P. 1
Konstitusi Dan Ideologi Negara RI

Konstitusi Dan Ideologi Negara RI

|Views: 397|Likes:
Dipublikasikan oleh Dodik Ariyanto

More info:

Categories:Types, Research
Published by: Dodik Ariyanto on Jun 07, 2012
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF or read online from Scribd
See more
See less

11/06/2013

pdf

MENGENAL LEBIH DEKAT PROSES LAHIRNYA KONSTITUSI DAN IDEOLOGI NEGARA REPUBLIK INDONESIA Oleh: Dodik Ariyanto, Ph.D.

1 Melalui artikel yang berjudul “What is Indonesia?”, Donald K. Emmerson mencoba memberikan pemahaman mengenai Indonesia2 sekaligus menawarkan sebuah “definisi” terhadap entitas Negara yang dikenal sebagai ‘Republik Indonesia’. Dalam artikelnya, Emerson mengabadikan Indonesia sebagai sebuah ‘potret’ yang merefleksikan 4 aspek, yaitu: i) Indonesia secara fisik, sosial, dan politis; ii) Indonesia sebagai entitas yang sangat heterogen; iii) Indonesia yang keberadaannya sangat dipengaruhi oleh variabel-variabel pra-kolonialisme, era penjajahan, dan periode nation-building, dan; iv) Indonesia secara personal yang dibayangkan dan dialami oleh tokoh-tokoh pendiri Negara ini (Emmerson, 2005, pp. 7-73). Melihat integritas, kepakaran dan dedikasi intelektual Emerson, artikel tersebut tentu saja merupakan referensi berharga bagi siapa saja yang memiliki ketertarikan terhadap ‘Indonesia’, terlebih karena Emerson membantu menguak ‘misteri’ keberadaan Negara yang dulunya bernama East Indische ini. Namun demikian, layak untuk diasumsikan bahwa pembaca yang kurang memiliki latar belakang keilmuan tentang Indonesia mungkin akan terjebak dalam kebingungan, karena argumentasi Emmerson sangat meyakinkan, namun pada saat yang sama membenarkan stigma bahwa memahami ‘Indonesia’ tidak sekedar memerlukan ‘rasio’, melainkan juga ‘kearifan’. Analisis ini memiliki tujuan yang sama dengan Emmerson, yaitu mencoba memberikan pemahanan seobyektif mungkin tentang ‘Indonesia’. Perbedaannya hanyalah menyangkup cakupan analisis, karena artikel ini hanya memfokuskan perhatian pada proses adopsi Konstitusi dan Ideologi Negara Indonesia. Nasionalisme versus “Bhineka Tunggal Ika” Para ilmuwan sosial yang melakukan studi mengenai Nasionalisme sepakat bahwa Nasionalisme Indonesia TIDAK memiliki akar yang kuat pada periode pra-Abad ke-20. Benedict Anderson sebagai misal, meragukan bahwa Nasionalisme Indonesia pernah ada di masa lalu. Menurut Anderson, Nasionalisme semestinya tidak dikaitkan dengan keberadaan Negara Indonesia. Ia berargumen bahwa Negara Indonesia telah ada jauh sebelum konsep Nasionalisme dikenal di wilayah East Indische pada awal abad ke-20, yaitu sekitar tahun 1928. ‘Geneologi Negara Indonesia sudah dimulai sejak awal abad ke-17 Batavia—dan kontinuitasnya sangat jelas meskipun cakupan wilayahnya berubah dari waktu ke waktu...’ (Anderson, 1999, p.2). Pendapat Anderson di-aminkan oleh ilmuwan-ilmuwan lain, termasuk Emmerson. Emmerson bahkan secara lebih tegas menolak proposisi mengenai eksistensi Nasionalisme Indonesia pada masa sebelum Negara ini merdeka. Emerson mengatakan Bangsa Indonesia dibentuk oleh sebuah Negara yang sebelumnya telah ada” (Emmerson, 2005, p.8-9). Sementara itu, sebuah fenomena sejarah kiranya sangat menarik diamati terkait dengan tekateki keberadaan Nasionalisme dan Negara di Indonesia. Pada bulan Agustus 1945, beberapa hari setelah Jepang menyatakan menyerah kepada Sekutu, Sukarno dan beberapa tokoh Nasionalis menyampaikan pernyataan singkat yang dikenal sebagai Naskah Proklamasi 19453:
Dodik Ariyanto, SIP,DEA, Ph.D. adalah staf pada Deputi Dukungan Kebijakan, Kementerian Sekretariat Negara RI 2 Dengan rendah hati Emerson mengatakan bahwa ia tidak bermaksud untuk memberikan ‘pemahaman’ mengenai Indonesia walaupun kenyataannya mengatakan sebaliknya. Kata Emerson, “In selecting certain ways of seeing Indonesia for a brief treatment here, I did not try for comprehensiveness.” Lihat: EMMERSON, D. K. (2005) What is Indonesia ? IN BRESNAN, J. (Ed.) Indonesia: The Great Transition. Oxford, Rowman and Littlefield Publishers, Inc., p.8
1

“Kami, Bangsa Indonesia, dengan ini menyatakan kemerdekaan Indonesia. Hal-hal yang mengenai pemindahan kekuasaan, d.l.l. diselenggarakan dengan cara seksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Jakarta, 17-8-1945 Atas nama bangsa Indonesia Sukarno-Hatta (Ricklefs, 1981, p.198). Secara harfiah, teks ini mengandung 2 (dua) poin penting, yaitu: Pertama, bahwa Negara yang bernama ‘Indonesia’ dideklarasikan oleh sebuah bangsa yang bernama “Bangsa Indonesia”; Kedua, bahwa Sukarno, Hatta, dan siapapun yang terlibat dalam peristiwa sejarah tersebut, bertindak atas nama ‘Bangsa Indonesia’. Oleh karena itu, bagi Sukarno dan kawan-kawan, Nasionalisme Indonesia mendahului keberadaan Negara Indonesia, dan BUKAN SEBALIKNYA. Kontroversi mengenai apakah ‘Bangsa Indonesia’ ada sebelum ataukah sesudah Agustus 1945 memaksa kita untuk melihat lebih jauh pada debat teoritis mengenai ‘Nation/Bangsa’ dan ‘Nationalism/Kebangsaan’ (baru kemudian mengenai ‘Negara’), dan dalam kerangka ini, Ernest Gellner kiranya paling dapat membantu analisis kita. Menurut Gellner, perbedaan antara Nation dan Nationalism terletak pada definisinya. Istilah ‘Nation/Bangsa’ merujuk pada sekelompok individu/orang-orang yang hidup dalam wilayah tertentu (yang tidak harus berupa ‘Negara’), sedangkan istilah ‘Nationalism/Kebangsaan' merujuk pada sentiment/perasaan yang berkembang diantara orang-orang tersebut (Gellner, 1983, p. 1-7). Terkait dengan dengan ‘Negara’, argumen Gellner berikutnya terdengar seirama dengan posisi Sukarno. Dia mengatakan “…..Nasionalisme tidak akan muncul dari masyarakat tanpa negara. Jika tidak ada Negara, tentu tidak bisa dikatakan bahwa batas-batas sebuah wilayah bertepatan dengan batas-batas bangsa. Jika tidak ada penguasa, tidak akan ada Negara, dan orangpun tidak bisa bertanya apakah mereka memerintah sebuah bangsa”. Melihat kenyataan bahwa ‘Negara Indonesia’ belum (secara resmi) ada sebelum bulan Agustus 1945, perdebatan semacam ini tentu akan sia-sia kecuali perhatian kita fokuskan pada ‘sentimen’ dan bukan pada ‘orangorangnya’. Agar lebih jelas, argumen ini akan kita kaitkan dengan fenomena ‘Kartini’ yang sering disebut-sebut sebagai salah satu bukti eksistensi Nasionalisme Indonesia sebelum abad 20. Raden Ayu Kartini (1879-1904), adalah anggota terkemuka keluarga Jawa sekaligus seorang wanita yang didudukkan sebagai Pahlawan Nasional Indonesia karena jasanya memperjuangkan hak-hak perempuan di kalangan masyarakat Indonesia pada akhir abad 19. Sebagai seorang Ningrat4, Kartini memiliki kesempatan untuk belajar di Sekolah Eropa sehingga pada saat itu ia belajar hal-hal yang tidak mungkin dipelajari masyarakat pribumi pada umumnya, seperti misalnya Bahasa dan Kebudayaan Belanda5. Dari sinilah Kartini menyadari adanya diskriminasi antara orang Barat dan Kelompok Ningrat dengan masyarakat pribumi. Kartini kemudian membuat sejumlah manuskrip dan surat-menyurat yang membuat ia dianggap sebagai salah satu ‘pioneer’ Nasionalisme Indonesia. Namun demikian, banyak ilmuwan lebih melihat Kartini sebagai figur lokal (Jawa) daripada figur Nasional (Indonesia)6. Sebagai misal Watson yang berkomentar soal Kartini: Kisah Kartini seakan-akan memberikan bukti kuat bahwa dalam sejarah, interpretasi selalu lebih dominan daripada fakta. Dalam kasus Kartini terdapat fakta sangat jelas
Naskah ini disusun secara kolektif oleh Sukarno, Hatta, dan Ahmad Subarjo. Beberapa tokoh lain seperti Sayuti Melik. BM Diah, Sukarni, dan Sudiro hadir pada saat penyusunan naskah tersebut, namun mereka tidak ikut serta menyusun naskah Proklamasi 1945. Lihat: HATTA, M. (1969) Sekitar Proklamasi 17 Agustus 1945, Jakarta, Tintamas. 4 Anggota Kelompok Aristokrat dari etnis Jawa 5 Referensi yang bagus tentang Kartini dapat ditemukan misalnya pada: FAN, K.-S. (1982) Women in Southeast Asia: a bibliography, Boston, G.K. Hall. 6 Kurang lebih dalam konteks yang sama bahwa Pattimura di Ambon (1783-1817), Pangeran Diponegoro di Jawa (1785-1855), Teungku Cik Di Tiro di Aceh (1836-1891), Pangeran Antasari di Kalimantan (1797-1862), dan lain-lain, juga dilihat sebagai “the Progenitor” Nasionalisme Indonesia.
3

2

bahwa ia lahir tahun 1879 dan wafat tahun 1904, dan bahwa adalah seorang wanita, tetapi fakta-fakta itu sebenarnya tidak memberi makna apapun; Fakta-fakta itu harus dikontekstualisakan, misalnya: Di mana dia lahir? Siapakah orang tuanya? Apa yang ia capai dalam hidup? Dan menjawab pertanyaan-pertanyaan sederhana ini para pembuat biographi serta merta menemui kesulitan sehingga menawarkan interpretasi yang bermacam-macam. Ambil contoh misalnya Negara tempat Kartini lahir. Apakah kita menyebutnya Jawa, Indonesia, ataukah Hindia Belanda?……………dan orang tuanya? Seseorang menggambarkan Kartini berdarah biru. Padahal dalam surat yang ia tulis, yang berjudul ‘Letter from Javanese Princess’ dari judulnya saja sudah mengandung miskonsepsi mengenai stratifikasi masyarakat Jawa, dan istilah “princess” jelas kurang pas. Dia adalah anggota keluarga ningrat di masyarakat aristokrat Jawa, dan ayahnya adalah seorang pegawai senior pemerintah kolonial Belanda. Yang pasti Kartini memiliki status terhormat di kalangan masyarakat pribumi.…..Salah satu pembuat biographinya, Pramoedya Ananta Toer yang terkenal itu, ragu-ragu menyebut asal mula Kartini. Judul buku yang ia tulis, Panggil aku Kartini Sadja, dia ambil dari surat yang ditulis Kartini untuk seorang kawan Balanda, menunjukkan bahwa pretensi aristokrasi layak diperdebatkan. Seorang kawan Kartini bertanya bagaimana dia harus menyapa Kartini, karena ia berpikir bahwa Kartini adalah seorang aristokrat, dan Kartini menjawab “Panggil aku Kartini”. Bagi Pramoedya, jawaban ini mencerminkan keinginan Kartini untuk mengidentifikasikan dirinya dengan orang kebanyakan. Dan sesungguhnya identifikasi dirinya dengan orang kebanyakan inilah yang menjadi tema sentral biographi tentang Kartini, menekankan bahwa Kartini adalah seorang nasionalis avant la lettre yang anti feodalisme dan struktur hirarkhis masyarakat Jawa, yang secara terus-menerus dia tentang (Watson, 2000, p.1819). Kembali pada definisi Gellner dan menyimak kisah tentang Kartini, sentimen yang dipersyaratkan oleh ‘Nasionalisme’ boleh jadi telah ada di Indonesia SEBELUM Negara ini lahir. Terlepas dari perdebatan argumen yang dikemukakan baik oleh Anderson maupun Emmerson di atas, cukup disimpulkan bahwa awal mula munculnya Nasionalisme Indonesia tidak terlalu jelas, terfragmentasi, subyektif, tetapi sangat berguna untuk menjelaskan konstruksi Negara dan masyarakat Indonesia. Persektif semacam ini bertemu dengan kontroversi yang terjadi pada saat Negara Indonesia didirikan. Sejak Kemerdekaan Indonesia dikumandangkan pada bulan Agustus 1945, muncul slogan yang bergaung dari Sabang hingga Merauke, yaitu: Bhineka Tunggal Ika (berbedabeda, tetapi tetap bersatu), yang mewakili kenyataan paling mendasar yang ada di Indonesia. Motto ini menyiratkan keinginan kuat untuk bersatu di tengah kenyataan dan karakter sosial yang teramat sangat heterogen. Keinginan bersama ini kemudian menggiring masyarakat Indonesia untuk menerima adanya ‘Karakter Bersama’ yang mengatasi perbedaan-perbedaan yang ada. Kenyataan paling luar biasa mengenai Negara ini adalah fakta bahwa Indonesia sangat terfragmentasi baik secara geograpis maupun secara etnis. Terdiri tidak kurang dari 13.667 pulau besar dan kecil, dihuni maupun tidak dihuni (Simatupang, 1977, p311-322), Indonesia sudah pasti merupakan Negara kepulauan terbesar di dunia. Meskipun luas wilayah daratan hanya sekitar 735.000 mil2, wilayah Indonesia termasuk lautannya mencapai 4 juta mil2– atau satu juta mil2 lebih besar dari Amerika kontinental (Pelzer, 1963, p. 1-2). Pulau-pulau Indonesia tersebar dalam bentangan jarak lebih dari 3.000 mil, atau setara dengan jarak antara San Fransisco dengan Kepulauan Bermuda; dan lebar sekitar 1.000 mil, atau setara dengan jarak antara dari Pulau Buffalo, New York hingga Key West, Florida (Pelzer, 1963, p.1, Vlekke, 1943, p.x). Meliputi setengah dari keseluruhan luas area Asia Tenggara, dari sudut luas wilayah, Indonesia hanya tersaingi oleh India and China (Peacock, 1973, p.1). Luas wilayah Indonesia didominasi oleh 5 (lima) pulau utama, yaitu: Sumatra, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, dan Papua. Secara etnis dan kultur, Indonesia juga merupakan Negara paling heterogen di dunia (Geertz, 1963, p.24). Mayoritas penduduknya berasal dari ras Melayu– produk dari migrasi massal, tapi kurang bisa diverifikasi, dari mainland Asia7 pada masa diantara tahun 2.500 SM hingga tahun
7 Mohammad Ali mengatakan bahwa nenek moyang orang Indonesia adalah ras Melayu yang bermigrasi dari lembah sungai Mekong, Irawady dan Saluen di Indo-China

3

100 SM. Selama berabad-abad, mereka dipercaya sebagai produk ‘amalgam’ dengan berbagai ras lain sehingga penduduk asli Indonesia relatif sulit untuk diklasifikasikan8. Raymond Kennedy, sebagaimana dikutip oleh Legge, mencatat paling tidak terdapat 14 (empat etnis utama di Indonesia, yaitu suku-suku: Aceh, Batak, Minangkabau, Melayu Pesisir, Sunda, Jawa, Madura, Bali, Dayak, Makassar, Bugis, Toraja, Menado, and Ambon (Legge, 1964, p.4). Ilmuwan seperti Hefner, bahkan percaya bahwa di Indonesia terdapat paling tidak 300 kelompok etnik (Hefner, 2005, p.75). Suku-suku tersebut mendiami wilayah tertentu, bicara dengan bahasa asli mereka, dan mengadopsi sistem organisasi sosial yang berbeda satu sama lain. Mereka memiliki sense of distinctness dan local pride yang, dalam situasi tertentu, melampaui kesetiaan mereka kepada Negara (Legge, 1964, Ibid). Menurut studi komprehensif yang dilakukan oleh the Summer Institute of Linguistics (SIL) sebagaimana dikutip oleh Emmerson, sebanyak 726 bahasa asli digunakan sebagai ‘Bahasa Ibu’ pada periode 1980an hingga awal 1990an (Emmerson, 2005, p. 23)9. Hal ini belum termasuk keberadaan etnis China, Arab, India dan Eurasia dengan segala macam bahasa dan budaya asli mereka. Sebagian etnik non-pribumi ini bahkan telah hidup di Indonesia sejak beberapa generasi sebelumnya (Skinner, 1963, p.97-117). Super-heterogenitas juga tampak dalam hal agama. Dapat dikatakan, hampir semua agama dunia ada di Indonesia kecuali Yahudi. Terdapat ratusan ‘agama lokal’ atau aliran kepercayaan ditambah dengan agama-agama utama dunia yang dianut dan dipraktekkan secara kuat oleh pemeluk-pemeluknya. Menurut sensus nasional tahun 1971, pemeluk Islam adalah 87,5% dari total penduduk, Kristen (Protestan dan Khatolik) 7,4%, Hindu 1,9%, Budha 1,7% dan lainnya 1,4% (BPS, 1973)10. Sekitar 1,5 juta (khususnya berasal dari etnis China) adalah penganut Konfusianisme (Van Der Kroef, 1953, p.121). Berbagai statistik mungkin menunjukkan data yang berbeda, namun dipercaya bahwa penganut Islam paling tidak 90% dari total jumlah penduduk (Peacock, 1973, p.147), yang kebanyakan hidup di Jawa. Agama Kristen dipraktekkan di Sumatra Bagian Utara dan Indonesia Bagian Timur seperti Sulawesi, Maluku, dan Papua; sedangkan masyarakat Bali dan Lombok mayoritas beragama Hindu. Namun demikian, dapat dikatakan bahwa ajaran Islam, Kristen, maupun Hindu tidak dipraktekkan secara benar-benar ‘murni’. Di Jawa misalnya, yang mayoritas adalah Muslim, mempraktekkan agama yang bercampur dengan ‘kearifan lokal’ (Kejawen) dan bahkan dengan ajaran Hindu dan Budha, karena kerajaan Hindu-Buda seperti Majapahit pernah dominan di pulau ini sekitar abad 14 dan 15. ‘Agama Jawa’ (Islam Jawa) mendominasi wilayah-wilayah pedesaan, dan bahkan secara harmonis memadukan unsur-unsur Animisme, Hindu, dan Islam (Sinkretisme). Bahkan menurut Clifford Geertz, Sikretisme di Jawa tak lain dan tak bukan adalah tradisi asli pulau ini (Geertz, 1976, p.5). Hanya sebagian yang mempraktekkan Islam secara ‘pure’– ditandai dengan disiplin ibadah yang sangat ketat, mendalam, dan penolakan sama sekali terhadap praktek-praktek animisme dan Hinduisme. Kelompok ini, oleh Geertz disebut sebagai Santri, yang jumlahnya diperkirakan hanya seperempat dari total penduduk Jawa. Heterogenitas dan keragaman juga terlihat jelas pada aspek-aspek lain seperti ekonomi, sosial, and politik. Jawa sangat berbeda dengan pulau-pulau lainnya. Sebagian terbesar tanah Jawa, khususnya Jawa Tengah dan Jawa Timur, telah diolah sejak berabad-abad lamanya, sehingga masyarakatnya cenderung agraris. Hal ini berpadu dengan kepadatan penduduk Jawa nonpesisir (yang ekonominya relatif tertutup dibanding masyarakat pesisir) sehingga lambat laun menciptakan masyarakat yang berkharakter feodal11. Masyarakat petani di wilayah pedesaan relatif kurang beinteraksi dengan masyarakat lainnya, sehingga pada masa lalu kemudian
(saat ini dikenal sebagai Negara Vietnam) yang datang ke Kepulauan ini sekitar tahun 2.500 S.M. Lihat: ALI, M. (1963) Perjuangan Feodal, Bandung, Ganaco., p.9-11 8 Studi historis yang sangat komprehensif mengenai pergerakan manusia dan budaya di Kepulauan Indonesia dapat ditemukan pada buku Anthony Reid and Denys Lombard. Lihat: REID, A. (1939) Southeast Asia in the age of commerce, 1450-1680, New Haven, Yale University Press.; LOMBARD, D. (1990) Le carrefour javanais : essai d'histoire globale, Paris, Editions de l'Ecole des hautes etudes en sciences sociales. 9 Namun demikian, informasi yang berbeda disampaikan oleh ilmuwan lain. Robert Cribb, misalnya, menyebut lebih dari 350. Lihat: CRIBB, R. & KAHIN, A. (2004) Historical Atlas of Indonesia, Lanham, Scarecrow Press., p. 260 10 Komposisi isi relatif tidak banyak berubah hingga sekarang (Tahun 2011) 11 Pola sosial semacam ini mirip dengan model Hydraulic Society yang direkonstruksikan oleh Karl Wittfogel, Lihat: WITTFOGEL, K. A. (1957) Oriental despotism : a comparative study of total power. , New Haven Yale University Press.

4

membentuk pusat-pusat kekuasaan sekaligus pusat peradaban masyarakat Jawa dalam bentuk kerajaan-kerajaan. Akibatnya, masyarakat Jawa terbagi dalam strata-strata bobot-bibitbebet yang sangat beragam. Sumatra dan sepanjang Pantai Timur Kalimantan menunjukkan pola sosial yang sangat berbeda. Kota-kota pealabuhan yang berkembang di wilayah-wilayah tersebut menjalin kontak secara intensif dengan pedagang luar selama berabad-abad (khususnya pedagang IndiaHindu, China, Timur Tengah dan Jepang) yang mempertukarkan komoditi seperti rempah, emas, perak, dll (See:Reid, 1939, Lombard, 1990). Di wilayah-wilayah ini, jarak sosial antara kelompok masyarakat aristokrat dengan masyarakat pada umumnya relatif tidak tampak sebagaimana terjadi di Jawa. Sebaliknya, wilayah pedalaman Sumatra and Kalimantan, menunjukkan pola sosial yang semakin menambah heterogenitas masyarakat Indonesia. Manusia-manusia di wilayah ini hidup menyebar di hutan-hutan luas dan sebagian hidup secara nomaden. Petaninya berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya, membabat hutan, menanam padi, singkong, jagung dan palawija (ladang berpindah), sehingga relatif tidak memiliki keterkaitan dengan dengan unit-unit sosial yang lebih besar. Semua faktor yang disebutkan di atas membuat “Persatuan/Tunggal” sebagaimana disebutkan dalam slogan ‘Bhineka Tunggal Ika’ sering diragukan efektifitasnya, sehingga sering lebih dilihat sebagai aspirasi ketimbang kenyataan. Polarisasi Elit Pendiri Republik Tidak adanya pemahaman tunggal tentang Nasionalisme di Indonesia dan setting sosial masyarakat Indonesia yang super-heterogen sebagaimana digambarkan di atas kemudian menimbulkan beberapa konsekuensi logis, yang antara lain terlihat melalui kenyataan bahwa: pertama, para elit pendiri Negara Indonesia tidak sepaham tentang “raison d’etre”—alasan paling fundamental keberadaan Bangsa Indonesia; kedua, elemen-elemen Bangsa Indonesia cenderung memanfaatkan Nasionalisme untuk kepentingan-kepentingan sektarian; ketiga, kelompok tertentu mengklaim dirinya sebagai pendiri asli, atau pewaris sah Bangsa Indonesia, sehingga merasa paling berhak menentukan nasib dan masa depan Bangsa ini. Kedua konsekuensi yang disebut terakhir ini jelas tercermin pada pertentangan antara kelompok Islam dan Kelompok Nasionalis Sekuler selama paruh pertama abad ke-20, ketika Negara Republik Indonesia sedang ingin didirikan. Sukarno dan kawan-kawannya dari Kelompok Nasionalis Sekuler sering merujuk Nasionalisme Indonesia pada keberadaan ‘Budi Utomo’, sebuah organisasi yang didirikan oleh Sutomo pada tahun 1908. Organisasi ini pada awalnya hanya berkiprah pada tingat propinsi (dan bukan pada tingkat nasional), meskipun keanggotaannya meliputi seluruh pulau Jawa (Nasution, 1965, p. 117) dan dari perspektif sosio-kultural maupun visi misi organisasi, hanya meliputi masyarakat di Jawa Tengah (Pringgodigdo, 1967, p. 8). Meskipun relevansinya pernah mengundang perdebatan, Bangsa Indonesia menetapkan tanggal pendirian Budi Utomo sebagai Hari Kebangkitan Nasional, yang kemudian dipakai oleh Kelompok Nasionalis Sekuler sebagai embryo Negara Indonesia. Terdapat paling tidak dua konotasi menyangkut simbol publik ini, yaitu: pertama, meskipun berkarakter lokal, keberadaan Budi Utomo adalah penting karena melalui organisasi ini, perjuangan melawan penjajahan PERTAMA KALI diorganisir dengan cara modern (Pringgodigdo, 1967, p.11); kedua, berawal dari organisasi ini, gerakan nasionalisme sekuler tumbuh dan berkembang (dengan pendirian Partai Nasional Indonesia-PNI—pada 4 Juli, 1927; Partai Indonesia--Partindo—pada April 1931; Pendidikan Nasional Indonesia--PNI Baru---pada Desember 1933; Partai Indonesia Raya--Parindra—pada 26 Desember, 1935, dan; Gerakan Rakyat Indonesia--Gerindo—pada 24 Mei, 1937) (Pringgodigdo, 1967, p.55-62 and 105-144). Kelompok Nasionalis tersebut dapat dianggap sebagai pembela pluralisme and pandangan liberal di Indonesia. Seraya memperjuangkan kesamaan hak antara orang Barat dan Pribumi, kelompok ini mengidolakan sebuah Republik—yang tidak selalu harus berpemerintahan sendiri —dengan model pemerintahan parlementer dengan menekankan pada Nasionalisme multikultural. Kelompok ini cenderung menolak keberadaan faktor-faktor sektarian dalam pengelolaan negara, termasuk agama. Dalam pandangan mereka, privilege apapun yang

5

diberikan kepada agama tertentu, yang dalam hal ini adalah kaum Islam-mayoritas, adalah sesuatu yang tidak dapat ditolerir, sehingga negara harus benar-benar dipisahkan dengan agama. Akibatnya, pada masa awal berdirinya Republik Indonesia, kelompok ini dianggap sebagai ‘Tempat Bernaung’ bagi kelompok-kelompok minoritas di Indonesia– khususnya penganut Kristen, yang mayoritas tinggal di wilayah Indonesia bagian timur12. Diantara pemimpin kelompok Nasionalis Sekuler adalah Dr. Radjiman Wedyodiningrat, Wurjaningrat Djiwosewodjo, Sukarno, AA. Maramis, Muhammad Yamin, Ahmad Soebardjo, dan Mohammad Hatta. Pendapat ini tentu tidak di-amini oleh seluruh komponen Bangsa, khususnya kelompok Nasionalis Islam. Kelompok ini justru melihat Sarekat Islam--SI (Kelanjutan dari Sarekat Dagang Islam-SDI13 yang didirikan oleh Hadji Samanhudi pada tahun 1905) sebagai awal mula pergerakan Nasionalisme Indonesia (Nasution, 1965, p.1). Paling tidak terdapat 2 (dua) argumen yang mengemuka, yaitu: pertama, berbeda dengan Budi Utomo (yang hanya berkiprah di Jawa dengan anggota kurang dari 10 ribu), cakupan operasi Sarekat Islam jauh lebih luas. Pada tahun 1916, terdapat tidak kurang dari 181 cabang SI di Indonesia, dengan tidak kurang dari 700 ribu anggota, yang kemudian berkembang hingga 2 juta anggota pada tahun 1919 (Pringgodigdo, 1967, p.18); kedua, penduduk Indonesia secara natural terpisah dalam etnis, masing-masing dengan bahasa, sejarah, struktur sosial, dan tradisi yang berbeda, sehingga sejarah nasionalisme Indonesia sebelum abad 20 lebih berkarakter etnis daripada nasional. Dalam situasi semacam ini, Islam (khususnya SI) adalah sebuah kekuatan sosial yang mampu mengatasi batas-batas sektarian dan primordial. Sebagaimana dikemukakan oleh Nasution: “khususnya Islam……..yang mempu menciptakan kesadaran dan rasa memiliki....Islam adalah kekuatan yang menyatukan identitas mereka....Melalui Islam, kelompok-kelompok etnis tersebut disatukan dalam masyarakat yang lebih besar. Islam mampu mendobrak nationalisme lokal (Nasution, 1965, p.180). Sementara itu, bukan sebuah kebetulan bahwa pahlawan-pahlawan nasional yang hidup sebelum abad 20 seperti Pangeran Diponegoro, Cut Nya Dien, Cut Meutia, Pangerang Tirtayasa, Teungku Cik di Tiro, Sultan Baabullah, dan Pangeran Antasari adalah tokoh-tokoh Islam, sehingga hal ini dipakai sebagai pembenaran tambahan bagi klaim Kelompok ini. SI beberapa kali berubah nama: menjadi Partai Syarikat Islam (PSI) pada tahun 1923; tahun 1927 berubah lagi menjadi Partai Syarikat Islam Hindia Timur (PSIHT); dan akhirnya menjadi Partai Syarikat Islam Indonesia (PSII) (Pringgodigdo, 1967, pp.35, 40). SI bergandengan tangan dengan organisasi-organisasi lain membangun Kelompok Nasionalis Islam, antara lain dengan Persatuan Muslimin Indonesia (Permi) yang didirikan di Sumatra pada tahun 1932, dan Partai Islam Indonesia (PII) di Jawa tahun 1938 (Pringgodigdo, 1967, p.124). Baik Nasionalis Sekuler maupun Nasionalis Islam, sesungguhnya memiliki tujuan perjuangan yang serupa, yaitu persamaan hak pribumi dengan keturunan Belanda, dan bahkan membangun semangat anti-kolonialisme hingga lepas dari penjajahan. Keinginan tersebut bermula dari kenyataan bahwa kolonialisme telah membawa penderitaan bagi pribumi, yang dipupuk dengan sentimen agama bahwa penjajah adalah orang asing yang kafir14. Namun dalam hal ini Nasionalis Islam relatif lebih radikal dibandingkan dengan rekannya. Bagi kelompok Islam, negara dengan pemerintahan sendiri adalah tujuan yang tidak dapat dinegosiasikan15. SI menyatakan bahwa tujuan organisasinya adalah“Untuk mencapai
Pada masa berikutnya, klasifikasi geografis ini pernah dipakai oleh Pemimpin Kristen untuk memperingatkan Hatta bahwa Wilayah Indonesia Timur tidak akan bergabung ke Republik Indonesia apabila Konstitusi negara tersebut memberi perlakuan khusus bagi Muslim-mayoritas. 13 Awalnya ditujukan untuk memberi perlindungan terhadap pedagang Muslim lokal dari ekspansi dan monopoli pedagang China. 14 Argumen serupa juga disampaikan oleh Harry J. Benda. Lihat: BENDA, H. J. (1958) The crescent and the rising sun : Indonesian Islam under the Japanese occupation, 19421945. , The Hague, Van Hoeve. 15 Bagi Sukarno dan tokoh Nasionalis Sekuler pada umumnya, perjuangan mencapai kemerdekaan harus berdasarkan pada pragmatisme daripada pendekatan radikal yang dipakai oleh Nasionalis Islam maupun Kelompok Socialis. Perbedaan pandangan inilah yang kemudian menimbulkan pertentangan antara Nasionalis Sekuler di satu sisi dengan Kelompok Nasionalis Islam dan Kelompok Sosialis di sisi lain. Bahkan, karena pragmatisme semacam itu, Sukarno dkk sering dilanggap sebagai Kolaborator Kolonial, karena sifat perjuangannya yang moderat, dan kadangkala kooperatif selama
12

6

pembangunan pribumi yang sesungguhnya melalui persaudaraan, persatuan, dan saling bantu diantara pemeluk Islam…...pemerintahan sendiri (zelfbestuur) sebagai tujuan akhir perjuangan penjajah, dan untuk melawan segala bentuk eksploitasi Kapitalisme16” (Pringgodigdo, 1967, p.18). Perbedaan lain yang membelah Nasionalis Sekuler dari Nasionalis Islam terkait dengan hubungan antara negara dan agama. Bagi Nasionalis Islam, negara semestinya tidak dipisahkan dari agama karena tujuan utama negara antara lain menciptakan hubungan baik antara manusia dan Tuhan. Alasan yang disampaikan kurang lebih seperti apa yang dismpaikan oleh Deliar Noer, bahwa “(Islam).…tidak memisahkan antara kehidupan spiritual dengan keseharian kehidupan manusia, tetapi mencakup ajaran mengenai keduniawian sekaligus keagamaan. Hukum Islam, Syari’at mengajarkan dua aspek kehidupan, hubungan manusia dengan Tuhan dan dengan sesamanya (Noer, 1973, p.1). Kelompok ini mengharapkan agar Syariat Islam dipakai sebagai Dasar Negara Republik Indonesia, meskipun mereka juga bisa menerima pandangan demokratis. Di antara pemimpin kelompok ini adalah: Haji Samanhudi, HOS Tjokroaminoto, Natsir, Abikoesno Tjokrosoejoso, Abdul Kahar Muzakkir, Ki Bagus Hadikusumo, Abdul Wahid Hasyim, dan Haji Agus Salim. Dari gambaran di atas, terlihat bahwa polarisasi di kalangan elit sangat jelas ada di Indonesia sejak awal abad 20. Inheren dengan persaingan ideologis antara Budi Utomo dengan Sarekat Islam, organisasi-organisasi lain yaitu Jong Java (didirikan tahun 1915) memiliki rival Jong Islamiten Bond (JIB, berdiri tahun 1925). Permufakatan Perhimpunan Politik Kebangsaan Indonesia (PPPKI, 1927) bersama Gabungan Politik Indonesia (GAPI, 1939), beradu pengaruh dengan Majlis Al-Islam A’la Indonesia (MIAI, 1937). Masih lagi, Java Hokokai (1944) berdiri sebagai rival utama Majlis Syuro Muslimin Indonesia (Masyumi, 1943) (Pringgodigdo, 1967, p.19-34, Anshari, 1997, p.9), dan sudah sewajarnya jika persaingan tersebut mengerucut pada persaingan Individual antara Sukarno dan Natsir. Syariat Islam versus Sekularisme Friksi antara Nasionalis Islam dan Nasionalis Sekuler memuncak di tahun 1940, yang tercermin dari polemik yang berkembang antara Sukarno17 dan Muhammad Natsir18 seputar hubungan antara negara dan agama (Noer, 1973, p.294), Sukarno (juru bicara kelompok Nasionalis Sekuler) menulis artikel yang berjudul “Memudakan Pengertian Islam”, “Masyarakat Unta dan Masyarakat Kapal Udara”, dan “Apa Sebab Turki Memisahkan Negara dari Agama”. Melalui artikel-artikel ini, Sukarno berusaha meyakinkan kelompok Islam mengenai pentingnya memisahkan negara dari agama. Menurut Sukarno, masyarakat Indonesia harus: pertama, menyadari keterbelakangannya; kedua, berbesar hati, mengakui terjadinya mis-persepsi terhadap ajaran agama dan nilai-nilai luhur nenek moyang, dan; ketiga, membebaskan diri dari kesalahan masa lalu, karena kalau tidak mereka tidak akan pernah maju. Natsir (mewakili Nasionalis Islam) menjawab dengan mengeluarkan 9 (sembilan) artikel bertajuk “Persatuan Negara dan Agama”-yang menentang argumen Sukarno.

periode 1920-1945. 16 Pernyataan ini barangkali cukup layak untuk dipakai sebagai penjelasan kunci terhadap fenomena kedekatan politik pada tahun 1920an antara Nasionalis Islam dengan ISDV (Kelompok Socialis di Volksraad---yang sekaligus merupakan embryo Partai Komunis Indonesia). Itulah mengapa SI pada masa berikutnya sempat diasosiasikan dengan Socialis-dan bukannya Nasionalis Islam, khususnya setelah bergabungnya Ki Semaun dan Darsono (dua orang Sosialis terkemuka) ke SI pada tahun 1918. Mengenai hal ini, Lihat: BRACKMAN, A. C. (1963) Indonesian communism : a history, New York, Praeger. 17 Sukarno yang lahir pada tahun 1901, adalah pendiri sekaligus ketua PNI (1927). Sukarno menjadi Presiden Pertama Indonesia periode 1945-1966. Biographi tentang Sukarno dapat dilihat misalnya dalam LEGGE, J. D. (1972) Sukarno: A Political Biography, London, Allen Lane the Penguin Press. 18 Natsir yang lahir pada tahun 1908, adalah pemimpin PII (1938) dan pernah menjadi Presiden Partai Masyumi (1952-1959). Ia adalah Perdana Menteri pertama Republik Indonesia (1950). Biographi singkat tentang Natsir dapat dilihat pada FEENER, R. M. (2007) Muslim legal thought in modern Indonesia, Cambridge, Cambridge University Press., p. 83-84

7

Singkatnya, kedua kelompok bersepakat bahwa kemerdekaan Indonesia hanyalah masalah waktu, sehingga diperlukan persiapan, namun mereka tidak bersepakat tentang pilihan Dasar Negara yang akan dipakai setelah Indonesia nantinya telah merdeka. Kelompok pertama menghendaki pemisahan antara negara dan agama, sedang kelompok lainnya menghendaki Syariat Islam sebagai ideologi negara. Sementara itu, situasi di arena internasional pada awal tahun 1940an berkembang semakin cepat, sehingga mempengaruhi persaingan ideologis tersebut. Segera setelah pasukan Jepang menyerang Pearl Harbour pada 8 Desember 1941, Amerika Serikat menyatakan ikut perang di Pasifik, yang juga diikuti oleh pernyataan serupa oleh Pemerintah Belanda dua hari kemudian. Akan tetapi, deklarasi tersebut tidak diantisipasi dengan baik oleh Pasukan Belanda di East Indische sehingga wilayah ini dengan cepat jatuh kepada Jepang.19 Bagi rakyat Indonesia, pendudukan Jepang dan pendudukan Belanda tidak jauh berbeda, dan bahkan membawa penderitaan yang lebih berat lagi kepada rakyat Indonesia. Namun demikian, situasi tersebut tidak berkepanjangan seiring dengan perkembangan situasi pada awal 1944, ketika Jepang mulai menyadari bahwa mereka memerlukan dukungan pribumi untuk menghambat desakan Sekutu. Pada September 1944, Perdana Menteri Koyso secara terbuka berjanji akan memberikan kemerdekaan kepada Indonesia “kelak di kemudian hari”20. Beberapa itikad baik juga dilakukan oleh Jepang guna meyakinkan rakyat Indonesia bahwa Jepang serius dengan janjinya. Diantara itikad tersebut adalah dengan membiarkan kelompok Nasionalis Indonesia untuk berperan serta dalam pemerintahan dan memberi ruang bagi mobilisasi massa. Rakyat Indonesia juga diperbolehkan untuk membentuk organisasi bersenjata seperti PETA--Pembela Tanah Air—pada tahun 1943 dan Hizbullah pada tahun 1944. Pada 9 September, 1944, lagu Indonesia Raya (yang sebelumnya dilarang untuk dikumandangkan) diperbolehkan untuk dinyanyikan kembali. Bendera Merah Putih boleh berkibar berdampingan dengan Bendera Jepang (Panitia Lima, 1977, p.29). Akhirnya, para pemimpin pergerakan Indonesia diperbolehkan untuk menyatakan pendapat di depan publik, dengan syarat mereka tidak mendiskreditkan tentara Jepang. Janji Jepang untuk memberikan ‘kemerdekaan...kelak di kemudian hari’ dan berbagai macam kebebasan yang diberikan oleh Jepang kemudian menimbulkan berbagai interpretasi di kalangan masyarakat Indonesia, karena pernyataan tersebut tidak menyebutkan secara spesifik mengenai ‘Kapan kemerdekaan tersebut akan diberikan?’.21 Menurut Anderson dan Kahin, janji tersebut “……seharusnya tidak diinterpretasikan ‘dalam waktu dekat” (Anderson, 1961, p.2) atau ‘segera’ (Kahin, 1952, p.115). Meskipun demikian, mayoritas rakyat Indonesia percaya dengan janji tersebut, sehingga Sukarno dan kawan-kawan lebih suka wait and see, seraya bersikap kooperatif. Sebaliknya, segenap aktivis pemuda Sosialis yang di dukung oleh kelompok Nasionalis Islam memilih untuk melakukan reaksi cepat22. Faktor inilah yang mendorong sebagian kelompok Nasionalis untuk tetap menentang kontrol Jepang atas wilayah Hindia Belanda. Slogan seperti “Kemerdekaan tidak seharusnya Hadiah” seringkali disuarakan di kalangan Pemuda pada saat itu. Meskipun demikian, pendekatan ini tenggelam oleh perkembangan selanjutnya yang cenderung berpihak kepada posisi Sukarno.

Kisah tentang Perang Dunia II dapat ditemukan pada banyak sekali referensi, antara lain: BENDA, H. J. (1958) The crescent and the rising sun : Indonesian Islam under the Japanese occupation, 1942-1945. , The Hague, Van Hoeve., khususnya Chapter 3 dan 4. 20 Teks asli Perdana Menteri Koiso dipublikasikan pada Asia-Raja edisi 8 September 1944 mengatakan “….kelak pada kemudian hari” DAHM, B. (1969) Sukarno and the struggle for Indonesian independence Ithaca, N.Y., Cornell University Press. p.276. 21 Fakta inilah yang menjadi latar belakang perdebatan panjang pada era setelah merdeka, yaitu apakah kemerdekaan Indonesia merupakan hadiah dari Jepang, ataukah merupakan hasil perjuangan Nasionalis melawan penjajahan. 22 Sebagai pengecualian dalam kelompok ini adalah Abikusno Tjokrosujoso. Segera setelah Belanda menyerah kepada Jepang, Abikusno Tjokrosujoso terlibat dalam kegiatan politik yang bertujuan untuk membentuk Pemerintahan Indonesia guna membantu administrasi perang Jepang. Tindakan tersebut, menurut Van Dijk, mungkin didorong oleh salah pemahaman atas janji Jepang. Lihat: VAN DIJK, C. (1981) Rebellion under the banner of Islam : the Darul Islam in Indonesia, The Hague, Martinus Nijhoff., p.42

19

8

Para elit Nasionalis Indonesia kemudian mendapatkan kesempatan pertama untuk duduk bersama dan menyampaikan gagasan secara lebih jelas ketika otoritas Jepang membentuk sebuah Komite23 pada tanggal 29 April 1945 (Yamin, 1960, p.239) . Komite tersebut diberi nama Dokuritsu Zyunbi Tyoosakai (Komite Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia), dengan 62 anggota yang diketuai oleh DR Radjiman Wedyodiningrat (Anderson, 1961, p.2) dengan 2 (dua) wakil ketua, satu adalah orang Jepang, satu lainnya orang Indonesia. Selain itu, ada juga 7 (tujuh) orang Jepang yang berstatus sebagai anggota luar biasa (Pantjasila 1964, p.10). Dengan demikian, Komisi ini harus bekerja cepat di tengah cepatnya perkembangan situasi di bawah pengawasan ketat otoritas Jepang. Selama keberadaannya, Komisi ini bersidang dua kali, pertama pada tanggal 29 Mei hingga 1 Juni 1944; dan kedua pada tanggal 10 hingga 16 Juli 1945. Komite Penyelidik ini khususnya membahas mengenai prinsip-prinsip dasar Negara Indonesia yang akan didirikan, dan yang paling penting ketika Dr. Radjiman pada saat membuka pertemuan menyampaikan pertanyaan kepada para anggota Komite, yaitu: Dasar apakah yang akan kita pakai sebagai pondasi Negara yang akan kita dirikan?

Anggota Badan Penyelidik ini segera terpecah menjadi beberapa kelompok dengan aspirasi yang berbeda. Salah satu kelompok menginginkan agar Islam dijadikan sebagai landasan dalam bernegara, yang serta merta ditolak oleh kelompok yang menghendaki sekularisme. Perdebatan berlangsung alot, sebagaimana digambarkan oleh Sukarno, “Orang Jawa, pedagang Sumatra, petani dari pulau lain, tidak bersepakat satu dengan yang lain. Selama waktu rehat dari jam satu hingga jam lima, kelompok Islam bertemu secara terpisah, begitu pula kelompok Nasionalis, para Federalis dan Unitaris juga bertemu secara terpisah. Yang mengklaim wilayah kita sebagaimana bekas Hindia Belanda membentuk satu kelompok. Yang mengklaim lebih luas atau yang cukup puas dengan wilayah yang lebih kecil juga membentuk satu kelompok. Muslim radikal memaksakan sebuah Negara yang berdasarkan ajaran Islam. Ada juga kelompok moderat yang mengatakan bahwa Indonesia belum cukup dewasa untuk mempunyai pemerintahan sendiri” (Adams, 1966, p.299). Pada tanggal 1 Juni 1945, setelah pertentangan sengit diantara para anggota Komite selama 3 (tiga) hari, Sukarno menyampaikan sebuah pidato yang menentukan nasib sejarah Bangsa Indonesia, yang berjudul “Lahirnya Pancasila”, sebagai berikut: Paduka Tuan Ketua yang Mulia, “…………..menurut anggapan saya, yang diminta oleh Paduka Tuan Ketua Yang Mulia ialah, dalam bahasa Belanda: philisophische gronslag daripada Indonesia merdeka. Philisophische gronslag itulah fundamen filsafat , fikiran yang sedalam-dalamnya, jiwa hasrat yang sedalam-dalamnya untuk di atasnya didirikan gedung Indonesia Merdeka yang kekal dan abadi” (Soekarno, 1961, p.5). Dalam pidato ini, Sukarno mengusulkan sebuah Kompromi: “………Indonesia merdeka bukanlah Negara Islam dan bukan pula Negara Sekuler, tetapi sebuah negara Pancasila” (Soekarno, 1961, Ibid).
Segera setelah PM Koiso menyampaikan pernyataannya “Tokyo memerintahkan para komandan tentara Jepang di Hindia Belanda, agar tidak menetapkan kapan waktu pemberian kemerdekaan yang dijanjikan, dan menginstruksikan agar penggunaan symbolsimbol nasional agar diperbolehkan” ANDERSON, B. R. O. G. (1961) Some aspects of Indonesian politics under the Japanese occupation : 1944-1945. , Ithaca, N.Y. , Cornell University. Dept. of Far Eastern Studies., p.2. Menindak-lanjuti perintah tersebut, Lt. Gen. Keimakici Harada, Komandan tentara Jepang di Jawa, kemudian mendeklarasikan berdirinya Dokuritsu Zyunbi Tyoosakai dan menyatakan bahwa tujuan pendiriannya adalah untuk memberikan kemerdekaan bagi Indonesia. Di atas kertas, Badan ini dimaksudkan sebagai tempat untuk membahas pertanyaan-pertanyaan mendasar serta rencanarencana terkait dengan pendirian Negara Indonesia yang merdeka. Hasilnya akan diserahkan, melalui otoritas Jepang, kepada Badan lain yang disebut Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI)—Badan lain yang dibentuk kemudian oleh otoritas Jepang.
23

9

Menurut Sukarno, Pancasila—yang secara harfiah berarti “Lima Pilar” atau “Lima Prinsip”— terdiri dari sila-sila yang tersusun sebagai berikut:

1. Kebangsaan Indonesia atau Nasionalisme Indonesia 2. Internationalisme/Perikemanusiaan
3. Mufakat/Demokrasi 4. Kesejahteraan Sosial 5. Ketuhanan Yang Maha Esa (Pantjasila 1964, p.22-34) Menurut Sukarno, kelima prinsip tersebut dapat diperas menjadi tiga (Trisila), yaitu: SocioNasionalisme, Socio-Demokratie, dan Ketuhanan; ---dan masih dapat diperas lebih jauh lagi menjadi satu prinsil (Ekasila), yaitu: prinsip Gotong Royong. “Jikalau saya peras yang lima menjadi tiga, dan yang tiga menjadi satu, maka dapatlah saya satu perkataan Indonesia yang tulen, yaitu perkataan "gotong-royong". Negara Indonesia yang kita dirikan haruslah negara gotong royong! Alangkah hebatnya! Negara Gotong Royong!” (Pantjasila, 1964, p.35)

Pidato Sukarno mendapatkan respon meriah karena memberikan semacam ‘jalan tengah’ terhadap deadlock dalam BPUPKI, yang seharusnya dapat menyelesaikan tugasnya sesegera mungkin. Sebuah komisi ad-hoc kemudian dibentuk dengan tugas khusus untuk: Memformulasikan Pancasila sebagai Dasar Negara dengan rujukan pidato yang disampaikan Sukarno tanggal 1 Juni, 1945. Teks tersebut juga direncanakan untuk dipakai pada saat memproklamirkan kemerdekaan Indonesia (Panitia Lima, 1977, p.31). Komisi tersebut dikenal sebagai “Panitia Sembilan” karena anggotanya berjumlah 9 orang, yaitu: Sukarno (IslamSekuler), Muhammad Hatta (Islam-sekuler), AA Maramis (Kristen-sekuler), Abikusno Tjokrosujoso (Islam), Abdul Kahar Muzakir (Islam), Haji Agus Salim (Islam), Ahmad Subardjo (Islam-Sekuler), Wahid Hasyim (Islam), Muhammad Yamin (Islam Sekuler)24. Hasil kerja Komisi ad-hoc ini dikenal dengan Piagam Jakarta (yang notabene merupakan cikal bakal Konstitusi Indonesia) yang ditandatangani oleh anggota Panitia Sembilan pada 22 Juni, 1945, yang paragraph terakhirnya berbunyi sebagai berikut25: Kemudian dari pada itu untuk membentuk suatu Pemerintah Negara Indonesia Merdeka jang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah-darah Indonesia, dan untuk memadjukan kesedjahteraan umum, mentjerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia jang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial, maka disusunlah kemerdekaan kebangsaan Indonesia itu dalam suatu Hukum Dasar Negara Indonesia, jang terbentuk dalam suatu susunan Negara Republik Indnesia, jang berkedaulatan rakjat, dengan berdasar kepada: keTuhanan, dengan kewadjiban mendjalankan sjari’at Islam bagi pemeluk-pemeluknja, menurut dasar kemanusiaan jang adil dan beradab, persatuan Indonesia, dan kerakjatan jang dipimpin oleh hikmat kebidjaksanaan dalam permusjawaratan perwakilan, serta dengan mewudjudkan suatu keadilan sosial bagi seluruh rakjat Indonesia. Jakarta, 6-22-1945 (Ir. Sukarno, Drs. Mohammad Hatta,Mr. A.A. Maramis, Abikusno Tjokrosujoso, Abdulkahar Muzakir, H.A. Salim, Mr. Achmad Subardjo, Wachid Hasjim, Mr. Muhammad Jamin)
Komposisi ini menunjukkan bahwa 90% anggota Panitia Sembilan beragama Islam, namun kelompok Islam ‘pure’, hanya 45%, sedangkan 55% mewakili kelompok sekuler. Peta ini menjelaskan mengapa hasil kerja Komisi mencerminkan adanya ‘pertentangan sengit’ antara ideologi Islam versus Sekulerisme dalam draf Konstitusi. 25 Dikutip dari SIDJABAT, W. B. (1965) Religious Tolerance and the Christian Faith, Jakarta, Badan Penerbit Kristen., p.19
24

10

Dari teks tersebut, terdapat perbedaan antara formulasi Pancasila yang dikemukakan Sukarno dan formulasi yang disampaikan Panitia Sembilan, sebagai berikut: Versi Sukarno Nasionalisme Indonesia Internasionalisme Musyawarah Mufakat/Demokrasi Keadilan sosial Ketuhanan Yang Maha Esa Versi Panitia Sembilan Ketuhanan yang Maha Esa, dengan kewajiban untuk menjalankan syariat Islam bagi pemeluknya Kemanusiaan yang adil dan beradab Persatuan Indonesia Kerakyatan yang di pimpin oleh hikmat kebijaksanaan perwakilan Keadilan Sosial

1 2 3 4 5

1 2 3 4 5

Perbedaannya adalah menyangkut penekanannya. Jika menurut Sukarno, kelima prinsip Pancasila tersebut dapat diperas menjadi satu, yaitu Gotong Royong, Panitia Sembilan cenderung memilih Ketuhanan Yang Maha Esa sebagai prinsip perasannya. Sebuah pertanyaan yang kemudian menjadi kontroversi berkepanjangan dalam sejarah Republik Indonesia adalah: “mengapa Konstitusi yang kemudian diadopsi (versi Sukarno) berbeda dengan hasil kesepakatan Komisi (versi Panitia Sembilan)?26 Analisis pertama terkait dengan komposisi keanggotaan Panitia Sembilan. Karena 90% anggota Panitia Sembilan adalah Muslim sedangkan 50% dari mayoritas tersebut adalah ‘Islam-santri’, maka Pancasila versi Panitia Sembilan dapat dikatakan merupakan hasil dari ‘Tirani Mayoritas’. Konsep asli yang diajukan oleh Sukarno secara jelas mencerminkan pandangan pluralistik– sudut pandang yang tentu saja berbeda dengan pandangan umum kelompok mayoritas, meskipun sebenarnya Sukarno adalah juga seorang Muslim. Analisis kedua terkait dengan aspirasi kelompok yang sebelumnya dikenal sebagai pembela Syariat Islam sebagai ideologi negara. Penilaian ini berdasarkan atas dua pertimbangan: Pertama, Pancasila versi Panitia Sembilan menempatkan Ketuhanan Yang maha Esa pada urutan pertama; Kedua, pencantuman kalimat “dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluknya” setelah kalimat Ketuhanan Yang Maha Esa memiliki arti yang khusus. “Ketuhanan yang Esa” adalah salah satu prinsip paling mendasar agama Islam: Tauhid. Surat Al Ikhlas (dikutip dari the Qur'an, Surat 112) berbunyi:

1. Katakanlah: dialah Allah, Yang Maha Esa; 2. Allah, tempat meminta segala sesuatu;
3. Allah tidak beranak dan tidak pula diperanakkan 4. Dan tidak ada sesuatu yang setara denganNya Ayat pertama menegasikan gagasan mengenai polytheisme, yang dianggap bertentangan dengan prinsip paling fundamental agama Islam (dan agama Samawi lainnya termasuk Kristen dan Yahudi). Pada saat yang sama, kata “Ketuhanan Yang Maha Esa” tidak menyerang secara langsung agama besar lainnya (seperti Hindu and Budha) sehingga cukup dapat mengakomodir polytheisme terkait dengan konsep Ketuhanan. Analisis ketiga bersifat komplementer terhadap analisis kedua. Kalimat “Dengan berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa …..” pada paragraph ketiga Piagam Jakarta jelas-jelas merupakan indikator keinginan Panitia Sembilan untuk mengakomodir aspirasi Islam. Kata “Allah” merujuk pada Tuhan, khususnya Tuhan umat Islam. Namun demikian, sila pertama Pancasila diformulasikan dalam bahasa yang netral: Ketuhanan Yang Maha Esa dan bukannya Allah Yang Maha Esa yang artinya sesungguhnya sama. Jawabannya adalah karena Pancasila diusulkan, dan kemudian diterima sebagai bentuk kompromi antara kelompok yang menginginkan berdirinya sebuah Negara Agama dengan kelompok yang menginginkan sebuah
26

bahwa sifat Konstitusi versi Sukarno jauh lebih sekuler dibandingkan versi Panitia

Sembilan.

11

Negara Sekuler, sehingga formula-nya diupayakan agar dapat memuaskan kedua kelompok meskipun kedua kelompok tentu saja tidak sepenuhnya puas dengan formula tersebut. Konstitusi campuran sebagai sebuah jalan tengah Apakah Piagam Jakarta lantas dipakai sebagai Konstitusi Negara Indonesia? Jawabannya adalah “Tidak”. Isi naskah asli Piagam Jakarta hanya sebagian yang dimasukkan dalam Konstitusi Indonesia sedangkan beberapa elemen yang dianggap ‘penting dan mendasar’ oleh kelompok Islam justru hilang dari draf Konstitusi yang baru, yang menyebabkan konflik antara kelompok Nasionalis Islam dan Nasionalis Sekuler semakin meruncing pada masa-masa berikutnya. Pada pertemuan kedua BPUPKI (10 Juli – 17 Juli, 1945), sebuah panitia khusus dibentuk dengan 19 anggota dan Sukarno ditunjuk sebagai ketuanya. Komisi ini bertugas untuk menyusun rancangan Konstitusi yang rencananya akan digunakan sebagai materi Konstitusi Negara. Diantara 19 anggota ini, 7 (tujuh) orang kemudian didaulat sebagai Tim Kerja yang dipimpin oleh Supomo27, yang merupakan salah satu pimpinan organisasi Budi Utomo. Kelompok Kerja yang dipimpin Supomo berhasil menyiapkan draf pertama pada 13 Juli 1945. Pada draf ini, sebuah pasal yang bernuansa agamis dimasukkan – Pasal 29, yang terdiri dari dua ayat. Ayat pertama berbunyi: “Negara berdasarkan atas Ketuhanan Yang Maha Esa, dengan kewajiban untuk menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya”28. Ayat kedua menyebutkan: “Negara menjamin kebebasan tiap warga negaranya untuk memeluk agama dan kepercayaannya”29. Ayat kedua ini sesungguhnya merupakan amandemen dari formulasi yang disampaikan Tim Kerja pimpinan Supomo, yang menyebutkan: “Negara menjamin kebebasan setiap orang untuk memeluk agama lain dan untuk beribadah menurut agama dan kepercayaannya” (Yamin, 1959, Ibid). Teks asli Supomo ini ditolak oleh Kelompok Islam, karena berdasarkan kepercayaan Islam, berpindah ke agama lain dianggap sebagai perbuatan murtad. Oleh karenanya, formulasi final tersebut sekali lagi merupakan upaya kompromi yang tidak ditolak namun juga tidak seratus persen diterima oleh kelompok Islam maupun kelompok Sekuler. Hal lain yang juga signifikan yaitu Pasal 6 (sebelumnya 4 ayat 2UUD 1945. Panitia Kerja Supomo mengusulkan pasal yang berbunyi “Presiden harus warga negara Indonesia”, yang oleh Wahid Hasyim ditambahi kata “…dan beragama Islam”. Akan tetapi, kata ini ditolak oleh Haji Agus Salim yang juga seorang Muslim. Menurutnya “Dengan ini, kompromi antara golongan kebangsaan dan Islam akan mentah lagi: Apakah hal ini tidak bisa diserahkan kepada Badan Permusyawaratan Rakyat? Jika Presiden harus orang Islam, bagaimana halnya terhadap wakil presiden, duta-duta dan sebagainya. Apakah artinya janji kita untuk melindungi agama lain? (Yamin, 1959, p.262) Sementara itu, situasi berubah dengan sangat cepat. Sebagai komitmen atas janjinya, otoritas Jepang membentuk Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) pada 7 Agustus 1945 untuk menggantikan BPUPKI. Akan tetapi, sebelum Badan ini bekerja, kekalahan Jepang semakin nyata sehingga jelas bagi semua bahwa Jepang tidak mungkin akan dapat memenuhi janjinya memberikan kemerdekaan bagi rakyat Indonesia. Akibatnya, pada 17 Agustus 1945–
27 Cukup menarik untuk dicatat bahwa Supomo---pada saat rapat BPUPKI tanggal 31 Mei 1945—sehari sebelum pidato bersejarah Sukarno—telah menyatakan penolakannya terhadap Negara Islam. Dalam pertemuan ia berkata: “untuk mendirikan sebuah Negara Islam di Indonesia berarti mendirikan negara kesatuan yang berdasarkan pada kelompok mayoritas, yaitu kelompok Islam. Jika sebuah Negara Islam didirikan di Indonesia, maka “masalah minoritas” akan terjadi....di negara kesatuan yang sama-sama kita impikan”. Lihat: YAMIN, H. M. (1959) Naskah Persiapan Undang-Undang Dasar 1945, I-III, Jakarta, Yayasan Prapanca., Vol 1, p.117 28 Teks ini mengulang kalimat serupa yang ada pada Piagam Jakarta. 29 Penambahan kata “Kepercayaan” merupakan usulan dari Wongsonegoro, salah satu pengikut Aliran Kebatinan (Kejawen).

12

dua hari setelah pernyataan menyerah Jepang terhadap Sekutu, rakyat Indonesia secara sepihak mendeklarasikan kemerdekaannya tanpa persetujuan resmi dari otoritas Jepang. Sukarno (Ketua PPKI) dan Hatta (Wakil Ketua PPKI) membacakan pernyataan kemerdekaan ini atas nama Bangsa Indonesia. Sehari setelah pernyataan kemerdekaan, PPKI mengadakan rapatnya yang pertama, yang menghasilkan kesepakatan untuk mengadopsi Piagam Jakarta sebagai Preambul Konstitusi, sedangkan draf yang diajukan Tim Supomo dijadikan sebagai Konstitusi Negara Republik Indonesia– yang lebih dikenal sebagai UUD 1945. Namun demikian, persaingan antara kedua kelompok nasionalis tidak juga usai, seperti disampaikan oleh Panitia Lima: “….penolakan serius dari kelompok yang tidak beragama Islam. Menurut mereka, adalah tidak tepat apabila dalam pernyataan prinsip yang menyangkut seluruh bangsa, ada peraturan yang hanya berlaku bagi sebagian tertentu diantara rakyat Indonesia, meskipun mereka mayoritas…….demi menjaga persatuan dan totalitas harmoni seluruh wilayah Indonesia, kata ‘dengan kewajiban untuk menjalankan syariat Islam bagi pemerluk-pemeluknya’ harus dihilangkan dari Preambul Konstitusi” (Panitia Lima, 1977, p. 32). Belajar dari pengalaman sebelumnya dan juga karena berkembangnya kekhawatiran akan kembalinya Belanda setelah kekalahan Jepang, anggota PPKI berpikir keras mencari cara agar tidak terjebak perdebatan yang bertele-tele. Sukarno sendiri, pada saat pidato pembukaan, mengingatkan kepada anggota PPKI agar “Bertindak cepat” dan tidak berdebat mengenai halhal yang rinci mengingat adanya situasi yang kritis (Yamin, 1959, 399). Himbauan tersebut memperoleh respon positif, tercermin dari disepakatinya secara kilat beberapa kompromi yaitu: komposisi Pancasila yang baru; kesepakatan pada Pasal 29 UUD 1945; dan modifikasi Pasal 6 Konstitusi. Komposisi Pancasila yang baru, berbunyi sebagai berikut: 1. 2. 3. 4. Ketuhanan Yang Maha Esa Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab Persatuan Indonesia Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan 5. Keadilan Sosial Catatan: Kata “dengan kewajiban untuk menjalankan syariat Islam bagi pemeluknya” telah dihilangkan Pasal 29 UUD 1945 berbunyi sebagai berikut:

1. Negara berdasarkan atas Ketuhanan Yang Maha Esa 2. Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masingmasing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu Catatan: Kata “dengan kewajiban untuk menjalankan syariat Islam bagi pemeluknya” juga dihilangkan dari Ayat 1. Kata “kepercayaan” ditambahkan pada Ayat 2, yang mengindikasikan pengakuan negara terhadap Aliran Kepercayaan Kompromi ketiga adalah penghilangan persyaratan bahwa Presiden Republik Indonesia haruslah orang Islam (Ayat 6). Redaksinya berubah menjadi “Presiden adalah orang Indonesia asli”.

13

Perubahan-perubahan tersebut dibacakan oleh Hatta di depan para anggota PPKI, yang diakhiri dengan kalimat pendek “Inilah perubahan yang maha penting, menyatukan segala bangsa”. Segera setelah Hatta selesai berpidato, Sukarno berkata“…Konstitusi ini adalah bersifat sementara dan kilat, revolutiegrondwet……nanti ketika kita telah hidup di alam yang lebih baik, kita akan kumpulkan para wakil rakyat untuk membuat Konstitusi yang lebih baik (Yamin, 1959, p.410, Boland, 1971, p.37). Formulasi terakhir tersebut kemudian dinyatakan sebagai Konstitusi Republik Indonesia, yang diberi nama UUD 194530. Fakta bahwa Konstitusi ‘UUD 1945’ tidak seratus persen mencerminkan aspirasi kelompok yang mewakili mayoritas rakyat Indonesia menjadi pembenaran terhadap sikap radikal kelompok-kelompok tertentu yang hingga saat ini mempersoalkan keabsahan UUD 1945 dengan komposisi seperti saat ini, meskipun komposisi tersebut di-endorse oleh Kelompok Islam pada tanggal 18 Agustus 1945. Sebagaimana dikomentari oleh Nasution “masa revolusi bukanlah waktu yang tepat (bagi Nasional Islam) untuk memaksakan gagasan-gagasan Islam. Bagi mereka, mempertahankan kemerdekaan Indonesia adalah prioritas” (Nasution, 1965, p.76). Penjelasan lainnya adalah menyangkut janji Sukarno bahwa “…nanti ketika kita telah hidup di alam yang lebih baik, kita akan kumpulkan para wakil rakyat untuk membuat Konstitusi yang lebih baik”. Asumsi ini menjadi semakin relevan jika dikaitkan dengan pidato Sukarno pada 1 Juni 1945 mengenai prinsip ‘Permusyawaratan’ dalam Pancasila. Menurut Sukarno, “Untuk pihak Islam, inilah tempat yang terbaik untuk memelihara agama. Dengan cara mufakat, kita perbaiki segala hal, juga keselamatan negara, yaitu dengan jalan pembicaraan dan permusyawaratan di dalam Badan Perwakilan Rakyat. Apa-apa yang belum memuaskan, kita bicarakan di dalam permusyawaratan. Badan perwakilan inilah tempat untuk mengemukakan tuntutan-tuntutan Islam (Soekarno, 1961, p.18). Tak perlu diragukan lagi, Badan Konstituante yang berdiri pada November 1956 adalah ‘kesempatan emas’ yang telah lama ditunggu oleh kelompok Islam, di mana Sukarno diharapkan untuk merealisasikan janjinya31. Harapan tersebut dijawab oleh Sukarno di awal tahun 1953, dengan mengatakan, “Negara yang kita susun dan yang kita ingini ialah negara nasional yang meliputi seluruh Indonesia. Kalau kita dirikan negara berdasarkan Islam, maka banyak daerah-daerah yang penduduknya tidak beragama Islam akan melepaskan diri, misalnya Maluku, Bali, Flores, Timor, Kai, dan juga Irian Barat yang belum masuk wilayah Indonesia tidak akan mau ikut dalam Republik (Feith, 1962, p.281, Anonymous, 1953, p.2-3). Pernyataan tersebut mengundang reaksi luas dari Kelompok Islam sehingga Dekrit Presiden yang dikeluarkan oleh Sukarno beberapa tahun kemudian32 cenderung dilihat sebagai manuver politik yang membela Kelompok Sekuler daripada solusi untuk kepentingan seluruh bangsa. Dekrit ini bahkan dilihat secara negatif sebagai manifestasi ambisi Sukarno yang melampaui isu persaingan antara Kelompok Islam dan Kelompok Sekuler, sebagaimana dikatakan oleh Boland “The 1945 Constitution could open the way to his “guided democracy” and could thus legalize his ‘conception’. So, he decide to enforce a ‘return to the Constitution of 1945’ passing over those of 1949 and 1950 and setting aside the work of the Assembly. If this interpretation is correct, it must be concluded that Sukarno’s real aim was to bring about ‘guided democracy’ via
Dalam sejarah negara Indonesia, 4 (empat) macam Konstitusi pernah diadopsi sebagai Konstitusi Negara: pertama adalah periode 18 Agustus 1945-27 Desember 1949 (UUD 1945); kedua adalah periode 27 Desember 1949-15 Agustus 1950 (UUD RIS 1949); ketiga adalah periode 15 Agustus 1950- 5 Juli 1959 (UUDS 1950); dan keempat adalah periode 5 Juli 1959-sekarang (UUD 1945). 31 Anggota Badan Konstituante dipilih melalui Pemilu 1955. Kelompok Islam memperoleh 230 kursi (40%) sedangkan kelompok lain yang meliputi kelompok-kelompok Nasionalis, Kristen, Sosialis, dan Komunis memperoleh 286 kursi (60%). Referensi lengkap tentang Pemilu 1955, Lihat: FEITH, H. (1957) The Indonesian elections of 1955 Ithaca, Modern Indonesian Project, Southeast Asia Program, Dept. of Far Eastern Studies, Cornell University. 32 Pada tanggal 5 Juli 1959, Sukarno, dalam kapasitasnya sebagai Presiden, mengeluarkan sebuah dekrit yang mengakhiri sistem Demokrasi Konstitusional yang diadopsi oleh Indonesia sejak 1955. Dekrit ini pada dasarnya berisi dua hal, yaitu pembubaran Badan Konstituante dan Kembali ke UUD 1945. Referensi lengkap mengenai tema ini, lihat: FEITH, H. (1962) The decline of constitutional democracy in Indonesia. , Ithaca, Modern Indonesia Project, Cornell University. .
30

14

a ‘return to the Constitution of 1945’ and not that was looking for a way out of the deadlock in which the Assembly found itself and then decided to force the issue by a ‘return to the Constitution of 1945’, which then ended up in ‘guided democracy’”.(Boland, 1971, p.91) Namun demikian, analisis Boland tersebut tentu tidak dapat ditelan mentah-mentah karena Dekrit Presiden Sukarno tahun 1959 tersebut memiliki latar belakang alasan yang kuat, yaitu tidak efektifnya kinerja Badan Konstituante selama periode 1956-1959, karena anggotaanggotanya cenderung membuang-buang waktu33 sehingga tidak berhasil memenuhi tugas pokok mereka menyusun Konstitusi Negara34. Selama masa hampir tiga tahun, Badan Konstituante hanya mengulangi perdebatan bertele-tele yang pernah terjadi tahun 1944-1945, sementara isu utamanya masih tetap sama: yaitu apakah negara harus berdiri di atas dasar Syariat Islam, ataukah di atas sekularisme; sedangkan kelompok-kelompok yang bersaing juga tidak berbeda: Nasionalis Islam versus Nasionalis Sekuler. Singkatnya, melalui Dekrit Presiden Sukarno tanggal 5 Juli 1959, Konstitusi 1945 diadopsi kembali dan berlaku tanpa perubahan sama sekali selama Pemerintahan Sukarno, dijaga dan disakralkan selama Pemerintahan Suharto35, dan tetap diadopsi hingga hari ini namun mengalami 4 (empat) kali amandemen. Sedangkan Pancasila yang merupakan ideologi hasil kompromi antar elit politik pada tahun 1945, hingga saat ini tetap menjadi Ideologi Negara Republik Indonesia tanpa pernah mengalami perubahan.

Pendapat ini tidak ditentang oleh Kelompok Islam, tetapi mereka menolak pendapat yang mengatakan bahwa Badan Konstituante tidak berbuat apa-apa selama 3 tahun. Menurut mereka, tugas menyusun Konstitusi sudah hampir final ketika Sukarno membubarkan Badan Konstituante. Mengenai polemik ini, lihat: ANSHARI, E. S. (1997) Piagam Jakarta 22 Juni 1945: Sebuah konsensus nasional tentang dasar negara Republik Indonesia 1945-1949, Jakarta, Gema Insani Press., p.91-107 34 Pada awalnya, tiga opsi tersedia untuk dipilih sebagai dasar negara: Pancasila, Islam, dan Sosialisme. Pancasila didukung oleh PNI (116 wakil), Partai Komunis Indonesia (PKI-80), Partai Kristen Indonesia (Parkindo—16), Partai Katholik (10), Partai Sosialis Indonesia (PSI--10), Ikatan Pendukung Kemerdekaan Indonesia (IPKI—8) dan beberapa partai kecil yang totalnya berjumlah 272 anggota. Opsi Syariat didukung oleh Masyumi (112 anggota), NU (91), Partai Syarikat Islam Indonesia (PSII—16), Persatuan Tarbiyah Islamiyah (Perti—7) dan 4 partai kecil lainnya dengan total 230 anggota yang mendukung. Opsi ketiga, Sosialisme, hanya didukung oleh 9 anggota, 5 adalah anggota Partai Buruh, dan sisanya dari Partai Murba, Lihat: SIMORANGKIR, J. C. T. & SAY, M. R. B. Konstitusi dan Konstituante Indonesia, Jakarta, Soeroengan., p.169-173. ---Dengan demikian, polarisasi terpusat pada dua kelompok, yaitu Nasionalis Islam dan Nasionalis Sekuler; namun tidak satupun yang dari kelompok tersebut menjadi pemenang karena adopsi sebuah ideologi sebagai dasar negara mensyaratkan dukungan paling tidak duapertiga dari total 470 anggota Badan Konstituante. Guna mencegah terjadinya deadlock, voting sempat dilakukan untuk merespon usulan Pemerintah agar kembali pada UUD 1945: pertama pada 30 Mei 1959 dengan hasil: 269 mendukung dan 199 menolak; kedua pada 1 Juni 1959 (264 mendukung dan 204 menolak); Terakhir pada 2 Juni, 1959 (263 mendukung dan 204 menolak. Karena tidak berhasil mencapai duapertiga sebagaimana ketentuan Badan Konstituante, drama itu kembali berakhir dengan deadlock – yang kemudian diselesaikan dengan Dekrit Sukarno. Lihat: YAMIN, H. M. (1959) Naskah Persiapan Undang-Undang Dasar 1945, I-III, Jakarta, Yayasan Prapanca.
35 Selama masa Orde Baru, Pancasila dan UUD 1945 dipandang sebagai simbol sakral keberadaan negara Republik Indonesia, meskipun isinya cenderung diinterpretasikan secara fleksibel. Setiap upaya merubah kedua simbol tersebut, oleh karenanya, dipandang sebagai ancaman terhadap eksistensi negara.

33

15

ABDULGANI, R. (1973) Nationalism, Revolution, and Guided Democracy in Indonesia, Centre of Southeast Asian Studies, Monash University. ADAMS, C. (1966) Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia, Jakarta, Gunung Agung. ALI, M. (1963) Perjuangan Feodal, Bandung, Ganaco. ALISJAHBANA, S. T. (1961) Indonesia in the Modern World, Michigan, Office for Asian Affairs, Congress for Cultural Freedom. ANDERSON, B. R. O. G. (1961) Some aspects of Indonesian politics under the Japanese occupation : 1944-1945. , Ithaca, N.Y. , Cornell University. Dept. of Far Eastern Studies. ANDERSON, B. R. O. G. (1999) Indonesian Nationalism Today and in the Future. Indonesia. Ithaca, N.Y., Southeast Asia Program Publications, Cornell University ANONYMOUS (1953) Suara Progresif berhaluan radikal. Aliran Islam, VII/February. ANONYMOUS (1964) Pantjasila the Basis of the State of the Republic of Indonesia, Jakarta, National Commitee for Commemoration of the Birth of Pantja Sila. ANSHARI, E. S. (1997) Piagam Jakarta 22 Juni 1945: Sebuah konsensus nasional tentang dasar negara Republik Indonesia 1945-1949, Jakarta, Gema Insani Press. BENDA, H. J. (1958) The crescent and the rising sun : Indonesian Islam under the Japanese occupation, 1942-1945. , The Hague, Van Hoeve. BOLAND, B. J. (1971) The struggle of Islam in modern Indonesia / [By] B. J. Boland. , The Hague, Nijhoff. BPS (1973) Sensus Penduduk 1971 (Population census 1971). Seri D. Jakarta, Biro Pusat Statistik BRACKMAN, A. C. (1963) Indonesian communism : a history, New York, Praeger. CRIBB, R. & KAHIN, A. (2004) Historical Atlas of Indonesia, Lanham, Scarecrow Press. DAHM, B. (1969) Sukarno and the struggle for Indonesian independence Ithaca, N.Y., Cornell University Press. EMMERSON, D. K. (2005) What is Indonesia ? IN BRESNAN, J. (Ed.) Indonesia: The Great Transition. Oxford, Rowman and Littlefield Publishers, Inc. FAN, K.-S. (1982) Women in Southeast Asia: a bibliography, Boston, G.K. Hall. FEENER, R. M. (2007) Muslim legal thought in modern Indonesia, Cambridge, Cambridge University Press. FEITH, H. (1957) The Indonesian elections of 1955 Ithaca, Modern Indonesian Project, Southeast Asia Program, Dept. of Far Eastern Studies, Cornell University. FEITH, H. (1962) The decline of constitutional democracy in Indonesia. , Ithaca, Modern Indonesia Project, Cornell University. . GEERTZ, C. (1976) The Religion of Java, Chicago, University of Chicago Press. GEERTZ, H. (1963) Indonesian Cultures and Communities. IN MCVEY, R. T. (Ed.) Indonesia. New Haven, HRAF Press. GELLNER, E. (1983) Nations and Nationalism, Oxford, Basil Blackwell Ltd. HATTA, M. (1969) Sekitar Proklamasi 17 Agustus 1945, Jakarta, Tintamas. HEFNER, W. R. (2005) Social Legacies and Possible Futures. IN BRESNAN, J. (Ed.) Indonesia: The Great Transition. Lanham, Rowman & Littlefield Publishers, Inc. KAHIN, G. M. (1952) Nationalism and revolution in Indonesia. , Ithaca, N.Y., Cornell University Press. LEGGE, J. D. (1964) Indonesia, Englewood Cliffs, Prentice-Hall. LEGGE, J. D. (1972) Sukarno: A Political Biography, London, Allen Lane the Penguin Press. LOMBARD, D. (1990) Le carrefour javanais : essai d'histoire globale, Paris, Editions de l'Ecole des hautes etudes en sciences sociales. NASUTION, H. (1965) The Islamic State in Indonesia: The Rise of the Ideology, the Movement for its creationand the Theory of the Masyumi. The Institute of Islamic Studies. Montreal, McGill University. NIEUWENHUIJZE, C. A. O. V. (1958) Aspects of Islam in Post Colonial Indonesia, The Hague Bandung, W. Van Hoeve. NOER, D. (1973) The modernist Muslim movement in Indonesia, 1900-1942, New York, Oxford University Press. PANITIA LIMA (1977) Uraian Pancasila, Jakarta, Mutiara. PEACOCK, J. L. (1973) Indonesia: An Anthropological Perspective, California, Goodyear Publishing Company, Inc.

16

PELZER (1963) Physical and Human Resources Patterns. IN MCVEY, R. T. (Ed.) Indonesia. New Haven, HRAF Press. PRINGGODIGDO, A. K. (1967) Sejarah Pergerakan Rakyat Indonesia, Jakarta, Dian Rakyat. QUR'AN, T. H. REID, A. (1939) Southeast Asia in the age of commerce, 1450-1680, New Haven, Yale University Press. RICKLEFS, M. C. (1981) A History of Modern Indonesia, Bloomington, Indiana University Press. SIDJABAT, W. B. (1965) Religious Tolerance and the Christian Faith, Jakarta, Badan Penerbit Kristen. SIMATUPANG, T. B. (1977) This is my country. International Review of Mission LXIII, 251, July. SIMORANGKIR, J. C. T. & SAY, M. R. B. Konstitusi dan Konstituante Indonesia, Jakarta, Soeroengan. SKINNER, G. W. (1963) The Chinese Minority. IN MCVEY, R. T. (Ed.) Indonesia. New Haven, HRAF Press. SOEKARNO (1961) Lahirnya Pancasila, Jakarta, Dewan Pertimbangan Agung. VAN DER KROEF, J. (1953) Conflicts of Religious Policy in Indonesia. Far Eastern Survey, Vol. 22 No.10. VAN DIJK, C. (1981) Rebellion under the banner of Islam : the Darul Islam in Indonesia, The Hague, Martinus Nijhoff. VLEKKE, B. H. M. (1943) Nusantara: A History of the East Indian Archipelago, Harvard University press. WATSON, C. W. (2000) Of self and nation : autobiography and the representation of modern Indonesia, Honolulu University of Hawai ʻ Press. i WITTFOGEL, K. A. (1957) Oriental despotism : a comparative study of total power. , New Haven Yale University Press. YAMIN, H. M. (1959) Naskah Persiapan Undang-Undang Dasar 1945, I-III, Jakarta, Yayasan Prapanca. YAMIN, H. M. (1960) Pembahasan Undang-Undang Dasar Republik Indonesia, Jakarta, Yayasan Prapanca.

17

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->