Anda di halaman 1dari 13

PENILAIAN STATUS GIZI SECARA ANTROPOMETRI PADA USIA LANJUT

Oleh : MERITA (I151114151)

Koordinator Mata Kuliah Penilaian Status Gizi: Dr. Ir. Hadi Riyadi, MS

JURUSAN ILMU GIZI MASYARAKAT SEKOLAH PASCA SARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2012

PENDAHULUAN
Latar Belakang Keberhasilan pembangunan sumberdaya manusia di Indonesia, terutama di bidang kesehatan berdampak pada penurunan angka kelahiran, penurunan kematian bayi, penurunan fertilitas dan peningkatan usia harapan hidup. Peningkatan usia harapan hidup menyebabkan bertambahnya jumlah penduduk usia lanjut. Kementrian Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat (2010) melaporkan bahwa Indonesia memasuki era penduduk berstruktur lanjut usia (aging structured populated) karena pada tahun 2000 jumlah penduduk yang berusia diatas 60 tahun sebesar 7.18%. Pada tahun 2010 diperkirakan usia

harapan hidup penduduk Indonesia adalah 67.4 tahun dengan jumlah lansia mencapai 23.9 juta jiwa (9.77%) dan diperkirakan akan menjadi 28 juta lebih pada tahun 2020. Perhatian pemerintah terhadap keberadaan lansia sudah meningkat. GBHN 1993 mengamanatkan agar lansia yang masih produktif dan mandiri diberi kesempatan berperan aktif dalam pembangunan. Pemerintah juga menetapkan tanggal 29 Mei sebagai Hari Lansia Nasional, sedang DPR menerbitkan UU no 13 tahun 1998 tentang kesejahteraan lansia. Namun di satu sisi, adanya peningkatan jumlah lansia berdampak timpulnya berbagai masalah jika tidak ditangani dengan segera. Salah satu masalah yang mungkin terjadi adalah terkait gizi. Beberapa kelompok dalam populasi lansia beresiko terkena malnutrisi. Malnutrisi pada lansia sama halnya seperti pada balita dan dewasa, lansia dapat mengalami gizi kurang maupun gizi lebih. Status gizi adalah cerminan ukuran terpenuhinya kebutuhan gizi. Status gizi secara parsial dapat diukur dengan antropometri (pengukuran bagian

tertentu dari tubuh) atau biokimia atau secara klinis. Status gizi adalah keadaan yang diakibatkan oleh status keseimbangan antara asupan zat gizi dan

kebutuhan zat gizi oleh tubuh untuk berbagai proses biologis.Penilaian status gizi sangat penting dilakukan untuk mengetahui gambaran kesehatan, pola hidup dan kondisi gizi agar dapat diperbaiki asupan gizinya. Penilaian status gizi pada dasarnya merupakan proses pemeriksaan keadaan gizi seseorang dengan cara

mengumpulkan data penting, baik yang bersifat obyektif maupun subyektif, untuk kemudian dibandingkan dengan baku yang telah tersedia. Penggunaan antropometri sebagai salah satu metode untuk mengukur status gizi masyarakat sangat luas. Antropometri berasal dari kata antrophos dan metros. Antrophos memiliki arti tubuh, sedangkan metros adalah ukuran. Antropometri yaitu ukuran dari tubuh. Antropometri adalah cara pengukuran status gizi yang paling sering digunakan di masayarakat. Antropometri dalam pengertian adalah suatu sistem pengukuran ukuran dan susunan tubuh dan bagian khusus tubuh (Potter & Perry 2006). Tujuan yang hendak dicapai dalam pemeriksaan antropometris adalah besaran komposisi tubuh yang dapat dijadikan isyarat dini perubahan status gizi. Tujuan Menilai status gizi dengan pengukuran antropometri pada usia lanjut serta pelaksanaannya.

PEMBAHASAN
Lansia merupakan salah satu bagian dari siklus hidup manusia yang menjadi tahap akhir dari kehidupan. Pada lansia akan terjadi proses menghilangnya kemampuan jaringan untuk memperbaiki diri atau mengganti dan mempertahankan fungsi normalnya secara perlahan-lahan sehingga tidak dapat bertahan terhadap infeksi dan memperbaiki kerusakan yang terjadi. Karena itu di dalam tubuh akan menumpuk makin banyak distorsi metabolik dan struktural yang disebut penyakit degeneratif yang menyebabkan lansia akan mengakhiri hidup dengan episode terminal (Darmojo 1994). Berdasarkan klasifikasi WHO, lansia terbagi menjadi 3 golongan yaitu: usia lanjut (elderly) 60 75 tahun, usia lanjut tua (old) 76 90 tahun, dan sangat tua (very old) > 90 tahun. Kesehatan lansia sangat dipengaruhi oleh proses menua. Proses menua adalah perubahan yang terkait waktu, bersifat universal, intrinsik, progresif, dan detrimental sehingga menyebabkan berkurangnya kemampuan adaptasi terhadap lingkungan dan kemampuan bertahan hidup. Proses menua pada setiap individu dan organ tubuh berbeda-beda, yang dipengaruhi oleh gaya hidup, lingkungan, dan penyakit degeneratif. Penggunaan antropometri sebagai salah satu metode untuk mengukur status gizi masyarakat sangat luas. Antropometri berasal dari kata antrophos dan metros. Antrophos memiliki arti tubuh, sedangkan metros adalah ukuran. Antropometri yaitu ukuran dari tubuh. Antropometri adalah cara pengukuran status gizi yang paling sering digunakan di masyarakat. Antropometri dalam pengertian adalah suatu sistem pengukuran ukuran dan sususan tubuh dan bagian khusus tubuh (Potter & Perry 2006). Antropometri gizi berhubungan dengan berbagai macam pengukuran dimensi tubuh dan komposisi tubuh dari berbagai tingkat umur dan tingkat gizi (Jellife 1996). Antropometri sangat umum digunakan untuk mengukur status gizi dari berbagai ketidakseimbangan antara asupan protein dan energi. Gangguan ini biasanya terlihat dari pola pertumbuhan fisik dan proporsi jaringan tubuh, seperti lemak, otot dan jumlah air dalam tubuh. Dalam pengukuran antropometri yang dihitung untuk mendapatkan gambaran komposisi tubuh seseorang diperlukan pemenuhan beberapa syarat

anatar lain: alat mudah didapat dan mudah digunakan, pengukuran dapat dilakukan berulang-ulang dengan mudah dan obyektif, pengukuran tidak harus selalu dilakukan oleh tenaga khusus tetapi dapat juga dilakukan oleh tenaga lain yang telah dilatih, biaya yang dibutuhkan murah, hasilnya mudah disimpulkan dan memiliki rujukan serta cut of point yang sudah pasti, dan secara ilmiah sudah diakui kebenarannya. Berikut ini tabel penilaian komposisi tubuh yang dapat dilakukan dengan pengukuran antropometri: Tabel 1 Penilaian komposisi tubuh
Penilaian Pertumbuhan Lingkar kepala Berat badan Tinggi/panjang badan Rasio berat/tinggi Tinggi lutut Lebar siku Penilaian Massa Bebas Lemak (Fat Free Mass) Lingkar (LILA) Lengan Penilaian Massa Lemak (Fat Mass)

Atas Tricep skinfold

Mid-Upper Arm Muscle Bisep skinfold Circumference (MUAMC) Mid-Upper Arm Muscle Subscapular skinfold (MUAMA) Suprailiac skinfold Mid-upper arm fat area Rasio lingkar panggul

Apabila seseorang berhasil mencapai usia lanjut, maka salah satu upaya utama adalah mempertahankan atau membawa status gizi yang bersangkutan pada kondisi optimum agar kualitas hidup yang bersangkutan tetap baik. Perubahan status gizi pada lansia disebabkan perubahan lingkungan maupun kondisi kesehatan. Perubahan ini akan makin nyata pada kurun usia dekade 70-an. Faktor lingkungan antara lain meliputi perubahan kondisi sosial ekonomi yang terjadi akibat memasuki masa pensiun dan isolasi berupa hidup sendiri setelah pasangannya meninggal. Faktor kesehatan yang berperan dalam perubahan status gizi antara lain naiknya insidensi penyakit degenerasi maupun non degenerasi yang berakibat dengan perubahan dalam asupan makanan, perubahan dalam absorbsi dan utilisasi zat-zat gizi di jaringan. Salah satu masalah yang mungkin terjadi adalah terkait gizi. Beberapa kelompok dalam populasi lansia beresiko terkena malnutrisi. Malnutrisi pada lansia sama halnya seperti pada balita dan dewasa, lansia dapat mengalami gizi kurang maupun gizi lebih. Untuk menentukan apakah seseorang mengalami gizi

kurang maupun lebih harus dilakukan pengukuran terhadap Tinggi Badan (TB) dan penimbangan Berat Badan (BB) kemudian dibandingkan dengan nilai baku. Indeks Massa Tubuh (IMT) = [Berat badan (kg) / (Tinggi badan (m))2] Teknik pengukuran tinggi badan apabila subyek bisa berdiri dengan tegap. Subyek diukur dalam posisi tegak pada permukaan tanah/lantai yang rata (flat surface) tanpa memakai alas kaki. Ujung tumit kedua telapak kaki dirapatkan dan menempel di dinding dalam posisi agak terbuka di bagian depan jari-jari kaki, pandangan mata lurus ke depan, kedua lengan dikepal erat, tulang belakang dan pantat menempel di dinding, dan bahu dalam posisi relaks. Tinggi badan diukur dengan mikrotoa yang pembacaannya dilakukan dengan skala 0,1 cm (Gambar 1).

Gambar 1 Pengukuran tinggi badan Teknik pengukuran berat badan adalah variabel antropometri yang sering digunakan dan hasilnya cukup akurat. Berat badan juga merupakan komposit pengukuran ukuran total tubuh. Alat yang digunakan untuk mengukur berat badan adalah timbangan injak digital (Seca). Subyek diukur dalam posisi berdiri dengan ketentuan subyek memakai pakaian seminimal mungkin, tanpa isi kantong dan sepatu/sandal. Pembacaan skala dilakukan pada alat dengan ketelitian 0,1 kg (Gambar 2).

Gambar 2 Penimbangan berat badan Berdasarkan hasil penimbangan Berat Badan (BB) dan pengukuran Tinggi Badan (TB) maka status gizi seseorang dapat diklasifikasikan menurut Indeks Massa Tubuh (IMT) sebagai berikut: Tabel 2 Klasifikasi IMT menurut Depkes RI (2003)
Klasifikasi IMT < 17,0 17,0 18,4 18,5 25,0 25,1 27,0 > 27,0 Interpretasi Kurus (kekurangan berat badan tingkat berat) Kurus (kekurangan berat badan tingkat ringan) Normal Gemuk (kelebihan berat badan tingkat ringan) Gemuk (kelebihan berat badan tingkat berat)

Dalam kondisi tertentu, pengukuran berat badan yang aktual mungkin tidak dapat dilakukan. Sebagai contoh, pasien yang tidak dapat duduk atau berdiri sehingga terus berada dalam posisi berbaring sementara timbangan tempat tidur (bed scale) tidak tersedia. Contoh lain, pasien dengan edema atau esites sehingga tidak dapat ditentukan berapa berat badan sebenarnya. Pada keadaan itu, rumus dalam tabel berikut ini dapat digunakan untuk memperkirakan berat badan ideal berdasarkan panjang badan pasien. Tabel 3 Memperkirakan berat badan berdasarkan panjang badan
Bagian Tubuh Sedang Kecil Besar Laki-Laki 48 kg untuk 152 cm yang pertama, selanjutnya tambahkan 2.7 kg untuk setiap 2.5 cm tambahan Kurangi 10% Tambahkan 10% Perempuan 45.5 kg untuk 152 cm yang pertama, selanjutnya tambahkan 2.3 kg untuk setiap 2. cm tambahan Kurangi 10% Tambahkan 10%

Sumber: Andry Hartono, Asuhan Nutrisi Rumah Sakit

Berat badan pada lansia sebaiknya ditimbang setiap minggu bagi lansia yang dirawat di rumah sakit atau di panti wreda; dan cukup 2-3 bulan sekali bagi mereka yang masih sanggup melakukan kegiatan fisik. Berat badan ideal lansia sulit ditentukan karena acuan berat mereka yang seusia sukar diperoleh. Oleh karena itu, perubahan berat badan dijadikan indicator yang peka dalam penentuan risiko gizi. Penyusutan berat badan 10% atau lebih, terutama jika berlangsung kurang dari 3 bulan menandakan malnutrisi telah terjadi (Tabel 4). Tabel 4 Persentase kehilangan berat badan
Waktu 1 Minggu 1 Bulan 3 Bulan 6 Bulan Kehilangan Berat (%) Bermakna Berat 1-2 >2 5 >5 7.5 > 7.5 10 > 10

Sumber: Arisman, Buku Ajar Ilmu Gizi (Gizi dalam Daur Kehidupan)

Pada lansia, beberapa alat ukur perlu disesuaikan dengan kondisi fisiologisnya seperti tinggi badan. Pada saat mengukur tinggi badan seseorang berusia lanjut, perlu diingat bahwa dalam perjalanan usianya dapat terjadi pengurangan tinggi badan. Pengurangan tersebut dapat disebabkan oleh beberapa hal antara lain yaitu: berkurangnya komponen cairan tubuh sehingga discuss intervertebralis relatif kurang mengandung air sehingga menjadi lebih pipih. Semakin tua seseorang ada kecenderungan semakin kifosis sehingga tinggi tegak lurusnya berkurang. Osteoporosis yang sering terjadi pada wanita usia lanjut akan mudah mengakibatkan fraktur vertebra sehingga tinggi badan berkurang. Penurunan tinggi badan tersebut akan mempengaruhi hasil penghitungan indeks massa tubuh. Oleh sebab itu, dianjurkan menggunakan tinggi lutut (knee height) untuk menentukan secara pasti tinggi badan seseorang. Tinggi lutut tidak akan berkurang kecuali jika terdapat fraktur tungkai bawah. Data tinggi badan lansia dapat menggunakan formula atau nomogram bagi orang yang berusia diatas 59 tahun (Gibson 1993) sebagai berikut: Tinggi Badan Pria Tinggi Badan Wanita Keterangan: U TL : Umur dalam tahun : Tinggi lutut dalam cm = (2,02 x TL) - (0,04 x U) + 64,19 = (1,83 x TL) - (0,24 x U) + 84,88

Pengambilan ukuran tinggi badan manula dengan menggunakan pengukuran tinggi lutut yaitu dengan cara mengukur dengan alat yang terbuat dari kayu. Subyek yang diukur dalam posisi duduk atau berbaring/tidur. Pengukuran dilakukan pada kaki kiri subyek antara tulang tibia dengan tulang paha membentuk sudut 90o. Alat ditempatkan di antara tumit sampai bagian proksimal dari tulang platela. Pembacaan skala dilakukan pada alat ukur dengan ketelitian 0,1 cm (Gambar 3).

Gambar 3 Pengukuran tinggi lutut dengan posisi berbaring Selain dari tinggi lutut, tinggi badan lansia dapat diprediksi dari panjang depa, dan tinggi duduk. Panjang depa relatif kurang dipengaruhi oleh pertambahan usia, tetapi nilai panjang depa pada kelompok lansia cenderung lebih rendah dari dewasa muda. Pengukuran panjang depa bagi subyek dilakukan dengan alat mistar panjang 2 meter. Panjang depa biasanya menggambarkan hasil pengukuran yang sama dengan tinggi badan normal dan dapat digunakan untuk menggantikan pengukuran TB. Subyek yang diukur harus memiliki kedua tangan yang dapat direntangkan sepanjang mungkin dalam posisi lurus lateral dan tidak dikepal. Jika salah satu kedua tangan tidak dapat diluruskan karena sakit atau sebab lainnya, maka pengukuran ini tidak dapat dilakukan. Subyek berdiri dengan kaki dan bahu menempel melawan tembok sepanjang pita pengukuran ditempel di tembok. Pembacaannya dilakukan dengan skala 0,1 cm mulai dari bagian ujung jari tengah tangan kanan hingga ujung jari tengah tangan kiri (Gambar 4).

Gambar 4 Pengkuran panjang depa Berdasarkan penilitian yang dilakukan oleh Fatmah (2005) pada kelompok usia lanjut di DKI Jakarta dan Tangerang, parameter panjang depa lebih baik digunakan pada lansia pria untuk memprediksi tinggi badan sebenarnya. Tinggi lutut lebih tepat digunakan unutk mengukur estimasi tinggi badan lansia wanita karena wanita lebih banyak menderita osteoporosis daripada pria. Pada proses menua mengakibatkan terjadinya kehilangan massa otot secara progressif dan proses ini dapat terjadi sejak usia 40 tahun dengan penurunan metabolisme basal mencapai 2% per tahun. Saat seorang lansia berumur diatas 70 tahun, kehilangan massa otot dapat mencapai hingga 40%. Selain penurunan otot dan massa tulang, pada pansia juga terjadi peningkatan lemak tubuh, dan perubahan komposisi seperti ini sangat tergantung pada gaya hidup dan aktivitas fisik lansia. Berikut ini adalah perbandingan komposisi tubuh antara dewasa muda dengan lansia: Tabel 5 Perbandingan komposisi tubuh antara dewasa muda dengan lansia
Komponen Protein/cell solid Air Mineral Lemak
Nutrition Through Lyfe Cycle 2001

20 25 tahun 19% 61% 6% 14%

70 75 tahun 12% 53% 5% 30%

Berdasarkan tabel di atas terlihat perbedaan yang cukup jauh pada komposisi tubuh antara lansia dan orang dewasa muda. Komponen protein, air, dan mineral menurun ketika seseorang memasuki fase kehidupan lansia, namun ada komponen lain yang justru meningkat yaitu lemak. Peningkatan lemak tubuh

telah dimulai sejak seseorang berusia 30 tahun sebanyak 2% per tahunnya. Peningkatan lemak ini berupa lemak subkutan yang dideposit di batang tubuh. Meskipun demikian, pada lansia umumnya terjadi peningkatan berat badan dengan rata-rata selama 10 tahun mencapai 7 kg pada lansia pria dan 6 kg pada lansia wanita. Hal ini disebabkan karena meskipun komposisi lemak pada lansia meningkat tetapi massa sel tubuh menurun dan lansia banyak kehilangan massa otot serta cairan tubuh sehingga berpengaruh ke berat badannya. Massa otot pada lansia diketahui menurun hingga 6.3% per tahun. Rata-rata wanita kehilangan massa otot hingga 5 kg dan pria 12 kg. Massa sel tubuh rata-rata menurun 1 kg pada pria dan 0.6 kg pada wanita usia 70 - 75 tahun. Seiring dengan pertambahan usianya, kandungan cairan tubuh pada lansia diketahui semakin menurun terutama cairan ekstraseluler sehingga perlu diwaspadai kecukupan cairan pada lansia untuk mengantisipasi bahaya dehidrasi yang mungkin terjadi akibat kekurangan cairan. Selain peubahan komposisi pada lemak, cairan, serta massa otot di atas, lansia juga mengalami perubahan yang cukup drastis pada massa tulang. Penurunan massa tulang yang terjadi pada lansia dapat menyebabkan timbulnya gejala osteoporosis.

KESIMPULAN
Antropometri merupakan suatu sistem pengukuran ukuran dan susunan tubuh dan bagian khusus tubuh yang sangat umum digunakan untuk mengukur status gizi. Untuk mengkaji status gizi secara akurat, beberapa pengukuran secara spesifik juga diperlukan yaitu Umur, BB (Berat Badan), TB (Tinggi Badan), Lingkar Kepala, Tinggi Lutut, Lebar Siku, IMT (Indeks Massa Tubuh), Rasio Berat, Rasio Lingkar Panggul, Lingkar Lengan Atas (LILA), Mid-Upper Arm, Muscle
Circumference (MUAMC), Mid-Upper Arm Muscle (MUAMA), Tricep skinfold, Bisep skinfold, Subscapular Skinfold, Suprailiac Skinfold, dan Mid-upper arm fat area.

Pada lansia, beberapa alat ukur perlu disesuaikan dengan kondisi fisiologisnya seperti tinggi badan. Semakin tua seseorang ada kecenderungan semakin kifosis sehingga tinggi tegak lurusnya berkurang. Penurunan tinggi badan tersebut akan mempengaruhi hasil penghitungan indeks massa tubuh. Oleh sebab itu, dianjurkan menggunakan tinggi lutut (knee height) untuk menentukan secara pasti tinggi badan pada usia lanjut.

DAFTAR PUSTAKA
Arisman. 2004. Buku Ajar Ilmu Gizi: Gizi dalam Daur Kehidupan. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC. Brown, Judith et al. 2005. Nutrition Through Lyfe Cycle. USA: Thomson W. Darmojo R. Boedhi, dkk, 1999. Buku Ajar Geriatri: Ilmu Kesehatan Lanjut Usia. Jakarta: Balai Penerbit FK UI. Fatmah. 2006. Persamaan (equation) tinggi badan manusia usia lanjut (manula) berdasarkan usia dan etnis pada 6 panti terpilih di DKI Jakarta dan Tangerang tahun 2005. Jurnal Makara, Kesehatan, vol. 10, no. 1, juni 2006: 7-16. Departemen Gizi Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia, Depok. Gibson, Rosalind S. 1993. Principle of Nutrition Assesment. New York: Oxford University Press. Jellief. 1996. Community Nutrtional Assessment. New York:Oxford University Press. Kementrian Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat. 2010. Usia Lanjut. http://www.menkokesra.go.id [28 Maret 2012]. Potter & Perry. 2006. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC.