Anda di halaman 1dari 8

Oleh: M. Khoirul Anam, M.Ag A.

Pengertian Arah Kiblat Pada hakekatnya Kiblat adalah masalah arah, yakni arah yang menunjuk ke Kabah di Makkah. Dan di seluruh titik permukaan bumi ini dapat ditentukan ke mana arah kiblatnya dengan cara perhitungan dan pengukuran. Oleh karena itu, perhitungan arah kiblat adalah perhitungan untuk mengetahui dan menetapkan ke arah mana Kabah di Makkah itu dilihat dari suatu tempat di permukaan bumi ini, sehingga semua gerakan orang yang sedang melaksanakan shalat, baik ketika berdiri, ruku, maupun sujudnya selalu berimpit dengan arah yang menuju Kabah.2 Ijma Ulama berpendapat bahwa menghadap Kiblat merupakan syarat sahnya shalat, sebagaimana yang telah disebutkan oleh dalil-dalil syari. Bagi orang-orang di kota Makkah dan sekitarnya perintah ini tidak menjadi persoalan, sebab dengan sangat mudah mereka dapat memenuhinya. Tapi persoalannya menjadi lain bagi orang-orang yang jauh dari kota Makkah terlepas dari ikhtilaf para Ulama tentang apakah cukup menghadap ke arah Kabah saja sekalipun kenyataannya salah, ataukah harus menghadap ke arah Kabah sebenarnya. Ada sebuah cerita yang cukup menggelikan bahkan konyol, bahwa di Suriname (= + 04 00 LU dan = -55 00 BB) ada dua masjid yang arahnya berbeda; ada yang menghadap ke arah Barat serong ke Utara dan yang menghadap ke arah Timur serong ke Utara. Kenyatan ini dikarenakan orang-orang Suriname yang berasal dari Indonesia berkeyakinan bahwa shalat harus menghadap ke Barat Serong ke Utara, sebagaimana lazim terjadi di Indonesia. Namun, belakangan setelah banyak yang mengetahui ilmu falak-- baru disadari bahwa arah kiblat sebenarnya adalah menghadap ke arah Timur serong ke Utara sebesar 21 43 50.80 (T-U). Sebagaimana visualisasi gambar di bawah ini: sedekat mungkin dengan posisi

HISAB ARAH KIBLAT1

Makalah disampaikan pada Diklat Hisab Rukyat yang diselenggarakan oleh Kantor Departemen Agama Kab. Lamongan tgl 28-29 Nopember 2008 di Tanjung Kodok Beach Resort Paciran Lamongan 2 Muhyiddin Khazin, Ilmu Falak Dalam Teori dan Praktek, (Yogyakarta: Buana Pustaka, 2005), Cet. II, hal. 49
1

Fakta di atas tentu saja dapat dijadikan sebagai ilustrasi bahwa

sejatinya tidak sembarang orang dapat mengetahui arah Kiblat yang sebenarnya. Sebab untuk mengetahui arah Kiblat yang sebenarnya dibutuhkan sebuah ilmu khusus, terlebih bagi mereka yang memang berhubungan langsung dengan pelayanan (tempat bertanya) pengukuran arah Kiblat [seperti tokoh agama, MUI, Pegawai KUA, dll]. Pada hakekatnya arah Kiblat adalah arah atau jarak terdekat sepanjang lingkaran besar yang melewati kota Makah (Kabah) dengan tempat kota yang bersangkutan. Oleh karenanya tidak dibenarkan, misalnya orang-orang Islam di Lamongan melaksanakan shalat menghadap ke arah Timur serong ke Selatan; meskipun ketika arah itu diteruskan pada akhirnya akan sampai juga ke Makkah. Sebab arah atau jarak yang terdekat ke Makkah bagi orang-orang Lamongan adalah arah Barat serong ke Utara sebesar 24 04 39 (B-U) [Lihat gambar di bawah ini!].

B. Dalil Syari

Banyak Ayat al-Quran dan Hadis Nabi SAW yang menjelaskan tentang keharusan seorang muslim untuk menghadap Kiblat ketika melaksanakan shalat. Berikut ini adalah sebagian dalil Syari yang berhubungan dengan Kiblat kaum Muslimin.

Dan dari mana saja kamu keluar (datang), Maka Palingkanlah wajahmu ke arah Masjidil haram, Sesungguhnya ketentuan itu benar-benar sesuatu yang hak dari Tuhanmu. dan Allah sekalikali tidak lengah dari apa yang kamu kerjakan. Dan dari mana saja kamu (keluar), Maka Palingkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram. dan dimana saja kamu (sekalian) berada, Maka Palingkanlah wajahmu ke arahnya, agar tidak ada hujjah bagi manusia atas kamu, kecuali orang-orang yang zalim diantara mereka. Maka janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku (saja). dan agar Ku-sempurnakan nikmat-Ku atasmu, dan supaya kamu mendapat petunjuk.
3

Bila kamu hendak melaksanakan shalat maka sempurnakanlah wudlu lalu menghadaplah ke kiblat, kemudian bertakbirlah!

4
Sesungguhnya Nabi SAW ketika masuk ke Baitullah beliau berdoa di sudut-sudutnya, dan tidak shalat di dalamnya sampai beliau keluar. Setelah keluar beliau shalat dua rakaat di depan Kabah dan berkata: Inilah Kiblatku
5

Diantara Timur dan Barat terdapat Kiblat


6

Baitullah adalah kiblat bagi orang-orang di Masjidil haram. Masjidil Haram adalah kiblat bagi orang-orang penduduk Tanah
3 4 5 6

Bukhari, Shahih al-Bukhari, (Semarang: Toha Putera, tt), hal. Opcit. Ash-Shonani, Subulus Salam, (Bandung: Ad-Dahlan,tt), Juz I, h. 133 Asy-Syaukani, Nailul Author, (Beirut: Dar al-Maarif, 1983), Juz II, hal. 169

Haram (Makkah). Dan Tanah Haram adalah kiblat bagi semua umatku di bumi, baik di Barat maupun di Timur Pendapat Beberapa Ulama:7
1. Imam Syafii: Apabila seseorang telah berijtihad dan menjalankan

shalat ke arah hasil ijtihadnya sampai selesai. Kemudian setelah shalat dia tahu bahwa arah kiblatnya itu salah dengan yakin, maka shalatnya batal dan wajib mengulangi. Kecuali dia zan (ragu) apakah arah kiblatnya tadi salah atau benar, maka shalatnya tetap sah.
2. Imam Maliki: Seseorang shalat menghadap arah kiblat dengan

berijtihad, kemudian ternyata setelah shalat dia tahu bahwa arah kiblatnya salah, baik yakin atau zan (ragu), maka disunnahkan baginya untuk mengulangi shalat. Dengan syarat dia dapat melihat dan waktu shalat masih ada.
3. Imam Hanafi: Dengan jalan ijtihad seseorang menghadap arah

kiblat kemudian shalat, ketika dia tahu bahwa arah kiblatnya salah sesudah melaksanakan shalat maka shalatnya sah dan tidak wajib mengulangi. Tapi bagi mereka yang mengetahui kesalahan arah kiblat tersebut di tengah-tengah shalat, maka shalatnya batal dan wajib mengulangi sahlatnya. C. Rumus dan Cara Pengukuran Arah Kiblat Karena setiap titik (tempat) di permukaan bumi ini berada di permukaan bola Bumi, maka perhitungan arah Kiblat dilakukan dengan Ilmu Ukur Segitiga Bola (Spherical Trigonometri). Agar supaya hasil perhitungan seakurat dan seteliti mungkin, maka diperlukan alat bantu mesin hitung atau kalkulator. Untuk perhitungan arah Kiblat yang harus diketahui terlebih dahulu ada 3 (tiga) data; yaitu: 1. Lintang dan Bujur Kabah 2. Lintang dan Bujur Tempat yang mau diukur arah Kiblatnya 3. Selisih Bujur Kabah dan Bujur Tempat yang mau diukur arah Kiblatnya (C) Adapun rumus Arah Kiblat sebagai berikut:
7

201

Abd. Rahman al-Jazairi, Al-Fiqhu ala Madzahib al-Arbaah, (Beirut: Dar al-Fikr, tt), Juz I, hal.

tan

-1

= cos x tan 21 25' : sin C Sin : tan C

Untuk lebih jelasnya berikut ini adalah cara operasional rumus tersebut: 1. Kabah ==> Lintang ( ) ==> Bujur 2. Lamongan () = 21 25' LU = 39 50' BT = -07 08' LS

==> Lintang ( ) ()

==> Bujur 3. Selisih Bujur (C) ==>

= 112 25' BT C = Bujur Daerah Bujur Kabah

C = 112 25' - 39 50' = 72 35' 00.00 Petunjuk penggunaan Calculator, tekan tombol secara berurutan : Karce Kc-186: 112 25 39 50 = Shift 72 35' 00.00 4. Arah Kabah ==> : tan C Petunjuk penggunaan Calculator, tekan tombol secara berurutan : Karce Kc-186: Shift tan ( cos (-) 07 DMS 08 DMS x tan 21 DMS 25 DMS : sin 72 DMS 35 DMS sin (-) 07 DMS 08 = Shift DMS = 24 04' 39 (B U) ==> Diukur dari arah Barat ke Utara atau 90 - 24 04' 39 = 65 55' 21 (U B) ==> Dikukur dari arah Utara ke Barat Dari perhitungan di atas, dapat diketahui bahwa arah Kiblat untuk Kota Lamongan adalah 24 04' 39 diukur dari titik Barat ke Utara atau 65 55' 21 diukur dari titik Utara ke arah Barat D. Metode Pengukuran Arah Kiblat Jika perhitungan arah Kiblat sudah diperoleh (misalnya arah Kiblat untuk Kota Lamongan: 24 04' 39), maka pengukuran di lapangan dilakukan langkah-langkah sebagai berikut: 1. Dengan alat Bantu Busur Derajat
a. Pilih tempat yang datar dan rata (memakai alat Waterpass) b. Tentukan titik Utara (U) dan Selatan (S) sejati, hubungkan

tan B = cos x tan 21 25' : sin C Sin

DMS : tan 72 DMS 35 DMS )

sehingga menjadi sebuah garis

c. Tentukan sebuah titik pada garis U-S tersebut, misalnya titik A d. Letakkan titik pusat Busur Derajat pada garis U-S dengan menempat angka 0 di titik U dan lengkung Busur Derajat di sebalah Barat
e. Tentukan suatu titik pada Busur Derajat tersebut, misalnya titik

K, tepat pada angka sebesar derajat sudut arah kiblat tempat bersangkutan, misalnya untuk kota Lamongan pada angka 65 55' 21
f. Angkat kembali Busur Derajat tersebut, lalu hubungkan titik A

dengan titik K. Garis A-K inilah arah Kiblat tempat tersebut. 2. Dengan Teori Segitiga Siku-Siku
a. Pilih tempat yang datar dan rata (memakai alat Waterpass) b. Menentukan titik Utara (U) dan Selatan (S) sejati, baik dengan

kompas

maupun

sinar

matahari

dengan

panjang

tertentu,

misalnya 50 cm
c. Dari titik U (Utara) ditarik garis tegak lurus ke arah Barat,

misalnya garis U-K, yang panjangnya sebesar tangens sudut arah Kiblat dikalikan panjang garis U-S itu. Untuk kota Lamongan, jika garis U-S panjangnya 50 cm, maka garis U-K panjangnya sama dengan tangens 65 55' 21 x 50 cm = 111.8942658 cm Petunjuk penggunaan Calculator, tekan tombol secara berurutan : Karce Kc-186: Tan arah kiblat x 50 tan 65 DMS 55 DMS 21 DMS x 50 = 111.8942658 d. Hubungkan titik S dan titik K dengan sebuah garis, maka garis S-K adalah garis yang mengarah ke Kiblat. Seperti pada gambar di K U bawah ini: 111.8942658 cm

50 cm

S E. Titik Utara Sejati

Untuk menentukan Titik Utara sejati dapat dilakukan dengan dua cara; pertama dengan alat bantu kompas, dan kedua dengan bayang-bayang tongkat istiwa. Cara yang paling mudah dan murah dengan tingkat akurasi yang sangat tinggi adalah dengan cara bayang-bayang tongkat istiwa. Sebab dengan cara ini hanya membutuhkan alat-alat sederhana dan berhubungan secara langsung dengan alam (sunnatullah). Sedangkan dengan alat bantu kompas masih memerlukan koreksi-koreksi, sebab kompas sangat peka dengan bahan logam serta berhubungan dengan medan magnit. Oleh karenanya dalam menentukan titik Utara sejati memakai kompas diperlukan kecermatan tersendiri dengan alat yang disebut dengan Magnetic Variation, sebuah alat yang dapat mengkonfirmasi berapa koreksi terhadap yang harus dilakukan pada tempat yang mau diukur. Adapun langkah-langkah menentukan titik Utara Sejati dengan cara bayang-bayang istiwa sebagai berikut: Buatlah lingkaran pada bidang yang benar-benar datar dengan diameter tertentu, misalnya 25 cm. Kemudian pada titik pusat lingkaran tersebut tancapkan tongkat yang benar-benar lurus dalam keadaan tegak lurus (tongkat istiwa) dengan panjang, misalnya 50 cm dan diameter 1 cm. Pada siang hari, amatilah bayang-bayang tongkat tersebut pada sebelum dan sesudah kulminasi (matahari pas di tenga-tengah). Ketika ujung bayang-bayang tongkat menyentuh garis lingkaran, berilah titik pada garis lingkaran itu. Lakukan hal ini dua kali pada sebelum dan sesudahnya kulminasi. Jika kedua titik tersebut dihubungkan dengan garis lurus, maka garis tersebut adalah garis Timur-Barat. Dengan membuat garis tegak lurus pada garis Timur dan Barat inilah diperoleh garis yang mengarah ke titik Utara Sejati. F. Posisi Matahari di atas Kabah Selain dengan cara perhitungan, untuk mengetahui arah Kiblat juga dapat dilakukan dengan cara mencari bayang-bayang matahari ketika matahari di atas Kabah. Posisi matahari di atas Kabah ini terjadi ketika deklinasi (kemiringan) matahari sebesar lintang tempat Kabah (21 25' LU) serta ketika matahari berada pada titik kulminasi atas dilihat dari Kabah (39 50' BT). Hal ini terjadi pada setiap:

a. Tanggal 28 Mei (jam 11j 57m 16d LMT atau 09j 17m 56d GMT) b. Tanggal 16 Juli (jam 12j 06m 03d LMT atau 09j 26m 43d GMT)

Apabila dikehendaki dengan waktu yang lain, maka waktu GMT tersebut harus dikoreksi8 dengan selisih waktu di tempat yang bersangkutan (misalnya WIB selisih 7 jam dengan GMT) Contoh: Tanggal 28 Mei jam 09j 17m 56d GMT + 7 = 16j 17m 56d WIB Tanggal 16 Juli jam 09j 26m 43d GMT + 7 = 16j 26m 43d WIB Jadi pada setiap tanggal 28 Mei jam 16 : 17 : 56 WIB atau tanggal 16 Juli jam 16 : 26 : 43, WIB semua bayangan benda yang tegak lurus dipermukaan bumi menunjukkan arah Kiblat.

Untuk Bujur Timur ditambah (+), sedang untuk Bujur Barat dikurangai (-)