Anda di halaman 1dari 6

Pemeriksaan Toxoplasmosis dengan Metoda ELISA

Pengertian Toxoplasmosis Toksoplasmosis adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh protozoa obligat intraseluler yaitu Toksoplasma gondii. Penyakit ini mempunyai gejala klinik dengan manifestasi yang sangat bervariasi bahkan pada banyak pasien tidak menimbulkan gejala. Pada pasien termasuk bayi dan pasien dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah, toksoplasmosis dapat mengancam jiwa. Pada bagian obstetri dan gynekologi, toksoplasmosis penting karena dapat menyebabkan penyakit pada ibu yang tidak diketahui penyebabnya dan sangat potensial menyebabkan infeksi bayi dalam kandungan yang dapat menyebabkan keguguran, kematian bayi dalam kandungan, dan kecacatan pada bayi. Macam-macam penyakit cacat akibat infeksi toxoplasmosis antara lain : 1. Hidrochepalus : kepala besar akibat penyumbatan saluran cairan otak 2. Retinokoroiditis : radang pada lapisan koroid dan retina mata 3. Kalsifikasi intrakranial : pengapuran jaringan otak 4. Jika disertai kelainan psikomotorik dikenal dengan sebutan tetrade sabin 5. Jika usia kandungan masih muda dapat mengakibatkan abortus Etiologi Siklus hidup dari Toxoplasma gondii pertama kali dikemukakan pada tahun 1970 dan sebagai inang definitif ( penjamu ) adalah kelompok familia Felidae termasuk kucingkucing yang sudah terdomestikasi. Hewan berdarah panas, manusia, dan unggas sebagai inang perantara. Kucing yang terdomestikasi merupakan golongan yang sangat penting untuk penularan terjadinya toksoplasmosis pada hewan lain ataupun manusia. Parasit ini ditularkan dengan tiga cara yaitu dengan cara kongenital yaitu melalui plasenta, mengkonsumsi daging yang terkontaminasi oleh kista dan melalui kotoran asal kucing yang mengandung ookista. Dalam siklus hidupnya pada phylum Amplicomplexa mengenal 3 stadium yaitu stadium trofozoit, stadium takizoid, dan stadium bradizoid. Patogenesis Toxoplasma gondii merupakan suatu parasit intraseluler dan reproduksi terjadi di dalam sel.

Kebanyakan kasus toxoplasmosis pada manusia didapat karena mengkonsumsi jaringan yang mengandung kista yang ada pada daging yang proses pemasakannya kurang sempurna atau daging mentah. Selain itu, kontak langsung dengan tanah atau air yang terkontaminasi. Gambaran klinis akan tampak segera setelah beberapa waktu jaringan mengalami kerusakan khususnya organ mata, jantug, dan kelenjar adrenal. Parasit ini juga dipengaruhi oleh keadaan temperatur dan kelembaban. Dengan adanya kelembaban dan temperatur yang sesuai ookista akan mampu bertahan beberapa bulan sampai lebih dari satu tahun. Lalat, cacing, kecoak, dan serangga lain mungkin dianggap sebagai agen mekanis dalam penyebaran parasit ini. Tingkat mortalitas dan morbiditas dari parasit ini cukup tinggi pada pasien yang mempunyai tingkat kekebalan tubuh rendah dan pada anak-anak yang tertular melalui ibunya. Gejala Klinis Pada 80% - 90% penderita toksoplasmosis tidak menunjukkan gejala sama sekali (asimptomatik). Pada beberapa penderita biasanya didapatkan adanya perbesaran kelenjar getah bening di bagian leher (cervical lymphadenopathy). Beberapa penderita juga dapat mengalami sakit kepala, demam (biasanya di bawah 40oC), lemah, dan lesu. Sebagian kecil penderita mungkin mengalami nyeri otot (mialgia), nyeri tenggorokan, nyeri pada bagian perut, dan kemerahan pada kulit. Gejala-gejala tersebut dapat menghilang dalam waktu beberapa minggu, kecuali perbesaran kelenjar getah bening di bagian leher yang dapat bertahan selama beberapa bulan. Jika penyakit berlanjut maka dapat menimbulkan komplikasi berupa radang paru (pneumonia), radang pada jaringan otot jantung (miokarditis), radang pada selaput luar jantung(perikarditis), dan lainnya. Bayi yang dikandung oleh ibu yang menderita toksoplasmosis mempunyai risiko yang tinggi untuk menderita toksoplasmosis kongenital. Anak dengan toksoplasmosis kongenital dapat menunjukkan gejala kelainan neurologis seperti hidrosefalus, mikrosefalus, retardasi mental dan kelainan pada mata (korioretinitis). Selain itu dapat juga terjadi gangguan pada saat kehamilan dan persalinan berupa abortus, lahir mati, atau lahir cacat. Diagnosis Diagnosis toksoplasmosis dapat dilakukan dengan beberapa cara, yaitu : a) gejala klinis Diagnosis dari gejala klinis kadang kala agak sulit, dikarenakan sebagian besar penderita tidak menunjukkan gejala apapun (asimptomatik).

b) pemeriksaan darah atau jaringan tubuh penderita(histopatologi) Diagnosis dapat ditegakkan jika ditemukan parasit di dalam jaringan atau cairan tubuh penderita. Hal ini dilakukan dengan cara menemukan secara langsung parasit yang diambil dari cairan serebrospinal, atau hasil biopsi jaringan tubuh yang lainya. Namun diagnosis berdasarkan penemuan parasit secara langsung jarang dilakukan karena kesulitan dalam hal pengambilan spesimen yang akan diteliti. c) pemeriksaan serologis Pemeriksaan serologis dilakukan dengan dasar bahwa antigen toksoplasma akan membentuk antibodi yang spesifik pada serum darah penderita. Beberapa pemeriksaan serologi yang dapat dilakukan untuk menegakkan diagnosis toksoplasmosis antara lain: -Complement Fixation Test -Dye Test Sabin Fieldman -Immunoflourescense Assay(IFA) -Enzyme Linked Immuno Sorbent Assay(ELISA) d) PCR(Polymerase Chain Reaction) Metode lain yang relatif singkat dengan sensitivitas yang tinggi adalah metode PCR. Teknik PCR ini dapat mendeteksi toksoplasma yang berasal dari darah, cairan serebrospinal, dan cairan amnion. Pencegahan Hindari kontak dengan kucing, tanah dan daging mentah Cuci tangan dengan sabun setelah memegang daging mentah dan sebelum makan Jangan memegang mulut dan mata pada waktu mengolah daging mentah Cuci sayur/lalap dan buah Hindari kontak dengan bahan-bahan yang mungkin tercemar kotoran kucing Pakai sarung tangan saat berkebun. Metode Pemeriksaan Metode yang digunakan adalah ELISA(Enzym Linked Immunosorbent Assay) dengan nama TOXOLISA yang bertujuan untuk mendeteksi antibody IgM dan IgG terhadap Toxoplasma gondii pada serum manusia. Bahan(Reagen) Pemeriksaan Bahan-bahan yang digunakan antara lain:

a) Microwell strip, yang telah dilapisi antigen Toxoplasma murni.Bentuknya seperti kuvet dengan 2 lubang atau sumuran. b) Reagen konjugat enzim, sebagai katalisator. Disimpan pada botol berwarna merah. c) Pengencer sampel d) Kontrol negatif, pada botol berwarna jernih e) Kalibrator, pada botol berwarna kuning. Sebagai indeks Toxoplasma IgM=1.0 f) Kontrol positif g) Reagen TMB h) Larutan penutup, yaitu HCl 1 N pada botol berwarna jernih. Sampel Sampel yang digunakan pada pemeriksaan ini adalah serum pasien, dengan gejala klinik toksoplasmosis, yaitu demam, sakit kepala, pembesaran kelenjar getah bening, atau pada wanita hamil dan yang baru merencanakan hamil, yang sering kontak dengan family Felicidae(kucing-kucingan). Setelah darah vena diambil, kemudian dicentrifuge dan serum dipisahkan.Serum yang disimpan pada suhu 2-8oC, bisa bertahan selama 3 hari. Jika disimpan pada freezer bisa bertahan hingga 6 bulan. Hindarkan dari penyimpana berulang dalm freezer. Prinsip kerja Antigen Toxoplasma murni dilapisi pada permukaan microwell. Jika di dalam serum pasien yang ditambahkan terdapat antibodi IgG dan IgM yang spesifik terhadap Toxoplasma, antibodi ini akan mengikat antigen. Bahan lain yang tidak terikat akan tercuci. Setelah penambahan enzim, ikatan ini akan membentuk kompleks antigen-antibodi. Enzim yang berlebih kemudian dicuci, lalu ditambahkan reagen TMB. Reaksi katalisis enzim ini akan berhenti pada waktu tertentu. Intensitas warna yang terjadi sebanding dengan jumlah IgG dan IgM dalam sampel. Kemudian hasilnya dibaca pada ELISA reader dan dikomparasikan dengan kalibrator dan control. Cara Kerja a) Microwell diletakkan di tempatnya kemudian diberi label nomor dan identitas. b) Disiapkan sampel yang telah diencerkan dengan perbandingan 1:40, kontrol negatif, kontrol positif dan kalibrator. Sebagai contoh, untuk sampel 5l ditambahkan 20l pengencer, dicampur hingga homogen. c) Dituangkan 100l serum encer, kalibrator, dan kontrol ke dalam sumuran(well) yang

sesuai. Untuk reagen blangko, dituang 100l pengencer sampel pada posisi 1A. Ketuk-ketuk tempatnya untuk mengeluarkan udara dari cairan, dan campur dengan baik. Inkubasi pada suhu 37OC selama 30 menit. d) Pada akhir inkubasi, pindahkan cairan dari sumuran(well). Lubang mikrotiter dicuci dan dijernihkan 5 kali dengan buffer pencuci(1 X). e) Dituang 100 konjugat enzim pada tiap sumuran(well) dan inkubasi pada suhu 37OC selama 30 menit. f) Konjugat enzim dipindahkan dari sumuran(well). Cuci dan jentikkan mikrotiter well 5X dengan buffer pencuci(1 X). g) Dituang 100l reagen TMB ke dalam tiap sumuran(well), dicampur selama 10 detik. h) Plate ditutup dengan penutup berwarna hitam dan inkubasi 37O selama 5 menit. i) Ditambahkan 100l larutan penutup(HCl 1N) untuk menghentikan reaksi. j) Dicampur dengan pelan selama 30 detik. Hal ini penting agar terjadi perubahan warna yang sempurna dari biru menjadi kuning.Usahakan tidak terdapat gelembung udara pada tiap sumuran(well) sebelum pembacaan. k) Dibaca absorbansinya pada panjang gelombang 450 nm dalam waktu 15 menit menggunakan mikrowell reader/ELISA reader. Hasil Negatif : Nilai indeks Toxo <= 0.90 atau <32 IU/ml, mengindikasikan tidak adanya infeksi Toxoplasma. Meragukan : Nilai indeks Toxo 0.91-0.99 atau 32 IU/ml, sampel harus dites ulang. Positif : Nilai indeks Toxo >=1,0 atau >32 IU/ml.Hal ini mengindikasikan bahwa ada infeksi terhadap Toxoplasma. Pembahasan a) Jika IgG terhadap Toxoplasma negative, berarti pasien tidak pernah terinfeksi. Sedangkan bila hasilnya positif, berarti pada masa lampau pasien pernah reinfeksi Toxoplasma gondii. b) Jika IgG positif, untuk menentukan waktu terjadinya infeksi, maka perlu dilakukan pemeriksaan lanjutan terhadap IgM Toxoplasma. Fungsinya adalah untuk memeriksa apakah saat ini pasien terinfeksi Toxoplasma. c) Jika IgG positif dan IgM negatif. Pasien telah terinfeksi lebih dari setahun yang lalu. Sekarang mungkin si pasien telah mengembangkan kekebalan terhadap parasit itu.

d) Jika IgG dan IgM positif. Pasien tengah mengalami infeksi dalam 2 tahun terakhir(kemungkinan terdapat pula false pada hasil IgM). e) Kemudian si pasien melakukan pemeriksaan ulang IgG dan IgM setelah 2 minggu dari pemeriksaan pertama. Bila IgM tetap positif atau ada kenaikan titer, berarti pasien sedang terinfeksi Toxoplasma gondii. KESIMPULAN Dari uraian di atas, kita dapat menyimpulkan: a) Toksoplasmosis adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh protozoa obligat intraseluler yaitu Toksoplasma gondii. b) Tujuan pemeriksaan ELISA untuk Toxoplasma(TOXOLISA) adalah membantu menegakkan diagnosis Toksoplasmosis. c) Prinsip pemeriksaan TOXOLISA adalah deteksi antibody IgG dan IgM terhadap Toxoplasma gondii. d) Interpretasi hasilnya adalah jika IgG positif menunjukkan adanya infeksi primer, sedangkan jika IgM positif menunjukkan adanya infeksi sekunder.

Anda mungkin juga menyukai