Anda di halaman 1dari 25

Jenis-jenis gaya bahasa

Poerwadarminta dalam Widyamartaya (1995: 53) menerangkan bahwa gaya umum itu dapat ditambah , diperbesar dengan salah satu cara. Tiap cara atau proses ini akan menghasilkan sejemlah corak dengan nama-nama khususnya. Panorama selayang pandang tentang gaya bahasa dapat dirinci dengan memperbesar daya tenaganya terhadap gaya umum dengan cara-cara mengadakan: 1. Perbandingan; 2. Pertentangan; 3. Pertukaran; 4. Perulangan; 5. Perurutan. Gaya bahasa ialah cara penyair menggunakan bahsa untuk menimbulkan kesan-kesan tertentu. Gaya digunakan untuk melahirkan keindahan (http://esastra.com/kurusu/kepenyairan.htm#Modul 11). Hal itu terjadi karena dalam karya sastralah ia paling sering dijumpai, sebagai wujud eksplorasi dan kreativitas sastrawan-sastrawati dalam berekspresi. Gaya bahasa adalah cara mengungkapkan pikiranmelalui bahasa secara khas yang memperlihatkan jiwa dan kepribadian penulis/pemakai bahasa (Gorys Keraf, 2002: 113). Suatu penciptaan puisi, juga bentuk-bentuk tulisan yang lain, misalnya cerpen, novel, naskah drama (Wacana sastra) sangat membutuhkan penguasaan gaya bahasa, agar puisi yang dihasilkan nanti lebih menarik, indah, dan berkualitas. Pembicaraan tentang gaya bahasa sangatlah luas. Gorys Keraf (2002: xi-xii) membagi persoalan gaya bahasa, yakni: Pengertian, sendi, jenis-jenis gaya bahasa 1. Gaya bahasa berdasarkan pilihan kata a. Gaya bahasa resmi b. Gaya bahasa tak resmi c. Gaya bahasa percakapan 2. Gaya bahasa berdasarkan nada: a. Gaya sederhana b. Gaya mulia dan bertenaga c. Gaya menengah. 2. Gaya bahasa berdarkan struktur kalimat a. Klimaks

b. Antiklimaks c. Paralelisme d. Antitesis Repetisi

3. Gaya bahasa berdasarkan langsung tidaknya makna a. Gaya bahasa retorika terdiri dari: 1) Aliterasi 2) Asonansi 3) Anastrof 4) Apofasis/preterisio 5) Apostrof 6) Asidenton 7) Polisindenton 8.) Kiasmus 9) Elipsis 10) Eufimismus 11) Litotes 12) Histeron proteron 13) Pleonasme dan tautologi 14) Perifrasis 15) Prolepsis/antisipasi 16) Erotesis/pertanyaan retoris

17) Silepsis dan Zeugma 18) Koreksio Epanotesis 19) Hiperbol 20) Paradoks 21) Oksimoton b. Gaya bahasa kiasan 1. Persamaan/simile 2. Metafora 3. Alegori, Parabel dan Fabel 4. Personifikasi 5. Alusi 6. Eponim 7. Epitet 8. Sinekdoke 9. Metonimia 10. Antomonasia 11. Hipalase 12. Ironi 13. Satire 14. Iniendo 15. Antifrasis 16. Paronomasia Uraian mengenai pengertian bermacam-macam gaya bahasa tersebut dan contoh-contohnya bisa dibac dalam buku Diksi dan Gaya Bahasa karya Gorys keraf, juga karya Henry Guntur

Tarigan, Rahmat Joko Pradopo dan dijumpai di segenap buku yang membicarakan gaya bahsa untuk SMP dan SMA/SMK. Pengertian Masing-masing Jenis Gaya Bahasa dan Contoh Pemakaiannya Di bawah ini disampaikan pengertian dari jenis-jenis gaya bahasa di atas yang dirumuskan secara bebas oleh peneliti berdasarkan pemahaman yang penulis peroleh dari berbagai sumber: 1. Klimaks, yang disebut juga gradasi, adalah gaya bahsa berupa ekspresi dan pernyataan dalam rincian yang secara periodek makn lama makin meningkat, baik kuantitas, kualitas, intensitas, nilainya. Contoh: Idealnya setiap anak Indonesia pernah menempuh pendidikan formal di TK, SD, SMP, SMA/SMK, syukur S2, S3 sampai gelar Doktor dan kalau mengajar di Perguruan Tinggi bergelar Profesor/Guru Besar pula. b. Dalam apresiasi sastra, mula-mula kita hanya membaca selayang pandang puisi yang akan kita apresiasi, lalu kita membaca berulang-ulang sampai paham maksudnya, merasakan keindahannya, terus mengkajidalami, bisa membawakannya penuh penghayatan, sampai kita mampu menghargai keberadaan dan mencintainnya, syukur juga terpangil untuk kreatif menciptakan bentuk-bentuk sastra. 2. Antiklimaks merupakan antonim dari klimaks adalah gaya bahasa berupa kalimat terstruktur dan isinya mengalami penurunan kualitas, kuantitas intensitas. Gaya bahasa ini di mulai dari puncak makin lama makin ke bawah. Contoh: Bagi milyader bakhlil, jangankan menyumbang jutaan rupiah, seratus ribu, lima puluh ribu, sepuluh ribu, seribu rupiah pun ia enggan, masih dihitung-hitung. b. Jauh sebelum memperoleh mendali emas dalam Olimpiade Athena 2004 cabang bulutangkis, Taufik Hidayat niscaya telah menjadi juara nasional dan sebelumnya juga tingkat propinsi, kabupaten, malahan pula tingkat kecamatan, desa, RT/RW. 3. Paralelisme adalah gaya bahasa berupa penyejajaran antara frase-frase yang menduduki fungsi yang sama. Contoh: Kriminalitas dan kemaksiatan itu akan menyengsarakan banyakmorang, membuat menderita kurban-kurbannya. 4. Antitesis adalah gaya bahsa yang menghadirkasn kelompok-kelompok kata yang berlawanan maksudnya.

Contoh: Kau yang berjani kau pula yang mengingkari Kau yang mulai kau pula yang mangakhiri Di timur matahari terbit dan di barat ia tengggelam 5. Repetisi adalah gaya bahasa dengan jalan mengulanmg pengunaan kata atau kelompok kata tertentu. Contoh:

Seumpama eidelwis akulah cinta abadi yang tidak akan pernah layu Seumpama merpati akulah kesetiaan yang tidak pernah ingkar janji Seumpama embun akulah kesejukan yang membasuh hati yang lara Seumpama samudra akulah kesabaran yang menampung keluh kesah segala muara

6. Aliterasi adalah gaya bahasa berupa perulangan bunyi konsonan. Contoh:


Widyawan Wisik Wahyu Wastika suka menekuni spiritualitas. Sahabatku bernama Fajar Firman Firdaus Filosofi. Jadilah jantan jujur jenius! Nama mahasiswi itu Cici Cantika Cangggih Cendikiawati

7. Asonansi adalah gaya bahasa berupa perulangan bunyi vokal Contoh: Gita Cinta dari SMA, lagu rindu dari SMU Kura-kura dalam perahu, pura-pura tidak tahu 8. Anastrof adalah gaya bahasa berupa pembalikan susunan kalimat dari pola yang lazim, biasanya dari subjek-predikat jadi predikat-subjek Contoh: Terlalu kecil anak itu untuk bekerja seberat itu Berbahagialah wisudawan-wisudawati dalam perayaan yang diadakan di kampus mereka. 9. Apofasis/preterisio adalah gaya bahasa yang dipakai oleh pengarang untuk menyampaikan sesuatu yang megandung unsur kontradiksi, kelihatannya menolak tapi sebenarnya menerima,

kelihatannya memuji tapi sebenarnya mngejek, nampaknya membenarkan tapi sebenarnya menyalahkan, kelihatannya merahasiakan tapi sebenarnya membeberkan. Contoh : - Saya tidak ingin membongkar kesalahan masa silammu bahwa dulu kamu pernah melakukan pemalsuan ijazah dan menjadi plagiator. - Jangan repotrepot membawa sesuatu ke sini, tapi tidak baik bukan kalau orang menolak rejeki? 10. Apostrof adalah gaya bahsa berupa pengalihan pembicaraan kepada benda atau sesuatu yang tidak bisa berbicara kepada kita terutama kepada tokoh yang tidak hadir atau sudah tiada, dengan tujuan lebih menarik atau memberi nuansa lain. Contoh: - Wahai Nabi Suci yang kami cintai dan hormati, malam ini kami berkumpul disini untuk melantunkan shalawat dan kasidah nan syahdu untukmu, terimalah sayang, kekasihku. - Hai burung-burung betapa merdu nyanyianmu, wahai bunga-bunga betapa indah dan semerbak aromamu, wahai embun pagi, betapa jernih berkilau kamu laksana butiran-butiran intan tertimpa hangat sinar surya. 11. Asidenton adalah gaya bahsa dengan jalan menghadirkan kata/frasa yang berfungsi sama, berkedudukan sejajar tanpa menggunakan kata penghubung hanya menggunakan koma. Contoh: Untuk menjadi insan kamil, kita harus punya imtak yang prima, iptek yang andal, akhlak yang solid, amal salih yang semarak produktif banyak berkarya, kreatif penuh cipta. 12. Polisidenton adalah gaya bahasa berupa penyampaian sesuatu dengan menggunakan kata sambung secara berulang. Contoh: - Kepada bulan, kepada bintang-gemintang, kepada langit biru, kepada malam yang syahdu, aku bertanya kepadamu adakah kau lihat hamba-hamba Allah yang beriman bangun tengah malam untuk berdzikir, untuk berdoa, untuk bersujud? - Kita harus giat menuntut ilmu dari berbagai sumber agar cerdas cendikia agar berwawasan luas agar bisa bnyak berkiprah agar tidak ketinggalan zaman. 13. Kiasmus adalah gaya bahasa yang terdiri dari dua klausa yang berimabang namun dipertentangkan satu sama lain.

Contoh: Sebenarnya mereka orang-orang yang sabar, namun akhirnya berontak terhadap orang-orang yang terus mengencetnya. 14. Elipsis adaklah gaya bahasa berupa penyusunan kalimat yang mengandung kata-kata yang sengaja dihilangkan yang sebenarnya bisa diisi oleh pembaca/penyimak. Contoh: - Pembangunan mencakup dua hal yakni pembangunan material dan .,pembangunan lahiriah dan .., pembangunan individual dan . - Apa saja yang ada di dunia serta berpasangan ada siang ada , ada baik ada.., ada terang ada , ada pertemuan ada .., roda berputar kadang di atas kadang 15. Eufemisme adalah gaya bahasa berupa pengungkapan yang sifatnya menghaluskan supaya tidak menyinggung perasaan, tidak terasa tajam. Contoh: -Karena melakukan sesuatu yang kurang pas, Pak Bandot akhirnya dikenai pension dini. (Terlibat skandal, korupsi, dipecat, di PHK) -Anak itu tinggal kelas karena agak terlambat dalam mengikuti pelajaran. (Bodoh) 16. Litotes adalah gaya bahasa yang sifatnya merendahkan diri, tidak sesuai dengan kenyataan yang sesungguhnya namun tidak punya maksud agar orang percaya dengan hal itu, pembicara/penyimak tahu apa yang sebenarnya ia maksudkan. Contoh: -Kalau Anda tidak keberatan, mampirlah ke gubug kami di Jalan Pemuda No. 100 Surakarta. - Yogya-Solo terpaksa kita tempuh 2 jam karena kita hanya naik gerobak. 17. Histeron Proteron adalah gaya bahasa berupa penyusunan kalimat yang mengandung pembalikan dari logika yang wajar. Contoh: Silakan membaca terus sampai jadi kutu buku agar kebodohanmu tidak berkurang, kepandaianmu tidak bertambah.

-Pegang teguhlah sifat jujur maka kamu bakal hancur, bertindaklah adil maka justru kamu akan terpencil. 18. Tautologi adalah sarana retorika yang menyatakan sesuatu secara berulang dengan kata-kata yang maknanya sama supaya diperoleh pengertian yang lebih mendalam, misalnya: Tak ada badai tak ada topan, tiba-tiba saja ia marah. So pasti, buku-buku bermutu banyak memberikan manfaat bagi pembacanya. 19. Pleonasme adalah sarana retorika semacam tautologi dengan kata kedua yang sudah dijelaskan oleh kata pertama. Contoh: Silakan maju ke depan, setelah itu naik ke atas. Hujan yang basah menyuburkan tanah-tanah rekah 20. Perifrasis adalah gaya bahasa sejenis pleonasme yang merupakan keterangan berulang namun proporsinya lebih banyak daripada yang sebenarnya. Contoh: Dengan sungguh terpaksa karena tak berdaya, tidak punya kekuatan apa-apa tidak bisa berbuat dan melakukan sesuatu saya hanya diam saja ketika kawanan perampokitu menggasak dan menguras ludes barang-barang berharga di rumah sebelah. 21. Prolepsis/antisipasi adalah gaya bahasa berupa kalimat yang diawali dengan kata-kata yang sebenarnya baru ada setelah suatu peristiwa terjadi. Contoh: -Keluarga yang ditimpa kemalangan itu akhirnya tercerai berai dan tewas entah di mana jenazah tersapu gelombang Tsunami hanyut bersama rumah mereka. -Pada tahun 571 Masehi di Mekah, lahirlah seorang Nabi Besar bernama Muhammad S.A.W. 22. Erotesis/pertanyaan retoris adalah gaya bahasa berupa pengajuan pertanyaan untuk memperoleh efek mengulang tanpa menghendaki jawaban, karena jawabannya sudah tersirat di sana. Gaya bahasa ini acap digunakan oleh para orator. Contoh: Biaya pendidikan di Perguruan Tinggi sangat mahal. Bisakah rakyat kecil menyekolahkan anaknya sampai ke sana? Siapa yang bisa berkuliah kalau bukan kaum berada?

23. Silepsis dan Zeugma adalah gaya bahasa berupa konstruksi rapatan yang diikuti dengan katakata yang tidak sejenis atau tidak relevan atau hanya tepat untuk salah satunya. Contoh: Saya menyukai musik dan ketulusan hati. Bacalah buku yang bermutu dan nyanyian sentimental yang mengalun itu. 24. Koreksio/Epanotesis adalah gaya bahasa berupa pernyataan yang terkesan meyakinkan, namun disadari mengandung kesalahan. Atas kesalahan itu lalu dilakukan pembetulan. Contoh: Sudah setengah abad kita merdeka, eh bukan, 60 tahun malah, nah selama itu, kemajuan apasajakah yang sudah kita capai? Dalam dunia sastra, kita mengenal Pelopor Angkatan 45 yaitu Rendra, ah bukan, bukan Rendra, yang benar adalah Chairil Anwar. 25. Hiperbola adalah gaya bahasa berupa pernyataan yang sengaja dibesar-besarkan dan dibuat berlebihan. Contoh: -Saya ucapkan beribu-rbu terima kasih atas perkenan Bapak dan Ibu menghadiri undangan panitia. - Bertemu kamu sayang, wahai sahabatku yang elok dan indah, syahdu, hati berbunga-bunga sejuta rasanya terbang melayang di angkasa bahagia. 26. Paradoks adalah gaya bahasa berupa pernyataan yang mengandung kontras/pertentangan, namun ternyata mengandung kebenaran. Contoh: -Betapa banyak orang yang dalam kesendiriannya merasa kesepian di kota sehiruk-pikuk Jakarta. -Sebagai dosen, terus terang, saya juga banyak belajar dari mahasiswa-mahasiswi saya. 27. Oksimoran adalah gaya bahasa semacam paradoks yang lebih singkat dan padat, mengandung kata-kata yang berlawanan arti alam frase yang sama. Contoh: -Sang pemberang sangat khusuk menyembah Dewa Kemarahan

-Dia milyander miskin karena sangat pelitnya -Penyair Emha pernah dijuluki Kyai Mbeling. 28. Persamaan/simile adalah bahasa kiasan berupa pernyataan satu hal dengan hal lain dengan menggunakan kata-kata pembanding. Contoh: -Nyalakanlah semangat bagai dian nan tak kunjung padam -Bersabarlah seperti samudra yang mampu menampug keluh kesah segala muara. 29. Metafora adalah bahasa kiasan sejenis perbandingan namun todak menggunakan kata pembanding. Di sini perbandingan dilakukan secara langsung tanpa kata sejenis bagaikan, ibarat, laksana, dan semacamnya. Contoh: Kesabaran adalah bumi Kesadaran adalah matahari Keberanian menjelma kata-kata Dan perjuangan adalah pelaksana kata-kata(sebuah bait dalam puisi Rendra) 30. Alegori adalah kata kiasan berbentuk lukisan/cerita kiasan, merupakan metafora yang dikembangkan. Contoh: Sanjak Menuju Ke Laut karya Sutan Takdir Alisyahbana. Biasanya bersifat simbolis 31. Parabel (Parabola) adalah gaya bahasa berupa cerita-cerita fiktif dengan tokoh manusia dengan tema moral yang kental. Contoh: Hikayat Kalilah dan Daminah 32. Fabel adalah metafora berbentuk cerita dengan tokoh-tokoh binatang yang esensinya menggambarkan perilaku dan karakter manusia. Contoh:

Dongeng Kancil dengan Buaya, Kancil dengan Harimau dan lain-lain. 33. Personifikasi/Penginsanan adalah gaya bahasa yang mempersamakan benda-benda dengan manusia, punya sifat, kemampuan, pemikiran, perasaan, seperti yang dimiliki dan dialami oleh manusia. Contoh: Angin bercakap-cakap sama daun-daun, bunga-bunga, kabut dan titik embun. -Indonesia menangis, duka nestapa Aceh memeluk erat sanubari bangsaku. 34. Alusio adalah gaya bahasa yang menampilkan adanya persamaan dari sesuatu yang dilukiskan yang sebagai referen sudah dikenal pembaca. Contoh: Bandung dikenal sebagai Paris Jawa. Bung Karno Bung Karno kecil menunjukkan kebolehannya dalam lomba pidato membawakan fragmen Di Bawah bendera Revolusi. 35. Eponim adalah gaya bahasa berupa penyebutan nama-nama tertentu untuk menyatakan suatu sifat atau keberadaan. Contoh: -Perkenalkan, inilah Zidanenya kesebelasan kita. \Silakan Aa Gym Ketua Rois kita menyampaikan kultum! 36. Epitet adalah gaya bahasa berupa frasa reskriptif untuk menggantikan nama seseorang, binatang, atau suatu benda. Contoh: Raja siang bertahta di angkasa raya (=Matahari) Sang raja sehari mendapatkan ucapan selamat dari segenap rekan kerjanya. (=pengantin) -Penyair si Burung Merak masih kreatif tampil membaca puisi-puisinya pada usia menjelang 70 tahun. (=Rendra) - Di kta ukir pembuatan mebel menjadi home industri penduduk kota itu. (=Jepara)

37. Sinekdoke adalah bahasa kiasan dengan cara menyebutkan sesuatu bisa sebagian untuk menyatakan keseluruhan (pars pro toto), bisa pula sebaliknya keseluruhan digunakan untuk menyebut yang sebagian (totum pro parte) Contoh totum pro parte: Dalam copa Amerika 2004, Brazil mengalahkan Argentina. Karya-karya menjadi cindera mata bagi dunia Contoh pars pro toto: Korban gelombang Tsunami 26 Desember 2004 mencapai 100 jiwa lebih. Dalam Idul Adha tahun ini, Masjid Al-Amin berkurban 6 ekor sapi 10 ekor kambing. 38. Metonemia adalah bahasa kiasan dalam bentuk penggantian nama atas sesuatu. Contoh: Kita harus bersyukur tinggal di negeri Zamrud Khatulistiwa yang elok permai ini Panda banyak terdapat di negeri Tirai Bambu. 39. Antonomasia adalah gaya bahasa berupa penyebutangelar resmi dan semacamnyauntuk menggantikan nama diri. Contoh: Megawati Soekarno Putrid an Meutia Hatta adalah puteri-puteri Sang Proklamator yang aktif di budang pemerintahan. Dalam penciptaan lagu dan pentas-pentasnya, Raja Dangdut tidak pernah lupa menyisipkan pesan dakwah 40. Hipalase adalah gaya bahasa yang mengandung pemakaian karta yang menerangkan kata yang bukan sebaharsnya. Contoh: Di hari yang berbahagia ini jangan lupamensyukuri segenap nikmat karuna Allah. Sudah lama mesjid Agung Baitur Rahman Banda Aceh menungu-nunggu untaian dzikir dari K.H. Muhammad Arifin Ilham.

41. Ironi/sindiran adalah gaya bahasa berupa penyampaian kata-kata denga berbeda dengan maksud dengan sesungguhnya, tapi pembaca/pendengar, di harapkan memahami maksud penyampaian itu. contoh: Kuakui, kutu buku yang satu ini memang berpengetahuan luas sekali. 42. Sinisme hakikatnya sama dengan ironi namun biasanya lebih keras. Contoh: Tanpa belajar pun, kalau anak jenius seperti kamu tentu bisa mengerjakan soal-soal ujian dengan hasil memuaskan. 43. Sarkasme merupakan gaya bahasa berupa pengucapan-pengucapan yang kasar, caci maki sebagai ekspresi, amarah yang membuat yang terkena sakit hati. Contoh: Dasar otaku dang! Mana mungkinbisa kau kerjakan soal itu! 44. Satire adalah gaya bahasa sejenis ironi yang mengandung kritik atas kelemahan manusia agar terjadi kebaikan . tidak jarang satire muncul dalam bentuk puisi yang mengandung kegetiran tapi ada kesadaran untuk berbenah diri. Contoh: Aku lalai di pagi hari Beta lengah di masa muda Kini hidup meracun hati Miskin ilmu miskin harta (Bait II puisi Menyesal karya M. Ali Hasymi) 45. inuedo adalah gaya bahasa berupa sindiran dengan cara mengecilkan kenyataan yang sesungguhnya, mengandung kritik tidak langsung. Contoh: Hanya dengan sedikit melakuan KKN, banyak pejabat menjadi milyander.

Mobil yang dikemudikannya masuk jurang karena sebelum berangkat sopir itu menegak segelas miras sampai sedikit mabuk. 46. Antifrasis adalah gaya bahasa sejenis iron dengan menggunakan kata yang maknanya berlawanan dengan realita yang ada. Contoh: Dia dikenal jenius dikelas ini (padahal bodoh) Alangkah abar dan penyayangnya majikan itu terhadap pembantu-pembantunya yang selalu berganti-ganti karena tidak tahan. (pemarah dan pelit) 47. Paronomasia adalah gaya bahasa dengan menggunakan permainan kata-kata yang artinya sangat berlainan. Contoh: Ada gempa dahsyat, suasana genting. Genting-genting rumah pun berjatuhan pecah berderai. Anggota dewan yang pulang balik studi banding ke luar negeri itu kini kaya mendadak. Kaya keralah mereka!

Majas Perbandingan
Majas Perbandingan adalah Kata-kata berkias yang menyatakan perbandingan untuk meningkatkan kesan dan pengaruhnya terhadap pendengar atau pembaca. Ditinjau dari cara pengambilan perbandingannya, Majas Perbandingan dibagi menjadi: 1. Personifikasi Majas Personifikasi adalah Perbandingan dengan menganggap benda mati sebagai penjelmaan manusia yang dapat berbuat seperti manusia. Contoh: - Peluit wasit menjerit panjang menandai akhir dari pertandingan tersebut. 2. Perumpamaan Majas Perumpamaan adalah Perbandingan dengan cara mengambil perumpamaan benda yang lain. Untuk menghubungkan benda dengan perumpamaannya, digunakan kata-kata: seperti, sebagai, laksana, bak. Contoh: - Laksana kayu dimakan api. - Seperti gadis pingitan - Bak pinang dibelah dua - Bagai kerbau dicocok hidungnya 3. Metafora Metafora adalah Perbandingan yang berupa kata-kata atau kelompok kata yang merupakan pelukisan dan bukan arti sebenarnya berdasarkan persamaan atau perbandingannya. Contoh: - Matanya meredup menahan kantuk (Matanya disamakan dengan Lampu) - Dewi malam tampak enggan keluar dari peraduannya (Dewi malam disamakan dengan Bulan) - Wajahnya tersengat matahari (Wajahnya disamakan dengan Bunga) 4. Alegori

Alegori adalah Perbandingan berupa cerita atau puisi yang digunakan sebagai lambing. Contoh: - Dongeng gajah dengan semut -> yang kuat belum tentu menang - Cerita kancil dengan buaya -> orang yang pandai dapat mengalahkan orang yang bodoh - Cerita Malin Kundang -> manusia tidak boleh durhaka kepada orang tuanya

Majas Pertentangan
Majas Pertentangan adalah Kata-kata berkias yang menyatakan pertentangan dengan yang dimaksudkan sebenarnya oleh pembicara atau penulis dengan maksud untuk memperhebat atau meningkatkan kesan dan pengaruhnya kepada pembaca atau pendengar. Yang termasuk Majas Pertentangan: 1. Gaya Bahasa Hyper Bola Hyper Bola adalah Lukisan suatu peristiwa atau keadaan sebenarnya yang dilebih-lebihkan. Contoh: - Anak yang berjalan itu terlihat kurus kering - Suara penonton bergemuruh membelah angkasa - Orang tua itu mabuk kemenangan 2. Gaya Bahasa Litotes Litotes adalah Kiasan yang mempergunakan ungkapan merendahkan diri atau tidak mau menyebutkan yang sebenarnya. Contoh: - Kalau bapak pergi ke Solo, Sudilah mampir ke gubuk kami - Maukah engkau menerima pemberian sekedarnya ini? - Apa yang kami lakukan hanya setitik embun di samudra. 3. Gaya Bahasa Ironi

Ironi adalah Kiasan dengan menggunakan kata yang mengandung arti sebaiknya atau bertentangan dengan yang dimaksud untuk mengejek atau mencemooh. Contoh: - Ah, benar-benar tepat waktu engkau! Aku sampai bosan menunggumu disini. - Pandai sekali anak itu, soal yang segitu mudah saja tidak bisa menjawab. - Pabrik gula jauh dari sini yaa? Manis sekali teh ini. 4. Gaya Bahasa Paradoks Paradoks adalah Ungkapan berlawanan atau kebalikan yang sebenarnya guna tidak menyakiti hati. Contoh: - Dia masih saja kesepian di tempat yang seramai ini. - Bibi selalu tersenyum walaupun hatinya terluka. - Dalam perkara korupsi itu, ia jatuh ke atas hingga ia bebas dari hukuman.

Majas Pertautan
Majas Pertautan adalah Kata-kata berkias yang bertautan (berasosiasi) dengan gagasan, ingatan atau kegiatan panca indra pembicara atau penulisnya. Terdapat bermacam-macam asosiasi sehingga membentuk bermacam-macam Majas Pertautan. 1. Metominia atau Netonimia Metonimia atau Netonimia adalah Ungkapan yang menyatakan suatu pegertian dengan kata-kata yang sebenarnya dengan kata yang ditautkan atau berasosiasi dengan kata tersebut. Contoh: - Si kaos merah berusaha mencetak gol. (orang yang memakai kaos merah) - Atlet andalan kita mendapat Perak. (juara ke-2) - Si kulit bundar ditendang sampai ujung lapangan. (Bola)

2. Sinekdok Sinekdok adalah Majas Pertautan yang menyatakan pengertian yang bersifat meluas atau menyempit. Sinekdok dibagi menjadi 2: a). Sinekdok Pars Prototo Majas Pertautan yang mengucapkan sebagian tetapi mencakup keseluruhan. Contoh: - Sudah 2 hari ia tidak menunjukkan batang hidungnya.(Dirinya) - Setiap kepala dikenakan pajak. (Keluarga) b). Sinekdok Totem Proparte Majas Pertautan yang menyebutkan keseluruhan tetapi hanya sebagian yang dimaksud Contoh: - Indonesia kembali mempertahankan Piala Thomas. (Tim Bulu Tangkis) - Jateng akan mempertahankan peringkatnya pada MTQ tingkat Nasional. (Tim MTQ Jateng) 3. Alusio Alusio adalah Majas Pertautan yang berupa penunjukkan secara tidak langsung atau sindiran tentrang suatu peristiwa, hal, tokoh berdasarkan ucapan umum (ungkapan, pantun, peribahasa, dll) yang adakalanya tidak diselesaikan. Contoh: - Kalau tidak tahu, jangan diam. Malu bertanya - Biasanya kalau sudah bicara, Tong kosong..

Home Beranda SmanjaTube Galeri Foto Download Majalah Misi Anggota Siswa Baru

MAJAS
Kamis, 27 Agustus 2009 08:09 | Penulis: Administrator1 | Artikel
Majas (figurative language) adalah bahasa kias, bahasa yang dipergunakan untuk menciptakan efek tertentu. Majas merupakan bentuk retoris, yang penggunaannya antara lain untuk menimbulkan kesan imajinatif bagi penyimak atau pembacanya. Secara garis besar, majas-majas tersebut terbagi dalam majas perbandingan, pertentangan, pertautan, dan perulangan Majas Perbandingan a. Asosiasi (simile) adalah perbandingan dua hal yang pada hakikatnya berbeda, tetapi sengaja dianggap sama. Majas ini ditandai oleh penggunaan kata bagai, bagaikan, seumpama, seperti. Contoh : Semangatnya keras bagaikan baja. Wajahnya bagai bulan purnama b. Metafora adalah majas perbandingan yang diungkapkan secara singkat dan padat. Contoh : dia dianggap anak emas majikannya. Perpustakaan adalah gudang ilmu. c. Personifikasi adalah majas yang membandingkan benda-benda tidak bernyawa seolah-olah memiliki sifat seperti manusia. Contoh : Badai mengamuk dan merobohkan rumah penduduk. Daun kelapa melambai-lambai di tepi pantai.

d. Alegori adalah cerita kiasan atau lukisan yang mengiaskan hal lain atau kejadian lain. Contoh : Puisi Diponegoro karya Sanusi Pane. Majas Pertentangan a. hiperbola adalah majas yang mengandung pernyataan yang berlebih-lebihan dengan maksud untuk memperhebat, meningkatkan kesan dan daya pengaruh. Contoh : Saya terkejut setengah mati mendengar perkataannya. Tubuhnya kurus kering setelah ditinggalkan oleh ayahnya. b. Litotes adalah majas yang ditujukan untuk mrngurangi atau mengecil-ngecilkan kenyataan sebenarnya. Tujuannya antara lain untuk merendahkan diri. Contoh : Kami berharap Anda menerima pemberian yang tidak berharga ini. Gajiku tak seberapa, hanya cukup untuk makan anak dan istri. c. Ironi adalah majas yang menyatakan makna yang bertentangan dengan maksud untuk menyindir atau memperolok-olok. Contoh : Bagus sekali rapormu, Andi, banyak angka merahnya. Rajin sekali kamu, lima hari kamu tidak masuk sekolah. d. Sinisme adalah majas yang menyatakan sindiran secara langsung dan agak kasar. Contoh : Perkataanmu tadi sangan menyebalkan. Kata-kat itu tidak pantas disampaikan orang terpelajar seperti kamu! Bisa-bisa aku jadi gila melihat kelakuanmu itu! e. Sarkasme adalah sindiran kasar berupa ungkapan kasar yang dapat menyakitkan hati orang. Contoh : Tidurnya saja sehari-hari seperti babi. Kamu ini benar-benar goblok, bebal, otaku udang. Majas Pertautan a. Metonomia adalah majas yang memakai nama ciri atau nama hal yang ditautkan dengan nama orang, barang, atau hal lainnya sebagai penggantinya. Kita dapat menyebut penciptanya atau pembuatnya jika yang kita maksudkan adalah ciptaan atau buatannya. Bisa pula kita menyebut bahan dari barang yang dimaksud. Contoh : Ayah baru saja membeli zebra, padahal saya ingin Kijang. Coba buka H.B.Jassin halaman 23..

b. Sinekdok Pars Pro Toto adalah majas yang menyebutkan nama bagian sebagai pengganti nama keseluruhannya. Contoh : Setiap kepala dikenakan biaya. Dia membeli dua ekor ayam c. Sinekdok Totem Pro Parte adalah menyebutkan keseluruhan untuk pengganti sebagian saja. Contoh : Semoga Indonesia menjadi juara Thomas Cup Desa itu diserang muntaber. d. Alusio adalah majas yang menunjuk secara tidak langsung pada sustutokoh atau peristiwa yang sudah diketahui bersama. Contoh : Banyak korban berjatuhan akibat kekejaman Nazi Apakah setiap guru harus bernasib seperti Umar Bakri? e. Elipsis adalah majas yang di dalamnya terdapat penghilangan kata atau bagian kalimat. Contoh : Dia dan ibunya ke Tasikmalaya (penghilangan predikat pergi) Lari! (penghilangan subjek kamu) f. Inversi adalah majas yang dinyatakan oleh pengubahan susunan kalimat. Contoh : Paman saya wartawan = Wartawan, paman saya. Dia datang = Datang dia Majas Penegasan/Perulangan a. Pleonasme adalah majas yang menggunakan kata-kata secara berlebihan dengan maksud untuk menegaskan arti suatu kata. Contoh : Mereka turun ke bawah untuk melihat keadaan barang-barangnya yang jatuh. Dukun itu menengadah ke atas sambil menengadahkan tangannya. Aku menyaksikan dengan mata kepalaku sendiri. b. Klimaks adalah majas yang menyatakan beberapa hal berturut-turut yang makin lama makin menghebat. Contoh : Semua jenis kendaraan, mulai dari sepeda, motor, sampai mobil bejejer di halaman. Baik itu RT, Kepala Desa, Camat, Bupati, Gubernur, maupun Presiden memiliki kedudukan sama di mata Tuhan.

c. Antiklimaks adalah majas yang menyatakan beberapa hal berturut-turut yang makin lama makin menurun (melemah) Contoh : Bapak Kepala Sekolah, Para guru, dan murid-murid, sudah hadir di lapangan upacara. Gedung-gedung, rumah-rumah, dan gubuk-gubuk, semuanya mengibarkan Sang Saka Merah Putih. d. Retoris adalah majas yang berupa kalimat Tanya yang jawabannya itu sudah diketahui oleh penanya. Tujuannya untuk memberikan penegasan pada masalah yang diuraikannya, untuk meyakinkan, ataupun sebagai sindiran. Contoh : Siapa yang tidah ingin hidup bahagia? Apa ini hasil dari pekerjaanmu selama bertahun-tahun? e. Aliterasi adalah majas yang memanfaatkan kata-kata yang bunyi awalnya sama. Contoh : Dara damba daku, datang dari danau. Inilah indahnya impian, insan ingat ingkar. f. Antanaklasis adalah majas yang mengandung ulangan kata yang sama, dengan makna yang berbeda. Contoh : Karena buah penanya yang controversial, dia menjadi buah bibir masyarakat. Kita harus saling menggantungkan diri satu sama lain. Jika tidak, kita telah menggantung diri. g. Repetisi adalah majas perulangan kata-kata sebagai penegasan dalam kalimat yang berbeda. Contoh : Terlalu banyak penderitaan menimpa dirinya. Terlalu banyak masalah yang dihadapinya. Terlalu banyak. h. Tautologi adalah majas perulangan kata-kata sebagai penegasan dalam sebuah kalimat. Contoh : Selamat datang pahlawanku, selamat datang pujaanku, selamat datang bunga bangsaku. i. Paralelisme adalah majas perulangan sebagaimana halnya repetisi, hanya disusun dalam baris yang berbeda. Biasanya terdapat dalam puisi. Contoh : Sunyi itu duka Sunyi itu kudus Sunyi itu lupa Sunyi itu mampus j. Kiasmus adalah majas yang berisi perulangan dan sekaligus menganduk inverse.

Contoh : Yang kaya merasa dirinya miskin, sedangkan yang miskin merasa dirinya kaya. Dalam kehidupan ini banyak orang intar yang mengaku bodoh, dan orang bodoh banyak yang merada dirinya pintar. B. UNGKAPAN Ungkapan atau idiom, yaitu perkataan atau sekelompok kata yang khusus untuk menyatakan sesuatu maksud dalam arti kiasan. Contoh : Buah ratap = isi ratapan Buah baju = kancing Buah pena = karangan C. PERIBAHASA Adalah kalimat atau perkataan yang susunannya tetap dan biasanya mengiaskan maksud tertentu. Contoh : Menerima ayam di dalam telor = Memastikan sesuatu yang tidak mungkin Mencabik baju di dada = Menceritakan aib sendiri kepada orang lain Bau busuk tidak berbangkai = Fitnah yang tidak terbukti kebenarannya UJI LATIH MANDIRI 1. Cermatilah kutipan puisi berikut dengan seksama! Andai esok tak ada lagi mentari Arah langkah terhenti seketika Langit berubah warna kelabu Bunga-bunga mendadak layu Kalimat bermajas yang tepat untuk melengkapi bagian rumpang puisi tersebut adalah (UN 2006)

1. 2. 3. 4. 5.

Gerimis pun mulai reda lagi Udara dingin sekali Angin dan embun pagi berhenti menyapa Tanpa lentera akan gelap sekali Pembawa berita bercerita

2. Lonjakan harga lada yang menjadi tulang punggung Pulau Bangka benar-benar mampu menyelamatkan wilayah itu.

Ungkapan tulang punggung pada kalimat di atas bermakna . a. Sandaran b. Tumpuan c. Topangan d. Andalan e. Dukungan 3. Bacalah dialog berikut dengan seksama! Nita : Fik, kamu mengerti tidak akubat orang yang suka mengonsumsi narkoba? Ifik : Tahu, Kak. Kan sudah diajarkan dan dijelaskan panjang lebar olah dokter sekolah kami. Nita : Tetapi, mengapa kamu tidak melarang temanmu si Kiki. Ifik : Kak Nita saja yang memberitahukan karena kalau saya, tidak mau menurut. Nita : Ya, kamu jangan mencontoh dia ya. Kalau sudah terperangkap menyesal juga tidak ada gunanya. Ibarat peribahasa . Peribahasa yang tepat untuk melanjutkan dialog tersebut adalah . (UN 2006) a. Bergantung di akar lapuk d. Berumah di tepi pantai b. Nasi sudah menjadi bubur e. Besar kapal besar gelombang c. Menangguk di air keruh 4. Sumbanganku ini hanya merupakan setitik air dalam samudera yang luas. Pernyataan di atas menggunakan majas . (UN 2005) a. Personifikasi b. Paradoks c. Asosiasi d. Metafora e. Litotes 5. Majas metonomia terdapat dalam kalimat . a. Dia merasa kesepian di tengan-tengah keramaian pesta ini. b. Kenaikan harga-harga bahan bangunan terasa sampai mencekik leher. c. Indonesia berhasil merebut piala Thomas Cup untuk kedelapan kalinya. d. Kemarin ayah pergi ke Singapura naik garuda e. Perpustakaan adalah gudang ilmu yang tidak akan habis-habisnya. 6. Anak yang besar kepala itu tidak disukai teman-temannya. Ungkapan yang semakna dengan ungkapan yang digunakan dalam kalimat di atas adalah

1. Pak Arman menjadi stress karena ditinggal buah hatinya. 2. Hati-hati duduk dengan orang yang panjang tangan. 3. Orang tua itu senang sekali karena jantung hatinya berhasil.

4. Anak yang bermuka dua itu dibenci teman-temannya. 5. Orang kaya baru biasanya bersifat tinggi hati.
7. Kita nanti hanya makan angina saja. Makna ungkapan makan angina di atas adalah a. Berjalan-jalan untuk mencari angina segar d. Bergembira sambil menghirup udara bersih b. Duduk-duduk sekadar menghabiskan waktu e. Mengajak teman untuk bersenang-senang c. Diam tenang tidak menggangu orang lain