleh informasi yang dapat digunakan untuk mendukung tercapainya tujuan penelitian. 3. Cara Menganalisis Data Kualitatif Analisis data menurut Patton (Moleong, 2000: 103) adalah proses mengatur urutan data, mengorganisasikannya ke dalam suatu pola, kategori, dan satuan uraian dasar. Ia membedakannya dengan penafsiran, yaitu memberikan arti yang signifikan terhadap analisis, menjelaskan pola uraian, dan mencari hubungan di antara dimensi-dimensi uraian. Selanjutnya Bogdan dan Taylor (Moleong, 2000: 103) mendefinisikan analisis data sebagai proses yang merinci usaha secara formal untuk menemukan tema dan merumuskan hipotesis (ide) seperti disarankan oleh dan sebagian data dan sebagai usaha untuk memberikan bantuan pada tema dan hipotesis itu. Jika dikaji definisi pertama menitikberatkan pada pengorganisasian data, sedangkan definisi kedua lebih menekankan maksud dan tujuan analisis data. Moleong menyimpulkan bahwa analisis data adalah suatu proses mengorganisasikan dan mengurutkan data ke dalam pola, kategori, dan satuan uraian dasar sehingga dapat ditemukan tema dan dapat dirumuskan hipotesis kerja seperti yang disarankan oleh data. Dari rumusan tersebut dapat digarisbawahi bahwa analisis data bermaksud pertama-tama mengorganisasikan data. Data-data yang terkumpul banyak dan terdiri dari catatan lapangan dan komentar peneliti, gambar, foto, dokumen berupa laporan, biografi, artikel, dan sebagainya. Analisis data dalam hal ini adalah mengatur, mengurutkan, mengelompokkan, memberikan kode, dan mengkategori-kannya. Pengorganisasian dan pengelolaan data tersebut bertujuan menemukan tema dan hipotesis kerja yang akhirnya diangkat menjadi teori substantif. Proses analisis data dimulai dengan menelaah seluruh data yang tersedia dari berbagai sumber, yaitu dari wawancara, pengamatan yang sudah dituliskan dalam catatan lapangan, dokumen pribadi, dokumen resmi, gambar, foto dsb. Setelah dibaca dipelajari, ditelaah, maka selanjutnya ialah mereduksi data yang dilakukan dengan jalan membuat abstraksi. Abstraksi merupakan usaha membuat rangkuman yang inti, proses, dan pernyataan-pernyataan yang perlu dijaga sehingga tetap berada di dalamnya. Langkah selanjutnya adalah menyusunnya dalam satuan-satuan. Satuan-satuan kemudian dikategorisasikan pada langkah berikutnya. Kategori-kategori itu dilakukan sambil membuat koding. Tahap akhir dari analisis data ini, mulailah kini tahap penafsiran data dalam mengolah hasil sementara menjadi substantif dengan menggunakan beberapa metode tertentu. Uraian tentang proses analisis dan analisis data di atas akan mengikuti pokok-pokok persoalan sebagai berikut: A. Pemrosesan Satuan 1. Tipologi Satuan Satuan atau unit adalah satuan suatu latar sosial. Satuan merupakan alat untuk menghaluskan data. 1. Penyusunan Satuan

Langkah pertama dalam pemrosesan satuan ialah analisis hendaknya membaca dan mempelajari secara teliti seluruh jenis data yang sudah terkumpul. Setelah itu usahakan agar satuan-satuan itu diidentifikasi. Peneliti memasukannya ke dalam kartu indeks. Penyusunan satuan ke dalam kartu indeks hendaknya dipahami oleh orang lain. Pada tahap ini analis hendaknya jangan dulu membuang satuan yang ada walaupun mungkin dianggap tidak relevan B. Kategorisasi 1. Fungsi dan Prinsif Kategorisasi Moleong (2000: 193) mengatakan Kategorisasi berarti penyusunan kategori. Kategori tidak lain adalah salah satu tumpukan dari seperangkat tumpukan yang disusun atas dasar pikiran, intuisi, pendapat, atau criteria tertentu. Selanjutnya Lincoln dan Guba (1985: 347-351) menguraikan kategorisasi sbb: Tugas pokok kategorisasi adalah (1) mengelompokkan kartukartu yang telah dibuat ke dalam bagian-bagian isi, (2) merumuskan aturan yang menguraikan kawasan kategori dan yang akhirnya dapat digunakan untuk menetapkan inklusi setiap kartu pada kategori dan juga sebagai dasar untuk pemeriksaan keabsahan data, (3) menjaga agar setiap kategori yang telah disusun satu dengan lainnya mengikuti prinsip taat asas. Dapat dikemukakan bahwa sejumlah kategori yang muncul tidak dapat dikatakan seperangkat kategori. Yang dihasilkan seorang analis adalah seperangkat yang menyediakan konstruksi data yang beralasan. 2. Langkah-Langkah Kategorisasi a. Pilihlah kartu pertama di antara yang telah disusun pada penyusunan satuan. Bacalah kartu itu dan catatlah isinya. Kartu pertama ini mewakili entri pertama dari kategori yang akan diberi nama. Tempatkan kartu itu pada satu sisi. b. Pilihlah kartu kedua, baca dan catat pula isinya. Buatlah keputusan atas dasar pengetahuan anda atas dasar intuisi, apakah kartu kedua ini tampak sama atau dirasakan sama dengan kartu pertama. Tampak sama berarti isinya itu benar-benar sama. Jika demikian, tempatkan kartu itu ke dalam tempat yang sama dengan kartu pertama, jika tidak maka kartu itu merupakan entri pertama untuk kategori kedua yang akan diberi nama. c. Lanjutkan dengan kartu-kartu berikutnya. Untuk setiap kartu tetapkan apakah kartu itu tampak atau dirasakan sama dengan kartu-kartu yang telah ditempatkan di dalam kategori yang mantap ataukah kartu itu mewakili kategori baru. Lanjutkan kegiatan seperti ini seperti langkah-langkah selanjutnya. d. Sesudah kartu diproses analis akan merasakan bahwa ada satu kartu yang tidak cocok untuk ditempatkan pada kartu-kartu yang telah ditempatkan pada kategori sebelumnya ataupun tidak cocok untuk menyusun kategori yang baru. Tempatkan kartu itu pada tumpukan lain-lain. Kartu-kartu itu jangan dibuang karena masih akan digunakan untuk keperluan menelaah kembali . e. Ambil kartu-kartu yang telah terkumpul di dalam kategori dengan ukuran yang kritis. Buat dan susunlah pernyataan-pernyataan ydalam bentuk proporsional akan kawasan-kawasan yang merupakan cirri kartu yang sisa. Gabunglah cirri-ciri ke dalam aturan ilklusi. Berilah

kategori itu nama atau judul yang di dalamnya berisi esensi atauran itu untuk memudahkan pengelompokan berikutnya dan untuk mencatat secepatnya isi setiap kategori. f. Lanjutkan dengan langkah ketiga, keempat dan kelima, jika ada kategori yang mendekati ukuran kritis sampai seluruh kartu telah diselesaikan. Penyimpangan, konflik atau ketidakcukupan akan semakin menonjol apabila proses ini berjalan terus, dan hal demikian harus diselesaikan seperti pada langkah kelima. Jika hal itu telah ditangani dengan aturan yang telah direvisi, kartu-kartu yang ditumpukkan ke dalam kategori atas dasar pembentukan aturan sebelumnya hendaknya ditelaah kembali untuk memastikan bahwa kartu-kartu itu masih layak dipertahankan pada kategori itu. g. Apabila tumpukan kartu satuan sudah selesai diproses, keseluruhan perangkat kategori ditelaah lagi. Pertama, hendaknya diberikan pada kartu-kartu yang ditumpukkan ke dalam lain-lain kalau ada di antara kartu-kartu itu yang dapat ditumpukkanke dalam kartu lainnya. Kedua, kategori-kategori harus ditelaah untuk memeriksa adanya tumpang tindih. Ketiga, perangkat kategori itu harus diuji untuk menemukan hubungan di antara sesamanya. h. Kategori yang masih memerlukan data lainnya dapat dilakukan dengan mengikuti strategi seperti berikut: (1) perluasan; peneliti memulai dengan butir-butir yang diketahui tentang informasi yang dijadikan dasar untuk mengajukan pertanyaan atau sebagai petunjuk bagi pengujian dokumen, (2) pengaitan; yang tidak diketahui dan tidak dipahami oleh peneliti dikaitkan agar menjadi sesuatu yang dipahami, (3) pengapungan; proses pengapungan sama dengan proses pembentukan hipotesisi atau menyarankan kategori baru segera setelah subjek kategori yang dikenal ditemukan karena tuntutan logis situasi yang menghendakinya. i. Akhirnya menetapkan menghentikan pengumpulan dan pemrosesan keputusan. Ada empat kriteria: kehabisan sumber, munculnya keteraturan yaitu rasa integritasi walaupun harus berhati-hati jangan sampai menarik kesimpulan yang keliru karena adanya keteraturan dengan cara yang amat sederhana, terlalu diperluas yaitu perasaan peneliti terhadap banyaknya informasi yang digali. j. Terakhir analis harus menelaah sekali lagi seluruh kategori agar jangan sampai ada yang terlupakan. Setelah selesai dianalisis, sebelum menafsirkan penulis wajib mengadakan pemeriksaan terhadap keabsahan data. Pemeriksaan itu dapat digunakan dengan menggunakan teknik-teknik pemeriksaan keabsahan data, yaitu: - perpanjangan keikutsertaan; yang menuntut peneliti agar terjun ke dalam lokasi dan dalam waktu yang cukup panjang guna mendeteksi dan memperhitungkan distorsi pribadi, dipihak lain perpanjangan keikutsertaan juga dimaksudkan untuk membangun kepercayaan para subjek terhadap peneliti dan juga kepercayaan diri peneliti sendiri. - Ketekunan Pengamatan; berarti bahwa peneliti hendaknya mengadakan pengamatan dengan teliti dan rinci secara berkesi-nambungan terhadap factor-faktor yang menonjol. Kemudian ia menelaahnya secara rinci sampai pada suatu titik sehingga pada pemeriksaan tahap awal tampah salah satu atau seluruh faktor yang ditelaah sudah dipahami. - Triangulasi; adalah teknik pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain dari luar data itu untuk keperluan pengecekan atau sebagai pembanding terhadap data itu. Teknik triangulasi yang paling banyak digunakan adalah pemeriksaan melalui sumber lainnya.

- Pemeriksaan sejawat melalui diskusi; teknik ini mengandung beberapa maksud sebagai salah satu teknik pemeriksaan keabsahan data; (1) untuk membuat agar peneliti tetap mempertahankan sikap terbuka dan kejujuran. Dalam diskusi analitik kemencengan peneliti disingkap dan pengertian mendalam ditelaah yang nantinya jadi dasar bagi klasifikasi penafsiran, sehingga pertanyaan yang diajukan dapat diklasifikasi menurut persoalanpersoalan peraturan, etika, atau lain-lain yang relevan, (2) diskusi dengan sejawat memberikan suatu kesempatan awal yang baik untuk mulai menjajaki dan menguji hipotesis yang muncul dari pemikiran peneliti. - Analisis Kasus Negatif; dilakukan dengan jalan mengumpulkan contoh dan kasus yang tidak sesuai dengan pola dan kecenderungan informasi yang telah dikumpulkan dan digunakan sebagai bahan pembanding. - Kecukupan Referensi; oleh Einser (1975, Lincolndan Guba, 1981: 313) sebagai alat untuk menampung dan menyesuaikan dengan kritik tertulis untuk keperluan evaluasi. Video atau film misalnya dapat digunakan sebagai alat perekam yang pada saat senggan dapat dimanfaatkan untuk membandingkan hasil yang diperoleh dengan kritik yang telah terkumpul. - Pengecekan Anggota; dapat dilakukan baik secara formal maupun tidak formal. Banyak hal tersedia untuk mengadakan pengecekan anggota, yaitu setiap hari pada waktu peneliti bergaul dengan subjeknya. Misalnya ikhtiar wawancara dapat diperlihatkan untuk dipelajari oleh satu atau beberapa anggota yang terlibat dan mereka diminta pendapatnya. - Uraian Rinci; teknik ini menuntut peneliti agar melaporkan hasil penelitiannya sehingga uraiannya itu dilakukan seteliti dan secermat mungkin yang menggambarkan konteks tempat penelitian diselenggarakan. Uraiannya harus mengungkap secara khusus segala sesuatu yang dibutuhkan oleh pembaca agar ia dapat memahami penemuan-penemuan yang diperoleh. - Auditing; Penelurusan audit (audit trail) tidak dapat dilaksanakan apabila tidak dilengkapi dengan catatan-catatan peleksanaan penelusuran proses hasil auditing istudi. Pencatatan pelaksanaan itu perlu diklasifikasi terlebih dahulu sebelum auditing itu dilakukan sebagaimana yang dilakukan pada auditing fiscal. - Klasifikais itu dapat dilaksanakan seperti yang dilakukan oleh Halpen 1983, dan Lincoln dan Guba, 1985; 319-320) sebagai berikut: (1) data mentah, termasuk bahan yang yang direkam secara elektronik, catatan lapangan tertulis, dokumen, foto dan semacamnya, serta hasil survey, (2) data yang direduksi dan hasil kajian, termasuk di dalamnya penulisan secara lengkap catatan lapangan, ikhtiar catatan, informasi yang dibuat persatuan, (3) rekonstruksi data dan hasil sistesis, termasuk di dalamnya struktur, kategori, tema, definisi dan hubunganhubungannya, penemuan dan kesimpulan, dan laporan akhir dan hubungannya dengan kepustakaan mutakhir, integrasi konsep, hubungan dan penafsirannya, (4) catatan tentang proses penyelenggaraan, termasuk di dalamnya catatan metodologi, prosedur, desain, strategi, rasional, catatan tentang keabsahan data; berkaitan dengan derajat kepercayaan, ketergantungan dan kepastian, dan penelusuran audit, (5) bahan yang berkaitan dengan maksud dan keinginan, termasuk usulan penelitian, catatan pribadi: catatan reflektif dan motivasi; dan harapan: harapan dan peramalan, (6) informasi tentang pengembangan instrument, termasuk berbagai formulir yang digunakan untuk penjajakan, jadwal pendahuluan, format pengamat, dan survey. Tahap akhir rentetan auditing ialah mengakhiri auditing itu sendiri (closure).

C. Penafsiran Data Penafsiran data dijabarkan ke dalam: (1) Tujuan penafsiran data, tujuan deskripsi sematamata, analisis menerima dan menggunakan teori dan rancangan organisasional yang telah ada dalam suatu disiplin. Dengan hasil analisis data, analis menafsirkan data itu dengan jalan menemukan kategori-kategori, (2) proses umum penafsiran data; analisis data itu terjalin secara terpadu dengan penafsiran data. Data ditafsirkan menjadi kategori yang berarti sudah menjadi bagian dari teori dan dilengkapi dengan penyusunan hipotesis kerjanya sebagai teori yang nantinya diformulasikan dengan penyusunan deskriptif maupun secara proporsional., (3) Peranan hubungan kunci dalam penafsiran data; proses ini berlangsung selama peleitian berjalan. Kategori dan hubungannya diberi label dengan pernyataan sederhana berupa proporsisi yang menunjukkan hubungan. Proses ini diteruskan hingga diperoleh hubungan yang cukup padat, yaitu sampai analis menemukan petunjuk metafora atau kerangka berpikir umum, yaitu sampai analis menemukan hubungan kunci, yaitu suatu metafora, model, kerangka umum, pola yang menolak, atau garis riwayat, (4) peranan integorisasi data; interogasi terhadap data berarti mengajukan seperangkat pertanyaan pada data sehingga terungkaplah banyak persoalan dari data itu sendiri. Langkah-langkah menganalisis data atau cara menganalisis data di atas sejalan dengan pendapat Milles dan Huberman, namun mereka merinci lebih jelas setiap proses analisis, bahkan dilengkapi dengan contoh bagan-bagan yang digunakan dalam menganalisis data kualitatif, yakni sebagai berikut: 1. Analisis selama pengumpulan data yang terdiri dari: lembar ringkasan kontak yang memuat lembar isian ringkasan dokumen, kode dan pengkodean yang terdiri atas (catatan reflektif, catatan pinggir, menyimpan dan mendapatkan kembali teks), pembuatan kode pola, membuat memo yang diperlukan untuk pengembangan proposisi, pertemuan analisis situs dan ringkasan situs sementara dengan menyediakan catatan data. 2. Analisis di dalam situs; yang terdiri atas: bagan konteks yang menampilkan bagan konteks variabel khusus, matriks daftar cek, masalah yang tertata waktunya, matriks peranan tertata (matriks peranan dengan waktu dan matriks peranan dengan kelompok), matriks gerombol konseptual, matriks pengaruh eksplanatori, matriks dinamika situs tentang proses-keluaran, memasukkan peristiwa dalam daftar (bagian kejadian penting, jenjang pertumbuhan, jaringan peristiwa keadaan) jaringan kausal dalam bentuk verifikasi, membuat dan menguji prediksi. 3. Analisis lintas situs; yang terdiri atas: matriks meta tak tertata, matriks deskriptif yang tertata menurut situs (mengurutkan situs melalui indeks yang diringkas, tabel ringkasan dan matriks tertata menurut situs dua variabel), matriks prediktor keluaran situs tertata (membuat sub struktur variabel, table kontraks, dan matriks prediktor-keluaran-konsekuensi), matriks meta waktu tertata, bagan pencar (bagan pencar lintas waktu), matriks efek situs tertata, model-model kausal (rangkaian kausal), jaringan kausal-analisis lintas situs (matriks anteseden) 4. Penyajuan matriks; yang terdiri dari: membangun penyajian matriks, memasukkan data matriks, menganalisis data matriks. 5. Matriks dan menguji kesimpulan yang terdiri dari: taktik untuk merapatkan kesimpulan (perhitungan, memperhatikan pola, tema, melihat kemasukakalannya, penggurumbulan, membuat metafosa, memilih variabel, menggolongkan yang khusus dan yang umum,

penentuan factor, memperhatikan hubungan antarvariabel, menemukan variabel penyela, membangun rangkaian logis mengenai bukti, membuat pertalian konseptual/teoritis), taktik untuk menguji dan memastikan temuan (memeriksa kerepresentatian, memeriksa pengaruh peneliti, triangulasi, memberi bobot pada bukti, membuat pertentangan/perbandingan, memeriksa makna segala sesuatu yang di luar, menggunakan kasus eksteren, menyingkirkan hubungan palsu, membuat replika temuan, mencari penjelasan tandingan, memberi bukti yang negatif, dan mendapatkan umpan balikan dari informasi dan informan). Bila kita mengikuti alur yang ditawarkan oleh Miles dan Huberman, maka akan sulit memahami, namun cara menganalisis data seperti yang dilakukan oleh mereka telah ditulis oleh Moleong yang didukung dengan pandangan-pandangan para pakar lainnya lebih simple dan mudah dipahami bila kita tertarik dengan penelitian kualitatif. Para peneliti kualitatif mencoba memahami kepribadian orang lain dari pendapat dan kerangka berpikir mereka. Pusat dan pandangan dari peneliti kualitatif adalah realitas yang dialami sebagai pengalaman dari responden. Mereka empati, dan mengenal dengan orang yang mereka teliti untuk memahami bagaimana mereka melihat sesuatu perspektif mereka, sedangkan interpretasi dan dugaan peneliti ditempatkan untuk menangkap proses yang terjadi dalam kerangka pengalaman dan satuan perbuatan yang dilakukan. Artinya penelitian kualitatif selalu berada dalam setting kerja lapangan (field work). Karena berorientasi pada proses, maka saya mengatakan bahwa penelitian kualitatif digunakan untuk memecahkan permasalahan penelitian yang berkaitan dengan kehidupan manusia di masyarakatnya, konekuensi masyarakat atas hasil pembangunan, perilaku siswa di sekolah, partisipasi kelompok dalam masyarakat dalam kaitannya dengan adaptasi lingkungan dll, dimana dalam Penelitian kualitatif pada aplikasinya tidak harus menggunakan jumlah subyek atau obyek yang besar, tetapi memerlukan deskripsi secara tebal atau thick description dan komprehensif, sehingga mampu memberikan gambaran luas, kaya dan hidup. Oleh karena itu penelitian kualitatif juga digunakan untuk skalah kecil dan bersifat kasus dengan menekankan pada prose salami dengan deskripsi yang intensif dalam setiap langkahnya. Lukisan mendalam atau thick description seperti hasil penelitian yang pernah dilakukan oleh Clifford Geeztz dalam tafsir kebudayaan adalah salah salah satu contoh hasil penelitian kualitatif etnografi. Geertz lebih memperhatikan makna seperti juga yang dikatakan oleh Milles dan Huberman. Dia menganjurkan seseorang untuk lebih mencari pemahaman makna daripada sekedar mencari hubungan sebab akibat. Untuk menagkap apa yang disebut makna kebudayaan, perlulah terlebih dahulu mengetahui cara menafsir symbol-simbol yang setiap saat dan tempat digunakan orang dalam kehidupan umum. Sementara Spradley (1997: xvi) mengatakan Belajar tentang etnografi berarti belajar tentang jantung dari ilmu antropologi, khususnya antropolgi sosial. Ciri-ciri khas dari metode penelitiannya sifatnya holisticintegratif, thick description, dan analisis kualitatif dalam rangka mendapatkan natives point of view. Teknik pengumpulan data yang utama adalah observasi partisipansi dan wawancara terbuka dan mendalam, yang dilakukan dalam jangka waktu yang relative lama, bukan kunjungan singkat dengan daftar pertanyaan yang terstruktur seperti pada penelitian survey. Lebih lanjut Geertz menawarkan cara menafsir symbol-simbol kebudayaan secara komplit (thick). Sebuah tafsiran dengan memaparkan konfigurasi atau system simbol-simbol bermakna secara mendalam dan menyeluruh. Mengingat bahwa symbol-simbol adalah kendaraan pembawa makna. Dalam tiga bab terakhir (Bab 5, 6, 7) Geertz menuangkan contoh-contoh bagaimana Dia membuat lukisan etnografi yang memperhatikan (sejauh mungkin) sudut pandang dari mata kepala (pihak yang sedang diteliti). Dia melukiskan

perjuangan warga masyarakat (ketiganya tentang Bali) menghadapi, menafsir dan bercerita tentang symbol-simbol kebudayaan yang selama itu tersedia, umum dikenal dan mendefinisikan dunia kehidupan masing-masing warga. Itulah salah satu contoh dari ciri penelitian kualitatif yaitu thick description lukisan mendalam terhadap obyek penelitian. Untuk penelitian etnografis dan paradoknya serta masalah-masalah yang timbul dalam pendidikan social, Stanley (1976-1983: 6) mengutip hasil penelitian Jane White bahwa etnografi merupakan paradigma penelitian yang tidak sama dan dapat menimbulkan berbagai pertanyaan baru serta memberikan cara yang berbeda pula dalam melihat dan memahami tingkah laku sosial. Dia juga membahas beberapa pertentangan yang bersangkut-paut dengan hal-hal yang memungkinkan dan tidak memungkinkan dilaksanakannya penelitian etnografis. Tinjauan tentang studi etnografis yang relevan dianalisis dalam batas-batas cara studi itu, membantu kita memahami pendidikan proses social. White mengambil posisi bahwa penelitian etnografis itu penemuannya tidak begitu preskriptif seperti studi empirik-analitis. Kesimpulan: Dari uraian di atas, tentang data kualitatif, yang terpenting dalam analisis data kualitatif dan cara menganalisis data kualitatif, dapat ditarik kesimpulan atau karakteristik penelitian kualitatif adalah sebagai berikut: 1. Data kualitatif adalah semua informasi yang berupa test, sit com, email, cerita rakyat, sejarah kehidupan, yang berguna untuk membangun dan mengarahkan pada pengembangan pengertian yang mendalam, dan yang berhubungan dengan kategorisasi, karakteristik berwujud pertanyaan atau berupa kata-kata 2. Penelitian kualitatif dilakukan atas dasar induktif yang mengedepankan pengembangan yang berawal dari spesifik seperti: konsep, pandangan dan pengertian yang berasal dari bentuk kata yang ada, untuk kemudian menuju pada kesimpulan akhir. 3. Peneliti melihat setting dan orang yang diteliti secara menyeluruh atau holistic dimana komponen-komponen subyek yang diteliti seperti manusia, dan tempat tidak dikurangi atau direpresentasikan sebagai variabel, tetapi mereka melihat secara keseluruhan untuk menjadi pertimbangan dalam analisis data. Para peneliti melakukan studi terhadap manusia dalam konteks yang holistic dan alami dengan situasi dan kondisi mereka sehari-hari. 4. Metode kualitatif adalah metode humanistic yaitu metode yang mempelajari bagaimana kecenderungan masyarakat yang mempengaruhi kita dalam memandang mereka. Mempelajari manusia secara kualitatif berarti mengetahui pribadi mereka, pengakuan dan pengalaman mereka alami. 5. Penelitian kualitatif pada prinsipnya adalah tindakan untuk mengetahui konsep kehidupan social orang lain yang menjadi subyek penelitian yang pada umumnya mencakup: (a) pengamatan masyarakat dalam kesehariannya, (b) mendegarkan pembicaraan atau pikiran mereka, DAFTAR PUSTAKA Anselm Stauss, dan Barney G. Glasser. (1985) Penemuan Teori Grounded beberapa strategi penelitian kualitati( terjemahan) Surabaya: Usaha nasional

Brannen, J. 1997. Memadu Metode Penelitian Kualitatif dan Kuantitatif (Terjemahan). Metodologi Penelitian Kualitatif (edisi ketiga cetakan ke tujuh). Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Clifford Geertz. (1992) Tafsir Kebudayaa (terjemahan), Yogyakarta: Kanisius. Guba, E.G dan Lincoln, Y.S. (1981) Effective Evaluation. San Francisco: Jossey Bass Publisher Milles & Huberman. (1992) Analisis Data Kualitatif (tentang metode-metode baru), Jakarta: UI-Press. Moleong, Lexy.J. 2000. Metodologi Penelitian Kualitatif, Bandung: PT. Rosdakarya. Riduwan. (2003) Skala Pengukuran Variabel-Variabel Penelitian. Bandung: Alfabeta Stanley, William, B. (1976-1983) Tinjauan tentang Penelitian dalam Pendidikan Ilmu-ilmu Sosial (diterjemahkan oleh Kaluge Lauren dan Abdul Wahab), Surabaya, Airlangga University Press. Spradley P. James. (1997) Metode Etnografi (terjemahan), Yogyakarta: PT. Tiara Wacana. Sukardi, (2006) Penelitian Kualitatif Naturalistik dalam Pendidikan, Yogyakarta: Usaha Keluarga. http://id.wikipedia.org/wiki/Penelitian_kualitatif (diakses 15 Januari 2009

F. Hal-hal yang Harus Diperhatikan dalam Wawancara. Agar wawancara dapat mencapai hasil yang baik perlu adanya beberapa hal yangharus diperhatikan dalam mengadakan wawancara :1. Orang yang akan mengadakan wawancara harus mempunyai latar belakangtentang apa yang akan ditanyakan, karena yang akan ditanyakan perludipersiapkan dengan sebaik-baiknya, agar wawancara dapat berlangsung denganlancar, sistematis, dan teratur.2. Pewawancara harus menjelaskan dengan sebaikbaiknya apa maksud serta tujuandari wawancara tersebut.3. Dalam wawancara harus dijaga agar selalu ada hubungan yang baik. Hubungan baik ini merupakan sumbangan yang besar di dalam jalannya atau hasilwawancara yangakan dapat dicapai.4. Pewawancara atau pembimbing harus mempunyai sifat dapat dipercaya. Rahasiadari individu yang diwawancarai atau klien harus dapat disimpan dengan baik,sebab kalau tidak demikian, kemungkinan klien tidak akan mengutarakan sesuatukepada wawancara dengan terbuka.5. Pertanyaan hendaknya diajukan dengan hati-hati, teliti dan kalimatnya harus jelas.6 . H a r u s dijaga jangan sampai ada hal -hal yang mungkin mengganggu j a l a n n y a wawancara. Bila ada hal-hal yang sekiranya dapat mengganggu, sebaiknya halhaltersebut disingkirkan lebih dahulu.7. Bahasa yang digunakan oleh pewawancara harus disesuaikan dengan kemampuanyang diwawancarai.8. Sekalipun pertanyaan-pertanyaan telah dipersiapkan terlebih dahulu supayasistematis, tetapi didalam memberikan pertanyaanpertanyaan jangan sampaikaku, masing-masing pertanyaan dapat diperluas kepada hal-hal yang berhubungandengan pertanyaan itu.9. Pewawancara atau pembimbing harus menjaga jangan sampai ada waktu diamyang terlalu lama. Hal yang demikian akan mematikan suasana wawancara.10. Pewawancara harus mengadakan kontrol di dalam wawancara. Kalau ada halhalyang bertentangan satu dengan yang lainnya perlu pewawancara mencariketegasan.11.

Pertanyaan-pertanyaan untuk mengadakan kontrol di ajukan setelah wawancarasampai kepada suatu titik tertentu. Jadi jangan sampai memotong pembicarann,karena ini akan mengganggu jalannya wawancara.12. Lamanya waktu wawancara sebenarnya tergantung, kepada masalahnya. Tetapi pada umumnya wawancara yang terlalu lama akan melelahkan kedua belah pihak.Karenanya waktu wawancara sekitar 30 menit merupakan waktu yang cukup.13. Di dalam wawancara hendaknya dihindari aku dari pewawancara atau pembimbing. Jangan samapai aku tersebut ditonjol-tonjolkan.1 4 . I n d i v i d u y a n g sukar berbicara tidak boleh dipaksa untuk m e m b e r i k a n keterangan/penjelasan dengan panjang lebar.15. Tidak terlalu banyak membuat catatan selama wawancara berlangsung. Selaluharus minta ijin pada individu untuk membuat catatan seperlunya. 16. Menghindari pertanyaan yang sugestif , yang mendorong murid untuk memberikan jawaban yang baik dan hindarkan pertanyaan yang hanya menuntut jawaban yaatau tidak. G. Kelebihan dan Keterbatasan Wawancara. 1. Kelebihan Wawancara. a. Wawancara merupakan teknik yang paling tepat untuk mengungkapkan keadaan pribadi subyek wawancara. b. Dapat dilaksanakan terhadap setiap individu dan tingkatan umur.c. Wawancara selalu digunakan untuk mengumpulkan data pelengkap terhadap datayang dikumpulkan dengan teknik lain.d. Dapat diselenggarakan serempak dengan observasi.e. Bahasa dari pewawancara dapat disesuaikan dengan keadaan subyek wawancara.f. Subyek wawancara berhadapan langsung dengan pewawancara, maka diharapkandapat menimbulkan suasana persaudaraan yang baik, sehingga hal ini akanmempengaruhi hasil wawancara.g. Isi pertanyaan dan caranya mengajukan pertanyaan dapat disesuaikan dengantingkat perkembangan dan daya tangkap sebyek wawancara. Baik pewawancaramaupun subyek wawancara dapat memberikan penjelasan lebih lanjut bilamana pertanyaan atau jawaban belum jelas.h. Tidak dibatasi oleh kemampuan dan menulis individu, artinya orang tidak dapatmembaca atau menulispun dapat diajak wawancarai. Kerahasiaan pribadi lebih terjamin. 2. Keterbatasan Wawancara. a. Kalau pewawancara atau subyek wawancara mempunyai suatu prasangka yangsatu kepada yang lain, hasil wawancara tidak akan memuaskan. b. Mengadakan wawancara dengan individu satu persatu memerlukan banyak waktudan tenaga dan mungkin juga biaya.c. Menuntut keahlian, ketrampilan, dan penguasaan bahasa yang baik dari pewawancara.d. Sangat tergantung kepada kesediaan, kemampuan dan keadaan sementara darisubyek wawancara, yang mungkin sangat menghambat ketelitian hasilwawancara.e. Laju dan materi wawancara sangat dipengaruhi oleh situasi sekitar tempatwawancara. Sekalipun ada segi-segi kelemahan, namun wawancara masih banyak sumbangannya sebagai metode untuk mendapatkan data. Bahkan dalam proseskonseling, wawancara merupakan alat yang sangat pokok. H. Sifat-sifat Pertanyaan dalam Wawancara. Pertanyaan-pertanyaan yang digunakan dalam wawancara hendaknya sesuaidengan kebutuhan : a. Pertanyaan yang bersifat mendorong pembahasan dan pemahaman. Contoh: Coba,ceritakan lebih lanjut. Bagaimana menurut pendapatmu. b. Pertanyaan yang menarik pemahaman. Yaitu pertanyaan yang mengandung katakarena, oleh sebab...., mengandungsebab akibat.c. Pertanyaan yang mendorong penerimaan perasaan.Contoh : Apakah anda merasa senang ?d. Pertanyaan yang mendorong sikap/tingkah laku tertentu, ( pertanyaan yangmendorong,

memperlua pandangan/memberi dorongan tentang sesuatu hal),Contoh : anda jelaskan, bagaimana hal ini bisa terjadi. I. Kapan sebaiknya Wawancara Diakhiri ? Suatu wawancara diakhiri dengan memperhatikan beberapa hal :1. Bila data/keterangan yang diperoleh sudah cukup/sesuai dengan harapan pewawancara.2. Dengan melihat sikap orang yang diwawancarai.3. Sebaiknya tidak lebih dari 30 menit.4. Karena wawancara dalam konseling tidak cukup hanya satu kali, maka konselor harus tahu waktu dan konselor harus menjaga agar hubungan baik yang terciptaterjaga dengan berjanji kalau konselor masih bersedia melanjutkan wawancaralagi dilain waktu, jika klien masih menghendaki. J. Hal-hal yang Mempengaruhi Keberhasilan Wawancara. Berhasil tidaknya wawancara ditentukan oleh kedua belah pihak pewawancaradan subyek wawancara yaitu tergantung kepada hal-hal sebagai berikut :1. Hubungan baik antara pewawancara ( interviewer ) dan subyek wawancara ( interviewee ).2. Ketrampilan sosial pewawancara yang meliputi : sikap dalam berbuat dan berbicara sikap tidak ingin menang sendiri nada dan irama berbicara kemampuan untuk mempergunakan dan memanipulasikata-kata yang tepat dalam berbagai suasana dan situasi3. Pedoman wawancara yang harus disususun bersama-sama dan alat untuk mencatat hasil wawancara it (3) Strategi yang responsif terhadap kebutuhan masyanakat,(4) Strategi terpadu atau strategi yang menyeluruh.Pembangunan pedesaan yang memberi fokus pada upaya penanggulangank e m i s k i n a n , j i k a d i o r i e n t a s i k a n u n t u k m e w u j u d k a n keberlanjutan proses danm a n f a a t n y a d i m a s a d e p a n , m a k a s t r a t e g i y a n g p e n t i n g d i l a k s a n a k a n i a l a h m e n u m b u h k a n p e m b a n g u n a n ya n g b e r d a s a r k a n k e p e r c a y a a n d i r i ( s e l f - r e l i a n t development). Adapun yang menjadi elemen utama dalam strategi besar tersebutadalah pendekatan people driven dimana rakyat akan menjadi aktor penting dalamsetiap formulasi kebijakan dan pengambilan keputusan politis. Juga diperlukan pelaksanaan perubahan paradigma yang meredefinisi peran pemerintah yang akanlebih memberi otonomi pada rakyat, adanya transformasi kelembagaan dari yang b e r s i f a t r e p r e s i f m e n j a d i r e p r e s e n t a t i f , d a n t r a n s p a r a n s i p e n y e l e n g g a r a a n pemerintahan.S e c a r a k o n s e p s i o n a l p e n d e k a t a n p e m b a n g u n a n d e n g a n r a k y a t s e b a g a i subjeknya berada pada jalan yang tepat, tetapi salah satu hal yang perlu disadari bahwa hasil dari pendekatan yang digunakan itu secara umum belum mencapai k o n d i s i ya n g d i i n g i n k a n , ya i t u k e m a n d i r i a n m a s ya r a k a t p e r d e s a a n . P r o s e s penguatan penduduk miskin yang mencakup lima aspek yaitu; pengembangan s u m b e r daya manusia, penyediaan modal kerja, penciptaan peluang d a n kesempatan berusaha, mengembangkan kelembagaan penduduk m i s k i n , d a n penciptaan sistem pelayanan kepada penduduk miskin yang sederhana dan efisien. PEMBANGUNAN PERDESAAN

Masyarakat perdesaan merupakan bagian terbesar dari jumlah penduduk Indonesia dengan berbagai kegiatan usaha berbasis pertanian dan sumberdayalocal lainnya sebagai usaha pencaharian mereka. Oleh karena itu, peningkatankesejahteraan kelompok masyarakat tersebut dilakukan secara menyeluruh baik secara sektoral maupun secara spasial (perdesaan). Pada dasarnya arah kebijakanyang ditempuh adalah untuk mengoptimalkan dan menggali potensi wilayah serta memberdayakan masyarakat agar mampu mengelola potensi secara produktif dane f i s i e n u n t u k m e n i n g k a t k a n k e s e j a h t e r a a n n ya . A d a b e b e r a p a a r a h k e b i j a k a n pembangunan pertanian dan perdesaan, antara lainsebagai berikut: A. Peningkatan produktivitas, kualitas petani, dan pertanian ,melalui kegiatan:1 . P e n g u a t a n k e l e m b a g a a n d a n p e n u m b u h a n k e m b a l i s i s t e m p e n yu l u h a n d a n pendanaan pinjaman pertanian dan perikanan serta peningkatan kemampuan petani melalui; penyempurnaan dan pemanfaatan basis data serta informasi p e r t a n i a n / p e r i k a n a n ; p e n g u a t a n s i s t e m p e n yu l u h a n d i d a e r a h d a n u p a ya p e n d a m p i n g a n k e p a d a p e t a n i d a n n e l a ya n ; p e n d i d i k a n d a n l a t i h a n s e r t a pembinaan petani dan pembudidayaan ikan.2 . P e n i n g k a t a n diseminasi dan penerapan teknologi tepat guna dan s p e s i f i k a s i lokasi.3.Penyempurnaan standar mutu dan perbaikan mutu komunitas pertanian.4.Pengembangan agrobisnis untuk meningkatkan mutu, nilai tambah, dan dayas a i n g k o m u n i t a s p e r t a n i a n / p e r i k a n a n m e l a l u i : p e n g e m b a n g a n b u d i d a ya p e r i k a n a n p e r d e s a a n , p e n g e m b a n g a n t a m b a k r a k y a t , d a n p e n g e m b a n g a n sumber perikanan tangkap.5. Peningkatan produksi peternakan dan perkebunan.6. Pengendalian hama dan penyakit tanaman, ternak, dan ikan.7. Penanganan pasca panen, pemasaran, dan pengolahan hasil pertanian. B. Peningkatan akses petani terhadap sumberdaya produktif danpermodalan ,dilakukan melalui kegiatan pokok: 5.Penataan kepemilikan, penguasaan, penggunaan, pemanfaatan, dan sertifikasit a n a h d a n t a m b a k d i p e r d e s a a n u n t u k m e n d u k u n g a k s e s t e r h a d a p l a h a n d a n bagunan dalam memperoleh permodalan.6 . D u k u n g a n ketersediaan sarana produksi dan pengolahan hasil p e r t a n i a n , perikanan, dan kehutanan, termasuk pengembangan industri pakan dan input produksi lainnya.7.Pembangunan dan rehabilitasi sarana dan prasarana produksi dan pengolahan perikanan seperti pelabuhan perikanan (TPI), sarana tangkap, dan peralatantangkap skala besar dan kecil serta pembenihan di wilayah sentra perikanan.8.Peningkatan layanan lembaga keuangan perdesaan dan usaha kecil menenga Tujuan pembangunan desa TUJUAN DAN SASARAN PEMBANGUNAN DESA Tujuan pembangunan pedesaan jangka panjang adalah peningkatan kesejahteraan masyarakat pedesaan secara langsung melalui peningkatan kesempatan kerja, kesempatan berusaha dan pendapatan berdasarkan pendekatan bina lingkungan, bina usaha dan bina manusia, dan secara tidak langsung adalah meletakkan dasar-dasar yang kokoh bagi pembangunan nasional.

Tujuan pembanguan pedesaan jangka pendek adalah untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi dalam kegiatan ekonomi dan pemanfaatan sumberdaya manusia dan sumberdaya alam. Tujuan pembanguan pedesaan secara spasial adalah terciptanya kawasan pedesaan yang mandiri, berwawasan lingkungan, selaras, serasi, dan bersinergi dengan kawasankawasan lain melalui pembangunan holistik dan berkelanjutan untuk mewujudkan masyarakat yang damai, demokratis, berkeadilan, berdaya saing, maju dan sejahtera. Sasaran Sasaran pembangunan pedesaan adalah terciptanya: 1. Peningkatan produksi dan produktivitas 2. Percepatan pertumbuhan desa 3. Peningkatan keterampilan dalam berproduksi dan pengembangan lapangan 4. kerja dan lapangan usaha produktif. 5. Peningkatan prakarsa dan partisipasi masyarakat. 6. Perkuatan kelembagaan.

Pembangunan pedesaan yang dilaksanakan harus sesuai dengan masalah yang dihadapi, potensi yang dimiliki, serta aspirasi dan prioritas masyarakat pedesaan Prinsip, tujuan, asas, dan pokok kebijaksanaan pembangunan desa Prinsip-prinsip pembangunan desa a. b. c. Imbangan kewajiban antara pemerintah dan masyarakat Dinamis dan berkelanjutan Menyeluruh, terpadu, dan terkoordinasi

Tujuan pembangunan desa a. b. Jangka pendek: untuk meningkatkan taraf hidup dan kehidupan rakyat desa. Jangka panjang: untuk memperkuat dasar-dasar sosial ekonomi yang memiliki hubungan

kuat dan mendasar dengan kota-kota di wilayah sekitar.

Asas pembangunan desa a. b. Swadaya masyarakat Kekeluargaan dan gotong royong

c. d. e.

Berorientasi pada kepentingan rakyat banyak Satu pola nasional Adanya keseimbangan nasional ekonomi dan sosial

Pokok-pokok kebijaksanaan pembangunan desa a. b. c. d. e. Pemanfaatan sumber daya manusia dan sumber daya alam Pemenuhan kebutuhan esensial masyarakat Peningkatan prakarsa dan swadaya masyarakat Pengembangan tata desa yang teratur dan serasi Peningkatan kehidupan ekonomi yang kreatif