Anda di halaman 1dari 15

TK3 TKI C PTKI Medan

2012

ERGONOMI
I.

Definisi dan Konsep Dasar Ergonomi Ergonomi berasal dari bahasa Yunani, terdiri dari dua kata: = kerja = aturan
Aturan Kerja

ergos nomos

Dengan demikian berdasarkan asal katanya ergonomi dapat diterjemahkan menjadi aturan kerja. Ergonomi dalam makna aturan kerja memberi makna lebih luas terhadap aktivitas manusia dalam melakukan pekerjaan. Segala aktivitas manusia yang dilakukan, baik di pabrik, kantor, kehidupan bermasyarakat maupun aktivitas lainnya harus diatur dan dikelola sedemikian rupa sehingga dapat menempatkan manusia sebagai sosok yang manusiawi dan alamiah. Dengan kata lain, ergonomi mempelajari manusia dalam bekerja. Dalam hal ini manusia dipandang tidak hanya dari segi fisik tetapi juga nonfisik, dimana tiap manusia tersebut memiliki kemampuan juga keterbatasan baik dalam aspek fisiknya maupun aspek nonfisik. Peran ergonomi yakni memberi informasi/pengetahuan tentang manusia dalam bekerja (sifat, kemampuan, dan keterbatasan), sehingga dapat dimanfaatkan untuk merancang sistem kerja yang mendukung manusia untuk bekerja secara optimal. Sistem kerja dibentuk oleh beberapa komponen yakni manusia, mesin, dan lingkungan (keseluruhan yang terdapat di tempat kerja). Ketika membahas ada dua perusahaan hal yang (industri) menjadi tempat tuntutan bekerja penting maka untuk umumnya

diwujudkan yakni efisiensi dan efektivitas. Akan tetapi karena sistem kerja juga memiliki unsur manusia, maka selain efektivitas dan efisiensi, sistem kerja juga memiliki tujuan-tujuan yakni: keamanan (keselamatan), kesehatan dan kenyamanan kerja. Atau dengan kata lain dapat dikatakan bahwa tujuan total dari sebuah sistem kerja adalah menciptakan efektif, nyaman, aman, sehat, efisien atau disingkat e n a s e.

TK3 TKI C PTKI Medan

2012

Ergonomi sangat berperan dalam mewujudkan tujuan-tujuan A (aman), N (nyaman), dan S (sehat). Melalui penerapan ergonomi maka A, N, dan S dapat ditingkatkan dan dengan demikian juga akan meningkatkan E1 (efektivitas) dan E2 (efisiensi). Jadi, penerapan ergonomi bertujuan untuk mewujudkan ENASE baik secara langsung maupun tidak langsung. Terdapat beberapa definisi dari ergonomi: Menurut International Ergonomics Association definisi ergononomi: ergonomics (or human factors) is the scientific discipline concerned with the understanding of interactions among humans and other elements of a system, and the profession that apliies theory, principles, data and methods to design in order to optimize human well-being and overall system performance. Sutalaksana menyampaikan bahwa ergonomi merupakan suatu cabang ilmu yang sistematis untuk memanfaatkan informasi mengenai sifat manusia, kemampuan manusia dan keterbatasannya untuk merancang suatu sistem kerja yang baik agar tujuan dapat dicapai dengan efektif, aman dan nyaman (Sutalaksana, 1979). Ergonomi dapat juga diartikan sebagai sebuah studi tentang aspek-aspek manusia dalam lingkungan kerjanya yang ditinjau secara anatomi, fisiologi, psikologi, engineering, manajemen dan disain/perancangan. Dalam ergonomi dibutuhkan studi tentang sistem dimana manusia, fasilitas kerja dan lingkungannya saling berinteraksi dengan tujuan utama yaitu menyesuaikan suasana kerja dengan manusianya. Ergonomi disebut juga sebagai human factors. Penerapan ergonomi pada umumnya merupakan aktivitas rancang bangun (desain), ataupun rancang ulang (re-dsain). Ergonomi berusaha untuk menyerasikan pekerjaan dan lingkungan terhadap orang (pekerja) atau sebaliknya untuk mencapai tujuan akhir dari sebuah sistem kerja. Hal-hal berikut ini menjadi konsep dasar dalam ilmu ergonomi:

TK3 TKI C PTKI Medan

2012

1) Ergonomi dikembangkan atas dasar pemikiran bahwa dalam setiap aktivitasnya manusia dihadapkan kepada kendala fisik dan psikis. 2) Diperlukan upaya-upaya yang mendukung kepada pemenuhan aktivitas manusia yang nyaman, aman, sehat, efektif dan efisien 3) Upaya yang dimaksud bisa berupa pemenuhan disain peralatan, lingkungan kerja, tata cara kerja manusia dan kondisi psikologis terkait kegiatan yang dapat menumbuhkan efektivitas dan produktivitas manusia dalam bekerja.
II.

Ruang Lingkup (Bidang Kajian) Ergonomi Ergonomi memanfaatkan informasi-informasi mengenai sifat,

kemampuan serta keterbatasan manusia untuk merancang suatu sistem kerja yang baru (desain) maupun merancang perbaikan suatu sistem kerja yang telah ada (re-desain). Ergonomi merupakan ilmu perancangan berbasis manusia (Human Centered Design) yang menjadi semakin penting hingga saat ini karena: sistem Adanya regulasi nasional maupun internasional mengenai Para pekerja adalah human being sistem kerja dimana manusia terlibat di dalamnya Manusia sebagai sumber daya utama dalam sebuah

Ergonomi mencakup beberapa bidang kajian (lingkup), yakni: a. Anthropometri b. Biomekanika Kerja c. Faal Kerja
d. Psikososial/Psikologi Kerja

e. Penginderaan
A. Anthropometri

TK3 TKI C PTKI Medan

2012

Antropometri adalah pengetahuan yang menyangkut pengukuran dimensi tubuh manusia dan karakteristik khusus lain dari tubuh yang relevan dengan perancangan alat-alat/benda-benda yang digunakan manusia. Informasi dimensi tubuh manusia diperlukan untuk merancang sistem kerja yang nyaman dan aman. Antropometri dibagi atas dua bagian utama, yakni: a) Antropometri statis (struktural) Pengukuran manusia dilakukan pada posisi diam, dan linier pada permukaan tubuh. b) Antropometri Dinamis (fungsional) Pengukuran keadaan dan ciri-ciri fisik manusia dalam keadaan bergerak atau memperhatikan gerakan-gerakan yang mungkin terjadi saat pekerja tersebut melaksanakan kegiatannya. Selain kedua jenis ini, terdapat antropometri rekayasa yakni aplikasi dari antropometri statis dan dinamis, digunakan untuk merancang workspace (area kerja) dan peralatan.

Gambar 1. Variasi Bentuk Tubuh Manusia (Pria) Dimensi tubuh manusia sangat bervariasi (seperti misalnya ditunjukkan pada gambar di atas), yang dipengaruhi oleh berbagai faktor diantaranya: umur, jenis kelamin, rumpun (suku bangsa), sosio ekonomi, pekerjaan, serta kondisi waktu pengukuran. Dari faktor umur, perkembangan ukuran tubuh manusia terbatas umumnya dari lahir sampai dengan usia sekitar 20 tahun (untuk pria) atau 17 tahun (untuk

TK3 TKI C PTKI Medan

2012

wanita). Dari jenis kelamin, maka pria pada umumnya memiliki dimensi tubuh yang lebih besar kecuali bagian dada dan pinggul. Faktor rumpun (suku bangsa) akan menunjukkan dimensi tubuh yang merupakan ciri khusus yang biasanya bersifat genetik. Sosio ekonomi akan mempengaruhi konsumsi gizi yang diperoleh yang pada akhirnya mempengaruhi ukuran tubuh. Jenis pekerjaan ataupun aktivitas seharihari juga memberikan pengaruh terhadap dimensi tubuh. Dan faktor yang terakhir adalah kondisi waktu pengukuran dilakukan. Data antropometri akan sangat bermanfaat dalam merancang sistem kerja, contoh aplikasinya misalnya dalam tool design, consumer product design, workplace design, dan interior design. Adanya variasi dalam dimensi tubuh manusia tak dapat dihindarkan. Terdapat dua pilihan dalam merancang sistem kerja berdasarkan data antropometri, yaitu: a. Sesuai tubuh pekerja (perancangan individual), yakni yang terbaik secara ergonomi. b. Sesuai populasi pemakai/pekerja Terdapat tiga pilihan (strategi) dalam perancangan untuk populasi yaitu: . B.Biomekanika Kerja Biomekanika merupakan aplikasi ilmu mekanika teknik untuk analisa sistem kerangka otot manusia. Kajian dalam biomekanika kerja adalah sifat-sifat mekanis selama bekerja yang meliputi kekuatan kerja otot, ketahanan, kecepatan, dan ketelitian gerak anggota-anggota badan dan daya tahan jaringan-jaringan tubuh terhadap beban. Meskipun kemajuan teknologi telah banyak membantu aktivitas manusia, namun tetap saja ada beberapa pekerjaan manual yang tidak dapat dihilangkan dengan pertimbangan biaya ataupun kemudahan. Design for extreme individuals Design for adjustability Design for average

TK3 TKI C PTKI Medan

2012

Pekerjaan ini membutuhkan usaha fisik dalam porsi tertentu (sedang sampai dengan besar) serta durasi waktu kerja tertentu, misalnya penanganan atau pemindahan material secara manual. Biomekanika sangat penting dan berhubungan dengan pekerjaan yang bersifat material handling, seperti pengangkatan dan pemindahan secara manual, atau pekerjaan lain yang dominan menggunakan otot tubuh. Selain itu, variasi individu dalam hal kemampuan fisik juga menuntut dikembangkannya studi mengenai biomekanika kerja. Biomekanika diklasifikasikan menjadi dua, yakni:
a. General biomechanic adalah bagian dari biomekanika yang

berbicara mengenai hukum-hukum dan konsep-konsep dasar yang mempengaruhi tubuh organic manusia baik dalam posisi diam maupun bergerak. General biomechanic terbagi menjadi dua: Biostatics: bagian dari biomekanika umum yang hanya menganalisis tubuh pada posisi diam atau bergerak pada garis lurus dengan kecepatan seragam (uniform).
Biodinamic:

bagian

dari

biomekanik gaya

umum yang

yang terjadi

berkaitan dengan gambaran gerakan-gerakan tubuh tanpa mempertimbangkan (kinematik) dan gerakan yang disebabkan gaya yang bekerja dalam tubuh (kinetic).
b. Occupational biomechanic adalah bagian dari biomekanik

terapan yang mempelajari interaksi fisik antara pekerja dengan mesin, material dan peralatan dengan tujuan untuk meminimumkan keluhan pada sistem kerangka otot ataupun meminimisasi cedera otot, tendon, ligamen, urat dan syaraf agar kinerja dapat meningkat. Dalam biomekanik ini banyak melibatkan bagian-bagian tubuh yang bekerja untuk menghasilkan gerak yang akan dilakukan oleh organ tubuh yakni antara tulang, jaringan penghubung (sambungan tulang iga, ligamen, tendon) dan otot. Biomekanika dapat diterapkan

TK3 TKI C PTKI Medan

2012

misalnya pada perancangan kembali pekerjaan yang sudah ada, mengevaluasi pekerjaan, penanganan material secara manual, pembebanan statis dan penentuan sistem waktu. Salah satu hal yang dibahas dalam biomekanika adalah

kelelahan (fatique). Kelelahan tidak terlepas dari biomekanik karena dalam aplikasinya, biomekanik melihat manusia secara mekanik. Manusia/pekerja mempunyai keterbatasan yang salah satunya ditunjukkan dengan sampainya manusia yang bekerja pada satu keadaaan yang disebut dengan lelah/kelelahan. Kelelahan merupakan suatu proses menurunnya efisiensi performansi kerja dan berkurangnya kekuatan atau ketahanan fisik tubuh manusia untuk melanjutkan kegiatan yang harus dilakukan. Kelelahan merupakan suatu pola yang timbul pada suatu keadaan yang secara umum terjadi pada individu yang telah tidak sanggup lagi untuk melakukan aktivitasnya. Kelelahan ini dapat berupa: a. Lelah otot: diindikasikan dengan munculnya gejala kesakitan ketika otot harus menerima beban berlebihan. b. Lelah mental (lelah otak): kelelahan yang timbul melalui kerja mental seperti berfikir. c. Lelah visual: diakibatkan ketegangan yang terjadi pada organ visual (mata) yang terkonsnetrasi secara terus menerus pada suatu objek. d. Lelah monotonis: kelelahan yang disebabkan oleh aktivitas kerja yang bersifat rutin, monoton, ataupun lingkungan kerja yang menjemukan.
e. Lelah kronis: kelelahan yang disebabkan oleh sejumlah faktor

yang berlangsung secara terus-menerus dan terakumulasi. Terjadinya lelah kronis akan menimbulkan ciri-ciri sebagai akibatnya, antara lain: depresi berat, muncul sikap apatis terhadap pekerjaan, dan meningkatnya emosi/jengkel serta berkurangnya toleransi dan sosial terhadap orang lain.

TK3 TKI C PTKI Medan

2012

Seperti yang telah dijelaskan di atas, maka diketahui kelelahan dapat muncul karena adanya intensitas atau beban kerja yang berlebihan (force), aktivitas kerja yang bersifat rutin, monoton dan berulang (repetition), posisi tubuh yang tidak tepat (posture) serta durasi kerja terlalu panjang dengan tidak ada/kurangnya istirahat (no rest) serta lingkungan fisik di sekitar tempat kerja seperti temperatur, kelembabab, pencahayaan, kebisingan, getaran mekanis, bau-bauan, dan warna.

Gambar 2. Beberapa Penyebab Timbulnya Fatique

TK3 TKI C PTKI Medan

2012

Gambar 3. Rohmert Curve Dari Kurva Rohmert di atas terlihat bahwa untuk kontraksi otot yang terus menerus untuk pengerahan tenaga sebesar 15-20% adalah terlalu berat/tinggi, otot hanya mampu mengerahkan tenaga sebesar 4-8% selama maksimum 8 jam dengan diselingi waktu-waktu istirahat. Perhatikan Gambar 4 berikut ini. Pada gambar ditunjukkan beberapa posisi ataupun postur ketika menggunakan alat. Bentuk ataupun posisi genggam atau posisi kerja menggunakan alat yang terbaik akan bergantung oleh lokasi (location) benda kerja, orientasi (orientation) kerja, serta jenis pekerjaan/tugas (task) yang dikerjakan dengan alat tersebut.

TK3 TKI C PTKI Medan

2012

Gambar 4. Tool Shape Aplikasi biomekanika kerja lainnya misalnya dalam menghitung batas beban pengangkatan secara manual dan menghitung tekanan pada suatu sendi tubuh akibat kerja. Contoh aplikasi biomekanika kerja ditunjukkan berikut ini: Pada Gambar 5 bagian (a) ditunjukkan posisi kerja yang mengandung beberapa faktor resiko yang dapat menyebabkan kelelahan. Faktorfaktor ini antara lain: postur pekerja ketika melakukan aktivitasnya (tidak nyaman dan mudah menjadikan lelah otot pinggang), posisi benda kerja yang terlalu rendah sehingga pekerja harus menyesuaikan posisi berdiri membungkuk mendekati benda kerja. Apabila dilakukan analisa terhadap faktor-faktor resiko pada gambar (a) maka dapat pula ditentukan langkah-langkah intervensi yang bertujuan memperbaiki kinerja pekerja tersebut. Berdasarkan hasil analisa yang berdasarkan

TK3 TKI C PTKI Medan

2012

konsep biomekanika maka diusulkan perbaikan menjadi Gambar 5 bagian (b).

(a)

(b)

Gambar 5. Contoh Aplikasi Konsep Biomekanika Kerja C.Faal Kerja Secara garis besar kerja manusia bersifat fisik dan mental yang masing-masing mempunyai intensitas yang berbeda. Tingkat intensitas yang terlalu tinggi menunjukkan pemakaian energi yang berlebihan, sebaliknya tingkat intensitas yang terlalu rendah menimbulkan rasa bosan dan jenuh. Besar penggunaan energi tergantung dari jenis pekerjaan yang dilakukan, apabila beban kerja terlalu berat maka syaraf-syaraf otot akan mengalami kelelahan. Dalam faal kerja ini dipelajari bagaimana kerja otot serta metabolisme dalam produksi energi. Metabolisme tubuh yang konsepnya sama dengan sebuah mesin dipelajari agar dapat diketahui besarnya kebutuhan akan sumber energi (yakni dari makanan) untuk dapat memperoleh sejumlah energi yang dibutuhkan untuk bekerja ataupun beraktivitas. Untuk aktivitas yang berbeda (misalnya tidur, berdiri, berolahraga, bekerja dengan mengelas, menyolder, merakit, dll) akan diperlukan jumlah kalori yang berbeda.
D. Psikososial (Psikologi Kerja)

TK3 TKI C PTKI Medan

2012

Manusia dengan segala sifat dan tingkat laku lainnya merupakan mahluk yang sangat kompleks. Manusia secara individu memiliki karakteristik yang berbeda. Perbedaan yang khusus pada manusia diantaranya jenis kelamin, usia, kepribadian, tingkah laku, nilai, karakteristik fisik, minat, motivasi, pendidikan dan pengalaman. Setiap kerja mengundang reaksi psikologis pekerjanya. Reaksi ini dapat berupa reaksi positif maupun negatif. Untuk mencapai sasaran yang optimum maka aspek psikososial perlu dikelola perusahaan dengan baik. Terdapat dua teori tentang psikologi kerja yang dapat diterapkan untuk mencapai sasaran yang optimum: a. Teori Psikoanalisis Secara naluriah manusia mencari segala sesuatu yang dapat memuaskan kebutuhannya. Dalam proses mencari ini manusia seringkali terbentur pada suatu halangan sehingga dia akan melakukan satu dari dua langkah berikut: mengingat kembali pengalaman yang lalu dimana ia memuaskan kebutuhannya dengan satau atau berbagai cara. menunjukkan reaksi yang : positif inovatif, atau negatif (kesal, marah, dll). Maka cara ergonomis yang sesuai dengan teori psikoanalisis adalah: 1) memberi pengarahan dan latihan tentang tugas dan tanggungjawab karyawan sedini mungkin 2) memberi uraian tugas yang jelas dan tertulis kepada pekerja 3) menciptakan lingkungan kerja yang nyaman dan aman 4) memberikan arahan dan dukungan sesuai dengan situasi dan kondisi 5) melengkapi karyawan dengan peralatan kerja Jadi menurut teori ini, peralatan ataupun keadaan kerja yang menyenangkan harus selalu tersedia. Jika pimpinan menginginkan pekerjanya bekerja secara inovatif, maka harus dilengkapi dengan sarana mental dan fisik untuk memungkinkan mereka kea rah

TK3 TKI C PTKI Medan

2012

tindakan alternatif tersebut. Pimpinan harus tanggap terhadap kelemahan dan kemampuan setiap bawahan, serta harus cepat mengatasi kelemahan-kelemahan itu. Dengan sikap ini maka pimpinan telah mencegah terjadinya tindakan yang kurang selamat. b. Teori Sumber daya Manusia Manusia adalah manusia yang ingin berperan atau berfungsi. Sejak bayi, dst seseorang selalu mengadakan gerakan-gerakan fisiologis, fungsional seperti menangis jika lapar, merangkak menuju sutau tempat, berkembang menurut perkembangan mental, bahkan spiritual. Manusia mempunyai kemampuan dasar yang menggerakkannya ke arah mencapai sasaran dan hasil. Akan tetapi gerakan-gerakan atau fungsi ini tidak selalu sempurna karena pengetahuan, keterampilan, atau sikap terhadap fungsi dan pengenalan sasaran yang akan dicapai masih kurang tepat. Tiap sasaran dapat tercapai dengan berhasil, jika: identitas sasaran kerja dikenal secara jelas modus tindakan atau karya yang paling tepat dapat digerakkan dengan mudah. Menurut teori ini, sumber daya setiap karyawan harus dikembangkan dan dibina secara terus menerus untuk mencapai sasaran dan hasil kerja yang ditetapkan. E. Penginderaan Secara biologis manusia memiliki indra yakni penglihatan, pendengaran, peraba, penciuman, dna perasa. Dalam bekerja, manusia sangat bergantung pada kerja alat indranya ini. Dari seluruh penjelasan di atas maka sebuah rancangan ergonomic adalah rancangan produk, ruang atau organisasi yang sesuai dengan realita antropometri, faal, biomekanika, penginderaan dan psikososial

TK3 TKI C PTKI Medan

2012

orang-orang tersebut.

yang

menggunakan

atau

berada

di

sistem-sistem

Produk yang ergonomik


(1)

Gelas dengan handle otomatis

(2) Cangkir teh

(3) Tangga multifungsi

(4) Kamera Myself

Ruang yang ergonomik Pencahayaan yang baik dan cukup, tingkat kebisingan dan getaran rendah, area kerja yang bersih dan cukup (luasnya), dll. Organisasi yang ergonomik Sistem manajemen yang baik, penjadwalan kerja yang baik dan beban kerja tidak berlebihan, relasi pimpinan-atasan ataupun antar pekerja yang baik, dll. Hubungan ergonomi dengan k3 Semua aspek di tempat kerja, baik alat-alat kerja (mesin, komputer, dokumen, dll), ruangan kerja (pencahayaan, kebisingan, getaran, ukuran, dll), organisasi (struktur/pengelompokkan, sistem prosedur, kepemimpinan, sistem imbal jasa, jadwal kerja, dll) memiliki karakter ergonomi dan berkontribusi langsung pada keergonomikan pekerjaan yang bersangkutan. K3 sangat berkaitan dengan manusia karena membahas keselamatan dan kesehatan yang merupakan kebutuhan manusia. Ergonomi juga merupakan disiplin ilmu terapan yang berkaitan erat dengan manusia

TK3 TKI C PTKI Medan

2012

bahkan human centered ataupun disebut dengan human factor engineering yang memusatkan manusia sebagai pembahasan. Dengan demikian, ergonomi menjadi hal yang tak terhindarkan, sangat dibutuhkan untuk mengembangkan sistem yang Efektif, Nyaman, Aman, Sehat, dan Efisien. Dengan penerapan ergonomi maka kondisi yang tidak selamat, tidak sehat, ataupun tidak nyaman dapat diubah menjadi kondisi selamat, sehat, dan nyaman.