Anda di halaman 1dari 10

Status Pasien

Nama Umur Alamat Status Pendidikan terakhir Suku Tanggal masuk : Ny. Fy : 22 Tahun : Lampoh Saka, Pidie : Menikah (menurut pasien) : SMA : Aceh : 6 Juni 2011

Tanggal pemeriksaan : 02 April 2012

A. Keluhan Utama B. Riwayat perjalanan penyakit

: Keluyuran :

Autoanamnesis : Pasien datang diantar oleh keluarga dan polisi dengan keluhan keluyuran dan pergit tanpa pamit (kabur) dari rumah sejak 1 hari sebelum masuk rumah sakit. Pasien pergi dari rumah karena pasien takut dengan kakak pasien yang mengancamnya dengan parang. Hal ini terjadi ketika pasien meminta kembali uang pasien yang dipinjam oleh kakak pasien. Namun kakak pasien tidak mau mengembalikan uang tersebut, sehingga pasien mengambil dompet kakak pasien. Kakak pasien marah dan mengancam pasien dengan parang. Pasien mengaku ketakutan dan mengembalikan dompet kakaknya, kemudian pasien pergi dari rumah dengan menggunakan sepeda motor. Pasien pergi dengan sepeda motor sampai ke daerah yang pasien tidak ingat lagi nama daerahnya. Sesampainya di sana, pasien meminta pekerjaan pada orangorang yang ada di tempat tersebut. Kemudian oleh seorang ibu, pasien diterima bekerja untuk membantu menjual gorengan. Pada saat sedang menggoreng gorengan itulah pasien ditangkap oleh polisi dan dibawa kekantor polisi.

Sebelum dibawa ke rumah sakit jiwa, pasien sempat di bawa ke kantor polisi. Pada saat di kantor polisi pasien merasa dirinya berubah menjadi seperti ular dan berubah menjadi kecil. Pasien juga merasakan hal yang aneh dengan lingkungannya, menurut pasien orang di sekitarnya seperti bermain sinetron. Hal ini hilang saat pasien tiba di rumah sakit jiwa. Pasien juga mengaku sering mendengar bisikan yang mengancam ingin membunuh pasien, bisikan itu datang saat pagi, siang dan malam. Tidak hanya bisikan, suara tersebut juga berasal dari pohon, meja, dan benda-benda lain di sekeliling pasien. Sehingga membuat pasien tidak berani pulang kerumah. Pasien juga mengatakan pernah melihat poncong yang membuat pasien ketakutan. Pasien juga mengatakan pernah seperti di peluk seseorang yang tidak terlihat dan mencium bau-bauan seperti kemenyan. Hal ini dirasakan pasien di tahun 2009. Menurut pasien, hal ini terjadi karena Kekayaan yang diperoleh pasien membuatnya merasa tidak disukai oleh beberapa warga desa. Menurut pasien, mereka melakukan guna-guna terhadap pasien dengan meletakkan boneka jelangkung di rumah pasien Pasien sudah pernah menikah, namun sekarang pasien sudah bercerai dengan Muhammad Din. Dari pernikahannya, pasien di karuniai 7 orang anak. Yang menurut pasien itu adalah anak mukzizat, bukan anak dari hasil pernikahannya Pasien tidak ingat nama dan umur anak-anaknya. Namun menurut pasien, semua anaknya dititipkan di pesantren Teupin Raya.. Pasien merupakan anak kedua dari empat bersaudara. Ibu pasien meninggal saat pasien masih duduk di bangku kelas dua sekolah dasar, karena tumor di perut. Ayah pasien menikah lagi saat pasien bersekolah di SMP. Hubungan pasien dengan keluarga dirasa baik. Namun pasien mengatakan tidak dekat dengan kakak, karena kakaknya sering memarahi pasien. Pasien juga tidak dekat dengan ayah dan tidak menyenangi ayahnya yang menikah dua kali lagi setelah ibu pasien meninggal. Pasien lebih dekat dengan adik perempuan pasien. Pasien juga merasa sangat disayangi oleh sang nenek. Nenek memberikan banyak harta untuk pasien, seperti

rumah yang ditinggali pasien dan saudara-saudaranya, diberikan untuk pasien. Nenek juga memberikan banyak kebun dan sawah untuk pasien Pasien bercita-cita menjadi seorang pegawai. Tetapi pasien tidak yakin dengan cita-citanya, karena pasien merasa dirinya bodoh. Pasien pernah tidak naik kelas waktu di sekolah dasar. Sewaktu SMEA kelas 2, pasien pernah mengurung diri di kamar sepulangnya dari sekolah selama 1 minggu, karena malu. Pasien merasa dirinya tidak pintar. Pasien menyangkal diejek oleh teman-temannya. Pasien pernah mendaftar di Akbid Sigli, namun pasien belum sempat mengikuti tes masuk di Akbid tersebut dikarenakan pasien sudah duluan pergi dari rumah. Pasien mengatakan bahwa ini merupakan rawatannya yang kedua kali di RSJ. Pasien pernah di rawat pada tahun 2010 selama 2 bulan. Pada saat itu, pasien juga masuk RSJ karena keluyuran, tidak bisa tidur. Pasien merasa ada yang berbisik di telinganya, menyuruhnya untuk berjalan-jalan. Pasien diantar oleh kakaknya pada saat itu. Setelah keluar dari RSJ, pasien tidak sering lagi minum obat. Hal ini diakui dilakukan pasien karena pasien malas minum obat. Menurut pasien, setelah minum obat, pasien merasa mengantuk, sehingga tidak dapat melakukan aktivitas seperti mencuci, membersihkan rumah dan berjualan. Keadaan pasien sekarang, pasien masih mendengar bisik bisikan yang mengancam pasien mau di bunuh oleh warga desanya. Sehingga pasien tidak berani pulang kerumah dan pasien merasa lebih nyaman tinggal di RSJ.

Alloanamnesis: Pasien diantar dengan keluhan keluyuran dan kabur dari rumah. Pasien kabur dengan menggunakan sepeda motor milik keluarga, tanpa membawa surat kendaraan. Sebelumnya pasien mengurung diri dan menangis di kamar selama 1 hari, karena belum diizinkan untuk mendaftar di Akbid Sigli. Menurut keluarga pasien, pasien akan didaftarkan keesokan harinya, karena hari itu pendaftaran memang belum dibuka. Namun pasien tidak mau mendengar. Pasien juga mengambil uang kakak pasien, kemudian pasien masuk kamar. Setelah itu, pasien mengatakan hendak

berjalan-jalan ke Caleu dengan menggunakan motor. Namun hingga malam hari, pasien belum pulang-pulang. Keluarga mendapat panggilan dari Polsek Lampoh Saka 3 hari kemudian. Dari sana keluarga mendapat berita bahwa pasien sedang ditahan di Polsek Lhoknga, ditangkap karena tidak membawa surat-surat kendaraaan. Kemudian keluarga menyusul pasien ke Polsek di Lhoknga. Pasien tidak dibawa pulang kerumah, tapi dibawa kerumah sakit jiwa Banda Aceh. Menurut keluarga, pasien belum pernah berkeluarga dan tidak mempunyai anak. Pasien pertama kali mengalami gangguan jiwa saat kelas 2 SMA. Saat itu pasien dibawa karena suka keluyuran di malam hari. Pasien susah tidur. Menurut keluarga, pasien sangat ingin kuliah dan ingin menjadi pegawai, namun pasien tidak termasuk orang-orang yang pintar. Pasien juga termasuk orang yang keinginannya harus segera dipenuhi, kalau tidak pasien akan marah-marah. Pasien senang menyendiri. Setelah dirawat selama 2 bulan, pasien diboleh kanpulang. Tetapi di rumah pasien tidak mau minum obat karena menganggap dirinya tidak sakit.

C. Riwayat Penyakit Dahulu Pasien sudah pernah dirawat di rumah sakit jiwa sebanyak 1 kali, yaitu pada tahun 2010.

D. Riwayat Perkembangan Pasien Prenatal Bayi Anak-anak Remaja Dewasa : Tidak diketahui : Tidak diketahui : Tidak diketahui : Tidak ada gangguan : Mulai mengalami gangguan jiwa

E. Riwayat Penyakit Keluarga Nenek pasien juga mengalami gangguan jiwa.

F. Status Internus 1. Status Present Penampakan umum Kesadaran Tekanan Darah Frekuensi Nafas Frekuensi Nadi Temperatur : Baik : Compos Mentis : 120/80 mmHg : 18 x/i : 84 x/i : Afebris

2. Pemeriksaan Fisik Kepala Mata/ Telinga/Hidung/Mulut Leher Thorax Paru Jantung Abdomen Hepar Splen Ren Extremitas Superior Inferior Genitalia : Edema (-), sianosis (-) : Edema (-), sianosis (-) : Tidak dilakukan pemeriksaan : Dalam Batas Normal : Dalam Batas Normal : Dalam Batas Normal : Dalam Batas Normal : Dalam Batas Normal : Dalam Batas Normal : Dalam Batas Normal

G. Status Mental (Minggu / 4 Maret 2012) 1. Deskripsi Umum Penampilan 5

Kebersihan Kerapian Kesadaran Perilaku Sikap terhadap pemeriksa Pembicaraan Arus Isi Asosiasi 2. Keadaan Afektif Afek Mood Emosi Arus Dalam/Dangkal Pengendalian Stabilitas Ech/Unech Empati Skala deferensiasi 3. Fungsi Intelektual (kognitif) Intelektual Daya konsentrasi Orientasi Diri Waktu Tempat Situasional

: Cukup : Cukup : Jernih : Normo Aktif : Kooperatif

: Lambat : Sesuai : Baik

: Restricted : Eutimik

: Normal : Dangkal : Baik : Stabil : Ech : Baik : Luas

: Baik : Kurang

: Baik : Baik : Baik : Baik

Daya Ingat 6

Seketika Baru Lama

: Baik : Baik : Baik : Baik : Baik

Pikiran Abstrak Bakat Kreatif 4. Proses Pikir Arus Pikir Produktivitas Kontinuitas Hendaya bahasa Isi pikir Preokupasi Waham Waham persukotorik Waham referensi Waham Biazzare Waham kebesaran Delution of Control Though Withdrawal Though insertion Thought broadcasting Thought echo

: Lambat : Baik : Tidak ditemukan

: Tidak Dijumpai : : (+) : (-) : (-) : (-) : (-) : (-) : (-) : (-) : (-)

Gangguan Persepsi Halusinasi Auditorik Halusinasi Visual Halusinasi Olvaktori Halusinasi Taktil Ilusi Depersonalisasi : (+) : (+) : (+) : (+) : (+) : (+) 7

Derealisasi

: (+)

5.

Daya Nilai Normo sosial Uji daya nilai Penilaian realita : Baik : Baik :Terganggu : T1 : Baik

6. 7.

Insight Judgment

H. Resume Pasien datang diantar oleh keluarga dan polisi karena keluyuran. Waham persukotrik (+), halusinasi auditorik (+), riwayat halusinasi visual (+), riwayat halusinasi taktil (+), depersonalisasi (+),derelisasi (+), pasien sudah pernah dirawat sebelumnya, riwayat putus obat (+).

I. Diagnosis Banding 1. Skizofrenia Paranoid 2. Gangguan waham menetap

J. Diagnosis Sementara Skizofrenia Paranoid

K. Evaluasi Multiaksial Axis I Axis II Axis III Axis IV : F.20.0SkizofreniaParanoid : Z 03.2 Tidak ada diagnosis aksis II : Tidak ada diagnosis aksis III : primary support dari keluarga (hubungan dengan kakak dan ayah yang kurang baik). Axis V : GAF = 60-51 (gejala sedang, disabilitas sedang)

L. Terapi Rawat Inap Terapi Farmakologi : Haloperidol 2x5 mg Trihexyphenidyl 3x2 mg (k/p) Psikoterapi : Meyakinkan pasien bahwa pasien akan sembuh jika pasien patuh minum obat. Memberitahu kepada keluarga bahwa kehadiran dan dukungan keluarga sangat berpengaruh terhadap kesembuhan pasien. Membuat pasien menjadi individu yang produktif dalam kehidupan sehari-hari M. Prognosis Dubia ad Malam

10