Anda di halaman 1dari 18

AKLIMATISASI PLANLET HASIL PERBANYAKAN SECARA KULTUR JARINGAN

AKLIMATISASI PLANLET HASIL PERBANYAKAN SECARA KULTUR JARINGAN


Angga Waluya 2009

PENDAHULUAN Latar Belakang Suatu tahapan yang sangat penting dalam teknik kultur jaringan adalah aklimatisasi planlet yang ditanam secara in vitro kedalam rumah kaca atau langsung ke lapang (Pospisilova et al, 1996). Aklimatisasi merupakan kegiatan akhir teknik kultur jaringan. Aklimatisasi adalah proses pemindahan planlet dari lingkungan yang terkontrol (aseptik dan heterotrof) ke kondisi lingkungan tak terkendali, baik suhu, cahaya, dan kelembaban, serta tanaman harus dapat hidup dalam kondisi autotrof, sehingga jika tanaman (planlet) tidak diaklimatisasi terlebih dahulu tanaman (planlet) tersebut tidak akan dapat bertahan dikondisi lapang. Aklimatisasi dilakukan untuk mengadaptasikan tanaman hasil kultur jaringan terhadap lingkungan baru sebelum ditanam dan dijadikan tanaman induk untuk produksi dan untuk mengetahui kemampuan adaptasi tanaman dalam lingkungan tumbuh yang kurang aseptik. Wetherell (1982) menuliskan aklimatisasi bertujuan untuk mengadaptasikan tanaman hasil kultur terhadap lingkungan baru sebelum kemudian ditanam di lahan yang sesungguhnya. Torres (1989) menuliskan aklimatisasi adalah suatu proses dimana suatu tanaman beradaptasi sengan perubahan lingkungan. Pada tahap ini (aklimatisasi) diperlukan ketelitian karena tahap ini merupakan tahap kritis dan seringkali menyebabkan kematian planlet. Kondisi mikro planlet ketika dalam botol kultur adalah dengan kelembaban 90-100 %. Beberapa sumber menuliskan penjelasan yang berkaitan dengan hal tersebut. Bibit yang ditumbuhkan secara in vitro mempunyai kutikula yang tipis dan jaringan pembuluh yang belum sempurna (Wetherell, 1982). Kutikula yang tipis menyebabkan tanaman lebih cepat kehilangan air dibanding dengan tanaman yang normal dan ini menyebabkan tanaman tersebut sangat lemah daya bertahannya (Torres, 1989). Walaupun potensialnya lebih tinggi, tanaman akan tetap menjadi layu karena kehilangan air yang tidak terbatas (Pospisilova et al, 1996). Kondisi tersebut menyebabkan tanaman tidak dapat langsung ditanam dirumah kaca (Wetherelll, 1982). Mengacu pada penjelasan tersebut di atas maka planlet terlebih dahulu harus ditanam didalam lingkungan yang memadai untuk pertumbuhannya kemudian secara perlahan "dilatih" untuk terus dapat beradaptasi dengan lingkungan sebenarnya di lapang. Lingkungan yang tersebut secara umum dapat diperoleh dengan cara memindahkan planlet kedalam plastik atau boks kecil yang terang dengan terus menurunkan kelembaban udaranya. Planlet-planlet tersebut kemudian

diaklimatisasi secara bertahap mengurangi kelembaban relatif lingkungannya, yaitu dengan cara membuka penutup wadah plastik atau boks secara bertahap pula (Torres, 1989). Selain itu, tanaman juga memerlukan akar untuk menyerap hara agar dapat tumbuh dengan baik sehingga dalam tahap aklimatisasi ini diperlukan suatu media yang dapat mempermudah pertumbuhan akar dan dapat menyediakan hara yang cukup bagi tanaman (planlet) yang diaklimatisasi tersebut. Menurut sutiyoso (1986) media yang remah akan memudahkan pertumbuhan akar dan melancarkan aliran air, mudah mengikat air dan hara, tidak mengandung toksin atau racun, kandungan unsur haranya tinggi, tahan lapuk dalam waktu yang cukup lama. Media aklimatisasi bibit kultur jaringan krisan dan kentang di Indonesia saat ini adalah media arang sekam atau media campuran arang sekam dan pupuk kandang (Marzuki, 1999; Sinaga, 2001). Arang sekam merupakan salah satu media hidroponik yang baik karena memiliki beberapa keunggulan sebagai berikut; mampu menahan air dalam waktu yang relatif lama, termasuk media organik sehingga ramah lingkungan, lebih steril dari bakteri dan jamur karena telah dibakar terlebih dahulu, dan hemat karena bisa digunakan hingga beberapa kali (Di download pada hari jumat tanggal 9 januari 2009 pukul 21.00 WIB dari http://www.pustakadeptan.go.id/publikasi/wr254033.pdf).

Tujuan Tujuan dari percobaan ini adalah: 1. Memberikan pengalaman kepada praktikan tentang tata cara aklimatisasi planlet hasil kultur jaringan. 2. Mengadaptasikan tanaman hasil kultur jaringan terhadap lingkungan baru sebelum ditanam di lapang dan untuk mengetahui kemampuan adaptasi tanaman dalam lingkungan tumbuh yang kurang aseptik.

METODOLOGI Praktikum ini dilaksanakan di laboratorium Kultur Jaringan, Departemen Agronomi dan Hortikultura, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor, pada tanggal 25 september 2008 (0 MST). Setelah itu pada minggu-minggu berikutnya sampai tanggal 16 Desember 2008 (3 MST) dilakukan pengamatan terhadap jumlah planlet, tinggi planlet, dan jumlah daun, sebanyak sepuluh ulangan dengan jumlah planlet awal untuk setiap ulangan yaitu 8 planlet. Bahan dan alat yang digunakan dalam praktikum ini yaitu; bibit krisantimum yang telah berumur 8-12 minggu sejak dikulturkan, arang sekam (sebagai media tanam), stoples/gelas plastik transparan (sebagai pot atau wadah tanam), air steril, Dithane/benlate, agrept, dan pupuk daun.

Prosedur kerja; Keluarkan planlet dari botol dengan hati-hati agar tidak putus dan pastikan bibit tersebut telah berakar, cuci bersih planlet dengan air yang sudah dimasak secara perlahan dan pastikan semua agar-agar sudah tidak ada pada akar planlet, rendam bibit yang sudah bersih pada larutan Dithane/benlate 1 g/L + Agrept 1 g/L selama 10 menit, arang sekam yang sudah steril dibasahi sampai jenuh dengan air steril, tanam planlet dengan jaraj yang tidak terlalu rapat guna mencagah bibit membusuk, tutup stoples atau gelas yang telah ditanami planlet selanjutnya disimpan di ruang kultur, planlet disiram dengan cara di spray setiap 2-3 hari sekali untuk menjaga kelembaban, planlet yang telah berumur 1 minggu selanjutnya dikeluarkan ketempat teduh untuk mengadaptasikannya dengan lingkungan in vivo selam 2 minggu. Pada saat ini planlet dapat disiram dengan pupuk daun dengan konsentrasi .

HASIL DAN PEMBAHASAN

Berikut ini adalah data hasil pengamatan yang dilaksanakan, mulai tanggal 25 september 2008 (0 MST) yang setelah itu pada minggu-minggu berikutnya (1 MST, 2 MST) sampai tanggal 16 Desember 2008 (3 MST) dilakukan pengamatan terhadap jumlah planlet, tinggi planlet, dan jumlah daun, sebanyak sepuluh ulangan dengan jumlah planlet awal untuk setiap ulangan yaitu 8 planlet. Tabel 1. Data Pengamatan Planlet Yang Diaklimatisasi
Ulangan 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Rata-rata 1 2 3 4 5 2 Desember 2008(1 MST) 8.00 8 7 8 8 8 8.27 9.59 9.98 3.31 11.5 7.8 18.00 14 25 11 23 29 0 0 1 0 0 0 Tidak mampu beradaptasi pada lingkungan luar (dehidrasi) 25 November 2008(0 MST) 8 8 8 8 8 8 15.3 8.36 8.28 3.54 8.06 6 26 26 19 8 14 16 0 0 0 0 0 0 8 8.33 17 0 Minggu Planlet Hidup Tinggi Jumlah Daun Planlet Mati Penyebab

6 7 8 9 10 Rata-rata 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Rata-rata 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Rata-rata 5.33 16 Desember 2008(3 MST) 7.30 9 Desember 2008(2 MST) 7.90

8 8 8 8 8 8 7 8 8 8 8 8 2 8 8 8

8.35 4.5 8.43 6.24 9.85 7.95 10.5 10.2 4.4 11.5 8.5 8 4.7 2.25 7.42 10 7.75 10.6 20.50 18.80

19 9 10 20 28 17 26 12 23 33 23 11 5 25 30 14

0 0 0 0 0 0.1 0 1 0 0 0 0 0 6 0 0 0.70 0 8 8 8 8 8 Tidak mampu beradaptasi pada lingkungan luar (dehidrasi) Tidak mampu beradaptasi pada lingkungan luar (dehidrasi) Tidak mampu beradaptasi pada lingkungan luar (dehidrasi) Tidak mampu beradaptasi pada lingkungan luar (dehidrasi) Tidak mampu beradaptasi pada lingkungan luar (dehidrasi) Tidak mampu beradaptasi pada lingkungan luar (dehidrasi) Tidak mampu beradaptasi pada lingkungan luar (dehidrasi) Tidak mampu beradaptasi pada lingkungan luar (dehidrasi) Tidak mampu beradaptasi pada lingkungan luar (dehidrasi) Tidak mampu beradaptasi pada lingkungan luar (dehidrasi) Tidak mampu beradaptasi pada lingkungan luar (dehidrasi)

6 2

5.12 2.5

12 5

2 6 8 8

6.08

10.3

6.40

Tabel 2. Rata-Rata Pengamatan Planlet Aklimatisasi

umur 0 MST 1 MST 2 MST 3 MST

jumlah planlet hidup tinggi 8 7.9 7.3 5.33 8.27 7.95 7.75 6.08

jumlah daun 18 18.8 20.5 10.33

Tabel 3. Kematian Planlet Umur 0 MST (2/12/2008) 1 MST (25/11/2008) 2 MST (9/12/2008) 3 MST (16/12/2008) Persentase Kematian Planlet (%) 0 1.25 8.75 80

Aklimatisasi merupakan suatu tahapan yang penting karena pada tahap ini tanaman (planlet) akan diadaptasikan agar dapat hidup di lapang sehingga mampu menjadi tanaman yang normal. Seperti yang telah disebutkan pada bagian latar belakang bahwa planlet hasil kultur jaringan adalah tanaman yang bersifat aseptic dan heterotrof karena terbiasa di lingkungan yang optimum untuk petumbuhannya, daunnya belum mampu berfotosintesis, sangat rentan terhadap respirasi berlebih, dan dipastian mempunyai potensi kematian yang tinggi jika langsung ditanam di lapang tanpa adanya proses aklimatisasi terlebih dahulu. Percobaan ini menggunakan bibit krisantimum (Chrysanthemum sp.) hasil kultur jaringan yang telah berumur 8-12 minggu dan bibit kentang (Solanum tuberosum L.) hasil enkapsulasi. Hal yang pertama kali dilakukan praktikan adalah mengeluarkan planlet dari botol dengan hati-hati agar tidak putus dan pastikan bibit tersebut telah berakar, dengan pertimbangan bahwa planlet yang dinilai telah memiliki akar yang cukup akan memudahkan dalam proses penyerapan hara dari media tanam. Kemudian planlet dicuci bersih dengan air yang sudah dimasak secara perlahan sampai semua agar-agar sudah tidak ada pada akar planlet, setelah itu planlet di rendam pada larutan Dithane/benlate 1 g/L + Agrept 1 g/L selama 10 menit, larutan tersebut berfungsi sebagai bakterisida dan fungisida. Media yang digunakan yaitu arang sekam yang sudah disterilkan kemudian dibasahi sampai jenuh dengan air steril. Lalu planlet ditanam dengan jarak yang tidak terlalu rapat agar bibit tidak membusuk. Wadah tanam (pot) yang digunakan yaitu gelas transparan bekas air mineral. Wadah yang telah ditanami planlet tersebut selanjutnya ditutup dengan gelas transparan lainnya, hal ini dilakukan untuk menjaga kelembaban dilingkungan tumbuh planlet lalu disimpan di ruang kultur. Penyiraman dilakukan hanya jika media dinilai kekurangan air,selain itu penyiramana juga dilakukan untuk menjaga kelembaban. Data pengamatan menunjukan bahwa dari mulai 0 MST sampai 3 MST untuk variable pengamatan

jumlah planlet hidup dan tinggi planlet terus mengalami penurunan (tabel 1 dan tabel 2). Terlihat bahwa data pada variable tinggi planlet dapat dikatakan tidak wajar karena hal ini bertentangan dengan teori yang mengatakan bahwa pertumbuhan adalah suatu proses pertambahan ukuran yang tidak dapat balik, sehingga tidak mungkin mengalami penurunan. Hal ini dapat disebabkan karena berkurangnya jumlah planlet yang hidup sedangkan data ulangan tinggi planlet adalah hasil penjumlahan data tinggi planlet dalam setiap ulangan dibagi dengan jumlah ulangan, sehingga dengan berkurangnya jumlah planlet yang hidup terjadi pengurangan angka yang dibagi sedangkan angka pembagi jumlahnya tetap. Data variabel pengamatan jumlah daun mengalami peningkatan dari 0 MST sampai 2 MST, lalu mengalami penurunan pada 3 MST. Hal ini disebabkan oleh adanya absisi (gugur) pada daun planlet (tabel 1 dan 2). Selain itu persentase atau tingkat kematian planlet yang diaklimatisasi mengalami kenaikan yang signifikan dari 0 MST sampai 3 MST, bahkan lonjakan tertinggi dialami dari 2 MST ke 3 MST (tabel 3). Selain dari tabel, data juga dapat dilihat dalam bentuk grafik.

KESIMPULAN DAN SARAN

Aklimatisasi merupakan tahapan yang sangat penting dalam kultur jaringan karena pada tahap inilah planlet hasil kultur jaringan akan beradaptasi baik secara morfologi maupun fisiologi untuk dapat hidup di lapang. Percobaan ini memberikan gambaran bahwa aklimatisasi bukanlah suatu hal yang bisa dilakukan dengan begitu saja, diperlukan ketelitian dan pengetahuan yang baik agar dapat berhasil. Dari sejumlah planlet yang diaklimatisasi, hanya sebagian kecil saja yang berhasil (dapat dikatakan bahwa tingkat adaptasi tanaman terhadap lingkungan di luar botol kultur adalah lemah). Kematian planlet pada umumnya disebabkan oleh respirasi planlet yang tinggi yang menyebabkan planlet layu dan mati. Untuk masa selanjutnya, sebaiknya praktikan lebih teliti dan berusaha memperoleh pengetahuan yang lebih memadai dalam menjalankan praktikum ini. Selain itu percobaan aklimatisasi ini sebaiknya menggunakan media tanam yang berbeda-beda sehingga praktikan dapat memperoleh pengetahuan tentang media tanam apa yang lebih baik digunakan untuk aklimatisasi.

DAFTAR PUSTAKA

Marzuki, A. 1999. Pengaruh lama penyimpanan, konsentrasi sukrosa dan cahaya penyimpanan terhadap vigor planlet kentang (Solanum tuberosum L.). Skripsi. Jurusan Budidaya Pertanian. Fakultas Pertanian. IPB. Bogor. Pospisilova, J, J. Catsky, and Z. Sestak. 1996. Photosyntesis in plants cultivated in vitro. P 525537. In M. Pessarakli, (ed.). Handbook of Photosynthesis. Marcel Dekker, Inc. New York. Basel.

Hong Kong. Sinaga, N. A. K. 2001. Pengaruh sukrosa dan lama simpan gelap terhadap vigor bibit krisan (Chysanthemum sp.). Skripsi. Jurusan Budidaya Pertanian. Fakultas Pertanian. IPB. Bogor. Torres, K. C. 1989. Tissue Culture Techniques for Horticultural Crops. Chapman and Hall. New York. London. Wetherelll, D. F. 1982. introduction to in vitro Propagation. Avery Publishing Group Inc. Wayne, New Jersey. http://www.pustaka-deptan.go.id/publikasi/wr254033.pdf

Laporan Aklimatisasi Kultur Jaringan


I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Suatu tahapan yang sangat penting dalam teknik kultur jaringan adalah aklimatisasi planlet yang ditanam secara in vitro kedalam rumah kaca atau langsung ke lapang. Aklimatisasi merupakan kegiatan akhir teknik kultur jaringan. Aklimatisasi adalah proses pemindahan planlet dari lingkungan yang terkontrol (aseptik dan heterotrof) ke kondisi lingkungan tak terkendali, baik suhu, cahaya, dan kelembaban, serta tanaman harus dapat hidup dalam kondisi autotrof, sehingga jika tanaman (planlet) tidak diaklimatisasi terlebih dahulu tanaman (planlet) tersebut tidak akan dapat bertahan dikondisi lapang. Aklimatisasi dilakukan untuk mengadaptasikan tanaman hasil kultur jaringan terhadap lingkungan baru sebelum ditanam dan dijadikan tanaman induk untuk produksi dan untuk mengetahui kemampuan adaptasi tanaman dalam lingkungan

tumbuh yang kurang aseptik. Aklimatisasi bertujuan untuk mengadaptasikan tanaman hasil kultur terhadap lingkungan baru sebelum kemudian ditanam di lahan yang sesungguhnya. Aklimatisasi adalah suatu proses dimana suatu tanaman beradaptasi sengan perubahan lingkungan. Berdasarkan uraian diatas maka perlu adanya pengetahuan tentang bagaimana Memberikan pengalaman tentang tata cara aklimatisasi planlet hasil kultur jaringan, serta Mengadaptasikan tanaman hasil kultur jaringan terhadap lingkungan baru sebelum ditanam di lapang dan untuk mengetahui kemampuan adaptasi tanaman dalam lingkungan tumbuh yang kurang aseptik. 1.2 Tujuan dan Kegunaan Tujuan dari praktikum ini agar kita dapat mengetahui bagaimana tentang tata cara aklimatisasi planlet hasil kultur jaringan. Kegunaan dari praktikum ini yaitu agar kita dapat mengadaptasikan tanaman hasil kultur jaringan terhadap lingkungan baru sebelum ditanam di lapang dan untuk mengetahui kemampuan adaptasi tanaman dalam lingkungan tumbuh yang kurang aseptik.

II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengertian Aklimatisasi Aklimatisasi merupakan kegiatan akhir teknik kultur jaringan. Aklimatisasi adalah proses pemindahan planlet dari lingkungan yang terkontrol (aseptik dan heterotrof) ke kondisi lingkungan tidak terkendali, baik suhu, cahaya, dan kelembaban, serta tanaman harus dapat hidup dalam kondisi autotrof, sehingga jika tanaman (planlet) tidak

diaklimatisasi terlebih dahulu tanaman (planlet) tersebut tidak akan dapat bertahan dikondisi lapang. Aklimatisasi dilakukan untuk mengadaptasikan tanaman hasil kultur jaringan terhadap lingkungan baru sebelum ditanam dan dijadikan tanaman induk untuk produksi dan untuk mengetahui kemampuan adaptasi tanaman dalam lingkungan tumbuh yang kurang aseptik. Aklimatisasi adalah suatu proses dimana suatu tanaman beradaptasi sengan perubahan lingkungan (Torres, 1989). Pada tahap ini (aklimatisasi) diperlukan ketelitian karena tahap ini merupakan tahap kritis dan seringkali menyebabkan kematian planlet. Kondisi mikro planlet ketika dalam botol kultur adalah dengan kelembaban 90-100 %. Beberapa sumber menuliskan penjelasan yang berkaitan dengan hal tersebut.Bibit yang ditumbuhkan secara in vitro mempunyai kutikula yang tipis dan jaringan pembuluh yang belum sempurna (Wetherell, 1982). Kutikula yang tipis menyebabkan tanaman lebih cepat kehilangan air dibanding dengan tanaman yang normal dan ini menyebabkan tanaman tersebut sangat lemah daya bertahannya. Walaupun potensialnya lebih tinggi, tanaman akantetap menjadi layu karena kehilangan air yang tidak terbatas (Pospisilova et al, 1996). Kondisi tersebut menyebabkan tanaman tidak dapat langsung ditanam dirumah kaca (Wetherelll, 1982). Mengacu pada penjelasan tersebut di atas maka planlet terlebih dahulu harus ditanam didalam lingkungan yang memadai untuk pertumbuhannya kemudian secara perlahan dilatih untuk terus dapat beradaptasi dengan lingkungan sebenarnya di lapang. Lingkungan yang tersebut secara umum dapat diperoleh dengan cara memindahkan planlet kedalam plastik atau boks kecil yang terang dengan terus

menurunkan kelembaban udaranya. Planlet-planlet tersebut kemudian diaklimatisasi secara bertahap mengurangi kelembaban relatif lingkungannya, yaitu dengan cara membuka penutup wadah plastik atau boks secara bertahap pula (Torres, 1989). Selain itu, tanaman juga memerlukan akar untuk menyerap hara agar dapat tumbuh dengan baik sehingga dalam tahap aklimatisasi ini diperlukan suatu media yang dapat mempermudah pertumbuhan akar dan dapat menyediakan hara yang cukup bagi tanaman (planlet) yang diaklimatisasi tersebut. Media yang remah akan memudahkan pertumbuhan akar dan melancarkan aliran air, mudah mengikat air dan hara, tidak mengandung toksin atau racun, kandungan unsur haranya tinggi, tahan lapuk dalam waktu yang cukup lama. Media aklimatisasi bibit kultur jaringan krisan dan kentang di Indonesia saat ini adalah media arang sekam atau media campuran arang sekam dan pupuk kandang (Marzuki, 1999). Arang sekam merupakan salah satu media hidroponik yang baik karena memiliki beberapa keunggulan sebagai berikut; mampu menahan air dalam waktu yang relatif lama, termasuk media organik sehingga ramah lingkungan, lebih steril dari bakteri dan jamur karena telah dibakar terlebih dahulu, dan hemat karena bisa digunakan hingga beberapa kali (Sinaga, 2001). III. METODOLOGI 3.1 Tempat dan Waktu
Praktikum Aklimatisasi kultur jaringan dilaksanakan di malino desa bulu ballea, kabupaten gowa, pada hari sabtu, 9 April 2011 pukul 16.00 WITA sampai selesai.

3.2 Alat dan Bahan

Bahan dan alat yang digunakan dalam praktikum ini yaitu bibit yang telah berumur 8-12 minggu sejak dikulturkan, arang sekam (sebagai media tanam), stoples/gelas plastik transparan (sebagai pot atau wadah tanam), air steril, Dithane/benlate, agrept, dan pupuk daun. 3.3 Prosedur Kerja 1. Keluarkan planlet dari botol dengan hati-hati agar tidak putus dan pastikan bibit tersebut telah berakar, cuci bersih planlet dengan air yang sudah dimasak secara perlahan dan pastikan semua agar-agar sudah tidak ada pada akar planlet, 2. Rendam bibit yang sudah bersih pada larutan Dithane/benlate 1 g/L + Agrept 1 g/L selama 10 menit, arang sekam yang sudah steril dibasahi sampai jenuh dengan air steril, tanam planlet dengan jaraj yang tidak terlalu rapat guna mencagah bibit membusuk, tutup stoples atau gelas yang telah ditanami planlet. 3. selanjutnya disimpan di ruang kultur, planlet disiram dengan cara di spray setiap 2-3 hari sekali untuk menjaga kelembaban, planlet yang telah berumur 1 minggu selanjutnya dikeluarkan ketempat teduh untuk mengadaptasikannya dengan lingkungan in vivo selam 2 minggu. Pada saat ini planlet dapat disiram dengan pupuk daun dengan konsentrasi .

IV. 4.1 Hasil

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil Dari praktikum pembuatan media di peroleh hasil pengamatan yaitu: No. 1 Tahap aklimatisasi Planlet dalam botol Gambar

kultur 2.

siap

untuk

di dari

aklimatisasi. Lalu dikeluarkan

botol kultur, dilakukan 3. dengan cara yang steril Dipindahkan ke arang sekam disiapkan. disimpan yang telah Dan hingga

beberapa hari sampai pertumbuhannya 4. sempurna. Setelah itu yang tanaman pada

terdapat

arang sekam, lalu di pindahkan kelahan. 1.2 Pembahasan Hal yang pertama kali dilakukan praktikan adalah mengeluarkan planlet dari botol dengan hati-hati agar tidak putus dan pastikan bibit tersebut telah berakar, dengan pertimbangan bahwa planlet yang dinilai telah memiliki akar yang cukup akan memudahkan dalam proses penyerapan hara dari media tanam (Anonim, 2011). Kemudian pada gambar selanjutnya planlet dicuci bersih dengan air yang sudah dimasak secara perlahan sampai semua agar-agar sudah tidak ada pada akar planlet, setelah itu planlet di rendam pada larutan Dithane/benlate 1 g/L + Agrept 1 g/L selama 10 menit, larutan tersebut berfungsi sebagai bakterisida dan fungisida (Anonim, 2011).

Pada gambar ketiga Media yang digunakan yaitu arang sekam yang sudah disterilkan kemudian dibasahi sampai jenuh dengan air steril.Lalu planlet ditanam dengan jarak yang tidak terlalu rapat agar bibit tidak membusuk. Wadah tanam (pot) yang digunakan yaitu gelas transparan bekas air mineral. Wadah yang telah ditanami planlet tersebut selanjutnya ditutup dengan gelas transparan lainnya, hal ini dilakukan untuk menjaga kelembaban dilingkungan tumbuh planlet lalu disimpan di ruang kultur. Lalu pada gambar selanjutnya jika tanaman sudah dewasa maka tanaman tersebut dipindahkan ke lahan. Serta untuk penyiraman dilakukan hanya jika media dinilai kekurangan air,selain itu penyiraman juga dilakukan untuk menjaga kelembaban (Anonim, 2011).

V. PENUTUP 5.1 Kesimpulan Aklimatisasi merupakan tahapan yang sangat penting dalam kultur jaringan karena pada tahap inilah planlet hasil kultur jaringan akan beradaptasi baik secara morfologi maupun fisiologi untuk dapat hidup di lapang. Percobaan ini memberikan gambaran bahwa aklimatisasi bukanlah suatu hal yang bisa dilakukan dengan begitu saja, diperlukan ketelitian dan pengetahuan yang baik agar dapat berhasil. 5.2 Saran Untuk selanjutnya, sebaiknya praktikan lebih teliti dan berusaha memperoleh pengetahuan yang lebih memadai dalam menjalankan praktikum ini. Selain itu percobaan aklimatisasi ini sebaiknya menggunakan media tanam yang berbeda-beda

sehingga praktikan dapat memperoleh pengetahuan tentang media tanam apa yang lebih baik digunakan untuk aklimatisasi. DAFTAR PUSTAKA Anonim, 2011. Aklimatisasi kultur jaringan. Fakultas Pertanian. Universitas Hasanuddin. Marzuki, A. 1999.Pengaruh lama penyimpanan, konsentrasi sukrosa dan cahaya penyimpanan terhadap vigor planlet kentang (Solanum tuberosum L.).Skripsi. Jurusan Budidaya Pertanian. Fakultas Pertanian. IPB. Bogor. Sinaga, N. A. K. 2001. Pengaruh sukrosa dan lama simpan gelap terhadap vigor bibit krisan (Chysanthemum sp.).Skripsi. Jurusan Budidaya Pertanian. Fakultas Pertanian. IPB. Bogor. Torres, K. C. 1989. Tissue Culture Techniques for Horticultural Crops.Chapman and Hall. New York. London. Wetherelll, D. F. 1982. introduction to in vitro Propagation. Avery Publishing Group Inc. Wayne, New Jersey.

Aklimatisasi
I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Tanaman hasil kultur jaringan tidak bisa langsung ditanam begitu saja dalam pot. Pucuk-pucuk dan planlet in vitro yang diregenerasikan di dalam lingkungan dengan kelembaban tinggi dan bersifat heterotrof, harus berubah menjadi autotrof bila dipindahkan ke tanah atau lapangan. Tanaman hasil kultur jaringan (planlet atau tunas mikro) perlu mendapatkan perlakuan khusus untuk dapat hidup di lingkungan baru hingga menjadi bibit baru yang siap ditanam di lapang. Proses pemindahan merupakan langkah akhir dari prosedur mikropropagasi dan diistilahkan sebagai tahap aklimatisasi.

Tahap aklimatisasi merupakan tahapan kritis karena kondisi iklim dilapang sangat berbeda dengan kondisi dalam botol, sehingga diperlukan penyesuaian. Aklimatisasi merupakan proses yang penting dalam rangkaian aplikasi teknik kultur jaringan untuk mendukung pengembangan pertanian. Masa aklimatisasi merupakan masa yang kritis karena pucuk atau planlet yang diregenerasikan dari kultur in vitro menunjukkan beberapa sifat yang kurang menguntungkan, seperti lapisan lilin (kutikula) tidak berkembang dengan baik, kurangnya lignifikasi batang, jaringan pembuluh dari akar ke pucuk kurang berkembang dan stomata seringkali tidak berfungsi (tidak menutup ketika penguapan tinggi). Keadaan itu menyebabkan pucuk-pucuk in vitro sangat peka terhadap serangan cendawan dan bakteri, cahaya dengan intensitas tinggi dan suhu tinggi. Oleh karena itu, aklimatisasi pucuk-pucuk in vitro memerlukan penanganan khusus, bahkan diperlukan modifikasi terhadap kondisi lingkungan terutama dalam kaitannya dengan suhu, kelembapan, dan intensitas cahaya. Di samping itu, medium tumbuh pun memiliki peranan yang cukup penting. 1.2. Tujuan dan kegunaan Tujuan dari praktikum ini yaitu memberikan pengalaman kepada praktikan tentang tata cara aklimatisasi planlet hasil kultur jaringan dan mengadaptasikan tanaman hasil kultur jaringan terhadap lingkungan baru sebelum ditanam di lapang dan untuk mengetahui kemampuan adaptasi tanaman dalam lingkungan tumbuh yang kurang aseptik. Kegunaan dari praktikum ini yaitu sebagai bahan informasi bagi pembaca khususnya mahasiswa dalam mempelajari aklimatisasi kultur jaringan. II. TINJAUAN PUSTAKA

Suatu tahapan yang sangat penting dalam teknik kultur jaringan adalah aklimatisasi planlet yang ditanam secara in vitro kedalam rumah kaca atau langsung ke lapang (Pospisilova et al, 1996). Aklimatisasi merupakan kegiatan akhir teknik kultur jaringan. Aklimatisasi adalah proses pemindahan planlet dari lingkungan yang terkontrol (aseptik dan heterotrof) ke kondisi lingkungan tak terkendali, baik suhu, cahaya, dan kelembaban, serta tanaman harus dapat hidup dalam kondisi autotrof, sehingga jika tanaman (planlet) tidak diaklimatisasi terlebih dahulu tanaman (planlet) tersebut tidak akan dapat bertahan dikondisi lapang. Aklimatisasi dilakukan untuk mengadaptasikan tanaman hasil kultur jaringan terhadap lingkungan baru sebelum ditanam dan dijadikan tanaman induk untuk produksi dan untuk mengetahui kemampuan adaptasi tanaman dalam lingkungan tumbuh yang kurang aseptik. Wetherell (1982) menuliskan aklimatisasi bertujuan untuk mengadaptasikan tanaman hasil kultur terhadap

lingkungan baru sebelum kemudian ditanam di lahan yang sesungguhnya. Torres (1989) menuliskan aklimatisasi adalah suatu proses dimana suatu tanaman beradaptasi sengan perubahan lingkungan. Pada tahap ini (aklimatisasi) diperlukan ketelitian karena tahap ini merupakan tahap kritis dan seringkali menyebabkan kematian planlet. Kondisi mikro planlet ketika dalam botol kultur adalah dengan kelembaban 90-100 %. Beberapa sumber menuliskan penjelasan yang berkaitan dengan hal tersebut. Bibit yang ditumbuhkan secara in vitro mempunyai kutikula yang tipis dan jaringan pembuluh yang belum sempurna (Wetherell, 1982). Kutikula yang tipis menyebabkan tanaman lebih cepat kehilangan air dibanding dengan tanaman yang normal dan ini menyebabkan tanaman tersebut sangat lemah daya bertahannya (Torres, 1989). Walaupun potensialnya lebih tinggi,

tanaman akan tetap menjadi layu karena kehilangan air yang tidak terbatas (Pospisilova et al, 1996). Kondisi tersebut menyebabkan tanaman tidak dapat langsung ditanam dirumah kaca (Wetherelll, 1982). Mengacu pada penjelasan tersebut di atas maka planlet terlebih dahulu harus ditanam didalam lingkungan yang memadai untuk pertumbuhannya kemudian secara perlahan dilatih untuk terus dapat beradaptasi dengan lingkungan sebenarnya di lapang. Lingkungan yang tersebut secara umum dapat diperoleh dengan cara memindahkan planlet kedalam plastik atau boks kecil yang terang dengan terus menurunkan kelembaban udaranya. Planlet-planlet tersebut kemudian diaklimatisasi secara bertahap mengurangi kelembaban relatif lingkungannya, yaitu dengan cara membuka penutup wadah plastik atau boks secara bertahap pula (Torres, 1989). Selain itu, tanaman juga memerlukan akar untuk menyerap hara agar dapat tumbuh dengan baik sehingga dalam tahap aklimatisasi ini diperlukan suatu media yang dapat mempermudah pertumbuhan akar dan dapat menyediakan hara yang cukup bagi tanaman (planlet) yang diaklimatisasi tersebut. Menurut sutiyoso (1986) media yang remah akan memudahkan pertumbuhan akar dan melancarkan aliran air, mudah mengikat air dan hara, tidak mengandung toksin atau racun, kandungan unsur haranya tinggi, tahan lapuk dalam waktu yang cukup lama. Media aklimatisasi bibit kultur jaringan krisan dan kentang di Indonesia saat ini adalah media arang sekam atau media campuran arang sekam dan pupuk kandang (Marzuki, 1999; Sinaga, 2001). Arang sekam merupakan salah satu media hidroponik yang baik karena memiliki beberapa keunggulan sebagai berikut; mampu menahan air dalam waktu yang relatif lama, termasuk media organik sehingga ramah lingkungan, lebih steril dari bakteri dan

jamur karena telah dibakar terlebih dahulu, dan hemat karena bisa digunakan hingga beberapa kali (Anonim, 2011). III. METODOLOGI 3.1. Tempat dan Waktu Praktikum aklimatisasi kultur jaringan ini dilaksanakan di kebun Yayasan Labiota, Malino Kab. Gowa, pada Hari Sabtu, 9 April 2011 pukul 04.00 sampai selesai. 3.2. Alat dan Bahan Alat yang digunakan dalam praktikum ini yaitu kotak plastik. Adapun bahan yang digunakan yaitu air bersih, bibit kentang yang sudah dikulturkan, air, sekam bakar, dan fungisida. 3.3. Prosedur Kerja Adapun prosedur kerja yang dilakukan dalam praktikum ini yaitu: a. Keluarkan planlet dari botol dengan hati-hati agar tidak putus dan pastikan bibit tersebut telah berakar, cuci bersih planlet dengan air yang sudah dimasak secara perlahan dan pastikan semua agar-agar sudah tidak ada pada akar planlet b. Rendam tunas mikro yang telah bersih dengan fungisida 1 g/L selama 10 menit, kemudian keringanginkan. d. Sekam bakar yang sudah steril dibasahi sampai jenuh dengan air steril, tanam planlet dengan jaraj yang tidak terlalu rapat guna mencagah bibit membusuk, e. Kemudian tutup setelah itu letakkan ditempat yang terkena cahaya matahari tidak terlalu banyak. Dan pindahkan secara bertahap ke tempat yang mendapat cahaya matahari yang cukup.