Evaluasi Ketahanan Pangan di Provinsi Jawa Barat Berdasarkan Angka Ketersediaan Energi (AKE), Tingkat Konsumsi Energi (TKE

), dan Kondisi Kualitas/Keamanan Pangan
Zulfadly Urufi, Salahudin, Tofan Dwi Rahardjo

Abstrak Pangan merupakan kebutuhan dasar utama bagi manusia yang harus dipenuhi setiap saat. Sebagai provinsi dengan jumlah penduduk yang banyak menjadi beban tersendiri bagi pemerintah untuk memenuhi kebutuhan pangan bagi penduduknya. Penelitian ketahanan pangan perlu dilakukan untuk mengetahui tingkat ketahanan pangan di Provinsi Jawa Barat. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kondisi ketahanan pangan di Provinsi Jawa Barat. Metoda yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan metode evaluasi-kualitatif dengan analisis deskriptif. Penelitian ketahanan pangan ini menggunakan variabel-variabel Angka Ketersediaan Energi (AKE), Tingkat Konsumsi Energi (TKE), dan kondisi kualitas/keamanan pangan. Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa kondisi ketahanan pangan di Provinsi Jawa Barat adalah tahan pangan. Penurunan luas lahan pertanian yang terjadi di Provinsi Jawa Barat tidak mempengaruhi secara signifikan terhadap tingkat produktivitas padi. Jika dibandingkan dengan Provinsi Jawa Timur yang merupakan provinsi dengan tingkat produktivitas tertinggi, Provinsi Jawa Barat masih berada di bawah tingkat produktivitas tanaman padi walaupun luas lahan panen di Jawa Barat lebih luas dibandingkan dengan luas lahan panen di Provinsi Jawa Timur. Kata kunci : ketahanan pangan, energi

I. Pendahuluan Pangan merupakan kebutuhan dasar utama bagi manusia yang harus dipenuhi setiap saat. Hak untuk memperoleh pangan merupakan salah satu hak asasi manusia, sebagaimana tersebut dalam pasal 27 UUD 1945 maupun dalam Deklarasi Roma (1996). Pertimbangan tersebut mendasari terbitnya UU No. 7/1996 tentang Pangan. Ketahanan pangan dan keamanan pasokan pangan bagi Indonesia yang antara lain dapat dicapainya swasembada pangan pokok seperti beras, jagung, dan kedelai. Selain itu ketahanan pangan dapat dicirikan juga dengan berkurangnya ketergantungan terhadap impor. Berbagai kebijakan pangan telah diupayakan pemerintah untuk mengatasi permasalahan pangan di Indonesia. Namun, kebijakan tersebut belum dapat dinikmati oleh seluruh masyarakat Indonesia khususnya rakyat kecil seperti petani, dan lain-lain. Kebijakan yang terkait pencanangan Revitalisasi Pertanian pada tahun 2005 yang lalu antara lain intensifikasi, ekstensifikasi dan diversifikasi. Diversifikasi pangan pokok sebagai pangan alternatif selain beras difokuskan kepada jagung dan singkong yang termasuk di dalamnya pada pembangunan sektor agribisnisnya demi terciptanya nilai tambah untuk meraih pendapatan dan akses atas pangan yang lebih baik. Pada krisis pangan dunia saat ini perlu dicermati juga dampak positifnya bagi Indonesia, antara lain berupa meningkatnya devisa dari hasil ekspor produk pangan dengan meningkatnya harga-harga produk pangan dunia. Krisis pangan memberikan dua dimensi bagi Indonesia yaitu meningkatnya harga pangan yang mengharuskan Indonesia lebih waspada terhadap kebutuhan pangannya, namun di sisi lain meningkatnya harga pangan merupakan kesempatan bagi Indonesia untuk menghasilkan devisa yang lebih besar. Dalam hal ini pemerintah harus memenuhi dua hal. Pertama, jaminan atas hak petani untuk

mengakses dan mengontrol berbagai sumber daya produktif dalam rangka pemenuhan pangan secara mandiri dan berkelanjutan. dan antisipasi agar tidak terjadi kerawanan pangan. Teori Ketahanan Pangan Musyawarah perencanaan pembangunan pertanian merumuskan bahwa kegiatan pembangunan pertanian periode 2005-2009 dilaksanakan melalui tiga program. Sederhananya. Prosentase populasi pertanian di UK tahun 1950 adalah 6 % dan terus menurun secara drastis hingga 2 % di tahun 2000. namun umumnya mengacu definisi dari Bank Dunia (1986) dan Maxwell dan Frankenberger (1992) yakni "akses semua orang setiap saat pada pangan yang cukup untuk hidup sehat (secure access at all times to sufficient food for a healthy life). USAID (1992): kondisi ketika semua orang pada setiap saat mempunyai akses secara fisik dan ekonomi untuk memperoleh kebutuhan konsumsinya untuk hidup sehat dan produktif. distribusi. salah satunya adalah Ingggris Raya. baik dari jumlah maupun mutunya. sekitar 896. Ketahanan Pangan (food security) adalah paradoks dan lebih merupakan penemuan dunia modern. aman dan halal di setiap daerah setiap saat. justru menghadapi ketahanan pangan yang rapuh. Semakin banyak penduduknya. Provinsi Jawa Barat merupakan salah satu provinsi yang mempunyai banyak penduduk. ekonomi dan budaya masingmasing komunitas (Muchtadi.000 petani akan memberi makan sedikitnya 60 juta penduduk. jumlah populasi pertanian di Inggris akan terus turun menjadi 1% di tahun 2010. sosial. maka semakin banyak pula konsumsi bahan pangannya. merata dan terjangkau. . (2) Program pengembangan agribisnis. Berikut disajikan beberapa definisi ketahanan yang sering diacu : 1. Undang-Undang Pangan No. dan konsumsi pangannya sesuai dengan kondisi ekologi. Definisi dan paradigma ketahanan pangan terus mengalami perkembangan sejak adanya Conference of Food and Agriculture tahun 1943 yang mencanangkan konsep “secure. dan (3) Program peningkatan kesejahteraan petani. 2000). tetapi dunia hari ini lebih aman pangan ketimbang masa lalu. 4. FIVIMS 2005: kondisi ketika semua orang pada segala waktu secara fisik. Definisi ketahanan pangan sangat bervariasi. 2008). Tetapi fakta-fakta dari Nusa Tenggara Barat (yang kerap dikenal sebagai daerah lumbung padi) serta daerah semi arid seperti Nusa Tenggara Timur di semester pertama tahun 2005. adequate and suitable supply of food for everyone". aman. FAO (1997) : situasi dimana semua rumah tangga mempunyai akses baik fisik maupun ekonomi untuk memperoleh pangan bagi seluruh anggota keluarganya. Secara prosentase. Kedua. Paradoks ini bisa terlihat jelas di banyak Negara maju. Indonesia saat ini memiliki 90 juta petani (seratus kali dari Inggris) atau sekitar 45% penduduk “memberi makan” seluruh pendududuk (sekitar 230 juta orang). Oleh karena itu. menjaga ketersediaan pangan yang cukup. 2. II. 3. perlu dilakukan penelitian untuk mengetahui ketahanan pangan di Provinsi Jawa Barat. Program ketahanan pangan tersebut diarahkan pada kemandirian masyarakat/petani yang berbasis sumberdaya lokal yang secara operasional dilakukan melalui program peningkatan produksi pangan. aman dan bergizi untuk pemenuhan kebutuhan konsumsi dan sesuai dengan seleranya (food preferences) demi kehidupan yang aktif dan sehat.7 Tahun 1996: kondisi terpenuhinya kebutuhan pangan bagi rumah tangga yang tercermin dari tersedianya pangan secara cukup. Studi pustaka yang dilakukan oleh IFPRI (1999) diperkirakan terdapat 200 definisi dan 450 indikator tentang ketahanan pangan (Weingartner. jaminan atas hak setiap komunitas masyarakat di tingkat lokal untuk menentukan sendiri kebijakan produksi. lebih banyak produsen pangan di masa lalu ketimbang masa kini. terbukti dengan tingginya tingkat kekurangan pangan dan gizi buruk. dan berdasarkan prediksi FAO (Food and Agriculture Organisation). dimana rumah tangga tidak beresiko mengalami kehilangan kedua akses tersebut. yaitu (1) Program peningkatan ketahanan pangan. social dan ekonomi memiliki akses pada pangan yang cukup.

Untuk menjaga kelangsungan hidup dan menjalankan kegiatan hidupnya. Sedangkan tingkat konsumsi protein adalah jumlah protein total yang dikonsumsi oleh setiap orang setiap harinya dibandingkan dengan angka kecukupan protein yang dianjurkan ( I Dewa Nyoman Supariasa.Mercy Corps (2007) : keadaan ketika semua orang pada setiap saat mempunyai akses fisik. Ditujukan untuk hidup sehat dan produktif Istilah ketahanan pangan (food security) sebagai sebuah konsep kebijakan baru pertama kali muncul pada tahun 1974. nasional. Umbi-umbian : ubi kayu. Tingkat Konsumsi Energi adalah Jumlah energi total yang dikonsumsi oleh setiap orang setiap harinya. Buah/biji berminyak : kelapa daging 6. ekonomi dan sosial 4. Lain-lain : teh. Angka Ketersediaan Energi (AKE) dan Tingkat Konsumsi Energi (TKE) Angka ketersediaan energi (AKE) mencerminkan besarnya proporsi ketersediaan energi aktual penduduk di suatau daerah. Minyak dan lemak : minyak kelapa. Widyakarya Nasional Pangan dan Gizi tahun 1998 telah menetapkan standar energi ideal yang diharapkan yaitu sebesar 2. A. Berorientasi pada pemenuhan gizi 5. aman dan bergizi untuk kebutuhan gizi sesuai dengan seleranya untuk hidup produktif dan sehat. kentang. Dimensi watu setiap saat pangan tersedia dan dapat diakses 3. susu dan telur 4. Maxwell (1996) mencoba menelusuri perubahan-perubahan definisi tentang ketahanan pangan sejak konferensi pangan dunia 1974 hingga pertengahan dekade 90an. talas dan sagu. baik fisik.200 kkal/kap/hari di tingkat konsumsi dan 2500 kkal/kap/hari pada tingkat nasional. kacang tanah. Sayur dan buah : semua jenis sayuran dan buah-buahan yang biasa dikonsumsi 9. . dan ekonomi terhadap terhadap kecukupan pangan. perubahan terjadi pada level global. jagung.dkk. dari perspektif pangan sebagai kebutuhan dasar (food first perspective) hingga pada perspektif penghidupan (livelihood perspective) dan dari indikator-indikator objektif ke persepsi yang subjektif. coklat. gula merah 8. AKE tersebut perlu diterjemahkan ke dalam satuan yang lebih dikenal oleh para perencana pengadaan pangan atau kelompok bahan pangan. Berdasarkan definisi tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa ketahanan pangan memiliki 5 unsur yang harus dipenuhi : 1. Setiap manusia membutuhkan energi perhari yang disesuaikan dengan berat badan dan tingkat aktivitas.bumbuan. sosial. ubi jalar. Pangan hewani : ikan. Berorientasi pada rumah tangga dan individu 2. Kacang-kacangan : kedelai. Secara Nasional bahan pangan dikelompokkan sebagai berikut : 1. (Lihat: Maxwell & Frankenberger 1992). daging. skala rumah tangga dan individu. Padi-padian : beras. sorghum dan terigu 2. Gula : gula pasir. Tingkat Konsumsi Energi (TKE) menggambarkan persentase konsumsi energi terhadap Angka Kecukupan Energi (AKE) dengan kriteria menurut Departemen Kesehatan Tahun 1996 (PPKP BKP. kacang hijau 7. Kelompok Bahan Pangan Bahan pangan untuk konsumsi sehari-hari dapat dikelompokkan menjadi 9 (sembilan) kelompok besar. Untuk mengetahui pola konsumsi masyarakat baik Nasional maupun Regional. sirup. makanan dan minuman jadi B. Jenis pangan pada masing-masing kelompok dapat berbeda pada setiap daerah/kota sesuai sumberdaya pangan yang tersedia. yakni ketika dilaksanakannya konferensi pangan dunia (Sage 2002). 3. bumbu. kopi. minyak sawit 5. 2005) sebagai berikut : 5. Menekankan pada akses pangan rumah tangga dan individu.2001:113).

0 2.5 0.0 25.0 Gula 8.0 Jumlah 100 Sumber : Departemen Pertanian. IV. e.0 1. Kondisi Ketersediaan Pangan di Provinsi Jawa Barat Berdasarkan hasil penyusunan Neraca Bahan Makanan (NBM) Provinsi Jawa Barat tahun 2007 diketahui bahwa ketersediaan energi untuk dikonsumsi penduduk Jawa Barat sebesar 2.0 Biji Berminyak 3. TKE < 70% TKE 60%-79% TKE 80%-90% TKE 90%-119% TKE > 120% : defisit berat. Variabel dan Indikator Ketahanan Pangan di Provinsi Jawa Barat Kondisi ketahanan pangan di Provinsi Jawa Barat dapat diketahui dengan menggunakan tiga variabel-variabel dan dirinci berdasarkan indikator seperti terlihat pada tabel 2. PPH dapat dinyatakan (1) dalam bentuk komposisi energi (kalori) anekaragam pangan dan/atau (2) dalam bentuk komposisi berat (gram atau kg) anekaragam pangan yang memenuhi kebutuhan gizi penduduk. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel 1. Pola Pangan Harapan (PPH) Pola Pangan harapan (PPH) adalah suatu komposisi pangan yang seimbang untuk dikonsumsi guna memenuhi kebutuhan gizi penduduk.0 5.448 kkal/kap/hari.0 Umbi-umbian 5.0 0.a.0 100 Kisaran (%) Konsumsi Energi (Kkal) Konsumsi Bahan Pangan (gram/kap/ hari 300 100 150 35 250 10 25 30 Bobot Skor Padi-padian 40. Proporsi sumber energi tersebut terdiri dari 2.313 kkal/kap/hari atau sebesar 94. Selengkapnya dapat dilihat pada tabel 3 .0 3.0 5.0 10. c.0 5.5 2.0 Kacang-kacangan 6.0 Pangan Hewani 20.0 12.0 30.5 0.0 100 III.5 0. : normal (tahan pangan) : kelebihan/diatas AKE C. : defisit tingkat sedang.5 0. 2009 1 2 3 4 5 6 7 8 9 40-60 0-8 5-20 2-10 3-8 0-3 5-15 2-8 0-5 100 1100 132 264 110 132 66 220 110 66 2200 0. b. : defisit tingkat ringan. Pola pangan harapan mencerminkan susunan konsumsi pangan anjuran untuk hidup sehat.0 10. aktif dan produktif.0 3. d.5 24. Tabel 1 Susunan Pola Pangan Harapan Nasional No Kelompok Pangan PPH FAO PPH Nasional 2020 (%) 50.0 Lainnya 3.0 Lemak dan Minyak 10.5% berasal dari pangan nabati dan 135 kkal/kap/hari atau sebesar 5.0 2.5 0.5% dari pangan hewani.0 6.0 6.0 Sayur dan Buah 5.0 5.0 2.

398 100.2 136 5.8 2. akan tetapi menurut susunan pola pangan harapan (PPH) masih terdapat beberapa kelompok pangan dibawah standarnya.5 Total 2.1 2 0. 3.4 Buah/biji berminyak 123 5.3 52 2.1 251 10.312 94. Dapat dikatakan indikator ketahanan pangan berdasarkan AKE tercapai.1 Jumlah 124 5. TKE 90%-119% : normal (tahan pangan) j.Tabel 2 Variabel dan Indikator Ketahanan Pangan No 1. TKE > 120% : kelebihan/ diatas AKE Ukuran kualitas pangan dilihat dari data pengeluaran untuk konsumsi makanan (lauk-pauk) sehari-hari yang mengandung protein hewani dan/atau nabati. i. TKE 80%-90% : defisit tingkat ringan. dan sayur dan buah-buahan. Pada tahun 2006 dan 2007. yaitu: 1. 2.5 Hewani Daging 46 1. Selengkapnya dapat dilihat pada tabel 4.5 Sayur-sayuran 56 2.0 2. .3 Ikan 57 2. g.2 Telur 12 0.4 Lemak 2 0.6 1. 2008 Angka Ketersediaan Energi (AKE) pada suatu daerah dikatakan ideal apabila memiliki AKE sebesar 2.448 100.6 Susu 7 0. 3.5 8 0. h.1 Minyak 265 11.398 kkal/kap/hari dan 2.200 kkal/kap/hari). kacang-kacangan.5 Gula 101 4. gula.480 60. 2. AKE di Provinsi Jawa Barat adalah 2.200 kkal/kap/hari.5 110 4. 2009 Tabel 3 Ketersediaan Energi untuk Dikonsumsi Penduduk Jawa Barat Tahun 2006 dan 2007 Ketersediaan Energi (kkal/kap/hari) Sumber Kelompok Pangan NBM 2006 NBM 2007 Energi % Energi % Nabati Padi-padian 1.3 Jumlah 2.200 kkal/kap/hari Kriteria menurut Departemen Kesehatan tahun 1996 (PPKP BKP.0 Sumber :Sekretariat Daerah Provinsi Jawa Barat. buah/biji berminyak. TKE < 70% : defisit berat.5 Buah-buahan 108 4.273 94.406 58. Rumah tangga dengan kualitas pangan tidak baik adalah rumah tangga yang tidak memiliki pengeluaran untuk lauk-pauk berupa protein baik hewani maupun nabati.5 Makanan berpati 214 8. 2005) sebagai berikut : f.9 54 2.2 108 4.5%. Angka (AKE) Tingkat (TKE) Variabel Ketersediaan Konsumsi Energi Energi Indikator Standar energi ideal yaitu sebesar 2. Rumah tangga dengan kualitas pangan baik adalah rumah tangga yang memiliki pengeluaran untuk lauk-pauk berupa protein hewani dan nabati atau protein hewani saja.4 58 2.1 111 4. TKE 60%-79% : defisit tingkat sedang.448 kkal/kap/hari dengan komposisi sebagian besar bersumber pada pangan nabati dari kelompok pangan padi-padian sebanyak 60. Rumah tangga dengan kualitas pangan kurang baik adalah rumah tangga yang memiliki pengeluaran untuk lauk-pauk berupa protein nabati saja. Kualitas/keamanan pangan Sumber : Hasil analisis.5 14 0. Berdasarkan kriteria ini rumah tangga dapat diklasifikasikan dalam tiga kategori. Walaupun AKE Provinsi Jawa Barat sudah tercapai (di atas 2.yaitu pangan hewani.9 209 8.

Minyak dan lemak 267 5. dapat diketahui bahwa sebanyak 6. Umbi-umbian 224 3. Dengan demikian dapat diketahui bahwa hanya 6. dengan mengetahui tingkat konsumsi energi (TKE). Kacang-kacangan 105 7. 19.6 Total 100.71% penduduk mengkonsumsi protein nabati (padi-padian.6 3.8 4.6 12. Pangan hewani 123 4. Namun tingkat konsumsi ini sedikit menurun pada tahun 2007 yaitu menjadi 102.6 1.062 kkal/kap/hari. Kelompok Pangan Standar % AKE Berdasarkan data diatas.0 52 46 2.3 Minyak dan lemak 10. sayur-sayuran.0 2. Selain itu.1 11. tingkat konsumsi energi di Provinsi Jawa Barat masih dapat dikatakan normal (tahan pangan) karena % AKE berkisar antara 90% . Padi-padian 1.31% saja penduduk di Jawa Barat yang memiliki kualitas pangan baik karena mampu mengkonsumsi protein hewani.5 10.389 Sumber :Sekretariat Daerah Provinsi Jawa Barat. Kondisi Konsumsi Pangan di Provinsi Jawa Barat Analisis terhadap pola konsumsi pangan di masing-masing daerah sangat penting dilakukan sebagai acuan untuk melakukan proyeksi kebutuhan pangan di masa yang akan datang.062 2.0 1.2 0.406 2.9 0 111.8 4. Tanpa berpegangan terhadap pola konsumsi pangan daerah setempat. Sayur dan buah-buahan 153 9.051 103. Buah/biji berminyak 18 6.umbi-umbian. buah-buahan).5 0. B.0 72 68 3. telur dan susu) dan sebanyak 19. 2008 Ket : % AKE (2000 kkal/kap/hari). 2008 No Kelompok Pangan % (AKE) 63. Kondisi Kualitas/Keamanan Pangan di Provinsi Jawa Barat Berdasarkan persentase pengeluaran rata-rata per kapita untuk sub golongan makanan.7 4.0 211 204 10.2 1.71% penduduk di Jawa Barat memiliki kualitas pangan kurang baik karena hanya mampu mengkonsumsi protein nabati saja. kacang-kacangan.2 Buah/biji berminyak 3.5 Sumber : Biro Bina Produksi Sekretariat Daerah Jawa Barat.0 156 166 7.0 72 82 3.6 6.0 75 79 3. Walaupun demikian.5 67.8 4.Tabel 4 Persentase Ketersediaan Energi Penduduk Jawa Barat Tahun 2006 dan 2007 2006 Energi (kkal/kap/hari) 1. dapat juga menggambarkan persentase konsumsi energi terhadap angka kecukupan pangan (AKE).9 6.0 23 21 1.352 68. dapat diketahui bahwa tingkat konsumsi energi di Jawa Barat pada tahun 2005 mencapai 103.3 9.4 Sayur dan buah-buahan 6. daging.480 210 134 253 9 102 108 152 0 2.100 132 264 220 66 110 110 132 66 2.5% atau sebesar 2.119% AKE.3 Standar Konsumsi Energi (kkal) 1.2 5.6%.3 Pangan hewani 12. . maka akan sangat sulit melakukan proyeksi ke arah yang ideal. Lain-lain 0 Total 2.8 8.0 31 33 1.6 7 0 109.6 4.6 Umbi-umbian 6.0 Gula 5.200 A.448 % (AKE) 67.9 10.1 102.1 Kacang-kacangan 5.0 2007 Energi (kkal/kap/hari) 1.1% atau sebesar 2.6 2.4 4.370 1.1 Lain-lain 3. Tabel 5 Komposisi Konsumsi Energi di Provinsi Jawa Barat Tahun 2005 dan 2007 Tingkat Konsumsi Energi Kkal/kap/hari % AKE 2005 2007 2005 2007 Padi-padian 50.31% penduduk di Jawa Barat mengkonsumsi protein hewani (ikan.051 kkal/kap/hari mengalami penurunan sebesar 0. Gula 101 8.

04 0.bps.914. C.52 37. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel 7. maka dapat disimpulkan bahwa Provinsi Jawa Barat tahan pangan. Walaupun demikian.93 56.67 30.Tabel 5 Persentase Pengeluaran Rata-Rata per Kapita untuk Sub Golongan Makanan Tahun 2007 Jenis Makanan Padi-padian Umbi-umbian Protein nabati Sayur-sayuran Kacang-kacangan Buah-buahan Jumlah pengeluaran untuk protein nabati Ikan Protein hewani Daging Telur dan susu Jumlah pengeluaran untuk protein hewani Total pengeluaran Sumber : Suseda Provinsi Jawa Barat.44 40.06 30.01 1.06 55.20 25.BPS 2007 Jenis Protein Rata-rata per kapita (%) 11.019 Ku pada tahun 2007. akan tetapi produksi padi meningkat kembali pada tahun 2007 menjadi 9.id Tingkat produktivitas tanaman padi di Provinsi Jawa Barat selalu meningkat setiap tahunnya walaupun terjadi penurunan produksi pada tahun 2006. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel 6.02 50. Produksi tanaman padi pada tahun 2006 di Provinsi Jawa Barat adalah 9. Padi merupakan bahan tanaman pokok untuk dikonsumsi di Pulau Jawa.418. hal ini berbeda dengan daerah lainnya yang menjadikan jagung dan sagu sebagai bahan makanan pokok. Provinsi Jawa Barat merupakan provinsi dengan tingkat produktivitas penghasil padi yang tinggi setelah Provinsi Jawa Timur.06 56.51 48.37 Provinsi Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Produktivitas (Ku/Ha) 48.go. Produktivitas Pertanian di Provinsi Jawa Barat.21 19.67 47.75 31.63 6.63 46.572 Ku menurun dari 9.85 3.31 46.03 46.31 26.15 50.34 38.61 34.67 2.59 33. Tabel 6 Tingkat Produktivitas Tanaman Padi Berdasarkan Provinsi Tahun 2008 Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam Sumatera Utara Sumatera barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Produktivitas (Ku/Ha) 42.67 41. Provinsi Bali.83 39. .787.71 2.48 35.37 3. harus dilihat juga tingkat produktivitas pertanian di Provinsi Jawa Barat.14 58.41 38.53 50. Beras merupakan bahan makanan pokok bagi sebagian besar masyarakat di Pulau Jawa.217 Ku pada tahun 2005. dan Provinsi DI Yogyakarta pada tahun 2008 pada tingkat nasional.03 Sumber : www.24 1.79 34.02 Berdasarkan ketercapaian variable ketahanan pangan yang digunakan.61 44.36 39.95 59.25 47.22 24.

803.787.418. Produksi.217 9.20 56.346.069 Produktivitas (Ku/Ha) 51.bps.693.572 9. Provinsi Jawa Timur memiliki karakteristik yang hampir sama dengan Provinsi Jawa Barat dan menjadikan padi sebagai tanaman pokok.796 2006 1. dan Tingkat Produktivitas Padi di Provinsi Jawa Barat Tahun 2005-2008 Tahun Luas Panen (Ha) 2005 1. akan tetapi masih di bawah tingkat produktivitas tanaman padi di Provinsi Jawa Timur.007. Tabel 8 Luas Panen.06 Walaupun tingkat produktivitas tanaman padi di Provinsi Jawa Barat dapat dikatakan sangat tinggi.651 2006 1.798.774.id Produksi (Ku) 9. Produksi. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel 8 dan gambar 1.894.736.029 10.go.773 Produktivitas(Ku/Ha) 53.260 2007 1.18 53.id Produksi(Ku) 9.402.38 54.go. akan tetapi tingkat produktivitas tanaman padinya di atas produktivitas Provinsi Jawa Barat. gambar 2 dan gambar 3. Luas panen di Provinsi Jawa Timur ini masih di bawah luas panen Provinsi Jawa Timur.65 52.947 9.085 2008 1.bps.38 54.628 Sumber : www.884 Sumber : www.Tabel 7 Luas Panen.914.474.750.265 9.048 2008 1.111.829.903 2007 1. dan Tingkat Produktivitas Padi di Provinsi Jawa Timur Tahun 2005-2008 Tahun Luas Panen(Ha) 2005 1.019 10.02 Perbandingan Luas Panen Tanaman Padi di 2000000Provinsi Jawa Barat dan Provinsi Jawa Timur 1894796 Luas Panen Tahun 1829085 2005-2008 1900000 Jawa Barat 1803628 1798260 1800000 1700000 1600000 1500000 2005 2006 2007 2008 1693651 1750903 1736048 1774884 Luas Panen Jawa Timur Perbandingan Produksi Tanaman Padi di Provinsi Jawa Barat dan 11000000 Provinsi Jawa Timur Tahun 2005-2008 10500000 10000000 9500000 9000000 8500000 8000000 2005 2006 2007 2008 9007265 9787217 9418572 9346947 9402029 10474773 10111069 9914019 Produksi Padi Jawa Barat .16 59.

237.593) x 100% = -12.352.id Produktivitas (Ku/Ha) 50.bps. Rata-rata perubahan guna lahan pertanian di Provinsi Jawa Barat dari tahun 1994 hingga tahun 2005 adalah sebesar -7.650) : 9.190) x 100% = -0.899 2 040 680 2001 755.56%)) : 3 = -7.190 1 894 796 Sumber : RTRWP Jawa Barat Tahun. akan tetapi walaupun terjadi penurunan guna lahan pertanian pada tahun 1997.237.16 56.650-9. jumlah produksi padi mengalami peningkatan menjadi 10.650) x 100% = 4.1997.4%)+(-.217-9.407-916.352.217  % Konversi Guna Lahan : o 1997 : ((916.787.2 51.57%  .860.352.650 Ku atau sebesar 4.787.352.62%)) : 3 = -0.899) x 100% = -1.638 1 960 210 1997 916.407 1 866 069 2005 751.38 52. dan www.375) : 10. Perbandingan Guna Lahan dengan Produksi Padi di Provinsi Jawa Barat Luas pertanian di Provinsi Jawa Barat mengalami penurunan tiap tahunnya.593) : 9..899-933.65 Produksi(Ku) 9. Penurunan luas guna lahan tersebut berbanding searah dengan berkurangnya jumlah produksi padi di Jawa Barat.60 58 56 54 52 50 48 46 Perbandingan Produktivitas Tanaman Padi di Provinsi Jawa Barat dan Provinsi Jawa 59. Penurunan luas guna lahan terbanyak terjadi antara tahun 1997 hingga tahun 2001 sebanyak 21. nilai negative tersebut mempunyai arti bahwa terjadi penurunan luas lahan pertanian di Jawa Barat.02 Timur Tahun 2005-2008 53.638) : 916.dan 2005 Tahun Luas Guna Lahan Luas Pertanian (Ha) Panen(Ha) 1994 933.352.83 % o 2001 : ((755.83%)+(-21.30 50.593-10. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel 9 dan Gambar 4 di bawah ini.899) : 755.2001.76%.4%.76 % o 2001 : ((9.1%)+(-5.593 9.375 10.76%)+(-12.18 53.62 % o Persentase rata-rata konversi lahan : ((4.190-755.06 54. Tabel 9 Perbandingan Guna Lahan Pertanian dengan Jumlah Produksi dan Produktivitas Tanaman Padi di Jawa Barat Tahun 1994.73 49.237.56 % o Persentase rata-rata konversi lahan : ((-1.860.407) x 100% = -21.237.93% % Produksi Padi : o 1997 : ((10.217) x 100% = 5.50 51.650 9.go.4 % o 2005 : ((751.38 54.1 % o 2005 : ((9.787.407) : 751.93%.65 Produktivitas Padi Jawa Barat Produktivitas Padi Jawa Timur 2007 2008 2005 2006 D. Hal tersebut disebabkan adanya konversi lahan pertanian menjadi lahan permukiman akibat pertumbuhan penduduk.

go. di Jawa Barat lebih luas dibandingkan dengan luas lahan panen di Provinsi Jawa Timur.Tabel 10 Perbandingan Persentase Konversi Guna Lahan dengan Persentase Produksi Padi % Konversi Guna Lahan 1997 2001 2005 Rata-rata Sumber : Hasil analisis. Penurunan luas lahan pertanian yang terjadi di Provinsi Jawa Barat tidak mempengaruhi secara signifikan terhadap tingkat produktivitas tanaman padi. Beberapa tindaklanjut terhadap kondisi yang dihadapi adalah :  Peningkatan teknologi pertanian untuk meningkatkan produktivitas tanaman padi mengingat luas lahan pertanian yang selalu berkurang. Italy .93 4. Analisis Konsumsi Pangan Provinsi Jawa Barat. 1997. Suseda Provinsi Jawa Barat 2007 BPS.4 -0.bps. Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian mengenai kondisi ketahanan pangan di Provinsi Jawa Barat dengan menggunakan variabel yang telah ditentukan (Angka Ketersediaan Energi. 2008.62 -0. Food and Agricultural Organization of the United Nations.  Diversifikasi pangan dengan melakukan penelitian terkait untuk mengembangkan sumber-sumber pangan baru VI.62% 4.83 -21.56 -7.56% 2005 % konversi guna lahah -12. Jika dibandingkan dengan Provinsi Jawa Timur yang merupakan provinsi dengan tingkat produktivitas tertinggi. dan. Daftar Pustaka Biro Bina Produksi Sekretariat Daerah Jawa Barat. Rome.38% V. kondisi kualitas/keamanan pangan) maka dapat disimpulkan bahwa Provinsi Jawa Barat tahan pangan.  Pemberian disinsentif bagi orang atau perusahaan yang akan melakukan konversi lahan pertanian.76 -12. 2009 Tahun % Produksi Padi -1.76% Barat -1. Provinsi Jawa Barat masih berada di bawahnya.83% 1997 2001 -0. State of the World's Forests 1997.id> FAO.1 5. Tingkat Konsumsi Energi. Produksi Tanaman Padi Provinsi Jawa Barat dan Jawa Timur Tahun 2008. BPS.57 10 5 0 -5 -10 -15 -20 -25 Grafik Konversi Guna Lahan dengan Produksi Padi di Jawa 5. Di buka tanggal 24 Juni 2009 <www.07% -21.

C: Food Consumption and Nutrition Division. Washington. Cheltenham : Edward Elgar. Indicators. D. Food security In Human Security and the Environment: International Comparisons (E.Conference of Food and Agriculture. Muchtadi.usaid. I Dewa Nyoman. Definition of Food Security. Kebijakan Pangan Indonesia : Tantangan Dan Peluang Eksternal.org/?id=16367> . Joint Sponsored by United Nation Childrens Fund and International Fund for Agricultural Development. 2001. The Concept of Food and Nutrition Security.Redclift. C. Maxwell. Policy Determination. Hotel Millenium Jakarta tanggal 28 Oktober 2008 Rome Declaration on World Food Security 1996 .IFPRI. 2008. Makalah disampaikan pada 15th INFID Conference. Sekretariat Daerah Provinsi Jawa Barat. Analisis Ketersediaan Pangan Provinsi Jawa Barat. Household Food Security: Concepts.pdf> ______ . 2000. 1992. L. Undang-Undang Dasar Tahun 1945 pasal 27 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 1996 tentang pangan USAID. Jakarta: EGC.htm> Sage. And Ir. Technical Guides for Operationalizing Household Food Security in Development Projects. 1943. 1992. IFPRI. Measurement A Technical Review. 2002. 1999. International Training Course Food and Nutrition Security Assessment Instruments and Intervention Strategies. 2008.worldfooddayusa.go. eds). Di buka tanggal 14 Juni 2009 tahun 1943 < http://www. A. Frankenbeyer.bappenas. Di buka tanggal 17 Juni 2009 <www. Penilaian Status Gizi. di buka tanggal 14 Juni 2009 <http://els. Tien R.Page & M. Weingärtner.id/upload/other/World Food Summit. Supariasa.gov/policy/ads/200/pd19.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful