Anda di halaman 1dari 3

7/28/2010

PEMANFAATAN LINDI (LIMBAH CAIR SAMPAH) UNTUK PRODUKSI BIOGAS SEBAGAI UPAYA MENANGGULANGI DAMPAK PENCEMARAN SAMPAH

PENANGANAN SAMPAH DI TPA BENOWO


1. OPEN DUMPING 2. PENGOMPOSAN 3. PROSES PENGOLAHAN LINDI 1. Memanfaatkan lindi sebagai bahan baku biogas untuk menanggulangi permasalahan limbah cair pada sampah ? 2. Mengetahui pengaruh komposisi umpan dan rate umpan terhadap produksi biogas dari lindi ?

Oleh : 1. Imam Sabari 2. Lukman Wibisono

2306 100 015 2306 100 143

Pembimbing : 1. Dr. Ir. Sri Rachmania Juliastuti M.Eng. 2. Ir. Farid Effendi M.Eng

Truk yang berisi sampah yang telah ditimbang kemudian di buang ditempat pendumpingan sampah sesuai zona yang telah ditentukan.

TPA Benowo sudah terdapat sub Unit untuk menangani sampah yang akan dibuat kompos.

Terdapat sebuah pengolahan untuk menangani lindi yang dihasilkan oleh sampah pada TPA, lindi yang dihasilkan diolah terlebih dahulu sebelum dibuang ke badan air dengan cara dibuatkan drainase atau parit disekitar timbunan sampah.

PERUMUSAN MASALAH

1.

Memanfaatkan lindi sebagai bahan baku untuk produksi biogas. Mengamati pengaruh komposisi umpan dan rate umpan terhadap produksi bioagas dari lindi.

TUJUAN PENELITIAN
2.

Sumber : Zaenab.2009

LINDI (LEACHATE)
1. Memberikan alternatif pengolahan lindi menjadi biogas

KARAKTERISTIK INOKULUM LIMBAH TAHU No Parameter Satuan 0C 1 Suhu COD 2 mg/l (ChemicalOxygenDemand) 3 pH 4 Karbohidrat % 5 Protein % 6 Lemak %
Sumber : D.Rizkiyah. 2008

MANFAAT 2. Memperoleh besaran untuk komposisi umpan dan rate PENELITIAN


umpan terhadap produksi biogas dari lindi..

Air lindi sampah (Leachate) adalah limbah cair yang dihasilkan oleh Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sampah.

Besaran 29 6200 4-5 6.62 3.14 1.05

Penelitian

ini

dilakukan

dalam

skala

laboratorium

BATASAN MASALAH

menggunakan proses semi batch untuk mengolah lindi (limbah cair sampah) yang berasal dari TPA Benowo dengan menggunakan starter berupa Inokulum limbah cair industri tahu, purnomo, pagesangan Surabaya.
GO

Komponen yang terkandung didalamnya antara lain komponen organik terlarut, komponen anorganik, logam berat dan komponen organik xenobiotic yang biasanya didapatkan dalam konsentrasi rendah namun diduga menimbulkan efek toksik dan genotoksik (Garnasih.I, 2009)

GO

KEUNTUNGAN DAN KERUGIAN ANAEROBIC DIGESTER KEUNTUNGAN


1. Dapat mengurangi efek rumah kaca 2. Feedstock untuk anaerobic digester dapat diperbaharui 3. Mengurangi terjadinya pencemaran air dan tanah serta menghilangkan bau sebesar 80%. 4. Memiliki nilai ekonomis yang tinggi karena mengubah limbah menjadi produk bernilai ekonomis

KONDISI DAN VARIABEL PENELITIAN

GAMBAR PERALATAN
10 6

KERUGIAN
KONDISI OPERASI : VARIABEL PENELITIAN : 1. Perbandingan antara starter dengan lindi pada feed : 0% : 100% v/v 20% : 80% v/v 30% : 70% v/v 2. Rate umpan : 0,8 L/hari 1 L/hari

1. teknologi untuk merubah biogas dari fase gas menjadi fase cair mahal. 2. Membutuhkan biaya modal dan operasional yang cukup besar 3. Instalasi biogas harus dekat dengan pemakai produk anaerobic digestion 4. Menyebabkan resiko kebakaran dan ledakan dalam skala kecil

pH 6,8 7,8 Temperatur 32oC 35oC Perbandingan pada pembuatan starter antara inokulum limbah tahu : lindi = 2:1 Pengadukan 1 kali sehari Recycle ratio 0,5 Fermentasi batch secara 15 hari Fermentasi kontinyu hingga BOD 5 konstan Volume reaktor sebesar 20 liter di isi feed sebanyak 16 liter feed

2 1 4 9

8 8 3

11

Keterangan alat : 1.Reaktor 2.Jacket 3.Pompa 4.Gas holder 5. Manometer 6. Feed tank 7. Thermometer 8. Valve 9. Heater 10. Water inlet 11. Water outlet

7/28/2010

DIAGRAM ALIR PENELITIAN


Pembuatan Starter inokulum limbah tahu : lindi = 2:1 (v/v) difermentasikan selama 4-5 hari Lindi

Pembuatan Feed dengan perbandingan volume starter : lindi sesuai variabel ( 0 : 100 ; 20 : 80 ; 30 : 70 ) Pengukuran tekanan reaktor, tekanan gas holder, volume biogas tiap hari Analisa MLSS,MLVSS,BOD5,COD tiap 3 hari sekali

pH dijaga 6,8-7,2 Temperatur dijaga 32-35 C, sirkulasi setiap hari

Fermentasi batch

rate umpan 0,8L/hari

Fermentasi batch

Rate umpan 0,8L/hari

Fermentasi selama 15 hari (batch) dalam reaktor Analisa tekanan reaktor, tekanan gas holder, volume biogas tiap hari Analisa MLSS,MLVSS,BOD 5,COD tiap 3 hari sekali

Grafik 4.1 Hubungan MLSS dan MLVSS terhadap waktu fermentasi untuk variasi komposisi starter : lindi (0:100,20:80,30:70) pada rate umpan 0,8 L/hari

Grafik 4.3 Hubungan rate produksi biogas (liter/hari) terhadap waktu fermentasi secara kontinyu pada rate umpan 0,8 L/hari.

Reaktor dijaga suhu 32-35 C; pH 6,8-7,2 Recycle ratio 0,5 ; pengaturan rate umpan sesuai variabel, sirkulasi

Fermentasi hingga BOD5 konstan

Fermentasi batch

rate umpan 0,8L/hari

Analisa rate produksi biogas

Analisa Komposisi biogas

Analisa Heating Value

Grafik 4.2 Hubungan BOD5 terhadap waktu fermentasi untuk variasi komposisi starter : lindi (0:100,20:80,30:70) pada rate umpan 0,8 L/hari.

Grafik 4.4 Hubungan akumulasi volume biogas (liter) terhadap waktu fermentasi pada rate umpan 0,8 L/hari.

Tabel 4.1 komposisi biogas yang dihasilkan pada rate 0,8 liter/hari

Fermentasi batch

Rate umpan 1L/hari

Kompoen

Perbandingan volume starter : lindi (v/v) 0 : 100 20:80 30:70 CH4 53.80% 66.72% 67.36% CO2 8.32% 7.26% 6.28% H2S 1.20% 0.82% 0.74% NH3 2.41% 1.32% 1.16% Heating value (kkal/kg) 8.560 9.976 10.525

Fermentasi batch

rate umpan 1 L/hari

Fermentasi batch

rate umpan 1L/hari

Grafik 4.5 Hubungan MLSS dan MLVSS terhadap waktu fermentasi untuk variasi komposisi starter : lindi (0:100,20:80,30:70) pada rate umpan 1 liter/hari

Grafik 4.6 Hubungan BOD5 terhadap waktu fermentasi untuk variasi komposisi starter : lindi (0:100,20:80,30:70) pada rate umpan 1 L/hari.

Grafik 4.7 Hubungan rate produksi biogas (liter/hari) terhadap waktu fermentasi secara kontinyu pada rate umpan 1 L/hari.

Grafik 4.8 Hubungan akumulasi volume biogas (liter) terhadap waktu fermentasi pada rate umpan 1 L/hari.

Tabel 4.2 komposisi biogas yang dihasilkan pada rate 1 liter/hari

Kompoen CH4 CO2 H2S NH3 Heating value (kkal/kg)

Perbandingan volume starter : lindi (v/v) 0 : 100 20:80 30:70 56.82% 68.74% 69.58% 8.74% 6.82% 5.86% 1.02% 0.98% 0.88% 2.80% 2.53% 2.21% 9846 11015 11126

Dengan rate produksi lindi TPA Benowo sebesar 400 m3 /hari berpotensi menghasilkan biogas sebesar 720 m3 /hari bogas.

720 m3 /hari biogas setara dengan 331.2 kg elpiji, apabila untuk keperluan memasak 1 keluarga me mbutuhkan 1 kg elpiji/hari. maka 720 m3 /hari biogas bisa memenuhi 330 keluarga untuk memasak perhari.

Grafik 4.9 Rate produksi biogas rata-rata pada sistem kontinyu terhadap variabel rate umpan

Grafik 4.10 Kadar gas metana terhadap variabel rate umpan

7/28/2010

KESIMPULAN DAN SARAN


1. Lindi dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan bio gas 2. Semakin besar komposisi starter menghasilkan rate produksi biogas, % gas metana dan heating value yang semakin meningkat 3. Dengan penambahan rate umpan menghasilkan rate produksi Biogas, % gas metana dan heating value yang semakin meningkat

SARAN :
1. Reaktor dan gas holder dijaga dari kebocoran 2. Penelitian lebih lanjut perbandingan starter : lindi untuk mendapatkan kondisi optimal 3. Penelitian untuk variabel recycle ratio yang berbeda untuk mengetahui pengaruh terhadap produksi biogas. 4. Pretreatment penurunan kadar N.
Grafik 4.11 Heating value terhadap variabel rate umpan