Anda di halaman 1dari 10

TUGAS MAKALAH MATA KULIAH KEWIRAUSAHAAN

PENDIDIKAN BERBASIS KEWIRAUSAHAAN


K E L O M P O K 5 KELAS 1D1 (SORE)
1. 2. 3. 4. ROBERTUS B DEWI UTAMI YAAMAN AGUS UTOMO 11402107 11402055

DOSEN PENGASUH : SINHAN, SE,MM

STIE INDONESIA SEKOLAH TINGGI ILMU EKONOMI INDONESIA PONTIANAK

KATA PENGANTAR

Segala Puji dan Syukur Kami Panjatkan ke Hadirat Tuhan Yang Maha Esa karena berkat limpahan Rahmat dan Karunia-Nya sehingga kami dapat menyusun dan menyelesaikan makalah ini tepat pada waktunya. Berikut ini, kami dari kelompok V mempersembahkan sebuah makalah (karya tulis) yang berjudul PENDIDIKAN BERBASIS KEWIRAUSAHAAN. Dalam penyusunan makalah ini, kami banyak mendapat tantangan dan hambatan akan tetapi dengan bantuan dari berbagai pihak tantangan itu bisa teratasi. Olehnya itu, kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan makalah ini, semoga bantuannya mendapat balasan yang setimpal dari Tuhan Yang Maha Esa. Kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan baik dari bentuk penyusunan maupun materinya. Kritik konstruktif dari pembaca sangat kami harapkan untuk penyempurnaan makalah selanjutnya. Akhir kata semoga makalah ini dapat memberikan manfaat kepada kita sekalian.

Pontianak, 9 April 2012 Penyusun

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ......................................................................................................... i DAFTAR ISI....................................................................................................................... ii PENDAHULUAN ...............................................................................................................1 PENGERTIAN PENDIDIKAN DAN KEWIRAUSAHAAN ...........................................2 MENGAGAS PENDIDIKAN BERBASIS WIRAUSAHA...............................................4 PENUTUP

Kesimpulan....................................................................................................10 Saran ......................................................................................................................10

DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................................11

Pendahuluan
Indonesia sebagai negara dengan anugerah sumber daya yang begitu melimpah ternyata belum mampu dikelola untuk menghasilkan kemakmuran yang adil dan merata bagi rakyat. Tingginya angka kemiskinan, pengangguran dan ketimpangan ekonomi merupakan masalah yang kian mendesak untuk segara diatasi. Daya saing bangsa merupakan indikator keberhasilan suatu bangsa yang maju. Indonesia saat ini tergolong negara yang daya saingnya sangat rendah, yaitu di urutan 108 dari 168 negara. Daya saing ini merupakan barometer dari minimnya entreprener di negeri yang berpenduduk sekitar 2000 juta. Daya saing bangsa atau daerah ditentukan terutama oleh daya saing sektor-sektor ekonomi, industri, perusahaan serta unit-unit kegiatan usaha yang efisien dari sektor strategis di negara tersebut. Menurut Michael Porter (1985, 1986, 1990), dan beberapa pakar lainya, suatu hal yang harus dimiliki oleh setiap perusahaan atau industri, untuk meningkatkan keunggulan kompetitifnya terutama dengan teknologi, kewirausahaan (entepreneurship), efisiensi atau produktivitas yang tinggi, proses produksi dengan skala ekonomis, differensiasi produk, modal dan prasarana serta sarana lainya yang cukup, jaringan distribusi di dalam dan di luar negeri yang luas serta diorganisasikan dan dikelola secara profesional, dan proses produksi dilakukan dengan sistem tepat waktu. Memiliki daya saing berupa keunggulan kompetitif, di era globalisasi dan perdagangan bebas menjadi sangat penting. Pemerintah, dunia usaha, dan perguruan tinggi merupakan lembaga yang paling strategis mengemban tugas meningkatkan daya saing bangsa. Peran dunia perguruan tinggi diharapkan mampu menjadi lokomotif perubahan ke arah daya saing global, ternyata belum sepenuhnya mampu menjawab tantangan perubahan itu sendiri. Saat ini dunia pendidikan khususnya Perguruan tinggi harus memberikan perhatian yang besar terhadap upaya membangun daya saing bangsa dengan menerapkan kurikulum berbasis wirausaha (entrepreneur curriculum) yang mampu menghasilkan lulusan pencipta lapangan kerja bukan sekedar lulusan pencari kerja. Masalahnya sekarang bagaimana mengubah mindset lama mengenai relevansi antara proses pendidikan di Pergururan Tinggi dengan kebutuhan pasar tenaga kerja, menjadi mindset baru mengenai kemampuan perguruan tinggi menghasilkan lulusan pencipta kerja. Oleh karena itu, sudah sangat mendesak pendidikan di Indonesia dilakukan penyesuaian kurkikulum berbasis wirausaha dalam rangka menghasilkan lulusan pencipta kerja melalui entrepreneurship.

PENGERTIAN PENDIDIKAN DAN KEWIRAUSAHAAN Esensi pendidikan yang dikemukakan oleh Jonh Dewey yang menyebutkan bahwa: Anak didik tidak hanya disiapkan agar siap bekerja, tapi juga bisa menjalani hidupnya secara nyata sampai mati. Anak didik haruslah berpikir dan pikirannya itu dapat berfungsi dalam hidup sehari-hari. Kebenaran adalah gagasan yang harus dapat berfungsi nyata dalam pengalaman praktis. John Dewey (1859 1952) dalam (Syohih, 2008). George F. Kneller juga menyebutkan bahwa pendidikan dapat dipandang dalam arti luas dan dalam arti teknis, atau dalam arti hasil dan dalam arti proses. Dalam artinya yang luas pendidikan menunjuk pada suatu tindakan atau pengalaman yang mempunyai pengaruh yang berhubungan dengan pertumbuhan atau perkembangan jiwa (mind), watak (character), atau kemampuan fisik (physical ability) individu. Pendidikan dalam artian ini berlangsung terus (seumur hidup). Kita sesungguhnya belajar dari pengalaman seluruh kehidupan kita (Kneller, 1967:63 dalam Siswoyo, 2007:18). Dalam arti teknis, pendidikan adalah proses dimana masyarakat, melalui lembaga-lembangan pendidikan (sekolah), dengan sengaja mentransformasikan warisan budayanya, yaitu pengetahuan, nilai-nilai dan keterampilanketerampilan dari generasi ke generasi (Siswoyo, 2007:19). Menurut Ki Hadjar Dewantara, yang dimaksud dengan pendidikan yaitu tuntunan di dalam hidup tumbuhnya anak-anak. Adapun maksudnya pendidikan yaitu, menuntut segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak itu, agar mereka sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat dapatlah mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya (Siswoyo, 2007:20). Sedangkan menurut Driyarkara, intisari atau eidos dan pendidikan ialah pemanusiaan manusia-muda. Pengangkatan manusia muda ke taraf insani, itulah yang menjelma dalam semua perbuatan mendidik, yang jumlah dan macamnya tak terhitung (Siswoyo,2007:20). Selanjutnya menurut UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara (UU No. 20 Tahun 2003). Dari uraian pengertian pendidikan seperti yang tercantum dalam Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional secara implisit terkandung nilai-nilai pendidikan bagi individu, masyarakat dan bangsa. Adapun nilai-nilai tersebut antara lain: 1. Membentuk pribadi yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, memiliki kepercayaan diri, disiplin dan tanggung jawab, mampu mengungkapkan dirinya melalui media yang ada, mampu melakukan hubungan manusiawi, dan menjadi warga negara yang baik. 2. Membentuk tenaga pembangunan yang ahli dan terampil serta dapat meningkatkan produktivitas, kualitas, dan efisiensi kerja. 3. Melestarikan nilai-nilai yang dijunjung tinggi oleh masyarakat, bangsa dan negara. 4. Mengembangkan nilai-nilai baru yang dipandang serasi oleh masyarakat dalam menghadapi tantangan ilmu, teknologi dan dunia modern. 5. Merupakan jembatan masa lampau kini dan masa depan.

PENGERTIAN KEWIRAUSAHAAN Kewirausahaan pada hakekatnya adalah sifat, ciri dan watak seseorang yang memiliki kemauan dalam mewujudkan gagasan inovatif ke dalam dunia nyata secara kreatif (Suryana, 2000). Istilah kewirausahaan berasal dari terjemahan Entrepreneurship, dapat diartikan sebagai the backbone of economy, yang adalah syaraf pusat perekonomian atau pengendali perekonomian suatu bangsa (Soeharto Wirakusumo, 1997:1). Secara epistimologi, kewirausahaan merupakan suatu nilai yang diperlukan untuk memulai suatu usaha atau suatu proses dalam mengerjakan sesuatu yang baru dan berbeda. Menurut Thomas W Zimmerer, kewirausahaan merupakan penerapan kreativitas dan keinovasian untuk memecahkan permasalahan dan upaya untuk memanfaatkan peluang yang dihadapi sehari-hari. Kewirausahaan merupakan gabungan dari kreativitas, keinovasian dan keberanian menghadapi resiko yang dilakukan dengan cara kerja keras untuk membentuk dan memelihara usaha baru. Dari beberapa pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa kewirausahaan adalah suatu kemampuan dalam berpikir kreatif dan berperilaku inovatif yang dijadikan dasar, sumber daya, tenaga penggerak, tujuan siasat, kiat dan proses dalam menghadapi tantangan hidup. Dahulu ada pendapat bahwa kewirausahaan merupakan bakat bawaan sejak lahir, bahwa entrepreneurship are born not made, sehingga kewirausahaan dipandang bukan hal yang penting untuk dipelajari dan diajarkan. Namun dalam perkembangannya, nyata bahwa kewirausahaan ternyata bukan hanya bakat bawaan sejak lahir, atau bersifat praktek lapangan saja. Kewirausahaan merupakan suatu disiplin ilmu yang perlu dipelajari. Kemampuan seseorang dalam berwirausaha, dapat dimatangkan melalui proses pendidikan. Seseorang yang menjadi wirausahawan adalah mereka yang mengenal potensi dirinya dan belajar mengembangkan potensinya untuk menangkap peluang serta mengorganisir usahanya dalam mewujudkan cita-citanya. Dan menurut Suryana, sejalan dengan tuntutan perubahan yang cepat pada paradigma pertumbuhan yang wajar dan perubahan ke arah globalisasi yang menuntut adanya keunggulan, pemerataan, dan persaingan, maka dewasa ini terjadi perubahan paradigma pendidikan. Pendidikan kewirausahaan telah diajarkan sebagai suatu disiplin ilmu tersendiri yang independen, yang menurut Soeharto Prawirokusumo adalah dikarenakan oleh: 1. Kewirausahaan berisi body of knowledge yang utuh dan nyata (distinctive), yaitu ada teori, konsep, dan metode ilmiah yang lengkap. 2. Kewirausahaan memiliki dua konsep, yaitu posisi venture start up dan venture growth. Hal ini jelas tidak masuk dalam frame work general management courses yang memisahkan antara management dengan business ownership. 3. Kewirausahaan merupakan disiplin ilmu yang memiliki objek tersendiri, yaitu kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang baru dan berbeda 4. Kewirausahaan merupakan alat untuk menciptakan pemerataan berusaha dan pemerataan pendapatan atau kesejahteraan rakyat yang adil dan makmur. Seperti halnya ilmu manajemen yang pada awalnya berkembang pada lapangan industri, kemudian berkembang dan diterapkan di berbagai lapangan lainnya, maka disiplin ilmu kewirausahaan dalam perkembangannya mengalami evolusi yang pesat, yaitu berkembang bukan pada dunia usaha semata, tetapi juga pada berbagai bidang, seperti bidang industri, perdagangan, pendidikan, kesehatan dan institusi-institusi lainnya.

MENGAGAS PENDIDIKAN BERBASIS WIRAUSAHA Tiap kali pemerintah membuka pendaftaran penerimaan calon pegawai negeri sipil (CPNS), pendaftarnya selalu membludak. Kendatipun masyarakat tahu dan sadar bahwa lowongan yang tersedia tidak selaras dengan ijazah yang mereka miliki, hal itu tak digubris. Niat mereka tak pernah surut untuk mengadu nasib guna meraih impian, yakni menjadi pegawai negeri yang serba gaji pasti. Menelisik hal di atas, kontribusi perguruan tinggi (PT) pada penciptaan pengangguran terbuka cukup signifikan. Pada tahun 2008, pengangguran dengan pendidikan terakhir PT mencapai 6.936.417 jiwa atau sekitar 7 persen dari total pengangguran (BPS 2010). Ketika ditelusuri lebih dalam, salah satu sebabnya ialah kurang mendukungnya kurikulum dan kultur pendidikan di PT itu sendiri. PT kurang memberikan ruang belajar bagi mahasiswa untuk praktek bekerja dan menciptakan pekerjaan. Dalam rangka meningkatkan kemampuan mahasiswa menciptakan pekerjaan pascakelulusannya dari PT, maka pendidikan keahlian dan kewirausahaan harus diberikan sejak mahasiswa menempuh pendidikan tingkat pertamanya. Hal ini merupakan tuntutan bagi PT sebagai mesin atau gudang pencipta tenaga siap kerja. Selama ini, banyak PT hanya berkonsentrasi pada pembekalan ilmu saja dan kurang menaruh perhatian pada pembekalan keahlian. PT umumnya hanya menciptakan sarjana dan diploma yang siap mencari kerja, dan bukan siap bekerja atau menciptakan pekerjaan sebagaimana yang diungkapkan Ir. Ciputra: Bangsa ini perlu melakukan lompatan kuantum untuk menanggulangi masalah pengangguran dan kemiskinan dengan menerapkan pendidikan kewirausahaan. Dengan demikian, di Indonesia akan lahir generasi pencipta kerja, bukan pencari kerja sehingga kemakmuran Indonesia yang kaya raya dengan sumber daya alamnya bisa terwujud. Minimnya kuliah yang mengedepankan praktek dalam kurikulum membuat mahasiswa gagap ketika berhadapan dengan masyarakat. Begitu juga ketika lulus sebagai sarjana pun mereka shock menghadapi dunia kerja yang menuntut mereka memiliki keahlian tertentu. Jarak antara tuntutan dunia kerja dan kondisi riil sarjana itulah yang harus dipersempit oleh PT dengan kurikulum yang dapat memberikan mereka bekal menghadapi dunia kerja. Indonesia termasuk negara yang tertinggal dalam penerapan pendidikan kewirausahaan dalam kurikulum PT. Kita baru menerapkannya pada tahun 1990-an, sedangkan Amerika Serikat (AS) sejak 1980-an telah memasukkan pendidikan kewirausahaan dalam kurikulum ratusan PT-nya. Hasilnya tentu dapat kita lihat hari ini di mana AS mampu mencetak ratusan wirausahawan muda dan unggul berkelas dunia.

Kampus perlu mengadakan perubahan paradigma bagi lulusannya. Mental mahasiswa harus 'dicerahkan' dengan paradigma wirausaha. Mental pegawai (karyawan) yang selama ini mendominasi pola pikir mahasiswa harus pelan-pelan diubah dengan kurikulum pendidikan kewirausahaan ini. Mengubah pola pikir ini memang bukan pekerjaan mudah dan cepat. Butuh waktu 5-10 tahun atau satu generasi untuk dapat merasakan hasilnya. Pola pikir kita yang selama ini masih ingin bekerja sebagai karyawan (dan bukan merekrut karyawan) adalah karena kita dididik dalam sistem pendidikan yang ingin mencetak karyawan. Pola pikir kita adalah warisan masa lalu, dan bila kita tetap tidak melakukan perubahan pada masa kini, maka pola pikir generasi mendatang akan tetap sama, bahkan bukan tidak mungkin akan lebih buruk dari pola pikir generasi sekarang. Pakar kewirausahaan Peter F. Drucker mengartikan kewirausahaan sebagai kemampuan dalam menciptakan sesuatu yang baru dan berbeda. Dalam pengertian ini, kewirausahaan terkait erat dengan kemampuan kreasi dan inovasi. Kemampuan wirausahawan adalah menciptakan sesuatu yang baru atau berbeda dari yang lain, atau mampu menciptakan sesuatu yang berbeda dengan yang sudah ada sebelumnya. Tujuan diajarkannya kewirausahaan adalah menanamkan semangat kreativitas dan jiwa inovasi dalam diri mahasiswa. Sarjana tidak boleh hanya menunggu kerja, tapi menciptakan kerja. Pendidikan kewirausahaan yang diberikan juga haruslah pendidikan yang memberikan impian dan semangat kewirausaan yang realistis. Tidak terlalu muluk-muluk yang jauh dari jangkauan daya pikir dan daya aksi mahasiswa. Kegagalan pendidikan kewirausahaan beberapa PT terletak pada aspek

keterjangkauannya. Jika kewirausahaan hanya diberikan dalam bentuk konsep, maka yang didapat mahasiswa adalah pemahaman pada makna, tujuan dan definisi wirausaha itu semata. Pendidikan kewirausahaan seharusnya dihadirkan dalam bentuknya yang paling sederhana sehingga mudah dipahami, diikuti dan dipraktekkan oleh mahasiswa. Kewirausahaan bukan konsep melangit. Ia haruslah berpijak pada ruang dan waktu mahasiswa. Menghadirkan wirausahawan yang ada di sekitar mahasiswa memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk mempelajari secara detail tentang latar belakang, tujuan, manfaat dan cara bekerja wirausahawan tersebut. Akhirnya, inti dari pendidikan kewirausahaan adalah penularan semangat dan pembagian pengalaman. Tentu terbilang mudah dipahami dan diserap jika usaha yang diulas adalah yang ada di sekitar lingkungan mahasiswa yang realistis dan masih dalam jangkauan mahasiswa untuk ditiru serta bisa dikembangkan.

PENUTUP

Kesimpulan
Menghadapi permasalah pengangguran saat ini, program pendidikan kewirausahaan baik melalui program pendidikan kecakapan hidup atau program pemberdayaan lainnya yang melibatkan masyarakat harus secara serius dilaksanakan oleh pemerintah atau pun lembaga mitra pemerintah seperti yayasan atau lembaga swadaya masyarakat. Program-program tersebut harus benar-benar berorientasi pada hasil belajar untuk menciptakan generasi wirausahawan. Tujuan seperti ini tentu tidak bisa dilakukan dengan model program yang banyak terjadi saat ini yang hanya berorientasi pada penguatan materi dan keterampilan, namun tanpa ada dukungan penguatan mental dan nilai-nilai dalam diri warga belajar. Oleh karena itu pendidikan berbasis nilai dalam program pendidikan non formal harus mulai dikembangkan baik saat ini maupun di masa yang akan datang, mengingat nilai-nilai tersebut saat ini sudah mulau terkikis oleh berkembangnya kemajuan teknologi dan akulturasi kebudayaan asing yang masuk ke negeri ini. Saran Kurikulum S-1 selama ini memberikan bobot lebih besar pada teori (>60%) dan praktek riil lapangan yang masih minim (<20%). Kurikulum ini harus direvisi sesuai dengan kebutuhan untuk menghasilkan lulusan yang mampu menciptakan peluang kerja dengan menerapkan teori dan praktek. Proyek pembuatan kurikulum berbasis entepreneur sudah amat mendesak dilaksananakan. Proyek ini harus dilaksnakan dengan memasukkan ruh-entepreneurship pada setiap mata kuliah. Caranya, setiap dosen pengampu harus memilah dan memilih materi (teori) yang paling relevan dengan tujuan setiap mata kuliah dan semaksimal mungkin memberikan bobot aplikasi dengan praktek dari kasus-kasu riil yang ada di lokasi sekitar (local context). Bila perlu games-games di lapangan dapat diberikan. Metode pengajaran, juga harus diubah dari pembelajaran kelas (class room) yang monoton menjadi pembelajaran yang aktraktif dan di lapangan (field study). Kurikulum yang dibuat harus mengacu kepada kebutuhan daya saing bangsa, serta visi dan misi universitas dalam menghasilkan lulusan. Oleh karena itu, universitas yang belum memiliki komitmen terhdap daya bangsa, perlu me-reorientasikan visi dan misinya. Perubahan visi dan misis diperlukan dalam rangka menghasilkan lulusan yang mampu meningkatkan daya saing bangsa, yaitu lulusan-lulusan yang bukan sekedar mencari kerja tetapi lulusan yang juga mampu menciptakan peluang kerja. Memang tidak semua bidang ilmu saat inji dapat diaplikasikan di dunia nyata apalagi dunia bisnis, maka tantangan dalam proyek ini adalah mendesain kurikulum yang berbasis entepreneurship. Kurikulum berbasis kewirausahaan merupakan kurikulum kunci yang akan menjadi ukuran keberhasilan perguruan tinggi menciptakan lulusan yang berdaya saing tinggi di pasar kerja. Melalui kurikulum ini diharapkan lulusan mampu secara mandiri menciptakan lapangan kerja. Kurikulum baru atau revisi kurikulum yang lama harus melibatkan berbagai pihak, sehingga memperlancar proses verifikasi dan evaluasi dari stakeholders, yaitu alumni, dunia usaha, pemerintah dan civitas akademika.

Daftar Pustaka Elmubarok, Z. (2008). Membumikan Pendidikan Nilai, Mengumpulkan yang Terserak, menyambung yang Terputus dan Menyatukan yang Tercerai. Editor: Dudung R.H. Bandung: Alfabeta. Kneller, G.F. (1971). Introduction to The Philosophy of Education, Second ed. New York: John Wiley & Sons, Inc. Maryadi. (2005). Pemberdayaan Potensi Masyarakat Melalui Pendidikan Kecakapan Hidup. Diklus: Jurnal Pendidikan Luar Sekolah, Edisi 6, Th X, September 2005. Jurusan Pendidikan Luar Sekolah, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Yogyakarta. Muhaimin dan Mujib, A. (1993). Pemikiran Pendidikan Islam. Bandung: Trigenda Karya. Tim Redaksi Fokusmedia. (2003). Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional (No. 20 Tahun 2003). Bandung: Fokusmedia. Sadulloh, U. (2007). Pengantar Filsafat Pendidikan. Bandung: Alfabeta. Santoso, S. (2007). Nilai-nilai Pendidikan Islam dalam Qashidah Risalah ilaa Shadiq Karya Muhyiddin Zayith. Abstrak Online. Tersedia di [http://karyailmiah.um.ac.id/index.php/sastra-arab/article/view/422]. Siswoyo, D. Dkk. (2007). Ilmu Pendidikan. Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Yogyakarta. Yogyakarta: UNY Press. Sihombing, U. (2001). Pendidikan Luar Sekolah: masalah, tantangan dan peluang. Jakarta: Wirakarsa. Suherman. A. (2008). Pengembangan Model Pembelajaran Kuantum Pendidikan Jasmani Berbasis Kompetensi di Sekolah Dasar. Mimbar Pendidikan, Jurnal Kependidikan ISSN 0126-2025, Vol. XXXII No. 4 Tahun 2008, Pendidikan yang Kontekstual: Pengalaman Indonesia. Bandung: Universitas Pendidikan Indonesia (UPI Press). Syohih, U. (2008). Lingkungan dan Pendidikan Indonesia. [online] tersedia di [http://nerriunindra-bio2a.blogspot.com/2008/07/nilai-nilai-pendidikan-di-indonesia.html,]