Anda di halaman 1dari 322

Bu Kek Siansu

Pagi it u bukan m ain indahnya di dalam hut an di lereng Pegunungan Jeng Hoa San ( Gunung Seribu Bunga) . Mat ahari m uda m em unt ahkan cahayanya yang kuning keem asan ke perm ukaan bum i, m enghidupkan kem bali rum put - rum put yang ham pir lum puh oleh em bun, pohon- pohon yang lenyap dit elan kegelapan m alam , bungabunga yang m enderit a sem alam an oleh hawa dingin m enusuk. Cahaya kuning em as m em bawa kehangat an, keindahan, penghidupan it u m engusir halim un t ebal, dan halim un lari pergi dari cahaya raj a kehidupan it u, m eninggalkan but iran- butiran em bun yang kini m enj adi penghias uj ung- uj ung daun dan rum put m em buat bungabunga yang beraneka warna it u sepert i dara- dara m uda j elit a sehabis m andi, segar dan berseri- seri. Cahaya m at ahari yang lem but it u t ert angkis oleh daun dan rant ing pepohonan hut an yang rim bun, nam un kelem but annya m em buat cahaya it u dapat j uga m enerobos di ant ara celah- celah daun dan rant ing sehingga sinar kecil m em anj ang yang t am pak j elas di ant ara bayang- bayang pohon m eluncur ke bawah, disana sini bert em u dengan pant ulan air m em bent uk warna pelangi yang am at indahnya, warna yang dibent uk oleh segala m acam warna t erut am a oleh warna dasar m erah, kuning dan biru. I ndah! Bagi m at a yang bebas dari segala ikat an, keindahan itu makin terasa, keindahan yang baru dan yang senantiasa akan nampak baru biarpun andaikat a dilihat nya set iap hari Sebelum cahaya pert am a yang kem erahan dari m at ahari pagi t am pak, keadaan sunyi senyap. Yang m ula- mula membangunkan hutan itu adalah kokok ayam hutan yang pendek dan nyaring sekali, kokok yang t iba- t iba dan m engej ut kan, susul m enyusul dari beberapa penj uru. Kokok ayam j ant an inilah yang m enggugah para burung yang t adinya diselim ut i kegelapan m alam , m enyem bunyikan m uka ke bawah selim ut t ebal dan hangat dari sayap m ereka, kini t erj adilah gerakan- gerakan hidup di set iap pohon besar dan t erdengar kicau burung yang sahut - m enyahut , berm acam - m acam suaranya, bersaing indah dan ramai namun kesemuanya memiliki kemerduan yang khas. Sukar bagi t elinga unt uk m enent ukan m ana yang lebih indah, karena suara yang bersahut sahut an it u m erupakan kesat uan seperangkat alat m usik yang dibunyikan bersam a. Yang ada pada t elinga hanya indah! Sukar dikat akan m ana yang lebih indah, suara burung- burung it u sendiri at aukan keheningan kosong yang t erdapat di ant ara j arak suara- suara itu. Anak laki- laki itu masih amat kecil. Tidak akan lebih dari tujuh tahun usianya. Dia berdiri sepert i sebuah pat ung, berdiri di t em pat dat ar yang agak t inggi di hut an Gunung Seribu Bunga it u, m enghadap ke t im ur dan sudah ada set engah j am lebih dia berdiri sepert i it u, hanya m at anya saj a yang bergerak- gerak, m at a yang lebar yang penuh sinar ket aj am an dan kelem but an, sepert i biasa m at a kanakkanak yang hidupnya masih bebas dan bersih, namun di antara kedua matanya, kulit di ant ara alis it u agak t erganggu oleh garis- garis lurus. Aneh m elihat seorang anak kecil sepert i it u sudah ada keriput di ant ara kedua alisnya! Anak it u pakaiannya sederhana sekali, biarpun am at bersih sepert i bersihnya t ubuhnya, dari ram but sam pai ke kuku j ari t angannya yang t erpelihara dan bersih, waj ahnya biasa saj a, sepert i anak- anak lain dengan bent uk m uka yang t am pan, hanya m at anya dan keriput di antara matanya itulah yang jarang terdapat pada anak- anak dan membuat dia m enj adi seorang anak yang m udah m endat angkan kesan pada hat i pem andangnya sebagai seorang anak yang aneh dan t ent u m em iliki sesuat u yang luar biasa. Sepasang m at a anak it u bersinar- sinar penuh seri kehidupan ket ika dia tadi melihat munculnya bola merah besar di balik puncak gunung sebelah timur, bola m erah yang am at besar dan yang m ula- m ula m erupakan pem andangan yang am at m enarik hat i, akan t et api lam bat laun m erupakan benda yang t ak kuat lagi m at a m em andangnya karena cahaya yang m akin m enguning dan berkilauan. Maka dia m engalihkan pandangannya, kini m enikm at i bet apa cahaya yang t iada t erbat as luasnya it u m enghidupkan segala sesuat u, dari puncak pegunungan sam pai j auh di sana, di bawah kaki gunung. Anak itu lalu menanggalkan pakaiannya, satu semi satu

Bu Kek Siansu
dengan gerakan sabar dan tidak tergesa- gesa, tanpa menengok ke kanan kiri karena selam a ini dia t ahu bahwa di pagi hari sepert i it u t idak akan ada seorang pun m anusia kecuali dirinya sendiri berada di sit u. Dengan t elanj ang bulat dia lalu m engham piri sebuah bat u dan duduk bersila, m enghadap m at ahari. Duduknya t egak lurus, kedua kakinya bersilang dan napasnya m asuk keluar dengan halus t anpa diat ur, t anpa paksaan sepert i pernapasan seorang bayi sedang t idur nyenyak. Sudah beberapa t ahun dia m elakukan ini set iap hari duduk sam bil m andi cahaya m at ahari selam a dua t iga j am sam pai sem ua t ubuhnya berm andi peluh dan t erasa panas barulah dia berhent i. Juga di wakt u m alam t erang bulan, dia duduk pula di bat u it u, t elanj ang bulat , m andi cahaya bulan purnam a selam a t uj uh m alam , kadang- kadang sam pai lupa diri dan duduk bersila sam pai set engah t idur, dan barulah dia berhent i kalau t ubuh sudah ham pir m em beku dan bulan sudah lenyap bersem bunyi di balik pum cak barat . Anak yang luar biasa! Mem ang. Dem ikian pula penduduk di sekit ar Pegunungan Jeng Hoa San m enyebut nya Sin Tong ( Anak Aj aib) , dem ikianlah nam a anak ini yang diket ahui orang. Anak aj aib, anak sakt i dan lain- lain sebut an lagi. Karena sem ua orang m enyebut nya Sin Tong dan m em ang dia sendiri t idak pernah m au m enyat akan siapa nam anya, m aka anak it u sudah m enj adi t erbiasa dengan sebut an ini dan m enganggap nam anya Sin Tong! Mengapakah orang- orang dusun, penghuni sem ua dusun di sekit ar lereng dan kaki Pegunungan Jeng Hoa San m enyebut nya anak aj aib? Hal ini ada sebabnya, yait u karena anak berusia t uj uh t ahun it u pandai sekali m engobat i penyakit dengan m em beri daun- daun, buah- buah, dan akar- akar obat yang benarbenar m anj ur sekali! Ham pir sem ua penduduk yang t erkena penyakit dat ang ke lereng Hut an Seribu Bunga, yait u nam a hut an di m ana anak it u t inggal karena di ant ara sekalian hut an di Pegunungan Seribu Bunga, hut an inilah yang benar- benar t epat disebut Hut an Seribu Bunga denga t et um buhan beraneka warna, penuh dengan bunga- bunga indah, t erut am a sekali pada m usim sem i. Dan anak ini m em beri daun at au akar obat dengan hat i t erbuka, dengan hat i t erbuka, dengan t ulus ikhlas, suka rela dan selalu m enolak kalau diberi uang! Maka berduyun- duyun orang dusun datang kepadanya dan diam- diam memujanya sebagai seorang anak aj aib, sebagai dewa yang m enj elm a m enj adi seorang anak- anak yang m enolong dusun- dusun it u dari m alapet aka. Bahkan ket ika t erj angkit penyakit m enular, penyakit dem am hebat yang m enim bulkan banyak korban t ahun lalu, bocah aj aib inilah yang m em basm inya dengan m em beri akar- akar t ert ent u yang harus diminum airnya setelah dimasak. Dengan akar itu, yang sakit banyak tertolong dan yang belum t erkena penyakit t idak akan ket ularan. Ket ika orang- orang dusun it u, t erut am a yang wanit a, dat ang m em bawa pakaian baru yang sudah dij ahit rapi, anak it u t ak dapat m enolak, dan m enyat akan t erim a kasihnya dengan but iran air m at a m enet es di kedua pipinya akan t et api t idak ada kat a- kat a yang keluar dari m ulut nya. Karena j asa orang- orang dusun ini, m aka anak it u selalu berpakaian sederhana sekali, pot ongan " dusun" . Siapakah sebet ulnya anak kecil aj aib yang menjadi penghuni Hut an Seribu Bunga seorang diri saj a it u? Benarkah dia seorang dewa yang t urun dari kahyangan m enj adi seorang anak- anak unt uk m enolong seorang m anusia, sepert i kepercayaan para penduduk di Pegunungan Tibet sehingga banyak t erdapat Lam a yang dianggap sebagai Sang Budha sendiri yang " m enj elm a" m enj adi anak- anak dan m enj adi calon Lam a. Sebet ulnya t ent u saj a t idak sepert i ket ahyulan yang dipercaya oleh orang- orang yang m em ang suka akan ket ahyulan dan suka akan yang aj aib- aj aib it u. Anak it u dahulunya adalah anak t unggal dari Keluarga Kwa di kot a Kun- Leng, sebuah kot a kecil di sebelah t im ur Pegunungan Jeng- hoa- san. Dia bernam a Kwa Sin Liong, dan nam a Sin Liong( Naga Sakt i) ini diberikan kepadanya karena ket ika m engandungnya, ibunya m im pi m elihat seekor nam a bet erbangan di angkasa diant ara awan- awan. Adapun ayah Sin Liong adalah seorang pedagang obat yang cukup kaya di kot a Kun- leng. Akan t et api m alapet aka m enim pa keluarga ini ket ika m alam hari t iga orang pencuri m em asuki rum ah

Bu Kek Siansu
m ereka. Tadinya t iga orang penj ahat ini hendak m elakukan pencurian t erhadap keluarga kaya ini, akan t et api ket ika m ereka m em asuki kam ar ayah dan ibu Sin Liong m em pergoki m ereka. Karena khawat ir dikenal, t iga orang it u lalu m em bunuh ayah- bunda Sin Liong dengan bacokan- bacokan golok. Ket ika it u Sin Liong baru berusia lima tahun dan di tempat remang- remang itu melihat betapa ayah- bundanya dihuj ani bacokan golok dan roboh m andi darah, t ewas t anpa sem pat bert eriak. Saking ngeri dan t akut nya, Sin Liong sepert i berubah m enj adi gagu, m at anya m elot ot dan dia t idak bisa m engeluarkan suara. Karena ini, t iga orang pencuri it u t idak m elihat anak kecil di kam ar yang gelap it u. Mereka t erut am a sibuk m engum pulkan barang- barang berharga dan m ereka it u j uga panik, ingin lekaslekas pergi karena m ereka t elah t erpaksa m em bunuh t uan dan nyonya rum ah. Set elah para penj ahat it u keluar dari kam ar, barulah Sin Liong dapat m enj erit , m enj erit sekuat t enaganya sehingga m alam hari it u t erkoyak oleh j erit an anak ini. Para t et angga m ereka t erkej ut dan sem ua pint u dibuka, sem ua laki- laki berlari keluar dan m elihat t iga orang yang t idak dikenal keluar dari rum ah keluarga Kwa membawa buntalan- buntalan besar, segera terdengar teriakan "malingmaling!" dan orangorang it u m engurung t iga penj ahat ini. Beberapa orang lari m em asuki rum ah keluarga Kwa yang dapat dibayangkan bet apa kaget hat i m ereka m elihat suam iist eri it u t ewas dalam keadaan m andi darah, sedangkan Sin Liong m enangisi kedua orang t uanya, m em eluki m ereka sehingga m uka,t angan dan pakaian anak it u penuh dengan darah ayahbundanya. "Pembunuh! Mereka membunuh keluarga Kwa!" Orang yang m enyaksikan m ayat kedua orang it u segera lari keluar dan bert eriak- teriak " Manusia kej am ! Tangkap m ereka! " " Tidak! Bunuh saj a m ereka! " " Tubuh suam i- istri Kwa hancur m ereka cincang! " " Bunuh! " " Serbu...! " Dan t erj adilah pergum ulan at au pert andingan yang berat sebelah. Tiga orang it u t erpaksa m elakukan perlawanan unt uk m em bela diri, akan t et api m ana m ereka it u, m aling- m aling biassa, m am pu m enahan serbuan puluhan bahkan rat usan orang yang m arah dan haus darah?. Anak laki- laki it u, ket ika pengeroyokan di luar rum ahnya sedang t erj adi, keluar dari dalam , m ukanya penuh darah, kedua t angannya dan pakaiannya j uga. Dia m elangkah keluar sepert i dalam m im pi, m ukanya pucat sekali dan m at anya yang lebar it u t erbelalak m em andang penuh kengerian.Dia berdiri di depan pint u rum ahnya, m at anya m akin t erbelalak m em andang apa yang t erj adi di depan rum ahnya. Jelas t am pak olehnya bet apa para t et angganya it u, sepert i sekum pulan serigala buas, m enyerang dan m em ukuli t iga orang pencuri t adi, para pem bunuh ayah- bundanya. Terdengar olehnya bet apa pencuri- pencuri it u m engaduh- aduh merintih- rint ih, m int a- m int a am pun dan t erdengar pula suara bak- bik- buk ket ika kaki t angan dan senj at a m enghant am i m ereka. Mereka bert iga it u roboh, dan t erus digebuki, dibacok, dihant am dan darah m uncrat - m uncrat ., t ubuh t iga orang it u berkeloj ot an, suara yang aneh keluar dari t enggorokan m ereka. Akan t et api orangorang yang m arah dan haus darah it u, yang m enganggap bahwa apa yang m ereka lakukan ini sudah baik dan adil, t erus saj a m enghant am i t iga orang m anusia sial it u sam pai t ubuh m ereka rem uk dan t idak t am pak sepert i t ubuh m anusia lagi, pat ut nya hanya onggokan- onggokan daging hancur dan t ulang- t ulang pat ah! . Ket ika sem ua orang sudah m erasa puas, j uga m ulai ngeri m elihat hasil perbuat an m ereka, m enghent ikan pengeroyokan t erhadap t iga m ayat it u dan m ereka m em asuki rum ah keluarga Kwa, Sin Liong t idak berada disit u! Kiranya bocah ini, yang baru saj a t erget ar j iwanya, t ergores penuh luka m elihat ayah bundanya dibacoki dan dibunuh, ket ika m elihat t iga orang pem bunuh it u dikeroyok dan disiksa, j iwanya m akin t erhim pit , luka- luka dihat inya m akin banyak dan dia t idak kuat m enahan lagi. Dilihat nya waj ah orang- orang it u sem ua sepert i waj ah iblis, dengan m at a bernyalanyalapenuh kebencian dan dendam , penuh nafsu m em bunuh, dengan m ulut t erngangga seolah- olah t am pak t aring dan gigi m eruncing, siap unt uk m enggigit lawan dan m enghisap darahnya. Dia m erasa ngeri, m erasa seolah- olah t am pak

Bu Kek Siansu
taring dan gigi meruncing, siap untuk menggigit lawan dan menghisap darahnya. Dia m erasa ngeri, m erasa seolah- olah berada di ant ara sekum pulan iblis, m aka sam bil m enangis t ersedu- sedu Sin liong lalu lari m eninggalkan t em pat it u, m eninggalkan rum ahnya, m eninggalkan kot a Kun- leng, t erus berlari ke arah pegunungan yang t am pak dari j auh sepert i seorang m anusia sedang rebahan, seorang m anusia dewa yang sakt i, yang akan m elindunginya dari kej aran iblis it u! Sepert i orang kehilangan ingat an, sem alam it u Sin lI ong t erus berlari sam pai pada keesokan harinya, saking lelahnya, dia t ersaruk- saruk di kaki Pegunungan Jeng- hoa- san, kadang- kadang t ersandung kakinya dan j at uh m enelungkup, bangun lagi dan lari pagi, t erhuyunghuyung dan akhirnya, pada keesokan harinya, pagi- pagi dia t erguling roboh pingsan di dalam sebuah hut an di lereng bagian bawah Pegunungan Jeng- hoa- san. Set elah sium an, anak kecil berusia lim a t ahun ini m elanj ut kan perj alanannya, dan beberapa hari kem udian t ibalah dia di sebuah hut an penuh bunga karena kebet ulan pada wakt u it u adalah m usim sem i. Di sepanj ang j alan m endaki pegunungan, kalau perut nya sudah m ulai lapar, anak ini m em et ik buah- buahan dan m akan daundaunan, m em ilih yang rasanya segar dan t idak pahit sehingga dia t idak sam pai kelaparan. Di dalam hut an seribu bunga it u Sin Liong t erpesona, m erasa sepert i hidup di alam lain, di dunia lain. Tem pat yang hening dan bersih, t idak ada seorang pun m anusia. Kalau dia t eringat akan m anusia, dia bergidik dan m enangis saking t akut dan ngerinya. Dia t elah m enyaksikan kekej am an- kekejaman yang am at hebat . Bukan hanya kekej am an orang- orang yang m erenggut nyawa ayah bundanya, yang m em aksa ayah bundanya berpisah darinya dan m at i m eninggalkannya, akan t et api j uga m elihat kekej am an puluhan orang t et angga yang m enyiksa t iga orang it u sam pai m at i dan hancur t ubuhnya, Dia bergidik dan ket akut an kalau t eringat akan hal it u. Di dalam Hut an Seribu Bunga it ulah dia m erasakan keam anan, kebersihan, keheningan yang menyejukkan perasaan. Mula- mula Sin Liong tidak mempunyai niat unt uk kem bali ke kot anya karena ia m asih t erasa ngeri, t idak ingin m elihat ayah bundanya yang berlum uran darah, t ak ingin m elihat m ayat t iga orang pencuri yang rusak hancur. Ket ika dia t iba di hut an Jeng- hoa- san it u dan m elihat bet apa t ubuh dan pakaiannya t ernoda darah yang baunya am at busuk, dia cepat m andi dan m encuci pakaian di anak sungai yang t erdapat di hut an it u, anak sungai yang airnya keluar dari sum ber, j ernih dan sej uk sekali. Mula- m ula m em ang dia t idak ingin pulang karena kengerian hat inya, akan t et api set elah dua t iga bulan " Bersem bunyi" di t em pat it u, t im bul rasa cint anya t erhadap Hut an Seribu Bunga dan dia kini t idak ingin pulang sam a sekali karena dia t elah m enganggap hut an it u sebagai t em pat t inggalnya yang baru! Di dekat pohon peak yang besar, t erdapat bukit bat u dan di sit u ada guanya yang cukup besar unt uk dij adikan t em pat t inggal, dij adikan t em pat berlindung dari serangan huj an dan angin. Gua ini dibersihkannya dan m enj adi sebuah t em pat yang am at m enyenangkan. Dem ikianlah, anak ini t idak t ahu sam a sekali bahwa hart a kekayaan orang t uanya yang t idak m em punyai keluarga dan sanak kadang lainnya, t elah dij adikan perebut an ant ara para t et angga sam pai habis ludes sam a sekali! Dengan alas an " m engam ankan" barang- barang berharga dari rum ah kosong it u, para t et angga t elah m em perkaya diri sendiri. Mereka ini t et ap t idak t ahu, at au t idak m engert i bahwa m ereka t elah m engulangi perbuat an t iga orang pencuri yang mereka keroyok dan bunuh bersama itu. Mereka juga melakukan pencurian, sungguhpun caranya t idak " sekasar" yang dilakukan para pencuri. Jika dinilai, pencurian yang dilakukan para t et angga dan " sahabat " ini j auh lebih kot or dan rendah daripada yang dilakukan oleh t iga orang pencuri dahulu it u, karena para pencuri it u m elakukan pencurian dengan sengaj a dan t erang- t erangan m ereka it u adalah pencuri, t idak berselubung apa- apa, dan kej ahat annya it u m em ang t erbuka, sebagai orang- orang yang m engam bil barang orang lain di wakt u Si Pem ilik sedang lengah at au t ert idur. Nam un, apa yang dilakukan oleh para t et angga it u adalah pencurian t erselubung, dengan kedok " m enolong" sehingga kalau dibuat t akaran,

Bu Kek Siansu
kej ahat an m ereka it u berganda, pert am a j ahat sepert i Si Pencuri biasa karena m engam bil dan m enghaki m ilik orang lain, ke dua j ahat karena t elah bersikap m unafik, m elakukan kej ahat an dengan selubung " kebaikan" . Dem ikianlah sam pai dua t ahun lam anya anak berusia lim a t ahun ini t inggal seorang diri di dalam Hut an Seribu Bunga. Sebagai put era seorang ahli pengobat an, biarpun ket ika usianya baru lim a t ahun, sedikit banyak Sin Liong t ahu akan daun- daun dan akar obat , bahkan sering dia ikut ayahnya m encari daundaun obat di gunung- gunung. Set elah kini dia hidup seorang diri di dalam hut an, bakat nya akan ilm u pengobat an m endapat uj ian dan pem upukan secara alam . Dia harus m akan set iap hari it u unt uk keperluan ini, dia t elah pandai m em ilih dari pengalam an, m ana daun yang berkhasiat dan m ana yang enak, m ana pula yang beracun dan sebagainya. Selam a dua t ahun it u, dengan pakaian cabik- cabik t idak karuan, sering pula dia t erserang sakit dan dari pengalam an ini pula dia t erserang sakit dan dari pengalam an ini pula dia dapat m em ilih daun- daun dan akar- akar obat , bukan dari penget ahuan, m elainkan dari pengalam an. Mungkin karena t idak ada sesuat u lainnya yang m enj adikan bahan pem ikiran, m aka anak ini dapat m encurahkan sem ua perhat iannya t erhadap pengenalan akan daun dan akar serta buah dan kembang yang mangandung obat ini sehingga pencium annya am at t aj am t erhadap khasiat daun dan akar obat . Dengan m encium nya saj a dia dapat m enent ukan khasiat apakah yang t erkandung dalam suat u daun, bunga, buah at aupun akar! Tidak kelirulah kat a- kat a orang bahwa pengalam an adalah guru t erpandai. Tent u saj a kat a- kat a it u baru t erbukt i kebenarannya kalau seseorang m em iliki rasa kasih t erhadap yang dilakukannya it u. Dan m em ang di lubuk hat i Sin Liong, dia m em punyai rasa kasih yang m enim bulkan suka, dan suka ini m enim bulkan keraj inan unt uk m em pelaj ari khasiat bunga- bunga dan daun- daun yang banyak sekali m acam nya dan t um buh di dalam Hut an Seribu Bunga it u. Selain m em pelaj ari khasiat t um buh- t um buhan, bukan hanya unt uk m enj adi m akanan sehari- hari akan t et api j uga unt uk pengobat an, Sin Liong m em punyai kesukaan lain lagi yang t im bul dari rasa kasihnya kepada alam , kasih yang sepenuhnya dan yang m ungkin sekali t im bul karena dia m erasa hidup sebatangkara dan j uga t im bul karena m elihat kekej am an yang m enggores di kalbunya akan perbuat an m anusia ket ika ayah ibunya dan t iga orang pencuri it u t ewas. Di t em pat it u dia m elihat kedam aian yang m urni, kewaj aran yang indah, dan t idak pernah m elihat kepalsuan- kepalsuan, t idak m elihat kekej am an. Rasa kasih kepada alam ini m em buat dia am at peka t erhadap keadaan sekelilingnya, m em buat perasaannya t aj am sekali sehingga dia dapat m erasakan bet apa hangat dan nikm at nya sinar m at ahari pagi, bet apa lem but dan sej uk segarnya sinar bulan purnam a sehingga t anpa ada yang m em beri t ahu dan m enyuruh ham pir set iap pagi dia bert elanj ang m andi cahaya m at ahari pagi dan set iap bulan purnam a dia bert elanj ang m andi sinar bulan purnam a. Tanpa disadarinya, t ubuhnya t elah m enerim a dan m enyerap int i t enaga m uj ij at dari bulan dan m at ahari, dan m em buat darahnya bersih, t ulangnya kuat dan t enaga dalam di t ubuhnya m akin t erkum pul di luar kesadarannya. Set elah keringat m em basahi seluruh t ubuh dan beberapa kali m em ut ar t ubuhnya yang duduk bersila di at as bat u, kadang- kadang dadanya, Sin Liong t urun dari bat u it u, m enghapus peluh dengan saput angan lebar, kem udian set elah t ubuhnya t idak berkeringat lagi, set elah dibelai bersilirnya angin pagi, dia m engenakan lagi pakaiannya dan pergi m engeluarkan bunga, daun, buah dan akar obat dari dalam gua unt uk dij em ur dibawah sinar m at ahari. I nilah yang m enj adi pekerj aannya sehari- hari, selain m encangkok, m em perbanyak dan m enanam tanaman- t anam an yang berkhasiat . Menj elang t engah hari, m ulailah berdat angan penduduk yang m em but uhkan obat . Di ant ara m ereka t erdapat pula beberapa orang kang- ouw yang kasar dan m enderit a luka beracun dalam pert em puran. Unt uk m ereka sem ua, t anpa pandang bulu, Sin Liong m em berikan obat nya set elah m em eriksa luka- luka dan penyakit yang m ereka derit a. Lebih dari lim a belas orang

Bu Kek Siansu
dat ang bert urut - t urut m int a obat dan yang dat ang t erakhir adalah seorang lakilaki setengah tua bertubuh tinggi besar, dipunggungnya tergantung golok dan dia datang t erpincangpincang karena pahanya t erluka hebat , luka yang m em bengkak dan m enghit am . " Sin- t ong, kau t olonglah aku..." Begit u t iba di depan gua dim ana Sin Liong duduk dan m em ot ong- m ot ong akar basah dengan sebuah pisau kecil, laki- laki berm uka hit am dan bert ubuh t inggi besar it u m enj at uhkan diri dan m erint ih kesakit an. Sin Liong m engerut kan alisnya. Di ant ara orang- orang yang m int a pengobat an, dia paling t idak suka m elihat orang kang- ouw yang dapat dikenal dari sikap kasar dan senj at a yang selalu m ereka bawa. Nam un , belum pernah dia m enolak unt uk m engobat i m ereka, bahkan diam - diam dia m enilai m ereka it u sebagai orang- orang yang berwat ak serigala, yang haus darah, yang selalu saling berm usuhandan saling m elukai, sehingga m ereka ini m erupakan m anusia- manusia yang pat ut dikasihani karena t idak m engenai apa art inya ket ent ram an, kedam aian, dan kasih ant ar m anusia yang m endat angkan ket enangan dan kebahagiaan. " Orang t ua gagah, bukankah dua bulan yang lalu kau pernah dat ang dan m int a obat karena luka di lengan kirim u yang keracunan?" t anyanya sam bil m enat ap waj ah berkulit hit am it u. " Benar, benar sekali, Sin- t ong. Aku adalah Sin- hek- houw ( Macan Hit am Sakt i) yang dahulu t erkena senj at a j arum beracun di lenganku. Akan t et api sekarang, aku m enderit a luka lebih parah lagi. Pahaku t erbacok pedang lawan dan celakanya, pedang it u m engandung racun yang hebat sekali. Kalau kau t idak segera m enolongku, aku akan m at i, Sin- t ong." Sin Liong t idak berkat a apa- apa lagi, m engham piri orang yang di at as t anah it u, m em eriksa luka m engangga di balik celana yang ikut t erobek. Luka yang lebar dan dalam , luka yang t ert ut up oleh darah yang m enghit am dan m em bengkak, seluruh kaki t erasa panas t anda keracunan hebat ! Sin Liong m enarik nafas panj ang. " Lo- enghiong, m engapa engkau m asih saj a bert em pur dengan orang lain, saling m elukai dan saling m em bunuh? Bukankah dahulu ket ika kau dat ing kesini pert am a kali, pernah kau berj anj i t idak akan lagi bert anding dengan orang lain?" Mat a yang lebar it u m elot ot kem udian pandang m at anya m elem but . Tak m ungkin dia dapat m arah kepada anak aj aib ini. Seorang anak kecil berusia t uj uh t ahun dapat bicara sepert i it u kepadanya, seolah- olah anak it u adalah seorang kakek yang m enj adi pert apa dan hidup suci! " Sin- t ong, aku adalah Sin- hek- houw, dan j angan kau m enyebut Lo- enghiong ( Orang Tua Gagah) kepadaku. Aku adalah seorang peram pok, m engert ikah kau? Seorang peram pok t unggal yang m engandalkan hidup dari m eram pok orang lewat ! Kalau aku t idak but uh barang, aku t ent u t idak akan m enganggu orang, dan kalau orang yang kum int ai barangnya it u t idak m elawan, aku t ent u t idak akan m enyerangnya. Akan t et api, dua kali aku keliru m enilai orang. Dahulu, aku m enyerang seorang nenek yang kelihat an lem ah, dan akibat nya lenganku t erluka hebat . Sekarang, aku m eram pok seorang kakek yang kelihat an lem ah, yang m em bawa barang berharga, dan akibat nya pahaku ham pir bunt ung dan kini keracunan hebat . Kau t olonglah, aku akan bert erim a kasih kepadam u, Sin- t ong dan akan m engabarkan sesuat u yang am at pent ing bagim u" . " Lo- enghiong, aku t idk m em but uhkan t erim a kasih dan balasan. Aku m engenal khasiat t et um buhan di sini, t et um buhan it u t um buh di sini begit u saj a m em persilahkan siapapun j uga yang m engert i unt uk m em et ik dan m em pergunakannya, t anpa m em beli, t anpa m eram pas dan t anpa m enggunakan kekerasan. Aku hanya m em et ik dan m enyerahkan kepadam u, perlu apa aku m inta t erim a kasih dan balasan? Lukam u ini hebat seluruh kaki sudah panas, berart i darahm u t elah keracunan, Unt uk m engeluarkan racunnya yang m asih m engeram di sekit ar luka, sebaiknya luka it u dibuka agar dapat diobat i, t idak sepert i sekarang ini dit ut up oleh darah beracun yang m engering. Dapat kah kau m em buka lukam u it u, Lo- enghiong?" Orang set engah t ua it u m em belalakan m at a dan kem bali dia kagum m endengar cara bocah it u bicara, akan t et api keheranannya lenyap ket ika dia t eringat bahwa bocah ini adalah Sin- tong, anak aj aib! Maka dia lalu m enghunus

Bu Kek Siansu
goloknya dan m elihat berkelebat nya sinar golok, Sin Liong m em ej am kan m at anya. Terbayan kem bali t iga bat ang golok yang m em bacoki t ubuh ayah bundanya, dan banyak golok yang kemudian membacoki tubuh tiga orang pencuri itu. Sin- hek- houw m enggunakan uj ung goloknya unt uk m enusuk dan m em buka kem bali luka di pahanya. Dia m engeluh keras, akan t et api lukanya sudah t erbuka dan darah hit am m engucur keluar. Dengan siksaan rasa nyeri yang hebat , Sin- hek- houw melemparkan goloknya dan menggunakan kedua tangannya memijit- mijit paha yang t erasa nyeri it u. Sin Liong berlut ut , m enggunakan j ari t angannya yang halus unt uk bant u m em ij at sehingga darah m akin banyak keluar.Darah hit am dan baunya m em buat orang m au m unt ah! Akan t et api Sin Liong yang m elakukan hal it u dengan rasa kasih sayang di hati, dengan rasa iba yang mendalam dan tidak dibuat- buat dan t idak pula disengaj a, m enerim a bau it u dengan perasaan m akin t erharu. Bet apa sengsara dan m enderit anya orang ini, hanya dem ikian bisikan hat inya. Dia lalu m engam bil bubukan akar t ert ent u, m enabur bubukan it u ke dalam luka yang m engangga. " Aduhhhhh..m at i aku....! " Kakek it u berseru keras ket ika m erasa bet apa obat it u m endat angkan rasa nyeri sepert i ada puluhan ekor lebah menyengat- nyengat bagian yang t erluka it u. " Harap kaupert ahankan, Lo- enghiong sebent ar j uga akan hilang rasa nyerinya. Jangan lawan ras nyeri it u, hadapilah sebagai kenyat aan dan ket ahuilah bahwa bubuk it u adalah obat yang akan m engusir penyakit ini." Sam bil berkat a dem ikian, Sin Liong lalu m enggunakan em pat helai daun yang sudah direm as sehingga daun it u m enj adi basah dan layu, kem udian dit ut upnya luka it u dengan em pat helai daun. Benar saj a, rint ihan orang it u m akin perlahan t anda bahwa rasa nyerinya berkurang dan akhirnya orang it u m enarik nafas panj ang karena rasa nyerinya kini dapat dit ahannya. " Harap Lo- enghiong m em bawa akar ini, dim asak dan airnya dim inum . Khasiat nya unt uk m em bersihkan racun yang m asih berada di kakim u. Dengan dem ikian m aka luka it u akan m em busuk dan akan lekas sem buh. Obat bubuk dan daun- daun ini unt uk m enggant i obat set iap hari sekali, kiranya cukup unt uk sepekan sam pai luka it u sem buh sam a sekali." Sin Liong berkat a sam bil m em bungkus obat - obat it u dengan sehelai daun yang lebar dan m enyerahkannya kepada Sin- hek- houw. Orang kasar it u m enerim a bungkusan obat dan kem bali m enghela napas panj ang. " Kalau saj a aku dapat m em punyai seorang sahabat sepert i engkau yang selalu berada di sam pingku. Kalau saj a aku dapat m em punyai seorang anak sepert i engkau, kiranya aku t idak akan t ersesat sej auh ini. Terim a kasih, Sin- t ong dan aku t idak dapat m em balas apa- apa kecuali peringat an kepadam u bahwa engkau t erancam bahaya besar" . Sin Liong m engangkat m uka m em andang waj ah berkulit hit am it u dengan heran. " Sin- tong, dunia kang- ouw t elah geger dengan nam am u. Orang- orang kang- ouw, t erm asuk aku, yang t elah m enerim a pengobat anm u, m em bawa nam am u di dunia kang- ouw dan t erj adilah geger karena nam a Sin- t ong m enj adi kem bang bibir set iap orang kang- ouw. Banyak part ai besar t ert arik hat inya, m enganggap engkau t ent u penj elm aan dewa at au Sang Buddha dan kini t elah banyak part ai dan orang- orang gagah yang siap unt uk dat ing kesini dan unt uk m em buj ukm u m enj adi anggot a m ereka at au m enj adi m urid orang- orang kang- ouw yang t erkenal. Celakanya, di antara m ereka it u t erdapat 2 orang m anusia iblis yang lain lagi m aksudnya, bukan m aksud baik sepert i t okoh dan part ai persilat an, m elainkan m aksud kej i t erhadap dirim u." Sin liong m engerut kan alisnya, sedikit pun dia t idak m erasa t akut karena m em ang dia t idak m em punyai niat buruk t erhadap siapa pun di dunia ini. " Lo- enghiong, aku hanya seorang anak kecil yang t idak t ahu apa- apa, t idak m em punyai perm usuhan dengan siapapun j uga. Siapa orangnya yang akan m enggangguku?" Kakek it u m em andang t erharu. " Ahh...kau benar- benar seorang yang aneh dan bersih hat im u. Kalau aku m em iliki kepandaian, aku akan m elindungim u dengan seluruh t ubuh dan nyawaku, bukan hanya karena dua kali kau m enolongku, m elainkan karena t idak rela aku m elihat orang m au m erusak seorang bocah aj aib

Bu Kek Siansu
seperti engkau ini. Akan t et api 2 orang iblis it u..." Sin- hek- houw m enggiggil dan kelihat an j erih sekali. " Siapakah m ereka dan apa yang m ereka kehendaki dari aku?" " Di dunia kang- ouw, banyak t erdapat golongan sesat , m anusia- m anusia iblis termasuk orang seperti aku. Akan tetapi dibandingkan dua orang yang kumaksudkan it u, m ereka adalah dua ekor harim au buas sedangkan orang sepert i aku hanyalah seekor t ikus! Yang seorang adalah kakek berpakaian pengem is, kelihat an sepert i orang m iskin yang alim , nam un dialah iblis nom or sat u, ket ua Pat - Jiu Kai- pang, seorang yang m em iliki rum ah sepert i ist ana dan waj ahnya yang biasa dan alim menyembunyikan watak yang kejamnya melebihi iblis sendiri! Celakalah engkau kalu sudah berada di t angan kakek ini Sin- t ong." " Hem m m , kurasa seorang kakek sepert i dia t idak m em but uhkan seorang anak kecil sepert i aku. Aku t idak khawat ir dia akan m engangguku, Lo- eng- hiong! " " Tidak aneh kalau kau berpendapat dem ikian, karena kau seorang anak aj aib yang berhat i dan berpikiran polos dan m urni. Akan t et api aku khawat ir sekali, apa lagi iblis kedua yang t idak kalah kej am nya. Dia seorang wanit a, cant ik dan t ak ada yang t ahu berapa usianya. Kelihat annya cant ik, rambutnya panjang harum dan selalu membawa sebuah payung, kelihatannya lemah dan m em but uhkan perlindungan. Akan t et api, sepert i iblis pert am a, sem ua kecant ikan dan kelem ah- lem but annya it u m enyem bunyikan wat ak yang sesungguhnya, wat ak yang lebih kej i dan kej am daripada iblis sendiri." " Loenghiong, harap saj a Lo- enghiong t idak m em buruk- burukkan orang lain sepert i it u. Aku t idak percaya." Kakek it u m enarik napas panj ang lalu bangkit berdiri. " Aku sudah m em beri peringat an kepadam u Sin- t ong. Dan kalau kau m au, m arilah kau ikut aku bersem bunyi di t em pat am an sehingga t idak ada seorang pun yang t ahu. Setelah keadaan benar am an barulah kau kem bali kesini. Aku m endengar berit a angin bahwa dua iblis it u sedang m enuj u ke Jeng- hoa- san m encarim u." Nam un Sin Liong m enggeleng kepala " Aku dibut uhkan oleh penduduk pedusunan si sini, aku t idak pergi kem ana- m ana, Lo- enghiong." " Hem m m , sudahlah! Aku sudah berusaha m em peringat kanm u. Mudah- m udahan saj a benar- benar t idak t erj adi sepert i yang kukhawat irkan. Dan lebih- lebih lagi m udah- m udahan aku t idak akan t erluka lagi sepert i ini, sehingga kalau kau benar- benar sudah t idak berada lagi di sini, aku payah mencari obat. Selamat tinggal,Sin- tong dan sekali lagi terima kasih." "Selamat j alan, Lo- enghiong, sem oga lekas sem buh." Orang it u berj alan m enyeret kakinya yang t erluka, baru belasan langkah m enoleh lagi dan berkat a, " Benarbenarkah kau t idak m au ikut bersam aku unt uk bersem bunyi, Sin- t ong?" Sin Liong t ersenyum dan m enggeleng kepala t anpa m enj awab. " Sin- t ong, siapakah nam am u yang sesungguhnya?" "Aku disebut Sin- tong, biarpun aku merasa seorang anak biasa, aku t idak t ega m enolak sebut an it u. Kau m engenalku sebagai Sin- t ong, it ulah nam aku." Sin- hek- houw m enggeleng kepala, m elanj ut kan perj alanannya dan m asih bergelenggeleng dan m ulut nya m engom el, " Anak aj aib, anak aj aib..sayang..! " Dan dia m engepal t inj u, seolah- olah hendak m enyerang siapa pun yang akan m enganggu bocah yang dikagum inya it u. Beberapa hari kem udian sem enj ak Sin- hek- houw dat ang m int a obat kepada Sin Liong, m akin banyaklah orang yang dat ang m em bisikkan kepada anak it u t ent ang geger di dunia kang- ouw t ent ang dirinya. Bermacam- m acam berit a aneh yang didengar oleh Sin Liong t ent ang ancam an dan lain- lain m engenai dirinya, nam un dia sam a sekali t idak am bil peduli dan t et ap saj a bersikap t enang dan bekerj a sepert i biasa, t idak pernah gelisah, bahkan sam a sekali t idak pernah m em ikirkan t ent ang berit a yang didengarnya it u. Beberapa pekan kem udian, pagi hari dari arah t im ur kaki Pegunungan Jeng- hoa- san t am pak berj alan eorang kakek seorang diri, m enoleh ke kanan dan kiri seolah- olah m enikm at i pem andangan alam di sekit ar t em pat it u, kakek ini usianya t ent u sudah enam puluhan t ahun, t ubuhnya kurus kecil, pakaiannya penuh t am balan, dan waj ahnya m em bayangkan kesabaran dan m ulut yang om pong it u bahkan selalu m enyungging senyum simpul keramahan. Dia melangkah perlahan- lahan memasuki hutan pertama

Bu Kek Siansu
di kaki Pegunungan Jeng- hoa- san, langkahnya dibant u dengan ayunan sebat ang t ongkat but ut yang berwarna hit am , agaknya t erbuat dari sem acam kayu yang sudah am at t ua sehingga sepert i besi saj a rupanya. Agaknya dia seorang pengem is tua yang hidupnya serba kekurangan namun yang dapat menyesuaikan diri sehingga t idak m erasa kurang, bahkan kelihat annya gem bira, m enerim a hidup apa adanya dan hat inya selalu senang. Bukt inya ket ika dia m endengar kicau burung- burung, kakek ini m em buka m ulut nya dan bernyanyi pula! Akan t et api kat a- kat a dalam nyanyiannya it u t ent u akan m em buat set iap orang yang m endegarnya m engerut kan kening, karena selain aneh, juga menyimpang dari ajaran kebatinan umumnya! "Apa art inya hidup kalau hat i t ak senang? Apa art inya hidup Kalau segala keinginan t ak t erpenuhi? Puluhan t ahun m em pelaj ari ilm u Bekal m em enuhi segala kehendak Berenang dalam laut an kesenangan Mat ipun t idak penasaran! Berkali- kali pengem is ini bernyanyi dengan kat a- kat a yang it u- it u j uga, suaranya halus dan cukup m erdu dan sam bil bernyanyi dia m engat ur iram a lagu dengan ket ukan t ongkat nya di at as t anah lunak at au kebet ulan m engenai bat u yang keras, uj ung t ongkat it u t ent u m em buat lubang. Kedua kakinya yang bersepat u but ut it u sendiri t idak m eninggalkan j ej ak seolah- olah dia t idak m enginj ak t anah akan t et api t ongkat it u m em buat j ej ak j elas karena set iap kali m elubangi t anah m aupun bat u. Adapun kaki it u sendiri, biarpun m enginj ak t anah basah, sam a sekali t idak m eninggalkan bekas. Beberapa m enit kem udian set elah kakek aneh ini lewat , t am pak berkelebat bayangan orang, juga datang dari arah timur melalui kaki bukit itu. Mereka itu terdiri dari 12 orang laki- laki dari usia t iga puluh sam pai em pat puluh t ahun, dan seorang wanit a berusia dua puluh lim a t ahun, berwaj ah m anis dan bert ubuh bagus dengan pinggang ram ping. 12 orang laki- laki it u kesem uanya kelihat an gagah dan pakaian m ereka j elas m enunj ukkan bahwa m ereka adalah ahli- ahli silat , sedangkan gerakan m ereka yang ringan cekat an m em bukt ikan bahwa m ereka bukanlah sem barangan orang kang- ouw m elainkan rom bongan orang gagah yang berilm u. Hal ini m em ang t idak salah, karena m ereka it ulah yang t erkenal dengan j ulukan Cap- sa- sinhiap ( 13 Pendekar Sakti) murid- murid utama dari Partai Besar Bu- tong- pai! "Tahan dulu, para suheng! " Tiba- t iba wanit a cant ik it u m engangkat t angannya ke at as dan m em peringat kan para suhengnya, kem udian dia m enuding ke bawah dan berkat a, " Lihat ini....! " Tiga Belas orang ini m em perhat ikan bekas t usukan t ongkat pengem is t adi yang j araknya t erat ur dan biarpun t iba di at as bat u, t et ap saj a t am pak bat u it u berlubang. "Siapa lagi kalau bukan dia?" kata gadis itu dengan alis berkerut. "Tenaga t usukan t ongkat yang hebat " kat a seorang. " Dan j ej ak kakinya t idak t am pak, t ak salah lagi, Pat - j iu Kai- ong ( Raj a Pengem is Berlengan Delapan) , t ent u t elah lewat disini, dan baru saj a. Hayo cepat kit a m engej arnya! Jangan sam pai dia m endahului kit a m em asuki Hut an Seribu Bunga! " kat a orang t ert ua di ant ara m ereka, seorang berusia empat puluh tahun yang bermuka seperti harimau. Karena kini merasa yakin bahwa j ej ak lubang- lubang it u t ent u t erbuat oleh t ongkat Pat - j iu kai- ong, m aka t iga belas orang t okoh Bu- tong- pai it u m encabut senj at a m asing- m asing dan t am paklah berkilaunya senj at a t aj am it u m eluncur ke depan ket ika t iga belas orang it u mengerahkan ginkang m ereka dan m enggunakan ilm u berlari cepat m elakukan pengej aran ke depan, ke arah j ej ak berlubang it u. Tak lam a kem udian t erdengarlah oleh m ereka bunyi nyanyian kakek pengem is t adi. Tiga belas orang ini m em perlam bat larinya dan sat u- sat unya wanit a diant ara m ereka m engom el lirih, " Hem m , dasar m anusia iblis. Selam a hidupnya m engej ar kesenangan dan dem i kesenangan dia t idak segan m elakukan hal- hal t erkut uk yang kej am nya m elebihi iblis sendiri! " Ssssst t t , Sum oi, t erhadap orang sepert i dia kit a harus berhati- hati. Sem enj ak dahulu, Bu- tong- pai t idak pernah berm usuhan dengan t okoh kang- ouw yang m anapun j uga, t idak pula m encam puri urusan m ereka. Maka biarlah nant i kit a bert anya dia secara baik- baik dan kalau t idak t erpaksa sekali lebih baik kit a menghindarkan pert em puran." Kat a t wa- su- heng ( kakak seperguruan t ert ua)

Bu Kek Siansu
m ereka. Sem ua sut enya m engangguk, akan t et api sum oinya m engom el, " Siapakah yang t akut kepadanya?" Dia m elint angkan pedangnya. Mem ang nona yang bernam a The Kwat Lin ini, terkenal berhati keras dan pemberani dan memang ilmu pedangnya hebat m aka t idaklah m engherankan apabila diat t erhit ung seorang di ant ara Capsha Sin- hiap yang t erkenal di dunia kang- ouw. " Sum oi, kit a harus m ent aat i perint ah Suhu, agar t idak m em bawa Bu- tong- pai m enanam bibit perm usuhan dengan golongan lain, baik kaum bersih m aupun kaum sesat . Karena it u, dalam pert em uan ini, serahkan saj a kepadaku unt uk m ewakili kalian sem ua! " Karena m aklum bahwa dia t idak boleh m elanggar perint ah gurunya dan bahwa t wa- suheng ini selain paling lihai j uga m erupakan seorang yang m ewakili Suhu m ereka, Kwat Lin m engangguk biarpun bibirnya yang m erah t et ap cem berut t idak puas. Dia m erasa t idak puas melihat sikap jerih yang diperlihatkan para suhengnya. Cap- sha Sin- hiap mempunyai nam a besar di dunia kang- ouw, disegani kawan dit akut i lawan, m asa sekarang berhadapan dengan seorang t okoh sesat saj a kelihat an gent ar? Suara nyanyian it u m akin keras, t anda bahwa j arak di ant ara m ereka dengan kakek it u m akin dekat . Dengan ilm u m eringankan t ubuh yang ham pir sem purna, t iga belas orang pendekar Bu- tong- pai itu dan dapat menyusul dan berkelebatlah tubuh mereka, dari kanan kiri dan at as, t ahu- t ahu m ereka t elah berdiri m enghadap di depan kakek pengem is dengan sikap keren dan gagah sekali. Kakek pengem is it u m asih m elanj ut kan nyanyiannya sam bil berdiri m em andang, dan ket ika pandang m at anya bert em u dengan waj ah Kwat Lin, dia t idak m eyem bunyikan kekagum annya. Set elah nyanyiannya berhent i, barulah dia t ersenyum dan berkat a, " Eh- eh, apakah kalian ini serom bongan pem ain akrobat yang hendak m enj ual kepandaian? Aku seorang pengem is t idak m em punyai uang unt uk m em bayar upah kalian! " " Harap Locianpwe t idak berpura- pura lagi. Kam i t ahu bahwa Locianpwe adalah Pat - jiu- kai- pangcu ( Ket ua Perkum pulan Pengem is Delapan Lengan) yang t erhorm at . Locianpwe adalah t okoh t erkenal yang berj uluk Pat - j iu Kai- ong, bukan?" Kakek yang m ukanya kelihat an sabar dan baik hat i it u t ersenyum , senyum nya j uga sim pat ik dan ram ah. Tiga belas orang pendekar Bu- tong- pai it u yang hanya baru m engenal nam a kakek sakt i kaum sesat ini, diam - diam m erasa heran bahkan sangsi apakah benar m ereka berhadapan dengan Pat - j iu Kai- ong yang kabarnya kej am nya sepert i iblis, karena kakek ini kelihat an halus t ut ur sapanya dan begit u ram ah! " Ha..ha..ha, sungguh sukar j am an sekarang ini unt uk bersem bunyi dan m enyem bunyikan diri. Orangorang muda sekarang amat tajam penciumannya dan penglihatannya, biarpun belum pernah j um pa sudah m engenal orang. Orang- orang m uda yang gagah dan cant ik, dia memandang Kwat Lin lagi dengan kagum, "Tidak keliru dugaan kalian aku adalah Pat- j iu Kai- ong, seorang pengem is t ua yang hanya m em iliki sebat ang t ongkat but ut ini. Tidak t ahu siapakah kalian dan perlu apa kalian m enghadang perj alananku?" " Kam i adalah Cap- sha Sin- hiap dari Bu- tong- pai! " kat a Kwat Lin dan karena sudah t erlanj ur, m aka percum a saj a t wa- suhengnya m encegahnya dengan pandang m at anya. " Benar, kam i adalah m urid- m urid Bu- tong- pai, Locianpwe," kat a Twasuheng it u dengan hat i t idak enak karena sum oinya yang lancang it u t ernyat a t elah m em buka kart u dan m engaku bahwa m ereka dari Bu- t ongpai, berart i m em bawabawa nam a perkum pulan m ereka. " Ha..ha..ha, bagus. Mem ang Bu- tong- pai m em punyai banyak m urid pandai, gagah dan cant ik sepanj ang kabar yang kudengar. Akan t et api kalau t idak salah, aku t idak pernah berurusan dengan Butong- pai." Melihat sikap kakek it u m asih ram ah dan kat a- kat anya j uga halus dan t idak berm usuh, t wa- suheng it u m enj adi m akin t idak enak. Akan t et api karena dia m aklum orang m acam apa adanya kakek di depannya ini, dan bet apa Sin- t ong yang mereka dengar m erupakan seorang anak aj aib yang luar biasa dan sudah m enolong m anusia dengan penget ahuan yang t epat m engenai khasiat t et um buhan yang m engandung obat , m aka t et ap saj a dia m erasa khawat ir akan keselam at an Sin- tong it u kalau sam pai kakek dat uk sesat ini bert em u dengan anak it u. " Apa yang

10

Bu Kek Siansu
Locianpwe kat akan m em ang benar. Di ant ara Locianpwe dengan Bu- tong- pai, t idak pernah ada urusan. Dan sekali ini, kam i orang- orang m uda dari Bu- tong- pai j uga t idak berniat unt uk m enganggu Locianpwe yang t erhorm at . Hanya kam i m endengar berit a bahwa diant ara banyak t okoh kang- ouw, Locianpwe j uga berm inat kepada anak kecil budim an yang t erkenal dengan sebut an Sin- t ong dan yang berdiam di dalam Hut an Seribu Bunga. Benarkah ini, dan apakah Locianpwe sekarang sedang m enuj u ke hut an it u?" Mulai berubah waj ah kakek it u m endengar ucapan ini, senyum nya m asih ada akan t et api sepasang m at anya yang t adinya berseri gem bira it u kehilangan cahaya kegem biraannya dan berubah dengan sinar kilat yang m engej ut kan m ereka sem ua. " Hem m m , orang- orang m uda yang lancang. Kalau benar aku hendak pergi m engunj ungi Sin- t ong, kalian m au apakah?" Tiga belas orang anak m urid Bu- tong- pai it u sudah dapat " Mencium " keadaan yang m em buat m ereka sem ua siap siaga. Mereka m elihat bahwa kakek yang kelihat annya halus budi it u dan ram ah ini m ulai m em perlihat kan " t anduknya" at au wat ak sesungguhnya. " Locianpwe, kalau benar dem ikian, kam i hanya m ohon kepada Locianpwe agar t idak m engganggu Sint ong." " Apam ukah bocah it u?" " Bukan apaapa, Locianpwe. Nam un m endengar bet apa anak aj aib it u t elah banyak m enolong orang t anpa pandang bulu t anpa pam rih, m aka sudahlah m enj adi kewaj iban sem ua orang gagah di dunia kang- ouw unt uk m enj aga keselam at annya." Perubahan hebat pada diri kakek itu. Kini senyumnya bahkan lenyap dan mulutnya menyeringai penuh sikap m engej ek, m at anya berkilat - kilat dan suaranya berubah kaku, ket us dan m em andang rendah. " Anak- anak kurang aj ar! Apakah Si Tua Bangka Kui Bho Sanj in yang m engut us kalian?" " Guru kam i t idak t ahu- m enahu t ent ang ini. Kam i kebet ulan berada di daerah ini dan m endengar akan Sint ong yang t erancam bahaya, m aka kam i m elihat Locianpwe lalu sengaj a hendak bert anya. Tent u saj a kalau Locianpwe t idak m enghendaki Sin- t ong, kam i pun sam a sekali t idak kurang aj ar dan kam i mohon maaf sebanyaknya." "Aku memang menuju ke Hutan Seribu Bunga. Mengapa kalian m enyangka bahwa aku akan m encelakai Sin- t ong?" Tiga belas pendekar Butong- pai it u m akin t egang. Kakek ini sudah m ulai bert erus t erang, m aka t iada salahnya kalau m ereka bersikap waspada dan bert erus t erang pula. " Siapa yang t idak m endengar bahwa Pat - j iu Kai- ong sedang m enyem purnakan ilm u iblis yang disebut Hiat - ciang- hoat- sut ( I lm u Hit am Tangan Darah) ?" Tiba- t iba Kwat Lin berseru sam bil m enudingkan t elunj uk kirinya ke arah m uka kakek it u. Para suhengnya terkej ut , akan t et api ucapan t elah t erlanj ur dikeluarkan dan m em ang dalam hat i m ereka t erkandung t uduhan ini. I lm u Hiat - ciang hoat - sut adalah sem acam ilm u hit am yang hanya dapat dipelaj ari oleh kaum sesat karena ilm u ini m em but uhkan syarat yang am at kej i, yait u m enghim pun kekuat an hit am dengan j alan m enghisap dan m inum darah, ot ak dan sum sum anak- anak yang m asih bersih darahnya! Tent u saj a bagi seorang yang sedang m enyem purnakan ilm u iblis ini, Sin- t ong m em punyai daya t arik yang luar biasa, karena darah, ot ak dan sum sum seorang bocah sepert i Sin- t ong yang aj aib, lebih berharga dari darah, ot ak dan sum sum puluhan orang bocah biasa lainnya! . Tiba- t iba kakek it u t ert awa lebar. Hah- hah- hah- hah, m em ang benar! Dan sat u- sat unya bocah yang akan m enyem purnakan ilm uku it u adalah Sint ong! Dan aku bukan hanya suka m inum dan m enghisap darah, ot ak dan sum sum bocah yang bersih, j uga aku bukannya t idak suka bersenang- senang dengan perawan cant ik sepert i engkau, Nona! " " Singggg! Singggg...! " Tam pak sinar- sinar berkilauan ket ika pedang yang t iga belas buah banyaknya it u bergerak secara berbarengan dan t iga belas orang pendekar it u t elah m engurung si Kakek yang masih tertawa- tawa. "Heh- heh, kalian mau coba- coba main- main dengan Pat- jiu Kaiong? Sayang kalian m asih m uda- m uda harus m at i, kecuali Nona m anis. Andaikat a Si Tua Bangka Kui Bhok Sanj in berada disini sekalipun, dia j uga t ent u akan m am pus kalau berani menentang Pat- jiu Kai- ong!" "Serbu dan basmi iblis ini!" Twa- suheng itu bert eriak dan m ereka sudah m enerj ang m aj u dengan berm acam gerakan yang cepat

11

Bu Kek Siansu
dan dahsyat . Tiba- t iba kakek it u m engeluarkan suara pekik yang dahsyat , pekik yang disusul dengan suara t ert awa m enyeram kan. Suara ket awa ini bergem a di seluruh hut an, sehingga t erdengar suara ket awa m enj awabnya dari sem ua penj uru, seolah- olah sem ua set an dan iblis penj aga hut an t elah dat ang oleh panggilan kakek it u. Hebat nya, suara pekik dan t ert awa it u m em buat t iga belas orang pendekar it u seketika seperti berubah menjadi arca, gerakan mereka terhenti dan untuk beberapa detik mereka hanya bengong memandang kakek itu dan jantung mereka seolah- olah berhent i berdenyut . Twa- suheng m ereka yang berm uka gagah perkasa it u segera berseru, " Awas. Saicu- hokang ( I lm u m enggereng sepert i singa berdasarkan khikang) ! " Seruan ini m enyadarkan para sut enya dan sum oinya. Mereka cepat m engerahkan sinking sehingga pengaruh Saicu- hokang it u m em buyar. Pedang m ereka m elanj ut kan gerakannya. " Sing- sing.... siuuuut .... t rang- trang- trang..Hehheh- heh! " Gulungan sinar pedang- pedang yang m enyam bar ke arah t ubuh kakek dari berbagai j urusan, dapat dit angkis oleh gulungan sinar t ongkat hit am yang t elah diputar dengan cepatnya oleh Pat- jiu kai- ong. Para pendekar Bu- tong- pai itu terkejut ketika merasakan betapa telapak tangan mereka menjadi panas dan nyeri setiap kali pedang m ereka t ert angkis t ongkat . Hal ini m enandakan bahwa Si kakek benar- benar am at lihai dan m em iliki t enaga sakt i yang am at kuat . Juga t ongkat nya yang kelihat an but ut dan hit am it u t ernyat a t erbuat dari logam pilihan sehingga m am pu m enahan ket aj am an pedang di t angan m ereka, padahal sem ua pedang di t angan Cap- sha Sin- hiap adalah pedang- pedang pusaka yang am puh. " Ha..ha..ha, inikah Ngo- heng- kiam ( I lm u Pedang Lim a Unsur) dari Bu- tong- pai yang t erkenal? Ha..ha, t idak seberapa! " Sam bil m enggerakan t ongkat nya m enangkis set iap sinar pedang yang m eluncur dat ang, kakek it u t ert awa dan m engej ek. " Bent uk Sin- kiam- tin ( Barisan Pedang Sakt i) ! " Teriak si Twa- suheng m elihat bet apa kakek it u benar- benar am at t angguh sehingga sem ua serangan pedang m ereka dapat dit angkis dengan m udahnya. Tiba- t iba t iga belas orang pendekar it u m erobah gerakan m ereka, kini m ereka t idak lagi m enyerang dari kedudukan t ert ent u, m elainkan m ereka bergerak m engurung dan m engelilingi kakek it u, sam bil bergerak berkeliling m ereka m enyusun serangan berant ai yang susul m enyusul dan yang dat angnya dari arah yang t idak t ert ent u. Diam - diam kakek it u t erkej ut . Sej enak dia m enj adi bingung. Kalau t adi m ereka it u m enyerangnya dari kedudukan t ert ent u, biarpun gerakan m ereka t adi berdasarkan Ngo- heng- kiam , nam un dia sudah dapat m engenal dasar Ngo- heng- kiam dan dapat m enggerakan t ongkat secara ot om at is unt uk m enangkis sem ua pedang yang dat ing m enyam bar. Akan t et api sekarang, sukar sekali m enent ukan dari m ana serangan akan dat ing, dan gerakan m engelilinginya it u benar- benar m endat angkan rasa pusing. Marahlah Pat - j iu Kai- ong. Tadi dia ingin m em pelaj ari ilm u pedang Bu- tong- pai dan m em perhat ikan para pengeroyoknya sebelum membunuh mereka. Akan tetapi setelah mereka menggunakan Sin- kiam- tin dia t ahu behwa m ereka kalau dia t idak cepat m endahului m ereka, dia bisa t erancam bahaya. Tidak disangkanya bahwa Si Tua Bangka Kui Bhok San- j in, ket ua dari Butong- pai dapat menciptakan barisan pedang yang demikian lihainya. Tiba- tiba terjadi perubahan pada diri kakek ini. Tangan kirinya berubah m enj adi m erah sekali, m erah darah! " Hat i- hat i t erhadap Hiat - ciang Hoat - sut ! " Si Twa- suheng berseru keras ket ika m elihat perubahan warna t angan kiri kakek it u. Pat - j iu Kai- ong t iba- tiba m engeluarkan pekik yang am at dahsyat , lebih dahsyat daripada t adi dan t ubuhnya m endadak m em balik, t ongkat nya m enyam bar dibarengi t angan kiri m erah it u m endorong ke depan. " Prak- prak...dessss! " Tiga orang pengeroyok m enj erit dan roboh, dua orang dengan kepala pecah oleh tongkat, sedangkan seorang lagi terkena pukulan j arak j auh Hiat - ciang Hoat - sut , roboh dan t ewas seket ika dengan dadanya t am pak ada bekas lim a j ari m erah sepert i t erbakar, bahkan baj unya robek dan hangus. Itulah Hiat- ciang Hoat- sut, pukulan maut yang mengerikan. Padahal ilmu itu masih belum sempurna, dapat dibayangkan betapa hebatnya kalau kakek ini berhasil

12

Bu Kek Siansu
m enghisap darah, ot ak dan sum sum seorang bocah aj aib sepert i Sin- t ong! . Sepuluh orang pendekar Bu- tong- pai t erkej ut dan m arah sekali. Mereka m elanj ut kan serangan dengan penuh sem angat dan penuh dendam . Nam un kem bali Pat - j iu Kaiong m em ekik dahsyat sam bil bergerak m enyerang, dan kem bali t iga orang lawan roboh dan t ewas. Serangan ini diulanginya t erus, t idak m em beri kesem pat an kepada para pengeroyoknya unt uk m em bebaskan diri. Em pat kali t erdengar dia memekik dahsyat sepert i it u dan akibat nya, dua belas orang diant ara Cap- sha Sin- hiap dari Bu- tong- pai itu tewas semua, tewas dalam keadaan masih menggurungnya dan yang m asih hidup t inggal The Kwat Lin seorang! Hal ini m em ang disengaj a oleh Pat - jiu Kai- ong dan kini sam bil t ersenyum m engej ek dia m enghadapi Kwat Lin. Dapat dibayangkan bet apa perasaan dara it u m elihat dua belas orang suhengnya t elah t ewas sem ua! Dua belas orang suhengnya yang selam a ini berj uang sehidup sem at i dengannya, kini t elah m enj adi m ayat yang bergelim pangan di sekelilingnya, seolaholah m ayat dua belas orang it u m engurung dia dan Pat - j iu Kai- ong yang berdiri t ersenyum di depannya. " I blis busuk, aku akan m engadu nyawa denganm u! " Kwat Lin berseru m engandung isak t ert ahan. " Haiiiit .....! " t ubuhnya m elayang ke depan, pedangnya dit usukkan ke arah dada lawan dengan kebencian m eluap- luap. Nam un dengan gerakan seenaknya kakek it u m em ukulkan t ongkat nya dari sam ping m enghant am pedang yang m enusuknya. " Krekkk! " Pedang it u pat ah dan gagangnya terlepas dari pegangan Kwat Lin! Dara it u m em belalakan m at anya dan m elihat pandang mata kakek itu kepadanya, melihat senyum yang baginya amat mengerikan itu, tiba- tiba dia membalikan tubuhnya dan melayang ke arah sebatang pohon besar, dengan niat unt uk m em bent urkan kepalanya pecah pada bat ang pohon it u! Kwat Lin m elihat ancam an bahaya yang lebih m engerikan daripada m aut sendiri, m aka set elah yakin bahwa dia t idak akan m am pu m engalahkan lawannya, dia m engam bil keput usan nekat unt uk m em bunuh diri dengan m em bent urkan kepalanya pada bat ang pohon. " Bukkkkkk! " Bukan bat ang pohon yang dibent ur kepalanya, m elainkan perut lunak dan t ubuhnya berada dalam pelukan Pat - j iu Kai- ong yang ent ah kapan t elah berada di sit u m enghadangnya di depan pohon! " Lepaskan aku! ! " Kwat Lin bert eriak dan t ubuhnya t iba- t iba dilont arkan oleh kakek it u, j auh kem bali ke dalam lingkaran m ayat - m ayat suhengnya. Dengan langkah gont ai, kakek it u tersenyum- senyum m em asuki lingkaran dan m elangkahi m ayat bekas para penggeroyoknya, m engham piri Kwat Lin yang sudah bangkit duduk dengan m uka pucat dan m at a t erbelalak. Dia t elah t ersudut sepert i seekor kelinci m uda ket akut an m enghadapi seekor harim au yang siap m enerkam nya. Perasaan ngeri yang luar biasa m em buat Kwat Lin cepat m enggerakan t angan kanannya, dengan dua buah j ari t angan dia m enusuk ke arah ubun- ubun kepalanya sendiri sam bil m engerahkan sinking. Bat u karang saj a akan berlubang t erkena t usukan j ari t angannya sepert i it u apa lagi ubun- ubun kepalanya. " Plakkk! " " Aihhh....! " Kwat Lin m enj erit ket ika tangannya it u t ert angkis dan set engah lum puh. Ternyat a kakek it u t elah berdiri di depannya dan t elah m encegah dia m em bunuh diri! " Bret t t t ...bret t t t ....! " Tongkat kakek it u bergerak beberapa kali dan sepert i disulap saj a seluruh pakaian yang m em bungkus t ubuh Kwat Lin cabik- cabik dan cerai- berai, m em buat nya m enj adi t elanj ang bulat sam a sekali! Kwat Lin m enj erit akan t et api t iba- t iba, sepert i seekor kucing m enerkam t ikus, sam bil m engeluarkan suara ket awa m enyeram kan, kakek it u t elah m enubruk dan m em eluknya sehingga m ereka berdua bergulingan diat as rum put yang bernoda darah para korban keganasan kakek it u! Kwat Lin m elawan sekuat t enaga, nam un sia- sia belaka. Unt uk m em bunuh diri t idak ada j alan baginya, unt uk m elawan pun percum a, bahkan sem ua j erit an t angis dan perm ohonan, sem ua usahanya m eront a- ront a t iada gunanya sam a sekali. Bahkan sem ua usaha ini m alah m enyenangkan hat i si Kakek. Seolah- olah seekor kucing yang m enj adi gem bira dapat m em perm ankan seekor t ikus yang t elah t ersudut dan t idak berdaya, m em perm ainkannya dan m elihat nya t ersiksa dan m eront a sebelum m enj adi

13

Bu Kek Siansu
m angsanya! Selam a t iga hari t iga m alam Kwat Lin m enderit a siksaan yang am at hebat . Diperkosa, dihina, diej ek. Pada hari ket iga,pagi- pagi sekali dalam keadaan lebih banyak yang m at i daripada yang hidup, dalam keadaan set engah sadar, rebah t erlent ang t ak m am pu bergerak, hanya m at anya saj a yang m endelik m em andang kakek it u. Kwat Lin m elihat kakek it u m engenakan pakaian, m enyam bar t ongkat nya dan t ert awa m em andang kepadanya yang m asih rebah t erlent ang dalam keadaan t elanj ang bulat di at as rum put berdarah. " Ha- ha- ha, sekarang aku pergi, m anis. Aku t elah puas, dan kalau kau m au m em bunuh diri, silahkan. Ha- haha! " Biarpun Kwat lin berada dalam keadaan m enderit a hebat , kehabisan t enaga, ham pir m at i karena lelah, m uak, j ij ik, m alu, m arah dan dendam t ercam pur aduk m enj adi sat u dalam benaknya, nam un kebencian yang m eluap- luap m asih m em berinya t enaga unt uk berseru, " Jahanam , sekarang aku harus hidup! Aku harus hidup unt uk m elihat engkau m am pus di t anganku! " " Ha..ha..ha..ha! Kalau sewakt u- wakt u kau m erasa rindu kepadaku, m anis, dat ang saj a ke Hong- san, sam pai j um pa! " Kakek it u lalu m elangkah pergi m eninggalkan t em pat it u m eninggalkan Kwat - Lin yang m asih rebah dan kini wanit a yang bernasib m alang ini m enangis sesenggukan dia ant ara m ayat m ayat dua belas suhengnya yang sudah m ulai m em busuk dan berbau! Dapat dibayangkan bet apa t ersiksa rasa badan wanit a m uda ini. Dia dipaksa, diperkosa, dihina di ant ara m ayat - m ayat dua belas suhengnya, bahkan sewakt u keadaan mayat- m ayat it u m ulai m em busuk dan m enyiarkan bau yang ham pir t ak t ert ahankan, kakek it u m asih saj a enak- enak m em perm ainkannya. Benar- benar seorang manusia yang kejam melebihi iblis sendiri. JILID 2 Tiba- tiba Kwat lin bangkit serent ak, seolah- olah ada t enaga baru m em asuki t ubuhnya yang m enderit a nyeri, lelah dan kelaparan karena selam a t iga hari t iga m alam dia diperm ainkan t anpa diberi m akan at au m inum oleh kakek iblis it u. Dia berdiri t egak, t elanj ang bulat , lalu m em andang ke arah sem ua m ayat suhengnya, dan m at anya m enj adi liar, keluar suara parau dari m ulut nya yang pecah- pecah bibirnya oleh gigit an kakek iblis. " Suheng sekalian, dengarlah! Aku The Kwat Lin, bersum pah unt uk m em balaskan kem at ian suheng sekalian. Sat u- sat unya t uj uan hidupku sekarang hanyalah unt uk m em balas dendam dan m em bunuh iblis busuk Pat - j iu Kai- ong! " Tiba- t iba dia t erhuyung m undur m em andang waj ah t wasuhengnya. Pria inilah sebet ulnya yang sudah sej ak dahulu m encuri hat inya. " Twa Suheng......! " Dia m enubruk dan berlut ut di dekat m ayat yang sudah m ulai m em busuk it u. " Jangan berduka, Twasuheng....j angan m enangis......" Dia berdirisesunggukan. " Apa.....? Aku t elanj ang.....? Pakaianm u......? Sepert i orang gila yang bicara dengan sesosok m ayat , Kwat Lin bert anya, kem udian dia m em buka baj u dab celana luar dari m ayat yang sudah kaku kej ang it u dengan agak susah, dan m engenakan pada t ubuhnya sendiri. Tent u saj a agak kebesaran. " Hi- hi- hik, pakaianm u kebesaran, Suheng......." Dia m em andang waj ah m ayat t wa- suhengnya dan t ert awa lagi. " Hi- hik,nah,begitu, t ert awalah Twa- suheng, t ert awalah para suheng sekalian......, t ert awa dan bergem biralah karena dendam kalian past i akan kubalaskan...! Hi- hi- hik... hu- huhuuuhhh..." Dia m enangis lagi t erisak- isak dan dengan t erhuyung- huyung dia m eninggalkan t em pat m engerikan it u set elah m engam bil pedang t wa- suhengnya. Pedang it u adalah pedang pusaka t erbaik di ant ara pedang ket iga belas orang pendekar Bu- tong- pai it u, sebat ang pedang pem berian Ket ua Bu- t ong pai sendiri, pedang yang di dekat gagangnya ada gam bar set angkai bunga Bwee m erah, m aka pedang it u diberi nam a Ang- bwe- kiam ( Pedang Bunga Bwee Merah) . Dia t erhuyunghuyung, pergi t ak t ent u t uj uan, asal m enggerakkan kedua kaki m elangkah saj a, langkah yang kecil- kecil dan t erhuyung- huyung karena t ubuhnya m asih t erasa lelah, lapar dan sakit sem ua. Kadang- kadang t erdengar dia t erisak m enangis, kem udian t erkekeh geli sehingga kalau ada orang yang bert em u dengan wanit a yang bibirnya pecah- pecah m ukanya penuh debu dan air m at a, m at anya m em bengkak dan m erah, rambutnya riap- riapan dan pakaiannya t erlalu besar, ini tentu orang itu akan merasa

14

Bu Kek Siansu
seram , m engira bahwa set idaknya dia adalah seorang wanit a gila. Dugaan ini m em ang t idak m eleset t erlalu j auh. Penderit aan lahir bat in yang m elanda diri Kwat Lin m em buat wanit a m alang ini t idak kuat m enahan sehingga t erj adi perubahan pada ingat annya. Pada hari yang sam a ket ika Cap- sha Sin- hiap roboh di t angan kakek iblis Pat - j iu Kai- ong di kaki Pegunungan Jeng- hoa- san, t erj adi pula perist iwa hebat di bagian lain dari Pegunungan it u. Kalau Cap- sha Sin- hiap roboh di daerah t im ur pegunungan, m aka di daerah barat t erj adi pula perist iwa yang ham pir sam a sungguhpun sifat nya berbeda. Pada pagi hari it u, seorang wanit a berj alan seorang diri m endaki lereng pert am a dari pegunungan Jeng- hoasan sebelah barat . Wanit a it u memasuki hut an dengan waj ah berseri dan harus diakui bahwa waj ah wanit a cant ik m anis sekali, m em punyai daya t arik yang kuat sungguhpun usianya sudah em pat puluh t ahun. Tidak ada keriput m engganggu kulit m ukanya yang put ih halus, m ulut nya yang agak lebar it u m em punyai bibir yang senant iasa m enant ang dan seolah- olah buah m asak yang sudah pecah, akan t et api kalau orang m em perhat ikan m at anya, m at a yang j ernih dan bersinar t aj am , m aka hat i yang kagum akan kecant ikannya t ent u akan berubah m enj adi ragu- ragu, curiga dan ngeri karena sepasang m at a it u t idak pernah, at au j arang sekali berkedip. Mat a it u t erbuka t erus sepert i m at a boneka! Dengan langkah- langkah gont ai dan lem as, m em buat buah pinggulnya m enonj ol dan bergoyang ke kanan kiri, wanit a it u berj alan seorang diri, memutar- m ut arsebuah payung yang dipanggulnya. Sebuah payung hit am yang t ert ut up, gagangnya m elengkung dan uj ungnya m eruncing. Pakaiannya serba m ewah dan indah, ram but nya panj ang sekali, digelung ke at as sepert i sebuah m enara hit am yang indah, t erhias t usuk sanggul dari m ut iara dan em as. Yang m enarik adalah kuku- kuku j ari t angannya. Kuku yang panj ang t erpelihara, diberi warna m erah, panj ang m eruncing dan agak m elengkung sepert i kuku kucing at au harim au. Pakaiannya yang m ewah it u dibuat t erlalu pas dengan t ubuhnya sehingga m em bungkus ket at t ubuh it u, m em bayangkan lekuk lengkung yang m enggairahkan dari dada sam pai ke kaki karena celananya yang t erbuat dari sut era m erah m uda it u pun ketat sekali! Biarpun kelihatannya seperti seorang wanita cantik dan genit (tante girang) , nam un sesungguhnya dia bukanlah m anusia biasa saj a! I nilah dia yang t erkenal sekali di dunia hit am kaum penj ahat , karena wanit a ini bukan lain adalah Kiam- m o Cai- li ( Wanit a Pandai Berpayung Pedang) , sebuah j ulukan yang m em buat bulu t engkuk orang yang sudah m engenalnya berdiri sangking ngerinya karena wanit a yang sebenarnya hanya bernam a Liok Si ini m em iliki ilm u kepandaian yang t inggi m engerikan dan kekej am an yang sukar dicari bandingnya! Bahkan ia disam akan dengan wanit a cant ik penj elm aan silum an rase yang biasa m engganggu pria, dan set iap orang pria yang t erj ebak dalam pelukannya t ent u akan m at i kehabisan darah, disedot habis oleh silum an ini! Tent u saj a bagi m ereka yang belum pernah berj um pa dengannya, sam a sekali t idak akan m engira bahwa wanit a yang berlenggak- lenggok dengan payung di pundak it ulah iblis wanit a yang m enggeggerkan dunia kang- ouw dengan perbuat annya yang luar biasa. Dan m udah saj a diduga m engapa pada hari it u Kiam - m o Cai- li ini m endaki lereng Jeng- hoa- san! Tent u saj a dia pun m endengar berit a m enggeggerkan dunia kang- ouw akan adanya Sin- t ong, Si Bocah aj aib dan m endengar ini, kont an keras hat inya berdebar- debar penuh ket egangandan penuh birahi! Dia dapat m em bayangkan bet apa t enaga m ukj ij at yang dihim punnya secara ilm u hit am dengan j alan m enghisap sari t enaga rat usan orang pria, akan m eningkat dengan hebat sekali kalau dia bisa m enghisap kej ant anan si Bocah Aj aib it u! Maka begit u m endengar akan bocah aj aib di puncak Pegunungan Jeng- hoasan di dalam Hut an Seribu Bunga, dia segera m enem puh perj alanan j auh m engunj ungi pegunungan it u. Perj alananyang j auh karena biarpun sering kali Liok Si ini pergi merantau namun dia memiliki sebuah pondok kecil seperti ist ana m ewahnya t erlet ak di t em pat yang t idak lum rah dikunj ungi m anusia, yait u di daerah Rawa Bangkai. Rawa- rawa yang liar ini t erdapat di kaki Pegunungan Luliang-

15

Bu Kek Siansu
san, m erupakan daerah m aut karena banyak lum pur dan pasir yang berput ar, m erupakan perangkap m aut bagi m anusia dan hewan. Nam un di t engah- tengah rawa- rawa itu, yang tidak dapat dikunjungi oleh manusia lain, terdapat sebuah tanah dat ar, t anah keras sem acam pulau dan diat as pulau inilah let aknya ist ana kecil m ilik Liok Si yang berj uluk Kiam - m o Cai- li, bersam a belasan orang pem bant upem bant uyang sudah m enj adi orangorang kepercayaannya. Dia disebut Caili( Wanit a Pandai) karena sebet ulnya wanit a ini dulunya adalah put eri seorang sast erawan kenam aan dan sem enj ak kecil Liok Si t elah m em pelaj ari kesusast eraan sehingga dia m ahir sekali akan sast ra, bahkan dia pernah m enyam ar sebagai pria menempuh uj ian pem erint ah sehingga dia lulus dan m endapat gelar siucai! Akan t et api, penyam arannya keet ahuan dan seorang pem besar t inggi ist ana yang kagum kepadanya lalu m engam bilnya sebagai seorang selir. Selain ilm u sast ra, j uga Liok Si ini sem enj ak kecil digem bleng ilm u oleh para sahabat ayahnya, apalagi set elah m enj adi selir pem besar t inggi di ist ana, dia m engadakan hubungan dengan kepalakepala pengawal, dengan pengawal- pengawal kaisar yang berilm u t inggi, m enyerahkan t ubuhnya sebagai penggant i ilm u silat - ilmu silat t inggi yang diperolehnya sebagai " bayaran" . Akhirnya, pem besar it u m enget ahui akan t abiat selirnya ini yang t ernyat a adalah seorang wanit a yang gila pria m aka dia diusir dari ist ana pem besar it u. Akan t et api, apa yang dilakukan oleh wanit a ini? Dia m em bunuh Si Pem besar, m em bawa banyak hart a benda yang dicurinya dari ist ana it u, kem udian m inggat ! Belasan t ahun kem udian, m uncullah nam a j ulukan Kiam - mo Cai- li, nam un t idak ada yang m enduga bahwa dia adalah Liok Si yang dahulu m enj adi selir bangsawan dan yang m em bunuh bangsawanit u sehingga m enj adi orang buruan pem erint ah. Liok Si berj alan sam bil t ersenyum - senyum , kadangkadang senyum nya m elebar dan t am pak giginya yang put ih m engkilat dan di kedua uj ungnya t erdapat sebuah gigi yang agak m eruncing sehingga sekelebat an m irip gigi caling sihung. Hat inya gem bira sekali kalau dia m em bayangkan bet apa akan sedapnya kalau dia dapat memperoleh bocah ajaib itu. "Hemmm, aku harus bersikap halus dan hat i- hat i t erhadapnya, m enikm at inya selam a m ungkin. Hem m m ..." Tibatiba dia t erkej ut dan m enghent ikan langkahnya, akan t et api kem bali dia t ersenyum m anis m at anya m engerling t aj am penuh kegairahan ket ika m elihat lim a orang lakilaki berdiri di depannya dengan sikap gagah. Pandang m at anya m enyam barnyam bar dan t erbayang kepuasan dan kekagum an. Mem ang, hat i seorang wanit a gila pria sepert i Liok Si t ent u saj a m enj adi berdebar t egang ket ika m elihat lim a orang pria yang usianya rat a- rat a t iga puluh t ahun lebih bert ubuh t egap- t egap dan rata- rat a berwaj ah t am pan dan gagah! Sepert i m elihat lim a but ir buah yang ranum dan m at ang hat i! " Aih- aihh... Siapakah Ngo- wi ( Anda berlim a) yang gagah perkasa ini? Dan apakah Ngo- wi sengaj a hendak bert em u dan bicara dengan aku?" Seorang di ant ara m ereka, yang usianya t iga puluh t ahun, m ukanya bulat dan alisnya sepert i golok hit am dan t ebal, berkat a, " Apakah kam i berhadapan dengan Kiam - m o Cai- li dari Rawa Bangkai?" Wanita itu memainkan bola matanya memandangi wajah merka berganti- gant i dengan berseri, m ulunya t ersenyum ket ika m enj awab, " kalau benar mengapa? Kalian ini siapakah?" " Kam i adalah Kee- san Ngo- hohan( Lim a Pendekar dari Gunung Ayam ) " . " Kiam - m o Cai- li m engeluarkan bunyi " t sk- tsk- t sk" dengan lidahnya t anda kagum . Segera dia m enj ura dan berkat a m anis. " Aih, kiranya lim a pendekar yang nam anya sudah t erkenal di seluruh dunia kang- ouw sebagai m uridm urid ut am a Hoa- san- pai? Aih, t erim alah horm at nya seorang wanit a bodoh sepert i aku." " Harap Toanio( Nyonya) t idak m engej ek dan bersikap m erendah. Kam i sudah t ahu siapa adanya Kiam - m o Cai- li, dan karena m elihat engkau m endaki Jeng- hoasan, m aka t erpaksa kam i m em beranikan diri unt uk m enghadang." " Ehm ...! Maksud kalian?" Senyum nya m akin m anis dan kerling m at anya m akin m em ikat . " Kam i t elah m endengar akan berit a bahwa t okoh- t okoh kang- ouw sedang berusaha unt uk memperebut kan Sin- t ong yang berada di Hut an Seribu Bunga dan kam i m endengar

16

Bu Kek Siansu
pula bahwa Kiam - m o Cai- li m erupakan seorang di ant ara m ereka yang hendak m enculik Sin- t ong. Karena kam i t elah berhut ang budi, diberi obat oleh Sin- tong m aka kam i hanya dapat m em balas budinya dengan m elindunginya t erut am a dari t angan... m aaf, para t okoh kaum sesat yang t ent u t idak m em punyai it ikad baik t erhadap dirinya. Andaikat a kam i t idak berhut ang budi sekalipun, m engingat bahwa Sin- t ong adalah seorang anak aj aib yang t elah banyak m enolong orang t anpa pandang bulu, sudah m enj adi kewaj iban orang- orang gagah unt uk m elindunginya." Kem bali Kiam - m o Cai- li t ersenyum . " Terus t erang saj a, m em ang aku m endengar t ent ang Sin- t ong dan aku ingin m endapat kannya, m aka hari ini aku m endaki Jenghoa- san. Habis kalian m au apa?" Kalau begit u, kam i m int a dengan horm at agar kau suka m em bat alkan niat m u it u, Toanio. Kalau kau m em aksa hendak m enganggu Sint ong, t erpaksa kam i akan m erint angim u dan t idak m em bolehkan kau m elanj ut kan perj alanan! " " Hi- hi- hik, galak am at ! Lim a orang laki- laki m uda t am pan gagah bertemu dengan seorang wanita cantik penuh gairah, sungguh tidak semestinya kalu berm ain senj at a m engadu nyawa! " " Hem m , habis sem est inya bagaim ana?" t anya orang pert am a dari Kee- san Ngo- hohan yang bet apapun j uga m erasa j erih m endengar nam a besar wanit a ini dan m engharapkan wanit a it u akan m engalah dan pergi dari sit u, t idak m engganggu Sin- t ong. Mat a it u t aj am m engerling dan senyum nya penuh art i, bibirnya penuh t ant angan. " Mest inya? Mest inya kit a berm ain cint a m em adu kasih! " " Perem puan hina! " " Jalang! " " Silum an bet ina" Lim a orang it u t elah m encabut senj at a m asing- m asing yait u senj at a golok besar yang selam a ini t elah m engangkat nam a m ereka di dunia kang- ouw. Kelim a orang pendekar ini m em ang m erupakan ahli- ahli berm ain golok dengan I lm u Hoa- san- to- hoat yang t erkenal, dan selain it u j uga m ereka sem ua m ahir akan ilm u m enot ok j alan darah yang bernam a Sam - ci- tiam- hoat , yait u ilm u m enot ok m enggunakan t iga buah j ari t angan. " Siaaaat t t ...singg...siang..." " Ha- ha, bagus! kalian m em ang gagah sekali berm ain golok, t ent u lebih gagah kalau berm ain cint a, hi- hik! " Kiam - m o Cai- li m engelak dan t iba- t iba payung hiat m nya berkem bang t erbuka. Payung it u m erupakan senj at a isim ewa, t erbuat dari baj a yang kuat dan kainnya t erbuat dari kulit badak yang kering dan sudah dim asak lem as, nam un kuat nya luar biasa dapat m enahan bacokan senj at a t aj am . Adapun uj ung payung it u m eruncing, m erupakan uj ung pedang, dan gagangnya yang m elengkung it u pun dapat digunakan sebagai senj at a kait an yang lihai. " Trang- trang- t rang...! ! " Bunga api berpij ar ket ika golokgolok it u t ert angkis oleh payung dan karena kini t ubuh wanit a it u t ert ut up payung yang berkem bang dan berput ar- put ar, m aka sukarlah bagi lim a orang it u unt uk m enyerangnya dari depan. Mereka lalu berloncat an dan m engurung wanit a it u. " Hihik, hayo keroyoklah. Kalu baru kalian lim a orang ini saj a, m asih t erlam pau sedikit bagiku. Hi- hik, hendak kulihat sam pai dim ana kekuat an kalian apakah pat ut unt uk m enj adi lawan- lawanku unt uk berm ain cint a! " " Perem puan rendah! " Orang pert am a dari lim a pendekar it u m arah sekali, goloknya m enyam bar dahsyat , t api t iba- tiba golok it u t erhent i di t engah udara karena t elah t erikat oleh sebuah benda hit am panj ang yang lem but . Kiranya wanit a it u t elah m engudar gelung ram but nya dan t ernyat a ram but it u panj angnya sam pai ke bawah pinggulnya, ram but yang gem uk hitam, panjang dan harum baunya, bahkan bukan itu saja keistemewaannya, rambut it u dapat dipergunakan sebagai senj at a am puh, sebagai cam buk yang kini berhasil m em belit golok orang pert am a dari Kee- san ngo- hohan! Sebelum orang ini ssem pat m enarik goloknya, t angan kiri Kiam - m o Cai- li bergerak m enghant am t engkuk orang it u dengan t angan m iring. " Krekk! " Laki- laki it u m engeluh dan roboh t ak dapat bangkit kem bali karena dia t elah t erkena t ot okan ist im ewa yang m em buat t ubuhnya lum puh sungguhpun dia m asih dapat m elihat dan m endengar. Em pat orang lainnya t erkej ut dan m arah sekali. Mereka m em ut ar golok lebih gencar lagi, bahkan kini t angan kiri m ereka m em bant u dengan serangan t ot okan Sam - ci- tiam- hoat yang am puh! Nam un orang yang m ereka keroyok it u t ert awa- t awa m em perm ainkan

17

Bu Kek Siansu
m ereka. Set iap serangan golok dapat dihalau dengan m udah oleh payung yang diputar- put ar sedangkan uj ung ram but yang panj ang it u m engeluarkan suara ledakan- ledakan kecil dan m enyam bar- nyam bar di at as kepala m ereka, t idak m enyerang, hanya m endat angkan kepanikan saj a karena m em ang dipergunakan unt uk m em perm ainkan m ereka. " Mam puslah! " Orang ke dua yang m enyerang dengan golok ket ika goloknya dit angkis, cepat dia " m em asuki" lowongan dan berhasil m engirim t ot okan. Karena t em pat t erbuka yang dapat dim asuki j ari t angannya di ant ara put aran payung it u hanya di bagian dada, m aka dia m enot ok dada kiri wanit a it u. Dalam keadaan sepert i it u, m enghadapi lawan yang am at t angguh, pendekar ini sudah t idak m au lagi m em pergunakan sopan sant un yang t ent u t idak akan dilanggarnya kalau keadaan t idak m endesak sepert i it u. " Cusss...! " t iga buah j ari t angan it u t epat m engenai buah dada kiri yang besar, t api dia hanya m erasakan sesuat u yang lunak hangat , sedangkan wanit a it u sam a sekali t idak t erpengaruh, bahkan m engerling dan berkat a, " I hh, kau bersem angat benar, t am pan. Belum apa- apa sudah m ain colek dada, hihik! " Tent u saj a pendekar ini m enj adi m erah sekali m ukanya. Dia m erasa m alu akan t et api j uga penasaran. I lm u t ot ok yang dim ilikinya sudah t erkenal dan belum pernah gagal. Tadi j elas dia t elah m enot ok j alan darah yang am at berbahaya di dada wanit a it u, m engapa wanit a it u sam a sekali t idak m erasakan apa- apa, bahkan m enyindirnya dan dianggap dia mencolek dada? Dengan m arah dia m enerj ang lagi bersam a t iga orang sut enya. " Sudah cukup, sudah cukup, rebah dan berist irahat lah kalian! " Tiba- t iba payung it u t ert ut up kem bali, berubah m enj adi pedang yang aneh dan segulung sinar hit am menyambar- nyam bar m endesak em pat orang it u, kem udian dari at as t erdengar ledakan- ledakan dan bert urut - t urut t iga orang lagi roboh t erkena t ot okan uj ung ram but wanit a sakt i it u. Sepert i orang pert am a, m ereka ini pun roboh t ert ot ok dan lum puh, hanya dapat m em andang dengan m at a t erbelalak nam un t idak m enggerakan kaki t angan m ereka! Orang t erm uda dari m ereka kaget set engah m at i m elihat bet apa em pat orang suhengnya t elah roboh. Nam un dia t idak m enj adi gent ar, bahkan dengan kem arahan dan kebencian m eluap dia m em aki, " Perem puan hina, pelacur rendah, silum an bet ina, aku t akkan m au sudah sebelum dapat m em bunuhm u! " " Aihhh... kau penuh sem angat akan t et api m ulut m u penuh m akian m enyebalkan hat iku! " Golok it u t ert angkis oleh payung sedem ikian kerasnya sehingga t erpent al dan sebelum laki- laki it u dapat m engelak, sinar hit am m enyam bar dan uj ung ram but t elah m em belit lehernya! Pria it u berusaha sekuat t enaga unt uk m elepaskan libat an ram but dari lehernya dengan kedua t angan, akan t et api begit u wanit a it u m enggerakkan kepalanya, ram but nya t erpecah m enj adi banyak gum palan dan t ahu- t ahu kedua pergelangan lengan orang it u pun sudah t erbelit ram but yang seolah- olah hidup sepert i ular- ular hit am yang kuat . " Nah, kesinilah, Tam pan. Mendekat lah, kekasih. Kau perlu dihaj ar agar t idak suka m em aki lagi! " Laki- laki it u sudah m em buka m ulut hendak m em aki lagi, akan t et api libat an ram but pada lehernya m akin erat sehingga dia t idak dapat bernapas, kem udian ram but it u m enariknya m endekat kepada wanit a yang t ersenyum - senyum it u! Kini laki- laki it u sudah berada dekat sekali, bahkan dada dan perut nya t elah m enem pel pada dada yang m em busung dan perut yang m engem pis dari wanit a it u. Tercium olehnya bau wangi yang aneh dan m em abokkan, akan t et api karena lehernya t erbelit kuat - kuat , dan napasnya t ak dapat lancar, m aka dia t erpaksa m enj ulurkan lidahnya keluar. " Aihhh, kau perlu diberi sedikit haj aran, Tam pan! " Em pat orang pendekar yang t ert ot ok m elihat dengan m at a t erbelalak penuh kengerian bet apa wanita iut kini mendekatkan muka sute mereka yang termudda, kemudian membuka m ulut dan m encium m ulut sut e m ereka yang t erbuka dan lidah yang t erj ulur keluar itu.Mereka melihat tubuh sute mereka berkelojot sedikit seperti menahan sakit, mata sut e m ereka t erbelalak, nam un wanit a it u t erus m encium dan m enut up m ulut pria it u dengan m ulut nya sendiri yang lebar. Tak dapat t erlihat oleh em pat orang

18

Bu Kek Siansu
pendekar it u bet apa wanit a it u yang kej am dan kej i sepert i iblis, t elah m enggunakan giginya unt uk m enggigit sam pai t erluka lidah sut e m ereka yang t erj ulur keluar, kem udian m enghisap darah dari luka di lidah it u! Mereka berem pat hanya m elihat bet apa wanit a it u m em ej am kan m at a, baru sekarang m ereka m elihat wanit a it u m em ej am kan m at a, kelihat an penuh nikm at , akan t et api waj ah sut e m ereka m akin pucat dan m at a sut e m ereka yang t erbelalak it u m em bayangkan kenyerian dan ket akut an yang hebat . Agaknya wanit a it u t idak puas karena darah yang dihisapnya kurang banyak, m aka kini dia m elepaskan m ulut pem uda it u dan m em indahkan cium an m ulut nya ke leher si Pem uda. Dapat dibayangkan bet apa kaget em pat orang pendekar it u m elihat bahwa m ulut sut e m ereka penuh warna m erah darah! " Sut e...! ! ! " Mereka berseru akan t et api t idak dapat m enggerakkan kaki t angan m ereka. Sut e m ereka m eront a- ront a sepert i ayam disem belih, m at anya m elot ot m em andang ke arah para suhengnya sepert i orang m int a t olong, kem udian t ubuhnya berkeloj ot an ket ika wanit a it u kelihat an j elas m enghisaphisap lehernya t ernyat a bahwa urat besar di lehernya t elah dit em busi gigi yang m eruncing dan kini dengan sepuasnya wanit a it u m enghisap darah yang m em banj ir keluar dari urat di leher it u! Mat a yang m elot ot it u m akin hilang sinarnya dan pudar, waj ahnya m akin pucat dan akhirnya t ubuh yang m eregang- regang it u lem as. Orang t erm uda it u pingsan karena kehilangan banyak darah, t akut dan ngeri. Kiam - m o Cai- li m elepaskan libat an ram but nya dan t ubuh it u t ergulig roboh, t erlent ang dengan m uka pucat dan napas t erengah- engah. 'Sut e...! " Kem bali m ereka m engeluh dan dengan penuh kengerian m ereka m elihat bet apa wanit a it u m enggunakan lidahnya yang kecil m erah dan m eruncing it u unt uk m enj ilat i darah yang m asih belepot an di bibirnya yang m enj adi m akin m erah. Waj ahnya kem erahan, segar sepert i kem bang m endapat siram an, berseri- seri dan ket ika dia m endekat i em pat orang it u, m ereka t erbelalak penuh kengerian. Akan t et api, wanit a it u t idak m enyerang m ereka, agaknya dia sudah puas m enghisap darah orang t erm uda t adi. Hanya kini kedua t angannya bergerak - gerak dan sekali renggut saj a pakaian em pat orang it u t elah koyak- koyak. Kem udian dia bangkit berdiri, dengan gerakan m em ikat sepert i seorang penari t elanj ang, dia m em buka pakaiannya, m enanggalkan sat u dem i sat u sam bil m enari- nari! Sam pai dia bert elanj ang bulat sam a sekali di depam em pat orang it u yang m em buang m uka dengan perasaan ngeri dan sebal! " Kalian layanilah aku, puaskanlah aku, senangkan hat iku dan aku akan m em bebaskan kalian berlim a. Lihat , bukankah t ubuhku m enarik? Aku hanya ingin m endapat kan cint a kalian, aku t idak m enginginkan nyawa kalian." " Cih, silum an bet ina! Kauanggap kam i ini orangorang apa? Kam i adalah m urid Hoa- san- pai yang t idak t akut m at i. Seribu kali lebih baik m am pus daripada m em enuhi seleram u yang t erkut uk m elayani nafsu berahim u yang menjijikan!" kata empat orang itu saling susul dan saling bantu. Kiam- mo Cai- li t ersenyum . " Hi- hik, begit ukah? Kalau begit u, baiklah, kalian m elayani aku sam pai m am pus! " Dia lalu m em bungkuk dan m enarik lengan seorang di ant ara m ereka, kem udian m enggunakan kuku j ari kelingking kiri m enggurat beberapa t em pat di punggung dan t engkuk pria ini. Orang it u m enggigil, m enggigit bibir m enahan sakit , akan t et api karena dia t idak m am pu m engerahkan sinkang, dia t idak dapat m elawan pengaruh hebat yang m engget arkan t ubuhnya m elalui luka- luka goresan kuku beracun dari kelingking it u. Mukanya m enj adi m erah, j uga m at anya m enj adi m erah dan napasnya t erengah- engah. Tiga orang pendekar yang lain m em andang penuh kekhawat iran dan kengerian. Tiba- t iba wanit a it u t erkekeh, m enggunakan t angan m em bebaskan t ot okan sehingga orang it u dapat m enggerakkan kaki t angannya dan t erj adilah hal yang m em buat t iga orang pendekar yang m asih rebah lum puh it u t erbelalak penuh kengerian. m ereka m elihat Sut e m ereka it u sepert i seorang gila m enerkam dan m endekap t ubuh wanit a it u penuh gairah nafsu! Dengan m at a t erbelalak m ereka m elihat bet apa wanit a it u m enyam but nya dengan kedua lengan terbuka, bergulingan di at as rum put dan t am pak bet apa wanit a it u m em biarkan

19

Bu Kek Siansu
dirinya dicium i, kem udian m engalihkan m ulut nya yang lebar ke leher Sut e m ereka! Mereka bert iga t erpaksa m em j am kan m at a agar t idak usah m enyaksikan perist iwa yang m em alukan dan t erkut uk it u. Mereka m engert i bahwa Sut e m ereka m elakukan hal t erkut uk it u karena t erpengaruh oleh racun yang digurat kan oleh kuku j ari kelingking si iblis bet ina, dan m ereka t ahu pula bahwa Sut e m ereka yang diam uk pengaruh j ahanam it u t idak t ahu bahwa darahnya dihisap oleh w anit a it u yang sepert i t elah dilakukan pada orang pert am a t adi kini j uga m enghisap darahnya sepuas hat inya. Dapat diduga lebih dahulu bahwa t iga orang yang lain j uga m engalam i siksaan yang sam a t anpa dapat berdaya apa- apa t anpa dapat m elawan. Hal ini dilakukan bert urut - t urut oleh Kiam - m o Cai- li dan t iga hari t iga m alam kem udian, dia m eninggalkan t em pat it u sam bil m enj ilat - j ilat bibirnya penuh kepuasan. Set elah dia m elem par kerling ke arah lim a t ubuh t elanj ang yang sudah m enj adi m ayat sem ua it u, bergegas dia pergi m endaki Jeng- hoa- san unt uk m encari Sin- t ong yang am at diinginkan. Lim a orang Kee- san Ngo- hohan it u m engalam i kem at ian yang am at m engerikan. Tubuh m ereka kehabisan darah, kulit m engeriput . Mereka sepert i lim a ekor lalat yang t erj ebak ke sarang laba- laba dan set elah sem ua darah m ereka disedot habis oleh laba- laba, m ayat m ereka yang sudah kering dan habis sarinya it u dilem parkan begit u saj a. Kwa Sin Liong, at au yang lebih t erkenal dengan nam a panggilan Sin- t ong, pada pagi hari it u sepert i biasa set elah m andi cahaya m at ahari, lalu m enj em ur obat - obat an dan t idak lam a kem udian bert urut turut datanglah orang- orang dusun yang membutuhkan bahan obat untuk bermacam penyakit yang m ereka derit a. Sin t ong m endengarkan dengan sabar keluhan dan keterangan m ereka t ent ang sakit yang m ereka derit a, m enyiapkan obat - obat unt uk m ereka sem ua dengan hat i penuh belas kasihan. Sem ua ada sebelas orang dusun, t ua m uda laki perem puan yang m em andang kepada bocah it u dengan sinar m at a penuh kagum dan pem uj aan. Baru bert em u dan m em andang waj ah Sin- t ong it u saj a, m ereka sudah m erasa banyak berkurang penderit aan sakit m ereka. Seolaholah ada wibawa yang keluar dari waj ah bocah penuh kasih sayang it u yang m eringankan rasa sakit yang m ereka derit a. Tent u saj a hal ini sebenarnya t erj adi karena kepercayaan m ereka yang penuh bahwa bocah it u akan dapat m enyem buhkan penyakit m ereka, sehingga keyakinan ini sendiri sudah m erupakan obat yang m anj ur. Dan bocah aj aib it u m em ang bukanlah seorang dukun yang m enggunakan kem uj ij at an dan sulap at au sihir unt uk m engobat i orang, m elainkan berdasarkan ilm u pengobat an yang waj ar. Dia m em ilih buah, daun, bunga at au akar obat yang m em ang t epat m engandung khasiat at au daya penyem buh t erhadap penyakit- penyakit t ert ent u it u. Tiba- t iba t erdengar nyanyian yang m akin lam a m akin jelas terdengar oleh mereka semua. Juga in Liong, bocah ajaib itu, berhenti sebentar m engum pulkan dan m em ilih obat yang akan dibagikan karena m endengar suara nyanyian yang aneh it u. Akan t et api begit u kat a- kat a nyanyian it u dim engert inya, dia m engerut kan alisnya dan m enggeleng- geleng kepala. " Aihh, kalau hidup hanya unt uk m engej ar kesenangan, apapun j uga t ent u t idak akan dipant angnya unt uk dilakukan dem i m encapai kesenangan! " kat a Sin Liong. " Huh- ha- ha, benar sekali, Sin- t ong. Unt uk m encapai kesenangan harus berani m elakukan apapun j uga, t erm asuk m em bunuh para t am u- t am u yang t iada harganya ini! " Terdengar j awaban dan t ahu- t ahu disit u t elah berdiri Pat - j iu Kai- ong! Sebagai lanj ut an kat a- katanya, t ongkat nya dit ekankan kepada t anah di depan kaki lalu lim a kali uj ung t ongkat it u bergerak m enerbangkan t anah dan kerikil ke depan. Tam pak sinar hit am berkelebat m enyam bar lim a kali, disusul j erit - j erit kesakit an dan robohlah bert urut - t urut lim a orang dusun yang berada di depan Sin Liong, roboh dan berkeloj ot an kem udian t ewas seket ika karena t anah dan kerikil it u m asuk ke dalam kepala m ereka! " Hi- hihik, kepandaian sepert i it u saj a dipam erkan di depan Sin- t ong lihat ini! " Tiba- tiba t erdengar suara ket awa m erdu dan t au- t ahu di sit u t elah berdiri seorang wanit a cant ik yang bukan lain adalah Kiam m o Cai- li! Dia m enudingkan payung hit am nya

20

Bu Kek Siansu
yang t ert ut up it u ke arah para penghuni dusun yang berwaj ah pucat dan dengan m at a t erbelalak m em andang lim a orang t em an m ereka yang t elah t ewas. " Cuat cuat- cuat...!" Dari uj ung payung it u m eluncur sinar- sinar hit am dan bert urut - turut, enam orang dusun yang m asih hidup m enj erit dan roboh t ak bergerak lagi, leher m ereka dit em busi j arum - j arum hit am yang m eluncur keluar dari uj ung payung it u! Sej enak Sin Liong t erbelalak m em andang kepada kedua orang it u yang berdiri di sebelah kanan dan kirinya. Kem udian dia m em andang ke bawah, ke arah t ubuh sebelas orang dusun yang t elah m enj adi m ayat . Mukanya m enj adi m erah, air m at anya berderai dan dengan suara nyaring dia berkat a sam bil menudingkan telunjuknya bergantian kepada Pat- jiu Kai- ong dan Kiam- mo Cai, "Kalian ini manusia at au iblis? Kalian berdua am at kej am , perbuat an kalian am at t erkut uk. Mem bunuh orang- orang t ak berdosa seolah kalian pandai m enghidupkan orang. Bocah it u memandang kepada sebelas m ayat dan sesenggukan m enangis. " Hi- hi- hik, Sin- tong yang baik, apakah kau t akut kubunuh? Jangan khawat ir, aku dat ang bukan unt uk m em bunuhm u," kat a Kiam - m o Cai- li, agak kecewa m elihat bet apa bocah aj aib it u m enangis dan m em bayangkannya ket akut an. Sin Liong m engangkat m uka m em andang wanit a it u, biarpun air m at anya m asih berderai t urun nam un pandang m at anya sam a sekali t idak m em bayangkan ket akut an, " Kau m au bunuh aku at au t idak, t erserah. Aku t idak t akut ! " " Ha- ha- ha! Benar hebat ! Sin- t ong, kalau kau t idak t akut kenapa m enangis?" Pat - j iu Kai- ong m enegur. " Apa kau m enangisi kem at ian orang- orang t ak berharga it u?" Kiam - m o Cai- li m enyam bung. " Mereka sudah m at i mengapa ditangisi? Aku menangis menyaksikan kekejaman yang kalian lakukan, kau menangis karena m elihat kesesat an dan kekej am an kalian." Dua orang t okoh sesat it u t erbelalak heran saling pandang kem udian m ereka t eringat kem bali akan niat m ereka t erhadap anak aj aib ini, m aka keduanya sepert i dikom ando saj a lalu t ert awa, dan keduanya dengan kecepat an kilat m enyerbu ke depan hendak m enubruk Sin- Liong yang berdiri t egak dan m em andang dengan sinar m at a sedikit pun t idak m em bayangkan rasa t akut ! " Desss......! " Karena gerakan m ereka berbarengan, disert ai rasa khawat ir kalau- kalau keduluan oleh orang lain, m aka m elihat Pat - j iu Kai- ong sudah lebih dekat dengan Sin- t ong, Kiam - m o Cai- li lalu m erobah gerakannya, t idak hendak m enangkap Sin- t ong karena dia kalah dulu, m elainkan m elakukan gerakan m endorong dengan kedua t angannya ke arah Pat - jiu Kai- ong! Pukulan j arak j auh yang dilakukan oleh wanit a iblis ini dahsyat sekali, m em buat Pat - j iu Kai- ong t erkej ut ket ika ada angin panas m enyam bar, m aka dia cepat m enunda niat nya m enangkap Sin- t ong dan bergerak m enangkis. Keduanya m erasakan dahsyat nya t enaga lawan dan t erpent al ke belakang! Sej enak m ereka saling berpandangan dan Pat - j iu Kai- ong yang lebih dulu dapat m enguasai dirinya lalu t ert awa, " Ha- ha- yha, lam a t idak j um pa, Kiam - m o Cai- li m enj adi m akin gagah saj a! " " Pat - j iu Kai- ong, selam a ada aku disini, j angan harap kau akan dapat m eram pas Sin- t ong dari t anganku! " Wanit a it u berkat a dan m em andang t aj am , siap m enghadapi kakek yang dia t ahu m erupakan lawan yang t angguh it u. " Aha, Kiam m o Cai- li, sekali ini kau m engalahlah kepadaku. Aku m em but uhkannya unt uk menyempurnakan ilm uku..." " Hi- hik, I lm u Hiat - ciang Hoat - sut , bukan? Kau sudah cukup tangguh, Kai- ong, dan betapa mudahnya bagimu untuk mencari seratus orang anak lagi unt uk kau hisap darah, ot ak dan sum sum nya. Jangan Sint ong! " " Hem m m m , kau m au m enang sendiri. Apa kaukira aku t idak t ahu m engapa kau m enghendaki Sin- t ong? Dia m asih t erlalu m uda, Cai- li, t ent u t idak akan m em uaskan hat im u. Apa sukarnya bagim u m encari orangorang m uda yang kuat dan m enyenangkan?" " Cukup! Kit a m em punyai keinginan sam a, dan j alan sat u- satunya adalah unt uk m em perebut kannya dengan kepandaian! " " Ha- ha- ha, bagus sekali. Mem ang aku ingin m encoba kepandaian Wanit a Pandai dari Rawa Bangkai! " Liok Si, Si Wanit a Pandai Berpayung Pedang dari Rawa Bangkai sudah t ak dapan m enahan kemarahannya melihat ada orang berani merintanginya, maka sambil berteriak keras

21

Bu Kek Siansu
dia sudah m enerj ang m aj u dengan senj at anya yang ist im ewa, yait u payung hit am yang t angkainya sebat ang pedang runcing it u. " Trakkk! " Pat - j iu Kai- ong sudah m enggerakkan t ongkat nya m enangkis. Gem puran dua t enaga raksasa m em buat keduanya t erpent al lagi ke belakang dan Pat - j iu Kai- ong cepat m eloncat ke depan, t ongkat nya berubah m enj adi segulungan sinar hit am yang m enyam bar ganas. " Trakk! Trakkk! ! " Dua kali senj at a payung dan t ongkat bert em u di udara dan keduanya t erhuyung ke belakang. Diam - diam m ereka berdua t erkej ut sekali dan m aklum bahwa dalam hal t enaga sakt i, kekuat an m ereka berim bang. Sebelum m ereka m elanj ut kan pert andingan m ereka, t iba- t iba m ereka m elangkah m undur dan memandang tajam karena berturut- turut ditempat itu telah muncul lima orang kakek yang melihat cara munculnya dapat diduga tentu memiliki kepandaian tinggi. Mereka muncul seperti setan- setan, tidak dapat didengar atau dilihat lebih dahulu, tahu- tahu sudah berdiri di sit u sam bil m em andang ke arah Pat - j iu Kai- ong dan Kiam m o Cai- li dengan berm acam sikap. Ket ika dua orang dat uk kaum sesat at au golongan hit am ini m elihat dengan penuh perhat ian m ereka t erkej ut sekali. Biarpun diant ara lim a orang it u ada yang belum pernah m ereka j um pai, nam un m elihat ciri- ciri m ereka, kedua orang dat uk golongan hit am ini dapat m engenal m ereka yang kesem uanya adalah orang- orang aneh di dunia kang- ouw yang m asing- m asing t elah m em iliki nam a besar sebagai orang- orang sakt i. Sem ent ara it u, ket ika m elihat dua orang kakek dan nenek t adi bert anding m em perebut kan dirinya, Sin Liong m enj adi m akin berduka. Tak disangkanya bahwa di t em pat yang penuh dam ai ini di m ana dia selam a ham pir t iga t ahun t inggal penuh ket ent ram an dan kedam aian, yang m em buat dia ham pir m elupakan kekej am an- kekej am an m anusia ket ika t erj adi pem bunuhan ayah- bundanya, kini dia m enyaksikan kekej am an yang lebih hebat lagi di m ana sebelas orang dusun yang sam a sekali t idak berdosa dibunuh begit u saj a oleh dua orang itu. Maka dia lalu duduk di atas batu, bersila dan tak bergerak seperti arca, hat inya dilanda duka, dan dia m em andang dengan sikap t idak m engacuhkan. Bahkan ket ika m uncul lim a orang aneh it u, dia pun t idak m em buat reaksi apa- apa kecuali m em andang dengan penuh perhat ian nam un dengan sikap sam a sekali t idak m engacuhkan. Orang pert am a adalah seorang kakek berusia enam puluh t ahun, bert ubuh t inggi besar dengan m uka m erah sepert i t okoh Kwan Kong dalam cerit a Sam- kok, kelihat an gagah sekali, di punggungnya t am pak dua bat ang pedang m enyilang, m at anya lebar alisnya t ebal dan suaranya nyaring ket ika dia t ert awa, "Ha- ha- ha, kiranya bukan hanya orang gagah saj a yang t ert arik kepada Sin- tong, j uga iblis- iblis berdat angan sungguhpun t ent u m em punyai niat lain! " Dengan ucapan yang j elas dit uj ukan kepada Kiam m o Cai- li dan Pat- j iu Kai- ong ini, dia m em andang dua orang it u dengan t erang- t erangan. Orang ini bukanlah orang sem barangan, nam anya sendiri adalah Siang- koan Houw, akan t et api dia lebih t erkenal dengan sebut an Tee- t ok ( Racun Bum i) karena selain m erupakan seorang ahli racun yang sukar dicari t andingannya, j uga dia am at ganas m enghadapi lawan t idak m engenal am pun dan selain it u, j uga dia am at j uj ur dan blak- blakan, bicara dan bert indak t anpa pura- pura lagi. I lm u silat nya t inggi sekali, dan yang paling t erkenal sehingga menggegerkan dunia persilat an adalah ilm u pukulannya yang disebut Pek- lui- kun ( I lm u Silat Tangan Kilat ) dan I lm u Pedangnya Ban- t ok Siang- kiam ( Sepasang Pedang Selaksa Racun) ! Tidak ada orang yang t ahu dim ana t em pat t inggalnya karena m em ang dia seorang perant au yang m uncul dim ana saj a secara t ak t erdugaduga sepert i kem unculannya sekarang ini di Hut an Seribu Bunga. " Huhh, bekas Sut eku yang t et ap goblok! " kat a orang kedua. " Masa m asih t idak m engert i apa yang dikehendaki dua iblis ini. Jem bel busuk it u t ent u ingin m enghisap darah dan ot ak Sin- t ong unt uk m enyem purnakan I lm u I blisnya Hiat - Ciang Hoat - sut . Sedangkan iblis bet ina genit ini apa lagi yang dicari kecuali sari kej ant anan Sin- t ong? Hayo kalian menyangkal, hendak kulihat apakah kalian begitu tak tahu malu untuk menyangkal!" Orang yang kat a- kat anya am at m enusuk ini adalah seorang kakek yang beberapa

22

Bu Kek Siansu
t ahun lebih t ua daripada Tee- t ok, bahkan m enyebut Tee- t ok sebagai bekas sut enya karena memang demikian. Dia bertubuh tinggi kurus dan mukanya seperti tengkorak mengerikan, di ket iaknya t erselip sebat ang t ongkat panj ang dan gerak- geriknya ket ika bicara sepert i seekor m onyet t idak m au diam , bahkan kadang- kadang menggaruk- garuk kepala at au pant at nya, m at anya liar m em andang ke kanan- kiri. Inilah dia tokoh hebat yang berjuluk Thian- tok (Racun Langit), bekas suheng Tee- tok yang m em iliki kepandaian khas. Selain lihai dalam hal racun sesuai dengan nam a dan j ulukannya, j uga dia adalah seorang pem uj a Kauw Cee Thian at au Cee Thian Thaiseng, Si Raj a Monyet it u, yait u sebat ang t ongkat yang dia beri nam a Kim - kauwpang sepert i t ongkat Si Raj a Monyet . Juga dia t elah m encipt akan ilm u silat t angan kosong yang m eniru gerak- gerik seekor m onyet yang diberinya nam a Sin- kauwkun( I lm u Silat Monyet Sakt i) . Sepert i j uga Tee- t ok, dia t idak m em punyai t em pat t inggal yang t et ap, dan t idak ada yang t ahu lagi nam a aslinya, yait u Bhong Sek Bin. " Hem m m , set elah ada aku disini j angan harap segala m acam iblis dapat berbuat sesuka hat i sendiri! " kat a orang ke t iga, suaranya kasar dan keras, pandang matanya sepert i uj ung pedang m enusuk. Orang ini bernam a Ciang Ham j ulukannya Thian- he Te- it , Sedunia Nom or sat u! Usianya kurang lebih 50 t ahun, dan dia adalah ket ua dari Perkum pulan Kang- jiu- pang ( Perkum pulan Lengan Baj a) yang didirikannya di Secuan. Di t angan kirinya t am pak sebat ang senj at a t om bak gagang panj ang, dan selain t erkenal sebagai seorang ahli berm ain t om bak, dia pun t erkenal sebagai seorang ahli berm ain t om bak, dia pun t erkenal m em iliki lengan sekuat baj a! Pakaiannya ringkas sepert i biasa dipakai oleh seorang ahli silat dan set iap gerakgeriknya m enunj ukkan bahwa dia t elah m em punyai kepandaian silat yang sudah m endarah daging di t ubuhnya. Orang ke em pat adalah seorang berpakaian sast rawan, sikapnya halus, usianya 50 t ahun t api m asih t am pak t am pan, t ubuhnya sedang dan dia sudah m enj ura ke arah kedua orang dat uk golongan hit am it u. Di pinggangnya t erselip sebat ang m auwpit alat t ulis pena panj ang. " Kam i berlim a dengan t uj uan yang sam a dat ang ke t em pat ini, t idak sangka bert em u dengan dua orang t okoh t erkenal sepert i Ji- wi ( Anda berdua) , Pat - j iu Kai- ong dan Kiam - m o Caili, t erut am a sekali kepada Cai- li, t erim alah horm at ku." Pat - j iu Kai- ong sudah segera dapat m engenal siapa orang ini, akan t et api Kiam - m o Cai- li t idak m engenalnya. Hat i wanit a ini yang t adinya panas m endengar kat a- kat a m enent ang dari t iga orang pert am a, m erasa sepert i dielus- elus oleh sikap dan kat a- kat a orang berpakaian sast rawan yang t am pan ini. Maka dia pun m em balas penghorm at annya dan dengan lirikan m at a m em ikat dan senyum sim pul m anis sekali dia bert anya, " Harap m aafkan, kana t et api siapakah saudara yang m anis budi dan yang t ent u m em iliki ilm u kepandaian bun dan bu( Sast ra dan silat ) yang t inggi ini?" Laki- laki it u t ersenyum dan m enj awab halus, " Saya yang rendah dinam akan orang Gin- siauw Siucai ( Pelaj ar Bersuling Perak) , seorang yang suka bersunyi di Beng- san." Kiam - mo Cai- li kembali menjura, tersenyum dan berkata, "Aihhh, sudah lama sekali saya telah m endengar nam a besar Cin- siauw Siucai, sebagai seorang ahli silat t inggi, t erut am a sekali sebagai seorang peniup suling yang m ahir dan sudah lam a pula m endengar akan keindahan t am asya alam di Beng- san. Mudah- m udahan saj a saya akan berum ur panj ang unt uk m engunj ungi Beng- san yang indah, m enj adi t am u Gin- siauw Siucai yang ram ah dan sopan, t idak sepert i kebanyakan pria yang kasar t ak t ahu sopan sant un! " Ucapan t erkhir ini j elas dit uj ukannya kepada t iga orang t okoh pert am a yang kasar- kasar t adi. Orang ke lim a dari rom bongan it u adalah seorang t osu berusia enam puluh t ahun lebih, t ubuhnya t inggi kurus dan m ukanya pucat , t angan kiri m em egang sebuah hudt im ( Kebut an Pendet a) dan t angan kanan m em egang sebuah kipas yang t iada hent inya digoyang- goyang m enipasi lehernya seolah- olah dia kepanasan, padahal hawa di Hut an Seribu Bunga it u sej uk! Kini dia m em buka m ulut dan t erdengarlah suaranya yang m erdu m enyanyikan saj ak dalam kit ab To- tek- kheng, kit ab ut am a dari kaum t osu ( Pem eluk Agam a To) ! Am at

23

Bu Kek Siansu
sem purna, nam un t am pak t ak sem purna, t am pak t idak lengkap, sungguhpun kegunaannya t iada kurang Terisi penuh, nam un t am paknya m eluap t um pah, t am paknya kosong, sungguhpun t ak pernah kehabisan Yang paling lurus, kelihat an bengkok, yang paling cerdas, kelihat an bodoh, yang paling fasih, kelihat an gagu. Api panas dapat m engat asi dingin, air sej uk dapat m engat asi panas, Sang Budiman, m urni dan t enang dapat m em berkat i dunia! " " Huah- ha- ha- ha! Anda t ent ulah lam - hai Seng- j in ( Manusia Sakt i Laut Selat an) , bukan? Saj ak- saj ak To- t ekkheng agaknya t elah m enj adi sem acam cap Anda, ha- ha- ha! " kat a Pat - j iu Kai- ong sam bil t ert awa m engej ek. Tosu it u berkat a , " Siancai! Pat - j iu Kai- ong berm at a t aj am , dapat m engenal seorang t osu m iskin dan bodoh." " Ah, j angan m erendah, Tot iang," kat a Kiam- m o Cai- li, " Siapa orangnya yang t idak t ahu bahwa biarpun Anda seorang yang berpakaian t osu dan kelihat an m iskin, nam un m em iliki sebuah ist ana dan m enj adi m aj ikan dari Pulau Kura- kura. I ni nam anya m enggunakan pakaian but ut unt uk m enut upi pakaian indah di sebelah dalam nya." " Siancai! Puj ian kosong...! " Tosu it u berkat a dan m ukanya m enj adi m erah. Tee- t ok Siangkoan Houw m ngeluarkan suara m enggereng t idak sabar. " Apa apaan sem ua kepura- puraan yang m enj em ukan ini? Pat j iu Kai- ong dan Kiam - m o Cai- li, ket ika kam i berlim a dat ang t adi, kam i m elihat kalian sedang m em perebut kan Sin- t ong dan t ent u sebelas orang dusun ini kalian berdua yang m em bunuhnya! " " Tee- t ok, urusan it u adalah urusan kam i sendiri. Perlu apa kau m encam puri?" Pat - j iu Kai- ong m enj awab dengan senyum dan suara halus sepert i kebiasaannya nam un j elas bahwa dia m erasa t ak senang. " Bukan urusanku, m em ang! Akan t et api ket ahuilah, kam i berlim a m em punyai m aksud yang sam a, yait u m asing- m asing m enghendaki agar Sin- t ong m enj adi m uridnya. Biarpun kam i saling bert ent angan dan berebut an, nam un kam i m em perebut kan Sin- t ong unt uk m enj adi m urid kam i at au seorang di ant ara kam i. Sedangkan kalian berdua, m em punyai niat buruk! " kat a pula Tee- t ok yang t erkenal sebagai orang yang t idak pernah m enyim pan perasaan dan m engeluarkannya sem ua t anpa t edeng aling- aling lagi m elalui suaranya yang nyaring. " Tee- t ok, j angan som bong kau! Mengenai kepent ingan m asing- m asing m em perebut kan Sin- t ong, adalah urusan pribadi yang t ak perlu diket ahui orang lain. Yang j elas, kit a bert uj uh m asing- m asing hendak m em iliki Sin- t ong, Unt uk kepent ingan pribadi m asing- m asing t ent u saj a sekarang bagaim ana baiknya? Apakah kalian ini lim a orang yang m engaku sebagai t okoht okoh sakt i dan gagah dari dunia kang- ouw hendak m engandalkan banyak orang m engeroyok kam i berdua. Aku, Kiam - m o Cai- li sam a sekali t idak t akut biarpun aku seorang kalian keroyok berlim a, akan t et api bet apa curang dan hinanya perbuat an it u. Terut am a sekali Gin- siauw Siucai, t ent u t idak begit u rendah unt uk m elakukan pengeroyokan! " kat a Kiam m o Cai- li yang cerdik. " Perem puan som bong kau, Kiam m o Cai- li! " Tee- t ok m em bent ak m arah dan m elangkah m aj u. " Siapa sudi m engeroyokm u? Aku sendiri pun cukup unt uk m engenyahkan seorang iblis bet ina sepert i engkau dari m uka bum i! " " Tee- t ok, bukt ikan om onganm u! " Kiam - m o Cai- li m em bent ak dan dia pun m elangkah m aj u. " Eh- eh, nant i dulu! Apa hanya kalian berdua saj a yang m enghendaki Sin- t ong? Kam i pun t idak m au ket inggalan! " kat a Pat- j iu Kai- ong m encela. " Benar sekali! Perebut an ini t idak boleh dim onopoli oleh dua orang saj a! Aku pun t idak t akut m enghadapi siapa pun unt uk m em peroleh Sint ong! " Thian- t e Te- it Ciang Ham m em bent ak m enggoyang t om bak panj angnya m elint ang di depan dada. " Siancai, siancai...! " Lam - hai Seng- j in m elangkah m aj u, m enggoyang kebut annya. " Harap Cuwi( Anda Sekalian) suka bersabar dan t idak t urun t angan secara kacau saling serang. Sem ua harus diat ur seadilnya dan sebaiknya. Kit a bukanlah sekum pulan bocah yang biasanya hanya saling baku hant am m em perebut kan sesuat u. Sudah j elas bahwa kit a bert uj uan sam a, yait u ingin m em peroleh Sin- t ong. Akan t et api kit a lupa bahwa hal ini sepenuhnya t erserah kepada pem ilihan Sin- t ong sendiri. Maka m arilah kit a berj anj i. Kit a bert anya kepada Sin- t ong, kepada siapa ia hendak ikut dan kalau dia sudah m enj at uhkan pilihannya,

24

Bu Kek Siansu
t idak seorangpun boleh m elarang at au m encam puri, Bagaim ana?" " Hem m , t idak buruk keput usan it u. Aku set uj u! " kat a Tee- t ok. " Aku pun set uj u! " kat a Thian- tok dan yang lain pun t idak m em punyai alasan unt uk t idak m enyet uj ui keput usan yang memang adil ini, kemudian melanjutkan dengan kata- kata sengaja dibikin keras agar t erdengar oleh Sin- t ong. " Tent u saj a harus j uj ur t idak m em bohongi Sin- t ong akan m aksud hat i sebenarnya. Misalnya yang m au m engam bil m urid, yang hendak m enghisap darahnya at au hendak m em perkosa dan m enghisap sari kej ant anannya j uga harus bert erus t erang! " Tent u saj a dua orang t okoh golongan hit am it u mendongkol sekali dan ingin menyerang Thian- tok yang licik itu. "Isi hati orang siapa yang t ahu? Boleh saj a kau bilang hendak m engam bil m urid, akan t et api siapa t ahu kalau kau m enghendaki nyawanya?" Kiam - m o Cai- li m engej ek Thian- t ok. " Kau...! Maj ulah, rasakan Kim - kauw- pang pusakaku ini! " " Boleh! Siapa t akut ?" Wanit a it u balas m em bent ak. " Siancai...! " Lam - hai Seng- j in m encela dan m elangkah m aj u. " Apakah kalian benar- benar hendak m enj adi kanak- kanak? Kat anya t adi sudah set uj u, nah m arilah kit a m endengar sendiri siapa yang m enj adi pilihan Sin- tong." Tuj uh orang it u lalu m engham piri Sin- t ong yang m asih duduk bersila sepert i sebuah arca, hat inya penuh kengerian m enyaksikan t ingkah laku t uj uh orang it u. " Sin- tong yang baik. Lihat lah, kau sat u- sat unya wanit a di ant ara kam i bert uj uh. Lihat lah aku, seorang wanita yang hidup kesepian dan merana karena tidak mempunyai anak, kau m endengar bahwa engkau pun sebat angkara, t idak m em punyai ayah bunda lagi. Marilah anakku, m arilah ikut dengan aku, aku akan m enj adi penggant i ibum u yang mencint aim u dengan seluruh j iwaku. Mari hidup sebagai seorang Pangeran di ist anaku, di Rawa Bangkai, dan engkau akan m enj adi seorang t erhorm at dan m ulia. Marilah Sin- t ong, Anakku! " Sin Liong m engangkat m uka m em andang sej enak waj ah wanit a it u, kem udian dia m enunduk dan t idak m enj awab, j uga t idak bergerak, hat inya m akin sakit karena dia dengan j elas dapat m elihat kepalsuan di balik buj ukrayu m anis it u, apalagi kalau dia m engingat bet apa wanit a ini dengan t ersenyum senyum dapat begit u saj a m em bunuh j iwa enam orang dusun yang t idak berdosa! Dia merasa ngeri dan tidak dapat menjawab. "Sin- tong, aku adalah ketua dari Pat- jiu Kai- pang di Pegunungan Hong- san. Sebagai seorang ket ua perkum pulan pengem is, t ent u saj a aku kasihan sekali m elihat engkau seorang anak yang hidup sebat angkara. Kau ikut lah bersam aku, Sin- t ong, dan kelak engaku akan m enj adi raj a Pengem is. Bukankah kau suka sekali m enolong orang? Orang yang paling perlu ditolong olehmu adalah golongan pengemis yang hidup sengsara, kau ikutlah dengan aku, dan Pat - jiu Kai- ong akan m enj adikan engkau seorang yang paling gagah di dunia ini! " Kem bali Sin- t ong m em andang waj ah it u dan diam - diam bergidik. Orang yang dapat m em bunuh lim a orang dusun sam bil t ert awa- t awa sepert i kakek ini sekarang menawarkan kepadanya untuk menjadi raja pengemis! Dia tidak menjawab j uga, hanya kem bali m enundukkan m ukanya. " Anak aj aib, anak baik, Sin- tong, dengarlah aku. Aku adalah Gin- siauw Siucai, seorang sast rawan yang m engasingkan diri dan m enj adi pert apa di Beng- san. Selam a hidupku aku t idak pernah m elakukan perbuat an j ahat dan selam a puluhan t ahun aku t ekun m enghim pun ilm u silat , ilm u sast ra dan ilm u m eniup suling. Aku ingin sekali m engangkat engkau sebagai m uridku, Sin- t ong." " Ha- ha- ha, kau t urut aku saj a, Sin- t ong. Biarpun aku seorang yang kasar, nam un hat iku lem ah m enghadapi anak- anak. Aku sendiri m em iliki seorang anak perem puan sebaya denganm u. Biarlah kau m enj adi saudaranya, kau m enj adi m uridku dan kau t akkan kecewa m enj adi m urid Tee- t ok. Pilihlah aku m enj adi gurum u, Sin- t ong." " Tidak, aku saj a! Aku Bhong Sek Bin, nam aku t idak pernah kukat akan kepada siapapun dan sekarang kukat akan di depanm u, t anda bahwa aku percaya dan suka sekali kepadam u. Akulah ket urunan dari Dewa Sakt i Cee Thian Thai- seng, akulah yang m ewarisi ilm u Kim - kauw- pang. Kau j adilah m urid Thian- t ok dan kelak kau akan m eraj ai dunia kang- ouw, Sin- t ong." " Lebih baik m enj adi m uridku. Aku Thian- he Te- it Ciang Ham , di kolong dunia nom or sat u dan

25

Bu Kek Siansu
ket ua dari Kang- jiu- pang di Secuan. Menj adi m uridku berart i m enj adi calon m anusia terpandai di kolong langit ! " " Siancai...siancai..! Kaudengarlah m ereka sem ua it u, Sin- t ong. Sem ua hendak m engaj arkan ilm u silat dan m em am erkan kekayaan duniawi, t idak seorangpun yang hendak m engaj arkan kebat inan kepadam u. Akan t et api pint o ( aku) ingin sekali m engam bil m urid kepadam u, hendak pint o j adikan engkau seorang calon Guru Besar Kebat inan. Kau berbakat unt uk it u, siapa t ahu, kelak engkau akan m em iliki kebij aksanaan besar sepert i Nabi Lo- cu sendiri, dan engkau m enj adi seorang nabi baru. Kau j adilah m urid Lam- hai Sengj in, Sin- tong!" Hening sej enak. Sem ua m at a dit uj ukan kepada bocah yang m asih duduk bersila sepert i arca dan yang t idak pernah m enj awab kecuali m engangkat m uka sebent ar m em andang orang yang m em buj uknya. Kem udian t erdengar suaranya, halus menggetar dan penuh duka. "Terima kasih kepada Cuwi Locianpwe. Akan tetapi saya t idak dapat ikut siapapun j uga di ant ara Cuwi karena di balik sem ua kebaikan Cuwi t erdapat kekerasan dan nafsu m em bunuh sesam a m anusia. Tidak, saya t idak akan t urut siapapun, saya lebih senang t inggal disini, di t em pat sunyi ini. Harap Cuwi sekalian t inggalkan saya, saya akan m engubur m ayat - m ayat yang pat ut dikasihani ini." " Wah, kepala bat u! Kalau begit u, aku akan m em aksam u! " kat a Tee- t ok yang berwat ak berangasan dan kasar. " Eh, nant i dulu! Siapa pun t idak boleh mengganggunya!" bentak Thian- tok. "Siancai...sabar dulu semua! Jelas bahwa bocah aj aib ini t idak m au m em ilih seorang diant ara kit a secara sukarela. Karena it u, t ent u kit a sem ua ingin m eram pasnya secara kekerasan. Maka harus diat ur sebaik dan seadil m ungkin. Kit a bukan kanak- kanak, kit a adalah orang- orang yang t elah m enghim pun banyak ilm u, m aka sebaiknya kalau kit a sekarang m asing- masing m engeluarkan ilm u dan m engadu ilm u. Siapa yang keluar sebagai pem enang, t ent u saj a berhak m eim iliki Sin- t ong," kat a Lam - hai Seng- j in yang lebih sabar daripada yang lain. " Mana bisa diat ur begit u?" bant ah Pat - j iu kai- ong yang khawat ir kalaukalau lim a orang it u akan m engeroyok dia dan Kiam - m o Cai- li. " Lebih baik seorang lawan seorang, yang kalah m asuk kot ak dan yang m enang harus m enghadapi yang lain set elah berist irahat . Begit u baru adil! " " Tidak! " bant ah Kiam - m o Cai- li, wanit a yang cerdik ini dapat m elihat kesem pat an yang m engunt ungkannya kalau t erj adi pert andingan bersam a sepert i yang diusulkan Lam - hai Seng- j in. Dalam pert em puran sepert i it u, siapa cerdik t ent u akan keluar sebagai pem enang. " Kalau diadakan sat u lawan sat u, t erlalu lam a. Sebaiknya kit a bert uj uh m engeluarkan ilm u dan saling serang t anpa m em andang bulu. Dengan dem ikian, sat u- sat unya orang yang kelaur sebagai pem enang, Jelas dia t elah lihai daripada yang lain." Akhirnya Pat - j iu kai- ong kalah suara dan ket uj uh orang it u t elah m engelurkan senj at a m asingm asing, m em bent uk lingaran besar dan bergerak perlahan- lahan saling lirik , siap unt uk m enghant am siapa yang dekat dan m enangkis serangan dari m anapun j uga! Benarbenar m erupakan pert andingan hebat yang kacau balau dan aneh! Sin Liong yang m asih duduk bersila, m em andang dengan m at a t erbelalak dan dia m enj adi silau ket ika t uj uh orang it u sudah m ulai m enggerakkan senj at a m asing- m asing unt uk m enyerang dan m enangkis. Gerakan m ereka dem ikian cepat nya sehingga bagi Sin Liong, yang kelihat an hanyalah gulungan- gulungan sinar senj at a dan bayangan orang berkelebat an t anpa dapat dilihat j elas bayangan siapa. Mem ang hebat pert andingan ini karena dipandang sepint as lalu, seolah- olah set iap orang m elawan enam orang m usuh dan kadang- kadang t erj adi hal yang lucu. Ket ika Tee- tok m enyerang Pat - j iu Kai- ong dengan siang- kiam nya, sepasang pedangnya ini m em babat dari kiri kanan. Pat - j iu Kai- ong t erkej ut karena pada saat it u dia sedang m enyerang Lam - hai Seng- j in yang di lain pihak j uga sedang m enyerang Gin- siauw Siucai! Akan t et api t erdengar suara keras ket ika sepasang pedang Tee- t ok it u bert em u dengan t om bak di t angan Thian- he Te- it dan t ongkat Thian- t ok, sehingga seolah- olah dua orang ini m elindungi Pat - j iu Kaiong. Pert andingan kacau balau dan hanya Kiam - m o Cai- li yang benar- benar am at cerdiknya. Dia t idak m elayani seorang

26

Bu Kek Siansu
t ert ent u, m elainkan berlarian berput ar- putar, selalu m enghindarkan serangan lawan yang m anapun j uga dan dia pun it dak m enyerang siapa- siapa, hanya m enggerakkan pedang payungnya dan ram but nya unt uk m em buat kacau dan kadang- kadang j uga m enekan lawan apabila m elihat ada seorang diant ara m ereka yang t erdesak. Siasat nya adalah unt uk m erobohkan seorang dem i seorang dengan j alan " m engeroyok" t anpa m em bant u siapa- siapa agar j um lah lawannya berkurang. Nam un, m ereka it u rat a- rat a adalah orang- orang yang m em iliki kepandaian t inggi, m aka t idaklah m udah dibokong oleh Kiam - m o Cai- li, bahkan lam a- lam a akalnya ini ket ahuan dan m ulailah m ereka m enuj ukan senj at a kepada wanit a ini sehingga m au t idak m au wanit a it u t erseret ke dalam pert andingan kacau- balau it u! Terpaksa dia m em pert ahankan diri dengan pedang payungnya, dan m em balas serangan lawan yang paling dekat dengan kem arahan m eluap- luap. Sin Liong m enj adi bengong. Ent ah kapan dat angnya, t ahu- t ahu dia m elihat seorang laki- laki duduk ongkangongkang di at as cabang pohon besar yang t um buh dekat m edan pert andingan it u. Laki- laki it u m em andang ke arah pert em puran dengan m at a t erbelalak penuh perhat ian, t angan kiri m em egang sehelai kain put ih lebar, dan t angan kanan yang m em egang sebat ang alat t ulis t iada hent inya m encorat coret di at as kain put ih it u, seolah- olah dia t idak sedang m enont on pert andingan, m elainkan sedang m enont on pemandangan indah dan dilukisnya pemandangan itu! Sin Liong yang terheran- heran it u m em perhat ikan. Orang laki- laki it u kurang lebih em pat puluh t ahun usianya, pakaiannya sepert i seorang pelaj ar akan t et api di bagian dada baj unya yang kuning m uda it u ada lukisan seekor Naga Em as dan seekor Burung Hong Merah. I ndah sekali lukisan baj u it u. Waj ahnya t am pan dan gagah, dengan kum is dan j enggot t erpelihara baik- baik, pakaiannya j uga bersih dan t erbuat dari sut era halus, sepat u yang dipakai kedua kakinya m asih baru at au set idaknya am at t erpelihara sehingga m engkilap. Ram but nya m em akai kopyah sast erawan dan sepasang m at anya bersinar- sinar penuh kegem biraan ket ika dia m encorat - coret m elukis pert andingan antara tujuh orang sakti itu. Sin Liong makin bingung. Betapa mungkin melukis tujuh orang yang sedang berkelebat an ham pir t ak t am pak it u? Sin Liong t idak lagi m em perhat ikan pert andingan, hanya m em andang ke arah orang it u. Dia m endengar bentakan- bent akan nyaring dan t idak t ahu bahwa t uj uh orang it u t elah ada yang t erluka. Thian- he Te- it t elah t erkena hant am an t ongkat Thian- t ok di pahanya sehingga t erasa nyeri sekali. Pat - j iu Kai- ong j uga kena serem pet pundaknya sehingga berdarah oleh sebatang di antara Siang- kiam di tangan Tee- tok, sedangkan Lam- hai Seng- j in dan Gin- siauw Siucai j uga t elah m engadu t enaga dan keduanya t erget ar sam api m unt ahkan darah nam un berkat sinkang m ereka, kedua orang ini tidak sampai mengalami luka dalam yang parah. Sin Liong melihat betapa laki- laki di at as pohon it u t ersenyum , m enghent ikan coret annya, m enyim pan pensil dan m enyam bar j ubah luar yang t adi t ergant ung di rant ing pohon, m em akainya, kem udian m engant ongi gam bar yang t elah digulungnya dan t ubuhnya m elayang t urun. " Tont onan t idak bagus! " Terdengar dia berseru. " Tuj uh orang t ua bangka gila m em perlihat kan t ont onan di depan seorang anak kecil benar- benar t ak t ahu m alu sam a sekali! " Tuj uh orang it u t erkej ut ket ika m endengar suara yang langsung m engget arkan j ant ung m ereka it u. Mengert ilah m ereka bahwa yang dat ang ini m em iliki khikang dan singkang yang am at kuat , sehingga dapat m engat ur suaranya, langsung dipergunakan unt uk m enyerang m ereka dan sam a sekali t idak m em pengaruhi Sin- t ong yang m asih duduk bersila. Dengan hat i t egang m ereka lalu meloncat m undur dan m asing- m asing m elint angkan senj at a di depan dada, m em andang ke arah laki- laki gagah yang baru m uncul it u. Nam un, t idak ada seorangpun diant ara m ereka yang m engenalnya, m aka ket uj uh orang it u m enj adi m arah sekali. JI LI D 3 Bangsat kecil, engkau siapakah berani m encam puri urusan kam i dan m em aki kam i?" bent ak Pat j iu Kai- ong sam bil m engusap pundaknya yang berdarah. Apa kau m em iliki kepandaian m aka berani m encela kam i, t ikus kecil?"

27

Bu Kek Siansu
bent ak pula Thian- he Te- it yang m asih ngilu rasa pahanya, dan unt ung bahwa pahanya it u t idak pat ah t ulangnya. Laki- laki it u m elangkah m aj u m engham piri m ereka dengan langkah t egap dan sikap sam a sekali t idak t akut , bahkan waj ahnya it u berseri- seri m em andang m ereka seorang dem i seorang. kem udian, set elah berada di t engah- t engah sehingga t erkurung, dia berkat a, " Tadinya aku hanya m endengar bahwa ada seorang anak baik t erancam oleh perebut an orang- orang pandai di dunia kang- ouw. Ketika tiba disini dan melihat lagak kalian, mau tidak mau aku m asuk dan hat iku m em ang penasaran m enyaksikan gerakan kalian yang sungguh- sungguh m asih m ent ah. I lm u t ongkat dia it u t ent u Pat - mo- tung- hoat yang berdasarkan Ilmu Pedang Pat- mo- kiam- hoat," katanya sambil menuding ke arah Patj iu Kai- ong. Raj a pengem is it u t erkej ut sekali m elihat orang m engenal ilm u t ongkat nya, padahal t adi m ereka bert uj uh bert anding dengan kecepat an luar biasa, bagaim ana orang ini dapat m engenal ilm u t ongkat nya? " Dan ilm u ot ngkat dia it u lebih lucu dan kacau lagi. Meniru gerakan Kauw Cee Thian Si Raj a Monyet , akan t et api kaku dan m ent ah, t idak pant as m enj adi gerakan Raj a Monyet , pant asnya m enj adi gerakan Raj a Tikus! Dia m enuding arah Thian- t ok. " Brakkk! ! " Bat u besar yang berada di sam ping Thian- t ok hancur berant akan karena dipukul oleh t ongkat nya. Dia m arah sekali m endengar ucapan yang dianggapnya m enghina it u. " Manusia lancang, berani kau m enghina Thian- t ok?" bent aknya dan t ongkat nya sudah diput ar hendak m enyerang. Akan t et api orang it u m em bent ak, " Berhent i! " Dan aneh, suaranya dem ikian berwibawa sehingga Thian- t ok sendiri sam pai t erget ar dan m enghent ikan gerakan t ongkat nya. " Aku m elihat kalian m asing- m asing m em ilik i kepandaian khusus nam un m asih m ent ah sem ua. Aku t idak m em bohong dan kalau t idak percaya, m arilah kalian m aj u seorang dem i seorang, akan kuperlihat kan kementahan ilm u silat kalian yang kalian pergunakna dalam pert andingna kacau balau t adi. Hayo siapa yang m aj u lebih dulu, akan kulayani dengan ilm u silat kalian sendiri! " Ucapan ini lebih m endat angkan rasa heran dan t idak percaya daripada kem arahan, m aka Pat - j iu Kai- ong m elupakan pundaknya yang t erluka, cepat dia sudah m eloncat ke depan, m elint angkan t ongkat nya di depan dada sam bil berseru, " Nah, coba kaubukt ikan kem ent ahan ilm u t ongkat ku! " Set elah berkat a dem ikian, Raj a Pengem is ini m enyerang, m enggunakan t ongkat nya unt uk m enusuk, kem udian gerakan ini dilanj ut kan dengan m em ut ar t ongkat ke at as m enghant am kepala. Memang gerakan tongkatnya adalah gerakan pedang, dia ambil dari Ilmu Pedang Pamo- kiam- hoat . Hal ini adalah rahasianya, m aka dia heran sekali m endengar orang t am pan gagah it u m engenal ilm u t ongkat nya dan sekaligus m em buka rahasianya. Enam orang t okoh yang lain adalah orang- orang yang t elah t erkenal, m aka m ereka menahan kemarahan dan menonton untuk melihat apakah orang yang tidak terkenal ini benar- benar m em iliki kepandaian aneh dan apakah benar- benar selihai m ulut nya yang am at som bong it u. Serangan Pat - j iu Kiam - ong it u t idak dit angkis, akan t et api t ubuh orang it u t iba- t iba saj a lenyap! Sem ua orang kaget dan bengong m elihat bet apa t ubuh orang it u t ahu- t ahu t elah m elayang t urun dari at as pohon, di t angannya t erdapat sebat ang cabang pohon, yang daunnya t elah dibersihkan. Dem ikian cepat nya dia t adi m eloncat sehingga t idak t am pak, dan ent ah bagaim ana cepat nya t ahu- t ahu dia t elah m em bikin sebat ang t ongkat yang ukurannya sam a dengan tongkat yang dipegang Pat- jiu Kai- ong. Begitu dia turun, Pat- jiu Kaiong telah m enyerangnya dengan kem arahan m eluap. " Nah, lihat lah. Bukankah ini Pat - mokiam- hoat ( I lm u Pedang Delapan I blis) yang kau rubah m enj adi Pat m o- t ung- hoat?" Dan orang it u pun kini m engim bangi perm ainan ilm u t ongkat Pat - j iu Kai- ong dengan gerakan yang sam a! Jurus dem i j urus dim ainkan orang it u unt uk m enangkis dan balas m enyerang, nam un bedanya, serangannya j auh lebih cepat dan lebih kuat t enaga sinkang yang m enggerakkan t ongkat it u! Tokoh- t okoh lain hanya m endugaduga, m engira orang baru it u m eniru gerakan Pat - j iu Kai- ong, akan t et api Raj a Pengem is ini sendiri m engenal gerakan orang it u yang bukan lain adalah ilm u

28

Bu Kek Siansu
tongkatnya sendiri yang digubahnya sendiri! Dia menjadi bingung dan heran, apalagi serangan orang it u cepat nya m elebihi kilat dan dalam belasan j urus saj a, t iba- tiba t erdengar suara keras, t ongkat di t angan Pat - j iu Kaiong pat ah dan si Raj a Pengem is ini sendiri t erpelant ing dan m ukanya pucat sekali karena t adi uj ung t ongkat lawannya t elah m enyam bar dahinya t epat diant ara m at a dan kalau dikehendakinya, tentu dia telah tewas, akan tetapi orang aneh itu hanya mengguratnya saja sehingga kulit di bagian it u robek dan berdarah. Tahulah dia bahwa sia t elah berhadapan dengan seorang yang m em iliki ilm u kepandaian yang j auh m elam puinya, t ahu pula bahwa nyawanya diam puni m aka t anpa banyak cakap dia lalu m undur dan berdiri dengan m uka pucat dan m ulut berbisik, " Aku m engaku kalah! " Tent u saj a hal ini m engej ut kan enam orang t okoh yang lain! Mereka t adi, dalam pert andingan kacau balau, t elah beradu senj at a dengan Si Raj a Pengem is, dan m ereka m aklum bahwa selain ilm u t ongkat nya am at lihai, j uga t ongkat it u sendiri m erupakan senj at a pusaka yang kuat m enangkis senj at a t aj am , di sam ping t enaga sinkang si Kakek Jembel yang amat kuat. Namun, dalam belasan jurus saja kakek jembel itu mengaku kalah, t ongkat nya pat ah dan diant ara alisnya t erluka, sedangkan t adinya m ereka m engira bahwa orang yang baru dat ang it u hanya m eniru- niru ilm u silat Pat- j iu Kaiong! " Si Jem bel t ua bangka m em ang t olol! " Tiba- t iba Thian- he Te- it Ciang Ham m eloncat ke depan, t om baknya m elint ang di t angannya, sedangkan t angan kirinya dikepal, t angan kiri yang m engandung t enaga m ukj ij at dan t erkenal dengan sebut an Kang- jiu(Lengan Baj a) yang kuat m enangkis senj at a t aj am ! Orang it u t ersenyum sabar. Hemm, jadi tadi adalah Pat- jiu Kai- ong, ketua Pat- jiu Kai- pang yang terkenal? Heran ilm unya m asih serendah it u sudah berani m alang m elint ang di Heng- san. Dan kau ini siapakah? Ginkangm u cukup lum ayan akan t et api perm ainan t om bakm u belum pat ut disebut Sin- j io( Tom bak Sakt i) , dan pukulan it u, t ent u yang dinam akan Lengan Baj a, sayangnya t idak cocok dengan sebut annya karena t erlalu lem ah, hem m , t erlalu lem ah...! " Muka Ciang Ham m enj adi m erah sekali saking m arahnya. Sudah m enj adi kebiasaannya kalau dia lagi m arah, m at anya m endelik dan kum isnya yang j arang it u bergoyang- goyang m enurut kan bibir at asnya yang t erget ar! " Si keparat som bong! Tahukah engkau dengan siapa engkau berhadapan? Aku adalah Thianhe Te- it ( Nom or Sat u Sedunia) ket ua dari Kang- jiu- pang di Secuan! Bersiaplah unt uk m am pus di t anganku! " Kem bali orang it u m eloncat ke at as, kini sem ua orang yang sudah m em perhat ikan seluruh gerak- geriknya m elihat bahwa orang it u benarbenar m em iliki ginkang yang sukar dipercaya. Hanya dengan m engenj ot uj ung kaki, t ubuhnya m elesat dengan kecepat an yang luar biasa sekali, lenyap ke dalam pohon besar dan t ak lam a kem udian sudah m elayang t urun m em bawa sebat ang cabang yang panj angnya sam a dengan t om bak di t angan Ciang Ham , bahkan uj ungnya j uga sudah diruncingkan, ent ah bagaim ana caranya! " Nah, coba m ainkan ilm u t om bakm u dan pukulan Lengan Baj um u yang m asih m ent ah it u." Thian- he Te- it Ciang Ham bukan m ain m arahnya. Sam bil m engeluarkan gerengan keras dia m enerjang, t om baknya bergerak dahsyat sehingga m at a t om bak berubah m enj adai belasan banyaknya, sem ua m at a t om bak it u seolah- olah m enyerang bagian- bagian t ert ent u dari lawannya! Nam un orang it u pun m enggerakkan t om bak cabang pohon dengan gerakan yang sam a, bahakan m at a " t om baknya" berubah m enj adi dua puluh lebih, m em bent uk bayangan t om bak yang m enyilaukan m at a dan t erj adilah pert andingan t om bak yang am at aneh karena gerakan m ereka sam a. Dapat dibayangkan bet apa kaget nya hat i Thian- he Te- it Ciang Ham . I lm u t om bak it u adalah cipt aannya sendiri dan selam a ini belum pernah diaj arkan kepada siapapun j uga, m erupakan kepandaian khasnya yang am puh. Akan t et api sekarang dia m elihat orang ini m ainkan ilm u t om baknya dengan gerakan yang lebih cepat dan lebih kuat ! Marahlah dia. " Set an kau! " dia m em aki dan kini t om baknya m em buat lingkaran besar, m enyam barnyam bar diat as kepala sedangkan lengan kirinya m elakukan pukulan m aut karena lengan it u seolah- olah m erupakan sebuah senj at a baj a yang kuat

29

Bu Kek Siansu
sekali. " Bagus," orang it u berseru, t om baknya bergerak pula m enyam but t om bak lawan dan t erdengar suara " krekkk" ket ika uj ung t om bak Thian- he Te- it pat ah disusul bert em unya dua buah lengan. " Desss...! " Thian- he Te- it Ciang Ham m engaduh, m elem parkan t om baknya yang pat ah, m enggunakan t angan kanan mengurut- urut lengan kirinya. Lengan kiri yang t erkenal dengan sebut an Lengan Baja itu, yang berani menangkis senjata tajam lawan, begitu bertemu dengan lengan lawan, berubah m enj adi sepert i bam bu bert em u besi. Tulangnya ret ak dan sakit nya bukan m ain! Dia pun bukan anak kecil, seket ika t ahulah dia bahwa dia berhadapan dengan seorang yang t ingkat kepadaiannya j auh lebih t inggi, m em buat dia seolaholah berhadapan dengan gurunya, m aka dia m eloncat ke belakang, m eringis dan berkata nyaring, "Aku kalah!" Hening sejenak. Lima orang tokoh lain terheran- heran, ham pir t idak dapat percaya akan perist iwa yang t elah t erj adi. Biarpun m ereka m ulai m erasa heran dan gent ar, nam un rasa penasaran m em buat m ereka lupa akan kenyat aan bahwa orang it u benar- benar lihai. Mereka hendak m em bukt ikan sendiri apakah benar orang aneh ini dapat m em ainkan ilm u ist im ewa m ereka yang selam a ini m engangkat nam a m ereka di t em pat t inggi di dunia kang- ouw. " Hayo, siapa lagi yang ingin m em am erkan ilm unya yang m asih m ent ah?" Orang it u sengaj a m enant ang sam bil m elem parkan t om bak cabang pohon yang t elah berhasil m em at ahkan uj ung t om bak pusaka di t angan Ciang Ham t adi. " Aku ingin m encoba! " Thian- tok sudah melompat ke depan dengan gerakan seperti seekor kera dan tangan kirinya m enggaruk- garuk pant at , t angan kanan m em egang t ongkat Kim - kauw- pang it u m em ut ar- m ut ar t ongkat nya. " Nant i dulu," kat a orang it u. " Yang bert om bak t adi, bukankah dia yang t erkenal sekali sebagai ket ua Kangj iu- pang di Secuan? harap Pangcu ( Ket ua) m enj aga agar anak buahm u t idak m erendahkan nam a Kang- jiupang dengan m elakukan perbuat an m elanggar hukum dan m em perbaiki ilm u silat nya." Ciang Ham t idak m enj awab, hanya kum isnya bergoyang- goyang karena m arahnya. " Dan Anda ini, apakah m em punyai kudis di pant at , at aukah m em ang hendak m eniru lagak seekor m onyet ? Kalau begit u, t ent ulah Anda yang berj uluk Thian- t ok, yang kabarnya m enj adi pem uj a Kauw Cee Thian, t erkenal dengan I lm u Tongkat Kim kauw- pang dan I lm u Silat Sin- kauw- kun." " Dugaanm u benar, akulah Thian- tok! Siapakah nam am u, m anusia som bong?" Thian- t ok Bhong Sek Bin m em bent ak m arah. " at aukah kau t idak berani m engakui nam am u dan bersikap sebagai seorang pengecut t ukang m encuri ilm u orang lain?" Biarpun diserang dengan kat a- kat a yang m enghina it u, orang ini t ersenyum saj a dan m enj awab, " Nam aku t idak ada perlunya kauket ahui. Kalau aku t idak m am pu m engalahkan engkau dengan ilm um u sendiri, barulah aku akan m em perkenalkan diri dan boleh kau perbuat sesukam u t erhadap diriku." Thian- t ok lalu m engeluarkan suara m em ekik nyaring sepert i seekor kera m arah, akan t et api sebelum dia m enyerang laki- laki aneh it u t elah m enyam bar tombak cabang pohon yang tadi dilemparnya ke atas tanah. Tombak itu panjang dan sekali dia m enggerakkan j ari t angannya, uj ung t om bak cabang yang runcing it u t elah pat ah dan berubahlah t om bak it u m enj adi sebat ang t ongkat yang panj angnya sam a dengan Kim - kauwpang di t angan Thian- t ok! Thian- t ok sudah m enerj ang dengan gerakan lincah sekali. Kim - kauw- pang dit angannya diput ar- put ar sedem ikian rupa, m ulut nya m enggeluarkan pekik- pekik dahsyat dan t ubuhnya sam pai lenyap t erbungkus gulungan sinar t ongkat sendiri. Nam un dengan enaknya orang it u pun m em ut ar t ongkat nya, serupa benar dengan gerakan Thian- t ok bahkan m ulut nya j uga m engeluarkan pekik sepert i m onyet it u dan t erj adilah pert andingan yang aneh dan lucu, seolah- olah bukan sedang bertanding, melainkan Thian- tok sedang berlatih silat dengan gurunya. Gerakan m ereka sam a, akan t et api gerakan orang it u lebih cepat dan lebih m ant ap. Kem bali belum sam pai dua puluh j urus t erdengar suara keras, Kim - kauw- pang di t angan Thian- t ok pat ah- pat ah m enj adi t iga pot ong dan Si Racun Langit it u t erhuyung m undur dengan m uka pucat karena t ulang pundaknya ham pir pat ah t erpukul t ongkat lawan! Melihat bet apa bekas suhengnya kalah, Tee-

30

Bu Kek Siansu
t ok m arah sekali. Siang- kiam di punggungnya t elah dicabut nya dan t anpa banyak cakap lagi dia t elah m eloncat m aj u. " Keluarkan senj at am u, m anusia licik! Akulah Tee- t ok, hayo lawan siang- kiam- ku ini kalau kau m em ang gagah! " Orang it u m enj ura, " Aha, kiranya Tee- t ok Siangkoan Houw yang t erkenal. Kulhat t adi ilm u pedangm u adalah pecahan dari Hui- liong- kiam sut , dan kau pandai pula m enggunakan I lm u Silat Pek- lui- kun. Akan t et api sepert i yang lain, gerakanm u m asih m ent ah." " Tak usah banyak cakap! Lawanlah ilm uku! " Bent ak Tee- t ok dengan m arah dan dia sudah m enerj ang m aj u. Laki- laki iut m em at ahkan t ongkat nya m enj adi dua pot ong t ongkat yang sam a dengan pedang- pedang di kedua t angan Tee- t ok, dan begit u dia m enggerakkan kedua t angannya, t am paklah sinar- sinar bergulung dengan gerakan yang persis sepert i gerakan Tee- t ok yang m em ut ar sepasang pedangnya. Kem bali t erj adi pert andingan yang hebat , seru dan aneh. Berkali- kali t erdengar suara nyaring bert em unya pedang dengan t ongkat , nam un anehnya, t ongkat dari cabang pohon it u sam a sekali t idak dapat t erbabat put us, bahkan kedua t angan Tee- t ok selalu t erasa panas dan perih set iap kali pedangnya bert em u t ongkat ! Dengan t elit i Tee- t ok m em perhat ikan gerakan orang dan dia t erkej ut . Mem ang benar bahwa orang it u m ainkan j urus- j urus ilm u pedangnya! Dan bukan hanya m ainkan j urus ilm u pedangnya, bahkan t elah m endesaknya dengan t ekanan yang hebat karena orang it u j auh lebih lincah dan lebih kuat daripada dia. Lewat lim a belas j urus, Tee- t ok berseru, " Aku m engaku kalah! " Dia m eloncat m undur, m enyim pan pedangnya dan m engangkat t angan m enj ura ke arah orang it u sam bil berkat a, " Harap kau m enerim a penghorm at anku dengan Pek- lui- kun!" Kelihat annya saj a dia m em beri horm at dengan m engangkat kedua t angan ke depan dada, namun dari kedua telapak tangannya itu menyambar hawa pukulan maut yang m endat angkan hawa panas dan yang dapat m em bunuh lawan dari j arak t iga em pat meter tanpa tangannya menyentuh tubuh lawan! Itulah pukulan Pek- lui- kun(Kepalan Kilat ) yang m engandung t enaga sakt i yang am at kuat ! Orang it u sudah m elem par sepasang t ongkat pendeknya, sam bil t ersenyum dia pun m ej ura dengan gerakan yang sam a. Terj adilah adu t enaga yang t idak t am pak oleh m at a. Di t engah udara, diant ara kedua orang it u t erj adi bent uran t enaga dahsyat dan akibat nya m em buat Tee- t ok t erpent al ke belakang, t erhuyung dan dari m ulut nya m unt ah darah segar! Dia t idak t erluka hebat karena t enaganya Pek- lui- kun m em balik, hanya t erget ar hebat dan m ukanya m akin pucat . " Engkau hebat ! Aku bukan t andinganm u! " kat a Tee- t ok dengan j uj ur, dan m em andang dengan m at a t erbelalak penuh kagum dan j uga penasaran. " Engkau luar biasa sekali dan aku am at kagum kepadam u, sahabat ! " Gin- siauw Siucai berkat a sam bil m elangkah m aj u. " Aku t ahu bahwa agaknya aku pun bukan tandinganmu, akan tetapi hatiku penasaran sebelum melihat engkau m ainkan ilm u- ilm uku yang t ent u kauanggap m asih m ent ah pula. Aku adalah Gin- siauw Siucai dari Beng- san, senj at aku adalah suling dan pensil bulu ent ah kau bisa m ainkannya at au t idak." " Gin- siauw Siucai, sudah lam a aku m endengar nam am u yang t erkenal. Jangan khawat ir, aku t ent u saj a dapat m ainkan ilm um u. Dengan rant ing pendek ini aku m eniru sulingm u, dan aku pun m em iliki sebat ang pensil bulu." Orang it u m em ungut sebat ang rant ing yang panj angnya sam a dengan suling perak di t angan Gin- siauw Siucai, j uga dia m encabut keluar pensil bulu yang t adi dia pergunakan unt uk m encoret coret ket ika t uj uh orang t okoh sakt i it u sedang saling bert em pur. Akan t et api kalau pensil bulu di t angan Gin- siauw Siucai adalah pensil yang dibuat khas, bukan hanya unt uk m enulis akan t et api j uga dipergunakan sebagai senj at a sehingga gagangnya t erbuat dari baj a t ulen, adalah pensil di t angan orang it u hanyalah sebat ang pensil biasa saj a. Berkerut alis Gin- siauw Siucai. Orang itu dianggapnya terlalu memandang rendah kepadanya. Akan tetapi karena orang itu tersenyum- senyum dan m eniru m enggerak- gerakkan pensil dan " suling" di t angannya, dia lalu berkat a, " Apa boleh buat , engkau sudah m em peroleh kem enangan. Kalau kau kalah, orang akan m enyalahkan aku yang m enggunakan

31

Bu Kek Siansu
senj at a lebih kuat . Kalau aku yang kalah, engkau akan m enj adi m akin t erkenal, sungguhpun kam i belum t ahu siapa kau. Nah, m ulailah! " Siucai ini cerdik dan dia sengaj a m enant ang agar lawannya bergerak lebih dulu. Akan t et api orang it u t ersenyum dan sam bil m enggerakkan kedua senj at a ist im ewa it u berkat a, " Lihat baik- baik, Siucai. Bukankah ini j urus t eram puh dari suling dan pensilm u?" Kedua t angan orang it u bergerak dan Gin- siauw Siucai t erkej ut m engenal j urus- j urus m aut dari kedua senjatanya dimainkan oleh orang itu untuk menyerangnya! Tentu saja dia dapat m em ecahkan j urus ilm unya sendiri dan berhasil m enangkis kedua senj at a lawan, akan t et api sepert i j uga yang lain t adi, dia m erasa bet apa kedua lengannya tergetar hebat, tanda bahwa dalam hal sinkang, dia masih kalah jauh. Namun, Siucai ini m erasa penasaran sekali. Puluhan t ahun dia bert apa di Beng- san m encipt akan ilmu- ilm u silat t inggi yang dirahasiakan dan belum pernah diaj arkan kepada siapapun j uga. Bagaim ana sekarang t elah dicuri oleh orang ini t anpa dia m enget ahuinya? Dia m elawan m at i- m at ian, m engeluarkan j urus- j urus paling am puh dari kedua senj at anya, nam un karena kalah t enaga, set iap kali t ert angkis dia t erhuyung. Sepert i j uga yang lain dia t idak m am pu bert ahan lebih dari dua puluh j urus. Terdengar suara keras dan kedua senj at anya it u, suling dan pensil pat ahpatah bertemu dengan senjata lawan yang sederhana itu. Dia meloncat ke belakang, m enj ura dan berkat a, " Kepandaian Taihiap( Pendekar Besar) m em ang am at hebat , aku yang bodoh m engaku kalah." Orang it u t ersenyum dan m em uj i " Tidak percum a j ulukan Gin- siauw Siucai karena m em ang hebat kepandaianm u." Ucapan it u dengan j elas m enunj ukkan kekagum an, bukan ej ekan, m aka Gin- siauw Siucai m enj adi m akin kagum dan t erheran- heran. " Sekarang t iba giliran pint o unt uk kau kalahkan, sahabat yang gagah. Akan t et api karena sepasang senj at a pint o adalah hudt im dan kipas, yang t ent u saj a t idak dapat kaut iru, bagaim ana kalau kit a bert anding dengan t angan kosong? Hendak kulihat apakah kau m am pu m engalahkan pint o dengan ilm u silat t angan kosong pint o sendiri?" Orang it u m asih t ersenyum , akan t et api diam diam ia t erkej ut . Tak disangkanya t osu ini am at cerdik. Dia belum pernah m elihat t osu ni m ainkan ilm u silat t angan kosong, bagaim ana dia akan dapat m enirunya? Akan tetapi dengan tenang dia menjawab, "Tentu saja saya akan melayani kehendak Tot iang, akan t et api sebelum bert anding, saya harap Tot iang t idak keberat an unt uk m em perkenalkan nam a." " Siancai...! Anda licik, sobat . Sem ua orang hendak dikenal nam anya, akan t et api engkau sendiri m enyem bunyikan nam a. Baiklah, pint o adalah Lam- hai Seng- jin yang berkepandaian rendah..." "Aihh, kiranya Tocu (Majikan Pulau) dari pulau kura- kura? Telah lam a m endengar nam a Tot iang, girang hat i saya dapat bert em u dan berm ain- m ain sebent ar dengan Tot iang." " Nah, siaplah! " Lam - hai Seng- j in sudah m em asang kuda- kuda sam bil m em andang t aj am ke arah lawan karena dia ingin sekali t ahu apakah benar lawan ini akan dapat m enj at uhkan dia dengan ilm u silat nya sendiri! Diam - diam orang it u m em perhat ikan dan t ersenyum , lalu dia pun m em asang kuda- kuda yang sam a, kuda- kuda dari I lm u Silat Tangan Kosong Bian- sin- kun ( Tangan Kipas Sakt i) , sem acam ilm u silat yang berdasarkan sinkang t inggi sekali t ingkat nya sehingga t elapak t angan m enj adi halus sepert i kapas, nam un m engandung daya pukulan m aut yang dahsyat sekali. "Hiiaaattt t t t ....! ! " Tosu it u sudah m enerj ang dengan pukulan m aut nya. Tam pak olehnya lawannya mengelak cepat dengan gerakan aneh, sama sekali bukan gerakan ilm u silat nya, akan t et api bet apa kaget nya m elihat bahwa begit u m engelak lawan it u dalam det ik berikut nya sudah m enerj angnya dengan j urus yang sam a, j urus yang baru saj a dia pergunakan! Maklum akan hebat nya j urus ini, dia pun cepat m engelak unt uk m em ecahkan ilm unya sendiri, nam un harus diakui bahwa elakan orang t adi dengan gerakan aneh j auh lebih cepat dan bahkan sam bil m engelak orang it u dapat balas menyerang! Kembali Lam- hai Seng- jin menyerang dengan jurus lain yang lebih dahsyat , dan sepert i j uga t adi lawannya m eloncat dan t ahu- t ahu t elah m em balasnya dengan serangan dari j urus yang sam a! Tent u saj a dia dapat pula m enghindarkan

32

Bu Kek Siansu
diri dan m akin lam a dia m enj adi m akin penasaran. Dikeluarkan sem ua ilm u sim panan, j urus- j urus m aut dari Bian- sin- kun sam pai delapan j urus banyaknya. Sem ua j urus dapat dihindarkan orang it u dan t iba- t iba orang it u berseru, " Tot iang, jagalah serangan I lm u Silat Bian- sin- kun! " Dan dengan gencar kini orang it u m enyerangnya dengan j urus- j urus yang t adi sudah dikeluarkannya, delapan j urus paling am puh dari Bian- sin- kun. Karena gerakan orang it u cepat bukan m ain, Lam hai Sengj in sam a sekali t idak m endapat kan kesem pat an unt uk balas m enyerang sehingga dia t erancam dan t erdesak hebat oleh ilm u silat nya sendiri. Biarpun dia t ahu bagaim ana ut nuk m em ecahkan j urus- j urus serangan dari Bian- sin- kun, nam un karena kalah t enaga dan kalah cepat , akhirnya punggungnya kena dit am par dan dia t erpelant ing, m ukanya pucat dan dia harus cepat - cepat m engat ur pernafasannya agar isi dadanya t idak t erluka. " Siancai...engkau benar- benar seorang m anusia aj aib..." akhirnya dia berkat a sam bil bangkit perlahanlahan. " Lepaskan aku...! " t ibat iba t erdengar seruan halus dan sem ua orang m enengok ke arah Sin- t ong dan m elihat bet apa anak aj aib it u t elah dipondong oleh lengan kiri Kiam - m o Cai- li. " Hei, lepaskan dia! " Enam orang kakek sakt i m aj u berbareng. " Mundur! " Kiam - m o Cai- li membent ak dan m enem pelkan uj ung payung pedang di t angan kanan it u ke leher Sin Liong. " Mundur kalian, kalau t idak dia akan m at i! " Melihat ancam an ini, enam orang itu terpaksa melangkah mundur semua. Laki- laki aneh itu memandang dengan sinar m at a berkilat , kem udian dia m elangkah m aj u dan suaranya halus nam un penuh wibawa ket ika dia berkat a, " Kiam - m o Cai- li, lepaskan bocah yang t idak berdosa it u! " " Hi- hik, enak saj a kau. Mundur at au dia akan m am pus di uj ung payungku! " Dia m enem pelkan uj ung payung yang runcing it u ke leher Sin Liong yang t ak m am pu bergerak dalam pelukan lengan kiri yang kuat it u. Akan t et api, t idak sepert i enam orang kakek yang lain, laki- laki it u m asih t ersenyum dan m asih m elangkah m aj u, m em buat Kiam - m o Cai- li m undur- m undur dan dia berkat a, " Bocah it u t idak ada hubungan apa- apa dengan aku. Kalau kau bunuh dia, bunuhlah. Akan t et api dem i Tuhan, aku akan m enangkapm u dan akan m em berikan t ubuhm u kepada Beruang Es unt uk m enj adi m akanannya! " Berkat a dem ikian, laki- laki it u menanggalkan jubah luarnya. "Kau...kau..Pangeran Han Ti Ong...." "Pangeran Han Ti Ong...! " Para t okoh kang- ouw it u bert eriak. " Pangeran Pulau Es....! " Kiam - m o Cai- li yang t adinya sudah m erasa bahwa bocah aj aib it u t ent u dapat dibawanya, m enj adi m arah sekali. Dia m enj erit dengan lengking panj ang ram but nya m enyam bar ke depan, ke arah leher Pangeran Han Ti Ong, dan pedang payungnya j uga m eluncur dengan serangan yang dahsyat . Laki- laki it u, yang disebut Pangeran Han Ti Ong, tenang- t enang saj a, t idak m engelak ket ika uj ung ram but yang t ebal it u seperti seekor ular m em belit lehernya, akan t et api ket ika pedang payung berkelebat m enusuk, dia m enangkap payung it u dan sekali m enggeakkan t angan pedang payung it u dan sekali m enggerakkan t angan pedang payung it u m em babat put us ram but yang m elibat lehernya. Tangannya t idak berhent i sam pai di sit u saj a. Selagi Kiam- m o Cai- li m enj erit m elihat ram but yang dibanggakan dan andalkan it u put us setengahnya, kedua tangan Pangeran Han Ti Ong bergerak, dan tahu- tahu tubuh Sin Liong dapat diram pasnya set elah lebih dulu dia m enam par punggung wanit a iblis it u sehingga tubuh Kiam- mo Cai- li menjadi lemas dan seperti lumpuh! Dengan Sin Liong dalam pondongan lengan kirinya, kini Pangeran Han Ti Ong m em balik dan menghadapi tujuh orang itu, tidak mempedulikan Kiam- mo Cai- li yang mangeluh dan m erangkak bangun. " Apakah m asih ada diant ara kalian yang hendak m engganggu anak ini? Sekali ini aku t ent u t idak akan bersikap halus lagi! " " Siancai....! " Lam - hai Sian- j in m enj ura, " Harap Ong- ya m aafkan pint o yang t idak m engenal Ong- ya sehingga bersikap kurang aj ar." " Maafkan aku, Pangeran." " Maafkan saya..." Enam orang kakek it u m enggum am m aaf, hanya Kiam - m o Cai- li saj a yang t idak m int a m aaf, bahkan wanit a ini berkat a, " Pangeran Han Ti Ong, kau t unggu saj a, Kiam - mo Cai- li t idak biasa m em biarkan orang menghina tanpa membalas dendam!" "Hemmm,

33

Bu Kek Siansu
terserah kepadamu. Aku selalu berada di Pulau Es. Nah, pergilah kalian, orang- orang tua yang tak tahu diri, tega mengganggu seorang bocah." Dengan kepala menunduk, t uj uh orang t okoh kang- ouw yang nam anya t erkenal it u m eninggalkan Hut an Seribu Bunga. Karena m ereka m em pergunakan kepandaiannya, m aka hanya nam pak bayangan- bayangan m ereka berkelebat dan sebent ar saj a sudah lenyap dari t em pat it u. " Hem m m ...berbahaya..." Han Ti Ong m elepaskan Sin Liong dan m enghela napas panj ang sam bil m em andang bocah it u yang sudah berlut ut di depannya. " Locianpwe selain sakt i dan budim an j uga cerdik sekali..." Sin Liong berkat a m em uj i sam bil m em andang waj ah Pangeran it u dengan kagum . Han Ti Ong m engerut kan alisnya. " Hem m m , m engapa kau m engat akan dem ikian, t erut am a apa art inya kau m engat akan aku cerdik?" " Locianpwe m engalahkan m ereka, berart i Locianpwe sakt i sekali, Locianpwe m engam puni dan m em biarkan m ereka lolos, berart i Locianpwe budim an, dan Locianpwe t adi m encat at gerakan- gerakan m ereka dan kem udian m engalahkan m ereka dengan ilm u m ereka sendiri yang sudah Locianpwe cat at berart i Locianpwe cerdik sekali." Waj ah yang gagah it u berubah, m at a yang t aj am it u m em andang heran dan kagum , kem udian dia berkat a, " Wah, dalam kecerdikan, belum t ent u kelak aku dapat m elawanm u! Akal dan kecerdikan m em ang am at perlu unt uk m em pert ahankan hidup di dunia yang penuh bahaya ini. Tahukah engkau bahwa t anpa m enggunakan akal budi, m em anaskan hat i m ereka dengan m engalahkan m ereka dengan ilm u m ereka sendiri, kalau m ereka m aj u bersam a m engeroyokku, belum t ent u aku dapat m enang! Sekarang kau sudah bebas dari bahaya, nah, aku pergi...! " Melihat orang it u m em balikkan t ubuh dan m elangkah pergi dari sit u, Sin Liong m em andang ke arah m ayat sebelas orang dusun yang m asih m enggelet ak di sit u m aka dia berseru, " Locianpwe...." . Pangeran Han Ti Ong berhent i m elangkah dan m enoleh. Dia m erasa heran sendiri. Tidak biasa baginya unt uk m ent aat i perint ah orang kecuali suara ayahnya, raj a ket iga dari Pulau Es. Akan t et api, ada sesuat u dalam suara bocah it u yang m em buat dia m au t idak m au m enghent ikan langkahnya, lalu m enoleh dan bert anya, " Ada apa lagi?" Dengan m asih berlut ut Sin lI ong berkat a, " Locianpwe, sudilah kiranya Locianpwe m enerim a t eecu sebagai m urid." Han Ti Ong kini m em ut ar t ubuh dan m engham piri anak yang m asih berlut ut it u. " Bocah, siapa nam am u?" " Teecu She Kwa, bernam a Sin Liong. Dengan ringkas Sin Liong lalu m enut urkan t ent ang kem at ian ayah bundanya dan m engapa dia m elarikan diri dan bersem bunyi di hut an it u karena dia ngeri dan m uak m enyaksikan kekej am an m anusia dan m erasa m endapat kan t em pat yang t ent ram dan dam ai di t em pat it u. " Hem m , kau ingin m enj adi m uridku hendak m em pelaj ari apakah?" " Mem pelaj ari kebij aksanaan yang dim iliki Locianpwe dan t ent u saj a mempelajari ilm u kesakt ian." " Kalau kau hanya ingin belaj ar silat m engapa t adi kau m enolak ket ika para t okoh m enawarkan kepadam u agar m enj adi m urid m ereka? Mereka it u adalah t okoh- t okoh yang m em iliki kesakt ian hebat ." " Nam un t eecu m asih m elihat kekerasan di balik kepandaian m ereka. Teecu kagum kepada Locianpwe bukan hanya karena ilmu kesaktian, terutama sekali karena sifat welas asih pada diri Locianpwe." " Tapi kau hendak belaj ar silat , m au kaupakai unt uk apa? Bukankah kau lebih dibut uhkan dan berguna berada disini bagi penduduk sekit ar Jeng- hoa- san?" " Maaf Locianpwe. Tidak ada seuj ung ram but pun hat i t eecu unt uk m em pergunakan ilm u kesakt ian dalam t indakan kekerasan. Dan t idak t epat pula kalau kepandaian t eecu disini berguna bagi para penduduk. Bukt inya, t eecu hanya bisa m engobat i orang sakit , it u pun kalau kebet ulan j odoh, sedangkan sebelas orang ini, t ert im pa bahaya m aut sam pai m at i t anpa t eecu dapat m encegahnya sam a sekali. Andaikat a t eecu m em iliki kepandaian sepert i Locianpwe, apakah sebelas orang ini akan t ewas secara dem ikian m enyedihkan? Teecu kini m elihat bahwa m enolong orang t idak hanya m engandalkan ilm u pengobat an, j uga unt uk m enyelam at kan sesam a m anusia dari t indasan orang kuat yang j ahat , diperlukan kepandaian. Mohon Locianpwe sudi m em enuhi perm int aan t eecu." " Aku adalah seorang penghuni Pulau Es. Hidup disana

34

Bu Kek Siansu
t idaklah m udah dan enak, t idak sepert i disini. Kau akan m engalam i kesukaran, bahkan m enderit a dit em pat yang dingin it u." " Kesukaran apa pun akan t eecu t erim a dengan hat i rela, karena t iada hasil dapat dicapai t anpa j erih payah, Locianpwe." Han Ti Ong tersenyum. Memang dia sudah tertarik sekali melihat bocah yang dijuluki Sin- t ong ini. Bocah ini sam a sekali t idak m engkhawat irkan dirinya sendiri, m elainkan unt uk keselam at an orang lain yang lem ah. Selain it u, pandang m at anya yang t aj am dapat m elihat bahwa bocah ini m em ang benar- benar bocah aj aib, m em iliki ket aj am an ot ak dan pandangan yang luar biasa, j uga m em iliki darah dan t ulang bersih, bakat nya m alah j auh lebih besar daripada dia sendiri! Kalau t adinya dia t idak mau menerima bocah ini sebagai murid adalah karena dia merasa malu terhadap diri sendiri, karena kalau dia m engam bil anak ini sebagai m urid lalu apa bedanya ant ara dia dengan t uj uh orang yang dihalaunya pergi t adi. Akan t et api, m em ang ada bedanya sekarang set elah Sin Liong sendiri yang m engaj ukan perm ohonan agar dit erim a m enj adi m uridnya. " Kalau m em ang sudah bulat kehendakm u m enj adi m uridku, baiklah, Sin- Liong. Mari kauikut bersam aku, akan t et api j angan m enyesal kelak. Hayo! " Han Ti Ong kem bali m em balikkan t ubuhnya dan hendak m elangkah pergi. " Suhu, nant i dulu...! " Pangeran it u m engerut kan alisnya. Lagi- lagi dia m endengar pengaruh yang luar biasa di balik suara anak it u yang m em aksanya m enoleh! Dengan suara kesal dia berkat a, " Mau apa lagi?" " Maaf, Suhu. Teecu m ana bisa m eninggalkan sebelas buah m ayat it u disini begini saj a?" " Habis, apa m aum u?" " Teecu harus m engubur m ereka lebih dulu sebelum pergi." " Kalau aku m elarangm u?" Teecu t idak percaya bahwa Suhu akan sekej am it u, t eecu yakin akan kebaikan budi Suhu. Akan t et api andaikat a Suhu benar m elarang t eecu, t erpaksa t eecu akan m em bangkang dan t et ap akan m engubur m ayat m ayat ini." Sepasang m at a pangeran it u t erbelalak penuh keheranan. Anak berusia t uj uh t ahun sudah berani m em iliki pendirian sepert i bat u karang kokohnya. " Murid m acam apa kau ini? Belum apa- apa sudah siap m em bangkang t erhadap Guru! " " Teecu m enj adi m urid bukan m em but a, dan t eecu ingin m em pelaj ari ilm u yang baik. Kalau t eecu m ent aat i saj a perint ah Suhu yang t idak benar, sam a saj a dengan t eecu m enyeret Suhu ke dalam kesesatan." Mata Han Ti Ong makin terbelalak. Hampir dia marah, akan tetapi dia dapat m elihat apa yang t ersem bunyi di balik ucapan yang kelihat an kurang aj ar ini dan dia m engangguk- angguk. " Lakukanlah kehendakm u, aku m enunggu." "Terim a kasih! Teecu m em ang t ahu bahwa Suhu seorang sakt i yang budim an! " Dengan waj ah berseri Sin LI ong lalu m enggali lubang. Akan t et api karena dia hanya seorang anak kecil dan yang dipergunakan m enggali hanyalah sebat ang cangkul biasa yang kecil pemberian orang- orang dusun dan yang biasa dia pergunakan untuk m enggali dan m encari akar obat , m aka t ent u saj a m enggali sebuah lubang unt uk m engubur sebelas buah m ayat bukan m erupakan pekerj aan ringan dan m udah! Mula- m ula Han Ti Ong duduk di bawah pohon dan m elirik ke arah m uridnya it u yang bekerj a keras. Disangkanya bahwa t ent u bocah it u akan kelelahan dan akan berist irahat . Akan t et api dia kecele. Sin Liong bekerj a t erus biarpun kaki t angannya sudah pegal- pegal sem ua, dan keringat m em basahi seluruh t ubuh, m enet es dari dahinya dan kadang- kadang diusapnya dengan lengan baj u. Akan t et api dia t idak pernah berhent i bekerj a. Sudah set engah hari m encangkul, baru dapat m em buat lubang yang hanya cukup unt uk dua buah m ayat saj a. Kalau dilanj ut kan, agaknya unt uk dapat m enggali lubang yang cukup unt uk sem ua m ayat , ia harus bekerj a selam a dua hari dua m alam at au lebih! " Hem m , hat inya lem but t api kem auannya keras. Benar- benar bocah aj aib." Han Ti Ong m engom el sendiri dan dia lalu bangkit , diram pasnya cangkul dari t angan m uridnya dan t anpa berkat a apa- apa lagi dia lalu m encangkul. Gerakannya am at cepat sekali sehingga Sin Liong yang m undur dan m enont on m enj adi kabur pandangan m at anya karena seolah- olah t ubuh gurunya berubah m enj adi banyak, sem uanya m encangkul dan sebent ar saj a t elah terbuat sebuah lobang yang amat besar dan yang cukup untuk megubur sebelas buah mayat

35

Bu Kek Siansu
it u. Tent u saj a hat i Sin lI ong girang bukan m ain dan sat u dem i sat u diangkat , at au lebih t epat diseeret nya m ayat - m ayat it u, dim asukkan ke dalam lubang dan air m at anya bercucuran! Han Ti ong m em bant u m uridnya m engguruk at au m enut up lubang it u sehingga di t em pat it u, di depan gua t em pat t inggal Sin Liong, t erdapat sebuah kuburan yang besar sekali. " Sudahlah, sudah m at i dit angisipun t idak ada gunanya. Mari kita pergi!" Sin Liong merasa lengannya dipegang oleh gurunya dan di lain saat dia harus m em ej am kan m at anya karena t ubuhnya t elah " t erbang" dengan am at cepat nya m eninggalkan Gunung Jeng- hoa- san, ent ah kem ana! Akan t et api set elah m erasa t erbiasa, Sin Liong berani j uga m em buka m at anya dan dengan penuh kagum dia m elihat bahwa dia dikem pit oleh suhunya yang berlari cepat sepert i angin saj a. Dia m engenal pula t em pat dim ana suhunya m elarikan diri yait u ke sebelah t im ur Pegunungan Jeng- hoa- san. Tiba- t iba dia m elihat sesuat u, j uga hidungnya m encium sesuat u, m aka dia cepat berseru, " Suhu, harap berhent i dulu! " Han Ti Ong berhent i. " Ada apa?" " Suhu, disana it u..." Suara Sin Liong t erget ar dan ket ika Han Ti Ong m enoleh, dia pun m erasa j ij ik sekali. Yang dit unj uk oleh m uridnya it u adalah sekum pulan m ayat orang yang sudah m enj adi m ayat rusak dan bekasnya m enunj ukkan bahwa m ayat - m ayat it u t ent u diganggu oleh binat ang- binat ang buas sehingga berserakan kesana- sini. " Mau apa kau?" Han Ti Ong m em bent ak. " Suhu apakah kit a harus m endiam kan saj a m ayat- m ayat it u? Mereka adalah bekas- bekas m anusia sepert i kit a j uga. Kasihan kalau t idak diurus..." " Wah, kau m em ang gat algat al t angan ! Nah, hendak kulihat apa yang akan kau lakukan t erhadap m ereka?" Han Ti Ong m enurunkan Sin Liong dan dia sendiri lalu duduk diat as sebuah bat u dari t em pat agak j auh. Dia sungguh ingin t ahu apa yang akan dilakukan m uridnya it u t erhadap m ayat - m ayat yang sudah dem ikian m em busuk, bahkan dari t em pat dia duduk pun tercium baunya yang hampir membuatnya muntah. Dengan langkah lebar Sin Liong m engham piri m ayat - m ayat it u, sedikit pun t idak kelihat an j ij ik at au segan. Kem udian, diikut i pandang m at a Han Ti Ong yang t erheran- heran bocah it u m ulai m enggali t anah dengan hanya m enggunakan sebat ang pisau kecil, pisau yang biasanya dipergunakan unt uk m em ot ong- m ot ong daun dan akar dan yang agaknya t ak pernah t erpisah dari saku baj unya. Anak it u hendak m enggali lubang unt uk m engubur dua belas buah m ayat busuk it u hanya dengan m enggunakan sebat ang pisau kecil! Hampir saja Han Ti Ong tertawa tergelak saking geli hatinya, juga saking girangnya m endapat kenyat aan bahwa m uridnya ini benar- benar seorang bocah aj aib yang m em punyai pribadi luhur dan waj ar t anpa dibuat - buat ! Dengan kagum dia m eloncat bangun, lari m engham piri yang t elah m enggali lubang beberapa sent im et er dalam nya. " Cukup Sin Liong. Lubang it u sudah cukup lebih dari cukup unt uk m engubur m ereka." " Ehhh...? Mana m ungkin, Suhu...? " Ha, kau m asih m eragukan kelihaian suhum u? Lihat baik- baik! " Han Ti Ong lalu m engeluarkan sebuah bot ol dari saku j ubahnya, m enggunakan uj ung sepat unya m encongkel mayat- m ayat it u m enj adi set um pukan barang busuk, dan dia m enuangkan benda cair berwarna kuning dari dalam bot ol ke at as t um pukan m ayat . Tam pak uap m engepul dan t um pukan m ayat it u m encair, dalam sekej ap m at a saj a lenyaplah t um pukan m ayat it u karena sem ua, berikut t ulang- t ulangnya, t elah m encair dan cairan it u m engalir ke dalam lubang yang t adi digali Sin Liong. Benar saj a, cairan it u m em asuki lubang dan m eresap ke t anah, t ent u saj a lubang it u sudah lebih dari cukup unt uk m enam pung cairan it u. Dengan m at a t erbelalak penuh kagum , Sin Liong lalu m enguruk lagi lubang it u dan berlut ut di depan kaki suhunya, " Suhu, t erim a kasih at as bant uan Suhu. Suhu sungguh sakt i dan budim an." " Aahhh....! " Muka Han Ti Ong m enj adi m erah dan dia m engeluarkan seruan it u unt uk m enut upi rasa m alunya. Mana bisa dia disebut budim an kalau m engubur m ayat - m ayat it u bukan t erj adi at as kehendaknya, m elainkan dia " t erpaksa" oleh m uridnya? " Kalau aku t idak salah lihat , m ereka ini adalah pendekar- pendekar gagah. Sungguh kem at ian yang m enyedihkan dan ent ah siapa yang dapat m em bunuh m ereka.

36

Bu Kek Siansu
Mereka kelihat an bukan orang- orang sem barangan yang m udah dibunuh. Mari kit a pergi, Sin Liong! " Kem bali m urid it u dikem pit nya dan Pangeran Sakt i it u m enggunakan ilm u berlari cepat sepert i t adi, m elanj ut kan perj alanan ke t im ur m enuruni Pegunungan Jeng- hoa- san. Tak lam a kem udian, kem bali Sin Liong yang dikem pit ( dij epit di bawah lengan) berseru, " Haiii Suhu, harap berhent i dulu...! " Han Ti Ong m enj adi gem as. Akan t et api dia berhent i j uga m enurunkan bocah it u dari kem pit an di bawah ket iaknya. " Mau apa lagi kau? Awas, kalau t idak pent ing sekali, aku akan m arah! " " Lihat disana it u, Suhu. Tidak pat ut kah kit a m enolong orang yang sengsara it u? Siapa t ahu dia j uga sudah m at i disana..." Tanpa m enant i j awaban suhunya, Sin Liong sudah lari m engham piri sesosok t ubuh yang m enggelet ak di bawah pohon t ak j auh dari sit u. Tubuh it u t idak bergerak- gerak, akan t et api dari t em pat ia berdiri, Han Ti Ong m engert i bahwa orang it u belum t ewas, agaknya pingsan at au t ert idur saj a. Dia t ersenyum dan m elihat m uridnya sudha m enj at uhkan diri berlut ut di depan orang it u. Bet apa kaget nya ket ika dia m endengar t eriakan m uridnya, " Eihh, Suhu! Dia seeorang wanit a! " Han Ti Ong t erheran. Dia lalu m eloncat ke arah m uridnya dan m elihat bet apa t iba- t iba orang yang disangkanya pingsan it u sudha m eloncat bangun dan langsung m em ukul kepala Sin Liong dengan kekuat an dahsyat . " Wuuut t t ........... plakkk! Augghhh....! ! " Wanit a yang m ukanya kot or m at anya m erah dan ram but nya awut awut an it u m enj erit ket ika pukulannya t ert angkis oleh lengan Han Ti Ong yang am at kuat . Dia t erhuyung ke belakang, sej enak m em andang Han Ti Ong dan Sin Liong, kem udian m enangis t ersedu- sedu dan bergulingan diat as t anah m enangis sepert i seorang anak kecil. " Jangan....aughhh, j angan....lepaskan aku....lepaskan ...! Jangan bunuh m ereka...! " Sin Liong t ert egun dan m em andang penuh kasihan. Juga Han Ti Ong m em andang penuh kasihan. Juga Han Ti Ong m em andang dengan t erharu, m aklum bahwa dia berhadapan dengan seorang wanit a yang berot ak m iring! " Toanio( Nyonya) , kau kenapakah...? Sin Liong m elangkah ke depan. Tiba- t iba wanit a it u m eloncat bangun dan Han Ti Ong sudah siap m elindungi m uridnya yang sam a sekali t idak kelihat an takut itu. Akan tetapi wanita itu lalu tiba- tiba tertawa terkekeh. "Hi- hi- hi- hikk!" Aneh sekali, ket ika wanit a it u t ert awa, Han Ti Ong m elihat waj ah yang am at cant ik m anis! Wanit a it u adalah seorang gadis m uda yang am at cant ik, akan t et api yang ent ah m engapa t elah m enj adi gila. Pakaian yang dipakainya adalah pakaian pria yang t erlalu besar, ram but nya yang hit am panj ang it u riap- riapan t idak diurus, m ukanya kot or t erkena debu dan air m at a, m at anya m erah dan m em bengkak. " Hi- hi- hik, kubunuh engkau, Pat - j iu Kai- ong, aku bersum pah akan m em bunuhm u untuk m em balas kem at ian dua belas orang Suhengku! " Kem udian dia m enangis lagi. " Huhu- huuuuuh.... Cap- sha Sin- hiap dari Bu- tong- pai habis t erbasm i...." Han Ti Ong t erkej ut dan t eringat lah dia akan nam a Tiga Belas Orang Pendekar Bu- tong- pai yang am at t erkenal sebagai t iga belas orang pendekar gagah perkasa pem bela keadilan dan kebenaran, t eringat pula bahwa m ereka t erdiri dari dua belas pria dan seorang wanit a, kalau t idak salah, saudara t erm uda. " Nona, apakah engkau orang t erm uda dari Cap- sha Sin- hiap dari Bu- tong- pai?" t anyanya sam bil m elangkah m aj u m engham piri wanit a gila it u. " Jangan sent uh aku! Manusia t erkut uk, j angan sent uh aku lagi! " Dan t iba- t iba wanit a it u m enyerang dengan hebat nya. Han Ti Ong menangkis dan menotok. Robohlah wanita itu, roboh dalam keadaan lemas tak dapat bergerak lagi. " Suhu, m engapa....?" Sin Liong bert anya penasaran. " Bodoh, kalau t idak kut ot ok, t ent u dia akan m engam uk t erus. Coba kauperiksa dia, apakah kau bisa m engobat inya?" Sin Liong berlut ut dan m elihat wanit a it u hanya m elot ot t anpa m am pu bergerak. Set elah m em erikasa sebent ar, dia m enarik napas panj ang. " Suhu, dia t erkena pukulan bat in yang am at berat , m em buat dia m enj adi begini, berubah ingat annya. Kalau kit a berada di Jeng- hoa- san, kiranya dapat t eecu m encarikan daun penenang ut nuk m engobat inya." " Hem m , kau lihat lah Gurum u m encoba unt uk m engobat inya." Han Ti Ong m egeluarkan sebat ang j arum em as dari sakunya,

37

Bu Kek Siansu
set elah m em bersihkan uj ungnya dia lalu m engaham piri wanit a it u dan m enusukkan j arum em asnya di t iga t em pat , di t engkuk kanan kiri dan ubun- ubun! Sin Liong m em andang dengan m at a t erbelalak. Dia sudah m endengar dari ayahnya t ent ang kepandaian orang m engobat i dengan t usukan j arum , akan t et api sekarang dia m enyaksikannya. Dan wanit a it u baru m engeluh lalu t ert idur dengan pernapasan yang panj ang dan t enang. Ket ika gurunya m encabut j arum dan m enyim pannya, gurunya berkat a, " Coba kau periksa lagi m at anya, apakah sudah ada perubahan?" Sin Liong m em buka pelupuk m at a dan m eihat bahwa m at a wanit a it u yang t adinya m engeluarkan sinar aneh yang liar, kini t elah norm al kem bali. Dia cepat m enj at uhkan dirinya berlut ut di depan Suhunya. " Suhu, t eecu sepert i but a, t idak t ahu bahwa Suhu adalah seorang ahli pengobat an pula." " Hem m , dalam hal m engenal t et um buhan obat , m ana aku m am pu m enandingim u? Akan t et api aku m em punyai kepandaian m enusuk j arum , kepandaian t urunan yang t ent u kelak akan kuaj arkan kepadam u." " Suhu, t eecu m engaj ukan sebuah perm ohonan, harap Suhu t idak keberat an." " Hem m , apa lagi?" " Harap Suhu suka m enolong wanit a m alang ini, dan m em biarkan dia ikut dengan kit a." " Kau..............kau gila.......?" " Suhu, dia belum sem buh benar. Kalau dia dibiarkan disini, lalu dat ang orang j ahat , bagaim ana?" " Ha, kau t idak usah khawat ir. Dia adalah orang t erm uda dari Cap- sha Sin- hiap, ilm u kepandaiannya t inggi. Siapa berani m engganggunya?" " Bukt inya, dua belas orang suhengnya t ewas dan t ent u m ereka it u adalah m ayat - m ayat yang t adi kit a kubur. Agaknya yang m em bunuh adalah Pat - j iu Kai- ong. Selain it u, kalau dia teringat akan peristiwa itu sebelum sembuh benar, tentu dia akan kumat gilanya dan apakah Suhu t ega m em biarkan dia sepert i it u?" Han Ti ong m em andang waj ah wanita yang bukan lain adalah The Kwat Lin itu. Dia terheran sendiri mengapa wajah yang kot or dan ram but yang kusut it u m endat angkan rasa iba yang luar biasa di hat inya? Mengapa dia m erasa t ert arik dan ingin sekali m enolong wanit a m uda ini? Apakah dia sudah " Ket ularan" wat ak m uridnya, at aukah... at aukah...? Dia t idak berani m em bayangkan. Selam a ini hanya ist erinya seoranglah wanit a yang m enarik hat inya, yang m em bangkit kan gairahnya, akan t et api perem puan gila ini.. ent ah m engapa, t elah m em buat dia t ert arik dan kasihan sekali. " Sudahlah, kau m em ang cerewet , dan kalau t idak kut urut i, t ent u kau rewel t erus. Biar kit a m em bawa bersam a ke Pulau Es, kit a lihat saj a nant i bagaim ana perkem bangannya." Ucapan t erakhir ini sepert i dit uj ukan kepada hat inya sendiri! " Teecu t ahu, Suhu adalah seorang yang budim an." Dengan hat i m engkel karena ucapan m uridnya it u sepert i ej ekan kepadanya karena dia m au m enolong dara ini sam a sekali bukan karena dia budim an, m elainkan karena dia kasihan dan t erut am a sekali... t ert arik hat inya, dengan kasar dia lalu m engem pit t ubuh wanit a it u di bawah ket iak kanannya, dan m enyam bar t ubuh Sin Liong di bawah ket iak kirinya dan larinya Pangeran yang sakt i ini secepat t erbang m enuj u ke pant ai laut an. Siapakah sebet ulnya m anusia sakt i yang dit akut i oleh t uj uh orang t okoh kang- ouw it u? Siapakah Pangeran Han Ti Ong yang pada bagiaan dada baj unya t erdapat lukisan burung Hong dan seekor Naga emas it u? Dia adalah pangeran dari Pulau Es. Pulau ini m erupakan pulau rahasai yang hanya dikenal orang kang- ouw sepert i dalam dongeng karena t idak pernah ada orang yang berhasil m enem ukan pulau it u kecuali beberapa orang nelayan yang perahunya diserang badai dan m ereka ini dit olong oleh m anusia- m anusia sakt i, m anusia yang m enj adi penghuni Pulau Es, sebuah pulau dari es dim ana t erdapat ist ana indah dan m erupakan sebuah keraj aan kecil penuh dengan orang sakt i. Set elah dit olong dan diselam at kan, dan berhasil kem bali ke darat an, para nelayan inilah yang m em buat cerit a sepert i dongeng it u sehingga nam a sebut an Pulau Es t erkenal di dunia kang- ouw. Keraj aan di Pulau Es it u dibangun oleh seorang pangeran, rat usan t ahun yang lalu. Seorang pangeran yang am at sakt i, seorang pangeran yang dianggap pem beront ak karena berani m enent ang kehendak kaisar, dan pangeran ini bersam a keluaraganya m enj adi pelariaan. Dengan kesakt iannya,

38

Bu Kek Siansu
dia berhasil m elarikan keluarganya ke pant ai t im ur dan m enggunakan sebuah perahu ut nuk m encari t em pat baru. Tuj uannya adalah ke pulau di t im ur di m ana dahulu sudah banyak orang- orang pandai dari darat an yang m elarikan diri dan m enj adi buronan karena berani m enent ang pem erint ah, yait u Kepulauan Jepang! Akan t et api dia t ersesat j alan, perahunya dilanda badai hebat dan perahunya dibawa j auh ke ut ara sam pai kem udian perahu it u m endarat di sebuah pulau. Pulau Es! Melihat pulau it u t ersem bunyi, baik sekali dij adikan t em pat persem bunyiannya, dan di sekit ar sit u t erdapat pulau- pulau lain yang t anahnya cukup subur, m aka pangeran pelarian ini m engam bi keput usan unt uk m enj adikan Pulau Es sebagai t em pat t inggalnya. Dia lalu m engum pulkan orang- orang yang set ia kepadanya, m em bawa mereka ke Pulau Es menjadi pengikut- pengikutnya. Dibangunnya sebuah istana yang kecil nam un indah di Pulau it u dan berdirilah sebuah keraj aan kecil di t em pat t erasing ini! Berkat kebij aksanaan Raj a Pulau Es ini, para pengikut nya dan keluarga raj a hidup am an t ent ram dan penuh kebahagiaan di Pulau Es. Para keluarganya hidup rukun dan para pengikutnya membentuk keluarga- keluarga sehingga penghuni pulau it u berkem bang biak. Karena kesakt ian raj anya, dan karena let ak pulau it u yang sukar dikunj ungi orang luar, m aka keraj aan kecil ini t idak pernah t erganggu. Raj a it u m ewariskan kepandaiannya kepada ket urunannya, m erupakan ilm u- ilmu warisan yang hebat , dan t ent u saj a para pengikut m ereka m endapat pula pelaj aran ilmu yang tinggi. Pangeran Han Ti Ong adalah keturunan ke empat dari raja pertama di Pulau Es. Pangeran ini berbeda dengan ket urunan raj a yang sudah- sudah. Kalau sem ua ket urunan raj a hidup di Pulau Es dan hanya m eninggalkan pulau kalau m ereka ada keperluan di pulau- pulau kosong sekit ar daerah it u unt uk m engam bil daun obat , sayur- sayuran at au berburu binat ang, m aka Pangeran Han Ti Ong t idak betah t inggal di t em pat sunyi it u. Dia sering kali pergi dari pulau dan diam - diam dia m elakukan perant auan di darat an! Dia adalah orang yang paling banyak m ewarisi ilm u nenek m oyangnya sehingga dia adalah orang t erpandai diant ara para keluarga raja di Pulau Es. Apalagi karena dengan kesukaannya merantau di daratan, dia dapat m engam bil banyak ilm u- ilm u silat t inggi yang lain dari darat an sehingga kepandaiannya bert am bah. Dan gara- gara perant auan Pangeran inilah m aka Pulau Es m enj adi m akin t erkenal dan nam a Pangeran Han Ti Ong sendiri j uga m enggem parkan dunia kang- ouw sungguhpun dia j arang sekali m em perkenalkan diri. Melihat baj unya yang t erhias gam baran naga dan burung Hong it u saj a sudah cukup bagi para t okoh kang- ouw unt uk m engenal m anusia sakt i dari Pulau Es ini, seperti peristiwa yang terjadi di Hutan Seribu Bunga ketika Pangeran ini menghadapi t uj uh orang t okoh besar dunia kang- ouw. Para Pangeran yang sudah- sudah, selalu m engam bil ist eri dari keluarga keraj aan sendiri, yait u saudara- saudara m isan m ereka sendiri. Hal ini adalah unt uk m enj aga agar " darah" keraj aan t et ap " asli" . Akan t et api, berbeda dengan sem ua kebiasaan para pangeran, Han Ti Ong yang j at uh cint a kepada seorang dara put eri penghuni Pulau Es biasa, berkeras m engam bil dara it u sebagai ist erinya! Padahal biasanya, dara- dara yang berdarah "biasa" ini hanya diambil sebagai selir- selir oleh para pangeran dan raja. Akan tetapi, Pangeran Han Ti Ong t idak m au m engam bil selir dan hanya m em punyai seorang ist eri, yait u anak nelayan yang m enj adi pengikut keluarga raj a, seorang dara biasa saj a, nam un yang sesungguhnya m em iliki kecant ikan yang m engat asi kecant ikan para put eri raj a! Dari ist eri t ercint a ini, Pangeran Han Ti Ong m em punyai seorang put eri yang pada wakt u it u berusia enam t ahun, seorang anak perem puan yang m ungil, cant ik, keras hat i sepert i ayahnya dan gem bira sepert i ibunya. Anak ini diberi nama Han Swat Hong(Angin Salju) ini diambil oleh Pangeran Han Ti Ong untuk m enam akan put erinya karena ket ika put erinya t erlahir, Pulau Es dilanda angin dan salj u yang am at kuat ! Pada pagi hari it u Swat Hong, nak perem puan berusia enam t ahun lebih it u, duduk bengong di t epi pant ai Pulau Es. Dia sengaj a m em ilih t em pat sunyi yang agak t inggi ini unt uk m elihat j auh ke selat an, dan hat inya penuh rindu

39

Bu Kek Siansu
t erhadap ayahnya yang sudah pergi selam a t iga bulan it u. " Hong- j i ( Anak Hong) ..." Swat Hong m enoleh dan m elihat bahwa yang m em anggil t adi adalah ibunya, dia lalu m eloncat bangun, lari m engham piri ibunya, m eloncat dan m erangkul leher ibunya dan m enangis. I bunya t ert awa. : Aih- aihhh... anakku yang biasanya periang t ert awa m engapa m enangis? Mengapa bulan yang berseri gem bira m enj adi suram ? Awan hit am apakah yang m enghalanginya?" " I bu, kau...kau kej am ! " " I hh! I bum u kej am ? Mungkin kalau sedang m enyem belih ikan at au ayam . Akan t et api ibum u t idak kej am t erhadap m anusia." Mem ang wat ak Liu Bwee, ibu anak it u, at au ist eri Pangeran Han Ti Ong adalah lincah gem bira yang m enurun pula kepada Swat Hong. " I bu kej am , m engapa I bu t idak berduka? Apakah I bu t idak rindu kepada Ayah?" Tiba- t iba m uka wanit a it u m enj adi m erah sekali dan t erasa lagi dua t it ik air m at a m eloncat t urun ke at as pipinya. Melihat ini, Swat Hong m elorot t urun dan bert epuk- t epuk t angan, " Hihi, I bu m enangis! I bu j uga rindu kepada Ayah? Hayoh, I bu sangkal kalau berani! " Mem ang wat ak anak- anak, begit u m elihat orang lain berduka, dia sendiri lupa akan kedukaanya dan merasa terhibur! Ibunya berlutut, memeluk dan menciuminya, akan t et api m asih bercucuran air m at a. Swat Hong yang t adinya berbalik m enggoda ibunya yang dianggapnya rindu kepada ayahnya sepert i j uga dia t adi, kini m enj adi t erheran dan berkhawat ir. " I bu, m engapa ibu berduka? Apa yang t erj adi? Apakah diam- diam ibu begit u m erindukan Ayah dan m enyem bunyikannya saj a?" Liu Bwee m em aksa diri t ersenyum dan m enghapus air m at anya, m engangguk- angguk sebagai j awaban karena m asih sukar baginya unt uk m engeluarkan suara t anpa t erisak m enangis. Akan t et api put erinya it u adalah seorang anak yang am at cerdik, m aka t ent u saj a t idak dapat dibohonginya sem udah it u. " I bu ada apakah? Harap I bu berit ahu kepadaku, siapa yang m enyusahkan hat i I bu? Akan kuhaj ar dia! " Swat Hong m engepal kedua t inj unya yang kecil seolah- olah orang yang m enyusahkan hat i ibunya sudah berada disit u dan akan dihant am nya. Melihat sikap anaknya ini, hat i Liu Bwee terharu sekali dan ingin dia menangis lagi, akan tetapi ditekannya perasaan harunya dan dia t ert awa. " Aih, Hong- j i, kalau ada yang kurang aj ar kepada ibum u, apakah I bum u t idak dapat m enghaj arnya sendiri?" Swat Hong t ert awa. " Mem ang aku t ahu bahwa kepandaian I bu j uga hebat , biarpun t idak sehebat Ayah, akan t et api t idak puas kalau aku t idak m enghaj ar dengan kedua t anganku sendiri kepada orang yang m enyusahkan hat i I bu." " Anakku yang baik...! " Unt uk m enekan harunya, LI u Bwee m engangkat t ubuh anaknya, dipeluk, dicium inya kem udian dia m em bent ak, " Terbanglah! " dan m elem par t ubuh anak it u ke at as. Swat Hong bersorak gem bira. I t ulah sebuah diant ara perm ainan m ereka. Dia senang sekali kalau dilem par ke udara oleh I bunya, t erut am a kalau ayahnya yang m elakukannya karena lem paran ayahnya m em buat t ubuhnya " t erbang" t inggi sekali. Nam un kini lem paran ibunya cukup m enggem birakan hat inya karena biarpun I bunya t idak sekuat ayahnya, lem parannya cukup m em buat t ubuhnya m elam bung t inggi m elewat i puncak pohon! Ket ika t ubuhnya m elayang t urun, ibunya sudah siap m enyam but nya, akan t et api dasar anak nakal, dia m enggunakan kesem pat an ini unt uk berlat ih! Dia cepat m em balikkan t ubuh sehingga kedua kakinya diat as dan cepat dia m enggunakan kedua t angannya unt uk m enyerang ibunya, m encengkram ke arah ubun- ubun. I t ulah j urus t erakhir yang dilat ihnya dari ayahnya yang seharusnya dilakukan dengan loncat an ke at as dan m enyerang ubun- ubun kepala lawan, akan t et api kini dilakukannya ket ika dia m elayang t urun! " Haaiiiit ...! ! " Unt uk m em peringat kan ibunya, Swat Hong m enj erit sebelum m enyerang. Tent u saj a Liu Bwee t idak perlu diperingat kannya lagi. Sem enj ak m enj adi ist eri Pangeran Han Ti Ong, wanit a put eri nelayan yang t ent u saj a sepert i sem ua penghuni Pulau Es t elah m em iliki dasar ilm u silat t inggi, t elah digem bleng oleh suam inya dengan ilm u- ilm u sim panan yang t inggi sehingga dia m enj adi seorang yang sakt i sepert i sem ua keluarga keraj aan it u. Melihat kegem biraan put erinya, dia pun cepat m engelak, dari sam ping dia m enyam bar kedua lengan anaknya dan dengan bent akan nyaring kem bali t ubuh

40

Bu Kek Siansu
anaknya dilemparkan ke atas! Tubuh itu melayang tinggi dan tiba- tiba dari atas Swat Hong bert eriak girang, " Heiii, I bu... it u Ayah dat ang....! ! " Mendengar ini, Liu Bwee cepat lari kepinggir t ebing t inggi dan m em andang ke laut . Waj ahnya berseri- seri, j ant ungnya berdebar karena penuh rindu kepada suam inya. Benar saj a. Tam pak sebuah perahu dan dia m udah m engenal suam inya yang m endayung perahu it u dengan kekuat an dahsyat sehingga perahu kecil m eluncur sepert i seekor ikan hiu yang m arah. Akan t et api alis wanit a ini berkerut ket ika dia m elihat dua orang lain di dalam perahu. Seorang wanit a m uda yang cant ik! Hat inya t erasa t idak enak. Dia t idak akan m engikat suam inya, dan sebagai seorang ist eri pangeran calon raj a t ent u saj a dia m aklum bahwa suam inya berhak m engam bil selir- selir sebanyaknya. Akan t et api ent ah m engapa, kedat angan suam inya dengan dua orang it u, t erut am a seorang wanit a cant ik, m endat angkan rasa gelisah yang aneh didalam hat inya. " I buuuu.....t olong dulu aku...........! " JI LI D 4 Teriakan Swat Hong ini m engej ut kan hat inya. Dia m enengok dan m elihat t ubuh anaknya m eluncur t urun. Dia kaget dan baru sadar bahwa ket egangan m endengar suam inya pulang m em buat dia lupa kepada put erinya. Sungguhpun Swat Hong t elah m em iliki ginkang yang cukup baik akan t et api m eluncur t urun dari t em pat t inggi sepert i it u ada bahayanya pat ah at au set idaknya salah urat . Unt uk m eloncat sudah t idak ada wakt u lagi, m aka cepat dia m enyam bar sebuah rant ing kayu di dekat kakinya, m elont arkan kayu it u dengan t epat m elayang di bawah kaki Swat Hong dan anak ini j uga idak m enyianyiakan pert olongan ibunya. Dia m enginj ak kayu it u dan t enaga luncuran kayu it u dapat m enahan dan m engurangi t enaga luncuran t ubuhnya sendiri dari at as sehingga dia dapat m eloncat kebawah dengan am an. Sepert i t idak pernah m engalam i bahaya apa- apa, anak it u lalu lari ke arah ibunya dan bert eriak girang, " Ayah dat ang, I bu?" I bunya hanya m engangguk t anpa m enoleh, t et api m em andang ke arah perahu yang m akin m endekat pant ai. " Heii, Ayah bukan dat ang sendiri! Ada seorang wanit a dan anak laki- laki bersam a ayah di dalam perahu! " Liu Bwe t et ap t idak m enj awab akan t et api m em andang t aj am penuh selidiki ke arah perahu. " Wah, j angan- j angan it u selir dan put era..ayah! " Swat Hong yang m em ang berwat ak t erbuka it u berkat a m engom el. Dia pun sudah t ahu akan kebiasaan para pangeran unt uk m engam bil selir, maka dia tidak akan merasa heran pula kalau ayahnya juga mempunyai selir di luar pulau Es, biar pun hat inya m erasa t idak senang dan penuh iri m em andang kepada anak laki- laki di dalam perahu it u. Mendengar ucapan yang t anpa disengaj a oleh Swat Hong m erupakan benda t aj am m enusuk hat inya it u, Liu Bwee m enj awab, Perem puan it u m asih t erlalu m uda unt uk m enj adi ibu anak laki- laki it u, Sungguhpun bukan t idak m ungkin dia adalah selir Ayahm u karena dia m em ang cant ik." Jawaban ini keluar dari lubuk hat i Liu Bwee sehingga keluar m elalui m ulut nya sepert i t idak disadarinya. Barulah dia kaget ket ika kalim at it u t elah t erucapkan. Cepat dia m enoleh ke arah put erinya dan m erasa m enyesal t elah m engeluarkan kat akat a yang penuh cem buru t adi. Segera digandengnya t angan anaknya dan unt uk m engapus kata- katanya dari hati anaknya dia berkata riang, "Ehh, kenapa kita disini saja? Hayo kit a sam but Ayahm u! " Berlarilarianlah m ereka m enuruni t ebing unt uk m enyam but kedat angan Pangeran Han Ti Ong di pant ai pasir. Sikap wanit a yang penuh kegem biraan ini m enyem bunyikan sem ua perasaanya sehingga Swat Hong sudah lupa lagi akan kedukaan ibunya t adi. Sebenarnya, m em ang am at giranglah hat i Liu Bwee melihat kembalinya suaminya sungguhpun kegembiraanya itu akan lebih besar andai kat a suam inya pulang sendirian saj a. Sem enj ak suam inya pergi beberapa bulan yang lalu dia m engalam i penderit aan bat in yang hebat . Mem ang dia m aklum bahwa dirinya t idak disukai oleh keluarga keraj aan, karena dianggap seorang wanit a berdarah rendah. Kebencian keluarga it u m enj adi- j adi ket ika m endapat kenyat aan bet apa Han Ti Ong t idak m au m engam bil selir.Hal ini dianggap oleh m ereka Bahwa Liu Bwee m enggunakan daya upaya unt uk m engikat suam inya! . Apalagi karena Liu Bwee t idak m em punya anak laki- laki, m aka kebencian m ereka m akin bert am bah.

41

Bu Kek Siansu
Sudah t ent u saj a, yang m erasa paling benci adalah m ereka yang m engharap agar Han Tiong pangeran calon raj a it u m em perist rikan put eri m ereka! Pada wakt u it u, raj a yang sudah t ua m enderit a sakit dan sudah m enj adi dugaan um um bahwa usianya t akan bert ahan lam a lagi. Agaknya raj a it u hanya m enant ikan kem balinya put eranya yang m enj adi put era m ahkot a, yait u pangeran Han Ti Ong unt uk m ewariskan singasana kepada put eranya ini. Akan t et api, karena keadaan Han Ti Ong yang lain daripada para pangeran lain, suka m erant au, ist erinya orang rendah dan hanya sat u, t idak punya selir, t idak punya put era, m aka Liu Bwee m aklum bahwa di ant ara keluarga raj a t erdapat persekut uan yang m enent ang diangkatnya suam inya m enj adi calon raj a! Hal inilah yang m endukakan hat inya. Dia m enganggap bahwa dirinya m enj adi penghalang Bagi suam inya dan hal inilah yang paling m erusak hat inya. Maka dapat dibayangkan bet apa gem bira hat inya m elihat suam inya pulang! Ket ika ibu dan anak ini t iba dipant ai, t ernyat a pasukan kehorm at an t elah berbaris dan siap m enyam but pulangnya pangeran yang dihorm at i it u. Tent u saj a Liu Bwee dan Swat Hong m endapat t em pat kehorm at an paling depan dan ket ika akhirnya perahu it u m enem pel dipant ai dan Han Ti Ong m elom pat keluar sam bil t ersenyum lebar, Swat Hong m enj adi orang pert am a yang berlar i m enyam but . " Ayah....! ! " " Ha- ha, Hong- j i, kau m akin cant ik saj a! " Han Ti Ong m enerim a put erinya it u dan m engangkat nya t inggit inggi, lalu m elem parkan t ubuh anaknya keudara. Sam bil t ert awa- t awa Swat Hong m elayang t urun dan langsung m enyerang ayahnya dengan j urus Kek- seng- jip- hai ( Bint ang Terom pet Meluncur ke Laut ) sepert i yang dilakukanya kepada ibuya t adi. " Ha- ha- ha, bagus j uga! " Ayahnya t ert awa, m enyam bar kedua lengan yang m encengkram ubun- ubunnya, lalu m em ondong put erinya, dan m encium dahinya. Sam bil m em ondong put erinya Han Ti Ong m engham piri ist rinya yang sudah m aj u m enyam but nya, m em andang penuh kem esraan dan berkat a halus, Harap kau baik- baik saj a selam a aku pergi." Liu Bwee m em andang suam inya, t ersenyum akan t et api di balik senyum it u t am pak oleh Han Ti Ong ada sesuat u yang m enggelisahkan hat i ist rinya, apalagi ket ika m endengar suara ist rinya lirih. " Ayahanda raj a sedang m enderit a sakit parah." Han Ti Ong m engangguk. Ucapan yang pendek it u sudah m encakup sem ua isi hat i ist rinya. Dia sudah m engenal hat i ist rinya yang t ercint a it u dan t ahu dia bahwa m enj elang kem at ian ayahnya, ada hal- hal yang m enggelisahkan ist rinya. Tent u saj a t ent ang warisan t aht a keraj aan dan ist rinya yang dat ang dari keluarga berdarah " rendah" it u t ent u saj a m engkhawat irkan bahwa ket urunan ist rinya it u akan m enj adikan persoalan bagi pengangkat an raj a! Maka dia m em andang ist erinya dengan sinar m at a m enghibur, kem udian sepert i t eringat dia berkat a, " Ahh, ham pir aku lupa. Aku dat ang bersam a seorang m uridku, nam anya Sing Liong akan t et api di darat an besar sana dia dikenal sebagai Sin- t ong." " Hai, seorang sin- t ong ( anak aj aib) ? Hem m , ingin aku t ahu sam pai di m ana keaj aibannya! " " Hong- j i, j angan! " ibunya m enegur, akan tetapi anak itu meloncat ke depan dan pada saat itu, Sin Liong sudah turun dari at as perahu. Baru saj a dia berj alan m engham piri gurunya, t iba- t iba ada bayangan berkelebat dan t ahu- t ahu seorang gadis cilik dengan gerakan sepert i seekor burung garuda m enyam bar t elah m enyerangnya dari depan, sebuah kaki kecil t elah m enghant am dadanya. " Bukk! ! " Tanpa dapat dit anyakan lagi, Sin Liong roboh t erj engkang, dadanya t erasa nyeri dan napasnya sesak. Akan t et api dia bangkit berdiri, m engebut kan pakaianya yang m enj adi kot or, m em andang anak perem puan yang lebih muda daripada dia itu, menggeleng kepala dan berkata tenang, "Sungguh sayang sekali, seorang anak- anak yang m asih bersih dikot ori kebiasaan buruk m em pergunakan kekerasan unt uk m em ukul orang t anpa sebab." " Aihhh..." Swat Hong t ert egun, lalu m enoleh kepada ayahnya yang t erdengar t ert awa keras, " Ayah, dia t idak bisa apa- apa, m engapa disebut Sin- t ong? Serangan biasa saj a m em buat nya roboh t erj engkang! " " Ha- ha- ha, kaulihat dia roboh, akan t et api apakah kau t idak lihat sesuat u yang aj aib? Dia t idak m arah m alah m enyayangkan dirim u,

42

Bu Kek Siansu
bukankah it u aj aib?" " Anak yang luar biasa dia..." t erdengar Liu Bwee berkat a lirih dan kini Swan Hong juga memandang Sin Liong . Akan tetapi dia masih merasa tidak puas dan berkat a, " Dia t idak m arah karena t akut dan pengecut , Ayah! " " He, Sin Liong, apakah engkau takut kepada Swat Hong ini?" Han Ti Ong berteriak kepada Sin Liong. Anak ini m enggeleng kepala. " Suhu m engert i bahwa t eecu t idak t akut t erhadap apa pun dan siapa pun." Swat Hong m em busungkan dadanya yang m asih gepeng it u, m enegakan kepalanya dan m enant ang, " Bocah som bong ,kalau kau t idak t akut , hayo kaulawan aku! " Dia sudah siap m em asang kuda- kuda. Sin Liong m enggeleng kepalanya. " Adik yang baik, aku t idak akan m enggunakan kepandaian apapun j uga unt uk m elakukan kekerasan t erhadap orang lain, apalagi t erhadap seorang anak- anak sepert i engkau." Gadis cilik it u sudah m enerj ang m aj u, dipandang oleh Sin Liong dengan sikap t enang saj a, berkedip pun t idak m enghadapi serangan anak perem puan it u. Tiba- t iba t ubuh Swat Hong t erhuyung ke belakang dan t ernyat a lengannya sudah dit angkap oleh ibunya dan dit arik ke belakang. " Swat Hong, kau t erlalu sekali! Seharusnya kau m int a m aaf kepada Suhengm u it u! " Swat Hong m enoleh, m elihat ayahnya t ersenyum , m elihat pandang m at a sem ua orang dari praj urit sam pai perwira penuh kagum t erhadap Sin Liong. Barulah dia ingat bahwa dia t elah m elanggar pelaj aran pert am a dari ayahnya, bahkan dari sem ua penghuni pulau bahwa ilm u silat pulau Es t idak boleh sem barangan dikeluarkan unt uk m enyerang orang t anpa alasan! Dan dia t elah m enyerang Sin Liong t anpa sebab apa- apa, padahal Sin Lion adalah m urid ayahnya at au suhengnya ( kakak seperguruan) . Biarpun dia berwat ak keras dan t idak m engenal t akut , akan t et api sifat nya yang gem bira dan m udah berubah m em buat Swat Hong dapat m engusir sem ua rasa penasaran dan sam bil t ersenyum dan m uka ram ah dia m enj ura ke arah Sin Liong sam bil berkat a, " Suheng, harap m aafkan aku yang kurang aj ar t ehadap m urid Ayah." Sin Liong t erkej ut . Kiranya bocah ini put eri suhunya! Dia pun m enj ura dan berkat a, Tidak ada yang perlu dim aafkan, Sum oi. Kepandaianm u m em ang hebat , t ent u saj a aku bukan t andinganm u." " Hi- hik, wah, dia baik sekali, Ayah! " Swat Hong lalu m eloncat m engham piri Sin Liong, m enggandeng t angannya dan diaj ak lari ke pinggir di m ana dia m enghuj ani Sin Liong dengan pert anyaanpert anyaan. " Siapakah nam a lengkapm u, Suheng? Dari m ana kau dat ang? Bagaim ana kau dapat m enj adi m urid Ayah? Apa saj a yang sudah diaj arkannya kepadam u? Mengapa pula kau disebut Sin- t ong?" " Payah j uga Sin Liong m enghadapi hujan pertanyaan dari anak perempuan yang baru saja menyerangnya seperti seekor burung garuda akan t et api yang kini sudah bersikap dem ikian ram ah dan baik t erhadapnya ini. Akan t et api baru saj a dia m em perkenalkan nam anya, yait u Kwan Sin Liong dan belum sem pat m enj awab pert anyaan yang lain, perhat iannya, j uga Swat Hong dan sem ua orang yang berada disit u t ert arik oleh keribut an yang t erj adi ket ika Kwat Lin t urun dari at as perahu. Begit u Kwat Lin t urun dari perahu, wanit a yang m asih belum sadar bet ul dari gangguan ingat annya karena m alapet aka hebat yang m enim pa dirinya, m enj adi perhat ian sem ua orang. Wanit a ini m em ang berwaj ah m anis dan gagah, apalagi ket ika t urun dari perahu it u ram but nya yang awut- awut an berkibar t ert uip angin, pakaiannya yang t erlalu longgar it u m em buat dia kelihat an m akin aneh dan penuh rahasia. Kwat Lin t urun dengan sikap t enang, akan t et api m at anya bergerak liar m enyapu sem ua orang yang m em andangnya, kem udian m at a it u berhent i m em andang kepada Liu Bwee yang t elah m elangkah m engham pirinya. " Dia ini siapakah?" Liu Bwee bert anya t anpa m engalihkan pandang m at anya dari waj ah pucat it u sam bil didalam hat inya m enduga- duga dan m enant i j awaban yang diharapkan dari suam inya karena pert anyaan it u sesungguhnya diaj ukan kepada suam inya. Akan t et api sebelum Han Ti Ong m enj awab, t iba- tiba Kwat Lin, wanit a it u m em bent ak, " Manusia- m anusia busuk! Kubunuh engkau! " Dan dia sudah m eloncat ke depan dan m enyerang Liu Bwee dengan pukulan yang dahsyat . " He, Twanio! j angan begit u...! ! " Sin Liong bert eriak m encegah, nam un

43

Bu Kek Siansu
t erlam bat karena Kwat Lin sudah m enyerang dengan cepat nya. Sedangkan para penghuni Pulau Es, t erm asuk Swat Hong dan Pangeran Han Ti Ong sendiri, hanya m em andang dengan t enang- t enang saj a! " Wuuuut t t t ... plak- plak...! " Tubuh Kwat Lin t erplant ing ket ika pukulannya t ert angkis oleh Liu Bw ee dan wanit a ini sudah m enam par pundaknya sebagai serangan balasan. Hal ini m em buat Kwat Lin yang m em ang belum sadar benar it u m akin m arah. Dengan nekat dia m elom pat bangun dan m enerj ang lagi, Pangeran Han Ti Ong sudah m endahuluinya m enot ok pundaknya sam bil berkat a, " Tenanglah, Nona," Kwat Lin kem bali roboh, akan t et api t ubuhnya disam bar oleh Han Ti Ong. Ternyat a dia t elah dit ot ok lem as. Dengan lam baian t angan, Pangeran it u m em anggil em pat orang wanit a pelayan yang kelihat an t angkas- t angkas. " Dia sedang sakit ingat annya t idak sewaj arnya." Ucapan ini dit uj ukan kepada ist rinya yang m em andang m arah. m endengar ini, Liu Bwee mengangguk- angguk dan kem arahannya di waj ahnya berubah m enj adi iba. " Bawa dia ke kam ar t am u dan rawat dia baik- baik," kat a Liu Bwee kepada em pat orang pelayan it u yang segera m enggot ong t ubuh Kwat Lin pergi dari sit u. Barulah Pangeran Han Ti Ong kini m em pedulikan sam but an resm i dari para pangeran dan pasukan penghorm at an. Tadi dia seolah- olah m enganggap m ereka sem ua it u sepert i pat ung belaka. Dengan m egah Pangeran it u lalu langsung diant ar ke kam ar ayahnya Sang Raja yang sedang sakit dan yang telah lama menanti kedatangan puteranya ini sedangkan Sin Liong langsung diaj ak oleh Swat Hong ke bagian ist ana di m ana dia dan ibunya t inggal, yait u di bagian kiri ist ana besar. Tepat sepert i t elah diduga oleh sem ua penghuni Pulau Es, t iga hari kem udian set elah pulangnya Pangeran Han Ti Ong, raj a t ua m eninggal dunia set elah sem pat m enyaksikan Han Ti Ong dinobat kan menjadi penggantinya, merajai Pulau Es dalam upacara yang amat sederhana. Dapat dibayangkan bet apa t idak puas dan penasaran rasa hat i para pangeran yang m em benci Han Ti Ong karena usaha m ereka m em anaskan hat i m endiang ayah m ereka t ent ang keadaan Han Ti Ong t idak dipedulikan oleh raj a t ua it u. Dan unt uk m em beront ak secara t erang- t erangan, t ent u saj a m ereka t idak berani karena di dalam pulau it u, pada wakt u it u Han Ti Ong m erupakan orang yang paling sakt i. Maka, m ereka it u hanya diam saj a biarpun t idak pernah lengah barang seharipun unt uk m encari peluang dan kesem pat an yang baik unt uk m enj at uhkan Han Ti Ong, at au lebih t epat lagi, m enj at uhkan Lui Bwee yang m ereka anggap sebagai biang keladi dari " penyelewengan" Han Ti Ong dari kebiasaan keluarga raj a di Pulau Es! Set engah bulan kem udian, berkat perawat an yang baik dari Liu Bwee dan para pelayan, j uga dengan pengobat an t usuk j arum oleh Raj a Han Ti Ong sendiri, dit am bah obat - obat an berupa daun- daun yang dicari para anak buah Pulau Es at as pet unj uk Sin Liong, gangguan ingat an yang diderit a oleh The Kwat Lin m enj adi sem buh. Pada suat u pagi, wanit a yang bernasib m alang ini duduk seorang diri di dalam t am an ist ana, t am an yang bukan berisi bunga bungan hidup, m elainkan t erisi ukir- ukiran bunga dari bat u- bat u beraneka warna, dihias salj u dan pat ung pat ung kayu. Sudah berhari- hari, dia duduk di t am an ini dan didiam kan saj a karena m enurut Raj a Han Ti Ong, wanit a m alang ini harus dibiarkan pulih kem bali ingat annya dan t idak boleh diganggu. Nam un, diam - diam dia sendiri m elakukan pengawasan karena ent ah bagaim ana, m akin lam a dia m enj adi t ert arik dan t ahu bahwa dia j at uh hat i kepada gadis ini! " Tiba- t iba Kwat Lin m elom pat bangun karena m endengar gerakan di belakangnya. Sebagai seorang hali silat kelas t inggi, sedikit suara saj a cukup m em buat dia siap waspada . Ket ika dia m em balik, dia m elihat Han Ti Ong yang berdiri di sit u sam bil m em andangnya dengan senyum ram ah. The Kwat Lin yang kini sudah sem buh sam a sekali, m em andang penuh keheranan lalu m enegur, " Siapakah engkau? Dan m engapa engkau bisa berada di t em pat aneh ini?" Melihat sikap gadis ini dan m endengar pert anyaan- pert anyaan it u, legalah hat i Raj a Han Ti Ong. Sikap dan kat a- kat a it u sudah cukup m em bukt ikan bahwa Kwat Lin telah sem buh sam a sekali, t elah kem bali kepada keadaan sebelum m engalam i

44

Bu Kek Siansu
t ekanan bat in hebat , m aka t ent u saj a t idak m engenalnya dan t idak m engert i m engapa dan bagaim ana bisa berada di pulau it u. " Nona, girang hat iku m endapat kenyat aan bahwa Nona t elah sem buh dari lupa ingat an yang Nona derit a belasan hari ini." " Lupa ingat an? Sekaranglah aku kehilangan ingat an karena aku t idak m engenal engkau dan t idak t ahu m engapa dan bagaim ana aku bisa berada di t em pat ini." " Mem ang begit ulah. Tadinya Nona lupa ingat an, dan baru sekarang Nona sadar sehingga Nona lupa lagi apa yang Nona t elah alam i selam a belasan hari ini. Sungguh aku ikut m erasa berduka dan t erharu akan nasib Ca- sha Sin- siap yang am at m alang...." Tba- t iba waj ah it u m enj adi m erah sekali dan kem udian berubah pucat , " Kau... kau t ahu apa yang t erj adi kepada kam i...?" Raj a Han Ti Ong t ersenyum dan m em andang waj ah yang m engguncangkan hat inya it u dengan senyum m esra. Tent u saj a, Nona. Aku dan m uridkulah yang m engubur j enazah dua belas orang suhengm u, dan aku dan m uridku pula yang m enolongm u m em bawa kesini kem udian m engobat im u sehingga sem buh hari ini. Aku adalah Raj a Han Ti Ong, raj a pulau ini dan kau berada di Pulau Es." Mat a yang indah ini t erbelalak. " Apa...? Di... di Pulau Es... dan aku t elah m endengar nam a besar Pangeran Han Ti Ong..." " Sekarang t elah m enj adi Raj a Han Ti Ong, raj a sebuah pulau kecil t ak berart i, Nona, dan aku belum m enget ahui nam am u karena selam a ini kau t idak menyebut namamu." Kwat Lin menjatuhkan diri berlutut dan menahan isaknya. Saya menghaturkan banyak t erim a kasih at as pert olongan Paduka, dan m aafkan kalau saya t idak m engenal penolong saya. Saya bernam a The Kwat Lin, orang t erm uda Cap- sha Sin- hiap, dan...kalau paduka m enaruh kasihan kepada saya, saya ingin segera pergi dari sini ... sekarang j uga...." " Nona The, aku adalah seorang yang t idak bisa m enyim pan rahasia hat i. ket ahuilah, sem enj ak pert am a kali m elihat m u dan m elihat penderit aanm u, t im bul rasa iba dan sayang di dalam hat iku. Karena it u, kalau kiranya engkau suka aku akan m erasa berbahagia sekali kalau Nona m au t inggal didalam ist anaku ini, sebagai seorang ist riku, ist ri ke dua." Kwat Lin t erkej ut sekali. Dia t elah berhut ang budi kepada raj a ini, dan sekarang raj a ini secara dem ikian t erus t erang m enyat akan cint anya dan ingin m engam bil dia sebagai ist eri! Dia m enj adi ist eri raj a? Dia yang t elah dinodai oleh Pat - j iu Kai- ong? " Tidak! Maaf... saya... saya harus pergi sekarang j uga. Hanya sat u t uj uan hidup saya, dan Paduka t ent u t ahu... yait u unt uk m em bunuh iblis Pat - j iu Kai- ong." Han Ti Ong m enganggukangguk. "Aku mengerti dan aku sudah menduga bahwa seorang dara perkasa seperti engkau t ent u saj a t idak akan m au m enerim a t awaranku dan t idak m ungkin aku m engharapkan seorang dara sepert i Nona akan j at uh cint a begit u saj a kepadaku. Akan t et api aku pun t idak t erlalu m engharapkan yang aj aib. Aku j at uh cint a kepadam u, Nona, dan adanya aku berani m em inangnya secara t erang- terangan, karena aku yakin Nona akan m enerim anya berdasarkan cit a- cit a t unggal Nona it ulah. Bagaim ana m ungkin Nona akan m em balas dendam kepada Pat - j iu Kai- ong, sedangkan Cap- sha Sin- hiap saj a t idak m am pu m engalahkannya. Akan t et api kalau engkau m enj adi ist riku, hem m m ...soal m em balas dendam kepada Pat - j iu Kai- ong sam a m udahnya dengan m em balikan t elapak t angan." Ucapan ini berkesan mendalam , m em ang buat Kwat Lin t erm angu- m angu. Dia bukan gadis lagi dan t idak m ungkin dia m enj adi ist ri orang, dan baginya set elah berhasil m em balas dendam , hanya kem at ianlah yang akan m engakhiri noda yang diderit anya. Akan t et api, m enj adi ist ri kedua Raj a Han Ti Ong yang sakt i, lain lagi halnya, apa pula kalau orang sakt i it u sendiri sudah t ahu akan keadaanya. " Apakah... apakah Paduka akan m engaj arkan ilm u kesakt ian kepada saya? t anyanya dan kini dia m engangkat m uka, m em andang raj a it u, diam - diam harus m engakui bahwa laki- laki ini gagah dan t am pan, sungguhpun usianya t ent u t idak kurang dari em pat puluh t ahun. " Terserah kepadam u. kalau engkau suka m em enuhi hasrat hat iku yang ingin m em perist rim u. Kalau kau m enghendaki, dalam wakt u pendek saj a aku dapat m enangkap m usuhm u itu dan menyeretnya kedepan kakimu. Atau, engkau boleh mempelajari ilmu dan aku

45

Bu Kek Siansu
berani t anggung bahwa selam a set ahun saj a engkau akan m engalahkan m usuhm u it u." " Be...benarkah it u?" " Nona The Kwat Lin. Han Ti Ong bukan orang biasa m em bohong, pula aku t idak ingin m endapat kan dirim u dengan j alan m em bohong. Aku t elah bicara t erus t erang dan andaikat a engkau m enolak sekalipun, aku t idak akan m em aksam u. Sekarang j uga, kalau engkau m enolak, akan kusediakan perahu unt ukm u. Nah, engkau yang m em ut uskan." Tent u saj a t im bul keraguan hebat didalam hat i Kwat Lin. Dia m engert i bet apa lihainya Pat - j iu Kai- ong. Tent u saj a dapat pergi ke Bu- tong- pai dan m elaporkan m alapet aka yang m enim pa Cap- sha Sinhiap it u kepada gurunya, ket ua Bu- tong- pai, Kui Bhok Sianj in. Akan t etapi, gurunya sudah t ua sekali, dan belum t ent u gurunya m au m encam puri urusan dunia, biarpun m urid- m uridnya t erbunuh. Mengandalkan para saudara seperguruan, agaknya akan sukar m engalahkan Pat - j iu Kai- ong, dan t errut am a sekali yang m em perberat hat inya, kalau dia pergi ke Bu- tong- pai, t ent u sem ua orang akan t ahu t ent ang m alapet aka yang m enim pa dirinya, bahwa dia t elah diperkosa oleh Pat - jiu Kai- ong. ke m ana dia akan m enaruh m ukanya kalau sem ua orang m enget ahuinya akan hal it u? Sebaliknya, kalau dia berada di Pulau Es, selain t ak seorang pun akan t ahu t ent ang hal yang m em alukan it u, j uga dia akan m em punyai kesem pat an besar unt uk m elakukan balas dendam it u! Akan t et api, benarkah pria di depannya ini akan m am pu m engaj arnya sehingga dalam wakt u set ahun dia akan lebih pandai dari Pat j iu Kai- ong? Dia t idak akan puas kalau t idak dapat m em bunuh j em bel iblis it u dengan t angannya sediri. Biarpun dia sudah banyak m endengar nam a besar Pangeran dari Pulau Es yang kini m enj adi raj a it u, nam un bagaim ana dia dapat membuktikan kesakt ianya? Apakah orang ini lebih lihai dari gurunya dan t erut am a sekali, lebih lihai dari Pat - j iu Kai- ong? Perlahan- lahan Kwat Lin bangkit berdiri dan sej enak m em andang kepada Han Ti Ong yang j uga sedang m em andangnya. Keduanya berpandangan dan akhirnya Kwat Lin berkat a, " Saya ingin sekali dapat m em balas dendam dengan t angan saya sendiri. Akan t et api, bagaim anakah saya dapat yakin bahwa dalam set ahun saya dapat belaj ar di sini dan m enangkan iblis itu?" Han Ti Ong tersenyum dan mengeluarkan sebatang pedang dari balik jubahnya. " I nilah pedang yang kut em ukan ket ika aku dan m uridku m enolongm u." Kwat Lin m enerim a pedang it u dan air m at anya t urun bert it ik akan t et api segera dihapusnya. I t ulah Angbwe- kiam pedang dari t wa- suhengnya! " Engkau m eragu, baiklah. Kaupergunakan pedangm u dan kauserang aku unt uk m enguj i apakah aku dapat m elat ihm u selam a set ahun sehingga kau lebih lihai daripada Pat - j iu Kai- ong." Kwat Lin m enim ang- nim ang pedang Ang- bwe- kiam di t angannya. Pat - j iu Kai- ong t elah dikeroyok oleh dia dan dua belas orang suhengnya. Mereka t elah m ainkan Ngoheng- kiam , bahkan t elah m em bent uk barisan Sin- kiam- t in ket ika m engeroyok kakek iblis it u nam un akhirnya m ereka sem ua kalah, sungguhpun sej enak kakek it u t erdesak. kini, kalau hanya dia seorang diri m enyerang raj a ini, m ana bisa dipakai ukuran apakah dia lebih lihai dari Pat - j iu Kai- ong? " Nona, j angan ragu- ragu. Percayalah, kalau engkau benar raj in belaj ar, dalam wakt u set ahun engkau past i akan dapat m engalahkan dia. Hiat - ciang Hoat - sut dan Pat - mo- tung- hoat dari kakek it u sebet ulnya kosong saj a," kat a raj a it u, seolah- olah dapat m em baca isi hat i Kwat lin. Dara it u t erkej ut , kem udian m engam bil keput usan unt uk m enguj i orang ini sebelum dia m enyerahkan dirinya yang sudah t ernoda it u m enj adi ist rinya sebagai penebus lat ihan ilm u unt uk m em balas dendam . " Baiklah, saya akan m enguj i kepandaian Paduka, harap Paduka bersiap dan m engeluarkan senj at a." " Ha- ha- ha, Pat- j iu Kai- ong m em but uhkan t ongkat nya dan pukulan beracunya unt uk m engalahkan Cap- sha Sin- hiap, akan t et api aku cukup m enggunakan ini." Dia m eraih kebawah dan t anganya sudah m em bent uk bat u karang sedem ikian rupa sehingga bat u karang it u berbent uk panj ang sepert i pedang! " Harap Paduka siap! " Kwan Lin berseru dan t iba- t iba pedangnya m enyam bar dengan cepat , m elakukan tusukan ke arah leher sedang t angan kirinya sudah m em ukul ke arah dada.

46

Bu Kek Siansu
Serangan berganda dengan pedang dan pukulan t angan kiri ini m erupakan j urus ham puh dari Ngo- heng- kiam- sut . Tiba- t iba t ubuh raj a it u bergerak, serangan Kwat Lin t elah dapat dielakkan dan pada det ik berikut nya, leher dara it u t ersent uh uj ung bat u karang dan dadanya j uga t ersent uh kepalan t angan kiri Han Ti Ong. Kwat Lin menjerit lirih karena maklum bahwa kalau tusukan batu dan pukulan tadi dilanjutkan oleh Han Ti Ong t ent u dia t elah roboh dan t ewas seket ika. Akan t et api yang lebih m engej ut kan hat inya adalah gerakan raj a it u. " Paduka... Paduka m engunakan j urus Hui- po- liu- hong ( Air Tum pah Muncrat Pelangi Melengkung) dari Ngo- heng- kiam- sut Bu- tong- pai! " Han Ti Ong t ersenyum , " Persis sekali dengan seranganm u t adi, akan t et api j auh lebih lihai karena sekali serang berhasil, bukan? Nah, kalau engkau m em iliki kesem purnaan dalam j urus ini t adi, bukankah m udah kau m engalahkan m usuhm u? Kwat Lin t ert egun, akan t et api dia m asih belum puas. " Saya ingin mencoba lagi! " " Boleh, boleh. kauseranglah aku sepuluh j urus yang paling lihai dan aku t anggung bahwa engkau akan kukalahkan dengan j urusm u yang sam a." Dengan pengerahan t enaga dan m em ilih j urus- j urus t eram puh, Kwat Lin m enyerang lagi, akan t et api set iap kali m enyerang sat u j urus, dia m enj erit lirih karena benar saj a, dia selalu dikalahkan oleh j urusnya sendiri. Jurus it u digerakan oleh Han Ti Ong sedemikian aneh dan sempurnanya, demikian cepat dan mengandung tenaga mujijat sehingga biarpun dia m engenal j urusnya sendiri, dia t idak sem pat lagi m engelak at au m enangis! Set elah sepuluh kali dia t erkena sent uhan uj ung bat u at au usapan t angan kiri lawan yang lihai ini dia m enj adi yakin, lalu m enj at uhkan diri berlut ut . " Saya m enerim a penawaran Paduka! " Ha Ti Ong m em egang kedua pundaknya dan m engangkat nya bangun berdiri. Mereka berdiri berhadapan, saling pandang dan waj ah raj a it u berseri m elihat bet apa waj ah Kwat Lin m enj adi m erah sekali dan ada kedukaan hebat t ersem bunyi dibalik kem erahan waj ah karena m alu it u. dengan m esra Han Ti Ong m engusap pipi halus kem erahan it u dan berkat a lirih, " Aku t ahu, Kwat Lin. Perist iwa t erkut uk m enim pa dirim u m em buat kau j ij ik t erhadap pria dan m uak t erhadap hubungan ant ara pria dan wanit a. Akan t et api, aku bukanlah pria yang m engut am akan hubungan badani saj a, Kwat Lin. Aku akan m enghapus kej ij ikan dan kem uakan it u. Percayalah, aku cint a dan iba kepadam u. Keput usan yang kauam bil ini t epat sekali dan t idak akan m endat angkan sesal di kem udian hari. Mari,m ari kit a m engum um kan pernikahan kit a. Sem oga engkau berbahagia." Han Ti Ong m encium dan m engecup m esra dan halus pinggir m at a Kwat Lin, kem udian m enggandeng t angannya dan m engaj aknya berj alan m em asuki ist ana dari pint u belakang yang m enem bus ke " Tam an" it u. Tent u saj a t idak ada kehebohan t erj adi ket ika Han Ti Ong m engum um kan keput usanya m engam bil The Kwat Lin, sebagai ist ri ke dua, sunguhpun hal ini m endat angkan berm acam - m acam t anggapan dalam hat i para penghuni Pulau Es. Pest a diadakan, pest a yang sederhana saj a t et api cukup m eriah. Sebagian besar penghuni Pulau Es bersuka cit a dan m engharapkan bahwa dari pernikahan ini, raj a akan dikurniai seorang put era. Juga t erj adi berm acam t anggapan di kalangan keluarga raj a. Ada kekecewaan akan t et api ada pula harapan. Kecewa karena sekali lagi Raj a Han Ti Ong m engam bil " orang luar" sebagai selir, akan t et api t im bul harapan karena m ungkin m elalui ist ri ke dua ini m ereka dapat " m em ukul" Liu Bwee yang m ereka benci. Ternyat a kem udian oleh Kwat Lin Bahwa sem ua ucapan yang dikeluarkan oleh Raj a Pulau Es it u ket ika m em inangnya bukan hanya buj ukan kosong belaka. Raj a it u benar- benar j at uh cint a kepadanya dan hal ini t erasa olehnya set elah dia m enyerahkan dirinya m enj adi selir Raj a Han Ti Ong. Dengan sepenuh j iwa raganya, Han Ti Ong m encurahkan kasih sayang kepadanya sedem ikian besarnya sehingga lam bat laun dia pun j at uh cint a kepada suam inya ini. Dan dia yang t adinya hendak belaj ar ilm u silat sebagai dorongan t erut am a dengan m engorbankan dan m enyerahkan diri sebagai selir, setelah menerima pencurahan cinta kasih yang amat mesra dan mendalam, mulailah berbalik pikir. Apalagi set elah sem bilan bulan kem udian sem enj ak dia m enj adi selir,

47

Bu Kek Siansu
dia m elahirkan seorang anak laki- laki. Kwat Lin m erasa bet apa hidupnya berubah sam a sekali, kalau dulu dia hanya seorang pendekar wanit a yang seringkali m enghadapi banyak kesengsaraan hidup, kini m enj adi seorang yang m ulia dan t erhorm at , bahkan dia m endapat kenyat aan bahwa suam inya benar- benar m em iliki ilm u kepandaian yang luar biasa t ingginya! Tim bullah keinginan hat inya unt uk mengangkat diri m enj adi perm aisuri, dan dia m erasa berhak karena bukankah dia yang m em punyai ket urunan laki- laki, dan selain m enj adi perm aisuri, j uga m enj adi pewaris sem ua ilm u kesakt ian dari Pulau Es. Kalau sudah dem ikian, baru dia akan m encari dan m em bunuh Pat - jiu Kai- ong. Kebenciannya t erhadap kakek iblis j em bel itu kini menjadi tipis sekali. Memang kalau dipikir betapa selama tiga hari tiga malam kakek it u m em perm ainkanya, m erengut kehorm at an dengan m em perkosa secara am at m enghina akan t et api ada segi lain yang m em buat dia diam - diam bert erim a kasih kepada kakek it u. Kalau t idak ada perist iwa hebat it u, agaknya selam a hidupnya dia t idak akan dapat bert em u dengan Han Ti Ong, apalagi m enj adi ist rinya dan sekaligus pewaris ilm u- ilm unya! Sin Liong belaj ar ilm u silat dengan t ekun bersam a suhengnya, Swat Hong yang lincah j enaka.Dan m ulai t am paklah bakat nya yang luar biasa. Tidak m engherankan kalau para t okoh kang- ouw ingin m em iliki bocah ini dan m enj adikan Sin Liong sebagai bahan perebut an, karena dia pant as disebut Sin- t ong. Han Ti Ong sendiri yang m erupakan m anusia luar biasa dan m em iliki kecerdasan yang disebut Kwee- bak- put- bong ( sekali m elihat t idak bisa lupa lagi) , diam - daim m enj adi kagum sekali karena dia harus akui bahwa dalam hal kecerdasan dan kekuat an pikiran, dia m asih kalah oleh m uridnya ini! Yang am at m engagum kan hat inya adalah bet apa di balik sem ua bakat yang luar biasa ini t erpendam wat ak yang am at luar biasa, wat ak yang penuh kehalusan, kelem but an dan kasih sayang dan iba t erhadap orang lain yang am at m endalam , di sam ping wat ak yang waj ar seadanya. Benar- benar seorang bocah yang aj aib! Diam - diam Sin Liong m engert i bahwa diangkat nya Kwat Lin m enj adi ist ri Han Ti Ong, biarpun hal ini m erupakan hal yang lum rah bagi seorang raj a, nam un akan m endat angkan banyak ketidak baikan, terutama di pihak ibu sumoinya. Apalagi ketika dia melihat sikap dan perubahan pada diri bekas pendekar wanit a Bu- tong- pai it u Akan t et api karena dia hanyalah seorang anak kecil yang t idak t ahu apa- apa dan yang sam a sekali t idak berhak m encam puri " Urusan dalam " suhunya, m aka t ent u saj a dia hanya berdiam diri, hanya m engikut i perkem bangan keadaan dengan hat i t idak enak. Yang dikhawat irkan oleh anak yang belum t ahu apa- apa m em ang sungguh t erj adi. Sem enj ak m engam bil Kwat Lin sebagai ist eri kedua, Liu Bwee m enderit a t ekanan bat in yang am at hebat . Mula- m ula t idak t erasa olehnya ket ika suam inya m akin j arang berm alam di dalam kam arnya karena hal ini dianggapnya lim rah set elah suam inya m em iliki ist eri lain yang baru. Akan t et api perasaan kewanit aannya yang halus segera dapat m enangkap keham baran cint a kasih yang dicurahkan suam inya kepadanya. Dan t erut am a sekali set elah The Kwat Lin m engandung, suam inya t idak pernah dat ang lagi m enginap dikam arnya, dan kalau sekali- sekali dat ang, t idak ada cum bu rayu dan kem esraan sam a sekali, hanya unt uk m enanyakan kesehat an dan agaknya suam inya dat ang hanya dem i kesopanan belaka! Hat i seorang wanit a am at lah halusnya, m udah t ersinggung, m udah gem bira, m udah m arah, m udah berduka, mudah jatuh cinta dan mudah pula membenci! Setelah Kwat Lin melahirkan seorang anak lakilaki, m ulailah hat i Liu Bwee digerogot i iri dan hal ini m endat angkan kebencian hebat . Dia m ulai m erasa t ersiksa bat inya, m erasa kesepian, rasa rindu yang makin menghimpit terhadap belaian kasih sayang suaminya membuat Liu Bwee m akin t ersiksa, m enam bah kebenciannya t erhadap Kwan Lin yang m akin dipuj a suam inya it u. Liu Bwee bukan seorang wanit a yang gila akan kedudukan. Dia t idak mengejar kedudukan dan dia sama sekali tidak khawatir akan menurunya derajatnya apabila m adunya it u diangkat m enj adi perm aisuri karena m em punyai seorang put era. Akan t et api Liu Bwee adalah seorang wanit a yang haus akan kasih sayang,

48

Bu Kek Siansu
m aka dapat dibayangkan bet apa hebat penderit aan bat innya set elah cint anya disiasiakan oleh suam inya yang t elah j at uh di bawah t elapak kaki Kwat Lin. Melihat penderit aan bat in yang dialam i oleh Liu Bwee ini, diam - diam bersoraklah para keluarga raj a. Bagi m ereka, biarpun put era raj a bukan ket urunan dari seorang ibu yang m asih berdarah " agung" sepert i m ereka, nam un m asih lebih baik dari pada kalau dilahirkan oleh seorang iu seperti Liu Bwee, hanya anak seorang nelayan Pulau Es rendah! Pula kebencian m ereka yang t erdorong oleh iri hat i t erhadap Liu Bwee m em buat m ereka condong kepada Kwan Lin sehingga kelahiran Han Bu Ong, nam a put era it u, disam but dengan penuh kegem biraan oleh keluarga raj a dan j uga oleh sem ua penghuni Pulau Es sebagai penyam but an t erhadap lahirnya seorang put era raj a yang akan m enj adi pangeran m ahkot a! Tuj uh t ahun t elah lewat sem enj ak Sin Liong berada di Pulau Es. Dipandang begit u saj a, agaknya keadaan Pulau Es dan keraj aan kecilnya selam t uj uh t ahun it u t idak t erj adi perubahan sesuat u, para penghuninya m asih hidup dengan t enang dan t ent ram penuh kedam aian sepert i puluhan, bahkan rat usan t ahun yang lalu. Raj a Han Ti Ong t idak kalah bij aksana dalam mengendalikan pemerintahan kecilnya sehingga para penghuni Pulau Es hidup bahagia, sedangkan pelanggaran- pelanggaran yang t erj adi hanya sedikit sekali. Nam un sesungguhnya t erj adi perubahan yang am at besar dan banyak! The Kwat Lin yang kini m enj adi perm aisuri, diangkat secara resm i oleh Han Ti Ong sehingga kedudukan Liu Bwee t ergeser m enj adi ist ri selir, bukan hanya m enj adi wanit a pert am a yang paling t inggi t ingkat kedudukanya, nam un j uga t elah m enj adi seorang wanit a yang m em iliki kesakt ian hebat , hanya kalah oleh suam inya dan beberapa t okoh lain di Pulau Es. Nam un, hasrat nya unt uk m em balas dendam t erhadap Pat - jiu Kai- ong agaknya t elah lenyap sam a sekali! Dia kelihat an hidup bahagia t enggelam dalam belaian penuh kasih sayang dari suam inya dan m elihat put eranya yang kini t elah berusia enam t ahun dan m enj adi seorang anak laki- laki yang t am pan dan sehat biarpun tubuhnya agak kecil, sebagai pangeran, tentu saja Bu Ong digembleng oleh ayahnya sendiri sej ak kanak- kanak. Sin Liong t elah m em peroleh kem aj uan yang m ent akj ubkan dan m engagum kan Han Ti Ong sendiri. Sem ua ilm uyang diaj arkan oleh raj a it u, sekali dilat ih dapat dilakukan dengan ham pir sem purna! Tent u saj a dalam w akt u beberapa t ahun dia t elah j auh m elam paui t ingkat kepandaian sum oinya, dan set elah dia berusia em pat belas t ahun, Sin Liong t elah j auh m eninggalkan t ingkat sum oinya. Bukan hanya dalam hal ilm u silat , akan t et api j uga dalam ilm u sinkang dia m aj u pesat karena t anpa diperint ah oleh suhunya, dengan t ekun Sin Liong berlat ih seorang diri di bawah huj an salj u yang am at dingin sehingga dia dapat m enam pung int i sari t enaga im - kang yang am at hebat . Selain t ekun m em pelaj ari ilm u silat yang dit urunkan oleh suhunya t anpa ada yang disem bunyikan it u, Sin Liong j uga raj in sekali m em baca kit ab- kit ab yang banyak t erdapat didalam kam ar perpust akaan ist ana. Dia dikenal oleh sem ua ahli sast ra di Pulau Es dan m ereka ini am at kagum dan suka kepada Sin Liong m elihat ket ekunan bocah aj aib ini. Tidak ada bosannya Sin Liong m em baca kit ab- kit ab kuno dan set iap bert em u hurup baru yang t idak dikenalnya, dia m encat at nya unt uk kem udian dit anyakan kepada para ahli it u. Dengan cara dem ikian, biarpun t idak dibim bing langsung, nam un Sin Liong t elah dapat m em perkaya perbendaharaan kat a- kata sehingga dia m am pu m em baca kit ab- kit ab yang paling kuno di dalam perpust akaan it u. Kit ab kuno t idaklah sepert i kit ab biasa, karena selain huruf- hurufnya kuno, j uga huruf- huruf it u m engandung art i yang am at m endalam . Karena inilah, m aka kit abkit ab yang am at kuno di pulau it u j arang at au ham pir t idak pernah dibaca orang. Han Ti Ong sendiri segan m em baca kit ab- kit ab it u, karena selain sukar, j uga isinya hanyalah saj ak- saj ak kuno yang dianggapnya t idak ada gunanya dan m elelahkan ot aknya. Nam un sem ua kit ab it u " dilalap" sem ua oleh Sin Liong! Bukan ini saj a, nam un anak aj aib ini dapat m enem ukan sesuat u yang t ersem bunyi didalam saj aksajak itu! Dia menemukan rangkaian ilmu silat sakti yang masih merupakan "rangka"

49

Bu Kek Siansu
t erselubung di dalam huruf- huruf kuno yang sukar dim engert i it u, bahkan m enem ukan pula ilm u yang m asih dirahasiakan oleh Han Ti Ong, ilm u yang selam a rat usan t ahun m engangkat nam a Pulau Es, yait u ilm u int i sari dasar gerakan sem ua ilm u silat . Dengan ilm u ini yang sudah dikuasainya, m aka Han Ti Ong dapat m engalahkan t uj uh orang t okoh sakt i dengan j urus- j urus, j urus ilm u silat m ereka sendiri ket ika Han Ti Ong m enolong Sin Long di j eng- hoa- sian. Kini, secara t idak disengaj a, bahkan di luar kesadaran Sin Liong sendiri, bocah aj aib ini t elah m enem ukan ilm u it u " t erselip" dan t erselubung di ant ara saj ak- saj ak kuno yang kelihat anya t idak ada gunanya it u. Selain m em peroleh kem aj uan hebat dalam ilm u silat , j uga selam a berada di Pulau Es, Sin Liong m em peroleh kesem pat an m em perdalam ilm unya m engenal daun dan t um buhan obat dengan j alan m enyelidikinya di pulau- pulau kosong di sekit ar Pulau Es. Dia m em ang m endapat t ugas unt uk m encari bahan- bahan obat di pulau- pulau it u unt uk kepent ingan para penghuni Pulau Es, Dan dalam kesem pat an m elaksanakan t ugasnya ini, Sin Liong tidak m enyia- nyiakan wakt u unt uk m enyelidiki lebih banyak lagi t et um buhan dan khasiat nya unt uk kesehat an t ubuh m anusia. Dengan adanya Sin Liong di Pulau Es, banyaklah sudah penghuni yang t erhidar dari bahaya penyakit , dan unt uk ini, Han Ti Ong merasa berterima kasih sekali sehingga dia tidak segan- segan menurunkan ilmu pengobat an t usuk j arum kepada m uridnya it u. Selain Sin Liong, t ent u saj a Swat Hong sebagai put eri raj a, j uga m em peroleh kem aj uan pesat dan dalam usia t iga belas t ahun it u dia t elah m em ilik ilm u kepandaian yang sukar dicari t andinganya. Dengan dem ikian, ham pir sem ua orang di Pulau Es m em peroleh kem aj uan m asingm asing. Raj a Han Ti Ong m em peroleh kebahagiaan cint a kasih dalam diri Kwat Lin yang t elah m enj adi perm aisurinya. The Kwat Lin sendiri yang t adinya m engalam i m alapet aka yang dianggapnya lebih hebat daripada kem at ian sendiri, t elah m em peroleh banyak keunt ungan, m em peroleh cint a kasih yang m esra, kedudukan t inggi sekali, dan ilm u kepandaian yang am at hebat pula. Hanya seorang saj a yang sam a sekali t idak m em peroleh kem aj uan lahir m aupun bat in yait u Liu Bwee! Dia m enderit a m akin hebat , t erut am a bat innya karena sem enj ak beberapa t ahun ini, suam inya sam a sekali t idak pernah lagi m endekat inya! Lenyaplah wat aknya yang periang dan kini Liu Bwee lebih banyak m engurung dirinya di dalam kam ar, m enyulam at au m em baca kit ab. Dia seolah- olah m enj adi seorang pert apa dan biarpun waj ahnya t idak m em bayangkan sesuat u, m asih t et ap cant ik m anis dan pakaiannya selalu bersih, nam un sesungguhnya hat inya t erluka dan selalu m enet eskan darah, bat innya t erhim pit dan t erbakar oleh rindu yang t ak kunj ung hent i, kehausan akan belaian kasih sayang seorang pria yang t ak pernah t erpuaskan. Keadaan di dalam ist ana dengan adanya penderit aan Liu Bwee, dengan adanya para anggaut a keluarga ist ana yang m asih m enaruh benci kepadanya dan t idak m elihat kesem pat an unt uk m enj at uhkan wanit a ini karena Liu Bwee selalu bersikap diam dan tidak memperlihatkan sesuatu, merupakan api dalam sekam yang set iap saat t ent u akan berkobar at au m eledak. Hal ini t idak saj a dirasakan oleh sem ua angaut a keluarga raj a, bahkan dirasakan pula oleh Sin Liong dan Swat Hong. Sering kali Sin Liong kehilangan kej enakaan Swan Hong yang m erupakan ciri khas dara ini. Kalau dia m elihat dara it u t erm enung seorang diri, dia m enarik nafas panj ang dan sekali wakt u dia m enegus, " Eh, Sum oi. Kenapa kau t erm enung dan wajahmu suram? lihat, hari tidak sesuram wajahmu, sinar matahari mencairkan salju dengan cahaya yang keem asan! " Swat Hong m em andang pem uda it u dan m enarik nafas panj ang. " Bet apa aku t idak t idak akan m uram m enyaksikan keadaan yang begini dingin di dalam ist ana, Su- heng? Ayah m em ang m asih biasa dan baik kepadaku, j uga ibu baik kepadaku. Akan t et api ant ara Ayah dan I bu seolah- olah t erdapat j urang pem isah yang am at dalam . Tidak pernah lagi aku m enyaksikan keduanya beram ah t am ah dan bersendau gurau sepert i dahulu lagi. Apakah karena I bu Perm aisuri...?" " Ssst , Sum oi. Kit a t idak m em punayi hak unt uk bicara m engenai

50

Bu Kek Siansu
orang- orang t ua it u. Hal it u adalah urusan m ereka sendiri." " Aku m engert i, Suheng. Akan tetapi aku melihat kedukaan hebat bersembunyi di balik senyum Ibu kepadaku. Aku t ahu bet apa dia rindu kepada Ayah, rindu yang m em buat nya sepert i gila...." " Hushh...." " Aku t idak m em bohong, Suheng. Seringkali aku m endengar I buku mengigau m em anggil nam a Ayah dan m enangis dalam t idur. I bu selalu gelisah kalau t idur dan biarpun dia hendak m enyem bunyikannya dariku, nam un aku t ahu bet apa I bu m enderit a sengsara bat in yang hebat , m enderit a rindu yang m enghancurkan bat innya...." Dara it u kelihat an berduka sekali, kem udian berkat a lagi, " Suheng, apa sih perlunya orang saling m encint a kalau akibat nya hanya m endat angkan rindu dan kecewa?" " I t u bukan cint a, Sum oi, Ahh, kau t akan m engert i dan sem ua orang t akan m engert i karena sudah laj im m enganggap hawa nafsu sam a dengan cint a. Hawa nafsu m enunt ut pem uasan, m enunt uk kesenangan dan ingin m em ilikinya unt uk diri sendiri. Dan sem ua inilah yang m enim bulkan kecewa dan duka, Sum oi." Sum oinya t erbelalak. " Aihh, kau bicara sepert i kakek- kakek saj a! Dari m ana m emperoleh filsafat m acam it u, Suheng?" Karena t ert arik, dara yang m udah ini sudah m elupakan kedukaanya dan m enj adi riang gem bira lagi, m at anya m em andang suhengnya dengan berseri penuh godaan. " Dari... hem m , kukira dari kesadaran, Sum oi. Bukan filsafat . Aku sudah kenyang m em baca filsafat , dan apa art inya filsafat kalau hanya unt uk diafal? Tidak ada bedanya dengan benda m at i yang hanya diulang- ulang, dipakai perhiasan, dij adikan alat unt uk t erbang m elayang diawang- awang yang kosong. Terlalu banyak kit ab kubaca sudah, dan m ungkin j uga karena m em perhat ikan keadaan m endat angkan kesadaran." Dia m enarik napas panj ang. " Suheng, kau t adi m encela aku yang kaukat akan m urung. Akan t et api aku j uga seringkali m elihat engkau sepert i orang berduka. Apakah kau t idak senang t inggal di Pulau Es?" " Aku suka sekali t inggal di sini, Sum oi. Kurasa j arang t erdapat t em pat seindah ini, m asyarakat set ent eram ini. Akan t et api, kalau aku m elihat hukum anhukum an yang dibuang ke Pulau Neraka..." " Aih, hal it u bukan urusan kit a, Suheng. Bukankah kau t adi j uga m engat akan bahwa urusan ant ara Ayah dan I bu bukan urusanku? Maka urusan hukum an it u pun sam a sekali bukan urusan kit a." Kau keliru, Sum oi. Urusan Ayah Bundam u m em ang m erupakan urusan pribadi m ereka. Akan t et api urusan orangorang t erhukum adalah urusan um um , urusan kit a j uga. Aku m erasa t idak senang sekali dengan adanya perat uran it u. Aku akan berusaha unt uk m engingat kan Suhu...." " Tapi Ayah seorang Raj a, Suheng! " " Raj a pun m anusia j uga." " Tapi Raj a hanyalah m enj alankan hukum yang berlaku, Suheng." " Hukum pun buat an m anusia. Benda Mat i! " Tiba- t iba t erdengar suara t am bur dipukul. Sej enak dua orang m uda- m udi it u m em perhat ikan dan waj ah Sin Liong m enj adi m uram . " Nah, ada lagi sidang pengadilan yang akan m enj at uhkan hukum an. Ent ah siapa lagi sekarang yang m elakukan pelanggaran. Mari kit a lihat , Suheng! " Sin Liong digandeng t angannya oleh Swat Hong yang m enariknya ke arah bangunan di sam ping ist ana, bangunan yang dij adikan ruang sidang pengadilan di m ana dij at uhkan hukum an t erhadap m ereka yang m elakukan pelanggaranpelanggaran. Ket ika m ereka t iba di sit u, banyak sudah penghuni Pulau Es yang m enont on diluar ruangan, dan t ent u saj a dua orang m uda- m udi it u m udah unt uk memasuki ruang sidang dan duduk di atas kursi yang berderet di pinggiran. Ruangan it u luas sekali, lant ainya halus dan bersih. I si ruang hanyalah sebuah m ej a panj ang dan di belakang m ej a panj ang ini t erdapat lim a buah kursi dan di kanan kiri, di pinggir j uga t erdapat kursi- kursi, sedangkan di depan m ej a, di bagian t engah t et ap kosong. Pada saat Sin Liong dan Swat Hong t iba di ruangan it u, di belakang m ej a t elah duduk hakim , yait u seorang kakek t ua keluarga keraj aan yang biasa bert ugas sebagai hakim , sedangkan di sebelah kanannya, di kursi kebesaran, t am pak duduk Han Ti Ong sendiri bersam a perm aisurinya. Hal ini m erupakan keanehan karena biasanya raj a hanya dat ang t anpa perm aisurinya dan duduk bersam a dengan para pangeran lain. Agaknya perm aisuri Raj a Han Ti Ong sekarang ini ingin pula m elihat

51

Bu Kek Siansu
pengadilan dilakukan di Pulau Es. Para pesakitan yang sudah berlutut di depan meja, di at as lant ai, hanya t iga orang. Seorang lakilaki t inggi besar penuh brewok yang m at anya lebar dan gerak- geriknya kasar, seorang laki- laki m uda yang t am pan dan seorang wanit a yang usianya em pat puluhan, nam un m asih cant ik dan wanit a ini berlut ut di sam ping laki- laki m uda yang kelihat an ket akut an, t idak sepert i laki- laki tinggi besar dan Si Wanita yang kelihatan tenang- tenang saja. Dengan suara lantang j aksa penunt ut m em bacakan t unt ut an kepada laki- laki t inggi besar yang sudah berlut ut ke depan set elah nam anya dipanggil, yait u Bouw Tang Kui. Bouw Tang Kui t elah berkali- kali diperingat kan karena sikapnya yang kasar, suka m enggunakan kepandaian m enghina yang lem ah dan suka m encuri. Terakhir dit angkap karena m elakukan pencurian,m engam bil bat u hij au m ust ika penyedot racun ular m ilik orang lain. Karena kej ahat anya m em bahayakan Pulau Es, dapat m enim bulkan kekacauan dan perm usuhan, m aka hukum an yang paling berat pat ut dij at uhkan at as dirinya, selain unt uk m em berant as kej ahat an dari perm ukaan pulau j uga sebagai cont oh kepada sem ua penghuni pulau." Hening sej enak, kem udian t erdengar suara hakim t ua yang lem ah dan agak gem et ar, " Bouw Tang Kui, kau sudah m endengar t uduhan at as dirim u. Kau diperkenankan m em bela diri." Bouw Tang Kui yang berlut ut it u m em beri horm at kepada raj a, kem udian dengan suaranya yang kasar dan nyaring berkat a," Ham ba m engaku t elah m elakukan perbuat an it u karena ham ba ingin m em iliki m ust ika bat u hij au. Ham ba t elah m enerim a banyak budi dari Sri baginda, kalau sekarang dianggap berdosa, ham ba siap m enerim a segala m acam hukum an yang dijatuhkan kepada hamba." Hakim berfikir sejenak, kemudian sambil mengetok meja dia berkata, "Pengadilan memutuskan hukuman buang ke Pulau Neraka kepada Bouw Tang Kui." Suasana m enj adi hening. Keput usan hukum an ini m erupakan yang lebih hebat dari pada penggal kepala. Banyak di antara mereka yang mendengarkan, m enahan nafas dengan m uka pucat , ada yang m enaruh hat i kasihan kepada Bouw Tang Kui. Akan t et api pesakit an it u sendiri set elah m em andang kepada raj a, lalu berkat a, suaranya penuh pahit get ir, " Hukum an apa pun bagi ham ba t idak t erasa berat , yang t erasa berat adalah bahwa ham ba dipaksa unt uk m em usuhi Pulau Es yang ham ba cint ai! " " Jadi engkau m enerim a keput usan hukum an?" hakim bert anya. "Ham ba m ene...." " Nant i dulu! ! " t iba- t iba t erdengar suara nyaring dan Han Ti Ong sendiri m engangkat m uka m em andang t aj am ket ika m elihat Sin Liong t elah berdiri dari kursinya dan m engeluarkan seruan it u. " Harap Suhu dan para Cu- wi sekalian m aafkan saya. Akan t et api pesakit an berhak unt uk dibela dan saya hendak m em belanya. Saudara Bouw Tang Kui ini dianggap berdosa dan m em ang dia t elah m elakukan pelanggaran. Akan t et api pat ut kah kalau kesalahannya it u lalu dij adikan t anda bahwa dia seorang j ahat yang t idak bisa diam puni lagi? Saya hendak bert anya, siapakah di ant ara Cu- wi sekalian yang t idak pernah m elakukan kesalahan?" " Sem ua m anusia past i pernah m elakukan kesalahan dan karena kit a sem ua m anusia, m aka kit a pun t ent u pernah m elakukan kesalahan. Siapakah yang mau kalau kesalahan yang dilakukannya it u lalu dij adikan t anda bahwa selam anya dia akan bersalah at au berdosa, dan pat ut dihukum t anpa am pun lagi? Kesalahan yang dilakukan oleh Bouw Tang Kui adalah sebuah penyelewengan biasa yang dilakukan oleh m anusia yang berbat in lem ah. Manusia yang berbat in lem ah dan m elakukan penyelewengan sam a saj a dengan seorang yang sedang m enderit a sem acam penyakit , hanya bedanya, yang sakit bukan t ubuhnya m elainkan hat inya. Akan t et api, set iap orang sakit bisa sem buh! Maka, m enghukum nya dengan hukum an kej i it u sam a dengan m em bunuhnya! " Hening sekali keadaan di sit u set elah pem uda t anggung ini m engeluarkan pem belaanya. " Akan t et api di sini sudah diadakan hukum sej ak rat usan t ahun dan kit a sem ua harus t unduk kepada hukum ! " kat a Han Ti Ong ket ika m elihat bet apa hakim ragu- ragu unt uk m enj awab. Dia m aklum bahwa Sin Liong disuka banyak orang di sit u, dan selain ini, agaknya para pej abat it u j uga sungkan m endebat karena pem uda it u adalah m urid raj a. Karena

52

Bu Kek Siansu
inilah m aka Han Ti Ong sendiri yang m engeluarkan suara m em bant ah. " Harap Suhu m em aafkan t eecu kalau t eecu t erpaksa m endebat . Saudara Bouw m elanggar hukum yang dianggap berdosa, lalu m enurut hukum harus dibuang ke Pulau Neraka. Dari m anakah t im bulnya pelanggaran yang disebut dosa? Kalau t idak ada hukum , m ana m ungkin ada dosa? Kalau t idak ada larangan, m ana m ungkin ada pelanggaran? Hukum lah yang m encipt akan dosa dan pelanggaran, hukum adalah kej i karena hukum an yang dij at uhkan sebet ulnya lebih kot or daripada dosa it u sendiri! Kalau dia dianggap bersalah lalu dibuang ke Pulau Neraka, bukankah hal it u m em buat dia m enj adi m akin j ahat dan m endendam ? Andaikat a seorang penderit a sakit , penyakit nya m enj adi m akin parah! Apakah hukum an pem buangan ke Pulau Neraka it u akan m enginsafkannya? Suhu, sudah berkali- kali t eecu m enyat akan bahwa hukum an sepert i ini t idak pat ut u dilakuakan di Lebih baik m enunt ut m ereka yang t ersesat agar kem bali ke j alan benar dari pada m enghukum m ereka dengan kekerasan yang akan m em buat m eraka m enj adi lebih j ahat lagi." Kwat Sin Liong, kau t ak berhak unt uk m encela hukum yang sudah m enj adi t radisi kam i! Hakim , lanj ut kan persidangan dan pem belaan yang dilakukan at as diri Bouw Tang Kui t idak dapat dit erim a! " bent ak Han Ti Ong yang m erasa t ersinggung j uga m endengar bet apa perat uran yang dij unj ung t inggi selam rat usan t ahun oleh nenek m oyangnya it u kini disangkal dan dicela oleh seorang bocah yang m enj adi m uridnya! Sin Liong m enghela nafas dan t erpaksa dia duduk kem bali. " Sst t t , kau t erlam pau berani...." Swat Hong berbisik. " Hem m m ... t iada gunanya...." Sin Liong balas berbisik. Suara j aksa yang lant ang sudah m em anggil nam a dua orang pesakit an yang lain, laki- laki t am pan dan wanit a cant ik it u. Mereka m aj u dan berlut ut di depan pengadilan. " Sia Gin Hwa dan Lu Kiat t elah dit angkap karena m elakukan perj inaan. Karena Sin Gin Hwa t elah m enj adi ist ri syah dari Ji Hoat , m aka perbuat an it u m erupakan perbuat an hina yang ham at berdosa, m elanggar larangan keras yang t elah disyahkan hukum . Karena it u, t idak ada pengam punan baginya dan m ohon pengadilan m enjatuhkan hukum an t erberat kepadanya. Adapun Lu Kiat , biarpun m asih m uda dan belum berist ri, nam un dia t elah berj inah dengan ist ri orang, m aka dia pun harus dij at uhi hukum an yang layak. Kem udian t erserah kepada hakim ." Wanit a it u m enundukan m ukanya yang m enj adi m erah sekali ket ika m endengar suara m engej ek dari m ereka yang m enont on di luar ruangan sidang, akan t et api sikapnya m asih t enang- tenang saj a. Adapun Lu Kiat , pem uda it u m enj adi pucat waj ahnya, akan t et api dia j uga m enundukan m ukanya, kelihat an gelisah sekali. " Pengadilan m em ut uskan hukum an buang ke Pulau Neraka kepada Sia Gin Hwa dan hukum an rangket serat us kali kepada Lu Kiat ! " " Ham ba t idak m enerim a! " Tiba- t iba Sia Gin Hwa bert eriak. " Yang m elakukan perj inaan adalah ham ba berdua, m aka kalau dibuang pun harus ham ba berdua! " " Tidak, ham ba m enerim a hukum an rangket serat us kali! " t eriak pula Lu kiat . " Laki- laki apa kau ini? Ket ika m erayuku, kau berj anj i akan bersam a- sama m enderit a andaikat a dibuang ke Pulau Neraka! " Sia Gin Hwa m em aki dan t erj adilah ribut m ulut ant ara m ereka. " Diam ! ! " Teriakan m engget arkan dari Han Ti Ong m em buat m ereka berdiri m enj at uhkan diri m ohon pengam punan. " Karena kalian m elakukan perbuat an yang m em alukan sekali, m enodakan nam a baik Pulau Es, m aka sepat ut nya kalian berdua sam a- sam a dibuang ke Pulau Neraka! " kat a Raj a it u dengan suara t enang nam un penuh wibawa. Sia Gin Hwa m em egang t angan kekasihnya dan m enangis sam bil m encium i t angan it u, akan t et api waj ah Lu Kiat m enj adi m akin pucat . Kem bali Sin Liong bangkit berdiri. " Maaf, Suhu. Teecu t erpaksa m em bant ah lagi! Mereka m em ang t elah m elakukan perbuat an yang m elanggar hukum yang ada, akan t et api apakah perbuat an m ereka it u sudah dem ikian j ahat nya m aka sam pai m ereka dihukum buang? Teecu kira di balik perbuatan mereka itu tentu ada sebab dan alasannya. Mereka menjadi korban nafsu, akan t et api kalau seoarang ist ri sam pai m elakukan penyelewengan, t ent u pihak suam i j uga ada kesalahannya. Tidak perlukah diselidiki m engapa wanit a ini yang

53

Bu Kek Siansu
t elah bersuam i sam pai berj ina dengan pria lain? Mengapa dia sam pai t idak dapat m enahan dorongan nafsu berahi? Tent u ada sebab- sebabnya." " Sin Liong, engkau seorang bocah belum dewasa, t ahu apa t ent ang nafsu berahi?" bent ak gurunya, agak t ert egun j uga karena dia m endapat kan kebenaran t ersem bunyi di balik bantahan m uridnya it u. Terdengar suara ket awa dit ahan di sana- sini, bahkan perm aisuri sendiri m enahan senyum nya. " Teecu...t eecu...m engert i dari kit ab...." " Pem belaan seorang anak yang belum dewasa t erhadap perj inaan yang dilakukan orang dewasa t idak dapat dit erim a. Laksanakan hukum annya dan buang m ereka bert iga sekarang j uga ke Pulau Neraka! " kat a Han Ti Ong. Persidangan dibubarkan dan t iga orang pesakit an it u lalu digiring keluar unt uk dilaksanakan hukum an at as diri m ereka, yait u dibuang ke Pulau Neraka, hukum an yang paling m engerikan dan paling di t akut i oleh sem ua penghuni Pulau Es karena m ereka sem ua t ahu bahwa di buang ke Pulau Neraka berart i hidup t ersiksa dan sengsara, lebih hebat dari kem at ian! Perist iwa sepert i inilah yang m em buat hat i Sin Liong m em beront ak. Dia am at cint a dan kagum kepada suhunya, akan t et api perat uran hukum di Pulau Es ini dianggapnya t erlalu kej am . Sebaliknya, Han Ti Ong yang m aklum akan kekecewaan hati muridnya yang dia kagumi dan cinta, berusaha menyenangkan hati muridnya itu dengan menurunkan ilmu- ilmu simpanannya sehingga dalam waktu setahun lagi saja ilm u kepandaian pem uda yang berusia lim a belas t ahun it u m enj adi m akin hebat . Boleh dibilang dialah orang sat u- sat unya yang m enj adi pewaris ilm u- ilm u Pulau Es. Biarpun Perm aisuri j uga m ewarisi banyak ilm u dahsyat nam un dibandingkan dengan Sin Liong dia kalah bakat sehingga kalah sem purna gerakannya, apa lagi dalam hal t enaga sinkang dia kalah j auh. Hal ini adalah karena Sin Liong adalah seorang yang pada dasarnya m em iliki bat in kuat dan t idak pernah t erseret oleh nafsu, sebaliknya The Kwat Lin adalah seorang wanit a yang dibangkit kan nafsunya sem enj ak dia diperkosa oleh Pat- jiu Kai- ong. JILID 5 Dan pada suatu hari terjadilah suatu hal yang sudah lam a diduga- duga akan t erj adi hal yang m enj adi akibat daripada keadaan yang dit ekan- t ekan di dalam ist ana yang dim ulai dengan m asuknya The Kwat Lin yang kini t elah m enj adi perm aisuri it u ke Pulau Es. Pagi hari it u, Sin Liong t engah duduk seorang diri di t em pat yang m enj adi t em pat kesukaannya bersam a Swat Hong, yait u di t epi pant ai yang paling sunyi, pant ai yang t ak pernah t ert ut up salj u karena pasir berwana put ih yang t erj adi dari pecahan bat u karang dan segala m acam kulit kerang dan kepom pong it u seolah- olah selalu m engeluarkan hawa hangat . Selagi dia duduk t erm enung it u t erdengarlah olehnya suara t abur dipukul gencar, t anda bahwa pagi hari it u diadakan persidangan pengadilan yang am at pent ing, sidang yang diadakan kurang lebih t iga bulan sem enj ak t iga orang pesakit an t erakhir it u di buang ke Pulau Neraka. Suara t am bur it u seolah- olah m enghant am i isi dada Sin Liong, karena suara it u suara yang paling t idak disukainya, suara yang m enandakan bahwa akan ada orang lagi yang dihukum ! Maka dia t idak bergerak, m engam bil keput usan t idak akan m enont on karena menont on berart i hanya akan m enghadapi hal yang m enyakit kan hat inya. Akan t et api dia m eloncat bangun ket ika m endengar suara panggilan Swat Hong, suara panggilan yang lain dari biasanya karena suara dara it u m engandung isak t angis yang m engej ut kan. " Kwa- suheng...! ! " Sin liong t erkej ut m elihat dara it u berlari- lari kepadanya sam bil m enangis dan dengan waj ah yang pucat sekali. " Ada apakah, Sum oi?" t egurnya sebelum dara it u t iba di depannya. " Suheng..., celaka... I buku..." Biarpun hat inya berdebar penuh kaget dan kej ut , Sin Liong bersikap t enang ket ika di m em egang kedua pundak Sum oinya dan bert anya, " Ada apakah dengan I bum u? Tenanglah, Sum oi." " Swat Hong m enahan isaknya. " Mereka... m ereka m enangkap I buku dan m em bawanya ke sidang pengadilan..." Sin Liong mengerutkan alisnya. Sudah ket erlaluan ini, pikirnya. Rasa penasaran m em buat dia berlaku agak kasar. Digandengnya t angan Sum oinya, dit ariknya dara it u dan dia berkat a , " Mari kit a lihat ! " Ket ika dua orang it u t iba di ruangan pengadilan, m ereka

54

Bu Kek Siansu
m endapat kenyat aan bahwa keadaan berlainan sekali dengan sidang pengadilan yang sudah- sudah karena suasana amat sunyi. Tidak ada seorang pun diperbolehkan m endekat i ruangan pengadilan, bahkan ket ika Sin liong dan Swat Hong t iba disit u, m ereka dihadang oleh beberapa orang penj aga, " Maaf, at as perint ah Sribaginda, t idak ada yang boleh m em asuki ruang sidang pengadilan hari ini." Kat a m ereka. Dengan kedua t angan di kepal, Swat Hong m elom pat m aj u, m at anya m elot ot dan m ukanya m erah sekali, " Apa kalian bilang? Kalian berani m elarang aku m em asuki ruangan? Apakah kalian sudah bosan hidup?" Sin Liong cepat m em egang lengan sum oinya karena dia m aklum bahwa kalau sum oinya ini sudah m arah, t ent u akan hebat akibat nya. Juga para penj aga it u m undur ket akut an karena m ereka m engert i bet apa lihainya Sang Put eri ini. " Harap Saudara sekalian m elaporkan kepada at asan Saudara bahwa kam i akan m em asuki ruang sidang," kat a Sin Liong dengan t enang kepada para penj aga. " Akan t et api kam i hanya m ent aat i perint ah. Bagaim ana kam i berani m elanggar?" j awab kepala penj aga dengan m uka bingung. " Aku t ahu. I buku yang diadili, Bukan? Nah, dengar kalian! Apa pun yang akan t erj adi dengan ibuku, aku harus hadir, kalau perlu aku akan bunuh kalian sem ua agar dapat m asuk! " Kem bali Sw at Hong m em bent ak. " Saudara sekalian harap m undur dan biarkan kam i m asuk. Akibat nya biarkan kam i berdua yang m enanggungnya," kem bali Sin Liong berkat a dan keduanya m em aksa m asuk. Para penj aga t idak ada yang berani m elarang akan t et api m ereka cepat - cepat lari unt uk m elapor kedalam . Han Ti Ong mengerutkan alisnya ket ika m elihat Sin Liong dan Swat Hong m em asuki ruang sidang, akan t et api dia hanya m engangguk kepada para penj aga yang kebingungan. Hal ini m elegakan hat i para penj aga dan m ereka cepat - cepat m eninggalkan ruangan it u unt uk m enj aga di luar, karena m ereka pun t idak boleh m endengarkan sidang yang sedang m engadili ist eri raj a! Dapat dibayangkan bet apa hancur hat i Swat Hong m elihat ibunya dengan t enang berlut ut di depan m ej a pengadilan bersam a seorang laki- laki m uda yang berpakaian sebagai pelayan dalam ist ana. Hat inya m enduga dan dia m erasa ngeri karena m elihat ibunya dan pem uda it u berlut ut di sit u, dia seolaholah m elihat Sia Gin Hwa dan Lu Kiat , dua orang pesakit an yang saling berj inah it u! Akan t et api dia t idak percaya! Tak m ungkin ibunya...! Akan t et api dia m enj adi lem as dan m enurut saj a ket ika Sin Liong m enariknya dan m engaj aknya duduk dideret an kursi pinggiran yang sekali ini sam a sekali kosong. Di belakang m ej a panj ang hanya duduk j aksa, hakim , Raj a Han Ti Ong , perm aisurinya, dan Han Bu Ong, bocah berusia delapan t ahun yang m engenakan pakaian indah dan duduk dengan agungnya di dekat ibunya, m at anya m em andang kearah Sin Liong dan Swat Hong dengan angkuh. Kem udian t erdengarlah suara nyaring Sang Jaksa, suara yang bagi t elinga Swat Hong t erdengar sepert i sam baran pedang yang m enusuk- nusuk hat inya dan bagi Sin Liong sepert i gunt ur di t engah hari! " Liu Bwee, sebagai bekas ist ri Sribaginda, dari seorang anak nelayan biasa m enj adi seorang m ulia t erhorm at , t ernyat a m em balas budi Sribaginda dengan aib dan noda yang hina, t elah dit angkap karena m elakukan perj inahan dengan seorang pelayan m uda. Dosa ini am at besar karena selain m enim bulkan aib dan m alu kepada Sribaginda, j uga kalau diket ahui dunia luar akan m encem arkan nam a Keraj aan Pulau Es. Oleh karena it u, sepat ut nya dia dij at uhi hukum an yang seberat m ungkin." " Bohong...! I bu t idak m ungkin...." Swat Hong m enj erit dan hendak m elom pat m aj u m enyerang j aksa yang berani m engeluarkan ucapan m enuduh ibunya sepert i it u akan t et api Sin Liong m enangkap lengannya unt uk m encegah sum ionya bergerak. " Swat Hong! Berani engkau kurang aj ar di depan Ayah?" Terdengar Han Ti Ong m em bent ak dengan penuh wibawa. " Ayah, t uduhan it u fit nah belaka! Tidak m ungkin ibu m elakukan hal yang kot or it u. Mana bukt inya? Siapa saksinya?" kem bali Swat Hong m enj erit - j erit . " Hong- j i, j angan begit u. I bum u t idak berdosa, akan t et api kit a harus. t unduk kepada perat uran dan hukum , anakku.Tenanglah." Ucapan ini keluar dari m ulut Liu Bwee yang m enoleh kearah Swat Hong, suaranya lirih dan j elas, nam un m engandung kedukaan yang

55

Bu Kek Siansu
m erobek hat i. " Liu Bwee, engkau t elah m endengar t uduhan at as dirim u. Apakah pem belaanm u?" t erdengar suara hakim t ua it u dengan halus dan lirih sepert i biasanya, nam un penuh wibawa karena dalam sidang ini, dialah orang yang paling kuasa. " Saya t idakakan m em bela diri, hanya sepert i dikat akan anakku t adi, agar t idak m endat angkan penasaran, harap suka disebut kan siapa saksinya dan apa bukt inya yang m em perkuat t uduhan t erhadap diriku," kat a Liu Bwee dengan t enang dan suara halus. Jaksa yang t erm asuk orang di ant ara anggaut a keluarga raj a yang tidak senang kepada Liu Bwee karena dia dahulupun mengharapkan agar Han Ti Ong m em ilih anak perem puannya, segera berkat a lant ang, " Bukt inya? Engkau dit angkap ket ika berada di dalam kam ar dengan A Kiu, padahal dia bukanlah pelayanm u. Apalagi yang kalian kerj akan kalau bukan berj inah? Seorang wanit a dan seorang laki- laki yang t idak ada hubungan apa- apa berada di dalam kam ar berdua saj a! selain it u, perj inahan kalian j uga t elah ada yang m enyaksikan." Waj ah Swat Hong sebent ar pucat dan sebent ar m erah. Tak dapat dia m enahan kem arahanya. I bunya dituduh berjinah dengan seorang pelayan! "Bohong! itu bukan bukti!! Kalau memang ada yang m enyaksikan, hayo siapa yang m enyaksikan?" t eriaknya, t idak m em perdulikan cegahan Sin Liong yang m asih m em egang lengannya karena khawat ir kalau- kalau dara ini m engam uk. " Akulah saksinya! " t iba- t iba t erdengar suara kecil m erdu dan Han Bu Hong t elah bangkit berdiri dengan sikap m enant ang. Mulut anak ini t ersenyum m engej ek dan m at anya bersinar- sinar. " Enci Hong, akulah yang t elah m elihat ibum u dan pelayan it u di at as ranj ang...." " Sssst t t , diam ...! " Perm aesuri m enarik put eranya. Akan t et api hakim t elah berkat a lagi, " Sudah t erbukt i kesalahan besar yang dilakukan Liu Bwee. Kesalahan paling besar yang dapat dilakukan oleh seorang wanit a..." " Nant i dulu! " Dengan m uka pucat sekali Swat Hong m em ot ong kat a- kat a hakim . " Tidak adil kalau begini! kit a belum m endengar ket erangan A Kiu. Hai, A Kiu, aku percaya bahwa engkau seorang m anusia yang m enj uj ur kegagahan, t idak m ungkin seorang pria penghuni Pulau Es Sepert i engkau m enj at uhkan fit nah sebagai seorang pengecut hina dina. Hayo cerit akan sesungguhnya apa yang t erj adi! " Suara Swat Hong ini nyaring sekali dan m uka A Kiu m enj adi pucat , kepalanya m akin m enunduk. Suasana m enj adi hening dan akhirnya t erpecah oleh suara Raj a, " A Kiu, kau diperkenankan unt uk bicara! " Tubuh it u m enggigil, m uka yang t am pan it u pucat sekali ket ika diangkat m em andang Raj a, kem udian m elirik ke arah Liu Bwee yang m asih bersikap t enang dan agung berlut ut di sebelahnya. Ket ika dia m elirik ke arah Swat Hong yang berdiri dengan sikap angkuh m em andang kepadanya, A Kiu m engeluh lirih, kem udian m enelungkup dan berkat a dengan suara m engandung isak, " Ham ba t idak berdaya... ham ba m em ang berada di kam ar it u... t api... t idak sepert i kesaksian Pangeran kecil... ham ba t erpaksa karena..." " Berani kau m engat akan put eraku bohong?" Jerit an ini keluar dari m ulut perm aisuri dan hawa pukulan yang dahsyat sekali m enyam bar ket ika perm aisuri m enggerakan t angan kirinya ke arah A Kiu. " Dess...! Aungghh...! " Tubuh A Kiu t erlem par bergulingan dan rebah t ak bernyawa lagi, dari m ulut , hidung dan t elinganya m engalir darah. Hebat sekali pukulan j arak j auh yang di lakukan perm aesuri it u, m engenai kepala A Kiu yang t ent u saj a t idak kuat m enahannya. Hakim dan j aksa saling pandang, sedangkan Raj a m enegur Perm aesurinya, " Kau t erlalu lancang...." " Apakah aku harus diam saj a kalau seorang rendah m acam dia m enghina put era kit a?" Perm aesuri m em bant ah dengan suara agak ket us. Raj a diam saj a dan m enarik nafas panj ang. Dia m erasa bingung dan berduka sekali harus m enghadapi perkara ini, lalu m em beri isyarat kepada hakim sam bil berkat a, " Lanj ut kan." Hakim m enelan ludah beberapa kali, kem udian berkat a lant ang, " Saksi ut am a yang m ej adi pelaku perj inahan t elah t erbunuh karena berani m enghina Pangeran. Akan t et api dia m engaku t elah berada di kam ar it u, m aka sudah jelas dosa yang dilakukan oleh Liu Bwee. Karena itu sudah adil kalau dia harus dij at uhi hukum an berat . Liu Bwee, pengadilan m em ut uskan hukum an buang ke

56

Bu Kek Siansu
Pulau Neraka kepadam u! " " I buuuu..! ! " Swat Hong m eront a dan m elepaskan diri dari Sin Liong, m eloncat dan m enubruk ibunya. " Sssst , t enanglah, Hong- j i...." ibunya t erbisik dengan sikap m asih t enang saj a, sungguhpun waj ahnya kelihat an m akin berduka. " Tenang? Tidak! ibu t idak boleh dihina sam pai begini! " Swat Hong lalu bangkit berdiri, m enghadapi ayahnya dan berkat a lant ang, " ibuku t elah dij at uhi hukum an t anpa bukt i dan saksi yang j elas. Akan t et api keput usan t elah dij at uhkan dan saya t idak rela m elihat ibu dibuang ke Pulau Neraka. Saya sebagai anak t unggalnya, yang t akkan m am pu m em balas budinya dengan nyawa, saya yang akan m ewakilinya, m em ikul hukum an it u. Saya yang akan m ej adi penggant inya ke Pulau Neraka, m aka harap Sribaginda bersikap bij aksana, m em biarkan ibu yang sudah m ulai t ua ini m enghabiskan usianya di Pulau Es. I bu, selam at t inggal! " " Hong- ji...!" ibunya m em ekik, akan t et api Swat Hong sudah m eloncat dan lari keluar dari t em pat it u dengan cepat . Sin Liong m em andang dengan alis berkerut . Tak disangkanya hal yang sudak dikhawatirkannya akan terjadi, sesuatu yang tidak menyenangkan, suatu yang akan m eledak, t ernyat a sehebat ini. " Hong- j i... ah, Hong- j i, Anakku...! " Liu Bwee t ak dapat m enahan lagi t anggisnya. Dia m aklum bahwa unt uk m engej ar anaknya dia t idak m ungkin dapat karena kepandaian put erinya it u sudah t inggi sekali, juga dia sebagai seorang pesakitan, tentu saja tidak berani melanggar hukum dan lari dari t em pat it u. " Aduh, anakku... Swat Hong... Swat Hong... apa yang mereka lakukan at as dirim u...?" ibu yang hancur hat i ini m erat ap. Hakim m enj adi bingung dan beberapa kali m enoleh kearah Raj a seolah- olah hedak m int a keput usan Han Ti Ong. Raj a ini m enggigit bibir, j engkel dan m arah karena t ak disangkanya bahwa urusan akan berlarut- larut sepert i ini. Ket ika dia m enerim a laporan t ent ang ist ri pert am anya, Liu Bwee, yang berj inah dengan seorang pelayan m uda, hat inya panas dan m arah sekali. Akan t et api dia m asih hendak m em bawa perkara ini kepengadilan agar diam bil keput usan yang seadil- adilnya. Siapa m engira t erj adi halhal yang t idak m enyenangkan hat inya. Perm aisurinya m em bunuh pelayan m uda, kem udian kini Swat Hong m em bela ibunya, bahkan m enggant ikan ibunya " m em buang diri" ke Pulau Neraka. m aka kini,m elihat bet apa hakim m enj adi bingung dan m int a keput usannya, dia m em ukulkan kepalan kanan ke t elapak kiri sam bil berkat a, " Sudahlah, sudahlah! Biar kupenuhi perm int aan Swat Hong. Anak yang keras kepala it u sudah m enggant ikan ibunya ke Pulau Neraka. Sudah saj a! Aku perkenankan Liu Bwe t inggal t erus disini! " Set elah berkat a dem ikian, dia m enggandeng t anggan Bu Ong dan perm aisurinya, bangkit berdiri dan hendak m eninggalkan t em pat yang t idak m enyenangkan it u. Akan t et api Liu Bwee j uga bangkit berdiri dan wanit a ini berkat a lant ang, sam bil m enat ap waj ah suam inya dengan mata tajam. "Biarpun anakku telah menebus dosa yang tidak kulakukan, dan aku t elah diperbolehkan t inggal di sini, akan t et api apa art inya hidup disini bagiku set elah anakku pergi ke Pulau Neraka? Tidak, aku t idak akan sudi t inggal di sini lagi. Aku m ulai saat ini t idak m enganggap diriku sebagai penghuni Pulau Es. Aku j uga m au pergi dari sini! " Set elah berkat a dem ikian, Liu Bwee lalu m eloncat dan pergi. Set elah dia bukan pesakit an lagi, set alah dia bukan t erhukum , dia berani pergi, bahkan dengan sikap t idak m enghorm at lagi kepada Raj a yang pernah m enj adi suam i dan puj aan hat inya selam a bert ahun- t ahun it u. " Hm m , sesukam ulah! ' kat a Han Ti Ong perlahan dan dengan waj ah m uram raj a ini m em asuki ist ana bersam a perm aisuri dan Pangeran Bu Ong. Sam pai ruangan persidangan it u kosong dan m ayat A Kiu dibawa pergi, Sin Liong m asih duduk di sit u. Di dalam hat inya, dia m erasa m enyesal m elihat sikap Raj a Han Ti Ong, gurunya yang di cint ainya it u. Tahulah dia bahwa perubahan pada diri gurunya it u t erut am a sekali t erj adi karena hadirnya The Kwat Lin yang kini telah menjadi permaisurinya. Diam- diam dia merasa menyesal sekali. Bukankah dia sendiri yang dahulu minta kepada gurunya membawa pendekar wanit a Bu- tong- pai it u ke Pulau Es? Kini, wanit a it u m enj adi selir gurunya, dan set elah The Kwat Lin m enj adi perm aisuri, kebahagiaan ibu Swat Hong m enj adi

57

Bu Kek Siansu
m usna! Bahkan kini berekor sepert i ini, dengan larinya Swat Hong m enggant ikan ibunya ke Pulau Neraka sedang ibu dara it u sendiri pergi ent ah ke m ana! Dialah, langsung at au t idak bert anggung j awab. Akan t et api, t idak m ungkin dia m enegur gurunya, Juga perm aisuri t idak dapat dipersalahkan. Bet apapun j uga, dia harus m em perlihat kan t anggung j awabnya at as kerusakan hidup Swat Hong dan ibunya. Kalau dia m endiam kan saj a, seolah- olah dia ikut pula persekut uan unt uk m erusak hidup ibu dan anak it u. " Pulau Neraka kabarnya m erupakan t em pat berbahaya sekali. Aku harus m enyusul Swat Hong dan m elindunginya." Dem ikian dia m angam bil keput usan dalam hat inya dan dia t idak lagi berpam it kepada gurunya karena m aklum gurunya sedang berada dala kedukan dan kepusingan. Pula, Sin Liong sudah biasa m eninggalkan pulau it u m encari t et um buhan obat , m aka kepergiannya dengan sebuah perahu m enunggalkan Pulau Es t idak ada yang m enaruh curiga. Dengan t enaganya yang am at kuat Sin Liong m endayung perahunya sehingga perahu m eluncur am at cepat nya m enuj u ke Pulau Neraka. Dia sudah t ahu dim ana let aknya pulau it u, dari ket erangan yang diperolehnya ket ika dia bertanya- t anya kepada para penghuni Pulau Es Bahkan diam - diam pernah pula seorang diri m endayung perahu m endekat i Pulau Neraka ini akan t et api hanya m elihat dari j auh dan dia m erasa ngeri sekali. Pulau it u dari j auh t am pak kehit am an sepert i pulau yang pant as di huni oleh set an dan iblis.Pant ainya penuh dengan bat ubat u karang yang runcing dan t aj am , am at berbahaya apalagi kalau om bak sedang besar. Sam a sekali t idak t am pak ada penghuninya sehingga ket ika it u Sin Liong menduga- duga bahwa orang- orang buangan yang dibuang dari Pulau Es t ent u t elah t ewas di j alan, t ent u t ewas di at as pulau it u. Maka dia m enent ang keras dalam hat inya kalau m elihat di Pulau Es diadakan pengadilan dan diput usakan hukum an buang ke Pulau Neraka, karena baginya, dibuang ke Pulau Neraka sam a dengan m enghadapi kem at ian yang m engerikan, baik di dalam perj alanan m enuj u ke pulau it u at au set elah berasil m endarat . Dan kini Swat Hong t elah pergi ke Pulau Neraka m ewakili ibunya! Dia kagum dan khwat ir. Kagum akan keberaniannya dan kebakt ian sum oinya t erhadap ibunya, akan t et api khawat ir sekali akan keselam at an sum oinya yang belum dewasa benar it u. Sum oinya baru berusia em pat belas t ahun! Biarpun dia t ahu bahwa ilm u kepandaian sum oinya sudah hebat dan cukup unt uk dipakai unt uk m enj aga diri, nam aun bet apapun j uga sum oinya it u m asih kanak- kanak! Sin Liong sam a sekali t idak ingat bahwa usianya sendiri hanya sat u t ahun lebih t ua dari pada usia Swat Hong! Perj alanan dari Pulau Es ke Pulau Neraka m elalui laut an yang penuh dengan gum palan- gum palan es yang m engapung di perm ukaan laut , gum palan es yang kadang- kadang sebesar gunung dan celakalah kalau sam pai perahu tertumpuk oleh gumpalan es menggunung itu yang kadang- kadang bergerak, digerakkan oleh angin. Celaka pula kalau sam pai t erj epit di ant ara dua gum palan es yang begit u saling m enem pel t ent u akan m elekat dan m em buat perahu t erj epit di tengah- t engah. Akan t et api, Sin Liong sudah banyak m endengar t ent ang ini m aka dia t ahu pula caranya m enghindarkan perahunya dan t idak m endekat gum palangum palan es yang berbahaya, m elainkan m encari j alan di celahcelah yang agak lebar. Kem udian dia t iba di daerah laut an yang penuh dengan ikan hiu. Rat usan ikan hiu yang hanya t am pak siripnya it u berenang di kanan kiri dan belakang perahunya. Bet apapun j uga t inggi ilm unya, ngeri j uga hat i Sin Liong karena dia t ahu bahwa sekali perahunya t erguling, kepandaianya t idak akan berguna banyak dalam m elawan rat usan ikan buas it u di dalam air! Cepat ia m engeluarkan bungkusan yang sudah dibawanya sebagai bekal, m em buka bungkusan dan m enaburkan sedikit bubuk hit am di kanan kiri, depan belakang perahunya. Tak lam a kem udian, ikanikan hiu it u pergi berenang pergi dengan cepat sepert i ket akut an set elah m encium bau bubukan hit am yang disebarkan oleh Sin Liong. Pem uda ini sudah m endengar akan bahaya ikan- ikan buas, m aka dia t elah m em bawa bekal racun bubukan hit am yang sering kali dipergunakan oleh para penghuni Pulau Es untuk mengusir ikan- ikan

58

Bu Kek Siansu
buas di wakt u m ereka m encari ikan. Beberapa j am kem udian, kem bali dia m enghadapi ancam an ikan- ikan kecil yang banyak sekali j um lahnya, m ungkin laksaan. I kan- ikan besar ibu j ari kaki, akan t et api keganasannya m elebihi ikan hiu. Ikan- ikan ini bahkan berani m enyerang orang di at as perahu dengan j alan m eloncat dan m enggigit . Sekali m ulut yang penuh gigi runcing sepert i gergaj i it u m engenai t ubuh, t ent u sebagian daging dan kulit t erobek dan t erbawa m oncongnya! Apalagi kalau sam pai orang j at uh ke dalam air. Dalam wakt u beberapa m enit saj a t ent u sudah habis t inggal t ulangnya dikeroyok laksaan ikan buas ini. Kem bali Sin Liong dengan cepat m enyebar obat bubuk hit am beracun it u dan ikan- ikan kecil it upun lari cerai berai t idak berani lagi m endekat i sam pai perahu m eluncur m eninggalkan daerah berbahaya it u. Set elah m elalui perj alanan yang am at sulit akhirnya m enj elang senj a, sam pai j uga perahu Sin Liong di pant ai Pulau Neraka. Tet api sepert i dugaannya, pulau it u m em ang m engerikan sekali. Hut an yang t erdapat di pulau it u am at besar dan liar, pohon- pohon aneh dan m enghit am warnanya m em enuhi hut an yang kelihat annya sunyi dan m at i. Nam un, dibalik kesunyian it u Sin Liong m erasakan seolah- olah banyak m at a m engam at inya dan m aut t ersem bunyi disana- sini, siap unt uk m encengkram siapa pun yang berani m endarat ! Melihat keadaan pulau ini m akin berdebar hat i Sin Liong, penuh kekhawat iran t erhadap keselam at an Swat Hong. Apakah dara it u sudah berasil m endarat ? Tent u Swat Hong dapat m encapai pulau ini, karena dara it upun t ahu j alan ke sit u, dan m engert i pula t em pat - t em pat berbahaya yang dilaluinya t adi sehingga sepert i j uga dia, t ent u Swat Hong t elah m em bawa bekal obat pengusir ikan- ikan buas t adi dengan cukup. Akan t et api dia t idak m elihat sebuah pun perahu di pant ai Pulau Neraka. Apakah ada penghuninya? At au sem ua orang buangan t elah m at i t erkena racun yang kabarnya m em enuhi pulau ini? Karena khawat ir kem alam an sebelum dapat m enem ukan Swat Hong, Sin Liong lalu m eloncat ke darat dan m enarik perahunya ke at as. Kem udian dia m em balik dan m em asuki hut an. Baru saj a dia berj alan beberapa langkah, t erdengar suara berdengung- dengung dan ent ah dari m ana dat angnya, t am pak rat usan ekor lebah berwarna put ih m enyam bar- nyambar dan mengeroyoknya! Dari bau yang tercium olehnya, tahulah Sin Liong bahwa lebahlebah it u m engandung racun yang am at j ahat m aka t ent u saj a dia t erkej ut sekali! Cepat dia lari dari t em pat it u, nam un lebah- lebah it u m engej ar t erus, bet erbangan sam bil m engeluarkan suara berdengung- dengung yang m engerikan. Sin Liong cepat m enanggalkan j ubah luarnya dan m em ut ar j ubah it u di sekeliling t ubuhnya. Dari put aran j ubah ini m enyam bar angin dahsyat dan lebah- lebah it u t erdorong j auh oleh hawa yang m enyam bar dari put aran j ubah.Sin Liong t idak t ega unt uk m em bunuh lebah- lebah it u m aka dia hanya m enggunakan hawa put aran j ubahnya unt uk m engusir. nam un, binat ang- binat ang kecil it u hanya t idak m am pu m endekat i dan menyerang tubuh Sin Liong, akan tet api sam a sekali t idak t erusir, bahkan kini m akin banyak dan t erbang m engelilingi Sin Liong dari j arak j auh sehingga t idak t erj angkau oleh hawa pukulan j ubah. Melihat ini, Sin Liong kaget . bet apapun kuat nya t idak m ungkin baginya unt uk berdiri di sit u sam bil m em ut ar j ubahnya sem alam sunt uk, bahkan selam anya sam pai lebah- lebah it u t erbang pergi! Lalu t eringat lah dia akan senj at a yang paling am puh. Api! Dengan t angan kiri t erus m em ut ar j ubah m elindungi t ubuhnya, Sin Liong lalu m engum pulkan daun kering dan m encari bat u yang keras. Dengan pengerahan t enaganya, dia m enggosok dua bat u it u sehingga timbul percikan bunga api yang membakar daun kering. Diambilnya sebatang ranting kering dan dibakarnya rant ing ini. Benar saj a. Dengan rant ing yang uj ungnya m enyala ini dipegang t inggi di at as kepala, t idak ada lebah yang berani m endekat inya. Dia m elanj ut kan perj alanan, dan t erus m enerus m enyalakan api diuj ung rant ing yang dikum pulkan dan dibawanya. Dapat dibayangkan bet apa ngeri hat inya ket ika m elihat banyak sekali binat ang berbisa di sepanj ang j alan. Ular- ular kecil, kalaj engking, lebah- lebah dan sebangsanya m erayap- rayap lari ket ika dia

59

Bu Kek Siansu
dat ang dengan obor di t angan. Unt ung dia m em bawa rant ing bernyala. Sem ua binat ang berbisa it u t akut t erhadap api. Andaikat a dia t idak m em bawa api t ent u dia t elah dikeroyok oleh binat ang- binat ang kecil yang sem uanya berbisa it u, dari at as dan bawah! lebah- lebah it u t erus m engikut inya, akan t et api dari j arak j auh, t erbukt i dari suara yang berdengung- dengung it u m asih t erus berada di belakangnya. Tibat iba t erdengar suara bersuit panj ang dan lebah- lebah it u bet erbangan m akin dekat , kem bali m engurungnya dan kelihat an sepert i m arah. Bahkan ada beberapa yang ekor yang m eluncur dekat sekali, akan t et api m enj auh lagi ket ika Sin Liong m enggunakan api di uj ung rant ing unt uk m engusirnya. Suit an t erdengar berkali- kali dan lebah- lebah it u m akin m arah dan m engam uk, j uga t am pak oleh Sin Liong bet apa binat ang kecillainya yang banyak t erdapat di hut an it u m ulai m endekat inya, nam un m asih t akut - t akut oleh api di uj ung rant ing. " Siuuut t t ..." t iba- t iba t am pak benda hit am m enyam bar kearah uj ung rant ingnya. Maklum lah Sin Liong bawa sam bit an yang am at kuat it u berm aksud m em adam kan api di uj ung rant ing. Tent u saja dia tidak mau terjadi hal ini, maka cepat ia menari kebawah ranting terbakar itu dan m enggunakan t angan kirinya m enyam bar benda yang dilont arkan. Kiranya segum pal t anah hit am ! Mengert ilah dia bahwa ada orang yang m em bokonginya dan orang it u agaknya yang besuit - suit t adi. Suit an yang agaknya m erupakan perint ah kepada binatang- binatang itu untuk mengeroyoknya! "Haiiii, Saudara penghuni Pulau Neraka! Harap j angan m enyerang. Aku Kwa Sin Liong dat ang dengan m aksud baik! Aku hanya m au m encaru Sum oiku di sini! " Hening sej enak. Suit an- suit an t idak t erdengar lagi dan lebah- lebah it u kem bali m enj auh, dem ikian ular, kelabang dan lain binat ang kecil. Terdengar bunyi t am pak kaki m enginj ak daun- daun kering dan t ak lam a kem udian m uncullah belasan orang yang bert elanj ang kaki, berpakaian t idak karuan, berm uka m enyeram kan it u kot or t idak t erawat , m at a m ereka m erah dan bergerak liar sepert i m at a orang- orang gila. Dengan gerakan perlahan, pandang m at a penuh j uriga, belasan orang it u m engham piri dan m engurung Sin Liong. Pem uda it u t ersenyum ram ah, bersikap t enang dan m engangkat rant ing m enyala tinggi- t inggi unt uk m em perhat ikan waj ah m ereka. " Harap Cuwi ( Anda Sekalian) sudi m em aafkan kedat anganku yang t iba- t iba ini. Akan t et api sungguhnya aku, Kwa Sin Liong, tidak berniat buruk terhadap Pulau Neraka apalagi terhadap penghuninya. Aku dat ang unt uk m encari sum oiku yang bernam a Han Swat Hong, yang m ungkin sudah m endarat di pulau ini." Seorang di ant ara m ereka, yang m ukanya penuh brewok sehingga yang t am pak hanya m at anya dan sedikit hidungnya, m elangkah m aj u dan m enegur, suaranya parau dan kasar. " kau dari m ana?" " Dari Pulau Es...." Belasan orang it u m endengus dan kelihat an m arah sekali. Si Brewok m engangkat t inggi senj at a golok besarnya dan m em bent ak, " kalau begit u kau harus m am pus! " " Nant i dulu, harap Cuwi bersabar." Sin Liong cepat berseru dan m engangkat t angan kirinya ke at as, " Aku bukan m usuh dari Cuwi, sudah kukat akan bahwa aku dat ang bukan unt uk berm usuh, m engapa Cuwi hendak m em bunuhku?" Pada saat it u, m uncul pula lim a orang, dan t erdengar seruan heran dari seorang di ant ara m ereka, yang bert ubuh t inggi besar, " Ehh, bukankah ini Kwa- kongcu dari Pulau Es?" Sin Liong m em andang dan m erasa girang sekali ket ika m engenal orang it u yang bukan lain adalah Bouw Tang Kui, penghuni Pulau Es yang dihukum buang ke Pulau Neraka karena t elah m encuri bat u m ust ika hij au! " Bouw- lopek! " serunya girang. " Aku dat ang unt uk m encari Swat Hong yang j uga sudah dibuang ke sini! " " Apa??" Bouw Tang Kui bert eriak, lalu berkat a kepada Si Brewok yang agaknya m enj adi pem im pin rom bongan it u. " Dia adalah seorang yang t elah m em belaku, m em bela Lu Kiat dan Sia Gin Hw a ket ika dij at uhi hukum an buang. Dia seorang pem uda yang t ak set uj u dengan hukum di Pulau Es, biarpun dia adalah m urid Raj a Han Ti Ong sendiri." " Apa...??" Mereka kelihat an t erkej ut m endengar ini. " Muridnya...?" " Benar," j awab Bouw Tang Kui. " Dan kit a bukanlah lawanya." Si Brewok m eragu. " Kalau begit u, kit a bawa dia kepada To- cu ( Maj ikan Pulau) ! " Bouw Tang Kui m elangkah m aj u. " Harap

60

Bu Kek Siansu
Kongcu m enurut saj a kam i hadapkan kepada To- cu sehingga Kongcu dapat bicara sendiri dengannya." Sin Liong mengangguk. Memang menghadapi orang- orang kasar ini akan berbahaya sekali karena m ereka sukar diaj ak bicara. Kalau dia dapat bicara dengan Maj ikan Pulau yang t ent u m erupakan t okoh yang paling pandai, dia akan dapat m int a ket erangan apakah Swat Hong t elah berada di pulau it u. Dia m engangguk dan beberapa orang penghuni Pulau Neraka lalu m enyalakan obor. Sin Liong sendiri m em buang rant ingnya, m engenakan lagi j ubahnya dan m engikut i rom bongan belasan orang it u m em asuki hut an. Di sepanj ang j alan dia m elihat tempat- t em pat berbahaya, lum pur- lum pur yang t ert ut up rum put t inggi, pasir- pasir berpusing yang dapat m enyedot apa saj a yang m enginj aknya, pohonpohon yang aneh dengan buah- buah yang kelihat an lezat nam un dari baunya dia t ahu bahwa buah it u m engandung racun j ahat , dan lain- lain. Benar- benar pulau yang am at aneh dan berbahaya, fikirnya. Pant as kalau disebut Pualu Neraka, dan diam - diam dia m encela kekej am an Keraj aan Pulau Es yang m em buang orang- orang bersalah ke t em pat sepert i ini. Dari keadaan orang- orang yang m enangkapnya ini, hanya Bouw Tang Kui seorang yang kelihat an m asih norm al. Hal ini m ungkin karena raksaksa ini baru beberapa bulan saj a dibuang ke sini, sedangkan yang lain- lain, biarpun dapat m em pert ahankan hidupnya, nam un t elah berubah m enj adi orang- orang liar yang agaknya t elah berubah pula wat ak dan ingat anya! Dan selain m enj adi orang- orang yang t idak norm al agaknya m ereka t elah m enguasai ilm u yang dahsyat dan m engerikan, yait u ilm u m enguasai binat ang- binat ang berbisa di pulau it u. Buktinya, biarpun m eraka berj alan di hut an penuh binat ang berbisa it u t anpa sepat u t idak ada seekor pun yang berani m enyerang m ereka. Akhirnya dengan m enggunakan ket aj am an pandang m at a dan pencium an hidungnya Sin Liong m aklum bahwa orang- orang ini t elah m enggunakan sem acam obat yang agaknya digosok- gosokan ke seluruh kaki m ereka sehingga binat ang it u m enyingkir begit u m ereka m endekat . Tak disangkanya sam a sekali, ket ika m ereka t iba di t engah j alan, di sit u t erdapat t anah lapang yang luas dan t am pak sebuah rum ah besar, dikelilingi pondok- pondok kayu sederhana. lam pu- lam pu dinyalakan t erang dan Sin Liong dibawa ke sebuah ruangan yang luas di m ana t elah m enant i ket ua pulau it u yang disebut To- co ( Maj ikan Pulau) . Ruangan it u luasanya lebih dari sepuluh m et er persegi, dikelilingi banyak orang yang m em egang berm acam senj at a dan yang sikapnya sem ua penuh curiga dan perm usuhan, kecuali Bouw Tang Kui, Sia Gin Hwa, Lu Kiat dan belasan orang lagi yang belum lam a dibuang kesit u sehingga m ereka ini m engenal Sin Liong sebagai murid Han Ti Ong yang selalu baik kepada mereka, bahkan banyak di antara m ereka yang pernah diobat i oleh pem uda ini. " Hayo berlut ut di depan t ocu! " kat a Si Brewok sam bil m endorong Sin Liong ke depan. Akan t et api Sin Liong dengan t enang berdiri di depan To- cu it u dan m em andang penuh perhat ian. Orang ini sudah t ua, sedikit nya t ent u ada enam puluh t ahun usianya. Kepalanya besar sekali, t ubuhnya kurus kecil sehingga kelihat an lucu, sepert i seekor singa j ant an yang duduk di kursi! Sepasang m at anya bersinar- sinar, m ulut nya m enyeringai. Sebet ulnya waj ahnya t am pan, akan t et api karena sikapnya yang ganas it u m em buat waj ahnya kelihat an m enyeram kan dan m enakut kan. Pakaiannya t idak sepert i pakaian sebagian besar penghuni Pulau Neraka yang but ut , m elainkan pakaian dari kain yang baru dan bersih. Kursinya t erbuat dari t ulang- t ulang berukir, dan di kedua lengan kursinya dihiasi dengan rangka ular dengan m oncongnya t ernganga lebar m em perlihat kan gigi yang runcing m elengkung. Di sebelah kana ket ua Pulau Neraka ini duduk seorang anak perem puan yang t adinya ham pir m em buat Sin Liong salah kira. Anak it u usianya sebaya dengan Swat Hong, seorang anak perem puan yang cant ik dan tersenyum- senyum , sikapnya kelihat annya gem bira dan m ungkin karena sebaya m aka kelihat anya m irip dengan Swat Hong. Ham pir saj a Sin Liong t adi m em anggilnya ket ika m ula- m ula m em asuki ruangan. Ket ika m elihat bet apa pem uda t awanan it u m em andangnnya penuh perhat ian, anak perem puan it u t ersenyum -

61

Bu Kek Siansu
senyum . Melihat Sin Liong t idak m au berlut ut di depannya, kakek it u memandang t aj am , kem udia berkat a berlahan, suaranya rendah, " Hem m m , kau t idak m au berlut ut , ya? Hendak kulihat kalau kedua lut ut m u pat ah, kau berlut ut at au t idak?" Berkat a dem ikian, t iba- t iba t angan kakek it u m enyam bar sebat ang t oya dari t angan seorang penj aga, m enekuk t oya it u sehingga pat ah t engahnya dan sekali dia m enggerakan t angan, sepasang pot ong t oya it u m enyam bar ke arah kedua kaki Sin Liong! Pem uda it u t erkej ut , akan t et api bersikap t enang. Dia m aklum bahwa ket ua Pulau Neraka it u berm agsud m enggunakan lem paran t ongkat unt uk m em bikin sam bungan lut ut nya t erlepas. Maka dia cepat m enggerakan kedua kakinya, m eloncat ke at as, kem udian set elah m elihat kedua t oya berkelebat ke bawah kaki dia m enggunakan kedua kakinya m enginj ak. Sepasang t ongkat pendek it u m enancap di at as lant ai dan pem uda it u berdiri di at as kedua uj ung t ongkat dengan t ubuh t egak dan bersikap seolah- olah t ak pernah t erj adi sesuat u! " Waduhhh, dia hebat sekali, kong- kong ( Kakek) ! " anak perem puan yang t adi t ersenyum - senyum it u besorak penuh kagum , padahal anak buah Pulau Neraka m em andang m arah karena m engangap bahwa pem uda it u m engej ek ket ua m ereka. " Hebat apa! Perm ainan kanak- kanak sepert i it u! " Kakek berkepala besar it u m endengus m arah. " Kong- kong j uga bisa? Aj arkan aku kalau begit u! " anak prem puan it u berkat a dengan sikap dan suara m anj a. " Hushh! Diam lah kau! " kakek it u m em bent ak dan sej ak t adi m at anya t idak pernah berpindah dari Sin Liong. Dibent ak sepert i it u, anak perem puan it u cem berut dan m ukanya m erah, m enahan t angis. Sin Liong m erasa kasihan lalu m eloncat t urun dan berkat a m enghibur, " Adik yang m anis, j angan berduka. Biarlah kalau ada kesem pat an aku akan m engaj arkannya kepadam u." Anak perem puan it u m em andang Sin Liong dengan m at a t erbelalak, kem udian lenyaplah kem uram an waj ahnya yang m anj a m enj adi berseri- seri kem bali. " Orang m uda yang bersikap dan berm ulut lancang! Siapa engkau yang m engandalkan sedikit kepandaian unt uk m engacau Pulau Neraka?" Kakek it u m em bent ak, m enahan kem arahannya karena dia m erasa direndahkan sekali ket ika serangan sepasang t ongkat nya t adi gagal dan dihadapi oleh pemuda itu secara luar biasa. Sin Liong cepat memberi hormat dengan m enj ura dalam - dalam , kem udian dia berkat a dengan suara t enang, " Harap To- cu suka m em aafkan kedat anganku ke Pulau Neraka ini. Sepert i t elah kukat akan kepada sem ua penghuni Pulau Neraka kedat anganku sam a sekali t idak m engandung niat buruk at au hendak berm usuhan. Aku bernam a Kwa Sin Liong dan ...." " Dia m urid Han Ti Ong! " t iba- t iba Si Brewok berkat a lant ang. Ucapan ini disam but dengan suara berisik dari sem ua oang yang berada di sit u karena m ereka sudah m enj adi m arah sekali. Sem ua orang yuang berada disit u adalah orang- orang buangan dari Pulau Es, sem enj ak raj a pert am a sehingga sudah t inggal disit u selam a t iga ket urunan, ada orang buangan baru dan ada pula yang m erupakan t urunan dari orang- orang buangan lam a, akan t et api kesem uanuya m em punyai rasa benci dan dendam pada sat u nam a, yait u Pulau Es! Maka begit u m endengar pem uda t am pan dan t enang ini adalah m urid Han Ti Ong, raj a t erakhir dari Pulau Es, dapat dibayangkan kem arahan hat i m ereka. Dengan pandang m at a m ereka yang liar m ereka hendak m encabikcabik dan m em bunuh pem uda it u yang dianggapnya seorang m usuh besar, dan andaikat a m ereka it u t idak t akut kepada ket ua m ereka, t ent u m ereka t elah menyerbu unt uk m elaksanakan niat yang t erbayang dalam pandang m at a m ereka it u. " Akan t et api dia selalu m enent ang Han Ti Ong, m enent ang pem buangan ke Pulau Neraka! " t erdengar suara beberapa orang m em bela, yait u suara Bouw Tang Kui, Lu Kiat , Sia Gin Hwa dan beberapa orang buangan baru yang lain. " Bunuh saj a dia! " " Seret m urid Han Ti Ong! " " Jadikan dia m angsa ular! " Kakek bekepala besar it u mengangkat kedua lengannya ke atas dan membentak, "Diam...!!" Sin Liong kembali t erkej ut . Ket ika m engeluarkan suara bent akan t adi ket ua Pulau Neraka agaknya t elah m engerahkan khikangnya sehingga dia sendiri yang berdiri di depan kakek it u m erasa bet apa kedua kakinya t erget ar! Mengert ilah dia bahwa ket ua Pulau Neraka

62

Bu Kek Siansu
ini benar- benar m em iliki ilm u kepandaian t inggi dan t ahulah dia bahwa dia t elah memasuki sarang naga dan berada dalam keadaan terancam. Namun Sin Liong tidak m erasa t akut sedikit pun j uga karena dia m erasa bahwa dia t idak m elakukan suat u kesalahan t erhadap m ereka ini. Maka kem bali dia m enj ura kepada ket ua Pulau Neraka sam bil berkat a, " To- cu, sekali lagi kuj elaskan bahwa kedat anganku ini sam a sekali t idak m engandung niat buruk dan kalau t idak ada perlu sekali past i aku t idak akan berani menginjakan kaki ke pulau ini. Aku datang untuk mencari Sumoiku yang bernam a Han Swat Hong put eri Suhu....." Sin Liong m enghent ikan kat a- katanya karena teringat bahwa dia telah kelepasan bicara, akan tetapi karena sudah terlanjur m aka t ak m ungkin kat a- kat a it u dit ariknya kem bali. " Put era Han Ti Ong...??" Ket ua Pulau Neraka berseru keras sekalli sam pai m engaget kan sem ua orang. " Kau m encari put eri Han Ti Ong di sini?" Sin Liong berkat a, " Benar, To- cu. Karena aku m enduga bahwa dia berada di sini m aka aku m enyusul ke sini." " Tangkap put eri Han Ti Ong! " " Bunuh dia! " " Gant ung put erinya! " Kini Sin Liong m engangkat kedua lengannya dan sam bil m enggerakan khikangnya dia beseru, " Harap Cuwi diam ! " Dan diam lah sem ua orang. Di ant ara m eraka yang m em iliki kepandaian t inggi, t erm asuk ket ua Pulau Neraka, kagum sekali karena orang m uda yang belum dewasa benar ini t ernyat a m em iliki kekuat an khikang yang am at hebat ! " Harap Tocu t idak salah sangka. Put eri Han Ti Ong it u j uga m enj adi orang buangan." Ucapan Sin Liong ini tentu saja mengejutkan dan mengherankan hati semua orang sehingga mereka tidak dapat m engeluarkan kat a- kat a m elainkan hanya m em andang kepada SinLiong dengan m at a t erbelalak. " Kau bohong! " Kakek berkepala besar it u m enghardik. " Mana m ungkin Han Ti Ong m em buang put erinya sendiri ke Pulau Neraka?" " Agaknya Tocu t elah m engert i akan kerasnya perat uran hukum di Pulau Es, dan sebet ulnya yang dianggap m elanggar hukum adalah ist ri suhu sendiri, ist ri t ua, yang aku yakin hanyalah karena fit nah belaka. Suhu t elah m enj at uhkan hukum an kepada Subo, dan Sum oi lalu m ewakili ibunya unt uk m em buang diri ke Pulau Neraka, maka aku m enyusul ke sini unt uk m engaj aknya pulang ke Pulau Es." Tiba- t iba ket ua Pulau Neraka t ert awa bergelak, t ert awa penuh kegem biraan sam pai kedua m at anya m engeluarkan air m at a! " Huah- ha- ha- ha! Ha- ha- ha, bet apa lucunya! Rasakan kau sekarang Han Ti Ong, Raj a keparat ! Rasakan kau bet apa perihnya orang t ert im pa kesengsaraan karena keluarga berant akan. Haha- ha! " Sem ua orang yang m elihat dan m endengar kat a- kat a ket ua Pulau Neraka ini, kont an t ert awa- t awa sem ua, m ent ert awakan Raj a Pulau Es! Biarpun m ereka belum sem pat m em balas dendam kepada Raj a Pulau Es, m endengar nasib buruk Raj a it u sudah m erupakan hiburan besar yang am at m enyenangkan hat i m ereka. Hanya anak perem puan it u saj a yang t idak ikut t ert awa karena dia agaknya t idak m engert i apa- apa, dan pada saat it u dia hanya saling pandang dengan Sin Liong yang j uga t erheran- heran. " Hei, Kwat Sin Liong! Bet apa baiknya cerit am u, akan t et api aku m asih belum percaya kalau t idak m elihat sendiri pet eri Han Ti Ong dat ang ke pulau ini. kit a t unggu dan lihat saj a. Setelah aku m elihat put eri Han Ti Ong berada di pulau ini, barulah kit a akan bicara lagi. Tangkap dia dan m asukan dalam kam ar t ahanan sam bil m enant i m unculnya put eri Han Ti Ong! " Si Brewok dan beberapa orang yang agaknya m enj adi pem bant u ut am a ket ua Pulau Neraka sudah m elangkah m engham piri Sin Liong dengan sikap m engancam . Pem uda ini m aklum bahwa t idak ada j alan lain kecuali m enyerah sam bil m enant i m unculnya Sum oinya karena sebelum dia bert em u degnan Sum oinya, m elawan hanya akan m enim bulkan perm usuhan yang t idak ada art inya saj a. Maka dia m engangkat kedua t angannya dan berkat a, " Aku t idak akan m elawan, kecuali kalau kalian m enggunakan kekerasan. Aku m enyerah dan m au m enant i di kam ar t ahanan sam pai Sum oiku m uncul." Melihat sikap t enang dan ucapan yang berwibawa ini, belasan orang yang m engurung Sin Liong dengan sikap m engancam t adi kelihat an ragu- ragu. Akan t et api Sin Long lalu m elangkah ke depan dan berkat a, " Marilah bawa aku ke kam ar t ahanan." " Jangan ganggu dia, biar dia

63

Bu Kek Siansu
m engaso di kam ar t ahanan dan layani baik- baik sam pai put eri Han Ti Ong m ucul. kalau dia m em bohong, hem m , baru kit a akan berpest a m em bunuhnya! " Ket ua Pulau Neraka berkat a sam bil t erkekeh- kekeh karena hat inya senang sekali m endengar bet apa Han Ti Ong sam pai m em buang ist rinya sendiri ke Pulau Neraka, kem udian put erinya m alah m em buang diri ke Pulau Neraka. Biarpun dia belum percaya benar akan cerit a ini sebelum dia m enyaksikan bukt inya, nam un berit a it u saj a sudah m endat angkan rasa senang di dalam hat inya. Dengan sikap gagah dan t enang sekali Sin Liong digiring ke dalam kam ar t ahanan, diikut i oleh pandang m at a penuh khawat ir dari anak perem puan t adi. Set elah rom bongan it u lenyap, anak perem puan it u m encela ket ua Pulau Neraka, " Kong- kong kenapa dia dit ahan? Dia luar biasa, berani dan pandai sekali!" "Hushh! Dia orang Pulau Es, dia murid Han Ti Ong, karena it u dia adalah m usuh kit a. Mengert i?" Anak perem puan it u cem berut , lalu m eninggalkan kakek it u sam bil bersungut - sungut sedangkan kakeknya t ert awa bergelak dengan hat i senang. Dia lalu m em beri isyarat m em anggil seorang kepercayaannya, lalu berbisik- bisik sam bil t ersenyum - senyum . Pem bant unya j uga t ert awa, m engangguk- anguk lalu pergi. Kakek ini, ket ua Pualu Neraka yang m em iliki kepandaian t inggi, sam a sekali t idak curiga kepada cucunya sendiri, t idak t ahu bahwa cucunya it u t adi m enyelinap dan m endengarkan perint ah yang dia berikan kepada orang kepercayaannya. Sin Liong adalah seorang pem uda yang t idak pernah m em punyai prasangka buruk t erhadap orang lain. Dia belum banyak m engenal kepalsuan watak manusia dan biarpun terhadap orang- orang Pulau Neraka, dia tetap m enaruh kepercayaan. Maka diapun percaya penuh akan kat a- kat a ket ua Pulau Neraka dan dengan suka rela dia m enyerahkan diri, t idak m elawan ket ika digiring m em asuku kam ar t ahanan! Set elah berada di dalam kam ar di bawah t anah yang sem pit it u, dengan j endela dan besi dari baj a, dan ruj i baj a yang kuat m em enuhi j endela sebagai j alan hawa, dia segera duduk besila. Dia t ak m enaruh khawat ir akan keadaan dirinya, akan t et api dia m erasa gelisah m engapa sum oinya belum t iba di Pulau Neraka? Dia percaya bahwa ket ua Pulau Neraka t idak m em bohonginya. Kalau benar bahwa Swat Hong t elah berada di Pulau Neraka, t ent u t idak sepert i ini sikap m ereka t erhadap dirinya. Kalau begit u, j elas bahwa Sum oinya belum t iba di Pulau Neraka, padahal t elah berangkat lebih dahulu. Ke m anakah perginya sum oinya it u? Tengah m alam t elah lewat dan keadaan sunyi sekali dalam kam ar t ahanan it u. Tidak ada penj aga di luar pint u at au j endela, akan t et api dia t ahu bahwa di pint u m asuk lorong tahanan itu terdapat beberapa orang penjaga yang selalu siap dengan senjata di t angan. Tiba- t iba dia m endengar suara wanit a yang m arah- m arah di sebelah luar dan suara para penj aga ket akut an. " Kalian berani m elarangku m asuk?" t erdengar suara wanit a it u. " Nona, t ahanan ini adalah orang pent ing! dan...." " Dan kauanggap aku bukan orang pent ing? Kaukira aku m au apa? Aku m au m engej eknya dan m em akinya, dia adalah m usuh besarku. Apakah kau berani m elarangku? Coba kau m elarang dan aku akan m engat akan kepada Kong- kong bahwa kalian berani kurang aj ar kepadaku hendak m enggodaku, aku m au m elihat apakah kepala kalian m asih akan m enem pel di leher! " " Ah, t idak... bukan begit u...." " Maafkan, Nona...." " Silahkan m asuk, silahkan; ; ; ; " " Awas kalau ada yang m engikut i aku dan m engint ai, berart i dia m au kurang aj ar dan akan kuberit ahukan kepada Kong- kom g! " Sin Liong sudah menduga siapa wanita yang bicara di luar dan ribut- ribut dengan para penjaga it u, akant et api begit u dara it u m uncul di bawah sinar lam pu di luar ruj i j endelanya, hampir saja dia berteriak memanggil karena mengira bahwa Swat Hong yang muncul it u. Di bawah sinar lam pu yang t idak begit u t erang m em ang gadis cucu ket ua Pualu Neraka ini ham pir sam a dengan Swat Hong. Set elah m elihat j elas bahwa yang dat ang adalah cucu ket ua Pulau Neraka dan m engingat akan kat a- kat a gadis ini di luar t adi bahwa kedat angannya dengan niat m engej ek dan m em akinya, Sin Liong t et ap duduk bersila dan bahkan m em ej am kan m at anya, pura- pura t idur. " Sssst t t ..." Sin Liong t idak m enj awab, bergerak sedikit pun t idak. Perlu apa m elayani seorang

64

Bu Kek Siansu
bocah yang hanya dat ang hendak m engej ek dan m em akinya? Dem ikian pikirnya sungguhpun hat inya t erasa t idak enak j uga harus m endiam kan saj a orang yang susah payah dat ang sam pai ribut m ulut dengan para penj aga. Tent u akan kecewa hatinya, pikir Sin Liong dan diam - diam dia m engint ai dari balik bulu m at anya yang direnggangkanya sedikit . " Pssst t t t ... kau t idak t idur, bulu m at am u bergerak- gerak, jangan kautipu aku...." anak perempuan itu berkata lagi dengan suara bisik- bisik dan meruncingkan bibirnya di ant ara ruj i- ruj i j endela. Sin Liong m enarik napas panj ang dan m em buka m at anya. " Hah, kau boleh m engej ek dan m em aki sesukam u, kem udian pergilah agar aku dapat m engaso benar- benar," kat anya. " Hi- hik! " Gadis it u m enahan ket awanya, m enut upi m ulut nya yang kecil. " Kiranya engkau sam a bodohnya dengan para penj aga it u, percaya saj a apa yang kukat akan apa yang kukat akan di luar t adi! " Sin Liong bangkit berdiri dan m engham piri j endela kam ar t ahanan. Mereka saling berhadapan dan saling pandang m elalui ruji- ruj i j endela. " Apa yang kaum aksudkan, Nona?" Mulut yang t ersenyum it u kini cem berut dan t erdengar suaranya m anj a, " Kau t adi m enyebut kan Adik yang m anis. Mengapa sekarang m enj adi Nona? kau benar pandai m engecewakan hat i orang! " Mau t idak m au Sin Liong t ersenyum . Bocah ini m anj a dan lincah, m engingat kan dia kepada Han Swat Hong. Banyak persam aan ant ara kedua orang perem puan it u. " Baiklah, Adik yang m anis. sebenarnya, m au apa kau dat ang ke sini kalau bukan unt uk m engej ek dan m em aki aku yang dianggap m usuh oleh kakekm u?" " Aku dat ang unt uk bercakap- cakap." " Hem m , wakt u dan t em pat nya t idak t epat unt uk bercakapcakap. Aku adalah seorang tahanan dan engkau adalah cucu To- cu di sini, tempat ini di kam ar t ahanan yang kot or dan sem pit dan sekarang sudah lewat t engah m alam . Harap engkau kem bali ke kam arm u dan t idur yang nyenyak. j angan- j angan kau akan dim arahi Kong- kongm u." " Aku t idak t akut ! Aku sengaj a dat ang ke sini unt uk bercakap- cakap denganm u. Siapa berani m elarangku?" Sikapnya m enj adi galak, m at anya bersinar- sinar dan Sin Liong m enarik napas panj ang. Sej ak lam a dia m em peroleh kenyat aan bet apa ganj ilnya wat ak wanit a. Dia m elihat wat ak- watak yang aneh dan sukar dim engert i yang dilihat nya pada diri Sia Gin Hwa yang m enyeleweng dari suam inya, berj inah dengan Lu Kiat , pada diri Liu Bwee ibu Swat Hong yang t adinya periang lalu berubah pem urung dan berhat i begit u sabar dan m engalah t erhadap suam inya yang m enyakit kan hat inya, pada diri The Kwat Lin yang j uga am at berubah set elah m enj adi ist ri raj a, pada diri Swat Hong yang t elah nekad m em buang diri ke Pualu Neraka, dan kini dia berhadapan dengan seorang gadis yang juga berwatak aneh sekali. "Baiklah, jangan marah karena tidak ada yang melarangmu di sini. Kalau kau ingin bercakap- cakap, nah, bercakaplah dan aku akan mendengarkan." Gadis it u m elongo. " Bercakap apa?" Diam - diam Sin Liong m erasa geli. Benar- benar seorang gadis yang m asih sepert i kanak- kanak dan m ungkin sem ua sikapnya t adi, ket ika bergem bira dan ket ika m arah, t idaklah set ulusnya hat i m aka dem ikian m udah berubah. " Bercakap apa saj a sesukam u, m isalnya siapa nam am u, siapa pula nam a Kong- kongm u dan keadaan di pulau ini dan lain- lain." Wajah itu berseri kembali, gembira setelah ingat bahwa sesungguhnya banyak sekali bahan untuk dibicarakan. "Namaku Soan Cu, Ouw Soan Cu...." "Namamu indah." Sin Liong m em uj i unt uk m enyenangkan hat inya. Dan m em ang hat i Soan Cu senang sekali m endengar puj ian ini. " Benarkah? Benarkah nam aku indah?" Dengan penuh gairah dia lalu m encerit akan riwayat nya secara singkat . Ket ua at au Maj ikan Pulau Neraka it u bernam a Ouw Kong Ek bukanlah seorang buangan dari Pulau Es, m elainkan ket urunan orang buangan yang sem enj ak rat usan t ahu m enj adi ket ua di sit u karena m em iliki ilm u kepandaian t inggi. Kakek dari Ouw Kong Ek, seorang buangan dari Pulau Es yang berilm u t inggi, adalah seorang pert am a yang m enj adi " Ket ua" di Pulau Neraka, kem udian m enurunkan kedudukan ini kepada anaknya sampai kepada Ouw Kong Ek. Ouw Kong Ek sendiri mengambil seorang buangan dari Pulau Es, seorang bekas pelayan perm aisuri Raj a Pulau Es yang dij at uhi hukum an

65

Bu Kek Siansu
buang karena fit nah dan sesungguhnya dia t idak m au m elayani seorang pangeran yang t ergila- gila kepadanya, m enj adi ist rinya m em punyai seorang anak laki- laki yang bernam a Ouw Sian Kok. Akan t et api ist rinya m eninggal dunia ket ika Ouw Sian Kok m enikah dengan seorang gadis Pulau Neraka dan Ket ua Pulau Neraka ini t inggal m enduda. Dia m encurahkan pengharapanya kepada put era t unggalnya yang m ewarisi sem ua ilm unya dan yang diharapkan kelak akan m enggant ikan kedudukanya kalau dia sudah m engundurkan diri. Nam un nasib buruk m enim pa keluarga Ouw. Ket ika ist ri Ouw Sian Kok m elahirkan seorang anak, yait u Soan Cu, ibu m uda ini m eninggal dunia. Ouw Sian Kok dem ikian berduka sehingga ingat annya t erganggu, m enj adi gila dan m elarikan diri dari Pulau Neraka, t ak seorangpun t ahu kem ana perginya orang gila it u. " Dem ikianlah riwayat ku yang t idak m engem birakan," Soan Cu m engakhiri cerit anya. Sej ak kecil aku t idak pernah m elihat waj ah ibu dan ayahku. Ayah sam pai sekarang t idak pulang dan t idak ada yang t ahu berada di m ana. Aku dipelihara dan dididik oleh Kong- kong yang m engharapkan kelak aku m enggant ikan kedudukan ket ua di sini. Akan t et api aku t idak sudi! " " Mengapa t idak suka, Soan Cu?" " Siapa sudi m engurusi orang- orang gila it u! Mereka sem ua gila dan j ahat , karena it u aku suka kepadam u Sin Liong. Engkau lain dari pada m ereka, engkau berani dan baik. Maka aku dat ang unt uk m enolongm u. Ket ahuilah, sebent ar lagi, kalau kau dikira sudah t idur, engkau akan dibunuh! " Sin Liong t erkej ut akan t et api t et ap bersikap t enang. "Benarkah? Mengapa aku dibunuh? Bukankah Kongkongm u berj anj i bahwa kit a akan berj anj i akan m enunggu sam pai Sum oiku t iba di Pulau Neraka?" " Uhh, kau percaya kepada Kongkong! Hm m , dia hanya m em bohong." " Ah, m engapa begit u? Sebagai seorang ket ua t idak sepat ut nya kalau dia m enipu." " Mem bohong dan m enipu m erupakan pebuat an yang m engunt ungkan dan bahkan dianggap baik dan layak di sini! it u adalah t anda dari kecerdikan seseorang! " " Pant as kau t adi pun m em bohongi penj aga." Sin Liong m encela. " Mem ang, kalau t idak m em bohong, m ana bisa m asuk dengan m udah? Dan kau t ent u akan celaka kalau akau t idak m em bohong." " Hm m m ..., alasan dicari- cari dan ngawur. Jadi m ereka hendak m em bunuhku? Mudah saj a, apa dikira aku begit u mudah dibunuh?" "Kau tidak tahu kecerdikan Kong- kong, Sin Liong. Kalau digunakan kekeras, agaknya kau akan m elawan dan sudah m elihat kau t adi sudah lihai. Akan t et api, m ereka akan m engerahkan binat ang- binat ang berbisa unt uk m engeroyokm u dan m em bunuhm u di kam ar sem pit ini! Kalau segala m acam ular, kalaj engking, kelabang, lebah dan lain binat ang berbisa it u dat ang m em enuhi t em pat ini dan m engeroyokm u, apa yang akan dapat kaulakukan unt uk m enyelam at kan diri?" " Hem m , aku akan berusaha m em bela diri, kalau aku gagal, aku akan m at i dan habis perkara. tidak ada hal yang menggelisahkan hatiku." "Kau sombong! Kau tidak minta t olong kepadaku?" " Andaikat a aku m int a t olong j uga, kalau kau t idak m au m enolong, apa art inya? Tanpa kum int a sekalipun, kalau kau m au m enolong, bagaim ana caranya? Sudahlah, kau hanya akan m enyusahkan dirim u sendiri saj a, Soan Cu. Bet apapun j uga t erim a kasih at as kedat anganm u dan kebaikan hat im u. Kau seorang dara yang cant ik dan baik budi, sayang kau berada diant ara orangorang liar it u. Pergilah, j angan sam pai kakekm u m elihat engkau berada disini." Soan Cu m engeluarkan sebuah bungkusan. " I nilah yang akan m enyelam at kanm u. Kaupergunakan obat bubuk ini untuk menggosok semua kulit tubuhmu yang tampak, dan sebarkan sebagian di sekelilingm u. Tidak akan ada seekor pun binat ang berbisa yang berani dat ang m endekat , apalagi m enggigit m u. Nah, sebet ulnya kedat anganku hanya unt uk m enyerahkan ini, akan t et api kit a t erlanj ur ngobrol panj ang lebar. Selamat tinggal, Sin Liong." Sin Liong menerima bungkusan itu, mengulurkan tangan dari ant ara ruj i j endela dan m em egang lengan dara it u. " Nant i dulu, Soan Cu." Ada apa lagi?" Gadis it u m em balikan t ubuh dan m ereka saling berpegangan t angan. Hal ini dilakukan oleh Sin Liong karena dia m erasa t erharu j uga oleh pert olongan yang sam a sekali t idak disangka- sangka it u. " Soan Cu, t ahukah engkau apa yang akan

66

Bu Kek Siansu
t erj adi padam u kalau sam pai Kong- kongm u m enget ahui akan perbuat anm u ini?" "Menolong engkau? Ah, paling- paling dia akan membunuhku!" "Hemm, begitu ringan kau m em andang akibat it u? Soan Cu, m engapa kau m elakukan ini unt ukku? Mengapa kau menolongku dengan mempertaruhkan nyawa?" "Sudah kukatakan tadi. Kau lain dari pada sem ua orang yang kulihat di pulau ini. Aku suka padam u dan aku t idak ingin m endengar apalagi m elihat engkau m at i. Sudahlah, hat i- hat i m enj aga dirim u, Sin Liong! " Gadis it u m eloncat dan berlari keluar. Sin Liong berdiri t em enung sej enak, kem udian kem bali ke t engah kam ar t ahanan dan duduk bersila m enenangkan hat inya. Andaikat a t idak ada Soan Cu yang dat ang m em berikan obat penawar dan pengusir binat ang berbisa, dia pun t idak kan gent ar dan belum t ent u dia akan celaka oleh binat ang- binat ang it u, sungguhpun dia sendiri belum m au m em bayangkan apa yang akan dilakukanya kalau serangan it u t iba. Apalagi sekarang ada obat bubuk it u. Dia t eringat bet apa penghuni Pulau Neraka dapat m enj elaj ahi hut an yang penuh binat ang berbisa dengan enaknya karena t ubuh m ereka sudah m em akai obat penawar. Agaknya inilah obat penawar it u. Dia m em buka bungkusan dan m elihat obat bubuk berwarna kuning m uda yang t idak akan kent ara kalau dioleskan di kulit t ubuhnya. Sin Liong bersila dan m engat ur pernapasan, m elakukan siulian ( sam adhi) lagi. Pendengarannya m enj adi am at t erang dan t aj am sehingga dia dapat m enangkap suara m endesis dan suara yang dikenalnya sebagai suara lebah yang dat ang dari j auh, m akin lam a m akin m endekat it u. Tahulah dia bahwa apa yang dicerit akan oleh Soan Cu m em ang t idak bohong. Sekali ini agaknya anak it u t idak m em bohong! Maka dia lalu m em buka bungkusan, m enggosok kulit t ubuhnya yang t idak t ert ut up pakaian dengan obat it u. Mukanya sampai ke leher, t angan dan kakinya, digosoknya sam pai rat a. Kem udian sam bil m em bawa bungkusan yang t erisi sisa obat it u, dia m enant i. Tak lam a kem udian, suara it u m enj adi m akin dekat dan t iba- t iba saj a m unculah m ereka! Diam - diam Sin Liong bergidik j uga. Tent u dia akan m elom pat kalau saj a dia t idak m em punyai obat penolak it u. Dari bawah pint u, puluhan ekor ular kecil dan kelabang besar, kalaj engking yang besarnya sebesar ibu j ari, m erayap dengan cepat m em asuki kam ar, berlom ba dengan lebah- lebah put ih yang bet erbangan m asuk m elalui j endela. Sin Liong cepat m enyebarkan bubuk obat ke sekeliling di at as lant ai, dan m enaburkan sebagian ke at as, ke arah lebah- lebah yang bert erbangan. Dia t ersenyum kagum m elihat akibat nya. Sem ua binat ang berbisa it u, dari yang paling kecil sampai yang paling besar, tiba- tiba serentak membalik saling terjang dan saling t im pa, lari cerai berai m eninggalkan kam ar. Lebah- lebah put ih j uga t erbang dengan kacau, m enabarak dinding dan banyak yang j at uh m at i, yang sem pat t erbang keluar j endela saling t abrak sepert i m abok, dan sebent ar saj a suara binat ang- binat ang it u sudah m enj auh. Akan t et api m endadak Sin Liong m eloncat berdiri ket ika m edengar suara lain yang m em buat j ant ungnya berdebar,. Suara seorang wanit a m em akim aki, " I blis kalian sem ua! Manusia- m anusia gila! Kalau t idak dapat m em basm i kalian, j angan sebut aku Han Swat Hong! " Sin Liong m eloncat ke arah j endela, kedua t angannya bergerak dan t erdengar suara keras ket ika ruj i- ruj i j edela j ebol sem ua. Dia m eloncat dan keluar dari kam arnya, t erus berlari keluar m elalui lorong. Set ibanya di luar, t am paklah olehnya Swat Hong berdiri t egak dengan kedua t angan bert olak pinggang, dua orang anggot a Pulau Neraka roboh dan m engaduh- aduh di bawah sedangkan belasan orang lain m engurung gadis it u. Sin Liong menggelenggeleng kepala. Sum oinya m em ang galak dan pem berani. Bukan m ain gagahnya. Dikurung oleh orang- orang Pulau Neraka it u m asih enak- enak saj a, bahkan t idak m encabut pedang, padahal sem ua yang m engurungnya m em egang senj at a. JI LI D 6 Heiii! Mundur kalian, j angan ganggu dia! ! " Sin Liong sudah m eloncat ke depan. " Kau yang m undur! Mengapa ikut - ikut keluar?" Swat Hong m em bent ak dan m em andang Sin Liong dengan m at a m endelik. " Ehh? Sum oi...? Aku hanya ingin m enolongm u." " Siapa m em but uhkan pert olonganm u? kem balilah ke kam ar t ahananm u it u dengan

67

Bu Kek Siansu
... dengan..." Akan t et api Swat Hong t ak dapat m elanj ut kan kat a- kat anya karena kini orang- orang Pulau Neraka t elah m engeroyoknya. " Wuuut t t ... siuuuut t t ! " Tubuh Swat Hong sudah m enyam bar ke sana- sini, selain m engelak dari serbuan banyak senj at a it u, j uga unt uk m engirim serangan serangan balasan dengan t angan dan kakinya yang bergerak cepat sekali. Bukan main hebatnya Swat Hong yang bergerak cepat dan yang didorong oleh perasaan m arah it u. Dia m em ang m arah, bukan m arah kepada orang- orang Pulau Neraka, m elainkan m arah kepada... Sin Liong! Kiranya t anpa diket ahui oleh Sin Liong sendiri, sudah sej ak t adi Swat Hong t iba di t em pat it u, m enggunakan kepandaiannya m enyelundup sehingga t idak diket ahui para penj aga dan dia t elah dapat m endengarkan percakapan ant ara suhengnya dan Soan Cu. Hat inya m enj adi panas! Dia sendiri t idak t ahu akan hal ini, t idak sadar m engapa dia m enj adi t idak senang m endengar bet apa suhengnya bercakap- cakap dengan ram ah bersam a seorang gadis! karena it u, niat nya unt uk m enolong suhengnya m enj adi buyar dan dia hanya m enont on saj a ket ika suhengnya diserbu binat ang berbisa dan dapat m enolong diri dengan obat penolak yang diberikan oleh Soan Cu. Ket ika Swat Hong yang m arah m enyaksikan ibunya dij at uhi hukum an buang m elarikan diri dari Pulau Es, dara ini segera berlayar m enggunakan sebuah perahu Pulau Es. Tuj uannya m em ang hendak m em buang diri ke Pulau Neraka m enggant ikan ibunya, dan t erut am a hal ini dilakukannya sebagai prot es kepada ayahnya. Akan t et api karena dia belum pernah pergi ke pulau t em pat buangan it u, dan pula karena sudah j auh m eninggalkan Pulau Es dia m ulai m erasa gelisah dan ngeri m em ikirkan keadaan Pulau Neraka yang kabarnya am at berbahaya it u, m aka dia t ersesat j alan, m endarat di pulau- pulau kosong sekit ar Pulau Neraka. Akhirnya dia m elihat dari j auh perahu Sin Liong m eluncur di ant ara gum palan- gum palan es yang menggunung. Dia merasa heran sekali melihat suhengnya dan merasa khawatir kalau- kalau suhengnya it u m engej arnya at as suruhan raj a unt uk m em aksanya kem bali ke Pulau Es. Maka diam - diam ia lalu m engikut i dari j auh sam pai akhirnya dia m elihat suhengnya m endarat di Pulau Neraka. Dengan m enggunakan kepandaianya. Swat Hong berhasil pula m endarat di Pulau Neraka. Dia t idak khawat ir akan serangan binat ang- binatang berbisa, karena sebelum berangkat Swat Hong m em bawa bat u m ust ika hij au yang dia dapat dahulu dari ayahnya. Di bagian t ert ent u di dasar laut dekat Pulau Es t erdapat bat u m ust ika hij au ini yang am at sukar didapat dan hanya beberapa orang penghuni Pulau Es saj a yang berhasil m endapat kannya. Bat u m ust ika hij au ini m engandung khasiat yang m uj ij at t erhadap ular berbisa dan sem ua binat ang berbisa, selalu dit akut i binat ang- binat ang it u, j uga dapat dipergunakan unt uk m engobat i luka t erkena gigit an binat ang berbisa. Maka, dengan batu mustika ditangannya, dengan mudah Swat Hong dapat memasuki Pulau Neraka t anpa m endapat gangguan sedikit pun dari binat ang berbisa yang hidup di pulau itu. Ketika Swat Hong tiba di tengah pulau, dia sempat melihat sinar, maka dia menant i sam pai larut m alam dan m enyelundup ke dalam t em pat t ahanan, dengan m aksud m enolong suhengnya, akan t et api t anpa disengaj a dia dapat m endengarkan percakapan ant ara suhengnya dengan Soan Cu. I nilah yang m em buat hat inya menjadi panas sehingga ketika dia ketahuan para penjaga dan dikroyok, dia menolak keras bant uan Sin Liong! Tent u saj a Sin Liong m enj adi t erheran- heran m elihat sikap sum oinya dan m em andang dengan alis berkerut dan hat i khawat ir. Sudah ada enam orang pengeroyok t erguling roboh oleh gerakan kaki t angan Swat Hong yang m arah it u, padahal dara it u belum m encabut pedangnya. Dapat dibayangkan bet apa akan hebat nya kalau dara it u sudah m enggunakan senj at a! " Sum oi, t ahan...! " Dia m eloncat m aj u. " Singgg...! Mundur kau! " Sin Liong t erkej ut m elihat sum oinya m encabut pedang! Dan pada saat it u, t erdengar bent akan keras, " Siapakah gadis cilik it u berani m engacau disini? Ahhh, Kwa Sin Liong, engkau berani lolos dari tempat tahanan?" Yang datang adalah Ouw Kong Ek, ketua Pulau Neraka! Tentu saja ket ua ini t idak m engenal Swat Hong, sebaliknya, dara it upun t idak m engenal kakek

68

Bu Kek Siansu
berkepala besar ini, m aka dia m em andang rendah dan m em bent ak, " Siapa kau? Kalau sudah bosan hidup, m aj ulah! " Dara it u dengan gerakan gagah m elint angkan pedangnya di depan dada. Sin Liong cepat m elangkah m aj u. Dia t ahu bet apa lihainya kakek ini, m aka unt uk m encegah pert em puran, dia cepat berkat a, " Tocu, j angan salah sangka.Dia adalah sum oiku, dia adalah put eri Suhu, Raj a dari Pulau Es! " Sem ua orang t erkej ut m endengar ini dan para pengurung m elangkah m undur dengan m at a t erbelalak. Bet apapun j uga, nam a Raj a Pulau Es m asih m erupakan nam a am puh dan selain dibenci, j uga am at dit akut i oleh m ereka. Tent u saj a sebagai put eri Raj a Pulau Es, dara it u m erupakan m usuh yang dibenci dan j uga dit akut i. Pantas saj a dara it u dem ikian lihai, pikir m ereka. Hat i m ereka gent ar. Tidak dem ikian dengan Ouw Kong Ek. Dia m em andang Swat Hong dan t ert awa bergelak. "Ha- ha- ha, j adi dia inikah put eri Raj a Pulau Es? Put eri Han Ti Ong? Bagus, hayo t angkap dia hidup- hidup! " perint ahnya kepada para pem bant unya yang segera m elom pat ke depan. " Tahan dulu! " Sin Liong sudah m engangkat t angan kanannya ke at as. Sem ua orang, t erm asuk Ouw Kong Ek sendiri, m em andang pem uda ini. Betapapun juga mereka maklum bahwa pemuda ini lihai sekali, buktinya penyerbuan binatang- binat ang berbisa unt uk m em bunuhnya di dalam kam ar t ahanan t elah gagal, bahkan binat ang- binat ang it u lari cerai berai dan kini pem uda it u sudah lolos dari dalam penj ara. " Ouw- t ocu, sepert i sudah kucerit akan kepadam u, biarpun sum oi adalah put eri Raj a Han Ti Ong, akan t et api ia m enent ang Ayahnya dan m ewakili I bunya dihukum ke Pulau Neraka. Dia t idak m em usuhi Pulau Neraka...." " Ha- ha- ha, apa pun yang kaukat akan, dia t et ap adalah put eri Han Ti Ong, m usuh besar kam i. Mana kam i dapat percaya kepada kalian, put eri dan m urid Han Ti Ong? Tangkap m ereka! " " Nant i dulu, Tocu! Mengapa engkau m elanggar j anj i? Aku sudah m engat akan bahwa kedat anganku ke pulau ini hanya unt uk m encari Sum oi dan t ernyat a sekarang Sum oi t elah t iba di sini, m aka harap Tocu bersikap bij aksana dan membiarkan kami pergi dari tempat ini." "Hai, Kakek berkepala besar yang tolol! Kau m udah saj a dibohongi Suheng! Kam i m em ang dat ang unt uk m em basm i iblis- iblis di Pulau Neraka. Nah, kau m au apa?" " Sum oi! " Sin Liong m em bent ak kaget dan cepat berkata kepada ketua Pulau Neraka, "Tocu, jangan dengarkan dia. Agaknya dia telah m engalam i t ekanan bat in yang hebat sehingga m engeluarkan kat a- kat a kacau balau tidak karuan." Swat Hong mengangkat dada, menegakan kepalanya dan menghadapi Sin Liong dengan m at a m endelik dan berkat a lant ang, " Apa? Kau m au bilang bahwa aku t elah m enj adi gila?" " Sum oi, kalau kau bicara sepert i t adi, m em bohong t idak karuan, m em ang agaknya kau t elah gila?" " Kau yang gila! Kau yang t idak waras dan berot ak m iring! Kalau aku m em bohongi iblis- iblis ini, apa hubungannya dengan kau?" Sin Liong benar- benar m enj adi bingung. Biasanya Swat Hong bersikap m anis kepadanya dan biarpun dia t ahu bahwa dara ini berhat i keras, akan t et api belum pernah bersikap sekeras it u kepadanya. Tiba- t iba m uncul Soan Cu yang berkat a kepada kakeknya, suaranya nyaring sehingga t erdengar oleh sem ua orang. " Kongkong, apa yang dikat akan Sin Liong m em ang benar! Dia berikt ikad baik t erhadap kit a, Kong- kong. Malam t adi aku dat ang kepadanya unt uk m engej eknya, akan t et api dia sebaliknya malah menunjukkan bahaya maut yang mengancam diriku." Kakek itu t erkej ut . " Bahaya m aut ? Apa m aksudm u?" " Sin Liong t ernyat a m em iliki ilm u pengobat an yang lihai sekali. begit u m elihat aku, dia m engat akan bahwa aku t erserang hawa beracun dari sebelah dalam dan j ika t idak diobat i dengan t epat , dalam wakt u kurang dari set ahun aku t ent u akan m at i." " Hahh...??" Kakek it u dan sem ua pem bant unya t erbelalak kaget m em andang dara it u yang bersikap sungguhsungguh. " Dan dia m em ang benar. Dia m engant akan bahwa set iap t engah m alam aku t ent u m erasa pening dan dibagian punggung sepert i dit usuk- t usuk j arum , kalau pagi kedua kaki pegal- pegal dan sehabis m akan t ent u m erasa m ual hendak m unt ah. Sem ua yang dikat akanya it u t ernyat a t epat sekali, Kong- kong." Berubah waj ah kakek it u. Soan Cu adalah seorang yang am at disayangnya, bahkan disayang oleh

69

Bu Kek Siansu
pem bant unya karena dara inilah yang akan m ewarisi seluruh ilm u kepandaiannya dan yang akan m enggant ikannya m enj adi Ket ua Pulau Neraka. Tent u saj a m endengar bahwa usia Soan Cu hanya t inggal set ahun, dia t erkej ut bukan m ain dan cepat m em andang kepada Sin Liong. Sin Liong sendiri bengong dan t erheran- heran. Akan t et api ket ika dia m em andang Soan Cu ket ika kakek it u m em balik dan m enghadapinya, dia m elihat dara it u secara lucu t elah m engej apkan m at a kirinya, m aka m engert ilah dia bahwa dara it u kem bali m em bohong! Mem bohong dengan cerdik bukan m ain dalam usahanya unt uk m enolongnya! " Kwa Sin Liong, benarkah cucuku diancam hawa beracun? Benarkah??" Melihat sikap Sin Liong m eragu, agaknya sukar bagi pemuda itu untuk membohong maka Soan Cu cepat berkata lagi, "Kong- kong, dia m engat akan bahwa dia dapat m em berikan obat nya, akan t et api dia hanya m au m em beri obat kalau dia dan sum oinya dibebaskan dari sini. Terserah kepada Kong- kong berat aku at au berat m ereka it u." Swat Hong sudah ham pir m em buka m ulut nya m em aki dara it u yang dia t ahu t elah m em bohong. Dia sendiri m endengar percakapan m ereka dan dara it u sam a sekali t idak sakit , bahkan t elah m em beri obat penolak binat ang beracun kepada Sin Liong, dan m enyat akan bet apa dara t ak t ahu m alu it u am at suka dan kagum kepada Sin Liong, m aka dat ang m enolongnya. Sekarang dara it u m engat akan hal yang bukan- bukan! Akan t et api, ket ika m endengar ucapan t erakhir dari Soan Cu, t ahulah dia bahwa dara it u kini m em bohong unt uk m enolong Sin Liong dan dia t erbebas dari Pulau Neraka! Kenyat aan ini m em buat dia bungkam kem bali. Bet apa baiknya dara it u dan bet apa akan buruknya dia kalau dia m em bongkar rahasia gadis it u. Tent u Sin Liong akan m akin kagum kepada Soan Cu dan m akin benci kepadanya. Pikiran inilah yang m em buat dia m em bungkam dan t idak m elanj ut kan niat nya unt uk m em bant ah Soan Cu. Hat i kakek it u m akin bingung. Lenyaplah sem ua nafsunya unt uk m enawan Sin Liong dan Swat Hong. Dia m em andang Sin Liong dan bert anya, " Orang m uda, benarkah engkau dapat m enyelam at kan cucuku?" Kini Sin Liong yang m enj adi bingung. Pem uda ini sam a sekali t idak pernah m em bohong dan hat inya t idak akan dapat m em bohong, nam un dia t ahu bahwa kalau dia m enyangkal kat a- kat a Soan Cu, sam a saj a m encelakakan gadis yang berniat baik kepadanya it u. Maka dia lalu m enj awab dengan suara ragu- ragu dan perlahan, " Aku dapat m em beri obat pem bersih darah dan penguat t ulang kepadanya, Tocu." " Dan kau m enj am in bahwa cucuku t ent u akan sem buh dan t erhindar dari ancam an m aut hawa beracun di tubuhnya itu?" Kakek itu mendesak. "Kong- kong mengapa tidak percaya kepadanya? lekas m int a obat nya dan engkau yang harus m enj am in bahwa dia dan sum oinya t idak akan diganggu," kat a Soan Cu. Kakek berkepala besar it u m eraba- raba j enggot nya. " Hem m m ,harus ada bukt inya dulu. Kwat Sin Liong, m ulai saat ini engkau dan Sum oim u put eri Han Ti Ong harus t inggal di pulau ini sebagai t am u sam bil m enant i hasil pengobat anm u kepada cucuku. Kalau kau gagal m engobat inya, hem m m , aku t idak akan m engam puni kalian berdua. Kalau cucuku sem buh, barulah kit a bicara lagi." Sin Liong m engerut kan alisnya hendak m em bant ah perat uran yang berat sebelah ini, akan t et api dia m elihat Soan Cu m engedipkan m at a kirinya m aka dia menarik napas panjang dan mengangguk lalu berkata, "Harap sediakan alat tulis, biar kulukiskan bent uk daun yang harus dicari." Sin Liong lalu m elukiskan beberapa m acam daun yang m udah dicari dan yang m em punyai khasiat biasa saj a, yait u sekedar penam bah kekuat an t ubuh. Ouw Kong Ek lalu m enyuruh seorang pem bant unya unt uk m encari daun- daun yang dilukis it u di pulau sebelah Pulau Neraka di m ana t erdapat banyak t et um buhan. Adapun Sin Liong dan Swat Hong lalu diperlakukan sebagai t am u t erhorm at , bahkan disediakan dua kam ar yang bersih unt uk m ereka, dilayani baik- baik dan t ent u saj a di sam ping pelayanan ini, para pelayan yang terdiri dari pembantu- pembantu ketua, bertugas pula sebagai penjaga! " Kuperingat kan kepada kalian agar m enant i sam pai cucuku sem buh. Lari pun t idak akan ada gunanya bagi kalian karena perahu- perahu kalian telah kami simpan dan di

70

Bu Kek Siansu
sekeliling Pulau Neraka t idak akan ada perahu sebuah pun. Tanpa perahu, bagaim ana kalian akan dapat m eninggalkan pulau ini?" Dem ikinan pesan Ouw Kong Ek sebelum dia m eninggalkan dua orang it u sehingga Swat Hong m enj adi m endongkol sekali dan ham pir saj a dia m em aki- m aki ket ua it u kalau t idak dit ahan oleh Sin Liong yang m em egang lengannya. Set elah ket ua it u m eninggalkan m ereka berdua di dalam pondok di m ana m ereka unt uk sem ent ara t inggal, Sin Liong menegur sum oinya , " Sum oi, m engapa kau bersikap sepert i it u?" " Suheng, aku t idak nyangka sam a sekali akan m enyaksikan engkau yang t erkenal alim kini berm ain gila dengan gadis put eri ket ua Pulau Neraka. Huhh! " Sin Liong m engerut kan alisnya dan m em andang t aj am kepada sum oinya,hat inya bert anya m engapa sum oinya m em perhat ikan soal begit u, padahal sam a sekali t idak ada sangkut paut dengan sum oinya. " Sum oi, engkau t ahu bet ul bahwa Nona Ouw Soan Cu m elakukan hal it u dem i m enolong kit a. Siapakah yang m ain- m ain dengan dia?" " Hem m , apa kaukira aku t idak t ahu bet apa dia suka kepadam u dan sengaj a m endat angi kam ar t ahananm u unt uk m erayum u?" " Sum oi! j adi sudah selam a ini kau berada di sini? Dan aku diam saj a? Sum oi, m engapa kau m enyangka yang bukan- bukan? Kalau kau sudah t ahu akan kunj ungannya it u, t ent u kau t ahu j uga bahwa dia dat ang unt uk m em beri obat penolak binat ang- binat ang berbisa. Sum oi, kit a sem est inya bert erim a kasih kepadanya, dia berm agsud baik bahkan t idak segan- segan m em bohong kepada Kong- kongnya dem i keselam at an kit a." " Ya, ya, m em ang dia baik sekali dan cant ik sekali. Siapa yang t idak t ahu?" " Sum oi..., harap j angan m arah. Dia adalah seorang gadis yang bernasib buruk sekali, ibunya m eninggal ket ika m elahirkan dia, ayahnya pergi ent ah kem ana dan sam pai kini belum kem bali..." " Mem ang, dia seorang gadis bernasib buruk yang pat ut dikasihani, t idak sepert i aku..." dan Swat Hong lalu m enelungkupkan m uka di at as m ej a dan m enangis! Sin Liong t erkej ut , beberapa kali hendak m em egang lengan sum oinya akan t et api dit ahannya tangannya. " Aihh... Sum oi, engkau pun bernasib buruk, dan aku m erasa kasihan sekali kepadam u. Karena aku m erasa kasihan aku m enyusulm u. Sum oi, diam lah jangan menangis. Apakah Sumoi telah bertemu dengan Ibumu?" Swat Hong seketika berhent i m enangis, m engangkat m ukanya yang basah air m at a dan m em andang kepada Sin Liong. Pem uda it u m erasa kasihan sekali, lalu m engeluarkan saput angannya dan m engapus air m at a yang m em basahi m uka gadis it u. " Suheng...apa m aksudm u? Apa yang t erj adi dengan dia? Bukankah ibu berada di Pulau Es dan aku sudah m ewakilinya?" Mendengar t ent ang ibunya, seket ika lupalah Swat Hong akan kem arahan dan kedukaan hat inya sendiri. " I bum u j uga t elah pergi m eninggalkan Pulau Es..." dengan singkat Sin Liong lalu m encerit akan apa yang t erj adi set elah gadis it u lari pergi dari Pulau Es, bet apa ibunya j uga pergi, t idak m au disuruh t inggal di Pulau Es set elah put erinya m em buang diri ke Pulau Neraka. " Aku tadinya mengharapkan engkau dapat bertemu dengan ibu maka aku tidak melihatmu di sini,Sum oi. Jadi engkau belum bert em u dengan ibum u?" Gadis it u m engerut kan alisnya dan m enggeleng kepala, kelihat an m uram waj ahnya m endengar akan kepergian ibunya. " Ah, kalau begit u ke m anakah perginya ibum u?" Sin Liong t erm enung dan diam - diam dia pun m erasa prihat in sekali akan nasib wanit a it u. Tiba- t iba Swat Hong berdiri dan m engepal t inj u, m ukanya agak pucat ket ika dia berkat a, " Aku m au pergi dari sini sekarang j uga! Aku harus m encari ibu sam pai ket em u, dan aku t idak akan kem bali ke Pulau Es! Aku t idak akan sudi m enggant ikan ibu di Pulau Neraka ini pula. Bukankah ibu sudah m eninggalkan Pulau Es sehingga percum a saj a aku m ewakilinya?" " Nant i dulu, Sum oi, kau t idak bisa pergi begit u saj a. Tent u m ereka akan m enghalangim u! " " Aku t idak t akut ! Yang m enghalangi aku akan kubunuh! " " Sabarlah, Sum oi. Perlu apa kit a m encari perm usuhan dengan m ereka yang berj um lah banyak? Bukan soal t akut at au t idak t akut , akan t et api m ereka adalah m anusia- m anusia yang bernasib buruk sekali, dipaksa t inggal di t em pat sepert i neraka ini. Bahkan m ereka boleh dibilang senasib dengan ibum u dan

71

Bu Kek Siansu
denganm u sendiri. Selain it u ke m anakah kit a harus m encari ibum u? Kalau kit a berbaik dengan mereka, bukankah kemudian mereka dapat membantu kita mencari? Dengan t enaga banyak orang kukira akan lebih m udah m encari I bum u yang t idak j elas ke m ana perginya it u." Swat Hong dapat dibuj uk dan akhirnya dia duduk di at as bangku sam bil m engerut kan alisnya dengan waj ah m uram . Bet apapun j uga, set elah dia sadar bahwa cem burunya t erhadap suhengnya dan Soan Cu t idak berdasar, kini t erasalah olehnya bet apa hat inya sesungguhnya m erasa lega dan senang karena dapat bert em u dan berkum pul dengan suhengnya, apalagi di t em pat yang berbahaya ini. Beberapa hari telah lewat dan Soan Cu setiap hari minum "Obat" yang t erbuat dair daun- daun sepert i yang dilukiskan oleh Sin Liong. Set iap hari kakenya bert anya dan dia m enj awab bahwa penyakit nya yang diderit anya, rasa nyeri sepert i yang dinyat akan Sin Liong it u berangsur- angsur sem buh! Girang bukan m ain hat i kakek it u, akan t et api hat i Swat Hong yang m endongkol m elihat bet apa Soan Cu seolah- olah m engulur wakt u " penyem buhannya" ! Pada hari ke t uj uh, Ouw Kong Ek dan Soan Cu m endat angi pondok t em pat t inggal Sin Liong dan Swat Hong. Dua orang m uda dari Pulau Es ini m em ang sudah m enunggu di depan pondok dengan hat i t idak sabar, m enant i berit a kesem buhan t ot al Soan Cu. Maka m ereka m enyam but ket ua Pulau Neraka dan cucunya it u dengan penuh harapan it u, m elihat bet apa waj ah kedua orang pendat ang it u berseri. Set elah t iba di depan m ereka, Soan Cu segera berkat a, " Sin Liong, Kakek m erasa bert erim a kasih sekali kepadam u dan m enyet uj ui kau m elanj ut kan pengobat an dengan m enggunakan sinkang! " "Apa...?" Akan tetapi kata- kata Sin Liong yang bingung dan tidak mengerti itu segera diput us oleh Soan Cu, " Bukankah dulu kaukat akan set elah beberapa hari m inum obat penawar racun, kau akan m elenyapkan sam a sekali hawa beracun it u dengan m enggunakan sinkang m enyedot keluar hawa it u dari punggungku?" Ouw Kong Ek t ert awa. " Orang m uda she Kwa. Kalau bukan engkau yang sudah kupercaya penuh, t ent u aku t idak m engij inkan pengobat an ini. Akan t et api aku sudah percaya kepadam u, m aka silahkan. Mudahm udahan saj a dalam wakt u singkat cucuku akan sem buh sam a sekali." Set elah berkat a dem ikian, kakek it u m em bungkuk ke arah Sin liong dan Swat Hong, lalu m eninggalkan cucunya. " Soan Cu, apa m aksudm u?" Sin Liong segera berbisik m enegur. " Huh, t ent u ingin berduaan denganm u di dalam kam ar, apa lagi?" Swat Hong m engej ek. " Husshhh, harap kalian j angan ribut - ribut, " bisik Soan Cu. " Mari kit a m asuk ke kam ar dan bicara. " Dia m enggandeng t angan Sin Liong dan diaj aknya m asuk. Melihat Swat Hong cem berut , Sin Liong berkat a, " Sum oi, m arilah." " Aku t idak sudi m enggangu kalian! " " Aih Enci Hong, m engapa begit u? Yang hendak kubicarakan adalah kepent ingan kalian berdua. Marilah." Soan Cu berkat a dan agaknya m em ang dara Pulau Neraka ini t idak pernah m engert i apa yang diej ekan oleh Swat Hong. Agaknya cara hidup di Pulau Neraka m em buat dia kurang m engert i akan t at a susila sehingga t ak pernah m erasa m elanggar sesuat u biarpun dia m em asuki kam ar berdua dengan seorang pem uda. Sam bil bersungut sunggut m enyem bunyikan rasa m alunya bahwa dia t elah m enduga yang bukanbukan, Swat Hong ikut m asuk. " Aku m em ang berpura- pura, m engulur panj ang wakt u penyem buhan. Sem ua ini karena aku m endengar bahwa Kong- kong dan para pem bant unya t idak m em bebaskan kalian set elah aku sem buh." " Keparat ! Kongkongm u m em ang bukan m anusia baik- baik! pant as m enj adi ket ua di Pulau Neraka! Aku akan m enem uinya! " " Hushhh, Sum oi, Bersabarlah, dan m ari kit a dengar kat akat a Soan Cu." Dengan m uka m uram Swat Hong duduk lagi dan m em andang waj ah Soan Cu. Waj ah yang m anis sekali, pikirnya, m anis dan polos. Pant aslah kalau andaikat a Sin Liong j at uh cint a kepada gadis ini, pikirnya lagi dan hat inya m erasa berdebar penuh khawat ir. " Kong- kong t elah berj aga- j aga dan m em persiapkan anak buahnya, m enj aga kalau- kalau kalian m elarikan diri. Berbahaya sekali." " Habis bagaim ana baiknya,Soan Cu?" " Ada j alan," kat a dara yang lincah dan cerdik it u. "Menurut pendengaranku ketika Kong- kong merundingkan di kamar rahasia bersama

72

Bu Kek Siansu
para pem bant unya yang paling dipercaya, Kong- kong t idak berniat buruk kepada kalian. Set elah kau dapat m enyem buhkan aku, m aka Kong- kong m em but uhkan engkau sebagai ahli pengobatan di pulau ini. Dia hendak menahanmu agar kau dapat mengobat i set iap penghuni yang t erserang penyakit . Adapun Enci Hong dit ahan di sini sebagai sandera, unt uk m enahan kekuasaan Pulau Es." " Keparat ....! " " Jangan m arah, Enci Hong. kurasa kit a harus m enghadapi Kong- kong yang berwat ak kasar dengan sikap dan akal halus. Kalau aku sudah sem buh, yait u kalau kunyat akan bahwa aku sudah sem buh sam a sekali, sedikit banyak Kong- kong t ent u akan bert erim a kasih. Kem udian Liong- ko...heh, Sin Liong m engaj arkan Kong- kong m engenal daun obat - obat an dengan j anj i akan m em bebaskan kalian. Kurasa Kongkong akan m au m enerim anya karena sebenarnya yang dibut uhkan adalah penget ahuan t ent ang ilm u pengobat an it u. Dengan dem ikian, kalau kalian m eninggalkan pulau ini, kalian akan dianggap sebagai sahabat dan penolong. Bagaim ana?" " Kurasa baik j uga akal ini," kat a Sin Liong. " Hem m , t erserahlah,. Akan t et api j angan ada akal bulus di balik sem ua ini! " Swat Hong m engancam . Soan Cu m enarik napas panj ang. " Enci Hong, harap j angan m encurigai aku. Aku sudah m enyesal sekali m enj adi seorang yang t erlahir di t em pat ini, dan aku ingin melanjutkan cita- cita Ayah bundaku yang kabarnya dahulu juga selalu berusaha agar penghuni Pulau Neraka t idak m enj adi orang liar yang t idak m engenal prikem anusiaan." Set elah berkat a dem ikian, Soan Cu pergi m eninggalkan pondok it u dengan m uka t unduk. " Seorang anak yang baik...." Sin Liong m em uj i sam bil m em andang t ubuh dara it u yang m elangkah pergi m eninggalkan pondok. " Maksudm u, seorang dara yang cant ik dan berbudi! " Tanpa m enoleh Sin Liong m engangguk. " Mem ang, dia cant ik dan berbudi." Huh! Sudah kusangka dem ikian! " Sin Liong m enoleh kaget dan m em andang waj ah sum oinya, " Sum oi, apa m aksudm u?" Swat Hong m em buang m uka. " Hem m , t idak apa- ap. " Begit ulah! " lalu dia lari m em asuki kam arnya, m em bant ing daun pint u keras- keras. Sin Liong menggeleng kepalanya, m akin t idak m engert i dia akan sikap wanit a pada um um nya dan saat it u, sikap Swat Hong khususnya, j uga sikap Soan Cu yang am at aneh kalau diingat bahwa dia adalah cucu ket ua Pulau Neraka yang berwat ak aneh dan kej am . Semua terjadi seperti direncanakan oleh Soan Cu. Setelah dara itu mengaku sembuh sam a sekali dan Sin Liong bersam a Swat Hong m enghadap ket ua unt uk m int a pem bebasan, Ouw Kong Ek m enggeleng kepalanya dan berkat a, " Kwa Sin Liong, kam i bert erim a kasih sekali at as penyem buhan penyakit cucuku, dan unt uk j asam u it u, kam i t idak akan m enggangu kalian, bahkan m enganggap kalian sebagai orangorang berj asa. Akan t et api, t erpaksa kam i t idak dapat m em bebaskan kalian karena kam i am at m em but uhkan engkau sebagai ahli pengobat an di pulau ini. Maka, harap kalian suka m engert i akan kebut uhan kam i ini. Tinggallah di sini dan m enj adi orangorang t erhorm at m enj adi pem bant uku yang paling baik." " Tocu, aku m engert i akan kebut uhan Tocu dan para penghuni Pulau Neraka. Akan t et api sungguh t idak adil kalau m enyuruh kam i t inggal di sini selam anya, apa lagi am at t idak adil bagi Sum oi. Bet apapun j uga, karena aku m engert i akan kebut uhan kalian sem ua, biarlah sekarang diat ur begini saj a. Aku akan sem ent ara wakt u t inggal di sini m engaj arkan ilm u pengobat an kepada Tocu, akan t et api kum int a agar Sum oi sekarang j uga dibebaskan, diberi sebuah perahu agar sumoi dapat pergi lebih dahulu meninggalkan Pulau Neraka. Adapun aku sendiri, kalau Tocu sudah m engenal sem ua daun dan bahan pengobat an, baru aku akan pergi dari sini. Bagaim ana?" Ket ua Pulau Neraka it u m engerut kan alisnya, lalu m elirik kearah cucunya yang duduk di sebelahnya dan m enundukan kepala saj a. " Hem m m , boleh j uga sum oim u pergi. Biarpun dia put eri Han Ti Ong, akan t et api m engingat akan j asam u, biarlah dia kam i bebaskan. Akan t et api kau....ah, aku sangat m engharapkan agar engkau m enj adi.... keluarga kam i, orang m uda." Kem bali dia m engerling ke arah Soan Cu dan gadis it u m akin m enundukan m ukanya yang m enj adi m erah sekali. " Benar sekali, dia am at cocok

73

Bu Kek Siansu
m enj adi j odoh Nona Ouw! " beberapa orang m em bant u berkat a sam bil t ert awa- tawa, sikap m ereka bebas t erbuka. " Aku t idak m au pergi! " t iba- t iba Swat Hong berkat a lant ang. " Kalau Suheng t inggal di sini m engaj arkan ilm u pengobat an, aku akan tinggal di sini juga sampai pelajaran itu selesai. Dan kalau....kalau ada pengantian di sini, kalau suheng diam bil m ant u, aku pun harus m enj adi saksinya! " Ucapan it u sebet ulnya dikeluarkan dengan gej olak kem arahan dan kepanasan hat inya, akan t et api para pem bant u Ouw Kong Ek m enyam but nya dengan suara ket awa. Tent u saj a Sin Liong kaget sekali m endengar ucapan Sum oinya it u. Ada kesem pat an yang am at baik t erbuka bagi Swat Hong unt uk m em bebaskan diri dari pulau berbahaya it u, dan kesem pat an it u dibuang begit u saj a oleh Swat Hong! Dia t elah m engenal wat ak Swat Hong. Sekali bilang t idak m au, dipaksa pun sam pai m at i t idak akan m au t unduk! Maka dia m enj adi bingung sekali. " Tocu, karena Sum oi t idak m au pergi sendiri lebih dulu, m aka biarlah perj anj ian kit a diubah. Akan m em beri pelaj aran ilm u pengebat an kepada Tocu, set elah Tocu m engenal bahan obat unt uk m elindungi penghuni pulau ini, aku dan Sum oi boleh pergi dengan bebas." Ket ua Pulau Neraka it u m engelus- elus dagunya dan alisnya berkerut , berkali- kali dia m elirik ke arah cucunya. Dia adalah seorang yang sudah t ua, biarpun t idak pernah t erj un ke dunia ram ai, nam un dia t ahu bahwa cucunya j at uh hat i kepada pem uda yang hebat ini. Dan dia t idak m elihat seorang pem uda lain di Pulau Neraka yang kiranya pat ut m enj adi suam i cucunya! Tent u saj a hat inya t idak rela kalau pem uda it u pergi m eninggalkan pulau karena dia t ahu bahwa hal it u t ent u akan m engecewakan hat i cucunya. Maka dia hanya m enggeleng- geleng kepala, t anpa dapat m enj awab. Melihat keraguan ket uanya, seorang kakek berusia lim a puluh t ahun lebih m elaj u maju. Orang ini kepalanya gundul bot ak akan t et api m ukanya penuh brewok, t ubuhnya kurus kecil dan di lehernya ada seekor ular m erah m elingkar. Dia adalah pem bant u ut am dari Ouw Kong Ek, seorang yang lihai ilm u kepandaiannya dan bernam a Lo Thong. Berbeda dengan Maj ikan Pulau Neraka it u yang m erupakan ket urunan orang buangan, m aka Lo Thong sendiri adalah seorang buangan dari Pulau Es, t iga puluh t ahun yang lalu dia dibuang dariPulau Es karena sebagai seorang pem uda dia banyak m elakukan kej ahat an. Set elah berada di Pulau Neraka dia m em perdalam ilm i- ilm unya dan m enj adi orang ke dua yang t erkuat set elah Ouw Kong Ek, yait u sesudah put era Ouw Kong Ek yang bernam a Ouw Sian Kok, ayah Soan Cu m enj adi gila dan m eninggalkan pulau. Maka dia diangkat sebagai pem bant u ut am a oleh Ouw Kong Ek. " Twako( Kakak) ," Lo Thong berkat a dan t idak sepert i lain penghuni Pulau Neraka yang m enyebut ket ua m ereka t ocu ( m aj ikan pulau) , dia menyebutnya kakak, "mengapa Twako bingung menghadapi urusan dua orang anakanak ini? Bet apapun j uga, m ereka berada di pulau ini dan seharusnya m ereka t unduk kepada sem ua perint ah Twako yang m enj adi hukum di sini. Kalau m ereka hendak m engam bil keput usan sendiri, boleh saj a akan t et api m ereka harus lebih dulu dapat m engalahkan kit a! " Ouw Kong Ek m em andang pem bant unya dengan m uka berseri, seolah- olah dia t erlepas dari keadaan yang ruwet . " Kalau begit u, bagaim ana baiknya, Lo- t ee?" " Menurut saya, lebih baik diadakan pert andingan ant ara orang pem uda She Kwa ini dan Twako. Kalau dalam pert andingan it u dia kalah, maka dia dan Sumoinya harus selamanya tinggal di sini dan menjadi penghuni pulau ini sepert i kit a sem ua." " He, Bot ak! Enak saj a kau bicara! Siapa bilang Suhengku kalah oleh ket ua kalian? Habis, kalau kem udian ket ua kalian yang kalah, bagaim ana?" Swat Hong bert eriak nyaring. " Twako kalah? Ha- ha, m ana m ungkin?" Lo Thong m enj awab. " Akan t et api kalau Twako kalah, biarlah pem uda She Kwa ini m engaj arkan ilm u pengobat an sam pai Twako pandai, baru kalian berdua boleh pergi m eninggalkan pulau ini dengan bebas." " Usul yang bagus sekali! " Ouw Kong Ek berseru gem bira. " Kwa Sin Liong, aku m endengar bahwa di dunia ram ai, di darat an sana, orang- orang gagah m enggunakan kepandaian unt uk m em ut uskan sebuah perkara yang ruwet . Aku percaya bahwa engkau t ent u seorang gagah pula, m aka

74

Bu Kek Siansu
biarlah kit a m em bereskan urusan ini dengan m engukur kepandaian m asing- masing sepert i yang diusulkan oleh pem bant uku Lo Thong." Sin Liong m enggeleng kepalanya. " Tocu, aku t idak suka m enggunakan ilm u yang kupelaj ari unt uk kekerasan. Mengapa Tocu hendak m enggunakan cara kekerasan unt uk m enahan kam i berdua selam anya di pulau ini? Aku sudah besedia m engaj arkan ilm u pengobat an, m aka sudah sepat ut nya kalau Tocu m em balasnya dengan m em bebaskan kam i. " Tidak kit a harus saling m engukur kepandaian dulu! " ket ua it u berkeras. Tiba- t iba Swat Hong m elom pat ket engah lapangan dan m em busungkan dada m enegakkan kepalanya. " Hayolah! Kalau Suheng t idak m au, biarlah aku yang m elayanim u! Siapa sih t akut kepada orang Pulau Neraka? Aku yang m em asuki pert andingan it u, dan kalau kalah, boleh kalian berbuat apa saj a sesuka kalain! " " Sum oi...! ! " Sin Liong m enegur. " Suheng, aku t idak t akut ! " Swat Hong m em bant ah. Ouw Kong Ek m engerut kan alisnya. " Soan Cu, kau layani bocah liar yang som bong ini! " kat anya. " Baik Kong- kong." Soan Cu bangkit berdiri dan m elangkah m aj u, akan t et api segera berhent i ket ika m endengar suara Sin Liong, " Soan Cu harap j angan bert anding. Di ant ara kit a t idak ada perm usuhan, bukan?" Soan Cu m eragu, m em andang kepada Kong- kongnya, kem udian kepada Sin Liong, dan akhirnya dia kembali duduk di t em pat nya yang t adi. " Soan Cu...." Kakeknya m enegur. " Kongkong, aku t idak m au bert anding. Mereka bukan m usuhku." Mat a kakek it u t erbelalak, akan t et api dia t idak m arah bahkan lalu t ert awa bergelak. " Kau...kau lebih t aat kepadanya? Ha- ha- ha- ha!" Dia t ert awa karena sikap cucunya it u j elas m em bukt ikan bet apa cucunya benarbenar t elah j at uh cint a kepada Sin Liong! Sampai- sam pai berani m em bangkang t erhadap perint ahnya hanya karena Sin Liong m enghendaki dem ikian. Makin panaslah hat i Swat Hong. Tadinya dia sudah siap- siap unt uk m enj at uhkan cucu ket ua Pulau Neraka it u, selain agar m enang pert andingan j uga hendak m em perlihat kan kepada Suhengnya bahwa dia lebih pandai dari pada Soan Cu. Akan t et api, t ernyat a Suhengnya m elarang Soan Cu dan dan put ri Pulau Neraka it u begit u t aat ! " Ouw Kong Ek, kalau cucum u t idak berani m aj u, biarlah kau sendiri yang m aj u! Hayo t andingilah aku, put eri Raj a Pulau Es! " Dia m enant angnant ang dengan suara penuh kem arahan. Sin Liong hanya m enggeleng kepalanya dan bingung sekali bagaim ana harus m encegah sum oinya. Kem bali kakek it u m enj adi m arah. Tant angan yang keluar dari m ulut Swat Hong m em buat m ukanya m erah dan t elinganya panas. Akan t et api bet apa m em alukan kalau dia harus menandingi seorang bocah perempuan yang usianya sebaya dengan cucunya sendiri! " Twako, perkenankanlah saya m enghaj ar bocah berm ulut lancang ini" Lo Thong berkat a dan Ouw Kong Ek m engangguk, akan t et api m asih ingat dan m em esan. " Akan t et api cukup beri haj aran saj a, j angan sam pai dia t erbunuh." " Baik saya mengerti, Twako." Lo Thong menjawab lalu sekali kakinya bergerak, tubuhnya sudah m encelat ke depan Swat Hong. Menyaksikan ginkang yang hebat ini diam - diam Sin Liong khawat ir sekali, akan t et api dia pun t idak dapat m encegahnya karena m aklum kalau dia melarang, Sumoinya tentu akan menjadi makin nekat saja. Maka dia hanya bangkit berdiri dan m em andang dengan j ant ung berdebar t egang. Swat Hong m em andang kakek bot ak yang berdiri di depannya, lalu berkat a, suaranya m engej ek. " Apakah pert andingan ini akan m em ut uskan perj anj ian t adi, bahwa kalau aku m enang kam i berdua boleh pergi dari sini?" " Tidak" , j awab Lo Thong. " Pert andingan ini hanya m engenai dirim u, kalau kau m enang kau boleh pergi, kalau kau kalah, kau harus t inggal di sini selam anya dan m enj adi m uridku." " Set an alas! Siapa takut padamu?" Swat Hong yang sudah kena dibakar hantinya itu membentak. "Sumoi, tanpa pertandingan pun kau boleh pergi sekarang juga!" Sin Liong berteriak. " Tidak, Suheng. Aku m erasa kurang t erhorm at kalau pergi begit u saj a. Aku t idak sudi m enerim a kebaikan orang- orang Pulau Neraka. Kalau aku pergi berart i aku pergi m engandalkan kepandaian aku sendiri, bukan karena kebaikan hat i m ereka. Hayo, kakek bot ak, boleh kaukeluarkan segala ilm um u! " " Bocah som bong,

75

Bu Kek Siansu
sam but lah ini! " Lo Thong m erasa panas j uga perut nya m elihat sikap dara rem aj a yang m em andang redah kepadanya it u. Akan t et api dia pun m aklum bahwa dara ini t ent u m em iliki kepandaian t inggi sebagai put eri Raj a Pulau Es, m aka sekali m enyerang, dia t elah m engeluarkan kepandaiannya, m engeluarkan j urus yang ampuh dan mengerahkan tenaga sinkangnya. "Wuuuuuttt... sirrr...desss!" Mula- mula Lo Thong m enggerakan t ubuhnya rendah kebawah, seolah- olah lengan kirinya yang bergerak itu hendak menangkap kaki Swat Hong, akan tetapi tiba- tiba saja tubuhnya m eninggi, t angan kanannya m eluncur dan m encengkram ke arah pinggang dara it u. Namun Swat Hong yang usianya masih muda sekali itu belum lima belas tahun, telah m ewarisi int i kepandaian dari ilm u- ilm u kesakt ian Pulau Es. Dengan t enang dia m elihat bahwa bukan t angan kiri lawan yang berbahaya m elainkan t angan kanannya, m aka dia cepat m enarik kaki kiri dan m enangkis dengan sabet an t angan m iring dari sam ping yang m engenai lengan lawan. LoThong m encelat ke belakang dan inilah kehebat an ginkangnya. Gerakannya bukanlah langkah kaki, m elainkan loncat an yang m em buat t ubuhnya m encelat ke sana- sini dengan am at cepat nya dan sam a sekali t idak t erduga- duga lawan. " Sum oi awasilah gerakannya. Ginkangnya lihai! " Sin Liong berseru dan diam - diam Lo Thong m endongkol j uga. Ternyat a pem uda it u lihai sekali, baru segebrakan saj a sudah m engenal dim ana let ak keam puhannya. Maka dia lalu m enggereng dan m enubruk m aj u, m enghuj ani Swat Hong dengan serangan bert ubi- t ubi. Swat Hong diam - diam t erkej ut j uga. Ternyat a bahwa pem bant u ut am a dari ket ua Pulau Neraka ini hebat bukan m ain. Set iap gerakan t angannya m endat angkan angin keras m enyam bar dan kecepat annya m em buat dia pening karena harus m enggerakan kekuat an m at anya unt uk m engikut i t erus gerakan lawan. nam un, t ent u saj a dia t idak m enj adi gent ar. Sej ak kecil dara rem aj a ini t idak pernah m engenal art inya t akut , dan dia pun m engeluarkan kepandaiannya unt uk m em balas dengan serangan yang t idak kalah dahsyat nya. Sem ua m at a m em andang pert andingan it u dengan penuh perhat ian. Diam - diam Soan Cu m erasa kagum sekali kepada Swat Hong dan dia harus m engaku dalam hat inya bahwa andaikat a t adi dia yang m aj u, dia akan kalah m enghadapi kelihaian dara Pulau Es it u, m aka dia m erasa m akin bersyukur kepada Sin Liong yang t adi m encegahnya m aj u m elawan Swat Hong. Apakah pem uda it u sudah t ahu bahwa dia akan kalah kalau m elawan Swat Hong? Soan Cu m elirik ke arah Sin Liong dan m elihat bet apa waj ah pem uda yang t am pan it u diliput i kekhawat iran, m aka dia kem bali m enyaksikan pert andingan yang hebat it u. Tubuh m ereka berdua yang bertanding it u sudah t idak dapat kelihat an j elas, yang t am pak hanya dua bayangan berkelebat an ke kanan kiri dengan cepat sekali. Ginkang yang dikuasai oleh Lo Thong m em ang hebat sekali, akan t et api sekarang dia berhadapan dengan put eri Raj a Han Ti Ong dari Pulau Es! Biarpun m asih kalah sedikit nam un Swat Hong dapat m engim bangi kecepat an lawan, bahkan dapat m endesak dengan ilm u silat nya yang luar biasa dan t enaga sinkangnya yang berdasarkan hawa m urni dari im - kang yang dingin. I lm u silat yang dim ainkan oleh Swat Hong adalah ilm u silat t angan kosong Jit- cap- j iseng ( Jut uh Puluh Dua Bint ang ) yang m em punyai t uluh puluh dua j urusj urus am puh. Sebagai bekas penghuni Pulau Es sebelum Swat Hong t erlahir, t ent u Lo Thong m engenal ilm u ini, bahkan ilm u silat nya sediri pun bersum ber pada ilm u silat Pulau Es. Akan t et api set elah dua puluh t ahun lebih berada di Pulau Neraka dan m em pelaj ari ilm u- ilm u dari Pulau Neraka, m aka ilm u silat nya m enj adi cam pur aduk dan t ent u saj a kalah m urni oleh ilm u silat yang dim ainkan oleh Swat Hong.Pula, Lo Thong dahulu belum m em pelaj ari Jit - cap- ji- seng sam pai habis, hal yang j arang dilakukan penghuni Pulau Es kecuali keluarga raj a. Mulailah Lo Thong t erdesak oleh serangan bert ubi- t ubi yang dilancarkan oleh Swat Hong. I ngin sekali Lo Thong m enggunakan senj at anya, yait u ular hidup yang m elingkar di lehernya, nam un dia takut akan pesan ketuanya tadi. Kalau dia menggunakan senjata itu dan sekali lawan t ergigit m at i t ent u dia akan m endapat m arah besar. Maka dia lalu bert eriak keras

76

Bu Kek Siansu
dan m engerahkan seluruh ilm unya m eringankan t ubuh. " Aihhh...! " Swat Hong t erkej ut ket ika m elihat bet apa t ubuh lawan dapat bergerak lebih cepat lagi dan dalam serangkaian serangan yang t ak t erduga saking cepat nya, ham pir saj a pundaknya kena dicengkeram . Dia berseru sam bil m eloncat keat as, t inggi sekali kem udian bagaikan seekor burung walet , t ubuhnya sudah m em balik di udara, m enukik kebawah dan dia sudah m elancarkan serangan dengan j urus Kak- seng- jiphai ( Bint ang Terom pet Mem asuki Laut ) , j urus t erakhir yang paling am puh dan yang dulu dilat ihnya dengan ibu dan ayahnya sehingga dia m ahir sekali m ainkan j urus ini. Hebat bukan m ain daya serang j urus ini karena selagi t ubuh m eluncur t urun dengan m enukik kebawah, kedua t angannya sudah bergerak m encengkram kearah ubunubun kepala lawan yang bot ak it u! " Hayaaa...! " kini Lo Thong yang kaget ket ika m erasa ada hawa dingin m enyent uh ubun- ubun kepalanya dari at as. Maklum bahwa serangan it u m erupakan ancam an m aut bagi dirinya, dia t idak berani lengah, cepat m em buang diri kebelakang sehingga dia t erj engkang, kem udian m enggunakan ginkangnya unt uk berguling di at as lant ai. Dengan gerakan ini, biarpun pakainnya kot or t erkena debu, nam un dia selam at dan dapat m enghindarkan diri dari serangan j urus Kak- seng- jip- hai t adi. Akan t et api, bet apa t erkej ut nya m elihat dara it u sudah m eloncat ke depan dan baru saj a dia bangkit berdiri, Swat Hong sudah m enghant am nya dengan kedua t angan didorongkan ke depan. " Haiiiiiiit t t ! ! " Swat Hong berseru nyaring dan m engerahkan t enaga sinkangnya. " Sum oi, j angan....! " Sin Hong bert eriak, kaget ket ika m elihat bet apa sum oinya it u m enggunakan t enaga Swat- im- sin- ciang ( Tenaga Pukulan I nt i Salj u) yang m erupakan sinkang paling am puh dari Pulau Es! Unt uk m elat ih diri agar bisa m enguasai t enaga im - kang yang am at kuat ini, orang harus bersam adhi di at as salj u, t anpa pakaian, dan m elewat i malam- m alam yang dinginya m enyusup t ulang! Dan sebagai put eri Raj a Han Ti Ong, t ent u saj a Swat Hong t elah m enguasai sinkang it u yang kini dipergunakan unt uk m enyerang selagi lawan t erdesak. " Ciaaaat t t ...! ! " Lo Thong j uga bert eriak keras dan cepat dia m enolak hawa serangan it u dengan dorongan kedua t angannya. Dua t enaga sinkang bert em u t anpa kedua pasang t elapak t angan it u bersent uhan dan akibat nya, Lo Thong t erhuyung kebelakang dan dari uj ung bibirnya m engucur darah! Sambil menggereng keras, Lo Thong yang merasa penasaran itu melompat ke depan m enerkam , akan t et api Swat Hong yang sudah siap m enyam but nya dengan sebuah t endangan dari sam ping yang t epat m engenai pant at Lo Thong dan m em buat t ubuhnya t erlem par j auh ke arah t em pat duduk Ouw Kong Ek! Ket ua Pulau Neraka ini m arah sekali, t angannya bergerak m enyam but t ubuh it u dan t ahu- t ahu t ubuh Lo Thong sudah m elayang lagi ke arah Swat Hong. Akan t et api t ernyat a bahwa ket ika m enyam but t adi, Ouw Kong Ek yang lihai t elah m enot ok dua j alan darah di pungung pem bant unya yang seket ika m erasa dadanya lega kem bali, begit u dia dilont arkan ke arah Swat Hong, dengan nekat dia sudah m enyerang dengan kedua lengan dikem bangkan, kedua t angan hendak m encengkram t ubuh gadis it u. Swat Hong t erkej ut sekali, t idak nyangka bahwa t ubuh lawan akan secepat it u m elayang kem bali ke arahnya, m aka dia bert eriak dan m aklum akan bahaya yang m engancam karena dia t idak sem pat m engelak lagi! Akan t et api t iba- t iba ada bayangan berkelebat dan t ahu- t ahu Sin Liong t elah berada di dekat sum oinya. dengan t angan kiri dia m enarik t ubuh sum oinya dan dengan t angan kanan dia m enyapok ke at as dan kedua t angan Lo Thong t ert angkis, bahkan t ubuh orang bot ak ini t erdorong m iring dan cepat dia m eloncat ke at as lant ai dengan m at a t erbelalak heran dan kagum akan kehebat an t enaga pem uda it u. Maklum bahwa dia t ak m am pu m enang, dia lalu m engundurkan diri di dekat ket uanya dengan m uka penuh keringat . " Bagus! Put eri Han Ti Ong lum ayan j uga kepandaiannya, boleh coba- coba dengan aku sendiri! " Ouw Kong Ek t urun dari kursinya dan m elangkah ke t engah lapangan. " Baik, m aj ulah! Aku t idak t akut m enghadapim u! " Swat Hong m enant ang. " Sum oi, m undurlah! Biar aku m enghadapi Ouw Tocu." Sin Liong m encegah sum oinya. " Tidak,

77

Bu Kek Siansu
aku akan m enghadapi sendiri! " Sin Liong m elangkah m engham piri Ouw Kong Ek dan berkat a, " Ouw- t ocu, benarkah Tocu m enant ang sum oiku ini? Harap Tocu suka m elihat baik- baik. Sum oiku adalah seorang anak perem puan yang usianya sebaya dengan cucum u, sehingga kalau Tocu m enant angnya sam a art inya dengan Tocu m enant ang seorang cucu! Kalau Tocu t idak m alu bert anding dengan seorang anak perem puan yang sepat ut nya m enj adi cucum u, silahkan. Kalau Tocu, cukup gagah biarlah aku m enerim a t ant anganm u t adi. m ari kit a bert anding m engukur kepandaian. Kalau aku kalah, t erserah kepada Tocu. kalau aku m enang, set elah aku m engaj arkan ilm u pengobat an, Tocu akan m em biarkan kam i berdua pergi dari pulau ini dengan am an. Bagaim ana?" " Aku t idak t akut ! Suheng, biar aku m elawan dia, aku t idak t akut ! " Swat Hong berteriak- t eriak. Ouw Kong Ek m em andang kepada dara m uda dan m ukanya berubah m erah. Mem ang t idak keliru om ongan Sin Liong t adi. Bocah it u m asih am at m uda, m asih kanak- kanak sebaya Soan Cu. Seorang anakanak dan perem puan lagi! Tent u saj a akan am at m erendahkan dirinya kalau sam pai dia m enant ang seorang anak perem puan kecil! " Baiklah, m ari kit a m engadu kepandaian Kwa Sin Liong," kat anya. Sin Liong m enoleh kepada sum oinya. " Nah, kau dengar. Yang dit ant ang adalah aku, buka kau, Sum oi. Mundurlah." Swat Hong membanting- bant ing kaki, t erpaksa dia m undur akan t et api lebih dulu dia berkat a kepada Ouw Kong Ek, " Aku selalu m asih siap unt uk m elayani j ago Pulau Neraka yang m anapun j uga." Ouw Kong Ek dan Sin Liong sidah saling berhadapan dan keduanya saling pandang t anpa bergerak, seolaholah hendak m engukur dan m enilai keadaan lawan dengan pandangan m at anya. Melihat sikap pem uda yang am at t enang it u, j uga pancaran sinar m at anya lem but dan bebas dari rasa t akut m aupun kebencian dan kem arahan, hat i Ouw Kong Ek m enj adi m akin suka. Melihat sikap pemuda ini, sukar untuk dipercaya bahwa pemuda ini adalah murid Han Ti Ong, Raja Pulau Es yang sakt i. Kelihat annya hanya sepert i seorang pem uda yang lem ah, pant asnya seorang sast rawan yang biasanya hanya m em baca saj ak dan m enulis huruf indah at au m eniup suling. " Orang m uda, m ulailah! " Ouw Kong Ek berkat a ragu- ragu unt uk m enggunakan kepandaiannya m enyerang orang yang kelihat annya lem ah ini. " Ouw- t ocu, bukan aku yang m enghendaki adu kepandaian ini, m aka biarlah aku hanya menjaga diri saja." Jawaban yang keluar dengan suara lembut dan sej uj urnya it u set idaknya m em anaskan hat i Ouw Kong Ek karena kedengarannya seolah- olah pem uda it u m em andang rendah kepadanya. Pem uda ini sam a sekali t idak gent ar m enghadapinya, hal it u sam a saj a m em andang rendah! " Kwa Sin Liong, sam but lah seranganku! " bent aknya dan t ubuhnya sudah m enerj ang ke depan, gerakannya perlahan saj a nam un didahului sam baran angin pukulan dari kedua t elapak t angannya. " Wuuuuut t t ... wuuuut t t ! ! " hawa pukulan yang dahsyat dua kali m enyam bar ke arah leher dan pusar Sin Liong ket ika kakek it u m enggerakan kedua t angannya m em ukul. Dengan t ubuh ringan sekali Sin Liong m enggeser kaki dan berhasil m engelah sam pai bert urut - t urut enam kali karena t ernyat a bahwa pukulan kakek it u begit u luput dari sasaran t erus dilanj ut kan dengan serangan berikut nya t anpa berhent i sedikit pun, sehingga enam kali bert urut - t urut kedua t angannya m enyam bar dahsyat dari segala j urusan! barulah Sin Liong dapat m em bebaskan diri dari kepungan kedua t angan it u ket ika dia m eloncat j auh ke belakang, dan siap lagi m enghadapi serangan berikut nya. " Bagus! " Ouw Kong Ek berseru kagum m elihat betapa pemuda itu dengan enak saja sudah berasil menghindarkan diri dari serangan pukulan yang dinam akan Jurus Pukulan Badai Mengam uk. Kem udian dia m enerjang lagi, kini dia t idak bergerak lam bat lagi, m elainkan cepat sekali. Kaki t angannya bergerak dengan cepat nya, gerakan yang aneh nam un set iap gerakan m engandung daya serang yang am at berbahaya. Kem bali Sin Liong m enyam but seranganserangannya it u dengan t enang dan hat i- hat i, m engelak ke sanansini dan hanya kalau t erpaksa dia m enggunakan kedua t angannya unt uk m enangkis at au m enyam pok. Perlahan saj a pem uda it u m enangkis, nam un selalu t angkisannya yang

78

Bu Kek Siansu
m em bawa hawa pukulan I m - kang it u berhasil m enghalau t angan lawan! Sam pai t iga puluh j urus lebih Sin Liong selalu m engelak dan m enangkis t anpa sat u kalipun m em balas serangan lawan! Tent u saj a hal ini m em buat Ouw Kong Ek kagum sekali. Pem uda ini sudah diserangnya dengan hebat , didesaknya sam pai keadaannya berbahaya, nam un t et ap t idak m au m em balas. " Eh, Suheng, kau t idak m em balas, apa kau m erasa phai- seng- gi ( sungkan) kepada orang yang hendak m em unggut m ant u kepadam u?" Swat Hong bert eriak- t eriak penuh penasaran ket ika m elihat suhengnya bert em pur sepert i orang m engalah saj a. Merah m uka Sin Liong. Mem ang dia t idak m au m em balas karena dia selam anya belum pernah m em ukul orang! Dia m em ang m em pelaj ari silat yang t inggi sekali t ingkat annya, bahkan dari kit ab- kitab lam a yang rahasia dan t ak pernah dibaca orang di dalam perpust akaan Pulau Es, dia m enem ukan ilm u- ilm u m uj ij at , di ant aranya ilm u m engenal int i gerakan sem ua ilm u silat . Akan t et api dia m erasa sungkan dan ngeri kalau harus m em ukul orang lain, apalagi kepada kakek yang sam a sekali t idak ada perm usuhan apaapa dengannya it u. Kini m endengar ej ekan Swar Hong, dia m erasa t idak enak dan hat inya t erguncang. Guncangan ini m em perlam bat gerakan t angannya, m aka ket ika dia m enangkis sebuah pukulan, t angkisannya m eleset dan pukulan t angan kiri Ouw Kong Ek m enyerem pet pundaknya. Tubuhnya t erget ar hebat dan dia t erhuyung ke belakang. Ouw Kong Ek yang m erasa penasaran sekali kini m aklum bahwa kalau pem uda it u m em balas serangannya, m ungkin dia akan kalah! m aka m elihat hasil pukulannya yang membuat Sin Liong terhuyung dia cepat mendesak maju. Dia harus m engalahkan pem uda ini karena dia ingin sekali pem uda ini m enj adi penghuni Pulau Neraka, dan kalau m ungkin m enj adi suam i Soan Cu. Dan unt uk it u, dia harus lebih dulu merobohkannya. Maka dia cepat mendesak selagi tubuh Sin Liong terhuyung ke belakang it u. " Wuuut - plak- plak! Wuuu- plak- plak! ! " Pukulan- pukulan t angan Ouw Kong Ek hebat sekali dan set iap kali Sin Liong yang m asih t erhuyung it u m engelak, pukulan it u berubah m enj adi cengkram an yang am at lihai nam un selalu t angan Sin Liong m asih dapat m enyapoknya! Bahkan pem uda it u berseru keras, t ubuhnya m elayang keat as, berj ungkir balik dua kali dan sudah t urun lagi ke at as lant ai dengan t ubuh t egak dan sudah siap lagi! Ouw Kong Ek m akin penasaran. Cepat dia m enerj ang m aj u, kedua kakinya bergerak cepat dengan t endangan berant ai yang cepat dan kuat sekali. Kedua kaki it u sepert i kit iran saj a sehingga kelihat annya kakek ini berkaki lebih dari dua yang bergerak susul menyusul melakukan tendangan ke arah bagian- bagian berbahaya dari t ubuh Sin Liong. "Siuut- siut t ...dess! ! " Set elah berhasil m engelak ke kanan kiri, Sin Liong t erdesak ke sudut dan t erpaksa dia m enggunakan kedua lengannya m enangkis sam bil m engerahkan t enaga int i salj u. Tubuh Ouw Kong Ek m enggigil, t erasa dingin sekali t ubuhnya, rasa dingin yang m enj alar m elalui kaki yang t ert angkis. Dia m enggoyang t ubuhnya beberapa kali dan ras dingin sudah t erusir. Dia m em andang lawannya dengan m at a t erbelalak lebar, kem udian kakek ini m engeluarkan suara m elengking nyaring dan t ubuhnya sudah m elayang ke at as kem udian m enukik kearah Sin Liong. Sin Liong t erkej ut sekali, dia m aklum bahwa serangan t erakhir ini bukan m ain hebat nya, m aka dia pun lalu bert eriak keras dan t ubuhnya j uga m encelat ke at as m enyam but t ubuh lawannya, kedua lengannya digerakkan di depan t ubuhnya. " Plak- plak... bruukkk! ! " t ubuh Ouw Kong Ek t erbant ing ke at as lant ai, dan hanya set elah dia bergulingan beberapa kali saj a dia dapat bangun dengan agak pening. Bukan m ain, pikirnya. Dia t adi m elakukan serangan dahsyat , serangan m aut yang akan sukar disam but oleh lawan yang sakt i, akan t et api pem uda it u m enyam but nya di udara, m em apaki pukulan dengan pukulan sehingga kedua t elapak t angan m ereka bert em u di udara dan akibat nya dia sendiri yang t erbant ing keras! " Belum cukupkah, Tocu?" Sin Liong bertanya dengan suara penuh penyesalan karena dia dipaksa unt uk bert em pur , hal yang sam a sekali t idak disukainya. " Hm m , aku belum m engaku kalah, orang m uda! " Dan kini kakek it u m enyerang lagi dengan ilm u silat yang gerakannya cepat sekali,

79

Bu Kek Siansu
akan t et api j uga aneh. Swat Hong yang m enont on di pinggir, m em andang penuh perhat ian dengan alis berkerut . Dia m erasa heran sekali. I lm u silat yang dim ainkan oleh kakek it u sepert i pernah dilihat nya, sepert i bukan gerakan asing, nam un m engapa begit u aneh dan sam a sekali t idak dikenalnya? Mem ang t idak m engherankan hal ini t erj adi pada Swat Hong karena ilm u silat yang dim ainkan kakek it u m em ang bersum ber pada ilm u silat Pulau Es, hanya sudah diubah banyak sekali m enj adi ilm u silat cipt aan nenek m oyang Pulau Neraka! Bahkan kini dari kedua t elapak t angan kakek it u m engepul uap hit am , dari m ulut nya j uga m enyem bur uap hit am yang kadang- kadang m enyam bar ke arah m uka Sin Liong. Sebagai seorang hali pengobat an Sin Liong segera m engenal hawa beracun keluar dari uap hit am it u, m aka dia bersikap hat i- hat i, set iap kali ada uap hit am m enyam bar. Sem ent ara it u, sam bil m engelak dan m enangkis dia m encurahkan seluruh perhat iannya dan dengan ilm u m uj ij at yang didapat nya dari kit ab, yait u m engenal rahasia int i gerakan ilm u silat , dia sudah dapat m encat at dan hafal akan jurus- j urus yang dim ainkan oleh lawannya. " Suheng, balaslah lawanm u! Apa kau t akut ?" Swat Hong bert eriak lagi. Ouw Kong Ek yang sudah m erah m ukanya saking penasaran dan m alu karena m erasa dipandang rendah dan diperm ainkan, m em bent ak, " Orang m uda, berani engkau m em andang rendah kepadaku sehingga t idak m au balas m enyerang?" Sin Liong t erkej ut bukan m ain. Sam a sekali t idak m engira bahwa sikapnya yang m engalah dan t idak m au balas m enyerang it u m alah dianggap m em andang rendah oleh kakek it u dan dianggap t akut oleh Swat Hon! Tadinya dia hanya mengharapkan kakek itu akan tahu diri dan mundur sendiri. Siapa kira, kakek it u keras kepala dan t idak akan m engaku kalah kalau t idak dirobohkan! Dalam keadaan sepert i it u, t idak ada pilihan lain bagi Sin Liong. Dia m enggigit bibirnya m enguat kan hat i karena m enyerang orang m erupakan hal yang berlawanan dengan hat inya, lalu kaki t angannya bergerak cepat sekali. Terdengarlah seruanseruan kaget dari m ulut para pem bant u Ouw Kong Ek, bahkan belasan j urus kemudian, set elah dengan susah payah Ouw Kong Ek m engelak dan m enangis, kakek ini berseru keras dan t ubuhnya t erguling. " Heiiii... dari m ana engkau m endapat kan ilm uku ini ?" Kakek yang sudah t erguling karena kedua lut ut nya t ercium uj ung sepat u Sin Liong it u m eloncat bangun lagi sam bil bert anya dengan m at a t erbelalak dan penuh keheranan. Selam a belasan j urus t adi, dia t elah diserang oleh Sin Liong dengan ilm u silat nya sendiri dan pada j urus ke lim a belas, dia t idak mampu menghindar sehingga kedua lututnya tertendang, membuat dia terguling dan kalau pem uda it u m enghendaki, ket ika ia t erguling t adi t ent u pem uda it u dapat m enyusulkan serangan m aut yang dapat m enewaskannya! Sin Liong m enj ura dan m elangkah m undur. " Aku hanya m eniru- niru dari Tocu sendiri...." Ouw Kong Ek m akin t erheran dan sej enak dia m elongo, kem udian dia m elangkah m aj u dan m em egang kedua t angan pem uda it u. " Kwa Sin Liong ...engkau hebat sekali! Aku m engaku kalah t erhadap Kwa- t aihiap ( Pendekar Besar Kwa) ! Aku t elah dirobohkan secara m ut lak, bahkan dengan j urus- j urus ilm u silat ku sendiri! Dia ini adalah seorang pendekar besar yang m em iliki kesakt ian sepert i dewa! " Sem ua penghuni Pulau Neraka m em bungkuk dan m em beri horm at kepada Sin Liong! Tent u saj a pem uda it u cepat m em balas penghorm at an m ereka dengan m em utar- mutar t ubuhnya sam bil berkat a t ersipu- sipu, " Aahhh, harap Cuwi ( Anda sekalian) j angan berlebihan..." " Kwa- t aihiap, aku Ouw Kong Ek sudah m engaku kalah. Harap Taihiap suka m engaj arkan ilm u pengobat an it u agar kam i dapat t erbebas dari hawa beracun yang banyak t erdapat di pulau ini. Set elah aku paham , kam i akan m em persilahkan Taihiap dan Han- lihiap ( Pendekar Wanit a Han) m eninggalkan pulau ini dengan am an." " Baik, Ouw- t ocu. Aku akan m elakukan penyelidikan t ent ang racun- racun di pulau ini dan berusaha m encarikan obat penawanya." Soan Cu berlari m engham piri Sin Liong dan berkat a, " Sin Liong, kau hebat sekali! Aku sungguh kagum kepadam u ." Sam bil berkat a dem ikian, Soan Cu m em egang kedua t angan Sin Liong dan

80

Bu Kek Siansu
m engangkat m uka m em andang waj ah Sin Liong penuh kekagum an. " Ahhh, engkau t erlalu m em uj i, Soan Cu. Sebet ulnya adalah Kong- kongm u yang sengaj a m engalah kepadaku," kat a Sin Liong, dan m ukanya m enj adi m erah. Dia m aklum bahwa Soan Cu seorang dara rem aj a yang berhat i polos dan waj ar, m aka di depan sem ua orang tanpa segan- segan m enyat akan kekagum annya dan m em egang kedua t angannya begit u saj a. Akan t et api hal ini t ent u saj a m enim bulkan anggapan salah dan dia sudah m elihat bet apa Swat Hong m em buang m uka dengan waj ah diselubungi kem arahan, bahkan akhirnya dara it u lalu m em balikan t ubuh dan berlari pergi! Sam pai t iga bulan lam anya Sin Liong dan Swat Hong di Pulau Neraka. Dengan t elit i dan hat i- hat i Sin Liong m elakukan penyelidikan t ent ang segala m acam racun yang t erdapat di pulau it u, kem udian dia m encarikan obat penawarnya dan m enulis sert a m elukiskan nam a dan bent uk daun, akar, bunga, at au buah yang berkhasiat sebagai penawar racun- racun it u. Sibuklah ket ua Pulau Neraka, dan para pem bant unya m encarikan bahan- bahan obat it u dan set elah t iga bulan, barulah lengkap cat at an Sin Liong. JI LI D 7 Ouw Kong Ek dan sem ua penghuni Pulau Neraka m erasa bert erim a kasih sekali kepada Sin Liong, apalagi set elah t erbukt i banyak penghuni yang sem buh dari penderit aan penyakit akibat keracunan set elah m enggunakan obat- obat sepert i yang dit unj uk oleh pem uda it u. Dia dianggap sebagai seorang dewa penolong m ereka dan diperlakukan dengan sikap penuh horm at . Set elah " t erpaksa" t inggal di Pulau Neraka selam a t iga bulan, akhirnya Swat Hong m endapat kan kenyat aan bahwa Soan Cu adalah seorang rem aj a yang benar- benar t ulus, j uj ur dan waj ar sehingga m udah saj a di ant ara m ereka t erj alin persahabat an yang akrab. bahkan karena dara Pulau Neraka it u dengan t erangt erangan t anpa dibuat- buat dan t anpa usaha m enarik hat i Sin Liong m enyat akan suka dan cint anya kepada Sin Liong, Swat Hong menyambut pernyataan itu dengan hati terharu. Diamdiam menaruh hati kasihan kepada dara Pulau Neraka ini karena dia tahu bahwa hati suhengnya it u j auh daripada cint a! Suhengnya belum pernah m engacuhkan t ent ang hubungan di ant ara m ereka, j uga suhengnya sam a sekali t idak kelihat an m enaruh hat i kepada Soan Cu. Dianggapnya suhengnya it u t erlalu " dingin" dan sudah seringkali dia sendiri m erasa kecewa m elihat suhengnya sebagai seorang pem uda yang t idak ada sem angat ! Padahal dia sendiri belum yakin apakah dia m encint ai suhengnya, sungguhpun dia m erasa suka sekali kepada pem uda it u nam un sebagai seorang dara rem aj a, t ent u saj a dia m erasa t idak puas m enyaksikan sikap pem uda yang " dingin" saj a t erhadapnya. Sebagai seorang wanit a m uda yang sehat dan norm al, t ent u saj a Swat Hong j uga ingin agar sem ua orang, t erut am a kaum pria, m em andangnya dengan kagum dan suka, bahkan dia pun sepert i sem ua wanit a di dunia ini agaknya, akan m erasa bangga kalau sem ua orang laki- laki j at uh cint a kepadanya! Hari keberangkat an m ereka m eninggalkan Pulau Neraka pun t ibalah. Sin Liong dan Swat Hong diant ar oleh sem ua penghuni Pulau Neraka sam pai ke pant ai, dim ana t elah t ersedia sebuah perahu yang lengkap dengan layar, dayung,dan bekal m akanan. Soan Cu m engant ar dengan m at a berlinang air m at a. Sem enj ak t adi dara ini m enangis, bahkan rewel kepada kakeknya hendak ikut pergi bersam a Sin Liong dan Swat Hong. " Hushhh, apakah kau gila?" dem ikian kakeknya m enj awab. " Kau hendak ikut ke Pulau Es? t idak t ahukah kau bahwa sem ua penghuni Pulau Neraka dilarang m enginj akan kaki ke Pulau Es? Begit u kau t iba di sana, kau akan dij at uhi hukum an sebagai seorang pelanggar hukum ! " Juga Sin Liong dan Swat Hong m elarang dengan alasan bahwa Swat Hong sendiri sedang m enghadapi m alapet aka, bahkan dia bersam a suhengnya sedang berusaha m encari ibunya. Selam a t iga bulan ini, Ouw Kong Ek sudah m engerahkan pem bant unya unt uk m encari Liu Bwee, bekas ist ri Raj a Han Ti Ong, ke pulau- pulau kosong di sekit ar Pulau Neraka, nam un hasilnya sia- sia belaka. Tent u saj a para penghuni Pulau Neraka yang m encari it u t idak berani t erlalu m endekat Pulau Es. Set elah perahu yang dit um panginya Sin Liong dan Swat Hong pergi Jauh, Soan Cu m enj at uhkan dirinya m enangis. " Kong-

81

Bu Kek Siansu
kong, akupun m au pergi dari sini. Aku t idak t ahan lagi t inggal lebih lam a di Pulau Neraka t anpa adanya m ereka berdua! Aku harus pergi, aku harus pergi m encari ayahku, sepert i Swat Hong yang pergi m encari ibunya! " Kong- kongnya hanya m enggeleng kepala, m enghela napas dan m enggandeng cucunya yang t ercint a it u kem bali ke t engah pulau. Hat i orang t ua ini khawat ir sekali karena dia t ahu bahwa cucunya t elah m ulai dewasa dan t elah t ergoda oleh cint a sehingga m erasa t idak t ahan lagi t inggal lebih lam a di Pulau Neraka. Dia m aklum bahwa agaknya t akan lam a lagi cucunya it u t ent u akan nekat m eninggalkan pulau dan kalau hal yang dikhawat irkan it u t erj adi, apalagi art inya hidup baginya di pulau it u? Put eranya t elah lenyap dan sat u- sat unya orang yang selam anya ini m em buat hidupnya berart i hanyalah Soan Cu. Ket ika perahu m ereka m endarat di Pulau Es, Sin Liong dan Swat Hong saling pandang dengan hat i yang berdebar. Mereka sudah m enj elaj ahi seluruh pulau di sekit ar Pulau Es unt uk m encari ibu Swat Hong, nam un sia- sia belaka. Akhirnya m ereka m engam bil keput usan unt uk kem bali ke Pulau Es, dengan harapan mudah- mudahan ibu dara itu sudah kembali ke Pulau Es. "Bagaimana kalau ibu tidak berada di sana? Bukankah berarti bahwa aku telah melanggar janjiku untuk mewakili ibu yang dibuang ke Pulau Neraka?" Swat Hong bert anya ket ika perahu m ereka t adi sudah m endekat i Pulau Es. " Jangan khawat ir, Sum oi. Suhu adalah ayahm u sendiri, dan bet apapun m arahnya, aku percaya bahwa suhu akan dapat m em aafkanm u. Aku percaya akan kebij aksanan Suhu, dia bukanlah seorang yang berbudi rendah...." " Tapi dia t elah t erkena racun yang hebat , racun yang serat us kali lebih kej am daripada racun yang paling j ahat di pulau Neraka! Dia t elah t erkena hasut an m ulut wanit a j ahat it u..." " Sst t t , Sum oi, j angan m em persulit keadaan dengan m enyangka yang bukan- bukan. Sudalah, kekhawat iranm u it u hanyalah perm ainan pikiran yang membayangkan hal yang belum terjadi. Singkirkan saja kekhawatiran kosong itu dan m ari kit a hadapi kenyat aan. Percayalah, apa pun yang akan t erj adi, aku t idak akan m em biarkan engkau t erancam bencana. Mari kit a hadapi apa saj a yang m enim pa kit a berdua." " Suheng... bet ulkah? Bet ulkah kau akan m em bela dan m elindungi aku?" " Tent u saj a, Sum oi." " Menghadapi Ayah sekalipun?" " Menghadapi siapa saj a karena aku yakin bahwa engkau t idak m em punyai kesalahan apa pun." " Kalau begit u, aku m enj adi besar hat i, Suheng. m ari kit a m endarat ." Makin t egang hat inya dan j uga t erheran- heran ket ika dia m elihat bet apa beberapa orang penghuni Pulau Es kebet ulan berada di sit u, segera berlari pergi m enuj u ke t engah pulau, bahkan t idak berhent i ket ika dia dan suhengnya m em anggil m ereka. Makin t idak enak m ereka, nam un dengan t enang Sin Liong m engaj ak sum oinya unt uk m enuj u ke I st ana Pulau Es di t engah pulau it u, m enem ui Raj a Han Ti Ong dan bert anya t ent ang Liu Bwee. Tak lam a kem udian, keduanya berhent i t iba- t iba ket ika m elihat raj a it u sendiri berlari- laridat ang bersam a perm aisuri dan pem bant u- pem bant u yang t erpercaya. Tadinya Swat Hong m erasa girang, waj ahnya berseri karena dia m engira bahwa ayahnya datang menyambutnya dengan girang melihat di pulang. Akan tetapi bet apa kaget nya ket ika ayahnya sudah t iba di depan m ereka, langsung raj a Han Ti Ong menudingkan telujuknya ke arah mereka sambil membentak, "Manusia- manusia rendah! kalian masih berani menginjakan kaki di Pulau Es? Membikin kotor pulau ini? keparat ! " " Ayah...! ! " " Suhu...! ! " " Plak! Plak! ! " Tubuh Sin Liong dan Swat Hong t erguling ket ika t angan Raj a it u dengan kecepat an kilat t elah m enam par m ereka. Dengan alis berdiri Raj a Han Ti Ong m enudingkan t elunj uknya bergant ian ke arah m uka dua orang m uda yang m enj adi kaget set engah m at i dan m erangkak bangun it u. " Jangan sebut aku Ayah dan Suhu! Kalian berdua t elah m inggat dengan diam diam , perbuat an yang t ak t ahu m alu dan m engot orkan nam a keluarga Han! Masih berani dat ang dan m enyebut Ayah dan Suhu kepadaku? Huh! ! " " Ayahhhh....apa...apa yang t erj adi....? Mana I buku...?" " I bum u seorang yang hina, dan engkau anaknya pun t idak berbeda banyak! " " Ayah...! " " Diam ! Dan m inggat engkau dari sini sebelum kubunuh! " " Ayah, kalau begit u bunuh saj a aku! Aku t idak

82

Bu Kek Siansu
berdosa...! " Swat Hong yang berlut ut it u m enangis sesungguhnya. " Bagus! Kau m int a m at i?" " Suhu...! " Suara Sin Liong ini m engandung wibawa sedem ikian hebat nya sehingga Han Ti Ong sendiri sam pai t erkej ut m enghent ikan langkahnya yang hendak m engham piri put erinya. Sepasang m at a Sin Liong m engeluarkan sinar yang luar biasa dan sej enak Ha Ti Ong ragu- ragu. Teringat lah dia akan keadaan dahulu ket ika anak aj aib ini m enyuruhnya m enolong The Kwat lin, m enyuruhnya berhent i unt uk m enguburkan m ayat - m ayat . Sepert i it u pula kekuat an m uj ij at yang keluar dari sepasang mata itu. Sepasang mata yang sedikitpun tidak membayangkan t akut , at au m arah, at au kekerasan, hanya m em bayangkan kelem but an yang m engharukan. " Suhu, harap suhu bersabar dulu. Menj at uhkan hukum an t anpa memberitahu kesalahan orang, sungguh t idak adil sekali, sungguhpun Sum oi adalah put eri Suhu sendiri." Bangkit kem bali m arah Han Ti Ong. " Sin Liong, bagus perbuatanmu, ya? Kau masih berpura- pura lagi? Dia pergi tanpa pamit, hal itu masih belum apa- apa, akan t et api dia pergi lalu kau susul, bersam am u pergi sam pai berbulan- bulan, pant askah it u? Kalian t idak t ahu m alu, dan m enodakan nam a baik keluarga Keraj aanHan! " Diam - diam Sin Liong t erheran. m engapa suhunya berubah sepert i ini? Tent u saj a dia t idak t ahu bet apa para keluarga yang m em benci Liu Bwee t elah m enggunakan kesem pat an selagi t erj adi perist iwa penghukum an at as diri Liu Bwee it u unt uk m em bakar hat i raj a ini, t erut am a sekali m elalui m ulut perm aisuri! "Ayah, jangan menuduh yang bukan- bukan. Aku memang pergi dan bertemu dengan suheng, akan t et api apakah salahnya dengan it u?" " Hem m , apa, salahnya, ya? Tidak salahkah kalau seorang pem uda dan seorang dara berdua saj a sam pai ham pir set engah t ahun lam anya? Mingkinkah t idak akan t erj adi apa- apa ant ara kalian, di t em pat sunyi, hanya berdua saj a! Hem ...hem m m ... siapa percaya t idak akan t erj adi apa- apa yang kot or?" ucapan ini keluar dari m ulut perm aisuri, The Kwat Lin yang t ersenyum m engej ek. " I bu, kalau Enci Hong dan Suheng m elakukan hubungan gelap, kawinkan saj a m ereka, m engapa ribut ribut ?" Tiba- t iba Bu Ong, put era raj a yang baru berusia kurang lebih delapan t ahun it u, berkat a dengan suara nyaring. "Hussshhh! Tutup mulutmu!" Kwat Lin membentak puteranya yang segera cemberut, t api m em andang kepada Swat Hong dan Sin Liong dengan pandang m at a m engej ek. Hampit saja Swat Hong tak dapat percaya akan apa yang didengarnya. Ayah dan ibu t irinya m enuduh dia berj inah dengan Sin Liong! Dengan dada sesak dan kem arahan yang meluap- luap, Swat Hong lupa diri dan meloncat bangun, menjerit dengan katakata yang seperti dilontarkan kepada ayahnya, "Ayah! Mengapa ada fitnah sekeji ini? Ayah, insyaflah, Ayah t elah dikelabui, Ayah t elah m abuk oleh rayuan..." " Plak! Desss! ! " Tubuh Swat Hong t erlem par dan t erguling- guling ket ika t erkena t am paran dan pukulan t angan ayahnya sendiri. " Suhu, ini t idak adil sam a sekali! " " Plak! Desss! ! ! " Tubuh Sin Liong j uga t erj ungkal, Akan t eapi pem uda ini sudah m eloncat bangun kem bali. Sedikit pun t idak m erasa t akut , bahkan kini dia m em andang t aj am kepada Han Ti Ong. " Suhu, andaikat a Suhu m em ukul t ee- cu sam pai m at i sekalipun, suah sepatutnya karena karena tee- cu hanyalah seorang murid yang telah menerima banyak kebaikan dari Suhu dan t ee- cu rela m em balasnya dengan nyawa. Akan t et ap, Sum oi adalah put eri Suhu sendiri, darah daging suhu sendiri! Mengapa Suhu begit u t ega? Di m anakah rasa kasih di hat i Suhu?" " Keparat ! " Han Ti Ong m em aki dengan suara gem et ar saking m arahnya. Melihat bet apa Sin Liong berani menantangnya untuk membela Swat Hong makin besar kepercayaannya akan desasdesus bahwa put erinya m ain gila dengan m uridnya ini. " Kau m au m em beri kuliah kepadaku? Kalau dia orang lain, aku t idak akan perduli apa yang dilakukannya. Just ru karena dia anaku dan aku cint a kepada anakku, m aka aku perlu m engaj arnya! " " Hem m m , begit ulah cint a di hat i Suhu? Cint a suhu siap unt uk berubah m enj adi kem arahan, kebencian yang m eluap karena Suhu m erasa bahwa put eri Suhu t idak m enyenangkan hat i suhu? it u bukan cint a, Suhu! Suhu hanya m em ent ingkan diri sendiri, kalau disenangkan hat i Suhu, biar orang lain sekalipun

83

Bu Kek Siansu
akan Suhu perlakukan dengan baik, akan t et api kalau hat i Suhu dikecewakan, biar anak sendiri akan dibunuh! " " Plak- plak! Dess...! " Kem bali t ubuh Sin Liong t erj ungkal dan kini darah m engucur dari m ulut dan hidungnya. " Suheng...! Ahhh, Ayah... Jangan...! " Swat Hong sudah m eloncat ke depan dan m enubruk suhengnya. " Anak durhaka, m urid m urt ad! Dess! " kini Swat Hong yang m engeluh dan t erj ungkal t erkena t endangan ayahnya yang sedang m arah it u. Masih unt ung bagi m ereka berdua bahwa Han Ti Ong hanya berniat m engaj ar dan m enghukum , kalau berniat m em bunuh, t ent u m ereka sudah t ak benyawa lagi. Saking m arahnya, biarpun m elihat m urid dan put erinya sudah beberapa kali dihant am dan dit endangnya sam pai m ulut dan hidung m engeluarkan darah dan m uka m ereka bengkak- bengkak, Han Ti Ong m asih saj a m enghaj ar m ereka. " Ongya, harap am punkan m ereka...." Tiba- t iba beberapa orang pem bant u ut am a berlut ut di depan Raj a yang m arah ini dan m enyabarkan hat inya. Han Ti Ong berdiri dengan napas t erengah- engah, m at a t erbelalak dan m uka m erah sekali. dia m enj adi ham pir put us napasnya saking m arahnya. " Hem m m , m ereka ini bocah- bocah kurang aj ar yang layak dibunuh! " kat anya. " Ongya, sej ak dahulu belum pernah ada hukum an dilaksanakan t anpa diadili lebih dulu, harap Ongya ingat akan keadilan Keraj aan Pulau Es yang sudah t erkenal sem enj ak rat usan t ahun," kat a seorang pem bant u yang sudah berusia lanjut. Han Ti Ong menghela napas panjang dan dia teringat. Sebetulnya, dia sedang berada dalam keadaan duka dan kecewa. duka m engingat akan ist rinya, Liu Bwee, yang kini m enim bulkan penyesalan di dalam hat inya karena dia pun m ulai m eragukan kesalahan ist rinya it u. Kecewa karena serangkaian perist iwa yang t idak m enyenangkan hat inya, m engganggu ket ent ram an hidupnya di Pulau Es. " Anak durhaka, unt ung engkau belum kubunuh! Kau boleh m em bela diri, kalau m em ang m asih ada yang akan kau kat akan! " Dengan t ubuh sakit - sakit dan ham pir pingsan, Sin Liong m asih dapat m em bant u Sum oinya, bangkit duduk, bahkan t idak m em perdulikan keadaan dirinya sendiri, dia m enyusut i peluh, air m at a dan darah dari m uka sum oinya, kem udian m enarik sum oinya unt uk berlut ut di depan raj a yang sedang m arah it u. " Sum oi, laporkanlah sem uanya kepada Suhu..." bisiknya. " Apa gunanya? Biarlah aku dibunuh! Biarlah, I bu lenyap t ak berbekas dan akan dibunuhnya... t ent u akan puas hat inya...hu- hi- huuuuukkk...." Swat Hong m enangis terisak- isak. Melihat keadaan put erinya ini, t ersent uh j uga rasa hat i Raj a Han Ti Ong. " Sin Liong, hayo cerit akan apa yang t erj adi! kam i sem ua m enuduh kalian berdua selam a berbulan- bulan dan t ent u kalain t elah m elakukan perbuat an yang t idak senonoh. Mengakulah! Awas, kalau kau m em bohonng, akan kubunuh kau sekarang juga!" "Suhu boleh membunuh teecu kalau teecu berbohong. Bahkan kalau t eecu t idak m em bohong sekalipun, t eecu m enyerahkan nyawa t eecu kepada suhu. Sebet ulnya, ket ika m elihat sum oi pergi m em buang diri ke Pulau Neraka dan m elihat Subo j uga pergi, t eecu m erasa kasihan dan berkhawat ir sekali. Maka t eecu diam diam lalu mengejar dan menyusul ke Pulau Neraka." kemudian dengan panjang lebar dan j elas Sin Liong m encerit akan sem ua pengalam an m ereka di Pulau Neraka dan m engapa m ereka sam pai berbulan- bulan berada di pulau it u. Berkerut Raj a Han Ti Ong. Di lubuk hat inya, dia percaya kepada m uridnya ini. Tidak ada seorang pun di dunia ini yang dapat m em bohong dengan sikap sepert i yang diperlihat kan m uridnya. Tidak, t ent u m uridnya t idak berbohong. Akan t et api hat inya m asih m arah dan ia m akin m arah ket ika m endengar bet apa Pulau Neraka t elah berani m enahan put erinya sebagai sandera! " Swat Hong! Benarkah cerit a Sin Liong?" bent aknya kepada dara yang m asih m enangis sesenggukan it u. " Apa gunanya Ayah bert anya kepadaku? Lebih baik Ayah m enyelidiki sendiri ke Pulau Neraka. Kalau aku dan suheng berbohong, boleh bunuh seribu kali j uga t idak apa." Mem ang sej ak dahulu Swat Hong bersikap m anj a kepada ayah bundanya, pula dia m em iliki wat ak keras, t idak t akut m at i, m aka dalam keadaan sepert i it u pun dia bersikap berani dan m enant ang! " Siapkan pasukan, t iga puluh orang unt uk ikut bersam aku ke Pulau

84

Bu Kek Siansu
Neraka! " Raj a it u m em erint ah kepada pem bant unya dengan suara m arah dan pada hari it u j uga dia berangkat bersam a t iga puluh orang pasukan m enuj u ke Pulau Neraka! Dapat dibayangkan bet apa gaget nya para penghuni Pulau Neraka ket ika diserbu oleh pasukan Pulau Es yang dipim pin Oleh Raj a Han Ti Ong sendiri! Ouw Kong Ek sendiri yang m aj u dan berusaha m elawan, dalam belasan j urus saj a t elah dirobohkan dan dipaksa m encerit akan apa yang t erj adi ket ika put eri Raj a Pulau Es it u berada di Pulau Neraka. Dengan kebencian dan dendam yang m akin m endalam , Ouw Kong Ek m encerit akaan keadaan sebenarnya, t epat sepert i yang t elah didengar oleh Han Ti Ong dari m ulut Sin Liong. Maka m ulailah raj a ini m erasa m enyesal m engapa dia t elah t erburu nafsu m enghaj ar, bahkan ham pir saj a m em bunuh Sin Liong dan Swat Hong yang sebet ulnya t idak berdosa. Mulailah dia t eringat bahwa kem arahanya it u t im bul karena buj ukan dan kat a- kat a yang m em bakar dari perm aisurinya. Dia m enj adi m arah sekali dan kem arahannya it u dilam piaskannya di Pulau Neraka. Pulau it u diobrak- abrik, sebagai hukum an t elah berani m enahan put erinya. Bahkan kit ab cat at an Sin Liong t ent ang racun dan pengobat anya, dihancurkan dan dibakarnya! Set elah puas m elam piaskan kem arahanya, Han Ti Ong m em im pin pasukannya m eninggalkan Pulau Neraka, m eninggalkan para penghuni yang banyak m enderit a luka lahir bat in it u dan Raj a ini t elah m enanam kan dendam yang m akin m enghebat di dalam hat i para penghuni Pulau Neraka. Sepekan kem udian, barulah rom bongan Han Ti Ong t iba kem bali di Pulau Es dan waj ah Raj a ini seket ika pucat set elah dia m endengar berit a yang lebih hebat dan m engej ut kan lagi, yait u bahwa sehari set elah dia dan pasukanya berangkat , perm aisuri dan pangeran telah pergi meninggalkan Pulau Es! Dan belum pulang . Makin terpukul lagi bat hin Raj a Han Ti Ong ket ika dia m endapat kenyat aan bahwa kit ab- kit ab pusaka Pulau Es t elah lenyap, berikut banyak hart a benda berupa m as dan perm at a yang disim pan didalam kam arnya! Ham pir saj a dia roboh pingsan m endapat kenyat aan bahwa perm aisurinya, The Kwat Lin, gadis yang dit olongnya it u, t ernyat a t elah berkhianat! "Mengapa tidak kalian larang mereka pergi? Mengapa? Sin Liong, engkau m uridku, m engapa engkau m endiam kan saj a pergi m em bawa pusaka- pusaka kit a?" dalam bingung dan m arahnya dia m enegur Sin Liong. " Suhu, Subo pergi hanya m em beri t ahu bahwa Subo bersam a Sut e hendak m enyusul ke Pulau Neraka. Siapa yang berani m enghalangi Subo? Kam i sem ua t idak ada yang m engira bahwa Subo t ak kan kem bali, dan t idak ada yang t ahu bahwa Subo m em bawa sesuat u, harap m aafkan t eecu." Han Ti Ong m em bant ing- bant ing kakinya, lalu berlari m em asuki kem bali ist ana set elah t adi dia m em eriksa dan m elihat kehilangan pusaka Pulau Es. Ket ika dia m em anggil dua orang m uda m enghadap, Sin Liong dan Swat Hong m elihat perubahan hebat t erj adi pada diri raj a sakt i ini. waj ahnya m enj adi suram dan gelap, sepasang m at a yang biasanya bersinar dan berpengaruh it u, m enj adi redup sepert i lam pu kekurangan m inyak. Dan ram but yang t adinya hanya sedikit put ihnya, m endadak berubah ham pir seluruhnya, dan suaranya t idak bersem angat ket ika berkat a, " Sin Long..., Swat Hong..., kalian am punkan aku..." " Suhu...! " Sin Liong berlutut dan menundukan muka. "Ayah... jangan berkata begitu Ayah...!" Swat Hong m eloncat m enubruknya. Ayah dan anak it u saling rangkulan dan Sin Liong m akin m enundukan m ukanya ket ika m endengar suhunya m enangis m engguguk sepert i anak kecil ! Set elah Han Ti Ong dapat m enguasai kem bali hat inya dia m encium dahi put erinya dan m enyuruhnya duduk kem bali. Swat Hong m enyusut i air m at anya dan berlut ut di dekat Sin Liong. " Aku t elah bedosa. Sekarang baru aku t ahu...aku t elah berdosa. Mungkin sekali... t idak, aku yakin sekarang, bahwa ibu Swat Hong t idak bersalah apa- apa, hanya t erkena fit nah... aih, apa yang t elah kulakukan? Dan aku ham pir saj a m em bunuhm u, Sin Liong, dan kau Swat Hong anaku. Orang m acam apa aku ini? Dan aku m engaku cint a kepada anakku? Huh, huh, engkau benar, Sin Liong. Tidak ada cint a di dalam hat iku yang kot or, yang ada hanya nafsu berahi sehingga m udah saj a aku diperm ainkan oleh wanit a it u.

85

Bu Kek Siansu
Aihhhh....kalian m aafkan aku. Swat Hong, hanya sat u pesanku kepadam u, anakku. Kau... kau m enj adilah j odoh Sin Liong. Jadilah kalian suam i ist ri, baru akan t erobat i hat iku..." " Suhu...! " " Ayah...! " " Muridku....anakku....,m aukah kalian m elegakan hat iku? Aku ingin m enebus kesalahanku... aku ingin m elihat kalian m enj adi suam i ist ri, kalian anak- anak m alang..." " Suhu, t eecu m ohon am pun. Teecu...t idak ada dalam hati teecu untuk memikirkan soal jodoh..." "Ayah, mengenai jodoh tidak dapat dit ent ukan begit u saj a. Biarkan kam i m enent ukannya sendiri..." Han Ti Ong m enarik napas panj ang, m em ej am kan m at a sebent ar, kem udian bangkit berdiri, m em balikan t ubuh dan berj alan m em asuki kam arnya m eninggalkan dua orang m uda yang m asih berlut ut it u. Sem enj ak saat it u, sam pai berhari- hari lam anya, Raj a it u t idak pernah keluar dari kam arnya sehingga m em buat gelisah sem ua pem bant unya. Keadaan di Pulau Es t idak sepert i biasa, sem ua penghuni dapat m erasakan ini. Sem enj ak t erj adinya perist iwa yang m em alukan dan m enyedihkan m enim pa keluarga Raj a Han Ti Ong, keadaan Pulau Es sunyi dan sem ua waj ah para penghuni kelihat an m uram . bahkan cuaca j uga seolah- olah berubah suram , seringkali m alah m enj adi gelap oleh m endung t ebal. Hat i sem ua orang m erasa gelisah t anpa m ereka ket ahui sebabnya, seolah- olah m erupakan t anda rahasia bahwa akan t erj adi hal- hal lebih hebat lagi. Perist iwa yang m enyedihkan yang m enim pa Han Ti Ong bisa m enim pa diri set iap orang, dan m em ang kit a sebagai m anusia hidup selalu t erlupa bahwa m engej ar kesenangan sama artinya dengan memanggil kesengsaraan! Kita hidup dibuai khayal akan keadaan yang lebih baik, lebih m enyenangkan dari pada keadaan sepert i apa adanya. Kit a t idak pernah m em buka m at a, t idak pernah m enghayat i keadaan saat ini, t idak dapat m elihat bahwa saat ini m encakup segala keindahan. Dengan m em bandingkan keadaan kit a dengan keadaan lain, kit a selalu m enganggap bahwa keadaan buruk t idak m enyenangkan, dan kit a selalu m em andang j auh kedepan, mencari- cari dan m enghayalkan yang t idak ada, keadaan yang kit a anggap lebih menyenangkan. Karena kebodohan kit a inilah m aka kit a hidup dikej ar- kej ar oleh kebut uhan set iap saat , det ik dem i det ik kit a m engej ar kebut uhan. Kebut uhan adalah keinginan akan sesuat u yang belum t ercapai, yang kit a kej ar- kej a. Lupa bahwa kalau yang sat u it u dapat t ercapai, didepan m asih m enant i serbu yang lain yang akan m ej adi keinginan dan kebut uhan kit a selanj ut nya. Maka, berbahagialah dia yang t idak m em but uhkan apa- apa! Bukan berart i m enolak segala kesenangan, m elainkan t idak m engej ar apa- apa sehingga kalau ada sesuat u yang dat ang m enim pa diri, bukan lagi m erupakan kesenangan at au kesusahan, m elainkan dihadapi sebagai suat u yang sudah waj ar dan sem est inya sehingga t am paklah keindahan yang m urni! Dem ikian pula keadaan Raj a Han Ti Ong. Dia seorang yang sakt i dan bij aksana nam un t iba saat nya dia lengah dan m enganggap bahwa dia m enem ukan kebahagiaan dalan diri The Kwat Lin. Padahal yang dia t em ukan hanyalah kesenangan yang t im bul dari kenikm at an badani, dari t erpuaskannya nafsu. Dia seolah- olah hidup dialam khayal, di alam m im pi. Set elah dia sadar dari m im pi, t erasa bahwa yang m anis m enj at i pahit bukan m ain, baru sadar bahwa perubahan dari senang ke susah sam a m udahnya dengan m em balikan t elapak t angan! Dan m engalah, suka dan duka hanyalah dwi m uka ( kedua m uka) dari sebuah t angan yang sam a! Perahu kecil it u t erayun- ayun kekanan kiri sepert i menari- narikarena t idak dikuasai oleh layar m aupun dayung, m elainkan sepenuhnya dikuasai oleh air laut yang t enang. Dua orang yang duduk diperahu it u sepert i dua buah arca, diam dan pandang mata mereka melayang jauh ke kaki langit, melayanglayang di perm ukaan laut sepert i m encari- cari sesuat u yang hilang. Dan m em ang fikiran Sin Liong dan Swat Hong, dua orang di perahu it u, sedang m encari- cari j awaban pert anyaan hat i m ereka sendiri. pulau Es hanya kelihat an sebagai sebuah garis m endat ar put ih dekat kaki langit . m ereka berangkat pagi- pagi m eninggalkan Pulau Es, set elah t iba di t em pat j auh yang sunyi ini, m ereka m enggulung layar dan membiarkan perahu mereka dibuai gelombang kecil. Mereka sudah lama berdiam diri

86

Bu Kek Siansu
sepert i it u, dibuai oleh lam unan m asingm asing, lam unan yang t im bul karena keadaan di Pulau Es yang m enyedihkan. " Suheng..." Suara panggilan Swat Hong ini lirih saj a, nam un karena sej ak t adi m ereka t idak m endengar suara apa- apa, m aka suara panggilan ini seolah- olah m engandung get aran hebat yang m em enuhi seluruh ruang kesunyian. Sin Liong m enoleh dan dia pun seolah- olah baru sadar dari alam m im pi. " Hem m m m ...?" j awabannya m asih ragu- ragu. " Suheng m engaj akku m eninggalkan pulau dan set elah t iba disini, m engapa suheng t idak lekas bicara m elainkan m elam un saj a?" " Aku t erpesona akan keindahan alam yang sunyi ini, Sumoi...." "Aku pun tadi terseret, Suheng. Akan tetapi melihat batu karang menonjol di depan it u, aku t ersadar. Apakah aku akan m enj adi set ua bat u karang it u yang kerj anya hanya t erm enung di t em pat sunyi! Suheng, kau t adi bilang bahwa unt uk m em bicarakan urusan kit a, engkau m engaj akku ket engah laut . Mengapa? " Engkau sudah m engert i sendiri. Fit nah yang dilont arkan kepada kit a, bahwa ada t erj adi sesuat u yang rendah di ant ara kit a, m em buat aku m erasa t idak enak kalau m engaj ak kau bicara berdua saj a di t em pat sunyi di at as pulau it u. Dapat m enim bulkan prasangka yang bukan- bukan. Karena it ulah m aka kuaj ak kesini, agar kit a dapat bicara dengan t enang dari hat i ke hat i t anpa ada yang m endengar dan m elihat . Pula, kuharap dit em pat yang sunyi ini, yang m em buat kit a seolah- olah berada di dalam alam lain, kit a akan m enem ukan ilham ..." Swat Hong t ert awa. Tim bul kem bali kegem biraan dara ini set elah dia t idak berada di Pulau Es yang m em buat dia selam a ini ikut m uram dan berduka. " Wah, Suheng! Kadang- kadang kau bicara sepert i seorang pendet a saj a! Apa sih yang akan dibicarakan sam paisam pai kau m em but uhkan ilham segala?" " Mari kit a bicara t ent ang cint a, Sum oi." Waj ah dara m uda j elit a it u t erheran, m at anya m em andang t erbelalak dan perlahanlahan kedua pipinya m enj adi agak kem erahan. " Aihh... apa m aksudm u, Suheng?" Sin Liong m enarik napas panj ang, dan m enyent uh t angan sum oinya. " Perlukah aku m enj elaskan lagi? Suhu, Ayahm u sedang dilanda duka dan kedukaannya yang terakhir sekali ini adalah menyangkut hubungan antara kita. Suhu menghendaki agar kit a berj odoh, dan kit a secara j uj ur t elah m enyat akan t idak set uj u akan kehendaknya it u. Dan m em ang kit a benar, Sum oi. Perj odohan t idak bisa dit ent ukan begit u saj a, karena perj odohan m erupakan hal gawat bagi seseorang, akan m elekat selam a hidupnya. Akan t et api bagaim ana kit a t ahu kalau hal ini t idak kit a bicarakan secara terus terang? Maka, agar kita dapat mengambil keputusan yang tepat tentang kehendak Suhuini, m arilah kit a bicara t ent ang cint a! " " Hem m , bicaralah. Aku t idak t ahu apa- apa," Kat a Swat Hong yang t ent u saj a m erasa m alu unt uk bicara t ent ang hal yang asing baginya it u. " Swat Hong, apakah kau cint a kepadaku?" Dara it u m akin m erah m ukanya. Tak disangkanya bahwa suhengnya akan bert anya secara langsung sepert i it u sehingga dia m erasa sepert i diserang dengan t usukan pedang yang amat dhasyat! Dia mengangkat muka memandang suhengnya dengan bingung. " Aku...aku...ah, aku t idak t ahu..." dan dia m enundukan m ukanya. " Sum oi, sudah sering aku m elihat sikapm u yang aneh. Engkau m arah- m arah ket ika kit a berada di Pulau Neraka. Engkau cem buru m elihat Soan Cu berbuat baik kepadaku, dan kau t idak senang m elihat Kongkongnya hendak m enj odohkan Soan Cu dengan aku. Sum oi, aku t idak t ahu apa cem buru it u t andanya cint a? Akan t et api, j awablah dem i pem ecahan persoalan yang kit a hadapi ini. Cint akah kau kepadaku?" Disinggungsinggung t ent ang sikapnya di Pulau Neraka yang j elas m enadakan rasa cem burunya, Swat Hong m enj adi m akin m alu. Dicobanya unt uk m enj awab, akan t et api begit u dia bert em u pandang dengan suhengnya, dia m enj adi m akin m alu dan dit ut upinya m ukanya dengan kedua t angan, kepalanya digeleng- gelengkan dan dia berkat a, " Aku t idak t ahu...aku t idak t ahu... kau saj a yang bicara, Suheng. Kau saj a yang m enj awab apakah kau cint a padaku at au t idak! " Dan kini dia m enurunkan kedua t angannya, sepasang m at anya yang bening it u kini dengan penuh selidik m enat ap waj ah Sin Liong! Sin Liong m enarik napas panj ang. " I t ulah yang m em bingungkan

87

Bu Kek Siansu
hat iku selam a ini,Sum oi. Mau bilang t idak m encint aim u, bukt inya aku suka kepadam u. Akan t et api unt uk m enyat akan bahwa aku cint a padam u, sulit pula karena aku sendiri t idak t ahu bagaim ana sesungguhnya cint a it u. Apakah sepert i cint anya suhu t erhadap ibum u yang berakhir dengan perist iwa m enyedihkan it u? at aukah sepert i cint anya I bum u kepada Suhu? At aukah sepert i cint anya The Kwat Lin dan suhu? Hem m , m engapa sem ua cint a it u dem ikian palsu dan m engakibat kan hal yang am at m enyedihkan? Aku m enj adi ngeri m elihat cint a m acam it u, Sum oi." Swat Hong m em andang heran. " Ahhh, aku t idak pernah m em ikirkan cint a sepert i yang kau kem ukakan ini, suheng." " Mudah saj a. Lihat saj a apa yang t erj adi ant ara Suhu, I bum u, dan The Kwat Lin. Sepert i it ukah cint a? Hanya m endat angkan cem buru, kem arahan, kebencian, dan perm usuhan hebat . Apakah it u cint a? Kalau sepert i it u, aku ngeri dan aku t idak berani berlancang m ulut m enyat akan cint a kepada siapapun, Sum oi. Karena, kalau hanya sepert i it u akibat nya, m aka cinta yang kunyat akan hanyalah m erupakan kem bang bibir elaka, hanya cint a palsu belaka. Bayangkan saj a, Sum oi. Di ant ara kit a berdua, sej ak kecil sam pai sekarang m enj elang dewasa, t idak pernah ada pert ent angan dan t idak pernah ada urusan apa- apa. Akan t et api, set elah kit a berdua m engaku cint a, lalu t im bul soal- soal ceburu, kecewa dan lain- lain. Apalagi set elah m enj adi suam i ist ri...hem m , bet apa m engerikan kalau m elihat cont oh yang kit a saksikan di Pulau Es ini." Swat Hong m enunduk dan t ak m am pu m enj awab. Persoalan yang diaj ukan oleh Sin Liong it u t erlam pau berat baginya, sulit unt uk dim engert i. Baginya, sebagai seorang wanit a, dia haus akan cint a kasih, akan perhat ian, akan pem anj aan dari seorang pria yang m enyenangkan hat inya, sepert i suhengnya ini. Akan t et api, set elah m endengar uraian Sin Liong t ent ang cint a yang diam bilnya perist iwa di Pulau Es sebagai cont oh, dia pun ngeri dan t idak berani m enyat akan perasaanya it u. " Aku t idak t ahu, Suheng.., aku t idak m engert i. Terserah kepadam u saj alah..." Sin Liong kembali m enarik napas panj ang. Dia m em ang sudah m engam bil keput usan di dalam hat inya bahwa dia harus m em balas budi kebaikan suhunya yang sudah berlim pah- limpah diberikan kepadanya. Sat u- sat unya j alan unt uk m em balas budi hanya dengan m enyenangkan hat i suhunya yang sedang berduka it u. Dia harus m enerim a keputusan suhunya, yaitu menerima menjadi jodoh Swat Hong! Akan tetapi dia tidak boleh m em buat dara it u m enderit a dengan keput usannya ini, m aka dia harus t ahu t erlebih dahulu bagaim ana pendirian Swat Hong. Dan sekarang, dara it u sam a sekali t idak berani m engaku t ent ang cint a. " Sum oi, sekarang begini saj a. Andai kat a aku m em enuhi perm int aan suhu, yait u m au m enerim a ikat an j odoh denganm u, m enj adi calon suam im u, bagaim ana dengan pendapat m u?" Swat Hong m enunduk dan m enggigit bibirnya. Akhirnya dia dapat berbisik. " Aku t idak t ahu, t erserah kepadam u dan kepada ayah..." " Maksudku, apakah engkau m erasa t erpaksa? Apakah hal ini m enyenangkan hat im u? Sum oi, harap kau suka bert erus t erang. Kalau kau, sepert i aku, t idak bisa m engaku cint a begit u saj a, set idaknya kukat akan apakah ikat an j odoh ini t idak m enim bulkan penyesalan bagim u?" Swat Hong t idak m enj awab, hanya m enggeleng kepala. " Kalau begit u, andaikat a aku m enerim a, engkau pun akan m enerim anya dengan senang hat i?" Swat Hong m engangguk! " Kalau begit u, m ari kit a pergi m enghadap Ayahm u. Aku akan m enerim a perm int aannya, karena bet apapun j uga, kit a harus m enghiburnya, m enyenangkan hat inya. Aku t elah berhut ang banyak budi dari suhu, m aka kalau dengan penerim aan ini aku dapat sekedar m em balas budinya, aku akan m erasa senang." Sin Liong m engam bil dayung perahu it u dan m enggerakan dayung. " Suheng, kau m enerim a karena kasihan kepada Ayah? j adi kau...kau t idak cint a kepadaku?" " Sum oi aku t idak berani berlancang m ulut m engaku cint a. Aku t elah banyak m enyaksikan cint a kasih yang kuragukan kem urniannya. Aku khawat ir bahwa sekali cint a diucapkan dengan m ulut , m aka it u bukanlah cint a lagi. Aku t idak t ahu, apakah cint a it u sesungguhnya, m aka aku t idak berani lancang m engaku, Sum oi..." " Ahhh...! ! " Jerit an Swat Hong ini

88

Bu Kek Siansu
adalah cam puran dari rasa kecewa dan j uga kekanget an hebat , m at anya t erbelalak m em andang kedepan. Melihat waj ah Sum oinya, Sin Liong cepat m enengok dan pada saat it u t erdengar ledakan dahsyat dibarengi dibarengi dengan cahaya kilat yang seolah- olah m em bakar dunia. Tam pak oleh Sin Liong yang t erbelalak m em andang itu air muncrat tinggi sekali disusul asap dan api, muncul dari permukaan laut antara perahunya dan Pulau Es. Kedua orang m uda yang t erbelalak dengan m uka pucat it u t idak berkesem pat an unt uk t erheran lebih lam a lagi karena t iba- t iba karena perahu m ereka dilont arkan keat as, dalam saat lain perahu it u t elah diperm ainkan oleh gelom bang yang m endahsyat dan m enggunung. Suara m engguruh m em enuhi t elinga m ereka dan keheningan yang baru saj a m encekam laut an it u kini t erisi dengan kebisingan yang sukar dilukiskan. Sin Liong bert eriak, " Sum oi, bant u aku! Jangan sam pai perahu t erguling! " keduanya m engerahkan t enaga, m enggunakan dayungnya unt uk m engat ur keseim bangan perahu. Nam un, kekuat an gelom bang air laut yang am at dahsyat it u m ana dapat dit ahan oleh t enaga m anusia, biarpun kedua orang pem uda it u adalah t okoh- t okoh Pulau Es sekalipun? Perahu m ereka m enj adi perm ainan gelom bang, dilont arkan t inggi ke at as, disam but dan diseret kebawah, seolah- olah t angan m alaikat m aut at au ekor naga laut yang m enyeret perahu ke dasar laut, akan tetapi tiba- tiba dihayun lagi keatas, ditarik ke kanan, didorong kekiri sehingga kedua orang m urid Raj a Han Ti Ong it u m enj adi pening dan set engah pingsan! Mereka t idak ingat akan wakt u lagi, t idak t ahu berapa lam a m ereka diombang- am bingkan air laut , t idak t ahu lagi berapa j auh m ereka t erbawa om bak, dan m ereka t idak sem pat m enggunakan pikiran lagi. Yang ada hanya naluri unt uk m enyelam at kan diri, m enj aga sekuat t enaga agar perahu m ereka t idak sam pai t erguling dan t angan m ereka t idak sam pai t erlepas m em egangi pinggiran perahu. Dengan tangan kanan memegang pinggiran perahu, tangan kiri Sin Liong memegang lengan kanan sum oinya. Bet apapun j uga, dia t idak akan m elepaskan sum oinya! Swat Hong yang biasanya t abah dan t idak m engenal t akut it u, sekali ini m enangis dengan m uka pucat dan m at a t erbelalak. Terlam pau hebat keganasan air laut baginya, t erlam pau m engerikan m elihat gelom bang set inggi gunung yang seolaholah set iap saat hendak m encengkram dan m enelannya it u! Tiba- t iba Swat Hong m enj erit . Segulung om bak besar dat ang dan m enelan perahu it u. Mereka gelagapan karena dit elan air, kem udian m ereka m erasa bet apa perahu m ereka dilam bungkan ke at as. " Brukkk...! " Keduanya t erpent al keluar, akan t et api m asih saling bergandeng t angan. Cepat Sin Liong m enyapu m ukanya agar kedua m at anya dapat m em andang. Ternyat a perahu m ereka t elah dilont arkan ke sebuah pulau kecil yang penuh bat u karang, sebuah pulau yang m enj ulang t inggi akan t et api hanya kecilkecil sekali, m erupakan sebuah bat u karang besar yang m enonj ol t inggi. " Sum oi, lekas..., kit a naik ke sana...! ! " Sin Liong t idak m em pedulikan t ubuhnya yang t erasa sakit sem ua, m em bant u sum oinya m erangkak bangun. Pipi kanan dan lengan kiri Swat Hong berdarah, akan t et api gadis it u pun agaknya t idak m erasakan sem ua ini, tersaruk- saruk dia dibant u suhengnya m erangkak dan m enyeret perahu ke at as, kem udian m ereka m elanj ut kan pendakian ke at as puncak bat u karang it u dengan susah payah. Akhirnya m ereka t iba di puncak bat u karang dan apa yang t am pak oleh m ereka dari t em pat t inggi ini benar- benar m engget arkan j ant ung. Air di sekeliling mereka. Air yang menggila, bergerak berputaran, gelombang yang dahsyat menggunung, suara yang gemuruh seolah- olah semua iblis dari neraka bangkit. Batu karang besar , at au lebih t epat disebut pulau kecil dari bat u it u t erget ar- getar, seolah- olah m enggigil ket akut an m enghadapi kedahsyat an badai yang m engam uk. Tidak t am pak apa- apa pula selain air, air dan kegelapan, kadang- kadang diseling cahaya m enyam bar dari at as, sepert i lidah api seekor naga yang bernyala- nyala, " Ouhhhh..! " Swat Hong m enangis dan cepat dipeluk oleh suhengnya. Tubuh dara it u m enggigil, pakaiannya robek- robek. " Tenanglah... t enanglah, Sum oi...." Sin Liong berbisik dan pem uda ini m engert i bahwa bukan hanya sum oinya yang disuruhnya

89

Bu Kek Siansu
t enang, m elainkan hat inya sendiri j uga! Pengalam an ini sungguh dahsyat dan t idak m ungkin dapat t erlupa selam a hidupnya. Kebesaran dan kekuasan alam nam pak nyat a. m em buat dia m erasa kecil t ak berart i, kosong dan rem eh sekali! Sin Liong dan Swat Hong yang dipeluknya t idak t ahu lagi berapa lam anya m ereka berada di t em pat it u. Siang m alam t iada bedanya, yang t am pak hanya kegelapan, air, dan kadang- kadang kilat an cahaya halilint ar. Yang t erdengar hanyalah gem uruh air, angin m enderu, dan kadang- kadang ledakan halilint ar. Tidak m em ikirkan dan m erasakan apa- apa, yang ada hanya t akj ub dan ngeri! Di luar t ahunya dua orang it u, m ereka t elah berada di pulau bat u karang selam a sehari sem alam ! Akhirnya badai m ereda, badai yang dit im bulkan oleh ledakan gunung berapi di bawah laut ! Kegelapan m ulai m enipis, akhirnya t am pak kabut put ih bergerak perlahan m eninggalkan t em pat it u, air m ulai t enang dan m enurun, akhirnya t am paklah sinar m at ahari disusul oleh bola api it u sendiri set elah kabut t erusir pergi. Tam paklah laut an luas t erbent ang di bawah dan baru sekarang t ernyat a oleh dua orang m uda it u bahwa m ereka duduk dipuncak bat u karang yang am at t inggi! Swat Hong m engeluh, baru t erasa bet apa penat t ubuhnya, bet apa luka- luka kecil dari kulit nya yang lecet - lecet , dan bet apa haus dan lapar leher dan perut ! " Sum oi, badai sudah m ereda. Mari kit a t urun. Aihh, it u perahu kit a. Unt ung t idak pecah," kat a Sin Liong dan dia m enggandeng t angan sum oinya, m enuruni bat u karang. Perahu m ereka t idak pecah, akan t et api layar dan dayungnya lenyap. Sin Liong m engangkat perahu it u, m em bawanya t urun kebawah. " Mari kit a lekas pulang, Sum oi. Biar kudayung dengan kedua t angan." Swat Hong duduk didalam perahu, m engeluh lagi dan berkat a penuk kegelisahan, " Bagaim ana dengan Pulau Es? Badai m engam uk dem ikian hebat nya, Suheng." Aku t idak t ahu, m udah- m udahan m ereka selam at . Maka, kit a harus cepat pulang." dia lalu m enggunakan kedua t angannya yang kuat sebagai dayung. Perahu bergerak, m eluncur di at as air yang t enang dan licin sepert i kaca, sam a sekali t idak ada t anda- t anda di perm ukaan air bahwa air it u t elah m engam uk sedem ikian hebat nya baru- baru ini. Tak lam a kem udian Sin Liong medapatkan dayung yang dipatahkan dari batang pohon yang hanyut di air. Agaknya pulau- pulau kecil disekit a t em pat it u t elah diam uk badai sedem ikian hebat nya sehingga pohon- pohon t um bang dan t erbawa air. Set elah keadaan cuaca t erang kem bali, Sin Liong dapat m enent ukan arah perahu dan t ak lam a kem udian t am paklah Pulau Es dari j auh. Kelihat annya m asih sepert i biasa, sebuah pualu keput ihan m em anj ang di kaki langit , berkilaun t ert im pa sinar m at ahari. Hat i m ereka lega. Dari jauh kelihatannya tidak terjadi perubahan di pulau itu. Setelah agak dekat, m ereka m elihat pula puncak at ap ist ana di Pulau Es, m aka legalah hat i m ereka. Hat i Sin Liong m ulai berdebar t egang ket ika perahunya sudah m enepel di Pulau Es. Keadaannya begit u sunyi. Sunyi dan m at i! Tidak kelihat an seorang pun di pant ai, bahkan t idak t am pak sebuah perahu pun. Dan bukit - bukit es t idak sepert i biasanya, kacau balau t idak karuan dan berubah bent uknya! Dengan hat i t idak enak kedua orang m uda it u belari- lari ket engah pulau. Makin ke t engah, m akin pucat waj ah m ereka. Tidak ada seorang pun kelihat an, dan j uga pondok- pondok yang biasanya t erdapat di sana- sini, sekarang habis sam a sekali. Tidak ada sebuah pun pondok yang t am pak! Seolah- olah sem ua t elah disapu bersih, t ersapu bersih dari pulau it u. " Auhhhh...! " Swat Hong berdiri dengan m uka pucat , kedua kakinya m enggigil. " Mari kita ke ist ana, Sum oi! " Sin Liong yang berkat a dengan suara berget ar lalu m enyam bar lengan sum oinya dan diaj aknya dara it u lari ke dalam ist ana. Beberapa kali t erdengar Swat Hong m engeluarkan seruan t ert ahan, dan Sin Liong j uga kaget bukan m ain. Mereka sepert i m em asuki sebuah kuburan! Sunyi, kosong, dan t idak ada bekas- bekasnya t em pat it u didiam i m anusia! Habis sam a sekali, baik prabot prabot an ist ana m aupun m anusia- m anusianya! Tidak t ert inggal sepot ong pun benda at au seorang pun m anusia. Habis sem ua! Ke m ana pun m ereka lari dan bert eriakt eriak m em anggil, yang t erdengar hanya gem a suara m ereka sendiri! " Oughhh...! ! "

90

Bu Kek Siansu
Swat Hong t idak m enahan him pit an perasaan yang ngeri dan berduka, t ubuhnya t ergelim pang dan t ent u akan t erbant ing kalau t idak cepat disam bar oleh Sin Liong. "Sumoi...!" Akan tetapi suara ini kandas dikerongkongannya dan tanpa disadari pula, kedua pipi Sin Liong basah oleh air m at anya yang m engalir deras m enuruni kanan kiri hidungnya ket ika dia m em ondong t ubuh sum oinya yang pingsan it u ke dalam kamar. Akan t et api dia t erm angu- m angu ket ika t iba di am bang pint u kam ar yang t erbuka, karena kam ar it u pun kosong dan bersih, t idak ada sebuah at au sepot ong pun prabot annya. t erpaksa dia m erebahkan t ubuh sum oinya di at as lant ai, dan dia sendiri m erebahkan kepala diat as kedua lut ut nya sam bil m enangis. t erlam pau hebat perist iwa yang dihadapinya. Pulau Es t elah disapu bersih oleh badai! Bersih sam a sekali sehingga agaknya t idak ada seorang pun m anusia yang t ert olong, t idak ada sepot ong pun barangnya yang t inggal, kecuali bangunan ist ana yang m em ang am at kuat it u. Set elah sium an, Swat Hong m enangis, " Aih, m engapa..? Mengapa...? ayah, kasihan sekali Ayah...! " Akhirnya Sin Liong dapat m enghibur dan m em buj uknya. Mereka berdua lalu m engadakan pem eriksaan dan m endapat kenyat aan bahwa benar- benar Pulau Es t elah diam uk badai. Agaknya air laut t elah naik sedem ikian t inggi sehingga pulau it u t eredam air. Mereka m enem ukan beberapa pot ong pakaian yang t ersangkut di bat u- bat u dan dengan hat i t erharu penuh kedukaan m ereka mengumpulkan pakaian it u, ent ah punya siapa, sebagai barang peninggalan yang am at berharga. Kem udian m ereka m em eriksa ist ana. Mem ang ada beberapa benda yang m asih t ert inggal di dalam kam ar di bawah t anah, akan t et api yang berada di at as, sem ua habis dan lenyap. " Suheng, lihat ini...! " t iba- t iba Swat Hong berkat a sam bil m enunj uk ke dinding. Sin Liong cepat m engham piri dan keduanya m engenal goresan t angan Han Ti Ong yang agaknya m enggunakan j ari t angan yang penuh t enaga sinkang unt uk m enulis di dinding bat u it u! " Sin Liong dan Swat Hong, m aafkan aku. Thian t elah m enghukum aku dan m em basm i Pulau Es. Pergilah kalian m encari wanit a j ahat it u, ram pas kem bali sem ua pusaka. Dan Bu Ong bukanlah put eraku, dia ket urunan Ki- ong." Pendek saj a " surat dinding" it u, nam un cukup j elas isinya. Sin Liong m enarik napas panj ang. Kasihan dia kepada suhunya yang m at i m eninggalkan dendam it u! " Suheng lihat ini..." Tak j auh dari t ulisan it u t erdapat bekas j ari- j ari t angan m encengkram dinding. Mudah saj a m ereka m enggam barkan keadaan Han Ti Ong dan keduanya t ak dapat m enahan t angis m ereka. Agaknya, dalam m enghadapi am ukan badai, Han Ti Ong berhasil m enggunakan t enaganya unt uk m em pert ahankan diri beberapa lam anya dengan m encengkram dinding dan sem pat pula m em buat t ulisan it u sebelum kekuat an yang j auh lebih besar dari pada kekuat anya m enyeret keluar dari ist ana dan bahkan dari pulau it u! " Kasihan sekali suhu..." Sin Liong m enghapus air m at anya. Swat Hong m engepal t inj unya. " Aku akan m encari perem puan iblis it u, selain m eram pas kem bali pusaka Pulau Es,j uga menghukumnya! Dialah yang mencelakakan ibuku, yang mencelakakan Ayahku!" Sin Liong m enarik napas panj ang. Sudah diduganya ini. Tent u akan t erj adi balasm em balas. Dendam t ak kunj ung habis! " Sum oi, Suhu hanya m eninggalkan pesan agar kit a m encari kem bali pusaka- pusaka it u...." " Kau yang m encari pusaka, aku yang m em bunuh iblis bet ina it u! " Swat Hong berseru penuh sem angat . " Dan Bu Ong... hem m ,apa pula art inya ini? Bukan put era ayah?" " Sum oi, t enanglah dan dengarlah penut uranku. Mungkin hanya aku dan ayahm u saj a yang t ahu akan nasib wanit a it u, nasib yang am at buruk dan m engerikan. Tahukah kau apa yang t elah dialam i oleh The Kwat Lin sebelum dit olong ayahm u?" Sin Liong lalu m encerit akan keadaan The Kwat Lin yang m enj adi gila karena dua belas orang suhengnya dibunuh orang dan agaknya, m elihat keadaannya, gadis yang t adinya seorang pendekar wanit a perkasa it u t elah diperkosa di ant ara m ayat para suhengnya. " Kurasa dem ikianlah kej adiannya. Set elah suhu m enyat akan bahwa Bu Ong adalah ket urunan Kai- ong, t eringat lah aku. Jelas bahwa The Kwat Lin diperkosa oleh pem bunuh dua belas orang anak m urid Bu- t ongpai it u, sehingga anak yang

91

Bu Kek Siansu
dilahirkannya it u, Han Bu Ong, adalah ket urunan Kai- ong yang m em perkosanya dan m em bunuh para suhengnya." Mendengar penut uran t ent ang nasib m engerikan yang dialam i ibu t irinya, Swat Hong bergidik. Akan t et api dia m engom el. " Yang berbuat j ahat kepadanya adalah Raj a Pengem is it u, m engapa dia m em balasnya kepada ibu? Dan dia t elah m enghancurkan penghidupan Ayah. Bet apapun j uga, aku harus mencarinya dan m em balaskan sakit hat i ibu dan Ayah." Sin Liong m aklum bahwa m em bant ah kehendak sum oinya ini percum a, hanya akan m enim bulkan pert ent angan saj a. Maka diam - diam dia m engam bil keput usan unt uk selalu m endam ping sum oinya, selain m enj aga keselam at an dara ini, j uga kalau perlu m encegah sepak t erj angnya yang t erdorong oleh nafsu dan dendam . Bet apapun j uga, set elah Pulau Es dibasm i oleh badai, dara ini kehilangan ayah bunda, t iada sanak kadang, t iada handai t aulan dan dialah sat u- sat unya orang yang pat ut m elindunginya, sebagai suhengnya. At aukah sebagai calon suam i? Sin Liong t idak m engert i dan t idak berani m em ut uskan. Biarlah hal perj odohan it u diserahkan kepada keadaan kelak. Dia t idak m em bant ah ket ika sum oinya m engaj aknya m eninggalkan Pulau Es yang t elah kosong it u, unt uk m encari ibunya, dan kalalu m asih j uga t idak berhasil, unt uk pergi ke darat an besar m encari The Kwat Lin. Beberapa hari kemudian, setelah yakin benar bahwa tidak ada seorang pun di antara penghuni Pulau Es yang selam at dan kem bali ke pulau it u, Sin Liong dan Swat Hong berangkat m eninggalkan Pulau Es. Ket ika perahu kecil yang m ereka dayung it u m eluncur m eninggalkan pulau, Swat Hong m em andang kearah pulau dengan air m at a bercucuran. Juga Sin Liong m erasa t erharu dan berduka m engingat akan nasib para penghuni Pulau Es yang m engerikan it u. Mereka berdua m endayung perahu m enuj u ke selat an dan di sepanj ang perj alanan ini m ereka m enem ukan bukt i- bukti kedahsyat an badai dan keanehan alam yang diakibat kan oleh let usan gunung berapi di bawah laut itu. Ada pulau yang lenyap sama sekali , dan ada pula pulau yang baru m uncul begit u saj a, pulau yang am at aneh, pulau bat u karang yang m asih j elas kelihat an bahwa pulau ini t adinya m erupakan dasar laut dengan segala keindahannya, dengan mahluk hidup dan tetumbuhannya yang kini semua mengeras m enj adi bat u karang dengan berm acam bent uk. Banyak pulau yang m engalam i nasib serupa dengan pulau Es, yait u m enj adi gundul, habis sam a sekali t et um buhan at asnya. diam - diam t erbayang dalam pikiran Sin Liong bet apa dahsyat kekuasan alam . Andaikat a sem ua laut an yang m engam uk sepert i beberapa hari yang lalu it u, agaknya dunia akan m enj adi kiam at ! Melihat keadaan pulau- pulau it u, t im bul rasa khawat ir dalam hat i Sin Liong t ent ang keadaan Pulau Neraka. Tent u pulau it u pun t idak t erluput dari am ukan badai, pikirnya. Padahal baru saj a pulau it u m engalam i penyerbuan Han Ti Ong dan pasukannya! Sin Liong m erasa kasihan sekali t erhadap nasib para penghuni Pulau Neraka. Apakah pulau it u sepert i j uga Pulau Es, disapu bersih dan seluruh penghuninya t erbasm i habis? " Agaknya ibum u t idak berada diant ara pulau- pulau ini," Beberapa hari kem udian set elah m erasa m encari dengan sia- sia, Sin Liong m engem ukakan pendapat . " Bagaim ana kalau kit a m encari ke ut ara lagi. Siapa t ahu kali ini kit a berhasil, dan kit a dapat j uga bert anya ke Pulau Neraka kalau- kalau ibum u ke sana." " Hem m , agaknya engkau sudah rindu kepada Soan Cu, suheng." Sian Liong m engerut kan alisnya. " sum oi, kau...cem buru lagi?" Waj ah dara itu menjadi merah. "Aku hanya berkata sewajarnya." "Sudahlah. Kalau kau cemburu, kit a t idak usah singgah di Pulau Neraka," kat a Sin Liong m enarik napas panj ang. Hening sej enak dan m ereka t elah m enghent ikan gerakan dayung karena m ereka m asih belum m endapat keput usan akan m encari ke m ana. " Kit a ke Pulau Neraka!" tiba- t iba Swat Hong berkat a. " Ehhh...??" " Aku harus ke sana. Aku akan m enegur kakek berkepala besar it u! Pulau Neraka yang m enj adi biangkeladi sehingga Ayah marah- m arah kepada kit a, ham pir saj a kit a dibunuhnya. Karena Pulau Neraka t elah berani m enawanku." " Hem m , Sum oi. Mengapa kej adian yang t elah lewat dipersoalkan lagi? Bukankah Ayam u t elah m enyerbu ke sana kurasa Ayahm u t elah

92

Bu Kek Siansu
m enghukum m ereka m enurut cerit a anak buah pasukan? Kalau begit u, kit a t idak perlu pergi ke sana, sum oi." " Aku harus pergi ke sana! " dara it u berkeras. Sin Liong menggeleng- geleng kepala. Sukar benar m elayani sum oinya ini yang m em iliki wat ak aneh dan hat i yang keras sepet i baj a. " Aku hanya m au pergi ke Pulau Neraka kalau unt uk m encari ibu, akan t et api kalau kit a pergi ke sana hanya unt uk m encari perkara, aku t idak m au. Kau harus berj anj i t idak akan m em buat kekacauan di sana, sum oi." " Hem m m , agaknya kau berkeinginan keras unt uk m enj adi sahabat baik Pulau Neraka, ya? Karena ada...." " Sum oi, harap j angan bicara yang t idak- tidak. Memang kit a sahabat baik m ereka! Lupakah kau ket ika m ereka m engant ar kit a ket ika m eninggalkan pulau it u? Karena it u, aku hanya m au pergi ke sana kalau unt uk m encari ibum u dan m enj enguk m ereka sebagai sahabat , m elihat keadaan m ereka set elah ada badai m engam uk." Swat Hong cem berut , akan t et api m enj awab j uga. " Baiklah, kit a lihat saj a nant i." Dan m ereka lalu m endayung perahu dengan cepat m enuj u ke Pulau Neraka. Akan t et api, set elah m ereka t iba di daerah Pulau Neraka, m ereka m enj adi bingung dan pangling karena didaerah it u t elah t erj adi perubahan hebat sekali. Mungkin karena akibat badai yang m engam uk, yang t ernyat a m engam bil daerah yang am at luas it u, di sekit ar sit u t elah m uncul gununggunung es yang anat besar sehingga Pulau Neraka yang biasanya t am pak dari j auh sebagai raksasa yang t idur it u kini t idak kelihat an lagi karena sem ua j urusan t erhalang pandangannya oleh gunung- gunung es. Mereka m endayung perahu berput ar nam un t idak dapat keluar dari kurungan gunung- gunung es it u. " Ahhh, dahulu t idak ada gunung- gunung es besar sepert i ini," kat a Swat Hong. " I ni t ent u diakibat kan oleh badai it u, Sum oi. Biarlah kit a m engaso dulu dan aku akan m encoba m elihat keadaan dari puncak sebuah gunung. Kau t unggu saj a di sini." Perahu it u m enem pel pada sebuah bukit es yang t inggi dan Sin Liong m eloncat ke darat an es. Kem udian dia m enggunakan ilm unya berlari cepat , m endaki gunung es it u unt uk m elihat dan m engenali daerah it u dari at as puncaknya yang t inggi. Tiba- tiba terdengar suara gerengan keras sekali yang mengguncangkan seluruh gunung es itu. Sin Liong t erkej ut dan dengan cepat dia m enoleh unt uk m elihat apa yang m engeluarkan suara sepert i it u. Dari j auh t am pak olehnya seekor beruang besar sedang m enggerakkan kedua kaki depanya ke arah burung- burung yang menyambar- nyam bar di at asnya. Burung- burung nazar ( burung bot ak pem akan bangkai) yang besarbesar bet erbangan di at as biruang it u dan m enyerangnya dari at as sam bil m engeluarkan suara pekik m engerikan. Melihat ini, Sin Liong cepat berlari m endekat i. Ternyat a beruang it u t erluka parah j uga di beberapa bagian anggaut a badannya, sedangkan di bawah kakinya t am pak bangkai seekor ular laut yang besar. Jelaslah bahwa biruang it u t adi berkelahi dengan ular laut it u dan dia m enang, akan t et api dia m enderit a luka- luka dan burung- burung nazar yang kelaparan it u kini hedak m engeroyoknya dan t ent u saj a ingin m akan bangkai ular besar. Sin Liong segera m enggunakan salj u yang digenggam unt uk m enyam bit i burung- burung it u. Terdengar suara plak- plok- plak- plok disusul suara burungburung nazar berkaok- kaok kesakit an dan m ereka t erbang ket akut an m enj auhi t em pat it u karena set iap kali t erkena sam bit an salj u, t erasa nyeri sekali. Dengan beberapa loncat an saj a Sin Liong sudah t iba di depan biruang it u. Beruang yang berkulit hit am dan am at besar it u m enyeringai dan m engerang, m em perlihat kan gigi bert aring yang am at runcing kuat dan lidah yang m erah. Mat anya t erbelalak penuh kecurigaan dan kem arahan kepada Sin Liong. " Tenanglah, aku dat ang unt uk m enolongm u," kat a Sin Liong sam bil m aj u lebih dekat . " Auuughh..! " Beruang it u m enggerang dan kaki depan yang kiri m enyam bar kearah dada Sin Liong. Melihat bet apa t elapak kaki it u berdarah, Sin Liong m engelak dan cepat m enangkap pergelangan kaki depan itu. Kiranya telapak kaki itu tertusuk tulang dan masuk amat dalam . Agaknya dalam perkelahian m elawan ular laut , beruang it u m encengkram t ubuh ular dan sedem ikian kuat nya dia m encengkeram sam pai t ulang punggung ular

93

Bu Kek Siansu
pat ah dan m enusuk ke dalam daging di t elapak kaki depan it u, Sin Liong segera m encabut t ulang it u. Darah m engucur deras dan dia segera m em balut dengan saput angannya. Beruang it u kini t idak m arah lagi. Agaknya dia cerdik dan dapat m engert i bahwa orang yang dat ang ini bukan m usuh, bahkan m enolongnya. Kaki depan yang t erluka it u kini t idak nyeri lagi dan t ent u saj a , karena yang m em buat dia t ersiksa rasa nyeri t adi adalah karena t ulang yang m enancap it u. " Coba kuperiksa, apa lagi yang perlu kuobat i," Sin Liong berkat a dan dia m em eriksa lukaluka di t ubuh beruang it u. Ada sebuah luka di t engkuk yang m em bengkak. Tahulah Sin Liong bahwa luka ini cukup berbahaya, kalau t idak lekas diberi obat yang cocok akan dapat m em bahayakan nyawa beruang it u. " Hem m m , aku harus m encarikan daun obat unt uk luka- lukam u," kat anya, lupa bahwa beruang it u t ent u saj a t idak m engert i apa yang dia kat akan. " Hai, Suheng, ada apakah?" Tiba- t iba t erdengar t eriakan dari at as. Sin Liong m enoleh dan m elihat Sum oinya t urun berlari- lari cepat sekali.Set elah dekat , beruang it u m enggerang dan m em andang Swat Hong dengan m arah. " Huh, binat ang buruk! " Swat Hong m em aki. " Dia t erluka cukup berat , akan t et api dia m enang berkelahi m elawan ular laut it u. Lihat , bet apa besarnya ular it u, Sum oi. Beruang it u kuat sekali. Aku harus m engobat inya sam pai sem buh." Swat Hong m engerut kan alisnya, " Perlu apa m enolong binat ang buas sepert i it u, Suheng? Membuang- buang wakt u saj a." " Dia t idak buas lagi, sum oi. lihat bet apa j inaknya. Dia pun m ahluk hidup yang perlu kit a t olong. Aku m erasa kasihan kepadanya,sum oi." " Wah, kau lebih m em ent ingkan dia..." " Hei..., ada apa engkau...?" Tiba- t iba Sin Liong bert eriak m elihat beruang it u m enggereng- gereng dan m enarik- narik t angannya, seolah- olah hendak m engaj ak Sin Liong pergi dari sit u! Beruang it u m akin keras m enggereng dan m akin kuat m enariknya. Diam - diam Sin Liong kagum bukan m ain. Tenaga beruang ini luar biasa besarnya, dan kiranya dia hanya akan dapat menandingi tenaga raksasa ini kalau dia menggerakan sinkang sekuat nya! Akan t et api t iba- t iba dia m endapat firasat t idak baik m elihat sikap beruang it u, m aka disam barnya t angan sum oinya dan dia bert eriak. " Awas, sum oi. Mari pergi, dia m enghendaki dem ikian, ent ah m engapa?" JI LI D 8 Sin Liong m em egang erat - erat lengan sum oinya dan m em biarkan dirinya diseret oleh biruang it u. Binat ang it u m engaj aknya set engah paksa berlom pat an dan berlarian ke gunung es yang lain yang berdekat an. Baru saj a m ereka m elom pat ke at as gunung es lain it u, t iba- t iba t erdengar suara keras dan gunung es dim ana m ereka berada t adi t elah pecah berant akan m enj adi keping- keping kecil. Kiranya gunung es it u dit abrak oleh gunung es yang lain dan hal ini agaknya t elah diket ahui oleh si Beruang t anpa m elihat dat angnya gunung es yang t ak t am pak dari sit u. Ternyat a binat ang it u hanya diperingat kan oleh nalurinya yang t idak ada pada m anusia! Sin Liong berdir i dengan m uka pucat , kem udian dia m erangkul beruang it u. " Terim a kasih, kakak beruang. Kiranya engkau m alah m enyelam at kan kam i berdua." Akan t et api Swat Hong m erasa t idak senang. " Suheng, m ari kit a segera pergi dari sini. Tem pat ini amat berbahaya. Lihat, gunung es tadi hancur dan itu kelihatan dari sini perahu kita. Unt ung t idak hilang. Marilah, suheng." " Nant i dulu, sum oi. Aku harus m encarikan daun obat untuk mengobati luka- luka di tubuh beruang ini." "Ah, perlu apa? Kita bisa celaka di sini..." " Sum oi, dia t elah m enyelam at kan nyawa kit a! " " Hem m , begit ukah? Engkau pun t adi t elah m enyelam at kan nyawanya ket ika kau m engusir burungburung nazar it u, bukan? Aku m elihat dari j auh. Berart i sudah t erbalas sem ua budi, bukan Marilah, Suheng." " Tidak, sum oi. Kit a t inggal di sini dulu sam pai aku selesai m engobat inya." Swat Hong m enj adi m arah. " Agaknya kau lebih sayang biruang bet ina ini dari pada aku! " " Sum oi...! " Akan t et api Swat Hong sudah berlari pergi, berloncat an di at as pecahan es dan m enuj u ke perahu m ereka, m eloncat ke dalam perahu dan m endayung perahu it u pergi dari sit u! Sin Liong m enj adi bingung dan ham pir m em buka m ulut m enegur, akan t et api karena m aklum bahwa hal it u percum a saj a, dia m em bat alkan niat nya. " Ngukkk... nguuuuukkk...." Beruang it u

94

Bu Kek Siansu
mendengus- dengus dan m encium i kepalanya. " Ahhh, Enci ( Kakak Perem puan) beruang, bet apa sukarnya m enyelam i wat ak wanit a. Aku t elah m em buat hat inya kecewa dan m arah, akan t et api bagaim ana hat iku dapat t ega m eninggalkan engkau yang t erancam bahaya m aut oleh lukam u?" Sin Liong lalu m engaj ak beruang it u mencari daun. Karena perahu sudah dibawa pergi Swat Hong, Maka t erpaksa dia m encari pulau yang m asih ada t et um buhannya dengan j alan berloncat an dari bat u es lainnya, dan kalau j araknya t erlalu j auh, beruang it u m enggendongnya dan m em bawanya berenang ke bat u es lainya at au kadang- kadang Sin Liong m enggunakan sebongkah es yang m engam bang sebagai perahu, didayung dengan t angannya yang kuat . Akhirnya, set elah m elalui perj alanan yang am at sukar, dapat j uga dia m enem ukan pulau yang m asih ada t et um buhannya dan di pulau kecil it u, m ulailah dia m engobat i luka- luka beruang it u sam pai sem buh. Pada suat u hari dia m elihat sebuah perahu kosong t erbalik m engam bang t idak j auh dari pulau. Dia m erasa girang sekali. Cepat m enyuruh beruang m engam bilnya dan hat inya t erharu ket ika m engenal perahu it u sebagai sebuah di ant ara perahu pulau es. Tent u penum pangnya t elah lenyap dit elan badai, pikirnya. Dia lalu m em buat dayung dari cabang pohon dan set elah biruang hit am it u sem buh benar, dia lalu m elom pat ke perahu dan m endayungnya m eninggalkan pulau. Akan t et api t iba- t iba beruang it u t erj un ke air dan berenang m engej ar perahunya. " Heii, kakak beruang, kem balilah. Engkau sudah sem buh, dan aku harus pergi m encari sum oi! " " Nguuuk...nguukk...! " Beruang hit am it u m engeluarkan suara m engeluh dan m ukanya sepert i orang m enangis! Sin Liong t ersenyum . " Hm m , kau hendak ikut , ya? Nah, loncat lah ke at as! " Seolah- olah m engert i art i kat a- kat a Sin Liong, biruang it u lalu m eloncat ke dalam perahu kini m ukanya kelihat an berseri, m at anya bersinar- sinar dan lidahnya t erj ulur keluar sepert i sikap seekor anj ing yang kegirangan. " Kau boleh ikut sam pai aku dapat m enem ukan kem bali sum oi! " kat a Sin Liong. " Kalau sum oi t idak m enghendaki kau ikut , kau harus kut inggalkan karena kau t elah sem buh." Dem ikianlah, Sin Liong kini m elanj ut kan perj alanan m encari Pulau Neraka. Dari puncak sebuah gunung es, dia dapat m elihat dari j auh dan kini dia t ahu di m ana letaknya Pulau Neraka. Beruang yang kini menggantikan tempat Swat Hong, menjadi t em annya berlayar it u kelihat an girang sekali ket ika perahu m eluncur dan binat ang ini t elah j inak benar- benar. Set elah kini dia m engenal kem bali keadaan dan t ahu di m ana let aknya Pulau Neraka, perj alanan dapat dilakukan dengan cepat . Set elah dekat dengan Pulau Neraka, dia m enyaksikan suat u yang m em buat nya t erheran dan m erasa t egang. Sebuah perahu besar kelihat an m endarat di Pulau Neraka. Jelas bukan perahu Pulau Neraka yang kecil- kecil. Perahu it u besar sekali, perahu layar yang hanya dipergunakan unt uk pelayaran j auh. Dan perahu it u pun dalam keadaan payah, j elas kelihat an bekas diam uk badai. Tiang layarnya pat ah, layarnya cabikcabik dan perahu it u t idak ada orangnya sam a sekali, berdiri m iring di pant ai Pulau Neraka. Apakah yang t elah t erj adi di Pulau Neraka? Ternyat a bahwa sepert i j uga pulau lain. Pulau Neraka t idak luput dari am ukan badai. Hanya karena let aknya agak j auh dari pusat am ukan badai, m aka penderit aannya t idak sehebat pulau lain, t erut am a Pulau Es. Air j uga naik t inggi dan m enenggelam kan set engah bagian pulau ini, banyak pula penghuninya yang t idak keburu lari ke t em pat t inggi, diseret dan dit elan badai. Perahu- perahu lenyap, pohon- pohon yang berada di t epi pant ai bobol sem ua. Dan set elah badai m ereda, sebuah perahu besar t erdam par di t epi pant ai.Perahu it u adalah perahu baj ak laut ! Set elah air m enyurut , para baj ak laut yang t erdiri- dari dua puluh lim a orang it u segera m endarat . Mereka it u kelelahan dan kelaparan, bahkan ada lim a orang di ant ara m ereka t ewas ket ika badai m engam uk sehingga j um lah m ereka hanya t inggal dua puluh lim a orang it ulah. Mereka mendarat di kepalai oleh raja bajak yang memimpin mereka, raja yang amat t erkenal di sepanj ang pant ai m uara- m uara sungai Huangho dan Yangce. Kepala baj ak ini adalah seorang laki- laki t inggi besar yang but a sebelah m at anya. Mat a kiri

95

Bu Kek Siansu
yang but a karena t usukan pedang lawan dalam pert andingan, kini dit ut upi oleh sebuah kain hit am sehingga ia kelihat an lebih m enyeram kan lagi. Tubuhnya t inggi besar dan di ant ara para nelayan dan pedagang yang suka berperahu, dia dikenal sebagai Tok- gan- hai- liong ( Naga Laut Mat a Sat u) dan nam anya adalah Koan Sek. Mereka sam a sekali t idak t ahu bahwa perahu m ereka yang diam uk oleh badai dahsyat it u t elah m endarat di Pulau Neraka! Andaikat a m ereka t ahu j uga, m ereka t ent u t idak m erasa t akut karena pada wakt u it u, nam a Pulau Neraka hanya dikenal oleh Orang- orang Pulau Es. Unt uk dunia ram ai, yang dikenal hanyalah Pulau Es, yang dikenal sebagai t em pat yang hanya t erdapat dalam sebuah dongeng. Bet apapun j uga, Pulau Es m erupakan nam a yang dit akut i oleh sem ua orang t erm asuk para baj ak. Akat t et api karena pulau dim ana perahu m ereka m endarat bukanlah Pulau Es, melainkan pulau yang hitam penuh tetumbuhan, mereka menjadi berani dan setelah badai mereda dan air menyurut, mereka lalu menyerbu ke tengah pulau. Unt ung bagi m ereka bahwa badai yang am at dahsyat it u m em buat air laut naik dan m engam uk di darat an pulau sehingga binat ang- binat ang berbisa pun m enj adi panik dan ket akut an, lari bersem buyi dan belum berani keluar. Andaikat a m ereka it u berani m enyerbu pulau dalam keadaan biasa t ent u m ereka akan m enj adi korban binat ang- binat ang it u dan sukarlah dibayangkan apa akan j adinya. Mungkin sekali t idak ada diant ara m ereka yang akan dapat lolos bet apapun liar, ganas dan lihai m ereka it u. Dapat dibayangkan bet apa heran dan girangnya hat i para baj ak it u ketika mendapat kenyataan bahwa di tengah pulau itu terdapat pondok- pondok yang dibuat oleh m anusia! Akan t et api keheranan m ereka segera berubah m enj adi kekaget an hebat ket ika para penghuni pulau it u m enyam but m ereka dengan serangan dahsyat t anpa peringat an apa- apa. Karena m ereka adalah baj ak- bajak yang sudah biasa berkelahi dan mengadu nyawa, maka serbuan para penghuni Pulau Neraka it u m ereka sam but dengan gem bira. m ereka m engira bahwa penghuni pulau it u adalah orang- orang biasa saj a. Maka besar sekali kekaget an m ereka ket ika m endapat kenyat aan bet apa kurang lebih dua puluh orang, yait u sisa penghuni Pulau Neraka yang t idak dibasm i oleh badai, yang berani m enyam but m ereka dengan serangan it u rat a- rat a m em iliki kepandaian hebat ! Terj adilah perang t anding yang seru dan m at im at ian. Baj ak laut pim pinan Tok- gan- hai- liong it u pun bukan orang- orang biasa m elainkan penj ahat penj ahat pilihan yang selain kuat dan ganas, j uga rat a- rat a pandai ilm u silat . Apalagi Tok- gan- hai- liong sendiri bersam a seorang pembantu yang sebetulnya adalah sutenya (adik seperguruan) sendiri yang bernama Coa Liok Gu, seorang ahli pedang yang lihai sekali. Sedangkan Tok- gan- hai- liong Koan Sek sendiri adalah seorang ahli berm ain senj at a ruyung yang uj ungnya m erupakan sebuah bola baj a yang berat dan keras. Para penghuni Pulau Neraka m asih t erguncang oleh am ukan badai, bahkan ket ua m ereka, Ouw Kong Ek, sedang m enderit a sakit hebat . Sem enj ak penyerbuan pasukan Pulau Es yang dipim pin oleh Han Ti Ong, Ouw Kong Ek jatuh sakit. Mungkin karena dia merasa terlalu marah, dan m ungkin j uga karena usianya yang sudah t ua. Pernyerbuan dari Pulau Es it u m erupakan hal yang am at m enyakit kan hat inya, dan j uga hat i para penghuni Pulau Neraka, m endat angkan rasa dendam yang lebih m endalam . Apalagi m elihat bet apa cat at an pengobat an dari Kwa Sin Liong t elah dihancurkan oleh Han Ti Ong, hat i Ouw Kong Ek m erasa sakit sekali. Unt ung m asih ada beberapa m acam obat yang hafal olehnya, akan t et api sebagian besar t elah dibasm i oleh Raj a Pulau Es yang m arah it u. Pada saat baj ak laut m enyerbu, Ouw Kong Ek t idak dapat bangun dari t em pat t idurnya. Dia dij aga dan dirawat oleh cucunya, Ouw Soan Cu. Maka dapat dibayangkan bet apa kaget hat i kakek ini ket ika ada anak buahnya yang dat ang m elapor bahwa pulau yang baru saj a diam uk badai it u kini disebu oleh sepasukan baj ak laut yang ganas dan rat a- rat a m em iliki kepandaian t inggi! " Keparat ...! " Kakek it u m eloncat bangun akan t et api t erguling kem bali dan Soan Cu segera m em egang lengan kakeknya, m em bant unya unt uk rebah kem bali. " Tenanglah, Kong- kong!

96

Bu Kek Siansu
Biarlah aku yang keluar unt uk m em bant u t em an- t em an m em basm i baj ak laut yang t idak t ahu diri it u." Ouw Kong Ek t erpaksa hanya m engangguk karena dia sendiri m asih t idak kuat unt uk bangun, apalagi bert em pur. " Hat i- hat ilah, Soan Cu..." Dia percaya akan kepandaian cucunya yang t ent u akan dapat m engusir baj ak- baj ak laut yang biasanya hanya t erdiri orang- orang kasar it u. Dengan pedang di t angan Soan Cu lalu berlari keluar. Melihat anak buahnya sudah bert anding m at i- m at ian m elawan bajak- baj ak yang ganas, apalagi m elihat seorang wanit a Pulau Neraka digelut i oleh dua orang laki- laki kasar sam pai wanit a it u m enj erit - j erit nam un dua orang laki- laki it u m alah t ert awa- t awa dan m erobek- robek pakaian wanit a it u, Soan Cu m enj adi m arah sekali. Dia m engeluarkan t eriakan m arah, t ubuhnya yang ram ping m encelat ke depan, pedangnya m enyam bar dan dua orang baj ak yang sedang m em perkosa wanit a it u roboh dengan leher t erkuak lebar dan ham pir put us! Wanit a it u cepat m em bereskan pakaiannya, m enyam bar goloknya dan sepert i seekor harim au kelaparan dia membacoki tubuh dua orang bajak tadi. Melihat sepak terjang Soan Cu yang kem bali sudah m erobohkan dua orang baj ak, Tok- gan- hailiong Koan Sek dan Coa Liok Gu, dibant u oleh beberapa orang baj ak lain cepat m engepung dan m engeroyoknya. Nam un Soan Cu m engam uk hebat dan pedangnya berubah segulung sinar t erang yang m enyam bar Dahsyat , m em buat dua orang pim pinan baj ak it u t erkej ut dan harus m em ainkan senj at a dengan hat i- hat i sekali agar j angan sampai mereka menjadi korban kedahsyatan sinar pedang yang dimainkan oleh dara it u. " Lepas t ulang ikan! ! " Tiba- t iba kepala baj ak it u m em beri aba- aba kepada sutenya dan mereka berdua telah meloncat mundur, membiarkan anak buah mereka yang em pat orang banyaknya m elanj ut kan pengeroyokan, sedangkan m ereka berdua lalu m engayun t angan berkali- kali ke arah Soan Cu. Sinar lem but bert ubit ubi m enyam bar ke arah Soan Cu dari depan dan belakang. Dara ini m em andang rendah senj at a rahasia m ereka. Dia adalah Seorang dara Pulau Neraka sudah t erlalu banyak racun dikenalnya bahkan dia t elah m enggunakan obat ant i racun m aka dia t idak t erlalu khawat ir ket ika sebuah di ant ara senj at a rahasia lawan yang lem but it u m engenai pahanya. Akan t et api, bet apa kaget nya ket ika dia m erasa kakinya it u set engah lum puh dan begit u dia m enggerakan pedang, t ubuhnya t erhuyung, kepalanya pening. " Aihhh...! " Dia berseru nyaring, lebih m erasa heran daripada khawat ir. Dara ini t idak t ahu bahwa lawannya m enggunakan am - gi ( senj at a gelap) berupa t ulang berbent uk duri dari sirip sem acam ikan laut yang berbisa. Bisa dari ikan laut ini tentu saja tidak dapat disamakan dengan bisa dari binatang darat, maka bisa yang asing ini t idak dapat dit olak oleh obat ant i racun yang dipakainya. " Sut e, t angkap nona m anis ini...! " Teriak Koan Sek dengan girang. Akan t et api t iba- tiba t erdengar suara gerengan yang dahsyat dan yang m em buat m ereka kaget bukan m ain. Dua orang baj ak yang m endengar suara it u dekat sekali dibelakang m ereka m enengok dan... m ereka it u t erj engkang dan m erangkak unt uk m elarikan diri dengan ket akut an. Kiranya yang m enggerang it u adalah seekor binat ang raksasa hit am yang m enakut kan. Seekor beruang yang lebar m oncongnya cukup unt uk m encaplok kepala m ereka sekaligus! Sin Liong yang dat ang bersam a biruang it u cepat m eloncat m endekat i Soan Cu m eram pas pedang dari t angan dara it u dan m em ondongnya dengan t angan kiri, kem udian sekali m eloncat dia t elah berada di punggung biruang, lengan kiri m em eluk dan m enj aga t ubuh Soan Cu yang dipangkunya karena dara it u t elah m enj adi pingsan sedangkan t angan kanan menggerakan pedang dara it u sam bil beseru " Kakak biruang, lawan m ereka yang berani m endekat ! " Biruang it u m enggereng- gereng dan ket ika m elihat dari kiri ada sinar m enyam bar, yait u sinar pedang yang digerakan oleh Coa Liok Gu sut e dari kepala baj ak, t iba- t iba kaki depan kiri yang kini dipergunakan sepert i t angan it u bergerak m enangkis, bukan m enangkis pedang m elainkan m encengkram kepala Coa Liok Gu. Tent u saj a orang ini kaget dan sekali m erendahkan t ubuh, m em balikan pedang dan siap untuk menyerang lagi. Begitu lengan biruang itu menyambar lawan,

97

Bu Kek Siansu
dia m eloncat ke at as dan m enusukan pedangnya m engarah bagian ant ara kedua m at a biruang it u. " Cringgg...! ! " Pedangnya t erpent al dan dia harus cepat m elem par t ubuh ke belakang kalau t idak ingin dadanya robek oleh cakar biruang set elah pedangnya ditangkis oleh Sin Liong tadi. "Siuuuut...!!" Senjata ruyung berujung baja di t angan Koan Sek sudah bergerak m enyam bar dengan ganas, m enghant am punggung biruang hit am dengan kecepat an kilat dan dengan t enaga dahsyat . " Cringgg...! Tranggg...! ! " Dua kali senj at a berat it u dit angkis oleh Sin Liong dan dua kali pula kepala baj ak it u berseru kaget karena t elapak t angannya ham pir t erkupas kulit nya dan t erasa panas dan perih. Pada saat dia t erbelalak dan t erheran, biruang it u sudah m em balikan t ubuh dan sekali kaki depannya yang kanan m enam par, kepala baj ak it u m encoba m enangkis, nam un senj at anya t erlepas dari pegangannya dan biruang it u sudah m enubruknya dan m encengkram ke arah lehernya. " Kakak biruang, j angan ...! " Sin Liong m em bent ak. Biruang it u t erkej ut dan ragu- ragu sehingga kesem pat an it u dapat dipergunakan oleh Koan Sek unt uk m eloncat j auh kebelakang. Dia dan pem bant u ut am anya, Coa Liok Gu berdiri dengan m uka pucat m em andang pem uda yang m enunggang biruang it u m em bawa pergi t ubuh dara j elit a yang pingsan. Biarpun pedang m asih berada di t angannya, Coa Liok Gu t idak lagi berani m enyerang karena dia m aklum bahwa selain biruang raksasa it u am at kuat , j uga pem uda it u m em iliki kepandaian yang luar biasa sekali. Sin Liong m erasa bingung dan gelisah m enyaksikan pert em puran hebat it u. " Hent ikan pert em puran...! " Dia berseru berkali- kali nam un percum a saj a, para baj ak laut dan penghuni Pulau Neraka adalah orang- orang kasar yang pada saat it u sedang m arah, m aka sukar unt uk dibuj uk. Tiba- t iba t erdengar suara m elengking t inggi dan panj ang dan suara it u segera disusul suara berdengungdengung dan berdesis- desis. Dapat dibayangkan bet apa kaget nya hat i Sin Liong ket ika dia m elihat dat angnya binat angbinat ang kecil yang berbisa. Ular, kelabang, kalaj engking dan sebangsanya berdat angan dari sem ua penj uru, m erayap cepat seolah- olah digerakan oleh suara m elengking iru, dan yang lebih m engerikan lagi, lebah- lebah put ih dat ang pula bet erbangan! Saking kaget nya Sin Liong m elom pat t urun dari punggung biruang dan kini biruang it u pun t erkej ut dan ket akut an, seolah- olah binat ang raksasa ini sudah m engert i bahwa bahaya m aut dat ang m engancam nya. " Uhhh... apa yang t erj adi...?" Soan Cu m engeluh dan sium an dari pingsannya. Melihat dara it u sudah sium an. Sin Liong agak lega. " Bagaim ana lukam u?" " Nyeri sekali, panas... eh, siapa yang m em im pin binat ang- binat ang berbisa it u?" Soan Cu t urun dari pondongan Sin Liong. " Cepat pergunakan obat penolak ini..." Dia m engeluarkan sebungkus obat penolak dari ikat pinggangnya. Set elah m enaburkan obat bubuk di sekeliling m ereka bert iga, yait u Soan Cu, Sin Liong dan biruang bet ina, Soan Cu berkat a lagi, " Sin Liong t olong... kau t angkap Si Mat a Sat u it u...aku m em but uhkan obat penawar racun am gi- nya ( senj at a gelapnya) ...." Melihat bet apa waj ah dara it u pucat sekali t anda m enderit a kenyerian hebat , Sin Liong m aklum bahwa t ent u dara it u t erkena senj at a rahasia yang m engandung racun luar biasa sekali. Maka t anpa m enj awab t ubuhnya m encelat kearah Koan Sek yang m asih bengong m em andang ke depan, m at anya terbelalak ket ika m elihat bet apa anak buahnya m ulai m enj adi korban pengeroyokan binatang- binat ang berbisa. Maka ket ika t ubuh Sin Liong m enyam bar, dia t erkej ut sekali, m engira bahwa pem uda it u akan m enyerangnya. Dia t adi sudah m engam bil kem bali senj at anya, m aka t anpa banyak cakap lagi dia sudah m engayun senj at anya m enghant am ke arah Sin Liong. Pem uda ini t adi m elepaskan pedangnya, m elihat bet apa dia disam but serangan dahsyat , cepat dia m iringkan t ubuhnya, m em biarkan senj at a berat it u lewat dan secepat kilat kedua t angannya m enyam bar dan sebelumnya Koan Sek tahu apa yang terjadi, senjatanya telah terampas dan dibuang oleh pem uda it u sedangkan t ubuhnya sudah diangkat dan dipanggul sepert i seorang anak kecil saj a. Percum a dia m eront a, karena pem uda it u sudah m eloncat seperti t erbang, kem bali ke dalam lingkaran obat penolak yang dit aburkan Soan Cu. Koan

98

Bu Kek Siansu
Sek m enggigil. Selain dia m aklum bet apa lihainya pem uda ini, j uga dia m erasa ngeri sekali m enyaksikan apa yang t erj adi di luar lingkaran obat bubuk it u. Terdengar j erit dan pekik m engerikan. Orang- orang Pulau Neraka t elah m undur dan m enont on sam bil sam bil t ert awa- t awa. Akan t et api anak buah baj ak laut it u m enghadapi penyerangan binat ang- binat ang berbisa dan sam a sekali m ereka t ak berdaya. Apalagi penyerangan lebah- lebah put ih m em buat m ereka panik. Mengerikan sekali m elihat m ereka berkeloj ot an m erint ih- rint ih dan m enangis m engerung- ngerung karena t idak t ahan m enderit a rasa nyeri yang m enyengat i sekuj ur t ubuh. " Cepat bert indak, halau m ereka, Soan Cu! " Sin Liong berkat a dengan alis berkerut . Biarpun yang dikeroyok binat ang- binat ang it u adalah kaum baj ak, nam un dia t idak dapat m enyaksikan perist iwa m engerikan it u. Soan Cu m enggeleng kepala. " Tak m ungkin. Mereka digerakan oleh suara m elengking it u..." " Suara apa it u? Siapa yang m em bunyikan?" Soan Cu t ersenyum dan m enggigit bibirnya m enahan rasa nyeri. Pahanya sepert i dibakar dan rasa nyeri m enusuk- nusuk j ant ung. " Siapa lagi? Sat usatunya orang yang dapat melakukannya hanyalah Kong- kong... augghh ..." Dara itu roboh pingsan lagi dalam rangkulan Sin Liong. " Aduh celaka..., binat ang- binatang it u...." Tok- gan- hai- liong Koan Sek m enggigil dan dia hendak lari dari t em pat it u ket ika m elihat bagaim ana pem bant unya, Coa Liok Gu, sudah sibuk m em ut ar pedang unt uk berusaha m engusir lebah- lebah put ih yang m engeroyoknya. " Kalau kau keluar dari sini, engkau pun akan m engalam i nasib yang sam a," Kat a Sin Liong, m enunj uk ke arah lingkaran put ih dari obat penolak. " Binat ang- binat ang it u t idak berani m em asuki lingkaran ini." Koan Sek m em andang dan m at anya t erbelalak ngeri m elihat bet apa ular- ular beracun yang berm acam m acam warnanya it u benar saj a m em balik lagi ket ika m endekat i garis lingkaran. Bahkan lebah- lebah put ih yang t erbang dekat , agaknya m encium bau penolak it u dan m ereka it u pun t erbang membalik, m engam uk dan m enyerang para baj ak yang berada di luar lingkaran. Saking ngerinya m elihat bet apa Coa Liok Gu m enj erit dan roboh karena kakinya t ergigit seekor ular, kem udian bet apa pem bant unya yang j uga m erupakan sut enya melolong- lolong dan bergulingan, dikeroyok banyak sekali binat ang yang m engerikan, kepala baj ak ini t ak dapat lagi m enahan dirinya dan dia m enj at uhkan diri berlut ut ! Sin Liong sendiri m erasa ngeri m enyaksikan perist iwa yang t erj adi disekelilingnya. Kalau saj a dia dapat m elihat Ouw Kong Ek, t ent u dia akan m eloncat dan m em aksa kakek it u m enghent ikan pekerj aanya yang kej am , m em bunuh para baj ak sepert i it u. Akat t et api celakanya, suara it u m elengking t inggi dan sukar diket ahui dari m ana dat angnya, bahkan kakek it u pun t idak t am pak. pula, m ana m ungkin dia berani m eninggalkan Soan Cu yang pingsan it u bersam a kepala baj ak? Maka pem uda ini m erasa sepert i disayat sayat j ant ungnya m enyaksikan pem bunuhan yang am at kej am it u, m elihat bet apa dua puluh em pat orang baj ak m enem ui kem at ian secara m engerikan, berkeloj ot an dan m elolong- lolong, akhirnya suara j erit an m ereka m akin lem ah dan berubah sepert i suara binat ang disem belih, kem udian t ubuhnya t idak berkeloj ot an lagi dan binat ang- binat ang kecil berbisa yang kelaparan it u m asih m enggerogot i kulit dan daging m ereka! Kem udian t am paklah Ouw Kong Ek, Tocu Pulau Neraka. Kakek ini dat ang ke t em pat it u sam bil m erangkak dengan susah payah, t ubuhnya kelihat an lem ah dan kurus, m ukanya pucat dan sam bil m erangkak it u dia m eniup sebat ang alat t iup t erbuat daripada bat ang alangalang, m enyerupai suling kecil. Pant as saj a suaranya m elengking t inggi dan aneh. Beberapa orang anggauta Pulau Neraka segera maju dan mengangkat ketua mereka, memapahnya datang dan kini binatang- binatang itu berangsur- angsur merayap pergi setelah Ouw Kong Ek merobah merobah suara tiupan sulingnya. Akhirya yang tinggal hanya m ayat m ayat dua puluh em pat orang baj ak dalam keadaan m engerikan, dan m ayat t uj uh orang penghuni Pulau Neraka yang t ewas dalam pert em puran. " Ahhh, engkau pula yang m enolong cucuku, Taihiap?" Ouw Kong Ek dit unt un anak buahnya dat ang m endekat . Sin Liong m engerut kan alisnya. " To- cu, engkau sungguh kej am ,

99

Bu Kek Siansu
m em bunuh m ereka sepert i it u." Kakek it u t erbelalak. " Aku? kej am ? Dan m ereka ini...?" Dia m enuding ke arah m ayat - m ayat para baj ak laut . " Dan...hei, siapa dia ini? Ah, bukankah dia ini pem im pin m ereka?" Ouw Kong Ek sudah m elangkah m aj u m engham piri Koan Sek yang berdiri dengan m uka pucat . " Tahan dulu, Tocu! Mem ang dia pem im pin baj ak, akan t et api nyawa cucum u berada didalam t angannya! " " Soan Cu...! " Ouw Kong Ek m em andang t ubuh dara yang dipondong oleh Sin Liong dan berada dalam keadaan pingsan it u. " Mengapa dia?" " Terkena senj at a beracun." Kem udian dia m em andang Koan Sek dan m em bent ak, " hayo kauberikan obat penawar senj at a gelapm u! " Tok- gan- hai- liong Koan Sek adalah seorang yang sudah berpengalam an, seorang yang m enj elaj ah di dunia kang- ouw, m aka dia t ent u saj a cerdik sekali. Tadi ket ika m enyaksikan bet apa sem ua anak buahnya, j uga sut enya, t ewas secara m engerikan, dia ket akut an set engah m at i dan kehilangan akalnya. Akan t et api sekarang set elah dia m elihat kesem pat an unt uk menolong diri, timbul kembali keberaniannya dan dia tersenyum. "Agaknya kita telah salah masuk. Tidak tahu pulau apakah ini dan siapa kalian ini?" tanyanya kepada Sin Liong karena dia m erasa j erih sekali m enghadapi pem uda yang dia t ahu am at lihai dan sam a sekali bukan t andingannya it u. " Kau belum t ahu? I ni adalah Pulau Neraka dan dia itu adalah ketuanya." Dia menuding kepada Ouw Kong Ek. "Sedangkan Nona ini adalah cucunya. Maka kau harus cepat m em berikan obat penawarnya." " Ha- ha, m udah saj a! Mudah saj a m em beri obat penawarnya. Aihh, kiranya kam i t elah m em asuki sebuah pulau iblis dengan penghuni- penghuninya sepert i iblis pula! Benar- benar kam i t elah m em buat kesalahan besar! Orang m uda, m udah saj a m engobat i luka Nona ini, akan t et api bagaim ana dengan aku sendiri? Anak buahku t elah t ewas sem ua dan aku dalam cengkram an kalian! " " Engkau... engkau akan kusiksa, kucincang sam pai hancur! " Ouw Kong Ek m em bent ak. " Ha- ha- ha, boleh! Lakukan sekarang, karena aku t idak t akut m at i set elah aku m elihat bahwa aku m em punyai banyak t em an t erut am a sekali cucum u. Kalau orang t idak lagi m enyayangkan kem at ian seorang dara j elit a m uda rem aj a sepert i dia ini, apalagi kem at ian seorang t ua bangka sepert i aku. Ha- ha- ha! biarlah aku m at i dit em ani oleh dara rem aj a ini! " Ouw Kong Ek sudah m arah sekali, kedua t angannya dikepal sehingga suling bat ang alang- alang it u hancur di t angannya. Melihat kem arahan ket ua Pulau Neraka it u, Sin Liong Berkat a, " Ouw- t ocu apa yang dikat akan benar. Sudah kuperiksa luka cucum u dan t ernyat a dia t erkena racun yang aneh sekali yang belum pernah aku m elihat nya. Maka, biarlah kit a m enukar keselam at annya dengan keselam at an Soan Cu. Bet apapun j uga , nyawa Soan Cu j auh lebih berharga dari pada kehidupan seorang sesat sepert i dia." " Ha- ha- ha , it u baru om ongan yang t epat ! " Tok- gan- hai- liong Koan Sek yang m erasa " m endapat angin" berkat a dengan dada dibusungkan. Dia t idak t akut lagi sekarang. Nyawa cucu ket ua Pulau Es berada di t angannya. Apalagi yang dit akut inya? " I blis keparat ! Hayo kauberikan obat unt uk cucuku dan kau boleh m inggat dari sini! " Ouw Kong Ek m em bent ak. " Ha- ha- ha, aku Tok- gan- hai- liong Koan Sek bukan seorang t olol." Dia lalu m enoleh kepada Sin Liong. " Orang m uda apakah kedudukanm u di Pulau Neraka ini?" Dia m em ang t idak dapat m enduga karena t adi dia m endengar ket ua Pulau Neraka m enyebut t aihiap ( pendekar besar) kepada pem uda ini. Dan kalau ada yang dipercaya di sit u. Maka satu- sat unya orang adalah pem uda ini. " Aku bukan penghuni Pulau Neraka aku adalah seorang dari Pulau Es...." " heeeehhh...??" Mat a Tok- ganhai- liong yang tinggal satu itu terbelalak dan mukanya pucat. Dia merasa seolah- olah dalam mimpi. Set elah bert em u dengan Pulau Neraka yang aneh dan m engerikan di m ana sem ua anak buahnya tewas, dia bertemu pula dengan seorang pemuda sakti yang mengaku dat ang dari Pulau Es, sebuah sebut an yang t adinya dikiranya hanya t erdapat dalam dongeng t ahyul belaka. Mim pikah dia? At aukah dia sudah m at i dit elan badai dan sekarang ini adalah pengalam an dari rohnya? " Pulau... Pulau... Es...?" Dia berkat a lirih. Sin Liong m engangguk t ak sabar. Dia t adi m engaku sebenarnya, siapa m engira

100

Bu Kek Siansu
m alah m em buat kepala baj ak ini m enj adi t erm angu- m angu sepert i orang sint ing. " Kalau begit u, aku hanya m au m em berikan obat penawar j ika engkau yang m engant arku sam pai ke sebuah perahu di pant ai Pulau Neraka ini." " Jahanam , kau t idak percaya kepadaku?" Ouw Kong Ek m em bent ak dan para pem bant unya sudah m engangkat senj at a m engancam . " Terserah, bunuhlah. Aku t oh akan m at i bersama dia ini." Sin Liong m enyerahkan t ubuh Soan Cu yang m asih pingsan kepada kakeknya, kem udian berkat a, " ouw- t ocu, biarlah kit a m em enuhi perm int aannya. Harap sediakan perahu unt uknya." Terpaksa Ouw Kong Ek m enggerakan kapalanya m em beri isyarat kepada anak buahnya, kem udian m em andang kepada kepala baj ak it u dengan m at a m endelik. Koan Sek lalu berj alan bersam a Sin Liong dan dua anak buah Pulau Neraka m enuj u ke t epi laut . Set elah sebuah perahu dipersiapkan, kepala baj ak it u m engeluarkan sebuah benda dari dalam sakunya. Benda it u t ernyat a adalah seekor kuda laut sebesar ibu j ari t angan yang sudah kering. " Nona it u t erkena racun yang t erkandung dalam duri ikan yang t idak dapat diobat i kecuali dengan ini. Bubuklah dan m asak, lalu m inum kan airnya. Tent u dia akan sembuh." Sin Liong m engerut kan alisnya. Sudah banyak penget ahuannya t ent ang pengobat an akan t et api t ent u saj a belum pernah dia m engenal rahasia racun yang keluar dari dalam laut an. Dia m enyerahkan bangkai kuda laut kering it u kepada dua orang penghuni Pulau Neraka sam bil berkat a, " Berikan ini kepada Ouw- t ocu, suruh m enum buk halus dan m asak dengan air, kem udian m inum kan kepada Nona. Bagaimana hasilnya supaya cepat melapor ke sini. Aku menunggu di sini." Dua orang it u m enerim a kuda laut m at i dan berlari m em asuki pulau, sedangkan Sin Liong lalu duduk di t epi pant ai dengan sikap t enang. " Kau t idak m au m em biarkan aku pergi?" Koan Sek bert anya penuh khawat ir. " Jangan t ergesa- gesa," j awab Sin Liong. " Aku harus yakin dulu bahwa obat m u benar- benar m anj ur, baru aku akan m em bolehkan engkau pergi. Bukankah it u adil nam anya?" Koan Sek m enghela napas dan m enj at uhkan diri duduk di dalam perahu. Dia m aklum bahwa kalau m elawan, dia t idak akan m enang. " Dia past i akan sem buh. Dalam keadaan sepert i ini, m ana aku berani m ain- main?" Sin Liong diam saj a. Kepala baj ak it u m enggunakan m at a t unggalnya unt uk m em andangi pem uda it u penuh selidik, kem udian bert anya, " Orang m uda, benarkah engkau dari Pulau Es?" Sin Liong m engangguk. " Dan siapa namamu?" "Kwa Sin Liong. Mengapa engkau bertanya- tanya?" "Tadinya aku mengira bahwa Pulau Es hanyalah sebuah dongeng..." " Hem m .., m em ang sekarang hanya t inggal dongeng..." Sin Liong berkat a sam bil m erenung j auh m em bayangkan keadaan Pualu Es yang t elah t erbasm i oleh badai dan kini t inggal m enj adi sebuah pulau kosong yang m enyedihkan. " Nguuk... nguuukkk..." Sin Liong m enoleh dan t ersenyum " Eh, Enci biruang. Kau m enyusulku?" Biruang it u m engham piri, dan m em perlihat kan t aringnya ket ika dia m elihat Koan Sek di at as perahu di depan pem uda it u. " Binat ang yang hebat ! " Koan Sek berkat a dan bulu t engkuknya berdiri. Pem uda ini sepert i bukan m anusia biasa ! dan m em punyai binat ang peliharaan sepert i it u! " Kau bilang t adi... t inggal dongeng apa m aksudm u?" " Tidak apa- apa, lupakanlah," kat a Sin Liong sam bil m engelus biruang yang sudah bert iarap di depannya. " Orang m uda she kwa... eh, Tai- hiap... kenapa kau m au m em bebaskan aku?" Sin Liong m engangkat m ukanya m em andang dan kepala baj ak it u m enj adi lebih heran lagi m elihat bet apa pandang m at a pem uda it u sam a sekali t idak membayangkan kebencian at au perm usuhan dengannya? " Mengapa t idak? engkau pun m em bebaskan Soan Cu." Sin Liong m enengok dan t am paklah dua orang t adi dat ang berlari- lari. " Kwa- t aihiap, Nona sudah sem buh! " Sin Liong m engangguk kepada Koan Sek. " Pergilah, cepat ! Lebih cepat lebih baik dan harap kau j angan sekali- kali m endekat i pulau ini." Koan Sek m enj awab, " Terim a kasih. Sat u kalipun sudah cukuplah! " Dia m engkirik. " Pulau I blis sepert i ini siapa yang ingin m elihat nya lagi?" Dia lalu m enggerakan dayungnya dan perahu m eluncur cepat m eninggalkan Pulau Neraka. Ket ika Sin Liong bersam a biruangnya t iba kem bali ke t engah pulau

101

Bu Kek Siansu
benar saj a bahwa Soan Cu t elah sem buh sam a sekali dari pengaruh racun. Hanya luka di pahanya yang t inggal dan luka it u sudah diobat i oleh Kong- kongnya. Para penghuni Pulau Neraka sedang sibuk m enyingkirkan m ayat - m ayat yang bergelim pangan m engerikan it u dan Sin Liong lalu diaj ak m asuk ke pondoknya oleh Ouw Kong Ek dan Soan Cu. " Taihiap, lagi- lagi engkau yang dat ang m enolong kam i, " kat a Ouw Kong Ek. " Kalau engkau t idak segera dat ang ent ah bagaim ana dengan aku. Mungkin sudah m at i, Sin Liong," kat a Soan Cu dengan m at a bersinarsinar penuh kagum dan t erim a kasih. " Ahh, m engapa Tocu dan kau m asih bersikap sungkan t erhadap aku? Bukankah kit a ini sahabat ? Kedat anganku bukan hanya kebet ulan saj a. Aku dat ang dengan m aksud yang sam a sepert i set ahun yang lalu, yait u m encari Sum oi. Apakah dia t idak dat ang ke sini?" Soan Cu dan kakeknya m em andang kaget dan j uga heran, dan di dalam pandang m at a Ouw Kong Ek t erkandung rasa hat i t idak senang. Sin Liong m aklum akan ket idaksenangan hat i kakek it u, m aka dia m enarik napas panj ang dan berkat a, " Harap saj a Tocu t idak m enyangka yang bukan- bukan t erhadap Sum oi. Apa yang dilakukan oleh Suhu di sini sam a sekali t idak ada sangkut paut nya dengan Sum oi." " Jadi Taihiap sudah t ahu apa yang diperbuat oleh Han Ti Ong di sini?" Sin Liong m engangguk. " Aku dapat m enduganya. Tent u dia m arah- m arah karena put erinya pernah dit ahan di sini." " Bukan hanya m arah- m arah! " kat a Soan Cu m engepal t inj u. " Orang it u som bong sekali! Dia m enghina kakek, biar pun t idak m elakukan pem bunuhan t api dia m em ukul sem ua orang! " " Kau j uga dipukulnya?" Sin Liong bert anya. " Tadinya, m elihat aku seorang wanit a dan m asih m uda, dia t idak m au m em ukulku, akan t et api karena m elihat kakek dipukul, aku m enyerangnya dan aku roboh oleh t am paran. Dia memang sakti, akan tetapi ganas dan kejam, bahkan semua catatanmu dihancurkan! Sekali wakt u kam i akan m enunt ut balas, kam i akan m enyerang Pulau Es! " Sin Liong m enarik napas panj ang. " Lupakan saj a niat it u, selain t idak baik j uga t idak ada gunanya. Keraj aan Pulau Es t idak ada lagi sekarang, t elah m usnah." " Hei...? Apa m aksudm u, Taihiap...?" kakek it u bert anya, t erbelalak. " Apa yang t elah t erj adi?" Soan Cu j uga bert anya. " Dilanda badai... habis seluruhnya, sem ua penghuninya t erm asuk suhu dan seluruh benda di sana habis t erbasm i kecuali bangunan ist ana yang t elah kosong sam a sekali..." Sin Liong lalu m enut urkan dengan singkat m alapet aka yang penim pa Pulau Es, dan bet apa secara aneh dan kebet ulan saj a dia dan Sum oinya t erluput dari bencana. Kakek dan cucu it u m endengarkan dengan m elongo kem udian kakek it u bert epuk t angan dan t ert awa bergelak. " Ha- ha- ha- ha! Ha- ha- ha- ha! Dendam rat usan t ahun lenyap dalam sekej ap m at a! kam i orang- orang buangan yang dianggap berdosa, dianggap dikut uk t uhan, m alah m asih dapat hidup m elanj ut kan riwayat , sedangkan penghuni Pulau Es yang suci dan agung, kaum bangsawan yang t inggi, sekali sapu saj a m usnah! Ha- ha- ha, siapa yang lebih dilindungi t uhan? Han Ti Ong, t anpa kam i bergerak, engkau dan keraj aanm u lenyap sudah!" Kakek itu tertawa- tawa sampai air matanya keluar sehingga sukar dikatakan apakah dia it u t ert awa, at aukah m enangis. Mengapa Taihiap sekarang m encari Nona Swat Hong ke sini? Apa yang t erj adi dengan dia?" Sin Liong lalu m encerit akan niat perj alanannya bersam a Swat Hong, yait u unt uk m encari ibu Swat Hong yang sam pai kini t idak diket ahui berada di m ana. Dan bet apa di j alan m ereka m enj adi bungung dan t ersesat karena badai t elah m encipt akan pem andangan yang berbeda di perm ukaan laut sehingga sehingga m ereka m endarat di gunung es dan bet apa dia menemukan biruang hitam. "Sumoi berangkat melanjutkan perjalanan mencari Pulau Neraka karena disangkanya ibunya berada di sini, sedangkan aku m engobat i biruang." Sin Liong m enut up cerit anya, t ent u saj a dia segera m encerit akan kem arahan Swat Hong kepadanya. " Apakah dalam beberapa hari ini dia t idak dant ang ke sini?" Soan Cu m enj awab, " Unt ung saj a dia t idak dat ang, Sin... eh, Taihiap." " Soan Cu m engapa engkau m eniru kakekm u, bersungkan kepadaku dan m enyebut Taihiap segala?" " Biarlah, Taihiap," Kat a Ouw Kong Ek. " Tidak pant as

102

Bu Kek Siansu
kalau dia m enyebut nam am u begit u saj a. Dan engkau m em ang m enolong kam i dan pant as disebut Taihiap karena kepandaianm u t inggi sekali." " Kaukat akan t adi unt ung Sum oi t idak dat ang ke sini, m engapa?" " Andaikat a dia dat ang, t ent u akan t erj adi apa- apa yang tidak baik antara dia dan Kong- kong. Ketahuilah, semenjak Raja Pulau Es dat ang m engacau di sini, Kong- kong j at uh sakit , dan kebencian kam i sem ua terhadap Pulau Es makin mendalam. Maka kalau Sumoimu, Swat Hong datang, tentu akan t erj adi hal yang t idak baik." Sin Liong m engangguk- angguk, m erasa lega bahwa sum oinya t idak m endahului dat ang ke Pulau Neraka, akan t et api j uga m enim bulkan kegelisahannya karena dia j adi t idak t ahu ke m ana sum oinya yang pem arah it u kini berada! Baj ak- baj ak laut it u, dari m ana dat angnya dan m engapa m engacau ke sini?" t anyanya. " Ent ah. Tahu- t ahu m ereka m uncul dan perahu besar m ereka t erdam par di t epi pulau." " Agaknya m ereka j uga diam uk badai." " Mungkin." Soan Cu melanjutkan. "Kami diserang selagi kong- kong sakit. Kong- kong tidak dapat t urun dari pem baringan, m aka aku yang m enggant ikannya, aku keluar m enyam but m ereka, akan t et api karena kurang hat i- hat i, karena m em andang rendah am - gi m ereka, aku ham pir celaka kalau t idak ada engkau yang dat ang di wakt u yang t epat , Taihiap." " Akan t et api akhirnya, biarpun sakit , Kong- kongm u dapat m em bunuh sem ua baj ak laut it u." Sin Liong bergidik ngeri m engenangkan kem at ian para bajak itu. "Ugh- ugh....!" Kakek itu terbatuk- batuk. "Bajak- bajak macam itu saja kalau aku t idak sakit , kalau Soan Cu t idak m em andang rendah dan kalau para penghuni t idak baru saj a diam uk badai, t idak ada art inya bagi kam i. Kalau binat angbinat ang Pulau Neraka bersem bunyi ket akut an diam uk badai, m ana m ereka m am pu m asuk? Sudahlah, sekarang saya hendak m enyam paikan perm ohonan yang am at pent ing bagi Taihiap." " Ah, Tocu, Di ant ara kit a yang sudah m enj adi sahabat , perlu apa banyak sungkan lagi? Kalau ada sesuat u, kat akanlah saj a, m ana perlu menggunakan perm ohonan lagi?" j awab Sin Liong. Akan t et api, t iba- t iba kakek it u t urun dari bangkunya dan m enj at uhkan diri berlut ut di depan Sin Liong! Tent u saj a pem uda ini m enj adi sibuk sekali, cepat m em bangunkan kakek it u dan berkat a, " Tocu, harap j angan begini. Aku yang m uda m ana berani m enerim anya? Ada keperluan apakah? kat akan saj a, aku t ent u akan m em bant um u sedapat m ungkin." Sin Liong berkat a dengan hat i t idak enak, m engira akan m enghadapi hal yang sulit . Set elah duduk kem bali dan m engat ur napasnya yang t erengah- engah karena kesehat annya belum pulih kem bali dan t ubuhnya t erasa am at lelah, kakek it u berkat a, " Kwa- t aihiap, aku sudah t ua dan t idak m em punyai ket urunan lain kecuali Soan Cu. Taihiap sudah m elihat sendiri keadaan di Pulau Neraka yang m erupakan tempat t idak baik unt uk seorang dara sepert i Soan Cu. Oleh karena it u, set elah kini keraj aan Pulau Es t idak ada, berart i bahwa Pulau Neraka t elah bebas dan kam i bukanlah orang- orang buangan lagi. Soan Cu j uga bukan ket urunan orang buangan lagi dan sewakt u- waktu kam i boleh m eninggalkan pulau ini. Karena it u, aku m ohon dengan sepenuh hat iku, sudilah Taihiap m em bawa Soan Cu bersam a Taihiap unt uk m engenal dunia ram ai, dan syukur kalau Taihiap dapat m engat ur agar cucuku ini t idak usah lagi kem bali dan t inggal di Pulau Neraka ini. Kuharap perm ohonan ini t idak akan dit olak oleh Taihiap." Sin Liong m engerut kan alisnya. Perm int aan yang sam a sekali t idak pernah disangkanya! " Akan t et api, Ouw- t ocu, hendaknya diingat bahwa aku sendiri adalah seorang sebat angkara yang t idak m em punyai apa- apa, t idak m em punyai t em pat t inggal dan m asih belum kuket ahui apa akan j adinya dengan diriku ini." " Kalau Taihiap m erant au, bawalah dia m erant au, ke m ana saj a aku sudah pasrah sepenuhnya. Baik dia akan Taihiap anggap sebagai sahabat , sebagai saudara, at au kalau m ungkin.... dari lubuk hat iku kuharap sebagai calon j odoh, aku sudah m erasa lega dan senang, asal dia t idak t ersiksa t inggal di neraka ini." Sin Liong merasa sukar untuk menolak, akan tetapi juga berat untuk menerima, m aka dia m enoleh kepada Soan Cu dan berkat a, " Soal ini sebaiknya kit a serahkan kepada Soan Cu sendiri. Kalau m em ang dia suka m erant au m eninggalkan pulau ini,

103

Bu Kek Siansu
t ent u saj a aku t idak keberat an m engadakan perj alanan bersam a. Akan t et api hal ini bukan berart i bahwa aku m enerim a usul perj odohan Tocu, dan sewakt u- wakt u dia boleh pergi ke m ana saj a, j adi aku t idak t erikat oleh perj anj ian apapun j uga." " Taihiap, j angan khawat ir. Mem ang aku sej ak dulu t idak kerasan t inggal di sini, hanya karena kedudukanku sebagai seorang keluarga buangan saj a yang m encegah aku m eninggalkan Pulau Neraka. Sekarang aku t elah bebas, dan bet apapun j uga, aku akan pergi dari sini. Hanya kalau bersam a Taihiap, t ent u hat i Kong- kong akan m erasa lebih am an, dan j uga unt ukku sendiri yang t idak ada pengalam an, melakukan perj alanan bersam am u m erupakan hal yang m enyenangkan sekali. Aku hendak pergi m encari ayahku, Taihiap." " Dan aku hendak m encari Swat Hong dan ibunya." " Kalau begit u, m ari kit a m encari berdua, siapa t ahu dalam m encari Sum oim u it u , aku dapat bert em u dengan ayahku." Set elah m endapat banyak pesan dan m elihat Kong- kongnya, m em bawa pula bekal berupa pakaian dan sekant ung em as sim panan Kong- kongnya, berangkat lah Soan Cu bersam a Sin Liong m eninggalkan Pulau Neraka dengan sebuah perahu. Selam a hidupnya yang lima belas t ahun it u, belum pernah Soan Cu m eninggalkan pulau, m aka set elah perahu meluncur jauh dan dia hampir tidak dapat melihat lagi Kongkongnya bersama semua sisa penghuni Pulau Neraka yang m engant arkanya sam pai ke pant ai, Soan Cu t ak dapat m enahan bercucurannya air m at anya. " Soan Cu, m engapa kau m enangis? Kalau kau t idak t ega m eninggalkan kakekm u, m asih belum t erlam bat unt uk kem bali," kat a Sin Liong yang sebet ulnya m erasa t idak enak sekali m em ikul kewaj iban ini. Biarpun dia t idak t erikat sesuat u, nam un sedikit banyak dia dibebani keselamatan dara ini, dan kalau dara ini wataknya seaneh Swat Hong, dia tentu akan m enj adi lebih pusing lagi! " Ah, t idak, Taihiap. Aku hanya m erasa perih hat iku m eninggalkan t em pat yang sej ak kulahir m enj adi t em pat t inggalku it u. Orang sedunia boleh m enyebut nya Pulau Neraka, akan t et api set elah aku berangkat m eninggakan pulau it u, t erasa olehku bahwa disit u adalah sorga." Sin Loing t ersenyum dan m endayung perahunya lebih cepat lagi. Pernyat aan yang keluar dari m ulut dara ini m erupakan pelaj aran yang am at pent ing baginya, m em buka m at anya m elihat kenyat aan bahwa sorga m aupun neraka it u berada dalam hat i m anusia it u sendiri! Bet apapun indahnya suat u t em pat kalau t idak berkenan di hat inya, akan m erupakan neraka, sebaliknya bet apapun buruknya suat u t em pat kalau berkenan di hat inya akan m enj adi sorga! Jadi, baik buruk, senang, susah, puas kecewa, sem ua ini bukan dit ent ukan oleh keadaan di luar, m elainkan dit ent ukan oleh keadaan hat i dan pikiran sendiri. keadaan di luar m erupakaan kenyat aan yang waj ar, dan hanya pikiranlah yang m enent ukan dengan m enilai, m em bandingkan, m aka lahirlah puas, kecewa, senang, susah, baik, buruk, dan lain- lain hal yang saling bert ent angan it u. Bahagialah orang yang dapat m enghadapi segala sesuat u dengan m at a t erbuka, m em andang segala sesuat u sepert i APA ADANYA, t anpa penilaian. t anpa perbandingan. Orang bahagia t idak m engenal susah senang, karena bahagia bukan susah bukan pula senang, bukan puas bukan pula kecewa, m elainkan suat u keadaan di at as it u sem ua, sam a sekali t idak t erganggu oleh pert ent anganpert ent angan it u. Perahu yang dit um pangi Sin Liong dan Soan Cu m eluncur t erus, uj ung depannya yang m eruncing m em belah air yang t enang sepert i sebuah pisau m em belah agaragar biru. Soan Cu sudah m elupakan kesedihan hat inya dan kini dara it u m em andang ke depan dengan waj ah berseri dan m at a bersinar- sinar penuh harapan akan m asa depan yang berlainan sam a sekali dengan keadaan di Pulau Neraka. Banyak sudah dia m endengar dongeng kakeknya yang j uga hanya m endengar dari nenek m oyangnya t ent ang keadaan di dunia ram e, dan sekarang dia sedang m enuj u kepada kenyat aan yang akan dilihat nya dengan m at a sendiri! Pusat perkum pulan Pat- jiu- kaipang ( Perkum pulan pengem is Tangan Delapan) berada di lereng Pegunungan Hen- san. Dari luar, t em pat it u m em ang pant as disebut pusat perkum pulan pengem is karena hanya m erupakan t em pat di dat aran t inggi yang

104

Bu Kek Siansu
dikelilingi pagar bam bu yang t ingginya ham pir dua kali t inggi orang, pagar yang but ut dan bam bu- bam bu it u m engingat kan orang akan t ongkat bam bu yang biasa dibawa oleh para pengem is. Akan t et api kalau orang sem pat m enj enguk di dalam nya, dia akan t erheranheran m enyaksikan sebuah rum ah gedung yang pant as j uga disebut sebuah ist ana kecil berdiri m egah dan m ewah sekali! I nilah t em pat t inggal Pat - j iu Kai- ong, Si Raj a Pengem is yang m enj adi ket ua Pat - j iu Kaipang di lereng Hengsan! Pat - j iu kai- ong sudah berusia kurang lebih t uj uh puluh t ahun, akan t et api dia m asih kelihat an t angkas dan belum begit u t ua, sungguhpun pakaianya selalu but ut , sebut ut t ongkat nya, sam a sekali t idak sesuai dengan keadaan gedungnya. Hanya kalau hari sudah m enj adi gelap saj a m aka berubahlah raj a pengem is ini, pakaiannya digant i dengan pakaian t idur yang layaknya dipakai seorang pangeran! Dan m ulailah kehidupan yang berlawanan dengan keadaan hidupnya di wakt u siang, berbeda j auh sepert i bum i dan langit . Di wakt u siang, dia lebih pat ut disebut seorang pengem is elaperan yang berkeliaran di sekit ar rum ah gedung itu. Akan tetapi di waktu malam, dengan pakaian indah dan tubuh bersih, dia bersenang- senang m akan m inum dengan hidangan serba lezat dan m ahal, dilayani oleh lim a orang selirnya yang m uda- m uda, cant ik dan genit . Pat - j iu Kai- ong t inggal t inggal didalam ist ananya yang m ewah akan t et api yang dikelilingi pagar bam bu t inggi sehingga t idak t am pak dari luar it u bersam a lim a orang selirnya, lim a orang pelayan dan selosin orang anak buahnya yang m erupakan pengawal- pengawalnya. Selosin orang ini t ent u saj a m erupakan t okoh- t okoh dalam pat - j iu Kai- pang, karena mereka adalah pembantu yang boleh diandalkan, atau juga murid- murid tingkat satu dari raj a pengem is it u. para pengawal it u m elakukan penj agaan siang m alam secara bergilir dan m ereka t inggal di dalam rum ah sam ping di kanan kiri ist ana ket ua m ereka. Adapun Pat - j iu Kai- pang m em punyai anggot a yang banyak dan yang t ersebar luas di kot a- kot a. Dengan m engandalkan nam a besar perkum pulan it u, t erut am a sekali nam a besar Kai- ong, para anggaut a it u dapat m engum pulkan sumbangan- sum bangan yang besar dan sebagian dari pada hasil sum bangan ini m ereka set orkan kepada Pat - j iu kai- ong. I nilah m em buat raj a pengem is m enj adi kaya raya dan dapat hidup m ewah sekali. Selosin orang pem bant unya, selain pengawal dan penj aga ist ananya, j uga bert ugas unt uk t urun t angan m ewakili ket ua m ereka apabila ada cabang yang kurang dalam m em beri set oran! Pat - j iu Kai- ong sendiri yang sudah hidup m akm ur j arang m eninggalkan ist ananya di Heng- san. Hanya urusan besar saj a yang dapat m enariknya pergi m eninggalkan t em pat yang am at m enyenangkan hat inya it u. Kurang lebih sepuluh t ahun yang lalu dia ikut pula m em perebut kan Sin- t ong Si Anak Aj aib karena dia pada wakt u it u ingin cepat - cepat m enyem purnakan ilm u yang sedang dicipt akan dan dilat ihnya, yait u ilm u Hiat - cianghoat sut ( I lm u Sihir Tangan Darah) . Jika pada wakt u it u dia berhasil m erebut Sintong, t ent u dalam wakt u sat u t ahun saj a ilm unya akan sem purna. Akan t et api karena sepert i dicerit akan di bagian depan, dia gagal dan Sin- t ong dibawa pergi oleh pangeran Han Ti Ong dari Pulau Es, m aka dia harus m engorbankan puluhan orang bocah unt uk dim akan ot aknya dan disedot darah dan sum sum nya. Kini dia t elah m ahir dengan ilm u hit am yang m engerikan it u, akan t et api sayangnya, set iap t ahun dia harus m engisi t enaga it u dengan pengorbanan seorang bocah! Pada suat u hari , pagi- pagi sekali, selagi Pat - j iu Kai- ong sepert i biasa m eninggalkan kehidupan m alam nya yang m ewah, berpakaian sebagai seorang pengem is berj alan- j alan di dalam t am an bunga di belakang ist ananya, m em bawa t ongkat but ut dan berlat ih silat di wakt u em bun pagi m asih t ebal, t iba- t iba seorang pengawalnya dat ang m enghadap dan m elaporkan bahwa ada t iga orang t am u dat ang ingin bert em u dengan Si Raj a Pengem is. " Hem m , siapakah pagi- pagi begini sudah dat ang m enggangguku?" Pat - j iu Kai- ong berkat a dengan alis berkerut . Akan t et api karena m erasa penasaran, dia t idak m em erint ahkan pengawalnya m engusir orang it u dan t erut am a sekali ket ika m endengar pelaporan it u bahwa yang dat ang adalah seorang

105

Bu Kek Siansu
kakek bersam a dua orang m uda, seorang dara j elit a dan seorang m uda t am pan. Hat inya t ert arik sekali ket ika m endengar bahwa kakek it u m engaku sebagai seorang " sahabat lam a." Ket ika dia keluar m em bawa t ongkat but ut nya dan bert em u dengan t iga orang it u, Pat - j iu Kai- ong m em andang t aj am . Dia kagum m elihat pem uda yang am at t am pan dan pem udi yang am at cant ik j elit a it u. Waj ah m ereka yang m irip sat u sam a lain m enunj ukan bahwa m ereka adalah kakak beradik, pem udanya berusia kurang lebih enam belas t ahun, pem udinya lim a belas at au em pat belas t ahun. Sam pai lam a pandang m at a Pat - j iu Kai- ong m elekat kepada dua orang m uda it u, keduanya m em buat hat inya t erguncang penuh kagum dan andaikat a dia t idak m enahan perasaannya, t ent u m ulut nya akan m engeluarkan air liur! Barulah dia terkejut ketika mendengar kakek itu tertawa bergelak. "Ha- ha- ha- ha! Pat- jiu Kai- ong kurasa engkau belum begit u pikun unt uk m elupakan dua orang anakku ini. Mereka adalah Swi Liang dan Swi Nio, ha- ha- ha! Akan t et api Pat - j iu Kai- ong m engerut kan alisnya, sam a sekali t idak m engenal kedua nam a ini. Dia m em andang dengan m at a t erheran kepada laki- laki yang berdiri di depannya, seorang laki- laki berusia kurang lebih lim a puluh t ahun, berpakaian sederhana berwarna kuning, dengan kepala yang beruban it u t erlindung kain pem bungkus ram but yang berwarna kuning pula. Kakek it u t ert awa lagi. " Wah, Pat - j iu Kai- ong, benar- benar engkau t elah lupa kepada kam i? Lupa kepada sahabat m u di Lusan ini?" " Ahhhh...! " Pat - j iu Kai- ong t ert awa, m ukanya berseri dan dia cepat m em bungkuk unt uk m em beri horm at . " Kiranya sahabat Bu yang dat ang? m aaf, m aaf, m at aku sudah lam ur saking t uanya sehingga t idak mengenal sahabat baik yang kurang lebih sepuluh tahun tak pernah kujumpi. Jadi ini kedua anakm u it u? Dahulu m ereka baru berusia lim a enam t ahun, kecil dan lucu sert a berani, bahkan kalau t idak salah, anak perem puanm u ini yang dahulu m enant ang pibu kepadaku. Ha- ha- ha! " Dara berusia lim a belas t ahun yang cant ik j elit a it u m enunduk dan kedua pipinya berubah m erah. " Harap Pangcu sudi m em aafkan saya." " Aih- aih...! I ni t ent u orang t ua lusan ini yang m engaj arnya. Menyebut ku Pangcu segala! " " Ha- ha- ha, Pangcu. Bukankah engkau m em ang Ket ua dari Pat - j iu Kai- pang? Mengapa t idak m au disebut Pangcu oleh put eriku?" Kakek it u berkat a. " Wah, j angan berkelabar. Anak- anak yang baik, sebut saj a aku pam an. m arilah m asuk, kit a bicara di dalam ." Pat - jiu- kai- ong lalu bert epuk t angan dan para pengawalnya m uncul. " lekas berit ahukan para pelayan agar m em persiapkan hidangan m akan pagi yang baik unt uk t am uku yang t erhorm at , Lu- san Loj in ( Orang Tua Dari Lusan) dan dua orang put era- put erinya! " Para pengawal it u m undur dan Pat- jiu- kai- ong m enggandeng t angan kakeknya it u, sam bil t ert awat awa m ereka memasuki istana dan duduk di ruangan dalam menghadapi meja dan duduk di kursikursi yang berukir indah. Sam bil m em andang ke kanan kiri m engagum i keindahan ruangan it u, Lu- san Loj in berkat a m em uj i, " Sungguh hebat ! Lam a sudah aku m endengar bahwa Pat - jiu- kai- ong t inggal disebuah ist ana yang m egah, kiranya keadaan di sini m elam pau segalanya yang t elah kudengar. Hebat sekali! " Sej ak t adi Pat- jiu- kai- ong m erayapi t ubuh pem uda dan pem udi it u dengan pandangan matanya. Dia kagum bukan m ain m elihat dara cant ik j elit a dan pem uda yang t am pan dan gagah it u. " Ha- ha, kau t erlalu m em uj i, sahabat . Aku t idak m engira bahwa hari ini t em pat ku yang buruk akan m eneriam a kehorm at an kedat aangan seorang t am u agung, seorang penolongku yang budim an bersam a put ra dan put erinya yang begini elok." Kedua orang t ua ini lalu bercakap- cakap dengan gem bira m em bicarakan m asa lam pau. Siapakah kakek ini? Dia adalah Lu- san Loj in, seorang ahli silat dan ahli pengobat an yang sem enj ak ist rinya m eninggal dunia, m eninggalkan dua orang anak, lalu m engaj ak dua orang anaknya it u m engasingkan diri ke puncak Lu- san, dan di sana dia bert apa sam bil m endidik dan m enggem bleng put era put erinya. Sepuluh t ahun yang lalu, set elah gagal m erebut Sin- t ong, dalam kekecewaannya Pat - j iu Kai- ong lalu m engam uk di sepanj ang j alanan, m enculik dan m em bunuhi bocah- bocah yang dianggapnya cukup sehat . Ket ika dia t iba di kaki

106

Bu Kek Siansu
Pegunungan Lu- san, dia berada dalam keadaan keracunan hebat . Hal ini t erj adi karena dia t erlam pau banyak m em bunuh anak laki- laki, m akan ot ak m ereka dan menghisap darah serta sumsum mereka untuk menyempurnakan ilmunya, terlampau banyak m elat ih diri dengan ilm u hit am Hiat - ciang Hoat - sut . Karena hat inya yang penasaran mengapa dia tidak dapat mengalahkan Han Ti Ong dan merebut Sin- tong, maka dia lupa akan ukuran tenaga sendiri dan melatih diri dengan ilmu hitam itu, dia t erlam pau t erburu- buru dan akibat nya, hawa m uj ij at dari ilm u it u m em balik dan m em buat dia t erluka dalam , keracunan hebat sehingga dia t erhuyung- huyung dan ham pir pingsan ket ika t iba di kaki Pegunungan Lu- san. Dia m aklum akan keadaan dirinya, t ahu bahwa dia t erancam bahaya m aut m aka hat inya m enj adi khawat ir sekali. Kebet ulan baginya, pada saat it u keadaannya t erlihat oleh Lu- san Loj in yang sedang t urun gunung bersam a put era- put erinya yang pada wakt u it u baru berusia enam dan lim a t ahun, sebagai seorang gagah dan berilm u t inggi, Lu- san Loj in cepat m enolong Pat - j iu Kai- ong. Set elah m em eriksa keadaan raj a pengem is it u, dia m aklum bahwa Pat - j iu Kai- ong m em erlukan perawat an khusus, m aka diaj aknya orang ini naik ke puncak Lu- san. Di sit u Pat - j iu Kai- ong diobat i Lu- san Loj in sam pai sem buh . Selam a sat u bulan berada di Lu- san, raj a pengem is ini m enerim a perawatan yang amat baik dari Lu- san Lojin, maka dia merasa berterima kasih sekali dan m enganggap pert apa it u sebagai penolong dan sahabat baiknya. Juga dia m engenal dua orang bocah yang m ungil it u. Karena kebaikan hat i Lu- san Loj in, biarpun dia m elihat Swi Liang sebagai seorang anak yang m em punyai darah bersih dan t ulang kuat , dia t idak t ega unt uk m engganggu anak laki- laki it u. Di lain pihak, ket ika m endengar bahwa yang dit olongnya adalah Pat - j iu kai- ong ket ua Pat - j iu kaipang, Lusan Loj in t erkej ut sekali. Akan t et api dia m enj adi bangga bahwa raj a pengem is yang nam anya t erkenal it u m enganggapnya sebagai sahabat baik. Maka set elah sem buh, m ereka berpisah sebagai sahabat yang berj anj i unt uk saling m engunj ungi dan saling m em bant u. " Sungguh aku t idak t ahu diri dan t idak m engenal budi," set elah m akan m inum Pat - j iu Kai- ong berkat a kepada t am unya. " Sepat ut nya akulah yang dat ang m engunj ungi kalian di Lu- san, bukan kalian yang j auhj auh dat ang m engunj ungi aku." " Ahhh, m engapa kau m enj adi sungkan begini? Kit a bersam a t elah m em punyai kewaj iban m asing- m asing sehingga t ent u saj a t elah sibuk dengan pekerj aan. Kam u pun hanya kebet ulan saj a lewat di kaki Pegunungan Heng- san, m aka aku t eringat kepadam u dan m engaj ak kedua anakku unt uk mendekati Pegunungan Hengsan mencarimu." "Terima kasih, engkau baik sekali, Lusan Loj in. Akan t et api, kalau boleh aku m enget ahui, kalian dat ang dari m anakah?" Lu- asn Loj in m enarik napas panj ang dan m enoleh kepada put eranya, m em andang put erinya seolah- olah m int a ij innya, Swi Liang m enganggukan kepalanya kepada ayahnya, dan m enunduk. Dianggap oleh pem uda ini bahwa Pat - j iu Kai- ong adalah seorang sahabat baik ayahnya, bahkan sepert i saudara sendiri, m aka t idak ada salahnya kalau raj a pengem is it u m enget ahui urusannya. Siapa t ahu raj a pengem is it u dapat m em bant unya . " Kam i baru saj a dat ang dari Lokyang, m elakukan perj alanan sej auh it u dan t ernyat a sia- sia belaka perj alanan kam i unt uk m encari Tee- t ok Siangkoan Houw." " Tee- t ok Siangkoan Houw? Ah, ada urusan apakah engkau m encari racun bum i it u, Lu- san Loj in?" " Sebet ulnya urusan lam a, urusan perj odohan, sem enj ak kecil, ant ara Tee- t ok dan aku t elah t erdapat perset uj uan unt uk m enj odohkan put eraku Bu Swi Liang ini dengan put erinya yang bernam a Siangkoan Hui. Akan t et api, set elah keduanya m enj adi dewasa, t idak ada berit a dari Tee- t ok sehingga hat iku m erasa khawat ir sekali. Aku sudah berusaha m encarinya, nam un selalu sia- sia. Akhir- akhir ini aku m endengar bahwa dia berada di Lokyang, akan t et api set elah j auh- j auh kam i bert iga m encarinya di sana, t ernyat a dia t idak berada di sana pula. Hem m , sikap orang t ua it u m asih selalu aneh dan penuh rahasia." JI LI D 9 " Ha- ha- ha, ala salahm u sendiri! m engapa m engikat perj anj ian dengan seorang iblis sepert i Tee- t ok?" " Pat - j iu Kai- ong, j angan bergurau. I ni urusan

107

Bu Kek Siansu
yang pent ing bagi kam i, karena it u, kam i m engharap bant uanm u yang m em punyai banyak anak buah, agar suka m enyelidiki di m ana kam i dapat bert em u dengan Teet ok Siangkoan Houw." " Baik, baik... j angan khawat ir. Akan kusuruh anak buahku menyelidikinya, dan kalian bermalamlah di sini, jangan tergesa- gesa pulang." Lu- san Loj in m enggeleng kepala. " Sudah t erlalu lam a kam i m eninggalkan pondok, kam i hanya dapat berm alam unt uk sat u m alam saj a. Besok pagi- pagi kam i harus m elanj ut kan perj alanan." " Sem alam an cukuplah, Biar kupergunakan unt uk m enj am u kalian sepuas hat iku." Tiba- t iba t erdengar suara hiruk pikuk di luar ist ana raj a pengem is it u. Tak lam a kem udian dua orang pengawal pribadi Kai- ong m asuk dengan m uka pucat dan kelihat an t akut . " Ada apa? m au apa kalian m engganggu kam i?" Kai- ong m em bent ak m arah dan m enurunkan cawan araknya keras- keras ke atas m ej a sehingga m ej a it u t erget ar. " Pangcu... am punkan kam i berdua... t erpaksa kami mengganggu karena ada peristiwa yang amat aneh dan mengkhawatirkan kami sem ua." " Apa yang t erj adi? Hayo cepat cerit akan." Dengan waj ah ket akut an, seorang di ant ara dua orang pengawal it u lalu m encerit akan apa yang baru saj a t erj adi di luar ist ana. Karena Pangcu sedang m enj am u t am u, para pengawal m enj aga di luar dan m ereka sedang m engagum i seekor ayam j ago kesayangan Pat j iu Kai- ong. Raj a pengem is it u m em ang suka sekali m em elihara ayam j ago dan kadang- kadang m engadunya. Pagi hari it u sepert i biasa, seorang pelayan m em andikan dan m em beri m akan ayam j ago it u, dan m em uj i- m uj inya sebagai j ago peranakan t anah selat an yang am at baik. Tiba- t iba ayam j ago it u m enggelepar di dalam kedua t angannya, darah m uncrat dan ayam it u m at i, dadanya dit em busi sehelai benda lem but yang kem udian t ernyat a adalah sebat ang daun! Di t angkai daun itu terdapat sehelai kain yang ada tulisanya. "Kami telah meloncat dan mencari di sekeliling, akan tetapi tidak ada bayangan seorang pun manusia, Pangcu. Agaknya hanya iblis saj a yang dapat m enggunakan sehelai daun unt uk m enyam bit dan m em bunuh ayam j ago dan...." " Cukup! " Raj a pengem is it u m arah sekali m endengar j agonya dibunuh orang. " Kalian t olol sem ua! Mana kain yang ada t ulisan it u! " Kepala pengawal yang m ukanya penuh bewok it u dengan kedua t angan gem et ar, m enyerahkan sehelai kain put ih kepada ket uanya. kain it u ada t ulisannya dengan huruf- huruf kecil berwarna hit am , akan t et api ada noda- noda darah, darah ayam j ago t adi. Akan t et api Pat - j iu Kai- ong yang m enerim a kain it u, sej enak m enj adi bingung dan baru ia t eringat bahwa dia t idak m am pu m em baca. Dia but a huruf! Dengan j engkel dan agak m alu dia lalu m elem parkan kain it u kepada Lu- san Loj in sam bil berkat a, " Harap kaubacakan ini unt ukku! " Lu- san Loj in m enyam bar kain yang m elayang ke arahnya it u, lalu m at anya m em andang t ulisan. Mukanya berubah, m at anya t erbelalak. " Wah... apa art inya ini?" " Loj in! bagaim ana bunyinya?" Pat - jiu Kai- ong bert anya, suaranya m em bent ak. Lu- san Loj in lalu m em baca huruf- huruf it u. Malam ini, sem ua m ahluk hidup yang t inggal di rum ah Pat - j iu Kai- ong dari binat ang sam pai m anusia, akan kubasm i habis! " Rat u Pulau Es. " Rat u Pulau Es...?" Pat - jiu Kai- ong t ert awa. " Siapakah dia? Aku t idak m engenalnya. Hai pelawak dari m anakah yang m ain- m ain sepert i ini? Ha- ha- ha, biar dia dat ang hendak kulihat m agaim ana m acam nya! " " Kai- ong, harap j angan m ain- m ain. Biarpun hanya sepert i dalam dongeng, nam a Pulau Es am at t erkenal, kat anya penghuninya m em iliki kepandaian seperti dewa, apalagi dahulu yang terkenal dengan sebutan Pangeran Han Ti Ong...." "Ha- ha- ha, siapa perduli? Aku tidak ada permusuhan dengan Han Ti Ong, bahkan dia yang pernah m engganggu aku. Mengapa sekarang ada rat u dari sana hendak m em bunuhku dengan ancam an sesom bong it u? Aku t idak percaya. He, pengawal apakah kalian t ahu akan isi surat ?" Dua orang pengawal it u m engangguk. " Sudah Pangcu." " Apa kalian t akut ?" " Ti... t idak, Pangcu, Hanya... hanya am at aneh it u..." " Sudahlah. Set elah kalian t ahu isinya, hayo kalian dua belas orang m elakukan penj agaan yang ket at t erut am a m alam ini. Kit a j angan m udah digert ak lawan yang m em badut ! Biarkan dia dat ang, kit a t angkap dia dan kit a perm ainkan dia, ha- ha-

108

Bu Kek Siansu
ha! " " Kai- ong harap hat i- hat i...." kat a Lu- san Loj in set elah para pengawal it u keluar dari ruangan it u. " Ha- ha- ha, m engapa khawat ir? Apalagi baru seorang badut , biar Han Ti Ong sendiri yang dat ang, set elah kini Hiat - ciang Hoat - sut kulat ih sem purna, aku t akut apa?" Kakek dari Lu- san it u kelihat an ragu- ragu, akan t et api untuk m enyat akan bahwa dia t akut , t ent u saj a dia t idak m au dengan hat i berat dia bersam a dua orang anaknya m enem ani t uan rum ah m akan m inum dan bercakapcakap sam pai lewat t engah hari. Kem udian m ereka dipersilahkan m engaso sej enak dalam kam ar t am u, akan t et api m enj elang senj a, m ereka sudah dipersilahkan m akan m inum lagi. Sekali ini m ereka benar- benar t akj ub. Melihat Pat - j iu Kai- ong kini bert ukar pakaian, pakaian m alam yang indah dan m ewah! Mengignat bet apa siang t adi Kai- ong m erupakan seorang pengem is yang berpakaian but ut , dan kini sepert i seorang raj a, benar- benar m em buat Lu- san Loj i ham pit t ert awa, sepert i m elihat seorang badut pem ain lenong! Dan hidangan yang dikeluarkan di m ej a j uga ist im ewa, j auh lebih lengkap daripada siang t adi! " Ha- ha, ayo m akan m inum . Kit a berpest a sam pai kenyang! " kat a t uan rum ah it u m em persilahkan t am ut am unya. Set elah hidangan t inggal sedikit dan perut m ereka kenyang sekali, Pat - j iu Kai- ong mengusap- ngusap bibirnya yang berm inyak dan perut nya yang gendut , m at anya m em andang ke arah Bu Swi Liang dan Bu Swi Nio penuh gairah, lalu dia berkat a, kata- kat a yang sam a sekali t idak pernah disangka oleh para t am unya dan yang m em buat m ereka t erkej ut set engah m at i, " Lu- san Loj i, sekarang kau t idurlah dalam kam arm u dan j angan hiraukan badut yang hendak m engganggu. Adapun dua orang anakm u ini, yang cant ik j elit a dan t am pan gagah, biarlah m ereka berdua besenangsenang dengan aku dalam kam arku, ha- ha- ha!" "Kai- ong! " Lu- san Loj in m em bent ak. " Apa... m aksud kat a- kat am u ini?" Pat - j iu Kai- ong m em andang t am unya sam bil t ersenyum lebar. " Apa m aksudnya? Swi Liang begini t am pan gagah dan Swi Nio cant ik j elit a dan segar, sungguh aku suka sekali kepada m ereka. Kalau m ereka bedua bersam a dengan aku dalam kam arku, t ent u m ereka akan t erlindung dan....hem m m , aku ingin sekali bersenang dengan m ereka, t idur- t iduran dengan m ereka sej enak." " Kai- ong, apa kau gila??" Lu- san Loj in ham pir t idak dapat percaya akan pendengaranya sendiri. " Eh, m engapa? Apa salahnya aku t idur dengan dua orang keponakanku ini? Heh- heh, t ak t ahan aku m elihat put erim u yang m uda dan cant ik segar, dan put eram u yang t am pan dan gant eng ini. Anak- anak baik, m arilah kalian layani pam anm u..." " Keparat ! " Lu- san Loj in m elom pat ke depan dan dua orang anaknya yang berada di belakangnya pun sudah siap dengan pedang di t angan. " Pat - j iu Kai- ong! Harap kau j angan m ain gila dan j elaskan apa sebabnya perubahan sikapm u ini. Mau apa engkau dengan anak- anakku?" " Ha- ha- ha! Siapa m ain gila? Sebelum kalian m uncul, t idak pernah ada t erj adi apa- apa di sini. Akan t et api begit u kalian m uncul, m uncul pula orang aneh yang m em bunuh ayam ku dan m engeluarkan ancam an. Siapa lagi kalau bukan t em an dan kaki t anganm u? Dan kau t ent u sudah m endengar bahwa Pat - j iu Kai- ong t idak pernah m enyia- nyiakan kecant ikan seorang dara rem aj a sepert i put erm u ini dan put eram u yang t am pan ini t ent u m em iliki ot ak yang bersih, darah yang segar dan sum sum yang kuat . Perlu sekali unt uk m enam bah keam puhan Hiat - ciang Hoat - sut agar m akin kuat menghadapi lawan kalau malam ini ada yang berani datang!" "Iblis jahanam! Kiranya engkau seorang m anusia iblis yang busuk! " Lu- san Loj in sudah m enerj ang m aj u dengan kepalan t angannya. Kakek ini m em iliki ilm u kepandaian yang t inggi sebagai bekas m urid Hoa- sanpai yang sudah m em perdalam ilm unya dengan cipt aanya sendiri, hasil renungannya di waktu bertapa. Kepalan tangnnya menyambar dahsyat, m engandung t enaga sinkang yang am at kuat . Akan t et api kiranya hanya dalam ilm u pengobat an saj a dia m enang j auh dibandingkan dengan Pat - j iu Kai- ong. Dalam ilm u berkelahi, dia t idak m am pu m enandingi Kai- ong yang am at lihai. Sam bil t ert awa, Kai- ong m engebut kan uj ung lengan baj unya yang lebar dua kali dan kakek Lu- san it u t erpaksa harus m enarik kem bali kedua t anganya karena dari kedudukan

109

Bu Kek Siansu
m enyerang, dia m alah m enj adi yang diserang karena pergelangan kedua t angannya t erancam t ot okan uj ung lengan baj u it u! dua orang naknya yang sudah m arah sekali karena m erasa dihina, sudah m enerj ang m aj u pula dengan pedang m ereka. Swi Liang m enusuk dari sam ping kiri ke arah lam bung kakek pengem is it u, sedangkan dari kanan Swi Nio m em babat kan pedangnya ke arah leher. " Ha- ha, bagus! Kalian benar- benar menggairahkan!" kata kakek itu dan dia bersikap seolah- olah tidak tahu bahwa dirinya diserang. Akan t et api set elah kedua pedang it u m enyam bar dekat , tiba- t iba kedua t angannya m enyam bar dan.... dua bat ang pedang it u t elah dicengkram nya dengan t elapak t angan! Swi Liang dan Swi Nio t erkej ut bukan m ain, akan t et api m elihat bet apa kedua bat ang pedang m ereka it u dipegang oleh t angan kakek it u, m ereka cepat m enggerakan t enaga m enarik pedang dengan m aksud m elukai t elapak t angan Pat - j iu Kai- ong. Nam un usaha m ereka ini sia- sia belaka, pedang m ereka t ak dapat dicabut , seolah- olah dicengkeram j epit an baj a yang am at kuat . " Manusia t ak kenal budi! " " wirrrr... t ar- t ar! " Pat - j iu Kai- ong m erasa t erkej ut m elihat m enyam barnya sinar kuning dan t ernyat a bahwa Lu- san Loj in m elolos sabuknya yang berwarna kuning dan kini m enggunakan sabuk it u sebagai senj at a. Kakek ini m em ang m em iliki t enaga sinkang yang kuat , dan m em ainkan sabuk sebagai senj at a sudah m erupakan kehaliannya. Sabuk lem as di t angannya it u dapat bergerak sepert i pecut , dapat pula m enj adi sebat ang senj at a yang kaku dengan pengerahkan sinkangnya. "Krekk- krekkk!" dua batang pedang itu patah- patah dalam cengkraman Pat- jiu Kai- ong dan sambil melompat mundur menghindarkan sambaran uj ung sabuk, raj a pengem is ini m enyam bit kan dua uj ung pedang yang dipat ahkanya ke arah Lu- san Loj in. " Trang- t ranggg! " Dua bat ang uj ung pedang it u t erlem par ke lant ai ket ika dit angkis oleh uj ung sabuk( ikat pinggang) dan kini Lu- san Loj in m endesak ke depan dengan put aran senj at anya yang ist im ewa. Sedangkan kedua orang anaknya telah mundur dan hanya menonton di pinggir karena mereka terkejut m enyaksikan pedang m ereka dipat ahkan begit u saj a oleh kedua t angan lawan dan mereka sam a sekali t idak berdaya dan t idak berguna m em bant u ayah m ereka. Pada saat it u, m uncullah em pat orang pengawal yang m endengar suara ribut - ribut. Melihat m ereka, Pat - j iu Kai- ong berkat a, " Tangkap dua orang m uda ini, akan t et api awas, j angan lukai m ereka! " Em pat orang pengawal it u segera m enubruk m aj u hendak m enangkap Swi Liang dan Swi Nio. Tent u saj a kakak beradik ini m elawan sekuat t enaga, akan t et api biarpun keduanya m em iliki ilm u silat t inggi, nam un em pat orang pengawal it u pun m erupakan m urid- m urid t erpandai dari Pat - j iu Kaiong, m aka ket ika dua orang di ant ara m ereka m enggunakan t ongkat , dalam belasan j urus saj a Swi Liang dan Swi Nio dapat dit ot ok dan roboh dan lum puh. Ha- ha- ha, belenggu kaki t angan m ereka baik- baik... kem udian lem par m ereka ke at as tempat t idurku... haha- ha! " Pat - j iu Kai- ong t ert awa sam bil m enyam bar t ongkat nya. Set elah dia bert ongkat , m aka kini dia m enghadapi Lu- san Loj in dengan lebih leluasa. Kakek dari Lu- san it u m arah bukan m ain m elihat put era dan put erinya digot ong pergi dari ruang it u. Dia m engej ar dan m enggerakan ikat pinggangnya, nam un Pat - j iu Kai- ong m enghadangnya sam bil t ert awa- t awa dan m enyerangnya dengan t ongkat nya sehingga t erpaksa kakek Lu- san it u m elayaninya bert anding. Pert andingan yang am at seru dan diam - diam Pat - jiu Kai- ong harus m engaku bahwa ilm u kepandaian kakek yang pernah m enolongnya ini m em ang hebat . " Pat - j iu Kai- ong, benarbenarkah kau lupa akan budi orang? Aku pernah m enyelam at kan nyawam u, apakah sekarang engkau m encelakakan kam i bert iga?" Lu- san Loj in berkat a m em buj uk karena khawatir melihat nasib puterinya. "Ha- ha- ha, dahulu memang engkau pernah m enolongku, akan t et api sekarang kalian dat ang dengan niat buruk! " " Tidak! Kau salah duga! Kam i t idak ada sangkut paut nya dengan si pem bunuh ayam ! " " Ha- haha, Lu- san Loj in! Kalian m enyelundup ke dalam dan bergerak dari dalam , sedangkan set an it u bergerak dari luar. Begit ukah?" Tongkat di t angan Pat - j iu Kai- ong menyambar ganas. "Plak- plakk!" Ujung sabuk kakek Lu- san menangkis dua kali akan

110

Bu Kek Siansu
t et api dia m erasa bet apa t elapak t angannya t erget ar t anda bahwa t enaga Si Raj a Pengem is it u benar- benar am at kuat . " Pat - j iu Kai- ong, kau salah m enduga, kam i t idak ada hubungan dengan m usuh yang dat ang. Lepaskan kedua anakku dan kau berj anj i akan m em bant um u m enghadapi m usuh gelap it u." " Wah, berat kalau disuruh m elepaskan. Lu- san Loj in, dengan baik- baik. Aku t ergila- gila m elihat anakanakm u. Pinj am kan m ereka kepadaku unt uk sat u dua m alam , dan kau bant u aku m enghadapi m usuh, baru aku akan m em bebaskan kalian." " I blis busuk! " Lu- san Loj in m arah sekali dan dengan nekat dia lalu m engerahkan seluruh t enaga unt uk m elawan raj a pengem is ini karena dia m aklum bahwa bet apapun j uga hat i yang kot or dari raj a pengem is it u t idak m udah dibuj uk. Sat u- sat unya j alan unt uk m enolong anak- anaknya adalah m elawan m at i- m at ian. " Plakkk! " Tiba- t iba uj ung sabuk m elibat t ongkat , keduanya saling bet ot unt uk m eram pas senj at a. Tidak m udah bagi m ereka unt uk dapat berhasil m eram pas senj at a lawan dan kesem pat an ini dipergunakan oleh Pat - j iu Kai- ong unt uk m enggerakan t angan kirinya dengan t elapak t angan t erbuka ke arah lawan. Lu- san Loj in t erkej ut m elihat t elapak t angan yang m enj adi m erah sepert i t angan berlum uran darah it u. Dia belum pernah m engenal lim u Hiat - ciang Hoat - sut dari raj a pengem is it u, nam un dia pernah m endengar akan hal ini, t ahu pula bet apa kej i dan berbahayanya ilm u it u. Akan t et api unt uk m engelak dia harus m elepaskan sabuknya dan hal ini pun am at berbahaya. Dengan senj at a it u saj a dia m asih kewalahan m elawan Pat - j iu Kai- ong, apalagi t anpa senj at a, m aka dengan nekat dia lalu m enggerakan t angan pula m enyam but pukulan it u. " Dessss...! Aduhhh...! ! " Dua t elapak t angan bert em u dan akibat nya t ubuh Lu- san Loj in t erj engkang dan t erbant ing ke at as lant ai, m ulut nya m engeluarkan darah segar dan m at anya m endelik. Kakek ini pingsan dan m enderit a luka dalam yang am at parah! " Lem par dia di kam ar t ahanan! " Pat - j iu Kai- ong berkat a sam bil t ert aw a. Set elah t ubuh kakek yang pingsan it u digusur pergi oleh para pengawalnya. Pat - j iu Kai- ong m engham piri m ej a di m ana dia t adi m enj am u para t am unya, m enyam bar guci arak dan m enenggaknya habis, kem udian sam bil tertawa- t awa dia m em asuki kam arnya. Pem uda dan pem udi She Bu it u sudah rebah t erlent ang di at as pem baringan Pat - j iu Kai- ong yang lebar. Dalam keadaan t erbelenggu kaki t anganya. Lim a orang selirnya m enj aga di sit u. Ket iaka dia m asuk sam bil t ert awa gem bira, Bu Swi Liang m em andang dengan m at a m elot ot penuh kebencian, akan t et api Bu Swi Nio m em andang dengan m at a t erbelalak ket akut an dan m encucurkan air m at a. Pat - j iu Kai- ong m engham piri pem baringan, m enggunakan t angannya unt uk m em belai dan m enghusap pipi Swi Nio dan Swi Liang sam bil berkat a, " Manis, j angan m enangis dan kau j angan m arah. Aku akan m enem ani kalian dan bersenang- senang sepuas hat i set elah kam i m enangkan m usuh gelap yang m engancam ." Dia m enengok ke arah lim a orang selirnya dan berkat a garang. " Tem ani m ereka, j aga baik- baik j angan sam pai ada yang lolos, dan kalau ada apa- apa, cepat bert eriak m em anggil para pengawal. Mengert i?" Lim a orang selir it u m engangguk dan kakek it u m eninggalkan kam ar lagi. Sebelum orang yang m em bunuh ayam j agonya dan yang m engirim surat ancam an it u dapat dit angkap at au dibunuh, t ent u saj a dia t idak bernafsu unt uk bersenang- senang dengan dua orang m uda yang t ert awan it u. Dia percaya penuh bahwa m enghadapi seorang pengacau saja, para pengawalnya akan dapat mengatasinya, akan tetapi dia harus berhat i- hat i dan ikut m elakukan penj agaan sendiri. Set elah keadaan benarbenar am an barulah dia boleh bersenag- senang. Dia belum yakin benar apakah m usuh gelap it u ada hubungannya dengan Lu- san Loj in dan kedua orang anaknya, akan t et api ada hubungan at au t idak, set elah t iga orang it u dibuat t idak berdaya, berart i m engurangi bahaya. Dia harus berhat i- hat i, m aklum bahwa dia m em punayi banyak musuh. Siapa tahu kalau Lu- san Lojin yang termasuk golongan putih itu juga m em usuhi. Andaikat a t idak sekalipun, m ana bisa dia m elepaskan dua orang m uda yang cant ik j elit a dan t am pan it u? Pat - j iu Kai- ong duduk lagi di ruangan t adi sam bil

111

Bu Kek Siansu
m elanj ut kan m inum arak. Dia m aklum bahwa m alam ini dua belas orang pengawalnya m enj aga dengan t ert ib dan penuh kewaspadaan. I ngin dia t ert awa keras- keras m engusir kesunyian m alam yang m endat angkan perasaan t idak enak. Hem m m , Rat u Pulau Es? Hanya dongeng! Pem bunuh ayam it u t idak perlu dit akut i. Andaikat a dia m am pu m engalahkan dua belas orang pengawalnya, hal yang sukar dipercaya, m asih ada dia sendiri. Hiat - ciang Hoat - sut , ilm u yang dilat ihnya belasan t ahun kini t elah dapat diandalkan. Tadipun, hanya m enggunakan sebagian kecil t enaganya saj a, ilm u it u t elah m erobohkan Lu- san Loj in. Dia t idak t akut ! " Aku t idak t akut ! " serunya kuat - kuat . " Dat anglah kam u, hai Rat u Pulau Es keparat ! Ha- ha- ha!" Para pelayan sudah m enyalakan lam pu- lam pu penerangan dan at as perint ah para pengawal, pelayanpelayan ini m enam bah j um lah lam pu sehingga keadaan di seluruh gedung it u m enj adi t erang. Set elah m enyuruh para pelayan m em bersihkan m ej a di ruangan it u, dan sekali lagi m em anggil kepala pengawal dan m enekankan agar penj agaan diperket at dan selalu diadakan perondaan bergilir, Pat - j iu Kai- ong lalu duduk bersila di dalam ruangan it u unt uk m engum pulkan t enaga dan m em pert aj am pendengarannya sehingga biarpun dia berada di dalam ist ana, nam un dia ikut pula m enj aga dan m eronda m em pergunakan ket aj am an pendengarannya unt uk m enangkap sem ua suara yang t idak waj ar di luar ist ana. Malam m akin larut dan keadaan sunyi sekali di ist ana it u dan sekit arnya. Para pelayan yang m endengar dari para pengawal, dengan m uka pucat t inggal berkelom pok di kam ar seseorang di antara mereka, tidak berani membuka suara dan hanya saling pandang dengan mata penuh rasa t akut . Para selir j uga berkelom pok di dalam kam ar Pat - j iu Kai- ong, agar t erhibur dengan adanya Swi Liang pem uda yang t am pan it u. Bahkan ada di ant ara m ereka yang t anpa- malu- m alu m em belai pem uda it u, m em egang t angannya, m engusap dagunya, m em bereskan ram but nya. Akan t et api m ereka t idak berani berbuat lebih dari it u, dan t idak berani m engeluarkan suara. Juga para pengawal agaknya m elakukan penj agaan dengan t elit i dan hat i- hat i, t idak bersuara sepert i biasanya kalau m ereka m elakukan penj agaan t ent u diisi dengan sendau gurau dan m engobrol. Kesunyian yang m engerikan it u t idak m enyenangkan hat i Pat - j iu Kaiong. Akan t et api dia am at m em erlukan kesunyian ini agar penj agaan dilakukan lebih t ert ib dan rapi pula. dia m erasa t ersiksa dan diam - diam dia m em aki m usuh gelap it u. Kalau sam pai t ert awan, t ent u akan dihukum dan disiksanya seberat m ungkin! Tiba- t iba t erdengar suara j erit an susul- m enyusul yang dat angnya dari dalam kam arnya! Pat - j iu Kai- ong cepat m elom pat dan hanya dengan beberapa kali lom pat an saj a dia sudah m enerj ang m asuk ke dalam kam arnya. Dilihat nya kelim a orang selirnya m enangis dan kelihat an gugup dan ket akut an, akan t et api dua orang m uda yang t adi t erbelenggu di at as pem baringannya, sepert i dua t usuk daging panggang yang dihidangkan di at as m ej a m akan dan siap unt uk diganyangnya, kini t elah lenyap t anpa bekas! " Apa yang t erj adi? Keparat , diam sem ua! Jangan m enangis, apa yang t erj adi?" Lim a orang selir it u m enj at uhkan diri berlut ut dan seorang di ant ara m ereka bercerit a dengan suara gagap, " Ada... ada... set an...., hanya t am pak bayangan berkelebat ke at as ranj ang dan... dan m ereka berdua... t ahut ahu t elah lenyap..." " Tolol! ! " Pat - j iu Kai- ong berkelebat keluar m elalui j endela kam ar yang t erbuka, t erus berloncat an m em eriksa sam pai dia bert em u dengan para pengawal di luar ist ana, nam un dia t idak m elihat j ej ek dua orang t awanan yang lenyap it u. " Kalian t idak m elihat orang m asuk?" Bent aknya kepada para pengawal. " Tidak ada, Pangcu." " Bodoh! Kalau t idak ada, bagaim ana dua orang t awanan it u lenyap?" Kaget lah para pengawal it u dan Pat - j iu Kai- ong, dibant u oleh para pengawalnya lalu m engadakan pem eriksaan di dalam ist ana. Mula- m ula t im bul dugaannya bahwa t ent u Lu- san Loj in dan dua orang anaknya it u benar- benar m em punyai kawan- kawan di luar, bukt inya kedua orang m uda it u dit olong m ereka. Akan t et api ket ika dia m enj enguk kedalam kam ar t ahanan, Lu- san Loj in m asih m engelet ak pingsan di at as lant ai! " Cepat lakukan penj agaan t adi. Tut upsem ua j alan

112

Bu Kek Siansu
m asuk! Bagi- bagi t enaga! " Pat - j iu Kai- ong m em erint ah dengan suara yang agak parau karena harus diakuinya bahwa j ant ungnya t erget ar j uga oleh rasa gent ar m enyaksikan sepak t erj ang m usuh gelap yang aneh dan am at luar biasa it u. Set elah sekali lagi m em eriksa sendiri dengan m em epersiapkan t ongkat dit angan, sam pai t idak ada lubang yang t idak dij enguknya di dalam dan di sekit ar gedungnya dan m endapat kan keyakinan bahwa t idak ada orang bersem bunyi di dalam gedung, Pat j iu Kai- ong kem bali ke dalam ruangan besar dan m enant i dengan j ant ung berdebar. Malam t elah m akin larut dan m usuh yang aneh it u t elah m ulai m em perlihat kan bahwa m usuh it u m em ang ada dengan m enculik dua orang t awannan it u secara aneh. Biarpun lim a orang selirnya bukan ahli- ahli silat t inggi, nam un lim a pasang m at a t idak dapat m elihat orang yang m enculik pem udapem udi it u di depan hidung m ereka, sungguh m erupakan hal yang am at aneh! Pat - j iu Kai- ong bergidik dan membalik- balik gudang ingat an di dalam ot aknya. Siapakah Rat u Pulau Es? Apalagi dengan rat unya, dengan penghuni Pulau Es dia t idak pernah bert em u, kecuali sat u kali dengan Han Ti Ong ket ika m em perebut kan Sin- t ong. Dan di m ana adanya pulau dongeng it u dia pun t idak t ahu. Pert em uannya dengan Han Ti Ong t idak boleh dianggap perm usuhan, dan adaikat a ada yang sakit hat i, kiranya sakit hat i it u seharusnya dat ang dari dia, bukan dari pihak Pulau Es at au Han Ti Ong yang t elah berhasil m enangkan perebut an at as diri Sin- t ong! Mengapa kini m uncul t okoh rahasia yang m engaku bernam a Rat u Pulau Es? Siapakah yang berm ain- main dengan dia? Melihat sepak t erj ang orang rahasia ini, caranya m em bunuh ayam , dapat dipast ikan bahwa orang it u kej am dan aneh, ciri seorang t okoh golongan hit am , bukan golongan put ih yang selalu dat ang secara bert erang. Siapakah t okoh golongan hitam yang memusuhinya? Tentu saja banyak, dan di antara mereka, yang paling m enonj ol adalah Kiam - m o Cai- li Liok Si! Wanit a it ukah yang kini dat ang m engganggunya? " Ha- ha- ha! " Dia t ert awa keras- keras, hat inya m enj adi besar. Mengapa dia t akut ? Andaikat a Kia- m o Cai- li sendiri yang dat ang, diapun t idak t akut ! Dan siapakah lain wanit a di dunia Kang- ouw yang lebih m engerikan daripada Kiam m o Cai- li? " I blis at au m anusia, j ant an at au bet ina, keluarlah dari t em pat persem bunyian! Hayo serbulah, aku Pat - j iu Kai- ong t idak t akut kepada siapa pun j uga! Kalau kau diam saj a, berart i kau pengecut hina dan penakut , ha- ha- ha- ha!" Karena m erasa t ersiksa oleh keadaan sunyi yang m engerikan it u, Pat - j iu Kai- ong berusaha mengusir rasa takutnya dengan teriakan keras ini yang tentu saja didengar oleh sem ua penghuni gedung it u. Dan agaknya, sebagai sam but an at as t ant angannya, t iba- t iba t erdengar suara ayam j agonya yang berada di belakang, di kandang ayam , berkeruyuk keras sekali! " Ha- ha- ha! " Pat - j iu Kai- ong t ert awa m endengar ayam nya sendiri yang m enj awab, akan t et api t iba- tiba dia t erkej ut dan m ukanya berubah. Keruyuk ayam nya it u berhent i set engah j alan dan t erput us oleh suara " kok! " suara ayam kesakit an! Suara ini disusul suara berkot ek riuh dari ayam ayam bet ina di dalam kandang, seolah- olah ada sesuat u yang m engganggu m ereka akan t et api suara berkot ek ini pun berhent i set engah j alan dan bekali- kali t erdengar suara " ko" suara ayam dicekik at au dihent ikan suara dan hidupnya! " Keparat ...! ! " Pat- j iu Kai- ong yang berm uka m erah saking m arahnya it u sudah m eloncat keluar dan langsung lari ke kandang. Ham pir dia bert ubrukan dengan dua orang pengawal yang j uga m endengar keanehan di kandang it u. Kini dengan sebuah obor yang dipegang oleh pengawal, m ereka bert iga m em eriksa kandang dan di bawah sinar obor t am paklah oleh m ereka bahwa dua puluh ayam yang berada di kandang it u, j ant an, bet ina, sem ua t elah t ewas dengan leher put us! Darah m erah m uncrat ke mana- m ana, m em buat lant ai dan dinding kandang it u m enj adi m erah m engerikan. " Jahanam ...! " Pat - j iu Kai- ong m em aki dan m ereka bert iga sej enak m enj adi sepert i arca m em andang ke dalam kandang. Sunyi di sit u, bahkan t idak ada angin berkelisik, m em buat suasana m enj adi m enyeram kan. " Ngeooonggg...! " Suara kucing yang tiba- tiba terdengar ini yang membuat mereka tersentak kaget dan memandang

113

Bu Kek Siansu
ke at as gent ing. Si Put ih sat u- sat unya kucing peliharan di gedung it u, berkelebat m elom pat sam bil m enggereng, seolah- olah m enghadapi m usuh dan m arah. Akan t et api gerengannya t erhent i t iba- t iba dan Pat - j iu Kai- ong cepat m elom pat ke kiri ket ika ada benda j at uh dari at as gent eng m enim panya. " Bukkk! " Ket ika pengawal yang m em bawa obor m endekat , t ernyat a yang t erj at uh it u adalah bangkai kucing Si Put ih yang baru saj a m engeong t adi! " Jahanam ...! " Pat - j iu Kai- ong m em aki unt uk kedua kalinya dan t ubuhnya sudah m elayang ke at as gent ing, diikut i oleh dua orang pengawalnya. Melihat bet apa obor yang dipegang pengawal it u t idak padam ket ika dia m eloncat ke at as gent ing m em bukt ikan bahwa pengawal it u sudah m em iliki ginkang yang hebat . Akan t et api kem bali ket iganya t erm angu- m angu di at as genting karena t idak t am pak bayangan seorang m anusian pun. Keadaan sunyi. Sunyi ekali, t erlam pau sunyi seolah- olsh gedung it u t elah berubah m enj adi t anah kuburan! "Hung- hung! Huk- huk- huk...! ! " Riuhlah suara t iga ekor anj ng peliharaan gedung it u menggonggong dan m enyalak- nyalak di sebelah kanan gedung. Suara ini m engej ut kan m ereka, apalagi suaran gonggongan m ereka yang riuh rendah it u t ibat iba dit ut up dengan suara " kaing...! nguik... nguikkk... nguikkkkk! " Dan suasana m enj adi sunyi kem bali, lebih sunyi dari t adi sebelum t erdengar gonggongan anj inganj ing it u. " Bedebah...! " Pat - j iu Kai- ong m elom pat dari at as gent ing, t idak dapat disusul oleh dua orang pengawalnya itu saking cepatnya dan sebentar saja dia sudah t iba di sebelah kanan gedungnya, di kandang anj ing. Sepert i sudah dikhawat irkannya, t iga ekor anj ing it u sudah m enggelet ak m at i dengan leher ham pir put us dan darah m engalir di bawah bangkai m ereka. Tiga orang pengawal yang t erdekat sudah t iba pula dan m ereka saling pandang dengan m uka berubah pucat ! Seperti terngiang di telinga Pat- jiu Kai- ong suara Lu- san Lojin ketika membacakan isi surat , " Malam ini, sem ua m ahluk hidup yang t inggal di rum ah Pat - j iu Kai- ong, dari binat ang sam pai m anusia, akan kubasm i habis! " Sem ua binat ang peliharaannya , ayam , kucing, dan anj ing, sudah m at i sem ua dan sekarang t ent u t iba gilirannya m anusianya! Teringat akan ini, Pat - j iu Kai- ong cepat berkat a, suaranya sudah m ulai gem et ar " Cepat , sem ua berkum pul denganku di dalam gedung...! " Tiba- t iba m ereka dikej ut kan oleh j erit an- jeritan di sebelah luar dan di depan gedung it u. Mereka cepat berlari m enuj u ke depan gedung dan t am paklah oleh m ereka dua orang pengawal yang berj aga di luar sudah m enggelet ak t ak bergerak di at as t anah. Ket ika seorang pengawal yang m em bawa obor m endekat , Pat - jiu Kai- ong m elihat bahwa dua orang pengawalnya yang t erlent ang it u t elah t ewas dengan m at a m elot ot dan dari m at a, hidung, t elinga, dan m ulut keluar darah hit am sedangkan di dahi m ereka it u t am pak j elas cap j ari t angan yang kecil panj ang, t iga buah banyaknya dan m udah dilihat bahwa it u adalah t anda j ari t elunj uk, j ari t engah, dan j ari m anis. Begit u dalam gam bar j ari it u sam pai garis- garisnya t am pak! " Kurang aj ar! Mari kit a berkum pul semua...!" Akan tetapi kembali terdengar pekik mengerikan dari sebelah kiri gedung. Mereka kembali berlari- lari ke tempat itu dan melihat tiga orang pengawal lain sudah m enj adi m ayat dalam keadaan yang sam a sepert i dua orang korban pert am a. Segera t ersusul pula pekik- pekik m engerikan it u dari belakang gedung. Pat - j iu Kaiong dan tiga orang pengawalnya ini, termasuk pengawal kepala Si brewok, mengejar ke belakang dan em pat orang pengawal sudah m enggelet ak t ewas dalam keadaan m engerikan, presis sepert i yang lain. Dalam sekej ap m at a saj a sem bilan orang pengawal t elah t ewas. Mereka it u berada di depan, di sebelah kiri, di belakang gedung, akan t et api kem at ian m ereka susul m enyusul begit u cepat nya, seolah- olah banyak m usuh yang dat ang dari berbagai j urusan. Nam un, biarpun m ulut nya t idak m enyat aakan sesuat u, Pat - j iu Kai- ong m aklum bahwa t anda dari j ari t angan it u dibuat oleh j ari t angan yang sam a, dan bahwa pem bunuhnya it u hanya sat u orang saj a, seorang yang m em iliki ilm u kepandaian luar biasa sehingga para pengawal it u agaknya sam a sekali t idak m am pu m elakukan perlawanan. Tiga orang pengawal saling pandang dengan m uka pucat . Melihat m uka m ereka, Pat - j iu Kai- ong m enj adi

114

Bu Kek Siansu
penasaran dan m erah sehingga t im bul kem bali keberaniannya yang t adi agak berkurang karena j erih. Dia bert eriak m em aki, " j ahanan pengecut ! Hayo keluarlah dan lawan aku Pat - jiu Kai ong! " Set elah dia m engeluarkan kat a- kat a ini dengan suara nyaring, keadaan m enj adi sunyi sekali, sunyi yang am at m enggelisahkan damn menyeramkan, seolah- olah dalam kegelapan dan kesunyian m alam it u t am pak m ulut iblis m enyeringai dan m enant i saat unt uk m enerkam dan m encabut nyawa ! Pat- j iu Kai- ong m akin penasaran. Dia sendiri adalah seorang m anusia yang dikenal sebagai iblis, j arang m enem ui t andingan dan dit akut i banyak orang dari sem ua golongan. Akan t et api m alam ini dia, Raj a Pengem is yang m enj adi ket ua Pat - j iu Kaipang yang t erkenal, m em iliki anggaut a rat usan orang banyaknya, seorang di at ara datuk kaum sesat atau golongan hitam yang ditakuti orang, dia dipermainkan orang! Dan orang it u, kalau m elihat nam anya sebagai rat u t ent ulah seorang wanit a! Apa lagi dia m elihat bahwa bekas j ari t angan di dahi para korban it u pun j ari t angan wanita yang kecil meruncing! "Hem, pengecut benar dia, "katanya kepada tiga orang pengawalnya yang diam - diam t elah kehilangan separuh dari nyali m ereka. " Kit a harus menggunakan pancingan. Biar aku mengintai dari atas, kalian berjalan- jalan di sini. kalau dia m uncul m enyerang, aku t ent u dapat m elihat nya dan aku akan m eloncat t urun. Bersiaplah kalian! " Set elah berkat a dem ikian, dengan gerakan ringan sepert i seekor kelelawar, Pat - j iu Kaiong m elom pat ke at as gent eng dan m endekam di wuwungan sam bil m engint ai. Dia m elihat t iga orang pengawalnya it u masing- m asing t elah m encabut senj at a m ereka. Si Brewok m enggunakan sebat ang tombak panjang yang ujungnya berkait, orang ke dua mengeluarkan golok besar dan orang ket iga sebat ang pedang. Mereka berdiri saling m em belakangi dan m at a m ereka m em andang t aj am ke depan, t elinga m ereka m em perhat ikan set iap suara. Akan t et api sunyi saj a sekeliling t em pat it u. Tiba- t iba Pat - j iu Kai- ong m elihat sesosok bayangan m elayang t urun dari at as pohon! Celaka pikirnya. Kiranya si laknat it u bersem bunyi di dalam pohon yang t um buh di depan gedung. Bayangan it u sukar di lihat bent uknya karena cepat sekali gerakannya, t ahu- t ahu t elah berada di depan Si Brewok. Tiga orang pengawal it u m enggerakan senj at a, akan t et api anehnya, t am pak oleh Pat - j iu Kai- ong bet apa t iga buah senj at a m ereka it u t elah berpindah t angan! ent ah bagaim ana caranya karena dari at as gent eng it u dia t idak dapat m elihat j elas. Yang dia ket ahuinya hanyalah bet apa t iga orang pengawalnya it u kini lari ket akut an! " Hik- hik- hik! " Suara ket awa ini m em buat bulu t engkuk Pat - jiu Kai- ong berdiri dan dia m elihat sinar- sinar m enyam bar ke arah t iga orang pengawal yang lari, m elihat m ereka roboh dan m em ekik, t erj ungkal t ak bergerak lagi karena punggung m ereka dit em bus oleh senj at a m ereka m asing- m asing! " Keparat j angan lari kau!" Pat- jiu Kai- ong sudah melayang turun dan tongkatnya sudah diputar- putar. Akat t et api bayangan it u m elesat dan lenyap dari t em pat it u! Pat - jiu Kai- ong m enoleh ke kanan kiri, akan t et api t idak t am pak gerakan sesuat u. Dia m akin penasaran. Diham pirinya t iga orang pengawalnya. Mereka t elah t ewas dan hanya m ereka bert iga yang t idak dicap dahinya dengan t iga buah j ari t angan hit am akan t et api kem at ian m ereka cukup m engerikan. Tom bak golok dan pedang it u m enem bus punggung pem ilik m asing- m asing sam pai uj ungnya keluar dari hulu hat i! Dan sam bit an t iga buah senj at a yang berlainan bent uknya it u dilakukan secara berbareng dari j arak yang cukup j auh, t epat m engenai t iga sasarannya yang sedang berlari. Hal ini saj a m em bukt ikan pula bet apa hebat nya kepandaian orang aneh it u Mendadak Pat - j iu Kai- ong t ersent ak kaget . Di dalam gedung! Bet apa t ololnya dia! Sem ua pengawalnya yang berj um lah dua belas orang t elah t ewas sem ua. Tent u sekarang m usuh it u m asuk ke dalam gedung unt uk m em bunuh orang- orang di dalam gedung. Secepat kilat dia m eloncat dan lari m em asuki gedung. Benar saj a, t erdengar pekik susul- m enyusul dan begit u m elewat i pint u depan, dia sudah m elihat para pelayannya t elah m enj adi m ayat dan berserakan di sana- sini. Cepat dia lari ke dalam kam arnya dan dengan m at a t erbelalak dia m elihat lim a orang selirnya t elah

115

Bu Kek Siansu
m at i sem ua, dahi m ereka j uga ada bekas t anda t apak t iga j ari t angan dan sem ua lubang di m uka m ereka m engalirkan darah hit am ! Sunyi sekali di dalam gedung it u, kesunyian yang penuh rahasia. Lu- san Lo- j in! Pat - j iu Kai- ong t eringat dan dia cepat lari ke dalam tempat tahanan, hanya untuk melihat bahwa kakek itu pun telah tewas dan di dahinya terdapat pula tanda tapak tiga jari tangan dan semua lubang di muka m ereka m engalirkan darah hit am ! Kini dia benar- benar bingung. Jelas bahwa m usuh ini bukanlah kawan Lu- san Lojin seperti yang disangkanya semula! Makin bingunglah dia dan dia lari pula ke dalam ruangan besar di m ana dia t adi m akan m inum dengan Lu- san Loj in dan dua anaknya, di m ana dia t adi m enant i dat angnya m usuh rahasia. Dan begit u m em asuki ruangan it u, dia t ert egun! Ruangan it u kini t erang sekali, agaknya ada yang m enam bah lam pu penerangan. Ket ika dia m elihat , benar saj a bahwa di sit u t erdapat banyak lam pu, banyak sekali karena agaknya sem ua lam pu penerangan dibawa dan dikum pulkan di ruangan it u. Dan di at as kursinya yang tadinya ditinggalkan kosong, kini tampak duduk seorang wanita! Di depan wanita itu, juga duduk di at as kursi, t am pak seorang anak laki- laki berusia sepuluh t ahun yang m em andangnya dengan m at a penuh selidik. Wanit a it u cant ik, pakaiannya m ewah dan indah, anak it u pun t am pan dan bersih sert a m ewah pakaiannya. Wanit a it ukah yang m em bunuh sem ua orang di gedungnya? Tak m ungkin agaknya. wanit a it u usianya paling banyak t iga puluh lim a t ahun, cant ik dan kelihat an halus gerakgeriknya, hanya sepasang matanya mengeluarkan sinar yang aneh dan dingin sekali. " I bu, dia inikah orangnya?" Tiba- t iba anak kecil it u bert anya, suaranya nyaring, m em ecahkan kesunyian yang sej ak t adi m encekam . " Benar, dialah Si Bedebah Pat j iu Kai- ong." Wanit a it u berkat a, suaranya halus akan t et api dingin m enyeram kan. " Kalau begit u, m engapa ibu t idak lekas m em bunuhnya?" Wanit a it u t ersenyum dan waj ah yang cant ik it u m akin cant ik, akan t et api j uga m akin dingin m enyeram kan, kem udian bangkit berdiri berlahan- lahan. " Kau lihat saj alah ibum u m enundukan Si j em bel busuk ini." Wanit a it u t ernyat a bert ubuh t inggi ram ping dan ket ika melangkah m aj u, t am pak gerakan kedua kakinya lem ah lem but . Pat - j iu Kai- ong sudah dapat m enguasai hat inya dan t im bul keberaniannya set elah m elihat bahwa orang it u hanyalah seorang m anusia biasa, wanit a yang kelihat an lem ah pula, bukan seorang iblis yang m enyeram kan sam a sekali. " Siapakah engkau? Siapa pem bunuh orang- orangku dan apa hubunganm u dengan Rat u Pulau Es yang m engancam ku?" Wanit a it u kini t iba di depan Pat - j iu Kai- ong sehingga raj a pengem is ini dapat m encium bau harum sem erbak yang keluar dari ram but dan pakaian wanit a it u. " Akulah Rat u Pulau Es, aku pula yang t elah m em bunuh sem ua m ahluk hidup di dalam gedungm u, sem ua t elah kubunuh kecuali engkau, Pat - j iu Kai- ong. Aku harus m em bunuhm u berlahan- lahan, m enyiksam u sam pai puas hat iku." Mendengar ancam an ini, Raj a Pengem is yang biasanya berhat i kej am dan keras it u, m enj adi berdebar j uga. Akan t et api kem arahannya m elenyapkan sem ua rasa j erih dan dia m em bent ak, " Perem puan som bong! Siapakah engkau dan m engapa engkau m em usuhi Pat - j iu Kai- ong?" Pat - j iu Kai- ong, agaknya kej ahat anm u sudah begit u bertumpuk- t um puk sehingga engkau t idak dapat m engenal korban- korbanm u lagi. Pandanglah aku baik- baik dan kum pulkan ingat anm u! Lupakah kau apa yang t erj adi di kaki pegunungan Jeng- hoa- san sepuluh t ahun yang lalu?" Pat - j iu Kai- ong memandang dan terbayanglah peristiwa di Jeng- hoa- san sebelum dia naik ke puncak gunung it u unt uk m encari Sin- t ong. Kini dia dapat m engenal waj ah ini, waj ah cant ik yang pernah m erint ihrint ih dan m em ohon pem bebasan, nam un yang dia perm ainkan secara kej am . " Kau... kau... Cap- she Sin- hiap...?" Tanyanya ragu- ragu. " Benar. Aku adalah anggaut a paling m uda dari Cap- sha Sin- hiap. Dua belas orang suhengku t elah kaubunuh. I ngat kah sekarang kau?" Pat - j iu Kai- ong t ert awa. Hat inya lega. Kalau hanya wanit a m uda it u, yang t elah diperkosanya dan yang hanya m enj adi orang ke t iga belas dari Cap- sha Sin- hiap, perlu apa dia t akut ? Biar perem puan ini agaknya t elah m em perdalam ilm unya selam a sepuluh t ahun ini, akan t et api perlu

116

Bu Kek Siansu
apa dia t akut ? " Ha- ha- ha, kiranya engkaukah ini, m anis? Tent u saj a aku m asih ingat kepadam u, siapa bisa m elupakan kenang- kenangan m anis selam a t iga hari it u? Haha- ha, bet apa m esranya! " Jahanam ! Kem at ian sudah di depan m at a dan kau m asih berlagak? Pat- jiu Kai- ong, aku telah datang dan rasakanlah pembalasanku, aku akan m em buat kau m enyesal m engapa kau pernah dilahirkan ibum u! " " Perem puan som bong, m am puslah! " Pat - j iu Kai- ong sudah m enerj ang dengan t ongkat nya m elakukan penyerangan dengan dahsyat , m enusukan t ongkat nya yang t ent u akan m enem bus dada wanit a it u kalau t idak depat wanit a it u m engebut kan uj ung lengan baj unya m enangkis. " Trakk! " Tongkat it u m enyeleweng dan t erkej ut lah Pat - j iu Kaiong. Ternyat a lawannya ini benar- benar t elah m em peroleh kem aj uan hebat dan t elah m em iliki sinkang yang t ak boleh dipandang ringan. Tent u saj a! Wanit a it u bukan lain adalah The Kwat Lin yang selam a sepuluh t ahun ini m enj adi ist ri at au perm aisuri Raj a Pulau Es, Han Ti Ong yang sakt i! Wanit a ini selam a sepuluh t ahun t elah m enggem bleng diri, di bawah pet unj uk suam inya yang am at m encint ainya. Bahkan suam inya t elah m enurunkan ilm u- ilm u yang khusus unt uk m enghadapi ilm u t ongkat Pat - j iu Kai- ong dan ilm u m uj ij at Hiat - ciang Hoat - sut dari Raj a Pengem is ini at as perm int aan The Kwat Lin. Karena it u, biarpun ada sebat ang pedang m enepel di punggungnya, The Kwat Lin t idak m enggunakan senj at a m elainkan uj ung lengan baj unya unt uk m enghadapi t ongkat dan m em ang kedua uj ung lengan baj u ini yang m erupakan sepasang senj at a yang dilat ihnya khusus unt uk m engat asi t ongkat Raj a Pengem is it u. Sepert i t elah dit ut urkan di bagian depan, The Kwat Lin m enggunakan kesem pat an selagi Han Ti Ong pergi m enyerbu Pulau Neraka, unt uk m eninggalkan Pulau Es. Hal ini sudah bert ahun- t ahun dia cit acit akan. Dia m enj adi ist ri Han Ti Ong hanya karena ingin m ewarisi ilm u kepandaiannya, akan t et api set elah m enj adi perm aisuri, dia pun ingin m em iliki pusaka Pulau Es dan benda- benda berharga lainya. Maka dia m enant i kesem pat an baik unt uk m eninggalkan pulau, t ent u saj a m eninggalkan unt uk selam anya karena pada hakekat nya dia t idak suka t inggal di pulau it u. Siapa suka t inggal di Pulau Es yang m em bosankan it u, j auh dari dunia ram ai? Pergilah dia m engaj ak put eranya, Han Bu Hong, m eninggalkan Pulau Es sewakt u suam inya t idak ada, m em bawa pusaka Pulau Es. Dengan alasan akan m enyusul suam inya yang m enyerbu Pulau Neraka, t idak ada seorang pun berani m enghalangi kepergiannya dan akhirnya, dengan kepandaiannya yang sudah t inggi, dia berhasil m endarat . Berbulan- bulan dia m enyelidiki dan akhirnya dia dapat m enem ukan t em pat t inggal m usuh besarnya di lereng Heng- san. Dia m engaj ak put eranya dan set elah m enyem bunyikan put eranya, dia m enyelidiki ist ana Raj a Pengem is it u. Melihat Swi Liang dan Swi Nio, dia t ert arik sekali, m aka dia m enculik m ereka dan m em bawa m ereka ke dalam hut an di m ana Bu Hong m enant i ibunya. " Kalian kuselam at kan dengan m aksud unt uk m engangkat kalian berdua m enj adi m uridku ," dia berkat a t anpa banyak cerit a lagi. " Tinggal kalian pilih, m at i at au hidup. Kalau ingin m at i, kalian sem est inya m at i karena kalian berada di gedung Pat j iu Kai- ong. karena sekarang belum m alam , m aka kalian belum m est inya dibunuh dan karenanya boleh pula kukeluarkan dari sana. Kalau kalian ingin hidup harus suka m enj adi m uridku. Bagaim ana?" Tent u saj a dua orang m uda it u ingin hidup dan segera berlut ut di depan calon Subo ( ibu guru) m ereka. " Harap subo sudi m enolong Ayah kam i...." kat a Swi Liang. " Kalian t inggal saj a di sini m enem ani sut e kalian ini. Tent ang Ayahm u, kit a lihat saj a nant i." The Kwat Lin m eninggalkan dua orang m urid it u bersam a put ernya, kem udian m ulailah dia t urun t angan m em bunuh- bunuhi sem ua binat ang peliharaan gedung raj a Pengem is it u lalu m em bunuhi sem ua pengawal, pelayan, selir dan j uga Lusan Loj in dibunuhnya karena dia sudah berj anj i akan m em bunuh sem ua orang di dalam gedung it u, apalagi dia t ahu bahwa kalau t idak dibunuh, kakek it u t ent u akan m enj adi penghalang baginya m engam bil m urid Swi Liang dan Swi Nio yang m enarik hat inya. Akhirnya dia keluar dari gedung, m enyuruh kedua orang m uridnya m enant i di hut an. Akhirnya bersam a put eranya,

117

Bu Kek Siansu
dia dapat berhadapan dengan m usuh besarnya it u set elah m em bunuh sem ua orang di dalam gedung. Han Bu Ong anak laki- laki yang baru berusia sepuluh t ahun it u, duduk di kursi dan m enont on pert andingan dengan m at a t erbelalak dan j arang berkedip. Dia sam a sekali t idak m erasa t akut at au khawat ir. Dia percaya penuh kepada kelihaian ibunya dan m em ang sej ak kecil anak ini m em iliki keberanian luar biasa dan kekerasan hat i yang am at aneh bagi seorang anak sebesar it u. Melihat kekejaman- kekej am an yang t erj adi, dia t idak pernah m erasa ngeri, bahkan m erasa gem bira! Barulah hat i Pat - j iu kai- ong t erkej ut sekali set elah selam a lim a puluh j urus dia m ainkan t ongkat nya dia t idak m am pu m enem bus pert ahanan sepasang uj ung lengan baj u lawannya. Bahkan lawannya t erkekeh- kekeh m engej eknya dan biarpun lawannya hanya m ainkan uj ung lengan baj u, nam un t ernyat a t ongkat yang biasanya dia andalkan it u sam a sekali t idak berdaya! " Keparat , m am puslah! " Tiba- t iba Pat - jiu Kai- ong berseru keras, disusul dengan gerengan dahsyat yang m engget arkan seluruh ruangan it u. Han Bu Ong t erplant ing j at uh dari kursinya, akan t et api bocah ini sudah duduk bersila dan m engat ur pernapasan, m enut up pendengaran. Ternyat a sekecil it u, Bu Ong t elah digem bleng hebat oleh ayahnya sehingga dengan dasar lat ihan sinkang I nt i Salj u, dia kini m am pu m enulikan t elinga dan m enghadapi aum an Sai- cu Ho- kang dari Pat - j iu Kai- ong! Padahal lawan yang t idak begit u kuat sinkangnya, m endengar aum an Sai- cu Ho- kang yang berdasarkan Khi- kang yang am at kuat ini, sudah akan roboh. Sem ent ara it u, The Kwat Lin yang m elihat put eranya dapat m enyelam at kan diri, sudah m engeluarkan suara t erkekeh- kekeh dan lawannya t erkej ut bukan m ain karena dari suara ini keluar get aran yang m enghancurkan ilm unya bahkan m enyerangnya dengan hebat . Terpaksa dia menghentikan auman Sai- cu Ho- kang dan mempercepat gerakan tongkatnya dengan ilm u Tongkat Pat - mo- tung- hoat ( I lm u Tongkat Delapan I blis) yang dahsyat . The Kwat Lin m em ang hendak m em perm ainkan lawannya, m aka dia hanya m enangkis dan m engelak. Hal ini sengaj a dilakukannya unt uk m em am erkan kepandaiannya dan unt uk m eyakinkan lawan bahwa akhirnya lawan akan roboh olehnya sehingga lawannya yang am at dibencinya it u akan ket akut an set engah m at i! Dan m em ang usahanya ini berhasil. Keringat dingin m em basahi m uka pat - j iu Kai- ong dan t ahulah kake ini bahwa m engandalkan ilm u silat saj a, dia t idak akan m enang m elawan wanit a yang pernah diperm ainkannya dan diperkosanya selam a t iga hari t iga m alam it u. Maka dia lalu m engerahkan t enaganya, m enggerakan sinkang dan t iba- t iba dia m em ekik dan m enghant am kan t angan kirinya dengan t elapak t angan t erbuka. The Kwat Lin sudah m enduga bahwa lawannya t ent u akhirnya akan m enggunakan ilm u Hiat- ciang Hoat sut ini. Dan dia sudah m endengar dari suam inya akan ilm u m uj ij at ini, m aka dia bersikap hat i- hat i dan t idak berani m em andang rendah. Bahkan ket ika m enyaksikan cahaya m erah m enyam bar keluar, m erasakan get aran m uj ij at dan m encium bau am is darah yang m em uakan, dia t erkej ut sekali dan cepat dia m enekuk kedua lut ut nya sedikit , kem udian m endorongkan t elapak t angan kanannya dengan t iga buah j ari t angan diluruskan. Hawa dingin m eluncur keluar dari t elapak t angannya m enyam but hawa pukulan Hiat - ciang Hoat - sut . " Dess! " dua bent uran t enaga m uj ij at bert em u dan t ubuh kedua orang it u t erget ar hebat ! Kiranya t enaga Hiat ciang Hoat - sut sudah sedem ikian am puhnya sehingga dalam bent uran t enaga ini, Pat- jiu Kai- ong dapat mengimbangi tenaga The Kwat Lin. Kalau kakek itu merasa bet apa t ubuhnya m endadak m enj adi dingin sekali, sebaliknya The Kwat Lin m erasa t ubuhnya panas! Nam un keduanya dapat m elawan hawa ini dan berkali- kali m ereka m engadu t enaga sinkang lewat t elapak t angan m ereka . Tiba- t iba uj ung lengan baj u kiri The Kwat Lin m enyam bar kearah ubun- ubun kepala kakek it u yang m enj adi t erkej ut sekali dan m enangkis dengan t ongkat nya. Uj ung lengan baj u m elihat dan t angan The Kwat Lin m enyam bar ke depan dari dalam lengan baj u it u, m enangkap t ongkat . Pat - j iu Kai- ong cepat m enghant am kan t angan kirinya lagi dengan t enaga Hiat- ciang Hoat - sut sekuat nya, m engarah kepala lawan. Nam un hal ini sudah

118

Bu Kek Siansu
diperhitungkan oleh wanit a it u yang cepat sekali m enarik t ongkat yang dicengkram nya m enangkis. " Krekkkk! " Tongkat raj a pengem is it u hancur t erkena pukulannya sendiri dan selagi dia t erkej ut bukan m ain, t ahu- t ahu uj ung lengan baj u kanan wanita itu sudah menyambar ke arah matanya! Dia berteriak kaget, miringkan kepala, akan tetapi ternyata ujung lengan baju itu tidak menyerang mata, melainkan m enyeleweng ke bawah dan m enot ok lehernya. " Auggghh...! " Kalau orang lain yang terkena totokan yang tepat mengenai jalan darah, tentu akan roboh dan tewas. Akan t et api t ubuh Pat - j iu Kai- ong sudah kebal, m aka t ot okan yang kuat it u hanya m em buat ia t erhuyung ke belakang. Melihat ini, The Kwat Lin t ert awa t erkekeh, kedua t angannya bergerak dengan cepat sekali dan biarpun raj a pengem is it u sudah berusaha m at i- m at ian m em bela diri, nam un karena t ot okan pert am a m em buat pandangan matanya berkunang sehingga gerakannya menjadi kurang cepat, dua kali t ot okan lagi dan sebuah t am paran dengan t iga j ari t angan yang t epat m engenai punggungnya m em buat dia roboh pingsan! Ket ika dia sium an. Pat - j iu Kai- ong m endapat kan dirinya sudah rebah t erlent ang di at as lant ai dan dia t idak m am pu m enggerakan kaki t angannya, bahkan t idak m am pu m engeluarkan suara karena selain t ert ot ok j alan darah yang m em buat nya m enj adi lum puh, j uga urat ganggu di lehernya telah ditotok. Tahulah dia bahwa dia tak berdaya lagi dan nyawanya berada di t angan lawan, dan dia pun m aklum bahwa wanit a ini t idak akan m ungkin m engam puni kesalahannya.Maka dia m em ej am kan m at a m enant i dat angnya kem at ian. " Bret - bret- bret t t ..., hi- hik! lihat lah, Bu Ong, lihat binat ang ini! " Pat - jiu Kai- ong m em aki dalam hat inya. Apa m aunya perem puan ini? Seluruh pakaiannya direnggut lepas sem ua sehingga dia t erlent ang dalam keadaan t elanj ang bulat sam a sekali! Karena ingin t ahu, bukan karena j erih sebab seorang dat uk m acam Pat - jiu Kai- ong j uga t idak m engenal t akut , dia m enggerakan pelupuk m at a dan m engint ai dari balik bulu m at anya. Dia m elihat anak laki- laki t urun dari kursinya, m em andanginya dan t ert awa. " Heh- heh, ibu,dia lucu sekali! Lucu dan am at buruk... eh, m enj ij ikkan! " The Kwat Lin t ert awa- t awa, kem udian sekali uj ung lengan baj unya bergerak m enyam bar ke arah leher Pat j iu Kai- ong, kakek ini t erbebas dari t ot okan urat ganggunya dan dapat m engeluarkan suara. " Perem puan hina, m au bunuh lekas bunuh! Aku t idak t akut m at i! " t eriaknya m arah. " Hi- hik, enak saj a! I ngat kah kau betapa aku dahulupun minta- minta mati kepadamu? Tidak, engkau harus mengalami siksaan, m at i sekarat dem i sekarat ! Bu Ong, dia inilah yang m em bunuh dua belas orang Supekm u secara kej am . Maukah kau m em balaskan sakit hat i dan kem at ian para Suoekm u?" " Tent u saj a! Akan kubunuh anj ing t ua ini! " Bu Ong sudah m elangkah m aj u dan anak ini m em andang dengan m uka bengis. " Nant i dulu, Bu Ong.Terlam pau enak baginya kalau dibunuh begit u saj a. Tidak, unt uk set iap orang dari suhengku, dia harus m enderit a sat u m acam siksaan. Jari t angannya. Hi- hak, jari- j ari t angannya berj um lah sepuluh, it u unt uk sepuluh orang suheng! Dan dua buah daun t elinganya it u unt uk kedua suheng yang lain," The Kwat Lin m encabut pedangnya, m enyerahkan kepada put eranya sam bil t ert awa- t awa, kem udian dia m enggerakan khikangnya, " m engirim suara" dengan ilm unya yang t inggi ini sehingga suaranya hanya t erdengar oleh Pat - j iu Kai- ong, akan t et api sam a sekali t idak t erdengar oleh anaknya, " Pat - j iu Kai- ong , t ahukah kau siapa bocah ini? Dia ini adalah put eram u! Ket urunanm u! hasil kot or dari perkosaanm u at as diriku. Nah, sekarang kaulihat lah anakm u, darah dagingm u sendiri yang akan m enyiksa dirim u! " Sepasang m at a Pat - j iu Kai- ong t erbelalak lebar, m ukanya pucat sekali. Puluhan t ahun dia ingin sekali m em peroleh ket urunan, t erut am a seorang put era, akan t et api biarpun dia sudah bergant i- gant i selir sam pai rat usan kali, t et ap saj a para selir it u t idak pernah m em peroleh ket urunannya. sekarang, secara t idak sengaj a dia t elah m em peroleh seorang put era! dan put eranya it u dengan pedang di t angan m engham pirinya, siap unt uk m enyiksanya! Tadi dia t erheran m elihat bet apa bekas anggaut a Cap- sa Sin- hiap, m urid Bu- tong- pai yang t erkenal gagah it u m enj adi

119

Bu Kek Siansu
begit u kej i, m engaj ar put era sendiri m elakukan kekej am an. Kira- kira wanit a it u m em ang sengaj a hendak m enyiksanya dengan m enggunakan t angan ket urunanya sendiri! Kiranya wanit a it u j uga m em benci anak it u sepert i j uga m em bencinya, maka sengaj a m em biarkan anak it u m enyiksa dan m em bunuh ayah sendiri! " Anak... j angan...dengarkanlah...." " Prat t t t ...! " Pat - j iu Kai- ong t idak dapat m elanj ut kan kat akat anya yang t adinya hendak m m peringat kan anak laki- laki it u karena urat ganggunya dileher t elah dit ot ok oleh lengan baj u The Kwat Lin yang t erkekeh m enyeringai. " Pat - j iu Kai- ong, begini pengecut kah engkau? Haiii... di m ana kegagahanmu sebagai seorang datuk? Lihatlah baik- baikdan nikmatilah siksaan anak ini! Bu Ong, pergunakan pedang itu . Pertama buntungi kedua daun telinganya untuk Twa- supek dan Ji- supekm u! " " Baik, I bu! " Bu Ong lalu m elangkah m aj u dan dua kali pedang it u berkelebat karena anak it u t ernyat a sudah pandai m enggunakan pedang it u dan bunt unglah kedua daun t elinga Pat - j iu Kai- ong ! Dapat dibayangkan bet apa nyeri, perih dan pedih rasa badan dan hat i kakek it u. Air m at anya m eloncat keluar m em basahi pipinya! " Ha- ha, ibu! Lihat , dia m enangis ! " Anak it u bersorak dan m engam bil dua buah daun t elinga it u. " He- he, sepert i t eling babi! " Mem ang Pat- jiu Kai- ong menangis! Akan tetapi bukan menangis karena rasa nyaeri dan pedih karena kedua daun t elinganya bunt ung, m elainkan nyeri di hat i yang lebih hebat lagi m elihat bet apa anaknya sendiri yang sej ak puluhan t ahun yang lalu dirindukannya, kini bersorak girang m elihat penderit aannya! Dia t idak t akut m at i, t idak t akut sakit , akan t et api m elihat bet apa dia m enghadapi siksaan dan kem at ian di t angan anaknya sendiri, benar- benar m erupakan t ekanan bat in yang ham pir t ak kuat dia m enanggungnya . " Teruskan,Bu Ong.Masih ada sepuluh orang Supekm u yang belum dibalaskan sakit hat inya.Jari- j ari t angannya yang sepuluh it u! Perlahan- lahan saj a, sat u dem i sat u bunt ungkan! " Mulailah penyiksaan yang am at m engerikan it u dilakukan oleh Bu- ong. Anak ini seolah- olah telah menjadi gila, dengan tertawa- tawa dia m em bunt ungi sem ua j ari t angan kakek it u sat u dem i sat u dan set iap bunt ung sebuah j ari, dia bersorak kegirangan. Mem ang sej ak dapat m engert i om ongan, anak ini dij ej ali dendam oleh ibunya, dendam t erhadap Pat - j iu Kai- ong dan dicerit akan bet apa Pat - j iu Kai- ong t elah m em bunuh dua belas orang suhengnya dan bet apa raj a pengemis itu menyiksanya dan Bu Ong kelak harus membalas dendam itu. Maka kini anak it u sam asekali t idak m enaruh rasa kasihan, bahkan hat inya puas sekali dapat m enyiksa kakek it u. Dapat dibayangkan bet apa hebat penderit aan Pat - j iu Kai- ong. Nam un dia t idak m enyesali nasibnya karena dia m aklum bahwa dia pun t elah m elakukan perbuat an sewenang- wenang at as diri The Kwat Lin sehingga pembalasan ini sudah jamak. Hanya satu hal yang membuat air matanya bercucuran adalah m elihat bet apa dia disiksa dan akan dibunuh oleh darah dagingnya sendiri. Dia m enangis m elihat darah dagingnya sendiri it u, yang baru berusia sepuluh t ahun, t elah m enj adi seorang iblis cilik yang dem ikian kej am ! Kini The Kwat Lin m em bebaskan t ot okan yang m em buat kaki t angannya lum puh. Begit u kaki t angannya dapat bergerak, Pat - j iu Kai- ong m eloncat dan m enerkam ke arah Bu Ong dengan ke dua t angan yang sudah t ak berj ari lagi it u, yang berlum uran darah. Niat hatinya unt uk m em bunuh saj a anaknya it u agar kelak t idak dij adikan iblis cilik oleh ibu yang m em bencinya. Akan t et api sebuah t endangan dari sam ping yang dilakukan oleh The Kwat Lin m em buat dia t erguling lagi. Rasa nyeri pada kedua uj ung t angannya m em buat kakek it u m enggeliat - geliat . " Mundurlah, Bu- ong. lihat sekarang ibum u yang akan t urun t angan. Aku akan m em balas sendiri perbuat annya kepadaku t erdahulu! " The Kwat Lin m engham piri m usuhnya dengan pedang di t angan. " Pat - j iu Kai- ong, ingat lah engkau akan perist iwa dahulu it u? Bayangkanlah,hi- hik, bayangkanlah bet apa nikm at nya bagim u dan bet apa m enyiksa dan sengsaranya bagiku. Sekarang aku yang m enikm at i dan kau yang m enderit a . Sudah adil bukan? Nah, t erim alah ini... ini... ini...! " Bert ubi- t ubi pedang di t angan The Kwat Lin bergerak dan t ubuh kakek it u bergulingan, berkeloj ot an karena rasa

120

Bu Kek Siansu
nyeri yang am at hebat ket ika uj ung pedang it u m em babat keseluruh t ubuhnya, dengan t epat sekali m em babat uj ung sem ua j ari kakinya, hidungnya, dagunya. Babat an it u hanya m engenai uj ung sedikit , t idak m em bahayakan keselam at an nyawa nam un m enim bulkan rasa nyeri yang hebat . Seluruh t ubuh kakek it u kini berlepot an darah, m ukanya dipenuhi oleh kerut - m erut m enahan nyeri. " Hi- hik, bagaim ana? Masih kurang? Nah, rasakanlah ini! " Kem bali pedang it u digerakan, kini m enusuknusuk dan seluruh t ubuhnya dit usuki uj ung pedang bert ubi- t ubi. Uj ung pedang hanya m enusuk dua sent i saj a sehingga m enem bus kulit daging akan t et api t idak m em bunuh dan darah keluar m akin banyak lagi, rasa nyeri m akin m enghebat sehingga t ubuh kakek it u berkeloj ot an sepert i dalam sekarat . " I ni yang t erakhir! " The Kwat Lin berkat a dan uj ung pedangnya m em babat ke bawah pusar. Wanit a it u t ert awa bergelah, t ert awa puas, waj ahnya yang cant ik it u pucat sekali dan dia t ert awa sam bil berdongak ke at as. " suheng sekalian, t erut am a Twa- suheng, lihat lah m usuhm u. Sudah puaskah kalian?" Dan dia t erisak, lalu m engham piri t ubuh yang berkeloj ot an it u. " akan t et api aku belum puas! kau harus t idur dalam keadaan t ersiksa di ant ara m ayat - m ayat yang m em busuk, selam a t iga hari t iga m alam ! " The Kwat Lin m enengok kepada anaknya dan berkat a, " Bu Ong, kaut unggu di sini sebent ar! " Tubuhnya berkelebat m eninggalkan ruangan it u dan dengan cepat dia t elah dat ang m enyeret m ayat - m ayat para pengawal, selir dan pelayan sam pai ruangan itu penuh dengan mayat- mayat yang dia lemparkan ke sekeliling tubuh Patj iu Kai- ong yang m andi darah. JI LI D 10 Nah, nikm at ilah sekarat m u selam a t iga hari! " The Kwat Lin lalu m enggandeng t angan anaknya dan m engaj ak pergi m eninggalkan gedung it u. Ket ika m ereka berdua t iba di dalam hut an di depan gedung, Swi Liang dan Swi Nio m enyam but m ereka dengan m at a penuh harapan. " Mana Ayah, Subo?" Swi Liang bert anya. " Bagaim ana dengan dia?" Swi Nio j uga bertanya. "Ayah kalian telah tewas...." Dua orang muda itu mengeluh dan menangis. Swi Liang m engepal t inj unya dan berkat a, " Si j ahanam Pat j iu Kai- ong! aku harus m em balas kem at ian Ayah! " " Subo, bant ulah kam i..." kat a pula Swi Nio, " kam i harus m enunt ut balas! " " Heh- heh, Suheng dan Suci, t enangkanlah hat i kalian. Pat - j iu Kaiong t elah di balas dan sekarang sedang sekarat di ant ara t um pukan m ayat , he- heheh! Wah, aku m endapat bagian pest a t adi. Akulah yang m em bunt ungi kedua telinganya dan sepuluh jari tangannya. Menyenangkan sekali!" Swi Liang dan Swi Nio terbelalak m em andang " sut e" ini. Ucapan anak it u benar- benar m em buat m ereka m erasa serem . Mem ang, m endengar kem at ian ayah m ereka yang t anpa keraguan lagi m ereka yakin t ent u dilakukan oleh Pat - j iu Kai- ong, m ereka pun m erasa sakit hat i dan ingin m em balas dendam . Akan t et api apa yang dilakukan oleh sut e m ereka m enurut pengakuan anak it u, sungguh luar biasa sekali. Mem bunt ungi kedua daun t elinga dan sepuluh j ari t angannya, dan perbuat an it u dianggap m enyenangkan sekali dan berpest a, benar- benar m em buat m ereka bergidik! " Musuhm u sedang m enant i saat kem at ian, harap kalian t enang dan t idak m em ikirkannya lagi. Ayahm u t elah t ewas, dan kalian akan kuaj ak bersam aku sebagai m uridku . Akulah penggant i ayah kalian." Swi Liang dan Swi Nio m enj at uhkan diri dan berlut ut di depan subo m ereka sam bil bercucuran air m at a. " Terim a kasih subo..." Kat a m ereka di ant ara t angis m ereka. " Perkenankan kam i m engubur j enasah Ayah, " kat a pula Swi Liang. " Tidak perlu. Kit a m enant i di sini sam pai t iga hari, set elah it u aku akan m em bakar gedung it u." Biarpun m erasa heran dan kasihan kepada m ayat ayah m ereka, kedua orang yang sudah m erasa dit olong dan dibalaskan sakit hat i it u t idak m em bant ah. Mereka t ent u saj a t idak t ahu bet apa m ayat ayah m ereka it u ikut pula di lem par oleh The kwat Lin di dekat t ubuh Pat - j iu Kai- ong unt uk ikut m enyiksa m usuh besar ini! Mem ang Pat - j iu Kai- ong t ersiksa hebat bukan m ain. Ket ika t adi anaknya m em bunt ungi j ari- j ari t angannya, dia m elihat m uka anaknya it u berubah- ubah m enj adi m uka banyak anak laki- laki yang m enj adi korbanya. Puluhan, bahkan rat usan anak laki- laki yang m enj adi korbannya it u seolah- olah m engeroyoknya,

121

Bu Kek Siansu
m em aki dan m engej eknya, dan kini, set elah t ubuhnya m andi darah dan rasa nyeri sam pai m enusuk- nusuk t ulang, dia dit inggalkan di ant ara m ayat - m ayat it u. Celaka baginya, t ubuhnya yang t erlat ih m em iliki daya t ahan yang am at kuat sehingga dia t idak m enj adi pingsan oleh rasa nyeri it u. Kalau saj a dia dapat pingsan at au m at i sekali, t ent u dia t idak akan m enderit a sehebat it u. Mayat - m ayat it u m ulai m engeluarkan bau yang m em uakan pada hari ke dua. Bau darah yang m engering dan m em busuk, dit am bah rasa nyeri di sekuj ur t ubuhnya, m asih diganggu lagi oleh bayangan anak- anak yang dahulu m enj adi korbanya, m em buat Pat - j iu Kai- ong m enangis di dalam hat inya, m enyesali perbuat annya yang m engakibat kan dia m at i dalam keadaan t ersiksa sepert i it u. Tiga hari kem udian, The Kwat Lin m uncul dan perem puan ini t ert awa bergelak m elihat m usuh besarnya m asih belum m at i. Senang sekali hat inya. Dahulu, dia diperkosa dan diperm ainkan di ant ara m ayat- mayat suhengnya selam a t iga hari t iga m alam , dan kini dia dapat m em balas secara m em uaskan sekali. " Hi- hik, kau sudah puas sekarang?" ej eknya. " Nah, m am puslah kau. Pat - j iu Kai- ong! " pedangnya berkelebat an dan seluruh bagian t ubuh di bawah pusar kakek it u dicincang hancur oleh pedang di t angan The Kwat Lin. Set elah m erasa puas m elihat m ayat m usuh besarnya, barulah dia m em buat api dan m em bakar gedung it u, lalu berlari keluar. Dengan air m at a bercucuran, Swi Liang dan Swi Nio m em andang nyala api yang m em bakar gedung, m aklum bahwa m ayat ayah mereka ikut terbakar. "Ayahmu telah sempurna," kata The Kwat Lin. "Tak perlu m enangis lagi, hayo kalian ikut bersam aku. Kalau kalian raj in m em pelaj ari ilm u, kelak kalian tidak akan mengalami penghinaan orang lagi." Dengan hati berat namun karena t idak ada orang lain yang m ereka pandang set elah ayah m ereka m eninggal, dua orang m uda it u t erpaksa m engikut i The Kwat Lin bersam a Han Bu Ong pergi m eninggalkan Hen- san. Bu- tong- pai adalah sebuah perkum pulan silat yang besar, merupakan sebuah di ant ara " part aipart ai" persilat an yang t erkenal. Akan t et api pada saat it u, Bu- tong- pai sedang berkabung. Di m arkas perkum pulan it u yang let aknya di lereng pegunungan Bu- tong- san, dari pint u gerbang sam pai rum ahrumah para tokoh dan murid kepala, tampak kibaran kain- kain putih menghias pintu, t anda bahwa Bu- tong- pai sedang berkabung. Siapakah yang m eninggal dunia? Bukan lain adalah ket ua Bu- tong- pai yang sudah berusia lanj ut , yait u Kiu Bhok Sanj in yang m eninggal dunia dalam usia delapan puluh t ahun. Baru saj a upacara penguburan selesai dilakukan oleh para anak m urid Bu- tong- pai, para t am u t elah m eninggalkan Pegunungan Bu- tong- san, akan t et api sem ua anak buah m urid Butong- pai m asih berkum pul di sekit ar kuburan baru it u. Suasana penuh pergabungan dan masih tampak beberapa orang murid yang mengusap air mata. Kui Bhok San- jin t erkenal sebagai seorang ket ua dan guru yang baik dan yang dicint ai oleh para anak m urid Bu- tong- pai. " Suhu...! " Seruan ini m em buat sem ua orang m enengok dan t am paklah seoang wanit a cant ik berlari m endat angi, diikut i oleh seorang m uda- mudi rem aj a dan seorang anak laki- laki. Wanit a it u t idak m enoleh ke kanan kiri, m elainkan langsung berlari m engham piri kuburan baru dan m enj at uhkan diri berlut ut di depan bat u nisan sam bil m enangis. " Ahh, bukankah dia Sum oi The Kwat Lin....?" Seorang m urid Kui Bhok San- j in yang usianya lim a puluhan berseru. Sem ua orang m em andang dan kini m ereka pun m engenal wanit a yang berpakaian indah sepert i seorang nyonya bangsawan it u. The Kwat Lin! Tent u saj a m ereka sem ua kini t eringat . Bukankah The Kwat Lin m erupakan seorang anak m urid Bu- tong- pai yang am at t erkenal, sebagai orang t erm uda dari Cap- sha Sin- hiap yang sudah bert ahunt ahun lenyap t anpa m eninggalkan j ej ak? " Benar, dia orang t erm uda dari Cap- Sha Sin- hiap! " t erdengar seruan- seruan set elah m ereka m engenal wanit a cant ik it u. Mendengar suara- suara it u, wanit a ini lalu bangkit berdiri, m enyusut i air m at anya, kem udian m em andang kepada m ereka sam bil berkat a, " Benar, aku adalah The Kwat Lin, orang t erm uda dari Cap- Sha Sin- hiap. Masih baik kalian m engenalku! Sekarang suhu t elah m eninggal dunia, siapakah yang akan m enggant ikannya sebagai ket ua

122

Bu Kek Siansu
Bu- tong- pai?" Para t okoh Bu- tong- pai t erkej ut m enyaksikan sikap angkuh ini. Di antara mereka, terdapat delapan orang yang terhitung suheng- suheng dari The Kwat Lin, dan orang t ert ua di ant ara m ereka adalah seorang kakek berpakaian sepert i pendet a t osu. Sej ak t adi kakek t osu ini m engerut kan alisnya set elah m endengar bahwa wanit a it u adalah seorang m uda dari Cap- sha Sin- hiap, m aka kini m endengar pertanyaan Kwat Lin, dia melangkah maju dan berkata, "Sian- cai..., tak pernah pinto sangka bahwa anggaut a t erm uda dari Cap- sha Sin- hiap akan m uncul hari ini. Berart i engkau adalah m urid t erm uda dari m endiang suheng, dan kalau engkau ingin m enget ahi, pint o yang dipilih oleh anak m urid Bu- tong- pai, j uga t elah dit unj uk oleh m endiang suheng m enj adi ket ua di Bu- tong- pai." Kwat Lin m engangkat m ukanya m em andang. Tosu it u bert ubuh kecil sedang, dan biarpun m ukanya penuh keriput , nam un m at anya bersinar t erang dan j enggot nya yang t erpelihara baik m engit ari m ulut nya it u m asih hit am sem ua, dem ikian pula ram but nya yang diikat dan diberi t usuk konde dari perak. Pakaiannya sederhana saj a, pakaian seorang pendet a To yang longgar. " Siapakah Tot iang?" " Ha- ha- ha- ha, sungguh lucu kalau seorang m urid keponakan t idak m engenal susioknya sendiri. Ket ahuilah bahwa pint o adalah Kui Tek Toj in, sat u- sat unya saudara seperguruan dari m endiang Kui Bhok San- j in." Kwat Lin sudah pernah m endengar nam a susioknya ( pam an gurunya) ini, seorang t osu perant au, sut e t erm uda dan sat u- sat unya yang m asih hidup dari m endiang suhunya. Dia m encibirkan bibirnya yang m erah dengan gaya m engej ek, kem udian berkat a dengan suara lant ang, " Ah, kiranya Susiok Kui Tek Toj in yang m enggant ikan Suhu m enj adi ket ua Bu- tong- pai? Sungguh keput usan yang sam a sekali t idak t epat ! Aku t idak set uj u sam a sekali kalau Susiok yang m enj adi ket ua! " Tosu it u m em belalakan m at anya dan m em andang kaget , heran dan penasaran. Akan t et api sebelum dia mengeluarkan kata- kata, seorang tosu lain yang bernama Souw Cin Cu, murid tertua dari Kui Bhok San- j in, m elangkah m aj u dan berkat a, " Sum oi, apa yang kaukat akan ini? Bet apa beraninya engkau m engat akan dem ikian! Keput usan ini t idak saj a sesuai dengan pet unj uk suhu, j uga t elah m enj adi keput usan kam i sem ua. Pula, Susiok m erupakan sat u- sat unya saudara seperguruan m endiang Suhu, sehingga kedudukannya paling t inggi dan usianya paling t ua di ant ara kit a. Siapa lagi kalau bukan Beliau yang m enggant ikan Suhu m enj adi ket ua kit a?" " Siancai, kedat angan yang m endadak dan t ak t ersangka- sangka, j uga pendapat yang m engej ut kan. Bet apapun j uga, sebagai m urid m endiang Suheng, dia berhak berbicara unt uk kepent ingan dan kebaikan Bu- tong- pai. The Kwat Lin, bukankah dem ikian nam am u t adi? Kalau m enurut pendapat m u, siapa gerangan yang pat ut dij adikan ket ua Butong- pai m enggant ikan Suheng yang t elah t idak ada?" " Harap m aafkan aku, Susiok. Bukan sekali- kali aku m em andang rendah kepada Susiok, akan t et api penolakanku it u berdasarkan perhit ungan yang m at ang." Kwat Lin berkat a kepada calon ket ua Bu- tong- pai itu, mengejutkan dan mengherankan semua orang yang mendengar dan m elihat sikap t idak m enghorm at dari wanit a it u. " Pert am a- t am a sej ak dahulu Susiok selalu m erant au, t idak pernah m em perdulikan keadaan Bu- tong- pai, apalagi Susiok adalah seorang t osu sehingga kalau Susiok yang m enj adi ket ua Bu- tong- pai, ada bahayanya Bu- tong- pai akan berubah m enj adi perkum pulan Agam a To! Berbeda sekali dengan pendirian m endiang Suhu yang bebas sehingga m urid suhu pun t erdiri dari berm acam - m acam golongan. Selain it u, selam a ini Bu- tong- pai m akin kehilangan sinarnya, m enj adi bahan ej ekan dan bahan penghinaan orang lain." " Ahhhh...! " t erdengar suara m em prot es dari sana- sini dan Souw Cin Cu kem bali berkat a penasaran, " Sum oi aku benar- benar m erasa heran m endengar kat a- katamu dan m elihat sikapm u. Sepuluh t ahun engkau dan para suhengm u m enghilang dan kini engkau m uncul sepert i seorang yang lain. Sepert i langit dengan bum i bedanya ant ara engkau dahulu dan engkau sekarang! Sum oi, kau m engat akan bahwa Butong- pai m enj adi lem ah dan m enj adi bahan ej ekan dan penghinaan orang lain. Apa art inya ini?" " Souw Cin Cu Suheng, selam a bert ahun- t ahun ini Cap- sha Sin- hiap

123

Bu Kek Siansu
t elah lenyap, t ahukah engkau apa yang t erj adi dengan m ereka?" " Kam i t elah berusaha m enyelidiki nam un t idak dapat m enem ukan kalian." " Hem m , it ulah t andanya bahwa Bu- tong- pai am at lem ah, sehingga sem ua suhengku, t okoh- tokoh Cap- sha Sin- hiap, dibunuh orang t anpa diket ahui oleh Bu- tong- pai! " Sem ua orang t erkej ut sekali m endengar bahwa dua belas orang dari Cap- sha Sin- hiap t elah dibunuh orang! " Siapa yang m em bunuh m ereka?" Souw Cin Cu bert anya dengan suara m arah sekali. Hat i siapa yang t akkan m enj adi panas dan m arah m endengar bahwa dua belas orang saudara seperguruannya dibunuh orang? " Hem m , t erlambat sudah! Dua belas orang Suheng dibunuh oleh Pat - j iu Kai- ong ket ua Pat - j iu Kai- pang di Heng- san." " Ohhh...! " kini Kui Tek Toj in berseru kaget , " Pat - j iu Kai- ong...?? Mengapa...??" Kwat Lin t ersenyum m engej ek. " Ahhh, t ent u Susiok pernah m endengar nam a besarnya dan m enj adi gent ar, bukan? Mem ang dialah dat uk sesat yang t erkenal it u, yang t elah m em bunuh dua belas orang Suhengnya. dan perist iwa it u berlalu begit u saj a! Tiga belas orang t okoh Bu- tong- pai m engalam i penghinaan, dan But ong- pai sendiri diam saj a. Apalagi berusaha m em balas dendam , bahkan t ahupun t idak akan perist iwa it u! I ni t andanya bahwa Bu- tong- pai lem ah! Kini Butong- pai hendak diketahui oleh Susiok, apakah akan dijadikan markas kaum pendeta Tosu dan m enj adi m akin lem ah lagi? Aku sendirilah yang harus t urun t angan m em bunuh m usuh- m usuh besar kam i, m em bunuh Pat - j iu Kai- ong dan m em basm i Pat- jiu Kai- pang di Heng- san. Melihat kelemahan Bu- tong- pai, aku tidak setuju kalau m endiang Suhu digant ikan kedudukannya oleh Susiok Kui Tek To- j in harus digant i oleh orang yang m em iliki kepandaian t inggi dan dapat m em aj ukan dan m em perkuat Bu- tong- pai, barulah t epat ! " Kwat Lin bicara penuh sem angat , m ukanya yang cant ik dan berkulit halus it u kem erahan, sepasang m at anya bersinar- sinar dan dengan t aj am nya m enyapu waj ah sem ua anak m urid Bu- tong- pai yang hadir di sit u. Pandang m at a bekas orang t erm uda Cap- sha Sin- hiap ini m em buat banyak anak m urid But ong- pai m erasa gent ar dan m ereka hanya m enunduk unt uk m enghindarkan pandang m at a Kwat Lin. Akan t et api, delapan orang suheng dari Kwat Lin m em andang dengan m arah dan penasaran. Adapun Kui Tek Toj in hanya t ersenyum dan m engelus j enggot nya sam bil m engangguk- angguk, m at anya m em andang waj ah wanit a it u penuh selidik. " The Kwat Lin, om onganm u penuh sem angat t erhadap kedudukan Bu- tong- pai. Andaikat a benar sem ua kat a- katamu it u, habis siapakah yang kaupandang t epat unt uk m enj adi ket ua Bu- tong- pai?" Kui Tek Toj in berkat a lagi dengan sikap t enang. " Unt uk wakt u ini, kiranya t idak ada orang lain lagi dari Bu- tong- pai kecuali aku sendiri! " Kini benar- benar t erkej ut dan terheran- heranlah sem ua anak m urid Bu- tong- pai yang berada di sit u. Begit u beraninya wanit a ini. Biarpun t ak dapat disangkal lagi bahwa The Kwat Lin m erupakan m urid ut am a pula dari m endiang Bhok Sanj in dan orang t erm uda Capsha Sin- hiap, akan t et api pada w akt u it u dia bukanlah orang yang m em iliki t ingkat t ert inggi di Bu- tong- pai. Sam a sekali bukan! Di at as dia m asih ada delapan orang suhengnya, murid- murid Kui Bhok San- jin yang lebih tua, dan lebih lagi di situ masih ada Kui Tek Toj in yang t ent u saj a m em iliki t ingkat j auh lebih t inggi karen t osu ini adalah pam an gurunya! " Murid Murt ad! ! " Tiba- t iba Souw Cin Cu m em bent ak garang dan meloncat maju, diikuti pula oleh sutesutenya. Telunjuk kirinya menuding ke arah m uka The Kwat Lin. " The Kwat Lin, engkau sungguh t idak pat ut m enj adi m urid Butong- pai! Kiranya engkau m enghilang sepuluh t ahun hanya unt uk pulang sebagai iblis wanit a yang m urt ad t erhadap perguruanya sendiri. Dan kam i berkewaj iban unt uk m engaj ar seorang m urid m urt ad! " Sam bil berkat a dem ikian, Souw Cin Cu m enerj ang ke depan dengan dahsyat . Souw Cin Cu m erupakan m urid pert am a at au paling t ua dari Kui Bhok San- j in. sungguhpun t idak dapat dikat akan bahwa dia m em iliki t ingkat ilm u silat paling t inggi, akan t et api set idaknya t ingkat nya sej aj ar dengan orang- orang t ert ua dari Cap- sha Sin- hiap dan sebenarnya m asih lebih t inggi set ingkat j ika dibandingkan dengan ilm u kepandaian The Kwat Lin ket ika m asih

124

Bu Kek Siansu
m enj adi orang t erm uda Cap- sha Sin- hiap dahulu. Akan t et api, Kwat Lin sekarang sam a sekali t idak bisa disam akan dengan Kwat Lin sepuluh t ahun yang lalu. Dia t elah m ewarisi ilm u, silat ilm u silat t inggi dan m uj ij at dari Pulau Es! Tingkat nya sudah t inggi sekali dan dengan t enang saj a dia m em andang ket ika suhengnya it u m enerj angnya. Apalagi karena dia m engenal benar j urus yang dipergunakan oleh suhengnya, j urus dari ilm u silat Ngo- heng- kun. Ket ika t angan kiri Souw Cin Cu m encengkeram ke arah lehernya dan t angan kanan t osu it u m enam par pelipis, dia diam saj a seolah- olah dia hendak m enerim a dua serangan ini t anpa m elawan. Akan t et api set elah hawa sam baran pukulan it u sudah t erasa olehnya, t iba- t iba t angan kirinya bergerak dari bawah ke at as. " Plak- plak- plak! ! " Kedua lengan Souw Cin Cu t elah t erpent al, bahkan t ubuh t osu ini t erpelant ing ket ika t angan Kwat Lin yang t adi sekaligus m enangkis kedua lengan it u m elanj ut kan gerakannya dengan t am paran pada pundaknya. Tam paran yang perlahan saj a, akan t et api sudah cukup m urid pert am a m endiang Kui Bhok San- j in t erpelant ing! Diam - diam Kui Tek Toj in t erkej ut heran m enyaksikan gerakan t angan wanit a it u, gerakan yang am at cepat dan aneh, gerakan yang sam a sekali t idak dikenalnya dan t ent u saj a bukan j urus ilm u silat Butong- pai! Akan t et api t uj uh orang sut e dari Suow Cin Cu sudah m enj adi m arah dan t anpa dikom ando lagi m ereka m enerj ang m aj u. Akan t et api The Kwat Lin t ert awa, t ubuhnya bergerak sedem ikian cepat nya dan bert urut - t urut t uj uh orang ini pun t erguling roboh di dekat Suow Cin Cu! Mereka sendiri t idak t ahu bagaim ana m ereka dirobohkan, akan t et api t ahu- tahu t erpelant ing dan bagian yang t ert am par tangan Kwat Lin, biarpun tidak sampai patah tulang, akan tetapi amat nyeri. Padahal t am paran it u perlahan saj a. Bagaim ana andaikat a wanit a it u m enam par dengan pengerahan t enaga sekuat nya, sukar dibayangkan akibat nya. Bet apapun j uga, delapan orang m urid ut am a dari Bu- tong- pai ini t ent u saj a t idak sudi m enyerah begit u m udah dan m ereka sudah m eloncat bangun dan m encabut senj at a m asingmasing! "Ibu, mengapa tidak dibunuh saja tikus- tikus menjemukan ini?" Tiba- tiba Bu Ong bert eriak. Anak ini sudah bert olak pinggang dan m em andang m arah kepada para pengeroyok ibunya. Kalau saj a t angannya t idak dipegang erat - erat oleh Swi Liang dan Swi Nio, suheng dan sucinya, t ent u dia sudah m enerj ang m aj u m em bant u ibunya. Akan t et api m em ang sebelum nya, Swi Liang dan Swi Nio sudah dipesan oleh subo m ereka unt uk m enj aga Bu Ong, dan t erut am a sekali m encegah bocah ini m encam puri urusannya dengan orang- orang Bu- tong- pai. Kwat Lin t ersenyum m engej ek m elihat delapan orang suhengnya it u m engeluarkan senj at a. " Hem m m , apakah kalian ini sudah but a? Apakah para suheng t idak m elihat bahwa t ingkat kepandaianku j auh m elebihi kalian, dan bahkan andaikat a Suhu m asih hidup, beliau sendiri t idak akan m am pu m enandingi aku." " Keparat ...! " Souw Cin Cu dan t uj uh orang sut enya m enerj ang m aj u, akan t et api t iba- t iba Kui Tek Toj in berseru, " Tahan senj at a! Mundur kalian! " Mendengar t eriakan ini, delapan orang ini serent ak m undur m ent aat i perint ah calon ket ua m ereka. Kui Tek Toj in m elangkah m aj u m engham piri wanit a yang t ersenyum- senyum it u. " Siancai... kiranya engkau t elah m em iliki kepandaian t inggi m aka berani m enent ang Bu- tong- pai! The kwat Lin, selam a ini engkau t elah m em pelaj ari ilm u silat dari luar Bu- tong- pai, t idak t ahu dari perguruan m anakah?" " Mem ang benar dugaanm u, Susiok, akan t et api t idak perlu aku m encerit akan kepada siapapun j uga." " Hei, t osu bau! I bu adalah Rat u dari Pulau Es, t ahukah engkau?" " Bu Ong...! " Kwat Lin m em bent ak put eranya, akan t et api anak it u sudah t erlanj ur bicara dan bukan m ain kaget nya Kui Tek Toj in dan para anak m urid Bu- tong- pai m endengar ini. Pulau Es hanya disebut - sebut dalam dongeng saj a, dan m em ang nam a besar t okoh Pangeran Han Ti Ong dari Pulau Es am at t erkenal di dunia kang- ouw. Tim bul keraguan di dalam hat i Kui Tek Toj in, akan t et api karena wanit a di hadapannya it u j uga m erupakan anak m urid Bu- tong- pai, m aka dia m enekan perasaannya dan berkat a, " The Kwat Lin, kalau engkau m asih m engaku sebagai m urid Bu- tong- pai, bet apapun t inggi ilm u kepandaianm u, engkau harus

125

Bu Kek Siansu
t unduk kepada pim pinan Bu- tong- pai. Sebaliknya, kalau engkau sudah m em pelaj ari ilm u silat dari golongan lain dan t idak lagi m erasa sebagai orang Bu- tong- pai, engkau t idak berhak m encam puri urusan dalam dari Bu- tong- pai." Kwat Lin t ersenyum m engej ek. " Susiok, t idak perlu kupungkiri lagi bahwa aku t elah m em belaj ari ilm u silat dari golongan lain dan t ingkat kepandaianku m enj adi j auh lebih t inggi daripada sem ua t okoh But ong- pai. Akan t et api aku bukan saj a m asih m engaku orang Bu- tong- pai, bahkan ingin m em im pin Bu- t ongpai m enj adi perkum pulan t erkuat di dunia. Akan kuperbaiki dan kupert inggi m ut u ilm u silat Butong- pai agar t idak ada lagi golongan lain yang berani m em andang rendah Bu- tongpai, apalagi m enghina anak m urid Bu- tong- pai sepert i yang t erj adi kepada Cap- sha Sin- hiap sepuluh t ahun yang lalu." " Hem m , kalau begit u, pint o sebagai calon ket ua Bu- tong- pai, t erpaksa m elarang dan m enent ang kehendakm u, The Kwat Lin." " Dengan cara bagaim ana kau hendak m enent angku, Susiok?" " Dengan m em pert aruhkan nyawaku. Kehorm at an Bu- tong- pai lebih pent ing dari pada nyawa seorang ket uanya. Maj ulah dan m ari kit a put uskan persoalan ini dengan kepandaian kit a ." The Kwat Lin t ersenyum . " Susiok, bet apapun m udahnya bagiku m em bunuhm u, m em bunuh para suheng dan m em bunuh sem ua orang yang m enent angku. Akan t et api, aku bahkan ingin m enolong kalian, ingin m engangkat nam a Bu- tong- pai, m aka biarlah aku hanya akan m engalahkan Susiok t anpa m em bunuhm u." Ucapan ini m alah m erupakan penghinaan yang luar biasa sekali, karena m engalahkan lawan t anpa m em bunuhnya m erupakan hal yang am at sukar dan hanya dapat dilakukan oleh orang yang m em iliki t ingkat kepandaian yang j auh lebih t inggi dari lawannya! Merah m uka t osu t ua it u. Dia dipandang rendah oleh m urid keponakannya sendiri! Bukan hanya it u saj a. Dia sebagai orang t ert ua dari Bu- tong- pai, sebagai calon ket ua Bu- tong- pai, dihina oleh seorang anggaut a m uda Bu- tong- pai! Oleh karena it u, t osu t ua ini m engam bil keput usan unt uk m engadu nyawa dengan wanit a yang kini dipandangnya bukan sebagai anggaut a Bu- tong- pai lagi, m elainkan sebagai seorang m usuh yang hendak m engacau Bu- tong- pai. " The Kwat Lin sebagai seorang ket ua Bu- tong- pai, pint o m enyediakan nyawa unt uk m em pert ahankan kehorm at an Bu- tong- pai t erhadap siapapun j uga , dan saat ini pint o akan m em pert ahankannya t erhadap engkau! Maj ulah! " sam bil berkat a dem ikian t osu t ua berj enggot lebat ini m eloncat ke depan, t ongkat nya di t angan kanan dan uj ung lengan baj unya m elam bai panj ang. Kwat Lin m engenal t ongkat it u. Tongkat kayu cendana yang harum dan m enghit am saking t uanya, t ongkat yang menj adi t ongkat pusaka para ket ua Bu- tong- pai sej ak dahulu. Dia m aklum pula bahwa t ongkat it u hanya sebagai lam bang kedudukan ket ua belaka, nam un dalam hal ilmu silat bersenjata, ujung lengan baju kakek itu jauh lebih barbahaya dari pada t ongkat nya. Dia dapat m enduga bahwa t ent u kakek ini sudah m em iliki t ingkat t ert inggi dari Bu- tong- pai, dan t elah m em iliki sinkang yang am at kuat sehingga kedua uj ung lengan baj unya dapat dipergunakan sebagai senj at a am puh yang dapat m enghadapi senj at a apapun j uga dari lawan, dapat dibikin kaku keras sepert i besi dan lem as sepert i uj ung cam buk yang dapat m elakukan t ot okan- t ot okan m aut keseluruh j alan darah di t ubuh lawan! Karena it u, dia t idak berani m em andang rendah, cepat dia m engeluarkan pekik m elengking, dan t ubuhnya sudah bergerak m aj u, t angan kananya m elakukan pukulan dorongan dengan t elapak t angan sam bil m engerahkan t enaga sinkang Swat - im Sin- j iu. Hawa yang am at dingin m enghem bus ke depan m enyerang kakek it u. Swat - im Sin- j iu adalah t enaga dalam int i salj u yang dilat ihnya di Pulau Es, kekuat annya dahsyat bukan m ain karena hawa yang m enyam bar ini m engandung t enaga sakt i yang m endat angkan rasa dingin. " Siancai...! ! " Tosu it u berseru kaget ket ika m erasa bet apa hawa yang m enyam bar dari depan am at dinginnya, m em buat t angannya ket ika m endorong kem bali t erasa m em beku. Maka dia lalu m engerakan t ongkat di t angan kanannya, m engam bil keunt ungan dari ukuran t ongkat yang panj ang, m enghant am ke arah kepala wanit a

126

Bu Kek Siansu
it u dari sam ping. " Wuuuut t t ... plakkkk! " Dengan berani sekali Swat Lin menggunakan t angan kiri yang dibuka unt uk m em apaki sam baran t ongkat dari sam ping, t erus m encengkram t ongkat it u dan m engerahkan sinkang, m enyalurkannya lewat get aran t ongkat dan kem bali t osu it u berseru kaget ket ika merasa betapa lengan kanannya yang memegang tongkat terasa dingin dan lumpuh! Kesem pat an baik ini, dalam sat u det ik pada saat lawan m asih t erkej ut dan belum sem pat m engerahkan sinkang, dipergunakan oleh Kwat Lin dengan j alan m enarik ke bawah, bergulingan ke depan dan m enghant am ke arah lawan dengan t angan kananya, kini m enggerakan t enaga sinkang yang berhawa panas! " Ouhhh...! " Kui Tek Toj in bert eriak, cepat m eloncat ke belakang dan t ent u saj a t ongkat nya dapat diram pas. Dia t adi sudah m engerahkan sinkang m elawan get aran m elalui t ongkat , dengan niat m eram pasnya kem bali, akan t et api pukulan lawannya dari bawah yang dit angkis dengan t angan kanan, t ernyat a luar biasa kuat dan panasnya, m engej ut kannya karena perubahan sinkang yang berlawanan it u t idak disangkasangkanya, maka untuk menyelamatkan diri, terpaksa dia meloncat ke belakang dan m engorbankan t ongkat nya. Kwat Lin sudah m elom pat kebelakang pula, m em egang t ongkat it u dengan kedua t angan di at as kepala sam bil t ert awa dan berkat a, " Hi- hik, t ongkat pusaka t elah berada di t anganku, berart i akulah ket ua Bu- t ong- pai! " Kem balikan t ongkat ! " Kui Tek Toj in bert eriak m arah dan kedua lengannya bergerak ket ika t ubuhnya m enerj ang m aj u. Dengan am at cepat nya kedua uj ung lengan bajunya bergerak seperti kilat menyambar- nyambar dan dalam segebrakan itu, Kwat Lin t elah dihuj ani sem bilan kali t ot okan yang am at berbahaya! Sukarlah m em bebaskan diri dari ancam an t ot okan yang hebat ini dan andaikat a Kwat lin bukan seorang pewaris ilm u- ilm u dari Pulau Es, t idak m ungkin dia dapat m enghindarkan diri lagi. Dia m enggunakan ginkangnya berloncat an m enghindar, akan t et api sebuah t ot okan yang m eleset m asih m engenai pergelangan t angannya, m em buat t ongkat pusaka it u t erlepas dari peganganya! Kwat Lin m enj erit m arah, pedangnya sudah dicabut nya, yait u pedang Ang- bwe- kiam dan t am pak sinar m erah berkeredepan dan m enyam bar- nyam bar dahsyat . " Bret - bret t t t t ...! ! " Kui Tek Toj in bert eriak kaget , m eloncat m undur dan t ernyat a bahwa uj ung lengan baj unya t elah t erbabat bunt ung oleh pedang di t angan Kwat Lin, dan sekarang wanit a it u t elah m engam bil lagi t ongkat pusaka yang t adi t erpaksa dilepaskan oleh t angannya yang t ert ot ok. " Susiok! Dan kalian para suheng sem ua! Kalau kalian m endesak, t erpaksa aku akan m em at ahkan t ongkat pusaka ini kem udian m em bunuh kalian dan m eram pas Bu- tong- pai dengan kekerasan! " Dia m engangkat t ongkat it u t inggit inggi. " Aku hanya m enunt ut hak seorang m urid Bu- tong- pai yang m em iliki t ingkat t inggi dan m em egang t ongkat wasiat it u, hak m enj adi ket ua dengan niat unt uk m em pert inggi t ingkat But ong- pai! " Delapan orang suheng it u m asih penasaran dan m ereka hendak m enyerbu ke depan, akan t et api Kui Tek Toj in m engangkat t angan ke at as dan berkat a, " Mundurlah kalian. Dia benar, kit a t idak boleh m elawan pem egang t ongkat pusaka! " Kem udian dia berkat a kepada Kwat Lin, " Baiklah, m elihat t ongkat pusaka di t anganm u, kam i t idak akan m elawan. Akan t et api, bet apapun j uga kam i t idak dapat m enerim a engkau m enj adi ket ua kam i dan kam i harap engkau t idak m em aksa anak m urid Bu- tong- pai yang t idak m au t unduk kepadam u dan m eninggalkan t em pat ini." Kwat Lin t ersenyum . Mem ang bukan kehendaknya unt uk m em usuhi anak m urid Bu- tong- pai. Dia t idak m em benci Butong- pai, m elainkan hendak m encarikan kem uliaan bagi put eranya dengan perant araan sebuah perkum pulan besar dan dia akan m engusahakan agar Bu- tongpai m enj adi sebuah perkum pulan yang paling kuat dan paling besar. " Terserah kepadam u, Susiok." dia lalu m em andang ke sekeliling, kepada para anak m urid Butong- pai, " Haiii, sem ua anggaut a dan m urid Bu- tong- pai, dengar lah baik- baik! Bet apapun j uga aku adalah m urid Bu- tong- pai sej ak kecil, dan di dalam sepak t erj ang Cap- sha Sin- hiap, kalian j uga sudah t ahu bet apa aku dan para suheng t elah

127

Bu Kek Siansu
m enj unj ung t inggi nam a Bu- tong- pai dan aku ingin m enyebarkan ilm uku kepada kalian sem ua agar kalian m enj adi orang- orang yang lihai dan Bu- tong- pai m enj adi perkum pulan yang paling kuat di dunia ini. Terserah kepada kalian apakah hendak beset ia kepada nam a Bu- tong- pai dan m enj adi m urid- m uridku, at aukah hendak berset ia kepada t osu Kui Tek Toj in dan delapan orang suhengku ini yang hendak membelakangi Bu- tong- pai! " Berisiklah keadaan di sit u set elah Kwat Lin m engeluarkan kat a- kat a ini. Para anak m urid Bu- tong- pai saling bicara sendiri, saling berbant ahan dan akhirnya hanya ada dua puluh orang t erm asuk Kui Tek Toj in yang m eninggalkan t em pat it u, m enuruni bukit dan m em asuki sebuah hut an di kaki bukit yang dipilih oleh Kui Tek Toj in unt uk m enj adi t em pat t inggal m ereka sem ent ara wakt u sam bil m enant i perkem bangan selanj ut nya. Sisanya sem ua suka m engangkat Kwat Lin m enj adi ket ua m ereka set elah m ereka t adi menyaksikan betapa lihainya Kwat Lin dan mereka semua ingin memperoleh bagian pelajaran ilmu silat yang t inggi. Dem ikianlah, m ulai hari it u, The Kwat Lin m enj adi ket ua yang baru dari Bu- tong- pai yang dipim pinnya dengan gaya dan bent uk yang baru pula. Dengan hart a benda berupa em as perm at a yang am at m ahal, yang didapat kan dan dilarikannya dari Pulau Es, dia m em bangun m arkas Bu- tong- pai m enj adi bangunan yang m egah, m ewar dan kuat . Bahkan dalam keinginan hat inya unt uk lekas- lekas m elihat But ong- pai m enj adi perkum pulan yang kuat dan banyak anggaut anya, dia m enerim a anggaut a- anggaut a baru. Anggaut a baru dit erim a dari golongan apapun j uga, syarat nya hanya sat u bahwa m ereka it u haruslah m em iliki kepandaian yang sam pai pada t ingkat t ert ent u, dan bersum pah set ia sam pai m at i kepada Bu- tongpai. Karena m endengar bahwa ket ua Bu- tong- pai yang baru adalah seorang wanit a yang cant ik yang m em iliki kesakt ian hebat , j uga am at kaya raya, m aka banyaklah orangorang kang- ouw dan golongan kaum sesat yang t adinya hidup sebagai perampok dan baj ak- baj ak yang t idak t ert ent u penghasilanya, berdat anganlah dan m asuk m enj adi anggaut a Bu- tong- pai! Mulai pulalah The Kwat Lin m engat ur dan merencanakan cita- citanya untuk puteranya. Dengan kerja sama antara dia dan para anggaut a baru yang berpengalam an m ulailah dia diam - diam m engadakan kont ak dan mencari kesempatan untuk menghubungi para pembesar tinggi yang merupakan kekuat an rahasia unt uk m em bront ak t erhadap kaisar. I nilah cit a- cit a The Kwat Lin. Dia pernah m enj adi rat u, m enj adi ist ri seorang raj a, biarpun hanya raj a kecil yang m enguasai Keraj aan Pulau Es, karena it u, dia m enganggap bahwa put eranya, Han Bu- ong, adalah seorang pangeran! Seorang pangeran haruslah bercit a- cit a m enj adi raj a. Bukan raj a kecil yang hanya m enguasai sebuah pulau, m elainkan raj a besar! Dan sat u- sat unya j alan unt uk dapat m encapai ini, hanyalah m enggulingkan kaisar sehingga kelak ada kesem pat an bagi put eranya unt uk m enj adi kaisar! Tent u saj a unt uk m em bront ak sendiri dengan m engandalkan kekuat anBu- tong- pai m erupakan hal yang t ak m asuk diakal dan hanya m erupakan bunuh diri, m aka dia m encari kesem pat an m engadakan kont ak dengan para pem besar t inggi yang beram bisi sepert i dia sehingga m ungkin bagi m ereka unt uk m enggunakan bala t ent ara yang dapat dikuasai unt uk m encapai cit a- cita m ereka it u. Mem ang sesungguhnyalah bahwa kem uliaan duniawai at au alam benda m erupakan keadaan yang am at berbahaya. Tak dapat disangkal pula bahwa hidup m em ang m em erlukan kebendaan sebagai pelengkap dan pelangsung hidup, dan am at baiklah kalau orang dapat m enggunakan keduniawian it u pada t em pat sebenarnya. Akan t et api, akan celakalah dan hanya akan m enim bulkan m alapet aka bagi diri sendiri dan bagi orang lain kalau m anusia sudah dikuasai oleh duniawi yang m erupakan hart a benda, kedudukan, nam a besar, kepandaian dan lain- lain sebagainya. Alam kebendaan ini m em punyai sifat sepert i arak. Dim inum dengan kesadaran dan pengert ian akan m enj adi obat , t api di lain saat dalam keadaan lalai akan m enj adi m inum an yang m em abokan. Dan sekali orang m abok oleh duniawi, akan t im bullah perbuat an som bong, sewenangwenang, dan lupa segala. yang ada hanyalah keinginan m em enuhi segala

128

Bu Kek Siansu
kehendaknya dengan cara apapun j uga t anpa m engharam kan dengan segala cara. Dem ikian pula t erj adi dengan The Kwat lin. Dahulu, belasan t ahun yang lalu, The Kwat Lin m erupaka seorang pendekar wanit a yang gagah perkasa m enent ang kej ahat an yang gigih sehingga nam anya bersam a dua belas orang suhengnya sebagai Cap- sha Sin- hiap am at lah t erkenal. Akan t et api set elah m alapet aka m enim pa Cap- sha Sin- hiap, dendam m enaburkan bibit yang m erobah seluruh pandangan hidupnya. Set elah dia berhasil m em balas dendam secara kej i dan kej am sekali, bibit it u m asih berkem bang biak dan m erobah sifat , dari dendam kepada pengej aran kem uliaan yang t anpa bat as. Sudah t erlalu lam a kit a m eninggalkan Han Swat Hong. put eri dari Raj a Han Ti Ong dan sebaiknya kit a m engikut i pengalam anya agar t idak t ert inggal t erlam pau j auh. Sepert i kit a ket ahui, Swat Hong yang berwat ak keras it u m arah- m arah ket ika m elihat bet apa Sin Liong m enolong seekor biruang dan t idak m em pedulikan dia.Dianggapnya Sin Liong sengaj a m encari- cari alasan unt uk m engham bat perj alanan, padahal dia ingin sekali segera m encari dan m enem ukan ibunya yang t idak ia diket ahui kem ana perginya dan bagaim ana nasibnya set elah badai yang am at dahsyat m engam uk disekit ar laut an it u. Akan t et api t ent u saj a bukan dengan hat i yang sesungguhnya dia hendak m eninggalkan Sin Liong di pulau kosong it u, m elainkan hanya unt uk sekedar m enunj ukan kem arahan hat inya saj a. Karena it u set elah perahunya j auh m eninggalkan pulau it u sehingga pulau dim ana Sin Liong m engobat i biruang it u t idak nam pak lagi, dara it u m em ut ar lagi perahunya dan hendak kem bali kepada Sin Liong. Sudah dibayangkannya bet apa Sin Liong yang selalu sabar dan selalu m engalah kepadanya it u akan m int a m aaf dan m enyat akan penyesalan hat inya, dan dia yang akan m em aafkannya! Saat - saat sepert i it u m endat angkan keharuan, kebanggan dan kem enangan di dalam hat inya. Bet apa bingung dan kaget nya ket ika kem udian dia m endapat kenyat aan bahwa dia t ersesat j alan dan t idak t ahu lagi dim ana dia m eninggalkan Sin Liong t adi! Dem ikian banyaknya pulau yang sam a bent uknya di laut an it u, banyak sekali bongkahan es yang dat ang dan pergi sepert i hidup saj a! Set elah berput ar put ar t anpa hasil dan yakin bahwa dia berada m akin j auh dari t em pat dim ana Sin Liong berada, set elah bert eriak - t eriak m em anggil dengan pengerahan khikang t anpa ada j awabannya dan m em ut ar perahu keluardari daerah penuh pulau kecil yang membingungkan itu. Biarlah, dia akan pergi saja melanjutkan perj alanan seorang diri m encari ibunya. Dia m erasa yakin bahwa suhengnya it u tentu akan dapat menyelamatkan diri. Suhengnya memiliki ilmu kepandaian yg amat tinggi. Swat Hong tidak tahu bahwa perahunya menuju ke selatan, bukan menuju ke daerah Pulau Es lagi. Nam un karena m aksudnya unt uk m encari ibunya, dara ini seolah - olah berlayar t anpa t uj uan dan m em biarkan saj a kem ana perahu yang t erdorong angin it u m em bawanya. Pada suat u hari , t am paklah olehnya garis hit am di sebelah kanan, m asih j auh sekali, akan t et api dengan girang dia dapat m engenal bahwa garis hit am yang am at panj ang m em buj ur dari kanan kiri it u adalah sebuah darat an yang agaknya t iada bert epi. I t ulah darat an besar, pikirnya dengan girang dan dia segera m em belokan perahunya m enuj u ke garis hit am it u. Ket ika perahunya sudah t iba di dekat pant ai yang sunyi, dia m elihat ada sebuah perahu lain yang m eluncur cepat dari sebelah kirinya. Perahu kecil dan yang berada di perahu it u seorang laki- laki m uda yang kelihat annya gagah dan t am pan. Pem uda it u pun memandang kepadanya sehingga dua pasang m at a saling pandang sej enak. Akan t et api Swat Hong m em buang m uka dan t idak m em pedulikan orang yang t idak dikenalnya it u, t erus saj a m endayung perahunya ke t epi. Begit u perahunya m endekat i darat an, dia lalu m eloncat ke darat an, t idak m enghiraukan perahunya lagi. Mem ang dia t idak berpikir unt uk kem bali ke t em pat it u dan berperahu lagi. Unt uk apa berlayar? Pulau Es sudah kosong. Dia akan m encari ibunya di darat an besar, karena kalau ibunya berada di suat u pulau, agaknya t ent u t idak akan dapat t erlepas dari am ukan badai yang dahsyat it u. Kalau ibu berada di darat an besar ,

129

Bu Kek Siansu
dan ini m ungkin saj a t erj adi, barulah ada harapan bahwa ibunya m asih hidup dapat bert em u dengannya. Andaikat a t idak, dia pun akan m erant au di darat an besar, t idak kem bali kelaut . Dan dia t ahu bahwa dem ikian pula agaknya pendapat suhengnya karena sebelum berpisah m ereka sudah m em bicarakan hal ini berkali- kali. Nenek m oyangnya yang selam a ini m enj adi raj a di Pulau Es j uga berhasal dari darat an besar! Set elah kini Keraj aan Pulau Es t erbasm i badai dan t idak ada lagi, sepat ut nya kalau dia sebagai ahli waris sat u- sat unya kem bali pula ke darat an besar! " Heiii... Nona! Tunggu...! ! " Swat Hong m engerut kan alisnya dan berhent i m elangkahkan kakinya, m em balik dan m elihat bet apa pem uda yang berada di dalam perahu t adi sudah m enam bat kan perahunya dan j uga perahu yang dit inggalkanya m eloncat t adi, di pant ai. Kini pem uda it u berlari m engej arnya. " Mau apa engkau m engej ar dan m em anggil aku?" Swat Hong bert anya, m at anya m em andang penuh selidik. Pem uda it u usianya t ent u hanya lebih t ua dua t iga t ahun darinya, seorang pem uda yang berwaj ah t am pan dan gagah, yang perawakanya t inggi besar dan m at anya m enyorot kan kej uj uran dan m em bayangkan kekerasan dan keberanian. Kedua lengan yang t am pak t ersem bul keluar dari lengan baj u pendek it u kekar berot ot m em bayangkan t enaga yang hebat , j uga baj unya yang t erbuat dari kain t ipis m em bayangkan dada yang bidang, t erhias sedikit ram but , berot ot dan kuat sekali. Melihat bahan pakaiannya dapat di duga bahwa pem uda ini seorang yang beruang, nam un m elihat dari keadaan t ubuhnya dan kaki t angannya, agaknya dia biasa dengan pekerj aan berat . Seorang pet ani at au seorang nelayan, pikir Swat Hong, kagum j uga m em andang t ubuh yang kokoh kuat it u. Pem uda it u t ersenyum. Senyum nya lebar m em perlihat kan deret an gigi yang kokoh kuat pula, senyum t erbuka seorang yang berwat ak j uj ur dan bersahaj a. Akan t et api sikapnya ket ika m engangkat kedua t angan di depan dada sebagai penghorm at an, m em bukt ikan bahwa dia pernah" m akan sekolahan" alias t erpelaj ar, t erbukt i pula dari kat a- katanya yang biarpun ringkas dan singkat akan t et api t et ap sopan. " Maafkanlah, Nona m eninggalkan perahu begit u saj a, aku m erasa sayang dan m em bant u m em inggirkannya. Melihat gerakan Nona ket ika m eloncat , j elas bahwa Nona berkepandaian t inggi. Aku ingin sekali belaj ar kenal." Swat Hong m engerut kan alisnya. Hat inya sedang t idak senang, karena selain kegagalannya m encari ibu, j uga perpisahanya dengan Sin Liong set idaknya m endat angkan rasa gelisah di hat inya. Kini ada pem uda yang am at lancang ingin " belaj ar kenal" , sungguh m enggem askan. " Aku t idak m em but uhkan perahu it u lagi, dan aku t idak peduli apakah kau m em inggirkannya at au hendak m em ilikinya, aku t idak m int a bant uanm u. Tent ang belaj ar kenal biasanya hanya pedang, kepalan t angan dan t endangan kaki saj a yang m au belaj ar kenal dengan orang asing lancang! " Sepasang m at a lebar it u t erbelalak seolah- olah m em andang sesuat u yang am at aneh, nam un m em bayangkan kekagum an yang luar biasa. Dan m em ang, di luar dugaan Swat Hong sendiri, sikap dan kat a- kat anya t adi m endat angkan rasa kagum yang am at besar di dalam hat i pem uda ini. Telah m enj adi ciri khas pem uda ini yang m engagum i sikap orang yang t erbuka, j uj ur, kasar dan t anpa pura- pura sepert i sikap Swat Hong yang baru saj a diperlihat kan. " Ha- ha- ha- ha! " Pem uda it u t ert awa bergelak dan kedua m at anya m enj adi basah oleh air m at a. I ni pun ciri khasnya. Kalau dia t ert awa, air m at anya keluar seperti orang menangis. Dengan punggung tangannya yang besar dan berotot dia m enghapus air m at anya. " Nona hebat sekali! Ha- ha- ha , aku Kwee Lun selam a hidupku baru sekarang ini bert em u dengan seorang nona yang begini hebat ! Diantara seribu orang gadis, belum tentu ada satu! Nona, kalau sudi, perkenalkanlah aku Swee Lin, biarpun j elek dan kasar bukanlah t idak t erkenal. Ayahku adalah seorang pelaut biasa dan sudah m eninggal, dem ikian pula I buku. Aku anak pelaut akan t et api sej ak kecil aku sudah ikut kepada guruku. Guruku inilah yang t erkenal. Guruku adalah Lam Hai Sen- j in, pert apa yang am at t erkenal di dunia kang- ouw, dan kam i berdua t inggal di Pulau Kura- kura di laut selat an." Melihat sikap t erbuka ini,

130

Bu Kek Siansu
geli j uga hat i Swat Hong. Kini dia m elihat j elas bahwa pem uda ini sam a sekali t idak kurang ajar. Kasar memang, akan tetapi kekasaran yang memang menjadi wataknya yang t erbuka. Orang m acam ini baik dij adikan sahabat , pikirnya. Akan t et api harus dibukt ikan dulu apakah pem uda ini pant as m enj adi sahabat nya, sungguhpun m enurut pengakuannya dia m urid seorang pert apa yang nam anya t erkenal di dunia kang- ouw! Swat Hong t ersenyum . " Aihh, engkau lebih pant as m enj adi seorang penj ual j am u! Set elah engkau m em perkenalkan sem ua nenek m oyangm u kepadaku, dengan m aksud apakah engkau seorang pria m int a perkenalan dengan seorang wanit a?" Kwee Lun m engerut kan alisnya yang sangat lebat sepert i dua buah sikat dit aruh m elint ang di dahinya it u, dan dia m enggeleng- geleng kepalanya. " Mem ang, sebelum aku berangkat m erant au, suhu berpesan dengan sungguh bahwa aku t idak boleh m endekat i wanit a cant ik yang kat anya am at berbahaya m elebihi ular berbisa! Akan t et api, biarpun Nona cant ik sukar dicari cacat nya, nam un kepandaian Nona t inggi dan sikap Nona j uj ur m enyenangkan. Aku ingin bersahabat , karena sekarang ini baru pertama kali aku merantau seorang diri, aku membutuhkan seorang sahabat yang pandai sepert i Nona unt uk m em beri pet unj uk kepadaku. Unt uk budi Nona ini, t ent u aku akan berusaha m enyenangkan hat im u." Swat Hong m akin t erheran. Dia t idak t ahu apakah pem uda ini pint ar at au bodoh. Sikapnya t erbuka akan t et api biarpun kat a- kat anya t erat ur, ada bayangan ket ololan. " Hem m , kau bisa apa sih? Bagaim ana engkau bisa m enyenangkan hat iku?" Dia m enyelidik. " Aku? Wah, aku bodoh akan t et api kalau ada orang- orang kurang aj ar kepadam u, t anpa Nona t urun t angan sendiri, aku sanggup m enghaj ar m ereka! Dia m elonj orkan kedua lengannya yang kekar berotot itu. "Dan jangan Nona sangsi lagi, biar ada lima puluh orang, aku masih sanggup menghadapi mereka, kalau perlu dibantu sengan senjataku kipas dan pedang. Kalau Nona senang saj ak, aku banyak m engenal saj ak kuno yang indah dan di wakt u Nona kesepian, aku dapat m enghibur Nona dengan nyanyian! Aku suka sekali bernyanyi." Ham pir saj a Swat Hong t ert awa geli orang yang kekar sepert i seekor singa buas ini m em baca saj ak, bernyanyi dan senj at anya kipas? Benar- benar seorang pem uda yang aneh, akan t et api t ent u saj a dia belum m au percaya begit u saja. Sambil memandang tajam dia berkata, "Hemm, kau bicara tentang pedang dan kipas sebagai senj at a, akan t et api aku t idak m elihat engkau m em bawa senj at a apaapa." Ahh, t unggu dulu, Nona. Aku m em ang sengaj a m eninggalkanya di perahu! " Set elah berkat a dem ikian, Kwee Lun m em balikan t ubuhnya dan berlari cepat sekali ke perahunya dan ket ika dia sudah kem bali ke depan Swat Hong, benar saj a dia t elah m em bawa sebat ang pedang yang sarungnya t erukir indah dan sebuah kipas bergagang perak yang diselipkan di ikat pinggangnya! " Mengapa baru sekarang kau m em perlihat kan senj at a- senj at am u?" " Aih, kalau t adi aku m em bawa senj at a, t ent u akan m enim bulkan dugaan yang bukan- bukan dan unt uk berkenalan dengan seorang gadis, bagaim ana aku berani m em bawa senj at a? Tent u disangka peram pok at au baj ak! " Mau at au t idak, Swat Hong t ersenyum . Tim bul rasa sukanya kepada pem uda kasar yang aneh ini. " Bet apapun j uga, aku adalah seorang wanit a dan engkau seorang pria, m ana m ungkin m enj adi sahabat ? Tidak pat ut dilihat orang." Mat a yang lebar it u kem bali t erbelalak penuh penasaran dan t angan kirinya dikepalkan. " Apa peduli kat akat a orang? Kalau ada yang berani m engat akan yang bukan- bukan t ent u akan kuhancurkan m ulut nya! Wanit a adalah seorang m anusia, pria pun seorang m anusia. Apa salahnya berkenalan dan bersahabat ? Nona, aku Kwee Lun bukan seorang yang berpikiran kot or, j uga aku t idak akan sem barangan m em ilih kawan! Aku kagum m elihat Nona, m aka kalau Nona sudi, harap memperkenalkan diri." Swat Hong m akin t ert arik, akan t et api dia m asih ragu- ragu apakah orang ini pat ut dij adikan seorang t em an. Biarpun lagaknya sepert i j agoan, siapa tahu kalau kosong belaka? "Kau bilang tadi murid seorang tosu yang terkenal?" " Ya, Suhu Lam Hai Seng- j in m erupakan t okoh yang paling t erkenal di daerah selat an! " " Kalau begit u, ilm u silat m u t ent u lebih lihai daripada bicaram u sepet i

131

Bu Kek Siansu
penjual jamu?" "Ihhh, harap jangan mentertawakan! Biarpun tidak selihai Nona yang dapat kulihat dari gerakan m eloncat dari perahu t adi, akan t et api m asih t idak t erlalu orang di dunia ini yang akan sanggup m engalahkan Kwee Lun! " " Tidak ada art inya kalau hanya disom bongkan dan dibanggakan t anpa ada bukt inya! Aku j uga t idak sem barangan m em perkenalkan diri kepada orang lain. Unt uk m em bukt ikan apakah kau pat ut m enj adi kenalanku, cabut kedua senj at am u, dan coba kau hadapi pedangku! " Sam bil berkat a dem ikian, Swat Hong sudah m encabut pedangnya perlahan- lahan dan t am paklah sinar pedang ket ika sinar m at ahari m enim panya. "Akan tetapi, Nona...." Kwee Lun meragu. Biarpun dia tadi menyaksikan betapa gesit dan ringannya tubuh nona itu melayang ke daratan, namun dia tidak percaya apakah nona ini m am pu m enandingi pedang dan kipasnya! " Tidak usah banyak ragu. Kalau kau t idak m au, pergilah dan j angan m enggangguku lebih lam a lagi! " " Srat ...! ! " Pedang t erhunus sudah berada di t angan kanan Kwee Liu dan sarung pedangnya dilem par ke at as t anah, sedangkan t angan kirinya sudah m encabut kipas gagang perak yang t elah dikem bangkan dan m elindungi dadanya, adapun pedang it u dilonj orkan ke depan. " Aku t elah siap, Nona." Swat Hong m em ang ingin sekali melihat sampai di mana kepandaian pemuda yang aneh ini, maka tanpa banyak kata lagi dia sudah meloncat ke depan dan menggerakan pedangnya dengan hebat sekali. Pedang di t angannya it u adalah pedang biasa saj a, akan t et api karena yang m enggerakan adalah t angan yang m engandung t enaga sinkang ist im ewa dari Pulau Es, m aka pedang it u lenyap bent uknya berubah m enj adi gulungan sinar yang m enyilaukan m at a dan t ubuh dara it u j uga t ert ut up oleh gulungan sinar pedang saking cepat nya t ubuh it u berloncat an. " Aihhh...! ! " Kwee Lun berseru keras dan cepat dia m enggerakan pedang dan kipas. Mem ang sudah diduganya bahwa dara it u lihai sekali, akan t et api m enyaksikan gerakan pedang yang dem ikian luar biasa, dia m enj adi kaget , kagum , heran dan j uga gem bira. Tanpa ragu- ragu dia lalu m engerahkan t enaga dan m engeluarkan sem ua ilm u silat nya unt uk m enandingi dara yang m engagum kan hat inya ini. Sepert i t elah kit a kenal di perm ulaan cerit a ini ketika terjadi para tokoh kang- ouw memperebutkan Sin Liong yang ketika itu dikenal sebagai Sin- t ong ( bocah aj aib) , guru pem uda it u, Lam Hai Seng- j in, adalah seorang t osu yang selain ahli dalam Agam a To, j uga pandai bernyanyi, dan lihai sekali ilm u silat nya. Nam un t erkenal sebagai pert apa at au pem ilik Pulau Kura- kura di Lam - hai dan senj at anya yang berupa hudt im dan kipas m engangkat t inggi nam anya di dunia kang- ouw. Agaknya kepandaian it u t elah dit urunkan sem ua kepada m urid t unggalnya ini, nam un t ent u saj a karena m uridnya bukanlah seorang t osu, senj at a hudt im digant i dengan pedang. Pedang dan kipas adalah senj at a yang ringan, kini dim ainkan oleh kedua lengan Kwee Lun yang m engandung t enaga gaj ah, t ent u saj a dapat dibayangkan betapa cepatnya kedua senjata itu bergerak sampai tidak tampak lagi sebagai senj at a kipas dan pedang, m elainkan t am pak hanya gulungan sinar yang berkelebat an dan saling belit dengan sinar pedang di t angan Swat Hong. " Cringgg...! " Tiba- t iba pem uda it u berseru kaget dan pedangnya m encelat ke at as t erlepas dari t angannya. Swat Hong t ersenyum . Dia t adi sudah m enyaksikan bahwa ilm u pedang pem uda it u cukup lihai, bahkan dalam hal kecepat an dan t enaga t idaklah kalah banyak dibandingkan dengan kepandaiannya sendiri. Adanya dia dapat m em buat pem uda it u t erlepas dalam wakt u t iga puluh j urus, hanyalah karena selain dasar ilm u silat nya lebih t inggi daripada pem uda it u, j uga kenyat aan bahwa pem uda it u t idak m au m enyerangnya dengan sungguh- sungguh dan m endasarkan perm ainannya pada t ingkat penguj i dan berlat ih saj a. Kalau pem uda it u m erupakan lawan sungguh- sungguh, dia sendiri sangsi apakah akan dapat m erobohkannya dalam wakt u serat us j urus. " Wah, kau hebat sekali, Nona! Aku m engaku kalah! " Kwee Lun m enj ura dan m enyim pan kipasnya. Suaranya bersungguh- sungguh, karena m em ang pem uda ini walaupun t adi t idak m au m enyerang sungguh- sungguh, nam un dari gerakan lawannya dia sudah dapat m elihat bahwa dara it u benar- benar

132

Bu Kek Siansu
m em iliki ilm u silat yang am at aneh dan am at kuat . " Aku t erlalu rendah unt uk m enj adi sahabat m u." " Kwee- t wako, kau t erlalu m erendah. I lm u kepandaianm u hebat ! Perkenalkanlah, aku bernam a Hat Swat Hong...." Sam pai di sini, dara it u m eragu karena dia m asih sangsi apakah dia akan m em perkenalkan diri sebagai seorang puteri dari Kerajaan Pulau Es yang asing dan yang t elah t erbasm i habis oleh badai it u. " I lm u pedang Nona hebat bukan m ain, j uga am at aneh gerakannya, Selama melakukan peratauan dengan Suhu, dan mendengar penjelasan Suhu, sudah banyaklah aku mengenal dasar ilmu silat perkumpulan besar di dunia kang- ouw akan t et api m elihat gerakan pedangnya t adi, aku benar- benar t idak t ahu lagi, sedikit pun t idak m engenalnya. Maukah Nona Han Swat Hong m em perkenalkannya kepadaku?" "Kwee- t wako, sebenarnya aku akan m erahasiakan keadaanku, Baru pert am a kali ini aku m enginj ak darat an besar dan aku t idak ingin m elibat kan diri dengan urusan di dunia kang- ouw, apa lagi m em perkenalkan diriku. Akan t et api m em ang sudah nasib, begit u m endarat bert em u dengan engkau, dan sikapm u m enarik hat iku, m em buat aku tidak dapat menyembunyikan diri lagi. Aku akan menceritakan keadaanku hanya dengan sat u j anj i darim u, Twako." Kwee Lun m em unggut pedangnya, m engikat kan sarung pedang di punggung lalu m em busungkan dadanya yang sudah m em busung t egap it u sam bil m enepuk dada dan berkat a, " Nona Han...." " Kwee- t wako, sekali m au m engenal orang, aku t idak m au bersikap kepalang. Aku m enyebut m u Twako ( kakak) , berart i aku sudah percaya kepadam u. Maka j anganlah kau m asih bersikap sungkan m enyebut ku Nona. Nam aku Swat Hong dan t ak perlu kau m enyebut ku Nona sepert i orang asing." " Hem m , bagus sekali! " Kwee Lun bert epuk t angan dan m em andang ke langit . " Bukan m ain! Aku benarbenar berbahagia dapat m em peroleh adik sepert i engkau! Nah, Hong- m oi ( adik Hong) , kaucerit akanlah kepada kakakm u ini. Cerit akan sem uanya, kalau ada penasaran, akulah yang akan m em bereskan unt ukm u! Kakakm u ini sekali bicara t ent u akan dipert ahankan sam pai m at i! " Diam diam Swat Hong m erasa girang dan kagum . I nilah seorang laki- laki sej at i! Seorang j ant an! Sekaligus dia m em peroleh seorang sahabat yang boleh dipercaya seorang kakak dan sebagai penggant i seorang keluarga set elah dia kehilangan segalagalanya. Dia t elah kehilangan ibunya, ayahnya, keluarga ayahnya, bahkan akhirnya dia kehilangan suhengnya dan dalam keadaan sepert i it u t iba- t iba m uncul seorang sepert i Kwee Lun! " Kwee- t wako aku baru saj a m eninggalkan t em pat t inggalku di tengah- t engah laut di sekit ar sana! " Dia m enuding ke arah laut bebas. " Di m anakah t em pat t inggalm u it u? Di sebuah pulau?" Swat Hong m engangguk, m asih agak raguragu. " Pulau apa, Hong- m oi?" " Pulau Es..." " Hah...?" Benar saj a sepert i dugaannya, nam a Pulau Es m endat angkan kekaget an luar biasa, bahkan waj ah pem uda it u berubah m enj adi agak pucat dan dia m em andang dara it u sepert i orang m elihat iblis di t engah hari! " Pulau... Pulau Es...??" Sepert i j uga sem ua orang di dunia kang- ouw, Pulau Es hanya didengarnya sepert i dalam dongeng saj a, dan pangeran Han Ti Ong yang pernah m enggegerkan dunia kang- ouw disebut sebagai seorang dari Pulau Es, seorang yang m em iliki kepandaian sepert i dewa! Dan kini pem uda it u m endengar bahwa dara it u dari Pulau Es. " Kwee- t wako! Jangan m em andangku sepert i m em andang silum an begit u...! " " Ohh... eh...., m aafkan aku, Moi- m oi! Hat i siapa yang m au percaya? Akan t et api aku percaya padam u, Moim oi! Wah! aku percaya sekarang! Kau pant as kalau dari Pulau Es. I lm u kepandaianm u luar biasa, bukan sepert i m anusia lum rah. Mana ada gadis biasa m am pu m engalahkan Kwee Lun dalam beberapa j urus saj a? Aku m alah bangga! Seorang penghuni Pulau Es m enyebut ku t wako dan kusebut Moi- m oi! Ha- ha- ha- ha, Suhu t ent u akan t ercengang saking kaget nya kalau m endengar ini! " Melihat pem uda it u pet ent ang- pet ent eng m engangkat dada sepert i orang m em banggakan diri sebagai seorang sahabat baik penghuni Pulau Es, Swat Hong m enj adi geli hat inya. " Hong- m oi, engkau t idak t ahu bet apa bangga dan besarnya hat iku. Aihh, sekali ini, baru saj a m eninggalkan Suhu unt uk m erant au seorang diri, aku t elah bert em u dan dapat bersahabat denganm u.

133

Bu Kek Siansu
Bet apa bangga hat iku! " Swat Hong t erkej ut . Baru t eringat olehnya bahwa dia t adi belum m elanj ut kan syarat nya, m aka cepat dia berkat a, " Kalau begit u, berj anj ilah bahwa engkau t idak akan m encerit akan kepada siapapun j uga t ent ang keadaan diriku, kecuali nam aku saj a. Berj anj ilah Twako! " Kwee Lun m em andang kecewa. " Tidak m encerit akan kepada siapapun j uga bahwa engkau adalah penghuni Pulau Es? waaahhh... ini..." Tent u saj a hat inya kecewa karena hal yang am at dibanggakan it u t idak boleh dicerit akan kepada orang lain. Mana bisa dia berbangga kalau begit u? " Kwee Lun." t iba- t iba Swat Hong berkat a dengan lant ang. " Hanya ada dua pilihan bagim u. Berj anj i m em enuhi perm int aanku dan selanj ut nya m enj adi sahabat baiku, at au kau t idak m au berj anj i akan t et api kuanggap sebagai seorang m usuh! " " Wahwah... aku berj anj i! Aku berj anj i! Bukan karena t akut kepadam u, Hong- m oi, aku bukan seorang penakut dan j uga t idak t akut m at i, akan t et api karena m em ang aku m erasa suka sekali kepadam u. Aku t idak sudi m enj adi m usuh! Nah, aku berj anj i, biarlah aku bersum pah bahwa aku t idak akan m encerit akan kepada siapapun j uga tentang asal- usulm u, kecuali... hem m , t ent u saj a kalau... kalau kau sudah m engij inkan aku. Siapa t ahu..." Sam bungnya penuh harap. Swat Hong t ersenyum lega. " Baiklah, Kwee- t wako. Aku percaya bahwa engkau akan m em egang t eguh j anj im u. Sekarang dengarlah cerit a singkat ku dan kuharap kau suka m em bant uku. Aku adalah put eri dari Raj a Pulau Es..." " Aduhhhh...." Kem bali m at a it u t erbelalak dan kwee Lun segera m em bungkuk, agaknya m alah akan berlut ut ! " Twako, kalau kau berlut ut at au m elakukan hal yang bukan- bukan lagi, aku t akan sudi bicara lagi kepadam u! " Kwee Lun berdiri t egak lagi. " Hayaaaa... siapa bisa m enahan dat angnya hal- hal yang m engej ut kan secara bert ubi- t ubi ini? Baiklah, aku t aat ... eh, benarkah aku boleh menyebutmu Moi- moi?" "Siapa bilang tidak boleh ! Aku hanya bekas puteri raj a! Ayahku t elah m eninggal dunia dan I buku..., ah, aku sedang m encari I buku yang pergi ent ah kem ana. Kwee- t wako, aku t idak bisa m encerit akan lebih banyak lagi. Yang pent ing kauket ahui hanya bahwa I buku t elah berbulan- bulan m eninggalkan Pulau Es, ent ah ke m ana perginya dan aku sedang m encarinya. Juga aku t elah saling berpisah dengan Suhengku. aku sedang pergi m erant au dan sekalian m encari I buku dan Suhengku." " Aku akan m em bant um u! " Kwee Lun m enggulung lengan baj unya yang m em ang sudah pendek sam pai kebawah siku it u. " Jangan khawat ir! " " Terim a kasih, Twako. Dan sekarang, engkau hendak ke m anakah?" " Sudah kukat akan t adi bahwa aku m eninggalkan Pualu Kura- kura unt uk pergi m erant au m eluaskan pengalam an, sekalian m em enuhi perm int aan penduduk kot a Leng- sia- bun yang berada t ak j auh dari pant ai ini." " Perm int aan apa, Twako?" " Beberapa orang penduduk bersusah payah m encari Suhu di Pulau Kura- kura, dan m ereka m ohon pert olongan Suhu unt uk m enghancurkan kom plot an busuk yang m eraj alela di kot a ini. Suhu lalu m em erint ahkan aku pergi, dan sekalian aku diberi wakt u set ahun unt uk m erant au sendirian. Kebet ulan sekali aku bert em u denganm u di sini. Marilah kau ikut bersamaku ke Leng- sia- bun, tentu kau akan gembira melihat keram aian ket ika aku m enghadapi kom plot an it u. Set elah selesai urusanku di sana,aku m enem anim u m encari Suhengm u dan I bum u." Swat Hong m engangguk set uj u. Lega j uga hat inya, karena kini ada seorang t em an yang set idaknya lebih banyak m engenal keadaan darat an besar dari pada dia yang asing sam a sekali. " Baik, Twako. Akan t et api perut ku...." " Eh, perut m u m engapa? Sakit ...." " Sakit .... lapar...!" JI LI D 11 Kwee Lun t ert awa- t awa bergelak dan Swat Hong j uga t ert awa. Keduanya merasa lucu dan gembira karena mendapatkan seorang teman yang cocok wat aknya! " Kalau begit u, t idak j auh bedanya dengan perut ku! m ari kit a cepat pergi. Leng- sia- bun t erdapat banyak m akanan enak! " " Tapi .... perahum u it u? Bagaim ana kalau ada yang curi nant i ?" " Hem m , siapa berani m encurinya? Lihat , bent uk perahuku it u. Bent uknya sepert i seekor kura- kura, lengkap dengan kepalanya dan ekornya. Melihat it u, sem ua orang t ahu bahwa it u m ilik Pulau Kura- kura, siapa berani m engganggunya? Perahum u yang berada di dekat perahuku j uga am an."

134

Bu Kek Siansu
" Wah, kalau begit u nam a Suhum u sudah t erkenal sekali! " Mem ang, dan sekarang aku akan m em buat nam a agar sam a t erkenalnya dengan nam a suhu! " Berangkat lah kedua orang m uda it u m enuj u ke ut ara, m elalui sepanj ang pant ai it u lalu m endekat i sebuah daerah pegunungan, m enuj u ke kot a Leng- sia- bun yang let aknya t idak j auh dari pant ai laut , t ak j auh dari m uar sungai Huai. Kot a Leng- sia- bun m erupakan kot a pant ai yang ram ai dan padat penduduknya. Karena daerah ini m erupakan daerah perdagangan yang m enam pung dat angnya hasil bum i dari pedalam an unt uk dibawa oleh perahu- perahu ke pant ai laut yang lain, j uga m erupakan pasar besar pagi para nelayan, m aka penduduknya cukup m akm ur. Rum ah- rum ah besar, t oko- t oko, hot elhot el dan rest oran- rest oran m em bukt ikan kem akm uran kot a it u. Akan t et api, sepert i biasa t erj adi dim anapun j uga di penj uru dunia dan di j am an apa pun, di kot a Lengsia- bun m uncul j uga m anusia- m anusia yang m em pergunakan kesem pat an unt uk m encari keunt ungan dan m enum puk hart a benda dengan cara yang t idak layak, t idak halal, bahkan t idak m em pedulikan lagi nilai- nilai kem anusiaan.Telah bert ahunt ahun, di kot a it u m eraj alela kom plot an yang dipim pin oleh seorang hart awan bernam a Ciu Bo j in dan t erkenal dengan sebut an Ciu- wangwe ( Hart awan Ciu) . Sebenarnya, t anpa diket ahui oleh siapa pun di kot a it u, Ciu- wangwe adalah bekas seorang peram pok t unggal yang m em iliki kepandaian t inggi. Set elah ram but nya m ulai put ih dan dia berhasil m engum pulkan kekayaan, t inggallah dia di kot a Lengsia- bun m enj adi seorang pedagang. Mula- m ula dia m endirikan sebuah rum ah m akan. Set elah rum ah m akannya m aj u, dia m em buka rum ah j udi dan rum ah penginapan. Tent u saj a dia m engum pulkan bekas t em an- t em annya dari kalangan hit am unt uk bekerj a kepadanya dan m erangkap m enj adi t ukang pukul, akan t et api Ciu- wangwe m elarang keras kepada anak buahnya unt uk m em perlihat kan sikap kasar dan sewenang- wenang karena dia m aklum bahwa it u bukan m erupakan cara unt uk m engum pulkan kekayaan di sebuah kot a. Dengan licin sekali, Ciu- wangwe m em pengaruhi para pem besar kot a it u dengan j alan seringkali m engirim kan hadiah kepada m ereka. Bahkan bukan uang saj a yang dij adikan um pan unt uk m em ancing ikan besar dan m enj inakan haim au, akan t et api dia j uga m em pergunakan wanit awanit a m uda! Terkenallah hot el dan rum ah j udi yang didirikan Ciu- wangwe karena kedua t em pat ini j uga m erupakan t em pat berpelesir di m ana disediakan perem puan m uda sebagai pelacur- pelacur kelas t inggi! Bahkan rest orannya j uga am at laris karena disit u bercokol pula beberapa orang pelacur cant ik yang m elayani para t am u m akan m inum dan m em beri kesem pat an kepada para t am u sam bil m akan m inum unt uk colek sana sini! Biarpun banyak penduduk Leng- sia- bun yang m enj adi korban j udi, banyak rum ah t angga berant akan, nam un t idak ada orang yang m am pu m enyalahkan Ciu- wangwe karena rum ah j udi, hot el dan rest oran yang dibukanya adalah sah dan m endapat rest u sert a perlindungan dari para pem besar set em pat . Bahkan secara t erang- t erangan, ham pir sem ua pem besar di kot a it u m enj adi langganan Ciu- wangwe. Mereka yang gem ar berj udi m enj adi langganan pokoan ( tempat judi) di mana mereka dapat berjudi apa saja sepuasnya dan tentu saja dalam m elayani para pem besar berj udi, orang- orang kepercayaan Ciuwangwe t idak berani m ain curang, t idak sepert i j ika m elayani um um di sit u dilakukan kecurangankecurangan yang m enj am in kem enangan bagi si bandar j udi. Bagi para pem besar yang senang pelesir dengan wanit a, m ereka m endat angi likoan ( hot el) di m ana t ersedia kam ar yang m ewah berikut pelacurnya yang t inggal pilih dan m ereka m em peroleh pelayanan ist im ewa! Bagi yang m engut am akan lidah dan m ulut , t ersedia rest oran yang m enyediakan at au m engirim arak wangi dan m asakan lezat ! Kesewenang- wenangan Ciu- wangwe t idaklah t am pak at au t erasa secara langsung oleh penduduk. Hanya apabila ada orang berani m endirikan t em pat j udi, rest oran at au hot el baru yang m enyaingi perusahannya, m aka diam - diam t ukang pukulnya akan bert indak dan m em aksa si pem ilik perusahan it u unt uk m enut up pint u dan m enurunkan papan nam a perusahan! Boleh orang lain m em buka akan t et api harus

135

Bu Kek Siansu
kecil- kecilan dan mengirim "pajak" sebagai penghormatan kepada Ciu- wangwe! Akan t et api, beberapa bulan belakangan ini t erj adilah kegem paran- kegem paran di daerah kot a Leng- sia- bun. Kegem paran yang t erasa oleh kaum pria yang doyan pelesir di rest oran dan hot el m ilik Ciuwangwe. Hanya bedanya, kalau kegem paran para penduduk dusun disert ai t angis, adalah kegem paran di hot el- hot el it u diiringi suara ket awa gem bira sungguhpun di m alam hari j uga m engakibat kan t angis m nyedihkan. Apakah yang t erj adi di kedua t em pat it u? Di kot a Leng- sia- bun, di dalam hot el m ilik Ciuwangwe, kini seringkali t erdapat " barang baru" , yait u pelacur- pelacur m uda yang baru, dan daun- daun m uda sepert i ini paling disuka oleh bandot - bandot t ua yang t idak segan- segan m em buang uang sebanyaknya unt uk m em et ik daun- daun m uda it u! dan di dalam t em pat - t em pat rahasia di belakang hot el, di dalam kam ar- kamar gelap sering kali t erj adi hal yang m engerikan di m ana seorang gadis rem aj a dipaksa dan dicam buki, disiksa sam pai m ereka it u t erpaksa m enyanggupi unt uk dij adikan pelacur dan m elayani kaum pria! Dan sekali dara rem aj a ini m elayani seorang t amu, segala akan berj alan lancar dan beberapa bulan kem udian perem puan rem aj a it u akan m enj adi seorang pelacur kelas t inggi yang dij adikan rebut an! Pada wakt u yang bersam aan, t erj adi geger di dusun- dusun di sekit a daerah it u. Banyak t erj adi pem belian gadis- gadis m uda, bahkan banyak t erj adi penculikan dan peram pokan secara t erang- t erangan dilakukan oleh gerom bolan peram pok ganas! Keluarga gadis ini m elakukan penyelidikan dan m ereka akhirnya dapat m enem ukan anak gadis m ereka di Leng- sia- bun, dalam keadaan yang m enyedihkan karena sudah m enj adi pelacur- pelacur! Ada yang lenyap sam a sekali, bahkan ada yang t erlunt a- lunta sebagai seorang wanit a gila! Mereka ini adalah gadis- gadis yang berkeras t idak m au m enj adi pelacur. ada yang disiksa sam pai m at i, dan ada yang diperkosa dan akhirnya m enj adi gila! Tent u saj a banyak di ant ara m ereka yang m elapor kepada pem besar di Leng- sia- bun, akan t et api m ereka it u m alah dim aki- m aki karena dianggap m enghina Ciu- wangwe. Dikat akan bahwa anak m ereka m enj adi pelacur, hal ini adalah orang t ua m ereka yang t idak t ahu m alu dan t ak dapat m endidik anak, sekarang ada Ciu- wangwe yang m enam pung m ereka sehingga t idak kelaparan, mengapa mereka itu malah melapor dan menuntut Ciu- wangwe? Mereka melaporkan bahwa anak gaisnya di culik orang yang t ernyat a anak gadis m ereka it u t ahut ahu t elah m enj adi pelacur di hot el m ilik Ciu- wangwe, m alah dij at uhi hukum an rangket karena m enghina Ciu- wangwe, dan pelaporan m ereka it u dianggap fit nah karena t idak ada bukt i bahwa anak m ereka diculik! Mem ang ada saj a j alan dan alasan para penegak hukum yang t elah diperbudak oleh hart a yang m ereka t erim a dari Ciuwangwe it u, disam ping suguhan anak- anak perawan hasil penculikan! Unt uk m elakukan penculikan sendiri, t ent u saj a para pem besar ini m erasa m alu. Kini ada yang m enculikan unt uk m ereka, hat i siapa yang t akkan senang? Karena sudah m erasa t ersudut dan t idak berdaya lagi, akhirnya m ereka t eringat akan nam a besar Lam- hai Seng- j in, Maj ikan pulau kura- kura yang t erkenal sebagai seorang pert apa yang suka m enolong kesukaran orang lain yang m em erlukan pert olongan. Terut am a sekali m ereka yang m em punyai anak perem puan dan yang m erasa gelisah kalaukalau pada suat u m alam akan t iba giliran m ereka didat angi penculik yang akan m elarikan anak m ereka, segera berm ufakat unt uk m it a pert olongan pert apa it u dan akhirnya berangkat lah serom bongan orang m enuj u ke pulau Kura- kura. Lam - hai Seng- j in m enerim a pelaporan m ereka dan m erasa kasihan, m aka dia m engut us m urid t unggalnya yang sudah m ewarisi ilm u kepandaiannya unt uk m ewakilinya m enyelidiki dan m em beri haj aran kepada kom plot an penj ahat it u. Juga dia m em beri ij in kepada m uridnya unt uk m erant au selam a sat u t ahun. Set elah m em beri banyak nasihat , berangkat lah Kwee Lun seorang diri naik perahu m enuj u ke darat an besar dan t anpa disangkanya, dia t elah berj um pa dengan Han Swat Hong put eri keraj aan Pulau Es! Pada hari it u kot a Leng- sia- bun sibuk sepert i biasa. Keadaan t et ap ram ai dan biasa sepert i t idak t erj adi sesuat u dan sepert i t idak akan t erj adi sesuat u. Tidak

136

Bu Kek Siansu
ada seorang pun yang t ahu, di ant ara sebagian besar penduduk yang m em ang t idak m em ikirkan lagi, bahkan m alam t adi t elah t erj adi sepert i biasa, yait u pem erkosaan dara- dara culikan baru sepert i seklom pok dom ba disem belih, dan t idak ada pula yang t ahu bahwa pagi hari it u m uncul dua orang yang akan m endat angkan perubahan besar di kot a it u, m enim bulkan geger yang akan m enggem parkan kot a dan akan m enj adi bahan cerit a sam pai bert ahun- t ahun lam anya. Set elah m enyelidiki di m ana let aknya rum ah m akan m ilik Ciu- wangwe, Kwee Lun m engaj ak Swat Hong mendatangi rum ah m akan it u. Sebuah rum ah m akan yang bangunannya indah dan besar, dengan cat baru dan di depan rum ah m akan t erdapat t ulisan dengan huruf besar " RUMAH ARAK" yang berart i rest oran. " Hong- m oi, engkau lapar bukan? Mari kit a m akan dan m inum di sini." Swat Hong m em andang heran. Bukankah ini rum ah m akan m ilik Hart awan Ciu yang m enj adi pem im pin kom plot an penj ahat di kot a ini yang akan dibasm i Kwee Lun? Dia m em andang dan m elihat m at a pem uda it u bersinar, kem udian Kwee Lun m em ej am kan sebelah m at a penuh art i. Swat Hong t ersenyum geli. Mengert ilah dia kini. Pem uda it u hendak m engaj aknya m akan sam pai kenyang lebih dulu sebelum t urun t angan. Dan m em ang dia m erasa lapar sekali! " Aku t idak bisa bekerj a t anpa m akan lebih dulu," pem uda it u berkat a lirih ket ika m ereka m em asuki rum ah m akan dan Swat Hong t ersenyum - senyum . Sepagi it u, rum ah m akan sudah t erisi set engahnya oleh m ereka yang beruang, karena rumah makan ini terkenal sebagai rumah makan mahal. Dua orang pelayan, pria dan wanit a, yang wanit a m asih m uda dan genit , dengan waj ah yang dit ut up warna put ih dan m erah yang t ebal sepert i t em bok dikapur dan digam bar, m enyam but m ereka dengan sikap m anis. Kwee Lun dan Swat Hong diant ar ke sebuah m ej a kosong di sudut dan dengan suara lant ang Kwee Lun m em esan m akanan dan m inum an yang paling lezat , dalam j um lah banyak sekali. Para pelayan m enj adi t erheran- heran m endengar pesanan m asakan yang pant asnya unt uk m enj am u sepuluh orang! Akan t et api m elihat sikap kasar dari pem uda t inggi besar it u, pula m elihat dua bat ang pedang dan kipas yang dilet akan di at as m ej a, m ereka t idak berani banyak cakap dan m elayani m ereka. Diam - diam seorang pelayan m em beri t ahu kepada kepala t ukang pukul yang berada di dalam . Dua orang t ukang pukul yang berpakaian biasa, dan dengan sikap biasa pula, keluar dari dalam dan berj alan lewat dekat m ej a Kwee Lun dan Swat Hong. Kedua orang t idak perduli dan berpura- pura t idak m elihat . Juga Swat Hong m elanj ut kan m akan sam bil kadang - kadang t ersenyum geli m enyaksikan bet apa t em annya it u m akan dengan lahapnya. Dia belum m enghabiskan set engah m angkok, Kwee Lun sudah m enyapu bersih lim a m angkok. Ket ika dua orang it u lewat, Swat Hong hanya melirik sebentar dan mengerahkan ilmu sehingga telinganya terbuka dan dapat menangkap dengan ketajaman luar biasa ke arah kedua orang itu yang masih berjalan- jalan di ruangan itu, seolah- olah sedang memriksa dan kadangkadang m em benarkan let ak kursi dan m ej a yang kosong. " Aku t idak m engenal m ereka," t erdengar yang kurus pucat berkat a. " Tapi gadis it u hebat ....," kat a orang ke dua yang pendek dan berperut gendut . " Kalau dia bisa didapat kan, t ent u Loya ( Tuan Tu) akan m em beri banyak hadiah kepada kit a." " Hushh... apa kau m au m enyaingi pekerj aan Tian- ci- kwi ( Set an Berj ari Besi) ?" " Ah, siapa t ahu, dengan cara halus bisa m endapat kan dia...." " Tapi pem uda it u kelihat an j ant an! " " Huh, t akut apa? Orang kasar sepert i it u...." " Tapi j angan m em ancing keribut an, Lot e, kit a nant i t ent u dim arahi Loya." " Aku t idak bodoh, m ari kit a pergunakan cara halus. Lihat , m ereka t elah selesai m akan. Raksasa it u m akannya m elebihi babi! " Swat Hong yang sedang m inum ham pir t ersedak karena geli hat inya m endengar t em annya yang gem bul it u dim aki sepert i babi. Akan t et api Kwee Lun agaknya t idak m em pedulikan sesuat u dan t idak m elakukan penyelidikan sepert i Swat Hong, t idak m endengar m akian it u dan m engelus- elus perut nya yang kenyang. Dia kelihat an puas sekali telah dapat makan minum secukupnya di dalam restoran itu. Pada saat itu dua orang t ukang pukul t adi sudah m engham piri m ereka. Yang kurus pucat sudah m enj ura

137

Bu Kek Siansu
sam bil berkat a, " kam i m ewakili Ciu- wangwe pem ilik rest oran ini m enghat urkan selam at dat ang kepada Jiwi." Sebelum Kwee Lun yang t erheran- heran m enj awab, Si Gendut pendek sudah m enyam bung sam bil m enyeringai dalam usahanya unt uk t ersenyum ram ah. " Tent u Jiwi dat ang dari j auh dan lelah. Maj ikan kam i j uga memiliki hotel yang paling besar, paling bersih dan paling baik di kota ini, letaknya di sebelah kiri rum ah m akan ini. Jiwi akan dapat m engaso dengan enak di hot el kam i dan kalau Loya kam i m endengar bahwa Jiwi adalah t am u dari j auh, t ent u biayanya akan diberi pot ongan separuhnya." Kwee Lun sudah m engerut kan alisnya, m ukanya m erah dan dia seakan- akan m em peroleh kesem pat an m ulai beraksi. " kalian berani m engganggu kam i yang sedang m akan?" Mendadak kakinya t ert endang uj ung kaki Swat hong dan ket ika dia m em andang, dia m elihat isyarat dalam sinar m at a gadis it u, m aka dia hanya m engerut kan alis dan t idak m elanj ut kan kat a- kat anya. Swat Hong sendiri segera berkat a kepada dua orang it u dengan suara ram ah dan sikap m anis, " Kalian sungguh ram ah, t ent u m aj ikan kalian adalah seorang yang m engenal pribudi. Baik, kam i m em ang hendak berm alam barang dua hari di kot a ini. Akan t et api m elihat keram ahan kalian, aku ingin bert em u dengan m aj ikan kalian unt uk m enghat urkan t erim a kasih." Dua orang it u saling pandang. " Marilah kam i ant arkan Nona dan Tuan agar m em peroleh kam ar yang paling baik di hot el, kem udian kam i akan melapor kepada majikan kami...." "Tidak usah repot- repot!" Swat Hong berkata cepat . " Tem anku ini m asih hendak m elanj ut kan m akan m inum ....heiii! Pelayan t am bah araknya! Biarlah saya yang m enem ui m aj ikan kalian dan m em ilih kam ar di hot el sebelah. Kam i sudah m endengar t ent ang kebaikan hat i m aj ikan kalian dari pem besarpem besar di kot a ini, dan kam i m em ang ingin m int a pekerj aan. Aku ingin bekerj a apa saj a yang pant as dan t em anku it u.... dia t ent u bisa m enj adi seorang penj aga keselam at an. Dapat dibayangkan bet apa girangnya hat i kedua orang it u. Sudah t erbayang di depan m at a bet apa m ereka akan m enerim a puj ian berikut hadiah dari Ciu- wangwe. Seorang nona begini cant ik j elit a sepert i bidadari, t anpa susah payah dat ang sendiri ke depan m ulut , t inggal m em buka m ulut dan m encaplok saj a! Ciuwangwe t ent u senang sekali, bukan unt uk hart awan it u sendiri yang kesenangannya bukan m em eluk wanit a cant ik, m elainkan unt uk m enyenang hat i para pem besar set em pat . Ciu- wangwe sendiri kesenangannya hanya sat u, yait u uang dan kedudukan! " Bagus sekali kalau begit u, Nona! Kebet ulan pada saat ini Ciuwangwe sedang m enj am u pem besar yang paling t erhorm at di kot a ini. Mereka sedang berpest a di ruangan belakang hot el kam i. Mari kam i ant ar Nona ke sana! " " Tidak usah, kalian di sini saj a m elayani t em anku! " Sam bil berkat a dem ikian Swat Hong sudah bangkit berdiri dan cepat laksana kilat kdua t angannya bergerak sepert i seorang wanit a yang m enepuk- nepuk pundak kedua orang it u dengan ram ahnya, akan t et api dapat dibayangkan bet apa kaget rasa hat i kedua orang t ukang pukul it u ket ika t iba- t iba t ubuh m ereka m enj adi lem as dan kaki t angan m ereka t ak dapat digerakan lagi. " Ha- ha, duduklah kalian, m ari t em ani aku m inum arak! " Kwee Lun yang dapat m elihat gerakan t em annya it u cepat bangkit berdiri, kakinya bergerak dan kedua lut ut m ereka t elah t erkena t endangan uj ung sepat unya sehingga t erlepas sam bungannya. Sam bil t ersenyum Kwee Lun sudah m endudukan m ereka di at as bangku di kanan kirinya! Para t am u hanya m elihat em pat orang it u sepert i beram ah t am ah, m aka m ereka t idak t ert arik lagi, hanya t ert arik kepada Swat Hong yang m em ang sej ak t adi t elah m enj adi perhat ian pandang m at a para t am u pria yang berada di dalam rest oran. Mereka m enahan napas m elihat dara cant ik j elit a it u dengan langkah gont ai m eninggalkan rest oran, m em bawa dua bat ang pedang dan sebuah kipas, " Aku pinj am dulu ini! " kat a Swat Hong t adi kepada Kwee Lun yang hanya m em andang dengan t erheran- heran m elihat kedua senj at anya dibawa pergi oleh Swat Hong. " Agar kau t idak kesalahan m em bunuh orang! " kat a pula Swat Hong dan Kwee Lun t ersenyum . Kiranya gadis it u t idak ingin m elihat dia m em bunuh orang, m aka sengaj a m em bawa pergi kedua senj at anya. Di dalam hat inya dia

138

Bu Kek Siansu
m ent ert awakan Swat Hong. Apakah t anpa kedua senj at a it u kaki dan t anganku t idak m am pu m em bunuh orang? Pula, apakah dia seekor harim au yang haus darah? Biarlah, pikirnya. Gadis it u m asih belum percaya kepadanya, dan dia akan m em perlihat kan kelihaianya t anpa bant uan senj at a. Sam bil t ert awa- t awa kepada dua orang t ukang pukul yang duduk sepert i boneka dan t ak m am pu bergerak it u, Kwee Lun melanjutkan minum arak. Karena hawa mulai panas disebabkan oleh hawa arak, pem uda perkasa ini m elepaskan kancing baj unya sehingga t am pak ram but halus dit engah dadanya yang bidang dan kokoh kuat it u. Tiba- t iba seorang pelayan m engham piri m ej a Kwee Lun. pelayan ini t adi m elihat ket idak waj aran pada kedua t ukang pukul yang duduk berhadapan dengan pem uda it u. Mengapa m ereka t idak bergerak- gerak dan duduk dengan lem as, dan ket ika dia bert em u pandang, t ukang pukul yang gendut pendek it u m engej apkan m at a kepadanya sedangkan dari kedua m at a t ukang pukul kurus pucat it u keluar dua t it ik air m at a. Maka dia cepat m engham piri dan m elihat dari dekat . " m au apa kau? pergi! " Kwee Lun m em bent ak dan pelayan it u kaget sekali, lalu lari pergi m asuk ke dalam unt uk m elaporkan keanehan it u kepada kepala t ukang pukul yang lain. Kwee Lun bukanlah seorang yang bodoh. Dan m aklum bahwa pelayan it u t elah m elihat keadaan dan t ent u akan m elapor ke dalam . Maka dia m em andang ke sekeliling dan m encari akal. Ket ika dia m elihat segulung t am bang yang besar dan kuat , t im bullah akalnya. Dia bangkit berdiri, melangkah lebar ke dekat meja pengurus, menyambar gulungan tambang itu dan berkat a dengan suara lant ang yang dit uj ukan kepada para t am u yang duduk di ruangan rest oran it u, " Sem ua orang yang berada di dalam rest oran ini harap lekas pergi! Rest oran ini akan am bruk! " Kem udian sekali m elom pat t ubuhnya t elah berada di luar rest oran. Di ikat kan uj ung t am bang ke pilar di depan, pilar yang ikut m enyangga at ap, kem udian dia m em bawa uj ung t am bang yang lain ke j alan depan rest oran. Dengan m em egang uj ung t am bang, m ulailah pem uda raksasa ini m enarik t am bang, m elalui at as pundak kanannya yang m enonj olkan ot ot besar yang am at kuat nya. Tam bang besar it u m enegang, kem udian t erdengar suara berkerot ok. Orang- orang sudah mulai lari keluar rumah makan itu dan mereka ada yang ketawat awa geli m enyaksikan pem uda it u m enarik t am bang. Tent u pem uda it u sudah m abok, pikir m ereka. Mana m ungkin m erobohkan bangunan yang besar it u dengan cara dem ikian? Menarik t am bang yang diikat kan pada pilar yang dem ikian besar dan kuat nya. Kalau t idak m abok t ent u sudah gila! Mem ang m em but uhkan t enaga gajah unt uk dapat m enum bangkan pilar yang sedem ikian kokohnya. Kwee Lun m engerahkan t enaga, m at anya t erbelalak, dahinya penuh keringat dan m ulut nya m engeluarkan gerengan yang langsung keluar dari dalam pusarnya, seluruh t ubuhnya m enarik t am bang dengan pem usat an perhat ian dan t enaga. " Krakkk....! " Pilar yang kokoh kuat it u pat ah t engahnya! Orang- orang bert eriak kaget dan m ulai berlari- lari ket akut an. Terdengar bunyi hiruk pikuk ket ika akhirnya, at ap rum ah m akan it u runt uh ke bawah dan m enyusul debu m engebul t inggi dibarengi t eriakant eriakan m engerikan dari dalam di m ana m asih banyak pekerj a rest oran it u yang t eruruk. Di ant ara suara hiruk pikuk ini t erdengar suara ket awa dari Kwee Lun yang m asih m em egang t am ban besar it u di kedua t angannya. Tali besar it u sudah t erlepas dari pilar dan kini m enj adi senj at a di kedua lengan yang dilingkari ot ot it u. Tem pat it u m enj adi sunyi dan biarpun banyak sekali penduduk kot a yang berlarilarian dat ang, m ereka hanya m enont on dari j auh saj a, t idak ada yang berani m endekat i rest oran yang sudah runt uh it u. Belasan orang t ukang pukul dat ang berlarian, dari belakang rest oran yang roboh dan dari rum ah j udi yang berada di sebelah kanan rest oran. " I t u orangnya....! " Seorang pelayan rest oran yang berhasil m enyelam at kan diri m enuding ke arah Kwee Lun. " Tangkap penj ahat ....! " "Serbu....!" "Bunuh....!" Lima belas orang tukang pukul dengan bermacam senjata di t angan m ereka, belari- lari dat ang m enyerbu dan m engurung Kwee Lun. Pem uda ini m asih t ersenyum lebar, t ali t am bang t adi m asih m elingkar- lingkar di kedua lengan,

139

Bu Kek Siansu
kdua kakinya t erpent ang lebar dan sikapnya gagah sekali, m em buat lim a belas orang t ukang pukul it u m erasa gent ar dan ragu- ragu unt uk m endahului m aj u m enyerang. Seorang yang t elah m erunt uhkan sebuah bangunan sepert i rest oran it u, sudah j elas m em iliki t enaga gaj ah! Apalagi m elihat sikap yang dem ikian gagah. " Haha- ha, hayo m aj ulah! Mengapa ragu- ragu? Hayo keroyoklah aku! Mem ang aku datang untuk membasmi komplotan yang merajalela di Leng- sia- bun. Kalian ini anak buah si keparat Ciu Bo Jin, bukan? Mana itu hartawan Ciu jahanam, si penculik gadis orang! Suruh dia keluar, biar kuhancurkan kepalanya! " " Serbu....! ! " Kepala t ukang pukul, seorang she Ma yang j uga m em iliki ilm u kepandaian t inggi dan m enj adi t angan kanan Ciu- wangwe, berseru set elah diam - diam dia m engut us seorang anak buahnya untuk melaporkan kepada Ciu- wangwe di hotel, dan seorang anak buah lagi disuruh m int a bala bant uan di m arkas keam anan! Tiga belas orang t ukang pukul, dipim pin oleh Ma Siu m enyerbu dengan senj at a m ereka. Akan t et api, Kwee Lun t ert awa bergelak dan begit u kedua lengannya bergerak, t ali besar yang panj ang m enyam bar dan m enj adi gulungan sinar yang besar panj ang. Set iap senj at a pengeroyok yang t erbent ur t ali it u t erlepas dari pegangan pem iliknya sehingga terdengarlah t eriakan- t eriakan kaget karena dalam segebrakan saj a, lim a orang t ukang pukul kehilangan senj at a m ereka dan dua orang lagi t erpelant ing roboh dan t ak dapat bangun kem bali karena t ulang punggung dan t ulang iga m ereka pat ah oleh hant am an t am bang! Ma Siu m enj adi m arah sekali dan dengan nekat dia bersam a sisa anak buahnya m enyerbu dan m enghuj ankan senj at a m ereka kepada Kwee Lun. Nam un pem uda Pulau Kura- kura ini sam bil t ert awa m elakukan perlawanan seenaknya. Teringat dia oleh perbuat an Swat Hong yang m enyingkirkan pedang dan kipasnya, karena andaikat a dia m enggunakan dua senj at a it u, agaknya sekarang sem ua t ukang pukul sudah roboh kehilangan nyawa m ereka! Dan dia t ahu bahwa biang keladi sem ua kej ahat an adalah orang She Ciu, adapun para t ukang pukul ini hanya orang- orang yang m encari nafkah m engandalkan ilm u silat m ereka! Biarpun cara m encari nafkah dengan m enj adi t ukang pukul adalah perbuat an sesat yang m enim bulkan kekej am an, nam un andaikat a t idak ada Hart awan Ciu yang m enj adi sum ber m aksiat , agaknya m ereka t idak akan berani m engacaukan sebuah kot a besar sepert i Leng- sia- bun. Diam - diam dia m em benarkan t indakan Swat Hong dan t eringat dia akan nasehat suhunya bahwa di dalam perant auannya, dia t idak boleh sem barangan m em bunuh orang! Sem ent ara it u, di dalam hot el j uga t erj adi keribut an hebat . Dengan dua bat ang pedang t ergant ung di punggung dan kipas gagang perak di t angan, Swat Hong m em asuki hot el besar di sebelah kiri rest oran. Gedung yang lebih m egah dan besar daripada rest oran it u. Dengan sikap t enang dia berjalan m enaiki anak t angga di depan hot el. Beberapa orang pelayan segera m enyam but nya dengan waj ah berseri. Biarpun dara ini m em bawa pedang di punggung nam un kecant ikannya yang luar biasa m enyenangkan hat i para pelayan. " Apakah Nona m encari kam ar,?" t anya seorang pelayan dengan senyum m anis. " Bukan m encari kam ar, akan t et api aku m encari Ciu- wangwe," j awab Swat Hong t anpa m em perdulikan senyum it u. Waj ah para pelayan it u berubah dan pandang m at a m ereka m em bayangkan kecurigaan, " Tidak sem udah it u m encari Loya, Nona,. Pula, kam i t idak t ahu dim ana adanya Ciu- wangwe sekarang ini...." kat a seorang di ant ara m ereka dengan suara hat i- hat i. " Aihhh, kalian t idak perlu m em bohong lagi. Aku m engenal Ciu- wangwe dan kedat anganku adalah at as undangannya. Aku t ahu bahwa dia sedang m enj am u kepala Daerah di ruangan belakang hot el ini, bukan? Kalau kalian t idak m em bawaku m enem uinya sekarang j uga, bukan hanya dia akan m arah kepada kalian, akan t et api aku pun akan kehabisan sabar! " Mendengar ini, para pelayan it u saling pandang, lalu seorang di ant ara m ereka m em anggil t ukang pukul. Dua orang tukang pukul datang berlari. Mereka adalah bekas- bekas perampok yang t ent u saj a dapat m enduga bahwa wanit a ini t ent ulah seorang kang- ouw, m aka m ereka segera m em beri horm at dan bert anya, " Ada urusan apakah Lihiap hendak

140

Bu Kek Siansu
bert em u dengan Ciu- wangwe?" Swat Hong m em andang t aj am dan m engam bil sikap m arah. Eh, pangkat kalian di sini apa sih berani bert anya- t anya urusan ant ara aku dan Ciu- wangwe? Lekas bawa aku m enem uinya! " " Tapi... t api.... Loya sedang menjamu Tai- j in, t idak boleh diganggu! " " Siapa m au m engganggu? Aku j ust ru dat ang m em enuhi panggilannya unt uk m eram aikan pest a! Kalau dia m arah, biar aku yang t anggung j awab, akan t et api kalau kalian berani m enolak aku, dia akan m arah kepada kalian! " Dua orang t ukang pukul it u saling pandang, kem udian m ereka berkat a, " Baiklah m ari kam i ant arkan Lihiap ke dalam ." Mereka t elah m engam bil keput usan dengan isyarat m at a unt uk m engawal dan m enj aga wanit a cant ik ini. Kalau wanit a ini m em punyai niat buruk, m asih belum t erlam bat unt uk m erobohkannya. Siapa t ahu, m elihat kecant ikannya yang luar biasa, sangat boleh j adi kalau dia ini adalah seorang yang dikenal oleh Ciu- wangwe dan benar- benar dipesan dat ang unt uk m enghibur pem besar! Dengan langkah t enang sam bil m engipasi lehernya dengan kipas gagang perak, Swat Hong diiringkan dua orang t ukang pukul it u m elalui gang yang berliku- liku, m elalui kam ar- kam ar di m ana t erdapat wanit awanit a cant ik yang rat a- rat a waj ah layu dan berm at a sayu, ada yang duduk sendiri, ada pula yang sedang berduaan dengan seorang t am u pria karena t erdengar suara ket awa laki- laki di dalam kam ar it u, kem udian t ibalah m ereka di ruangan belakang yang luas dan t erj aga oleh belasan orang praj urit pengawal yang bercam pur dengan para t ukang pukul. Ket ika m ereka bert iga m uncul, t ent u saj a para penj aga dan pengawal it u m em andang Swat Hong dengan penuh perhat ian. Dua orang t ukang pukul it u agaknya bangga dapat m engawal nona cant ik j elit a ini m aka sam bil m engacungkan ibu j ari, m ereka berkat a, " Barang baru! Pesanan khusus! " Maka t ert awa- t awalah para pengawal dan t ukang pukul it u m em asuki pint u besar yang m enem bus ke dalam ruangan. Karena m ereka yang duduk m engit ari m ej a besar t erdiri dari belasan orang berpakaian serba indah dan m asing- masing dilayani dan dirubung wanit a- wanit a m uda dan cant ik, Swat Hong t idak m au bert indak sem brono. Dia t idak t ahu siapa Ciu- wangwe dan yang m ana pula kepala daerah, m aka dia m enant i dan m em biarkan dua orang t ukang pukul it u m elapor. Akan t et api sebelum kedua orang yang sudah m enj ura penuh horm at it u sem pat m em buka m ulut , seorang yang berpakaian serba biru, berusia lim a puluh t ahun, bert ubuh t inggi kurus dan m at anya besar sebelah, t elah bangkit berdiri dan m em bent ak, " Haii! Mengapa kalian lancang....?" Dia t idak m elanj ut kan ucapannya karena m at anya t elah dapat m elihat Swat Hong dan kini dia m em andang heran. Swat Hong sudah m elangkah ke dalam , m endekat i m ej a lalu bert anya kepada lakilaki berpakaian biru it u, " Apakah aku berhadapan dengan Ciu- wangwe?" Laki- laki it u m em ang benar Ciu Bo Jin. Dia m erasa curiga sekali, akan t et api karena dia m engandalkan ilm u kepandaiannya sendiri, pula dia berada di t em pat nya sendiri yang terjaga oleh para anak buahnya, bahkan disitu terdapat pula pasukan pengawal Gu- t aij in, m aka sam bil t ersenyum lebar dia m elangkah m aj u dan berkat a, " Benar, aku adalah orang she Ciu yang kau cari. Nona siapakah dan .... heiiit t t ...." Dia cepat m engelak ke kiri ket ika m elihat nona cant ik it u sudah m enerj ang m aj u, m enggunakan t angan kirinya m encengkeram ke arah pundaknya. Gerakan Ciuwangwe cukup cekat an dan m em ang dia t elah m em iliki ilm u kepandaian t inggi. Akan t et api sekali ini dia berhadapan dengan seorang dara perkasa yang luar biasa lihainya, m aka baru saj a dia m engelak, t ahu- t ahu uj ung gagang kipas t erbuat dari perak it u t elah m enot ok j alan darah di punggungnya dan dia t erpelant ing roboh dengan t ubuh lem as! Perist iwa ini t erj adi sedem ikian cepat nya sehingga t idak t erduga sam a sekali, m aka t erj adilah keribut an hebat . Seorang yang t ubuhnya gendut dan m ukanya m erah sekali, agaknya sudah m abok, bangkit berdiri dengan tiba- t iba sehingga dua orang pelacur cant ik yang t adinya duduk di at as kedua pahanya t erpelant ing j at uh sam bil m enj erit . Orang ini berpakaian m ewah dan sikapnya agung- agungan, sam bil berdiri dia berseru, " Hai... pengawal....! Tangkap

141

Bu Kek Siansu
pengacau...! ! " Pint u depan t erbuka dan para pengawal sert a t ukang pukul berlom pat an m asuk. Swat Hong girang sekali karena dia dapat m enduga bahwa Si Gendut it ulah t ent u yang m enj adi kepala daerah, orang she Gu yang diperalat oleh Ciu- wangwe. Maka dia sudah meloncat ke dekat orang itu, mencabut pedangnya dan m enem pelkan pedang t elanj ang di leher Gu- t aij in sam bil m enghardik, " Gu- taijin! Cepat kau m enyuruh m undur sem ua orangm u! Kalau t idak, pedang ini akan menyembelih lehermu!" Swat Hong menahan geli hatinya melihat tubuh yang gendut itu menggigil semua dan dia menahan jijiknya karena terpaksa menggunakan tangan kanan m encengkeram leher baj u. Apalagi ket ika m elihat bet apa lant ai di bawah pem besar gendut ini t iba- t iba m enj adi basah, t ersiram air yang m em basahi celana, dia m akin j ij ik. I ngin dia m em bacokkan pedangnya saj a agar m anusia t iada guna ini t ewas seket ika kalau saj a dia t idak t eringat bahwa j alan sat u- sat unya unt uk m em bant u Kwee Lun m em bereskan urusannya hanyalah m enangkap pem besar ini hidup- hidup. Biarpun m anusia gendut ini t idak ada gunanya, akan t et api m anusia yang bagaim ana pun pengecut dan lem ahnya, sekali m enduduki pangkat besar, m enj adi seorang yang sewanang- wenang dan j ahat ! Makin pengecut dan m akin rendah wat ak orang it u m akin celakalah kalau dia m em peroleh kedudukan t inggi, karena kerendahan akalnya akan m em buat dia m akin j ahat , m em pergunakan kekuasaannya yang kebet ulan m elindunginya. " Am ... am pun...! " Gi- t aij in dengan sukar sekali m engeluarkan suara. Mendengar bet apa lehernya akan disembelih, apalagi disem belih berlahan- lahan dan sedikit dem i sedikit , m em bayangkan bet apa lehernya akan t erasa perih dan nyeri, berlepot an darah, bet apa dia akan m at i dan m eninggalkan sem ua kem ewahan dan kesenangan hidupnya, ham pir dia pingsan! " Suruh m ereka m undur...! " Kem bali Swat Hong m em bent ak dan t angan kirinya m encengkeram t engkuk. " Ouwwhhh...! " Pem besar it u m enj erit , m engira t engkuknya disem belih, padahal hanyalah j ari- j ari saj a yang m encengkeram nya. " Heii, m undur kalian! Tolol sem ua! Mundur kat aku, dan j angan m em bant ah... Li... Lihiap...! " Para pengawal m enj adi bingung dan dengan m uka pucat dan m at a t erbelalak lebar m ereka m undur sam bil m em andang penuh kesiapsiagaan. Pada saat it u, seorang tukang pukul telah berhasil membebaskan totokan Ciu- wangwe dan kini hartawan itu dengan m arahnya bert eriak kepada t ukang pukulnya, " Cepat serbu iblis bet ina it u....! " Swat Hong kem bali m encengkeram t engkuk Gu- t aij in. " Suruh j ahanam Ciu it u m enyerah! " " Ouughh... Ciu- wangwe... j angan...! j angan m elawan....! " Ciuwangwe yang m elihat bet apa kepala daerah it u t elah dit angkap, sej enak m enj adi bingung sekali. Akan t et api t ent u saj a dia t idak sudi m enyerah dan pada saat it u t erdengar suara hiruk pikuk di sebelah luar hot el. Tahulah Swat Hong bahwa Kwee Lun tentu telah turun tangan pula mulai bereaksi, maka dia berkata, "Orang she Ciu! Kej ahat anm u berakhir di hari ini j uga! " Selagi Ciu- wangwe kebingungan, t iba- tiba dat ang seorang t ukang pukulnya dari luar dan bert eriak- t eriak, " Celaka... Loya.... ada orang m erobohkan rest oran kit a....! " Akan t et api orang ini t erbelalak m em andang ke dalam dengan m uka pucat . Dia m elihat kepala daerah berada dalam cengkeram an wanit a cant ik it u dan m elihat Ciu- wangwe berdiri bingung. Mendengar ini, Ciu- wangwe m enj adi kaget dan m engira bahwa t ent u banyak m usuh yang dat ang m enyerbunya. Dia t idak m au m em pedulikan Gu- t aij in lagi. Dalam keadaan sepert i it u, yang t erbaik baginya adalah berada di luar dan berusaha m engerahkan seluruh anak buahnya unt uk m enghadapi para penyerbu. Keselam at an Gu- taijin t ent u saj a t idak dipedulikannya lagi. Maka t anpa berkat a apa- apa lagi dia lalu berlari hendak keluar dari ruangan besar it u. " Hendak kem ana engkau?" Swat Hong cepat m enot ok roboh Gu- t aij in dan m eloncat ke depan. Tubuhnya m elayang dan Ciuwangwe hanya melihat sesosok bayangan berkelebat dan tahu- tahu wanita cantik itu t elah berdiri di depannya! " Serbu....! " Bent aknya dan dia sendiri yang sudah m encabut goloknya m em bacok dengan cepat sam bil m engerahkan seluruh t enaganya. " Sing- sing- singggg....! ! " Bert ubi- t ubi golok it u m enyam bar dan kini anak

142

Bu Kek Siansu
buahnya j uga sudah m em bant unya. Swat Hong cepat m em ut ar pedangnya dan m engerahkan sinkang disalurkan kepada pedang it u. " Cringcring- t rang- trangtrang....!!" Sebatang golok di tangan Ciu- wangwe dan empat batang pedang terlepas dari pegangan pem iliknya, dan t iga orang pengeroyok roboh t erkena t ot okan kipas perak di t angan kirinya! Melihat kelihaian wanit a ini, bukan m ain kaget nya hat i Ciuwangwe. Dia sudah berpengalam an dan t ahulah dia bahwa kalau dia m elanj ut akn, dia sendiri akan roboh di t angan wanit a lihai ini. Maka j alan t erbaik baginya adalah lari keluar unt uk m engerahkan anak buahnya dan kalau perlu m elarikan diri! Melihat orang yang hendak dit angkapnya it u lari, Swat Hong hendak m engej ar, akan t et api pada saat itu dia melihat tubuh gendut Gu- taijin sedang dibantu oleh beberapa orang m eninggalkan t em pat it u. Celaka, pikirnya. Dia harus dapat m enangkap pem besar it u , kalau t idak, t ent u akan sukar m enundukan sem ua orang. Maka dia lalu m engerahkan t enaga pada t angan kanan, t angan kanan it u bergerak dan pedangnya m eluncur sepert i kilat m enyam bar ke depan. Terdengar j erit m engerikan dan t ubuh Ciu- wangwe t erj ungkal ke depan, dadanya dit em busi pedang dari punggung dan dia t ewas seket ika! Swat Hong t elah m elom pat dan t angan kanannya kem bali sudah m encabut pedang, kini pedang m ilik Kwee Lun yang dicabut nya. Kipas di t angan kirinya m erobohkan em pat orang pengawal yang t adi m em bant u Gut aij in dan mereka roboh tertotok, kemudian sebelum pembesar itu sempat bergerak, dia sudah mencengkeramnya lagi, bahkan yang dicengkeram adalah pundaknya sam bil mengerahkan tenaga. "Aughhh... add... duh... duh...duhhh... ampun, Lihiap....!" Gut aij in bert eriak- t eriak sepert i seekor babi disem belih. " Hayo cepat suruh m ereka sem ua m undur! " bent ak Swat Hong, kem bali pedang t elanj ang dit ekankan di t engkuk pem besar it u. " Mundur kalian sem ua! Keparat ! Kurang aj ar kalian! Disuruh m undur t idak cepat m ent aat i perint ah! Apa m int a dihukum gant ung sem ua! " Mendengar pem besar ini dengan suara galak sekali, sepert i biasanya, m embentakbent ak, sem ua pengawal dan anak buah Ciu- wangwe t erbelalak ket akut an dan m undur. Apalagi m ereka m elihat bet apa Ciu- wangwe sudah t ewas. Para pelacur yang t adi m elayani perj am uan it u, m enj erit - j erit dan lari pont ang- pant ing, kem udian bersem bunyi di kolong- kolong m ej a dan belakangbelakang lem ari. Swat Hong m endengar suara ribut - ribut diluar, suara pert em puran. Tahulah dia bahwa Kwee Lun sedang dikeroyok. Cepat dia m enarik t ubuh pem besar Gu keluar dari hot el, kem udian dengan m encengkeram punggung baj u, dia m em bawa pem besar gendut it u m eloncat ke at as gent eng. Sem ua orang m em andang heran m elihat bet apa seorang gadis cant ik dan m uda sepert i it u m am pu m eloncat sam bil m encengkeram t ubuh seorang laki- laki bert ubuh gendut dan berat sepert i pem besar it u! Swat Hong m asih m encengkeram punggung Gu- t aij in yang pucat sekali waj ahnya, m enggigil kedua kakinya. Tent u saj a dia m erasa ngeri berdiri di at as gent eng, di pinggir sekali. Terpeleset sedikit saj a dia t ent u akan m elayang j at uh ke bawah, t ubuhnya akan rem uk! Selam a hidupnya t ent u saj a belum pernah dia naik ke at as gent eng. Akan t et api karena dia dit odong dan m erasa t akut sekali kepada wanit a perkasa yang m encengkeram punggungnya, dia m ent aat i perint ah Swat Hong dan dengan suara lant ang dia bert eriak- t eriak dari at as. " Haiii.... m undur sem ua...! " Dia m elihat pasukan keamanan sudah berada di situ, dipimpin oleh Bhongciangkun, perwira yang m engepalai pasukan keam anan. " Bhong- ciangkun, suruh sem ua pasukan m udur! " Pada saat it u, Kwee Lun sedang m engam uk. Tadinya yang m engeroyoknya hanyalah para t ukang pukul anak buah Ciu- wangwe dan dia sudah berhasil m erobokan belasan orang dengan t am bang di t angannya yang kini sudah berlepot an darah. Akan t et api dia kewalahan j uga ket ika pasukan keam anan dat ang. Pasukan yang jumlahnya ham pir serat us orang it u t ent u saj a t idak m ungkin dapat dia lawan seorang diri hanya m engandalkan segulung t am bang! Maka dalam am ukannya it u, dia sudah menerima pula beberapa bacokan senjata tajam yang melukai pinggul dan punggungnya, m em buat pakaiannya berlepot an darah pula. Nam un, sedikit pun

143

Bu Kek Siansu
sem angat nya t idak m enj adi kendur, bahkan darah dipakaiannya it u seolah- olah m em buat dia m akin bersem angat lagi! Melihat bet apa at asannya berada di at as gent eng dan m engeluarkan perint ah it u, Bhong- ciangkun t erkej ut dan cepat dia m engeluarkan aba- aba m enyuruh pasukannya m undur. Kwee Lun dit inggalkan seorang diri, berdiri dengan kedua kakinya t erbent ang lebar, pakaian dan t am bangnya berlum uran darah, gagah bukan m ain sikapnya. Sisa anak buah Ciuwangwe t idak ada lagi yang berani m aj u set elah para pasukan it u diperint ahkan m undur. Apalagi ket ika m ereka it u m endengar bisikan t em an- t em an bahwa Ciuwangwe t elah t ewas oleh dara di at as gent eng it u! Ket ika Kwee Lun m elihat bet apa Swat Hong t elah berdiri di at as gent ang sam bil m em bawa Gu- t aij in, diam diam dia m enj adi kagum bukan m ain. Kiranya gadis it u am at cerdiknya. Tahulah dia bahwa dara perkasa it u hendak m enggunakan kekuasaan Gu- t aij in unt uk m em basm i kej ahat an yang m eraj alela di Lengsia- bun! Maka sam bil t ert awa bergelak dia pun m elom pat dan t ubuhnya m elayang ke at as gent eng di m ana dia berdiri di sam ping Swat Hong dan berkat a m engej ek, " Hong- m oi, bagaim ana kalau kit a orong t on kot oran ini ke bawah saj a dan m elihat perut nya berham buran di bawah sana?" " Jangan.... j angan ... aduh, am punkan saya...." Gu- t aij in berkat a m em ohon dengan rasa t akut m enghim pit hat inya. " Kalau begit u, hayo kau m em buat pengum unan dan perint ah, m enurut kan kat a- kat aku." Swat Hong berbisik di belakang pem besar it u. Gu- t aij in m engangguk- angguk, kem udian t erdengarlah suaranya lant ang m engikut i perint ah yang dibisiki oleh Swat Hong. " Hai, dengarlah baik- baik sem ua pem bant uku dan sem ua penduduk Leng- sia- bun! Hari ini, dengan bant uan Kwee- t aihiap dari Pulau Kura- kura, aku baru m enget ahui bahwa di kot a ini t erdapat kom plot an penj ahat yang diket uai oleh Hart awan Ciu Bo Jin! Mereka m endirikan rum ah j udi, hot elpelacuran, dan rum ah m akan di m ana t erj adi segala m acam kej ahat an perj udian curang, pem aksaan t erhadap gadis- gadis yang diculik unt uk dij adikan pelacur dan penyogokan t erhadap para pet ugas pem erint ah! Sekarang Ciu- wangwe t elah t ewas! Anak buahnya akan diam puni asal saj a m ulai sekarang m au m erobah watak dan tidak lagi melakukan kejahatan ! Dan semua wanita yang dipaksa menjadi pelacur, akan dibebaskan dan dikirim pulang ke rum ah m asing- m asing dengan m endapat bekal m asing- m asing serat us t ail perak! Sem ua ini harus dij alankan sebaiknya. Kalau ada yang m elanggar dia akan dihukum sesuai dengan hukum an pem erint ah, dan selain it u, j uga Kwe- t aihiap sendiri akan selalu m engawasi dan m em beri hukum an t erhadap m ereka yang t idak m ent aat i perint ah kam i ini! " Tibat iba t erdengar sorak- sorai penduduk dan t erj adi keribut an karena beberapa t ukang pukul yang pernah berbuat sewenang- wenang, t iba- t iba dikeroyok oleh penduduk! Sekali ini, para pasukan pem erint ah t idak ada yang berani m elindunginya para t ukang pukul it u sehingga m ereka m engaduh- aduh dan t idak berani m elawan, m engalam i pem ukulan penduduk sam pai babak belur! Dan para wanit a pelacur yang berasal dari keluarga baik- baik dan yang dipakasa m enj adi pelacur dengan berbagai ancam an dan siksaan, sudah m enangis riuh- rendah, m enangis saking girang, t erharu, dan j uga duka. " Awas kau, Gu- t aihiap. Kalau sam pai sem ua ucapanm u t adi t idak kau laksanakan, kam i akan m elaporkan bahwa engkau sebagai seorang kepala daerah t elah diperalat oleh orang j ahat dengan j alan sogokan, dan selain it u, kam i akan dat ang kem bali khusus unt uk m enyem belih leherm u! " Swat Hong berbisik dengan nada penuh ancam an. Pem besar it u m engangguk- anggukkan kepalanya seperti seekor ayam m em at uki gabah. Ket ika dia m engangkat m uka m em andang, t ernyat a kedua orang it u t elah lenyap dan dia hanya berdiri sendiri saj a di at as gent eng yang begit u t inggi. Tent u saj a dia m enj adi ngeri sekali. " Bhong- ciangkun.... t olong.... t olong saya t urun....! " Bhong- ciangkun t elah m elihat bayangan kedua orang it u berkelebat , m aka dia lalu m eloncat naik ke at as gent eng dan m em bawa pem besar it u t urun. " Bagaim ana, apakah ham ba harus m engej ar m ereka?" Bhongciangkun berbisik. " Hushhh...! Bodoh! Masih unt ung kit a...." Pem besar it u berbisik

144

Bu Kek Siansu
kembali kemudian berkata lantang. "Hayo laksanakan perintahku tadi!" Demikianlah, perist iwa it u m enj adi sem acam dongeng sam pai bert ahun- t ahun di kalangan penduduk Lengsia- bun, dan bet apa pun orang m encari kedua orang pendekar it u, t ak pernah lagi m ereka m elihat m ereka. Mem ang Swat Hong dan Kwee Lun t elah m elarikan diri dari kot a it u dan m elanj ut kan perj alanan m ereka dengan hat i puas. Hebat kau, Hong- moi!" Kwee Lun memuji. "Luar biasa sekali! Kalau tidak ada engkau yang m em bant uku dengan siasat yang cerdik it u, t ent u akan lain j adinya! Aku m asih sangsi apakah aku akan m am pu m enaklukkan m ereka! Tent u akan m enj adi banj ir darah, dan m ungkin aku sendiri akhirnya m at i dikeroyok." " Ah, sudalah, Kweet wako. Kau yang hebat , m enggunakan t ali m erobohkan rest oran dan dengan hanya bersenj at akan t am bang dapat m enghadapi pengeroyokan puluhan orang! " " Tidak ada art inya dibandingkan dengan sepak t erj angm u, Moi- m oi. Engkau t elah m em bant uku sehingga t ugasku selesai dengan hasil baik. Tak pernah aku akan dapat m elupakan ini! Dan sebagai balasannya, aku akan m em bant um u m encari ibum u dan suhengm u sam pai berhasil pula! " Waj ah Swat Hong m enj adi suram , dan dia m enarik napas panj ang. " Hem m ... I bu dan Suheng pergi t anpa m eninggalkan j ej ak. Ke m ana aku harus m encarinya?" " Jangan khawat ir, Moi- m oi. Kalau m em ang I bum u dan Suhengm u m endarat t ent u kit a akan dapat m encari m ereka. Tem pat yang paling t epat unt uk m encari seseorang adalah kot a raj a. Mem ang belum t ent u m ereka berada di sana, akan t et api set idaknya, di kot a raj a m erupakan sum ber segala ket erangan sehingga kit a dapat m endengar- dengar kalau- kalau ada berit a dari dunia Kang- ouw t ent ang m ereka." Swat Hong Menyet uj ui pendapat ini Mem ang dia pun berm aksud m engunj ungi kot a raj a, karena bukankah nenek m oyangnya dahulunya j uga seorang anggaut a keluarga raj a? Mereka m elanj ut kan perj alanan dari luar kot a Leng- sia- bun. Makin lam a m elakukan perj alan bersam a Kwee Lun, set elah lewat sebulan kurang lebih, m akin sukalah Swat Hong kepada pem uda it u. Dia m akin m engenal Kwee Lun, sebagai seorang yang benar- benar j ant an, keras hat i, t eguh dan t idak m em punyai sedikit pun pikiran m enyeleweng, suka bergurau, kasar akan t et api kekasaran yang bukan bersifat kurang aj ar m elainkan karena t erbawa oleh kej uj urannya yang waj ar dan t ak pernah m au m enyem bunyikan sesuat u. Pendeknya, pem uda it u benar- benar seorang laki- laki yang gagah perkasa lahir bat hinnya. Di lain pihak, Kwee Lun j uga m erasa kagum kepada Swat Hong set elah dia m engenal sifat - sifat t em anya ini yang am at cerdik, periang, j enaka nam un keras hat i dan kadang- kadang t am pak keagungan sikapnya sebagai seorang put eri keraj aan! Nam un dara it u sam a sekali t idak angkuh at au som bong, sungguhpun kini dia harus m engakui bahwa ilm u kepandaiannya sedikit nya kalah dua t ingkat dibandingkan dengan dara Pulau Es ini! Oleh karena inilah m aka ada keseganan di dalam hat inya sehingga biarpun dia yang selalu m em im pin perj alanan dan m enj adi pet unj uk j alan, nam un dalam segala hal, sam pai dalam m em ilih m akanan dan penginapan yang selalu dibayar oleh Kwee Lun, pem uda ini selalu m int a pendapat dan keput usan Swat Hong! Pada suat u hari t ibalah kedua orang ini di kaki Pegunungan Tai- hang- san yang am at luas dan m em anj ang dari selat an ke ut ara. Tuj uan m ereka adalah Tiang- an ibu kot a Keraj aan Tang. Di dusun ini m ereka berhent i unt uk m akan di sebuah warung nasi sederhana. Mereka m em esan nasi, m i, dan arak, Kwee Lun m int a air hangat unt uk Swat Hong agar nona ini dapat m encuci m uka set elah m elakukan perj alanan yang panas berdebu. Ket ika Swat Hong sedang bercuci m uka dengan air hangat , m enggosok m ukanya dengan air bersih sam pai kedua pipinya kem erahan, dia m endengar percakapan m enarik dari arah dapur warung it u. " Bukan m ain ram enya ! " t erdengar suara seorang laki- laki, agaknya pekerj a di dapur it u. " Lebih ram ai daripada kalau m elihat dua orang j ago silat berkelahi! Bayangkan saj a! Harim au m engaum sam pai bum i t erget ar, lalu m enubruk dan m encakar ke arah biruang it u. Akan t et api si biruang j uga t idak kalah lihainya, dia m enggereng dan aku yakin engkau sendiri t ent u akan t erkencing- kencing

145

Bu Kek Siansu
m endengar gerengan it u! Dia dapat m enangkis dengan kaki depannya dan balas m enggigit . Mereka saling cakar, saling gigit , m ula- m ula saling m enangkis lalu bergum ul! Bukan m ain! " " Ahhh, sudahlah. Siapa percaya om onganm u? Paling- paling kau m elihat ornag m engadu j angkerik dan kau kalah bert aruh lagi! Lebih baik lekas m asak air, t ehnya ham pir habis." Swat Hong cepat m engham piri Kwee Lun dan berbisik, " Agaknya di sini ada j ej ak suhengku! " " Ehhh....? Kwee Lun bert anya heran. " Ada orang di dapur t adi bercerit a t ent ang pert andingan ant ara harim au dan biruang, dan kalau tiadk salah perasaan hatiku, itu biruang kepunyaan suheng." "Eh? Suhengm u m em elihara biruang?" Kwee Lun bert anya m akin heran lagi. " Belum kucerit akan kepadam u, Twako. Ket ika aku berpisah dari suheng, dia sedang m engobat i seekor biruang t erluka. Tent u biruang it u m enj adi j inak dan m enj adi binat ang peliharaannya." " Aduh! Suhengm u t ent u hebat sekali, berani m engobat i seekor biruang! " " Sudahlah, Twako. Kalau kelak dapat bert em u, engkau dapat berkenalan dengan suheng sendiri. Sekarang harap kau suka t anyakan kepada pekerj a di dapur t ent ang biruang yang dicerit akannya t adi." " Mengapa t idak panggil saj a dia ke sini? Hei, Bung pelayan! " Pelayan it u segera m engham piri. " Tolong kau panggilkan sahabat yang t adi berbicara t ent ang biruang, dia bekerj a di dapur. Cepat ! " Pelayan it u t erheran- heran, akan t et api dia m asuk j uga ke dalam dan t ak lam a kem udian, dia kem bali ke sit u bersam a seorang laki- laki m uda yang kelihat an takut- t akut . Laki- laki ini kurus kecil dan m em akai pakaian koki, agaknya dialah t ukang at au pem bant u t ukang m asak di warung it u. " Saya.... saya t idak t ahu apaapa...." begit u t iba di dekat m ej a, orang it u berkat a. Kwee Lun m enggerakkan t angannya t ak sabar. " Aahh, m engapa t akut ? Kam i hanya t ert arik m endengar cerit a biruang bert anding dengan harim au. Di m anakah kej adian it u dan bagaim ana asal m ulanya?' Kwee Lun m engeluarkan sepot ong uang dan m em berikan kepada orang it u. " Nah, cerit akanlah! Jangan t akut - t akut , ini hadiahnya." Orang it u m enerim a hadiah dan set elah m em andang ke kanan kiri dia bercerit a. " Pagi t adi, sebelum m asuk bekerj a saya m enem ani Saudara Misan saya m engant ar segorobak kayu bakar ke at as sana...." dia m enuding ke luar warung. " Ke at as m ana?" " Di Puncak Awan Merah, t em pat t inggal Siangkoan Lo- enghiong. Kam i berdua m engant arkan kayu bakar dan m elihat ribut - ribut di sana. Mendengar gerengan- gerengan dahsyat , saya lalu m enyelinap dan m endahului saudara saya, m engint ai. Ternyat a di sana sedang diadakan perm ainan yang luar biasa, yait u adu harim au dan biruang! Ent ah m ilik siapa biruang it u, akan t et api harim au it u saya kenal sebagai harim au peliharaan Siangkoan Lo- engkeng yang biasanya di dalam kerangkeng. Bukan m ain ramenya dan saya takut sekali. Agaknya di tempat Siangkoan Lo- enghiong ada tamu yang m em bawa biruang...." " Siapa t am unya? Bagaim ana m acam orangnya?" Swat Hong m endesak penuh ket egangan hat i. Akan t et api orang it u m enggeleng kepala. " Bagaim ana saya bisa t ahu? Di at as sana banyak orang, m uridm urid Lo- enghiong dan orang- orang sepert i kam i t idak m em punyai hubungan dengan Puncak Awan Merah, kam i t idak diperbolehkan naik kecuali kalau ada pesanan dari sana. Hanya kadang- kadang saj a Siocia at au m urid Lo- enghiong yang t urun ke sini. Melihat pert andingan yang am at dahsyat it u, saya ket akut an dan cepat lari t urun lagi...." Swat Hong mengerutkan alisnya. Mungkinkah suhengnya "kesasar" sampai di tempat ini? Tiba- t iba Kwee Lun bert anya, " Yang kausebut Siangkoan Lo- enghiong it u, apakah dia bernam a Siang- koan Houw?" Nam a lengkapnya m ana saya t ahu?" Orang it u m enggeleng kepala, kelihat annya t akut - t akut . " Julukannya Tee Tok ( Racun Bum i) , bukan?" Orang it u m akin ket akut an, akan t et api dia m engangguk. " Pernah saya mendengar muridnya bicara menyebut julukan itu.... harap Ji- wi maafkan, saya m asih banyak pekerj aan di dapur." Dia t idak m enant i j awaban, kem bali ke dapur dengan sikap ket akut an. " Aihh, kiranya Teek- t ok sekarang t inggal di t em pat ini! " kata Kwee Lun. "Twako, siapakah racun bumi itu?" "Hemm, seorang yang luar biasa! Dapat dikat akan saingan suhu, m enurut cerit a suhu, sukar dikat akan siapa yang

146

Bu Kek Siansu
lebih unggul. Dia adalah seorang di ant ara t okoh- t okoh dunia kang- ouw yang sudah t erkenal sekali. Aku sendiri baru m endengar nam anya dari suhu saj a. Menurut suhu, dia adalah seorang yang gagah perkasa dan j uj ur, akan t et api sayang sekali, hat i ganas dan kej am t erhadap orang yang t ak disukainya dan dia am at lihai dan berbahaya sebagai seorang ahli racun yang m engerikan. Karena it u j ulukannya adalah Racun Bum i. Sungguh t idak dinyana bahwa kit a bakal bert em u dengan orang sepert i dia! " " Hem m ... kalau begit u engkau sudah m erencanakan unt uk m engunj ungi Puncak Awan Merah, Twako?" " Tidak begit ukah kehendakm u? Agaknya sangat boleh j adi biruang it u m ilik suhengm u. hong- m oi, karena di t em pat t inggal seorang sepert i t eek- t ok, segala apa m ungkin saj a t erj adi. Tent u saj a am at m encurigakan dan hat iku t idak akan m erasa puas kalau belum m enyelidiki ke sana. Kalau t ernyat a suhengm u t idak berada di sana kit a t urun lagi karena aku t idak m em punyai urusan dengan Tee- t ok." Swat Hong m engangguk. " Baiklah, kalau begit u m ari kit a berangkat . Ent ah m engapa, bet apa pun sedikit kem ungkinannya bahwa suheng berada di sana, akan t et api hat iku m erasakan sesuat u yang aneh. Kit a harus m enyelidiki ke sana." Set elah m em bayar harga m akanan berangkat lah kedua orang it u ker Pulau Awan Merah, t ent u saj a diikut i pandang m at a penuh keheranan dan kegelisahan oleh pelayan warung yang m ereka t anyai di m ana adanya puncak it u. Set elah m ereka m endekat i bukit dan t iba di lereng at as, tampaklah bangunan besar di puncak yang dim aksudkan it u. Mereka t idak m engert i m engapa puncak it u disebut Puncak Awan Merah, padahal ket ika m ereka t iba di sit u di siang hari it u, awannya t idak berwarna m erah m elainkan biru dan put ih sepert i biasa. " Twako, kedat angan kit a hanya m enyelidiki apakah suheng berada di sana. Oleh karena it u, t idak baik kalau kit a dat ang bert erang, bisa m enim bulkan kecurigaan orang dan kita tidak berniat mencari perkara dengan tokoh kang- ouw itu, bukan? Maka, sebaiknya kit a berpencar dan kau m enyelidiki dengan m em ut ar dari kiri, aku dari kanan, sam pai kit a saling bert em u dan kalau suheng t idak ada di sana, dan biruang it u bukan biruangnya, kit a segera kem bali ke dusun t adi dan berm ain saj a di sana." " Baik, Hong- m oi, dengan dem ikian, penyelidikan dapat dilakukan lebih leluasa dan lebih cepat ." Mereka m endaki t erus dan set elah t iba di luar pagar t em bok gedung besar di puncak it u, m ereka berpencar. Swat Hong yang m engam bil j alan dari kanan m enyelinap di at as pohon- pohon dan bat u gunung. Tak lam a kem udian dia m endengar suara orang dan cepat dia m engham piri dan m engint ai. Apa yang dilihat nya m em buat dia ham pir bert eriak saking kaget nya! Dapat dibayangkan bet apa heran dan kaget nya ket ika dia m elihat suhengnya, Kwa Sin Liong, t erbelenggu kedua pergelangan t angannya dan set engah t ergant ung pada pohon! Tubuh at as suhengnya it u t elanj ang dan hanya celana dan sepat unya saj a yang m enut upi t ubuhnya. Sin Liong kelihat an t enang saj a biarpun dahinya berpeluh, dan agaknya pem uda it u m em ang sengaj a m em biarkan dirinya t erbelenggu, karena Swat Hong yakin sekali bahwa apabila dikehendaki oleh suhengnya itu, apa sukarnya m em bebaskan diri dari belenggu sepert i it u? Tent u ada sesuat u yang aneh t elah t erj adi di sini! Swat Hong m enahan kem arahannya yang m em buat dia ingin m enyerbu, dan dia m em andang kepada orang- orang lain it u. Dua orang yang berpakaian seragam , m em akai t opi aneh, m enj aga di belakang pohon dan t angan m ereka m eraba gagang golok. Seorang kakek yang t inggi besar, brewok dan m at anya lebar, dengan m arah- m arah m engham piri Sin Liong, t angan kanannya m em egang senj at a yang aneh. Bukan senj at a, pikir Swat Hong, m elainkan t anduk rusa yang agaknya hendak dipakai sebagai senj at a. Tanduk rusa sepert i it u saj a apa art inya bagi suhengnya? Yang m em buat dia t erheran- heran adalah m elihat suhengnya berada di t em pat it u dan m udah saj a dibelenggu dan dihina! Apa yang t elah t erj adi? Sepert i t elah kit a ket ahui, Sin Liong m eninggalkan Pulau Neraka bersam a Ouw Soan Cu, gadis Pulau Neraka yang hendak m encari ayahnya. Sebet ulnya, m encari ayahnya ini hanya m erupakan alasan yang dicari- cari saj a oleh

147

Bu Kek Siansu
Ouw Kong Ek, ket ua Pulau Neraka. Put eranya Ouw Sin Kok, ayah kandung Soan Cu, t elah m enghilang selam a belasan t ahu, t ak pernah kem bali dan t idak pula ada kabarnya sehingga m enim bulkan dugaan besar bahwa Ouw Sian Kok t elah m eninggal dunia. Selain it u, andaikat a m asih hidup, t ak seorang pun m enget ahui di m ana t em pat t inggalnya. Soan Cu dit inggal ayah kandungnya sej ak bayi bagaim ana m ungkin dia dapat m encari ayahnya yang belum pernah dilihat nya dan t ak diket ahui ke m ana perginya it u? Kalau Ouw Kong Ek m engunakan alasan ini dan m endesak kepada Sin Liong agar m em bawa dara it u bersam a, keluar dari Pulau Neraka, adalah karena sebenarnya dia ingin agar cucunya it u dapat berj odoh dengan Sin Liong. Dia sering kali m engingat akan nasib cucu yang di cint anya it u. Jauh dari dunia ram ai, akhirnya cucunya it u t erpaksa hanya akan berj odoh dengan seorang penghuni Pulau Neraka! Maka m unculnya Sin Liong unt uk pert am a kalinya it u sudah m endat angkan harapan unt uk m enj odohkan cucunya dengan pem uda it u. Apalagi ket ika Sin Liong dat ang unt uk kedua kalinya, bahkan pem uda it u t elah m enolong Soan Cu, dan m enolong Pulau Neraka yang diserbu baj ak laut . Tent u saj a dia t idak dapat m em aksa pem uda it u unt uk m enj adi calon suam i cucunya, akan t et api dengan kesem pat an m elakukan perant auan bersam a, dia harap akan t im bul cint a di dalam hat i pem uda it u t erhadap cucunya yang dia t ahu m erupakan seorang gadis yang cant ik j elit a dan berilm u t inggi, j uga berwat ak baik. JI LI D 12 Dem ikianlah, Sin Liong m eninggalkan Pulau Neraka bersam a Soan Cu dan j uga biruang raksasa yang m enj adi j inak it u. Dengan sebuah perahu yang disediakan oleh Ouw Kong Ek, berangkat lah m ereka m eninggalkan Pulau Neraka, berlayar m elalui pulau- pulau di daerah it u. Akhirnya, karena t idak berhasil m enem ukan Swat Hong yang dicaricarinya, j uga t idak t am pak seorang pun m anusia t inggal di daerah laut an berbahaya it u, Sin Liong m engem udikan perahunya m enuj u ke arah barat , ke darat an besar. " Besar kem ungkinan Sum oi m endarat , dan kalau sam pai belasan t ahun ayahm u t idak pernah pulang dan t idak ada berit anya, j uga bukan t idak m ungkin Ayahm u t inggal di sana," kat anya kepada Soan Cu. " Mari kit a m encari j ej ak m ereka di darat an besar." Soan Cu t idak m em bant ah dan dem ikianlah, akhirnya m ereka m endarat dan hanya beberapa hari lebih dulu dari pendarat an yang dilakukan oleh Swat Hong yang t ersesat j alan dan m endarat j auh di selat an sehingga dia bert em u dengan Kwee Lun. Karena dari pant ai ke barat banyak m elalui daerah yang sunyi, pegunungan dan hut an, m aka adanya biruang bersam a m eraka t idak t erlalu m engganggu benar. Pula, binat ang it u sudah j inak sekali, bahkan dapat disuruh unt uk m encari buah- buahan, pandai pula m encari air di dalam hut an yang lebat . Pada suat u hari, t ibalah m ereka di pegunungan Tai- hang- san. Tanpa m ereka ketahui, mereka tiba di lereng puncak Awan Merah, daerah kekuasan Tee- tok. Ketika m ereka m em asuki sebuah hut an besar, t iba- t iba t erdengar aum an harim au yang am at keras sehingga suara it u m engget arkan hut an. Mendengar aum an ini, biruang m enj adi m arah sekali. Sin Liong cepat m em egang dan m em eluk binat ang it u, khawat ir kalau- kalau biruang it u akan lari dan berkelahi dengan harim au yang m engaum it u. " Hai.......! Ada harim au! Biar kut angkap dia! " Sian Cu sudah berlarilari m em bawa senj at anya yang aneh dan ist im ewa, yait u sebat ang cam buk berduri yang m enj adi senj at a kesayangannya disam ping pedang. Dia t ert awa- t awa gem bira sehingga Sin Liong t idak t ega unt uk m elarangnya. Dara it u m asih rem aj a, m asih bersifat kanak- kanak dan hanya kadang- kadang saj a t am pak kedewasaanya. Dia m aklum bahwa gadis yang sej ak bayi dibesarkan di t em pat sepert i Pulau Neraka it u, t ent u saj a m em iliki sifat - sifat liar, akan t et api dia pun m engenal dasar- dasar baik dari hat i Soan Cu. Selain m em biarkan gadis it u bergem bira, j uga dia percaya penuh bahwa ilm u kepandaian Soan Cu sudah t inggi sekali, cukup t inggi unt uk m elindungi diri sendiri. Soan Cu berlari cepat sekali dan dalam berlari ini t im bullah kegem biraan yang luar biasa di dalam hat inya. Di depan Sin Liong, dia selalu harus m enekan perasaannya karena sikap pem uda ini sungguh penuh wibawa dan m em buat dia

148

Bu Kek Siansu
t unduk, t akut dan horm at seolah- olah pem uda it u m enj adi penggant i kakeknya. Akan t et api sesunguhnya sem enj ak dia m eninggalkan Pulau Neraka, ada perasaan gembira yang disem bunyikannya dan baru sekarang dia m em peroleh kesem pat an unt uk m elepaskan kegem biraannya yang m eluap- luap. I ngin dia bersorak gem bira kalau saj a t idak t akut t erdengar oleh Sin Liong! Maka kegem biraannya it u disalurkannya lewat kedua kakinya yang berloncat an dan berlari- lari m enuj u ke arah suara harim au yang m engaum . Karena aum an harim au it u keras sekali, m udah saj a bagi Soan Cu unt uk m enuj u ke t em pat it u dan akhirnya dia m elihat seekor harim au yang am at besar dan kuat , berbulu indah sekali, loreng- loreng hit am kuning berdir i m em andang ke arah seorang laki- laki yang berdiri ket akut an. Harim au it u membuka- buka m oncongnya, sepert i seorang anakkecil yang m enggoda kakek it u, m enakut nakut inya, kadang- kadang m engaum dan t iap kali dia m engaum , kedua kaki orang it u m enggigil dan t erdengar suara t erput us- put us dan dia m encoba unt uk bersem bunyi di belakang sebat ang pohon, " Kakak harim au yang baik..... saya..... saya..... A- siong pedagang kayu bakar..... hendak m engirim kayu bakar kepada Loenghiong....... harap j angan m engganggu saya......" Harim au it u sebet ulnya adalah harim au peliharaan Tee- t ok dan biasanya dikurung dalam kerangkeng dan hanya pada wakt u- wakt u t ert ent u saj a dibiarkan berkeliaran di hut an. Agaknya penj aga harim au pada hari it u t erlupa sehingga harim au it u t et ap berkeliaran pada wakt u Asiong sedang m engirim kayu bakar ke Puncak Awan Merah. A- siong adalah seorang di ant ara pedagang- pedagang kayu bakar yang suka m enj ual kayu bakar di t em pat it u. Melihat harim au it u, Soan Cu lalu berseru, " Kucing besar, kau nakal sekali! " Harim au it u m enggereng dan m enoleh. Ket ika dia m elihat seorang wanit a m em engang cam buk, dia m enggereng dan cepat sekali, berlawanan dengan t ubuhnya yang besar, dia sudah m em balik dan m enubruk. " Celaka......! " A- siong berseru kaget , m em eluk bat ang pohon dan m enahan napas, m em belalakan m at anya. Akan t et api, t anpa m engelak Soan Cu sudah m enggerakan cam buknya. "Tar- tar!" ujung cambuk itu menyambar dan membelit kaki depan kanan harimau itu dan sekali t arik, t ubuh harim au yang sedang m eloncat it u t erbant ing ke at as t anah. Harim au it u m enggereng dan kelihat an m arah sekali. Kem bali dia m enubruk, akan t et api sekali ini, Soan Cu yang sedang gem bira m eloncat ke kiri dan m elihat t ubuh harim au it u m enyam bar lewat , dengan t angan kirinya dia m enangkap ekor harim au yang panj ang dan sekali t ubuhnya bergerak, dia t elah berada di at as punggung harim au! Sam bil t ersenyum - senyum dan m em buat gerakan sepert i orang m enunggang kuda, Soan Cu m enggerak- gerakan uj ung cam buk m enyabet i m oncong harim au it u. Tent u saj a harim au it u m erasa kesakit an karena uj ung cam buk it u berduri. Dengan kem arahan m eluap harim au it u berusaha m encakar dan m enggigit uj ung cam buk yang m ungkin dikira seekor ular yang ganas, nam un t ak pernah berhasil bahkan bagaikan bunt ut seekor ular, uj ung cam buk it u t erus m elecut i hidung dan bibirnya sam pai berdarah! " Hiyooooo.... kucing binal, hayo j alan baikbaik! " Sepert i seorang pem ain sirkus yang m ahir, Soan Cu m enunggang harim au, t angan kiri m encengkeram kulit leher, t angan kanan m em perm ainkan cam buknya dan harim au it u yang m engej ar uj ung cam buk yang digerak- gerakan, m elangkah perlahan- lahan! A- siong yang m enont on sam bil berusaha m enyem bunyikan diri di balik bat ang pohon, t erbelalak dan ham pir t ak percaya kepada m at anya sendiri. Beberapa kali t angan kirinya m enggosok kedua m at anya dengan uj ung lengan baj u karena dia m engira bahwa dia sedang dalam m im pi, akan t et api t et ap saj a penglihat an yang luar biasa it u m asih t am pak oleh kedua m at anya. " Soan Cu, turunlah......!!" Tiba- tiba terdengar teguran dan mengenal suara Sin Liong, lenyaplah sem ua kegem biraan yang liar dari gadis it u. Dia m asih t ersenyum , akan t et api m at anya kehilangan sinar yang berapi- api dan liar t adi, dan dia berkat a, " Liongkoko, dia.... dia hendak m enerkam orang....." ucapannya ini bersifat m em bela diri karena dia ket akut an oleh pem uda it u sedang m engganggu harim au. " Turunlah

149

Bu Kek Siansu
berbahaya sekali permainanmu itu!" Soan Cu meloncat turun dan tentu saja harimau yang m arah it u cepat m encakar dengan kecepat an luar biasa. Nam un dia hanya mencakar t em pat kosong kerena gerakan Soan Cu lebih cepat lagi. Dara ini t elah m eloncat ke dekat Sin Liong dan m engej ek ke arah harim au dengan m eruncingkan m ulut nya dan m engeluarkan bunyi, " Hiii.....! Hiiiiii! ! " Sem ent ara it u, biruang yang t adinya sudah dapat dit enangkan oleh Sin Liong dan dij ak m enyusul Soan Cu, set elah kini m elihat harim au, t im bul kem bali kem arahannya, bahkan lebih hebat dari pada tadi. Pada saat Sin Liong lengah karena menegur gadis itu, tiba- tiba biruang itu melompat ke depan dan menggereng sambil memperlihatkan taringnya, memandang harimau dengan mata merah. Harimau itu agaknya tidak merasa gentar menghadapi t ant angan ini. Dia pun m enggereng dan m enubruk. Akan t et api biruang it u sudah siap. Ket ika harim au it u m enubruk dengan kedua kaki depan lebih dulu, dia m enggerakan kaki depan kanan yang am at kuat , m em ukul dari sam ping dan m enangkis kedua kaki depan harim au . Karena t ubuh harim au it u berada di udara, t ent u saj a dia kalah kuat dan t ubuhnya t erlem par ke bawah. Akan t et api dia sudah m eloncat lagi dan siap unt uk m elanj ut kan serangannya. " Hushhh....! Biruang yang baik, j angan berkelahi! " Sin Liong sudah m enangkap kaki depan biruangnya dan m engelus kepalanya, m enenangkannya. Akan t et api sekali ini agak sukar karena biruang it u m arah sekali, m eront a- ront a dan apa lagi m elihat harim au it u m asih m enggereng hendak m enyerangnya. " I hh, kucing licik! Hayo m undur kau! " Soan Cu m elangkah m aj u, m enggerakan cam buknya ke depan unt uk m enghalau harim au it u. "Tar- tar- t arr.....! ! " Harim au m erasa j erih m enghadapi cam buk, akan t eapi bukan berart i dia t akut karena dia m asih m enggereng- gereng m em perlihat kan t aringnya dan m at anya m erah bersinar- sinar. " Hayo pergi! Kalau t idak akan kuhaj ar kau! " Soan Cu m em bent ak. " Siapa dia berani kurang aj ar hendak m engganggu harim au kami?" Tiba- t iba t erdengar seruan nyaring dan m uncullah banyak orang di t em pat it u. Serom bongan orang yang berpakaian seragam t elah bergerak m engurung t em pat it u, dan orang yang berseru t adi, seorang kakek t inggi besar yang brewok, pakaiannya ringkas, t ubuhnya m em bayangkan t enaga yang kuat , m at anya lebar m em bayangkan kekerasan dan kej uj uran, akan t et api t arikan bibirnya m em bayangkan kekej am an. Di sam pingnya berj alan seorang gadis yang cant ik sekali, dengan pakaian yang m ewah dan indah, ram but nya dit ekuk ke at as dan diikat dengan kain kepala dari sut era m erah, dihias dengan bunga em as perm at a, pakaian yang indah it u m em bungkus ket at t ubuhnya sehingga m em bayangkan lekuk lengkung t ubuhnya yang padat dan ram ping, di pinggang yang kecil ram ping it u m elibat sehelai sabuk sut era m erah. Telinganya t erhias ant ing- ant ing bat u kem ala panj ang berwarna hij au, m enam bah kem anisan waj ahnya yang m endaun sirih bent uknya it u. Sin Liong cepat m enj ura dengan horm at dan berkat a halus, " Harap Locian- pwe sudi m em aafkan kam i yang secara t idak sengaj a m em asuki daerah ini, " kat a Sin Liong sam bil m em egangi kaki depan biruangnya. Kakek it u m em andang t aj am . Jawaban penuh kesopanan dan sepasang m at a bersinar halus t anpa rasa t akut sedikit pun it u m encengangkan hat inya. " Melanggar daerah ini m asih bukan apa- apa, akan t et api kalian berani m engganggu harim au peliharaanku. Apakah karena m em punyai biruang it u m aka kalian m enj adi som bong?" " Kam i t idak m enggangu, Locianpwe. Hanya karena harim au it u dan biruang kam i akan berkelahi m aka kam i m elerai dan m encegahnya." " Hem m ... dua ekor binat ang akan berkelahi, apa anehnya? Hanya kalau m anusia sudah m encam purinya, m aka m anusia it u lebih rendah daripada binat ang! " " Eh, t ahan t uh m ulut ! " Soan Cu m em bent ak dan m enudingkan t elunj uknya ke arah m ulut kakek gagah it u. Dara ini t idak lagi dapat m enahan kem arahan hat inya m endengar ucapan yang m enghina t adi. " Kam i m elerai karena yakin bahwa kucing hut an busuk ini t ent u akan m am pus dirobek- robek oleh biruang kami, engkau ini orang tua tidak berterima kasih, malah mengucapkan katakat a m enghina! " Sepasang m at a kakek it u besinar- sinar, bukan hanya m arah akan

150

Bu Kek Siansu
t et api j uga kagum . Kakek ini m em ang orang aneh. Melihat keberanian orang, apa lagi seorang dara m uda sepert i Soan Cu yang pada saat it u m uncul kem bali sifat liarnya karena m arah, dia kagum bukan m ain. Kakek ini adalah Siangkoan Houw yang t erkenal dengan j ulukan Tee- t ok ( Racun Bum i) , seorang gagah yang j uj ur dan t erbuka sikapnya, m aka kasar sekali dan kalau dia sudah m arah, kej am nya m elebihi harim au peliharaannya. Dia t erkenal sekali di dunia kang- ouw sebagai seorang di ant ara t okoh- t okoh besar. Dia hidup di Puncak Awan Merah it u dengan t ent ram , bersam a put eri t unggalnya, yait u gadis cant ik yang dat ang bersam anya dan yang sej ak t adi diam a saj a. Tee- t ok Siangkoan Houw sudah duda, dan hanya hidup berdua dengan put erinya yang bernam a Siangkoan Hui. Adapun orang- orang lain yang berada di sit u adalah para m urid- m uridnya yang j uga m enj adi anak buahnya, kurang lebih lim a belas orang banyaknya, di ant aranya seorang kakek yang usianya sebaya dengan dia dan rambutnya sudah putih semua. Kakek inilah yang merupakan m urid kepala dan yang t elah m em iliki kepandaian t inggi pula, bernam a Thio Sam dan berj uluk Ang- in Mo- ko ( I blis Awan Merah) . " Bagus sekali! " Kakek ini m em uj i. " Kalau begit u, m ari kit as adukan kedua binat ang it u. Hendak kulihat apakah benarbenar biruangm u dapat m engalahkan harim auku! " " Boleh! " Soan Cu m enj awab. " Jangan! Soan Cu, t idak boleh begit u! " Sian Liong berseru, kem udian dia berkat a kepada kakek it u, " Harap Locianpwe suka m em aafkan kam i dan biarlah kam i pergi dari sini sekarang j uga. Bukan m aksud kam i unt uk m engganggu siapa pun." " Kucing hit am m acam it u saj a, biar ada lim a akan diganyang oleh biruang kam i! " Soan Cu m asih m arahm arah. " Kakek som bong m engandalkan harim aunya m enakut - nakuti orang. Kalau aku t idak cepat dat ang, agaknya harim au it u sudah m akan orang t adi! Perlu diberi haj aran! " " Hayo kit a adukan m ereka! " Tee- t ok bert eriak- t eriak dengan kum is bangkit saking m arahnya. " Sebelum kedua binat ang peliharaan kit a saling diadu, j angan harap kalian akan dapat pergi dari sini! " " Kam i t idak t akut ! " Soan Cu m enj erit lagi. Mendengar ucapan kakek it u, Sin Liong m enyesal bukan m ain. Kalau dia t idak m em bolehkan biruang diadu, t ent u kakek it u bersam a t em an- temannya akan m enghalangi dia dan Soan Cu pergi dan akibat nya lebih hebat lagi. Maka dia m enghela napas dan berkat a, " Baiklah, m ari kit a lepaskan m ereka dan m elihat apakah m ereka m em ang m au berkelahi. Kuharap saj a set elah ini, kam i diperbolehkan pergi." " Koko, lepaskan biruang kit a, biar dihancurlum at kan kucing keparat it u. Tar- tar- t arrr...! ! " Soan Cu sudah m em bunyikan cam buknya di udara berkali- kali. Sin Liong m elepaskan biruangnya dan dia m engham piri Soan Cu, m em egang lengannya dan berbisik, " Soan Cu, kaut enangkanlah hat im u, j angan marah- m arah. I ngat , kit a t idak m au m elibat kan diri dalam perm usuhan dengan siapapun j uga, bukan?" Dipegang lengannya secara dem ikian halus oleh Sin Liong, seket ika api yang bernyala dalam hat i Soan Cu padam sepert i t ert im pa huj an, sem angat dan t ubuhnya lem as dan dia m enunduk sam bil m enganggukan kepalanya. Dia sepert i seekor harim au liar yang t iba- t iba m enj adi j inak! Sem ent ara it u, set elah kini dilepas keduanya dan t idak ada yang m enghalangi, kedua ekor binat ang it u m engeluarkan suara aum an dan gerengan yang dahsyat dan m engget arkan. Mualm ula m ereka saling pandang dan m asing- m asing hendak m engget arkan lawan dengan kekuat an suara, kem udian harim au yang ganas it ulah yang m ulai m enerj ang m aj u! Dengan berdiri di at as kedua kaki belakangnya, harim au it u m enubruk dan m enerkam . Akan t et api, dengan gerakannya yang agak lam ban dan t enang, nam un kuat dan t et ap sekali, biruang m enangkis t erkam an dan balas m encengkeram dengan kuku j ari kakinya yang biarpun t idak seruncing kuku harim au, nam un t idak kalah kuat nya. Kena t am paran biruang yang am at kuat it u, harim au t ergulingguling! Hanya sepasang m at anya saj a yang bersinar- sinar girang, akan t et api Soan Cu t iak berani berkut ik di dekat Sin Liong. I ngin hat inya bersorak dan m ulut nya m engeluarkan kat a- kat a m engej ek m elihat bet apa harim au it u t erguling- guling, nam un dia m erasa segan t erhadap Sin Liong. Harim au it u m eloncat lagi dan

151

Bu Kek Siansu
m enerkam m akin dahsyat . Terj adilah perkelahian yang am at dahsyat , dit engaht engah suara gerengan yang m engget arkan seluruh bukit . Pada saat it ulah koki warung yang m enem ani sudara m isannya m engant ar kayu bakar, m endapat kesem pat an m enont on harim au bert anding m elawan biruang, akan t et api karena m erasa ngeri dan t akut , dia cepat m eninggalkan t em pat it u dan berlari t urun lagi. Perkelahian yang dahsyat , seru dan m at i- m at ian. Biruang it u sudah m enderit a banyak luka di t ubuhnya akibat cakaran dan gigit an harim au, akan t et api akhirnya dia berhasil m encengkeram kepala harim au, m enindihnya dan m enggigit leher harim au, sam pai robek dan t erus luka di leher it u dirobeknya sam pai keperut ! Harim au berkeloj ot an dan m at i t ak lam a kem udian. " Heiii....! " Soan Cu bert eiak, nam un t erlam bat . Sinar hit am m enyam bar ke arah leher biruang dan binat ang ini m engeluarkan pekik m engerikan lalu roboh dan t ak bergerak lagi, m at i diatas bangkai harim au yang t adi m enj adi lawannya. " Kau m em bunuh biruang kam i! " Soan Cu m elom pat dan m enuding dengan m arah kepada kakek yang t adi m enyerang biruang dengan Hek- tok- t ing ( Paku Hit am Beracun) . " Dia pun m em bunuh harim au kami!" Tee- tok menjawab dengan mata mendelik saking marahnya. "Manusia curang kau! " Soan Cu sudah m enerj ang m aj u dan cam buknya m engeluarkan suara meledak- ledak di udara. " Tar- tar- cring- t ranggggg.....! ! " Bunga api berpij ar ket ika cam buk it u t ert angkis oleh sepasang pedang yang bersinar hit am . it ulah pedang Ban- tok- siang- kiam ( Sepasang Pedang Selaksa Racun) yang am puh dari Teet ok. Akan tetapi bukan main kagetnya ketika tadi pedangnya menangkis cambuk duri, dia m erasakan lengannya t erget ar, t anda bahwa dara m uda it u m em iliki sinkang yang am at kuat . " Heii, j angan bert em pur.....! " Sin Liong cepat m enegur,akan t et api sekali ini Soan Cu pura- pura t idak m enengarnya, apalagi kakek it u pun sudah m arah dan sudah m em balas serangannya dengan sepasang pedangnya. Terj adi pert em puran hebat sekali ant ara gadis it u dan Tee- t ok. Melihat gerakan sepasang pedang it u lihai bukan m ain dan ada m enyam bar hawa yang kuat dari lawannya, Soan Cu t idak berani m em andang ringan dan t angan kanannya sudah m encabut pedangnya. Pedang di t angan gadis ini adalah pem berian kakeknya, ket ua Pulau Neraka dan sepert i j uga cam buknya, pedang ini aneh dan am puh sekali. Bent uk pedang it u j uga berduri seperti cambuknya dan pedang itu terbuat dari tulang ular dan namanya pun Coa- kut- kiam ( Pedang Tulang Ular) t erbuat dari pada t ulang ular beracun yang t elah dikeraskan dan diperkuat dalam rendam an t et um buhan beracun sehingga keras sepert i baj a. Sedangkan cam buknya it u pun bukan cam buk biasa karena cam buk it u t erbuat dari ekor ikan hiu yang ist im ewa dan yang hanya t erdapat di pant ai Pulau Neraka. Sepert i j uga pedangnya, cam buknya it u pun m engandung bisa yang t idak dapat diobat i, kecuali oleh dia sendiri yang selalu m em bawa obat penolaknya! Sin Liong sudah m engenal kakek it u ket ika m uncul t adi, dan dia m em ang t adinya t idak m au m em perlihat kan bahwa dia t elah m engenalnya. Tent u saj a dia m engenal kakek ini yang dahulu pernah pula m em buj uknya unt uk ikut dan m enj adi m uridnya, ket ika para t okoh kang- ouw dat ang m em perebut kan dia dilereng Pegunungan Jeng- hoasan. Kini, melihat betapa Soan Cu sudah bertanding mati- matian melawan kakek itu, dia m enj adi khawat ir sekali dan cepat dia berkat a, " Locianpwe, seorang t okoh besar yang berj uluk Tee- t ok dan disegani di seluruh dunia Kang- ouw, benar- benar m engecewakan dan m erendahkan nam a besarnya kalau sekarang m elayani bert anding m elawan seorang dara rem aj a! " Mendengar ucapan it u, Tee- t ok m enj adi m erah m ukannya. Dia m enangkis pedang Soan Cu sekuat t enaga sam pai pedang it u ham pir t erlepas dari t angan Soan Cu, m elom pat m udur dan m enghadapi Sin Liong. " Hem m , orang m uda! Kau sudah m engenal aku, kalau begit u m aj ulah kau m enggant ikan gadis it u! " Sin Liong m enj ura. " Bukan m aksudku dengan kat a- kat a it u m enant angm u, Locianpwe. Saya hanya hendak m engat akan bahwa kam i berdua sam a sekali bukan dat ang unt uk bert anding." " Tapi kalian dat ang dan m engakibat kan harim au peliharaan kam i m at i. Kalau kalian t idak dat ang m engacau,

152

Bu Kek Siansu
m ana biasa harim au kam i m at i?" " Dia m am pus karena kalah dalam pert andingan yang adil! " Soan Cu m em bent ak, akan t et api m enj adi t enang kem bali karena Sin Liong m endekat inya dan m int a gadis it u m enyim pan pedang dan cam buknya kem bali. " Siangkoan Locianpwe, m em ang kam i akui bahwa harim au peliharaan Locianpwe m at i karena biruang kam i, akan t et api Locianpwe t elah m em balas kem at ian it u dengan m em bunuh biruang kam i. Bukankah it u sudah lunas art inya?" " Tidak! " Tee- t ok yang m asih m arah it u m em bent ak. " Biarpun biruangnya sudah m at i, akan t et api pem iliknya belum dihukum ! " Soabn Cu t ak dapat lagi m enahan kem arahannya. " Dihukum apa? Kau hendak m em bunuh kam i?" " Tak perlu dibunuh! Pelanggaran ke dalam daerah ini sudah m erupakan kesalahan, dan m at inya harim au t idak cukup dit ebus dengan kem at ian biruang. Pem iliknya harus dihukum rangket serat us kali , baru adil! " " Keparat ! " " Soan Cu! " Sin Liong berkat a dan m em egang lengan dara itu sehingga Soan Cu menelan kembali katakatanya. "Soan Cu, aku mita kepadam u agar kau sekarang j uga m eninggalkan t em pat ini. Biarkan aku yang berurusan dengan Siangkoan Locianpwe. Kau t urunlah dan kau t unggu aku di dusun it u. Mengert i?" Soan Cu m engerut kan alisnya dan m at anya m em andang ragu, akan t et api m elihat sinar m at a Sin Liong yang t egas dan halus it u, dia t idak dapat m enolak dan dia m engangguk. " Berangkat lah, dan t unggu aku di sana." Sin Liong berkat a lagi sam bil t ersenyum . Soan Cu m em bant ing kakinya, lalu m elot ot ke arah Siangkoan Houw, kem udian m eloncat pergi, m eninggalkan isak t ert ahan. Sem ua orang m em andang dengan kagum akan keberanian dara it u yang sekali m eloncat lenyap dari sit u, akan t et api t erut am a sekali kagum kepada Sin Liong yang bersikap dem ikian t enang dan halus, nam un ia m em iliki wibawa dem ikian besarnya sehingga gadis liar sepert i it u m enj adi dem ikian j inak dan t aat . Set elah Soan Cu pergi j auh dan t idak t am pak lagi bayangannya, Sin Liong lalu m engeluarkan kedua lengannya dan sam bil t ersenyum t enang dia berkat a, " Nah, Locianpwe. Tidak ada yang perlu diribut kan lagi. Aku sudah m engaku bersalah t elah m em asuki t em pat ini dan m enim bulkan keribut an. Biarlah aku m enerim a hukum an rangkes serat us kali agar hat im u puas." Sikap yang t enang dan halus ini dit erim a keliru oleh Siangkoan Houw. Mat anya t erbelalak lebar dan dia m enganggap pem uda it u m enant angnya, m enant ang ancam an hukum annya. " Belenggu kedua lengannya! " bent aknya kepada para m uridnya. Em pat orang m uridnya m enyerbu dan Sin Liong hanya t ersenyum saj a ket ika baj unya dibuka, kedua pergelangan lengannya diikat dengan t ali yang diikat kan pula pada cabang pohon sehingga t ubuhnya set engah t ergant ung. " Ayah.....! " Tiba- t iba dara cant ik j elit a yang sej ak t adi hanya m enont on dan selalu memandang ke arah Sin Liong penuh kagum, berkata kepada Tee- tok, "Apakah tidak berlebihan perbuat an kit a ini? Harap Ayah berpikir lagi dengan m at ang sebelum m elakukan suat u kesalahan." " Dipikir apalagi? Kit a t elah dihina orang, kalau t idak m em perlihat kan kekuat an, bukankah akan m enj adi bahan t et awaan orang sedunia?" Mendengar kat a- kat a orang t ua it u, Siangkoan Hui, gadis it u, m enunduk dan m elirik ke arah Sin Liong yang t elah siap m enerim a hukum an. " Terim a kasih at as kebaikan hat im u, Nona. Akan t et api biarlah, aku sudah siap m enghadapi hukum an. Dengan begini, habislah segala urusan dan Ayahm u t akkan m arah lagi." " Diam kau! " Tee- tok m em bent ak, kem udian m enuding kepada seorang m uridnya yang bert ubuh t inggi besar. " Am bil cam buk dan rangket dia serat us kali! " Murid it u berlari pergi dan t ak lama kemudian sudah datang kembali membawa sebatang cambuk hitam yang besar dan panj ang. Set elah m enerim a isyarat gurunya, m urid t inggi besar ini m engayun cam buknya. Terdengar suara m eledak- ledak dan cam buk it u m enyam bar ke bawah, m elecut t ubuh at as yang t elanj ang it u. " Tar.....! Tar....! Tar........! " Sem ua orang t erbelalak m em andang , penuh keheranan. Cam buk it u m enyam bar bert ubi- tubi, m elecut i t ubuh it u, m ukanya, lehernya, lengannya, dada, dan punggungnya, nam un sam a sekali t idak m em bekas pada kulit halus put ih it u! Hanya dahi pem uda it u yang berkeringat , akan t et api dahi Si Pem engang Cam buk lebih banyak lagi peluhnya!

153

Bu Kek Siansu
Sam pai serat us kali cam buk it u m enyam bar t ubuh Sin Liong dan uj ungnya sudah pecah- pecah, namun jangankan sampai ada darah yang menetes dari kulit tubuh Sin Liong, bahkan t am pak m erah saj a t idak ada seolah- olah cam buk it u bukan m elecut kulit membungkus daging, melainkan melecut baja saja! Setelah menghitung sampai serat us kali, Si Algoj o it u j at uh t erduduk, napasnya t erengah- engah dan dia menggosok- gosok t elapak t angan kanannya yang t erasa panas dan lecet - lecet. Mukanya pucat dan m at anya t erbelalak penuh keheranan dan kengerian. Sem ua anak buah at au m urid Tee- t ok t erbelalak dan pucat . Akan t et api m uka Tee- tok sendiri m enj adi m erah sekali. Tahulah bahwa pem uda it u adalah seorang yang m em iliki ilm u kepandaian t inggi dan t adi t elah m enggunakan sinkangnya sehingga t ubuhnya kebal dan t ent u saj a lecut an cam buk it u t idak m em bekas! Hal ini m enam bah kem arahan hat inya. Dia m erasa dihina dan dit ant ang. Dengan kem arahan m eluap dia m enyam bar senj at a aneh, yait u t anduk rusa yang kering it u. Tanduk rusa it u bukanlah sebuah senj at a sem barangan saj a. Tee- t ok m erupakan seorang ahli racun dan dia t elah m enem ukan t anduk rusa ini yang m em punyai daya am puh t erhadap kekebalan. Tanduk ini m engandung racun yang t ak dapat dit ahan oleh kekebalan yang bagaim ana kuat pun dan kini dalam kem arahannya, dia hendak m engaj ar pem uda ini dengan t anduk rusa ini! Pada saat it ulah Swat Hong dat ang dan m engint ai dengan m at a t erbelalak keheranan. Seluruh urat syaraf di t ubuhnya sudah t egang dan dia sudah ham pir m eloncat keluar unt uk m enolong suhengnya ket ika dia m elihat seorang gadis dat ang berlari dan berlut ut di depan kakek yang m em egang senj at a t anduk rusa it u. Melihat ini, Swat Hong m enahan diri dan t erus m engint ai. " Ayah, j angan..... j angan pukul dia dengan ini.....! " " Hui- j i ( Anak Hui) , m undurlah kau! Dia t elah m enghina kit a, m em perlihat kan dan m em am erkan kekebalannya! Hem m , hendak kulihat sam pai dim ana kekebalannya kalau dia m erasai pukulanku dengan ini! " Dia m engam angkan senj at a aneh it u. " Jangan, Ayah! Jangan.... aku akan m elindunginya kalau Ayah m em aksa! Ayah bersalah, dia.... dia orang gagah yang budim an, luar biasa..... m engapa Ayah t ak bisa m elihat orang.....?" Siangkoan Houw m enundukan m ukanya dan m elihat waj ah put erinya yang pucat , m at a yang sayu dan t am pak dua t it ik air m at a di pipi put erinya. Dia t erkej ut dan t erheran- heran, kem udian m arah sekali. Put erinya t elah j at uh cint a kepada pemuda itu! "Hemm..." Suaranya penuh geram. "Lupakah kau kepada putera Lusan Loj in.....?" " Ayahhhh....! " Siangkoan Hui berseru dan t erisak sam bil m em eluk kedua kaki ayahnya, m enangis. Bet apapun bengisnya, Tee- t ok yang hanya m em punyai seorang anak it u, t ent u saj a m erasa t idak t ega kepada anaknya. Hant inya m encair ket ika dia m elihat put erinya m enangis sam bil m em eluk kedua kakinya. Dia m enghela napas panj ang dan pandang m at anya yang dit uj ukan kepada Sin Liong kini kehilangan kekej am an dan kem arahannya, hanya t erheran dan raguragu. Put erinya m encint ai pem uda ini? Hem m ...., seorang pem uda yang am at t am pan , dan harus diakuinya bahwa biarpun pem uda it u kelihat an halus sepert i seorang lem ah, nam un pem uda it u gagah perkasa, penuh ket enangan dan keberanian. Dan kekebalannya it upun m em bukt ikan bahwa pem uda ini bukan orang sem barangan. Dia belum m elihat put era Lu- san Loj in, ent ah bagaim ana set elah dewasa sekarang. Apakah sebaik pem uda ini? " Hai, orang m uda. Siapakah nam am u?" Sin Liong m em andang kepada kakek it u dan m enj awab halus, " Nam a saya Kwa Sin Liong, Locianpwe." " Bagaim ana engkau bisa m engenal aku?" " Siapa yang tidak mengenal Locianpwe yang terkenal di dunia Kang- ouw? Locianpwe adalah Tee- t ok Siangkoan Houw yang am at t inggi ilm u kepandaiannya, dan saya pernah bert em u dengan Locianpwe....." Tiba- t iba Sin Liong berhent i bicara karena baru dia t eringat bahwa sebenarnya t idak ada perlunya m enyebut - nyebut hal it u. " Bert em u? Di m ana?" Karena sudah t erlanj ur bicara, Sin Liong m erasa t idak enak unt uk m em bohong lagi, m aka dia berkat a, " Di lereng Jeng- hoa- san, bahkan Locianpwe pernah m em buj uk saya m enj adi m urid......" " Ast aga....! Engkaukah ini? Engkaukah

154

Bu Kek Siansu
anak aj aib? Engkau Sin- t ong....?" Tee- t ok berseru dan cepat m elangkah m aj u. "Benar, engkaulah Sin- tong! Aihh..... maafkan kami. Di antara kita telah timbul salah pengert ian besar! " Dia cepat m eloncat dan m erenggut lepas t ali yang m engikat kedua lengan Sin Liong, bahkan cepat m eneriaki m uridnya unt uk m enyerahkan kem bali baj u Sin Liong. Sin Liong t ersenyum . " Tidak m engapa, Locianpwe. Mem ang saya m engaku salah, t elah m enim bulkan keribut an dan m engakibat kan kem at ian harimaumu." "Aihh... hei, matamu tajam sekali, Hui- ji! Engkau benar! Dia anak baik, bukan hanya baik saj a. Aduh, bet apa dahulu aku m at i- m at ian m em perebut kan anak ini! Hui- j i, dia Sin- t ong! Bet apa girangku dia t iba- t iba m uncul di sini! " Dengan giran Tee- t ok m enggandeng lengan Sin Liong dan m enariknya. " Hayo m asuk ke rum ah kam i, kit a bicara! " " Tapi, Locianpwe. Saya ingin m elanj ut kan." " Nant i dulu, kit a bicara! Sej ak engkau dibawa oleh.... eh, di m ana dia sekarng.....?" Kakek it u menengok kekanan kiri, seolah- olah merasa ngeri karena dia teringat akan Pangeran Han Ti Ong yang sakt i. Siapa t ahu, pangeran yang luar biasa it u t ahu- t ahu m uncul pula di sit u. " Locianpwe m aksudkan Suhu? Saya hanya dat ang berdua dengan adik Soan Cu." " Mari kit a bicara. Ah, pert em uan ini sungguh m enggirangkan hat i! " Melihat sikap kakek it u begit u gem bira, Sin Liong t idak t ega unt uk m enolak t erus. Urusan t elah selesai dengan baik, dan Soan Cu t ent u sedang m enant i di dusun di kaki bukit . Terlam bat sedikit pun t idak m engapa daripada m em aksa m enolak dan m enim bulkan kem arahan kakek yang berangasan ini. Siangkoan Hui m em andang kepada Sin Liong dengan sepasang m at a bersinar- sinar, penuh kekagum an dan ket ika ayahnya m enggandeng pem uda it u dengan t angan kanan, kem udian m enggandengnya dengan t angan kiri, dia t ersenyum dan m eront a m elepaskan diri karena m alu, kem udian berlari- lari kecil m eninggalkan m ereka. " Ha- ha- ha! Hui- ji... ha- ha- ha- ha! Eng kau benar. Dia ini seorang pem uda pilihan, seorang pem uda hebat ! " Dengan penuh kegem biraan Tee- t ok m enj am u Sin Liong. " Siapakah Nona yang lihai dan berani it u?" " Dia adalah Ouw Soan Cu, seorang sahabat baik saya, Locianpwe. Dia sedang m encari ayahnya dan saya m em bant unya." " Mana dia? Karena dia sahabat m u, dia pun sahabat kam i. Biar aku m enyuruh orang m engundangnya." " Tidak usah, Locianpwe. Wat aknya aneh dan keras, j anganj angan m alah m enim bulkan salah paham ." " Ha- ha- ha, aku suka kepadanya! Sej ak pert em uan pert am a aku kagum kepada anak it u! Keras, aneh dan berani! Hebat dia! Aihh, Sin- t ong...." " Locianpwe, nam a saya Kwa Sin Liong." " Tidak apa, aku t et ap m enyebut m u Sin- t ong. Engkau m em ang anak aj aib, luar biasa sekali. Apakah engkau t elah m enj adi m urid pangeran Han Ti Ong?' Sin Liong m engangguk dan merasa agak gugup. " Benar, akan t et api saya dilarang unt uk bicara t ent ang Suhu...." " Ha- ha- ha, aku t ahu. Dia bukan m anusia biasa! Aku girang sekali bert em u dengan m uridnya, apalagi m uridnya adalah engkau, Sin- t ong! Ahhh... kegirangan yang bercam pur dengan kekecewaan sebesar gunung! " Tiba- t iba kakek it u m erem as cawan araknya dan cawan arak yang t erbuat daripada perak it u sepert i t anah lihat saj a, di dalam kepalanya berubah m enj adi perak yang plet at - plet ot , lenyap bent uk cawannya. Sin Liong t erkej ut dan t idak berani bert anya. Kakek it u m elem par cawan yang sudah t idak karuan it u ke bawah m ej a dan bert eriak kepada m uridnya m it a diberi sebuah cawan baru. Kemudian dia berkata, "Siapa tidak kecewa? Anaku hanya seorang, perem puan lagi, dan celakanya, dia sudah dit unangkan sej ak kecil! " Kakek ini m em ang selalu bicara keras, kasar dan j uj ur, t ak pernah m au m enyem bunyikan sesuat u! Sin Liong m enj adi m akin t erheran. " Telah dit unangkan sej ak kecil adalah baik sekali, m engapa celaka, Locianpwe?' " Kalau dit unangkan dengan engkau tentu saj a baik sekali! Akan t et api bukan denganm u , dengan orang lain yang t ak kunj ung dat ang! Dan karena t elah dit unangkan it u, m ana m ungkin aku dapat m engam bil engkau sebagai m ant uku? Padahal aku t ahu, Hui- j i suka padam u, dia j at uh cint a padam u. Ha- ha, anak pint ar it u, m at anya t aj am sekali." Tent u saj a Sin Liong m enj adi t erkej ut dan m alu, m enunduk dan t ak berani bicara lagi. " Engkau t ent u

155

Bu Kek Siansu
belum bert unangan, bukan?" Sin Liong hanya m enggeleng kepalanya. " Kalau begit u, m udah saj a ! Engkau m enj adi m ant uku, m enikah saj a dengan Hui- j i...." " Locianpwe, ingat lah bahwa Siocia t elah bert unangan, adapun aku.... aku sam a sekali t idak m em punyai pikiran unt uk m enikah," Kakek it u m enarik napas panj ang. " Engkau bet ul, m em ang t idak pat ut kalau diput uskan begit u saj a, dari sat u pihak. Aihhh, Lusan Loj in, engkau t ua bangka benar- benar sekali ini m em buat hat iku kesal! Aku t elah pergi ke sana baru- baru ini dan dia bersam a put eranya it u, j uga bersam a seorang puterinya, menurut penuturan penduduk di sekitar Lu- san, telah pergi entah ke m ana! Aihh, bet apa kesal hat iku...." " Harap Locianpwe m enenangkan pikiran. Mungkin m ereka sedang m encari Locianpwe. Kalau sudah j odoh, t ent u akan dipert em ukan kelak." Kem bali kakek it u m engangguk- angguk. Mem ang, set elah m endengar bahwa pem uda yang t adinya akan dibunuhnya it u t ernyat a adalah Sint ong yang dahulu dibawa oleh Pangeran Han Ti Ong t okoh Pulau Es, dia t ert arik dan t erkej ut sekali. Bukan hanya unt uk m encoba m enarik pem uda it u m enj adi m ant unya, akan t et api j uga unt uk keperluan lain yang am at pent ing. Dia m asih ragu- ragu unt uk m em bicarakan urusan ini, m aka dia m enant i kesem pat an baik dan hendak m enj aj aki lebih dulu, di fihak m anakah pem uda ini berdiri. Sem ent ara it u, Siangkoan Hui m erasa m alu sekali. Dia sudah m engenal baik wat ak ayahnya yang kasar dan j uj ur. Tent u kalau dia ikut m asuk ke dalam rum ah m enem ui pem uda it u, ayahnya akan bicara yang bukanbukan t anpa t edeng aling- aling lagi! Dia m erasa m alu dan.... girang bukan m ain. Tak dapat ia m enipu hat inya sendiri. Dia m em ang t elah j at uh cint a kepada pem uda it u! Pem uda yang am at luar biasa, bukan hanya t am pan dan gagah, nam un m em iliki wat ak yang am at hebat . Belum pernah dia bert em u dengan pem uda segagah it u, begit u halus, begit u budim an, begit u t abah dan m engalah, akan t et api j uga am at lihai sehingga serat us kali rangket an it u t idak membekas sama sekali di kulit tubuhnya yang putih halus dan padat membayangkan t enaga yang luar biasa! Dia sudah j at uh cint a! Dan ayahnya sudah m enget ahui akan hal ini. Tent u ayahnya akan bicara t erang- t erangan kepada pem uda it u. Akan t et api, bagaim ana dengan t unangannya? Teringat akan ini, t iba- t iba Siangkoan Hui m enj adi lem as. Dia duduk bersandar pohon dan t erm enung, m enanggalkan sabuk sut era m erah yang m elibat pinggangnya. Kiranya sabuk it u hanya sabuk t am bahan dan dapat dipergunakan sebagai saput angan, karena di pinggang it u t elah t erdapat sabuk lain yang berwarna kuning. Sam bil m enggigit - gigit uj ung sabuk sut era m erah, Siangkoan Hui t erm enung, m ukanya sebent ar pucat sebent ar m erah t anda bahwa hat inya kacau t idak karuan oleh j alan pikirannya. Dara ini sam a sekali t idak t ahu bahwa sej ak t adi ada bayangan yang m engikut inya, bayangan seorang gadis lain yang m em andangnya dengan sinar m at a berapi- api penuh kem arahan! Gadis ini bukan lain adalah Han Swat Hong! TadinyaSwat Hong m engint ai dan ham pir saj a dia m elom pat keluar unt uk m enolong suhengnya. Akan t et api kem unculan Siangkoan Hui yang m elarang ayahnya m enggunakan t anduk rusa m em ukul Sin Liong, m em buat dia m em bat alkan niat nya m enolong Sin Liong. Apalagi m elihat bet apa usaha pert olongan dara cant ik put eri kakek berangasan it u berhasil! Hat inya t erasa panas sekali, sepert i dibakar dan sert a m ert a dia m erasa benci kepada Siangkoan Hui! Kebencian yang m em buat dia diam - diam m engikut i dara it u dengan niat unt uk m em bunuhnya! Swat Hong sendiri t idak m engert i m engapa dia selalu m arah dan t idak senang kalau m elihat ada gadis m em perlihat kan sikap baik dan m encint a kepada Sin Liong. Dia sendiri t idak t ahu bahwa hat inya diam uk cem buru! Melihat Siangkoan Hui yang dibayanginya it u duduk seorang diri di t em pat sunyi it u, m enggigit uj ung sabuk m erah dengan waj ah sebent ar pucat sebent ar m erah, m elam un dan kadang- kadang t ersenyum m anis, Swat Hong m erasa perut nya sepert i dibakar! " Perem puan t ak t ahu m alu! " Bent aknya dan dia sudah m elom pat keluar, m encabut pedangnya dan m enyilangkan pedang it u di t angan kanan dan sarung pedang di t angan kiri, m em asang kuda- kuda dan m em bent ak, " Bersiaplah unt uk

156

Bu Kek Siansu
m am pus di t angan Nonam u! " Siangkoan Hui adalah seorang gadis yang sej ak kecil digembleng ilmu silat tinggi oleh ayahnya, maka begitu melihat bayangan berkelebat t adi, dia sudah m eloncat bangun. Kini, m elihat bahwa yang m uncul dan dat angdat ang m em akinya it u adalah seorang gadis cant ik yang t idak dikenalnya, dia m elongo. " Eh- eh, apakah kau ini orang gila?" Tent u saj a pert anyaan ini m em buat Swat Hong m enj adi m akin m arah. Kedua pipinya m erah sepert i udang direbus dan sepasang m at anya yang j eli it u m engeluarkan sinar berapi- api. Sukar dikat akan siapa di ant ara kedua orang dara it u yang lebih m enarik. Keduanya sam a m uda, sam a cant ik j elit a dan pada saat it u sam a m arahnya! " Kau.... kau.... perem puan rendah! Perem puan m acam engkau berani j at uh cint a kepada Suhengku! " Swat Hong m em aki. Siangkoan Hui t erkej ut sekali, akan t et api perut nya j uga sudah panas dibakar kem arahan m endengar dirinya dim aki- m aki orang. " Apa? Kau ini m engaku Sum oinya? Sungguh t idak pat ut ! Seekor naga m ana m em punyai sum oi seekor cacing?" Dapat dibayangkan bet apa m arahnya hat i yang keras seorang dara sepert i Swat Hong m endengar ini. I ngin dia m encaci m aki habis- habisan, ingin dia m enj erit j erit , akan t et api karena dia t ak pandai cekcok dengan suara, dia hanya m engeluarkan suara m elengking nyaring dan pedangnya sudah m enerj ang ke arah dada Siangkoan Hui! " Singgg... Wuuuut t t ......! " Siangkoan Hui j uga m engeluarkan pekik kem arahan, t ubuhnya t iba- t iba m encelat ke at as dan dari at as sabuk sut era m erahnya yang t ernyat a adalah senj at anya yang am puh it u m enyam bar ke bawah dengan serangan balasannya yang t idak kalah berbahaya. " Plakkkk! ! " Sarung pedang di t angan kiri Swat Hong berhasil m enangkis serangan it u dan dia t erkej ut j uga m enyaksikan kelincahan lawan. Tahulah Swat Hong bahwa lawannya t ak boleh dipandang ringan dan m em iliki ginkang yang am at hebat , m aka dia m em ut ar pedangnya dengan kecepat an kilat . Repot lah Siangkoan Hui m enghadapi perm ainan pedang lawannya yang am at luar biasa it u. Sebet ulnya t ingkat kepandaian Siangkoan Hui sudah t inggi, dan pada j am an it u, sukarlah dicari t andingannya. Sebagai put eri t unggal, Tee- t ok t elah m enurunkan sem ua ilm u sim panannya dan selain m em iliki senj at a ist im ewa berupa sabuk sut era, j uga dara ini adalah seorang ahli racun sepert i ayahnya. Ayahnya adalah seorang t okoh yang berj uluk Racun Bum i, t ent u saj a dia m em pelaj ari pula penggunaan racun- racun yang am puh. Set elah m endapat kenyat aan bet apa perm ainan pedang lawannya benar- benar am at lihai dan berbahaya, t iba- t iba Siangkoan Hui m em bent ak dan dari t angan kirinya m enyam bar sinar- sinar m erah. Sawat Hong m engeluarkan suara m endengus dari hidung dan m engej ek, sinar pedangnya berkelebat an dan bergulunggulung sehingga jarum- j arum m erah yang dilepas Siangkoan Hui secara lihai it u sem ua dapat dipukul runt uh. " Haiiit t t ....! ! " Swat Hong m eluncur ke depan, didahului sinar pedangnya, pedang it u m enusuk lalu disam bung m em babat ke kanan kiri, sedangkan sarung pedangnya m asih bergerak m enghant am dari at as. Seolah- olah sem ua j alan keluar t ert ut up dan t idak m em ungkinkan lawan unt uk m engelak lagi! " Hiaaaaahhhh! ! " Siangkoan Hui m em ekik nyaring, sabuknya berubah m enj adi sebat ang benda keras yang diputar- putar, melindungi tubuhnya. Pada saat pedang tertangkis, tiba- tiba dari uj ung sabuk m erah it u m enyam bar dua bat ang paku m erah yang m eluncur t anpa tersangka- sangka dan dengan cepat sekali ke arah t enggorokan Swat Hong! " Aihhh....! ! " Swat Hong m enj erit dan t idak ada j alan lain baginya kecuali m em buka m ulut nya yang kecil dan " m enangkap" dua bat ang paku m erah it u dengan gigit an giginya yang kecil- kecil dan put ih berderet rapi it u! Siangkoan Hui t erkej ut dan kagum bukan m ain , dan pada saat it u, Swat Hong t elah m eniupkan dua bat ang paku ke arah t ubuh lawan. Tent u saj a Siangkoan Hui dapat m engelakan senj at a rahasianya sendiri ini dengan mudah. Akan tetapi kini Swat Hong sudah marah sekali dan pedangnya bergerak unt uk m em bunuh! Jurus- j urus t erhebat dari Pulau Es dim ainkannya dan t ent u saj a Siangkoan Hui t erdesak hebat dan uj ung sabuknya sudah robek dicium uj ung pedangnya! " Sum oi, j angan....! ! ! " Tiba- t iba t erdengar

157

Bu Kek Siansu
seruan dan Sin Liong m elom pat m em asuki lapangan pert andingan, m enolak lengan sum oinya dengan t angan kiri. " Sum oi....! Syukur kit a dapat saling bert em u di sini....! " Sin Liong berseru girang bukan m ain. Akan t et api, perut Swat Hong t erasa panas saking m endongkolnya.t adi dia sudah berhasil m endesak lawan dan belasan jurus lagi saja dia tentu akan menang. Siapa Tahu, suhengnya muncul dan lawannya it u dapat m eloncat keluar dan kini berdiri di belakang kakek yang m enj adi ayahnya! "Aku harus membunuhnya!" bentaknya dan dia hendak melompat ke arah Siangkoan Hui. " Sum oi, j angan serang orang! " " Kalau begit u, serang kau saj a! " Dan gadis it u lalu m enyerang Sin Liong kalang kabut dengan pedangnya! " Eh- eh....! Ohhh....! Sum oi...., m engapa kau m arah- m arah?" Sin Liong t erpaksa berlom pat an ke sanasini m engelak karena sam baran pedang di t angan sum oinya it u bukan m ain- main! " Kenapa kau m em belanya? Kenapa?" Swat Hong berkat a berlahan dan m enyerang t erus t anpa m em pedulikan seruan suhengnya. Pada saat it u t am pak dua sosok bayangan berkelebat dan t ahu- t ahu di sit u t elah berdiri Kwee Lun dan Soan Cu. Bagaim ana dua orang m uda ini dapat dat ang bersam a? Telah kit a ket ahui bahwa Soan Cu disuruh pergi oleh Sin Liong, dan karena gadis ini am at t aat kepada Sin Liong, dengan hat i berat dia m eninggalkan puncak it u hendak t urun ke dusun kem bali. Dan t elah dicerit akan pula di bagian depan bet apa Kwee Lun m elakukan penyelidikan bersam a Swat Hong dan m ereka berpencar. Kwee Lun m engam bil j alan dari kiri. Kebet ulan sekali ket ika pem uda ini sedang berindap- indap m elakukan penyelidikan, dia m elihat seorang gadis cant ik berj alan seorang diri keluar dari pagar. Tent u saj a dia m engira bahwa gadis it u adalah seorang m usuh. Tim bul dalam pikirannya unt uk m enangkap gadis ini dan m em aksanya m engaku apa yang t elah t erj adi di sebelah dalam . Hal ini akan lebih m em udahkan penyelidikannya, daripada menyelidiki dari luar t ak berket ent uan. Dengan pikiran ini, Kwe Lun t iba- tiba m eloncat keluar dari t em pat sem bunyinya dan langsung dia m enubruk dan m em eluk Soan Cu! Dapat dibayangkan betapa marahnya dara ini. Ketika tiba- tiba ada seorang laki- laki keluar dari sem aksem ak dan dengan gerakan secepat kilat m enyergap dan m em eluknya, t ent u saj a dia m engira bahwa ini t ent ulah anak buah Tee- t ok yang hendak m enangkapnya at au hendak berkurang aj ar. " Set an keparat j ahanam t erkut uk ! ! " bent aknya dan dia m engerahkan t enaganya, m eront a dan m enggerakan kaki t angannya, m enyepak dan m enam par. " Plak- plak- plak.....! Wah- wah..... galak benar! " Kwee Lun kewalahan dan t erpaksa m elepaskan rangkulannya karena t ulang kering kakinya kena dit endang, pipinya dicakar dan dagunya dit am par! Kini m ereka berhadapan dan saling pandang. Keduanya kelihat an t ert egun karena sam a- sama tidak menyangka. Kwee Lun sama sekali tidak menyangka bahwa yang ditangkapnya t adi, dipeluknya karena disangkanya seorang pelayan wanit a, kiranya adalah seorang dara rem aj a yang cant ik j elit a! Sedangkan Soan Cu yang t erkej ut m elihat seorang pem uda yang begit u t am pan gagah perkasa. Sej enak keduanya saling pandang, kem udian t im bul kegalakan Soan Cu yang m enj adi m arah. Dia m em ang sudah m endongkol disuruh pergi oleh Sin Liong , hat inya gelisah m em ikirkan Sin Liong biarpun dia yakin pem uda it u akan m am pu m enj aga dirinya. Kini ada orang yang bet apa gagahnyapun t elah berlaku kurang aj ar. " Set an alas! Siapa kau? Tent u kaki t angan Tee- t ok, ya? Hendak m enangkap aku? Keparat j ahanam ! Engkau sudah bosan hidup! " " Tar- tar- t ar....! ! " Cam buk bunt ut ikan hiu it u sudah m eledak- ledak di at as kepala Kwee Lun. Soan Cu m engira bahwa sekali serang saj a kepala pem uda gagah it u t ent u akan pecah. Seberapa hebat sih kepandaian anak buah Tee- tok? Akan t et api bet apa herannya ket ika dia m elihat pem uda t inggi besar it u dapat m engelak dengan am at cepat nya, bahkan t elapak t angan pem uda it u berhasil m enepuk lengannya yang m em egang cam buk. " Plakkk! " Pem uda it u t erheran. Tam parannya t idak m em buat cam buk it u t erlepas! " Aihhh..... nant i dulu, j angan menyerang begitu. Aku bukan anak buah Tee- tok atau racun manapun juga!" Namun Soan Cu sudah m erasa penasaran sekali. Kem bali dia m enyerang dan kini

158

Bu Kek Siansu
cam buknya berubah m enj adi segulung sinar hit am yang m enyam bar- nyambar dibarengi suara m eledak- ledak. Akan t et api, Kwee Lun t et ap dapat m engelak dan m eloncat ke sana- sini, bahkan kadang- kadang dia berani m enangkis cam buk it u dengan t elapak t angannya! Hal ini t ent u saj a m engagum kan hat i Soan Cu. Dan t idak t ahu bahwa pem uda it u m enggunakan ilm u Bian- sin- kun ( Tangan Kapas Sakt i) yang mengandung sinkang tingkat tinggi yang membuat telapak tangannya menjadi lemas sepert i kapas dan karenanya t idak t erluka oleh benda keras! " Nona cant ik t api galak sepert i kucing lapar! " Kwee Lun balas m em aki ket ika m elihat nona it u m enyerang t erus sam bil m em aki- m aki. " Berhent ilah dulu dan kit a bicara! " " I blis raksasa, kau yang kelaparan! " Soan Cu m em bent ak m akin m arah dan kini dia sudah m encabut pedangnya, pedang Coa- kut- kiam ! Dengan kedua senj at anya ini, dia m enyerang kalang kabut ! " Wah, runyam ! Perem puan galak dan ganas! " Kwee Lun t erancam bahaya m aut dan dia pun t erpaksa lalu m encabut pedangnya dengan t angan kanan sedangkan t angan kirinya m em egang kipas gagang perak. " Tringgggg.... Cringgggtrangggg......! " Bunga api berpij ar dari keduanya t erdorong kebelakang oleh pert em uan senj at a yang hebat it u t adi. Kipas bert em u dengam cam buk dan pedang bert em u dengan pedang. Masing- m asing m enj adi t erkej ut dan t erheran. Tenaga sinkang mereka seimbang! "Bagus! Mari kita bertanding sampai selaksa jurus!" Soan Cu sudah m enerj ang lagi. " Trangggg....! Trangggg....! ! " Kem bali Kwee Lun m enangkis sekuat nya dan m ereka t erdorong m udur. " Som bongnya! Manusia m ana kuat bert anding sam pai selaksa j urus? Makan wakt u berapa bulan? Tunggu dulu, m engapa kau m arah- m arah kepadaku sepert i orang kebakaran j enggot ?" " Ngaco! Jenggot m u yang kebakaran! " " Eh, ohhh! Kau bikin aku bingung! Benar, kau t idak berj enggot . Eh, kenapa kau m arah- m arah begini? Dan kau lihai bukan m ain! Senjatamu mengerikan!" Cerewet!" Soan Cu sudah hendak menerjang lagi, sekarang t erdorong oleh rasa penasaran bahwa dia t idak m am pu m engalahkan pem uda ini. " Nant i dulu! Kit a bicara dulu, baru kit a bert anding selaksa.... eh, serat us j urus saj a! Aku salah m enduga, kukira kau t adi seorang pelayan di sini! " " Menghina kam u ya? Orang m acam aku ini pelayan? Kalau kau baru pant aslah m enj adi j ongos! At au j agal babi! " " Maafkanlah. Aku t adi m elihat dari j auh. Aku sedang m enyelidiki..... wah, celaka! Kau t ent u put eri Teet ok! " Kwee Lun t erkej ut dan m enyesali kebodohannya. Mengapa dia t idak m enduganya lebih dulu? Siapa lagi kalau bukan put eri Tee- tok yang begini lihai? " Aku bukan anak racun bum i, bukan anak racun bau! Aku m alah m usuhnya! " " Wah, benarkah? Kalau begit u kit a cocok! Aku pun sedang m elakukan penyelidikan. Aku mendengar ada biruang diadu dengan harimau, pemilik biruang itu adalah sahabat ku, eh, m aksudku, sahabat nya sahabat ku! " Soan Cu m enj adi bingung. " bicaram u sepert i orang sint ing! ' " Mem ang bet ul, sahabat nya, eh, m alah suhengnya sahabat ku. Kau siapa?" " Aku baru saj a m eninggalkan pem ilik biruang it u yang m enj adi sahabat baikku." Dengan singkat Soan Cu m enut urkan bet apa Sin Liong mengalah dan malah menyuruh dia pergi dan ingin menerima hukuman! "Wah, kenapa kau sudah begini besar m asih begini t olol?" " Siapa? Siapa t olol?" Soan Cu m elangkah m aj u dan sepasang senj at anya sudah m engget ar dit angannya. " Siapa lagi kalau bukan engkau? Mengapa kau m eninggalkan sahabat m u it u m enghadapi hukum an? Kau t idak t ahu siapa it u Tee- t ok Siangkoan Houw? Dari j ulukannya saj a sudah m udah diket ahui. Dia Racun Bum i, kej em nya bukan m ain. Sahabat m u it u, suheng sahabat ku, pem ilik biruang, t ent u akan dibunuhnya! " " Apa....?" Waj ah Soan Cu m enj adi pucat sekali. " Celaka....! " " Hayo cepat kit a kesana, barangkali belum t erlam bat ! " Dem ikianlah, kedua orang it u sepert i berlom ba lari saj a, bersicepat lari kem bali ke puncak. Dan m ereka t iba di t em pat yang t epat di m ana m ereka m elihat Swat Hong sedang m enyerang kalang kabut kepada Sin Liong yang m engelak ke sana- sini. Ket ika Kwee Lun m elihat sahabat nya it u m enerj ang seorang pem uda dengan m at i- m at ian dan m endapat kenyat aan bet apa pem uda it u lihai bukan m ain, biarpun bert angan kosong nam un pedang di t angan Swat Hong sam a sekali t idak

159

Bu Kek Siansu
pernah m enyent uhnya, dia sudah m enggerakan pedang dan kipasnya, m eloncat m aj u sam bil m em bent ak, " Berani kau m enghina Hong- m oi?" " Trangg- cringgg....!!" Kwee Lun t erdorong ke belakang dan m at anya t erbelalak m elihat bahwa yang m enangkisnya adalah sepasang senj at a di t angan..... Soan Cu yang m endelik dan memaki, "Kerbau tolol! Berani kau mencampuri urusan Liong- koko?" Setelah berkata dem ikian, Soan Cu m enyerang kalang kabut dan kem bali m ereka saling serang dengan serunya! Melihat ini, ot om at is Swat Hong m enghent ikan serangannya dan Sin Liong j uga sudah m eloncat ke belakang lalu berkat a, " Jangan bert em pur! Soan Cu, m undurlah....! " " Liong- ko, biarkan aku bert em put dengan gaj ah ini sam pai selaksa....... eh, serat us j urus! " " Kwee- koko, m undur! Orang sendiri......! " " Hehhhh....? Orang sendiri....? Dia ini...." Kwee Lun t erkej ut dan t erheran- heran, sebent ar m em andang kepada Sin Liong, lalu kepada Soan Cu. " Kwee- koko, inilah suhengku yang kucari- cari." Swat Hong m em perkenalkan . " Eh.... akan t et api, m engapa kau m enyerangnya.....??" Sin Liong cepat berkat a, " Saudara yang gagah, Sum oiku ini m em ang kalau lam a t idak bert em u lalu ingin m engaj akku berlat ih." Mendengar ini, m erah waj ah Swat Hong. Set elah ket ahuan oleh sem ua orang bet apa dia m arah- m arah dan m enyerang suhengnya sendiri, baru dia t eringat dan m enj adi m alu. Sem ent ara it u, dapat dibayangkan bet apa kaget dan sedihnya hat i Siangkoan Hui ket ika it u. Kiranya dara cant ik yang am at lihai ini adalah Sum oi dari Kwa Sin Liong dan m elihat sikapnya, dia dapat m enduga bahwa dara yang galak ini cem buru kepadanya. Maka dia sudah m elangkah m aj u dan m enj ura sam bil berkat a, " Ah, harap m aafkan. Kiranya Cici adalah sum oi dari Kwa- t aihiap...." " Hem m m m .... sudahlan!" Swat Hong berkata malu, kemudian memperkenalkan kepada suhengnya, " Suheng, dia ini adalah Saudara Kwee Lun, m urid dari Lam Hai Sengj in." " Ha- ha- ha! Kiranya m urid m aj ikan Pulau Kura- kura? Selam at dat ang! Dan Nona adalah Sum oi dari Kwat aihiap? Aihhh..... sungguh hari ini kam i kedat angan banyak t okoh besar! " Kem udian berkat a kepada Soan Cu yang m asih cem bert u. " Baik sekali Nona sudah dat ang kem bali. Mari.... m ari orang- orang m uda yang gagah perkasa, m arilah kit a duduk dan bicara di dalam ." Tee- t ok Siangkoan Houw lalu m em persilahkan m ereka sem ua m em asuki gedungnya dan dia m enj am u m ereka dengan hidangan m ewah, dibantu oleh put erinya, Siangkoan Hui yang m erasa kagum sekali kepada Swat Hong, akan t et api j uga m erasa iri hat i dan berduka. Tidaklah dem ikian dengan perasaan Soan Cu. Mem ang t ak dapat disangkal lagi bahwa gadis Pulau Neraka ini am at t ert arik kepada Sin Liong yang dianggapnya sebagai seorang pem uda yang luar biasa dan am at m engagum kan hat inya. Akan t et api, selam a dalam perj alanan ini Sin Liong jelas memperlihatkan sikap bahwa pemuda itu sama sekali tidak tertarik kepadanya, j uga bahwa sikap baiknya it u lebih m endekat i sikap baik seorang kakak t erhadap adiknya, pula, m elihat bahwa sesungguhnya Swat Hong, sum oi pem uda it u, j uga m encint ai suhengnya, Soan Cu m aklum bahwa t idaklah m ungkin dia m em biarkan cint anya t erhadap Sin Liong berlarut - larut . Pert em uannya dengan Kwee Lun t elah m engubah seluruh perasaan hat rinya. Pem uda raksasa ini am at hebat , am at m enarik dan j elas lebih cocok dengan dia! Kwee Lun m erupakan seorang pem uda yang j uj ur, t erus t erang, gagah perkasa dan biarpun baru sekali bert em u saj a, m ereka t elah saling serang sam pai dua kali! Oleh karena it u, ket ika m ereka sem ua m akan bersam a m engelilingi m ej a besar, perhat ian Soan Cu lebih banyak t ert uj u kepada pem uda perkasa it u. Set elah m ereka m akan m inum , berkat alah Teet ok Siangkoan Houw, suaranya sungguh- sungguh dan kat akat anya dit uj ukan kepada Sin Liong dan Swat Hong, " Saya t idak t ahu dengan j elas apakah Ji- wi m em punyai hubungan dengan Pulau Es, akan t et api m engingat bahwa Kwa- t aihiap adalah m urid dari Pangeran Han Ti Ong dari Pulau Es, m aka agaknya apa yang hendak saya bicarakan ini akan menarik perhatian Ji- wi. Dan sesungguhnya saya, atas nama para orang gagah di dunia kang- ouw, saya am at m engharapkan bant uan Sin- tong!" JILID 13 " Ah, m engapa Locianpwe t erlalu sungkan dan m erendahkan diri? Harap

160

Bu Kek Siansu
dicerit akan ada urusan apakah yang kiranya dapat kam i bant u, dan harap j angan membawa- bawa nam a Pulau Es." " Just eru karena urusan ini m enyangkut Pulau Es." " Heiii....? Ada urusan apakah yang m enyangkut Pulau Es?" Swat Hong bert anya penuh sem angat . Mendengar ini Tee- t ok t ersenyum dan m em andang. " Sebagai Sum oi dari Sin- t ong, t ent u Nona j uga dari Pulau Es, bukan? Gerakan pedang Nona tadi hebat bukan main...." "Tidak perlu diketahui siapa pun apakah aku dari Pulau Es at au t idak," j awab Swat Hong t egas. " Kalau ada urusan Pulau Es, kam i ingin m endengar." " Locianpwe, harap cerit akan kepada kam i dan m aafkanlah sikap Sum oi yang selalu t egas dan singkat . Perlu saya berut ahukan bahwa m em ang am at lah pent ing art inya bagi kam i kalau ada urusan yang m enyangkut Pulau Es." Tee- tok m enarik napas panj ang. " Kalau dibicarakan sungguh m em buat orang m enj adi penasaran sekali. Ji- wi ( Anda Berdua) t ent u t elah m endengar nam a besar Bu- tongpai, bukan? Nah, sem ua orang gagah dari dunia kang- ouw bersepakat unt uk m enent ang Bu- tong- pai m at i- m at ian." " Haiii....? Mengapakah? Maaf kalau aku m encam puri, akan t et api sungguh hat iku penasaran sekali m endengar Bu- tong- pai dim usuhi orang kang- ouw. Bukankah anak m urid Bu- tong- pai adalah orang- orang gagah yang dihorm at i oleh dunia kang- ouw? Mengapa sekarang hendak dim usuhi?" Kwee Lun berseru lant ang, m at anya t erbelalak lebar karena penasaran. " Ha- ha- ha, agaknya gurum u, Si Tua Bangka Lam Hai Sengj in m asih belum m endengar berit a karena dia selalu bert apa dipulaunya sehingga engkau pun belum t ahu, orang m uda yang gagah, Bu- tong- pai telah beberapa bulan ini dikuasai oleh seorang ketua baru!" " Soal pengangkat an ket ua baru Bu- tong- pai, kurasa adalah urusan dalam Bu- tongpai sendiri! " kat a pula Kwee Lun. " Mem ang dem ikian kalau ket ua baru it u orang dalam Bu- tong- pai pula. akan t et api, ket ua baru it u m engaku dirinya sebagai Rat u Pulau Es dan t elah m elakukan perbuat an sewenang- wenang, m elanggar perat uran kang- ouw, m engalahkan banyak t okoh kang- ouw dan kabarnya bahkan bersekut u dengan pem bront ak! " " I hhhh....! " Swat Hong berseru. " Kiranya dia di sana....! " Sin Liong j uga berseru. Mendengar seruan dua orang m uda sakt i dari Pulau Es it u, Teet ok cepat m em andang penuh selidik. " Ji- wi m engenal wanit a it u?" Sin Liong m engangguk t enang. " Agaknya begit ulah. Dan sekarang j uga kam i berdua m inta diri, karena kam i harus segera berangkat ke Bu- tong- pai." " Tapi biarlah kam i m em bant um u, dan kalau perlu kit a m em berit ahukan t em an- t em an di dunia kangouw agar...." " Tidak usah, Locianpwe. I ni adalah urusan ant ara kam i sendiri. Bukankah begit u Sum oi?" " Benar! Harus kam i berdua saj a yang berangkat ke sana. Kwee- koko, t erim a kasih at as bant uanm u m encari Suheng dan set elah kini aku bert em u Suheng dan kam i ada urusan yang am at pent ing, t erpaksa aku akan m eninggalkanm u. Kit a berpisah sam pai di sini, Kwee- koko." Kwee Lun m engangguk dan berkat a dengan suara lirih set elah m enarik napas panj ang. " Aku m engert i, Hong- m oi." " Soan Cu, kuharap engkau suka m enant i dulu di sini dan harap Siangkoan Lo- enghiong m elim pahkan kebaikan hat i dengan m enerim a Soan Cu di sini unt uk beberapa hari sam pai saya selesai berurusan dengan Bu- tong- pai." "Tentu saj a! Dengan senang hat i! Biarlah Ouw- siocia t inggal di sini dulu, dit em ani oleh anakku." " Tidak, Liong- koko! Aku.... aku.... akan pergi saj a m elanj ut kan usahaku m encari Ayah. Kaupergilah m enyelesaikan urusanm u dengan Swat Hong......" kat a Soan Cu sam bil m enekan perasaannya. " Urusan kit a m em ang berlainan. Selam at t inggal, aku pergi lebih dulu! " Set elah berkat a dem ikian, Soan Cu lalu bangkit berdiri dan berlari pergi t anpa m enoleh lagi. Kwee Lun j uga bangkit berdiri. " Kalau begit u aku pun pam it . Biarlah aku m em bant u dia kalau dia m au." Kwee Lun lalu berlari sam bil berseru, " Nona...., t unggu dulu....! ! " Nam un Soan Cu t idak m enengok lagi dan berlari cepat sehingga Kwee Lun terpaksa harus mengerahkan ginkangnya untuk m engej ar. Sebent ar saj a kedua orang m uda yang berkej aran it u sudah lenyap dari pandangan mata. Sin Liong dan Swat Hong juga berpamit dan meninggalkan Tee- tok bersam a put erinya yang m engant ar m ereka sam pai di pint u depan. Set elah kedua

161

Bu Kek Siansu
orang it u berj alan pergi dan t idak nam pak lagi, t erdengar Siangkoan Hui t erisak dan m enut upi m at anya dengan uj ung lengan baj unya. Siangkoan Houw m enghela napas dan m erangkulnya. dara it u m akin berduka, m enangis sesenggukan di dada ayahnya. Teetok menepuk- nepuk pundak puterinya dan berkata, "Hemm, tidak patut anak Tee- tok begini lemah hatinya! Aku tahu bahwa kau jatuh cinta kepadanya, Huij i. Mem ang dia seorang pem uda luar biasa! Akan t et api, aku m elihat sesuat u yang aneh pada diri Sin- t ong it u. Aku akan m erasa heran kalau sam pai m endengar dia it u m enikah! Dia t idak sepert i m anusia biasa! Dia dari Pulau Es, dem ikian Sum oinya. Mereka it u berbeda dengan kit a. Selain it u, engkau adalah t unangan put era Lusan Loj in Bu Si Kang. Engkau sej ak kecil t elah dij odohkan dengan Bu Swai Liang. Biarlah aku akan mencari lagi mereka!" Siangkoan Hui tidak menjawab dan dia menurut saja ketika diajak masuk ke rumah oleh ayahnya yang amat menyayanginya. Sebetulnya, sukarlah dikat akan apakah Siangkoan Hui benar- benar j at uh cint a kepada Sin Liong. Kiranya lebih t epat dikat akan kalau dia t ert arik dan suka m enyaksikan waj ah dan sikap pemuda yang halus budi itu. Untuk dikatakan jatuh cinta, kiranya masih terlalu pagi! Keadaan di Bu- tong- pai m engalam i perubahan hebat sem enj ak The Kwat Lin m enj adi ket ua part ai persilat an besar it u. Bukan hanya perubahan di luar, yang nam pak j elas karena adanya banyak anggaut a perkum pulan golongan hit am dan sepak t erj ang m ereka yang kasar dan ugal- ugalan, m engandalkan kepandaian unt uk m enent ang siapa saj a, akan t et api j uga t erj adi perubahan di sebelah dalam yang t idak diket ahui oleh orang luar. Terj adi hal yang m em buat Swi Nio seringkali m enangis seorang diri di dalam kam arnya! Perist iwa yang m em alukan hat i dara it u, yaitu ketika dia melihat betapa kakaknya, Swi Liang, telah menjadi kekasih dari subo m ereka sendiri! Tadinya t ent u saj a hal it u t erj adi secara sem bunyisem bunyi, akan t et api kini dia m elihat sendiri bet apa subonya dan kakaknya it u berj inah secara t erangt erangan, t idak bersem bunyi lagi dan biarpun pada siang hari di m ana banyak m at a para angaut a Bu- t ongpai m enyaksikannya, dengan seenaknya ket ua Bu- tongpai it u m em asuki kam ar Bu Swi Liang at au sebaliknya pem ua it u m em asuki kam ar subonya kem udian pint u kam ar dit ut up dari dalam ! Hat i Swi Nio m em bront ak, akan t et api apa yang dapat dia lakukan kecuali m enangis? Dan m em ang sungguh m enyedihkan sekali kenyat aan bahwa seorang pem uda sepert i Bu Swi Liang kini t erj ebak oleh nafsu berahi dan m enj adi ham ba nafsu berahi, j uga m enj adi ham ba subonya sendiri yang m em buat nya t ergila- gila! Hal ini t idak am at m engherankan, m engingat bahwa Swi Liang adalah seorang pem uda yang m asih hij au. Seorang pem uda rem aj a yang t ent u saj a t idak kuat m enahan godaan dan rayuan seorang wanit a yang sudah m at ang sepert i The Kwat Lin pula, m em ang rasa kagum seoran m uda t erhadap lawan kelam innya yang lebih t ua dengan m udah m enyeret nya ke dalam perangkap cint a nafsu. Di lain pihak, perist iwa it u bukanlah dapat diart ikan bahwa The Kwat Lin adalah seorang wanit a yang gila laki- laki at au gila berahi. Sam a sekali t idak. Dia adalah seorang yang norm al, dan hanya keadaanlah yang m em buat dia m enj adi seorang penyeleweng besar. Dia adalah seorang wanit a yang belum t ua benar, baru t iga puluh t ahun usianya, berwaj ah cant ik dan bert ubuh sehat . Set elah m enj adi j anda dan hidupnya m enyendiri, waj arlah kalau dia m erindukan cint a asm ara, m erindukan kehangant an rasa sayang seorang pria. Adapun pria yang sudah dewasa dan yang dekat dengannya adalah Bu Swi Liang, m aka t idak pula m engherankan apa bila dia t eert arik dan j at uh hat i kepada m uridnya sendiri ini. Karena pem uda ini m asih hij au dan t ent u saj a t idak berani m ulai dengan langkah pert am a, m aka The Kwat Lin yang m enggunakan perasaan kewanit aannya unt uk m em buka pint u dan m enggerakan kaki dalam langkah pert am a. Dialah yang m em ikat dan m erayu sehingga akhirnya Swi Liang j at uh dan m abok. Sekali saj a hubungan j inah dilakukan, m aka m em buat orang m enj adi m encandu. Yang pert am a kali segera disusul oleh yang ke dua, ke t iga, kem udia m ereka m enj adi ket agihan dan seolah- olah t idak dapat lagi hidup t anpa kelanj ut an hubungan gelap m ereka!

162

Bu Kek Siansu
Tent u saj a hal ini dapat t erj adi karena keadaan hidup Kwat Lin. Andaikat a dia m asih seorang pendekar wanit a sepert i belasan t ahun yang lalu, t ent u perbuat an ini sam pai m at i pun t ak kan dia lakukan. Akan t et api kini keadaanya lain. Dia m enj adi seorang wanit a yang berhat i keras oleh sakit hat i, kem udian m enj adi t ak peduli oleh keadaannya sebagai seorang ket ua paksaan dari Bu- tong- pai, seorang yang bercit acit a unt uk m encarikan kedudukan set ingginya bagi put eranya. Kedudukannya m em beri dia perasaan lebih dan berkuasa, m aka t im bul sifat unt uk bert indak sewenang- wenang t anpa m em pedulikan orang lain lagi. Akan t et api, selain hubungan gelap dengan m uridnya yang t ersayang ini, Kwat Lin j uga m ulai dengan langkah- langkah ke arah t ercapainya cit a- cit anya. Dia m ulai m em perkuat Bu- tongpai dengan m engadakan hubungan dengan para pem besar di kot a raj a m elalui anggauta- anggaut a barunya, yait u para pem besar yang m em punyai cit a- cit a yang sama, para pembesar calon pembrontak. Kedudukan Bu- tong- pai makin kuat setelah t erj adi perist iwa hebat pada beberapa hari yang lalu. Pada beberapa hari yang lalu, pagi- pagi sekali, anak buah Bu- tong- pai gem par dengan m unculnya dua orang lakilaki di pint u gerbang Bu- tong- pai. Tidak ada seorang pun anak buah Bu- tong- pai yang berani sem barangan t urun t angan ket ika m endengar dan m engenal bahwa dua orang ini adalah t okoh- t okoh besar dalam dunia persilat an. Ket ika seorang diant ara m ereka, yang usianya sudah enam puluh t ahun lebih, kum is dan j enggot nya sudah put ih, m engat akan bahwa m ereka m int a berj um pa dengan ket ua Bu- tong- pai yang baru, para anak m urid Bu- tong- pai cepat m em beri kabar kepada The Kwat Lin yang pada saat it u m asih enak- enak pulas dalam pelukan m uridnya, j uga kekasihnya, Buswi Liang! Terkej ut lah dia ket ika pint u kam arnya diket uk dan m endengar suara seorang murid bahwa di luar pintu gerbang terdapat dua orang tamu, ayah dan anak she Coa dari dusun Koan- t eng di kaki Pegunungan Bu- tong- san yang m int a bert em u dengan ket ua! " Suruh m ereka m enant i di luar! Aku segera dat ang! " kat a Kwat Lin dengan m arah. Tak lam a kem udian, Kwat Lin yang dit em ani oleh Swi Liang dan Swi Nio, j uga ikut pula Han Bu Ong yang usianya ham pir sebelas t ahun, keluar dari pint u gerbang m enem ui dua orang it u. Senyum m engej ek m enghias bibir ket ua Bu- tongpai yang cant ik it u. Sem enj ak dia m eram pas kedudukan ket ua dengan paksa, sudah lim a kali dia didat angi t okoh- t okoh kang- ouw yang agaknya dat ang karena perm int aan para t osu Bu- tong- pai yang m engundurkan diri. Para t okoh ini m erasa penasaran dan m em bela para t okoh Bu- tong- pai. Dengan m udahnya sem ua t okoh yang dat ang bert urut - t urut it u dirobohkan oleh Kwat Lin, ada yang t ewas seket ika, ada yang t erpaksa pergi m em baw a luka- luka berat ! Dan kini, ayah dan anak yang dat ang it u m erupakan t okoh- t okoh yang dat ang ke enam kalinya. Swi Liang dan Swi Nio yang m enggandeng t angan Bu Ong segera m inggir dan m em biarkan subu m ereka seorang diri m enghadapi dua orang t am u it u. Dengan pakaian yang m ewah dan indah, dandanan sepert i put eri keraj aan, The Kwat Lin t am pak sebagai seorang wanit a bangsawan agung yang m em iliki wibawa. Dengan sikap angkuh dia m elangkah m aj u m enghadapi dua orang it u sam bil t ersenyum . Kedua orang it u berpakaian sederhana, nam un dari sikap m ereka yang t enang j elas t am pak kegagahan m ereka sebagai pendekar- pendekar penent ang kej ahat an. Kakek it u biarpun sudah t ua, m asih kelihat an sehat dan kuat , j enggot dan kum isnya yang putih menambah keangkeran wajahnya.Di pinggangnya tergantung sebatang pedang dan dia m em andang ket ua Bu- tong- pai dengan sinar m at a penuh selidik. Orang ke dua m asih m uda, paling banyak t iga puluh t ahun usianya, bert ubuh t egap dan berwaj ah t am pan gagah. Ada kem iripan pada waj ah kakek dan laiki- laki ini dan m em ang m ereka it u adalah ayah dan anak yang t erkenal sekali nam anya sebagai pendekar- pendekar dari dusun Koan- t eng yang m enj adi sahabat - sahabat baik dari para t osu Bu- tong- pai. Kakek Coa Hok m em iliki ilm u pedang t urunan keluarga Coa yang am at lihai dan ilm u pedang ini dit urunkan pula kepada put eranya it u yang bernam a Coa Khi. Ket ika ayah dan anak ini m endengar akan m alapet aka yang

163

Bu Kek Siansu
m enim pa para pem im pin Bu- tong- pai, yait u m unculnya orang t erm uda dari Cap- sha Sinhiap, seorang wanit a yang m eram pas kedudukan ket ua , kem udian m endengar bet apa banyak sahabat - sahabat kang- ouw yang m em bela m ereka t elah roboh di t angan wanit a it u, m ereka berdua m enj adi m arah sekali. Sebagai orang- orang yang biasa m enent ang kej ahat an m ereka t idak m em pedulikan berit a t ent ang kesakt ian wanit a it u dan berangkat lah m ereka m eninggalkan rum ah, berbekal pedang, sem angat dan kebenaran, naik ke Bu- tong- san m enj um pai ket ua Bu- tong- pai it u. The Kwat Lin bukan seorang bodoh. Set iap kali ada t okoh naik ke Bu- tong- san dan hendak m enant angnya, dia selalu m em buj uk m ereka unt uk berdam ai dan bekerja sam a. Selam a cit a- cit anya belum t ercapai, dia m em but uhkan bant uan sebanyak m ungkin orang pandai. Maka set iap kali ada orang gagah dat ang dengan m aksud m enant angnya dan m em bela para bekas pim pinan Bu- tong- pai, dia selalu menyambut mereka dengan bujukan manis. Hanya karena bujukannya tidak berhasil dan m ereka it u berkeras, t erpaksa dia t urun t angan m enerim a t ant angan m ereka. Mem ang dem ikianlah sifat orang- orang yang m em punyai cit a- cit a besar, cit a- cita yang sesungguhnya hanyalah nafsu keinginan unt uk kesenangan diri pribadi. Dem i tercapainya cita- cita yang merupakan pamrih bagi diri peribadi ini, orang tidak segan unt uk bersikap palsu, m em buj uk orang sebanyaknya unt uk m em bant unya dem i t ercapainya cit a- cit a it u. Orang- orang yang t idak m em bant u di anggap m usuh dan perlu dibasmi agar jangan menjadi penghalang cita- citanya, sebaiknya, mereka yang mati- m at ian m em bant unya, j ika cit a- cit a it u sudah t ercapai sebagian besar dilupakannya begit u saj a! At au kalau t eringat pun, hanya diberi pahala sekedarnya karena yang pent ing bukan orang- orang yang m em bant unya, m elainkan dirinya sendiri! Begit u berhadapan dengan ayah dan anak it u, The Kwat Lin m engangkat kedua tangannya ke depan dada sambil berkata. "Kiranya Ji- wi Coa- enghiong (Kedua Pendekar she Coa) yang dat ang. Suadh lam a kam i m endengar Ji- wi yang t erkenal gagah perkasa, m aka kam i m erasa berunt ung sekali hari ini dapat bert em u. Apalagi m endengar bahwa Ji- wi adalah sahabat baik dari Bu- tiong- pai....." " The Kwat Lin! " Kakek Coa m em bent ak dengan t elunj uk kiri m enuding ke arah m uka ket ua baru But ongpai it u. " Aku m engenalm u sebagai seorang di ant ara Cap- sha Sin- hiap yang gagah perkasa, sebagai seorang m urid Bu- tong- pai yang selalu m enj unj ung t inggi nam a Bu- tong- pai. Aku t elah puluhan t ahun bersahabat dengan Bu- tong- pai dan t elah m endengar akan nam am u. Akan t et api, m engapa set elah m enghilang bert ahut ahun, engkau kem bali ke sini dan m enj adi seorang m urid m urt ad, m eram pas kedudukan ket ua m engandalkan kekerasan dan kepandaian? Aku sebagai seorang sahabat Bu- tong- pai t ent u saj a t idak m ungkin dapat m endiam kan hal penasaran ini t anpa t urun t angan! " Kwat Lin t ersenyum m anis dan m elirik ke arah Soa Khi yang berwaj ah t am pan, akan t et api Coa Khi m engerut kan alis dan m em andang penuh kem arahan. " Coa- lo- enghiong agaknya kena dibuj uk orang! Mem ang benar saya m enj adi ket ua Bu- tong- pai, akan t et api hal it u adalah dem i kebaikan Bu- tong- pai, dem i cint a saya kepada Bu- tong- pai. Saya ingin m enj adikan But ong- pai perkumpulah terbesar dan terkuat di dunia kang- ouw, dan saya ingin menarik semua orang gagah menjadi sahabat yang dapat bekerja sama. Karena itu, saya harap Ji- wi dapat m em buka m at a m elihat kenyat aan dan saya persilahkan Ji- wi unt uk dat ang sebagai sahabat dan unt uk m inum arak persahabat an bersam a kam i." " Perem puan m urt ad! Jangan m engira dapat m enyogok kam i dengan om ongan m anis! " Kakek it u m em bent ak m arah. Kedua alis yang hit am kecil dan panj ang it u bergerak- gerak dan biarpun m ulut yang berbibir it u m asih t ersenyum , nam un kat a- kat a yang keluar m engandung nada dingin, " Habis apa yang kalian akan lakukan?" " Sing! Singggg! ! " Ayah dan anak it u t elah m encabut pedang dan kakek Coa berkat a, " Hanya ada dua pilihan bagi engkau dan kam i. Pert am a engkau pergi m eninggalkan Bu- tong- pai dan kam i akan bert erim a kasih kepadam u yang m engem balikan Bu- tong- pai, kepada para pim pinan Bu- tong- pai, at au kalau engkau berkeras t erpaksa kam i ayah dan

164

Bu Kek Siansu
anak t urun t angan m enggunakan pedang m em bela kehorm at an sahabat sahabat dari Bu- tong- pai! " " Hi- hik! Bet apa gagahnya keluarga Coa! Apakah ilm u Pedang Hokliong- kiamsut sehebat sikap m ereka, perlu dit ont on dulu! " Tiba- t iba t erdengar suara yang lant ang dan m erdu ini. Sem ua orang m enengok, j uga The Kwat Lin yang m enj adi t erkej ut m elihat ada orang dat ang t anpa diket ahuinya. Hal it u saj a m em bukt ikan bahwa wanit a yang m uncul ini m em iliki ilm u kepandaian yang hebat . Ayah dan anak it u m endengar nam a ilm u pedang t urunan m ereka disebut - sebut, j uga m enengok dengan kaget . Wanit a it u pakaiannya m ent ereng dan biarpun usianya sudah kurang lebih set engah abad, nam un harus diakui bahwa dia adalah seorang wanit a cant ik. Ram but nya hit am gem uk dan panj ang, dibiarkan t erurai sam pai kepinggulnya yang m enonj ol di balik celana yang ket at . Tangan kanannya m em anggul sebat ang payung hit am dan wanit a it u t ahu- t ahu t elah berdiri di sit u dengan gaya lem ah lem but . Dia seorang wanit a yang m asih kelihat an cant ik dengan t ubuh padat akan t et api ada sesuat u yang dingin m engerikan keluar dari sikapnya, t erut am a sekali sepasang m at anya yang am at t aj am it u karena m at a it u t erbelalak m em andang ham pir t ak pernah berkej ap! Melihat wanit a ini, kakek Coa t erkej ut bukan m ain dan ot om at is dia berseru keras. " Kiam - m o Cai- li....! ! " Put eranya, Coa Khi t erkej ut . Tent u saj a dia sudah pernah m endengar nam a ini, nam a seorang dat uk kaum sesat yang am at t erkenal sebagai seorang iblis bet ina yang selain kej am dan ganas, j uga am at t inggi ilm u kepandaiannya. Kakek Coa m erasa heran sekali m engapa iblis bet ina yang sudah bert ahun- t ahun t ak pernah m uncul di dunia kangouw dan kabarnya hanya bert apa di t em pat kediam annya, yait u di Rawa Bangkai di kaki Penggunungan Lu- liang- san it u t ahu- t ahu kini m uncul di sit u. Dan biasanya, di m ana pun iblis it u m uncul, t ent u akan t erj adi m alapet aka hebat ! The Kwat Lin j uga sudah m endengar nam a it u, yait u sepuluh t ahun yang lalu ket ika dia m asih m enj adi seorang di ant ara Cap- sha Sin- hiap. Ket ika it u, nam a Kiam - m o Cai- li ( Wanit a Cerdik Berpedang Payung) sudah am at t erkenal. Akan t et api dia belum pernah bert em u dengan iblis bet ina it u dan sekarang dia m elirik ke arah wanit a it u dengan senyum m engej ek. Dengan kepandaiannya sepert i sekarang ini, dia t idak perlu t akut menghadapi iblis yang manapun juga! "Kiam- mo Cai- li, apakah kedatanganmu tanpa diundang ini pun hendak m enant ang aku sebagai ket ua But ong- pai? Kalau m em ang demikian, jangan kepalang tanggung, majulah kau bersama kedua orang She Coa ini agar lebih cepat aku m enghadapi kalian! " Ucapan yang keluar dengan t enangnya dari m ulut ket ua Bu- tong- pai it u m engej ut kan hat i kedua orang ayah dan anak She Coa it u. Berani bukan m ain wanit a ini m enant ang Kiam - mo Cai- li sepert i it u! Menyuruh dat uk kaum sesat it u unt uk m engeroyok! Akan t et api Kiam - m o Cai- li t ert awa lebar sehingga t am paklah deret an giginya yang put ih dan rapi, " Hi- hi- hik, hebat sekali m ulut ket ua baru Bu- tong- pai! Pant as kau disebut - sebut di dunia kangouw, kiranya m em ang m em ilki keberanian yang hebat ! Hanya karena m endengar engkau adalah Ratu Pulau Es maka aku terpaksa meninggalkan tempatku yang aman dan tenteram. Kalau tidak karena nama ini, biar siapa pun yang akan menduduki Butong- pai, aku peduli apa? Sekarang hendak kulihat bagaim ana kau m enghadapi pewaris- pewaris ilm u Pedang Hok- liong- kiam sut yang t erkenal ini. Kalau kau m em ang berharga unt uk m elawanku, barulah kit a nant i bicara lagi! " The Kwat Lin t ersenyum m engej ek dan m endenguskan suara dari hidung. " Hem m , kau m erasa t erlalu t inggi unt uk m engeroyok? Baiklah, kalau begit u t unggu saj a sam pai aku m em bereskan dua oran ini. Di sini t idak ada bangku, duduklah di sini! " Set elah berkat a dem ikian, Kwat Lin m engham piri sebat ang pohon dan sekali t angan kirinya bergerak m enyabet dengan t elapak t angan m iring, t erdengar suara keras dan pohon it u t um bang. Hebat nya, bat ang pohon it u put us sepert i dibabat pedang t aj am saj a, rat a dan halus sehingga sisanya m erupakan sebuah bangku! " Hi- hi- hik, m em ang hebat sinkangm u! Terim a kasih, aku m enant i di sini," kat a Kiam - m o Cai- li Liok Si dan sekali m eloncat , t ubuhnya sudah m elayang ke at as bat ang pohon yang

165

Bu Kek Siansu
m erupakan bangku berm uka halus it u. Dia duduk bert um pang kaki dan m enunj ang dagu dengan sebelah t angan, sepert i seorang yang akan m enikm at i suat u t ont onan yang m enarik. Ayah dan anak she Coa it u saling pandang. Di dalam pandang m at a yang bert em u ini m ereka sepert i sudah saling bicara, m enyat akan bahwa m ereka m enghadapi lawan yang am at lihai. Akan t et api, j iwa pendekar kedua orang ini m em buat m ereka sam a sekali t idak m erasa gent ar. Mereka bukan saj a m em bela sahabat- sahabat m ereka Kui Tek Toj in dan para t okoh Bu- tong- pai, akan t et api j uga m enunt ut balas at as kem at ian dan kekalahan para t okoh kang- ouw yang dat ang lebih dulu dari m ereka m em bela But ong- pai. Selain it u m ereka sudah dat ang sebagai dua orang penunt ut kebenaran, kalau sekarang m ereka harus m undur m elihat kehebat an lawan, hal ini akan m em buat m ereka m enj adi pengecut dan bagi dua orang pendekar sepert i m ereka yang nam anya sudah t erkenal harum selam a beberapa ket urunan, lebih baik m at i sebagai orang gagah dari pada hidup m enj adi pengecut hina! " Kalau begit u, The Kwat Lin, bersiaplah engkau! " t eriak kakek Coa dan pedang di t angan kanannya sudah m elint ang di depan dada. Gerakan ini dit urut oleh Coa Khi dan kedua orang itu berdiri berjajar dengan memasang kuda- kuda yang kuat . Kwat Lin m enggerakan t angan kanannya dan t ongkat pusaka ket ua Bu- tongpai yang selalu dipegangnya it u m enancap di at as t anah di depannya. Tongkat itu baginya perlu unt uk m enghadapi orang- orang But ong- pai yang m enghorm at i t ongkat it u dan m enganggapnya sebagai benda keram at lam bang kedudukan t ert inggi di Bu- tong- pai. Kini, m enghadapi dua orang luar, dia t idak m au m em pergunakannya, dan j uga unt uk m em am erkan kepandaiannya, dia sengaj a hendak m enghadapi dua orang it u dengan t angan kosong! " Ceppp! " Tongkat it u am blas set engahnya ke dalam t anah dan sekali Kwat Lin m enggerakan ke dua kakinya, t ubuhnya m encelat ke depan dua orang gagah se Coa it u sam bil berkata, " Mulailah! " " Sing, sing.... wut - wut- wut- wut t t t ....! ! " Bert ubu- t ubi kedua pedang it u m enyam bar dengan kekuat an dan kecepat an dahsyat sehingga t am pak sinar- sinar berkilauan dibarengi suara bersiut an ket ika kedua pedang m em belah udara. Diam diam Kwat Lin t erkej ut dan harus m em uj i kehebat an dan keindahan gerakan ilm u pedang m ereka it u. Nam un, t ent u saj a dengan lat ihan yang didapat nya dari Pulau Es, gerakanya lebih cepat lagi sehingga dengan m udah dia dapat m engelak ke sanasini m enghindarkan diri dari sam baran sinar kedua pedang it u dengan gerakan yang cepat dan indah. Set elah m erasa yakin bahwa bet apapun indah dan lihainya ilm u pedang m ereka nam un dia m asih m em iliki t ingkat j auh lebih t inggi dalam hal sinkang, Kwat Lin t ersenyum dan bagaikan seekor kucing m em perm ainkan dua ekor t ikus, dia sengaj a selalu m engelah ke sana ke m ari m em am erkan kegesit an t ubuhnya, bukan hanya kepada dua orang it u m elainkan t erut am a sekali kepada wanit a yang dianggapnya m erupakan calon lawan yang lebih lihai, yait u Kiam - mo Cai- li yang m enont on pert andingan it u. Tiba- t iba Kwat Lin m engeluarkan seruan t ert ahan ket ika lirikan m at anya m em buat dia m aklum bahwa ada dua orang bekas anak buah Bu- tong- pai yang m endekat i t ongkat pusaka it u dan berusaha m encabut t ongkat pusaka dari dalam t anah. Perist iwa it u t erj adi cepat sekali nam un Kwat lin yang cerdik lebih cepat lagi m engam bil kesim pulan bahwa dua orang it u t ent ulah pengkhianat pengkhianat yan berpura- pura t akluk kepadanya nam un diam - diam m encari kesem pat an unt uk m encuri t ongkat pusaka, t ent u dengan m aksud m engem balikan t ongkat it u kepada Kui Tek Toj in! Pada saat it u, dua pedang ayah dan anak it u m enusuk dari depan dan belakang dengan cepat nya. Kwat Lin t ent u saj a agak t erlam bat gerakanya oleh perhat ian yang t erpecah t adi, m aka dia cepat menggulingkan t ubuhnya, m engelak dari t usukan pedang di depan, sedangkan t usukan pedang dari belakang yang m asih m engancam nya di t angkisnya dengan lengan kiri yang dilindungi gelang- gelang em as. " Cringggg....! ! " Coa Khi t erkej ut bukan m ain ket ika lengan yang m em egang pedang it u t erget ar hebat dan ham pir saj a pedangnya t erlepas dari pegangan ket ika bert em u dengan gelang di

166

Bu Kek Siansu
pergelangan t angan kiri ket ua Bu- tong- pai it u! Ket ika dia dan ayahnya m em andang, t ernyat a wanit a it u t elah lenyap dan t ahu- t ahu t erdengar j erit- j erit m engerikan dari kiri. Ket ika m ereka m em andang, t ernyat a wanit a it u t elah m erobohkan dua orang laki- laki yang t adi m encoba m encuri t ongkat pusaka. Dua orang laki- laki it u roboh dengan kepala pecah disam bar j ari- j ari t angan Kwat Lin yang m arah. Set elah m em bunuh kedua orang it u, sekali m eloncat Kwat Lin sudah kem bali m enghadapi dua orang lawannya. kini dialah yang m enerj ang, m enyerang dengan kedua t angan t erbuka, cepat nya bukan m ain sehingga ayah dan anak it u t erpaksa m udur sam bil m elindungi t ubuhnya dengan pedang. Seru dan indah dipandang pert andingan it u. Tubuh Kwat Lin lenyap dan hanya kadang- kadang saj a t am pak, bergerak- gerak di ant ara gulungan dua sinar pedang. Dia seloah- olah seorang penari yang am at indah dan lem ah gem ulai gerakannya, sepert i sedang berm ain- m ain dengan gulungan sinar pedang yang dipandang sepint as lalu sepert i dua helai selendang yang di m ainkan oleh wanit a it u. Tiba- t iba kedua orang ayah dan anak it u m engeluarkan pekik yang m engget arkan bum i dan t am pak m ereka m enerj ang secara berbareng dari depan dengan pedang t erangkat ke at as dan m em bacok sam bil m eloncat . I nilah j urus paling am puh dari ilm u pedang m ereka lakukan dengan berbareng, j urus t erakhir dari Hokliong- kiam - sut ( I lm u Pedang Naga) . Serangan ini dem ikian dahsyat nya sehingga t idak m em ungkinkan lawan yang diserangnya unt uk m engelak lagi karena j alan keluar sudah t ert ut up dan ke m ana pun lawan m engelak, uj ung pedang t ent u akan m engej ar t erus. Akan t et api, sam bil t ersenyum Kwat Lin t idak m enghindarkan diri sam a sekali t idak m engelak, bahkan m enubruk ke depan, t ibat iba ket ika t ubuh Coa Khi yang m eloncat ke at as it u sudah dekat dan pedang pem uda it u sudah m enyam bar ke arah kepalanya, dia m enj at uhkan diri ke bawah, berj ongkok dan kedua t angannya m enyam bar ke at as dan depan dengan j ari- jari t erbuka. " Hyaaaaat t t ....! ! " Pekik m elengking yang keluar dari m ulut Kwat Lin ini dahsyat sekali dan kedua t angan yang m engandung sepenuhnya t enaga I nt i Salj u yang am puh it u t elah m enyam bar perut kedua orang laawannya. " Plak! Plak! " Tam paran j ari- j ari t angan yang m engandung t enaga sinkang m uj ij at ini t epat m engenai perut Coa Khi yang sedang m elayang di at as dan Coa Hok yang berada di depan. Ayah dan anak it u m engeluarkan j erit t ert ahan yang m engerikan. Mereka m erasa t ubuh m ereka dim asuki hawa dingin yang t ak t ert ahankan hebat nya dan robohlah ayah dan anak it u, roboh t anpa dapat berkut ik lagi karena m ereka t elah tewas dengan muka membiru karena darah mereka telah beku terkena pukulan yang mengandung Swat- im- sinkang hebat dari Pulau Es! "Bagus sekali....!!" Kiam- mo Caili Liok Si memuji dan melayang turun dari atas batang pohon dan berdiri berhadapan dengan ket ua Bu- tong- pai it u. Keduanya sam a cant ik dan sam a m ewah pakaiannya, dan sej enak m ereka saling pandang sepert i hendak m engukur kelebihan lawan dengan pandang m at a. " Hebat kepandaianm u, Pangcu ( Ket ua) ! Melihat t ingkat m u, engkau pant as m enj adi lawanku bert anding, m ari kit a coba- coba, siapa diant ara kit a yang lebih lihai! " The Kwat Lin m engerut kan alisnya dan bert anya, " Kiam - m o Cai- li, diant ara kit a t idak pernah ada urusan sesuat u. Apakah engkau m enant angku dem i m em bela para t osu Bu- tong- pai yang sudah m engundurkan diri?" " Hi- hi- hik!" Wanita yang sudah ham pir nenek- nenek nam un m asih am at genit it u t erkekeh. " Aku m em bela t osu Bu- tong- Pai? Jangan bicara ngaco! Bagi aku, siapa pun yang akan m enj adi ket ua Bu- tong- pai, m asa bodoh! Akan t et api m endengar bahwa yang m enget uai Bu- tong- pai disebut Rat u Pulau Es, hat iku t ert arik dan sekarang m elihat engkau benar- benar lihai, m akin ingin hat iku m enguj i kelihaianm u dan bert anya apakah benar engkau Rat u Pulau Es?" Kwat Lin m engangguk. " Benar, aku adalah bekas Rat u Pulau Es! Kiam - m o Cai- li, kalau engkau t idak m em bela t osu- t osu Butong- pai perlu apa kit a bert anding? Ket ahuilah, aku sedang m em bangun Bu- tongpai dan aku m em but uhkan kerj a sam a dengan orang- orang pandai, t erut am a sekali engkau. Apakah seorang dengan kepandaian sepert i engkau ini t idak pula

167

Bu Kek Siansu
m em punyai cit a- cit a t inggi unt uk m encapai m at ahari dan bulan? At aukah hanya m enant i kem at ian begit u saj a, m em busuk di t em pat pert apaanm u di Rawa Bangkai?" " Hi- hi- hik, aku sudah m endengar pula akan usaham u yan bercit a- cita luhur! Karena it u pula aku t ert arik dan dat ang ke sini. Akan t et api sebelum kit a bicara t ent ang kerj a sam a dan cit a- cit a, kit a harus m enent ukan dulu siapa diant ara kit a yang pat ut m em im pin dan siapa pula yang harus t aat ." " Maksudm u?" The Kwat Lin m em andang t aj am dengan alis berkerut . " Kit a bekerj a sam a, it u past i! Dan kalau kit a berdua sudah bekerj a sam a, di t angan kit a kaum wanit a, t ent u segalanya akan berhasil baik! Lihat saj a keadaan di ist ana keraj aan. Seorang selir m am pu m engem udikan seluruh kendali pem erint ahan! Akan t et api unt uk m enent ukan siapa yang akan m enj adi pem im pinnya diant ara kit a, perlu diket ahui sekarang j uga." " Bagus! Dengan lain kat a- kata engkau m enant ang unt uk kit a m engadu kepandaian, ya? Kiam - m o Cai- li, engkau sepert i seekor kat ak dalam sum ur! Maj ulah! " Kwat Lin m em bant ing kakinya ke at as t anah dekat pusaka Bu- tong- pai dan.... t ongkat yang m enancap set engahnya lebih it u m encelat ke at as sepert i didorong dari bawah t anah, lalu t ongkat it u disam bar dan dipegangnya. Kiam - m o Cai- li m engangukangguk. " Hebat m em ang sinkangm u, Pangcu. Akan t et api j angan kau salah sangka. Sekali ini aku benar- benar m enyadari bahwa usiaku sudah m akin t ua dan aku perlu m em peroleh kedudukan yang akan m enj am in m asa t uaku sam pai m at i. Kit a hanya m engukur kepandaian, bukan bert anding sebagai m usuh, hanya unt uk m enent ukan t ingkat siapa yang lebih t inggi di ant ara kit a berdua." Mendengar kat a- kat a ini, berkurang panas hat i Kwat Lin dan t eringat lagi dia bahwa bet apapun j uga, dia m em but uhkan t enaga bant uan wanit a iblis yang t erkenal sebagai dat uk kaum sesat ini. Kalau dia dapat m enarik wanit a ini sebagai pem bant u, t ent u akan banyak t okoh kaum sesat yang dapat dit ariknya unt uk m em bant u t ercapainya cit a- citanya. " Baiklah kalau begit u, Kiam - m o Cai- li. Mari kit a m ulai! " " Pangcu, awas serangan pedang payungku! " Kiam - m o Cai- li berseru dan t ubuhnya sudah m enerj ang ke depan, didahului oleh bayangan hit am dari pedang payungnya yang t erbuka dan m enyem bunyikan gerakannya. Uj ung payung berbent uk pedang it u m enusukkan payung it u sendiri berput ar m engaburkan pandangan m at a lawan. Nam un, dengan t enang saj a Kwat Lin m enggerakan t angan kirinya, dengan t elapak t angan t erbuka dia m endorong ke depan sehingga hawa pukulan sinkang yang hebat m enyam bar dan m em buat payung it u sepert i t ert iup angin keras dan m enahan daya serang uj ung payung yang sepert i pedang, kem udian disusul dengan gerakan t ongkat pusaka dit angan Kwat Lin m enyam bar dari sam ping dengan dahsyat nya. " Plakk...! Cringggg- cring....! ! " Tongkat it u dit angkis, pert am a dengan kuku t angan Kiam - mo Cai- li yang hendak m encengkeram dan m eram pas t ongkat , nam un t ongkat sudah dit arik kem bali dan m engirim hant am an dua kali bert urut - t urut yang dapat dit angkis oleh pedang di uj ung payung. Maklum akan kehebat an lawannya, Kiam - m o Cai- li bergerak cepat sekali dan dia sudah m ainkan ilm u pedangnya yang luar biasa, yait u Tiat- m o Kiam - hoat ( I lm u Pedang Payung Besi) . Kalau saj a kwat Lin belum m ewarisi ilmu- ilmu yang amat tinggi tingkatnya dari Pulau Es, tentu dia bukanlah lawan Kiamm o Cai- li yang lihai sekali it u. Akan t et api, karena The Kwat Lin kini t elah m enj adi seorang yang berilm u t inggi, m aka dia dapat m engim bangi perm ainan lawannya dan t erj adilah pert andingan yang am at seru dan seim bang. Kiam - m o Cai- li m em ang luar biasa lihainya. Tidak percum a dia m enj adi seorang dat uk kaum sesat , seorang t okoh golongan hit am yang dit akut i sepert i seorang iblis bet ina yang kej am dan berilm u t inggi. Tdak hanya ilm u pedangnya yang lain dari pada yang lain, perm ainan pedang yang gerakan t angannya t erlindung dan t ersem bunyi oleh payung hit am sehingga lebih prakt is dan berbahaya daripada m enggunakan perisai, akan t et api di sam ping ilm u pedangnya ini j uga t angan kirinya m erupakan senj at a yang am at berbahaya dengan kuku- kukunya yang panj ang dan m engandung racun. I ni sem ua m asih dilengkapi lagi dengan ram but nya yang hit am panj ang, karena ram but nya ini sepert i

168

Bu Kek Siansu
ular- ular hidup, dapat dipergunakan unt uk m enot ok, m elecut , at au m elibat ! Akan tetapi, tidak percuma pula The Kwat Lin pernah menjadi isteri seorang manusia yang disohorkan sepert i set engah dewa, yait u Han Ti Ong yang sukar diukur lagi t ingkat kepandaiannya. Tidak percum a selam a sepuluh t ahun bekas m urid Bu- tong- pai ini digembleng di Pulau Es, apalagi t elah m ewarisi kit ab- kit ab pusaka Pulau Es yang t elah dilarikannya. Yang j elas, dalam hal t enaga sinkang, dia m asih m enang set inggkat dibandingkan dengan Kiam - m o Cai- li. Tenaga sinkangnya adalah hasil lat ihan di Pulau Es, m aka dia t elah dapat m enyedot t enaga int i salj u, yait u Swat - im Sin- kang, t enaga sinkang yang m engandung hawa dingin sehingga lawan yang kurang kuat sekali bert em u t enaga akan m enj adi beku darahnya. Selain m enang dalam t enaga sinkang, j uga dasar ilm u silat nya lebih sem purna daripada dasar ilm u silat Kiam - m o Cai- li yang sesungguhnya m erupakan gabungan ilm u silat cam puraduk. Dem ikianlah, pert andingan it u berlangsung sam pai serat us j urus lebih dengan am at serunya. Kiam - m o Cai- li m enang keanehan senj at anya dan m enang pengalaman bertanding akan tetapi kelebihannya ini menjadi tidak berarti karena dia kalah t enaga sinkang sehingga set iap serangan dan desakannya m em buyar oleh hawa sinkang dari dorongan t elapak t angan The Kwat Lin. Akhirnya, iblis bet ina ini harus m engakui keunggulan lawan dan dia sebagai seorang ahli m aklum bahwa kalau dilanjutkan, salah- salah dia akan menjadi korban hawa Swat- im Sin- kang yang m uj ij at . Maka dia m eloncat ke belakang dan berseru, " Cukup, Pangcu! Kepandaianm u hebat , engkau pant as m enj adi Rat u Pulau Es, pant as m enj adi ket ua Bu- tong- pai dan biarlah aku m em bant um u dalam kerj a sam a kit a! " Dapat dibayangkan bet apa girangnya hat i Kwat Lin m endengar ini. Dia lalu m engham piri Kiam m o Cai- li, m enggandeng t angan wanit a it u dan m em perkenalkan kepada Swi Liang, Swi Nio, dan Han Bu Ong. Kemudian dia mengajak sahabat baru itu memasuki gedungnya dan sam bil m enghadapi hidangan lezat kedua orang wanit a lihai ini bercakap- cakap dan m engadakan perundingan unt uk bekerj a sam a. Ternyat a m ereka cocok sekali dan m em ang keduanya m erindukan kedudukan yang m ulia dan t erhorm at , m aka dalam perundingan ini. Kiam - m o Cai- li diangap sebagai pem bant u ut am a dan t angan kanan Kwat Lin, bahkan Rawa Bangkai yang t erlet ak di kaki Pegunungan Lu- liang- san it u dij adikan m arkas kedua di m ana kelak akan dilakukan sem ua pert em uan dan perundingan rahasia. Benar saj a sepert i yang diharapkan, set elah Kiam - m o Cai- li m enj adi pem bant unya, banyaklah kaum sesat yang m enggabung dan m enyat akan suka bekerj a sam a sehingga biarpun t idak resm i, m ulai saat it u The Kwat Lin bukan hanya m enj adi ket ua Bu- tong- pai, akan t et api j uga diakui sebagai dat uk kaum sesat nom er sat u! Hubungan rahasia yang diadakan oleh The Kwat Lin dengan para pem besar kot a raj a m enj adi m akin luas, dan diam diam persekut uan ini m ulai m engat ur rencana pem beront akan unt uk m enggulingkan Kaisar! Dari para pem besar yang m engharapkan bant uan orang- orang kang- ouw inilah Kwat Lin m em peroleh bant uan keuangan sehingga Bu- tong- pai m enj adi m akin kuat dan wanit a lihai ini dapat m enarik banyak t enaga bant uan orang pandai dengan m em pergunakan uang sebagai pancingan. Keadaan keraj aan Tang di m asa it u m em ang sedang diancam pergolakan hebat . Kaisarnya, yait u Kaisar Beng Ong, at au yang t erkenal j uga dengan sebut an Kaisar Hian Tiong. Tak dapat disangkal lagi, di bawah pem erint ahan Kaisar Beng ini Keraj aan Tang m engalam i perkem bangan yang am at pesat sehingga m enj adi sebuah keraj aan yang luas sekali wilayahnya. Di j am an pem erint ahannya inilah ( 712- 756) di Tiongkok berm unculan sast rawansast rawan dan pelukis- pelukis yang m enj adi t erkenal sekali dalam sej arah, sepert i Li Tai- po, Tu Fu, Wang Wei dan lain- lain. Nam un, disayangkan bahwa kebij aksanaan Beng Ong dalam m engem udikan roda pem erint ahan ini m engalam i godaan hebat yang m erunt uhkan segala- galanya. Sepert i t elah t erj adi seringkali, di j am an apa pun dan di negara m anapun j uga, Beng Ong yang hat inya t eguh m enghadapi godaan segala m acam keduniawian, t ernyat a lum puh ket ika m enghadapi seorang wanit a!

169

Bu Kek Siansu
Bet apa banyaknya sudah dibukt ikan oleh sej arah, bet apa pria- pria yang hebat, pandai, gagah perkasa dan kuat hat inya, m enj adi luluh dan t ak berdaya begit u bert em u dengan seorang wanit a yang berkenan di hat inya. Perist iwa it u t erj adi dalam t ahun 745. Ket ika it u, Raj a Beng Ong sudah berusia enam puluh t ahun lebih. Sebenarnya sudah t ua dan sudah kakek- kakek, nam un sepert i t elah t erbukt i dari j am an dahulu sam pai sekarang, laki- laki, bet apapun t uanya dalam m enghadapi wanit a m enj adi sepert i seorang kanak- kanak yang hij au dan lem ah. Seorang di ant ara banyak pangeran, yait u put era Kaisar yang t erlahir dari banyak selirnya adalah Pangeran Su. Pangeran ini m em punayi seorang ist eri yang am at cant ik j elit a, dan m enurut kabar angin, wanit a ini cant iknya m elebihi bidadari kahyangan. Wanit a ini bernam a Yang Kui Hui, dan m em ang wanit a ini m em iliki kecant ikan yang am at luar biasa sehingga t erkenal di seluruh penj uru dunia. Ket ika Kaisar Beng Ong dalam suat u kesem pat an bert em u dan m elihat Yang Kui Hui, seket ika hat i Kaisar t ua it u tergila- gila. Ratusan orang selir cantik dan pelayan- pelayan muda dan perawan tidak lagi m enarik hat inya dan set iap saat yang t am pak di depan m at anya hanyalah waj ah Yang Kui Hui yang cant ik j elit a. Akhirnya, Kaisar t idak lagi dapat m enahan nafsu hat inya. Dengan kekerasan dia m em aksa put eranya sendiri, Pangeran Su, unt uk menceraikan ist erinya dan m engawinkan pangeran ini dengan seorang wanit a lain. Adapun Yang Kui Hui, t ent u saj a, segera dim asukan ke dalam ist ana, di dalam kum pulan harem ( rom bongan selir) di ist ana. Set elah Yang Kui Hui pada m alam pert am a m elayani Kaisar Beng Ong, bekas ayah m ert uanya, sej ak saat it ulah t erj adi lem bar baru dalam sej arah Keraj aan Tang. Kaisar Beng Ong yang t adinya giat m engurus pem erint ahan, m em perhat ikan segala urusan pem erint ahan sam pai ke soal yang sekecil- kecilnya, kini m ulai t idak acuh dan m enyerahkan sem ua urusan ke t angan para Thaikam ( Orang Kebiri, Kepercayaan Raj a) dan para pem besar yang berwenang. Dia sendiri dari pagi sam pai j auh m alam t ak pernah m eninggalkan t em pat t idur di m ana Yang Kui Hui m enghiburnya dengan penuh kem esraan. Dalam beberapa bulan saj a, selir yang t ercint a ini berhasil m enguasai hat i Kaisar seluruhnya sehingga apa pun yang dilakukan oleh Yang Kui Hui selalu benar, dan apa pun yang dim int a oleh selir ini, t idak ada yang dit olak oleh Kaisar t ua yang sudah dim abok cint a it u. Yang Kui Hui bukanlah seorang wanit a bodoh. Sam a sekali bukan. Tent u saj a hat inya m enaruh dendam kepada kaisar Beng Ong karena dia dipisahkan dari suam inya yang t ercint a. Sudah past i sekali dalam m elayani sem ua nafsu berahi Kaisar t ua it u, ada t ersem bunyi niat yang lain lagi, bukan sem at a- mata karena dia m em balas cint a kasih Kaisar yang sudah t ua it u. Dia t idak m enyia- nyikan kesem pat an am at baik it u. Set elah m em buat Kaisar t ergila- gila dan seolah- olah bert ekuk lut ut di depan kakinya yang kecil m ungil, m ulailah Yang Kui Hui m em et ik hasil pengorbanan diri dan hat inya. Dia m enggunakan pengaruhnya t erhadap Kaisar, m enarik keluarganya m enduduki t em pat - t em pat pent ing dalam pem erint ahan! Bahkan kakaknya yang bernam a Yang Kok Tiong diangkat m enj adi m ent eri pertama dari Keraj aan Tang set elah m ent eri yang lam a dicopot secara m enyedihkan oleh Kaisar, t ent u saj a at as buj ukan Yang Kui Hui! Dan m asih banyak lagi anggot a keluarga selir yang cant ik j elilt a ini m em peroleh kedudukan yang t inggi sekali yang sebelum nya t ak pernah t erm im pikan oleh m ereka. Pada j am an it ulah m uncul seorang yang akan m enj adi t erkenal sekali dalam sej arah Tiongkok. Orang ini bukan lain adalah An Lu San, seorang yang t adinya dari ket urunan t ak berart i. An Lu San dilahirkan di Mancuria Selat an, di luar Tem bok Besar, yait u Di Liao- t ung. Orang t uanya berdarah Turki dari suku bangsa Khit an, ket urunan keluarga yang bersahaj a dan t erbelakang. Ket ika An Lu San m enj adi seorang pem uda rem aj a, sebagai seorang budak belian dia dij ual kepada seorang perwira Keraj aan Tang yang bert ugas di ut ara, di Tem bok Besar. Mulai saat it ulah bint angnya m enj adi t erang. Sebagai kacung perwira it u, dia ikut pula ke m edan perang dan t ernyat a bocah ini m em bukt ikan dirinya sebagai seorang yang gagah berani dan cerdik sekali, m emiliki

170

Bu Kek Siansu
keahlian dalam pert em puran sehingga beberapa kali dia m em buat j asa pada pasukan yang dipim pin oleh m aj ikannya. Maka diangkat lah dia m enj adi praj urit dan dalam wakt u singkat saj a dia m em buat j asa- j asa besar sehingga dia diangkat t erus, dinaikkan m enj adi perwira dan akhirnya, beberapa t ahun kem udian set elah dia m em enangkan beberapa peperangan m elawan m usuh dari luar sehingga dia berj asa besar bagi Keraj aan Tang, dia diangkat m enj adi j enderal! Mulailah j enderal An Lu Sun ini m endekat i Kaisar. Set elah pangkat nya set inggi it u, t ent u saj a t erbuka kem ungkinan baginya unt uk berhadapan dengan Kaisar yang wakt u it u sedang tergila- gila kepada Yang Kui Hui yang t elah m em peroleh kedudukan t inggi. An Lu San m em ang seorang yang am at cerdik. Menyaksikan pengaruh dan kekuasaan selir yang cant ik j elit a it u t erhadap Kaisar, dia m elihat kesem pat an baik sekali unt uk m engangkat diri sendiri ke t em pat yang lebih t inggi. Dengan sikapnya yang lucu dan ugal- ugalan, pem bawaan wat ak liarnya, dia berhasil m enyenangkan hat i Kaisar dan m em ancing kegem biraan Yang Kui Hui sendiri. Selir ini, yang set iap hari harus m elayani seorang pria yang sudah t ua dan sudah lem ah, t ent u saj a bangkit gairahnya m elihat j enderal yang t egap, gem bira dan kasar liar it u! Terj adilah " m ain m at a" ant ara kedua insan ini, dan akhirnya, dengan buj ukan dan rayuannya, Yanh Kui Hui m em uj i- m uj i keset iaan dan j asa- j asa An Lu San sehingga Kaisar m enj adi sem akin suka kepada j enderal ini. Bahkan Yang Kui Hui dengan akalnya yang licik t elah m engangkat An Lu San sebagai " put era angkat nya" . Hal ini t idak dij adikan keberat an oleh Kaisar, bahkan Kaisar m em uj i selirnya sebagai seorang selir yang cerdik, selir yang m encint a dan yang set ia karena perbuat an Yang Kui Hui it u dianggapnya sebagai t akt ik selir unt uk m enyenangkan hat i seorang pahlawan sehingga dengan dem ikian m em perkuat kedudukan Kaisar. Kaisar Beng Ong yang t erkenal pandai dan bij aksana it u t ernyat a m enj adi lem ah t ak berdaya, sam a lem ahnya dengan seunt ai ram but lem as hit am dari Yang Kui Hui yang set iap saat dapat diperm ainkan oleh j ari- j ari t angan halus dari selir yang cant ik j elit a it u. Tent u saj a set iap sukses dari seseorang, bail didapat kan dengan j alan apa pun j uga m elahirkan iri hat i kepada orang- orang lain. Biarpun t idak ada yang berani secara terang- t erangan m enent ang selir cant ik yang am at dikasihi Kaisar t ua it u, nam un diam- diam banyak anggaut a keluarga keraj aan yang m erasa iri hat i dan m em benci Yang Kui Hui, t erut am a sekali para selir lainnya yang kini seolah- olah diabaikan oleh Kaisar yang set iap m alam selalu dibuai dalam pelukan Yang Kui Hui. Pada suat u m alam Kaisar berist irahat di dalam kam arnya sendiri. Bet apapun dia t ergila- gila kepada Yang Kui Hui, nam un karena dia sudah t ua sekali, t enaganya t idak m engij inkan dia set iap m alam m engunj ungi selirnya yang m asih m uda, penuh nafsu dan panas it u. Malam it u m erupakan m alam ist irahat nya dan dia t idak m endekat i selirnya yang t ercint a. Tubuhnya t erasa lelah set elah sore t adi dia berpest a m akan minum dan menikmati tari- tarian yang disuguhkan untuk kehormatan jenderal An Lu San yang dat ang berkunj ung ke ist ana. Set elah m engij inkan j enderal perkasa it u m engundurkan diri ke kam ar t am u yang disediakan, Kaisar yang m erasa lelah it u berbisik kepada selirnya t ercint a bahwa m alam it u dia ingin berist irahat karena m erasa lelah, kem udian langsung m enuj u ke kam arnya sendiri. Menj elang t engah m alam , kaisar t erbangun dan t ernyat a yang m engganggu t idurnya adalah seorang selir muda belia yang cantik seperti selir- selir lain. Selir ini bernama Yauw Cui, masih berdarah bangsawan dan t erm asuk selir t erm uda sebelum Kaisar m engam bil Yang Kui Hui yang m erupakan selir t erakhir. " Hem m m , apa m aksudm u dat ang m engganggu?" Kaisar berkat a, t idak m arah karena dia pun pernah m encint a selir yang cant ik ini, bahkan t angannya lalu diulur unt uk m em belai dagu yang berkulit put ih halus it u. " Ham ba m ohon Sri Baginda m engam punkan ham ba," selir it u berkat a dengan suara agak gem et ar, " Sebet ulnya ham ba t idak berani m engganggu paduka yang sedang berist irahat , akan t et api...." Kaisar yang t ua it u t ersenyum dan salah m enyangka. Dikiranya selir m uda ini m erindukan curahan kasihnya karena

171

Bu Kek Siansu
sudah lam a dia t idak m engunj ungi kam ar selirnya ini dan t idak pula m em erint ahkan selirnya it u dat ang m elayaninya. " Aihh, m anis, naiklah ke sini dan kau pij it i punggungku..." kat anya sebagai uluran t angankarena m em bayangkan hasrat selirnya ini, sudah bangkit pula berahinya. Yauw Cui t idak berani m em bant ah, bangkit dari lant ai di m ana dia berlut ut , dan j ari- j ari t angannya yang halus m ulai menari- nari di at as punggung t ua yang pegal- pegal it u. Akan t et api selir ini berkat a lagi, " Rasa penasaran m em aksa ham ba m em beranikan diri m enguj ungi Paduka. Ham ba t idak ingin m elihat Paduka yang ham ba j unj ung t inggi dit ipu dan dihina orang! " Tangan Kaisar yang m ulai m em belai t ubuh selirnya it u t iba- tiba t erhent i dan dengan pandang m at a penuh selidik Kaisar Beng Ong bert anya, " Apa m aksudm u? Siapa yang berani m enipu dan m enghinaku?" Yauw Cui m enangis dan suara t erisakisak dia berkat a, " Ham ba.... secara t idak sengaj a... m endengar .... Angoanswe (jenderal An) berada di dalam kamar.... Yang Kui Hui...." Seketika Kaisar bangkit duduk dengan m at a t erbelalak. Dengan alis berkerut dia m em andang selirnya it u yang m asih m enangis, hat inya t idak percaya sam a sekali karena m em ang sudah seringkali Yang Kui Hui difit nah orang lain yang m erasa iri hat i. " Ham m m , j angan bicara sem barangan saj a t erdorong iri hat i." " Tidak.... ham ba rela unt uk dihukum m at i, rela diapakan saj a kalau ham ba m em bohong.... t idak berani ham ba m enj at uhkan fit nah.... ham ba hanya m erasa penasaran m elihat Paduka dihina m aka ham ba m em beranikan diri m elapor...." " Pengawal....! ! " kaisar berseru sam bil m endorong selirnya t urun dari pem baringan. Pint u t erbuka dan enam orang pengawal pribadi m eloncat m asuk dan langsung berlut ut set elah m ereka m elihat bahwa Kaisar t idak dalam bahaya. Kaisar m enyam bar j ubah luarnya. " Ant ar kam i ke kam ar yang Kui Hui." kat a Kaisar singkat sam bil m em beri isyarat dengan m at anya agar Yauw Cui ikut pula bersam anya. Pada saat Yauw Cui m elapor kepada Kaisar, kam ar Yauw Kui Hui sudah gelap rem ang- rem ang dan pada saat it u m em ang selir yang cant ik j elit a ini sedang bersam a An Lu San. Mereka sepert i m abok nafsu berahi dan t ent u saj a segala pert ahanan di hat i Yang Kui Hui runt uh m enghadapi j enderal yang t egap dan gagah perkasa ini, yang m asih m em iliki sifat - sifat liar dan kasar dari t em pat asalnya. Selam a t uj uh t ahun Yang Kui Hui m enekan kekecewaan hat inya m elayani seorang kakek- kakek lem ah. Kini bert em u dengan An Lu San dan berkesem pat an m enikm at i rayuan laki- laki yang j ant an dan j auh lebih m uda dari kaisar ini, t ent u saj a dia t erbuai dan lupa segalanya. Sesosok bayangan m enyelinap ke dalam kam ar it u dan berisik di luar kelam bu pem baringan. Bisikan it u m erobah suasana di dalam kam ar it u. Yang Kui Hui dan An Lu San dalam wakt u beberapa menit saj a t elah m em akai pakaian yang rapi, duduk m enghadapi m ej a yang dit erangi dengan beberapa bat ang lilin, dan di at as m ej a t erdapat gam bar pet a daerah ut ara. Di uj ung- uj ung Kam ar it u t erdapat m engawal dan pelayan berdiri sepert i pat ung, hanya m em andang saj a ket ika An Lu San dengan suara lant ang sedang m enj elaskan t ent ang sit uasi dan keadaan pert ahanan di perbat asan ut ara. Dem ikianlah, ket ika Kaisar yang diiringkan Yauw Cui dan para pengawal m em asuki kam ar it u dengan sikap kasar, dia m elihat selirnya yang t ercint a it u m em ang benar duduk berdua dengan An Lu San, akan t et api bukanlah berj inah sepert i yang dilaporkan Yauw Cui, m elainkan sedang bicara urusan pert ahanan! " Ham ba sedang m em pelaj ari keadaan kekuat an pert ahanan kit a di ut ara dari An Lu San," ant ara lain Yang Kui Hui m em bela diri ket ika Kaisar m enyat akan kecurigaannya. " Paduka t erlalu m em percayai m ulut seorang wanit a yang cem buru dan iri hat i set engah m at i kepada ham ba." Karena sem ua pengawal dan pelayan yang berada di kam ar it u m erupakan saksi yang kuat bahwa selir t ercint a it u t idak berm ain gila dengan put era angkat nya t ent u saj a Kaisar m enj adi m arah kepada Yauw Cui. Selir m uda ini m engert i bahwa dia berbalik kena fit nah oleh m adunya yang lihai it u, m aka m aklum bahwa t idak ada lagi harapan baginya, dia m enudingkan t elunj uknya kepada Yang Kui Hui sam bil bert eriak nyaring, " Kau Wanit a I blis! Karena engkaulah keraj aan ini akan hancur! "

172

Bu Kek Siansu
Dan sebelum para pengawal yang diperint ah oleh Kaisar yang m arah- m arah it u sempat menangkapnya, Yauw Cui lari membenturkan kepalanya di dinding kamar itu sehingga kepalanya pecah dan dia t ewas disaat it u j uga! Tent u saj a pada hari berikut nya, ada seorang pelayan yang m enerim a hadiah banyak sekali dari Yang Kui Hui, yait u pelayan yang m em bisikinya sem alam sehingga m enyelam at kannya. Sem enj ak perist iwa it u, kepercayaan Kaisar t erhadap Yang Kui Hui dan An Lu San m akin besar. Tent u saj a kesem pat an baik ini t idak dibiarkan lewat percum a oleh Yang Kui Hui dan An Lu San yang m engadakan hubungan gelap sepuas hat i m ereka. Karena pengaruh Yang Kui Hui di depan Kaisar, m aka An Lu San m em peroleh kehorm at an yang besar, bahkan diangkat m enj adi Gubernur di Propinsi Liao Tung. Menguasai pasukan- pasukan t erbaik dari keraj aan dan m enj aga di propinsi yang m erupakan perbat asan t im ur. Kehorm at an ke dua dit erim anya t ak lam a kem udian, t ent u saj a at as desakan dan buj ukan Yang Kui Hui yait u ket ika dia dianugrahi gelar Pangeran Tingkat Dua. Kehorm at an yang besar sekali karena biasanya, gelar ini hanya diberikan kepada keluarga keraj aan yang berdarah bangsawan! Mem ang An Lu San seorang yang berasal dari suku bangsa t erbelakang, nam un dia diberkahi dengan kecerdikan luar biasa. Melihat bet apa kaisar bert ekuk lut ut di depan kedua kaki yang mungil dari selir kaisar Yang Kui Hui, dia mengeluarkan semua kepandaian unt uk m engam bil hat i selir ini dan t ernyat a sem ua m uslihat nya berhasil baik dan dia m em peroleh kedudukan yang t inggi sekali. Akan t et api, t ent u saj a banyak pula orang m erasa iri hat i dan t idak suka kepada An Lu San. Di ant ara m ereka ini adalah kakak kandung Yang Kui Hui sendiri, yait u Yang Kok Tiong yang m enj adi Ment eri Pert am a. Dengan kedudukanya yang t ingi, Yang Kok Tiong m elakukan penyelidikan dan ketika dia memperoleh berita bahwa An Lu San mempersiapkan pemberontakan, segera dia berunding dengan Put era Mahkot a dan m elapor kepada Kaisar. Kaisar t idak percaya dan m enganggap pelaporan ini om ong kosong belaka, akan t et api karena para pangeran m endesaknya, akhirnya Kaisar m em anggil An Lu San yang m erasa keadaannya belum kuat bet ul unt uk m em ulai pem bront akan yang m em ang benar t elah dipersiapkannya, t idak m em bant ah. Dia m enghadap Kaisar dan dengan air m at a bercucuran dia m em prot es, m enyat akan keset iaanya t erhadap Kaisar dan dalam hal ini kem bali pengaruh Yang Kui Hui m em bant unya. Selir ini pun m encela Kaisar yang m udah saj a diperm ainkan orang yang m erasa iri hat i bahkan Yang Kui Hui m engam bil cont oh selir Yauw Cui yang irir hat i kepadanya. " hendaknya Paduka ingat bahwa An Lu San adalah seorang pahlawan keraj aan yang j asanya sudah am at besar. Tidak m ungkin dia m em beront ak, dan andaikat a dia benar m em punyai niat m em beront ak t ent u dia t idak akan dat ang m em enuhi panggilan Paduka! Kedat angannya ini sudah m erupakan bukt i akan kebersihan dan keset iaanya! Kabar t ent ang niat pem bront akan it u t ent u dit iup- t iupkan oleh m ereka yang m erasa iri hat i kepadanya." Sepert i biasa, hat i kaisar luluh dan lenyaplah sem ua kecurigaan dan keraguannya. Dia malah menjamu An Lu San dan malam itu dengan amat pandainya An Lu San " m em balas budi" Yang Kui Hui, dengan sepenuh hat inya, di dalam kamar selir Kaisar it u, am an karena t erj aga oleh orang- orang kepercayaan m ereka. Dem ikianlah, pada saat cerit a ini t erj adi An Lu San sudah kem bali ke ut ara dengan penuh kebesaran dan kebanggaan, dan diam - diam dia m akin m em percepat persiapannya unt uk m em beront ak! Dan dem ikian pula dengan keadaan keraj aan Tang pada wakt u it u. Kelem ahan Kaisar yang j at uh di bawah t elapak kaki halus dari Yang Kui Hui, m enim bulkan ket idakpuasan kepada banyak pem besar sehingga di sana- sini t im bul niat unt uk m em beront ak. Kesem pat an keadaan yang lem ah dari keraj aan Tang inilah dipergunakan oleh The Kwat Lin unt uk m ulai dengan pet ualangannya, unt uk m em enuhi cit a- cit anya m encarikan kedudukan t inggi unt uk put eranya! Pada suat u hari, dat anglah seorang ut usan dari kot a raj a m endaki Pegunungan Bu- tong- san, m enghadap Ket ua Bu- tong- pai. Melihat bahwa ut usan ini adalah ut usan dari Pangeran Tang Sin Ong dari kot a raj a, Kwat Lin cepat

173

Bu Kek Siansu
m enerim anya di kam ar rahasia. Set elah ut usan it u m enyam paikan t ugasnya dia cepat pergi lagi m eninggalkan Bu- tong- pai dan t erj adilah kesibukan di Bu- tong- pai. Pangeran Tang Sin Ong, yait u seorang pangeran di kot a raj a yang m em persiapkan pem beront akan pula, sebagai saingan besar dari An Lu San, pangeran yang dihubungi oleh Kwat Lin, m engirim berit a t ent ang hari dan t em pat di m ana Yang Kui Hui akan ikut dengan Kaisar yang hendak berburu binat ang dalam hut an, sebuah di ant ara kesenangan Kaisar. saat inilah yang dinant i- nant i oleh The Kwat Lin dan Pangeran Tang Sin Ong unt uk m enj alankan siasat m ereka yan t elah lam a m ereka rencanakan. Beberapa hari kem udian, t ibalah saat nya Kaisar bersam a Yang Kui Hui bersenang- senang di dalam hut an di kaki Pegunungan Funiu- san, t idak j auh dari kot a raj a. Sepert i biasa, di wakt u m engadakan perburuan ini, t em pat it u dij aga oleh para pengawal dan ada pula pasukan yang t ugasnya hanya m encari dan m enggiring binat ang hut an sehingga binat ang- binat ang yang ket akut an it u m enuj u ke dekat t em pat Kaisar dan Perm aisurinya m enant i sehingga dengan m udah Kaisar dapat m elepaskan anak panah ke arah binat angbinat ang it u. Sekali ini, selain beberapa orang pem besar pent ing, yang m enem ani Kaisar t erdapat j uga Pangeran Tang Sin Ong. JI LI D 14 Sepert i biasa, Kaisar dan selirnya yang t ercint a m enant i di dalam pondok yang m em ang t ersedia di sit u, di t engah- t engah hut an. Para pem besar dan Pangeran Tang Sin Ong m enant i di luar pondok sam bil bercakap- cakap. Mereka m enant i sam pai dat angnya binat ang- binat ang yang akan digiring oleh pasukan yang sudah m enyusup- nyusup ke dalam hut an lebat di depan. para pengawal m enj aga di sekeliling t em pat it u, pengawal Kaisar dan pengawal Pangeran Tang Sin Ong karena pangeran ini m em punyai pasukan pengawal sendiri. Mereka t idak usah lam a m enant i. Segera t erdengar sorak- sorai dari j auh, m akin lam a m akin m endekat . it ulah suara pasukan yang bert ugas m enggiring binat ang hut an m enuj u ke t em pat penyem belihan it u, di m ana para pem besar t elah m enant i dengan gendewa bersam a dengan anak panahnya siap di tangan. Mendengar suara ini, kaisar sudah keluar dari pondok sam bil t ersenyum - senyum gem bira m em bawa sebat ang gendewa. Seorang t haikam yang m enj adi kepercayan dan pelayannya m engikut i Kaisar sam bil membawa tempat anak panah. Tak lama kemudian, mulailah bermunculan binatangbinat ang hut an yang panik ket akut an karena dikej arkej ar dan digiring oleh pasukan di belakang m ereka yang bersorak- sorai it u. Dan m ulailah Kaisar bersam a Pangeran Tang Sin Ong dan para pem besar lainnya m enghuj ankan anak panah m ereka ke arah binat angbinat ang it u. Tidak ada seorang pun m elihat ket ika dari rom bongan pengawal Pangeran t ang Sin Ong, seorang pengawal m enyelinap kedalam sem aksem ak, m enanggalkan pakaian biasa m enyelinap dan m em asuki pondok Kaisar dari sam ping, m eloncat m asuk dari j endela yang t erbuka. Dengan kecepat an kilat , lakilaki set engah t ua ini m enyergap Yang Kui Hui yang sedang berdiri m enont on di am bang pint u depan. Terdengar selir cant ik it u m enerit , akan t et api t ubuhnya menjadi lemas ketika dia tertotok dan ketika semua orang menoleh medengar jeritan it u, Yang kui Hui t elah dipondong dan dibawa lari oleh laki- laki it u. " Penculik.....! " " penj ahat ....! " " Jangan lepas anak panah, bisa salah sasaran....! ! " Tiba- tiba Pangeran t ang Sin Ong berseru keras. Mendengar ini, Kaisar yang sudah pucat m ukanya cepat berseru, " Benar! Jangan lepas anak panah. Kej ar dan t angkap! Selamatkan dia....! " Sem ua orang, pengawal, pem besar, pangeran t ang Sin Ong, bahkan Kaisar sediri, m engej ar penculik yang m em iliki gerakan yang am at gesit it u. Dengan beberapa loncat an saj a penculik it u t elah lari j auh sekali. " Cepat kej ar.... t olong dia.... ahhhh, Kui Hui....! ! " kaisar bert eriak dengan m uka pucat . Tiba- tiba t am pak dua sosok bayangan orang berkelebat m enghadang penculik it u. Dari j auh kelihat an j elas bahwa dua orang it u adalah wanit a- wanit a cant ik yang gerakannya cepat luar biasa. Wanita yang lebih tua sudah menerjang maju dan dengan serangan m endadak berhasil m em ukul roboh penculik dan m eram pas Yang Kui Hui, kem udian wanit a ke dua yang m uda dan cant ik m enggerakan pedangnya m enusuk. Terdengar

174

Bu Kek Siansu
j erit m elengking yang nyaring sekali ket ika pedang it u m enem bus dada penculik it u yang berkeloj ot an, t erbelalak dan m enudingkan t elunj uknya kepada wanit a pert am a seolah- olah hendak berkat a sesuat u, akan t et api sebuah t endangan yang m engenai kepalanya m em buat penculik it u t ak dapat bergerak lagi dan t ewas seket ika! Kaisar dan rom bongannya sudah t iba di sit u. Dengan t epukan perlahan wanit a perkasa yang lebih t ua it u m em bebaskan t ot okan Yang Kui Hui. Selir ini m engeluh dan m enangis sam bil m enubruk Kaisar yang m em eluknya. kaisar m em andang kepada dua orang wanit a cant ik yang sudah berlut ut di depan kakinya dengan perasaan bersyukur dan bert erim a kasih. " Unt ung sekali kalian berdua yang gagah perkasa dat ang m enolong! " kat a kaisar dengan penuh rasa syukur, suaranya m asih gem et ar karena ket egangan hebat yang baru saj a dialam inya. " Siapakah kalian?" " Ham ba adalah Ket ua Bu- tong- pai bernam a The Kwat Lin," berkat a wanit a cant ik it u lalu m enuding kepada dara m uda yang cant ik j elit a dan t inggi sem am pai di sebelahnya, " dan ini adalah Bu Liang- cu m urid ham ba." " Ahhh, kiranya ket ua Bu- tong- pai yang t erkenal! " Kat a Kaisar sam bil t ersenyum lebar. " Pant as saj a dem ikian lihai! Kalian t elah berj asa, t elah m enyelam at kan kekasih kam i dan m em bunuh penculik j ahat . Kalian pant as diberi hadiah besar." Yang Kui Hui sudah m enghent ikan t angisnya dan kini dia pun m em andang kedua orang wanit a it u dengan m at a berseri. " Kalian dat anglah ke ist ana, aku akan m em beri hadiah kepada kalian." The Kwat Lin menyembah dengan hormat. "Hamba berdua hanya melakukan tugas hamba sebagai rakyat yang set ia kepada j unj ungannya. ham ba berdua t idak m engharapkan balas j asa, hanya apabila paduka sudi m enerim a, biarlah m urid ham ba ini bekerj a sebagai pengawal pribadi paduka. Sekarang banyak orang j ahat , t anpa pengawalan yang kuat t ent u m em bahayakan Paduka. Girang bukan m ain hat i Yang Kui Hui. " Baik sekali! Siapa nam am u t adi?" t anyakan kepada gadis cant ik yang m enunduk sej ak t adi. Gadis it u kini m engangkat m ukannya dan dengan sepasang m at a yang bersinarsinar dia m enj awab, " Nam a ham ba Bu Liang- cu. Saking girangnya, yang Kui Hui m encabut t usuk konde dari em as berhiaskan perm at a dan m enghadiakan benda itu kepada The Kwat Lin, dan dia menerima pula gadis murid Bu- tong- pai itu sebagai pengawal pribadinya. Mulai saat ini gadis yang bernam a Bu Liang- cu it u ikut bersam a rom bongan Kaisar, selalu m engawal di belakang Yang Kui Hui, kem bli ke ist ana. Ada pun The Kwat lin segera kem bali ke Bu- t ongsan dengan hat i girang karena siasat nya berj alan dengan baik sekali, sungguhpun unt uk it u dia t erpaksa harus m engorbankan nyawa seorang anggaut anya. Penculik it u bukan lain adalah seorang anggaut anya sendiri, seorang bekas penj ahat yang m em iliki ginkang t inggi. Penculik it u hanya diperint ah unt uk m elarikan diri Yang Kui Hui dengan j anj i akan dibant unya kalau sam pai m engalam i bahaya. Akan t et api, penculik it u baru t ahu bahwa dia dikhianat i oleh ket uanya sendiri set elah dia roboh dengan pedang m enem bus dadanya. Baru ia t ahu bahwa dia dikorbankan unt uk suat u siasat licik dari The Kwat Lin, nam un penget ahuan ini t iada gunanya karena dia keburu m at i sebelum dapat m engeluarkan suara. Siapakah gadis cant ik yang kini m enj adi pengawal Yang Kui Hui? Tadinya, unt uk t ugas ini The Kwat Lin m enunj uk m uridnya, Bu Swi Nio. Akan t et api, bet apa m arahnya ket ika dia m enghadapi penolakan m uridnya! " Teecu t idak berani, Subo. Perint ahlah t eecu unt uk m elakukan hal lainnya, biar disuruh m em basm i penj ahat yang bagaim anapun, biar harus m em pert aruhkan nyawa, t eecu t idak akan m undur dan past i akan m em enuhi perint ah Subo! Akan t et api ini... ah, t eecu t idak m au t erlibat dalam .... pem beront akan....." j awab Swi Nio sam bil berlut ut dan m enundukan m ukanya. Ham pir saj a Kwat Lin m enam par kepala m uridnya it u saking m arah dan kecewanya. Dan pada saat it u, Swi Liang yang m elihat adiknya t erancam bahaya kem arahan subonya, cepat m aj u dan berkat a, " Subo, kalau Moi- m oi t idak berani, biarlah t eecu m elakukannya." " Kau seorang pria.... m ana m ungkin....?" " Teecu bisa saj a m enyam ar sebagai seorang gadis. Dahulu di wakt u kecil seringkali t eecu

175

Bu Kek Siansu
m engenakan pakaian Moi- m oi dan berm ain- m ain sepert i seorang anak perem puan ." Mendengar ini, Kwat Lin t erm enung. Bet apapun j uga dia lebih percaya kepada m uridnya dan j uga kekasihnya ini. Selam a ini, Swi Nio delalu m em perlihat kan sikap dingin dan kdang- kadang m enent ang. Berbeda dengan Swi Liang yang selalu menuruti kehendaknya, bahkan pem uda it u m au pula m elayani nafsu berahinya! Pekerj aan yang direncanakan ini am at berbahaya kalau sam pai bocor, m aka sebaiknya kalau dilakukan oleh orang yang paling dipercayanya. Mem aksa Swi Nio am at berbahaya karena siapa t ahu kalau- kalau m urid perem puan ini akan m engkhianat inya kelak. " Hem m , kit a coba saj a! " kat anya dan set elah m elihat Swi Liang berpakaian wanit a dan bergaya, Kwat Lin m enj adi girang sekali. Agaknya m urid it u m em ang m em punyai bakat sandiwara m aka ket ika berpakaian wanit a dan beraksi, dia sendiri ham pir pangling dan m engira bahwa Swi Liang adalah Sawi Nio! Dem ikian, rencana siasat it u dij alankan dengan baik dan Swi Liang yang m enyam ar sebagai seorang gadis cant ik bernam a Bu Liang- cu, berhasil m enyusup ke dalam ist ana sebagai pengawal pribadi dari Yang Kui Hui! Mem ang it ulah t uj uan pokok dari siasat Kwat Lin, yait u m em ikat hat i Yang Kui Hui. Pem ikat an dengan j alan m enolong selir it u dari bahaya cukup baik, akan t et api akan lebih berhasil lagi kalau m uridnya it u berhasil m enj at uhkan hat i selir it u dengan ket am panannya! Kalau sam pai berhasil Swi Liang m enj adi kekasih Yang Kui Hui, hem m , akan m udah saj a m elakukan gerakan pem beront akan dari dalam ! I nilah sebabnya m aka dia set uj u m uridnya it u m enyam ar sebagai wanit a. Dia rela m em berikan kekasihnya ini kepada Yang Kui Hui dem i t ercapainya cit a- cit anya. Berbeda dengan kakaknya yang t elah m abok buj ukan gurunya, Swi Nio m akin lam a m erasa m akin t idak enak t inggal di Bu- tong- san. Dia sam a sekali t idak senang dan hat inya m enent ang m enyaksikan sem ua perbuat an subonya. Tadinya m em ang dia rela m enj adi m urid wanit a sakt i, karena wanita itu yang menolong dia dan kakaknya, juga yang telah membunuh Patj iu Kai- ong m usuh besar yang t elah m em bunuh ayah m ereka. Akan t et api sem enj ak m enyaksikan bet apa subonya it u m enguasai Bu- tong- pai dengan kekerasan, m elihat subonya m elawan susiok sendiri dan bahkan m em buat para t okoh Bu- tong- pai m engundurkan diri dari Bu- tong- pai, hat inya sudah m erasa t idak senang. Apalagi m elihat m asuknya orangorang kasar dan yang dia ket ahui adalah bekas- bekas penj ahat m enj adi anggaut a Bu- tong- pai dia m erasa penasaran. Sem ua it u m asih dit am bah lagi kenyat aan yang m em buat nya m erasa m alu dan hina, yait u m elihat kakaknya m enj adi kekasih subonya. Seringkali secara diam - diam Swi Nio m enasihat i kakaknya, bahkan m enganj urkan kakaknya unt uk bersam a dia m elarikan diri saj a dari Bu- tong- pai, nam un sem ua it u t idak diacuhkan oleh Swi Liang. Swi Nio m enderit a bat in seorang diri, seringkali m enangis di dalam kam arnya. Melihat m unculnya Kiam - m o Cai- li, hat inya m enj adi m akin gelisah. Dia dahulu sudah m endengar dari m endiang ayahnya bahwa Kiam - m o Cai- li adalah seorang dat uk kaum sesat yang am at kej am . Nam un kenyat aannya, subonya m enj adi sekut u iblis it u, bahkan diakui sebagai pem im pin! Pagi hari it u, set elah m erasa kehilangan kakaknya yang pergi t am pa pam it bersam a subonya dan kem udian m elihat subonya pulang sendiri t anpa kakaknya, Swi Nio t ak dapat m enahan kegelisahan hat inya lagi dan dia m em beranikan diri m em asuki kam ar subonya di m ana subonya sedang bercakap- cakap dengan Kiam - m o Cai- li yang kebet ulan dat ang ke Bu- tong- san. " Subo, t eecu ( m urid) t idak m elihat adanya Liang- koko yang t adinya pergi bersam a Subo selam a beberapa hari lam anya. Ke m anakah dia, Subo? Apakah yang t erj adi dengan kakakku it u?" t anyanya dengan waj ah agak pucat karena beberapa m alam dia kurang t idur m em ikirkan kakaknya. The Kwat Lin m engerut kan alisnya. Hat inya m em ang sudah t idak senang pada m uridnya ini, apalagi ket ika Swi Nio t erangt erangan berani m enolak perint ahnya sehingga t ugas it u digant ikan oleh Swi Liang biarpun pem uda it u berhasil baik, bet apapun j uga The Kwat Lin m erasa kehilangan, apalagi di wakt u m alam yang sunyi dan dingin! " Kau t idak perlu t ahu! " j awabnya

176

Bu Kek Siansu
m em bent ak. " Tapi.... Subo, dia adalah kakak t eecu......" Swi Nio m em bant ah. " Hem m , dia bert ugas di kot a raj a. Sudah, pergilah dan j angan kau m engganggu kam i yang sedang bicara! " Swi Nio bangkit berdiri dari at as lant ai dan m em andang gurunya dengan m at a t erbelalak dan m uka pucat . " Jadi....dia.... dia t elah menyelundup ke dalam ist ana....?" The Kwat Lin bangkit berdiri dan m enudingkan t elunj uknya ke m uka Swi Nio sam bil m em bent ak m arah, " Gara- gara engkaulah! Apa kaukira kalau t idak t erpaksa aku suka m em biarkan dia m elakukan t ugas berbahaya it u? Mest inya engkau yang bert ugas, akan t et api engkau t elah m enolak. Dia seorang m urid yang am at baik, t idak sepert i engkau yang t ak m engenal budi! " Swi Nio m em balikan t ubuhnya, m enut upi m uka dan m enangis sam bil m engeluh, " Liangkoko..... ah, Koko....! " Set elah dara it u berlari pergi, Kwat Lin duduk kem bali, waj ahnya keruh dan dia m engom el, " Murid yang m urt ad! Sungguh m enj engkelkan saj a dia it u! " Kiam - mo- Cai- li t ersenyum . " Mengapa pusing- pusing m enghadapi seorang gadis sepert i it u? Kalau dibiarkan saj a, t ent u dia akan t erus m erongrongmu dan boleh j adi kelak akan m em bahayakan perj uangan kit a. Dia harus dit undukkan! " " Hem m , m aksudm u m enggunakan kekerasan?" " ah, aku m engenal gadis sepert i it u. Wat aknya keras dan kalau digunakan kekerasan, sam pai m at i pun dia t idak akan t unduk. Kalau sam pai dia m at i, am at t idak baik bagi kakaknya yang kit a but uhkan t enaganya. Dia harus dilawan dengan cara halus." " Bagaim ana m aksudm u? Mem buj uknya?" Kiam - m o Cai- li m enggeleng kepalanya. " Dibuj ukpun t akkan berhasil. Akan t et api sekali dia t elah j adi ist eri orang, t ent u dia akan m enurut segala kehendak suam inya." " I hhh! Aku t idak pernah m em ikirkan hal it u. Dengan siapa?" " Kit a harus cerdik, kit a harus m em akai siasat sekali t epuk m em peroleh dua ekor lalat at au m enggunakan pedang yang berm at a dua. Di sat u fihak, kit a harus m enyenangkan hat i Pangeran Tang Sin Ong yang aku t ahu m em iliki wat ak m at a keranj ang sehingga dia akan t ent u bert erim a kasih sekali kepadam u kalau kau rela m em berikan m uridm u yang cant ik m anis it u kepadanya, m enj adi seorang selirnya yang t ercint a dan dapat diandalkan. Ke dua, kalau m uridm u it u sudah m enj adi selir Pangeran Tang Sin Ong, t ent u dia akan t idak banyak bant ahan lagi! " The Kwat Lin mengangguk- angguk dan diam - diam dia m em uj i kecerdikan t em annya ini. " Siasat m u m em ang baik sekali, Cai- li! Akan t et api.... biarapun sudah past i sekali Pangeran akan menerima penawaran ini dengan kedua tangan terbuka, kukira belum t ent u Swi Nio akan m au dij adikan selir pangeran it u. Kalau dia m enolak, lalu bagaim ana?" Kiam - m o Cai- li t ert awa. " Hi- hi- hik, t idak usah khawat ir, Pangcu. Aku yang t anggung j awab dia t ent u t idak akan m enolak." Dia lalu m endekat kan m ulut nya ket elinga The Kwat Lin berbisik- bisik. Kwat Lin m engangguk- angguk. " Hem m , kalau dia m erupakan seorang m urid yang baik dan t aat , t ent u aku t idak tega, akan t et api.... dem i suksesnya perj uangan kit a, agar dia t idak m enj adi penghalang m alah kelak m ungkin dapat m em bant u, biarlah.... kit a at ur secepat nya agar Pangeran dapat berkunjung ke sini." "Tentu mudah saja dan tidak menimbulkan kecurigaan. Bukankah perist iwa di hut an it u m em buat nam a Bu- tong- pai t erangkat t inggi dalam pandangan keraj aan? Kalau seorang Pangeran berkunj ung ke sini, m enem ui penolong selir Yang Kui Hui, hal it u sudah sem est inya! Hi- hi- hik." " Kau m em ang cerdik sekali, Cai- li! " The Kwat Lin m em uj i dan kedua orang wanit a berkepandaian t inggi it u sam bil t ersenyum - senyum m inum arak wangi yang berada di dalam cawan- cawan perak mereka. Beberapa hari kemudian, sesuai dengan siasat m ereka it u, dat angalah rom bongan t am u agung dari kot a raj a. Pangeran Tang Sin Ong! I nilah hasil pert am a dari siasat The Kwat Lin m enolong Yang Kui Hui. Sebelum perit iwa it u, hubunganya dengan pangeran it u dilakukan secara sem bunyi dan pert em uan rahasia yang diadakan hanya m elalui kurir ( ut usan) . Akan t et api sekarang, set elah siasat di hut an it u sekaligus m engangkat nam a Bu- tong- pai, Pangeran Tang Sin Ong berani dat ang secara bert erang, bahkan sebelum berangkat pangeran it u m enerim a t it ipan bingkisan hadiah yang dikirim oleh Yang Kui Hui

177

Bu Kek Siansu
sendiri melalui pangeran itu. Tentu saja keadaan di Bu- tong- san seperti dalam pesta. Sem ua anak buah Bu- tong- pai m engenakan pakaian baru dan rom bongan t am u agung it u disam but dengan m eriah sepert i sam but an t erhadap seorang pengant in. Dengan penuh kehorm at an para t am u agung dij am u di ruangan yang lebar dari Butong- pai, dan pest a pora diadakan diruangan yang biasa dipergunakan unt uk Lianbu- t hia ( ruang belaj ar silat ) . Sam but an resm i dilakukan dan pangeran m enyerahkan bingkisan dari Yang Kui Hui dan m enyerahkan pula bingkisan dari dirinya sendiri kepada ket ua Bu- tong- pai. Malam harinya, sebagai penghorm at an khusus, Pangeran Tang Sin Ong seorang diri dij am u oleh The Kwat Lin diruangan dalam dan ket ua ini dit em ani oleh Kiam - m o Cai- li dan Bu Swi Nio! Dara ini set engah dipaksa oleh subonya unt uk m enem aninya m enj am u pangeran it u dan biarpun di dalam hat inya Bu Swi Nio t idak set uj u, nam un dia t idak berani m em bant ah. Pula, di dalam hat inya dia ingin sekali m endengar percakapan m ereka yang t ent u akan m enyangkut pula keadaan kakaknya di kota raja. Ketika pengeran ini dipersilahkan duduk menghadapi m ej a yang sudah penuh hidangan, The Kwat Lin m em perkenalkan Kiam - m o Cai- li Liok Si sebagai pemilik istana Rawa Bangkai, dan memperkenalkan muridnya pula Bu Swi Nio sebagai m uridnya yang t erkasih. Pangeran it u m em andang Kiam - m o Cai- li dan Bu Swi Nio, lalu t ert awa gem bira dan berkat a, " Sungguh berunt ung sekali Pangcu m endapat kan seorang pem bant u sepert i Liok Toanio ini yang saya yakin t ent u m em iliki ilm u kepandaian t inggi. Dan m uridm u ini....aaihh... penerangan ini m enj adi m akin bercahaya, suasana m enj adi m akin gem bira dan segar, hidangan m enj adi bert am bah lezat . Sungguh saya m erasa berbahagia sekali bahwa Nona Bu suka m enem ani saya m akan m inum , unt uk ini saya harus m enghat urkan arak penghormatan sebagai tiga cawan!" Pangeran itu tentu saja tadinya sudah diberitahu oleh Kwat Lin bahwa ket ua ini hendak m enghadiahkan m uridnya kepadanya. Maka begit u m elihat Swi Nio yang m asih am at m uda dan cant ik j elit a it u, hat i Sang Pangeran sudah j at uh dan gairahnya sudah bernyala- nyala. Waj ah Swi Nio m enj adi m erah padam . Dia m erasa m alu sekali m enyaksikan sikap dan m endengar kat a- kata yang penuh puj ian ini. Dia t idak biasa berhadapan dengan pria sepert i ini. Hat inya berdebar t egang dan khawat ir, akan t et api unt uk m enolak, t ent u saj a dia t idak berani. Sam bil m enunduk dan m em bisikan kat a- kat a t erim a ksih dia m enerim a t iga cawa arak bert urut - t urut . Biarpun dia t idak biasa m inum banyak arak, akan t et api t erpaksa t iga cawan arak it u dim inum nya t anpa banyak m em bant ah. Melihat ini The Kwat lin dan Kiam - m o Cai- li t ert awa girang dan dari seberang m ej a, The Kwat Lin m engedipkan sebelah m at anya kepada Sang Pangeran.Tang Sin Ong m engert i akan isyarat ini, m aka dia lalu m elepas seunt ai kalung em as bert aburan perm at a yang t ergant ung di lehernya, bangkit berdiri dan m engulurkan kedua t angan yang m em egang kalung it u kepada Swi Nio sam bil berkat a, " Nona Bu, kalung ini sam a sekali t idak dapat m engim bangi kecant ikan Nona, akan t et api karena pada saat ini yang ada pada saya hanya kalung ini, m aka sudilah Nona m enerim anya sebagai t anda penghorm at an saya kepada seorang Nona secant ik dewi! " Bu Swi Nio t erkej ut sekali dan cepat dia m enoleh kepada subonya. Menurut kan kat a hat inya, ingin dia m enolak keras dan m encela sikap pangeran yang t erlalu berani it u. Akan t et api dia m elihat subonya m engangguk dan berkat a, " Swi Nio, Pangeran t elah berm urah hat i kepadamu, mengapa tidak lekas menerima dan menghaturkan terima kasih?" Bu Swi Nio m erasa t erdesak dan dengan suara gem et ar dia berkat a, " Ham ba...., ham ba...., t idak berani m enerim anya....." " Swi Nio....! " The Kwat Lin m enegur " Bu Swi Nio, m engapa kau m enolak kem urahan hat i Pangeran?" Kiam - m o Cai- li j uga ikut m enegur. Pangeran Tang Sin Ong t ert awa. " Ahh, t ent u saj a Nona Bu m erasa m alum alu, t idak sepert i gadis- gadis yang haus akan hart a benda. Hal ini m alah m enonj olkan kecem erlangan wat ak seorang gadis yang cant ik j elit a dan gagah perkasa! Nona, biarlah aku m engalungkan hadiah ini di leherm u." Berkat a dem ikian, Sang Pangeran lalu bangkit berdiri dan m engalungkan kalung em as it u m elingkari

178

Bu Kek Siansu
leher Swi Nio yang m enundukan kepalanya. Karena t ak dapat m enolak lagi dan kalung yang lebar it u sudah m engalungi lehernya, dengan m uka sebent ar pucat , Swi Nio m enj ura, " Banyak t erim a kasih ham ba hat urkan..." " Aaaahhh, j angan sungkansungkan." Dia t ert awa, kedua orang wanit a sakt i it upun t ert awa dan m ereka bergant ian m enyuguhkan arak kepada Sang Pangeran dan j uga Bu Swi Nio. " Muridku, karena pangeran t elah berm urah hat i kepadam u, t idak saj a m enyuguhkan arak t et api j uga m enghadiahkan kalung, m engapa kau t idak bersikap sebagai seorang m uridku yang t ahu at uran dan m engenal budi. Hayo cepat suguhkan t iga cawan kepada Pangeran sebagai penghorm at anm u! " Muka Swi Nio m enj adi m erah. Dia t idak m em bant ah kebenaran ucapan ini, m aka secara t erpaksa dia bangkit berdiri, dipandang oleh pangeran yang t ersenyum - senyum dan m engelus j enggot nya, m engham piri pangeran dan m enuangkan arak ke cawan Sang Pangeran dari guci em as. " Silahkan Paduka m inum arak sebagai t anda kehorm at an ham ba, Pangeran," kat a Swi Nio dengan m alu- m alu. " Ha- ha- ha, t erim a kasih, Nona. Akan t et api, aku t idak m au m inum kalau t idak aku t em ani. Hayo unt ukm u j uga secawan! " Kem bali Kwat Lin dan Kiam - m o Cai- li ikut m em buj uk dan t erpaksa akhirnya Swi Nio kem bali m inum t iga cawan arak bersam a Sang Pangeran. Karena t idak biasa m inum arak, kini diloloh banyak arak yang diam diam t elah dicam puri bubuk put ih dilepas secara lihai oleh Kiam - m o Cai- li ke dalan caw an gadis it u, akhirnya Swi Nio m enj adi m abok. Dia m ulai t ersenyum dengan lepas, m em perlihat kan deret an gigi yang put ih, dan m ulai berani m engangkat m uka m em andang pangeran yang pandai bicara it u. "Ha- ha- ha, set elah dit em ani m akan m inum oleh Nona Bu, aku lupa sem ua wanit a di ist anaku! Hem m , bagaim ana aku dapat berpisah lagi darim u, Nona?" kat a Pangeran itu. Mendengar ini Swi Nio mengerutkan alisnya, akan tetapi karena kepalanya sudah pening dan pandang m at anya sudah berkunang, hanya sebent ar saj a dia m erasa bet apa kat a- kat a it u t idak pada t em pat nya dan dia hanya t ersenyum ! " Bu Swi Nio m uridku yang baik. Pangeran t elah berkenan m encint aim u! Kau akan diam bilnya sebagai selir yang t ercint a. Cepat kau berlut ut dan hat urkan t erim a kasih, m uridku." Sepasang m at a dara it u t erbelalak. " Tidak....! Ah, t idak......! " Terdengar suara pangeran, " Nona, kau cant ik sekali.... kau gagah perkasa, aku cint a padam u dan m arilah kau ikut bersam aku ke kot a ke kot a raj a. Kau akan m enj adi selirku yang paling t ercint a, m enj di pengawal pribadiku...." " Tidak....! Ahhh, t idak m au.... oughh.......! " Swi Nio yang t adinya bangkit berdiri serent ak it u, t iba- t iba t erhuyung dan kem bali m enj at uhkan diri di at as bangku karena m elihat bet apa kam ar it u berpuatr- put ar dan dia m erasa sepert i t erayun- ayun. Karena t idak t ahan lagi, Swi Nio m erebahkan kepalanya di at as kedua lengan yang berada di at as m ej a, hanya m enggoyang kepalanya t anda m enolak. Terdengar olehnya lapat - lapat suara gurunya, " Jangan bodoh, Swi Nio. Engkau akan m enj adi seorang nyonya Pangeran yan t erhorm at , dan di kot a raj a kau dapat bekerj a sam a dengan kakakm u........" " aku t idak m au.... ah, t idak m au....." Swi Nio m em buka m at anya dan m elihat waj ah yang dekat sekali dengan m ukanya. Waj ah Sang Pangeran Tang Sin Ong, waj ah seorang laki- laki yang cukup t am pan gagah, akan t et api sudah t ua, sedikit nya lim a puluh t ahun usianya. Dia m erasa ngeri, t akut dan akhirnya dia t idak ingat apa- apa lagi. Obat bubuk yang dicam purkan di raknya oleh Kiam - m o Cai- li t elah bekerj a dengan baik, dia t ert idur dan t idak m erasa apa- apa lagi. Swi Nio m engeluh dan m engerang. Dia m im pi. Seolah- olah dia berada di dalam sebuah perahu berdua saj a bersam a Pangeran Tang Sin Ong. Lalu perahu it u diserang badai, t erguling dan dia m eront aront a hendak m elawan gulungan om bak yang m enggelut nya. Nam un dia m erasa t ubuhnya lem as, dia t erseret , t enggelam , gelagapan dan seluruh t ubuhnya t erasa sakit - sakit , kepalanya pening. Sebent ar dia t im bul, lalu t enggelam lagi, dan lapat- lapat dia m endengar suara Pangeran Tang Sin Ong yang m enyat akan cint a kasihnya. Jauh lewat t engah m alam Swi Nio m engeluh dan m erint ih perlahan, lalu m em buka m at anya Mim pi it u t eringat lagi olehnya, m em buat dia bergidik ngeri.

179

Bu Kek Siansu
Untung hanya mimpi, pikirnya ketika dia membuka mata mendapatkan dirinya, telah rebah di at as pem baringannya sendiri di dalam kam arnya. " Ouh....! " Kepalanya masih pening sekali. Dia bangkit duduk dan hampir dia menjerit kaget ketika melihat bahwa dia t idak berpakaian sam a sekali! Dia t eringat bahwa dia m enem ani subonya, Kiam- m o Cai- li, dan Pangeran Tang Sin Ong m akan m inum . Teringat bet apa dia t erlalu banyak m inum dan m abuk. Mengapa dia t ahu- tahu berda di pem baringannya t anpa pakaian? Dia m em eriksa keadaan t ubuhnya, m elihat kalung yang m asih bergantung di lehernya, dan tiba- tiba tahulah dia akan semua yang telah terjadi atas dirinya! " Keparat ....! " Dia bangkit akan t et api t erguling lagi karena selain kepalanya pening sekali, t ubuhnya j uga panas dan lem as seolah- olah kehabisan t enaga. Dia t idak t ahu bahwa it ulah pengaruh obat bubuk, racun yang dim inum nya bersam a arak, yang m em buat dia pulas sehingga t idak dapat m elawan ket ika Pangeran Tang Sin Ong m em bawanya ke dalam kam ar dan m enggagahinya. Tiba- t iba pint u kam ar t erbuka dari luar. Swi Nio m enahan napas, m engam bil keput usan unt uk mengerahkan seluruh tenaganya membunuh Pangeran itu. Dia sudah maklum bahwa dirinya diperkosa Pangeran it u. " Selam at , m uridku. Engkau t elah m enj adi ist eri Pangeran! Besok Pangeran Tang Sin Ong akan m enj em put m u secara resm i m em bawanya ke kot a raj a sebagai selirnya t erkasih...." " Tidak sudi! Aku harus m em bunuhnya! " Swi Nio m eloncat t urun t anpa m em pedulikan t ubuhnya yang telanjang bulat , kedua t anganya dikepal. " Plak! " Swi Nio t erlem par dan t erbant ing di atas pembaringannya lagi ketika kena tamparan tangan gurunya. "Swi Nio, apa yang kauucapkan it u? Engkau suka sendiri m elayani Pangeran, engkau m enerim a kalungnya, engkau t ersenyum- senyum kepadanya. Set elah engkau dan dia bersenang- senang di dalam kam ar ini, sem est inya aku m engut ukm u. Akan t et api aku sayang kepadam u, aku t idak m arah m alah bersyukur bahwa engkau akan m enj adi ist eri m uda seorang pangeran. Dan sekarang kau hendak m em berontak? Hendak m em bikin m alu Gurum u? Kau m au m em bunuh kekasihm u sendiri? Bocah set an t ak kenal budi! Kalau t idak aku robah pendirianm u, aku sendiri yang akan m em bunuhm u! Pikirkan ini baik- baik. Engkau sudah bukan perawan lagi, engkau m ilik Pangeran Tang Sin Ong! " The Kwat Lin m eninggalkan kam ar it u dan m em bant ing keras- keras daun pint u kam ar. Swi Nio m enut upi m ukanya dan m enangis m engguguk. Tak t ahu apa yang harus dilakukannya. Dengan t erisak- isak dan j ari- j ari t angan gem et ar dia m engenakan pakaiannya yang bert um puk di sudut pem baringan. Kepalanya m asih pening dan t enaganya habis. Tak m ungkin dalam keadaan sepert i it u dia m elarikan diri. Tent u akan m udak t ert angkap kem bali oleh gurunya. Melawan pun t idak m am pu, apa lagi dia benar- benar m erasa sepert i t idak bert enaga lagi. Apa lagi hendak m em bunuh pangeran it u yang selalu t erkawal kuat ! " Ta Tuhan....! " Dia m enangis lagi sesenggukan. " Ayah.... Koko...., apa yang harus kulakukan......?" Dia sudah t ernoda. Mau at au t idak, dia harus m enj adi selir Pangeran it u. Dia t idak sudi! Lebih baik m at i! Mat i! ! Ya, m at ilah j alan sat u- satunya, dem ikian pikiran yang ruwet it u m engam bil. Dirabanya ikat pinggangnya. Tidak, dia seorang gadis gagah perkasa, t idak sem est inya m at i m enggant ung diri sepert i wanita- wanit a lem ah. Diham pirinya pedangnya yang t ergant ung di dinding. Biarpun t angannya gem et ar dan t idak bert enaga dipaksanya t angan it u m encabut pedangnya, lalu sam bil m em ej am kan m at anya, dia m engayun pedang it u ke lehernya. "Plakkkk!!" Lengan kanannya dipegang orang dan pedang itu dirampasnya. Tadinya dia m engira bahwa subonya yang m encegahnya m em buuh diri, m aka dia terisak dan membalik. Betapa kagetnya ketika dia melihat bahwa yang mencegahnya m em bunuh diri it u adalah seorang laki- laki m uda, paling banyak t iga puluh t ahun usianya. Laki- laki ini t ersenyum , waj ahnya cukup t am pan dan m em bayangkan kegagahan. " Mem bunuh diri bukan perbuat an seorang gagah." Bisik laki- laki it u. " Kalau sudah m at i, m ana m ungkin dapat m enghilangkan penasaran? Kalau m asih hidup, selalu t erbuka harapan unt uk m em balas dendam ! " Ucapan ini m enyadarkan

180

Bu Kek Siansu
Swi Nio. " Siapa kau....?" " Sssst t t ...., bisik pula laki- laki it u. " Aku seorang m at a- mata yang dikirim oleh Jenderal An Lu San. Nona, daripada engkau m em bunuh diri, m ari kubant u kau keluar dari t em pat ini dan kau ikut bersam aku. Dengan bekerj a unt uk An- goanswe, kelak kau berkesem pat an unt uk m em balas kepada sem ua orang yang t elah m endat angkan m alapet aka ini kepadam u." Sepert i kilat m asuknya pikiran ini ke dalam kepala Swi Nio. Mengapa t idak? Mat i bukan m erupakan j alan yang m em ecahkan persoalan! Dia harus m em balas kepada Pangeran it u! Dan kini, dia dapat m enduga bahwa dia t ent u pingsan karena pengaruh obat dari Kiam - m o Cai- li. Dia t ahu bahwa wanit a it u adalah seorang ahli t ent ang racun. Kini dia m engert i sem ua. Dia sengaj a dikorbankan oleh gurunya dan oleh wanit a iblis it u, sepert i seekor dom ba yang sengaj a dikorbankan m enj adi m angsa serigala, Si Pangeran it u! Dendam nya bert um puk, kini t erbuka j alan baginya, perlu apa m engam bil j alan pendek membunuh diri? "Baik, mari ikut aku...." bisiknya dan dengan berindap- indap Swi Nio m engaj ak laki- laki it u m elalui j alan rahasia dan akhirnya, m enj elang pagi, m ereka berdua berhasil keluar dari t em bok pagar But ong- pai. " Haiii....! ! " t iba- tiba t erdengar bent akan dan lim a orang anggaut a Bu- tong- pai m uncul dari t em pat penj agaan t ersem bunyi. Akan t et api ket ika m ereka m elihat Swi Nio, m ereka terheran- heran, m em andang kepada gadis it u lalu kepada orang asing yang keluar dari j alan rahasia bersam a m urid ut am a ket ua m ereka. Malam it u m em ang banyak dat ang t am u dari kot a raj a yang ikut dalam rom bongan Pangeran, m aka m ereka m engira bahwa t ent u orang ini adalah anggaut a rom bongan pula. Akan t et api sepagi it u, m asih gelap, apakah yang akan dilakukan t am u ini bersam a Swi Nio keluar dari Bu- tong- pai dengan diam - diam ?" Tiba- t iba t erdengar t eriakan bert urut - t urut dan lim a orang it u roboh dan t ewas seket ika. Mereka hanya m am pu sat u kali saj a m engeluarkan t eriakan karena t enggorokan m ereka ham pir put us disam bar j ari- jari yang am at kuat dari m at a- m at a it u yang bergerak dengan cepat luar biasa m enyerang m ereka. Melihat kelihaian orang it u, Swi Nio t ercengang. Dia m akin kagum . Kiranya m at a- m at a ini bukan orang biasa dan andaikat a ket ahuan pun akan m erupakan lawan t angguh, sungguhpun t ent u saj a dia sangsi apakah orang ini akan mampu lolos kalau Kiam- mo Cai- li dan subonya turun tangan. "Mari cepat....!" Orang laki- laki it u berkat a dan m elihat keadaan Swi Nio yang m asih lem as, dia t anpa raguragu lagi lalu m enyam bar t ubuh gadis it u, dipanggulnya dan berlarilah dia dengan am at cepat nya m eninggalkan t em pat yang berbahaya baginya it u. Gadis bernam a Liang- cu yang sebenarnya adalah penyam aran Bu Swi Liang, bekerj a di dalam ist ana sebagai pengawal pribadi Yang Kui Hui. Dia bert ugas m em ikat hat i selir Kaisar yang cantik j elit a ini. Dapat dibayangkan bet apa t ersiksa hat i pem uda it u m enyaksikan sem ua yang t erj adi di dalam kam ar Yang Kui Hui, m elihat selir yang cant ik j elit a it u berist irahat , m andi, bergant i pakaian dan lain- lain di depan m at anya begit u saj a karena dia dianggap wanita pula! Betapa tersiksa hati orang muda ini hidup di antara wanita- wanit a cant ik, yait u para pelayan Yang Kui Hui. Di ist ana bagian put eri ini t idak ada prianya, karena para t haikam yang bert ugas di sit u biarpun kelihat an sepert i orang pria, nam un sesunguhnya t idak lagi dapat disebut sebagai pria. Swi Liang adalah seorang pem uda yang sedang berkobar nafsunya karena Bu- tong- san dia diseret ke dalam kekuasaan nafsu berahi oleh subonya sendiri. Sebagai seorang pem uda yang baru gila berahi, kini berada dit engah- t engah para wanit a cant ik it u, t ent u saj a dia t idak kuat bert ahan t erlalu lam a. Unt uk m elakukan t ugasnya m em ikat Yang Kui Hui, dia belum berani karena kesem pat anya belum t iba. Dia t idak berani bersikap kasar dan m em buka rahasia penyam arannya begit u saj a. Karena sekali gagal, dia t ent u akan m at i konyol. Akan t et api unt uk m enunda lebih lam a lagi m enguasai nafsunya, dia t idak sanggup! Akan t et api, Swi Liang m enahan gelora hat inya sedapat m ungkin. Dia harus bersabar m enant i kesem pat an baik. Tugasnya am at pent ing bagi perj uangan subonya Sam a sekali t idak boleh gagal karena t aruhannya adalah nyawanya. Pada suat u senj a belasan hari kem udian Swi Liang

181

Bu Kek Siansu
diperbolehkan m engaso karena m alam it u kaisar akan m engunj ungi selirnya yang t ercint a dan t em pat it u penuh dengan pengawal- pengawal pribadi Kaisar sendiri. Swi Liang lalu m engundurkan diri ke dalam kam arnya, sebuah kam ar yang am at indah dan berdekat an dengan kam ar para pelayan ut am a at au pelayan pribadi selir Kaisar it u. Selagi duduk m elam un sendiri di dalam kam arnya, m encari akal bagaim ana unt uk m em ulai t ugasnya, m erayu dan m em ikat Hat i Yang Kui Hui, dia m em bayangkan keadaan selir it u dan j ant ungnya berdebar penuh nafsu dan gairah. Selir it u m em ang cant ik luar biasa, dan ket ika m andi at au bert ukar pakaian, dia dapat m enyaksikan seluruh bagian t ubuh yang padat dan am at m enggaerahkan it u. Pernah dia m em bant u pelayan m enyelim ut kan kain set elah selir it u m andi dan j arij ari t angannyam enyent uh kulit yang halus, lunak, dan hangat , dan t ercium olehnya bau sem erbak harum dari t ibuh selir it u. Keharum an yang khas dan alangkah j auh bedanya ant ara kecant ikan dan t ubuh indah selir it u dibandingkan dengan subonya! " Enci Liang- cu! kenapa m elam un saj a?" Seorang gadis cant ik berbaj u hij au m enegurnya sam bil t ert awat awa, di belakangnya m asuk pula seorang gadis cant ik berbaj u m erah. Mereka it u adalah dua orang pelayan pribadi Yang Kui Hui, dua orang gadis cant ik j elit a yang genit - genit " Ah, Enci Liang- cu orangnya pendiam am at sih, t idak m au bersendaugurau dengan kam i? Swi Liang t ersenyum m enekan j ant ungnya yang berdebar- debar dan m enahan m at anya agar j angan t erlalu m elot ot m elahap kecant ikan dua orang gadis it u. " Ahh, aku lelah dan sedang berist irahat . Jarang ada kesempatan beristirahat seperti ini...." kata Swi Liang. "Mari temani kami m ain t hio- ki ( kart u) di kam arku, Enci Liang- cu! " kat a Si Baj u Hij au. " Ya, m arilah, Enci Liang- cu. Tidak enak hanya berm ain berdua. Marilah, sam bil kit a berkenalan lebih erat lagi. Kenapa sih? Bukankah kit a ini rekan- rekan yang berkerj a di sini?" kata Si Baj u Merah sam bil m enarik t angan Swi Liang. Tak dapat Swi Liang m enolak karena hal ini m endat angkan kecurigaan apalagi m em ang dia sudah rindu sekali akan sent uhan t angan wanit a cant ik set elah belasan hari berpisah dari subonya. Kedua orang gadis it u t ertawa- t awa, m enggandeng kedua t angan Swi Liang dan m em bawanya kedalam kam ar Si Baj u Hij au yang berbau harum . Sebuah m ej a bundar rendah t elah dipersiapkan di t engah kam ar, di dekat pem baringan di sekeliling m ej a it u t erdapat t ikar yang dit ilam i kasur dan bant al. Selain kart u unt uk m ain, j uga di at as m ej a t erdapat seguci arak wangi dan cawan- cawan kecil, j uga beberapa m acam kuih kering. " Duduklah, Enci Liang- cu. Mari kit a, m ain- m ain. kau berm alam saj a di sini m alam ini, ya?" Si Baj u Hij auberkat a sam bil m erangkul. " Dan t ubuhm u begini t egap dan kelihat an kuat , Enci Liang- cu," kat a Si Baj u Merah memegang- m egang lengan pem uda it u. " Aihhh, t angan Enci Liang- cu kuat dan kasar! " kat a Si Baj u Merah m enghelus t elapak t angan pem uda it u. Swi Liang m enarik t angannya. " Aahh, aku sej ak kecil berlat ih silat . Tent u saj a aku seorang gadis yang kasar, m ana bisa dibandingkan dengan kalian yang halus m ungil?" " Hihik, kau t erlalu m em uj i, Enci! " kat a Si Baj u Merah sam bil m encubit paha Swi Liang. " Kalau engkau m enj adi seorang laki- laki, t ent u t am pan dan gagah, Enci Liang- cu!" kat a Si Baj u Hilau. Dapat dibayangkan bet apa t ubuh Swi Liang t erasa panas dingin m enghadapi godaan- godaan ini, m aka cepat - cepat m engaj ak m ereka berm ain kart u, karena kalau dilanj ut kan godaan m ereka it u, t ent u dia t akkan kuat lagi bert ahan! Sudah t im bul keinginan keras di hat inya unt uk m erangkul dan m endekap m ereka, m encium i bibir yang m erah dan lincah it u! " Eh, unt uk apa arak ini?" kat anya set elah Si Baju Merah menuangkan secawan arak yang berbau wangi. "Hi- hik, bermain thioki t anpa t aruhan t idak m enyenangkan. Siapa kalah harus m enebus kekalahannya dengan minum secawan arak wangi!" kata Si Baju Hijau. Meeka mulai bermain thioki sam bil bercakap- cakap dan bersendau gurau, at au lebih t epat lagi, kedua orang gadis it u yang bercakap- cakap dan bersendau gurau sedangkan Swi Liang hanya m endengarkan dan kadang- kadang t ersenyum saj a. Karena dia t idak ingin dilolohi arak sehingga rahasianya dapat t erbuka, m aka Swi Liang berm ain sungguh- sungguh

182

Bu Kek Siansu
sehingga dia j arang kalah dan yang kebagian m inum arak adalah kedua orang gadis it ulah! Mereka berm ain t erus sam pai m enj elang t engah m alam dan akhirnya arak dalam guci kecil it u habis! " Ahhh, hawanya panas sekali ....! " kat a Si Baj u Hij au. " Bukan panas, hanya engkau t erlalu banyak m inum m aka t erasa panas, " kat a Swi Liang. " Hem m , m ungkin... aihhh, gerahnya." Si Baj u Hij au m em buka kancing baj unya dan m engebut - ngebut dengan kipas. Swi Liang m enelan ludah, m at anya m em andang ke arah dada yang ha