Anda di halaman 1dari 20

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Tumbuhan yang ada dimuka bumi ini sangat beraneka ragam. Manusia dalam kehidupan seharihari tidak lepas dari tumbuhan, baik itu tumbuhan obat, sebagai bahan sandang, bahan perumahan, sebagai tanaman hias dan sebagainya. Manusia berkecimpung dalam dunia tumbuhan entah sadar atau tidak mereka telah berusaha mengenal tumbuhan, mengidentifikasi, memberi nama dan mengelompokkannya menurut tujuannya masing-masing. Tumbuh dan berkembang merupakan ciri makhluk hidup. Pertumbuhan dan perkembangan berjalan seiring. Pertumbuhan adalah proses pertambahan volume yang irraversibel (tidak dapat balik) karena adanya pembelahan mitosis atau pembesaran sel, dapat pula disebabkan oleh keduanya. Pertumbuhan dapat diukur dan dinyatakan secara kutintatif, contohnya pertumbuhan batang tanaman dapat diukur dengan busur pertumbuhan atau auksanometer. Perkembangan adalah terspesialisasinya sel-sel menjadi struktur dan fungsi tertentu. Daun merupakan suatu organ tubuh tumbuhan yang amat penting dan pada umumnya tiap tumbuhan mempunyai sejumlah besar daun. Alat ini hanya terdapat pada batang saja dan tidak pernah terdapat pada bagian lain pada tumbuhan (Sebastian, 2008). Maka dengan adanya praktikum ini, kita akan semakin paham dan dapat lebih mengenal macammacam duduk daun (phyllotaxia) dan diagram duduk daun. Selain itu kita juga dapat mengerti tentang tata letak daun pada batang (dispositio foliorum). 1.2Tujuan Mengenal bagian-bagian daun pada tumbuhan tersebut, menghitung jumlah daun pada tiap buku, mengetahui rumus daun dan perhitungannya, serta mengetahui sudut divergensi dan menentukan diagram menurut rumus. BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Bukan hal yang sulit untuk menemukan bagian tanaman khususnya daun. Daun atau bagian daun seting ditemukan dalam berbagai bentuk banyaknya macam bentuk atau modifikasinya itu

menjadikan pemkiran bagi botanis untuk membuat penamaan yang tepat dengan kaidah yang diciptakan oleh botanis, tetapi juga tidak meninggalkan kaidah umum yang dianut oleh masyarakat, sehingga dari diskripsinya dapat dikenal bentuk daun atau organ lain. Macam daun dapat dibedakan menjadi lima, yaitu : (Gembong,2005 : 21-22). 1.Daun hijau (folium, dalam arti yang sempit, merupakan organ yang digunakan untuk fotosintesis 2.Katafil (cataphyllum), adalah sisik pada kuncup atau tunas ketiak dan pada batang bawah tanah fungsi utam adalah untuk pelindung dan penyimpan makanan. 3.Propil ( propyhll), daun pertama pad ranting, biasanya pada tumbuhan monokotil berjumlah sehelai dan pada tumbuhan dikotil berjumlah dua helai. 4.Hipsofil (hipsophyll), biasanya bentuk lebih kecil dari daun hijau dan bentuknya berbeda sama sekali, letaknya melekat pada bagian dasar perbungaan istilah popular disebut pelindung atau braktea. 5.Kotiladon( cotyledon), adalah daun pertama pada tumbuhan Bagian daun 1.Upih daun atau pelapah daun (vagina), merupakan bagian daun yang melekat atau memeluk batang 2.Tangkai daun (petiolus) merupakan bagian daun yang mendukung helaiannya dan berfungsi untuk menempatkan helaian daun pada posisi sedemikian rupa sehingga daopat memperoleh cahaya matahari sebanyak-banyaknya. Bentuk dan ukuran tangkai berbeda-beda menurut jenis tumbuhannya, biasanya berbentuk silinder dengan sisi atas agak pipih dan menebal pada pangkalnya. 3.Helaian daun( lamina) merupakan bagian daun yang terpenting dna cepat menarik perhatian, maka suatu sifat yang sesungguhnya hanya berlaku untuk helaiannya, disebut pula sebagai sifat daunnya. Ketiga bagian daun tersebut tidak senantiasa ditemukan bersama-sama pada satu helai daun. Suatu tumbuhan dapat memperhatikan bentuk daun yang berlainan pada satu pohon, oleh karena itu dikatakanmemperlihatkan sifat heterofili. Gejala heterofili ini dapat terjadi karena umur, modifikasi atau memang mempunyai daun yang berbeda yang diakibatkan oleh perubahan fungsinya. Sifat-sifat daun yang biasanya diberikan dalam pengenalan suatu jenis tumbuhan adalah bentuk, ukuran, ujung, pangkal, susunan tulang-tulang/ urat-urat daun, tepi daging,

permukaan atas/ bawah tekstur, warna dan lain-lain. (Gembong, 2007 : 21-22). Perkembangan bentuk daun tanaman yang diamatitidak berbeda dengan induk konvensional yang terlihat dari bentuk daun muda yang umumnya agak oval (bulat telur). Seiring dengan bertambahnya umur tanaman, daun mengalami perubahan bentuk dan pada umur dewasa bentuk daun agak mirip segitiga, pada bagian bawah berlekuk dan lekukan makin jelas dengan bertambahnya umur tanaman. Permukaan daun bagian atas maupun bawah rata. Warna daun hijau muda pada umur muda dan bertambah hijau pada saat tanaman dewasa. Warna tangkai daun hijau sedangkan pangkal batang yang berada di dalam tanah putih. Warna umbi bagian luar agak cokelat muda keputih putihan dengan kulit umbi yang mudah terkelupas. Umbi bagian dalam berwarna putih dan memiliki getah. Hasil yang sama juga ditemui pada penampilan morfologi tanaman se famili dengan keladi tikus (Araceae) yaitu Alocasia micholitziana asal kultur kalus yang sama dengan induknya setelah diperbanyak di rumah kaca (Thao et al., 2003). Kondisi yang sama pada tanaman keladi tikus asal kultur kalus ini sama secara visual dengan keladi tikus asal kultur jaringan pada tahap plantlet, baik dalam bentuk daun maupun batang (Syahid dan Kristina, 2007). Dengan demikian karena penampilan visual plantlet keladi tikus asal kultur kalus sama dengan plantlet kultur jaringan diperkirakan peningkatan keragaman sempit seperti dikemukakan oleh De klerk (1990), bahwa tidak terlihatnya perbedaan secara fenotipe tanaman merupakan salah satu cara memperkirakan ada atau tidaknya keragaman yang ditimbulkan. Pada tanaman pegagan yang berasal dari kultur invitro daur kultur panjang (lima tahun), ternyata memiliki stabilitas genetik yang tinggi setelah dianalisis secara molekular karena pola pita protein yang dihasilkan sama dengan induk konvensional (Lailani, 2008). Banyak factor yang berpengaruh dalam upaya memperoleh variasi pada suatu tanaman hasil kultur in vitro di antaranya sensitivitas jaringan yang digunakan sewaktu perlakuan in vitro dan aplikasi zat pengatur tumbuh terutama jenis auksin yang digunakan sewaktu induksi kalus. Tidak adanya peningkatan keragaman pada tanaman keladi tikus asal kultur kalus mungkin disebabkan oleh aplikasi auksin pada konsentrasi 1,0 mg/l yang dikombinasikan dengan sitokinin (kinetin) pada konsentrasi rendah (Syahid dan Kristina, 2007). Auksin terutama 2,4-D merupakan golongan zat pengatur tumbuh yang sering digunakan dalam induksi kalus dari berbagai jaringan tanaman (Bhojwani dan Razdan, 1996). Diduga respon jaringan keladi tikus selama periode pengkulturan in vitro memiliki tingkat

sensitivitas yang rendah terhadap aplikasi zat pengatur tumbuh yang diberikan sehingga peluang untuk timbulnya variasi lebih sedikit. Untuk meningkatkan keragaman, kemungkinan aplikasi teknik penggunaan mutagen kimia seperti EMS diharapkan dapat memberi peluang yang lebih nyata. Pada kultur kalus tanaman tomat digunakan kombinasi auksin jenis picloram dengan benzyl adenin dan dari sebelas tanaman hasil regenerasi kultur kalus menghasilkan 10 tanaman yang memiliki tingkat kesamaan genetik (Index of similarity) mencapai 95% dengan induknya dan hanya satu yang berbeda setelah dianalisis secara molekuler (Soniya et al., 2001). Selain itu lamanya periode pengkulturan dan jumlah sub kultur juga mempengaruhi begitu juga tingkat ploidi suatu tanaman (Silvarolla, 1992 ) Phylotaxis adalah studi tentang posisi daun dan deret-deret yang telah diamati dan dipelajari secara ekstensif dalam tiga pengaturan spiral (Pola dasar alternatif atau spiral). Pola alternatif, daun beralih dari sisi ke sisi. Distichous alternatif phyllotaxis berarti bahwa setiap daun tumbuh di satu simpul dalam satu peringkat disepanjang cabang (seperti pada rumput). Dalam pola yang berlawanan, dua daun tumbuh di arah yang berlawanan dari buku-buku yang sama. Dalam pola sebaliknya, jika berturut-turut pasangan daun tegak lurus, ini disebut Decussate. Sebuah pola batang terdiri dari tiga atau lebih daun di setiap buku-buku. Sepasang daun yang berlawanan dapat dianggap sebagai sebuah lingkaran dari dua daun. Sebuah lingkaran dapat terjadi sebagai struktur dasar di mana semua daun yang melekat pada dasar tunas dan internodes kecil atau tidak ada ( Lofthouse JT.2004: 23). Bagian batang atau cabang tempat duduknya daun disebut buku-buku batang (nodus). Dan bagian ini seringkali tampak sebagai bagian batang yang sedikit membesar dan melingkar batang sebagai suatu cincin. Duduknya daun pada batang memiliki aturan yang disebut tata letak daun. Untuk mengetahui bagaimana tata letak daun pada batang, harus ditentukan terlebih dahulu berapa jumlah daun yang terdapat pada suatu buku-buku batang (Soepomo, 2007: 64-65). Daun terbagi menjadi daun tunggal dan daun majemuk. Pada daun majemuk terdapat sejumlah anak daun yang melekat pada tangkai daun atau panjanganya. Sumbu bersama seperti itu disebut rakis. Jika anak daun muncul di sisi lateral rakis, daun disebut daun majemuk bersirip, dan kalau semua anak daun muncul di ujung rakis yang sangat pendek sehingga dapat dikatakan melekat di ujung tangkai daun bersama, maka daun seperi itu disebut daun majemuk menjari. Selain jenis daun juga dapat diketahui rumus daun untuk mengetahui tata letak suatu daun (Estiti,1995: 196). Untuk mengetahui bagaimana tata letak daun pada batang, harus ditentukan terlebih dahulu

berapa jumlah daun yang terdapat pada suatu buku-buku batang diantaranya (Sudarsono, 2005: 63). 1. Pada Tiap-Tiap Buku-Buku Batang Hanya Terdapat Satu Daun Tata letak daunnya dinamakan : Tersebar (Folia sparsa) Jika untuk mencapai daun yang tegak lurus dengan daun pertama tadi mengelilingi batang a kali,dan jumlah daun yang dilewati selama itu adalah b, maka perbandingan kedua bilangan tadi akanmerupakan pecahan a/b, yang dinamakan juga : Rumus daun atau Divergensi (Sudarsono, 2005: 64). Garis-garis tegak lurus (Garis vertikal) yang menghubungkan antara 2 daun pada batang dinamakan: Ortostik. Garis piral melingkari batang yang menghubungkan daun-daun berturutturut dari bawah ke atas menurut urutan tua mudanya dinamakan : Spiral genetik. Pecahan a/b menunjukkan jarak sudut antara dua daun berturut-turut, jika diproyeksikan pada bidang datar. Jarak sudut antara dua daun berturut-turut pun tetap dan besarnya adalah a/b x 3600, yang disebut : sudut divergensi. Tumbuhan dengan tata letak daun tersebar, ternyata pecahan a/bnya, dapat terdiri atas pecahan-pecahan : , 1/3, 2/5, 3/8, 5/13, 8/21 dst. yang disebut deret Fibonacci. Angka-angka diatas memperlihatkan sifat berikut: (Sudarsono, 2005: 64). - Tiap suku dibelakang suku kedua (jadi suku ketiga dst.) merupakan suatu pecahan, yang pembilangnya dapat diperoleh dengan menjumlah kedua pembilang dua suku yang ada di depannya, dan penyebutnya merupakan hasil penjumlahan kedua penyebu dua suku yang di depannya. - Tiap suku dalam deretan itu merupakan suatu pecahan yang pembilangnya merupakanselisih antara penyebut dan pembilang suku yang di depannya, dan penyebutnya adalah jumlah penyebut suku di depanya dengan pembilang suku itu sendiri (Sudarsono, 2005: 65). Pada tumbuhan dengan tata letak daun tersebar, kadang-kadang duduk daun rapat berjejal-jejal karena ruas-ruas batang amat pendek, sehingga duduk daun pada batang tampak hampir sama tinggi, dan sangat sukar untuk menentukan urut-urutan tua mudanya. Daun-daun yang mempuyai susunan demikian disebut suatu : roset (rosula). Roset ada 2 macam: (Sudarsono, 2005: 65). a. Roset akar, yaitu jika batang amat pendek, sehingga semua daun berjejal-jejal diatas tanah, contoh: pada lobak (Raphanus sativus L.) dan tapak liman (Elephantopus scaber L.). b. Roset batang jika daun yang rapat berjejal-jejal itu terdapat pada ujung batang, contoh: Pada pohon kelapa

(Cocos nucifera L.) dan bermacam macam palma lainnya. Pada cabang-cabang yang mendatar atau serong keatas, daun-daun dengan tata letak tersebar dapat teratur sedemikian rupa pada suatu bidang datar, dan membentuk suatu pola seperti mosaik (Pola karpet). Susuna daun yang demikian itu disebut mosaik daun. 2. Pada Tiap Buku-buku Batang Terdapat Dua Daun Pada setiap buku-buku terdapat 2 daun yang berhadapan (terpisah oleh jarak sebesar 1800). Pada buku-buku batang berikutnya biasanya kedua daunnya membentuk suatu silang dengan dua daun yang dibawahnya tadi. Tata letak daun yang demikian ini dinamakan : berhadapan-bersilang (Folia opposita atau Folia decussata), ch. pada mengkudu (Morinda citrifolia L.), soka (Ixora poludosa Kurz.), dll. (Sudarsono, 2005: 65). 3. Pada Tiap Bulu-buku Batang Terdapat Lebih Dari Dua Daun Tata letak daun yang demikian ini dinamakan : berkarang (Folia verticillata),dapat a.l. ditemukan pada pohon pulai (Alstonia scholaris R.Br.), alamanda (Allamanda cathartica L.), oleander (Nerium oleander L.) (Sudarsono, 2005: 66). a. Bagan tata letak daun Batang tumbuhan digambarkan sebagai silinder dan padanya digambar membujur ortostikortostiknya demikian pula buku-buku batangnya. Daun-daun digambar sebagai penampang melintang helaian daun yang kecil. Pada bagan akan terlihat misalnya pada daun dengan rumus 2/5 maka daun-daun nomor 1, 6, 11, dst atau daun-daun nomor 2, 7, 12, dst akan terletak pada ortostik yang sama (Sudarsono, 2005: 66). b. Diagram tata letak daun atau disingkat diagram daun Untuk membuat diagramnya batang tumbuhan harus dipandang sebagai kerucut yang memanjang, dengan buku-buku batangnya sebagai lingkaran-lingkaran yang sempurna. Pada setiap lingkaran berturut-turut dari luar kedalam digambarkan daunnya, seperti pada pembuatan bagan tadi dan di beri nomor urut. Dalam hal ini perlu diperhatikan, bahwa jarak antara dua daun adalah 2/5 lingkaran, jadi setiap kali harus meloncati satu ortostik. Spiral genetikya dalam diagram daun akan merupakan suatu garis spiral yang putarannya semakin keatas digambar semakin sempit (Sudarsono, 2005: 67). Spirostik dan Parastik merupakan garis-garis ortostik yang biasanya lurus ke atas, dapat mengalami perubahan-perubahan arah karena pengaruh bermacam faktor. Garis-garis ortostik dapat menjadi garis spiral yang tampak melingkari batang pula. Dalam keadaan yang demikian

spiral genetik sukar untuk ditentukan, dan letak daun pada batang mengikuti ortostik yang telah berubah menjadi garis spiral tadi, keadaan ini dinamai: Spirostik. Spirostikterjadi karena pertumbuhan batang tidak lurus tetapi memutar. Akibatnya ortostiknya ikut memutar dan berubah menjadi spirostik, contoh: (Sudarsono, 2005: 67). - Pacing (Costus speciosus Smith), mempunyai satu spirostik. - Bupleurum falcatum, mempunyai dua spirostik. - Pandan (Pandanus tectorius Sol.), memperlihatkan tiga spirostik. Pada tumbuhan yang letak daunnya cukup rapat contoh: kelapa sawit (Elaeis guinensis), duduk daun seakan-akan menurut garis-garis spiral ke kiri atau kekanan. Tampaknya lalu ada dua spiral ke kiri dan kekanan. Garis-garis spiral ini disebut: Parastik. Juga garis-garis spiral yang tampak pada buah nenas yang menunjukkan aturan letak mata-mata pada buah nenas tadi adalah parastik-parastik(Sudarsono, 2005: 68). Jika kita membandingkan duduknya daun pada berberapajenis tumbuhan , ternyata bahwa ada perbedaan, terutama perbedaan itu mengenai auran letak daun-daun satu sama lain pada batang tadi. Aturan megenai letaknya daun inilah yang dinamakan tata letak daun. Untuk tumbuhan yang sejenis ( misalnya pada tanaman pepaya) akan didapati tata letak daun yang sama, oleh sebab itu tata letak letak daun dapat dipakai pula sebagai tanda pengenal suatu tumbuhan (Soepomo, 2007 : 65). Berdasarkan jumlah helai daun pada setiap tangkai, kita mengenal adanya daun tunggal dan daun majemuk. Daun majemuk dibedakan ke dalam daun majemuk menyirip, daun majemuk menjari, dan daun majemuk campuran, bergantung pada cara penyusunan anak daun pada tangkai daun. Daun majemuk juga dapat dibedakan ke dalam daun majemuk gasal dan daun majemuk genap. Daun majemuk menyirip dapat dibedakan menjadi daun majemuk ganda 2, ganda 3, dan seterusnya. bergantung pada letak anak daun pada anak tangkai ordo ke-2, ke-3, dan seterusnya. Daun melekat pada bagian buku-buku batang. Jumlah daun pada setiap buku dapat terdiri dari satu daun (tersebar), dua daun (berhadapan) atau berkarang (3 daun atau lebih). Meskipun tersebar, letak daun tetap teratur mengikuti rumus tata letak daun yang membentuk deret Fibonacci (Nurul,2008 : 155). BAB III HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1Hasil Pengamatan No Gambar Pengamatan Gambar Literatur Keterangan 1 Bougenvil (Bougenvil sp.)

www.stuartxchange.org 1.Termasuk daun tidak lengkap. 2.Jumlah daun pada tiap buku 1 daun. 3.Tata letaknya tersebar. 4.Rumus daun 2/5, sudut divergensi 2/5 x 360 = 144. 2 Tempuyung (Sonchus arvensis L.)

ditsayur.hortikultura.deptan.go.id 1.Termasuk daun lengkap. 2.Jumlah daun pada tiap buku 1 daun. 3.Merupakan roset akar. 4.Tidak memiliki rumus daun. 3 Kersen atau ceri (Muntingia calabura)

commons.wikimedia.org 1.Termasuk daun tidak lengkap. 2.Jumlah daun pada tiap buku 1 daun. 3.Tata letak tersebar. 4.Rumus daun 1/2, Sudut divergensi 1/2 x 360 = 180. 4 Soka (Ixora hibrida) www.flickr.com 1.Termasuk daun tidak lengkap. 2.Jumlah daun pada tiap buku: 2. 3.Tata letaknya berhadapan. 4.Tidak memiliki rumus daun. 5 Alamanda (Allamanda cathartica L.)

www.stuartxchange.org 1.Termasuk daun tidak lengkap. 2.Jumlah daun pada tiap buku 5. 3.Jumlah daun keseluruhan 15. 4.Tata letaknya berkarang tidak memiliki rumus daun. 6 Mengkudu (Morinda citrifolia L.)

www.bio.tamu.edu 1.Termasuk daun lengkap. 2.Jumlah daun pada tiap buku ada yang 2 dan 1 daun. 3.Tata letaknya berhadapan 4.Tidak memiliki rumus daun. 7 Bunga Sepatu (Hibiscus rosasinensis L.)

www.cuyamaca.com 1.Termasuk daun tidak lengkap. 2.Jumlah daun pada tiap buku 1 daun. 3.Tata letak tersebar. 4.Rumus daun 2/5, sudut divergensi 2/5 x 360 = 144.

Keterangan : 1. Bagian-bagian daun 2. jumlah daun pada tiap buku-bukunya

3. Tata letak daun 4. Rumus daun dan sudut divergensi

3.1Pembahasan 3.1.1Daun Soka (Ixora hybrida) Pada pengamatan tata letak daun Soka (Ixora hybrida hasil dari pengamatan daun Soka adalah termasuk daun tidak lengkap karena hanya memiliki tangkai, helaian daun dan tidak memiliki pelepah daun. Jumlah daun pada tiap buku sebanyak dua dan tata letak daunnya berhadapan serta tidak memiliki rumus daun khusus. Hasil yang kami amati sesuai dengan apa yang telah tercantum dalam literatur. Menurut Rukamana (1997) pada daun Soka Letak daun (Ixora hybrida) berhadapan, baik pada tiap percabangan maupun ranting. Daun umumnya berwarna hijau kekuning-kuningan atau sering disebut (variegata) (Rukmana, 1997).

3.1.2 Daun Sepatu (Hibiscus rosasinensis L.) Berdasarkan pengamatan yang telah kami lakukan pada praktikum kemarin hasil dari pengamatan daun sepatu (Hibiscus rosasinensis L.) adalah termasuk daun tidak lengkap karena mempunyai tangkai daun, helaian daun dan tidak mempunyai pelepah daun. Setelah kami amati, jumlah daun pada tiap buku sebanyak satu daun dan tersebar. Daun ini setelah kami amati mempunyai rumus daun yaitu 2/5 yaitu kita melihat daun pertama letaknya sama dengan daun ke enam begitu juga daun ke dua sama dengan daun ke tujuh, karena melewati 5 daun. Sudut divergensinya 2/5 x 360 = 144. Di habitat alam, tanaman sepatu tumbuh sebagai tanaman perdu tahanan (perennial). Susunan tubuh terdiri atas akar, batang, daun, bunga, buah, dan biji. Tanaman sepatu ini memumpunyai akar tunggang coklat muda. Batangnya bulat, berkayu, keras ,berdiameter kurang lebih 9cm. Daunya tunggal, tepi beringgit, ujungnya runcing, pangkal tumpul, panjang 10-16cm dan lebarnya 5-11cm berwarna hijau muda dan hijau. Bunganya berbentuk terompet, diketiak daun bewarna hijau kekuning-kuningan, mahkota terdiri dari 15-20 daun mahkota, berwarna merah muda. Buahnya kecil lonjong berdiameter kurang lebih 4 meter masih muda berwarna putih

setelah tua berwarna coklat. Bijinya pipih dan putih (Sebastian, 2008). Daun, bunga dan akar kembang sepatu (Hibicus rosasinensis) mengandung flavoinida, disamping itu daunnya mengandung sponin dan polifenal. Daun ini berkhasiat sebagai obat demam pada anak, obat batuk dan obat sariawan (Muzayyinah, 2008).

3.1.3 Daun Bugenvil (Bougenvillia spectabilis) Berdasarkan pengamatan yang telah kami lakukan pada praktikum kemarin hasil dari daun bugenvil (Bougenvillia spectabilis) adalah termasuk daun tersebar (folio sparsa), mempunyai rumus daun 2/5 dan sudut divergensi 1440 Bugenvil termasuk suku kampah-kampahan atau family Nyctaginaceae. Tanaman ini hidupnya tahan (perennial) berbentuk perdu dan bersifat merambat (memanjat) maupun tegak (Rukmana, 1997). Struktur batang merupakan pohon berkayu keras penampangya bulat,bercabang dan beranting banyak. Sehingga bila tanaman ini dibiarkan tumbuh alami dapat mencapai ketinggian 15 meter.pada bagian batang cabang atatupun ranting terdapat duri-duri (spina) yang bentuknya kait sebagai alat pemanjat. Daun-daun tumbuh rimbun serta tunggal.bentuknya mirip jantung hati yang dasarnya agak bulat (bundar) dengan warna hijau tua namun, ada pula yang belangbelang (variegata) antara hijau dan putih bercampur kekuning-kuningan. Hal ini yang menarik dari tanaman bugenvil adalah karakteristik bunganya.yaitu bunga asli dan palsu (bractea) (Gembong, 1997).

3.3.4 Daun Alamanda (Allamanda catharica L) Berdasarkan pengamatan yang telah kami lakukan pada praktikum kemarin hasil dari daun alamanda (Allamanda catharica L) adalah termasuk daun berkarang (folio verticillata), mempunyai rumus daun 2/4 dan sudut divergensi 1440 Struktur batang merupakan pohon berkayu keras penampangya bulat, bercabang dan beranting banyak. Sehingga bila tanaman. Ini dibiarkan tumbuh alami dapat mencapai ketinggian 15 meter. Pada bagian batang cabang ataupun ranting terdapat duri-duri (spina) yang bentuknya kait sebagai alat pemanjat. Daun-daun tumbuh rimbun serta tunggal. Bentuknya mirip jantung hati yang dasarnya agak bulat (bundar) dengan warna hijau tua namun, ada pula yang belang-belang (variegata) antara hijau dan putih bercampur kekuning-kuningan. Hal ini yang menarik dari

tanaman alamanda adalah karakteristik bunganya yaitu bunga asli dan palsu (bractea) (Rukmana, 1995). 3.3.5 Daun Tempuyung (Sonchus arvensis L.) Berdasarkan pengamatan yang telah kami lakukakan bahwa Tempuyung merupakan tanaman berdaun lengkap dimana jumlah daun pada tiap buku satu daun termasuk roset akar dan tidak memiliki rumus daun tetapi memiliki bagian-bagian diantaranya : Helai daun, tangkai daun, batang, dan tulang daun. Tempuyung juga termasuk tanaman obat-obatan Salah satu tanaman yang diperkirakan berkhasiat sebagai anti diare adalah tempuyung. Tempuyung mengandung senyawa flavoid, alkaloid, saponim tanin, dan plifenol (minyak atsiri). Dalam penelitian ini dilakukan uji kualitatif untuk mengetahui ada atau tidaknya zat aktif dalam tempuyung yang dianggap memiliki efek antidiare. Berdasarkan uraian diatas melakkukan penelitian efek antidiare dari etanol daun tempuyung (Sonchus arvensis L.) pada mencit jantan galur Swiss Webster dengan metode ptoteksi terhadap diare yang di pacu Oleum ricini (Dian panca rini, 2008). 3.3.6 Kersen atau ceri (Muntingia calabura) Berdasarkan pengamatan yang telah kami lakukan bahwa ceri Muntingia calabura) merupakan taman Termasuk daun tidak lengkap Jumlah daun pada tiap buku 1 daun.Tata letak tersebar.Rumus daun 1/2, Sudut divergensi 1/2 x 360 = 180. Garis-garis tegak lurus (Garis vertikal) yang menghubungkan antara 2 daun pada batang dinamakan: Ortostik. Garis piral melingkari batang yang menghubungkan daun-daun berturutturut dari bawah ke atas menurut urutan tua mudanya dinamakan : Spiral genetik. Pecahan a/b menunjukkan jarak sudut antara dua daun berturut-turut, jika diproyeksikan pada bidang datar. Jarak sudut antara dua daun berturut-turut pun tetap dan besarnya adalah a/b x 3600, yang disebut : sudut divergensi. Tumbuhan dengan tata letak daun tersebar, ternyata pecahan a/bnya, dapat terdiri atas pecahan-pecahan : , 1/3, 2/5, 3/8, 5/13, 8/21 dst. yang disebut deret Fibonacci. Angka-angka diatas memperlihatkan sifat berikut: (Sudarsono, 2005: 64). 3.3.7 Daun Mengkudu (Morinda citrifolia L.) Berdasarkan pengamatan yang telah kami lakukan pada Daun Mengkudu (Morinda citrifolia L.) bahwa mengkudu termasuk daun lengkap.Jumlah daun pada tiap buku ada yang 2 dan 1 daun.tata letaknya berhadapan tidak memiliki rumus daun tetapi memiliki helai daun, tangkai daun, batang, dan tulang daun

Pada setiap buku-buku terdapat 2 daun yang berhadapan (terpisah oleh jarak sebesar 1800). Pada buku-buku batang berikutnya biasanya kedua daunnya membentuk suatu silang dengan dua daun yang dibawahnya tadi. Tata letak daun yang demikian ini dinamakan : berhadapan-bersilang (Folia opposita atau Folia decussata), ch. pada mengkudu (Morinda citrifolia L.), soka (Ixora poludosa Kurz.), dll. (Sudarsono, 2005: 65).

BAB IV PENUTUP 4.1 Kesimpulan Dari hasil praktikum yang kami lakukan, dapat disimpulkan sebagai berikut : Pada tanaman asoka (Ixora hybrida), jumlah daun pada setiap buku-bukunya berhadapan bersilang (folio opposite atau folio decussata). Susunan tubuh tanaman terdiri atas akar (radix), batang (Caulis), cabang, daun (folio), bunga (flos), dan biji. Tidak mempunyai rumus daun dan sudut divergensi. Pada tanaman sepatu (Hibicus rosasinensis) jumlah daun pada setiap buku- buku tersebar (folio sparsa) susunan tubuh tanaman terdiri dari akar (radix), batang (Caulis), daun (folio), bunga (flos), buah, dan biji. Mempunyai rumus daun 2/5 dan sudut divergensi 1440 Pada tanaman bugenvil (Bougenvillea spectabillis) jumlah daun pada setiap buku-buku berkarang (folio verticillata), susunan tubuh tanaman terdiri atas akar (radix), batang (Coulis), ranting, cabang, daun (folio), dan bunga (flos). Mempunyai rumus daun 2/5 dan sudut divergensi 1440 Pada tanaman alamanda (Allamanda cathartica L) jumlah daun pada setiap buku-buku berkarang (folio verticillata), susunan tubuh tanaman terdiri atas akar (radix), batang (Coulis), ranting, cabang, daun (folio), dan bunga (flos). Mempunyai rumus daun 2/4 dan sudut divergensi 1440 Pada tanaman ceri (Muntingia calabura) merupakan taman Termasuk daun tidak lengkap Jumlah daun pada tiap buku 1 daun.Tata letak tersebar.Rumus daun 1/2, Sudut divergensi 1/2 x 360 = 180.

Pada tanaman Tempuyung merupakan tanaman berdaun lengkap dimana jumlah daun pada tiap buku 1 daun termasuk roset akar dan tidak memiliki rumus daun tetapi memiliki bagian-bagian diantaranya : Helai daun, tangkai daun, batang, dan tulang daun. Pada tanaman Mengkudu (Morinda citrifolia L.) bahwa mengkudu termasuk daun lengkap.Jumlah daun pada tiap buku ada yang 2 dan 1 daun.tata letaknya berhadapan tidak memiliki rumus daun tetapi memiliki helai daun, tangkai daun, batang, dan tulang daun 4.2 Saran Pada Praktikum kali ini sudah cukup baik karena para praktikan sudah mulai memahami cara mengamati daun berbeda dengan praktikum sebelumnya untuk selanjutnya supaya lebih ditingkatkan lagi

DAFTAR PUSTAKA Dian panca rini.2008. Jurnal Efek Anti Diare Ektrak Etanol Daun Tempuyung Pada Mencit Jantan Galur Swiss Webster. Fakultas Farmasi Universitas Muhammadiyah Surakarta. De klerk, 1990. How To Measure Somaclonal Variation. Acta Botanica Neerlandica. 39 : 129144. Lailani, P.K., 2008. Analisis keragaman protein dan fitokimia tanaman pegagan (Centella asiatica) hasil perbanyakan in vitro. Skripsi. Departemen Biokimia, Institut Pertanian Bogor. Muzayyinah. 2008. Terminologi Tumbuhan. Surakarta: UNS Press Permadi, Adi. 2006. Tanaman Obat Pelancar Air Seni. Jakarta: Swadaya Rukmana, Rahmat. 1995. Kembang Bugenvil. Yogyakarta: Kanesus Rukmana, Rahmat. 997. Kembang Soka. Yogyakarta: Kanesus Sebastian. 2008. Kembang Sepatu. Jakarta: Word Press. Syahid, S. F., 2007. Perbanyakan keladi tikus (Typonium flagelliforme) melalui kultur jaringan. Warta Puslitbangbun 2007. 13(3) : 19 - 20. Syahid, S. F dan N.N. Kristina, 2007. Induksi dan regenerasi keladi tikus (Typonium flagelliforme Lodd.) secara in vitro. Jurnal Penelitian Tanaman Industri. 13(4) : 142-146. Tjitrosoepomo, Gembong. 1997. Morfologi Tumbuhan. Yogyakarta: Gajah Mada University Press

Tjitrosoepomo,gembong. 2005. Taksonomi Tumbuhan Obat-obatan. Yogjakarta : UGM Press. Tjitrosoepomo,gembong. 2007. Morfologi Tumbuhan . Yogjakarta : Gadjah Mada University Press. Thao, N.T.P ., Y. ozaki and H. okubo, 2003. Callusinduction and plantlet regeneration in ornamental Alocasia micholitziana. Plant Cell, Tissue and Organ Culture. 73 : 285-289.

Pernahkah anda meminum jamu kudu laos yang dijajakan ibu-ibu penjual jamu gendong? Rasanya segar, sedikit pedas-semri

wing, dengan aroma khas mengkudu. Konon khasiatnya adalah memperlancar sirkulasi darah, menghangatkan badan, menurunkan tekanan darah tinggi, menambah vitalitas, memperbaiki pencernaan, menghilangkan pegel-linu dan masuk angin.

Jamu berbahan dasar buah mengkudu, laos, asam Jawa, dan gula (kadang ditambah merica, bawang putih, kedawung, jahe, kencur, dll) ini secara diminum turun-temurun sejak jaman nenek-moyang, menunjukkan bahwa sebagai obat mengkudu telah memiliki sejarah panjang.

tanaman mengkuduSecara tradisional seluruh bagian tanaman mengkudu dapat dimanfaatkan sebagai obat. Akarnya untuk mengobati kejang-kejang dan tetanus, menormalkan tekanan darah, obat demam, dan tonikum. Kulit batang digunakan sebagai obat malaria, tonikum, antiseptik

pada luka, atau mengempiskan pembengkakan kulit. Daunnya digunakan sebagai obat disentri, kejang usus, pusing, muntah-muntah, dan demam. Sedangkan buahnya untuk peluruh air kencing, urus-urus, pelembut kulit, kejang-kejang, bengek, gangguan pernapasan, dan radang selaput sendi.

Jaman dahulu daun, akar, dan batang mengkudu memang lebih banyak dimanfaatkan. Namun akhir-akhir ini penggunaanya sebagai obat lebih bergeser ke buahnya. Misalnya untuk mengatasi hipertensi buah mengkudu masak diambil airnya, dicampur madu, kemudian diminum setiap pagi sebelum sarapan. Untuk mengatasi penyakit kuning dua buah mengkudu diambil airnya, dicampur gula batu, kemudian diminum (dilakukan seminggu dua kali sampai sembuh). Untuk batuk dan gatal di tenggorokan, buah mengkudu masak dimakan bersama garam. Untuk meredakan demam satu buah mengkudu direbus bersama 2 cm lengkuas dalam dua gelas air sampai tinggal separonya. Airnya diminum pagi dan malam. Sementara buah mengkudu matang kalau digosok-gosokkan dapat mengubah kulit bersisik dan tumit pecah-pecah jadi mulus kembali.

Masih banyak lagi manfaat mengkudu (Morinda citrifolia) yang juga disebut pace (Jawa), cengkudu (Sunda), kodhuk (Madura), wengkudu (Bali). Tanaman ini berasal dari Asia Tenggara, termasuk Indonesia, yang kemudian menyebar hingga ke Polynesia (Hawaii). Di Polynesia inilah mengkudu yang di sana disebut noni dikembangbiakkan dan dimanfaatkan lebih intensif.

KANDUNGAN MENGKUDU

Buah dan daun mengkudu merupakan bahan pangan dengan kandungan gizi lengkap. Selain berbagai vitamin, protein, dan mineral, mengkudu juga mengandung xeronine, proxeronine, steroid alami, alizarin, lysin, sodium, asam kaprat, asam kaprilat, asam kaproat, arginine, antraquinone, trace elements, fenilalanin, selenium, magnesium, dan lain-lain.

Di antara zat-zat gizi tersebut terdapat zat antibakteri yang dapat membunuh Pseudomonas aeruginosa, Protens morganii, Staphylococcus aureus, Bacillus subtilis, dan Escherichia coli (penyebab diare), Salmonella montivideo, S. scotmuelleri, S. typhii (penyebab tifus), dan

Shigella dysenteriae, S. flexnerii, S. pradysenteriae, serta Staphylococcus aureus.

Senyawa scopoletin yang banyak terdapat pada mengkudu selain bersifat antibakteri, antiradang dan antialergi, juga dapat meningkatkan sistem kekebalan tubuh (imunomodulator).

MENGKUDU SEBAGAI OBAT KANKER

Penggunaan mengkudu untuk pengobatan kanker akhir-akhir ini semakin populer dengan semakin banyaknya penelitian mengenai manfaat mengkudu untuk kanker.

Tim peneliti Universitas Hawai yang dipimpin Annie Hirazumi mendapati bahwa jus mengkudu meningkatkan kerja sistem kekebalan tubuh (terutama sel makrofag dan limfosit) tikus putih yang diinduksi dengan sel kanker paru Lewis, sehingga mampu bertahan hidup 50 hari lebih. Padahal tikus yang tidak diberi mengkudu hanya mampu bertahan hidup antara 9-12 hari saja. Annie juga meneliti bahwa jus mengkudu bermanfaat untuk mengatasi sarcoma.

Tim peneliti Universitas Negeri Lousiana, AS, yang dipimpin Conrad A. Hornick, Ph.D menemukan bahwa jus mengkudu dalam kadar 10% dapat menghentikan pembentukan pembuluh darah (anti angiogenesis) pada sel kanker payudara dan merusak pembuluh darah kanker yang sudah ada, sehingga sel-sel kanker mati.

Sedang Maria Gabriela Manuele dan kawan-kawan berhasil membuktikan bahwa scopoletin dapat mengaktifkan limfosit sekaligus membasmi sel kanker limfoma.

mengkuduTak mau kalah dengan kolega-koleganya, Dr. Rangadhar Satapathy, MD menyatakan bahwa tanaman mengkudu memiliki 150 neutraceutical (zat gizi berkhasiat obat), lima di antaranya merupakan zat antikanker:

(1) Polisakarida yang banyak terdapat pada mengkudu mencegah menempelnya sel yang rusak/bermutasi ke sel lain, sehingga dapat mencegah terjadinya metastase.

(2) Damnacanthal, sejenis anthraquinon, menghambat pertumbuhan sel ganas. Alizarin, anthraquinon lain, menghentikan aliran darah ke jaringan tumor, sehingga menghentikan perkembangannya.

(3) Epigollocatechin gallate (EGCg). Antioksidan golongan flavonoid polifenol yang banyak terdapat dalam mengkudu ini mencegah mutasi sel dan menginduksi apoptosis (bunuh diri) pada sel-sel abnormal.

(4) Terpenoid dalam mengkudu mencegah pembelahan sel ganas dan juga menginduksi apoptosis. Salah satu terpenoidnya, limonen, terbukti efektif untuk mengatasi kanker payudara, kanker liver, kanker paru, dan juga leukemia. Terpenoid yang lain, betakaroten, membantu merangsang kelenjar thymus untuk memproduksi lebih banyak sel Limfosit T yang dapat langsung menghancurkan sel kanker. Sedang asam ursolat yang juga golongan triterpenoid dapat mencegah pertumbuhan sel abnormal (kanker) sekaligus menyuruh sel abnormal yang sudah ada untuk bunuh diri (apoptosis).

(5) Menurut hasil penelitian Dr. Heinicke, proxeronine sangat banyak terdapat dalam mengkudu. Di dalam usus proxeronine diubah menjadi xeronine. Xeronine yang juga diproduksi tubuh dalam jumlah terbatas ini dibutuhkan untuk mengaktifkan protein sel sebelum digunakan dalam seluruh proses kimiawi tubuh. Xeronine juga memperbaiki struktur dan menormalkan fungsi selsel tubuh yang rusak. Karena pada dasarnya setiap sel mengandung protein, maka kecukupan xeronine dapat memperbaiki segala jenis sel yang tidak normal. Dari sini diperoleh penjelasan, mengapa efek xeronine berbeda pada tiap orang, namun umumnya menunjukkan perbaikan kondisi sesuai penyakit masing-masing.

Namun di balik manfaat mengkudu yang begitu mengesankan ada satu hal yang sering menjadi kendala dalam mengkonsumsi mengkudu, yaitu aromanya tidak enak. Aroma khas ini cukup menyengat, disebabkan oleh asam kaproat dan asam kaprat yang banyak terdapat pada buah mengkudu matang. Cara yang digunakan untuk mengurangi aroma ini adalah dengan mencampurkan madu atau gula merah ke dalam jus mengkudu, kemudian disimpan dalam gelas atau botol kaca selama 2-4 hari.

Dalam proses fermentasi ini asam kaproat dan asam kaprat akan terurai sehingga baunya berkurang, sayangnya belum diperoleh kejelasan apakah proses fermentasi ini mempengaruhi khasiatnya atau tidak. Menurut kesaksian penggunanya, buah mengkudu tua yang belum masak (belum banyak mengandung asam kaproat dan asam kaprat) ternyata kurang berkhasiat dibanding buah mengkudu yang benar-benar sudah masak.

Efek samping mengkudu sejauh ini belum ditemukan. Hanya saja penderita gangguan ginjal perlu berhati-hati mengkonsumsi karena kadar kalium mengkudu sangat tinggi. (Titah Rahayu/rumahkanker.com)