Anda di halaman 1dari 16

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Komunikasi antar pribadi sebagai sarana untuk membantu konseli untuk dapat memahami dirinya dengan lebih baik, mengubah pandangannya dan sikapnya, menstimulir perkembangan kepribadiannya, dan mengembangkan kemampuannya menghadapi berbagai permasalahan hidup secara konstruktif. Proses konseling adalah proses konseling dengan orang yang normal yang mengahadapi rintangan-rintangan dan kesukaran-kesekuran seperti yang dialami oleh kebanyakan orang. Untuk itu proses konseling tidak membutuhkan waktu yang lama karena konseli pada dasarnya termasuk orang yang berkepribadian sehat. Layanan konseling dapat terlaksana jika terjadi interaksi pribadi yang saling percaya. Proses untuk saling meyakinkan dan mempercayai harus dilakukan melalui komunikasi antarpribadi yang bercorak membantu dan dibantu (helping relationship). Proses konseling dikatakan efektif, apabila konselor dapat menggunakan seperangkat Keterampilan Konseling terkait dengan aspek pendengaran yang meliputi pesan verbal (konten kognitif dan afektif), memahami pesan nonverbal atau bahasa tubuh (konten afektif dan perilaku), dan merespon secara verbal dan nonverbal untuk kedua jenis pesan itu. Untuk memastikan bahwa Keterampilan Konseling menjadi bagian integral dari teknik yang membantu konseli, maka konselor harus sering berlatih diri (self training). Beberapa ahli antropologi percaya bahwa lebih dari dua pertiga setiap komunikasi disampaikan pada tingkat nonverbal atau bahasa tubuh. Konselor harus dapat menafsirkan pola-pola gerak tubuh, postur, ekspresi wajah, hubungan spasial, penampilan pribadi, dan karakteristik budaya. Jadi konselor, sebagai Helper, harus berusaha mengembangkan kesadaran nonverbal yang

dimanifestasikan dalam berbagai arti.

Komunikasi efektif akan mampu menimbulkan arus komunikasi dua arah (feedback). Ada dua jenis komunikasi yang digunakan dalam proses pembelajaran. Yaitu komunikasi verbal dan nonverbal. Namun komunikasi nonverbal cenderung sering diabaikan. Dianggap perannya tidak efektif. Padahal komunikasi nonverbal justru dapat menghidupkan suasana dalam proses konseling. Jadi konselor harus mampu memanfaatkan bahasa tubuh konseling dalam proses konseling. 1.2 Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang di atas maka rumusan masalahnya adalah sebagai berikut: 1. Apa pengertian sikap tubuh yang efektif dalam komunikasi? 2. Apa saja fungsi sikap tubuh yang efektif dan fungsi perilaku sikap tubuh dalam komunikasi? 3. Seberapa Pentingnya bahasa tubuh untuk dipahami oleh konselor? 4. Bagaimana cara memanfaakan sikap tubuh yang efektif?

1.3 Tujuan Penulisan Adapun tujuan dari penulisan ini adalah sebagai berikut : 1. Untuk dapat Mengetahui dan memahami pengertian sikap tubuh yang efektif dalam komunikasi 2. Untuk dapat Mengetahui dan memhami fungsi sikap tubuh yang efektif dan fungsi perilaku sikap tubuh dalam komunikasi 3. Untuk dapat Mengetahui Pentingnya bahasa tubuh untuk dipahami oleh konselor 4. Untuk dapat Mengetahui dan Memahami manfaat sikap tubuh yang efektif

BAB II PEMBAHASAN

2.1

PENGERTIAN SIKAP TUBUH YANG EFEKTIF DALAM

KOMUNIKASI Tanda-tanda komunikasi nonverbal belumlah dapat diidentifikasi

seluruhnya tapi hasil penelitian menunjukan bahwa cara kita duduk, berdiri, berjalan, berpakaian, semuanya itu menyampaikan informasi pada orang lain. Tiap-tiap gerakan yang kita buat dapat menyatakan asal kita, sikap kita, kesehatan atau bahkan keadaan psikologis kita. Misalnya gerakan-gerakan seperti mengerutkan alis, menggigit bibir, menunjuk dengan jari, tangan dipinggang, melipat tangan bersilang di dada semuanya mengandung arti tertentu. Ada pribahasa mengatakan apa yang kamu katakan dengan keras tidak dapat didengar orang, tetapi tanda-tanda diam seperti menggunakan kepala, rasa kasih sayang, kebaikan, rasa persaudaraan, didengar oleh orang lain dan merupakan pesan yang nyata dan jelas. Jadi, Komunikasi non verbal ( non verbal communication) yang efektif adalah proses penciptaan dan pertukaran pesan (komunikasi) dengan tidak menggunakan kata-kata, namun dengan gerakan tubuh, ekspresi wajah, vokal, sentuhan, dan lain sebagainya. Banyak komunikasi verbal tidak efektif hanya karena komunikatornya tidak menggunakan komunikasi non verbal dengan baik dalam waktu bersamaan. Melalui komunikasi non verbal, orang bisa mengambil suatu kesimpulan mengenai suatu kesimpulan tentang berbagai macam persaan orang, baik rasa senang, benci, cinta, kangen dan berbagai macam perasaan lainnya. Kaitannya dengan dunia bisnis, komunikasi non verbal bisa membantu komunikator untuk lebih memperkuat pesan yang disampaikan sekaligus memahami reaksi komunikan saat menerima pesan.

2.2

FUNGSI SIKAP TUBUH (NONVERBAL) YANG EFEKTIF DAN

FUNGSI PERILAKU SIKAP TUBUH (NONVERBAL) DALAM KOMUNIKASI 2.2.1. FUNGSI SIKAP TUBUH (NONVERBAL) YANG EFEKTIF Meskipun komunikasi verbal dan nonverbal berbeda dalam banyak hal namun kedua bentuk komunikasi itu seringkali bekerja sama. Atau dengan kata lain komunikasi nonverbal ini mempunyai fungsi tertentu dalam proses komunikasi verbal. Mark L. Knapp (dalam Jalaludin, 1994), menyebut fungsi komunikasi nonverbal yang dihubungkan dengan pesan verbal yaitu: 1. Pengulangan (Repitisi) Repetisi, yaitu mengulang kembali gagasan yang sudah disajikan secara verbal. Misalnya setelah mengatakan penolakan saya, saya menggelengkan kepala. Pengulangan-pengulangan yang demikian umum terdapat pada bidang olahraga. Misalnya bila wasit dalam suatu pertandingan bola volly mengatakan bola pindah tempat maka diikuti dengan mengacungkan tangannya kearah mana bola seharusnya dan banyak lagi tingkah laku nonverbal lainnya. Dalam kehidupan sehari-hari tingkah laku nonverbal seperti ini juga banyak kita jumpai. 2. Pelengkap (Komplemen) Komplemen, yaitu melengkapi dan memperkaya makna pesan nonverbal. Misalnya, air muka anda menunjukkan tingkat penderitaan yang tidak terungkap dengan kata-kata. Tanda-tanda nonverbal dapat digunakan untuk melengkapi, menguraikan atau memberikan penekanan terhadap pesan verbal. Fungsi ini lebih terkenal dengan pelengkap. Misalnya, seorang siswa pada waktu pagi masuk sekolah mengucapkan selamat pagi pada temannya yang sudah lebih dulu datang diiringi senyuman yang hangat sambil memandang kepada teman-temannya. Senyuman

dan kontak mata berfungsi sebagai pelengkap ucapan selamat pagi yang akan mempermudah interpretasi dari pesan tersebut 3. Pengganti (Substitusi) Substitusi, yaitu menggantikan lambang-lambang verbal. Misalnya tanpa sepatah katapun kita berkata, kita menunjukkan persetujuan dengan menganggukanggukkan kepala. Misalnya seorang pengatur jalur kapal terbang dipelabuhan udara, menggunakan tanda-tanda dengan tangannya untuk memberi isyarat kearah mana seharusnya kapal terbang tersebut parkir. Hal ini dilakukan karena tidak mungkin menggunakan kata-kata yang disebabkan kerasnya bunyi kapal terbang. Contoh lain, di sekolah seorang teman bertanya kepada temannya dimana letak sesuatu barang. Temannya yang tidak tahu tentang hal itu hanya menggelengkan kepalanya sebagai pengganti jawaban verbal tidak tahu. 4. Memberikan Penekanan (Kontradiksi) Kontradiksi, menolak pesan verbal atau memberi makna yang lain terhadap pesan verbal. Misalnya anda memuji prestasi teman dengan mencibirkan bibir, seraya berkata Hebat, kau memang hebat. Kadang-kadang kita menggunakan tanda-tanda nonverbal untuk memberikan penekanan terhadap kata-kata yang diucapkan. Memberikan penekanan pada katakata tertentu dengan suara yang agak lebih keras atau dengan nada suara yang agak tinggi adalah contoh pemberian penekanan secara nonverbal. Gerakan kepala dan nada suara adalah bentuk yang umum digunakan dalam memberikan penekanan secara nonverbal yang memberikan kejelasan kepada orang lain. Gerakan kepala dan perubahan suara hendaklah secara wajar dan mengalir secara halus dalam penyampaian pesan verbal. 5. Aksentuasi Aksentuasi, yaitu menegaskan pesan verbal atau menggarisbawahinya. Misalnya, anda mengungkapkan betapa jengkelnya anda dengan memukul meja.

6.

Memperdayakan Kadang-kadang tanda-tanda nonverbal sengaja diciptakan untuk memberikan

informasi yang salah, dengan maksud memberikan pengarahan yang tidak benar atau untuk memperdayakan orang lain sehingga orang mungkin salah dalam menafsirkan pesan tersebut. Diantara bentuk yang paling umum dari tingkah laku nonverbal yang memperdayakan adalah Poker face (Wajah yang tidak menunjukkan perasaan). Pada waktu main kartu kita berusaha kelihatan setenang mungkin, walaupun sesungguhnya kita sudah bingung, kita sering membuat kejutan, atau bergembira pada saat kartu kita kurang baik sehingga teman susah menebak bagaimana kartu kita sebenarnya. Dalam contoh lain misalnya kita akan berusaha mengelola tingkah laku nonverbal kita pada saat berpidato di depan umum atau pada saat mengikuti interview untuk mendapatkan pekerjaan, walaupun dalam diri kita pada saat-saat tersebut tidak tenang kita berusaha sedapat mungkin kelihatan tenang atau tidak memperlihatkan perasaan kita yang sesungguhnya pada orang lain. Orang juga sering menyatakan secara bersamaan pesan yang bertentangan antara tingkah laku verbal dan nonverbal. Misalnya, kita semua mungkin sudah pernah melihat seseorang yang dengan muka merah sambil mengepalkan tangannya, lalu bila ditanya apakah dia sedang marah maka dia jawab saya tidak marah. Hal ini adalah pesan yang bertentangan. Biasanya dalam situasi yang bertentangan tersebut orang akan lebih cenderung menafsirkan pesan itu dari tingkah laku nonverbal. Sebab tingkah laku nonverbal merupakan refleksi dari perasaan seseorang.

2.2.2. FUNGSI PERILAKU SIKAP TUBUH (NONVERBAL) DALAM KOMUNIKASI Dalam hubungannya dengan perilaku verbal, perilaku nonverbal mempunyai fungsi fungsi sebagai berikut :

1. Perilaku nonverbal dapat mengulangi perilaku verbal, misalnya anda menganggukkan kepala ketika anda mengatakan ya, atau menggelengkan kepala saat mengatakan tidak. 2. Memperteguh, menekankan atau melengkapi prilaku verbal. Misalnya anda melambaikan tangan seraya mengucapkan selamat jalan, sampai jumpa lagi, ya, atau bye bye : atau anda menggunakan gerakan tangan, nada suara yang meninggi, atau suara yang lambat ketika anda berpidato dihadapan khalayak. 3. Perilaku nonverbal dapat menggantikan perilaku verbal, jadi berdiri sendiri, misalnya anda menggoyangkan tangan anda dengan telapak tangan mengarah kedepan (sebagai pengganti kata tidak) ketika seorang pengamen mendatangi mobil anda menunjukkan letak ruang dekan dengan atau anda atau anda jari tangan, tanpa

mengucapkan sepatah kata pun, kepada seorang mahasiswa baru yang bertanya, dimana ruang dekan, pak? 4. Perilaku nonverbal dapat meregulasi perilaku verbal. Misalnya anda sebagai mahasiswa mengenakan jaket atau membereskan buku buku, atau melihat jam tangan anda menjelang atau ketika kuliah berakhir, sehingga dosen segera menutup kuliahnya. 5. Perilaku nonverbal dapat membantah atau bertentangan dengan perilku verbal. Misalnya seorang suami mengataka Bagus! Bagus! ketika dimintai komentar oleh istrinya mengenai gaun yang baru dibelinya, seraya terus membaca surat kabar atau menonton televisi, atau atau seorang dosen melihat jam tangan dua tiga kali, padahal ia tadi mengatakan bahwa ia mempunyai waktu untuk berbicara dengan anda sebagai mahasiswanya.

2.3 PENTINGNYA KONSELOR

BAHASA

TUBUH

UNTUK

DIPAHAMI

OLEH

Konselor perlu memahami bahasa tubuh klien selama proses konseling berlangsung karena: 1. Bahasa tubuh merupakan suatu alat komunikasi yang tidak kalah pentingnya dengan komunikasi yang berbentuk kalimat/ verbal.Bahasa tubuh merupakan alat komunikasi yang paling awal digunakan manusia sewaktu manusia belum mampu menggunakan bahasa verbal, pada bayi dapat kita amati hal itu.

2. Kecuali lewat bahasa verbal klien juga mengkomunikasi apa yang dirasakannya lewat bahasa tubuh, ini disebabakan ada hal hal tartentu yang tidak dapat disampaikan klien / konseli lewat bahasa verbal. 3. Sering terjadi pada awal awal, konseling klien belum mampu bersikap terbuka dan terus terang pada konselor, sehingga komunikasi yang dinampakannya lewat bahasa tubuh. 4. Ada hal hal tertentu, terutama yang bersikap enosional serta pengalaman yang menyakitkan yang membuat luka yang bersifat traumatis tidak mampu dikomunikasikan oleh klien lewat bahasa verbal, karena hal itulah konselor sebaiknya berusaha untuk memahami bahasa tubuh klien agar proses konseling berhasil membantu kl;ien. 5. Bahasa Tubuh bersifat lebih jujur dibandingkan dengan bahasa verbal. Karena alasan tertentu atau perasaan malu dalam bahasa verbal klien dapat ber pura pura serta berbohong dalam menyampaikan informasi, tetapi lewat bahasa tubuh apa yang dinampakan oleh klien pada umumnya adalah jujur sesuia dengan apa yang dipikirkann dan dirasakannya. 6. Banyak hal yang tidak dapat tersampaikan lewat bahasa verbal maka akan dikomunikasikan lewat bahasa tubuh, demikian pula yang ajan dilakukan klien selama proses konseling,mungkin ada hal hal tertentu yang disampaikan lewat bahasa tubuh, oleh karena itu konselor perlu memahami bahasa tubuh klien.

2.4 MEMANFAATKAN SIKAP TUBUH YANG EFEKTIF Sikap tubuh yang efektif dalam proses konseling yaitu : 1. Mata Mata dikenal sebagai jendela hati. Oleh karena lewat mata orang dapat dikenal perasaan- perasaannya. Ada gerak mata yang mudah ditafsirkan. Misalnya, mata tiba-tiba membelalak merupakan tanda terkejut, mengangkat kedua kelopak mata ke atas merupakan tanda heram, mata kerap berkedip merupakan tanda bingung. Pandangan antara orang pada waktu berbicara dengan kita juga merupakan bentuk bahasa mata sendiri. Orang yang takut tidak memandang langsung mata kita. Sedangkan orang yang merasa aman dengan kita tidak ada kesulitan untuk menatap pandangannya dengan pandangan kita. Oleh karena itu kepekaan dan kecakapan kita untuk menangkap gerak mata, dapat membantu kita menyesuaikan pembicaraan kita dengan keadaan dan kebutuhan orang. Kontak mata yang baik berlangsung dengan melihat klien pada waktu dia berbicara kepada anda dan sebaliknya. Kontak mata harus dipertahankan atau dipelihara dengan menggunakan pandangan spontan yang mengekspresikan minatdan keinginan mendengarkan serta merasa merespon komunikan Kontak mata yang jelek mencakup : (a) Tidak pernah melihat kepada komunikan\ (b) Menatap komunikan secara konstan dan tidak member kesempatan komunikan untuk membalastatapannya. (c) Mengalihkan pandangan dari komunikan segera sesudah komunikan melihat kepada anda (komunikator) 2. Wajah Wajah merupakan satu satu petunjukyang paling jelas mengenai sikap, emosi dan perasaan seseorang. Tidak jarang raut wajah melawan emosi dan keadaan batin. Dengan kecakapan membaca raut wajah, sikap seseorang terhadap kita dapat ditafsirkan. Kecakapan membaca raut wajah itu tentu kita sesuaikan dengan aorang-orang yang kita hadapai. Ada orang yang dari wataknya, amat mudah

terbaca isi hatinya lewat pengamatan atau raut wajahnya. Ada orang yang pandai main sandiwara lewat pengamatan atau raut wajahnya. Ada orang yang pandai main sandiwara dan menyesuaikan raut wajah sesuai dengan tanggapan yang diharapkan dari orang yang dihadapi. Ada lagi orang yang sengaja membuat wajahnya menjadi wajah topeng dan tidak mau menampakkan isi hatinya lewat raut wajahnya. 3. Tangan Sejumlah sikap dan emosi dapat dinyatakan orang lewat penggunaan tangan. Menyangga sebelah pipi dengan telapak tangan dapat menunjukkan bahwa orang itu berpikir. Menahan wajah dengan kedua tangan dapat berarti bahwa orang sedang prihatin atau mempunyai masalah yang sedang dipikirkan. Kepekaan dan kecakapan kita menangkap gerak tangan dan mengartikannya, membantu kita untuk menangkap arti lebih yang ingin disampaikan orang kepada kita pada waktu kita berbicara dengannya. 4. Lengan dan kaki Pada umumnya dapat dikatakan bahwa lengan tersilang di depan merupakan tand sikap membela diri, menjaga dan melindungi diri dari melawan serangan atas sikap, kata atau tindakan yang diperkirakan akan muncul. Sedang lengan terbuka dan terbentang bagi kita merupakan pertanda keterbukaan dan penerimaan atas diri kita. Pada umumnya letak kaki yang resmi, mengikuti adat, menunjukkan sikap formal. Letak kaki yang leluasa menunjukkansikap leluasa. Kaki-kaki yang tegang, entah rapat atau bersilang, menandakan sikap tegang atau tidak setuju akan suasana yang ada atau ucapan dan sikap orang lain. 5. Gerakan kepala Di beberapa negara anggukan kepala malah berarti tidak, seperti di Bulgaria, sementara isyarat untuk ya di negara itu adalah menggelengkan kepala. Gelengan kepala yang berarti tidak di Indonesia malah berarti ya di India Selatan. Sebagian orang Arab dan Italia mengatakan tidak dengan mengangkat dagu, yang bagi orang Maori Di Selandia Baru berarti ya. Seorang pria

10

Indonesia yang meninggalkan Bombay untuk kembali ke Indonesia pernah terheran-heran ketika kuli yang membawakan barangnya dari taksi menuju ruang tunggu bandara, menggeleng-gelengkankan kepalanya seraya tetap berdiri dan tersenyum, setelah ia membayar jasanya dua Dolar AS. Ia pikir upah yang ia berikan kurang. Maka ia menambahkannya 0,50 Dolar. Namun kuli itu tetap saja bersikap demikian, bahkan senyumannya melebar. Karena jengkel, ia tinggalkan juga kuli itu. Ternyata, berdasarkan obrolan dengan warga Bombay, menggelenggelengkan kepala di sana berarti tanda setuju dan terimakasih atas pemberian upah tersebut, jadi artinya sama dengan mengangguk-anggukkan kepala di Indonesia. 6. Sikap Tubuh Sikap tubuh juga merupakan satu tanda nonverbal dalam komunikasi. Perhatikanlah orang yang ada dekat kita bagaimana posisi dia berdiri atau duduk dalam berbicara. Dari hasil pengamatan sepintas tersebut akan diperoleh kesan ada orang yang santai saja duduknya atau berdirinya ketika berbicara dan ada pula yang kaku dan agak tegang. Pesan yang disampaikan dengan sikap tubuh sebenarnya tidak dapat kita amati tetapi menurut ahli psikologi sikap tubuh merupakan kunci perasaan rilek dan tegang. Kita akan mengambil sikap tubuh rilek dalam situasi yang tidak ada ancaman dan bebas dari ancaman. Berdasarkan observasi dapat diketahui bagaimana perasaan orang lain dengan mudah, dengan memperhatikan sikap orang apakah kelihatan rilek atau tegang. Perhatikanlah misalnya dua orang yang mempunyai status yang berbeda. Orang yang mempunyai status yang lebih rendah umumnya lebih kaku, kelihatan agak tegang dibandingkan dengan orang yang statusnya lebih tinggi yang kelihatannya lebih rilek. Situasi yang begini sering terjadi dalam proses belajar mengajar pada waktu guru berkomunikasi dengan siswanya. Kita lihat pada saat komunikasi tersebut siswa duduk lurus menghadap gurunya sedangkan guru seenaknya bersandar pada kursinya. Hasil penelitian dari Knapp (1978) menunjukkan bahwa sikap tubuh memberikan informasi tentang sikap, status, emosi dan kehangatan. Menurut Mehrabian orang akan bersikap lebih rilek bila berkomunikasi dengan orang yang

11

lebih rendah statusnya, Misalnya teman sebaya. Tetapi orang akan kurang rilek bila berhadapan dengan orang yang mempunyai status yang lebih tinggi, atau laki laki yang tidak disukainya. Hasil penelitian Ramland (1981) menunjukkan bahwa bila guru dan siswa berkomunikasi bertatap muka, hakekat hubungan yang tidak sama akan kelihatan dari tanda tanda nonverbal yang mereka perlihatkan dalam cara cara berkomunikasi. Misalnya guru memiliki status lebih tinggi akan kelihatan lebih rilek dan kurang perhatian daripada siswa yang lebih rendah statusnya. Guru tersebut mungkin saja duduk bersandar di kursinya memandang keseluruh ruangan sambil mendengarkan pembicaraan siswanya. Tidak adanya respon

kepala dan muka, merepleksikan kurangnya keterlibatan dan perhatian dalam komunikasi. Pesan yang disampaikan oleh sikap guru tersebut adalah bahwa badannya lebih penting daripada siswanya. Sedangkan sebaliknya, kita lihat siswa pada saat berkomunikasi tersebut duduk baik dan menghadap lurus lurus kepada gurunya menyampaikan pesan yang akan disampaikanya dengan penuh perhatian. Jadi dengan melihat sikap tubuh orang pada saat berkomunikasi kita dapat memperoleh gambaran mengenai perasaan yang melatarbelakangi orang tersebut. 7. Ekspresi muka Ekspresi muka dapat merupakan sumber informasi yang menggambarkan keadaan emosional seseorang seperti perasaan takut, marah, jijik, muak, sedih, gembira, dan minat. Ada peribahasa mengatakan bahwa perasaan kita tertulis semuanya pada muka. Atau dengan kata lain orang akan mengetahui perasaan kita dengan melihat ekspresi muka kita. 8. Sikap tubuh pada waktu duduk dan berjalan Sikap pada waktu duduk dan berjalan yang berbeda menunjukkan keadaan hati dan perasaan yang berbeda pula, seperti tenang gelisah, sabar-tidak sabar, akrab-bermusuhan, menguasai-mengalah, tunduk-melawan. Semua itu dinyatakan dengan cara duduk dan cara berjalan tertentu, sesuai dengan kebiasaan dan kebudayaan masing-masing. Maka kita perlu mempelajari kebiasaan-kebiasaan sikap pada waktu duduk agar mengenal dan mampu berkomunikasi dengan dia dengan baik.

12

Posisi badan yang baik mencakup : Duduk dengan badan menghadap kepada orang lain Tangan di atas pangkutan atau berpegangan bebas atau kadangkadang digunakan untuk menunjukkan gerak isyarat yang sedang dikomunikasikan secara verbal. Responsive dengan menggunakan bagian wajah, umpannya senyum spontan atau anggukkan kepala persetujuan atau

pemahaman atau kerutan dahi tanda tidak mengerti. Badan tegak lurus tanpa kaku dan sekali-kali condong kea rah klien untuk menunjukkan kebersamaan (with-ness) dengan dia.

Posisi badan yang jelek mencakup : Duduk dengan badan dan kepala tidak menghadap orang lain (klien) Membungkuk Duduk dengan tangan sangat terpaku dalan arti posisinya kaku tanpa gerak Gelisah atau tidak tenang (resah) Asyik dengan tangan, kertas, dan kaku tangan Sama sekali tanpa gerak isyarat pada tangan Memukul-mukul dan menggerakkan terus-menerus tangan dan lengan Tanpa ekpresi wajah (wajah tidak menunjukkan perasaan ) terlalu banyak tersenyum, kerutan dahi atau anggukkan kepala yang tidak tepat 9. Sentuhan Studi tentang sentuh-menyentuh disebut haptika (haptics). Banyak riset menunjukan bahwa orang berstatus lebih tinggi lebih sering menyentuh orang berstatus lebih rendah dari pada sebaliknya. Jadi sentuhan juga berarti kekuasaan. Seperti seorang dosen menyentuh mahasiswa, direktur menyentuh

13

sekretaris, kiai menyentuh anggota jamaah, orang tua menyentuh anak, Pria lebih sering menyentuh wanita dari pada sebaliknya, baik di tempat kerja maupun dalam interaksi sosial umumnya. Sentuhan mungkin jauh lebih bermakna dari pada kata-kata. Ketika anda sebagai bos menepuk pundak pegawai anda yang seorang anggota keluarganya baru meninggal, tepukan itu lebih efektif dari pada sekadar kata-kata, Saya turut berduka cita atas musibah yang saudara alami. Pada umumnya orang Amerika Utara, Eropa Utara,dan Australia adalah antisentuhan (terhadap sesama jenis), kecuali tentu saja dalam situasi-situasi khusus, misalnya saat berjabatan tangan ketika berkenalan. Kalau anda baik sebagai pria atau wanita ingin sok akrab dengan menyentuh sesama jenis yang berbudaya Barat, anda akan dianggap seorang homoseks atau lesbian, Sebaliknya, di Indonesia tidak jarang seorang lelaki merangkul bahu lelaki lainnya, tanpa merasa khawatir dianggap homoseks, sementara sepasang orang berlainan jenis dianggap kurang sopan bila mereka berangkulan di muka umum. Seperti orang-orang Tibet konon menggesek-gesekkan hidung sebagai salaman dengan orang yang mereka temui. Mirip dengan itu orang-orang Maori di Selandia Baru melakukan hongis, yakni mempertemukan kening dan hidung dengan tamunya ketika mereka bertemu. Cara orang mengekspresikan rasa senang atau keakraban dan untuk mengakui kehadiran orang lain, ternyata juga berlainan dari budaya ke budaya, meskipun yang paling lazim mungkin adalah berjabat tangan.

14

BAB III PENUTUP 3.1 Kesimpulan Dalam pembahasan materi ini, dapat disimpulkan bahwa banyak interaksi dan komunikasi yang terjadi dalam masyarakat yang berwujud nonverbal. Komunikasi nonverbal ialah Komunikasi non verbal ( non verbal communication) yang efektif adalah proses penciptaan dan pertukaran pesan (komunikasi) dengan tidak menggunakan kata-kata, namun dengan gerakan tubuh, ekspresi wajah, vokal, sentuhan, dan lain sebagainya. Mark L. Knapp (dalam Jalaludin, 1994), menyebut fungsi komunikasi nonverbal yang dihubungkan dengan pesan verbal yaitu: Pengulangan (Repitisi),Pelengkap (Komplemen),Pengganti (Substitusi), Memberikan

Penekanan (Kontradiksi),Aksentuasi,memperdayakan. Dalam hubungannya dengan perilaku verbal, perilaku nonverbal mempunyai fungsi fungsi sebagai berikut: Perilaku nonverbal dapat mengulangi perilaku verbal, Memperteguh, menekankan atau melengkapi prilaku verbal, Perilaku nonverbal dapat menggantikan perilaku verbal, Perilaku nonverbal dapat meregulasi perilaku verbal, Perilaku nonverbal dapat membantah atau bertentangan dengan perilku verbal. Konselor perlu memahami bahasa tubuh klien selama proses konseling berlangsung karena: 1. Bahasa tubuh merupakan suatu alat komunikasi yang tidak kalah pentingnya dengan komunikasi yang berbentuk kalimat/ verbal 2. Kecuali lewat bahasa verbal klien juga mengkomunikasi apa yang dirasakannya lewat bahasa tubuh, ini disebabakan ada hal hal tartentu yang tidak dapat disampaikan klien / konseli lewat bahasa verbal. 3. Sering terjadi pada awal awal, konseling klien belum mampu bersikap terbuka dan terus terang pada konselor, sehingga komunikasi yang dinampakannya lewat bahasa tubuh.

15

Ada beberapa Sikap tubuh dalam proses konseling yaitu : Mata, Wajah, Tangan, Lengan dan kaki, Gerakan kepala, Sikap Tubuh, Ekspresi muka, Sikap tubuh pada waktu duduk dan berjalan, Sentuhan.

16