Anda di halaman 1dari 10

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Ventilasi adalah pergerakan udara masuk ke dan keluar dari ruang tertutup. Ventilasi udara adalah pergerakan udara di dalam rumah dan antara ruang dalam dengan ruang luar. Kontrol terhadap ventilasi udara pada desain rumah adalah hal yang penting agar rumah menjadi nyaman, dapat menghilangkan hawa panas dan membuat penghuni betah.

Memang ada cara mudah untuk membuat nyaman rumah daerah tropis. Penggunaan Air Conditioning atau kipas angin di langit-langit merupakan solusi tercepat dan termudah, tetapi merupakan jalan keluar yang membutuhkan biaya listrik dan perawatan bulanan, belum termasuk masalah lingkungan dan global warming.

Menurut Ir. Sukendro Sukendar, arsitek dari Nataneka Architects, ruangan yang terasa panas bisa disebabkan banyak hal. Kurangnya bukaan atau ventilasi adalah penyebab yang paling umum terjadi. Akibat jumlah ventilasi minim, maka tidak terjadi pertukaran udara dari dalam ke luar ruangan. Inilah yang menyebabkan suhu ruangan terasa panas.

Menurut Sukendro, agar pertukaran udara dalam ruangan berjalan baik, perlu dibuat ventilasi silang (cross ventilation). Paling tidak, ada dua buah jendela atau bukaan yang saling berhadapan dalam satu ruangan. Ventilasi silang memungkinkan udara mengalir dari dalam ke luar dan sebaliknya, tanpa harus mengendap terlebih dahulu di dalam ruangan.

Udara yang masuk dari satu jendela, akan langsung dialirkan keluar oleh jendela yang ada di hadapannya, dan berganti dengan udara baru, begitu seterusnya. Dengan demikian, tanpa AC pun ruangan tetap terasa sejuk.

Hal lain yang perlu diperhatikan adalah ukuran jendela atau bukaan, yang harus seimbang dengan ukuran ruangan. Ruangan berukuran besar sudah tentu membutuhkan bukaan yang besar pula.

Ventilasi yang baik dalamruangan harus memenuhi syarat-syarat, antara lain : o Luas lubang ventilasi tetap (permanen) minimum 5% dari luas lantai ruangan. Sedangkan luas lubang ventilasi insidentil (dapat dibuka dan ditutup) minimum 5% luas lantai. Jumlah keduanya menjadi 10% kali luas lantai ruangan. Ukuran luas ini diatur sedemikian rupa sehingga udara yang masuk tidak terlalu deras dan tidak terlalu sedikit. o Udara yang masuk harus udara bersih, tidak dicemari oleh asap dari sampah atau dari pabrik, knalpot, debu dll. o Aliran udara diusahakan cross ventilation dengan menempatkan lubang hawa berhadapan antara dua dinding ruangan.

Penggunaan ventilasi dengan luas yang tepat perlu diterapkan di setiap rumah termasuk di kamar kost Ibu Ningrun, karena selain ramah lingkungan juga dapat menghemat biaya listrik.

B. Masalah o o Berapakah luas ventilasi di kamar kost Ibu Ningrum? Apakah luas ventilasi yang ada sudah memenuhi luas minimal yang dianjurkan berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 829/MENKES/SK/VI/1999 Tentang Persyaratan Kesehatan Perumahan?

C. Tujuan o Untuk melakukan pengukuran luas ventilasi di kamar kost Ibu Ningrum o Membandingkan luas ventilasi yang ada dengan luas minimal yang dianjurkan berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 829/MENKES/SK/VI/1999 Tentang Persyaratan Kesehatan Perumahan

D. Metode Pada riset pengukuran luas ventilasi ini, metode yang digunakan adalah observasi yaitu melakukan pengamatan dan pengukuran secara langsung di lokasi yaitu kamar kost Ibu Ningrum.

BAB II HASIL
A. Gambaran Umum Lokasi

Kost Ibu Ningrum berada di Desa Karangmangu Rt. 06/01 Kecamatan Baturaden, Kabupaten Banyumas. Kost tersebut berada tepat dipinggir jalan raya baturaden. Jalan tersebut setiap hari dilewati oleh berbagai kendaraan bermotor, sehingga ada kemungkinan terjadinya pencemaran udara di sekitar kost yang menyebabkan udara menjadi panas.

B. Hasil Pengukuran

Berdasarkan pengukuran luas ventilasi yang dilakukan dikamar kost Ibu Ningrum didapatkan hasil sebagai berikut :

Jenis ventilasi yang ada berupa lubang penghawaan dengan penghalang nako (permanen) dan pintu (insidentil atau dapat dibuka dan ditutup).

o Luas ventilasi permanen =pl = 60 cm 40 cm = 2400 cm2 = 1200 cm2 (2 inlet & outlet) o Luas ventilasi insidentil =pl =185 cm 80 cm

= 14800 cm2 = 7400 cm2 (2 inlet & outlet) o Total luas ventilasi yang ada = luas ventilasi permanen luas ventilasi yang dapat diatur = 1200 cm2 7400 cm2 = 8600 cm2 (2 inlet & outlet)

BAB III PEMBAHASAN


Luas ventilasi minimal menurut Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 829/MENKES/SK/VI/1999 Tentang

Persyaratan Kesehatan Perumahan adalah 10% luas lantai (5% permanen dan 5% dapat diatur) : o Luas lantai = p l =3m3m = 9 m2 o Luas ventilasi permanen = 5% luas lantai = 9 m2

= 0,45 m2 = 0,225 m2 = 2250 cm2 (2 inlet & outlet) o Luas ventilasi insidentil = 5% luas lantai = 9 m2

= 0,45 m2 = 0,225 m2 = 2250 cm2 (2 inlet & outlet) o Total luas ventilasi seharusnya = luas ventilasipermanen luas ventilasi seharusnya = 2250 cm2 2250 cm2

= 4500 cm2 (2 inlet & outlet)

Atau = 10% luas lantai = 9 m2

= 0,9 m2 = 0,45 m2 = 4500 cm2 (2 inlet & outlet) Dari hasil pengukuran yang dilakukan, luas ventilasi yang ada adalah 8600 cm2 (2 inlet & outlet), sedangkan luas ventilasi minimal yang seharusnya ada menurut standar untuk ukuran kamar kost tersebut adalah 4500 cm2 (2 inlet & outlet). Jadi ventilasi yang ada di kost Ibu Ningrum sudah memenuhi luas minimal yang dianjurkan berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor

829/MENKES/SK/VI/1999 Tentang Persyaratan Kesehatan Perumahan. Hanya saja perbandingan antara luas ventilasi permanen dan ventilasi insidentil masih belum sesuai. Berdasarkan ketetapan diatas,

luas ventilasi minimal untuk ukuran kamar dengan luas lantai 9 m2, luas ventilasi permanen dan insidentil masing-masing adalah 2250 cm2 (2 inlet & outlet). Sedangkan hasil pengukuran yang telah dilakukan, luas ventilasi yang ada di kamar tersebut adalah 1200 cm2 (2 inlet & outlet) untuk luas ventilasi permanen, hal ini menunjukkan bahwa luas ventilasi permanen yang ada masih dibawah luas minimal yang dianjurkan dan

luas ventilasi insidentil adalah 7400 cm2 (2 inlet & outlet), luas tersebut sudah memenuhi luas ventilasi minimal untuk ukuran kamar tersebut. Walaupun luas ventilasi permanen masih dibawah luas minimal yang dianjurkan tetapi hal ini tidak menjadi masalah karena luas ventilasi total yang ada sudah berada diatas luas minimal yang dianjurkan yaitu 10% dari luas lantai. Dengan keadaan ini tindakan yang sebaiknya dilakukan adalah dengan membuka ventilasi, baik yang permanen maupun insidentil setiap hari sehingga terjadi pertukaran udara dalam ruangan tersebut, serta membersihkannya secara berkala agar tidak ada debu pada ventilasi yang dapat mencemari udara yang masuk ke ruangan.

BAB IV PENUTUP
A. Kesimpulan o Luas ventilasi di kamar kost Ibu Ningrum adalah 8600 cm2 (2 inlet & outlet), dengan luas ventilasi pernanen dan insidentil adalah 1200 cm2 (2 inlet & outlet) dan 7400 cm2 (2 inlet & outlet) o Luas ventilasi yang ada di kost Ibu Ningrum sudah memenuhi luas minimal yang dianjurkan berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 829/MENKES/SK/VI/1999 Tentang

Persyaratan Kesehatan Perumahan

B. Saran o Membuka ventilasi, baik yang permanen maupun insidentil setiap hari sehingga terjadi pertukaran udara dalam ruangan tersebut o Membersihkan ventilasi secara berkala agar tidak ada debu pada ventilasi yang dapat mencemari udara yang masuk ke ruangan.

DAFTAR PUSTAKA
Suyono. 1985. Pokok Bahasan Modul Perumahan dan Pemukiman Sehat. Banjarmasin : Proyek Pengembangan Pendidikan Tenaga Sanitasi Pusat. Suharmadi. 1985. Perumahan Sehat. Bandung : Proyek Pengembangan Pendidikan Tenaga Sanitasi Pusat.

http://c.sutanto.or.id/desain/desain-rumah-ventilasi-udara http://id.wikipedia.org/wiki/Ventilasi_%28arsitektur%29 http://properti.kompas.com/read/2009/07/30/10285488/Mau.Rumah.Adem.Coba. Ventilasi.Silang

10