Anda di halaman 1dari 16

Analisis Vegetasi

Pendahuluan

Sampling Vegetasi
Pengamatan secara menyeluruhpada suatu vegetasi adalah suatu hal yang tidak mungkin karena memakan waktu dan tenaga, karena itu deskripsi vegetasi cukup didasarkan pada cuplikancuplikan (sampel) yang dikerjakan pada segmen vegetasi tersebut. Ada 4 langkah penting pada sampling vegetasi yaitu: 1. Segmentasi (segmentation/entation)artinya membagi vegetasi menjadi beberapa satuan yang mudah dikenal. Missal: pohon,rumput,herba,dll . 2. Pengambilan sampel dalam segmen.
1. Penentuan ukuran,jumlah serta bentuk sampel. 2. Penentuan parameter yang harus di ukur dari tiap plot yang dikerjakan.

Parameter Vegetasi Kuantitatif


Kuantitas yang dapat diukur dalam sampling komunitas dan bersifat penting adalah:
1.

Densitas(kerapatan) adalah jumlah individu suatu spesies per satuan luas.Misalnya dalam 10

plot seluas 10 x 10 m ,spesies A ditemukan sebanyak 123 batang. Maka densitas spesies A = 123/1000 m atau 123/1000 x 10000 =1230/hektar. Ketentuan-ketentuan yang digunakan untuk menghitung densitas suatu jenistumbuhan adalah sebagai berikut:

a.

Suatu individu yang berada pada batas petak contoh dihitung sebagai satu individu,jika lebih dari separu h bagian tumbuhan berada dalam petak contoh.

b.

Untuk tumbuhan berumpun, tiap satu rumpun dihitung sebagai satu individu (Misal. Cynodon dactylon Pers).

c. Untuk tumbuhan yang membentuk rumpun, bila tiap bagian mempunyai perakaran sendiri

maka masing-masing bagian itu dihitung sebagai satu individu (missal. Cyperus rotundus L.)
d. Untuk tumbuhan yang jelas berdiri sendiri dihitung sebagai satu individu (missal.Physalis

minima L.)

2. Frekuensi

adalah

jumlah

hadirnya

suatuspesies

pada

sejumlah

plotyang

dikerjakan,dinyatakan dalam pecahan atau persen. Misalnya dalam 19 plot yang dikerjakan seperti di atas,spesies A muncul dalam 2 plot. Maka frekuensi spesies A = 2/10 x 100 %= 20 %

3. Dominasi dapat di lakukan dengan dua cara yaitu dengan mengukur basal area batang setinggi

dada (dbh) ataumengukur luas penutupan tajuk (crown cover). Jadi,dominasi spesies A adalah jumlah seluruh basal area atau penutup(cm2) per satuan luas atau per area cuplikan.

Luas penutupan = {(D1 + D2) / 4}2 x 3.14 D1 = diameter tajuk pengukuran pertama D2 = diameter tajuk pengukuran kedua

Basal area=(d / 2)2 x 3.14 d = diameter batang setinggi dada

Rumus-rumus untuk parameter kuantitatif adalah sebagai berikut: Densitas Mutlak = Jumlah individu suatu jenis

Luas area cuplikan Densitas relative = Densitas suatu jenis Total densitas seliruh jenis Frekuensi mutlak = jumlah plot dimana suatu spesies hadir Total jumlah plot yang dicuplik Frekuensi Relatif = Nilai frekuensi suatu spesies x 100 % x 100 %

Total nilai frekuensi semua spesies Dominasi Mutlak = Basal area suatu spesies Luas area cuplikan Dominasi Relatif = Dominasi suatu jenis Total dominasi seluruh jenis Nilai Penting = Densitas relatif + Frekuensi relatif + Dominasi relative x 100 %

Teknik sampling menurut metode Kuadrat (Plot hitung) dan metode tanpa plot
Secara umum teknik sampling dalam analisis vegetasi dapat dibedakan atas metode kuadrat (plot hitung) atau metode tanpa plot. Plot sebenarnya adalah sembarang area cuplikan (sampel) dengan dua simensi pada sembarang ukuran. Jadi dapat berupa kuadrat , segi empat , lingkaran , transek,tetapi dari berbagai penelitian dan analisia ternyata bentuk segi empat bujur sangkar lebih efisien dan akurat dari pada bentuk yanglain. Metode tanpa plot muncul karena adanya hambatanhambatan dalam metode kuadrat seperti dalam masalah marginal, mengitung spesies terutama tumbuhan yang sangat rapat dan kecil, merayap dengan rizoma atau berbentuk seperti karpet. Jadi dapat dikatakan masing-masing metode mempunyai kelebihan dan kekurangan.

Metode kuadrat dapat berupa metode releve yang menggunakan area minimal dengan teknik nested plot dan metode survai kayu atau metode transek. Sedangkan metode tanpa plot dapat berupa: 1. Metode point intercept terdiri dari point frequency frame dan Point kuadrat 2. Metode line interceot 3. Metode karak (Distance Method) terdiri dari:
a. Metode individu terdekat (closed individual method)

b. Metode tetangga terdekat (nearest neighbor method) c. Metode pasangan acak (random pair method) d. Metode Point Centered Quarter (metode yang paling sering digunakan) Dalam pengamatan kali ini kami menggunakan metode kuadrat berupa metode releve yang menggunakan area minimal (10 m x 100 m untuk satu plot) , dengan teknik nested plot,dengan total plot yang teramati sebanyak 17 plot Alat Dan Bahan: Sebagai objek penelitian adalah tumbuhan yang masuk ke dalam famili palem dan bahan yang digunakan adalah alcohol 70%, kantong plastik, kertas Koran, label gantung. Alat yang digunakan adalah meteran,tali rafia, vaskulum, alat tulis, patok bambo. Langkah Kerja:
1. Menentukan jarak 5 m ke kanan dan 5 m ke kiri dari jalur kanopi sepanjang 100 m

pada plot pertama.


2. Mencatat seluruh

jenis

arecaceae yang terdapat pada

plot

tersebut

dan

menghitung

:diameter batang (dbh untuk menghitung basal area)

,cie dengan

menggunakan penetrasi cahaya ,kemiringan tanah. Semua data tersebut di gunakan untuk menghitung kuantitas dalam sampling komunitas.

3. Mengambil bagian dari pohon yang telah diukur (misalnya: daunya), memberinya

label label,menyimpannya dalam vasculum untuk diidentivikasi dan inventarisasi. 4. Melakukan hal yang sama untuk ke enam belas plot berikutnya.
5. Mencatat seluruh hasilpengamatan dalam lembar Hasil Pengamatan yang tersedia.

LEMBAR PENGAMATAN
Hari Lokasi Syabrina 2. Gilang Ainan .D 4.R atna Putri.G 6. Anita Hasanah Pengamat : : : Sabtu 1. Ka Bayuni Tanggal :17 Oktober 3. Maya .S Jam: 08.00-selesai 5. Anisa

Gunung halimun , Jawa Barat

Tabel Pengamatan banyaknya individu dalam setiap plot,jenis ,diameter batang , cie , dan kemiringan tanah:

Plot

Individ u

Jenis

Keliling(cm)

Cie

Kemiringan( )

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 1

Calamus heteroideus Calamus javensis Calamus heteroideus Calamus heteroideus Pinanga sp Pinanga sp Pinanga sp Pinanga sp Pinanga sp Calamus heteroideus Calamus heteroideus Calamus javensis Calamus javensis Calamus heteroideus Pinanga sp Calamus heteroideus Calamus heteroideus Calamus heteroideus Calamus heteroideus Calamus javensis Pinanga sp Calamus heteroideus Pinanga sp Pinanga sp Pinanga sp Pinanga sp Calamus heteroideus Calamus javensis Calamus heteroideus Calamus heteroideus Calamus heteroideus Calamus heteroideus Calamus heteroideus Pinanga sp Calamus rhomboideus Calamus javensis Calamus javensis Calamus heteroideus Calamus heteroideus Calamus heteroideus Calamus javensis Calamus rhomboideus Calamus heteroideus Calamus heteroideus Calamus heteroideus

18 7 7 25 16 14 15 18 13 17 27 4 6 22 18 13 9 28 30 8 18 8 13 17,5 17 21,5 22 6 28 10 10 4,5 7 15 19 5 39 10 30 7 5 8 71 66 18

10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 45 45 45 10 10 45 50 15 15 15 15 15 0 0 0 0 0 0 0 10 10 0 0 0 10 0 10 30 45 45 45 45 45 45 10

2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16

Calamus heteroideus Calamus heteroideus Calamus rhomboideus Calamus javensis Calamus heteroideus Calamus javensis Calamus heteroideus Calamus javensis Calamus heteroideus Calamus heteroideus Calamus heteroideus Calamus heteroideus Calamus heteroideus Caryota mitis Calamus heteroideus Calamus heteroideus Calamus heteroideus Calamus heteroideus Calamus heteroideus Calamus heteroideus Calamus heteroideus Calamus heteroideus Calamus heteroideus Calamus heteroideus Calamus heteroideus Calamus heteroideus Calamus heteroideus Calamus heteroideus Calamus heteroideus Calamus heteroideus Calamus heteroideus Calamus heteroideus Calamus heteroideus Calamus heteroideus Pinanga sp Calamus heteroideus Calamus heteroideus Calamus heteroideus Calamus heteroideus Calamus heteroideus Calamua heteroideus Calamus heteroideus Calamus heteroideus Calamus heteroideus

7 7 13 13 9,5 10 12 7 36 32 9 7 40 10 17 30 12 21 25 21 23 20 19 17,5 4 12 23 7 10 9 8 8 8 9 16 11 14,5 26 15 16 26 18 23 12

5 0 15 0 0 0 10 10 30 10 15 15 0 15 10 50 15 0 10 60 60 30 30 0 10 0 0 20 0 0 0 15 15 15 15 10 15 30 10 10 10 10 45 0

17 18 19

Calamus heteroideus Calamus heteroideus Pinanga sp Calamus heteroideus Calamus heteroideus Calamus heteroideus Calamus heteroideus Calamus heteroideus Calamus heteroideus Calamus heteroideus Calamus heteroideus Calamus heteroideus Calamus heteroideus Calamus heteroideus Calamus heteroideus Calamus heteroideus Calamus heteroideus Calamus heteroideus Calamus heteroideus Calamus heteroideus Calamus heteroideus Calamus heteroideus Calamus heteroideus Calamus heteroideus Caryota mitis Caryota mitis Caryota mitis Calamus heteroideus Calamus heteroideus Calamus heteroideus Caryota urens Calamus heteroideus Calamus heteroideus Calamus heteroideus Calamus heteroideus Calamus heteroideus Calamus heteroideus Calamus heteroideus Calamus heteroideus Calamus heteroideus Pinanga sp

15 7 20 12 16 16 18 23 26 23 21 18 20 19 25 13 12 8 13 11 22 14 28 18 8 18 15 24 30 24 16 23 10 8 22 8 11 21 26 12 13

50 0 0

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 1 2 3 4 5 6 7 1 2 3 4 5 6 1 1 2 3 4

15 15 10 0 0 0 15 0 0 0 10 0 10 15 15 0 0 0 10 0 45 45 30 15 15 30 15 45 50 50 50 45 40 10 30 20 20 30

7 8 9

1,5 5 3,5

5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26

Caalamus heteroideus Calamus javensis Calamus heteroideus Calamus javensis Pinanga sp Calamus heteroideus Calamus javensis Calamus heteroideus Calamus heteroideus Calamus heteroideus Calamus javensis Calamus heteroideus Calamus heteroideus Calamus heteroideus Calamus heteroideus Calamus heteroideus Calamus javensis Calamus heteroideus Calamus heteroideus Calamus heteroideus Calamus heteroideus Calamus heteroideus Calamus heteroideus Calamus javensis Calamus heteroideus Calamus heteroideus Pinanga sp Calamus heteroideus Caryota mitis Calamus javensis Calamus javensis Calamus heteroideus Pinanga sp Calamus heteroideus Pinanga sp Pinanga sp Calamus heteroideus Calamus heteroideus Calamus heteroideus Calamus heteroideus

10 5 24 8 13 14 3 6 10 18 11 15 11 18 18 25 4 20 12 9 16 13 7 8 20 6 10 11 26 3 4 26 16 13 11 15 10 7 10 12

30 15 15 15 15 15 15 15 15 10 10 15 10 15 15 15 15 10 10 15 15 15

10

1 2 3 4 5 6 7 8 9 1 2 3 4 5 6 7 8 1

10 10 10 15 15 30 15 30 30 15 15 15 10 10 15 10 0 15

11

12 1

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 1 2 3 4

Pinanga sp Calamus heteroideus Calamus heteroideus Calamus heteroideus Calamus heteroideus Calamus heteroideus Caryota mitis Caryota mitis Pinanga sp Pinanga sp Calamus heteroideus Calamus javensis Calamus javensis Calamus heteroideus Calamus heteroideus Calamus heteroideus Calamus heteroideus Calamus javensis Calamus heteroideus Calamus heteroideus Calamus javensis Calamus heteroideus Calamus javensis Calamus heteroideus Calamus heteroideus Pinanga sp Calamus heteroideus Calamus javensis Calamus heteroideus Calamus heteroideus Caryota mitis Calamus javensis Caryota mitis Pinanga sp Caryota mitis Calamus heteroideus Calamus heteroideus Calamus heteroideus Calamus heteroideus Calamus heteroideus Calamus heteroideus Calamus heteroideus Calamus heteroideus Calamus javensis

17 11 22 18 12 18 12 15 15 15 15 5 6 16 4 15 6 3 14 16 6 17 13 15 8 18 11 8 9 6 6 8 7 14 12 12 7 11 8 9 13 12 11 30

15 0 10 15 0 0 10 0 0 0 10 0 0 15 15 15 15 0 15 30 30 15 30 30 30 30 30 30 0 15 15 15 15 10 15 0 0 0 0 10 10 10 0 10

1 4

15

5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 1 2 3 4 5 6 1 2 3 4 5 6

Calamus heteroideus Calamus heteroideus Calamus heteroideus Calamus heteroideus Calamus heteroideus Calamus heteroideus Calamus heteroideus Calamus heteroideus Calamus heteroideus Calamus heteroideus Calamus heteroideus Calamus heteroideus Pinanga sp Calamus heteroideus Calamus heteroideus Calamus heteroideus Calamus heteroideus Pinanga sp Pinanga sp Calamus heteroideus Pinanga sp Calamus heteroideus

4 10 10 10 11 8 10 9 14 12 10 9 12 7 11 14 14 12 8 11 10 8

45 45 10 10 30 45 45 0 45 0 15 15 45 45 45 0 15 0 0 0 15 10

16 17

2 2

PERHITUNGAN Total seluruh plot : 19 Plot yang teramati :17 Luas area cuplikan :17 x 10 m x 100 m = 17000 m2 Basal area tiap jenis : (d / 2)2 x 3.14

C.heteroideus d(cm) Basal area 18.0 7.0 25.0 17.0 27.0 22.0 13.0 9.0 28.0 30.0 8.0 22.0 28.0 10.0 10.0 4.5 7.0 10.0 30.0 7.0 71.0 66.0 18.0 7.0 7.0 9.5 12.0 36.0 32.0 9.0 7.0 40.0 17.0 (cm2) 254.3 38.5 490.6 226.8 572.3 380 132.7 63.6 615.4 706.5 50.2 379.9 615.44 78.5 78.5 15.9 38.5 78.5 706.5 38.5 3957.2 3419.5 254.3 38.5 38.5 70.8 113 1017.4 803.8 63.6 38.5 1256 226.95 706.5 113 346.2 490.6 346.2 415.3 314 283.4

C. javensis d(cm) Basal area (cm2) 7.0 38.5 4.0 6.0 8.0 6.0 5.0 39.0 5.0 13.0 10.0 7.0 5.0 8.0 3.0 11.0 4.0 8.0 3.0 4.0 5.0 6.0 3.0 6.0 13.0 8.0 8.0 30.0 12.6 28.3 50.2 28.6 19.6 1194 19.6 132.7 78.5 38.5 19.6 50.2 7 95 12.6 50.2 7 12.6 19.6 28.3 7 28.3 132.7 50.2 50.2 706.5

C.rhomboideu s d(cm) Bas.l area (cm2 19.0 283.4 8.0 13.0 50.2 132.7

Pinanga sp d(c m

C. mitis

C. urens d(c m Bas. area

Bas . d(cm Bas area .area

(cm2 16.0 201 14.0 15.0 18.0 13.0 18.0 18.0 13.0 17.5 17.0 21.5 15.0 16.0 20.0 13.0 13.0 10.0 16.0 11.0 15.0 17.0 15.0 15.0 18.0 14.0 12.0 12.0 8.0 10.0 153.9 176.6 254.3 132.7 254.3 254.3 132.7 240.4 226.9 362.9 176.6 201 314 132.7 132.7 78.5 201 95 176.6 226.9 176.6 176.6 254.3 153.9 113 113 50.2 78.5

(cm2 (cm2 10.0 78.5 16.0 201 8.0 18.0 15.0 26.0 12.0 15.0 6.0 7.0 12.0 50.2 254.3 176.6 530.7 113 176.6 28.3 38.5 113

1. Densitas mutlak tiap jenis :

Calamus heteroideus Calamus javensis

: 166 / 17000 = 0.0098 / m2 : 27 / 17000 = 0.0016 / m2 3 / 17000 = 0.00018 / m2

Calamus rhomboideus : Pinanga sp Caryota mitis Caryota urens

: 29 / 17000 = 0.0017 / m2 : 10 / 17000 = 0.00059 / m2 : 1 / 17000 = 0.000059 / m2 Total = 0.013929 / m2

2. Densitas relatif tiap jenis :

Calamus heteroideus Calamus javensis

: 0.0098 / 0.013929 : 0.0016 / 0.013929

x 100% x 100% x 100% x 100% x 100% x 100%

= 70.36% = 11.49% = = = = 1.29% 12.2% 4.23% 0.42%

Calamus rhomboideus : 0.00018 / 0.013929 Pinanga sp Caryota mitis Caryota urens : 0.0017 / 0.013929 : 0.00059 / 0.013929 0.000059 / 0.013929

3. Frekuensi mutlak tiap jenis : Calamus heteroideus Calamus javensis : 17 / 17 = : 7 / 17 1

= 0.4

Calamus rhomboideus : 2 / 17 Pinanga sp Caryota mitis Caryota urens : 9 / 17 : 5 / 17 : 1 / 17 Total 4. Frekuensi relatif tiap jenis :

= 0.12 = 1.3 = 0.3 = 0.06 = 2.18

Calamus heteroideus Calamus javensis

: 1 / 2.18

x 100% = 45.87 %

: 0.4 / 2.18 x 100% = 18.35 %

Calamus rhomboideus : 0.12 / 2.18 x 100% = 5.50 % Pinanga sp Caryota mitis Caryota urens : 0.5 / 2.18 x 100% = 22.93 % : 0.3 / 2.18 x 100% = 13.76 % : 0.1 / 2.18 x 100% = 4.58 %

5. Dominasi mutlak tiap jenis :

Calamus heteroideus Calamus javensis Calamus rhomboideus Pinanga sp Caryota mitis :

: : :

42139.6 / 17000 2918.1/ 17000 466.3 / 17000 5241.1 / 17000 1559.7 / 17000

= 2.4788 / m2 = 0.1717/ m2 = 0.0274 / m2 = 0.3083/ m2 = 0.0917 / m2

Caryota urens

201

/ 17000

= 0.012 / m2

Total = 3.0899/m2

6. Dominasi relatif tiap jenis :

Calamus heteroideus Calamus javensis Calamus rhomboideus Pinanga sp Caryota mitis Caryota urens

: 2.4788 / 3.0899 : 0.1717/ : 0.0274 / : 0.3083/

x 100%

= 80.22 % = 5.55% = 0.89% = 9.98% = 2.97% = 0.38%

3.0899 x 100% 3.0899 x 100% 3.0899 x 100% x 100%

: 0.0917 / 3.0899 : 0.012 /

3.0899 x100%

Nilai Penting = densitas relatif + frekuensi relatif + dominasi relatif

C.heteroideus C.javensis

= 70.36 + 45.87 +80.22 = 11.49+ 18.35 + 5.55

= 140.7 = 39.63 = 22.88 = 47.84

C.rhomboideus = 1.29 + 5.50 + 0.89 Pinanga sp = 12.2+ 22.93 + 9.98

Cmitis C.urens

= 4.23 + 13.76 + 2.97 = 0.42 + 4.58 + 0.38

= 31.77 = 24.57

Kesimpulan:

Dari nilai penting tersebut terlihat bahwa urutan tumbuhan yang dominan pada 17 plot di atas adalah C.heteroideus , Pinanga sp , C.javensis , C.mitis , C.urens dan C.rhomboideus .