Anda di halaman 1dari 24

KONSULTASI DAN RUJUKAN DOKTER KELUARGA

Retno Asti Werdhani Dept. Ilmu Kedokteran Komunitas FKUI

KONSULTASI DAN RUJUKAN

Meningkatkan keilmuan

Meningkatkan hubungan dengan sejawat, rekan kerja, dan pasien


Tatalaksana holistik dan berkesinambungan

KONSULTASI DAN RUJUKAN


Tidak terkotak-kotak Terkoordinasi dengan baik Komunikasi efektif antar dokter, pasien dan tenaga kesehatan lain

Komunikasi tidak efektif : - Miss diagnosis - Salah tatalaksana - Malpraktek

KONSULTASI
Konsultasi : Seorang dokter bertanya kepada dokter lain untuk mendapatkan opini/pandangan mengenai pasiennya. Pasien masih menjadi tanggung jawab dokter keluarga. Konsultan : Dokter yang dikonsultasikan

KONSULTASI
Dapat bertanya kepada : - Dokter keluarga (horizontal) - Dokter spesialis (vertikal) Pasien tidak dalam tanggung jawab konsultan, kecuali setelah konsultasi diikuti rujukan.

KONSULTASI
Informal : - Pembicaraan sehari-hari - Telepon, di jalan, di kantin, dsb Formal : - Tertulis - Paling penting dalam manajemen pasien (Dokumentasi)

KONSULTASI
Dokter keluarga harus berkomunikasi langsung dengan konsultan. Tertulis surat, status, form khusus Darurat telepon

KONSULTASI
Isi : - Seluruh masalah pasien berkaitan dengan diagnosis - Temuan-temuan selama pemeriksaan - Hasil pemeriksaan penunjang - Terapi yang telah diterima/diresepkan - Alasan konsultasi

KONSULTASI
Alasan konsultasi : - Penegakan diagnosis - Saran untuk terapi khusus - Pandangan tentang hasil pemeriksaan/pemeriksaan penunjang - Meyakinkan pasien Pasien harus diberitahu alasan konsultasi. Jangan sampai pasien berpandangan bahwa konsultasi dilakukan karena dokter menolak mengobati pasien.

KONSULTASI
Konsultan harus menulis/memberi balasan secepatnya. Bila konsultan tidak dapat memberi jawaban dan berpendapat bahwa ada ahli yang lebih baik darinya, maka konsultan tsb harus memberitahukan/merekomendasikannya kepada dokter keluarga langsung. Konsultan tidak boleh melakukan konsultasi balik ke dokter lain.

KONSULTASI
Masalah-masalah : - Konsultasi atas permintaan pasien karena pasien tidak percaya. - Dokter keluarga kurang setuju pendapat konsultan - Hubungan konsultan pasien kurang baik

KONSULTASI
Saran : - Bila pasien minta konsultasi, jangan langsung dituruti. Lihat perlu/tidak, segera/tidak, dll - Bila tidak setuju dengan pendapat konsultan, diskusikan langsung. Bila perlu pasien dilihat kembali. - Bila tetap tidak sepakat, tawarkan kepada pasien untuk mencari opini ke 3.

RUJUKAN
Rujukan : Memindahkan tanggung jawab perawatan pasien sementara waktu karena masalah tertentu dari pasien.
Pemindahan tanggung jawab tidak total. Dokter keluarga akan kembali bertanggung jawab atas pasiennya setelah pasien kembali dari tempat rujukan.

RUJUKAN

Jenis-jenis rujukan : 1. Interval referral 2. Collateral referral 3. Cross referral 4. Split referral

Interval referral
Pasien dirujuk untuk perawatan penuh selama beberapa waktu. Contoh : Operasi kanker, kemoterapi. Selama pasien masih dalam perawatan rujukan, hanya dr. spesialis bersangkutan yang berhak mengobati dan meresepkan obat. Dokter keluarga hanya dapat memberi komentar atau nasihat dan dapat memberikan terapi bila diminta oleh dr. spesialis yang merawat.

Collateral referral
Dokter keluarga hanya merujuk untuk perawatan masalah tertentu saja dari pasien, tanggung jawab tetap di tangan dokter keluarga. Contoh : Pasien DM yang menderita glaukoma dirujuk ke SpM untuk mengobati glaukomanya, tapi kontrol DM tetap ke dokter keluarganya

Cross referral
Seorang pasien dianjurkan untuk menemui dokter lain dan dokter yang merujuk tidak lagi bertanggung jawab atas kesehatan pasien. Rujukan ini biasanya atas pemintaan pasien sendiri atau setelah dr. keluarga merujuk ke dr. spesialis tertentu, namun dr. spesialis tsb merujuk pasien ke dr. lain. Sebaiknya bila konsultan merasa perlu merujuk pasien ke dokter lain, diharuskan menginformasikan ke dokter yang merujuk pasien pertama kali

Split referral
Multispesialis. Contoh : pasien DM berobat ke SpPD namun dalam perjalanan penyakitnya ditemukan iskemik pembuluh darah jantung, sehingga perlu dirujuk ke Sp.JP. Dalam kasus ini, tidak dapat diketahui siapa yang bertanggung jawab penuh atas pasien setelah dirujuk.

Dokumentasi Rujukan
1. 2. 3. 4. 5. 6.

Alamat tujuan, nama dokter ahli, Biodata pasien Anamnesis dan Pemeriksaan lengkap Dokumentasi hasilnya singkat dan jelas Kesimpulan sementara apa yang ditemukan Tulis Permohonan pemeriksaan dan tindakan, hasil yang telah dilakukan Ucapan terima kasih, nama, alamat praktik yang jelas

Etika Konsultasi dan Rujukan


1. 2. 3.

Berikan jawab apa yang ditemukan Jelaskan apa tindakan yang akan atau dilakukan Terima kasih atas kepercayaan yang diberikan

Etika rujukan balik Pada pemulangan pasien kembali


1. 2.

3.

4. 5. 6.

Alamat dan nama dokter yang dituju jelas Berikan ringkasan atas segala yang telah dilaksanakan, Bila harus kembali , jelaskan kapan , setelah pengobatan dan pemantauan dokter keluarga Agenda pengobatan berikan dengan jelas Ucapan terima kasih atas kepercayaan Nama dan alamat praktik dari dokter konsultan ahli yang jelas

KESIMPULAN
-

Dibutuhkan komunikasi efektif yang baik antar dokter dan tenaga kesehatan lain untuk menunjang proses konsultasi dan rujukan pasien menghindari hal-hal yang merugikan dokter dan pasien/keluarga

KESIMPULAN
-

Selama dalam pengobatan dan/atau perawatan, pasien harus mempunyai 1 orang dokter keluarga yang bertanggung jawab penuh atas kesehatan dan keputusan klinik yang terbaik untuk pasien karena dokter keluarga sangat mengerti kondisi fisik, mental dan keadaan pasien/keluarga

TERIMA KASIH